Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Migrain merupakan bahasa Perancis yang berasal dari bahasa Yunani Hemicranium yang berarti sakit kepala pada satu sisi, meskipun sakit kepala dapat tidak terjadi pada satu sisi tapi migrain lebih pada sekedar sakit kepala (Ayodya L. Riyadi, 2002 : 14). Migrain adalah nyeri kepala yang berulang yang idiopatik dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam. Biasanya satu sisi sifatnya berdenyut, intensitas nyeri sedang sampai berat dan diperhebat dengan aktifitas fisik rutin dan dapat disertai nausea, fotofobia dan fonofobia (Mansjoer Arif M, 2002:35). Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher yang mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain, asma, depresi dan penyakit yang sangat berat misalnya tumor atau infeksi dan dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain, namun kejadian ini sangat jarang (Yuda Turana, 2004 : 1). Berdasarkan penelitian beberapa negara didapatkan bahwa insiden migrain terbanyak terjadi pada wanita, prevalensi tertinggi pada kelompok umur 25-55 tahun (usia produktif), memuncak menjelang awal 30-40 tahun dan menurun menjelang 50 tahun. Berdasarkan status sosial ekonomi di AS dilaporkan prevalensi migrain berkaitan dengan pendapatan rumah tangga dan

tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih rendah. Di negara Amerika Serikat sekitar 28 juta orang menderita migrain dan di seluruh dunia mengenai 25% wanita dan 10% pria (Yuda Turana, 2004:1) Berdasarkan data dipoli syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang kejadian migrain mengalami peningkatan sebesar kurang lebih 30% dari 25 penderita pada tahun 2006 menjadi 43 orang pada tahun 2008. Insiden migrain lebih tinggi terjadi pada wanita yaitu sebesar 57,2 % dan laki-laki sebesar 42,8 % (Buku Register Poli syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang, April 2009). Menurut Headache Classification Subcommittee (2004) menyatakan migrain dapat diketahui dengan mengamati adanya serangan berulang nyeri kepala dengan intensitas, frekuensi dan durasi yang sangat bervariasi. Pada tahun 1988 International Headache Society (IHS) membagi nyeri kepala migrain menjadi 2 jenis. Migrain dengan aura (classic migrain) dan migrain tanpa aura, dengan aura dan aura saja tanpa disertai adanya nyeri kepala (Yuda Turana, 2004:1). Faktor-faktor pemicu migrain terbentuk dalam waktu yang lama dan bereaksi menjadi serangan. Faktor pemicu yang dapat menimbulkan migrain adalah: stress, makanan tertentu, zat kimia (obat), rangsangan sensosik (cahaya, bau yang menyengat) perubahan hormonal. Banyak laporan yang menunjukkan bahwa satu atau lebih faktor-faktor tersebut memicu terjadinya migrain. Yang paling sering adalah stress, alkohol, makanan, tidur yang berlebihan atau kurang, cuaca dan kelebihan iluminasi atau cahaya yang silau, sehingga dengan demikian mengendalikan faktor-faktor pemicu sangatlah penting (Yuda Turana, 2004 : 1).

Baik buruknya tata laksana migrain pada pencegahan faktor pemicu misalnya dengan menghindari makan-makanan yang dapat menimbulkan rangsangan serta mengatur pola tidur, Selain itu hindari stress. Sehingga dengan cara-cara tersebut pasien dapat menanggulangi migrain apabila terjadi serangan dan dengan begitu keluhan pada pasien juga bisa ditanggulangi. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor Pemicu Migrain di Poli Syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2010.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan Apa Saja Faktor-Faktor Pemicu Migrain di Poli Syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2010 ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor pemicu migrain di Poli syaraf RSD Dr. Haryoto Lumajang Tahun 2010. 2. Tujuan Khusus Mengidentifikasi faktor-faktor pemicu migrain meliputi : a. Makanan b. obat c. Rangsangan sensorik d. Stress

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengembangkan ilmu praktek keperawatan serta nenambah pengetahuan lebih dalam mengenai faktor-faktor pemicu migrain. 2. Bagi Perawat Sebagai bahan penyuluhan dalam pelaksanaan health education bagi pasien migrain di poli syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data tambahan bagi penelitian selanjutnya tentang pengaruh faktor makanan terhadap terjadinya serangan ulang migrain.

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA KONSEP

Pada bab ini peneliti akan membahas tentang konsep migrain dan kerangka konseptual.

A. Migrain 1. Definisi Migrain adalah nyeri kepala berulang yang idiopatik dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam, biasanya sesisi, sifatnya berdenyut, intensitas nyeri sedang berat, diperhebat oleh aktivitas fisik rutin, dapat disertai nausea, fotofobia, dan fonofobia. Migrain adalah sakit kepala sebelah, nyeri biasanya dimulai didalam dan disekitar mata atau pelipis, lalu menyebar ke salah satu atau kedua sisi kepala. Biasanya mengenai satu sisi kepala, tetapi dapat pula mengenai seluruh kepala. Sifatnya berdenyut dan disertai dengan hilangnya nafsu makan, mual dan muntah. (Iskandar Junaidi, 2007:6). 2. Etiologi Penyebab dari sakit kepala migrain adalah faktor keturunan yang berhubungan dengan respon vaskuler dan kimia, perubahan vaskuler yang berakibat gangguan listrik dan metabolisme otak. Beberapa migrain terjadi pada saat klien istirahat, stress dan faktor lain yang masih dalam penelitian. Ada juga pendapat bahwa berhubungan dengan tipe kepribadian tertentu pada seseorang, tetapi hal tersebut masih belum pasti.

Faktor lain yang dapat menimbulkan migrain adalah kondisi lelah, marah, cahaya yang silau, terkejut, gembira, perokok, alkoholik, makanan tertentu seperti Pizza, kopi, Monosodium Glutamat (MSG) dan pemakaian kontrasepsi. (Wahyu Widagdo, 2007:155). 3. Faktor faktor pemicu Mudah tidaknya seseorang terkena penyakit migrain ditentukan oleh adanya defek biologis herediter pada sistem syaraf besar. Berbagai faktor dapat memicu serangan migrain pada orang yang berbakat tersebut antara lain : a. Hormonal Fluktuasi hormonal merupakan faktor pemicu 60% wanita, 14% wanita hanya mendapat serangan selama haid. Nyeri kepala migrain dipicu oleh turunnya kadar 17- estradiol plasma saat akan haid. Serangan migrain berkurang selama masa kehamilan karena kadar estrogen yang relatif tinggi dan konstan. Sebaliknya minggu pertama postpartum, 40% pasien mengalami serangan yang hebat karena turunnya kadar estradiol, pemakaian pil kontrasepsi juga meningkatkan frekuensi serangan migrain. b. Menopause Umumnya nyeri kepala migrain akan meningkat frekuensi dan berat ringannya pada saat menjelang menopause. Tetapi, beberapa kasus membaik setelah menopause. c. Makanan

Berbagai makanan atau zat dapat memicu timbulnya serangan migrain. Pemicu migrain tersering adalah alkohol berdasarkan efek

vasodilatasinya dimana anggur merah dan bir merupakan pemicu terkuat. Makanan yang mengandung tiramin yang berasal dari asam amino seperti : keju, makanan yang diawetkan atau diragi, hati, anggur merah, yogurt dan lain- lain. Makanan lain yang pernah dilaporkan dapat mencetuskan migrain adalah coklat (karena mengandung feniletilamin), telur, kacang, bawang, pizza, alpukat, pemanis buatan, daging, teh, kopi dan coca cola yang berlebihan. d. Monosodium Glutamat (MSG) Adalah pemicu migrain yang sering dan penyebab dari sindrome restoran Cina yaitu nyeri kepala yang disertai kecemasan, pusing, parestesia leher dan tangan, serta nyeri perut dan nyeri dada. e. Obat-obatan Seperti nitrogliserin, nifedipin sublingual, isosorbid dinitrat, tetrasiklin, vitamin A dosis tinggi, fluoksetin dan lain- lain. f. Pemanis Buatan (Aspartam) Merupakan komponen utama pemanis buatan dapat menimbulkan nyeri kepala pada orang tertentu. g. Kafein Konsumsi kafein yang berlebihan (lebih dari 350 mg/hari ) atau penghentian mendadak minum kafein. h. Lingkungan

Perubahan lingkungan dalam tubuh yang meliputi fluktuasi hormon pada siklus haid dan perubahan irama bangun tidur dapat menimbulkan serangan akut migrain, perubahan lingkungan eksternal meliputi cuaca, musim, tekanan udara, ketinggian dari permukaan laut dan terlambat makan. i. Rangsangan Sensorik Cahaya yang berkedip-kedip, cahaya silau, cahaya matahari yang terang, atau bau parfum, zat kimia pembersih, rokok, suara bising dan suhu yang ekstrim. j. Stress Fisik dan Mental Dapat memperberat serangan migrain yang disebabkan oleh faktor luar contohnya ketegangan. Menurut Erika Brealy (2002) dampak stress meliputi : 1) Stress Fisik a) Ketegangan otot dan merasa kelelahan b) Sakit kepala, bahu, leher dan punggung c) Mulut kering dan rahang kaku d) Pilek dan sakit kepala e) Kehilangan atau bertambah berat badan f) Sesak nafas, pernafasan tidak teratur 2) Stress Mental a) Kurang konsentrasi, mudah lupa b) Tidak dapat berpikir jernih c) Merasa kesal karena tekanan

d) Kelelahan mental k. Faktor pemicu lain seperti aktifitas seksual, trauma kepala, kurang atau kelebihan tidur. 4. Patofisiologi Teori yang masih dianut sampai saat ini yaitu teori : a. Teori Vaskuler Serangan disebabkan oleh vasokonstriksi pembuluh darah

intrakanial. Sehingga aliran darah ke otak menurun yang dimulai dibagian oksipital dan meluas ke anterior, perlahan-lahan ibarat gelombang oligemia yang sedang menyebar melintasi korteks cerebri dengan kecepatan 2-3 mm per menit, berlangsung beberapa jam (fase aura) dan diikuti oleh vasodilatasi pembuluh darah eksternal yang menimbulkan nyeri kepala. b. Teori Sentral Serangan berkaitan dengan penurunan aliran darah dan aktifitas listrik kortikal yang dimulai pada korteks visual lobus oksipital. Gejala prodromal migrain yang terjadi beberapa jam atau satu hari sebelum nyeri kepala berupa perasaan berubah, pusing, haus, menunjukkan gangguan fungsi hipotalamus. Stimula lobus seruleus menimbulkan penurunan aliran darah otak ipsilateral dan peningkatan aliran darah sistem karotis eksterbas seperti pada migrain. 5. Klasifikasi Menurut The International Headache Society (1988), klasifikasi migrain adalah sebagai berikut :

10

1. Migrain tanpa aura 2. Migrain dengan aura a. Migrain hemiplegia familial b. Migrain basilaris c. Migrain aura tanpa nyeri kepala d. Migrain dengan awitan aura akut 3. Migrain Oftalmoplegik 4. Migrain retinal 5. Migrain yang berhubungan dengan gangguan intrakranial (Mansjoer Arif, dkk, 2004 : 35) 6. Tanda dan Gejala Sekitar 10-30 menit sebelum serangan sakit kepala datang sering didahului oleh suatu periode yang disebut aura dan prodomal dengan manifestasi timbulnya gejala-gejala depresi, mual atau hilangnya nafsu makan, yang terjadi pada sekitar 20% penderita. Penderita lain mengalami hilangnya penglihatan didaerah tertentu (bintik buta atau skotoma) atau melihat cahaya yang berkelap kelip (berkunang-kunang) selain itu ada juga penderita yang mengalami perubahan gambaran, seperti sebuah berita tampak lebih kecil atau lebih besar dari yang sebenarnya. Beberapa penderita merasa kesemutan, perasaan kaku atau lemah pada sisi muka pada tubuh yang terserang, juga mual, muntah dan dingin pada anggota gerak. Biasanya gejala-gejala tersebut menghilang sesaat sakit kepala dimulai. Tetapi kadang timbul bersamaan dengan munculnya sakit

11

kepala atau berlangsung terus dan bahkan makin hebat nyerinya. Nyeri biasanya berdenyut-denyut seperti dipukul-pukul atau ditarik-tarik. Nyeri karena migrain dapat dirasakan pada salah satu sisi kepala atau diseluruh kepala. Kadang-kadang tangan dan kaki saat diraba terasa dingin dan tampak membiru. Serangannya dapat bervariasi. Pada suatu waktu sisi kanan kepala yang terserang dan pada waktu lain sisi kirinya. Gejala dengan aura (perasaan tertentu yang tidak normal) pada beberapa kasus mendahului serangan nyeri kepala. Aura tersebut bisa berbentuk seperti melihat titik terang garis-garis, bergelombang, buta sementara atau bau dan suara yang aneh (Iskandar Junaidi, 2007:22). 7. Komplikasi Migrain a. Status Migrain Serangan migrain dengan nyeri kepala lebih dari 72 jam walaupun telah diobati sebagaimana mestinya. Telah diupayakan memberi obat yang berlebihan, namun demikian nyeri kepala tidak kunjung berhenti, contoh pemberian obat yang berlebihan misalnya minum ergotamin setiap hari atau lebih dari 30 mg tiap bulan, aspirin lebih dari 45 gram, morfin lebih dari 2 kali sebulan, dan telah menggunakan lebih dari 300 mg diazepam atau sejenisnya setiap bulan. b. Infark Migrain Penderita termasuk dalam kriteria migrain dengan aura, serangan yang terjadi sama tetapi defisit neurologik tetap ada setelah 3 minggu dan pemeriksaan CT SCAN menunjukkan hipodensitas yang nyata pada waktu itu. Sementara itu pemicu lain. Terjadinya infark dapat

12

disingkirkan dengan pemeriksaan angiografi pemeriksaan jantung dan darah. 8. Penatalaksanaan 1. Mencegah faktor pemicu 2. Pengobatan non medik Berhubung faktor pencetus tidak selalu dapat dihindari maka dianjurkan pengobatan non-medik, oleh karena pengobatan ini mengurangi banyaknya obat migrain sehingga efek samping dari obatobatan dapat dikurangi, termasuk dalam pengobatan non medik adalah latihan pengendoran otot-otot misalnya Yoga, semedi, dan tusuk jarum. 3. Pengobatan simtomatik 4. Pengobatan Pencegahan (pengobatan interval) Pengobatan pencegahan hanya diberikan bila terdapat lebih dari dua kali migrain dalam sebulan, tak mempan pengobatan non medik, dan pencegahan faktor pencetus 9. Pencegahan 1. Beberapa obat dapat diminum setiap hari untuk mencegah serangan migrain 2. Istirahat dan tidur yang cukup 3. Hindarkan ketegangan saraf atau emosi 4. Rendam kaki ke dalam air hangat selama 20 menit 5. Kompres kepala dengan air dingin

13

B. Kerangka Konseptual Faktor faktor penyebab

Internal Perubahan Hormon Genetik

Extrnal Stress Kelelahan / terlalu banyak tidur Makanan tertentu Puasa / terlambat makan Perubahan cuaca Perokok Alkoholik Pencegahan Obat Istirahat dan tidur yang cukup Hindarkan ketegangan saraf / emosi Rendam kaki ke air hangat + 20 menit Kompres kepala dengan air dingin

Penatalaksanaan Mencegah factor pencetus Pengobatan non medic Pengobatan symtomatik Pengobatan pencegahan

Migrain Faktor Pemicu Hormonal Makanan Obat obatan Rangsangan Sensorik Stress Lingkungan Serangan Ulang

Tidak terjadi

Terjadi Jenis migrain

Keterangan

: :

Tidak Diteliti :

Diteliti

1. Migraine tanpa aura 2. Migraine dengan aura a. Migraine hemiplegia famikal b. Migraine basilans c. Migraine aura tanpa nyeri kepala d. Migraine dengan awitan aura akut 3. Migraine oftalmoplegik 4. Migraine retinal 5. Migraine yang berhubungan dengan gangguan intrakranial

BAB III METODE PENELITIAN

Metode

penelitian

adalah

cara

yang

digunakan

peneliti

dalam

pengumpulan penelitian (Suhartini Arikunto, 2002: 11). Pada bab ini peneliti akan menyajikan dan membahas tentang metode yang digunakan dalam melakukan penelitian, metode ini meliputi : Desain penelitian, definisi operasional sampling desain, pengumpulan data, analisa data, etika penelitian dan keterbatasan penelitian.

A. Desain Penelitian Desain penelitian merupakan suatu bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian (A. Aziz Alimul H. 2003:14). Dalam penelitian ini jenis desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang faktor-faktor pemicu migrain dipoli syaraf RSD Dr. Haryoto Lumajang.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Poli Syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang tahun 2009. 2. Waktu Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2009 hingga Juni 2010.

14

15

C. Identifikasi Variabel Variabel penelitian adalah suatu ukuran lain yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok (orang, benda, situasi) yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Nursalam, 2001 : 41). Dalam penelitian ini variabel yang ditentukan adalah variabel tunggal yaitu faktor-faktor pemicu migrain.

D. Definisi Operasional Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau femomena. Definisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian, sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan karakteristiknya.

19

F. Sampling Desain 1. Populasi Populasi adalah setiap subjek (misalnya manusia, pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.(nursalam, 2003 : 93). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien migrain yang ada di poli syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang. 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari seluruh objek yang akan diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Nursalam, 2002 : 64). Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah pasien migrain di poli syaraf RSD. Dr. Haryoto Lumajang dan yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut : a. Pasien bersedia menjadi responden b. Pasien yang periksa di poli syaraf c. Pasien yang didiagnosa migrain 3. Sampling Sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk mewakili populasi. Tekhnik sampling adalah suatu cara yang ditempuh dalam pengambilan sampling agar memperoleh sample yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan objek penelitian. (Nursalam, 2001 : 66). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan cara purposive smpling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. (Notoadmojo 2002 : 88)

20

G. Pengumpulan dan Analisa Data 1. Instrumen atau alat ukur Instrument yang digunakan untuk variabel ini berupa pertanyaan atau questioner yaitu close ended questioner jenis multiple choice sehingga semua jawaban sudah ada dan responden memilih jawaban yang tersedia. 2. Tekhnik pengumpulan data Peneliti meminta izin kepala poli syaraf, pasien dengan keluhan nyeri kepala peneliti anggap sebagai calon responden kemudian dijelaskan dan diberi informed concernt. Bagi yang bersedia menjadi responden langsung peneliti lakukan dengan wawancara dengan panduan questioner setelah itu dilihat medical record responden. Pasien yang didiagnosa migrain digunakan sebagai sample sementara yang tidak didiagnosa migrain disingkirkan. 3. Analisa Data Data yang telah didapat dari pengumpulan data kemudian ditabulasi dan di kelompokkan sesuai dengan variabel yang diteliti, kemudian data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dilakukan dengan rumus :
N Sp x100% Sm

Keterangan: N : nilai yang didapat Sp : total scor yang masuk dalam kriteria SM : jumlah total responden

21

H. Etika Penelitian Sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti mengajukan permohonan izin kepada Direktur RSD. Dr. Hartoyo Lumajang untuk mengadakan penelitian di RSD. Dr. Haryoto Lumajang. 1. Informed Consent (lembar persetujuan menjadi responden) Lembar persetujuan penelitian diberikan kepada responden dengan persetujuan responden. Tujuan lembar persetujuan adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian mengetahui dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data, jika subjek bersedia maka mereka akan menandatangani lembar persetujuan dan jika subjek tidak bersedia maka peneliti harus menghormati subjek. 2. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasian identitas dari responden, peneliti, tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data. Peneliti hanya memberi kode pada lembar pengumpulan data. 3. Confidentialy (kerahasian) Kerahasian informasi responden dijamin untuk peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian. (A. Aziz Alimul Hidayat. 2007: 38)

H. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian : 1. Peneliti

22

Karya tulis ilmiah ini merupakan penelitian yang pertama kali bagi peneliti, sehingga karya tulis ini masih jauh dari sempurna.

2. Alat Ukur Dalam penelitian ini peneliti tidak melakukan uji kuesioner sebelum melakukan pengumpulan data. 3. Responden Dalam penelitian ini responden yang sesuai dengan kriteria inklusi jumlahnya terbatas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta. Astawan, Made. Migrain, http://www.harun yahya.com/indo/artikel/076.html Astawan, Made. stress - awal - dari - penyakit, http://www.masrizkiku. com/2009/09/ stress - awal - dari - penyakit.html Ayodya L Ryadi. 2002. Migraine Dan Sakit Kepala Lainnya. Jakarta : PT. Dian Rakyat Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Riset Keperawatan Dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika Junaidi, Iskandar. 2007. Sakit Kepala, Migrain Dan Vertigo. Jakarta : PT Buna Ilmu Populer Kelompok Gramedia Nursalam. 2001. Pendekatan Praktis Dan Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta : CV Agung Seto. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Peelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Widagdo, Wahyu Dlek. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan.. Jakarta : Trans Info Media Yuda Turana. sakit-kepala. http://www.medikaholistik.com/2033/2004/11/2008/ medika.html?xmodule=document_detail&xid=197.

36