Anda di halaman 1dari 32

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Mengenai Status Gizi

2.1.1 Pengertian Gizi dan Status Gizi Dalam pembahasan tentang status gizi, ada tiga konsep yang harus dipahami. Ketiga konsep ini saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Konsep tersebut menurut Suharjo yaitu proses dari organisme dalam menggunakan bahan makanan melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, penyimpanan metabolisme, dan pembuangan untuk pemeliharaan hidup, pertumbuhan, fungsi organ tubuh, dan produksi energi. Proses ini disebut gizi (nutrition) (1). Keadaan yang dilakukan oleh keseimbangan antara pemasukan zat gizi disatu pihak dan pengeluaran oleh organisme, dipihak lain. Keadaan ini disebut nutriture (2). Dan tanda tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh nutriture dapat terlihat melalui tipe tertentu. Hal ini disebut sebagai status gizi (nutritional status) (3).3 Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat zat yang tidak digunakan untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ organ, serta menghasilkan energi.3 Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). Status gizi adalah ekspresi dari

keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variable tertentu.3 Pada gilirannya, zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh, dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Beberapa zat gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut zat gizi essential, mengingat kenyataan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dapat dibentuk dalam tubuh, setidak-tidaknya dalam jumlah yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang normal. Jadi zat gizi esensial yang disediakan untuk tubuh yang dihasilkan dalam pangan, umumnya adalah zat gizi yang tidak dibentuk dalam tubuh dan harus disediakan dari unsur-unsur pangan di antaranya adalah asam amino essensial. Semua zat gizi essential diperlukan untuk memperoleh dan memelihara pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan yang baik. Oleh karena itu, pengetahuan terapan tentang kandungan zat gizi dalam pangan yang umum dapat diperoleh penduduk di suatu tempat adalah penting guna merencanakan, menyiapkan, dan mengkonsumsi makanan seimbang.4 Pada umumnya zat gizi dibagi dalam lima kelompok utama, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan sejumlah pakar juga berpendapat air juga merupakan bagian dalam zat gizi. Hal ini didasarkan kepada fungsi air dalam metabolisme makanan yang cukup penting walaupun air dapat disediakan di luar bahan pangan. Makan makanan yang beraneka ragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang

mengandung zat tenaga, pembangun, dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.4 Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul konsekuensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut karena faktor gizi.4 2.1.2 Kebutuhan Zat Gizi Anak Usia Sekolah Gizi dibutuhkan anak sekolah untuk pertumbuhan dan perkembangan, energi, berpikir, beraktivitas, fisik, dan daya tahan tubuh. Zat gizi yang dibutuhkan anak sekolah adalah seluruh zat gizi yang terdiri dari zat gizi makro seperti

karbohidrat, protein, lemak, serta zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Zat gizi yang dibutuhkan disesuaikan dengan usia, berat badan, dan tinggi badan anak.1,5 Pertumbuhan adalah proses yang berhubungan dengan bertambah besarnya ukuran fisik karena terjadi pembelahan dan bertambah banyaknya sel, disertai bertambahnya substansi intersel pada jaringan tubuh. Proses tersebut dapat diamati dengan adanya perubahan perubahan pada besar dan bentuk yang dinyatakan dalam nilai niali ukuran tubuh, misalnya berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, dan sebagainya. Pada masa anak anak

banyak mengalami perubahan perubahan di dalam tubuh yang meliputi meningkatnya tinggi dan berat badan. Menurut Toho Cholik Mutohir dan Gusril secara umum pertumbuhan tinggi badan pada masa anak anak mengalami kenaikan per tahun 2 -3 inchi (5 7 cm), untuk anak perempuan umur 11 tahun rata rata mempunyai tinggi badan 59 inchi (147,3 cm)sedangkan anak laki laki 57,5 inchi (146 cm). Berat badan mengalami kenaikan yang lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi badan, berkisar antara sampai 5 pon (1,5 2,5 kg) per tahun. Anak perempuan umur 11 tahun, rata rata mempunyai berat badan 88,5 pon (44,25 kg) sedangkan anak laki laki 85,5 pon (42,75 kg).1 Perkembangan adalah proses yang berhubungan dengan fungsi organ atau alat tubuh karena terjadinya pematangan. Pada pematangan ini terjadi diferensiasi sel dan maturasi alat atau organ sesuai dengan fungsinya. Proses tersebut dapat diamati dengan bertambah pandainya keterampilan dan perilaku.1,5,6 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi bersama sama secara utuh karena seorang anak tidak mungkin tumbuh kembang sempurna bila hanya bertambah besarnya saja tanpa disertai bertambahnya kepandaian dan keterampilan. Sebaliknya kepandaian dan keterampilan seorang anak tidak mungkin tercapai tanpa disertai oleh bertambah besarnya organ atau alat sampai optimal.1,5,6 Usia sekolah anak antara 6 14 tahun, di mana usia tersebut merupakan bagian dari suatu rangkaian panjang dari siklus hidup manusia yang dimulai sejak janin dalam kandungan sampai usia tua nanti.1

Masa tua Janin Siklus Kehidupan Bayi Anak anak


Gambar 2.1 Siklus Kehidupan (Dikutip dari kepustakaan 1) Pada rentangan usia tersebut status gizinya ditentukan sejak usia bayi dan balita juga ditentukan saat ini, dan akan menentukan status gizi pada usia selanjutnya. Menginjak usia enam tahun anak sudah mulai menentukan pilihan makanannya sendiri, tidak seperti saat balita lagi sepenuhnya tergantung pada orangtua. Periode ini merupakan periode yang cukup kritis dalam pemilihan makanan, karena anak baru saja belajar memilih makanan dan belum mengerti makanan yang bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan gizinya sehingga anak memerlukan bimbingan orang tua dan guru.1,5 Pada saat ini pertumbuhan fisik terutama pertambahan tinggi badan anak berlangsung cepat, anak banyak melakukan aktivitas fisik, aktivitas sosial, seperti

Dewasa

Remaja

10

bergaul dengan teman temannya dan sejalan dengan itu perkembangan kognitif anak meliputi perkembangan pemikiran, intelegensia, dan bahasa.1,5 Adanya aktivitas yang tinggi mulai dari sekolah, kursus, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), dan mempersiapkan pekerjaan untuk esok harinya, membuat stamina anak cepat menurun kalau tidak ditunjang dengan intake pangan dan gizi yang cukup dan berkualitas. Agar stamina anak usia sekolah tetap fit selama mengikuti kegiatan di sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler, maka saran utama dari segi gizi adalah jangan meninggalkan sarapan pagi. Ada berbagai alasan yang seringkali menyebabkan anak-anak tidak sarapan pagi. Ada yang merasa waktu sangat terbatas karena jarak sekolah cukup jauh, terlambat bangun pagi, atau tidak ada selera untuk sarapan pagi.6

11

Tabel 2.1 Kebutuhan Zat Gizi Anak Menurut Kelompok Umur (AKG 2004) Kelompok Umur 46 th L Energi (Kal) Protein (g) Vit. A (RE) Vit. D(mcg) Vit. E (mg) Vit. K (mg) Vit. B1 (mg) Vit. B2 (mg) Niasin (mg) As. Folat (mcg) Vit. B6 (mg) Vit. B12 (mcg) Vit. C (mg) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Magnesium (mg) Besi (mg) Yodium (mg) Seng (mg) 9 120 9,7 10 120 11,2 20 1,7 13 120 14 20 1,9 20 120 12,6 20 1,6 19 150 17,4 30 2,2 26 150 15,4 30 1,6 1550 39 450 5 7 20 0,6 0,6 8 200 0,6 5 45 500 400 80 P 1800 45 500 5 7 25 0,9 0,9 10 200 1 1,5 45 600 400 120 7 9 th 10 12 th L 2050 50 600 5 11 35 1 1 12 300 1,3 1,8 50 1000 1000 170 P 2050 50 600 5 11 35 1 1 12 300 1,2 1,8 50 1000 1000 180 L 2400 60 600 5 15 55 1,2 1,2 14 400 1,3 2,4 75 1000 1000 220 13 15 th P 2350 57 600 5 15 55 1,1 1 13 400 1,2 2,4 65 1000 1000 230

Selenium (mcg) 20 Mangan (mg) 1,5

(Dikutip dari kepustakaan 1)

12

2.1.3 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Berikut adalah faktor faktor yang mempengaruhi status gizi :7 1. Penyebab langsung Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah terserang penyakit. 2. Penyebab tidak langsung Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu : Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai, pola pengasuhan anak kurang memadai, pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. 2.1.4 Masalah Gizi Anak Sekolah Masalah gizi adalah gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidakseimbangan antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit (infeksi).1 Ketidakseimbangan ini akan mengakibatkan :1 1. Menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit (imunitas) 2. Gangguan pertumbuhan fisik 3. Gangguan perkembangan dan kecerdasan otak 4. Rendahnya produktivitas

13

5. Gangguan gangguan gizi dan kesehatan lainnya Pembangunan ekonomi biasanya disertai dengan perbaikan dalam

ketersediaan pangan sehingga meningkatkan status gizi. Selain itu juga membawa perubahan yang kualitatif dalam produksi, pengolahan, distribusi, dan pemasaran makanan. Transisi gizi termasuk perubahan pola makan, baik kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan tersebut meliputi pergeseran dalam struktur diet menuju energi yang lebih tinggi, konsumsi tinggi gula dan lemak dan kebanyakan lemak jenuh karena sebagian besar dari sumber hewani, mengurangi asupan karbohidrat kompleks, serat makanan, buah, dan sayuran. Perubahan diet ini diperparah oleh perubahan gaya hidup yang mencerminkan penurunan aktivitas fisik di tempat kerja dan selama waktu senggang. Namun, pada saat yang sama, bagaimanapun daerah miskin terus menghadapi kekurangan pangan dan kekurangan gizi.1,7 Begitu juga anak sekolah saat ini menghadapi masalah gizi ganda, yaitu di satu sisi gizi kurang yang berakibat pada tidak optimalnya pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Namun di sisi lain menghadapi gizi yang lebih yang mengancam kesehatan anak nantinya seperti timbulnya penyakit degenerative, yaitu obesitas, hipertensi, jantung, diabetes, stroke, dan lain lain.1,7

2.1.5 Perilaku Gizi Yang Salah Pada Anak Sekolah Ketidaktahuan akan gizi yang baik pada anak ataupun orang tua menyebabkan anak sekolah sering berperilaku salah dalam mengonsumsi zat gizi. Berikut beberapa perilaku gizi yang salah pada anak sekolah.1

14

1. Tidak mengonsumsi menu gizi seimbang Menu gizi seimbang seharusnya menjadi pedoman bagi pola makan anak sekolah. Akan tetapi, masih banyak anak sekolah atau orang tua tidak memperhatikan kelengkapan menu seperti di atas. Misalnya, dalam piring hanya tersedia nasi dan ikan goreng saja. Berarti hanya terpenuhi sumber karbohidrat, protein, dan lemak saja, tanpa sumber vitamin, mineral yaitu sayur dan buah. Padahal, sayur dan buah juga berfungsi sebagai sumber yang diperlukan dalam membantu pencernaan. 2. Tidak sarapan pagi Makan pagi mempunyai peranan penting bagi anak sekolah usia 6 14 tahun yaitu untuk pemenuhan gizi di pagi hari di mana anak anak berangkat ke sekolah dan mempunyai aktivitas yang sangat padat di sekolah. Apabila anak anak terbiasa makan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama daya ingat anak sehingga dapat mendukung prestasi belajar anak ke arah yang lebih baik. Sarapan pagi merupakan pasokan energi untuk otak yang paling baik agar dapat berkonsentrasi di sekolah. Ketika bangun pagi kadar gula darah dalam tubuh kita rendah karena semalaman tidak makan. Tanpa sarapan yang cukup, otak akan sulit berkonsentrasi di sekolah. 3. Jajan tidak sehat di sekolah Anak sekolah tidak bisa terlepas dari makanan jajanan di sekolah. Hal ini merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas fisik di sekolah yang tinggi (apalagi anak yang tidak sarapan pagi), pengenalan berbagai

15

jenis makanan jajanan akan menumbuhkan kebiasaan perasaan meningkatkan gengsi anak di mata teman teman sekolahnya. Biasanya anak sekolah menyukai makanan yang tinggi kalori yang bersumber dari minyak dan gula. Padahal makanan tradisional sebetulnya kaya akan serat dan kalorinya tidak terlalu tinggi. Namun, makanan tradisional ini jarang dijual di sekolah dan anak anak biasanya tidak mau membeli karena rasanya kurang gurih sehingga kurang disukai. Makanan jajanan dalam membantu pasokan kalori tentunya baik, namum keamanan jajanan tersebut dari segi mikrobiologis maupun dari segi kimiawi masih dipertanyakan. Apalagi dalam waktu terakhir ini Badan POM telah mengungkapkan semuanya tentang berbagai bahan kimia berbahaya seperti formalin dan bahan pewarna tekstil pada bahan makanan yang ada di pasaran. Sehingga perilaku makan pada anak usia di sekolah harus diperhatikan secara cermat dan serius. Belakangan juga terungkap bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan bicara, hiperaktif hingga memperberat gejala pada penderita autisme. Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan) ini menimbulkan gejala gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau kesulitan BAB. Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh

16

Badan POM dan Departemen Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes no. 722/Menkes/Per/IX/1998. 4. Kurang mengonsumsi buah dan sayur Buah dan sayur merupakan sumber zat gizi vitamin dan mineral. Vitamin yang terdapat dalam buah dan sayuran adalah provitamin A, vitamin C, K, E, dan berbagai kelompok vitamin B kompleks. Di samping itu, buah dan sayuran juga kaya akan berbagai jenis mineral, di antaranya kalium (K), kalsium (Ca), natrium (Na), zat besi (Fe), magnesium (Mg), mangan (Mn), seng (Zn), dan selenium (Se). anak sekolah di Indonesia umumnya kurang mengonsumsi sayuran. Ini disebabkan kurangnya kesadaran anak dan orang tua akan pentingnya zat gizi dari buah dan sayuran. Hal ini merupakan pola makan yang salah, karena jelas jelas tidak memenuhi menu gizi seimbang dan dapat berakibat pada kesehatan anak sekolah. Anak sekolah bisa saja mengalami kekurangan vitamin A, vitamin C, besi, kalsium, dan seng yang berakibat pada pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Penelitian lain menunjukkan bahwa anak yang kurang mengonsumsi buah dan sayur serta terlalu sering mengonsumsi makanan berlemak akan mengalami kegemukan. Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2007) bahwa sebanyak 93,5 persen anak usia 10 tahun ke atas tidak mengonsumsi buah dan sayur. 5. Mengonsumsi fast food dan junk food Menurut Wikipedia.org, fast food adalah istilah yang diberikan untuk makanan yang dapat disusun dan disajikan dengan sangat cepat. Istilah ini mengacu pada makanan yang dijual di restoran atau toko dengan bahan yang

17

dipanaskan atau dimasak, dan diberikan kepada pelanggan dalam bentuk paket untuk dibawa. Sedangkan junk food mendeskripsikan makanan yang tidak sehat atau memiliki sedikit kandungan nutrisi. Junk food mengandung jumlah lemak yang besar. Junk food juga diartikan sebagai makanan yang nutrisinya terbatas. Makanan yang tergolong dalam kategori ini adalah makanan yang mengandung banyak gula, garam, lemak, dan kalorinya tinggi, sementara protein, vitamin, mineral, dan seratnya rendah. Data Risekesda 2007 menunjukkan bahwa anak usia 10 tahun ke atas sebanyak 65,2 persen mengonsumsi makanan manis, sebanyak 24,5 persen mengonsumsi makanan asin, dan 12,8 persen mengonsumsi makanan berlemak. 6. Konsumsi gula berlebihan Saat ini banyak perhatian para ahli terhadap konsumsi gula berlebihan pada anak. Banyak diantara kita tidak menyadari yang termasuk gula tersebut ternyata bukanlah hanya gula pasir yang biasa kita tambahkan dalam makanan sehari hari. Rekomendasi WHO adalah tidak lebih dari 10 persen dari energi total berasal dari gula tambahan. Jadi bila dibandingkan dengan AKG (Angka Kecukupan Gizi), maka untuk anak usia 7 9 tahun dengan AKG 1800 aklori, maka 10 persen AKG adalah 180 kalori setara dengan 45 gram gula dan setara dengan 9 sendok teh gula. Untuk anak usia 10 12 tahun dengan AKG 2050 kalori, maka 10 persen AKG adalah 205 kalori setara dengan 51,25 gram gula dan setara dengan 10,25 sendok teh gula. Kelebihan konsumsi gula dapat mengakibatkan terjadinya karies gigi, diabetes dan obesitas. Karies gigi adalah penyakit yang berasal dari mikroba di mana

18

karbohidrat pangan difermentasi oleh bakteri pembentuk asam yang menyebabkan demineralisasi gigi. Diperkirakan bahwa 90 persen dari anak anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies. 7. Konsumsi lemak berlebihan Lemak makanan terdapat pada tumbuhan dan hewan. Lemak sebagai sumber energi dan asam lemak aseensial, dan membantu dalam penyerapan vitamin yang larut dalam lemak A, D, E, dan K. IOM (Institute of Medicine) membatasi asupan lemak total untuk anak anak dan orang dewasa (anak anak dan remaja usia 4 sampai 18 tahun : 25 35 persen ; usia dewasa 9 tahun dan lebih tua : 20 35 persen). Kisaran ini terkait dengan penurunan risiko penyakit kronis, seperti kardiovaskuler, dengan menyediakan kebutuhan asupan nutrisi penting. Beberapa dari lemak yang harus diwaspadai adalah asam lemak jenuh, asam lemak trans, dan kolesterol. 8. Mengonsumsi makanan beresiko Anak sekolah disadari atau tidak telah mengonsumsi makanan yang menimbulkan resiko terhadap kesehatan mereka, makanan beresiko tersebut adalah penyedap makanan (MSG), makanan berkafein, makanan yang diberi pengawet, dan bahan pewarna yang dilarang. Data Risekesda 2007 menunjukkan anak usia 10 tahun ke atas sebanyak 77,8 persen mengonsumsi penyedap (MSG), 36,5 persen mengkonsumsi makanan berkafein, dan 6,3 persen mengkonsumsi makanan yang diawetkan.

19

2.1.6 Penilaian Status Gizi Ada beberapa metode untuk mengetahui keadaan gizi :3 1. Survey digunakan untuk menentukan data dasar (database) gizi dan/atau menentukan status gizi kelompok populasi tertentu atau menyeluruh, dengan cara survey cross-sectional. 2. Surveillance dengan ciri khas yaitu monitoring berkelanjutan dari status gizi populasi tertentu, dimana data dikumpulkan, dianalisis dan digunakan untuk jangka waktu yang panjang, sehingga dapat mengidentifikasi penyebab malnutrisi. 3. Penapisan (screening) untuk mengidentifikasi individu malnutrisi yang memerlukan intervensi, dengan cara membandingkan hasil pengukuran pengukuran individu dengan baku rujukan (cut off point). Macam-macam penilaian status gizi :3 1. Penilaian status gizi secara langsung : a. Antropometri Supariasa mendefenisikan antropometri adalah ukuran tubuh. Maka

antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat dan tingkat gizi.3 Pengukuran antropometri relatif mudah dilaksanakan. Akan tetapi untuk berbagai cara, pengukuran antropometri ini membutuhkan keterampilan, peralatan, dan keterangan untuk pelaksanaanya. Jika dilihat dari tujuannya antropometri dapat dibagi menjadi dua yaitu :3

20

1. Untuk ukuran massa jaringan : Pengukuran berat badan, tebal lemak dibawah kulit, lingkar lengan atas. Ukuran massa jaringan ini sifanya sensitif, cepat berubah, mudah turun naik dan menggambarkan keadaan sekarang. 2. Untuk ukuran linier : pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar dada. Ukuran linier sifatnya spesifik, perubahan relatif lambat, ukurannya tetap atau naik, dapat menggambarkan riwayat masa lalu. Parameter dan indeks antropometri yang umum digunakan untuk menilai status gizi anak adalah indikator Berat Badan Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U), Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).3 Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U) Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak), karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak misalnya karena penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya makanan yang dikonsumsi maka berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan zat gizi terjamin, berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya keadaan abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan yaitu berkembang lebih cepat atau berkembang lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan sifat-sifat ini, maka indeks berat badan menurut umur (BB/U) digunakan sebagai salah satu indikator status gizi. Oleh karena sifat berat badan yang stabil maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang pada saat kini (current nutritional status).3

21

Penggunaan indeks BB/U sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu mendapat perhatian. Kelebihan indeks BB/U yaitu dapat lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum, sensitif untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek,dapat mendeteksi kegemukan (Over weight). :3 Sedangkan kelemahan dari indeks BB/U adalah dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema, memerlukan data umur yang akurat, sering terjadi kesalahan pengukuran misalnya pengaruh pakaian, atau gerakan anak pada saat penimbangan, secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat. :3 Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) Tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang menggambarkan pertumbuhan skeletal. Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah defisiensi zat gizi jangka pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan baru akan tampak pada saat yang cukup lama.3 Indeks TB/U lebih menggambarkan status gizi masa lampau dan dapat juga digunakan sebagai indikator perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Keadaan tinggi badan anak pada usia sekolah (tujuh tahun), menggambarkan status gizi masa balitanya. Masalah penggunaan indeks TB/U pada masa balita, baik yang berkaitan dengan kesahlian pengukuran tinggi badan maupun ketelitian data umur. Masalah-masalah seperti ini akan lebih berkurang bila pengukuran dilakukan pada

22

anak yang lebih tua karena pengukuran lebih mudah dilakukan dan penggunaan selang umur yang lebih panjang (setelah tahunan atau tahunan) memperkecil kemungkinan kesalahan data umur.3 Kelemahan penggunaan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) yaitu :3 1. Tidak dapat memberi gambaran keadaan pertumbuhan secara jelas. 2. Dari segi operasional, sering dialami kesulitan dalam pengukuran terutama bila anak mengalami keadaan takut dan tegang. Indeks Massa Tubuh Menurut (IMT/U) Menurut Supariasa,dkk salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan pelaksanaan perbaikan gizi adalah dengan menentukan atau melihat. Ukuran fisik seseorang sangat erat hubungannya dengan status gizi. Atas dasar itu, ukuran-ukuran yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi dengan melakukan pengukuran antropometri. Hal ini karena lebih mudah dilakukan dibandingkan cara penilaian status gizi lain, terutama untuk daerah pedesaan.3 Pengukuran status gizi pada anak sekolah dapat dilakukan dengan cara antropometri. Saat ini pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh) digunakan secara luas dalam penilaian status gizi, terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara intake energi dan protein. Pengukuran antropometri terdiri atas dua dimensi, yaitu pengukuran pertumbuhan dan komposisi tubuh. Komposisi tubuh mencakup komponen lemak tubuh (fat mass) dan bukan lemak tubuh (non-fat mass).3

23

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1995/Menkes/SK/XII/2010, penentuan klasifikasi status gizi untuk anak usia SD (termasuk kelompok usia 518 tahun) menggunakan indikator indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).3 Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Berat Badan (Kg) IMT= ------------------------------------------------Tinggi Badan(m) x Tinggi Badan(m)

b. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.3 Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Di samping itu, digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.3

24

Tabel 2.2 Contoh Penilaian Status Gizi dengan melihat Tanda Klinik Tanda Klinik Pucat pada konjungtiva Bitot spot Angular stomatitis Gusi berdarah Pembesaran kelenjar gondok Udem pada anak balita Kemungkinan Kekurangan Zat Gizi Anemia Kurang vit. A Riboflavin Kurang vit. C Kurang Yodium Kurang energi protein

(Dikutip dari kepustakaan 3) c. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urin, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.3 Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faal ini dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.3 d. Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night).3

25

2. Penilaian status gizi secara tidak langsung Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu: survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Pengertian dan penggunaan metode ini akan diuraikan sebagi berikut :3 a. Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini dapat

mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. b. Statistik Vital Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat. c. Faktor Ekologi Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.3

26

2.2 Tinjauan Umum Anak Sekolah Dasar 2.2.1 Pengertian dan Karakteristik Anak SD Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 7-12 tahun, memiliki fisik lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang tua. Biasanya pertumbuhan anak putri lebih cepat dari pada putra. Kebutuhan gizi anak sebagian besar digunakan untuk aktivitas pembentukan dan pemeliharaan jaringan. Karakteristik anak sekolah meliputi: pertumbuhan tidak secepat bayi, gigi merupakan gigi susu yang tidak permanen (tanggal). lebih aktif memilih makanan yang disukai, kebutuhan energi tinggi karena aktivitas meningkat, pertumbuhan lambat, pertumbuhan meningkat lagi pada masa pra remaja. 5 Anak sekolah biasanya banyak memiliki aktivitas bermain yang menguras banyak tenaga, dengan terjadi ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan keluar, akibatnya tubuh anak menjadi kurus. Untuk mengatasinya harus mengontrol waktu bermain anak sehingga anak memiliki waktu istirahat cukup.1,5 2.3 Tinjauan tentang Prestasi Belajar 2.3.1 Pengertian Belajar Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon atau perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.8 Seseorang dianggap telah belajar bila ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan/input yang

27

berupa stimulus dan keluaran atau output berupa respon. Faktor yang mempengaruhi belajar dalam teori ini adalah penguatan respons.8 Menurut teori humanistik, belajar adalah untuk memanusiakan manusia atau dapat dikatakan proses aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Proses belajar dapat dianggap berhasil bila seorang pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Faktor yang berpengaruh disini adalah pengalaman konkrit, pengalaman aktif, dan reflektif, konseptualisasi Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang dan eksperimentasi seorang pelajar.8 Asumsi dasar teori ini adalah bahwa setiap orang mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya yang tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara klop dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh seorang.8 Dari beberapa definisi diatas, dapat dipahami bahwa belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.8 2.3.2 Prinsip Prinsip Belajar Proses belajar adalah suatu hal yang kompleks, tetapi dapat juga dianalisa dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar. Hal ini perlu kita ketahui agar kita memiliki pedoman dan teknik belajar yang baik. Prinsip-prinsip itu adalah :9

28

1. Belajar harus bertujuan dan terarah. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapan. 2. Belajar memerlukan bimbingan, baik dari bimbingan guru maupun buku pelajaran itu sendiri. 3. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. 4. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. 5. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara murid dengan lingkungannya. 6. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan. 7. Belajar dikatakan berhasil apabila telah sanggup menerapkan kedalam bidang praktek sehari-hari. 2.3.3 Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, umumnya ditujukan dengan nilai yang diberikan oleh guru. Prestasi belajar merupakan hasil dari proses kegiatan belajar. Untuk mengetahui prestasi belajar dapat dilakukan melalui proses penilaian hasil belajar dengan menggunakan tes maupun evaluasi.10 Dari pendapat ahli di atas mengenai prestasi belajar dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah kemampuan seseorang pada bidang tertentu dalam mencapai tingkat kedewasaan yang langsung dapat diukur dengan tes.

29

Penilaian ini dapat berupa angka atau huruf. Sedangkan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah pretasi belajar anak-anak SD Inpres VI Tamalanrea. 2.3.4 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Menurut Slameto faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi dapat

digolongkan ke dalam dua golongan yaitu faktor internal yang bersumber pada diri siswa dan faktor eksternal yang bersumber dari luar diri siswa. Faktor internal terdiri dari kecerdasan atau intelegensi, perhatian, bakat ,minat, motivasi, kematangan, kesiapan dan kelelahan. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Faktor-faktor tersebut meliputi: 10 1. Faktor internal (faktor dalam diri manusia) a. Faktor fisiologi (yang bersifat fisik) yang meliputi: 1) Karena sakit Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya ransangan yang diterima melalui inderanya lama, sarafnya akan bertambah lemah, sehingga ia tidak dapat masuk sekolah untuk beberapa hari, yang mengakibatkan ia tertinggal dalam pelajarannya. 2) Karena kurang sehat Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, dan pikirannya terganggu. Karena hal-hal tersebut penerimaan dan respon terhadap pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja

30

secara optimal dalam memproses, mengelola,menginterprestasi, dan mengorganisasi materi pelajaran melalui inderanya sehingga ia tidak dapat memahami makna materi yang dipelajarinya. 3) Karena cacat tubuh Cacat tubuh dibedakan atas dua golongan, yaitu : - Cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor. - Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu dan sebagainya. Bagi seseorang yang memiliki cacat tubuh ringan masih dapat mengikuti pendidikan umum, dengan syarat guru memperhatikan dan

memperlakukan siswa dengan wajar. Sedangkan bagi orang yang memiliki cacat tubuh serius harus mengikuti pendidikan di tempat khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB). b. Faktor psikologi (faktor yang bersifat rohani) yang meliputi : 1) Intelegensi Setiap orang memiliki tingkat IQ yang berbeda-beda. Seseorang yang memiliki IQ 110-140 dapat digolongkan cerdas, dan yang memiliki IQ 140 keatas tergolong jenius. Golongan ini mempunyai potensi untuk dapat menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi. Seseorang yang memiliki IQ kurang dari 90 tergolong lemah mental, mereka inilah yang banyak mengalami kesulitan belajar.

31

2) Bakat Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang harus mempelajari sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya. Ia akan cepat bosan, mudah putus asa, dan tidak senang. Hal-hal tersebut akan tampak pada anak suka mengganggu kelas, berbuat gaduh, tidak mau pelajaran sehingga nilainya rendah. 3) Minat Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhanya, tidak sesuai dengan kecakapan, dan akan menimbulkan problema pada diri anak. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, dan aktif tidaknya dalam proses pembelajaran. 4) Motivasi Motivasi sabagai faktor dalam (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya. Seorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah, dan giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa,

32

perhatianya tidak tertuju pada pelajaran, suka menggangu kelas, dan sering meninggalkan pelajaran. Akibatnya mereka banyak mengalami kesulitan belajar. 5) Faktor kesehatan mental Dalam belajar tidak hanya menyangkut segi intelek, tetapi juga menyangkut segi kesehatan mental dan emosional. Hubungan kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik demikian juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang. Bila harga diri tumbuh akan merupakan faktor adanya kesehatan mental. Individu di dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan, seperti : memperoleh penghargaan, dapat

kepercayaan, rasa aman, rasa kemesraan, dan lain-lain. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi akan membawa masalah-masalah emosional dan akan menimbulkan kesulitan belajar. 2. Faktor eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa, faktor ini meliputi : a. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Yang termasuk faktor ini antara lain : perhatian orangtua, keadaan ekonomi orangtua, hubungan antara anggota keluarga.

33

b. Lingkungan sekolah Yang dimaksud sekolah adalah guru, alat-alatan yaitu faktor alat dan kondisi gedung. c. Faktor Media Massa dan Lingkungan Sosial (Masyarakat) 2.3.5 Pengukuran Prestasi Belajar Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh seseorang, hal atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Jadi pengukuran prestasi belajar adalah pemberian angka atau skala tertentu menurut suatu aturan atau formula tertentu terhadap penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui pelajaran. Pengukuran ini digunakan oleh seorang pendidik atau guru untuk melakukan penilaian terhadap hasil belajar anak didiknya, baik menggunakan instrumen tes maupun non tes. Tes adalah suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang atribut pendidikan yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan tertentu yang dianggap benar.10 Instrumen non tes lebih ditekankan pada sikap seorang anak didik, misalnya sopan santun, budi pekerti, dan hubungan sosial dengan teman dan lingkungan. Penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan baik dan benar bila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar dengan menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Secara garis besar penilaian dapat dibagi menjadi dua, yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif digunakan untuk memantau sejauh manakah proses pendidikan telah berjalan sebagaimana yang

34

direncanakan. Sedangkan penilaian sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah dapat berpindah dari satu unit keunit berikutnya.10 2.3.6 Pengaruh Status Gizi Terhadap Prestasi Belajar Status gizi adalah pengukuran kadar gizi dalam tubuh seseorang yang dapat diukur dengan skala berat bedan. Berat badan dapat menentukan terhadap asupan makanan apa yang dikonsumsi seseorang. Hal ini tentu berhubungan dengan kecukupan gizi yang sesuai baik dalam hal kualitas maupun kuantitas zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan faal tubuh. Pada usia anak sekolah kebutuhan energi diperlukan untuk kegiatan seharihari maupun untuk proses metabolisme tubuh. Kebutuhan protein meningkat karena proses tumbuh kembang berlangsung cepat. Apabila asupan energi terbatas atau kurang, protein akan dipergunakan sebagai energi. Kebutuhan protein usia 10-12 tahun adalah 50 g/hari, 13-15 tahun sebesar 57 g/hari dan usia 16-18 tahun adalah 55 g/hari. Kebutuhan energi sangat dibutuhkan pada proses pembelajaran anak, karena pada proses belajar ilmu pengetahuan yang diterima berhubungan dengan jasmaniah yang diperoleh melalui panca indera sehingga apabila salah satu panca inderanya rusak maka anak tidak akan sempurna menerima pelajaran yang berdampak terhadap buruknya prestasi belajar mereka. Anak dengan status gizi kurang atau buruk selain mengalami hambatan pertumbuhan fisik juga akan mengalami gangguan belajar antara lain berupa penurunan prestasi akademik di sekolah.

35

2.4 Kerangka Teori Berdasarkan dalam landasan teori, maka disusun kerangka teori mengenai Hubungan status gizi dengan tingkat prestasi belajar, yang secara lebih lanjut dapat dilihat dari bagan berikut :

1.

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Fisiologi (status gizi, kesehatan jasmani) Psikologi

Faktor lingkungan keluarga

Faktor lingkungan sekolah

Perkembangan otak

Faktor lingkungan masyarakat

PRESTASI BELAJAR

Gambar 2.2 Kerangka teori

36

2.5 Kerangka Konsep Variabel Independen


Status Gizi (BB/TB) Faktor Internal

Variabel Dependen

Faktor Internal yang Lain

Prestasi Belajar

Faktor Eksternal

Faktor Lingkungan

Gambar 2.3 Kerangka konsep Keterangan : : variabel yang diteliti : variabel yang tidak diteliti 2.6 Hipotesis 1. Hipotesis Null (H0) : Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan tingkat prestasi siswa SD Inpres VI Tamalanrea Makassar. 2. Hipotesis Alternatif (Ha) : Terdapat hubungan antara status gizi dengan tingkat prestasi siswa SD Inpres VI Tamalanrea Makassar.

37