P. 1
Makalah Ekg Final

Makalah Ekg Final

|Views: 470|Likes:
Dipublikasikan oleh Azman Hakim

More info:

Published by: Azman Hakim on Feb 16, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2014

pdf

text

original

CARA BACA DAN INTERPRETASI EKG

Linda Kartanegara* Donni Indra Kusuma** ABSTRACT Electrocardiogram is a diagnostic tool that is very special and important role in a variety of conditions (either pathological or not), not only in heart abnormalities. Until now there has been no new tests to replace the role of electrocardiogram (ECG). When detected early, many diseases can be helped in a timely manner in order to avoid short-and long-term complications and even death. Of course the reading and interpretation of the ECG should be good. A normal ECG consists of a P wave, QRS complex and the T wave which each waves have a normal edge as a parameter. Keyword: Electrocardiography, Electrocardiogram, How to read, Interpretation ABSTRAK Elektrokardiografi merupakan sarana diagnostik yang sangat spesial dan penting dalam berbagai kondisi (baik patologis atau tidak), bukan hanya pada kelainan jantung. Hingga saat ini belum ada pemeriksaan baru yang dapat menggantikan peran elektrokardiogram (EKG). Bila dideteksi dini, banyak penyakit yang dapat ditolong pada waktu yang tepat untuk menghindari komplikasi jangka pendek maupun panjang bahkan kematian. Tentu saja cara baca dan interpretasi EKG harus baik. Sebuah EKG yang normal terdiri dari gelombang P, kompleks QRS dan gelombang T yang tiap-tiap gelombang memiliki nilai batas sebagai parameter. Kata kunci: Elektrokardiografi, Elektrokardiogram, Cara baca, Interpretasi * Coassistant FK UNTAR Periode 19 November 2012 – 9 Desember 2012 ** Dokter Spesialis Anestesiologi BLU RSUD Kota Semarang

1

PENDAHULUAN Elektrokardiografi merupakan sarana diagnostik yang sangat spesial. Pemeriksaan ini merupakan salah satu sarana diagnostik yang sangat penting dalam berbagai kondisi (baik patologis atau tidak), bukan hanya pada kelainan jantung. Sejak pertama kali dipublikasikan oleh Willem Einthoven (tahun 1901) hingga saat ini, peranan sarana diagnostik ini tidak pernah menjadi pudar di tengah-tengah semakin canggih dan berkembangnya alternatif sarana diagnostik pada alur tata laksana individu dengan kecurigaan kelainan jantung.(1) Hingga saat ini belum ada pemeriksaan baru yang dapat menggantikan peran elektrokardiogram (EKG). Meskipun bukan sebuah pemeriksaan dengan sensitifitas dan spesifisitas tinggi, informasi yang diperoleh bisa menjadi penentu tindakan yang akan kita ambil. Pada keadaan tertentu, alat diagnostik ini memiliki kekuatan diagnostik yang sangat penting seperti pada infark miokardium akut maupun bradi-takiaritmia.(1) Bila dideteksi dini, banyak penyakit yang dapat ditolong pada waktu yang tepat untuk menghindari komplikasi jangka pendek maupun panjang, bahkan kematian. Tentu saja interpretasi EKG harus baik. Ditambah keterampilan mendapatkan riwayat penyakit (anamnesis) yang baik, tidak diragukan lagi bahwa interpretasi EKG akurat dapat menjadi senjata ampuh dalam diagnosis banyak penyakit.(1) Secara rutin jantung melakukan aktivitas kontraksi dan relaksasi untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan sirkulasi darah. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas listrik yang dihasilkan secara ritmik dan kontinu oleh sel-sel spesial di jantung. Sel-sel dengan kemampuan yang sangat unik dan luar biasa. Aktivitas listrik ini menghasilkan medan listrik jantung (cardiac electrical field) dijantung untuk kemudian diteruskan ke seluruh tubuh. Medan listrik ini dapat direkam dengan menaruh beberapa elektroda (sadapan) di permukaan tubuh yang dihubungkan dengan sebuah mesin. Sebagai hasilnya tampak sebuah grafik sesuai interpretasi masing-masing sadapan. Dengan kata lain, EKG merupakan sebuah grafik aktivitas listrik jantung yang direkam di permukaan tubuh.(1)

2

yaitu : (2) a. melalui proses yang disebut repolarisasi. Depolarisasi merupakan suatu peristiwa kelistrikan jantung yang dirambatkan dari satu sel ke sel lain sehingga menghasilkan suatu gelombang depolarisasi yang dapat dijalarkan ke seluruh bagian jantung. Sel-sel Konduksi (jaringan neuromuskuler yang membentuk traktus internodal atrium. berkas His atau serat Purkinje) sebagai kawat penghantar arus bioelektrik). dalam keadaan istirahat adalah dalam keadaan polarisasi. Setelah depolarisasi selesai.(2. b. sebagai sumber bioelektrik jantung. Pada keadaan normal sel pacemaker dominan berada di nodus SA (Sinoatrial Node). Gelombang depolarisasi ini merupakan aliran listrik yang dapat dideteksi oleh elektroda-elektroda yang ditempatkan di permukaan tubuh. yaitu di sisi dalam lebih bermuatan negatif daripada sisi luar.ELEKTROFISIOLOGI JANTUNG Sel jantung. Gambar 1 : Sistem konduksi jantung. dan kalsium. c. hal ini juga dapat direkam oleh elektroda perekam. natrium. Pacemaker cell.(2) Sel jantung dapat kehilangan muatan negatif di sisi dalam tersebut dalam sebuah proses yang disebut depolarisasi.3) Jantung dibentuk oleh tiga jenis sel eksitasi. Sel jantung dalam keadaan istirahat mempertahankan keadaan polaritas listriknya dengan suatu pompa membran sehingga ada pembagian ion yang tepat khususnya ion kalium. (dikutip dari daftar pustaka no 4) 3 . Sel-sel otot jantung (miokardium) yang berfungsi untuk kontraksi. Jadi berbagai gelombang yang kita lihat di EKG merupakan manifestasi dari proses depolarisasi dan repolarisasi. klorida. sel jantung akan memulihkan polaritas ke polaritas istirahat.

(7. Dalam keadaan normal. Konduksinya lambat. Bagian yang berperan paling dominan sebagai pemacu jantung.  Fibers Purkinje : merupakan jaringan serat yang menyebarkan impuls secara cepat melalui dinding ventrikel. dapat berkontraksi setelah diinisiasi oleh potensial aksi yang berasal dari sekelompok sel konduktif pada SA node (nodus sinoatrial) yang terletak pada dinding atrium kanan. SA node berperan sebagai pacemaker (pemicu) bagi kontraksi miokardium.  Bundle of His (berkas His) : menyebar dari nodus AV. Selanjutnya potensial aksi menyebar ke seluruh dinding atrium dan menyebabkan kontraksi atrium. Denyut normalnya antara 60-100 kali permenit. Penyebaran impuls pada sistem purkinje menyebabkan kontraksi ventrikel.6)  SA ( Sinoatrial ) node : merupakan serabut-serabut saraf yang terdapat pada dinding atrium kanan dekat muara vena cava superior. yang memasuki selubung fibrosa yang memisahkan atrium dari ventrikel. Selain menyebar ke seluruh dinding atrium. membuat sedikit jeda sebelum impuls menyebar ke ventrikel. impuls juga menyebar ke AV node (nodus atrioventrikular) melalui traktus internodal. Bercabang menjadi right dan left bundle branch.8) 4 . Miokardium seperti halnya otot rangka.Sistem konduksi jantung terdiri dari : (5. Denyut intrinsiknya 40-60 kali per menit. Denyut intrinsiknya 20-40 kali permenit. Terletak pada terminal bindle branch. kemudian ke berkas his dan selanjutnya ke sistem purkinje.  AV ( atrioventricular ) node : merupakan serabut – serabut saraf yang terletak di bagian basal dari interatrial dalam atrium kanan.  Internodal atrial pathways : merupakan jalur listrik antara nodus sinoatrial dan nodus atrioventrikular.

10) 2. dan gambaran EKG akan menghilang. Gelombang. Gelombang P merekam peristiwa depolarisasi dan kontraksi atrium bagian pertama gelombang P menggambarkan aktivitas atrium kanan. 5 . SEGMEN DAN INTERVAL PADA EKG Gambar 3.Gambar 2. Fase dan Arah Elektrofisiologi Jantung. (dikutip dari daftar pustaka no 1) 1. (dikutip dari daftar pustaka no 9) GELOMBANG.6. Sewaktu aliran listrik sampai pada nodus AV.(1. bagian kedua mencerminkan aktivitas atrium kiri. akan timbul masa istirahat yang singkat. segmen dan interval pada EKG.

4. Segmen ST merekam waktu dari akhir depolarisasi ventrikel sampai mulainya repolarisasi ventrikel. V2-V4) 6 .6) Karena SA node terletak pada atrium kanan maka atrium kanan akan memulai dan mengakhiri repolarisasi lebih dulu daripada atrium kiri. Repolarisasi atrium tidak tampak dalam rekaman EKG. Gelombang P (P Wave) P wave merupakan suatu gelombang kecil yang terekam sewaktu atrium mengadakan depolarisasi. Setengah bagian pertama gelombang P mewakili depolarisasi atrium kanan dan setengah bagian lainnya mewakili depolarisasi atrium kiri. V6) dan sadapan inferior (aVF) b. Defleksi positif pada sadapan lateral (L1. Bagian ventrikel yang pertama kali terdepolarisasi adalah septum interventrikuler dan proses depolarisasi ventrikel inilah yang menimbulkan gelombang QRS. Gelombang P yang normal dapat berupa : a. c. Interval PR mengukur waktu dari permulaan depolarisasi atrium sampai pada saat mulainya depolarisasi ventrikel. Bervariasi pada sadapan (L III. aVL. Setelah kedua atrium mengalami depolarisasi. V5. Interval QT mengukur waktu dari mulainya depolarisasi ventrikel sampai pada akhir repolarisasi ventrikel. Gelombang depolarisasi menyebar sepanjang sistem konduksi ventrikel dan keluar menuju ke miokardium ventrikel.3. b. 5. Berbagai segmen dan interval menyatakan jarak dan waktu antara peristiwa berikut ini : a.(1. Gelombang T merekam repolarisasi ventrikel. NILAI NORMAL GELOMBANG EKG 1. pada saat tersebut tidak ada aktivitas bioelektrik di jantung dan EKG akan mencatat sebuah garis lurus yang disebut garis isoelektrik. Defleksi negatif pada sadapan aVR c.

5. SEGMEN ST Segmen ST normalnya pada seluruh sadapan berbentuk horizontal dan isoelektrik atau sedikit menanjak landai. Gelombang S yaitu defleksi negatif setelah gelombang R Pada keadaan normal gelombang R berdefleksi positif pada semua sadapan ekstremitas kecuali pada aVR.8) Interval QRS normalnya kurang dari 3 7 .(6.11) Ada tiga komponen yang membentuk kompleks ini: a.5 kotak kecil ) 2.2 detik ( 3 – 5 kotak kecil ). Lebarnya kurang dari 2. INTERVAL PR Interval PR menggambarkan waktu dari saat mulainya depolarisasi atrium sampai permulaan depolarisasi ventrikel.11) 3. KOMPLEKS QRS Kompleks ini memiliki arti klinis yang terpenting dari seluruh gambaran EKG karena kompleks ini mewakili depolarisasi ventrikel atau penyebaran impuls di seluruh ventrikel.d. Interval PR ini normalnya antara 0. Interval ini juga menggambarkan perlambatan penjalaran yang terjadi di nodus AV.5 mm ( 2. disertai atau tanpa gelombang Q c. 4.(6) Segmen ini menggambarkan waktu antara akhir depolarisasi ventrikel sampai pada permulaan repolarisasi ventrikel. GELOMBANG T Gelombang T merupakan gambaran fase repolarisasi ventrikel. Gelombang R yaitu defleksi positif yang pertama muncul. Tingginya kurang dari 2. (3.12 detik.5 kotak kecil ) e. kotak kecil atau 0.12 – 0. Pada sadapan prekordial dikenal istilah R-wave progression yaitu defleksi positif gelombang R yang semakin membesar dari sadapan V1-V6.(10. Gelombang Q yaitu bagian defleksi negatif sebelum suatu defleksi positif b.5 mm ( 2. Gelombang ini muncul sesaat sesudah berakhirnya segmen ST.

6.11) 8 .(1. sedangkan pada ekstremitas tidak boleh melebihi 5 mm (0.6) • LAJU QRS (QRS RATE) Pada irama sinus laju QRS normal berkisar antara 60 – 100 kali/menit. dan bila kurang dari 1 mm dianggap gelombang T tidak ada (Flat T). lebih dari +110 disebut deviasi aksis kanan. sedangkan arahnya bervariasi pada sadapan lain. • AKSIS Aksis normal selalu terdapat antara -30° sampai +110°. negatif pada sadapan aVR.(10) Tinggi gelombang T minimum adalah 1 mm. kalau tidak berarti irama asinus. Pada keadaan normal gelombang T ditemukan positif pada sadapan I. SISTIMATIKA INTERPRETASI EKG • IRAMA Pertama-tama tentukan irama sinus atau bukan. Regularitas ditentukan dengan kesamaan jarak antara puncak R ke R’ gelombang selanjutnya. Apabila setiap kompleks QRS didahului oleh gelombang P berarti irama sinus. Lebih dari -30 disebut deviasi aksis kiri. Bentuk gelombang T yang berbentuk sedikit asimetris.Ada dua hal yang harus diperhatikan pada gelombang T yaitu arah defleksi dan bentuk gelombang T. kurang dari 60 kali disebut sinus bradikardi.11) • REGULARITAS EKG normal selalu regular. Irama yang tidak reguler ditemukan pada fibrilasi atrium atau pada keadaan banyak ditemukan ekstrasistol. di mana defleksi positif terjadi secara perlahan sampai mencapai titik puncak dan kemudian menurun secara curam. dan bila lebih dari +180 disebut aksis superior. Gelombang T pada sadapan prekordial tidak boleh melebihi 10 mm (1 mV).(1.5 mV). II dan sadapan prekordial yang terletak di atas ventrikel kiri ( V3 – V6). sedangkan lebih dari 100 kali disebut sinus takikardi.(1.

Lebih dari 0.5 kotak kecil x 2. Normalnya 2.5 mm x 2.1 detik harus dicari apakah adalah right branch bundle block.10. Kurang dari 0.6.(1.Kadang aksis tidak dapat ditentukan. Gangguan impuls 9 . (6.5 mm (2. Gelombang T terbalik (T-inverted) menandakan iskemia atau mungkin suatu aneurisma. maka ditulis underterminable. • KOMPLEKS QRS Adanya gelombang Q patologis menandakan old myocardial infarction.1 detik disertai adanya gelombang delta menunjukkan Wolf-Parkinson-White Syndrome. • SEGMEN ST Elevasi segmen ST menandakan infark miokard akut (tentukan bagian jantung sesuai hasil bacaan tiap sadapan).5 kotak kecil).11) KLASIFIKASI ARITMIA Aritmia terbagi atas : (4. Gelombang R yang tinggi di sadapan V1 dan V2 menunjukkan hipertrofi ventrikel kanan atau infrak dinding posterior. Gelombang R yang tinggi di sadapan V5 dan V6 dengan gelombang S yang dalam di sadapan V1 dan V2 menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri.2 detik. Gelombang T yang runcing menandakan hiperkalemia. • GELOMBANG P Perhatikan apakah kontur gelombang P normal atau tidak. misalnya pada EKG di mana defleksi porsitif dan negatif pada kompleks QRS di semua sadapan sama besarnya. Depresi segmen ST menandakan iskemia.11) Interval QRS yang lebih dari 0. left bundle branch block atau ekstrasistol ventrikel. • GELOMBANG T Gelombang T yang datar (Flat T) menandakan iskemia.12) 1.2 detik disebut AV blok derajat satu. • INTERVAL PR Interval PR normal adalah kurang dari 0.

AV junction d.a. Gangguan Sistem Konduksi ( penghantaran arus listrik) a. Berdasarkan derajat blok Mobitz I (wanckebach) Mobitz II 10 . SA-Node • • • • • • • • • • Sinus Takikardi Sinus Bradikardi Sinus Aritmia Sinus Arrest Atrial extra systole dan para systole Atrial takikardi Atrial flutter Atrial fibrilasi Nodal extra systole dan para systole Nodal takikardi • • • • Ventrikular extra systole dan parasystole Ventrikular takikardi Ventrikular fibrilasi Ventrikular flutter b. Berdasarkan tempat blok • • • • • • Blok SA Blok AV Blok fasikular Blok Bundle Branch Derajat I Derajat II   b. Atrial c. Ventrikel 2.

(dikutip dari daftar pustaka no 13) 11 . Irama Atrial Dibagi menjadi : • Atrial Flutter Gambar 7 : Atrial Flutter. A.12) Gambar 4 : Sinus Bradikardi. (dikutip dari daftar pustaka no 13) B.• • • 1. Derajat III : blok total (jantung masih berdenyut) Jalur Kent/ Sindroma Wolff Parkinson White Jalur James/ Sindroma Lown Ganong Levin c. Aksesori konduksi GANGGUAN IMPULS SA-node Aritmia yang terjadi pada keadaan bradikardia atau takikardi atau sinus arrest. (dikutip dari daftar pustaka no 13) Gambar 6 : Sinus Arrest. (dikutip dari daftar pustaka no 13) Gambar 5 : Sinus Takikardi.(6.

P banyak).turut. gumpalan darah di paru (pulmonary embolism). dari pada hanya dari satu daerah pemacu jantung di SA node. yaitu takikardi yang berasal dari atrium dan nodus AV. alkohol yang berlebihan. mencapai 300 . Pada gambar terdapat ektrasistol yang berturut. penyakit jantung koroner dan dapat juga akibat intoksikasi digitalis. emfisema. Penyebabpenyebab dari atrial fibrilasi termasuk serangan jantung. Gambaran terlihat baik pada sadapan II. (14) 12 . Signal-signal ini pada gilirannya menyebabkan kontraksi ventrikel yang cepat dan tidak beraturan. penyakit katup mitral (seperti mitral valve prolapse). tiroid yang aktif berlebihan. dan radang dari lapisan jantung (pericarditis). (14) • Atrial takikardi Biasanya adalah paroksimal (PAT = paroxysmal atrial tachycardia). III. tekanan darah tinggi.Irama atrial pada Atrial Flutter (jumlah gel. • Atrial Fibrilasi Gambar 8 : Atrial Fibrilasi (dikutip dari daftar pustaka no 13) Pada EKG terlihat gelombang yang sangat tidak teratur dan cepat sekali. Pada atrial fibrilasi beberapa signal listrik yang cepat dan kacau "menyala" dari daerah-daerah yang berbeda di atrium. disebut juga takikardi supraventrikuler paroksimal. jantung pulmonal akut atau kronis. gagal jantung.500 kali permenit dan sering kali ditemukan pulsus deficit. dan aVF seperti gambaran gigi gergaji. kelainan ini dapat terjadi pada kelainan katu mitral atau trikuspid.

Biasanya disebabkan karena nodus SA kurang aktif sehingga diambil alih : • AV junctional extrasystole Gambar 11 : AV Juncitonal Extrasystole. III. Gelombang P bisa mendahului atau tumpang tindih dengan QRS. aVF. Hal ini timbul akibat impuls yang berasal dari atrium timbul premature. (dikutip dari daftar pustaka no 13) • AV junctional takikardi paroksimal seperti PAT Gambar 12 : AV Junctional Takikardi Paroksimal (dikutip dari daftar pustaka no 13) 13 . gelombang biasanya terlihat negative disadapan II. Irama Junctional Gambaran EKG menunjukan laju QRS antara 40 -60 permenit dengan irama biasanya teratur. kelainan ini biasanya tidak memiliki arti klinis penting dan biasanya tidak butuh terapi. (12) Gambar 10: Atrial Ekstasistol (dikutip dari daftar pustaka no 13) C.Gambar 9 : Atrial Takikardi (dikutip dari daftar pustaka no 13) • Atrial Ekstrasistol Disebut juga Premature atrial beats.

D. Jenis ini terdiri dari : (14) • VES Uniform atau Unifokal VES yang bentuknya serupa pada lead yang sama.(12) Gambar 13 :Ventrikel Takikardi. (dikutip dari daftar pustaka no 13) 3. Terdapat 3 atau lebih komplek yang berasal dari ventrikel secara berurutan dengan laju lebih dari 100x/ menit. • • VES Trigemini Artinya setiap dua komplek normal diikuti oleh satu VES. Akibatnya sirkulasi darah menjadi tidak cukup. • • VES Multiform VES Bigemini Artinya setiap satu komplek normal diikuti oleh satu VES. yang ditandai oleh sederetan denyut ventrikel. VES Couplet Artinya setelah komplek normal. 2. muncul 2 VES sekaligus. Ventrikel Takikardi (VT) Pelepasan impuls yg cepat oleh fokus ektopic di Ventrikel. Ventrikel Ekstra Sistole (VES) Adalah gelombang ventrikel yang muncul tiba tiba pada gelombang sinus. Irama Ventrikuler 1. ini muncul karena pace maker ventrikel tiba – tiba lebih kuat dari SA node dalam memproduksi listrik. Ventrikel Fibrilasi (VF) 14 . jika muncul lebih dari 2 sekaligus disebut Run of. Pengaruhnya terhadap jantung adalah ventrikel yang berdenyut sangat cepat tanpa sempat mengosongkan dan mengisi darah secara sempurna.

sehingga sel jantung tidak sempat berdepolarisasi dan repolarisasi sempurna. Disini sudah tidak terlihat gelombang P. Gambaran yang muncul adalah gelombang berlekuk dan rapat. Ventrikel Flutter Ventrikel Flutter adalah gambaran getaran ventrikel yang disebabkan oleh produksi sebuah pacemaker di ventrikel dengan frekuensi 250 – 350 kali permenit. hal ini biasa terjadi pada iskemia akut atau infark miokard. QRS dan T.Adalah gambaran bergetarnya ventrikel. (dikutip dari daftar pustaka no 13) 4.terdiri : (12. Gangguan AV Blok 15 . (dikutip dari daftar pustaka no 13) B. Block SA node Gangguan pada SA node menyebabkan block SA dan sinus Aresst.14) A. yang disebabkan karena begitu banyak tempat yang memunculkan impuls.(12) Gambar 15 :Ventrikel Flutter. Gambar 16: Block SA node. (dikutip dari daftar pustaka no 13) 2.(14) Gambar 14 : Ventrikel Fibrilasi. GANGGUAN KONDUKSI Gangguan konduksi adalah gangguan yang terjadi pada jaringan konduksi (jalur listrik jantung) sehingga listrik jantung tidak berjalan lancar atau berhenti di tengah jalan.

dan proses degenerasi. miokarditis.(14) Gambar 17 : AV Blok derajat 1. AV Blok derajat II Dibagi menjadi 2 tipe :  Mobitz tipe 1 (wenckebach block) Interval PR secara progresif bertambah panjang sampai suatu ketika implus dari atrium tidak sampai ke ventrikel dan denyut ventrikel (gelombang QRS) tidak tampak. Dapat terjadi pada infark miokard akut. 16 . sering terjadi pada intoksitas digitalis.1. Gambar yang muncul pada EKG adalah interval PR yang melebar > 0. (dikutip dari daftar pustaka no 13) 2. Hal ini disebabkan karena tonus otot yang meningkat . proses degenerasi maupun varian normal . peradangan. atau gelombang P tidak diikuti oleh QRS. AV Blok derajat 1 Umumnya disebabkan karena gangguan konduksi di proximal His bundle.22 detik dan interval PR tersebut kurang lebih sama di setiap gelombang. keracunan digitalis atau iskemik. (14) Gambar 18 : AV Blok derajat II tipe mobitz tipe 1 (dikutip dari daftar pustaka no 13)  Mobitz tipe 2 Interval PR tetap sama tetapi didapatkan denyut ventrikel yang berkurang.

(14) Gambar 20 : Third Degree AV Block (Total AV block). dan proses degenerasi. sedangkan komplek QRS hanya 40 – 60 kali permenit.(14) • LBBB Pada EKG akan terlihat bentuk rsR’ atau R di lead I. 17 . Dimana pada EKG ditemukan komplek QRS yang melebar lebih dari 0. Gangguan konduksi ini dapat menyebabkan aksis bergeser ke kiri yang ekstrim.11 detik disertai perubahan bentuk komplek QRS dan aksis QRS. Bila cabang kiri yang terkena disebut sebagai Left Bundle Branch Block (LBBB) dan jika kanan yang terkena disebut Right Bundle Branch Block (RBBB). Jika menetap diperlukan pemasangan pacu jantung. peradangan.Gambar 19 : AV Blok derajat II tipe mobitz tipe 2 (dikutip dari daftar pustaka no 13) 3. Hal ini disebabkan oleh infark miokard akut. yang disebut sebagai left anterior hemiblock (jika gangguan dicabang anterior kiri) dan left posterior hemiblock (jika gangguan dicabang posterior kiri ). sehingga ventrikel berdenyut sendiri karena impuls yang berasal dari ventrikel sendiri. Gambaran EKG memperlihatkan adanya gelombang P teratur dengan kecepatan 60 – 90 kali permenit. (dikutip dari daftar pustaka no 13) C. AV Blok derajat III Disebut juga blok jantung komplit. atau divisi anterior atau posterior cabang kiri. Gangguan pada serabut HIS menyebabkan RBBB dan LBBB Bundle Branch Block menunjukan adanya gangguan konduksi di cabang kanan atau kiri sistem konduksi. aVL. dimana impuls dari atrium tidak bisa sampai pada ventrikel. V5 dan V6 yang melebar.

• RBBB Pada EKG akan terlihat kompleks QRS yang melebar lebih dari 0. Kelainan automatisasi Pada keadaan normal. Hal ini disebabkan karena impuls-impuls yang dicetuskan di nodus SA sedemikian cepatnya sehingga menekan proses automatisasi di sel lain. automatisasi (depolarisasi spontan) hanya terjadi pada nodus SA.12) 1. V2 . V5 didapatkan S yang melebar karena depolarisasi ventrikel kanan yang terlambat. PATOFISIOLOGI Mekanisme aritmogenik dapat dibagi menjadi : gangguan pembentukan impuls dan gangguan konduksi : (8. aVL.12 detik dan akan tampak gambaran rsR’atau RSR’ di V1. Gangguan pembentukan impuls a. apabila suatu ketika terjadi peningkatan tonus simpatis misalnya pada gagal jantung atau terjadi penghambatan aktivitas sodiumpotassium-ATP-ase misalnya pada penggunaan digitalis. hipokalemia atau hipomagnesemia atau terjadi reperfusi jaringan miokard yang iskemik misalnya pada pemberian trombolitik maka keadaan-keadaan tersebut akan mnegubah voltase kecil ini mencapai nilai ambang potensial sehingga terbentuk sebuah potensial aksi prematur yang dinamakan “trigger impuls”. Gangguan konduksi a.(14) 2. re-entry 18 . b. trigger impuls yang pertama dapat mencetuskan sebuah trigger impuls yang kedua kemudian yang ketiga dan seterusnya sampai terjadi suatu irama takikardi. Trigger automatisasi Dasar mekanisme trigger automatisasi ialah adanya early dan delayed after-depolarisation yaitu suatu voltase kecil yang timbul sesudah sebuah potensial aksi. Apabila terjadi perubahan tonus susunan saraf pusat otonom atau karena suatu penyakit di nodus SA sendiri maka dapat terjadi aritmia. sementara itu di I.

Concealed conduction (konduksi yang tersembunyi) Impuls-impuls kecil pada jantung kadang-kadang dapat menghambat dan menganggu konduksi impuls utama. Contoh concealed conduction ini ialah pada fibrilasi atrium.Bilamana konduksi di salah satu jalur terganggu sebagai akibat iskemia atau masa refrakter.(12) KESIMPULAN Irama jantung dipengaruhi oleh sistem elektrofisiologi jantung dan vektor sistem kelistrikan jantung yang dimulai dari nodus SA yang terletak pada atrium kanan menuju nodus AV dan berakhir pada serat-serat purkinje pada bagian ventrikel.(13) c. b. Setiap aliran listrik di jantung dipengaruhi oleh fase depolarisasi dan 19 . blok AV (jika hambatan konduksi terjadi di jalur antara nodus SA sampai berkas His). Blok Blok dapat terjadi di berbagai tempat pada sistem konduksi sehingga dapat dibagi menjadi blok SA (apabila hambatan konduksi pada perinodal zone di nodus SA). maka gelombang depolarisasi yang berjalan pada jalur tersebut akan berhenti. pada ekstrasistol ventrikel yang dikonduksi secara retrograde. sedangkan gelombang pada jalur B tetap berjalan seperti semula bahkan dapat berjalan secara retrograde masuk dan terhalang di jalur A. Biasanya gangguan konduksi jantung ini tidak memiliki arti klinis yang penting. Apabila beberapa saat kemudian terjadi penyembuhan pada jalur A atau masa refrakter sudah lewat maka gelombang depolarisasi dari jalur B akan menembus rintangan jalur A dan kembali mengaktifkan jalur B sehingga terbentuk sebuah gerakan sirkuler atau re-entry loop. blok cabang berkas (bundle branch block) yang dapat terjadi di right bundle branch block atau left bundle branch block. Gelombang depolarisasi yang berjalan melingkar ini bertindak sebagai generator yang secara terus-menerus mencetuskan impuls.(14) Re-entry loop ini dapat berupa lingkaran besar melalui jalur tambahan yang disebut macroentrant atau microentrant. Keadaan ini disebut concealed conduction.

Yogyakarta : Penerbit Intan Cendikia Anggota IKAPI. [cited 2012 November 25]. interval PR. Available from : http://www. segmen ST.repolarisasi. Pada interpretasi EKG normal didapatkan gelombang P selalu diikuti oleh kompleks QRS dan diakhiri oleh gelombang T. 2007 The Heart. 8. Suyatna. 7. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. [cited 2012 November 25]. Dalam menginterpretasikan EKG. laju QRS. Wilson. Sedangkan pada aritmia dapat terjadi akibat gangguan pada pembentukan impuls dan gangguan pada konduksinya. 2000 . In: Farmakologi dan Terapi. 3-5 12-16 19-25 3. 1-2 2.scribd. 6. Rahajo A. 2008 Alim AM. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. 2012. Jakarta : Hipokrates. gelombang-P. kompleks QRS. Elektrokardiografi ilustratif.htm 20 . Satu-satunya buku EKG yang anda perlukan. Edisi 5. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes. aksis. Obat Antiaritmia. hal ini dinamakan irama sinus. 2010. Thaler MS. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. dan Gelombang T. Karo. Pakpahan HA. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. 2002 Muchtar. 9. hal-hal yang perlu diperhatikan adalah irama. Available from : http://www.fi/book/06/06.bem. 2009. Fase depolarisasi dan repolarisasi ini yang dapat terekam oleh EKG dan yang nantinya akan dapat diinterpretasikan untuk menegakkan diagnosa. DAFTAR PUSTAKA 1. Surya D. regularitas. 68 51-62 77-109 Price. Pocket ECG. Santoso. 8-15 33-38 4.com/doc/57184194/ELEKTRO-KARDIOGRAFI 5. dkk. Elektrokardiografi. Sistematika Interpretasi EKG. Edisi Elsevier Science. Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Lanjut.

ac. 14. Available from : http://www. Available from : http://id.ecglibrary.html 12. [cited 2012 November 25]. Edward.aspx Jones.its.org/wiki/Elektrokardiogram 11. Brown. Electrocardiogaph [cited 2012 November 25]. Kennedy. Available from : http://www.com/arrhythmia_irregular_heartbeat/article. Available from http://digilib. Available from : http://my. Elektrokardiogram.wikipedia.clevelandclinic.medicinenet. EKG normal. Heart Disease and Abnormal Heart Rhythm (Arrhythmia) [cited 13.id/public/ITS-Undergraduate-13134-Abstract_id. 2012 November 25]. [cited 2012 November 25].pdf 21 .com/norm. [cited 2012 November 25].htm Management of Arrhythmias.org/heart/disorders/electric/arrhythmia.10.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->