Anda di halaman 1dari 5

Keris Pembeli Kesejatian

Bagi Bima syarat yang diajukan oleh kakek dan nenek Sinta bukan hal yang mudah ia penuhi. Sudah sebulan lamanya ia bahkan tidak bisa menatap wajah Sinta. Tak tahu jawaban apa yang bisa ia katakan pada perempuan yang sudah berstatus pacarnya selama hampir 2 tahun itu. Bima berharap Sinta masih mau menunggu kebimbangannya. Bukan karena Bima tidak mencintai Sinta

hingga ia tidak mau berkorban untuk gadis itu. Namun logikanya tak mampu menerima adatnya. Sinta tak pernah bertanya pada Bima apakah ia mau menuruti syarat kakeknya. Setelah kakek dan neneknya meledakkan bom di kepala Bima, Sinta jadi tidak tahu bagaimana harus bersikap pada kekasihnya itu. Sebagai orang yang sudah dirawat oleh kakek dan neneknya sejak usianya 5 tahun setelah orang tuanya meninggal, harusnya ia tahu apa yang ada di kepala kakek dan neneknya. Namun, ternyata tidak. Sinta berharap kakek dan neneknya yang sangat menyayaginya setidaknya telah paham di tengah masyarakat seperti Sinta tumbuh dan bagaimana orang yang dikenalnya. Bagaimana mungkin mereka justru membebani Bima dengan syarat yang konyol. Ini kan bukan jamannya kerajaan Singosari. Bima juga bukan Ken Arok yang harus memesan Keris untuk membunuh raja untuk mendapatkan Ken Dedes. Kalau kamu memang mau menikah dengan Sinta cucu kami, syaratnya hanya satu, ucap kakek Sinta setelah mendengar penjelasan Bima yang ingin menikahi Sinta. Tentu saja saya akan berusaha dengan baik untuk memenuhinya. Saya dan Sinta sudah lama bersama, jadi saya juga yakin saya bisa memenuhi satu syarat dari kakek dan nenek untuk tetap bersama dengan Sinta. Bima menyatakan kesungguhannya. Kakek beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang tamu. Bima dan Sinta tiba-tiba merasa aneh dan cemas karena laki-laki berumur 63 tahun itu tidak kembali selama hampir 15 menit. Takut bahwa kakek Sinta berubah pikiran dan tidak menyutujui pernikahan mereka. Beruntung nenek Sinta masih di duduk manis di tempat duduknya dan menenangkan mereka berdua

dengan mengatakan pada mereka bahwa kakek hanya ingin mengambil sesuatu di dalam. Benar kata nenek, karena 5 menit kemudian kakek kembali ke ruang tamu dengan membawa kotak kayu persegi panjang. kotak itu terlihat tua namun tetap berwibawa, seperti kakek Sinta yang memegangnya dengan hati-hati. Bagian atas kotak kayu coklat itu memperlihatkan ukiran indah dengan tulisan Jawa yang tidak dimengerti Bima atau Sinta yang sudah melupakan pelajaran Bahasa Jawa mereka saat masih sekolah dasar. Yang mereka tahu kotak itu menyimpan berharga. Syaratnya satu, jadi lelaki sejati, kata kakek dengan menatap tajam Bima. Maksud kakek? Saya lelaki sejati. Saya bukan banci atau apa Kek.. kata Bima dengan sedikit tertawa dan bercanda sebelum ia menyadari tatapan kakek yang tajam dan dalam padanya. Maafkan saya Kek! Saya sedikit tidak mengerti maksud Kakek dengan menjadi lelaki sejati, sambung Bima. Untuk menjadi lelaki sejati kamu harus mempunyai ini! kata Kakek Sinta dengan hati-hati membuka kotak yang ada didepannya. Keris? Saya tidak mengerti? tanya Bima pada Kakek dengan mata yang melirik pada Sinta di sebelahnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sinta hanya bisa menatap balik padanya dengan tatapan yang dipenuhi tanda tanya juga. Sinta tidak pernah tahu kalau kakeknya punya keris. Diamatinya keris dalam kotak kayu itu, keris itu masih terlindung di balik warangkanya yang aneh. Saya beri kamu waktu dua bulan untuk memenuhi syaratnya, kata kakek lalu pergi meninggalkan Bima dan Sinta hanya dengan nenek seperti saat ia pergi mengambil kotak yang ternyata berisi keris. Orang Jawa itu percaya untuk menjadi lelaki sejati ada 5 syarat yang harus dipenuhi, kata nenek menjelaskan. Tapi dalam keluarga kita hanya satu syarat ini yang harus selalu dipenuhi, jelas nenek pada Sinta. 5 hal yang harus dipenuhi? tanya Bima. Ya, seperti ksatria jaman dahulu, lelaki sejati itu harus punya kuda, harus punya burung peliharaan, punya rumah sendiri, punya wanita dan yang penting juga punya keris pusaka, terang nenek pada Bima.

*** Awalnya Bima dan Sinta menganggap masalah mendapatkan keris itu mudah. Tapi, ternyata tidak. Keris bukanlah sesuatu yang biasa. Bukan pisau yang bisa dibeli dimanapun. Keris itu punya jiwa, ucap Sinta setelah beberapa hari sejak itu. Saat orang ingin memiliki keris maka orang itu harus memastikan dulu apakah keris itu berjodoh dengannya, dan mau menjadi milik orang itu. Bagaimana cara kita tahu, bahwa keris itu berjodoh dengan kita atau tidak? Sebuah ritual adat Jawa, Sinta pun juga tidak begitu paham. Setelah mendengar penjelasan dari Sinta itu, Bima menjadi was-was dengan senjata orang Jawa yang satu itu. Baginya, keris itu seperti suatu misteri kuno. Dari buku yang dibaca Bima tentang keris, Ia bisa tahu bagaimana ribetnya masalah keris ini. Bima jadi sadar bahwa kakek Sinta mengharapkan agar sebelum Ia menikah dengan Sinta, Bima harus menikah dulu dengan keris keluarga mereka yang dianggap kakek telah menjadi simbol keamanan dalam keluarga mereka selama ini. Masalahnya adalah, ini Bima. Bima yang dari kecil hidup modern, hidup dengan hal-hal yang bisa diterima nalar. Meskipun lahir di masyarakat Jawa, Ia jelas bukan orang yang suka melakukan ritual Jawa yang menyeramkan. *** Pagi itu seperti pagi biasanya, kiacauan burung dari pekarangan belakang rumah Sinta terdengar nyaring. Udara yang sejuk dapat dirasakan oleh penghuni rumah itu. Sejuknya suasana nyatanya justru membawa kegelisahan sendiri bagi kakek Sinta. Langkah kakinya tiba-tiba menuntunnya ke ruang penyimpanan keris itu. Dibukanya lemari tempat ia menyimpan barang-barang berharganya termasuk keris itu. Kotak dengan ukiran khas Jawa itu masih nyaman di tempatnya. Dengan hati-hati dibukanya kotak itu, seperti yang ditakutkannya, ia tak bisa menemukan keris itu di dalam kotak itu. Yang tertinggal hanya warangka keris itu. Keris itu telah menghilang. Apakah sudah memilih pemiliknya yang baru? *** Sudah 1 bulan sejak keris yang harusnya dibeli Bima dari kakek Sinta itu menghilang. Kakek Sinta mengalami stroke dan akhirnya meninggal dunia.

hampir satu minggu lalu kakek Sinta mengalami serangan stroke itu, dokter mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kakek punya penyakit darah tinggi. Hal ini masih meninggalkan pertanyaan di benak Sinta pasalnya kakek dikenal sebagai orang yang sangat kuat selama ini, jangankan penyakit darah tinggi atau penyakit berbahaya lainnya, kakeknya bahkan sangat jarang terserang flu. Meskipun usianya sudah tua namun kakek mempunyai daya tahan tubuh yang baik. Keris itulah yang memberi kakekmu kekuatan, kata nenek Sinta setelah semua urusan pemakaman kakek Sinta selesai. Sejak keris itu menghilang, tidak ada yang melindungi kakekmu lagi. Ah, Nenek. Sinta juga sangat sedih dengan kepergian kakek. Tapi yang namanya perlindungan itu kan datangnya hanya dari Ilahi. Kakek dan Nenek hanya terlalu percaya dengan hal seperti itu makanya waktu keris itu menghilang kakek jadi kepikiran. Apalagi kakek ingin memberikan keris itu pada Bima, ucap Sinta. Bima yang ada disana bersama Sinta dan nenek tidak berani ikut berkomentar. Namun ia cukup kaget mendengar bahwa keris pustaka itu telah menghilang. Sebelumnya Sinta tidak pernah bercerita padanya tentang hilangnya cermin itu. Mungkin karena Sinta tahu bahwa dirinya belum bisa menerima konsep keris dalam konsep masyarakat Jawa itu. Keris itu berkelok-kelok. Sisi kanan dan kirinya punya bagian yang sama tajamnya dengan sisi depannya. Itu artinya manusia itu harus punya sisi tajam diseluruh sisinya. Manusia harus bisa menahan semua godaan dan ancaman baik itu yang berasal dari samping atau depannya, jelas nenek pada Sinta dan Bima. Bukankah lelaki yang bisa seperti itu berhak disebut lelaki sejati dan artinya bisa melindungi keluarganya? tanya Nenek pada Bima. Bima bukan ragu dengan keris itu atau bagaimana, Nek. Tapi saya rasa semua hal itu dapat dibuktikan dengan cara lain. Saya sudah barang tentu akan berusaha sekuat mungkin menjaga keluarga saya terutama Sinta yang sangat saya cintai, jelas Bima pada nenek. Mungkin keris dulu ada sebagai simbol keinginan manusia untuk menjadi oang yang bisa melawan semua rintangan yang ada dalam hidupnya. Simbol keberanian dan kekuatan serta keamanan. Namun, bukan berarti dengan tidak adanya barang itu harus membuat manusia menjadi lemah kan?

Pertanyaan dari Bima tersebut mengakhiri pembiacaraan mereka hari itu. dan mungkin mengakhiri semua masalah mereka tentang keris. Bukan, belum semua masalah telah selesai, keris yang menghilang itu belum bisa ditemukan. Satu hal yang pasti hilangnya keris itu takkan membawa cinta sejati Bima ke Sinta dan juga keberanian melawan rintangan dalam diri Bima ikut menghilang. Dimanakah keris itu saat itu, tak ada yang tahu. Mungkin tanpa mereka sadari, keris itu telah masuk ke dalam salah satu tempat penyimpanan barang berharga salah satu dari mereka. Memilih orang lain yang punya cukup keberanian untuk menjadi pemilik jiwanya.