Anda di halaman 1dari 12

Teknologi Bioproses Teknologi bioproses adalah teknologi yang berkaitan dengan segala operasi dan proses yang memanfaatkan

mikroorganisma baik dalam fasa hidupnya maupun produk-produk enzimnya. Teknologi bioproses merupakan gabungan antara bioteknologi dan teknik kimia. Seperti yang kita tahu, bioteknologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang rekayasa genetika dan bagaimana cara memanfaatkan mikroba untuk menghasilkan suatu produk. Dalam bioteknologi akan dipelajari tentang mikrobiologi, molekular genetika, dan biokimia. Teknik kimia merupakan salah satu ilmu dalam bidang teknik (engineering) yang mempelajari tentang bagaimana cara untuk mendesai atau merekayasa suatu proses desain atau kendali untuk bahan-bahan kimia menjadi produk massal. Dengan kata lain, teknik kimia berperan untuk memproduksi suatu produk secara lebih banyak. Produk-produk hasil penelitian bioteknologi itu sangat banyak dan sangat memiliki manfaat. Namun, semua itu tidak memiliki manfaat apapun apabila tidak dapat digunakan oleh orang banyak. Disinilah peran teknik kimia, dimana digunakan untuk mendesain suatu proses desain dan kendali terhadap produksi hasil penelitian bioteknologi secara massal. Teknologi untuk memproduksi hasil-hasil bioteknologi secara massal inilah yang disebut dengan teknologi bioproses.

Sakarifikasi Fermentasi bioetanol Enzim adalah molekul biopoli-mer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam kompo-sisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen.Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-l,6-glikosida. Secara umum, amilase dibedakan menjadi tiga berdasarkan hasil pemecahan dan letak ikatan yang dipecah, yaitu alfa-amilase, beta-amilase, dan glukoamilase. Enzim alfa-amilase merupakan endoenzim yang memotong ikatan alfa-1,4 amilosa dan amilopektin dengan cepat pada larutan pati kental yang telah mengalami gelatinisasi. Proses ini juga dikenal dengan nama proses likuifikasi pati. Produk akhir yang dihasilkan dari aktivitasnya adalah dekstrin beserta sejumlah kecil glukosa dan maltose dimana terjadi hidrolisis antara air dan pati dengan konstanta reaksi 0,15831 per hour. Menurut Fogarty (1983) dan Whitaker (1972), alfa-amilase akan menghidro-lisis ikatan alfa-1-4 glikosida pada polisakarida dengan hasil degradasi secara acak di bagian tengah atau bagian dalam molekul. Purifikasi enzim alfa-amilase dari isolat Bacillus sp. MII-10 telah dilakukan dengan menggunakan alat preparative electrophoresis Prep Cell 491 BioRad. Karak-terisasi enzim meliputi kondisi katalitik (pH dan suhu) optimum, kestabilan, kine-tik, bobot molekul, inhibisi dan aktivitasnya terhadap beberapa senyawa kimia, serta kemampuan menghidrolisis pati ubi kayu. Hasil pemurnian ternyata mencapai peningkatan kemurnian enzim sebesar 4,6 kali dan perolehan kembali sebesar 11,2%. Aktivitas enzim alfa-amilase dari isolat Bacillus sp. MII-10 memerlukan pH optimum 7,0 dan suhu optimum 50-60oC. Enzim alfaamilase tersebut stabil pada pH 7,0 selama 24 jam pada suhu 4oC dan pada suhu 70oC selama 5 menit. Sifat kinetika enzim yang ditunjukkan oleh nilai Km adalah 0,169% terhadap substrat soluble starch setara dengan 1,69 mg/ml. Enzim tersebut memiliki afinitas cukup baik terhadap

substrat dan mampu mencapai kecepatan katalitik maksimum pada konsentrasi substrat yang rendah (1,5% berat/volume). Inhibisi enzim alfa-amilase yang terjadi disebabkan oleh Na2CO3 (2 mM) 82,5%, AgNO3 (2 mM) 22%, EDTA (0,5 mM) 78%, sedangkan glukosa (2 mM) 98% dan malto-sa 94%. Berdasarkan pendugaan bobot molekul dengan elektroforesis menggu-nakan gel poliakrilamid, amilase dari Bacillus sp. MII-10 merupakan enzim yang aktif dalam persenyawaan dari empat subunit rantai protein, yang masing-masing berukuran sama (tetramer). Bobot molekul monomernya adalah 424,6 Dalton dan 168.413,8 Dalton untuk bobot molekul dalam persenyawaan tetra-mer. Hasil analisis jenis gula menunjukkan bahwa enzim amilase tersebut adalah alfaamilase, karena menghasilkan glukosa, maltosa, campuran oligosakarida, dan dekstrin, sama dengan alfa-amilase pembanding. Variasi waktu reaksi dari 0 sampai 24 jam menunjukkan produk yang tetap beragam, sehingga dapat di-simpulkan pola hidrolisis oleh enzim adalah endo alfa-amilase. Amilase kasar dari isolat Bacillus sp. MII-10 menghasilkan nilai dekstrosa ekivalen (DE) 14,04. Enzim beta-amilase atau disebut juga alfa-l,4-glukanmaltohidrolas E.C. 3.2.1.2. bekerja pada ikatan alfa1,4-glikosida dengan menginversi konfi-gurasi posisi atom C(l) atau C nomor 1 molekul glukosa dari alfa menjadi beta. Enzim ini memutus ikatan amilosa maupun amilopektin dari luar molekul dan menghasilkan unit-unit maltosa dari ujung nonpe-reduksi pada rantai polisakarida. Bila tiba pada ikatan alfa-1,6 glikosida aktivitas enzim ini akan berhenti. Glukoamilase dikenal dengan nama lain alfa-1,4- glukan glukohidro-lase atau EC 3.2.1.3. Enzim ini menghidrolisis ikatan glukosida alfa-1,4, tetapi hasilnya beta-glukosa yang mempunyai konfigurasi berlawanan dengan hasil hidrolisis oleh enzim a-amilase. Selain itu, enzim ini dapat pula menghidrolisis ikatan glikosida alfa-1,6 dan alfa-1,3 tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan hidrolisis ikatan glikosida a-1,4 Konversi pati menjadi etanol dapat melalui berbagai macam cara. Namun cara yang paling ekonomis adalah dengan melalui proses Sakarifikasi dm Fermentasi Simultan atau SFS (Shleser 1994). Dengan cara ini pati diubah menjadi glukosa oleh enzim Glukoamilase, kemudian langsung diubah menjadi etanol oleh ragi dalam satu tahap proses. Dengan demikian harus ada jumlah enzim Glukoamilase dan jumlah sel ragi tertentu yang memungkinkan kecepatan sakarifikasi berimbang dengan kecepatan konsumsi glukosa oleh ragi sehingga tidak akan terjadi akumulasi glukosa yang dapat menghambat aktifitas ragi dan aktivitas enzim Glukoamilase. Pada kondisi ini akan tejadi konversi pati menjadi etanol yang maksimal.

Jadi kesimpulannya Teknik Bioproses dan Biokimia itu sama aja, cuma bahasanya aja yang beda, sama seperti kata lentur dan elastis

Nah kalau yang ini referensi dari senior Ane (Gak kenal sih,berhubung doi juga jurusan T.bioprosess, bedanya dia kuliah di UI.heheheh) Setelah baca blognya disini aku jadi berminat rubah halwan.Toh T.bioprosess gak semahal Farmasi or T. Kimia yang udah eksis itu, jadi bisa meringankan beban ortu hehe *Lingkaran cincin dikelapaku halaaah)

Teknologi bioproses adalah teknologi yang berkaitan dengan segala operasi dan proses yang memanfaatkan mikroorganisma baik dalam fasa hidupnya maupun produk-produk enzimnya. Teknologi bioproses merupakan gabungan antara bioteknologi dan teknik kimia. Seperti yang kita tahu, bioteknologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang rekayasa genetika dan bagaimana cara memanfaatkan mikroba untuk menghasilkan suatu produk. Dalam bioteknologi akan dipelajari tentang mikrobiologi, molekular genetika, dan biokimia. Teknik kimia merupakan salah satu ilmu dalam bidang teknik (engineering) yang mempelajari tentang bagaimana cara untuk mendesai atau merekayasa suatu proses desain atau kendali untuk bahan-bahan kimia menjadi produk massal. Dengan kata lain, teknik kimia berperan untuk memproduksi suatu produk secara lebih banyak. Produk-produk hasil penelitian bioteknologi itu sangat banyak dan sangat memiliki manfaat. Namun, semua itu tidak memiliki manfaat apapun apabila tidak dapat digunakan oleh orang banyak. Disinilah peran teknik kimia, dimana digunakan untuk mendesain suatu proses desain dan kendali terhadap produksi hasil penelitian bioteknologi secara massal. Teknologi untuk memproduksi hasil-hasil bioteknologi secara massal inilah yang disebut dengan teknologi bioproses Demikianlah kata kak Lischer.

KOMPOS Bioaktivator yang dibuat sendiri atau mikroorganisme local (MOL), yaitu kumpulan mikroorganisme yang bisa diternakan. Fungsinya sebagai starter dalam pembuatan pupuk kandang. Berdasarkan bahannya, ada dua MOL yang bisa dibuat, yaitu MOL tapai dan MOL nasi basi serta MOL berbahan lainnya.

Konsorsium Bakteri Pengurai Sampah Organik


Memanfaatkan limbah sapi yang berupa kotoran atau feses dan air seni diolah menjadi kompos atau pupuk organik sangat berguna bagi tanaman dan ini sangat membantu Pemerintah dalam menangulangi pencemaran lingkungan hasil limbah kotoran sapi tersebut. Arti dari pengkomposan adalah proses penguraian limbah padat organik menjadi materi yang stabil oleh mikroorganisma dalam kondisi terkendali. Proses penguraian tersebut dilakukan oleh konsorsium mikroorganisma, jasad renik yang kasat mata. Mikroorganisma yang bekerja merupakan organisme yang memerlukan udara/ oksigen sehingga tidak timbul bau yang menyengat. Untuk mengoptimalkan kerja mikroorganisma tersebut diperlukan beberapa pengendalian antara lain pengendalian terhadap kelembaban, aerasi, dan temperatur untuk menghindari terjadinya proses yang dapat menimbulkan bau busuk. Limbah padat organik biasanya mengandung berbagai mikroorganisma yang mampu melakukan proses pengkomposan. Ketika limbah organik dipaparkan di udara dan kandungan airnya sesuai, maka mikroorganisma mulai bekerja. Selain oksigen dari udara dan air, mikroorganisma memerlukan pasokan makan yang mengandung karbon dan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium untuk pertumbuhan dan reproduksi mereka. Kebutuhan makanan tersebut disediakan oleh limbah organik . Mikroorganisma kemudian melepaskan karbondioksida, air dan energi dan berkembang biak. Energi dilepaskan sebagai panas. Akibat dari Energi yang dilepaskan, tumpukan bahan yang dikomposkan akan melewati tahap penghangatan. Pada minggu pertama dan kedua proses pengomposan,

energi panas yang dilepaskan oleh bakteri termofilik dapat mengakibatkan suhu tumpukan kompos mencapai 70 derajat celcius. Kemudian sejalan dengan waktu suhu kompos akan menurun karena aktivitas mikroorganisme termofilik mulai menurun dan digantikan oleh mikroorganisme mesotilik. Penurunan suhu pada akhir minggu ke-enam biasanya telah mencapai 40 derajat celcius dan kompos sudah dapat dipanen. Tempat yang digunakan adalah ruangan terbuka yang beratap lantai, proses aerasinya alamiah dan pembuatan tumpukannya dibuat memanjang dengan ukuran yang tertentu. Untuk mengendalikan proses tersebut, setiap waktu tertentu tumpukan dibalik dan disiram dengan air seperlunya. Limbah peternakan sebagian besar berupa bahan organik. Hal ini menunjukkan bahwa apabila dikelola dengan cara yang benar dan tepat peruntukkannya, limbah peternakan masih memiliki nilai sebagai sumberdaya yang potensial bermanfaat. Sejak dahulu limbah peternakan sudah digunakan oleh petani sebagai bahan sumber pupuk organik, namun karena pengaruh intensifikasi pertanian, pemanfaatan tersebut semakin berkurang. Selain itu juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pengolahan limbah peternakan yang masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan petani pada masa itu. Pengolahan limbah sebagai pupuk masih dilakukan secara konvensional, yaitu dibiarkan menumpuk dan mengalami proses degradasi secara alami. Teknologi yang tepat dan benar belum dikembangkan. Konsorsium Bakteri Bagi Pengolahan Sampah Green Phoskko Activator Kompos Phoskko A per container 250 gr bahan organik limbah kota pertanian peternakan dan lain lainnyaLimbah peternakan khususnya ternak sapi merupakan bahan buangan dari usaha peternakan Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik sepertiEM 4 Peternakan mampu memperbaiki jasad renik didalam saluran pencernaan ternak bakteri pengurai bahan organic menekan pertumbuhan bakteri pathogen Teknik pengomposan merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih untuk menanggulangi limbah feses sapi potong. Dengan cara ini, biaya operasional relatif lebih murah dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Selain itu dengan pengomposan juga dapat memperkaya unsur hara pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan limbah peternakan tersebut, namun demikian data mengenai pengomposan yang tepat untuk menangani limbah peternakan, khususnya limbah sapi potong belum diperoleh informasi yang lengkap. Teknik pengomposan merupakan salah satu cara pengolahan limbah yang memanfaatkan proses biokonversi atau transformasi mikrobial. Biokonversi itu sendiri adalah proses-proses yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk merubah suatu senyawa atau bahan menjadi produk yang mempunyai struktur kimiawi yang berhubungan. Proses biokonversi limbah dengan cara pengomposan menghasilkan pupuk organik yang merupakan hasil degradasi bahan organik. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah bahan organik limbah sudah terdegradasi dengan baik adalah perubahan bahan organik limbah menjadi unsur hara, terutama unsur hara makro, seperti N total, P2O5 dan K2O. Dari berbagai produk beternak sapi tersebut, salah satu yang menjadi masalah, sehingga bisa merepotkan pemilik ternak adalah kotoran sapi. Betapa tidak. Untuk seekor sapi betina bisa menghasilkan kotoran antara 8 sampai 10 kilogram/harinya. Jika sapi yang diperlihara jumlahnya banyak dan cara pemeliharaannya dibiarkan berkeliaran di berbagai tempat, tanpa pengkandangan dan pemeliharaan yang baik, dapat dipastikan kotoran sapi akan berceceran dimana-mana. Hal tersebut tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena selain mengganggu dan mengotori lingkungan, juga sangat berpotensi untuk menimbulkan penyakit bagi masyarakat sekitarnya. Agar kotoran sapi tidak terbuang dengan sia sia, maka kotoran ini dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman. Pembuatan pupuk organik tidak terlepas dari proses pengomposan yang

diakibatkan oleh mikroba yang berperan sebagai pengurai atau dekomposisi berbagai limbah organik yang dijadikan bahan pembuat kompos. Penggunaan mikroba sebagai aktiVator untuk memperoleh kompos dengan kualitas yang baik tergantung kepada bahan bahan yang digunakan, cara pembuatannya, tempat pembuatannya serta lama pengomposan. Salah satu aktivator atau dekomposer yang sering digunakan adalah Stardec atau Starbio. Aktivator Stardec berisi beberapa mikroba yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah organik hingga dapat menjadi kompos. Mikroba tersebut lignolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, aminolitik dan mikroba fiksasi nitrogen non-simbiotik. Mikroba mikroba tersebut mempunyai peran peran tersendiri hingga mampu memperbaiki dan mempercepat proses pengomposan yang kita lakukan. Mikroba tersebut adalah sebagai berikut: Mikroba lignolitik berperan dalam menguraikan ikatan lignoselulose menjadi selulose dan lignin. Lignin ini kemudian diuraikan lagi oleh enzim lignase menjadi derivate lignin yang lebih sederhana sehingga mampu mengikat NH4. Mikroba selulotik akan mengeluarkan enzim selulose yang dapat menghidrolisis selulosa menjadi selulosa lalu dihidrolisis lagi menjadi D-glukosa dan akhirnya didokumentasikan sehingga menghasilkan asam laktat, etanol, CO2 dan ammonia.

(Gbr. Clustridium sp) Bakteri proteolitik adalah bakteri yang memproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi di dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraseluler. Bakteri proteolitik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok: Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, tidak membentuk spora, misalnyaPseudomonas dan Proteus. Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, membentuk spora, misalnya Bacillus. Bakteri anaerobik pembentuk spora, misalnya sebagian spesies Clostridium. Mikroba proteolitik akan mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida, lalu menjadi peptida sederhana dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air.

(Gbr. Pseudomonas sp) Mikroba lipolitik akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak.

(Gbr. Cellulomonas sp) Mikroba amilolitik akan menghasilkan enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acids dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino. Pada mikroba fiksasi nitrogen merupakan bakteri yang hidup pada bintil-bintil akar tanaman kacangkacangan ini hidup bersimbiosis, dan bintil akar tumbuh karena rangsangan dari zat tumbuh yang dihasilkan oleh bakteri tersebut dan juga dapat menyuburkan tanah. Selain itu ada pula beberapa jenis bakteri yang mampu memfiksasi N2 (nitrogen bebas dari udara) di atmosfer ke dalam tanah, yang kemudian N2 ini akan dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam pembentukan protein. Bakteri tersebut antara lain, Azotobacter vinelandii, Clostridiumpasteurianum dan Rhodospirillum rubrum. Mikroba bakteri fiksasi nitrogen non simbiotik diperkirakan dapat mengikat 5 20 gram nitrogen dari 1.000 gram bahan organik yang dirombak.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pengomposan Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pengomposan yaitu nilai C/N bahan, ukuran bahan, campuran bahan, mikroorganisme yang bekerja, kelembaban dan aerasi, temperatur dan keasaman (pH). Hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat antara lain sebagai berikut : Nilai C/N Bahan Semakin rendahnya C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pengomposan semakin singkat. Ukuran Bahan Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas yang tersentuh dengan bakteri. Untuk itu bahan organik perlu dicacah sehingga berukuran kecil. Bahan yang keras sebaiknya dicacah hingga berukuran 0,5-1 cm. Pencacahan bahan yang tidak terlalu kecil karena bahan yang terlalu hancur (banyak air) kurang baik (kelembabannya menjadi tinggi). Komposisi Bahan. Pengomposan dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat. Pengomposan bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran hewan. Ada juga yang menambah bahan makanan dan zat pertumbuhan yang dibutuhkan mikroorganisme sehingga selain bahan organik, mikroorganisme juga mendapatkan bahan tersebut dari luar. Jumlah Mikroorganisme Biasanya dalam proses ini bekerja bakteri, fungi, actinomycetes, dan protozoa. Sering ditambahkan pula mikroorganisme ke dalam bahan yang akan dikomposkan. Dengan bertambahnya jumlah mikroorganisme, diharapkan proses pengomposan akan lebih cepat. Kelembaban dan Aerasi Umumnya mikroorganisme tersebut dapat bekerja dengan kelembaban sekitar 40-60%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembaban yang lebih rendah atau lebih tinggi dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau mati.

Adapun kebutuhan aerasi tergantung dari proses berlangsungnya pengomposan tersebut aerobik atau anaerobik. Temperatur Temperatur optimal sekitar 30-500C. Bila temperatur terlalu tinggi maka mikroorganisme akan mati. Bila temperatur relatif rendah mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman. Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan tersebut akan menghasilkan panas sehingga untuk menjaga temperatur tetap optimal sering dilakukan pembalikan. Namun ada mikroorganisme yang dapat bekerja pada temperatur yang tinggi yaitu 800C, seperti Trichorderma pseudokoninggii dan Cyptophaga sp. Kedua jenis mikroba ini digunakan sebagai aktivator dalam proses pengomposan skala besar atau skala industri, seperti pengomposan tandan kosong kelapa sawit. Keasaman Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorganisme. Kisaran pH yang baik yaitu sekitar 6,5-7,5. oleh karena itu dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan bantuan beberapa aktivator seperti orgadec, stardec, EM-4.

KETAN
Saccharomyces cerevisiae Jamur ini dimanfaatkan untuk pembuatan tape, roti dan minuman beralkohol dengan cara fermentasi. Tape dibuat dari singkong atau beras ketan. Dalam pembuatan tape, mikroba berperan untuk mengubah pati menjadi gula sehingga pada awal fermentasi tape berasa manis. Selain Saccharomyces cerivisiae, dalam proses pembuatan tape ini terlibat pula mikrorganisme lainnya, yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera. Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi Tape gula sederhana (glukosa). Adanya gula menyebabkan mikroba yang menggunakan sumber karbon gula mampu tumbuh dan menghasilkan alkohol. Keberadaan alkohol juga memacu tumbuhnya bakteri pengoksidasi alkohol yaitu Acetobacter aceti yang mengubah alkohol menjadi asam asetat dan menyebabkan rasa masam pada tape yang dihasilkan. Saccharomyces cerevisiae memerlukan kondisi lingkungan yang cocok untuk pertumbuhannya, yaitu nutrisi sebagai sumber energi terutama gula, pH boptimum 4-5, temperatur optimum 28 C - 30C serta kebutuhan akan oksigen terutama pada awal pertumbuhan. Saccharomyces cerevisiae merupakan organisme fakultatif anaerob yang dapat menggunakan baik sistem aerob maupun anaerob untuk memperoleh energi dari pemecahan glukosa. Saccharomyces cerevisiae dapat menghasilkan alkohol dalam jumlah yang besar. Selain itu juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol, toleransi terhadap alkohol pada variasi strain berbeda (Elevri, 2006).
Pembuatan tape memerlukan kecermatan dan kebersihan yang tinggi agar singkong atau ketan dapat menjadi lunak karena proses fermentasi yang berlangsung dengan baik. Ragi adalah bibit jamur yang digunakan untuk membuat tape. Agar pembuatan tape berhasil dengan baik alat-alat dan bahan-bahan yangdigunakan harus bersih, terutama darilemak atauminyak . Alat-alat yang berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tape bisa menyebabkan kegagalan fermentasi. Air yang digunakan juga harus bersih; menggunakan air hujan bisa mengakibatkan tape tidak berhasil dibuat.

NATA DE COCO
Acetobacter xylinum Bibit nata adalah bakteri Acetobacter xylinum yang akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa.

Bakteri Acetobacter xylinum Bibit nata adalah bakteri Acetobacter xylinum yang akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula(glukosa) menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata. Acetobacter Xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5 7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3, sedangkan suhu ideal bagi pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum pada suhu 28 31 C. Bakteri ini sangat memerlukan oksigen.
Bakteri Acetobacter Xylinum tergolong famili Pseudomonadaceae dan termasuk genus Acetobacter. Berbentuk bulat, panjang 2 mikron, biasanya terdapat sel tunggal atau kadang-kadang mempunyai rantai dengan sel yang lain. Bakteri ini akan membentuk asam dari glukosa, etil alkohol, propil alkohol dan glikol, mengoksidasi asam asetat menjadi CO2 dan air. Sifat yang spesifik dari bakteri ini adalah kemampuan untuk membentuk selaput tebal pada permukaan cairan fermentasi, yang ternyata adalah komponen yang mempunyai sellulosa (sellulosic material), komponen inilah yang lebih lanjut disebut nata. Menurut Thimann (1962) yang dikutip dari buku Aneka Produk Olahan air Kelapa (Palungkan,1992) yaitu Permukaan nata de coco terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula atau larutan gula dalam air kelapa oleh sel-sel Acetobacter Xylinum, kemudian glukosa tersebut digabungkan dengan asam lemak membentuk precursor (penciri nata) pada membrane sel. Precursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim mempolimerisasikan glukosa menjadi sellulosic material diluar sel. Komponen ini akan membentuk jaringan mikrofibril yang panjang dalam cairan fermentasi. Gelembung-gelembung CO2 yang dihasilkan selama fermentasi mempunyai kecenderungan melekat pada jaringan ini, sehingga menyebabkan jaringan ini terangkat dipermukaan cairan. Penggunaan Acetobacter Xylinum dalam penggunaan nata de corn ini karena bakteri ini mempunyai sifat yang spesifik. Bakteri ini mempunyai kemampuan untuk membentuk selaput tebal pada permukaan cairan fermentasi, yang ternyata adalah komponen menyerupai sellulosa (sellulosa material), komponen inilah yang lebih lanjut disebut nata. Bakteri Acetobacter Xylinum dapat tumbuh dan berkembang membentuk krim karena didalam sari mangga mengandung bahan-bahan seperti gula, senyawa nitrogen, vitamin dan mineral sehingga merupakan suatu medium yang baik untuk

pertumbuhan tersebut. Bahan-bahan tersebut merangsang pertumbuhan Acetobacter Xylinum membentuk nata Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi a. Nutrisi (zat gizi) Dalam kegiatannya AcetobacterXylinum memerlukan penambahan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, misalnya : - Unsur C : ada pada karbohidrat - Unsur N : dengan penambahan pupuk yang mengandung nitrogen, ZA, Urea. - Unsur P : penambahan pupuk fospat dari NPK, TSP, DSp dll b. Keasaman (pH) Nata hanya terbentuk pada interval pH 3,5-7,5. Pada pH 3,5 dan 7,5 dihasilkan nata yang tipis dan lunak. c. Temperatur Temperatur optimum fermentasi adalah 28-30oC atau pada suhu kamar. Pada temperatur ini dihasilkan nata yang paling tebal dibandingkan
Dan untuk proses tersebut dibutuhkan "biang" atau bakteri starter yang umum digunakan, yaitu Acetobacter xylinum. Penambahan pupuk Ure/ZA sebenarnya adalah merupakan ulah"nakal" dari beberapa pembuat nata de coco. Bagaimanapun juga bakteri ini perlu "makanan/nutrisi" agar tetap hidup pada media air kelapa yang akan difermentasi untuk diubah menjadi lembaran-lembaran serat nata. Salah satu nutrisi yang dibutuhkan si bakteri ini adalah unsur Nitrogen. Penggunaan urea sama halnya dengan kalau urea digunakan untuk "memupuk tanaman" agar bisa hdiup dan berkembang. Sedangkan penggunaan urea disini juga diharapkan agar si bakteri bisa cepat berkembang dan mempercepat proses pengubahan dan fermentasi dari air kelapa untuk diubah menjadi nata. Padahal, jika tanpa urea atau ZA sekalipun, unsur Nitrogen sudah tercukupi buat nutrisi si bakteri untuk hidup dari air kelapa sendiri yang memang cukup tinggi kadar proteinnya (dan asam-asam amino lainnya)....

Cara membuat Nata De Coco


Saya akan berikan bagaimana cara mermbuat Nata De Coco sendiri

Adapun pembuatan Nata De Coco adalah sebagai berikut :

Bahan :

- Air kelapa 2 liter - Gula pasir 200 gr - Pupuk ZA (urea) sendok makan - Asam cuka glacial (CH3COOH ) sendok makan

- Bibit/starter bakteri Acetobacter xylium 200 ml (Bisa diperoleh di laboratorium pertanian),bisa juga membuat starter sendiri & uraian pembuatanya bisa di baca bawah. -Asam Nitrat 1 sendok makan.

Cara Membuat :

1.Siapkan nampan steril (bisa melalui pemanasan oleh sinar matahari/pencelupan nampan bersih ke dalam air panas). 2.Rebus semua bahan kecuali bibit bakteri dan asam cuka.Setelah mendidih tuang ke dalam nampan yang telah kita sterilkan masing2 kira2 1-1,5L dengan menutupnya dengan kertas koran & mengikatnya dgn karet agar rapat hingga dingin(1 hari).

3.Setelah kita lakukan pendinginan selama 1 hari baru dilakukan inokulasi yaitu menambahkan starter( bakteri Acetobacter xylium) & cuka,setelah itu kita kembali menutupnya dgn koran spt sebelumnya selama 7 hari dalam suhu & ruang yang delap.

Nampan yang sebaiknya kita gunakan :

Jika telah memasuki masa panen,ada cara dalam memanennya, Berikut cara-cara mengambilnya: 1. Nata yang telah terbentuk kiat ambil dan kita buang bagian yang rusak (jika ada), lalu kitai bersihkan dengan air (dibilas). Kemudian kita irendam dengan air bersih selama 1 hari. 2. Pada hari kedua rendaman kita ganti dengan air bersih dan direndam lagi selama 1 hari. 3. Pada hari ketiga nata kita cuci bersih lalu kiata potong bentuk kubus (ukuran sesuai selera) kemudian direbus hingga mendidih dan air rebusan yang pertama dibuang. 4. Nata yang telah kita buang airnya tadi, kemudian kita rebus dgn menambahkan satu sendok makan asam sitrat.

Ingat!!!Agar bakteri Acetobacter xylium bekerja dengan maksimal,kita harus menjaga kondisi alat2
& ruangan harus steril karena dengan kurang sterilnya peralatan & ruangan akan menyebabkan terjadinya kontaminasi yang akan berakibat kerusakan pada lapisan nata yang diproduksi. Pembuatan starter

Untuk starter bisa diperoleh di toko kimia atau perusahaan yang membuat nata de coco, atau bagi yang ingin membuatnya sendiri bisa dengan cara sebagai berikut : 1. Sediakan buah nanas yang matang dan dikupas kemudian dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil untuk memudahkan penghancuran. 2. Buah nanas yang telah dihancurkan kemudian diperas sari buahnya sampai habis dan ampas nanas dicampur dengan gula pasir serta air dengan perbandingan 6 : 3 : 1 ( Ampas nanas : Air : Gula ) 3. Campuran diaduk sampai rata dan dimasukan kedalam botol kemudian ditutup dengan kertas disimpan selama 2 minggu sampai terbentuk lapisan putih di atasnya. 4. Larutan ini merupakan starter untuk pembuatan nata de coco