Anda di halaman 1dari 34

Blok Saraf & Perilaku

SK 4

Bisikan Gaib

1. MM Gejala pada Psikiatrik (Simtomatologi)


I. Pengenalan Sebagian besar tanda dan gejala yang terdaftar di bawah ini dapat dipahami sebagai nilai yang bervariasi dari berbagai gambaran spektrum perilaku yang berkisar antara normal sampai abnormal. Sangat sulit untuk menemukan suatu gejala atau tanda patognomonik ( khas ) dalam psikiatri. Sebagai pembanding, pada pengobatan secara internal masih lebih mudah untuk menemukan tanda yang dapat menunjukkan adanya indikasi suatu penyakit atau gangguan tertentu, sebagai contoh, tanda cincin Kayser-Fleischer pada penyakit Wilson's atau refleks Babinski pada penyakit gangguan jalur piramidal. A. Tanda : Pengamatan dan penemuan penyakit / gangguan oleh seorang dokter, seperti adanya suatu penyumbatan atau retardasi psikomotorik. B. Gejala : pengalaman pribadi yang dirasakan dan diuraikan oleh pasien, sering dinyatakan dalam bentuk keluhan, seperti suasana hati tertekan atau kehilangan energi. C. Sindrom : suatu kelompok tanda dan gejala yang bersama-sama menyusun suatu kondisi tertentu yang dapat dikenal, namun lebih samar-samar dibanding suatu gangguan / penyakit yang spesifik. II. Tanda dan Gejala Gangguan Psikiatri A. Kesadaran : Status kesadaran ( istilah sensorium kadang-kadang digunakan sebagai suatu sinonim untuk kesadaran). 1. Gangguan kesadaran a. Disorientasi : Gangguan orientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang. b. Kesadaran berkabut : kesadaran yang tidak sempurna dengan gangguan persepsi dan sikap. c. Stupor : ketiadaan reaksi dan tidak mengenal lingkungan. d. Delirium : reaksi kebingungan, disorientasi, gelisah yang berhubungan dengan ketakutan dan halusinasi. e. Koma : Derajat tingkat keadaan pingsan yang dalam. f. Koma vigil / terjaga : keadaan koma di mana pasien nampak seperti tertidur tetapi siap untuk dibangunkan ( dikenal sebagai mutisme akinetik). g. Status kesadaran senjakala : gangguan kesadaran dengan halusinasi h. Status seperti mimpi : sering digunakan sebagai sinonim untuk bangkitan parsial kompleks atau epilepsi psikomotorik. i. Somnolen : keadaan mengantuk yang abnormal. j. Kebingungan : Gangguan kesadaran di mana reaksi ke stimuli lingkungan tidak sesuai; yang dinyatakan dengan disorientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang. k. Keadaan mengantuk : suatu status kesadaran lemah berhubungan dengan suatu keinginan atau kecenderungan untuk tidur.

Marleni - 1102010156

Page 1

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib l. Terbenamnya matahari : sindrom pada orang lanjut usia yang umumnya terjadi pada malam hari dan ditandai oleh keadaan mengantuk, kebingungan, kehilangan keseimbangan dan jatuh karena dalam pengobatan sedatif, yang disebut sindrom sundowner's. 2. Gangguan perhatian : perhatian adalah sejumlah usaha yang digunakan dalam memperhatikan dan fokus terhadap suatu hal tertentu dari suatu pengalaman; kemampuan untuk fokus pada satu aktivitas; dan kemampuan untuk berkonsentrasi. a. Distraktibilitas : Ketidakmampuan untuk konsentrasi dalam memberi perhatian; keadaan di mana perhatian ditarik menuju stimuli eksternal yang tidak relevan atau tidak penting. b. Inatensi selektif : Perhatian yang terbatas hanya pada berbagai hal yang menghasilkan ketertarikan. c. Hypervigilans : perhatian berlebihan yang terpusat pada semua stimuli internal dan eksternal, terjadi sekunder pada delusi atau paranoid; berhubungan dengan hyperpragia: aktivitas mental dan pemikiran berlebihan. d. Trans : perhatian yang terpusat dan kesadaran berubah, umumnya dilihat pada keadaan hipnosa, gangguan disasosiasi, dan pengalaman religius yang sangat menggembirakan. e. Disinhibisi : Perpindahan efek inhibisi, yang mengakibatkan orang hilang kendali ketika dalam keadaan mabuk oleh alkohol. 3. Gangguan Sugestibilitas : respon tanpa kritik dan mengalah terhadap suatu ide / pendapat yang mempengaruhi. a. Folie a deux ( folie a trois) : gangguan komunikasi emosional antara dua ( atau tiga) orang. b. Hipnosa : modifikasi kesadaran yang ditandai oleh suatu peningkatan sugestibilitas. B. Emosi: status perasaan yang kompleks termasuuk didalamnya faktor psikis, somatis, maupun prilaku yang berhubungan atau dapat mempengaruhi suasana hati. 1. Afek : ungkapan emosi yang dapat diamati, yang mungkin dapat berbeda dengan apa yang dikeluhkan oleh pasien. a. Afek yang sesuai : kondisi di mana ungkapan emosi selaras dengan pikiran, ide maupun perkataan ; dapat diuraikan lebih lanjut sebagai afek yang yang diekspresikan secara wajar. b. Afek tidak sesuai : ketidaksesuaian antara ungkapan emosi yang dirasakan dengan pikiran, ide maupun perkataan. c. Afek tumpul : gangguan afek yang ditandai oleh adanya pengurangan sejumlah besar intensitas ungkapan emosi / perasaan secara eksternal . d. Afek terbatas : pengurangan dalam intensitas ungkapan emosi / perasaan; lebih sedikit dibanding Afek tumpul namun tetap jelas adanya pengurangan. e. Afek datar : Ekspresi afeksi yang bisa ada ataupun tidak ada: ditandai dengan suara yang monoton, wajah tak bergerak ( tanpa ekspresi ). f. Afek labil : perubahan yang kasar dan cepat dalam ungkapan emosional, tidak berhubungan dengan stimuli eksternal. 2. Suasana hati ( Mood ) : suatu pengalaman subyektif yang menggambarkan dan mendukung emosi / perasaan yang dapat disampaikan oleh pasien dan yang dapa diamati oleh orang lain; misalnya adanya tekanan, kegembiraan, dan kemarahan. Marleni - 1102010156 Page 2

Blok Saraf & Perilaku a. Mood Disforik : suatu suasana hati tak enak.

SK 4

Bisikan Gaib

b. Mood Eutimik : cakupan suasana hati normal, menyiratkan tidak adanya perasaan tertekan atau persaan senang berlebihan. c. Mood ekspansif ( leluasa ) : ungkapan seseorang yang merasakan kebebasan, biasanya dengan suatu pengakuan akan arti penting dari diri sendiri. d. Mood sensitif ( mudah marah ): suatu keadaan pada seseorang yang mudah merasa terganggu dan cepat marah. e. Mood berayun ( labil ) : perpaduan suasana hati antara bahagia dan tertekan atau cemas berlebihan. f. Mood terangkat ( naik ) : suasana hati yang terisi oleh kenikmatan dan kepercayaan diri; suatu suasana hati yang lebih gembira dari biasanya. g. Euforia : Suasana hati yang terangkat dan penuh kegembiraan. h. Ekstasi : Suasana hati yang terlalu gembira diluar kewajaran. i. Tekanan : Perasaan sedih yang bersifat Psikopatologik. j. Anhedonia : hilangnya minat dan ketertarikan terhadap segala kegiatan / aktifitas yangbiasanya menyenangkan, sering berhubungan dengan adanya tekanan. k. Duka cita Atau Perkabungan : Kesedihan yang sesuai dengan kondisi karena meninggalnya seseorang yang dikasihi, juga disebut kehilangan. l. Alexithymia : ketidakmampuan seseorang untuk menguraikan atau kesulitan di dalam menggambarkan secara sadar emosi / perasaan dan suasana hatinya. m. Keinginan bunuh diri : Pemikiran tentang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. n. Kegembiraan : perasaan sukacita, senang, bahagia, kemenangan, kepuasan dan optimisme. o. Hypomania : Kelainan suasana hati ( mood ) dengan karakteristik mania yang kwalitatif, tetapi intensitasnya lebih sedikit. p. Mania : Status suasana hati yang ditandai oleh kegembiraan, hiperaktif, gelisah, hiperseks, dan yang dipercepat oleh pemikiran dan perkataannya sendiri. q. Melankolia : keadaan perasaan yang sangat tertekan; digunakan dalam istilah melankolia involusional, yang juga berhubungan dengan intensitas tekanan. r. Sikap acuh tak acuh : sikap yang tidak menunjukkan kepedulian / perhatian terhadap kelemahan atau kekurangan seseorang. 3. Emosi lainnya: a. Ansietas ( kecemasan ) : perasaan takut yang disebabkan oleh adanya bahaya yang dapat terjadi, bisa berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar. b. Kecemasan mengambang : ketakutan yang tidak terpusat pada satu hal tertentu. c. Takut : Kecemasan yang disebabkan oleh kesadaran akan suatu bahaya yang nyata dan dikenal. Marleni - 1102010156 Page 3

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib d. Agitasi ( gelisah ) : kecemasan yang dalam berhubungan dengan kegelisahan motorik; serupa dengan iritabilitas ( sifat lekas marah ) yang mudah dicetuskan oleh kemarahan atau gangguan. e. Ketegangan : Peningkatan aktifitas motorik yang tidak menyenangkan berhubungan dengan faktor psikologis. f. Panik : serangan kecemasan yang berlebihan, bersifat episodik, yang dapat berhubungan dengan gangguan sistem saraf otonom, juga oleh karena perasaan ngeri yang hebat. g. Apati : ketumpulan emosi yang berhubungan dengan sikap acuh tak acuh. h. Ambivalen : adanya dua hal yang saling bertentangan ( berbeda ) dalam diri seseorang yang dialami dalam waktu bersamaan. i. Abreksi : pelepasan emosional atau membebaskan ingatan ingatan terhadap pengalaman yang menyakitkan. j. Malu : Perasaan gagal untuk mengerjakan sesuatu yang diharapkan. k. Rasa bersalah : Emosi sekunder yang timbul setelah melakukan sesuatu yang dianggap kesalahan. l. Pengendalian diri : Kemampuan untuk menahan diri terhadap godaan, dorongan hati atau hasutan yang diikuti suatu tindakan. m. Inefabilitas : keadaan sangat gembira pada seseorang yang tak terlukiskan, sulit digambarkan, dan mustahil untuk disampaikan kepada orang lain. n. Akateksis : ketiadaan perasaan terhadap sesuatu yang menjadi beban secara emosi; pada kateksis dapat dihubungkan dengan perasaan. o. Dekatesis : melepaskan emosid dari pemikiran, gagasan, atau para orang. 4. Gangguan fisiologis berhubungan dengan suasana hati ( Mood ) : Tanda-tanda gangguan somatis ( biasanya otonomik ), paling sering berhubungan dengan depresi / tertekan ( disebut juga tanda vegetatif ). a. Anorexia : hilangnya atau penurunan selera makan. b. Hiperfagia : Peningkatan nafsu makanan. c. Insomnia : ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur. ( 1) Awal : kesukaran dalam upaya untuk tidur. ( 2) Pertengahan : Kesukaran untuk tidur sepanjang malam tanpa terbangun dan kesukaran untuk dapat tidur kembali. ( 3) Terminal : terbangun pagi-pagi benar. d. Hipersomnia : tidur yang berlebihan. e. Variasi Diurnal ( siang hari ) : secara teratur suasana hati terburuk pada pagi hari, sesaat setelah bangun, dan mulai membaik pada jam-jam berikutnya. f. Penurunan Libido : penurunan minat / ketertarikan seksual, tindakan dan pencapaiannya ; Marleni - 1102010156 Page 4

Blok Saraf & Perilaku SK 4 (peningkatan libido sering dihubungkan dengan negara status manik).

Bisikan Gaib

g. Fatig ( kelelahan ) : suatu perasaan keletihan, lemah dan mengantuk, atau iritabilitas yang menyertai suatu aktifitas tubuh maupun mental. h. Pika : keinginan untuk mengkonsumsi benda yang bukan makanan, seperti cat dan tanah liat. i. Pseudosiesis : kondisi yang jarang terjadi di mana seseorang yang tidak hamil namun mempunyai tanda dan gejala kehamilan, seperti distensi abdominal, payudara membesar, pigmentasi, amenore ( tidak turun haid ) dan mual pagi hari. j. Bulimia : rasa lapar yang tak terpenuhi dan keinginan berlebihan untuk makan; dapat dilihat pada bulimia nervosa dan depresi atipik. k. Adinamia : Kelemahan dan kelelahan ( Fatig ). C. Perilaku Motorik : Aspek psikis yang meliputi dorongan hati, motivasi, berbagai keinginan, rangsangan, naluri, dan hasrat, yang dinyatakan oleh aktivitas motorik atau perilaku seseorang. 1. Ekopraksia : Gangguan / penyakit pada orang yang suka meniru orang lain. 2. Katatonia dan Kelainan Postural : terlihat pada Schizofrenia katatonik dan beberapa kasus gangguan otak, seperti encephalitis. a. Katalepsi : istilah umum untuk suatu posisi diam / tak bergerak yang dilakukan secara konstan. b. Rangsangan katatonik : agitasi / gelisah, aktifitas motorik yang tak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal. c. Stupor katatonik : aktivitas motorik yang lamban, sering sampai pada batas imobilitas dan tampak acuh pada lingkungan sekitar. d. Kekakuan / Rigiditas katatonik: asumsi volunter pada postur / posisi tubuh yang kaku, berupaya untuk melawan semua usaha untuk dipindahkan. e. Postur katatonik : pengambilan suatu posisi atau sikap tubuh yang tidak biasa / ganjil dalam waktu yang lama. f. Cereafleksibilitas ( fleksibilitas sepertii lilin): kondisi dimana seseorang yang diatur dalam suatu posisi tertentu untuk dirawat / diperiksa; ketika si pemeriksa memindahkan atau menggerakkan salah satu anggota tubuh pasien, maka bagian tersebut terasa seperti terbuat dari lilin. g. Akinesia : ketiadaan pergerakan fisik, seperti pada Schizofren Katatonik ; bisa juga terjadi sebagai efek samping ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikosis. 3. Negativisme : Pertahanan diri untuk dipindahkan atau penolakan terhadap semua instruksi yang diberikan. 4. Katapleksi : hilangnya kekuatan otot secara temporer dan kelemahan yang dipicu oleh berbagai beban emosi. 5. Stereotipik: Pengulangan secara seksama suatu pola atau bentuk aksi fisik maupun perkataan tertentu. 6. Manerisme ( Lagak ) : pergerakan involunter ( tidak disengaja ) yang sudah menjadi kebiasaan. 7. Otomatisme : suatu tindakan atau penampilan otomatis yang biasanya mewakili aktivitas yang tidak disadari. Marleni - 1102010156 Page 5

Blok Saraf & Perilaku SK 4 8. Perintah Otomatis : kepatuhan untuk melakukan suatu perintah secara otomatis.

Bisikan Gaib

9. Mutisme : seseorang yang tidak dapat bicara atau mengeluarkan suara tanpa adanya kelainan struktural. 10. Aktifitas berlebihan : a. Agitasi Psikomotorik : aktifitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya nonproduktif dan merupakan respon terhadap ketegangan dari dalam diri sendiri. b. Hiperaktif ( hiperkinesis) : tidak bisa diam, agresif dan destruktif yang sering dihubungkan dengan adanya kelainan pada otak. c. Tik : pergerakan motorik spasmodik / tak teratur dan tanpa disengaja. d. Somnabulisme ( berjalan saat tidur): aktivitas motorik selama tidur e. Akathisia : perasaan subyektif berupa ketegangan otot sekunder karena obat antipsikotik maupun obat yang lain, yang dapat menyebabkan kegelisahan, serta mengulangi posisi duduk dan berdiri; dapat keliru dianggap sebagai gangguan jiwa agitasi. f. Kompulsi : dorongan hati yang tak dapat dikendalikan untuk melakukan suatu tindakan secara berulang. ( 1) Dipsomania : kompulsi untuk minum alkohol. ( 2) Kleptomania : kompulsi untuk mencuri. ( 3) Nimfomania : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks di pada seorang perempuan. ( 4) Satiriasis : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks pada seorang laki-laki. ( 5) Trikotillomania : kompulsi untuk mencabut rambut. ( 6) Ritual : aktivitas otomatis, kompulsi secara alamiah, ansietas terhadap suatu perubahan. g. Ataksia : Kegagalan koordinasi otot; ketidakteraturan tindakan otot. h. Polifagi : kelainan berupa makan secara berlebihan. i. Polidipsi : kelainan berupa minum secara berlebihan. j. Tremor : perubahan irama pergerakan, pada umumnya gemetaran lebih cepat dari satu detik; bersifat khas atau tipikal, akan berkurang selama periode relaksasi dan tidur dan akan meningkat dalam keadaan marah atau tegang. k. Flosilasi : gerakan memilin tanpa tujuan, biasanya pada pakaian, sprei maupun sarung bantal ; dapat terlihat pada Delirium. 11. Hipoaktifitas ( hipokinesis) : penurunan aktifitas motorik dan kognitif seperti pada retardasi psikomotor ; keterlambatan dalam berpikir, berbicara dan bergerak. 12. Suka meniru: aktivitas motori pada masa kanak-kanak suka meniru gerakan sederhana. 13. Agresi: kekuatan penuh dalam berbagai tindakan yang bertujuan baik secara fisik maupun dalam berbicara; merupakan kendali motorik yang terhadap amukan, kemarahan, atau permusuhan.

Marleni - 1102010156

Page 6

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib 14. Berakting ( pemeranan ): ekspresi keinginan bawah sadar atau rangsangan terhadap suatu tindakan; prilaku yang timbul oleh karena fantasi bawah sadar. 15. Abulia: penurunan rangsangan dalam bertindak dan berpikir, berhubungan dengan sikap acuh tak acuh; merupakan salah satu akibat dari defisit neurologis. 16. Anergia: ketiadaan energi. 17. Astasia Abasia : ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meskipun pergerakan kaki normal dapat dilakukan pada saat duduk atau posisi berbaring. Gaya berjalan atau melangkah terlihat ganjil namun bukan disebabkan oleh karena suatu lesi organik yang spesifik; terlihat pada kelainan konversi. 18. Koprofagia : suka makan kotoran atau tinja. 19. Diskinesia : Kesukaran dalam melakukan pergerakan volunter, seperti pada kelainan ekstrapiramidal 20. Kekakuan Otot : keadaan dimana otot sulit digerakkan; terlihat pada Skozofrenia. 21. Berputar-putar : suatu tanda pada anak-anak autistik yang secara terus menerus memutarkan badan searah putaran kepala mereka. 22. Bradikinesia : kelambatan aktifitas motorik ditandai dengan suatu penurunan pergerakan spontan yang normal. 23. Korea : pergerakan cepat, tersentak-sentak yang tak bertujuan dan dilakukan tanpa sadar. 24. Konvulsi : involunter, suatu kontraksi hebat atau spasme otot. a. Konvulsi klonik : konvulsi dimana otot akan berkontraksi dan relaksasi secara bergantian. b. Konvulsi tonik : Konvulsi dimana otot akan terus- menerus berkontraksi. 25. Bangkitan : suatu serangan mendadak dari gejala tertentu, seperti konvulsi, hilangnya kesadaran, dan gangguan psikis maupun sensoris; terlihat pada epilepsi dan bisa juga karena rangsangan lain. a. Bangkitan tonik-klonik umum: serangan berupa gerakan tonik-lonik anggota tubuh, lidah yang tergigit, dan inkontinensia yang berangsur-angsur akan sadar dan pulih; disebut juga bangkitan Grand Mal dan bangkitan psikomotorik. b. Bangkitan parsial sederhana : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal tanpa perubahan dalam kesadaran. c. Bangkitan parsial kompleks : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal yang disertai perubahan kesadaran. 26. Distonia : kelambatan, kontraksi dari batang tubuh dan anggota gerak; terlihat pada distona karena pengobatan tertentu. 27. Aminia : Ketidakmampuan untuk membuat bahasa tubuh / gestur sendiri atau untuk memahami gestur yang dibuat orang lain. D. Pemikiran: merupakan arus gagasan, lambang / simbol, dan asosiasi bertujuan yang diaktifkan oleh suatu masalah atau tugas yang menghasilkan kesimpulan berdasarkan kenyataan; ketika suatu peristiwa logis terjadi, maka secara normal kita akan berpikir; parapraksis ( kehilangan motivasi logika tanpa disadari, disebut juga Freudian Slip) yang dianggap sebagai bagian dari pemikiran yang normal. Pemikiran abstrak adalah kemampuan untuk menggapai hal-

Marleni - 1102010156

Page 7

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib hal yang penting secara utuh, untuk memisahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dan untuk membedakannya dari pandangan umum. 1. Gangguan umum dalam proses berpikir a. Gangguan Mental : secara klinis perilaku yang timbul atau sindrom psikologis yang terjadi berhubungan dengan penderitaan dan kecacatan, bukan hanya respon yang tidak diharapkan untuk menjawab peristiwa tertentu atau membatasi hubungan antara seseorang dan masyarakat sekitar. b. Psikosis : Ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dan khayalan; dengan menciptakan suatu kenyataan baru ( berbeda dengan neurosis: gangguan mental di mana kenyataan yang sebenarnya tetap utuh; perilaku yang tidak melanggar berbagai norma sosial, tetapi akan cenderung kumat dan berlangsung kronis bila tanpa perawatan. c. Uji realitas : merupakan evaluasi dan penilaian yang obyektif terhadap dunia diluar diri sendiri . d. Gangguan Pikiran formal : lebih mengarah kepada gangguan dalam bentuk pikiran dan bukan isi pikiran; pemikiran yang ditandai oleh hlangnya asosiasi, pembentukan kata baru / neologisme, dan hal-hal konstruktif tapi tidak masuk akal; gangguan proses berpikir, dan orang tersebut dikategorikan sebagai psikosis. e. Pemikiran yang tidak masuk akal: pemikiran yang berisi kesimpulan yang salah atau pertentangan secara internal; dapat dianggap sebagai gangguan psikis bila tanda-tandanya jelas dan bukan disebabkan oleh defisit intelektual atau nilai-nilai budaya. f. Dereisme : Aktivitas mental yang tidak sesuai kenyataan dan pengalaman. g. Pemikiran Autistik : Keasyikan dengan diri sendiri, dunia pribadi; istilah yang terkadang disama artikan dengan dereisme. h. Pemikiran gaib : suatu bentuk pikiran dereistik; pemikiran yang serupa dengan pemikiran pada tahap anak-anak (Jean Piaget), di mana pemikiran, kata-kata, atau tindakan yang menunjukkan kekuasaan ( sebagai contoh, menjadi penyebab atau pencegah suatu peristiwa hebat). i. Proses berpikir primer : istilah umum untuk pemikiran dereistik, tidak masuk akal, dan gaib; ditemukan secara normal dalam mimpi, secara tidak normal pada psikosis. j. Pengertian emosional yang dalam: tingkat kesadaran atau pemahaman yang tinggi pada seseorang yang dapat mendorong untuk melakukan hal-hal positif dalam prilaku dan kepribadiannya. 2. Gangguan spesifik dalam bentuk pikiran a. Neologisme : kata-kata baru yang diciptakan oleh pasien, sering dengan kombinasi suku kata dari kata-kata yang lain, untuk pertimbangan psikologis idiosinkratik b. Salad kata-kata : campuran kata-kata yang tidak logis dan tidak bertautan dengan kalimat. c. Sirkumstantial : Kalimat yang tak langsung mencapai tujuan / maksud yang sebenarnya tetapi berputar-putar pada kalimat yang lain; yang ditandai oleh suatu detail yang tumpang-tindih dan keterangan sambil lalu. d. Tangential : Ketidakmampuan untuk membentuk asosiasi pikiran yang bertujuan; pembicara tidak mendapat tujuan yang diingankan. e. Ketidaksesuaian : pada umumnya apa yang dipikirkan tak dapat dimengerti / dipahami; pemikiran dan perkataan yang berjalan bersama namun tidak saling berhubungan, menghasilkan tatabahasa yang tidak beraturan. Marleni - 1102010156 Page 8

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib f. Perseverasi : mempertahankan respon terhadap stimulus yang sebelumnya setelah suatu stimulus baru diberikan; sering berhubungan dengan gangguan kognitif. g. Verbigerasi : pengulangan kata-kata atau ungkapan tertentu yang tidak mengandung arti. h. Ekolalia : psikopatologis berupa pengulangan kata-kata atau kalimat dari seseorang kepada yang lain; pengulangan yang dipertahankan; dapat disampaikan dalam bentuk ejekan maupun dengan intonasi yang keras. i. kondensasi : Peleburan berbagai konsep menjadi satu. j. Jawaban tidak relevan : Jawaban yang tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan ( seseorang yang mengabaikan atau tidak mempedulikan pertanyaan yang dimaksud ). k. Kehilangan asosiasi : arus berpikir di mana berbagai gagasan bergeser dari satu topik ke topik yang lain dan tidak saling berkaitan; pada keadaan yang lebih berat, terjadi ketidaksesuaian dalam perkataan. l. Penyimpangan : terjadi deviasi mendadak dalam pikiran tanpa dapat dihentikan; terkadang digunakan sebagai sinonim dari kehilangan asosiasi. m. Flight of idea ( ide yang berterbangan ): perkataan yang cepat dan beruntun, ide / gagasan yang berpindahpindah, dengan tujuan untuk dapat dihubungkan; pada keadaan yang lebih ringan masih dapat diikuti oleh orang yang mendengarkan. n. Asosiasi klang : asosiasi kata-kata dengan bunyi yang sama tetapi tanpa arti; kata-kata yang tidak mempunya koneksi logis; termasuk sajak dan permainan kata-kata. o. Bloking ( Ganjalan ) : interupsi / hadangan keras terhadap pikiran sebelum pikiran atau ide tersebut dapat diselesaikan; setelah jeda itu, orang tersebut tidak dapat mengingat lagi apa yang sudah dikatakan atau yang baru akan dikatakan ( disebut juga deprivasi pikiran ). p. Glossolalia : Ungkapan suatu pesan atau pewahyuan melalui kata-kata yang tak dapat dipahami ( dikenal sebagai bahasa lidah); tidak berhubungan dengan suatu gangguan pikiran jika hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan spiritual ( Gereja Pantekosta ); dikenal juga sebagai criptolalia, suatu bahasa yang khusus. 3. Gangguan spesifik dalam isi pikiran a. Kemiskinan isi : pikiran yang hanya memberi sedikit informasi oleh karena ketidakjelasan, tidak ada pengulangan kata-kata, atau ungkapan yang tidak jelas. b. Ide berlebihan : tidak masuk akal, mempertahankan kepercayan terhadap sesuatu yang salah, lebih kuat dibandingkan suatu khayalan / delusi. c. Delusi ( khayalan ) : kepercayaan palsu, berdasarkan pada kesimpulan salah tentang kenyataan diluar, tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan pasien dan latar belakang budaya; namun tidak bisa dikoreksi dengan alasan lain. ( 1) Delusi Ganjil : tidak masuk akal, sangat mustahil, kepercayaan yang aneh dan salah ( contohnya, penyerbu dari ruang angkasa telah menanamkan elektroda dalam otak seseorang). ( 2) Delusi yang diatur : kepercayaan palsu yang berhubungan dengan tema atau peristiwa tertentu ( sebagai contoh, seseorang telah dianiaya oleh CIA, FBI, atau Mafia).

Marleni - 1102010156

Page 9

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib ( 3) Delusi sesuai mood : khayalan yang dihubungkan dengan isi suasana hati seseorang (contohnya, seorang pasien depresi percaya bahwa dia yang bertanggung jawab atas kehancuran dunia). ( 4) Delusi tidak sesuai mood : Khayalan yang tidak memiliki hubungan dengan isi suasana hati atau kondisi mood yang stabil ( sebagai contoh, seorang pasien depresi berkhayal sebagai pemegang kendali pikiran atau pikiran tentang penyiaran). ( 5) Delusi nihilistik : perasaan yang salah tentang menyatakan diri sendiri, orang lain, atau dunia ini adalah hampa atau akan segera berakhir. ( 6) Delusi kemiskinan : kepercayaan yang salah dari seseorang bahwa dia telah atau akan kehilangan semua harta miliknya. ( 7) Delusi somatis : kepercayaan yang salah pada seseorang yang berhubungan dengan fungsi tubuh ( sebagai contoh, ia percaya bahwa otaknya melebur atau meleleh ). ( 8) Delusi paranoid : meliputi khayalan tentang penganiayaan, pengendalian, dan kekuasaan (dibedakan dari pikiran paranoid , yang kecurigaannya lebih sedikit daripada delusional ). a). Delusi penyiksaan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa dia telah diganggu, ditipu, atau dianiaya; sering ditemukan pada pasien yang mempunyai kecenderungan patologis untuk mengambil tindakan sah secara hukum oleh karena penganiayaan dibayangkan. b). Delusi kekuasaan / kehebatan: konsep berpikir yang berlebihan dari seseorang yang menganggap dirinya penting, berkuasa dan terkenal. c). Delusi acuan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa perilaku orang lain lain mengacu pada dirinya; peristiwa tertentu, obyek, atau orang lain hanya memiliki kemampuan yang biasa atau kemampuan yang berdampak negatif; berdasarkan ide acuan ini, pasien menganggap bahwa orang lain sedang membicarakannya ( sebagai contoh, ia percaya bahwa orang yang bekerja di stasiun televisi maupun radio sedang membicarakan dirinya ). ( 9) Delusi tuduhan : perasaan bersalah dan menyesali kesalahan diri sendiri. (10) Delusi kendali : perasaan bahwa kehendak, pemikiran, bahkan perasaan seseorang dikendalikan oleh kekuatan diluar dirinya. a). Penarikan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang telah dipindahkan oleh orang lain atau kekuatan tertentu. b). Penyisipan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran tertentu telah ditanamkan dalam otak seseorang oleh orang lain atau kekuatan tertentu. c). Penyiaran Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang dapat didengar oleh orang lain melalui penyiaran di udara. d). Pengendalian Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang sedang dikendalikan oleh orang lain atau kekuatan tertentu. (11) Delusi ketidaksetiaan ( delusi kecemburuan): kepercayaan palsu yang diperoleh dari kecemburuan yang patologis tentang ketidaksetiaan seseorang terhadap kekasihnya. (12) Erotomania : Delusi Kepercayaan, terjadi lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki, yang menganggap bahwa seseorang sangat mencintainya ( dikenal sebagai Clerembault Kadinsky kompleks ). Marleni - 1102010156 Page 10

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib (13) Pseudologia Fantasika : suatu tipe kebohongan dimana seseorang percaya bahwa kfantasi / khayalannya adalah sesuatu yang nyata dan benar-benar mereka alami; berhubungan dengan sindrom Munchausen, selalu berpura-pura sakit. d. Kecenderungan atau Keasyikan pikiran: memusatkan isi pikiran pada suatu hal tertentu, berhubungan dengan afek yang kuat, seperti paranoid atau kecenderungan untuk menyiksa atau membunuh diri sendiri. e. Egomania : kecenderungan memikirkan kepentingan sendiri yang patologis. f. Monomania : kecenderungan untuk asyik pada suatu obyek tertentu. g. Hipokondria : perhatian yang berlebihan terhadap kesehatannya berdasarkan kelainan / patologi yang tidak nyata, namun membuat interpretasi tentang tanda dan gejala penyakit yang dibuat-buat. h. Obsesi : ketekunan pikiran yang patologis terhadap sesuatu yang dianggap menarik yang tidak dapat dibatasi oleh akal sehat; berhubungan dengan ansietas. i. Kompulsi : kebutuhan untuk melakukan sesuatu karena dorongan hati yang patologis dan bila tidak terpenuhi akan mengalami ansietas / kecemasan; , tindakan yang dilakukan berulang-ulang oleh karena obsesi yang tidak akan pernah berakhir bila tidak segera dihentikan. j. Koprolalia : Ucapan-ucapan kompulsif yang berisi kata-kata yang fulgar. k. Fobia : perasaan yang tidak masuk akal tapi tetap dipertahankan, berupa ketakutan yang berlebihan terhadap suatu hal atau situasi tertentu; sehingga berusaha untuk menghindari sumber ketakutan tersebut. (1) Fobia spesifik : perasaan ngeri yang terbatas pada suatu situasi atau obyek tertentu (contoh, perasaan takut pada laba-laba atau ular). (2) Fobia sosial : Perasaan ngeri dipermalukan didepan umum, seperti takut berbicara dan tampil bahkan makan di tempat umum. (3) Akrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tinggi. (4) Agorafobia : Perasaan ngeri berada di tempat terbuka. (5) Algofobia : Perasaan ngeri terhadap rasa sakit. ( 6) Ailurofobia : Perasaan ngeri pada kucing. ( 7) Erythrofobia : Perasaan ngeri terhadap warna merah ( seperti ketakutan menjadi merah karena malu ). ( 8) Panfobia : Perasaan ngeri terhadap segala sesuatu. ( 9) Klaustrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tertutup. (10) Xenofobia : Perasaan ngeri terhadap orang asing. (11) Zoofobia : Perasaan ngeri terhadap binatang. (12) Fobia jarum : ketakutan patologik terhadap suntikan; disebut juga fobia suntikan darah. l. Noesis : perasaan tentang dibukanya suatu rahasia ( pewahyuan ) bahwa seseorang telah dipilih menjadi pemimpin untuk memerintah. Marleni - 1102010156 Page 11

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib m. Mistis : perasaan tentang adanya kekuatan mistik yang bersatu dengan suatu kekuatan tak terbatas yang berhubungan dengan agama atau kebudayaan tertentu. E. Perkataan / Pembicaraan: Gagasan, pemikiran, dan perasaan yang dinyatakan melalui bahasa; komunikasi yang menggunakan kata-kata dan bahasa. 1. Gangguan dalam berkata-kata / berbicara a. Tekanan dalam perkataan : perkataan yang cepat dan semakin banyak yang sulit untuk disela. b. Volubilitas ( Logorrhea) : perkataan yang logis, saling berhubungan dan dapat dipahami. c. Kemiskinan perkataan : pembatasan dalam jumlah perkataan yang digunakan; memberikan jawaban dengan suku kata yang sama. d. Perkataan yang tidak spontan: tanggapan lisan yang diberi hanya ketika diminta untuk berbicara secara langsung; tidak ada inisiatif untuk mulai berbicara terlebih dahulu. e. Kemiskinan isi perkataan : perkataan dalam jumlah yang hanya cukup untuk menyampaikan sedikit informasi karena ketidakjelasan, kekurangan kata-kata, atau meniru-niru ungkapan. f. Disprosodi : hilangnya melodi / irama kata-kata yang normal ( disebut prosodi). g. Disarthria : Kesukaran dalam artikulasi, bukan dalam mencari kata-kata atau tata bahasanya. h. Suara yang terlalu lembut atau nyaring: hilangnya modulasi volume suara normal; dapat mnenggambarkan adanya gangguan psikosis menjadi depresi kemudian menjadi tuli. i. Bicara menggagap : perpanjangan atau pengulangan suatu bunyi atau suku kata, yang mengakibatkan gangguan kelancaran bicara. j. Perkataan kacau balau : Perkataan yang tak seirama dan tidak menentu, berentetan secara cepat dan tidak teratur. k. Akulalia : perkataan yang tidak masuk akal yang berhubungan dengangangguan kesesuaian. l. Bradilalia : perkataan lambat yang abnormal. m. Disfonia : kesulitan atau nyeri saat berbicara. 2. Gangguan Afasik : Gangguan dalam berbahasa. a. Afasia Motorik : gangguan bicara yang disebabkan oleh adanya gangguan kognitif di mana pasien dapat memahami namun sulit untuk menyampaikan dalam bentuk kata-kata; sering berhenti, perlu banyak tenaga, dan suara yang tidak akurat ( disebut juga Broca, nonfluen, dan afasia ekspresi ) b. Afasia snsorik : hilangnya kemampuan organik untuk memahami arti dari kata-kata; mengalir dengan spontan namun tidak saling berhubungan dan tidak ada arti yang jelas ( disebut juga Wernicks Fluent dan afasia reseptif ). c. Afasia nominal : kesulitan dalam mengenal nama suatu objek ( istilah lain anomia dan afasia amnestik ). d. Afasia sintaksis : ketidakmampuan untuk menyusun kata-kata dalam urutan yang sesuai. e. Afasia Jargon : semua kata yang dihasilkan merupakan neologistik; kata-kata omong kosong yang diulangi dengan intonasi dan nada suara yang berbeda. Marleni - 1102010156 Page 12

Blok Saraf & Perilaku SK 4 f. Afasia global : kombinasi antara afasia nonfluent dan afasia fluent yang berat. g. Alogia : Ketidakmampuan untuk berbicara oleh karena gangguan mental atau fase demensia.

Bisikan Gaib

h. Koproprasia : penggunaan bahasa yang fulgar; terlihat pada sindrom Tourett dan beberapa kasus skizofrenia. F. Persepsi: Proses pemindahan rangsangan fisik ke dalam informasi psikologis; suatu proses mental dimana rangsangan sensorik dibawa ke alam sadar. 1. Gangguan persepsi a. Halusinasi : persepsi sensorik palsu yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dari luar; dapat merupakan atau bukan merupakan suatu interpretasi khayalan dari pengalaman dalam halusinasi . (1) Halusinasi Hipnagogik : persepsi sensorik palsu yang terjadi saat tidur; biasanya dianggap nonpatologik. (2) Halusinasi Hipnopompik : persepsi palsu yang terjadi saat bangun tidur; biasanya dianggap nonpatologik. (3) Halusinasi Auditorius : persepsi palsu tentang bunyi, biasanya suara tertentu atau keributan lainnya, seperti musik: halusinasi tersering dalam gangguan psikiatri. (4) Halusinasi visual : persepsi palsu tentang penglihatan: dalam bentuk yang berwujud (contohnya orang-orang) dan yang tak berwujud ( misalnya kilatan cahaya); paling sering pada gangguan determinasi kesehatan. (5) Halusinasi Olfaktorius : persepsi palsu tentang bau; paling sering pada gangguan kesehatan. (6) Halusinasi Gustatorius : persepsi palsu dalam pengecapan, seperti rasa yang tidak sedap, disebabkan oleh suatu bangkitan uncinate: paling sering pada gangguan kesehatan. (7) Halusinasi taktil : persepsi palsu tentang perabaan, seperti pada kasus amputasi anggota tubuh; tearsa seperti ada sesuatu yang merayap di bawah kulit. (8) Halusinasi Somatik : sensasi palsu yang dirasakan dalam tubuh, paling sering pada organ visceral ( dikenal sebagai halusinasi Senestetik ). (9) Halusinasi Lilliput : persepsi palsu di mana objek terlihat dalam ukuran yang lebih kecil ( disebut juga mikropsia ). (10) Halusinasi berdasarkan Mood: Halusinasi berkaitan dengan suatu perasaan tertekan atau manik; sebagai contoh, seorang pasien depresi mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang jahat; seorang pasien manik mendengar suara-suara yang mengatakan bahwa dirinya penuh dengan pengetahuan dan kekuasaan serta harga diri yang tinggi. (11) Halusinasi tidak berdasar Mood: Halusinasi yang tidak berdasarkan suasana hati yang tertekan maupun manik ( contohnya, pada keadaan depresi halusinasi tidak berhubungan dengan beberapa hal seperti rasa bersalah, hukuman yang setimpal, atau ketidakmampuan; pada mania, halusinasi tidak berhubungan dengan adanya kekuatan atau harga diri ). (12) Halusinosis : berhalusinasi, paling sering pada pendengaran, yang dihubungkan dengan penyalahgunaan alkohol tanpa gangguan sensorik, berbeda dengan delirium tremens, halusinasi terjadi disertai gangguan sensorik.

Marleni - 1102010156

Page 13

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib (13) Sinesthesia : sensasi halusinasi disebabkan oleh sensasi lain ( sebagai contoh, sensasi pendengaran yang disertai oleh tercetusnya sensasi visual; suatu bunyi; sensasi pendengaran yang dapat dilihat atau sebaliknya sensasi penglihatan yang dapat didengar ). (14) Fenomena jejak : kelainan persepsi yang berhubungan dengan obat-obatan halusinogenyang menyebabkan objek terlihat sebagai suatu gambaran yang terangkai. (15) Halusinasi Perintah : persepsi palsu yang mennyebabkan seseorang berkewajiban untuk mematuhi perintah dan tidak boleh membantah. b. Ilusi : persepsi atau interpretasi yang salah terhadap rangsangan sensorik yang nyata dari luar. 2. Gangguan berhubungan dengan kelainan kognitif dan kondisi kesehatan a. Agnosia : ketidakmampuan untuk mengenali dan menginterpretasikan arti / kesan dari suatu rangsangan sensorik. b. Anosognosia ( Ketidaktahuan tentang penyakit ) : ketidakmampuan seseorang untuk mengenali suatu gangguan neurologik yang terjadi pada dirinya. c. Somatopagnosia ( Ketidaktahuan tentang tubuh ): ketidakmampuan seseorang untuk mengenali salah satu bagian tubuhnya sendiri (disebut juga Autotopagnosia). d. Agnosia visual : Ketidakmampuan untuk mengenali objek atau orang. e. Astereognosis : ketidakmampuan untuk mengenali objek melalui sentuhan / perabaan. f. Prosopagnosia : Ketidakmampuan untuk mengenali wajah. g. Apraksia : Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas spesifik. h. Simultagnosia : Ketidakmampuan untuk memahami lebih dari satu unsur visual pada waktu yang sama atau untuk mengintegrasikan beberapa bagian menjadi satu. i. Adiadokokinesia : Ketidakmampuan untuk melaksanakan pergerakan cepat secara berurutan. j. Aura : Sensasi peringatan seperti otomatisme, perut yang kenyang, wajah merona, perubahan dalam pernafasan, sensasi kognitif, dan status afeksi yang biasanya dialami sebelum terjadi serangan; suatu sensasi awal yang mendahului suatu nyeri akibat migrain. 3. Gangguan yang berhubungan dengan fenomena disosiatif dan konversi: somatisasi dari materi yang ditekan atau pengembangan gejala fisik dan penyimpangan otot-otot volunter atau organ pengindraan khusus; yang tidak dikendalikan oleh volunter dan yang tak dapat dihubungkan dengan gangguan fisik manapun. a. Anesthesia histerikal : hilangnya unsur-unsur sensorik sebagai hasil dari konflik emosi. b. Makropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih besar dari biasanya. c. Mikropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih kecil dari biasanya (makropsia dan mikropsia dapat dihubungkan dengan kondisi organik yang jelas seperti bangkitan parsial kompleks). d. Depersonalisasi : sensasi subyektif pada seseorang yang merasakan adanya keanehan, tidak nyata dan perasaan asing. Marleni - 1102010156 Page 14

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib e. Derealisasi : suatu sensasi subyektif yang menganggap ada keanehan pada lingkungan sekitar dan terasa tidak nyata . f. Fugue ( Fuga ) : menggunakan identitas yang baru karena mengalami amnesia terhadap identitas yang lama; sering melakukan perjalanan dan pengembaraan ke tempat-tempat yang baru. g. Kepribadian ganda : seseorang yang muncul dalam waktu yang berbeda dengan dua atau lebih karakter dan kepribadian yang berbeda ( disebut disosiatif identitas yang terdapat dalam edisi revisi dari Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorders [DSM-IV-TR] ). h. Disosiasi : mekanisme pertahanan dibawah sadar yang disertai oleh sekelompok proses mental dan prilaku yang merupakan bagian akhir dari aktifitas fisik seseorang; yang membutuhkan pemisahan antara suatu gagasan / ide dengan ungkapan emosinya, seperti yang terlihat pada gangguan disosiasi dan konversi. G. Memori Berperan melaui informasi dan data yang tersimpan dalam otak yang selanjtnya akan dimunculkan kembali dalam bentuk ingatan dalam keadaan sadar. Orientasi adalah kondisi / status normal dalam diri seseorang maupun lingkungan sekitar seperti waktu, tempat dan orang. 1. Gangguan Memori a. Amnesia : ketidakmampuan total maupun parsial untuk mengingat kembali pengalaman yang terjadi sebelumnya; dalam bentuk peristiwa maupun perasaan yang nyata. ( 1) Anterograde : hilang ingatan sesaat setelah suatu peristiwa tertentu terjadi. ( 2) Retrograde : hilang ingatan untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum satu waktu tertentu. b. Paramnesia : Pemalsuan memori oleh adanya distorsi dalam ingatan. ( 1) Fausse reconnaissance : pengenalan palsu. ( 2) Pemalsuan retrospektif : Memori yang terjadi tanpa disengaja ( tidak disadari ) yang didistorsikan melalui suatu penyaringan terhadap kondisi emosi, kognitif, dan pengalaman dari seseorang. ( 3) Konfabulasi : perasaan adanya celah dalam memori yang tanpa disadari dan disebabkan oleh bayangan akan suatu pengalaman yang tidak benar-benar terjadi namun dipercayai oleh orang tersebut tanpa ada dasar bukti yang nyata: paling sering berhubungan dengan penyakit organik. ( 4) Dj vu : Ilusi tentang pengenalan visual di mana adanya memori terhadap suatu situasi baru yang dianggap merupakan pengulangan dari peristiwa yang terjadi sebelumnya . ( 5) Deja Entendu : Ilusi tentang pengenalan yang berhubungan dengan pendengaran. ( 6) Deja Pense : Ilusi tentang suatu pikiran baru yang dikenali sebagai pikiran yang sudah dirasakan sebelumnya dan sudah dinyatakan. ( 7) Jamais vu : perasaan asing dengan suatu situasi nyata yang sudah dialami oleh seseorang. ( 8) Memori palsu : kepercayaan dan ingatan seseorang terhadap suatu peristiwa yang tidak nyata terjadi. c. Hipermnesia : derajat daya dan tingkat ingatan yang berlebihan. Marleni - 1102010156 Page 15

Blok Saraf & Perilaku SK 4 d. Gambaran Eidetik : memori visual yang hampir menjadi halusunasi yang hidup. e. Memori Tabir : suatu memori yang disadari dapat menjadi tabir pelindung terhadap memori lain yang menyakitkan.

Bisikan Gaib

f. Represi : suatu mekanisme pertahanan yang ditandai oleh ketidaksadaran untuk melupakan rangsangan atau gagasan yang tidak dapat diterima. g. Lethologika : ketidakmampuan temporer untuk mengingat suatu benda atau nama. h. Blackout : Hilang ingatan tentang perilaku selama dalam keadaan mabuk pada seorang peminum alkohol; umumnya menunjukkan telah terjadi kerusakan pada otak. 2. Tingkat memori a. Segera : reproduksi atau daya ingat terhadap beberapa hal tertentu dalam hitungan detik sampai menit. b. Yang Terbaru : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lewat beberapa hari. c. Masa lampau terbaru : daya ingat terhadap peristiwa yang telah lewat beberapa bulan. d. Remote : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lama berlalu. H. Kecerdasan/Inteligensia: Kemampuan untuk memahami, mengingat, mengarahkan, dan mengintegrasikan secara konstruktif pelajaran sebelumnya saat berada dalam situasi yang baru. 1. Retardasi Mental: ketiadaan inteligensia sampai batas tertentu yang melibatkan lembaga khusus dalam masyarakat: ringan (IQ 50 - 55 sampai sekitar 70), sedang ( IQ 35 - 40 sampai 50 - 55), IQ yang rendah 20 - 25 sampai 35 - 40, atau IQ yang sangat rendah dibawah 20 - 25; istilah jaman dulu disebut idiot ( kapasitas otak sesuai usia kurang dari 3 tahun), imbesil ( sesuai usia 3 - 7 tahun), dan pandir (sesuai usia kira-kira 8 tahun). 2. Demensia: kemunduran fungsi intelektual secara menyeluruh tanpa kesadaran berkabut. a. Diskalkulia ( Akalkulia): hilangnya kemampuan untuk berhitung; bukan disebabkan oleh ansietas atau gangguan konsentrasi. b. Disgrafia ( Agrafia): hilangnya kemampuan untuk menulis kata-kata; hilangnya struktur kata. c. Aleksia: hilangnya kemampuan membaca yang sebelumnya telah dikuasai; tidak dapat dihubungkan dengan gangguan penglihatan. 3. Pseudodimensia: corak klinis mirip dimensia yang tidak disebabkan oleh suatu gangguan organik; paling sering disebabkan oleh depresi ( sindrom dimensia karena depresi). 4. Pemikiran Konkrit: pemikiran harafiah; membatasi penggunaan kiasan tanpa memahami arti yang tersirat; pikiran satu dimensi . 5. Pemikiran Abstrak: kemampuan untuk menangkap arti yang tersirat; pikiran multidimensi dengan kemampuan untuk menggunakan kiasan dan hipotesis yang sewajarnya. I. Pengertian yang mendalam: Marleni - 1102010156 Page 16

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib Kemampuan seseorang untuk memahami maksud / arti dan penyebab yang sesungguhnya dari suatu peristiwa ( seperti satu set gejala ). 1. Intelektual yang dalam: Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam satu situasi tertentu tanpa kemampuan untuk menerapkan pemahaman tersebut menjadi sesuatu yang berguna dalam upaya untuk mengasai situasi yang ada. 2. Pengertian benar yang mendalam : Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam situasi tertentu, kemudian digabungkan dengan motivasi dan dorongan emosi untuk dapat menguasai situasi yang ada. 3. Pengertian mendalam yang lemah: kurangnya kemapuan untuk memahami hal-hal nyata dari satu situasi tertentu. J. Pertimbangan: Kemampuan untuk menilai suatu situasi dengan tepat dan mengambil tindakan yang sewajarnya dalam situasi tersebut. 1. Pertimbangan kritis: Kemampuan untuk menilai, melihat dengan tajam, dan memilih di antara beberapa opsi dalam satu situasi tertentu. 2. Pertimbangan otomatis: Capaian refleks dari suatu tindakan yang disesuaikan dengan situasi saat itu. 3. Pertimbangan lemah: kurangnya kemampuan untuk memahami dengan benar dan mengambil tindakan yang tepat dalam satu situasi tertentu.

2. MM Patofisiologi Skizofrenia Secara Neuroendokrin


Schizophrenia terjadi akibat dari peningkatan aktifitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamin, terlalu banyaknya reseptor dopamin, turunnya nilai ambang, atau hipersensitifitas reseptor dopamin, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan observasi bahwa : Ada korelasi antara efektivitaas dan potensi suatu obat antipsikotik dengankemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopamin D2. Obat yang meningkatkan aktifitas dopaminergik seperti amfetamin dapatmenimbulkan gejala psikotik pada siapapun.

Jalur-Jalur Dopamin a. Nigrostriatal pathway Jalur nigrostriatal adalah jalur saraf yang menghubungkan substansia nigra dengan striatum. Jalur ini merupakan salah satu dari empat jalur dopamin yang utama didalam otak.Kehilangan neuron-neuron dopamin dalam substansia nigra adalah salah satu dari penyebab penyakit Parkinson. Gejala penyakit biasa belum muncul sampai terjadikehilangan 70-80% fungsi dopamin. Jalur ini juga terlibat dalam terjadi diskinesia Tardif, yng merupakan salah satuefek samping obat-obat antipsikotik. Obat-obat ini (terutama obat-obat antipsikotik lama) menghalangi reseptor dopamin D2 pada banyak jalur di otak. b. Mesocortical pathway Jalur mesokortikal adalah suatu jalur saraf yang menghubungkan tegmentum ventra ke korteks, terutama lobus frontalis. Fungsi kognif normal dari korteks prefrontal dorsolateral (bagian dari lobusfrontalis) dan diperkirakan terlibat dalam respon motivasi dan emosional. Jalur ini diperkirakan berhubungan dengan gejala-gejala negatif dari skizofrenia c. Tuberoinfundibular pathway Jalur tuberoinfundibular mengarah kepada neurodopamin pada nukleus arquatus dari hipotalamus dari mediobasal yang menghubungkan eminensia media. Kerja antipsikotik

Marleni - 1102010156

Page 17

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib bekerja dengan cara menghalangi dopamin di jalur ini sehingga menyebabkan hormon prolaktin meningkat di dalam darah (hiperprolaktinemia). d. Mesolimbic pathway Jalur mesolimbik menghubungkan tegmentum sentral di otak tengah dengan nukleus arquatus. Jalur ini diduga terlibat di dalam terbentuknya perasaan- perasaan yang berhubungan dengan kenikmatan dan nafsu. Jalur ini merupakan salah satu target utama dari pengobatan antipsikotik.Pada penyakit parkinson kehilanagan neuron-neuron dopamin terjadi lebih cepat di jalur nigrostriatal dan karena defisit neuron belum menimbulkan gejala sampaiterjadi kehilangan 80-90%, angka kehilangan neuron pada jalur ini bersifatasimptomatik

3. MM Faktor Resiko Skizofrenia


Faktor resiko skizofrenia adalah sebagai berikut: 1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga 2. Kembar identik Kembar identik memiliki risiko skizofrenia 50%, walaupun gen mereka identik 100% (Videbeck, 2008). 3. Struktur otak abnormal Dengan perkembangan teknik pencitraan teknik noninvasif, seperti CT scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan Positron Emission Tomography (PET) dalam 25 tahun terakhir, para ilmuwan meneliti struktur otak dan aktivitas otak individu penderita skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa individu penderita skizofrenia memiliki jaringan otak yang relatif lebih sedikit (Carpenter, 2000). 4. Sosiokultural Lingkungan sosial individu dengan skizofrenia di negara-negara berkembang mungkin menfasilitasi dan memulihkan (recovery) dengan lebih baik daripada di negara maju (Jenkins, 2003). Di negara berkembang, terdapat jaringan keluarga yang lebih luas dan lebih dekat disekeliling orang-orang dengan skizofrenia dan menyediakan lebih banyak kepedulian terhadap penderita. Keluarga-keluarga di beberapa negara berkembang lebih sedikit melakukan tindakan permusuhan, mengkritik, dan sangat terlibat jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga di beberapa negara-negara maju. Hal ini mungkin membantu jumlah atau tingkat kekambuhan dari anggota-anggota keluarga penderita skizofrenia. 5. Tampilan emosi Sejumlah penelitian menunjukkan orang-orang dengan skizofrenia yang keluarganya tinggi dalam mengekspresikan emosi, lebih besar kemungkinannya untuk menderita kekambuhan psikosis daripada mereka yang keluarganya sedikit atau kurang mengekspresikan emosi (Hooley, 2000).

4. MM Kriteria Skizofrenia Menurut DSM IV & PPDGJ III


PEDOMAN DIAGNOSTIK BERDASARKAN PPDGJ III 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, atau - Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan - Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya. b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau Marleni - 1102010156 Page 18

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib - Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau - Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus). - Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat. c. Halusional Auditorik ; - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien . - Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau - Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain) Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor. h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika. * adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal); * Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial. Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima karakter berikut: F20.X0 Berkelanjutan, F20.X1 Episodik dengan kemunduran progresif, F20 X2 episodik dengan kemunduran stabil, F20.X3 Episode berulang , F20. X4 remisi tak sempurna, F20.X5 remisi sempurna, F20.X8. lainnya, F20.X9. Periode pengamatan kurang dari satu tahun. F.20 Skizofrenia Paranoid Pedoman diagnostik Marleni - 1102010156 Page 19

Blok Saraf & Perilaku 1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia 2. Sebagai tambahan: - Sebagai tambahan : * Halusinasi dan/ waham arus menonjol;

SK 4

Bisikan Gaib

(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing). (b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. (c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas; Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / tidak menonjol. Diagnosa Banding : - Epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan - Keadaan paranoid involusional (F22.8) - Paranoid (F22.0) F20.1 Skizofrenia Hebefrenik Pedoman Diagnostik - Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia - Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya 1525 tahun). - Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini - Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases), dan proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang tak menentu (rambling) dan inkoherens - Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa tujuan (aimless) dan Marleni - 1102010156 Page 20

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikirannya. F20.3 Skizofrenia Tak terinci (undifferentiated ) Pedoman diagnostik : (1) Memenuhi kriteria umu untuk diagnosa skizofrenia (2) Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik. (3) Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skiszofrenia F20.5 Skizofrenia Residual Pedoman diagnostik: Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan , persyaratan berikut harus di penuhi semua: (a) Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik, aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketidak adaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk, seperti ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang buruk. (b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosa skizofrenia (c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia (d) Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi kronis atau institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut. F20.6 Skizofrenia Simpleks Pedoman diagnostik - Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari: (1) gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. Dan (2) disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial. - Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type skisofrenia lainnya. KRITERIA DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual - IV). A. Khas / Karakteristik : 2 gejala berikut atau lebih dari yang berikut ini, masing-masing ditemukan pada bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan : (gejala tahap aktif psikosis) a. Delusi / waham : satu gejala ini sudah cukup bila wahamnya bizarre

Marleni - 1102010156

Page 21

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib b. Halusinasi : satu gejala ini sudah cukup bila halusinasi berupa pendengaran/ bisikan yang terus mengomentari perilaku dan pikiran pasien, atau beberapa orang terdengar membicarakan pasien c. Disorganized speech (bicara kacau, sering ngelantur atau inkoheren, tidak nyambung) d. Perilaku kacau atau katatonik e. Gejala negatif : misal a. Emosi mendatar, dingin, tak hangat, acuh b. Alogia : diam seribu bahasa c. Avolition : malas, tak ada aksi/kerja Hanya 1 gejala kriteria A yang diperlukan jika waham kacau atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengomentari perilaku / pikiran pasien / dau atau lebih suara yang saling bercakap. B. Disfungsi Sosial/Okupasional : untuk jangka waktu yang cukup lama, salah satu area fungsi sosial/okuparsional terganggu, yaitu: 1. pekerjaan 2. hubungan interpersonal 3. perawatan diri tidak yang memadai (atau bila onset pada anak anak atau remaja, gagal mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan ) C. Lamanya Gangguan : sedikitnya 6 bulan terus menerus; Periode 6 bulan ini harus termasuk paling kurang 1 bulan (atau kurang jika berhasil diobati) gejala yang memenuhi kriteria A (gejala fase aktif) dan dapat termasuk perode gejala prodromal atau residual. Selama periode prodromal atau residual ini, tanda dari gangguan mungkin dimanifestasikan oleh hanya gejala negative atau dua atau lebih gejala yang tercantum pada kriteria A yang timbul dalam bentuk yang kurang jelas (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yag tidak lazim) D. Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood : gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan ciri psikotik, disingkirkan karena salah satu dari (1) tidak ada episode Depresi Mayor, Manik, atau campuran yang terjadi secara bersamaan dengan gejala fase aktif, atau (2) jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, durasi seluruhnya relative singkat dibandingkan durasii periode aktif dan residual. E. Penyingkiran zat / KMU : gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum. F. Hubungan dengan gangguan pervasif : jika terdapat adanya riwayat gangguan autistik / gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosa tambahan skizofren dibuat hanya jika waham / halusinasi yang menonjol juga ditemukan sekurangkurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil) G. Perjalanan Penyakit Skizofrenia : Setelah episode serangan skizofrenia yang pertama, pasien skizofrenia akan memiliki periode pemulihan yang bertahap, yang dapat memakan waktu yang lama untuk menuju pada periode fungsi dasar yang relatif normal. Marleni - 1102010156 Page 22

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib Dalam periode pemulihan menuju keadaan relative normal tersebut, kekambuhan (relaps) biasanya terjadi. Masing-masing relaps akan diikuti oleh pemburukan lebih lanjut pada fungsi dasar pasien. Semakin sering relaps, semakin sulit kembali ke fungsi dasar semula. Pada akhirnya, pasien skizofrenia menyadari adanya kesulitan atau kegagalan untuk kembali ke fungsi dasar semulanya, dan keadaan inilah yang membuat pasien menyimpulkan bahwa kehancuran yang bermakna pada kehidupannya telah terjadi akibat gangguan ini. Tipe Paranoid : A. Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang berulang kali. B. Gejala berikut tidak menonjol : bicara yang kacau, perilaku yang kacau atau katatonik, afek yang mendatar atau tidak wajar (inappropriate) Tipe Disorganisasi / Kacau : A. Semua gejala berikut menonjol : 1. bicara kacau 2. perilaku kacau 3. afek tidak memadai/wajar atau mendatar B. Tidak memenuhi kriteria untuk type katatonik Tipe Katatonik : Didominasi oleh sedikitnya dua gejala berikut 1. immobilitas motorik : sebagai katapleksi (termasuk waxy flexibility) atau stupor 2. aktivitas motorik yang berlebihan, tak bertujuan dan tidak berkaitan dengan stimuli external

3. negativisme yang mencolok (resistensi tanpa motif terhadap semua instruksi, atau mempertahankan posisi tubuh secara kaku terhadap usaha untuk mengubahnya), atau mutisme (diam seribu bahasa) 4. kejanggalan dalam gerakan-gerakan sadar, misalnya posturing (secara sadar mengambil posisi tubuh yang tidak wajar atau bizarre), gerakan-gerakan stereotipik, mannerisme yang mencolok, atau senyum yang tak wajar (prominent grimacing) 5. ekolalia (latah) atau ekopraksia (latah gerakan) Tipe Tak Tergolongkan Ada gejala-gejala A tetapi tidak memenuhi kritera untuk tipe paranoid, disorganisasi maupun katatonik. Tipe Residual Tidak dijumpai delusi, halusinasi, bicara yang kacau, dan perilaku yang amat kacau atau katatonia. Secara kontinu menunjukkan adanya gangguan, misal : gejala-gejala negatif, atau adanya 2-3 gejala type A dalam derajat lebih lemah, misal odd beliefs, unusual perceptual experiences Akut Delusional Psikosis Latent Skizofrenia : bila pasien tidak memenuhi kritera yang jelas untuk skizofrenia; mencakup misalnya kasus-kasus borderline skizoid dan gangguan kepribadian skizotipal. Pasien-pasien ini sekali-sekali menunjukkan perilaku yang ganjil, atau kelainan pikiran, tapi tidak secara konsisten menunjukkan gejala-gejala psikotik. Pada waktu yang lalu sindroma ini disebut juga Borderline skizofrenia.

Marleni - 1102010156

Page 23

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib Oneiroid : individu berada seolah dalam mimpi, tidak sepenuhnya sadar akan waktu dan tempat (disorientasi waktu dan tempat). Istilah ini digunakan dalam oneiroid schizophrenia dalam mana pasien sangat asyik terlibat dalam halusinasinya sehingga seolah terlepas dari keterlibatan dengan dunia nyata. Bila terjadi keadaan ini, dokter harus hati-hati sekali memeriksa pasien untuk kemungkinan sebab-sebab medis-fisik atau kondisi neurologis sebagai penyebab gejala tersebut. Paraphrenia : digunakan untuk menggambarkan salah satu gejala skizofrenia tipe paranoid, atau untuk menunjukkan perjalanan penyakit yang deterioratif (makin parah) atau adanya sistem waham yang sistematis. Istilah yang dianjurkan tidak digunakan lagi. Pseudoneurotic Schizophrenia : Kadang-kadang pasien yang biasanya menunjukkan gejala-gejala ansietas, fobia, obsesi dan kompulsi kemudian mengembangkan gejala kelainan pikiran dan psikosis. Secara khas pasien menunjukkan pananxiety, panphobia, panambivalence dan kadang2 sexualitas yang kacau. Berbeda dengan pasien gangguan cemas, pasien pseudoneurotic menunjukkan free-floating anxiety yang jarang berkurang. Dalam klinik pasien jarang menjadi amat parah atau amat psikotik. Kondisi ini dalam DSM-IV-TR akan didiagnosis sebagai gangguan kepribadian ambang. Simple Schizophrenia (Skizofrenia simplex; simple deteriorative Disorder) : Tanda khas : hilangnya secara lambat laun ambisi dan dorongan kehendak pasien. Pasien tidak psikotik secara overt, juga tidak menunjukkan gejala delusi dan halusinasi yang menetap. Gejala utama adalah penarikan diri dari situasi terkait lingkungan sosial dan kerja. Depresi Pasca-Skizofrenia. Gejalanya dapat mirip dengan gejala-gejala tahap residual skizofrenia atau efek samping daripada obat-obat antipsikotik yang umum digunakan, istilah lain : post schizophrenic depression (ICD-X), merupakan hasil akhir episode skizofrenia. Ini terjadi pada sekitar 25 % pasien dengan skizofrenia dan makin sering berhubungan dengan risiko bunuh diri. Skizofrenia Onset Dini (Early-Onset) Sebagian pasien mulai mendapat skizofrenia pada masa kanak-kanak, kadang-kadang sulit dibedakan dengan retardasi mental atau gangguan autistik. Diagnosis berdasarkan gejala-gejala yang sama dengan skizofrenia pada orang dewasa. Mulanya biasanya perlahan (insidious), cenderung berjalan kronis dan prognosisnya tidak baik. Skizofrenia Onset Lanjut (Late-Onset). Mulanya sesudah usia 45 tahun. Lebih sering menyerang wanita dan biasanya gejala paranoid lebih menonjol. Prognosis biasanya baik dan respons baik terhadap antipsikotika.

5. MM Diagnosis BandingSkizofrenia
1. Medis dan neurologis: Akibat zat: amfetamin, alkaloid beladonna, kokain, halusinosis alkohol,dan sebagainya Epilepsi: terutama epilepsi Lobus temporal Marleni - 1102010156 Page 24

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Neoplasma, penyakit serebrovaskuler/trauma terutama frontalis dan limbik

Bisikan Gaib

Kondisi lain:AIDS,ensefalitis herpes, porfiria intermiten akut,def.B12, keracunan monoksida 2. Psikiatrik Psikosis atipikal Gangguan akustik Gangguan psikotik singkat Gangguan delusional Gangguan buatan dengan tanda dan gejala psikosis yg menonjol Berpura pura Gangguan mood Masa remaja normal Gangguan obsesi kompulsif Gangguan kepribadian-skizotipal, skizoid, ambang, paranoid Gangguan skizoafektif Gangguan skizofreniform

Gangguan Skizoafektif: Diagnosis bila ada Skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat bersamaan (simultan) atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam 1 episode penyakit yang sama dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria, baik skizofrenia ataupun episode manik-depresif. --Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofren dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.

6. MM Penatalaksanaan Skizofrenia
I. Psikofarmaka

Pemilihan obat Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder ( efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal, Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian

Marleni - 1102010156

Page 25

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon.

Pengaturan Dosis Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:


o

Onset efek primer (efek klinis) : 2-4ininggu Onset efek sekunder (efek samping) : 2-6 jam

o o

Waktu paruh : 12-24 jam (pemberian 1-2 x/hr) Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita.

Obat antipsikosis long acting : fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4 minggu. Berguna untuk pasien yang tidak/sulit minum obat.

Cara / Lama pemberian Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hr sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2ininggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-12ininggu. (stabilisasi). Diturunkan setiap 2ininggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun ( diselingi drug holiday 1-2/hari/minggu) setelah itu tapering off (dosis diturunkan(2-4minggu) lalu stop.Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multiepisode,

terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat antipsikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan

Marleni - 1102010156

Page 26

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib pemberian anticholmnergic agent seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg IM, tablet trhexyphenidyl 3x2 mg/hari. II. Terapi Psikososial Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :

Psikoterapi individual
o o o o

Terapi suportif Sosial skill training Terapi okupasi Terapi kognitif dan perilaku (CBT)

Psikoterapi kelompok Psikoterapi keluarga Manajemen kasus Assertive Community Treatment (ACT)

Obat-obat Skizofrenia ANTIPSIKOSIS GENERASI PERTAMA 1. Klorpromazin

2-klor-N-(dimetil-aminopril)-fenotiazin Indikasi : antipsikosis tipikal dengan mekanisme kerja dalam menghambat berbagai reseptor -adrenergik, muskarinik, histamine H1 dan reseptor serotonin 5HT2 dengan afinitas yang berbeda. Efek samping : Sedasi, gejala ekstrapiramidal ( distonia akut, akatisia, parkinsonisme dan sjndrom neuroleptik malignant ), hiperprolaktinemia, hpeotensi ortostatik and gejala idiosinkrasi(ikterus, dermatitis,dan leucopenia) Interaksi obat : Chlorpromazine dapat menghambat metabolism hati dari asam valproat yang dapat berakibat toksik. Marleni - 1102010156 Page 27

Blok Saraf & Perilaku 2. Fluphenazin

SK 4

Bisikan Gaib

Indikasi Efek samping Interaksi obat

: antipsikosis atipikal :Sedasi,hiperprolaktinemia,efek samping ekstrapiramidal : Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti

haloperidol,clozapin,flupenasin. 3. Haloperidol

Indikasi

: antipsikosis yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit mania depresif dan skizofrenia.

farmakokinetik

: cepat diserap di saluran pencernaan,Cp max dalam waktu 2-6 jam,ekskresinya lewat ginjal lambat,kira-kira 40 % dikeluarkan selama 5 hari.

Efek samping Kontraindikasi Interaksi Obat

: reaksi ekstrapiramidal, leucopenia dan agranulositosis : sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil. : Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti

haloperidol,clozapin,flupenasin, olanzapin. 4. Loxapin

Marleni - 1102010156

Page 28

Blok Saraf & Perilaku Indikasi

SK 4 Bisikan Gaib : mengobati skizofenia dan psikosis lainnya, disamping itu memiliki efek antiemetic, sedative, antikolinergik dan anti adrenergic.

Farmakokinetik Efek samping Kontraindikasi 5. Molindon

: Diabsorpsi baik per oral, Cp max 1 jam (IM) dan 2 jam (oral),t nya 3 jam. : insidens reaksi ekstrapiramidal : harus hati-hati penggunaannya bagi pasien dengan riwayat kejang.

Indikasi

: antipsikosis, anti emetic,meningkatkan efek stimulasi dari dihidroksifenilalanin dan 5-hidroksitriptopan tanpa inhibitor MAO.

Farmakokinetik

: Cepat diabsorbsi gi GI,76 % molidon yang terikat pada protein plasma, t nya 2 jam.

Efek samping

: Sedasi,hiperprolaktinemia,efek samping ekstrapiramidal,efek endokrin,pigmentasi kulit.

Kontraindikasi

: Dikontraindikasikan bagi oasien comatose, pasien yang mengalami depresi SSP dan mengalami hipersensitivitas.

Interaksi Obat

: Menghambat absorpsi bersama dengan fenitoin atau tetrasiklin.

6. Mesoridazine,Pherphenazin, Thioridazine,ThiothixeneTrifluoperazine Indikasi Efek samping : antipsikosis, skizofrenia :Pruritus,fotosensitifitas,eosinofilia, trombositopenia.Hiperprolaktinemia,konstipasi,dyspepsia,reaksi ekstrapiramidal. Kontraindikasi : Dikontraindikasikan bagi oasien comatose, pasien yang mengalami depresi SSP,kerusakan otak subkortikal, kelainan sumsum tulang. Interaksi Obat : Biasanya dikombinasikan dengan depresan SSP seperti opiate,analgetik,barbiturate dan sedative untuk menghindari efek sedasi yang tinggi atau depresi SSP. ANTIPSIKOSIS GENERASI KEDUA 1. Klozapin Page 29

Marleni - 1102010156

Blok Saraf & Perilaku

SK 4

Bisikan Gaib

Indikasi

: mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif(iritabilitas) maupun yang negative.(personal neatness).

Farmakokinetik Efek samping Kontraindikasi

: diabsorpsi secara cepat dan sempurna, Cp max nya 1,6 jam, t nya 11,8 jam. : agranulositosis, hipertrmia, takikardia, sedasi, pusing kapala, hipersalivasi. : penggunaan dibatasi hanya pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi psikosis yang lain.

Interaksi Obat

: Kombinasi klozapin dan karbamazepin tidak direkomenasikan karena kemungkinan terjadi supresi sumsum tulang dengan kedua agen tersebut.

2.

Risperidon

Indikasi

: terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif.disamping itu diindikasikan pula untuk ganggua bipolar, depresi ciri psikosis dan Tourette syndrome

Farmakokinetik

: bioavailabilitas oral 70 %, ikatan protein plasma 90 %, dan dieliminasi lewat urin dan sebagian lewat feses.

Efek samping

:insomnia,agitasi, ansietas, somnolen, mual,muntah, peningkatan badan,hiperprolaktinemia

berat

dan reaksi ekstrapiramidal yaitu tardiv diskinesia.

Interaksi Obat

: Paraoxetin dilaoprkan dapat meningkatkan total risperidon dalam plasma sebanyak 76 % kalinya.

Marleni - 1102010156

Page 30

Blok Saraf & Perilaku 3. Olanzapine

SK 4

Bisikan Gaib

Indikasi Farmakokinetik Efek Samping

: terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif dan sebagai antimania. : Diabsorpsi baik pada pemberian oral, Cp 4-6 jam, ekskresi lewat urin. : reaksi ekstrapiramidal yaitu tardiv diskinesia, peningkatan berat badan, intoleransi glukosa,hiperglikemia,hiperlipidemia.

Interaksi Obat

: Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti haloperidol,clozapin,flupenasin, olanzapin

4. Quetiapin

Indikasi Farmakokinetik

: Terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif : Absorpsi cepa, Cp max 1- 2 jam, ekskresi sebagian besar lewat urin dan sebagian kecil lewat feses.

Efek samping

: Sakit kepala, somnolen dan dizziness,efek samping ekstrapiramidalnya rendah peningkatan berat badan,hiperprolaktinemia

Interaksi Obat

: Jika penghambat CYP 3A4 (seperti cimetidine, ketoconazole, nefazodone, jus anggur dan erythromycin) dtkombinasikan dengan quetiapin maka peningkaan efek samping (seperti sedasi,ortostatik) mungkin dapat terjadi

5. Ziprasidon

Indikasi Farmakokinetik Marleni - 1102010156

: mengatasi keadaan akut skizofrenia dan gangguan bipolar : Absorbsinya cepat dan ikatan protein plasmanya 99 %. Page 31

Blok Saraf & Perilaku Efek Samping

SK 4 Bisikan Gaib : Sakit kepala, somnolen dan dizziness,efek samping ekstrapiramidalnya rendah peningkatan berat badan,hiperprolaktinemia

Interaksi Obat

: Kombinasi antara antipsikosis dengan pengkonduksi miokardial dapar meningkatkan efek samping dari antipsikosis.

7. MM Prognosis Skizofrenia
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk.

8. MM Hukum Beribadah Pada Orang Gangguan Jiwa


Ibadah Mahdhoh artinya penghambaan yang murni hanya merupakan hubung an antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip: a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya. b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh: 46 Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah(QS. 4: 64). 7 Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang dilarang, maka tinggalkanlah( QS. 59: 7). Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda: . . . Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari padaku tatacara haji kamu Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan Muhdatsatul umur perkara meng-ada-ada, yang populer disebut bidah: Sabda Nabi saw.:

Marleni - 1102010156

Page 32

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib . . . . . Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad saw. adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-rasul mereka: . c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syariat, atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat. d. Azasnya taat, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi: Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Wudhu, Tayammum Mandi hadats Adzan Iqamat Shalat Membaca al-Quran Itikaf Shiyam ( Puasa ) Haji Umrah Tajhiz al- Janazah Rumusan Ibadah Mahdhah adalah KA + SS (Karena Allah + Sesuai Syariat) Hikmah Ibadah Mahdhah Pokok dari semua ajaran Islam adalah Tawhiedul ilaah (KeEsaan Allah) , dan ibadah mahdhah itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan ke Esaan Allah itu, sehingga dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan: a. Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus menghadap ke arah kabah, itu bukan menyembah Kabah, dia adalah batu tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, tetapi syarat sah shalat menghadap ke sana untuk menyatukan arah pandang, sebagai perwujudan Allah yang diibadati itu Esa. Di mana pun orang shalat ke arah sanalah kiblatnya (QS. 2: 144).

Marleni - 1102010156

Page 33

Blok Saraf & Perilaku SK 4 Bisikan Gaib b. Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semua orang yang shalat gerakan pokoknya sama, terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku), sujud dan duduk. Demikian halnya ketika thawaf dan sai, arah putaran dan gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah yang diibadati hanya satu. c. Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang disembah (diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan ibadah kepadanya hanya satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa ibunya apa, apakah dia mengerti atau tidak, harus satu bahasa, demikian juga membaca al-Quran, dari sejak turunnya hingga kini al-Quran adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya bukan membaca alQuran.

Pena diangkat dari tiga golongan: orang yg gila yg akalnya tertutup sampai sembuh orang yang tidur sehingga bangun dan anak kecil sehingga baligh. {HR. Ibnu Khuzaimah Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthni dari shahabat Ali dan Ibnu Umar)

DAFTAR PUSTAKA
http://umayonline.wordpress.com/2008/09/15/ibadah-mahdhah-ghairu-mhadhah/ http://drliza.wordpress.com/2007/12/01/ppdgj-iii-pedoman-diagnostik-skizofrenia/ http://psikiatri-fds.blogspot.com/2012/03/kriteria-diagnostik-dsm-iv-tr.html http://minepoemss.blogspot.com/2008/10/pelangi-ini-untuk-menyadarkan-daku.html

Marleni - 1102010156

Page 34