Anda di halaman 1dari 7

KERUING

NAMA 80TANIS Dipterocarpus spp., famili Dipterocarpaceae, terutama: D. borneensis V.SI. (Keruing daun halus) D. caudiferus Merr. (Keruing anderi) D. confertus V.SI. (Keruing tempurung) D. cornutus Dyer (Keruing gajah) D. costulatus V.SI (Keruing bajan) D. crinitus Dyer (Keruing bulu) D. elongatus Korth. (Keruing tempudau) D. eurynchus Miq. (Keruing minyak) D. gracilis 81. (Keruing keladan) D. grandiflorus Blanco (Keruing hijau) D. hasseltii Bl. (Keruing bunga) D. kunstleri King (Keruing lagan) D. lowii Hook.F. (Keruing batu) D. retusus 81. (Keruing gunung) D. verrucosus Foxw. (Keruing beras).

NAMA DAERAH Terdapat beberapa ratus nama daerah, antara lain: ariung, kayu kawan, kenam, keruing, kayu minyak, lagan, melengkuang (Smt); anderi, ansurai, karup, keladan, kerup, ketanggang, tempudau, tempurau (Kim); dermala, jempinang, kawang, klalar, palahlar (Jw). NAMA Dl NEGARA LAIN Apitong, bagac, basilan, panau, hagakhak (PI); keruing (Miy, Sb, Swk); gurjun, Indian gurjun (lnd); Indonesian keruing, Indonesian gurjun (UK, USA); keruing, kruen (Fr, It, Sw); Keroewing (Nil; keruwing, kruwing (Gm); yang (Th); eng, in, kanyin (Bma); dau (Vn, Cam).

bergabung 2 - 3 dalam arah radial atau tangensial, berbentuk lonjong, cenderung berkelompok membentuk garis-garis pendek dalam arah diagonal, frekuensi 2 - 5 per mm, kadang-kadang sampai 10 per mm, bidang perforasi sederhana. Parenkim Parenkim termasuk tipe paratrakeal berbentuk selubung tidak lengkap dan tipe apotrakeal berbentuk pita-pita halus di antara pembuluh atau se'keliling saluran damar, terdapat juga parenkim tersebar berupa bintik-bintik. Jari-jari Jari-jari uniseriat dan multiseriat, Iebar 50- 100 u, frekuensi 5 - 7 per mm, tinggi kurang dari 2 mm, berisi damar. Serat Dimensi serat rata-rata untuk D. gracilis dan D. kunstleri berturut-turut sebagai berikut: panjang 1.45211 dan 1.765 11, diameter 20,3 JA dan 18,511, tebal dinding 3,0 11 dan 2,7 JA, diameter lumen 14,4 11 dan 13,2 11 Saluran interselular Saluran interselular hanya terdapat dalam arah aksial berupa deretan tangensial 1 - 7 berisi endapan berwarna putih atau hampir hitam. SIFAT FISIS Berat jenis dan kelas kuat D. borneensis 0,80 D. caudiferus 0,69 D. confertus 0,80 D. cornutus 0,82 D. costulatus 0,90 D. crinitus 0,92 D. elongatus 0,67 D. eurynchus 0,78 D. gracilis 0,73 D. grandiflorus 0,81 D. hasseltii 0,70 D. kunstleri 0,77 D. lowii 0,86 D. retusus 0,75 D. verrucosus 0,82 Penyusutan Penyusutan sampai kering udara untuk D. crinitus 2,8% (R) dan 4,2% (T), D. grandiflorus 4,7% (R) dan 5,9% (T). Penyusutan sampai kering tanur untuk D. hasseltii 3,5% (R) dan 8,5% (T), D. lowii 6,6% (R) dan 10,2% (T).

DAERAH PENYEBARAN

Seluruh Sumatera, Jawa dan Kalimantan. HABITUS

Tinggi pohon dapat mencapai 50 m dengan panjang batang bebas cabang sampai 35 m, diameter dapat mencapai 120 em, bentuk batang silindris, berbanir , setinggi 1 - 2 m, pada D. confertus dapat mencapai 4 m. CIRI UMUM

Warna
Kayu teras berwarna coklat-merah, coklat, kelabu-coklat atau merah-coklat-kelabu. Kayu gubal berwarna kuning atau coklat muda semusemu kelabu dan mempunyai batas yang jelas dengan kayu teras, Iebar 2- 10 em. Tekstur Tekstur kayu kasar, kadang-kadang agak kasar. Arah serat Arah serat lurus, kadang-kadang berpadu. Kesan raba Permukaan kayu agak licin atau licin, seringkali melengket. Bau Kayu keruing mempunyai bau damar yang agak menyolok. STRUKTUR Pori Pori hampir seluruhnya soliter, sebagian kecil

(0,69-0,90); IH (0,61-0,82); II (0,71-0,89); II (0,69-0,91 ); II (0,84-0,96); HI (0,74-1,01); HI (0,61-0,74); II (0,70-0,91); 11-1 (0,58-1,00); 11-1 (0,73-0,88); II (0,60-0,98); II (0,60-0,99); IH (0,77-0,93); II (0,71-0,77); II (0,72-0,93); II

SIFAT MEKANIS Keteguhan D. caudiferus 2 Keteguhan lentur statik Tegangan pada batas proporsi (kg/em2) Tegangan pada batas patah (kg/em2) Modulus elastisitas (1000 kg/em2) Usaha sampai batas proporsi (kgm/dm3) Usaha sampai batas patah (kgm/dm3) b k b k b k b k b k 16,8 27,7 717 1188 131 139 437 631 775 1110 170 206 12,8 2,1 13,6 20,9 365 539 647 565 858 865 1140 185 209 1,0 2,0 5,8 6,3 412 492 677 D. cornutus 3 D. hasse/tii 4 D.lowii 5 D. elongatus 6

838
110 132 0,7 1,2 5,9 6,5

843
125 146 0,8 0,9 6,2 7,5

Keteguhan pukul Radial (kgm/dm3) Tangensial (kgm/dm3) b k b k 27 38 27 35 26,8 22,4 25,3 24,1 25,8 25,1 26,3 30,4 29,1 28,2

Keteguhan tekan sejajar arah serat, tegangan rnaksimum (kg/ cm2l

b k

361 607

399 609

359 467

427 663

301 475

Kekerasan (JANKA) Ujung (kg/em2) Sisi (kg/em2) b k b k 327 467 445 626 421 555 340 523 300 427 468 521 330 417 287 434

365

Keteguhan geser Radial (kg/em2) Tangensial (kg/em2) b k b k 73,8 124,4 74,5 89,2 84,3 97,7 55,1 61,6 72,8 76,1 61,7 56,6 68,8 69,7 61,1 65,2 79,6 85,0

Keteguhan belah Radial (kg/em) Tangensial (kg/em) b k b k 11,1 14,6 15,2 19,3 42,8 55,3 46,4 57,1 62,6 60,5 71,5 75,1 45,7 63,6 47,1 67,7 51,5 59,6 70,2 72,7

Keteguhan tarik tegak lurus arah se rat Radial (kg/em2) Tangensial (kg/em2) b k b k 33,0 34,4 38,6 38,6 46,9 33,9 55,6 43,7 33,7 53,8 36,6 57,8 39,7 31,5 53,0 42,6

c
KERUING (Dipterocarpus kunstleri King)

a. kayu b. daun dan buah c. kulit

c
KERUING (Dipterocarpus kunstleri King) a. b. c. penampang transversal (26x) penampang radial (7 5x) penampang tangensial (7 5x)

SIFAT KIMIA (D. gracilis) Kadar Selulosa Lignin Pentosan Abu Silika Kelarutan Alkohol-benzena Air dingin Air panas NaOH 1% Nilai kalor 3,9% 0,3% 3,2% 11,7% 4.840 eal/g 51,4% 19,2% 16,8% 0,9% 0,6%

VENIR DAN KAYU LAPIS Venir Pembuatan venir D. cornutus agak sulit tanpa perlakuan pendahuluan meskipun memberikan hasil venir yang baik. Kayu lapis Kayu keruing pada umumnya mudah direkat.

PENGEF(JAAN Sifat pengerjaan kayu keruing bervariasi menurut kadar silika dan damar yang dikandungnya. Kayu yang mempunyai kadar silika tinggi mudah menumpulkan gigi gergaji, demikian pula yang kadar damarnya tinggi sukar sekali digergaji atau diserut, terutama jika kayunya masih basah. Kayu yang sudah kering umumnya mudah dikerjakan, baik dengan mesin maupun dengan alat tangan. KEGUNAAN Kayu keruing eoeok untuk konstruksi bangunan, lantai, karoseri (kerangka, lantai dan dinding), bangunan pelabuhan dan bantalan kereta api. Selain daripada itu banyak juga dipakai untuk perkapalan (dek dan kulit tongkang) dan bagian perumahan (balok, tiang, papan dan kerangka atap). Untuk semua penggunaan dimana terdapat serangan jamur, serangga atau binatang laut perusak kayu, kayu keruing harus diawetkan dengan bahan pengawet yang sesuai. Setelah diawetkan kayu keruing baik untuk dipergunakan sebagai bantalan dan tiang listrik. SILVIKULTUR Tempat tumbuh Keruing tumbuh di dalam hutan hujan tropis dengan tipe eurah hujan A dan B. Jenis ini tumbuh di tempat-tempat yang sewaktu-waktu digenangi air tawar dan di tanah rawa, tetapi Jebih banyak tumbuh pada tanah daratan kering di punggung bukit pada tanah berpasir, tanah liat, tanah berbatu, latosol atau podsolik merahkuning pada ketinggian sampai 1000 m dari permukaan laut. Permudaan Permudaan alam baik sekali dengan populasi per ha yang hampir merata. Pada tempat yang permudaannya jarang sebaiknya dilakukan sistem tebang pilih dengan pengayaan jenis. Permudaan alam tingkat semai memerlukan pembebasan

KEAWETAN DAN KETERAWETAN Keawetan Kayu keruing umumnya termasuk kelas awet Ill dan IV. Daya tahan kayu D. lowii dan D. elongatus terhadap Cryptotermes cynocephalus Light termasuk kelas II, sedangkan D. confertus, D. comutus dan D. caudiferus termasuk kelas IV. Keterawetan Keterawetan kayu D. cornutus dan D. hasseltii termasuk kelas mudah, tetapi kayu D. caudiferus termasuk kelas sedang.

PENGERINGAN Kayu keruing agak sukar dikeringkan. Karena nilai penyusutan serta perbedaan antara penyusutan arah radial dan tangensial yang agak besar, kayu keruing cenderung mudah peeah dan melengkung. Pengeringan alami Papan D. gracilis tebal 2 em, 4 em dan 5 em mengering dari keadaan basah sampai kering udara masing-masing dalam waktu 4, 5 dan 8 bulan, sedangkan papan D. grandiflorus tebal 2,5 em dan 5 em masing-masing mengering dalam waktu 5 dan 8 bulan. Pengeringan dalam dapur pengering Papan D. gracilis tebal 2,5 em dan 4 em dapat dikeringkan dari keadaan basah sampai kadar air 15% dalam waktu 7 dan 10 hari, sedangkan papan D. grandiflorus tebal 2,5 em mengering dalam waktu 8 hari. Untuk kayu keruing dianjurkan bagan pengeringan yang lunak dengan suhu 43C - 72C dan kelembaban nisbi
84%-38%.

tajuk secara vertikal dan horizontal untuk mempercepat pertumbuhan. Permudaan buatan dilakukan dengan bibit bumbung dari pesemaian atau bibit putaran dan stump dari permudaan alam. Penanaman harus dilakukan di bawah naungan pohon jeunjing atau dengan sistem tumpangsari memakai tanaman keras seperti kopL karet, coklat dan sebagainya. Jarak tanam dalam jalur 2 - 3 m dengan jarak antara masing-masing jalur 6 - 10 m, sedangkan jarak tanam dalam sistem tumpangsari adalah 4 m x 3m.

Buah

Pohon keruing berbuah tidak teratur dan tidak terjadi setiap tahun. Setelah musim kemarau yang panjang sekitar bulan Maret - Mei, biasanya berbuah banyak. Jumlah biji bersayap 350 buah per kg atau 60 buah per liter untuk D. gracilis, sedangkan untuk D. trinervis 40 buah per kg.
Hama dan penyakit

Bibit di pesemaian sering diserang rayap dan cendawan.