P. 1
Aktivitas Insekisida Bintaro Trhdp Hama Eurema Pd Skala Lab

Aktivitas Insekisida Bintaro Trhdp Hama Eurema Pd Skala Lab

|Views: 183|Likes:
Dipublikasikan oleh adehapz

More info:

Published by: adehapz on Feb 17, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2015

pdf

text

original

ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

7977 (r : 91. Kata kunci : benih.3975 (r : 90%).. Persamaan dugaan daya berkecambah.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%.8%) dan uji belah :Y = 0.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.8957x + 6..02 selama 8 minggu. VII No.. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1.67%). Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Pen. fisiologi. 4. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. 4. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan.6%). Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. Kata kunci : Biokimia.9474x + 2 2 10..1285 (r : 92. fisiologis. Penyimpanan propagul R. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan).. apiculata (KA awal 54. apiculata UDC(OXDCF)630*. uji hidrogen peroksida : Y = 0. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).. namun waktunya relatif lama.. Htn Tnm Vol.... Htn Tnm Vol.. uji eksisi embrio : Y = 0..7%).749 (r : 92. perkecambahan. Pen. hidrogen peroksida. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. uji cepat.0319x + 4. . akurat dan efisien. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.. 2 dan 3 minggu. penyimpanan.. VII No. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. protein dan daya hantar listrik. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl... J.. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. 4. VII No. Sampai pengeringan selama 3 minggu.9072x + 9. kemunduran. R. eksisi embrio dan belah. kecepatan berkecambah 0.... lemak.. pengeringan. kadar air propagul mencapai 31. Penyimpanan propagul secara konvensional. damar.

)...... coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian..... Bogor J. R. meranti merah............3 %.. dan Zeuzera coffeae Nietn.. terutama untuk kayu pertukangan.. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter).. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis.8 % and 84.. hama. VII No.... VII No... Kalimantan Tengah.) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J. 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. Kata kunci : cabutan.63% dan 48...8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. pertumbuhan....8 mm) atau rata-rata sebesar 5.... 4... 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.... mutu bibit. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup.. kelas mutu bibit... sedangkan. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya.89%. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.. Htn Tnm Vol...... interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.71%.... Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. Leucopholis rorida F. Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin....5 m. Htn Tnm Vol...65 cm ) atau rata-rata sebesar 59.. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI... parvifolia. .. Mulyana Omon (.. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005... Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit... Pen. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2.. Sedangkan serangan hama Z.2% dan 3.. 4. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. 4..JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88..... UDC(OXDCF)630*...6 cm. VII No.. Zeuzera coffeae Nietn. yaitu sebesar 184. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn.. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin... Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan.3cm dengan diameter antara (5 mm ..1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit... sementara untuk S.. Dengan demikian jenis S.. Dalam pertumbuhannya.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan... yaitu tinggi antara (50 cm ... Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Pen.

insektisida nabati.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. sengon UDC(OXDCF)630*. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp... Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Fluktuasi debit air. penggunaan lahan .027 m3/detik...67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama.. kawasan Puncak.. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Pen. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*... Htn Tnm Vol. VII No. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J. Htn Tnm Vol.. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Kata kunci : bintaro. Eurema spp. VII No. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16.. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor.. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. 4. Dari segi tata air... Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro... pada skala laboratorium. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Meskipun demikian.. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan... VII No.. Pen.. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. Eurema spp. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air.. mortalitas. 4. 4... Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). sebesar 90%. pada Skala Laboratorium J.

kemunduran. (0251) 8327768 . physiology. whereas variables of biochemistry were contents of starch. Rhizophora apiculata. propagules.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). Bogor 16001 Telp. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. deterioration. The variables of physiological observation were germination percentage. Up to 3 weeks of desiccation period.02 for 8 weeks. lemak. BOX. 2 dan 3 minggu. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. germination rate and germination value.O. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1. Penyimpanan propagul R. Sampai pengeringan selama 3 minggu. Rhizophora apiculata 167 . protein dan daya hantar listrik. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. fat.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. germination rate 0. BOX 5 Ciamis 46201 Telp.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Storing of R.02 selama 8 minggu. kadar air propagul mencapai 31. apiculata (kadar air awal 54. 105. storing the propagules conventionally. pengeringan. propagules moisture content was 31. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. Kata kunci : Biokimia. penyimpanan. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. desiccation. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). Raya Ciamis-Banjar Km. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. fisiologi.67%). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1.26 per etmal and germination value 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan.67%). Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods. Penyimpanan propagul secara konvensional.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. Keywords: Biochemistry. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. Naskah masuk : 1 Desember 2009 . protein and leachate conductivity. 2 and 3 weeks. 4 PO. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. kecepatan berkecambah 0.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%.

dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. Sedangkan menurut Schmidt (2000). terutama R. Umumnya kadar air 6% . Selain itu. apiculata.20%. terutama dalam hal kesesuaian jenis. hingga mencapai tingkat yang menghambat.25 juta hektar. Oktober 2010. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. perubahan laju respirasi. Abdul Baki and Anderson. Dourado and Roberts. 167 . Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya..8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . sedimentasi. kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4. menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai.. peka terhadap radiasi. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. 1991.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat).8% cukup untuk penyimpanan yang aman. 1984. apiculata sebelum disemaikan. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin.Anderson. perubahan dalam membran. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. 168 . 2006) diperkirakan 6. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. Menurut Chin et al. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . apiculata.4%). Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih.10% selama proses pematangan. Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R.50%).179 I. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. dikehendaki kadar air 2% . 1970).4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya.. eksploitasi hutan secara berlebihan. Rhizophora spp. tertundanya perkecambahan. (1989).7 No. kuantitas dan kualitasnya. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. 1970. 2000). kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. 1992). sangat sensitif terhadap pengeringan. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. tidak memiliki masa dormansi. Untuk benih rekalsitran.6 juta hektar (1. 1983). perubahan dalam cadangan makanan.

Pengunduhan propagul R. C. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan.25 propagul untuk DB . 2. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . B3= 6 minggu. Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm).Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. tanah.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. daya berkecambah (DB). termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman.Fisiologi : kadar air (KA). B2= 4 minggu. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. Lokasi pengumpulan buah R. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). lemak. oven. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan .3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . apiculata dilakukan di Bali. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : .Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . B1=2 minggu. METODOLOGI PENELITIAN A. AC. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. B.2 propagul untuk KA . Bogor. 1. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu.Biokimia : pati. Tabel (Table 1). Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan.

Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006).. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1.. apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm.. Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying). hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis. propagul dipotong dan dibelah. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro). Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap.. Oktober 2010. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih.. sebelum dimasukkan ke oven....Nn : .5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian.. n hari setalah tanam (%) D1. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2.. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari. Penyemaian propagul R.. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian.. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).. Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit.Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 . total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro. Pada tahap kedua....2. Selain variabel fisiologi. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1.179 kekuningan. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti. daya berkecambah.. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali)... 167 ...4..7 No. pati. Bogor... propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA. Sementara itu. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul. dan nilai perkecambahan. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul. E. kecepatan berkecambah. Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1985).

1. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. 4. gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). 2. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1). sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. 2004). Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. apiculata seed) No. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan).53* 158. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt). Asep Rohandi dan Nurin Widyani III. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. germination rate and germination value of R. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81.67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul.49** 4.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA).57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. pengeringan propagul R. 171 . Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis. daya berkecambah (DB).98** 1.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB).33%. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. kecepatan berkecambah 2. Daya berkecambah. 3. apiculata. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis.19.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol).Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. Tabel (Table) 3. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. HASIL DAN PEMBAHASAN A. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R. germination percentage. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R.67%) yaitu sebesar 13. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. daya berkecambah masih cukup tinggi (86.

4. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R.87 c 1. 2. 4.30 (3 minggu). germination percentage.08 a 0. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. lemak 0. Viabilitas propagul R. apiculata seeds at desiccation period a).78 a 40.02 a 50. apiculata yaitu pati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Oktober 2010. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.19 a 0.72 c DB (germination percentage) (%) 100. lemak. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan.34 b 1. 167 . apiculata yang meliputi pati. germination rate and germination value of R. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). moisture content and germination percentage and b).7 No.71% (2 minggu). apiculata seed) No.64 b 31. Kandungan biokimia propagul R. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2).57 a 2. kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b). . protein dan daya hantar listrik (DHL).33 a 86.50% (1 minggu) dan DHL2.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2. 35% (2 minggu). 3.00 a 97. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. Menurut Nkang (1988).08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. protein 4.00 a 100. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol. Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB).179 Tabel (Table) 4.11 a 0.38 d NP (germination value) 1.

dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih.71 0. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. 4. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis.35 24. 2.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik.06 24. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. Tatipata et al. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian. 1993 dalam Adimargono.24 Protein (protein) (%) 3.07 0. 3.92 27. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan.81 3. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan).46 0. 1993 dalam Adimargono. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. fat.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition).01 Lemak (fat) (%) 0.20 2. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. lemak.30 1. apiculata (Contain of carbohydrate. 1998).29 0. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. 1998).50 3. 173 . (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Nugroho.1981. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. 1997). protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak.63 4. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik.87 1. Jumlah kandungan pati. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. 1997). apiculata seeds) No. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian. (2) kondisi kulit benih.

33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. apiculata seeds) B. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R.44* Ket. Oktober 2010.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA).4.01** 28. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R. Propagul R. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 . apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6.39** 72.179 Gambar (Figure) 2. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan).19* 2. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R.69** 302. apiculata (contents of carbohydrate. Daya Berkecambah (DB). germination percentage. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. fat.95** 54. Kandungan pati.10** 247.30** 339.51** 59.13** NP (germination value) 3. Pada penyimpanan di ruang AC. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. 167 .7 No. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R.51* 2. Tabel (Table) 6. germination rate and germination value of R. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA).

Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R.. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. b). apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). Kadar air. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. b) Germination percentage. Moisture content.56%. Viabilitas propagul R. indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar. apiculata seed at many storage treatment : a). c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). Selain dengan parameter daya kecambah. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Sementara itu. Daya berkecambah.33%. 1994).

8. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R.69 3. 9. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.27 0. Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.27 0.87 0.34 0.17 0. 3 = 6 minggu. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan.4. Meskipun demikian. 2 = ruang AC).7 No. Oktober 2010. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R. 6. apiculata adalah 28. apiculata seeds ) No. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.10 0.72 26. 167 . lemak 0. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun. 3. 1972).59 4.05 2.24 0.54 0.50 3. 5. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15.07 0. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. lemak.96 15.63 3.26 0.18 Protein (protein) (%) 3.07 4. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.06 25.31 3. fat. Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.64 25. 10.14 1.63 3.03 28.46 0. 2 = 4 minggu.56 3.84 1.96% (ruang kamar selama 10 minggu). Tabel (Table) 7.06% dan meningkat menjadi 28. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan.39 0. protein 4. 176 .89 1. 4. Jumlah kandungan pati.62 Lemak ( fat) (%) 0.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2.35 28.44 3.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).24 22. 1 = 2 minggu.15 3. apiculata (Contents of carbohydrate.56 23.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP). lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu). B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.20 0.37 0.63 24.06 22. 7.46 1.84 21.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 11.63 2. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R.54% (ruang kamar selama 10 minggu). 12.49 0.23 0.07 0.55 1. 2.

RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. eliotti Engelm.3%. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. Skripsi. 1970. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. Y. Recalcitrant seeds.. P. Final Thesis in Tropical Plant Production. 10: 36 . Ti d a k Dipublikasikan. Kondisi kritis propagul R. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi.. 2002). apiculata sebesar 0.D. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. Berdasarkan hasil penelitian ini. 2. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Gomez and E. Seed chemistry of the 177 .. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. 1997. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. C. A. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. strobus L (Bonner.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. KT : 1. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik.7%. Gonzales. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung.88p Blanche. pasutris Mill. Larenstein International Agriculture College. 10:31 .A. J. P. Contribution No 32 .Anderson. J. echinata Mill. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. P. Kandungan biokimia (lemak.39 Anggraini. 1970. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. 3. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain. Penyimpanan propagul R.4% per etmal dan NP : 0. and storage. 1998). 1983.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. pati. Viability and leaching of sugar from germinating Barley.7%.D. Anderson. 1994).E. Pengaruh Media Simpan. Oleh karena itu.N. 39 hal.34 Adimargono. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. Seed Vigor Testing Handbook. 2000. Fakultas Kehutanan. S. Crop Science. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi.A and J. DB : 86. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C. 4. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul.A.. Hodges. P. 1991) serta E.D. AOSA. Deventer. 1991. V. Crop Science. identification.08). protein dan daya hantar listik) propagul R. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. Namun demikian.

Hutan Mangrove. orthodox seeds. 3:949952.R. Box 308. Malaysia. 25 p. International Rules for Seed Testing. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. Rajawali Pers. Dourado. Santiwa dan Suwarto.G and Xue Lin Huang (eds).. Institut Pertanian Bogor. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. Hindra. Raja Grafindo Persada. N. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L.). Stanwood and N. Z.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. A. ISTA. C. Olesen and E. CSSA Special. A. Crop Science Society ofAmerica. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. 1991. PT. 178 . O. Ph. Zurich. China. Chin. 1972. Eds. N. Kualalumpur.T. Bogor. Jakarta. Dari Benih Kepada Benih. Louisiana. Pedoman Teknologi Benih. PT. Switzerland. 14. McDonald. 59 hal. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. Q. C. 1984. Mugnisjah. C.H Roberts. W. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. Permasalahan dan Solusinya. E. Wisconsin. Srinivasan. Handayani. Gramedia Widiasarana Indonesia.. B. Lauridsen. DK-350: Danida Forest Seed Centre. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST.wordpress. 1997. Skripsi. Berjak. Jakarta. Progress in Seed Research. L. Publ. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP). U. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P. h t t p : / / w w w. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Chromosome alterations in stored seeds. CH . Santoso. USA. 8303 Bassersdorf. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. 2008. and S. B. Stanwood. T. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. 167 .pdf. In: Seed Moisture.4. No. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Sadjad. Nkang.W and P. 13. Pengaruh Media Simpan. 1994. A.M and E. Tidak Dipublikasikan. Krishnapillay.7 No. 1993. Skripsi. Diakses tanggal 3 September 2008. F. Tidak dipublikasikan. 1992. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. Diakses tanggal 3 September 2008. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. A.778. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. IPB. Bogor. Pammenter. B. Jakarta. Scholer. 2003. PT. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. Schmidt. http://uripsantoso. A. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. H. P. Justice. Madison. dan Louis. Bass. 2000.15 October 1998. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. H. L. Setiawan. Jurusan Manajemen Hutan IPB.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. 1981. Pian.Switzerland. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. 1998.37 No.. A.B. United States Departement of Agriculture. F. Annals of Botany Company 54: 767 . 2006. g o . 1994. A. 1983. Nugroho. d e p h u t . Fakultas Kehutanan. Seed Moisture: Recalcitrant vs.O. Bogor. Pembimbing Massa.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. B. 1989. Byrd. K. 1985. ISTA. . 1990. Girija.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. Tidak dipublikasikan. Seed Science and Technology 16: 247-260. Bonner. Jakarta. Disertasi Program Pasca Sarjana. 2006. Vol. Sudjindro. New Orleans. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. 1988. Seed Science and Technology. Oktober 2010. 1998. S. In Tailor. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds.

Tatipata. Yogyakarta... Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. BPPTP. Naning Y. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. 375. LHP No.. Tidak dipublikasikan. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. Adang M dan Endang I.. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. 2. 179 . 2004 : 76-87. 2002. 11 No.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. R. D. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. Enok. 2004. Bogor. Prapto Yudono. A.K. A.

8%) dan uji belah :Y = 0. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed.e. eksisi embrio dan belah..9072x + 9.0319x + 4. rapid test.3975 (r : 90%). adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1.749 (r : 92. uji hidrogen peroksida : Y = 0.7977 (r : 91.. but it takes time. Box 105 Bogor Telp. fisiologis. 179. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb. BOX.749 (r : 92.3975 (r : 90%). Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung.8957x + 6.co. mebel.6%). cheaper and better accuracy. Burlian Km.6%). kayu sigi (Sumatera).7977 (r : 91./Fax. Bangka. ki damar (Jawa). exicion embryo test and cutting test. Sulawesi dan Irian Jaya. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera. namun waktunya relatif lama. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. sinonim: damar sigi. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al. venir. damar kapas. uji cepat I. damar putih.1285 (r : 92. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. tangkai korek api. Persamaan dugaan daya berkecambah. damar wana (Sulawesi).8%) dan cutting test:Y = 0.id Naskah masuk : 5 Maret 2010. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. physiological. ki damar (Sunda). Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). tetrazolium test: Y= 2 2 1. damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan. hydrogen peroxide test. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test). H. Palembang Telp. excision embryo 2 2 test: Y = 0.9072x + 9. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test. akurat dan efisien. 6. pensil. germination. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). Maluku Kalimantan. Kol. Kata kunci : benih.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo.0319x + 4.7%).9474x + 10. damar.1285 (r : 92. Keywords: dammar. damar pilau (Dayak). hydrogen peroxide test: Y = 0.9474x + 10. damar. 1981). pulp.8957x + 6.5 Puntikayu PO.7%). Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. hidrogen peroksida. Kondisi 181 . The equation of determination of dammar's germination capacity i. perkecambahan. peti kemas. kayu lapis.

5. natrium hipoklorit. B. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh.3. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. TZ 0. alat semprot tangan dan kaca pembesar. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan. 1. etanol 70%. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan.2H2O sebanyak 11. eksisi embrio dan belah.79% (DBawal = 63. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. silet. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. hidrogen peroksida. benih dikecambahkan pada kondisi ideal. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v).00%) (Sagala dan Endah.triphenil tetrazolium chlorida ).7 No. misalnya. 1990).18%) waktu pengujian selama 1. Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. lembaran plastik dan aluminium foil. keterbatasan jumlah benih. benih disusun beraturan.5%: garam tetrazolium (2. garam tetrazolium (2. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode. 2000). gelas piala. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . 181 . saringan. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji. 1. Na2HPO4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dilakukan di germinator.42%) selama 1 jam.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 .42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85. pinset.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. kertas merang. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. A.5 jam. 2009). Oktober 2010.3. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%).38 dan 31.3. TZ 1%: garam tetrazolium (2.8 C). oven. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. Uji cepat tetrazolium 1. (1996).04%) selama 7 hari. eksisi embrio (r2: 81. alat pengaduk. Prosedur Pengujian 1.3. hidrogen peroksida (r2: 90. II. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung.1. gunting kuku.4. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt.2H2O. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. Menurut Bonner et al.2. Alat-alat: cawan petri. KH2PO4.3 menit (v) benih 182 . 2005).

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

sedangkan metode tetrazolium. hidrogen peroksida. 186 . Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. masing-masing sebesar 91. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. 181 . (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. 2007). layu dan busuk. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996). Perbedaan 3 .189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu.4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7%). Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92.6% dan 90%. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. masing-masing selama 2. eksisi embrio dan belah. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. kering. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. eksisi embrio dan belah.7 No. sedangkan oven.8%) dan uji hidrogen peroksida (92. 6 dan 2 hari. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). Oktober 2010. hydrogen peroxide. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari. 2009). excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. 6. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. hidrogen peroksida. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja.

27 1.59 1.33 0.83 75 ± 6.01: 3.60 1.00 0. hydrogen peroxide. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium. uji hidrogen peroksida.05: 2.45 0.08 0. excision embryo and cutting test 187 . Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.00 76 ± 7. hidrogen peroksida.16 49 ± 6.00 0.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.00 96 ± 3.85 2.00 74 ± 5. hydrogen peroxide.13 0.00 98 ± 4.40 0.69 1.447.24 0.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.25 87 ± 6.3 thit thit 98 ± 4.50 42 ± 8. t table/table 0. tetrazolium.00 97 ± 3.83 58 ± 4.9 91 ± 8.23 2.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.30 1. uji tetrazolium.0 55 ± 3.00 1.16 54 ± 5.30 48 ± 3.00 47 ± 11.63 0. t table/table 0.83 40 ± 10.96 0.27 46 ± 8. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.83 87 ± 6.27 80 ± 11.83 40 ± 7. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.16 65 ± 10.5o 51 ± 10.32 1.00 96 ± 5.66 82 ± 5.33 40 ± 3.63 0.10 55 ± 6.78 0.53 2.81 2.00 55 ± 10.65 1.

0702-9861. Management report No. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan).189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1. Departemen Kehutanan. Leadem. 2. hidrogen peroksida. Tree Seed Technology Training Course. Jakarta. Southern forest experiment station. C.7977 r2 = 9.28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. Vozzo J. Jakarta. Iding K.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.9474x + 10.W and Land S.P.B. B. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. Bonner F. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium. Leubner. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. The Seed Biology Place. A. KESIMPULAN 1. Ministry of Forest Land Research Branch. Oktober 2010. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. 181 .749 r2 = 9. General technical report SO 106. 2006. 1981. Instructors Manual.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0.7 No. US Department of agriculture. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. 2000.8957x + 6. 1984. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. Kosasih.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. ISSN.9072x + 9.0319x + 4. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. L. G. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi).1285 r2 = 9. Atlas kayu 188 . dan Soewanda A. 2007.4. Martawijaya. Hydrotime: Population based threshold germination model. Elam W.A.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5.C. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan. 1994.L. Schmitd.T. New Orleans Louisiana. K. 18. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Quick test for tree seed viability.

status pendekatan biometrik (Terjemahan). R. PT. 2009. Balai Teknologi Perbenihan. Badan Penelitian dan Pengembangan. Laporan uji coba NO. Jakarta. dan Endah S. Zanzibar. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. M. T. Y. H. Sagala. Zanzibar. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. Badan Penelitian dan Pengembangan. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. M. 1991. 1996. J. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 .45. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. 97.D. Gramedia.R. Bogor Zanzibar. 189 . Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. M. perlakuan asam propionat. Bogor. dan Naning. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 2003. Jilid I. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). Balai Teknologi Perbenihan. dan Nanang.G. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Jurnal Standardisasi. Departemen Kehutanan. 2005. Departemen Kehutanan. Pengaruh kadar air awal. Zanzibar. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Bogor Steel. dan James H. 1990. M.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. Prinsip dan prosedur statistika. Direktorat Jenderal Kehutanan.

1-1999) before planting in the field that is quality class of height.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. S.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. diameter and value strength.8% and 84. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. Box 105 Bogor Telp. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati.5 m spacing. The total numbers of plants observed were 2400 plants. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Meanwhile. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. seedling quality class. respectively). However. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. Keywords: Growth. red meranti.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate.5 m. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. interaction between species and seedling quality. The growth of height was significantly affected by block. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. The survival. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. Therefore S. sedangkan. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). mutu bibit. Centre Kalimantan R. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . The results showed that species.3%. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati.400 bibit. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. species. Kalimantan Tengah.

2007).3cm dengan diameter antara (5 . agar tegakan yang dihasilkan baik. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. kelas mutu bibit. jenis medium bibit.1 cm/th.206 Ha.2 cm/tahun dan S. BAHAN DAN METODE A.8 cm/th. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. pupuk. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. yaitu faktor dalam dan faktor luar.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59.1-1999). pertumbuhan I.000. suhu. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. meranti merah. S. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . S. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1.3 %. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. yaitu sebesar 184. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. yaitu tinggi antara (50 .199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. 2000). Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. 191 . Propinsi Kalimantan Tengah. Oktober 2010. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. hama. Faktor dalam diantaranya asal benih.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993). penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono. Kata kunci : cabutan. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. S. cahaya.8 mm) atau ratarata sebesar 5. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. B. II. oksigen. johorensis sebesar 2. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. macrophylla sebesar 1. Kabupaten Seruyan. sementara untuk S. Dengan demikian jenis S. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. Faktor luar yang penting antara lain air.5 cm/th. mikoriza.6 cm.7 No.6 cm/th. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. luas 184. parvifolia. konsentrasi karbon dioksida. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. parvifolia sebesar 2.4. platyclados sebesar 2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No. kelembaban udara.8 % and 84. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1.

Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2.5 m. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit.8 – 12. C.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari.0 < - - D.000 m2 atau seluas 12 ha. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S.0 mm. Tabel (Table) 1. kaliper.5 m. 193 . yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil). leprosula dan S. leprosula (A1) dan S. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1).0 mm 6. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3. C. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati. mistar dan kamera. Kekompakan media ( media compaction) 2. Pucuk / akar (top root ratio) 6. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis.0 – 4.400 = 120. Diameter (diameter) 4. seperti disajikan pada Tabel 1. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3.3 – 10. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. yaitu lebar jalur 3 meter. parvifolia (A2). Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S.9 mm 8. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII).0 – 8. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. Tinggi (height) 3.400 bibit. Luas areal penanaman adalah 2.5 × 20 × 2. Bahan danAlat Penelitian 1. Cabutan diambil di sekitar pohon plus. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. pemasangan ajir.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya.

Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm). III.8 b III 90.8 ab III 80.8 a IV 74. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). 2.4. 191 .199 E. 1975).8 a I 79. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. Parameter yang diamati adalah tinggi. Daniel et al. E. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman. diameter dan persen hidup tanaman. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. Pengumpulan Data 1. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis. kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan.2 a I 88. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.7 b II 96. HASIL DAN PEMBAHASAN A.6 80.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Tabel (Table) 2.7 No. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar.5 b II 88. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3.8 c Rataan Rataan 90.5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh). Oktober 2010. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper. mutu bibit. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan.

1 % dan 76. Oleh karena itu untuk jenis S. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. 177. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana.8 % dibandingkan blok I sebesar 79. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76.3 %. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua. leprosula dan S. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka. terlihat lingkungannya di kedua 195 . Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan. 82. 1993).6 cm. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. Untuk pertumbuhan diameter.6 cm dan 2. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.8 %. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 . lantai hutan.100% untuk tingkat pancang.3 cm dan 165. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII. Mulyana Omon penanaman. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . yaitu intensitas cahaya.7% dan blok IV sebesar 74. yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. blok III sebesar 80.8 cm.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. B. Tabel (Table) 3. dikarenakan pada waktu penanaman. tanah dan faktor biotis. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. iklim mikro.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Untuk diameter masing-masing sebesar 2. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S.7 cm. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). tanaman pesaing. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).2 % setelah satu tahun ditanam. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik.

4 c IV 58. leprosula. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). leprosula dari mutu bibit tiga dan S. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).7 No.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan. parvifolia dari mutu bibit tiga.7 b 2. lingkungan dan teknik silvikultur.3 b 179.6 c 2.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi.3 b 2. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan. A2 = S. Oktober 2010. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.7 a 165. 191 .6 ab 0.0 a 2. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran.3 a III 55. akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua.2 cm dan 224.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya. yaitu sebesar 184.2 a II 47.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42.6 cm (Soekotjo.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.2 bc 0.8 b 177.4.199 blok hampir sama.4 c 0. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. Tabel (Table) 4 . parvifolia. yaitu faktor keturunan (genetik). 196 .7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184.8 a 0. 2007). leprosula dan S. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No.6 cm.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.

parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 . Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan.7 % utuh 10.8 3. parvifolia diikatakan cukup baik. Kekokohan bibit. leprosula sebesar 9. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya.1-1999). leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.7 untuk jenis S. Mulyana Omon C.3 . nisbah tinggi dan akar (top root ratio).6 % 59. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.5 65. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6.1 % utuh 10.7 65. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.5 3. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam.7 62.5 % utuh 9.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005.4 59.2 57. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S.1-1999).8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu. yaitu nilai kekokohan.6 dan untuk S. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4.08% 65.6 65. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).62% B3 Utuh 9.6 2.75% B2 utuh 9.5 dalam katogari yang baik.1 2.6 4.7 % 65. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6. Tabel (Table) 6.10.6 4. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.

3 % dan 88. 5. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. 1979.6 cm. Hendromomo. The Tropenbos Foundation.W. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos.A. 2005. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. 198 . Jayusman. 4. F.7 No. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan.61 cm. sehingga akar bibit tidak rusak. yaitu sebesar 2. khususnya dari jenis S.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Departemen Kehutanan.S. IV. Wana Benih Vol. Oktober 2010. J. leprosula dan S. Bagian Perentjanaan Hutan. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. 2007. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. 1993. dan F. Wageningen. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. yang masing-masing 10. 191 . B. 42. H. Yogyakarta. Ferguson. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). 78 h. Departemen Mangemen Hutan. parvifolia. Helms.T. Gadjah Mada University Press. Bogor. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Fakultas Kehutanan. 1951. Prinsip-prinsip silvikultur. Badan Litbang Kehutanan. Tidak diterbitkan. KESIMPULAN DAN SARAN A.H dan J. 3. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . The Netherlands. Schmidt. 2. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Jakarta. Prosedur analisa rancangan percobaan. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi.7 %. Priadjati. Verhandelingen No. yaitu sebesar 184. Haeruman. T. S. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. FORSPA Publication 8. 1975. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). IPB. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan.4. Mok. Kesimpulan 1. bagian pertama. Kuala Lumpur. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. Malaysia.. 7 No. Tr o p e n b o s International.6 dan 4.8 %. leprosula dan S.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. Yogyakarta. 1.H. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Baker. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. 2003. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. A. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak.

B. Applied forest tree improvement. L. September 2007. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. and J. Departemen Kehutanan.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. 2007. Jakarta. Vol. I. Jakarta Schmidt. Samarinda. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. Mitikauji. 2007. John Wiley and Sons. Soekotjo. dan Y. 1984.Inc.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. Talbert. 1. Yassir. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. 1 No. New York. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. Zobel. dan Shorea balangeran (Korth. 2000. Badan Standardisasi National. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. 199 .11999. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. Samarinda. Kalimantan Timur. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.

) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Bogor Agricultural University. Zeuzera coffeae Nietn.63% and 48. dan Zeuzera coffeae Nietn. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Beside this.89%.5 Puntikayu PO. BOX. pests. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. baik kualitas maupun kuantitasnya. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5. Sedangkan serangan hama Z. I. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. Jati (Tectona grandis Linn. Palembang Telp. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting. Leucopholis rorida F. Zeuzera coffeae Nietn.).id Naskah masuk : 21 September 2009 . Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. In growing period. Dalam pertumbuhannya.co. the highest damage caused by Z.63% dan 48.).89% respectively.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. The highest damage caused by L. it was often attacked by several pests that caused seriously damages. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. and Zeuzera coffeae Nietn. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77.) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood. hama. Kol.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik.71%. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. Dalam sistem silvikultur intensif. Leucopholis rorida F.2% and 3.2% dan 3. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn.5 years old) with attack and damage intensity of 77.71% respectively.. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. terutama untuk kayu pertukangan../Fax. 6. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin. 179. terutama untuk kayu 201 . tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. rorida was recorded on plot I (teak was 2. Burlian Km. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. H.

dan Leucopholis rorida F. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. tali rafia dan kapas. inventarisasi inang terserang. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. Bogor Jawa Barat. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). Jawa Barat. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya.4. Hama penggerek batang. 16 bulan (petak II dan III). 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. METODOLOGI A. Oktober 2010. (menyerang leher akar) (Suratmo. Captotermes curvignatus Hciver. dan Monochamus rusticator Fab. dan Pyrausta machaeralis Wills. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. Bogor. alat tulis dan kamera. Dalam pertumbuhannya. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). B.185 pertukangan. Hama perusak akar. Berdasarkan pengamatan awal. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. (menyerang batang). D. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1989). Sehubungan dengan permasalahan tersebut.7 No. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. rumus yang digunakan adalah: II. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 1. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. b.5 tahun (petak I). Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang.Oktober 2000. 177 . Hiblaea puera Cr. (menyerang akar). meliputi: a. golok. dan Neotermes tectonae Damm. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). C. jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. Duomitus ceramicus Wlk. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. 202 . (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. etanol. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. pilok. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. 1979 dalam Rahardjo. tabung bekas film.

1 – 1. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a. 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3.5 m 1. 2.1 – 4 m 4. 1. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 .6 – 1 m 1. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2. 6.1 – 6 m b. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1. 4.6 – 2 m 2. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2.5 m 0. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. 5. 1979 dalam Winaryati. 3.

1981). HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. bahkan sampai kedalaman 40 . meso. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. f a m i l i Melolonthidae). Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. 2000).50 cm. Sukabumi. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah.4. pangkal antena dan pro-.35 cm.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Leucopholis rorida F. biasanya pada kedalaman 17 . 1973). tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala. rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung.7 No. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air.) yang berbeda. rorida dapat dilihat pada Gambar 1.89% dan termasuk kategori agak berat. 1. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang.5 tahun) sebesar 48. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. 177 . Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. ( ordo Lepidoptera. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. Identifikasi Jenis Hama. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. Oktober 2010. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. subordo Lamellicornia. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. ( o rd o C o l e o p t e r a . Berdasarkan pengamatan di lapangan. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). 2000). Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. Pada tanaman jati berumur 2. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. banyaknya borstel tiap baris 15 .27 buah.185 III. Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. Kondisi akar yang terserang uret L. berwarna putih kekuningan. terutama segera setelah hujan pertama turun. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . Kumbang L. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. 1984).agak berat.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Uret. famili Cossidae).

(c) L.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. Hama uret Leucopholis rorida F. rorida beetles) Tabel (Table) 3. rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77. rorida.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. Root condition of teak attacked by L. (c). setelah 9 hari berubah menjadi 205 . Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. Kumbang L. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. rorida. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. rorida on teak trees : (a). karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. rorida. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). Gejala serangan. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L.95 21. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. rorida (L. Zeuzera coffeae Nietn. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur.63 51. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. pada tanaman jati: (a). disebut penggerek cabang merah. Attack symptoms. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. 2000). b a c Gambar (Figure) 1. (b).18 42. (b).89 29.20 2.

coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2. pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. Sedangkan segmen ke 8. larva 53 . pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . Gejala serangan. kepalanya berwarna coklat.5.4. pupa dan imago (Stem borrer (Z. coffeae) pada tanaman jati: (a). Siklus hidup Z. Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. (b). Gambar Z. Attack symptoms. (c). Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. coffeae) on teak trees: (a). bagian pertama sepanjang 1 . a b c Gambar (Figure) 2. Oktober 2010. coffeae consist larva. coffeae mulai dari stadia larva. Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. (b). 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. 2000).56 hari.5 mm (Husaeni.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. pupanya 21 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . 177 .2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z. Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps.5 bulan. 206 . Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati.5 cm.7 No. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah.45 mm.11 hari (Husaeni. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. coffeae mulai dari larva. Hama penggerek batang (Z. (c). stadium telurnya berlangsung 12 hari. Metamorfosis hama Z. pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 . Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. Imagonya berupa ngengat berwarna putih. Metamorfose of Z. 2000). perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras.28 hari dan ngengatnya 5 .

22 0. Upaya Pengendalian 1. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). batang menjadi bengkok dan berlubang. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih). Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.013 1. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. coffea. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Berdasarkan pengamatan di lapangan. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. Pengurangan populasi kumbang. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur. Pengendalian Leucopholis rorida F. jika penanganannya kurang hati-hati. B. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). Kerusakan akibat serangan Z. c.71 0. L. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. Walaupun serangan Z. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. b. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV.

Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. Rahardjo. S. R. Imago Z. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. A.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. BKPH Cikaung. 167. and J. New York. 1989. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z.89%. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. 1984. Intari. coffeae. E. E. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. P. 2002). A. (serangga perusak pucuk dan cabang).5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. IV. Laporan No. Forest Entomology. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya. Natawiria. Willey Intersci. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. KPH Sukabumi. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. Bogor. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. D. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. DAFTAR PUSTAKA Coulson. Bogor. dan D. Fakultas Kehutanan. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. Harsono. Oktober 2010.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah.7 No. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. Serangan hama Z. Institut Pertanian Bogor. Publ. Ecology and Management. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. misalnya furadan (Tini dan Khairul. Witter. 2000. 1981.4. 2. N. LPH.63% dan 48. d. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. 1973.2% dan 3. E. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. Husaeni. Institut Pertanian Bogor. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. 201 . salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong.71%. B. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. 2002). Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. Fakultas Kehutanan. Bogor. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z.

Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Bogor.) di BKPH Boto KPH Randublatung. A. Amri. Jakarta. Winaryati. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Institut Pertanian Bogor. KPH Kendal). Tini. Studi Keragaman Gejala.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 27 . Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. Institut Pertanian Bogor. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. Nia dan K. 209 . Palembang. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. 1997. Hutan Fakultas Kehutanan. B. Morfologi. Palembang. Bogor. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. Skripsi Jurusan Manajemen. Fakultas Kehutanan.29 Oktober 1997. 2002. Agro Media Pustaka. 1984. Winarto.

) Insecticide on Eurema spp. sengon I. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan. There are some techniques to control Eurema spp. Pada tanaman sengon.7 long days than control treatment. dan turi (Sesbania grandiflora). Keywords: bintaro. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. mortalitas. johar (Cassia siamea). is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. PENDAHULUAN A. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . Bintaro seeds extract affected Eurema spp. Eurema spp. Eurema spp. Kata kunci : bintaro. merupakan hama utama yang menyerang tanaman.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Selain tanaman sengon. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. Eurema spp. Kol. pada skala laboratorium. sebesar 90%.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. and successful making of pupa and imago are 16. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). in laboratory. 1991). Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.. Eurema spp. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp. Latar Belakang Eurema spp. biopesticide. Burlian KM 6. mortality. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. insektisida nabati. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp.5 Puntikayu Po. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests./Fax.. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16.67% and need 1. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Palembang Telp. Box 179. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. jengkol (Pithecelobium jiringa). jayanti (Sesbania sesban).7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. mortality procentage is 90%. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Eurema spp. Eurema spp.

2. resurgensi hama. dan daun bintaro. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. Serangga hama Eurema spp.25%. Oktober 2010. Pemberian pakan II. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. sangat kecil. B. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan.4. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. Eksplorasi Hama Eurema spp. kemudian direndam. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. taman-taman. sampai ke pulau-pulau Pasifik. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga.5%. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. Bogor. Setelah pelarutnya menguap. 0.1%) dengan perbandingan 1 : 1. Larva yang diperoleh dari lapangan. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. daging buah. 211 . langsung digunakan sebagai serangga uji. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. BAHAN DAN METODE A. B. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 212 . dengan menggunakan insektisida kimia. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. mulai dari Afrika. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. Australia. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. 0.7 No. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol.125%. diantaranya terjadi resistensi hama. 3. Selain itu Tarmadi et al. dari bulanAgustus hingga September 2009. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. Korea. Tiongkok. pada skala laboratorium. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. 4. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar.220 penyebaran yang sangat luas. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. Metode Penelitian 1. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Bogor. dan tidak ramah lingkungan. Jepang. perlu diteliti. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp.). ledakan hama sekunder. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. Asia Tenggara. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu.

dan 36. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6. lunak. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. Larva yang mengalami kematian. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. dan lama kelamaan mengecil. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. Kematian larva diamati selama 7 HSP.33%.33% 20%. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. Ekstrak biji. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. 2. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam. Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva.1. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. Pada konsentrasi terendah. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva.33% .67% . daging buah.90%. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. tubuhnya kaku.80%. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. Disamping jenis ekstrak. Dari tiga jenis ekstrak bintaro. konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. Pada 1 HSP. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. Hasil Penelitian 1. 213 . Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP).Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. mortalitas larva paling besar. III.83.67% . 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13. 7) tidak aktif : m < 5%. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. 33. HASIL DAN PEMBAHASAN A. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak.

7 No. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.33 d 56. Mortalitas Eurema spp.33 bc 0.67 b 43. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.00 d 83. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.67 c 36. Oktober 2010.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2). Berdasarkan nilai Lc50.7 dan 1.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.33 d 80.33 b 36. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.8 dan 4.00 a 0. ekstrak biji bintaro 1. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.67 c 53.33 c 1 90. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0.5 83.00 a 0. 211 . ekstrak biji bintaro 2.220 Tabel (Table) 1.00 a 0.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.125 36.67 b 33.25 56. 214 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.4.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.67 b 0.

Mortalitas Eurema spp. Mortalitas Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2.

7 No.00 a 63.297 (0. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55.67 b 41.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.49 ab 55.00 b 52.62%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3. sedangkan ekstrak daging buah.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. b = kemiringan regresi probit.33 b 27.813– 4.25 0. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.49%.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp.653-34. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp.476) a = intersep regresi probit.67 b 33.205-0. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk.23 ± 0.56 b 47.41 1.00 a 100.161-0.453 (2.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. b = slope of probit regression.463) 0.37 1.220 Tabel (Table) 2.360 (0.76 ± 0.78%.25 0.953) 6. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa.33% dan 27.39 ± 0.00 a 100. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp.78 b 50.189 (0.4. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. Namun pada konsentrasi tertinggi.096-349. Adapun pupa Eurema spp.56% dan 47. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp. SK = confidence interval) 1.92 ± 0. 4.00 ab 46.21 0. 5. Tabel (Table) 3.67%. GB = standart deviation.52 ± 0.67 b 16.783 (1. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.62 b 45.480) 0. Oktober 2010. 115 –0. GB = galat baku. Pada konsentrasi terendah.65 ± 0.125 0. α = 5%) 216 . Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp. dan 6. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63.315 (0.20 b ± GBa) 1.38 b 47. 211 .273) 3.

baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.3 ab 0.7 c 13.67 b 33. Pada konsentrasi 0. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa.3 c 12. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1.67 b 36. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.0 a 12.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan.125 0. Tabel (Table) 5.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0.0 bc 12.3 b 13. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. Pada konsentrasi 1%.67% saja imago yang terbentuk.3 ab 12. Tabel (Table) 4. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.0 a 12.5 13.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.25 0.89 b 50.33 b 38. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.33%.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12.00 a 100. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.00 a 33.00 a 100.25 13.7 ab 1 13. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33.89 b 38. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago.125 12.0 a 12. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro.125%.00 a 41.11 b 56. α = 5%) 217 .33 b 33.3 a 12.56 a 38.44 a 16. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16. Secara umum.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.0 a 0.89 b 44.3 ab 0.7 ab 12.

Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. (Tabel 6). atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun.25 0. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder. 211 . namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono.3 a 6.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. daging buah.0 a 6. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp.0 a 6. 218 .0 a 6.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan. asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono.7 ab 7.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Pada konsentrasi tertinggi. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin .7 a 7. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat. α = 5%) B.125 0.7 b 6.7 No.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6..0 a 6. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. daun dan buahnya mengandung polifenol. yaitu ekstrak biji. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid. Oktober 2010.4. 2008). tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago.0 a 6. Tabel (Table) 6. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. 2008). Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus. 2008). (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi.7 ab 7.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono.0 a 6. Pada konsentrasi 0. ekstrak biji bintaro memerlukan 1.3 a 6. 2008).0 ab 6. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp.3 a 6. 1998).

Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva.. KESIMPULAN DAN SARAN A. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. daging buah. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. baik biji. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. dan daunnya. Disamping menyebabkan mortalitas. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. 2008). IV. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. Mortalitas larva Eurema spp.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung.

33% dan 80%.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. & Tech. I. Yusuf. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. SAS/STAT User's Guide. Indonesia. JJA. LM. 409p. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. PROSEA. htm. 2008. 1987. Fakultas Pertanian. PROSEA. Van Loon. London. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Jakarta. pada skala lapangan. Prijono. Cambridge. T. Bogor. Kartika. Jermy. E t h n o b o t a n y. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. Bul HPT 10 : 1-7.com/saip/vaic/R&D/article5. S.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Badan Litbang Kehutanan Jakarta.7 No. Cary (NC) : SAS Institute. B. Guswenrivo. Schoonhoven. T. Pemanfaatan dan Pengembangan. M.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. 211 . 2002. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. Departemen Proteksi Tanaman. Vol. IPB. h t t p : / / w w w. J.) NIELSEN. Penerjemah. Prianto. D. Trop. Bogor. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. M a l a y s i a ..220 berturut-turut sebesar 83. Chapman & Hall. Departemen Kehutanan. K. 1998.. 1991. Prijono. Eth ed. AH. DAFTAR PUSTAKA Dadang. 2. U K M . borneofocus. Tarmadi. 220 . Heyne. Suharti. 2007. Bogor. Insektisida Nabati : Prinsip. D. Vol 5 No 1 2007. Wood Scie. Tomlinson. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). Version 6. S a l l e h . CB. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Yayasan Sarana Wana Jaya.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. The Botany of Mangroves. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2.4. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. 1 9 9 7 . 1990. D. Cambridge University Press. 1986. SAS Institute. Oktober 2010. 1998.

dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement. water discharge fluctuation. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). 5 Bogor 16610 Telp. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. Jl. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . (0251) 8631238. Fax. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Puncak area. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. . Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+.027 m3 /second. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. with one hectare increase of forest cover. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. Gunung Batu No. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. penggunaan lahan + 221 . Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. fluktuasi debit air.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area.027 m3/detik. kawasan Puncak. Keywords: Landsat ETM satellite images. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.

warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Oktober 2010. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu.7 No. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. kebun teh dan kebun campuran.226 I. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air.2003. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. 221 . dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. 2. 1997. serta daerah pemukiman. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. Kesinambungan fungsi Bogor.minimum Sungai Ciliwung. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. yaitu Bogor. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. Bogor.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. semak dan sawah. PENDAHULUAN II. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi. dan 2003. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. diperoleh dari analisa citra. 2001.4. Data debit maksimum . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. BAHAN DAN METODE A. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. B. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. seringkali bercampur dengan pemukiman. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. hijau tua agak terang. menyebar terkadang bergerombol. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan.

108X2 + 0.). yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan.9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen.005 0. a = 0. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum.05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y). Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1. Namun. III.108 + 0. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen). luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3). 1997 dan 2001.2. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).51 .9% . Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang. untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. semak dan sawah.minimum (ΔQ). R-Sq = 99.0.05 . Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda.4 – 0. kebun teh dan kebun campuran. Tabel (Table) 1. Khusus untuk lahan bervegetasi.0. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. luas pemukiman (ha).000 0. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga.027 . begitu juga sebaliknya. Koefisien (Coefficient) .1992). Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum.027X1 – 0. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya.072 p-level 0. X2.072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). Pearson's Product Moment (Walpole. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum . semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum. R-Sq (adj) = 99. adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda.

46 +7.13 -1273.50 -3.08 3484.05 20.71 5957.89 (%) 79. 2000).0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap.4. klimatologi.62 -0. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.812 14. 221 . dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 .09 +4335.85 2886. Tabel (Table) 2. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672. tanah dan penggunaan lahan. geomorfologi.3.64 2879.7 No.66 +23.79 +8. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau.64 14.64 6.002 meter di atas permukaan laut. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.027 m3/detik. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah.89 4733. geologi.07 15.82 6.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).70 0.48 34. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi.32 2733. Oktober 2010. serta lerengnya berkisar antara 8 .35 28. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran.45 19.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.48 2713.56 5180. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan. 224 . Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat.88 25.79 2003 (ha) 8512. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.55 (%) 59.108 m3 /detik.64 15. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.61 6454.39 445.32 -10. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya.24 -4288.002 0.448 +16. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit.91 1171.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.992 +1541.00 +1475.53 83.96 18.32 0.11 32.07 3.89 -598. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.23 -6. topografi. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi).45 0.35 -82.35 0.29 +0.42 1621. Sementara itu.02 8.

49 242.73 293.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan.44 171.91 244. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1.50 291. yaitu sebagai pencegah erosi.22 3. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.71 1. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum .68 274.25 225 . Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan.690 4. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum.178 3. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.22 1.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun. pencegahan banjir dan erosi. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa.20 411. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air.98 408. akar serabut panjang. dan kerapatan akar tinggi. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah.51 118.Seperti halnya dengan hutan. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian.minimum cenderung meningkat pula.20 244. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3.22 273.2003 cenderung turun. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.46 1.98 224.875 3. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 .426 2. Debit Minimum.792. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 .45 persen.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik.64 199.

X2 . 1992. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. 2000. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. Institut Tehnologi Bandung. Data debit maksimum . dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. 2004. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. PT. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. Gramedia Pustaka Utama. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. Bogor. Hardiana. Terjemahan. tidak permanen. Pratiwi. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. Skripsi.4 . Jakarta. Walpole. M. R. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.027 X1 . maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. 2003. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan. Oleh karena itu. D. seperti disajikan pada Tabel 4. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. Departemen Kehutanan.072 X3. 2004. dan pemukiman dalam hektar. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. dengan pola hubungan : Y = 641.108 X2 + 0.minimum Sungai Ciliwung. Tabel (Table) 4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. dan areal pemukiman harus ditekan. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. Fakhrudin.0. IPB. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Pengantar Statistika. Bendung Katulampa. Pasca Sarjana.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen.0. 1999. Bogor. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol.E.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. 226 . Tesis.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->