ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

apiculata (KA awal 54. hidrogen peroksida. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.9474x + 2 2 10. damar. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).. akurat dan efisien. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan.0319x + 4. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. namun waktunya relatif lama. uji eksisi embrio : Y = 0. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1.9072x + 9.67%). fisiologi. Pen.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. lemak. fisiologis. Penyimpanan propagul R. uji hidrogen peroksida : Y = 0.......3975 (r : 90%).. kecepatan berkecambah 0. Sampai pengeringan selama 3 minggu. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume.7%). adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1.. Penyimpanan propagul secara konvensional..72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0.. Kata kunci : benih.02 selama 8 minggu.. 4. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. eksisi embrio dan belah. Kata kunci : Biokimia. Pen. 4. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. VII No. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. kadar air propagul mencapai 31. 4.1285 (r : 92. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.8957x + 6.. 2 dan 3 minggu. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). Htn Tnm Vol. kemunduran.. . Htn Tnm Vol. R.. VII No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. perkecambahan. protein dan daya hantar listrik. J.. Persamaan dugaan daya berkecambah... VII No.7977 (r : 91. penyimpanan.749 (r : 92. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati.. pengeringan.. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan..6%). uji cepat.8%) dan uji belah :Y = 0.. apiculata UDC(OXDCF)630*.

. kelas mutu bibit..... meranti merah.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.. dan Zeuzera coffeae Nietn........6 cm. VII No. pertumbuhan.. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005...71%. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor..2% dan 3. yaitu sebesar 184....... Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin.. hama.. Pen....8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. UDC(OXDCF)630*.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59..... mutu bibit.. 4............. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.. 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya.8 % and 84... Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter)...3 %... Zeuzera coffeae Nietn.. .. Dalam pertumbuhannya... coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.8 mm) atau rata-rata sebesar 5.. Htn Tnm Vol. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88..) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2... Dengan demikian jenis S.89%... yaitu tinggi antara (50 cm .. Sedangkan serangan hama Z....1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.. terutama untuk kayu pertukangan. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. VII No. Pen.. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin.. 4. 4.5 m. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. sedangkan. Leucopholis rorida F.... Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit. Bogor J.. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77.3cm dengan diameter antara (5 mm .. Mulyana Omon (.. Kata kunci : cabutan.... VII No... parvifolia.... Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Htn Tnm Vol.63% dan 48.. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.).... Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali..... R. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F.. sementara untuk S..

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. 4. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda.. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J... penggunaan lahan .. sebesar 90%.. VII No.. Kata kunci : bintaro. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Eurema spp.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air.. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Fluktuasi debit air. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. Pen. Meskipun demikian. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp.... 4. Dari segi tata air. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 4. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai.. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Pen. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003... VII No.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.. pada Skala Laboratorium J.. VII No. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16..67% dengan waktu yang dibutuhkan 1..027 m3/detik. mortalitas. Htn Tnm Vol. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. sengon UDC(OXDCF)630*... pada skala laboratorium.. Eurema spp. Htn Tnm Vol. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. kawasan Puncak.. insektisida nabati.

BOX 5 Ciamis 46201 Telp.26 per etmal and germination value 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. Storing of R. 2 dan 3 minggu. storing the propagules conventionally. lemak.O. protein and leachate conductivity. propagules moisture content was 31. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. fat. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. Rhizophora apiculata. fisiologi. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. Up to 3 weeks of desiccation period. apiculata (kadar air awal 54. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.67%). Bogor 16001 Telp. Penyimpanan propagul R. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. germination rate 0. germination rate and germination value. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. deterioration.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. penyimpanan.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati.02 selama 8 minggu. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1. propagules. protein dan daya hantar listrik.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. whereas variables of biochemistry were contents of starch. pengeringan. The variables of physiological observation were germination percentage. Naskah masuk : 1 Desember 2009 .26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. kecepatan berkecambah 0. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. physiology. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. kemunduran. desiccation. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). 4 PO. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. Rhizophora apiculata 167 . apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. Raya Ciamis-Banjar Km. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. kadar air propagul mencapai 31.67%). 2 and 3 weeks. Penyimpanan propagul secara konvensional. Sampai pengeringan selama 3 minggu. (0251) 8327768 . Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). Keywords: Biochemistry. BOX. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. Kata kunci : Biokimia.02 for 8 weeks. 105.

luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4.10% selama proses pematangan. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat).179 I. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. terutama dalam hal kesesuaian jenis. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. 1970. (1989). kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi.20%. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. sangat sensitif terhadap pengeringan. Oktober 2010. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra.25 juta hektar.. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. perubahan laju respirasi. 1983). tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . tertundanya perkecambahan. Rhizophora spp. 168 . menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. 2006) diperkirakan 6. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami.8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. apiculata.4%). Abdul Baki and Anderson. Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. Umumnya kadar air 6% . Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim.50%). maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan.Anderson. eksploitasi hutan secara berlebihan. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. kuantitas dan kualitasnya. kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . 1991..4. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . dikehendaki kadar air 2% . Menurut Chin et al.8% cukup untuk penyimpanan yang aman. sedimentasi. Sedangkan menurut Schmidt (2000). proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. 1984. 2000). Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya.6 juta hektar (1. Untuk benih rekalsitran. Selain itu. tidak memiliki masa dormansi. perubahan dalam membran. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R. apiculata sebelum disemaikan. perubahan dalam cadangan makanan. dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. hingga mencapai tingkat yang menghambat. 167 . 1970). Dourado and Roberts. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. 1992)..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. peka terhadap radiasi. terutama R. dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. apiculata.

sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. tanah. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . AC. B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . lemak.2 propagul untuk KA . Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. B2= 4 minggu. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. 1. Tabel (Table 1). B.3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . 2. apiculata dilakukan di Bali. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro).Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Lokasi pengumpulan buah R. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. oven. Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan.25 propagul untuk DB . kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan.Fisiologi : kadar air (KA). B1=2 minggu. Pengunduhan propagul R. B3= 6 minggu. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : . Bogor. METODOLOGI PENELITIAN A. C.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. daya berkecambah (DB). ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . Asep Rohandi dan Nurin Widyani II.Biokimia : pati. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak.

dan nilai perkecambahan. Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006).. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul.. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap. pati. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1.. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari... Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2. Pada tahap kedua..Nn : . kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis..5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian.. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali).. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah.. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol...Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 . metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian.. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam. E.4. Oktober 2010. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).2. propagul dipotong dan dibelah.. apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm.. Penyemaian propagul R. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA.. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul.. Sementara itu. total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro. Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air. daya berkecambah.179 kekuningan.... Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying).. Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit. Bogor. Selain variabel fisiologi.. kecepatan berkecambah. Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. sebelum dimasukkan ke oven. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro).7 No.. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. 1985). 167 .. n hari setalah tanam (%) D1.

Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. 2. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. apiculata. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. 1. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. 171 . kecepatan berkecambah 2.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81.53* 158. daya berkecambah masih cukup tinggi (86. Asep Rohandi dan Nurin Widyani III. apiculata seed) No.57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. Tabel (Table) 3.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. 3. germination rate and germination value of R. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA). gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86.33%.67%) yaitu sebesar 13. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1). germination percentage. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. 4.49** 4. Daya berkecambah. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. 2004). Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4).19. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. pengeringan propagul R. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt). Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. daya berkecambah (DB).67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya.98** 1. HASIL DAN PEMBAHASAN A. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan).

4.02 a 50. lemak. 2. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2).64 b 31.00 a 100. Kandungan biokimia propagul R.7 No. Oktober 2010.179 Tabel (Table) 4. Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol.50% (1 minggu) dan DHL2.71% (2 minggu). 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54.57 a 2. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R.72 c DB (germination percentage) (%) 100. . kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b). 167 . germination rate and germination value of R. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan. 35% (2 minggu).08 a 0. lemak 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.00 a 97. protein 4. apiculata yaitu pati.30 (3 minggu). apiculata seed) No.33 a 86.38 d NP (germination value) 1.34 b 1. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB). apiculata seeds at desiccation period a). germination percentage. Viabilitas propagul R. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. 3.11 a 0. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content. Menurut Nkang (1988).87 c 1. 4. protein dan daya hantar listrik (DHL). Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. apiculata yang meliputi pati.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2. moisture content and germination percentage and b).78 a 40.19 a 0.

Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). 1997).81 3. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan). Jumlah kandungan pati.01 Lemak (fat) (%) 0. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak.24 Protein (protein) (%) 3. 1998).46 0.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul.87 1. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak.29 0. 173 . Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. Nugroho. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. lemak.63 4. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. Tatipata et al. apiculata seeds) No. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran.35 24. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan.07 0.71 0. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15.1981. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. apiculata (Contain of carbohydrate. 3. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. fat. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih.20 2. 1993 dalam Adimargono. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. (2) kondisi kulit benih. 2. 1997). dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. 1993 dalam Adimargono.50 3. 1998).30 1. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih. 4.92 27.06 24. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik.

apiculata seeds) B. Kandungan pati. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.39** 72.51** 59. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA).33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu.4. 167 .44* Ket. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA).13** NP (germination value) 3. Oktober 2010. Daya Berkecambah (DB).19* 2.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.179 Gambar (Figure) 2. fat. Pada penyimpanan di ruang AC.30** 339.7 No.69** 302. apiculata (contents of carbohydrate. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 . Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. Propagul R. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan). germination rate and germination value of R.95** 54. germination percentage. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R.10** 247.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%. Tabel (Table) 6.01** 28.51* 2. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29.

Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. Selain dengan parameter daya kecambah. apiculata seed at many storage treatment : a). indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). Daya berkecambah. Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al. b). Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. 1994). Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). b) Germination percentage. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. Moisture content. Viabilitas propagul R. Kadar air..33%. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). Sementara itu.56%.

63 3.39 0.87 0.64 25. 2.46 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.15 3. 12. 4.54 0.26 0.05 2. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol. 11.49 0.35 28.56 3.63 2. 9. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R. lemak 0.24 0. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.06 25. Tabel (Table) 7.06% dan meningkat menjadi 28. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2. 5. protein 4.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu).06 22.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0. Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut. apiculata adalah 28. 167 .72 26.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).23 0.27 0.17 0. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.44 3. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R. lemak. Meskipun demikian. 6. fat. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan.27 0.63 24.84 1. apiculata seeds ) No. 8. 3.69 3.54% (ruang kamar selama 10 minggu). Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15.96 15.07 0. 10. 7.37 0.07 4.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP).96% (ruang kamar selama 10 minggu). Jumlah kandungan pati.89 1. 2 = 4 minggu.20 0.07 0. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan.50 3.03 28. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.62 Lemak ( fat) (%) 0.46 0. 2 = ruang AC).7 No.59 4. 3 = 6 minggu.55 1.4. Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.31 3. 176 .24 22.63 3.34 0.56 23.10 0. apiculata (Contents of carbohydrate. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.18 Protein (protein) (%) 3. Oktober 2010. 1972).14 1. 1 = 2 minggu.84 21. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15.

7%. Oleh karena itu.E. P. strobus L (Bonner. 1970. Gonzales. Y. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. 4. 3. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. Larenstein International Agriculture College. Kondisi kritis propagul R. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. A. 1970. pati. P.3%.D.N. P. Gomez and E. Ti d a k Dipublikasikan. 1991) serta E.. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. 1997. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 10: 36 . sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. P. 10:31 . Kandungan biokimia (lemak. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. echinata Mill. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar.A. 1998). 2000. Anderson. V.7%. 1994).Anderson.A and J.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.08). Seed chemistry of the 177 . 1983. Fakultas Kehutanan. Pengaruh Media Simpan. AOSA. J. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. Recalcitrant seeds. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. Crop Science. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. 2002). Namun demikian. Final Thesis in Tropical Plant Production. pasutris Mill. 39 hal.. apiculata sebesar 0. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. Seed Vigor Testing Handbook. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.4% per etmal dan NP : 0.39 Anggraini. Contribution No 32 .. Deventer. DB : 86. and storage.. Skripsi. C. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. identification. Penyimpanan propagul R. J. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail.D. KT : 1. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. Crop Science.34 Adimargono. eliotti Engelm. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain.A. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. Berdasarkan hasil penelitian ini. Hodges.88p Blanche. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih.D. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. protein dan daya hantar listik) propagul R. 2. S. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. 1991.

N. http://uripsantoso. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. C. China. 2008. 1998. Chromosome alterations in stored seeds. A. 1983. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. B. Seed Science and Technology 16: 247-260. Diakses tanggal 3 September 2008. Sadjad. C. Dari Benih Kepada Benih. A. Fakultas Kehutanan. A. Tidak dipublikasikan. Publ. Hindra. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. Mugnisjah. Raja Grafindo Persada. Seed Moisture: Recalcitrant vs. Jakarta. Sudjindro. 1989. 1985. 1990. Setiawan. Pian. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. Madison. Ph. Crop Science Society ofAmerica. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. 3:949952. Pembimbing Massa. H. 13. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds.7 No.B. 2006. Jakarta. 1992. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. F. H.T. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L.37 No. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST. Bonner. Switzerland. A. Jakarta. 1998. Bogor. F. 1984. Jurusan Manajemen Hutan IPB. CSSA Special. Progress in Seed Research. New Orleans. PT. Santiwa dan Suwarto. 1991. Skripsi.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. L.Switzerland. B. 2003. Nkang. B. 14. T. 1994.wordpress. Permasalahan dan Solusinya. Bass. Girija. Lauridsen. Rajawali Pers. Disertasi Program Pasca Sarjana.G and Xue Lin Huang (eds). Vol. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L.4. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. Annals of Botany Company 54: 767 .. Malaysia. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Kualalumpur. . O. Dourado. Q.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/.778. Skripsi. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. E. Chin. Seed Science and Technology. W. PT. Tidak Dipublikasikan. Santoso. 1972. g o . Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Schmidt. Justice. 167 . Institut Pertanian Bogor. 1981. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih.15 October 1998. Srinivasan. Jakarta. Nugroho. 59 hal. 1994. Bogor.. 1988.). Z. McDonald. C. 1997. Pammenter. S. In Tailor. L. Pengaruh Media Simpan. Box 308. 2000. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP).. Gramedia Widiasarana Indonesia. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. U.O. 2006. IPB. No. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. 1993. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. B. 25 p. Stanwood. Louisiana. Pedoman Teknologi Benih. CH . d e p h u t . orthodox seeds. A. Zurich. Oktober 2010. Krishnapillay.H Roberts. ISTA. United States Departement of Agriculture. Byrd. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. A. Olesen and E. Wisconsin.M and E. Stanwood and N. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. K. A. Diakses tanggal 3 September 2008. and S. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. PT. Handayani. Bogor. Berjak. 8303 Bassersdorf. DK-350: Danida Forest Seed Centre.W and P. P. 178 .R. International Rules for Seed Testing. h t t p : / / w w w. ISTA.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. USA. Scholer. In: Seed Moisture. Hutan Mangrove. dan Louis. N.pdf. Tidak dipublikasikan. Eds. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR.

Naning Y. 2004 : 76-87. Prapto Yudono.. LHP No.. 2004. R. Tatipata. 2002. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. A. Adang M dan Endang I. 375. 2. BPPTP.. Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. Enok. Yogyakarta.. 179 . Tidak dipublikasikan. D. 11 No. A. Bogor.K.

1285 (r : 92.8957x + 6. mebel. The equation of determination of dammar's germination capacity i. damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan.. hydrogen peroxide test: Y = 0. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. tangkai korek api. ki damar (Jawa). 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. eksisi embrio dan belah. akurat dan efisien.e.7977 (r : 91. perkecambahan. Kondisi 181 .8%) dan cutting test:Y = 0.3975 (r : 90%). Maluku Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1.6%). Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). hidrogen peroksida.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test). Palembang Telp. Burlian Km. Kata kunci : benih. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak. germination.9072x + 9.9474x + 10.7%). fisiologis. Persamaan dugaan daya berkecambah. BOX. cheaper and better accuracy.5 Puntikayu PO. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. hydrogen peroxide test. damar pilau (Dayak). yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik.8%) dan uji belah :Y = 0.. Box 105 Bogor Telp. damar kapas. kayu sigi (Sumatera). pensil. rapid test. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl.9474x + 10. Keywords: dammar.id Naskah masuk : 5 Maret 2010. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung.7977 (r : 91. 179. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat.6%). pulp./Fax. kayu lapis. ki damar (Sunda). venir. damar wana (Sulawesi).0319x + 4. Kol. excision embryo 2 2 test: Y = 0. Bangka.0319x + 4. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al. peti kemas. 1981). Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. Sulawesi dan Irian Jaya.1285 (r : 92. damar.7%).3975 (r : 90%). sinonim: damar sigi. uji cepat I.749 (r : 92. namun waktunya relatif lama. uji hidrogen peroksida : Y = 0. damar putih.8957x + 6. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). H. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera. physiological.9072x + 9. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb.749 (r : 92. tetrazolium test: Y= 2 2 1.co. 6. but it takes time. damar. exicion embryo test and cutting test.

Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan.04%) selama 7 hari. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%). oven. (1996). KH2PO4. kertas merang.7 No. natrium hipoklorit. gunting kuku. Menurut Bonner et al. pinset. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. gelas piala.42%) selama 1 jam.38 dan 31. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . eksisi embrio dan belah. hidrogen peroksida.3.3 menit (v) benih 182 .3.2. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%. 2000). Prosedur Pengujian 1. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. A.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. etanol 70%.2H2O sebanyak 11.5 jam. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat.5%: garam tetrazolium (2. disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji.8 C). Na2HPO4. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. 1. 1. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.3. Oktober 2010. 1990). Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. misalnya. B. 2009). keterbatasan jumlah benih. eksisi embrio (r2: 81.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85. hidrogen peroksida (r2: 90. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt.00%) (Sagala dan Endah. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93.5. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh. silet.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 . Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. 2005). garam tetrazolium (2. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. II. lembaran plastik dan aluminium foil.3. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. saringan.79% (DBawal = 63. Alat-alat: cawan petri. benih disusun beraturan. dilakukan di germinator. Uji cepat tetrazolium 1.triphenil tetrazolium chlorida ). benih dikecambahkan pada kondisi ideal.4. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades. TZ 0. TZ 1%: garam tetrazolium (2. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. alat pengaduk. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode. 181 . Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap.1. alat semprot tangan dan kaca pembesar.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v).2H2O.18%) waktu pengujian selama 1.

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. 181 . (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. hidrogen peroksida. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi.8%) dan uji hidrogen peroksida (92. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. masing-masing selama 2. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. kering.7%). Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal. masing-masing sebesar 91. eksisi embrio dan belah. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. 6. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5.4. Oktober 2010. sedangkan oven. eksisi embrio dan belah. 186 .5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996).6% dan 90%. 6 dan 2 hari.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. sedangkan metode tetrazolium. hydrogen peroxide. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. 2007). excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. Perbedaan 3 . selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja. layu dan busuk. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari.7 No. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. 2009). Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. hidrogen peroksida.

excision embryo and cutting test 187 . tetrazolium.00 55 ± 10.9 91 ± 8. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.13 0.10 55 ± 6. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium.00 96 ± 5.59 1. t table/table 0.24 0.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage). uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.63 0.60 1. t table/table 0.83 40 ± 7. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium. uji tetrazolium. hydrogen peroxide.33 0.447.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.33 40 ± 3.00 1.00 98 ± 4. hydrogen peroxide.83 40 ± 10.69 1.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.00 96 ± 3.05: 2.63 0.00 0.00 97 ± 3.45 0. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.40 0.00 76 ± 7.00 47 ± 11.78 0. uji hidrogen peroksida.32 1.08 0.16 65 ± 10.27 1.53 2.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4.85 2.3 thit thit 98 ± 4.83 75 ± 6.5o 51 ± 10.65 1.50 42 ± 8.83 58 ± 4.0 55 ± 3.25 87 ± 6.81 2.30 1.23 2.83 87 ± 6.00 74 ± 5.30 48 ± 3.27 46 ± 8.16 49 ± 6.01: 3.96 0.66 82 ± 5.16 54 ± 5. hidrogen peroksida.27 80 ± 11.00 0.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Leadem. hidrogen peroksida.7 No.P. General technical report SO 106.8957x + 6. Iding K. Hydrotime: Population based threshold germination model. DAFTAR PUSTAKA Anonimous.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Leubner. 0702-9861.9474x + 10. ISSN. Atlas kayu 188 . Quick test for tree seed viability. C. Bonner F. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan.B.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. B. 2007. G. Management report No. 2000.749 r2 = 9.T. 1994. Kosasih. 2. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). 1981. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. Elam W.W and Land S. US Department of agriculture.L. Southern forest experiment station. Martawijaya. Departemen Kehutanan. KESIMPULAN 1.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0.7977 r2 = 9. Oktober 2010. 1984. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar.A. 2006. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. New Orleans Louisiana. Instructors Manual. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium. Vozzo J. 18. Jakarta. The Seed Biology Place. L. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat.4. K.0319x + 4.C. Jakarta.9072x + 9. 181 .189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1.28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. Ministry of Forest Land Research Branch. A. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi). Schmitd. dan Soewanda A.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5.1285 r2 = 9. Tree Seed Technology Training Course.

Zanzibar. status pendekatan biometrik (Terjemahan). Balai Teknologi Perbenihan. dan Endah S. PT. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb).Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. Direktorat Jenderal Kehutanan. T. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. Bogor. Balai Teknologi Perbenihan. 2005. Badan Penelitian dan Pengembangan. 2009.D. Bogor Zanzibar. 1996. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. dan James H. Zanzibar. perlakuan asam propionat. dan Nanang.G.R. dan Naning. 1990. M. 97. J.45. M. Jilid I. 189 . Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. R. Sagala. Zanzibar. 1991. Pengaruh kadar air awal. Y. Gramedia. Bogor Steel. 2003. H. Badan Penelitian dan Pengembangan. Jakarta. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. M. Laporan uji coba NO. Bogor. M. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. Jurnal Standardisasi. Prinsip dan prosedur statistika. Departemen Kehutanan. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat.

3%. However. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan.5 m. interaction between species and seedling quality. respectively). species. Centre Kalimantan R. The survival. mutu bibit. Keywords: Growth. Kalimantan Tengah. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. sedangkan. Therefore S.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. The total numbers of plants observed were 2400 plants. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. Box 105 Bogor Telp. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate.5 m spacing. diameter and value strength. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. seedling quality class. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. The growth of height was significantly affected by block. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati.8% and 84. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. red meranti. Meanwhile. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. S. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. The results showed that species.400 bibit. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup.

suhu. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. pupuk. cahaya.8 mm) atau ratarata sebesar 5. pertumbuhan I. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik.7 No. konsentrasi karbon dioksida. macrophylla sebesar 1. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4.3cm dengan diameter antara (5 .8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. S. 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. II.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. Kata kunci : cabutan.000.2 cm/tahun dan S. agar tegakan yang dihasilkan baik. Dengan demikian jenis S.206 Ha. 2000). jenis medium bibit.1-1999). Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. luas 184. sementara untuk S. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008.5 cm/th. Kabupaten Seruyan. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No. Faktor luar yang penting antara lain air. 191 . PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono. parvifolia sebesar 2. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. kelas mutu bibit. Faktor dalam diantaranya asal benih.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. yaitu tinggi antara (50 . Propinsi Kalimantan Tengah.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993). mikoriza. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. hama.8 % and 84. johorensis sebesar 2. B. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. yaitu faktor dalam dan faktor luar. 2007). Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat.1 cm/th. S.6 cm. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 .65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. oksigen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut.4.6 cm/th.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. meranti merah.3 %. platyclados sebesar 2. S. Oktober 2010. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009. BAHAN DAN METODE A. yaitu sebesar 184.8 cm/th. parvifolia. kelembaban udara. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik.

0 – 4. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII.3 – 10. Pucuk / akar (top root ratio) 6.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4.400 bibit. leprosula (A1) dan S.000 m2 atau seluas 12 ha. pemasangan ajir.400 = 120. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.5 m. Tinggi (height) 3. Kekompakan media ( media compaction) 2. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). yaitu lebar jalur 3 meter. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. parvifolia (A2). Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. Cabutan diambil di sekitar pohon plus. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005. C.0 mm. Tabel (Table) 1.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil). tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. Luas areal penanaman adalah 2.8 – 12. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1). Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII).0 – 8. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. 193 . Bahan danAlat Penelitian 1. kaliper. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3.0 < - - D.5 m. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu.0 mm 6. leprosula dan S. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII. C. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2.9 mm 8.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman. Diameter (diameter) 4. mistar dan kamera. seperti disajikan pada Tabel 1. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5.5 × 20 × 2.

2 a I 88. HASIL DAN PEMBAHASAN A. E. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 b III 90.7 b II 96. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA).7 No. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar.8 c Rataan Rataan 90. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. Pengumpulan Data 1. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. 1975). Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis.5 b II 88.8 ab III 80. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. diameter dan persen hidup tanaman. Daniel et al. 191 . III. Parameter yang diamati adalah tinggi. mutu bibit. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm). Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh). (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman.8 a I 79. 2. Oktober 2010.4. kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan.6 80.8 a IV 74.199 E. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3. Tabel (Table) 2.5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %.

8 %. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).7% dan blok IV sebesar 74. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . dikarenakan pada waktu penanaman.100% untuk tingkat pancang.8 % dibandingkan blok I sebesar 79.2 % setelah satu tahun ditanam. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three).6 cm dan 2.8 cm. yaitu intensitas cahaya. Oleh karena itu untuk jenis S. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan.6 cm. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. terlihat lingkungannya di kedua 195 . Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan.3 cm dan 165. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%. Mulyana Omon penanaman. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik. 1993).Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka.7 cm. Untuk pertumbuhan diameter. tanah dan faktor biotis. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam. B. Tabel (Table) 3. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. leprosula dan S.3 %.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 . blok III sebesar 80. 177.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. tanaman pesaing.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84. lantai hutan. 82. iklim mikro.1 % dan 76. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. Untuk diameter masing-masing sebesar 2.

Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).199 blok hampir sama.8 b 177.4 c 0.7 No. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S. leprosula. 196 .6 b Ketengan (Remarks): A1 = S.6 cm. lingkungan dan teknik silvikultur.2 bc 0. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.6 c 2. 191 .6 ab 0. yaitu faktor keturunan (genetik).3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. Oktober 2010. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya. 2007).2 a II 47.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184. parvifolia.6 cm (Soekotjo.3 b 2. Tabel (Table) 4 . Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran.7 b 2. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan. akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua. leprosula dan S.8 a 0.4.4 c IV 58. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5. yaitu sebesar 184. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). parvifolia dari mutu bibit tiga. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162.7 a 165. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya.2 cm dan 224.3 b 179. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor.3 a III 55.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. A2 = S.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.0 a 2. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. leprosula dari mutu bibit tiga dan S. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221.

parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.6 dan untuk S.7 % 65. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S.62% B3 Utuh 9.6 2.5 % utuh 9.8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu. leprosula sebesar 9.8 3.6 65. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6.1 2.08% 65.10. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.5 dalam katogari yang baik.6 4.7 untuk jenis S. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S.2 57. Kekokohan bibit.1-1999). Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.7 65. parvifolia diikatakan cukup baik. Tabel (Table) 6. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya.5 3. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan. Mulyana Omon C.1-1999). Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian.3 .1 % utuh 10.75% B2 utuh 9.7 % utuh 10. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).6 4. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam.4 59. yaitu nilai kekokohan.6 % 59. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4.7 62.5 65. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).

dan F. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. leprosula dan S. Baker.H dan J. Verhandelingen No. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. Oktober 2010. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. FORSPA Publication 8. Prinsip-prinsip silvikultur. Departemen Kehutanan. 1951. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). Prosedur analisa rancangan percobaan.A. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. 42. Haeruman. yaitu sebesar 2. J. yaitu sebesar 184. Jayusman. 7 No. F. 4. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak.7 %. Helms. Malaysia. parvifolia. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA).. IPB.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Fakultas Kehutanan. 198 . Tidak diterbitkan. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur. S. Mok.3 % dan 88. 2005. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.7 No. Departemen Mangemen Hutan.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. B. Tr o p e n b o s International.W. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. A. 2007. 2003. Bagian Perentjanaan Hutan. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. The Tropenbos Foundation. Bogor. khususnya dari jenis S. Gadjah Mada University Press. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y.6 dan 4. sehingga akar bibit tidak rusak. Ferguson. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya.4. The Netherlands. 2. 1. Wana Benih Vol. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. Wageningen. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . KESIMPULAN DAN SARAN A. 1979. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). 3. IV. Yogyakarta. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. bagian pertama.S.61 cm. yang masing-masing 10. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan. 78 h. leprosula dan S. T. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Priadjati. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. Kuala Lumpur. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan.H. Hendromomo.6 cm. Kesimpulan 1. 191 . Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. 1993. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7.T. H.8 %.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. Yogyakarta. 1975. 5. Schmidt.

L. 1 No. 2007.Inc. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Samarinda. Vol. Applied forest tree improvement.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. dan Y. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. Soekotjo. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Zobel. September 2007.11999. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. Jakarta Schmidt. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. I. Yassir. Badan Standardisasi National.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. Mitikauji. B. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. and J. Kalimantan Timur. 199 . Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. 1984. New York. Jakarta. John Wiley and Sons. 1. 2000. dan Shorea balangeran (Korth.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. 2007. Departemen Kehutanan. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. Samarinda. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Talbert.

179. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. In growing period. The highest damage caused by L. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Zeuzera coffeae Nietn. and Zeuzera coffeae Nietn. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. hama. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5.63% dan 48. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. rorida was recorded on plot I (teak was 2. Jati (Tectona grandis Linn. Dalam pertumbuhannya.89% respectively. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Zeuzera coffeae Nietn. terutama untuk kayu 201 . Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. Dalam sistem silvikultur intensif.). 6.71%. Sedangkan serangan hama Z. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin.) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik.co. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin.. dan Zeuzera coffeae Nietn. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting.2% dan 3.63% and 48. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F.. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. Leucopholis rorida F.2% and 3. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.71% respectively.id Naskah masuk : 21 September 2009 .POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. it was often attacked by several pests that caused seriously damages. baik kualitas maupun kuantitasnya. the highest damage caused by Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. H. Palembang Telp.5 years old) with attack and damage intensity of 77.). Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Leucopholis rorida F. terutama untuk kayu pertukangan. BOX. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. Kol./Fax. pests. I. Beside this. Bogor Agricultural University.89%.5 Puntikayu PO. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Burlian Km.

dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. (menyerang batang). Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. METODOLOGI A. golok. etanol. D. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. B. kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. dan Neotermes tectonae Damm. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.Oktober 2000. (menyerang leher akar) (Suratmo. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. Captotermes curvignatus Hciver. Hama penggerek batang. 1989). b. dan Leucopholis rorida F. Hama perusak akar. 1979 dalam Rahardjo. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2.7 No. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Bogor. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . tali rafia dan kapas. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. 177 . tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Bogor Jawa Barat. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. Jawa Barat. inventarisasi inang terserang. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. (menyerang akar). meliputi: a. Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. rumus yang digunakan adalah: II. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar.4.5 tahun (petak I). Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. 202 . Dalam pertumbuhannya. alat tulis dan kamera. tabung bekas film. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. dan Monochamus rusticator Fab. Berdasarkan pengamatan awal. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. dan Pyrausta machaeralis Wills.185 pertukangan. pilok. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). C. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). Hiblaea puera Cr. Oktober 2010. Duomitus ceramicus Wlk. 16 bulan (petak II dan III). 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

5 m 1.6 – 2 m 2. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. 2. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 .1 – 6 m b.1 – 1. 4. 5. 1979 dalam Winaryati. 6.6 – 1 m 1.1 – 4 m 4. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. 3. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2. 1.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3.5 m 0. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0. 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al.

Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . Kondisi akar yang terserang uret L. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. 1984). Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. Identifikasi Jenis Hama. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. berwarna putih kekuningan. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. ( ordo Lepidoptera.50 cm. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. meso.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. subordo Lamellicornia. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. termasuk famili Melolonthidae (Coulson.27 buah. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. bahkan sampai kedalaman 40 . tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala.7 No. f a m i l i Melolonthidae). famili Cossidae). sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman.89% dan termasuk kategori agak berat. ( o rd o C o l e o p t e r a . Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. Uret. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. Pada tanaman jati berumur 2.5 tahun) sebesar 48. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.185 III.agak berat.4. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. biasanya pada kedalaman 17 . rorida dapat dilihat pada Gambar 1. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . Oktober 2010. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. 2000). Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. 177 . terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). Berdasarkan pengamatan di lapangan. 1973).35 cm.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. 2000). Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. 1. 1981). rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. pangkal antena dan pro-. Sukabumi. terutama segera setelah hujan pertama turun.) yang berbeda. Leucopholis rorida F. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. banyaknya borstel tiap baris 15 . Kumbang L.

Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat.95 21.18 42. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. rorida. rorida on teak trees : (a). rorida beetles) Tabel (Table) 3. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L. rorida.20 2. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . (b). b a c Gambar (Figure) 1. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. disebut penggerek cabang merah. Kumbang L. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. (c) L. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). Root condition of teak attacked by L. Zeuzera coffeae Nietn. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. (b). Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L.89 29. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. rorida. rorida (L. (c).59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. pada tanaman jati: (a). Gejala serangan.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 2000). Hama uret Leucopholis rorida F. Attack symptoms. rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77.63 51. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni.

coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . Attack symptoms. coffeae consist larva. larva 53 . 2000). pupanya 21 . Metamorfosis hama Z. Sedangkan segmen ke 8.56 hari. Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. coffeae) on teak trees: (a). Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps.5 cm. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. 206 .1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu.45 mm. (c). Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. (c). Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. a b c Gambar (Figure) 2.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. coffeae mulai dari stadia larva.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No. Gambar Z. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 .28 hari dan ngengatnya 5 . stadium telurnya berlangsung 12 hari. pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. coffeae) pada tanaman jati: (a).4. kepalanya berwarna coklat.5 bulan. pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 . Oktober 2010. Metamorfose of Z. bagian pertama sepanjang 1 . 2000). pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. (b).5. 177 . coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. Siklus hidup Z. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z.5 mm (Husaeni.11 hari (Husaeni. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2. pupa dan imago (Stem borrer (Z. coffeae mulai dari larva. Hama penggerek batang (Z. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. (b). Gejala serangan. Imagonya berupa ngengat berwarna putih.

B. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih).143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. Walaupun serangan Z. L. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). Kerusakan akibat serangan Z. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. coffea. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. Upaya Pengendalian 1.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. c. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2.71 0. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z.22 0. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. Pengendalian Leucopholis rorida F. Pengurangan populasi kumbang. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . Berdasarkan pengamatan di lapangan. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV. b. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). batang menjadi bengkok dan berlubang. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati.013 1. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. jika penanganannya kurang hati-hati. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada.

209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam. Bogor. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. Serangan hama Z. KPH Sukabumi. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. R. Bogor. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. 1984. and J. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya. S. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. Oktober 2010. d. misalnya furadan (Tini dan Khairul. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn.71%.7 No. IV. (serangga perusak pucuk dan cabang).89%. BKPH Cikaung.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. 1981. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. Willey Intersci. 2. dan D. D. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. 2002). Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. A. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5.2% dan 3. Forest Entomology. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. E. Natawiria. 2002). Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. 167. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. 1989. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. Institut Pertanian Bogor. Harsono. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. LPH. B.63% dan 48. P. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. Husaeni. DAFTAR PUSTAKA Coulson. A. Imago Z. Rahardjo. 1973. Witter. Ecology and Management. Intari. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. coffeae. 2000. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. 201 . New York. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis. N. Institut Pertanian Bogor. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. E. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. Fakultas Kehutanan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Fakultas Kehutanan. E. Bogor. Publ. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z.5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. Laporan No. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap.4.

1997. 1984. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. 209 . KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. Institut Pertanian Bogor. Bogor. KPH Kendal). B. Amri. Winaryati. 27 . Morfologi. Palembang. Jakarta. Institut Pertanian Bogor.) di BKPH Boto KPH Randublatung. A. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Tini. Studi Keragaman Gejala.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Winarto. Agro Media Pustaka. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. Nia dan K. Hutan Fakultas Kehutanan. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif.29 Oktober 1997. Palembang. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Bogor. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. 2002. Skripsi Jurusan Manajemen. Fakultas Kehutanan.

merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. Burlian KM 6./Fax. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. 1991). Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. Eurema spp. Kol. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti. Eurema spp. PENDAHULUAN A.. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. dan turi (Sesbania grandiflora). johar (Cassia siamea). Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. Palembang Telp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. mortality.) Insecticide on Eurema spp. Eurema spp. insektisida nabati.5 Puntikayu Po.67% and need 1. pada skala laboratorium.. jayanti (Sesbania sesban). A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. and successful making of pupa and imago are 16. Eurema spp. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp.7 long days than control treatment. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. Pada tanaman sengon. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. in laboratory. jengkol (Pithecelobium jiringa).). Latar Belakang Eurema spp.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. mortalitas. Eurema spp.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. Kata kunci : bintaro. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. sebesar 90%. Eurema spp. Keywords: bintaro. sengon I. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. mortality procentage is 90%. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. Selain tanaman sengon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. biopesticide. There are some techniques to control Eurema spp. merupakan hama utama yang menyerang tanaman. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan. Box 179.

Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. kemudian direndam. langsung digunakan sebagai serangga uji. Selain itu Tarmadi et al. 4. Tiongkok. dan tidak ramah lingkungan. Bogor. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia.1%) dengan perbandingan 1 : 1. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari.4. pada skala laboratorium. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. Eksplorasi Hama Eurema spp. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Australia. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. dan daun bintaro. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. daging buah. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. dari bulanAgustus hingga September 2009. 0. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. Pemberian pakan II. B. sampai ke pulau-pulau Pasifik. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. ledakan hama sekunder. Oktober 2010. Serangga hama Eurema spp. sangat kecil. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. Metode Penelitian 1. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. 0. 212 . Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. dengan menggunakan insektisida kimia. Bogor. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan.220 penyebaran yang sangat luas. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. 2. Larva yang diperoleh dari lapangan. perlu diteliti. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. BAHAN DAN METODE A. Korea. taman-taman. Jepang. Asia Tenggara. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. resurgensi hama.7 No. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. B. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. Setelah pelarutnya menguap. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun.5%. 211 .). Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp.125%. mulai dari Afrika.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar. diantaranya terjadi resistensi hama. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. 3.25%.

persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. lunak. 7) tidak aktif : m < 5%.33%. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6.33% . aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.1. Ekstrak biji.83. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%.67% . 33. daging buah. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. Kematian larva diamati selama 7 HSP. HASIL DAN PEMBAHASAN A. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat.90%. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. dan 36. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). Hasil Penelitian 1. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. Larva yang mengalami kematian. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. Pada konsentrasi terendah. mortalitas larva paling besar. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam. 2. III. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Dari tiga jenis ekstrak bintaro. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP).80%. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1.33% 20%. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. 213 . Pada 1 HSP. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%.67% . dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. dan lama kelamaan mengecil. Disamping jenis ekstrak. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. tubuhnya kaku. Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva.

(Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.67 b 33.8 dan 4. ekstrak biji bintaro 1. 214 . ekstrak biji bintaro 2. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.33 bc 0. Mortalitas Eurema spp. Berdasarkan nilai Lc50.00 a 0. Oktober 2010.4. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.67 b 0.125 36. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.00 a 0. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment.220 Tabel (Table) 1.33 b 36.67 c 53.33 d 80. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.67 b 43. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.00 a 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 dan 1.33 c 1 90.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.67 c 36.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.25 56.33 d 56.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2). 211 .00 d 83.5 83.7 No. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp.

Mortalitas Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . Mortalitas Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3.

67 b 41.76 ± 0.25 0.78 b 50. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.4. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa.00 ab 46.00 a 100.096-349.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. Oktober 2010.480) 0.23 ± 0. α = 5%) 216 .33% dan 27. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63.161-0.220 Tabel (Table) 2.00 a 63.56% dan 47. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.813– 4. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp. Adapun pupa Eurema spp.125 0.00 b 52. Tabel (Table) 3. dan 6. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp. sedangkan ekstrak daging buah.67 b 16. 211 . Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.463) 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.38 b 47.56 b 47.25 0. 115 –0. 4. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk.953) 6. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. Pada konsentrasi terendah. b = slope of probit regression.00 a 100. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16.62%.189 (0. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.315 (0.476) a = intersep regresi probit.205-0. GB = standart deviation.37 1.297 (0.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1.65 ± 0.39 ± 0.21 0.653-34. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. 5.33 b 27.360 (0. b = kemiringan regresi probit. Namun pada konsentrasi tertinggi. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33.7 No. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.62 b 45.273) 3.20 b ± GBa) 1. GB = galat baku.67%.783 (1.49%. SK = confidence interval) 1.453 (2.41 1.49 ab 55.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.92 ± 0.67 b 33.78%.52 ± 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.89 b 44. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.0 a 12. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa. Tabel (Table) 5.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.67 b 33.44 a 16.3 b 13.3 ab 0. α = 5%) 217 .00 a 100. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12. Pada konsentrasi 1%.7 c 13.00 a 41.0 a 12. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp.7 ab 1 13.3 ab 0. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.89 b 50.33 b 33. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.25 0.3 ab 12.25 13.33 b 38.67% saja imago yang terbentuk.125 12. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp.89 b 38. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.125 0. Secara umum.3 a 12.0 a 0.56 a 38.33%. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa.7 ab 12.125%. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago.3 c 12.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.0 a 12. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.00 a 33.0 bc 12.00 a 100. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp. Pada konsentrasi 0.67 b 36.11 b 56.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa. Tabel (Table) 4.5 13. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa.

Pada konsentrasi 0.0 a 6. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus. Pada konsentrasi tertinggi. 211 . Tabel (Table) 6.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. α = 5%) B. (Tabel 6). dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp.7 No.4.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0.7 ab 7. tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago. 2008). Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan..0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat. asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono. daun dan buahnya mengandung polifenol.3 a 6.7 ab 7.25 0.125 0.0 a 6.7 a 7. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0.0 a 6. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. daging buah.0 a 6.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago.0 a 6. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono.0 a 6. 1998). buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin . 2008). Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp. ekstrak biji bintaro memerlukan 1. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. 2008).7 b 6. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid.0 ab 6. yaitu ekstrak biji. 218 .3 a 6. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain.3 a 6. 2008). Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. Oktober 2010.

Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. dan daunnya. baik biji. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. KESIMPULAN DAN SARAN A. Disamping menyebabkan mortalitas. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. IV. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . Mortalitas larva Eurema spp. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. 2008). daging buah. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama.

1987. London. T. LM. JJA. Indonesia. K. Eth ed. Vol. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Penerjemah. 1998. Departemen Kehutanan.) NIELSEN. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). U K M . Tomlinson. Tarmadi. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. 1986. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. Prijono. Pemanfaatan dan Pengembangan. Version 6. 1998. PROSEA. SAS/STAT User's Guide. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. h t t p : / / w w w. 409p. D. 2007. 2. Insektisida Nabati : Prinsip. Bul HPT 10 : 1-7. Van Loon. D. borneofocus. Bogor. Chapman & Hall. 220 .7 No.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Trop. 211 . The Botany of Mangroves. 1991. Guswenrivo. Yusuf. & Tech. Cambridge. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Departemen Proteksi Tanaman.33% dan 80%. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. Prijono.220 berturut-turut sebesar 83. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. Kartika. D. Cambridge University Press. Schoonhoven. Yayasan Sarana Wana Jaya. Fakultas Pertanian. Vol 5 No 1 2007. S a l l e h . Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2. 1990. Jermy. 2002. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. M a l a y s i a . Jakarta. T.. 2008. J. M.4. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Cary (NC) : SAS Institute. SAS Institute. Wood Scie. Suharti. Oktober 2010. Prianto. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.com/saip/vaic/R&D/article5. htm. Bogor. Heyne. PROSEA. pada skala lapangan. B. Bogor. IPB.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. E t h n o b o t a n y.. 1 9 9 7 . CB. AH. I.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. S.

Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. Keywords: Landsat ETM satellite images. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan.027 m3/detik. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). . especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. Jl. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . water discharge fluctuation. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. with one hectare increase of forest cover.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. Gunung Batu No.027 m3 /second. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. fluktuasi debit air. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. penggunaan lahan + 221 . Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. Fax. kawasan Puncak. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement. (0251) 8631238. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Puncak area. 5 Bogor 16610 Telp.

Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi.minimum Sungai Ciliwung. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. semak dan sawah. dan 2003. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. Data debit maksimum . Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. serta daerah pemukiman.226 I. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane.2003. 2001. Bogor. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. yaitu Bogor. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. 1997. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. Kesinambungan fungsi Bogor. menyebar terkadang bergerombol. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. hijau tua agak terang. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning.4. diperoleh dari analisa citra. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. PENDAHULUAN II. Oktober 2010. BAHAN DAN METODE A. 2. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. seringkali bercampur dengan pemukiman. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi.7 No. kebun teh dan kebun campuran. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. 221 . Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. B.

semak dan sawah. luas pemukiman (ha). serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum .0.4 – 0. a = 0.005 0. luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3). peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. Namun. adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. begitu juga sebaliknya. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum. Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y). 1997 dan 2001. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).1992). luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen).072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). kebun teh dan kebun campuran. R-Sq (adj) = 99.51 . Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. III. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang. dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. Tabel (Table) 1.05 .108X2 + 0.108 + 0. X2. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003. untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. R-Sq = 99. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen.9% . Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum.000 0.minimum (ΔQ).027 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. Pearson's Product Moment (Walpole.072 p-level 0.000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. Khusus untuk lahan bervegetasi. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1.).Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3.027X1 – 0.2.0. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . Koefisien (Coefficient) .9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga.

00 +1475.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.71 5957.05 20. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah. klimatologi. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004). bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 . yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.002 0.32 -10. tanah dan penggunaan lahan.56 5180.992 +1541. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap.09 +4335.46 +7.812 14.108 m3 /detik.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.13 -1273. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya.79 +8.45 19. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan.82 6. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.70 0.62 -0. 224 .002 meter di atas permukaan laut.61 6454.48 2713.07 3.027 m3/detik. Oktober 2010.79 2003 (ha) 8512.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.55 (%) 59.32 2733. geomorfologi. 221 .11 32. Tabel (Table) 2.3.32 0.96 18.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap.24 -4288.88 25.02 8.23 -6.07 15.48 34. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0.64 14.89 -598.39 445. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit.29 +0.64 6.4. Sementara itu. 2000).66 +23. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau. topografi.91 1171.35 -82. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.08 3484.89 (%) 79.42 1621.64 2879.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.35 28.64 15. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.50 -3.448 +16.45 0.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.89 4733. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi). geologi. serta lerengnya berkisar antara 8 .85 2886.7 No.53 83.35 0.

dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3.2003 cenderung turun. dan kerapatan akar tinggi. Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.46 1.875 3. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa.22 1.98 408.49 242.20 244.20 411.178 3. yaitu sebagai pencegah erosi. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3).71 1.73 293.minimum cenderung meningkat pula. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah. pencegahan banjir dan erosi. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air.68 274.64 199.50 291.426 2. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air.91 244. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum . maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242.25 225 .44 171.51 118. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 .39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air.22 273. Debit Minimum. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal.690 4. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 . baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.98 224. akar serabut panjang. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.45 persen. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan.Seperti halnya dengan hutan. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan.792.22 3. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun.

Jakarta. 1992. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. dan areal pemukiman harus ditekan. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas.108 X2 + 0. Departemen Kehutanan. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan. Pengantar Statistika. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. 2003. Oleh karena itu. Tabel (Table) 4. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. Bogor. R. dan pemukiman dalam hektar.027 X1 . Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.0. Terjemahan.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. 2004. 1999. Bendung Katulampa. Institut Tehnologi Bandung. Gramedia Pustaka Utama.072 X3. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. Tesis. Hardiana. 226 .0. Pratiwi. M. Pasca Sarjana. dengan pola hubungan : Y = 641. X2 . Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. 2004.4 . Walpole. tidak permanen. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. PT. seperti disajikan pada Tabel 4.minimum Sungai Ciliwung. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol. 2000.E. Fakhrudin. Bogor.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. Data debit maksimum . D. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Skripsi. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. IPB. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.