ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

. penyimpanan.. 4.02 selama 8 minggu. apiculata UDC(OXDCF)630*.. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume.7%). VII No. uji hidrogen peroksida : Y = 0.8957x + 6..7977 (r : 91. Penyimpanan propagul secara konvensional. J. uji cepat.. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. . adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1.. 4. pengeringan. R. Persamaan dugaan daya berkecambah.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl. hidrogen peroksida. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung...72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.67%).26% per etmal dan nilai perkecambahan 0.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.9072x + 9. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). namun waktunya relatif lama.. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati.. uji eksisi embrio : Y = 0.9474x + 2 2 10. fisiologis.6%). yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik.. Htn Tnm Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. damar.. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.3975 (r : 90%). kadar air propagul mencapai 31. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.8%) dan uji belah :Y = 0.749 (r : 92. perkecambahan. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat.. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1..0319x + 4. Kata kunci : Biokimia. Htn Tnm Vol. fisiologi. 4... Kata kunci : benih. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. VII No. Pen. akurat dan efisien. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.. Penyimpanan propagul R... Pen. eksisi embrio dan belah. 2 dan 3 minggu.. apiculata (KA awal 54.1285 (r : 92. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). lemak. kemunduran.. protein dan daya hantar listrik. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Sampai pengeringan selama 3 minggu.. VII No. kecepatan berkecambah 0..

. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. hama..... mutu bibit.. kelas mutu bibit. 4..... Mulyana Omon (... Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn.3cm dengan diameter antara (5 mm . 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. Bogor J..1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.71%. Leucopholis rorida F.......JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.... pertumbuhan...... yaitu tinggi antara (50 cm . Kata kunci : cabutan. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.... R.... Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.. Htn Tnm Vol.... sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005.... Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup.... sementara untuk S. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. VII No. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F...89%.. yaitu sebesar 184..8 mm) atau rata-rata sebesar 5.. UDC(OXDCF)630*.... Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Dalam pertumbuhannya.. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. Htn Tnm Vol..63% dan 48.. terutama untuk kayu pertukangan. 4... Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2. Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Pen.. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif.3 %..... Sedangkan serangan hama Z. ...... dan Zeuzera coffeae Nietn. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88.. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2...... VII No.. parvifolia... 4..) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter).... sedangkan.2% dan 3... tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59.....5 m. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Dengan demikian jenis S.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan.... parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu.).8 % and 84. Zeuzera coffeae Nietn... meranti merah.6 cm. VII No.. Pen.. Kalimantan Tengah.

Pen. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0.. pada skala laboratorium...027 m3/detik. 4. Htn Tnm Vol. 4.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Htn Tnm Vol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Dari segi tata air.. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Eurema spp.. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Eurema spp. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+... Pen. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. insektisida nabati... Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. sengon UDC(OXDCF)630*. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Fluktuasi debit air.. VII No.... Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. mortalitas. kawasan Puncak. penggunaan lahan .... dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16.. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum.. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama... Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. 4. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda.. Kata kunci : bintaro. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. VII No. sebesar 90%. Meskipun demikian. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. VII No. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. pada Skala Laboratorium J. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*... perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum.

(0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. penyimpanan. kadar air propagul mencapai 31. apiculata (kadar air awal 54. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. physiology.26 per etmal and germination value 0. lemak. Kata kunci : Biokimia. Rhizophora apiculata. BOX 5 Ciamis 46201 Telp.02 selama 8 minggu. Raya Ciamis-Banjar Km.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods. Penyimpanan propagul secara konvensional.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. kemunduran. Rhizophora apiculata 167 . Penyimpanan propagul R. protein dan daya hantar listrik. propagules moisture content was 31. deterioration. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan.O. 105. 2 and 3 weeks. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. germination rate and germination value.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. Sampai pengeringan selama 3 minggu. Keywords: Biochemistry. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. whereas variables of biochemistry were contents of starch. 4 PO.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. Naskah masuk : 1 Desember 2009 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. pengeringan. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). storing the propagules conventionally. propagules. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. germination rate 0. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. The variables of physiological observation were germination percentage. 2 dan 3 minggu. (0251) 8327768 . fisiologi. fat.02 for 8 weeks. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. desiccation.67%). Up to 3 weeks of desiccation period. protein and leachate conductivity. Storing of R. Bogor 16001 Telp. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1.67%). BOX. kecepatan berkecambah 0. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan).

25 juta hektar. sedimentasi. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut.179 I.. Dourado and Roberts. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim. Oktober 2010. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd. 2006) diperkirakan 6. apiculata. 1970). 168 . Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran.6 juta hektar (1. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. terutama dalam hal kesesuaian jenis.7 No.10% selama proses pematangan. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . 2000). Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi.20%. dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. Umumnya kadar air 6% . kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. Sedangkan menurut Schmidt (2000). 1983).4. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. 1992).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Untuk benih rekalsitran. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. terutama R.. kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. kuantitas dan kualitasnya. 1991. (1989).Anderson. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. apiculata. perubahan laju respirasi. Rhizophora spp.8% cukup untuk penyimpanan yang aman.8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. Menurut Chin et al. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman.4%). menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. perubahan dalam cadangan makanan. peka terhadap radiasi. eksploitasi hutan secara berlebihan. tidak memiliki masa dormansi. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. 1970. 1984. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . Selain itu. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. perubahan dalam membran. tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin. apiculata sebelum disemaikan. dikehendaki kadar air 2% . maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya.. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. 167 .50%). Abdul Baki and Anderson.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . hingga mencapai tingkat yang menghambat. PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R. sangat sensitif terhadap pengeringan.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat). Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. tertundanya perkecambahan. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4.

Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan. daya berkecambah (DB). termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman.25 propagul untuk DB . protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : . sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. apiculata dilakukan di Bali. Lokasi pengumpulan buah R.Fisiologi : kadar air (KA). 1. tanah. Bogor. ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. lemak. oven. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. B2= 4 minggu.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. AC. B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . Pengunduhan propagul R.Biokimia : pati. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. B1=2 minggu.3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Tabel (Table 1). Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. 2.2 propagul untuk KA . Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. B. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. C.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan .Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. B3= 6 minggu. Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). METODOLOGI PENELITIAN A.

Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006). sebelum dimasukkan ke oven... 167 . dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari... Selain variabel fisiologi.. 1985).2. Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. Pada tahap kedua. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih. Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air.4.. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah.Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 .7 No. Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying).. Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit.. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1. daya berkecambah. dan nilai perkecambahan. Bogor. apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm...179 kekuningan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. Sementara itu.. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian.Nn : . total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro.. Oktober 2010. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2. pati. Penyemaian propagul R.. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro). kecepatan berkecambah..5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian.. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul.. E.... Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap... n hari setalah tanam (%) D1. propagul dipotong dan dibelah.. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali)..

2004). Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. apiculata seed) No. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. germination rate and germination value of R.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA). 4. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. 2. Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1).67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan).49** 4. daya berkecambah masih cukup tinggi (86. Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis. kecepatan berkecambah 2.33%. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata.67%) yaitu sebesar 13.19. Daya berkecambah. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). daya berkecambah (DB). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt).67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan. germination percentage. Tabel (Table) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN A. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R.57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Asep Rohandi dan Nurin Widyani III. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. 3. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. 171 . Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. 1. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. apiculata.53* 158. Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. pengeringan propagul R.98** 1.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R.

00 a 97. kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b).08 a 0.38 d NP (germination value) 1. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol. 35% (2 minggu). Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. apiculata seeds at desiccation period a). 4.19 a 0.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2. 2. Oktober 2010. Kandungan biokimia propagul R.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. protein dan daya hantar listrik (DHL). lemak. Viabilitas propagul R. lemak 0. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2). germination rate and germination value of R. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0.34 b 1. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a).30 (3 minggu).71% (2 minggu).64 b 31. Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB).00 a 100.72 c DB (germination percentage) (%) 100.02 a 50.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1.57 a 2. germination percentage. apiculata yang meliputi pati.33 a 86. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.4. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat.87 c 1. 167 .7 No.179 Tabel (Table) 4. . germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati.11 a 0. protein 4. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content.78 a 40. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. Menurut Nkang (1988). apiculata seed) No. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. moisture content and germination percentage and b). apiculata yaitu pati. 3.50% (1 minggu) dan DHL2.

Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih.81 3.29 0. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5.20 2.30 1.87 1.71 0.06 24. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian. apiculata (Contain of carbohydrate.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama.63 4.92 27. 1993 dalam Adimargono. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. Tatipata et al. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan). apiculata seeds) No. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. 1998).1981. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan.46 0. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian.07 0. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. 4. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical.35 24. 3. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. 173 . dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. 1998). yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. Nugroho. 1997). 1993 dalam Adimargono.50 3. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih.24 Protein (protein) (%) 3. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). fat. (2) kondisi kulit benih. 1997).69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. Jumlah kandungan pati.01 Lemak (fat) (%) 0. 2. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. lemak. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik.

51* 2.44* Ket. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.10** 247.39** 72. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29.4. Kandungan pati. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. 167 . fat. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA). germination rate and germination value of R. Tabel (Table) 6.51** 59.95** 54. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. apiculata (contents of carbohydrate.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253.33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA). germination percentage. apiculata seeds) B. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan). Propagul R.30** 339. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R. Pada penyimpanan di ruang AC. Oktober 2010.69** 302.179 Gambar (Figure) 2. Daya Berkecambah (DB). apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 .13** NP (germination value) 3.19* 2. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29.01** 28.7 No. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content.

Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . Sementara itu. Selain dengan parameter daya kecambah. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar.. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). Daya berkecambah. Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. Viabilitas propagul R. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. Kadar air. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. 1994).56%. b). Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. apiculata seed at many storage treatment : a). (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al.33%. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). Moisture content. b) Germination percentage.

Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati.49 0.7 No. Jumlah kandungan pati.17 0. 2.18 Protein (protein) (%) 3. apiculata (Contents of carbohydrate.64 25.24 22.03 28.27 0. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol.14 1. 6.56 3. fat. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R.06 22.50 3. 2 = ruang AC). 7.46 1. apiculata adalah 28.05 2.54 0. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.07 0.54% (ruang kamar selama 10 minggu). 176 . 11. Meskipun demikian. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.84 21. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.31 3.62 Lemak ( fat) (%) 0.46 0. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.44 3. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad. 1 = 2 minggu. Oktober 2010. apiculata seeds ) No.23 0.63 24. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun.59 4.37 0. 4.63 3.39 0.69 3.72 26. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R. lemak 0. 5.07 0.26 0. Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7. 9.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0.27 0.89 1.20 0. 12. 3. Tabel (Table) 7.96 15. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.84 1. lemak. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.55 1.15 3. protein 4.4.87 0. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut.10 0.06% dan meningkat menjadi 28.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).63 3. 1972). 167 . 2 = 4 minggu.34 0.06 25.24 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP).07 4.35 28.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu). 8. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R.96% (ruang kamar selama 10 minggu). apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. 3 = 6 minggu. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2.63 2. 10.56 23.

Berdasarkan hasil penelitian ini. Contribution No 32 . KT : 1. Hodges. Pengaruh Media Simpan. 2002). pasutris Mill. Kandungan biokimia (lemak.A and J. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. Seed chemistry of the 177 . 1983. S.. 1998).N.E. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. identification. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. pati. Seed Vigor Testing Handbook. Deventer.. AOSA. 3. 10: 36 . 1991. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. P. J. 2. C. Final Thesis in Tropical Plant Production. strobus L (Bonner. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31.Anderson. Gomez and E. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. Crop Science.D. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail.08). Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. Y.A. 2000. 1994). Larenstein International Agriculture College.7%. A. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. V. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung.D.7%. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. Kondisi kritis propagul R. Anderson. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. 4. 1970. P. 10:31 . Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. Ti d a k Dipublikasikan. Namun demikian. Gonzales. Fakultas Kehutanan. DB : 86.39 Anggraini. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. 39 hal. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. protein dan daya hantar listik) propagul R. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed.34 Adimargono.. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. and storage. Penyimpanan propagul R. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi.3%. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 1997. Recalcitrant seeds. Skripsi. eliotti Engelm. echinata Mill.4% per etmal dan NP : 0. 1970. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. Oleh karena itu. apiculata sebesar 0.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. 1991) serta E. P. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi..A.D. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain.88p Blanche. Crop Science. P. J.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.

PT. 2003. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. 1984. 2006. 1981. Jakarta.. Wisconsin. 25 p. Stanwood. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. B. 1991. A. Justice. Publ. C. 1997. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. B. Sadjad.). PT. K. Santiwa dan Suwarto. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST. Gramedia Widiasarana Indonesia. 1983. Sudjindro.B. Permasalahan dan Solusinya.M and E. H. 2008.. 1994.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Jakarta. Nkang. Santoso. CSSA Special.15 October 1998. DK-350: Danida Forest Seed Centre. Kualalumpur. Malaysia. T. orthodox seeds. New Orleans. Jurusan Manajemen Hutan IPB. Pammenter. Lauridsen. Z. Chin. 1989. B. In: Seed Moisture. China. Diakses tanggal 3 September 2008. Jakarta. Bogor. E. 1988. Setiawan. Madison. Berjak. Hindra. Skripsi. 167 . B. 13. Tidak dipublikasikan. Nugroho. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP). N. 1993. 1992. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P.37 No. 1985. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Progress in Seed Research. 1990. d e p h u t . S. http://uripsantoso. A. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. A. Switzerland. Diakses tanggal 3 September 2008.wordpress. Scholer. F. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. Mugnisjah.pdf. 3:949952.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. P. Pian. Seed Science and Technology 16: 247-260. United States Departement of Agriculture. Pedoman Teknologi Benih. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Tidak dipublikasikan. Srinivasan.G and Xue Lin Huang (eds).Switzerland. A. Fakultas Kehutanan. Crop Science Society ofAmerica.. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. 2000.O. W. F. 178 . Hutan Mangrove.7 No.4. A. Pengaruh Media Simpan. 1972.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. and S. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. Schmidt. A. Jakarta. Dari Benih Kepada Benih. IPB. USA. dan Louis. Institut Pertanian Bogor. 8303 Bassersdorf.R. Louisiana. Annals of Botany Company 54: 767 . Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. ISTA. Bass. O. Seed Moisture: Recalcitrant vs. Q. Bonner.778. Seed Science and Technology. g o . 2006. International Rules for Seed Testing. Krishnapillay. C. Tidak Dipublikasikan. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. U. Oktober 2010. Chromosome alterations in stored seeds. Byrd. 1994. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. McDonald.H Roberts. Eds. Bogor. Zurich.T. C. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. CH . Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds. H. h t t p : / / w w w. 59 hal. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Skripsi. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. Stanwood and N. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. In Tailor. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. A. 14. Girija. Handayani. L. . Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. N. L. Raja Grafindo Persada. No. Pembimbing Massa. Dourado. Olesen and E. Box 308. Vol.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. Rajawali Pers. 1998. Bogor. ISTA.W and P. Disertasi Program Pasca Sarjana. Ph. 1998. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. PT.

. A. Yogyakarta. Enok. D. 179 . Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. A. 2004. Tatipata. 2002. Prapto Yudono. 11 No.. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. BPPTP. LHP No. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan.K. Tidak dipublikasikan. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 2. Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. R. Adang M dan Endang I. 375.. Bogor. 2004 : 76-87. Naning Y..Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.

749 (r : 92. hydrogen peroxide test. but it takes time.. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. peti kemas. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test).9474x + 10. Persamaan dugaan daya berkecambah. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. cheaper and better accuracy.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. fisiologis. Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung)./Fax.8%) dan cutting test:Y = 0. Sulawesi dan Irian Jaya. damar kapas. damar.7%). Bangka. damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan.3975 (r : 90%). H.0319x + 4. damar. venir. ki damar (Sunda).8957x + 6. Keywords: dammar. exicion embryo test and cutting test. rapid test. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera. namun waktunya relatif lama.7977 (r : 91. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb. adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1. uji hidrogen peroksida : Y = 0.1285 (r : 92. tangkai korek api. Palembang Telp.e. 6.7%). mebel.9072x + 9. damar putih. physiological. Burlian Km. tetrazolium test: Y= 2 2 1. The equation of determination of dammar's germination capacity i. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.6%).co.6%).1285 (r : 92. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl.id Naskah masuk : 5 Maret 2010. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test. Kol. Kata kunci : benih.9072x + 9. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. 1981). Maluku Kalimantan. eksisi embrio dan belah.3975 (r : 90%). Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. akurat dan efisien. damar wana (Sulawesi). kayu lapis.9474x + 10. excision embryo 2 2 test: Y = 0. damar pilau (Dayak).0319x + 4. hydrogen peroxide test: Y = 0.5 Puntikayu PO.. 179. kayu sigi (Sumatera). yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test).7977 (r : 91. uji cepat I. BOX. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak.8957x + 6. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. ki damar (Jawa).8%) dan uji belah :Y = 0. Kondisi 181 . sinonim: damar sigi. germination. pensil. hidrogen peroksida. perkecambahan. Box 105 Bogor Telp.749 (r : 92. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al. pulp.

18%) waktu pengujian selama 1. dilakukan di germinator. keterbatasan jumlah benih. A.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4.38 dan 31.2H2O. alat pengaduk. 2005). bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%. misalnya. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung.7 No. eksisi embrio dan belah. hidrogen peroksida (r2: 90.3. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji. gunting kuku. 2000). B. Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap.5 jam. eksisi embrio (r2: 81. Oktober 2010.4. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. 1. natrium hipoklorit. gelas piala. 2009). permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. benih disusun beraturan. etanol 70%.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. pinset. saringan. benih dikecambahkan pada kondisi ideal. Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. hidrogen peroksida. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal.2H2O sebanyak 11.triphenil tetrazolium chlorida ). Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%).42%) selama 1 jam.3 menit (v) benih 182 . KH2PO4. (1996). kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal.79% (DBawal = 63.8 C). alat semprot tangan dan kaca pembesar. 1990). oven. Uji cepat tetrazolium 1.5. TZ 1%: garam tetrazolium (2.04%) selama 7 hari. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah.5%: garam tetrazolium (2. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 . 1.1. lembaran plastik dan aluminium foil. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. silet. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt.00%) (Sagala dan Endah. disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. kertas merang.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v).3. Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung.3. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.2. Alat-alat: cawan petri. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45. garam tetrazolium (2. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). TZ 0. Prosedur Pengujian 1. Menurut Bonner et al. 181 . pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. II.3. Na2HPO4.

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996). nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. hidrogen peroksida. segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. hidrogen peroksida. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja. 2007). eksisi embrio dan belah. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92. masing-masing sebesar 91. Perbedaan 3 .6% dan 90%. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari. 2009). hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. layu dan busuk. sedangkan oven.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. Oktober 2010.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar.7 No. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal.4. sedangkan metode tetrazolium.7%). eksisi embrio dan belah. kering. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. 186 . excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. hydrogen peroxide. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. 6. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium.8%) dan uji hidrogen peroksida (92. 6 dan 2 hari. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. masing-masing selama 2. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. 181 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4.00 47 ± 11.16 65 ± 10.9 91 ± 8.00 76 ± 7. t table/table 0.447.40 0.65 1.63 0. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.01: 3.08 0.96 0.0 55 ± 3.10 55 ± 6. tetrazolium.24 0.25 87 ± 6.45 0.53 2.5o 51 ± 10.83 75 ± 6. t table/table 0.83 40 ± 10.00 0.16 49 ± 6.32 1.59 1.00 96 ± 5.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage). eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.83 40 ± 7. uji tetrazolium.27 80 ± 11.30 48 ± 3.00 0. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium. hidrogen peroksida.27 1.16 54 ± 5.05: 2. uji hidrogen peroksida.85 2.66 82 ± 5.23 2.00 96 ± 3.69 1. excision embryo and cutting test 187 .60 1.83 87 ± 6.13 0.78 0.63 0.30 1.33 40 ± 3.3 thit thit 98 ± 4. hydrogen peroxide.50 42 ± 8.00 74 ± 5.83 58 ± 4. hydrogen peroxide.00 55 ± 10. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.00 1.00 97 ± 3.33 0.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.00 98 ± 4.81 2.27 46 ± 8. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.

9072x + 9.B.A. Jakarta. dan Soewanda A.9474x + 10. KESIMPULAN 1. New Orleans Louisiana.8957x + 6. 2. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. 1994. Leubner. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan.0319x + 4.7 No. Oktober 2010. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 0702-9861. 2006. 1984. hidrogen peroksida.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. Kosasih. Bonner F. Ministry of Forest Land Research Branch. 2000. Tree Seed Technology Training Course. A. Iding K. K. 1981. Leadem. Quick test for tree seed viability. General technical report SO 106. The Seed Biology Place. 181 .28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. Martawijaya.749 r2 = 9. Management report No.7977 r2 = 9.L.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. 2007. Instructors Manual. B. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. L. Elam W. 18. G. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi). Schmitd.C. Departemen Kehutanan.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. Southern forest experiment station.W and Land S. Jakarta. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). Vozzo J. Atlas kayu 188 .1285 r2 = 9.T. ISSN.4.P. Hydrotime: Population based threshold germination model. US Department of agriculture. C. DAFTAR PUSTAKA Anonimous.

1990. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.R. Zanzibar. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. 2009. Bogor Steel.45. 2003. 2005. status pendekatan biometrik (Terjemahan). H. Zanzibar. Bogor. M. Jurnal Standardisasi. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Balai Teknologi Perbenihan. Gramedia. Sagala. dan James H. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. M. Bogor Zanzibar. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. perlakuan asam propionat. Departemen Kehutanan. Y. Balai Teknologi Perbenihan. dan Endah S. dan Nanang. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan.D. M. Laporan uji coba NO. Zanzibar. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . J. Jilid I. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). Badan Penelitian dan Pengembangan. 189 . PT.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. 97. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Badan Penelitian dan Pengembangan. Prinsip dan prosedur statistika. T. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. Jakarta. R. dan Naning.G. M. Pengaruh kadar air awal. Direktorat Jenderal Kehutanan. Bogor. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. 1991. Departemen Kehutanan. 1996.

wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati. species. red meranti. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. S. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . Keywords: Growth.400 bibit. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. diameter and value strength.5 m spacing. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. Kalimantan Tengah. respectively).5 m.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. The results showed that species.8% and 84.1-1999) before planting in the field that is quality class of height.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. Therefore S. seedling quality class. Meanwhile. However. The growth of height was significantly affected by block. The total numbers of plants observed were 2400 plants. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Box 105 Bogor Telp. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . The survival. Centre Kalimantan R.3%. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. mutu bibit. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. interaction between species and seedling quality. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. sedangkan. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter).

206 Ha. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. yaitu faktor dalam dan faktor luar.1-1999). penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono. Propinsi Kalimantan Tengah.3cm dengan diameter antara (5 . kelembaban udara. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88.6 cm. parvifolia. meranti merah. macrophylla sebesar 1. 2007). jenis medium bibit. Kabupaten Seruyan.2 cm/tahun dan S.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. hama.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. B. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. 191 . Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005.000.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. mikoriza. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun.1 cm/th. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. luas 184. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. Kata kunci : cabutan.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993). Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. pupuk.3 %. Dengan demikian jenis S.8 mm) atau ratarata sebesar 5. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat. Faktor dalam diantaranya asal benih.8 cm/th. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. platyclados sebesar 2. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. cahaya. yaitu sebesar 184. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. johorensis sebesar 2.4. Faktor luar yang penting antara lain air. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. agar tegakan yang dihasilkan baik. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. II. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. pertumbuhan I. 2000).6 cm/th. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. konsentrasi karbon dioksida. Oktober 2010. kelas mutu bibit. oksigen.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri.8 % and 84. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. S. parvifolia sebesar 2. sementara untuk S. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. S. suhu.5 cm/th. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul.7 No. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. S. yaitu tinggi antara (50 . BAHAN DAN METODE A.

kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3).8 – 12.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. C. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. yaitu lebar jalur 3 meter. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2.0 – 8. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. leprosula (A1) dan S. kaliper. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005.0 < - - D. Cabutan diambil di sekitar pohon plus. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. 193 .5 × 20 × 2. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. Diameter (diameter) 4.000 m2 atau seluas 12 ha. Pucuk / akar (top root ratio) 6. mistar dan kamera.9 mm 8.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya.400 = 120. Luas areal penanaman adalah 2. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil). sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. C. Tinggi (height) 3.0 mm 6. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. Kekompakan media ( media compaction) 2. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3. parvifolia (A2). sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m.400 bibit. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.5 m.3 – 10. Bahan danAlat Penelitian 1.0 – 4. leprosula dan S. seperti disajikan pada Tabel 1. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. pemasangan ajir. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit.5 m. Tabel (Table) 1. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1). yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4.0 mm. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman.

8 a I 79. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3. 1975). kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. 191 .8 a IV 74. E. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar. Pengumpulan Data 1.4. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh). Parameter yang diamati adalah tinggi.7 No. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 b III 90. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. Tabel (Table) 2. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm).5 b II 88.5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper.7 b II 96. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis.8 ab III 80. 2. Oktober 2010. mutu bibit. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87.6 80. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan.199 E. Daniel et al. diameter dan persen hidup tanaman.8 c Rataan Rataan 90. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran.2 a I 88. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.

Oleh karena itu untuk jenis S.100% untuk tingkat pancang. Tabel (Table) 3. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua.2 % setelah satu tahun ditanam. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik.1 % dan 76. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. yaitu intensitas cahaya. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. tanah dan faktor biotis. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka. B. lantai hutan. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. blok III sebesar 80. Untuk pertumbuhan diameter. terlihat lingkungannya di kedua 195 . tanaman pesaing. Mulyana Omon penanaman. 82. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana.3 %.6 cm.8 % dibandingkan blok I sebesar 79. dikarenakan pada waktu penanaman. 177. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 . iklim mikro. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . leprosula dan S. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter.8 %.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).6 cm dan 2.3 cm dan 165. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. 1993).7% dan blok IV sebesar 74.7 cm. Untuk diameter masing-masing sebesar 2. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan.8 cm.

2 cm dan 224. parvifolia dari mutu bibit tiga. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). lingkungan dan teknik silvikultur.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S.2 a II 47. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).4 c 0. Tabel (Table) 4 .4. 191 . A2 = S.7 b 2. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.7 a 165.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). 196 . akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua. leprosula dan S.3 b 179.6 c 2.0 a 2. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya. 2007).8 b 177. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya.3 a III 55.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162.7 No. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221.8 a 0. yaitu sebesar 184.6 cm. yaitu faktor keturunan (genetik). leprosula. Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42.3 b 2. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three).6 cm (Soekotjo.2 bc 0. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. leprosula dari mutu bibit tiga dan S.4 c IV 58.6 ab 0.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). parvifolia. Oktober 2010.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.199 blok hampir sama. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141.

1-1999).8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9.6 4.08% 65.7 untuk jenis S. leprosula sebesar 9.5 % utuh 9. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.75% B2 utuh 9.6 2.6 dan untuk S.1 2.7 % 65.6 4. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian. parvifolia diikatakan cukup baik. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .62% B3 Utuh 9.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.6 65.8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu.1-1999).5 65. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya.10. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005.8 3. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan.2 57. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6. Mulyana Omon C. yaitu nilai kekokohan. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S. Tabel (Table) 6. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.7 65.5 dalam katogari yang baik. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S.3 . nisbah tinggi dan akar (top root ratio). leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S.1 % utuh 10. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).6 % 59.4 59. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4.7 62.7 % utuh 10. Kekokohan bibit. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam.5 3.

dan F. Oktober 2010. Hendromomo. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. Prinsip-prinsip silvikultur. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya.H.T. IV.H dan J. 5. Jayusman. 2005.61 cm. Yogyakarta. IPB. Jakarta.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. J. Malaysia. 198 . 42. Bogor. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. khususnya dari jenis S. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak. The Tropenbos Foundation. bagian pertama. yang masing-masing 10. 2. 1975. B.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. F. Kuala Lumpur. Verhandelingen No. leprosula dan S.6 cm.8 %. 3.7 No. parvifolia.. Kesimpulan 1.3 % dan 88. S.4. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Wana Benih Vol. Badan Litbang Kehutanan. 7 No. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). The Netherlands. 2007. 78 h. Tidak diterbitkan. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. FORSPA Publication 8. yaitu sebesar 184. leprosula dan S. Fakultas Kehutanan.7 %.6 dan 4.S. Schmidt. 1979. Bagian Perentjanaan Hutan. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. 1951. T. Priadjati. Tr o p e n b o s International. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). Mok. 1. H. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . Ferguson. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. 1993. Yogyakarta.A. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. sehingga akar bibit tidak rusak. Departemen Kehutanan. A. Helms. KESIMPULAN DAN SARAN A. Wageningen. Haeruman. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Baker. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. Departemen Mangemen Hutan. 2003. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. 4. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. yaitu sebesar 2. 191 . Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Prosedur analisa rancangan percobaan. Gadjah Mada University Press.W.

and J. September 2007. Soekotjo. 2007.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. dan Shorea balangeran (Korth. Applied forest tree improvement. Vol. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. dan Y. 2007. Kalimantan Timur. Departemen Kehutanan. 1 No. New York.Inc. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. B. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. 199 . Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Mitikauji. Zobel. 2000. Badan Standardisasi National. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. John Wiley and Sons. Samarinda. I. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq.11999. Jakarta. Samarinda. Yassir. Talbert. Jakarta Schmidt. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. 1984. L. 1.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin.

Zeuzera coffeae Nietn. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. Zeuzera coffeae Nietn. H.. terutama untuk kayu 201 . BOX.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. Burlian Km. it was often attacked by several pests that caused seriously damages.89%. Leucopholis rorida F. terutama untuk kayu pertukangan. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN.2% dan 3. 6. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. The highest damage caused by L.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Beside this.71%.89% respectively. the highest damage caused by Z.co.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. Sedangkan serangan hama Z. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor.). baik kualitas maupun kuantitasnya. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. Bogor Agricultural University. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn.).id Naskah masuk : 21 September 2009 .) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. Dalam sistem silvikultur intensif. and Zeuzera coffeae Nietn. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Palembang Telp. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas.5 years old) with attack and damage intensity of 77.. rorida was recorded on plot I (teak was 2.63% and 48. I./Fax. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5. dan Zeuzera coffeae Nietn. Jati (Tectona grandis Linn.71% respectively. In growing period. 179. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. pests.2% and 3.63% dan 48. Dalam pertumbuhannya. Kol. Leucopholis rorida F. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. hama.5 Puntikayu PO. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.

16 bulan (petak II dan III). tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. etanol.185 pertukangan. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Oktober 2010. Berdasarkan pengamatan awal. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). Hama penggerek batang. alat tulis dan kamera. rumus yang digunakan adalah: II. Hiblaea puera Cr. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. 1. dan Leucopholis rorida F. (menyerang leher akar) (Suratmo.4.7 No. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. dan Pyrausta machaeralis Wills. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. (menyerang batang). Bogor Jawa Barat. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). 202 . B. jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. D. C. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . 1979 dalam Rahardjo. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. b. Dalam pertumbuhannya. tabung bekas film. pilok. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. tali rafia dan kapas.Oktober 2000. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. dan Monochamus rusticator Fab. (menyerang akar). kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. dan Neotermes tectonae Damm.5 tahun (petak I). Duomitus ceramicus Wlk. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. inventarisasi inang terserang. meliputi: a. golok. METODOLOGI A. 1989). Captotermes curvignatus Hciver. 177 . Hama perusak akar. Bogor.

1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin.1 – 6 m b. 6. 1.5 m 1. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1.5 m 0. 4. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2.6 – 1 m 1. 3. 5. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0.6 – 2 m 2. 2.1 – 1. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 . Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2. 1979 dalam Winaryati. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2.1 – 4 m 4.

2000). tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm.5 tahun) sebesar 48. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. Uret. Kondisi akar yang terserang uret L. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah.27 buah. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah.) yang berbeda. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. terutama segera setelah hujan pertama turun. HASIL DAN PEMBAHASAN A.7 No. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. banyaknya borstel tiap baris 15 . biasanya pada kedalaman 17 . 2000). 1. pangkal antena dan pro-.agak berat. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. meso.185 III. Identifikasi Jenis Hama.35 cm. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. berwarna putih kekuningan.50 cm. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 .4. f a m i l i Melolonthidae). Leucopholis rorida F. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). 177 . gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. Berdasarkan pengamatan di lapangan. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. 1981). Oktober 2010. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. bahkan sampai kedalaman 40 . Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. 1984).89% dan termasuk kategori agak berat. Sukabumi. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . ( o rd o C o l e o p t e r a . borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. subordo Lamellicornia. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. famili Cossidae). Pada tanaman jati berumur 2. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. 1973). Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. Kumbang L. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. ( ordo Lepidoptera.

rorida (L. (c).Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. (b).89 29. rorida on teak trees : (a).63 51. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. Kumbang L. disebut penggerek cabang merah. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. Hama uret Leucopholis rorida F. Root condition of teak attacked by L. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. pada tanaman jati: (a). Gejala serangan. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. 2000). sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. (c) L. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L.18 42. rorida. Attack symptoms. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur.20 2. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77. rorida beetles) Tabel (Table) 3. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. Zeuzera coffeae Nietn. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. rorida.95 21. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. (b). rorida. b a c Gambar (Figure) 1.

Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sedangkan segmen ke 8. Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps. 177 . Imagonya berupa ngengat berwarna putih. Metamorfose of Z. Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. Gambar Z.4. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. coffeae mulai dari stadia larva. pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 .5 bulan. coffeae mulai dari larva. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. coffeae) pada tanaman jati: (a). Gejala serangan. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. (c).45 mm. pupanya 21 . stadium telurnya berlangsung 12 hari. (c). Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. Siklus hidup Z.56 hari. Oktober 2010. a b c Gambar (Figure) 2.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. (b). coffeae) on teak trees: (a).185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. Attack symptoms. bagian pertama sepanjang 1 . perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati.5 mm (Husaeni. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2. 206 . larva 53 . Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z.7 No. Metamorfosis hama Z. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 .28 hari dan ngengatnya 5 . Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat.11 hari (Husaeni. Hama penggerek batang (Z. kepalanya berwarna coklat.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah. pupa dan imago (Stem borrer (Z. coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. 2000).5 cm. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. (b). Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit.5. pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. coffeae consist larva. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . 2000).

terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Kerusakan akibat serangan Z. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. Berdasarkan pengamatan di lapangan.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. batang menjadi bengkok dan berlubang. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. B. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z.013 1. coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur.71 0. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. b.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Pengurangan populasi kumbang. Walaupun serangan Z. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih). Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation.22 0. jika penanganannya kurang hati-hati. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). c. L. Pengendalian Leucopholis rorida F. coffea. Upaya Pengendalian 1. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.

Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. 167. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. 2. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. 1984. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. D. B. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. misalnya furadan (Tini dan Khairul.63% dan 48.4. and J. Fakultas Kehutanan. New York.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. IV. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. Serangan hama Z. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. S. Laporan No. Oktober 2010. Bogor. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. A. Intari. 1973. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. d. Natawiria. 1981. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. Forest Entomology. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. BKPH Cikaung. 201 . tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. Institut Pertanian Bogor. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . 1989. 2002). Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. KPH Sukabumi. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. E. Institut Pertanian Bogor. N. Willey Intersci. Witter. E.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya. Husaeni. Fakultas Kehutanan. Harsono. Publ. P. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis. R.71%. Imago Z. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. Rahardjo.5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. Bogor. (serangga perusak pucuk dan cabang). LPH. dan D. Bogor. 2000. E. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. Ecology and Management. A. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat.89%.7 No.2% dan 3. coffeae. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. DAFTAR PUSTAKA Coulson. 2002).) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf.

Skripsi Jurusan Manajemen. Palembang. Winarto. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. Bogor. Hutan Fakultas Kehutanan. B. 1997. Jakarta. 27 . Nia dan K. Institut Pertanian Bogor. Tini. Winaryati. 2002. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. Fakultas Kehutanan. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja.29 Oktober 1997. Studi Keragaman Gejala. 1984. Palembang. Bogor. Morfologi. Agro Media Pustaka. A.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Amri. Institut Pertanian Bogor. KPH Kendal).) di BKPH Boto KPH Randublatung. 209 . Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan.

Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan.. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti. Eurema spp. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. insektisida nabati. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.5 Puntikayu Po. 1991). Kata kunci : bintaro. Pada tanaman sengon. There are some techniques to control Eurema spp. Palembang Telp. is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Eurema spp. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria)./Fax. Burlian KM 6. dan turi (Sesbania grandiflora). Eurema spp. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp.. and successful making of pupa and imago are 16. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. mortality procentage is 90%.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp. jengkol (Pithecelobium jiringa). PENDAHULUAN A. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. Latar Belakang Eurema spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Selain tanaman sengon. in laboratory. mortalitas. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Box 179.67% and need 1.) Insecticide on Eurema spp. sengon I.7 long days than control treatment. Eurema spp.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . Kol. merupakan hama utama yang menyerang tanaman. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Keywords: bintaro. mortality. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Eurema spp. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. Eurema spp. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development.).7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. biopesticide. jayanti (Sesbania sesban). Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. johar (Cassia siamea). pada skala laboratorium. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. sebesar 90%.

Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. diantaranya terjadi resistensi hama. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. Setelah pelarutnya menguap. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar.5%.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. sangat kecil. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. Korea. Serangga hama Eurema spp.4. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. dan tidak ramah lingkungan. daging buah. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. kemudian direndam. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji.7 No. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. langsung digunakan sebagai serangga uji. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. dengan menggunakan insektisida kimia. Bogor. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. resurgensi hama. Larva yang diperoleh dari lapangan. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2.1%) dengan perbandingan 1 : 1. taman-taman. Jepang. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. B. 2.220 penyebaran yang sangat luas. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. dari bulanAgustus hingga September 2009. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. sampai ke pulau-pulau Pasifik. B. Asia Tenggara. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. Pemberian pakan II. 4. 0.125%. Bogor. 0. 3. 212 . ledakan hama sekunder. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Australia. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. BAHAN DAN METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. mulai dari Afrika. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. Eksplorasi Hama Eurema spp. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. 211 . Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. pada skala laboratorium. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. dan daun bintaro.). perlu diteliti. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. Tiongkok.25%. Metode Penelitian 1. Selain itu Tarmadi et al. Oktober 2010.

Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%. Kematian larva diamati selama 7 HSP.80%. 7) tidak aktif : m < 5%. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP). Disamping jenis ekstrak. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. III.33% . konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. mortalitas larva paling besar. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak.67% . dan 36.90%. HASIL DAN PEMBAHASAN A. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat.1. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6.83. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam. Dari tiga jenis ekstrak bintaro. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). 213 . 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Larva yang mengalami kematian.67% . Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak. Ekstrak biji. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan.33%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. 33. daging buah. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. Hasil Penelitian 1. Pada 1 HSP. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. 2. dan lama kelamaan mengecil.33% 20%. Pada konsentrasi terendah. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. lunak. tubuhnya kaku.

Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya. ekstrak biji bintaro 1.67 c 53.5 83.33 d 56.4. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp.00 a 0.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.67 b 43.67 c 36. 214 . 211 .00 d 83.33 bc 0.220 Tabel (Table) 1. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.125 36.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.33 d 80. Mortalitas Eurema spp.33 c 1 90.8 dan 4.67 b 0.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2). The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.7 No.25 56.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp. Berdasarkan nilai Lc50.67 b 33.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.00 a 0. Sedangkan berdasarkan nilai LC95. Oktober 2010.33 b 36.7 dan 1. ekstrak biji bintaro 2.00 a 0. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.

selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. Mortalitas Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 .

25 0. Oktober 2010.00 b 52.78%. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Namun pada konsentrasi tertinggi.205-0.52 ± 0. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp. Adapun pupa Eurema spp. b = kemiringan regresi probit. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.67 b 41.360 (0. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.76 ± 0.00 a 100. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. 4.476) a = intersep regresi probit.23 ± 0.7 No.273) 3.62 b 45.480) 0.78 b 50. sedangkan ekstrak daging buah.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.56 b 47. dan 6. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.20 b ± GBa) 1.189 (0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Pada konsentrasi terendah. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.56% dan 47. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.953) 6.92 ± 0.38 b 47.220 Tabel (Table) 2. α = 5%) 216 . 5. b = slope of probit regression.33% dan 27.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1.297 (0.161-0.49 ab 55.39 ± 0.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55.62%. 211 .315 (0. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33.41 1. GB = galat baku. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp. 115 –0.67 b 16.67 b 33.653-34.00 a 100. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk.00 a 63.25 0.453 (2.37 1.096-349.67%.33 b 27. GB = standart deviation.125 0.49%.783 (1.21 0. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.65 ± 0. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp.463) 0. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp. SK = confidence interval) 1.4. Tabel (Table) 3.00 ab 46.813– 4. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.

Tabel (Table) 5.56 a 38. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.44 a 16. Pada konsentrasi 0. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12.25 0.00 a 41. Tabel (Table) 4.25 13. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33.0 bc 12. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.7 ab 1 13.3 ab 0.67 b 36.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.33 b 38.125 12. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa.3 b 13. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro.125%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp. α = 5%) 217 .00 a 100.0 a 12.0 a 12. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1.3 ab 12.89 b 50. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa.89 b 38.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.67% saja imago yang terbentuk. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.00 a 33.7 ab 12. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.3 ab 0. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.89 b 44. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.3 a 12.7 c 13.5 13. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.3 c 12.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.11 b 56.33 b 33.125 0.33%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Pada konsentrasi 1%. Secara umum. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago.0 a 12.00 a 100.67 b 33.0 a 0.

daging buah. Tabel (Table) 6. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan.25 0. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder.3 a 6. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus.7 a 7. 2008).5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp. daun dan buahnya mengandung polifenol. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.0 a 6.0 a 6.0 a 6. 2008).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Pada konsentrasi 0.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago.0 ab 6.3 a 6. 1998). asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid. 2008).7 b 6. 211 .7 ab 7. ekstrak biji bintaro memerlukan 1. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat.7 No. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. α = 5%) B. Pada konsentrasi tertinggi. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono.0 a 6. (Tabel 6).125 0.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. 2008). Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp.3 a 6. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro. 218 . tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. yaitu ekstrak biji.4.7 ab 7. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan.0 a 6. Oktober 2010. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin . Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.0 a 6. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago.

sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. IV. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Disamping menyebabkan mortalitas. daging buah. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. Mortalitas larva Eurema spp. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. dan daunnya. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. baik biji. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. 2008). Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. KESIMPULAN DAN SARAN A. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang.

1991. Trop. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Cambridge University Press.4. Indonesia. Bul HPT 10 : 1-7. 2002. Insektisida Nabati : Prinsip. S. Vol 5 No 1 2007. Oktober 2010. D. D.33% dan 80%. Prijono. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. borneofocus. K. Suharti. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. 409p. J. Cary (NC) : SAS Institute. Version 6. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Jermy. Heyne. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Wana Jaya. S a l l e h . M. Penerjemah. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama.com/saip/vaic/R&D/article5. pada skala lapangan. Tarmadi. JJA.. Wood Scie. Prijono. LM.220 berturut-turut sebesar 83. Vol. Bogor. Fakultas Pertanian. h t t p : / / w w w. Schoonhoven. U K M . Departemen Proteksi Tanaman. Tomlinson. htm. SAS Institute. Prianto.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. The Botany of Mangroves. 1998. 2. SAS/STAT User's Guide. E t h n o b o t a n y. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. Jakarta. 220 . dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. IPB. PROSEA. Guswenrivo. Chapman & Hall.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. 1998. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. M a l a y s i a . Van Loon. 1986.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. Cambridge. 1987. 2007. 1990. 211 . Eth ed. Kartika. 2008. T. Pemanfaatan dan Pengembangan. Bogor. & Tech. T. London. Bogor. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae).. I. Yusuf. D. 1 9 9 7 . Departemen Kehutanan. PROSEA. AH. B. CB.) NIELSEN. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1.7 No.

Kata kunci : citra satelit landsat ETM .027 m3 /second. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. Keywords: Landsat ETM satellite images. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. kawasan Puncak. fluktuasi debit air. Gunung Batu No. 5 Bogor 16610 Telp. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. penggunaan lahan + 221 . with one hectare increase of forest cover. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. water discharge fluctuation. The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. . (0251) 8631238. Fax. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Jl. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Puncak area. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis.027 m3/detik. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement.

dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. Kesinambungan fungsi Bogor. Oktober 2010. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. 2. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. dan 2003. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. serta daerah pemukiman. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. B. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. seringkali bercampur dengan pemukiman. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. diperoleh dari analisa citra. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi.4. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. 1997. semak dan sawah. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. 221 . data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Data debit maksimum . dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS.2003. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. menyebar terkadang bergerombol. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis.minimum Sungai Ciliwung. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. 2001. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. kebun teh dan kebun campuran. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. yaitu Bogor. Bogor. hijau tua agak terang. BAHAN DAN METODE A. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan.226 I.7 No. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. PENDAHULUAN II.

). Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1. dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641.05 .072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1). a = 0. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . Khusus untuk lahan bervegetasi. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga. kebun teh dan kebun campuran.0. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen).027 .108 + 0. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang.027X1 – 0. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. R-Sq = 99.51 . luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. Lahan bervegetasi permanen adalah hutan.2.072 p-level 0. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi.108X2 + 0.005 0. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. Koefisien (Coefficient) .1992). yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan.9% . R-Sq (adj) = 99.minimum (ΔQ). Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. luas pemukiman (ha). begitu juga sebaliknya.000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum. luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3). untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. 1997 dan 2001.000 0. Pearson's Product Moment (Walpole. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum .05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y). X2.4 – 0. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum. Namun.9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.0. semak dan sawah. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum. III. Tabel (Table) 1.

108 m3 /detik.42 1621.79 2003 (ha) 8512.29 +0.32 2733.64 14. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau.45 0.62 -0.32 0. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi. Oktober 2010. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS. geologi.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.50 -3.3.39 445. Tabel (Table) 2. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.48 34. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.96 18.027 m3/detik. Sementara itu.64 6.02 8.812 14.45 19. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran.08 3484.91 1171.85 2886.35 -82. 2000).13 -1273. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah.70 0. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi). 224 .28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.61 6454. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 . Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.46 +7. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.002 meter di atas permukaan laut. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004). topografi. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.79 +8.35 28.32 -10.00 +1475.07 15.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0.66 +23.53 83.64 2879.05 20.64 15.88 25.89 -598.89 4733.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.07 3.82 6. serta lerengnya berkisar antara 8 . 221 . klimatologi.55 (%) 59. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit.89 (%) 79. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.09 +4335.11 32. geomorfologi.23 -6.002 0.7 No.71 5957.24 -4288.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.35 0.56 5180.992 +1541. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan.48 2713.4.448 +16. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap. tanah dan penggunaan lahan.

Seperti halnya dengan hutan. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun.22 3.51 118. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242. akar serabut panjang. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air.45 persen. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah.71 1. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa.minimum cenderung meningkat pula.426 2.44 171. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. pencegahan banjir dan erosi. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya.20 411. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum.49 242.875 3.178 3.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan.91 244. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat. Debit Minimum. yaitu sebagai pencegah erosi.792.98 408.46 1. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.68 274.98 224.50 291.25 225 . namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum . maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa.20 244.22 1. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 .64 199. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 .2003 cenderung turun.22 273.690 4. dan kerapatan akar tinggi. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.73 293. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1.

Bogor. M. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. Oleh karena itu.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. 1999. 2004.108 X2 + 0.027 X1 . X2 . Pratiwi. Fakhrudin. Hardiana.minimum Sungai Ciliwung. Gramedia Pustaka Utama. dan pemukiman dalam hektar. Bendung Katulampa. 2004. Pengantar Statistika. Departemen Kehutanan. 2000. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1.0. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Jakarta.072 X3. 2003. Bogor. Tabel (Table) 4. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. dan areal pemukiman harus ditekan. Walpole. 1992. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan.0. 226 . Data debit maksimum . KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. PT. seperti disajikan pada Tabel 4. R. Tesis. Skripsi. D. Pasca Sarjana. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. dengan pola hubungan : Y = 641.E. Institut Tehnologi Bandung. IPB. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. tidak permanen.4 . Terjemahan. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful