ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah.02 selama 8 minggu. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan... fisiologis. damar.0319x + 4. 4. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. VII No..7%).. hidrogen peroksida.. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik.3975 (r : 90%). Persamaan dugaan daya berkecambah.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung...6%).. Htn Tnm Vol.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. uji eksisi embrio : Y = 0.9072x + 9. Sampai pengeringan selama 3 minggu...9474x + 2 2 10.1285 (r : 92.... R.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.7977 (r : 91. VII No. 2 dan 3 minggu. . 4. penyimpanan. J. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. uji cepat.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Kata kunci : benih. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan.. akurat dan efisien. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl. Penyimpanan propagul R.. fisiologi. lemak. pengeringan. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. protein dan daya hantar listrik. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. kecepatan berkecambah 0..749 (r : 92... VII No. apiculata (KA awal 54. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. Penyimpanan propagul secara konvensional... 4.8957x + 6. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).67%). Pen.. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1.8%) dan uji belah :Y = 0. perkecambahan. apiculata UDC(OXDCF)630*. Htn Tnm Vol. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. eksisi embrio dan belah. kadar air propagul mencapai 31. Kata kunci : Biokimia. kemunduran. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. namun waktunya relatif lama. Pen. uji hidrogen peroksida : Y = 0.

.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin.. Pen........ Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. terutama untuk kayu pertukangan. pertumbuhan....6 cm........ Zeuzera coffeae Nietn. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit.. meranti merah.. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005.. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya.3 %... Dalam pertumbuhannya.. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2... Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin.. Mulyana Omon (.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. 4... untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya.. Bogor J. kelas mutu bibit.... Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. Pen. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2..2% dan 3... Leucopholis rorida F. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. VII No.... Htn Tnm Vol.. dan Zeuzera coffeae Nietn... interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. VII No. sementara untuk S. yaitu tinggi antara (50 cm . Sedangkan serangan hama Z... yaitu sebesar 184.. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn.89%.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77.) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J.. mutu bibit.... parvifolia..8 mm) atau rata-rata sebesar 5...71%... 4... Kata kunci : cabutan. ... UDC(OXDCF)630*. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu.8 % and 84. sedangkan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis.... namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup..JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. hama. 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59... Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88.3cm dengan diameter antara (5 mm ...5 m.... Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. 4. Dengan demikian jenis S..... Htn Tnm Vol.)...63% dan 48.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. Kalimantan Tengah.. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.... Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter)..... VII No.. R. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor...

Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp... 4.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. Pen.. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis.. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+.. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Htn Tnm Vol. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003....JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. VII No. 4.027 m3/detik.. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel... Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J... Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Kata kunci : bintaro. pada Skala Laboratorium J. sengon UDC(OXDCF)630*. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Fluktuasi debit air. insektisida nabati. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp.. kawasan Puncak.. pada skala laboratorium. penggunaan lahan . Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Dari segi tata air. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Eurema spp. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp.. 4. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air.. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor.. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Pen. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+... mortalitas. Eurema spp. sebesar 90%.. VII No. VII No. Htn Tnm Vol. Meskipun demikian.

Kata kunci : Biokimia. Sampai pengeringan selama 3 minggu. Penyimpanan propagul R.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0.26 per etmal and germination value 0. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). deterioration. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. whereas variables of biochemistry were contents of starch. fisiologi.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. Penyimpanan propagul secara konvensional. Bogor 16001 Telp. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Rhizophora apiculata. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. pengeringan. BOX 5 Ciamis 46201 Telp. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan.O. storing the propagules conventionally. desiccation. 2 dan 3 minggu. Storing of R. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage).72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. BOX. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1.67%). The variables of physiological observation were germination percentage. kecepatan berkecambah 0. Up to 3 weeks of desiccation period.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. germination rate and germination value. Rhizophora apiculata 167 . penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan.02 for 8 weeks. protein and leachate conductivity.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. 105. kadar air propagul mencapai 31. propagules. physiology. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. fat. Naskah masuk : 1 Desember 2009 .67%). Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. (0251) 8327768 . propagules moisture content was 31. 4 PO. germination rate 0. protein dan daya hantar listrik. lemak. Raya Ciamis-Banjar Km. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. kemunduran. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods.02 selama 8 minggu. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. Keywords: Biochemistry. apiculata (kadar air awal 54. 2 and 3 weeks.

1983). Sedangkan menurut Schmidt (2000). Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. apiculata. peka terhadap radiasi. Umumnya kadar air 6% .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. eksploitasi hutan secara berlebihan.179 I. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd.25 juta hektar. (1989). tidak memiliki masa dormansi. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. terutama R. dikehendaki kadar air 2% . dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi.7 No. hingga mencapai tingkat yang menghambat.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat).20%. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R. Menurut Chin et al. Rhizophora spp. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. 1984. kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. sedimentasi. 2000). 1970. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. tertundanya perkecambahan.4%). apiculata sebelum disemaikan. 2006) diperkirakan 6.8% cukup untuk penyimpanan yang aman. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. 168 . dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim. proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi.8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia..6 juta hektar (1. Untuk benih rekalsitran. perubahan laju respirasi.. 1992). menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. Selain itu. PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. 1991.4. Abdul Baki and Anderson. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya. 167 . Dourado and Roberts. apiculata. kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol.50%). 1970). terutama dalam hal kesesuaian jenis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. perubahan dalam membran. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit.. perubahan dalam cadangan makanan. sangat sensitif terhadap pengeringan. kuantitas dan kualitasnya.10% selama proses pematangan.Anderson. Oktober 2010.

ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 .Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan.Biokimia : pati. Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan. Lokasi pengumpulan buah R. Bogor.Fisiologi : kadar air (KA).3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : .Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . METODOLOGI PENELITIAN A. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. lemak. apiculata dilakukan di Bali.2 propagul untuk KA . Tabel (Table 1). ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. C. oven. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol.25 propagul untuk DB . Pengunduhan propagul R. B1=2 minggu. termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). AC. B. B3= 6 minggu. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. 1. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. daya berkecambah (DB). 2. B2= 4 minggu. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. tanah.

. Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying)... 1985). 167 ..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian. Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali).5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul... Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti. Penyemaian propagul R.... Selain variabel fisiologi. Pada tahap kedua.. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis. total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro. Bogor.. pati. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA.. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1... dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1..Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 . Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air. apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm. daya berkecambah.. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap.... Sementara itu. propagul dipotong dan dibelah.2. kecepatan berkecambah.. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah.Nn : .... Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit.4. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2..179 kekuningan. Oktober 2010. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro). sebelum dimasukkan ke oven. E. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst). Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006)..7 No. n hari setalah tanam (%) D1. dan nilai perkecambahan.

171 .57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. apiculata. 1. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1). Tabel (Table) 3. Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86.53* 158. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). pengeringan propagul R. 2004). Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R.33%. HASIL DAN PEMBAHASAN A.49** 4. 3. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar.67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya. Asep Rohandi dan Nurin Widyani III.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA). Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). Daya berkecambah. daya berkecambah (DB). daya berkecambah masih cukup tinggi (86. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt). Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. kecepatan berkecambah 2. germination percentage. apiculata seed) No. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan). Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. 2.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis.67%) yaitu sebesar 13.19.98** 1.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan. germination rate and germination value of R. 4.

lemak 0.179 Tabel (Table) 4.87 c 1. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R.11 a 0.00 a 100.64 b 31. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB). Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. germination percentage. Kandungan biokimia propagul R. 4. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2).57 a 2.4. moisture content and germination percentage and b). 35% (2 minggu). protein 4.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b).7 No. apiculata yang meliputi pati. . 2. apiculata seed) No. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content.34 b 1.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. apiculata yaitu pati. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol.33 a 86.08 a 0.50% (1 minggu) dan DHL2.38 d NP (germination value) 1. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.00 a 97. lemak. 3.30 (3 minggu).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. protein dan daya hantar listrik (DHL). Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. Viabilitas propagul R.72 c DB (germination percentage) (%) 100.19 a 0. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati. 167 . Oktober 2010. germination rate and germination value of R.02 a 50. Menurut Nkang (1988).78 a 40. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R.71% (2 minggu). apiculata seeds at desiccation period a).

Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. apiculata (Contain of carbohydrate.01 Lemak (fat) (%) 0. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan). Tatipata et al. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. 4. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. 1998). tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15. (2) kondisi kulit benih. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R.29 0.92 27.1981. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical.24 Protein (protein) (%) 3.71 0. lemak. 173 . 1997). Nugroho. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran.50 3. 2.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0.07 0.06 24. 1997). dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. 1993 dalam Adimargono. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian.30 1. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih. fat. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel.35 24. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). 1993 dalam Adimargono.46 0.81 3. 3. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. 1998). Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih. apiculata seeds) No. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian.63 4.20 2. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat.87 1. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Jumlah kandungan pati. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan.

apiculata (contents of carbohydrate. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R. Propagul R. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.69** 302. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA).01** 28. germination percentage. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan).51* 2.19* 2.30** 339. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R. apiculata seeds) B. Kandungan pati.10** 247. Tabel (Table) 6.13** NP (germination value) 3. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 .39** 72.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%.51** 59. germination rate and germination value of R. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29.95** 54. Oktober 2010. fat.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content.7 No. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA).4.179 Gambar (Figure) 2. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6.44* Ket. 167 . Pada penyimpanan di ruang AC.33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. Daya Berkecambah (DB). apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.

apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. 1994). Moisture content. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. b) Germination percentage. apiculata seed at many storage treatment : a).Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). Sementara itu. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. Viabilitas propagul R. Selain dengan parameter daya kecambah. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al. Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. b). Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R.56%. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar. Kadar air. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3)..33%. Daya berkecambah. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu.

84 21.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0.20 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2 = ruang AC).87 0.06 22.63 3.56 23.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP). 167 .55 1.03 28.63 24. 6. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun. 10. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.7 No. protein 4.17 0. 12. apiculata seeds ) No. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.63 3. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.63 2. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan. 1972). Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol.27 0.46 1. 8. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15.54% (ruang kamar selama 10 minggu). Jumlah kandungan pati. lemak 0.24 0.31 3.72 26.39 0.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar). Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R.96% (ruang kamar selama 10 minggu). 5. 7. 11.24 22. 3 = 6 minggu. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.07 0. lemak. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.96 15.49 0.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu). protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R.23 0. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.15 3. Meskipun demikian. Tabel (Table) 7.26 0. 2. apiculata adalah 28. Oktober 2010. 176 .34 0.06 25.56 3.50 3.05 2.10 0.44 3.84 1.18 Protein (protein) (%) 3.59 4.37 0. 3. Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.64 25. 2 = 4 minggu. 1 = 2 minggu. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan.35 28.89 1.69 3. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad.07 0.54 0. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut.07 4.62 Lemak ( fat) (%) 0. 4.46 0.06% dan meningkat menjadi 28. apiculata (Contents of carbohydrate. fat.14 1.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R.4. 9.27 0.

1970. echinata Mill.. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. Penyimpanan propagul R. Y. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. Skripsi. pati. Berdasarkan hasil penelitian ini.A. P. Recalcitrant seeds.D. Hodges. 1997. Anderson.A and J. 39 hal. Gomez and E. Deventer. 3. Larenstein International Agriculture College. Kondisi kritis propagul R. V.88p Blanche. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. Ti d a k Dipublikasikan.3%. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. eliotti Engelm.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. 1994). 1983.4% per etmal dan NP : 0.Anderson. Crop Science. 1991) serta E. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. DB : 86. 10: 36 .. 1991. 2000.D. A. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.E. protein dan daya hantar listik) propagul R. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. KT : 1. Gonzales. identification. P.. 1970. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. Final Thesis in Tropical Plant Production. Pengaruh Media Simpan. pasutris Mill. 2.D. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. and storage. 10:31 . apiculata sebesar 0. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail.7%.39 Anggraini. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki.34 Adimargono. Oleh karena itu. Crop Science. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. P.08). Contribution No 32 . Namun demikian. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. S. 4. Seed chemistry of the 177 . Seed Vigor Testing Handbook. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. strobus L (Bonner. J. Kandungan biokimia (lemak. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. 1998). informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. C.. 2002).N. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. AOSA.7%. J. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. P. Fakultas Kehutanan. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29.A. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C.

S.. Disertasi Program Pasca Sarjana. 1993. F. 1997. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P. Dourado. Chromosome alterations in stored seeds.37 No.4. Mugnisjah. Malaysia. United States Departement of Agriculture.O. Setiawan. CH . Jakarta. 1994. 13. ISTA. USA. Chin. 1998. Santoso. Dari Benih Kepada Benih.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. d e p h u t . 2008. K. In: Seed Moisture. 1981. Justice.).com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. Vol. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis.Switzerland. B. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. Gramedia Widiasarana Indonesia. Switzerland. Hindra. dan Louis. Box 308. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. Jakarta. Krishnapillay. PT. ISTA. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. Publ. China.wordpress. International Rules for Seed Testing. No.. IPB. Seed Moisture: Recalcitrant vs. McDonald. Nkang. Schmidt. Lauridsen. Madison. In Tailor.M and E. 8303 Bassersdorf. Crop Science Society ofAmerica. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. 2000. Stanwood.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. 3:949952. N. A. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds. Jakarta. Bonner.H Roberts. C.T. B. 1984. Scholer. Bass. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. 178 . Jakarta. Pembimbing Massa. Rajawali Pers. 1990. Berjak.15 October 1998. 1991. 25 p. Bogor. Pedoman Teknologi Benih. B. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. Tidak Dipublikasikan. P. Seed Science and Technology. 14. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. 1994. 59 hal. Diakses tanggal 3 September 2008. Bogor. Olesen and E. Pammenter. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. U. 1985. Ph. 1998. Sadjad. Fakultas Kehutanan. H. Santiwa dan Suwarto. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. 167 . N. L. Nugroho. 1989. PT. New Orleans. PT. A. Byrd. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. 1983.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. http://uripsantoso. 1988.G and Xue Lin Huang (eds). Institut Pertanian Bogor. Q. Oktober 2010. Progress in Seed Research. Wisconsin.778. F. Srinivasan. Sudjindro. Permasalahan dan Solusinya. Raja Grafindo Persada. Tidak dipublikasikan. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. h t t p : / / w w w. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. T. Kualalumpur. A. Eds.. 1992. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP). Confernce Proceedings of the 2nd ICSST. E. Skripsi. A. C. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . A.B. H. Z. 2006. Pian.R. Handayani. L. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. Bogor. Diakses tanggal 3 September 2008. Louisiana. g o . A. DK-350: Danida Forest Seed Centre. Zurich.7 No. W. Tidak dipublikasikan. Skripsi. CSSA Special. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. orthodox seeds. Annals of Botany Company 54: 767 . Jurusan Manajemen Hutan IPB. Hutan Mangrove.pdf. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. 2006. Seed Science and Technology 16: 247-260. C. 1972. and S.W and P. 2003. Pengaruh Media Simpan. . Girija. Stanwood and N. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. A. O. B.

Jurnal Ilmu Pertanian Vol. Yogyakarta. A. 11 No. 2004. Bogor. 179 . Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo.K. 2004 : 76-87.. Enok. BPPTP.. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. Tidak dipublikasikan. 2. Tatipata. D. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok...Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Naning Y. A. 2002. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. R. LHP No. Adang M dan Endang I. 375. Prapto Yudono.

damar pilau (Dayak). Kondisi 181 .. Sulawesi dan Irian Jaya. peti kemas.id Naskah masuk : 5 Maret 2010. damar. The equation of determination of dammar's germination capacity i. hydrogen peroxide test: Y = 0. sinonim: damar sigi. cheaper and better accuracy. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. eksisi embrio dan belah.7%).7977 (r : 91. hidrogen peroksida.3975 (r : 90%). uji hidrogen peroksida : Y = 0.749 (r : 92.9072x + 9. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster.9474x + 10.8957x + 6. pulp. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak. 179. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera.8%) dan uji belah :Y = 0. akurat dan efisien. Keywords: dammar.9072x + 9. kayu sigi (Sumatera). rapid test. damar wana (Sulawesi). Persamaan dugaan daya berkecambah. ki damar (Sunda). damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan.0319x + 4. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). Kol..5 Puntikayu PO. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung.8%) dan cutting test:Y = 0.1285 (r : 92.3975 (r : 90%).co./Fax. excision embryo 2 2 test: Y = 0. Maluku Kalimantan. kayu lapis. fisiologis. venir. damar. Kata kunci : benih. ki damar (Jawa). damar putih. germination.6%). (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. perkecambahan. Box 105 Bogor Telp. Palembang Telp. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test. tetrazolium test: Y= 2 2 1. but it takes time. Burlian Km. mebel. 6. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. pensil. physiological.1285 (r : 92.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. uji cepat I. exicion embryo test and cutting test.6%). Bangka. namun waktunya relatif lama. Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. damar kapas. hydrogen peroxide test.7%).7977 (r : 91. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test). H.8957x + 6.749 (r : 92. tangkai korek api.9474x + 10. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. 1981).e. BOX.0319x + 4.

Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka.1. lembaran plastik dan aluminium foil. eksisi embrio dan belah.7 No. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. misalnya. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. II. Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. saringan. benih disusun beraturan.3. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85.42%) selama 1 jam. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45. natrium hipoklorit.3 menit (v) benih 182 . Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung. gunting kuku. hidrogen peroksida (r2: 90.4. 1990).5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades.38 dan 31. alat semprot tangan dan kaca pembesar. 2009).5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung. keterbatasan jumlah benih. Oktober 2010. (1996). 2000). 1. Prosedur Pengujian 1. TZ 1%: garam tetrazolium (2.triphenil tetrazolium chlorida ).5%: garam tetrazolium (2. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt. B. TZ 0. alat pengaduk. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan. Menurut Bonner et al. kertas merang.00%) (Sagala dan Endah. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji.18%) waktu pengujian selama 1. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9.2H2O sebanyak 11. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%. benih dikecambahkan pada kondisi ideal. disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. eksisi embrio (r2: 81.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4.8 C). Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. Uji cepat tetrazolium 1. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi).04%) selama 7 hari. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. gelas piala. dilakukan di germinator. pinset.3.2. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . oven.5. A. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%).5 jam. 181 . Na2HPO4. silet. hidrogen peroksida. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v). garam tetrazolium (2. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. 1.79% (DBawal = 63. 2005).3. Alat-alat: cawan petri.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 . KH2PO4.2H2O.3. etanol 70%.

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). 181 . Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. 2007). hydrogen peroxide.7%). Perbedaan 3 . sedangkan metode tetrazolium. eksisi embrio dan belah. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. masing-masing sebesar 91. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal.4. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja. kering. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari. 6. excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. 6 dan 2 hari. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. hidrogen peroksida. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996).189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. hidrogen peroksida. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium.8%) dan uji hidrogen peroksida (92. 2009).6% dan 90%. eksisi embrio dan belah. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam.7 No. sedangkan oven. Oktober 2010. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. 186 . selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. masing-masing selama 2. layu dan busuk.

83 87 ± 6.27 46 ± 8.00 0.78 0.59 1.96 0.53 2.00 96 ± 3.01: 3.16 49 ± 6.66 82 ± 5.85 2.00 98 ± 4.50 42 ± 8.63 0.83 40 ± 10. excision embryo and cutting test 187 . excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.23 2.81 2. t table/table 0.83 75 ± 6.65 1.30 48 ± 3.10 55 ± 6. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.05: 2.0 55 ± 3.69 1.33 0.16 54 ± 5.25 87 ± 6.27 1.00 74 ± 5. tetrazolium.24 0. t table/table 0.00 1. hidrogen peroksida.63 0. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.00 55 ± 10.447.00 97 ± 3.9 91 ± 8.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4. hydrogen peroxide.5o 51 ± 10.27 80 ± 11.00 0.08 0.13 0. uji hidrogen peroksida.32 1. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung. hydrogen peroxide.45 0.00 96 ± 5.16 65 ± 10.30 1.83 58 ± 4.00 76 ± 7.33 40 ± 3.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.83 40 ± 7. uji tetrazolium.40 0.60 1.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).3 thit thit 98 ± 4.00 47 ± 11.

Southern forest experiment station.7 No. L. Leadem.8957x + 6. 2000. Instructors Manual.1285 r2 = 9.P. 2007. 181 .28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. Tree Seed Technology Training Course. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi).W and Land S. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. hidrogen peroksida. US Department of agriculture.9474x + 10. General technical report SO 106. Martawijaya. The Seed Biology Place. ISSN.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1994. G.B. KESIMPULAN 1. New Orleans Louisiana.9072x + 9. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Atlas kayu 188 .A. Jakarta.0319x + 4. 18. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium. K. Ministry of Forest Land Research Branch. Vozzo J.C.749 r2 = 9.L.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. Oktober 2010. Bonner F. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. 2. C. 0702-9861. 2006. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan. Quick test for tree seed viability.4. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Schmitd. dan Soewanda A.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1. Leubner.7977 r2 = 9. B. A. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). Departemen Kehutanan. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. Iding K.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5. Hydrotime: Population based threshold germination model. Management report No. 1981. Elam W. 1984. Kosasih.T. Jakarta.

2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. M. Y. Bogor. Jakarta. Departemen Kehutanan.45. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. 2003. Jilid I. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. 189 . Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Sagala. dan Nanang. Departemen Kehutanan. Jurnal Standardisasi. 1990. T. H. Bogor.G.D. Gramedia. status pendekatan biometrik (Terjemahan). Prinsip dan prosedur statistika. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. perlakuan asam propionat.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. J. Laporan uji coba NO. Pengaruh kadar air awal. Direktorat Jenderal Kehutanan. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan.R. Badan Penelitian dan Pengembangan. Bogor Steel. dan Naning. Zanzibar. Badan Penelitian dan Pengembangan. Zanzibar. 97. 2009. PT. M. 1991. Bogor Zanzibar. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. dan Endah S. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . R. M. Zanzibar. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. Balai Teknologi Perbenihan. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1996. dan James H. M.

Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. species. Meanwhile. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field.400 bibit. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati. sedangkan.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. However. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Therefore S. respectively). Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. mutu bibit. Keywords: Growth. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. Centre Kalimantan R.8% and 84. The total numbers of plants observed were 2400 plants. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. S. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. diameter and value strength. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. red meranti. The results showed that species. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field. Kalimantan Tengah.5 m. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. seedling quality class. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184.5 m spacing. The survival.3%. Box 105 Bogor Telp. The growth of height was significantly affected by block. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . interaction between species and seedling quality.

8 mm) atau ratarata sebesar 5.000. Faktor dalam diantaranya asal benih.8 % and 84. Faktor luar yang penting antara lain air. B.3cm dengan diameter antara (5 .199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. parvifolia sebesar 2. oksigen. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No. hama. Propinsi Kalimantan Tengah.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. S.5 cm/th. BAHAN DAN METODE A. yaitu tinggi antara (50 . meranti merah. konsentrasi karbon dioksida. kelas mutu bibit.1-1999). 191 . suhu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. S. 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. cahaya. luas 184. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. Kata kunci : cabutan.1 cm/th. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993).1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. platyclados sebesar 2. yaitu faktor dalam dan faktor luar. II. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. 2000). Kabupaten Seruyan. yaitu sebesar 184.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Oktober 2010. mikoriza. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. S. parvifolia. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. Dengan demikian jenis S.2 cm/tahun dan S. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono.7 No. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. sementara untuk S. 2007). jenis medium bibit.6 cm. johorensis sebesar 2. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009.6 cm/th. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. kelembaban udara.206 Ha.3 %. macrophylla sebesar 1.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. agar tegakan yang dihasilkan baik. pertumbuhan I.4.8 cm/th. pupuk. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 .

Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. C. Bahan danAlat Penelitian 1. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m.0 – 4. 193 . Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. pemasangan ajir. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII).000 m2 atau seluas 12 ha.0 < - - D. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. Tabel (Table) 1. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S.5 m. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. parvifolia (A2). Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1).400 bibit.0 – 8. yaitu lebar jalur 3 meter. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. leprosula (A1) dan S. Kekompakan media ( media compaction) 2. mistar dan kamera. kaliper. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. Cabutan diambil di sekitar pohon plus. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Diameter (diameter) 4.0 mm. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil).0 mm 6.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. leprosula dan S.3 – 10. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.5 × 20 × 2.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya. C. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati.8 – 12.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. Luas areal penanaman adalah 2.400 = 120.9 mm 8. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. seperti disajikan pada Tabel 1. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. Tinggi (height) 3. Pucuk / akar (top root ratio) 6. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman.5 m. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3.

Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. Tabel (Table) 2. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 .8 ab III 80.6 80. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm).7 b II 96. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar.7 No.199 E.2 a I 88. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh). mutu bibit. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran.8 b III 90. E. III. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87.8 a IV 74. 1975). Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan. Oktober 2010. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. 191 . interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. Pengumpulan Data 1. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan.5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %.5 b II 88.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.8 c Rataan Rataan 90. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Parameter yang diamati adalah tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN A. 2. diameter dan persen hidup tanaman. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.8 a I 79. Daniel et al.4. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper.

Untuk pertumbuhan diameter.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. Mulyana Omon penanaman. Tabel (Table) 3. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana. 82. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S.7 cm. iklim mikro. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan.3 %. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76. terlihat lingkungannya di kedua 195 . Untuk diameter masing-masing sebesar 2. 177. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII.8 %. lantai hutan. tanaman pesaing. blok III sebesar 80.8 % dibandingkan blok I sebesar 79. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88.6 cm. tanah dan faktor biotis. yaitu intensitas cahaya.1 % dan 76.6 cm dan 2.7% dan blok IV sebesar 74. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. B. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. dikarenakan pada waktu penanaman.100% untuk tingkat pancang.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. 1993). Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%. Oleh karena itu untuk jenis S.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 .2 % setelah satu tahun ditanam. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman.3 cm dan 165. leprosula dan S.8 cm. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.4 c IV 58. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya. Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran.7 b 2. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. 196 . 191 .7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184. leprosula dan S.0 a 2.3 a III 55. Tabel (Table) 4 . parvifolia dari mutu bibit tiga. Oktober 2010. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). lingkungan dan teknik silvikultur. leprosula.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three).6 c 2.4 c 0. 2007).6 b Ketengan (Remarks): A1 = S.3 b 2.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221.7 No. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S.8 b 177.6 ab 0. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173.2 bc 0.4. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. A2 = S. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).199 blok hampir sama. leprosula dari mutu bibit tiga dan S. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.6 cm (Soekotjo. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).7 a 165.6 cm.2 a II 47. yaitu sebesar 184.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5. yaitu faktor keturunan (genetik).3 b 179. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S. parvifolia. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan.8 a 0. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162.2 cm dan 224. akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua.

B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Kekokohan bibit.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.3 .10. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 . Tabel (Table) 6. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S. nisbah tinggi dan akar (top root ratio). Mulyana Omon C.7 % utuh 10.6 % 59. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.7 65.6 dan untuk S.7 62. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.4 59.1-1999).6 2.1 % utuh 10.2 57.75% B2 utuh 9. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya.1-1999).7 % 65. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya.08% 65.7 untuk jenis S. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6.5 3. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan.8 3. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4.62% B3 Utuh 9.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005.6 4. yaitu nilai kekokohan. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).6 4.8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu. leprosula sebesar 9.1 2. parvifolia diikatakan cukup baik.5 % utuh 9. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.6 65.5 dalam katogari yang baik.5 65. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.

42. Tidak diterbitkan. B. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. 78 h. yaitu sebesar 184. Hendromomo. Bogor. Helms. dan F.4. Bagian Perentjanaan Hutan. F. 1979. 1975.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65.H dan J. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. FORSPA Publication 8. sehingga akar bibit tidak rusak. Yogyakarta. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur.T. Kesimpulan 1. 5. KESIMPULAN DAN SARAN A. Prinsip-prinsip silvikultur. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. 191 .7 %. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik.S. Gadjah Mada University Press. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. Fakultas Kehutanan. Ferguson.6 cm. parvifolia. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. 1993. leprosula dan S. Badan Litbang Kehutanan. H.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. 3. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). 7 No. Kuala Lumpur.8 %. T. 198 . parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. Priadjati. Wageningen. khususnya dari jenis S. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . Baker. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak. Mok. Departemen Kehutanan. Departemen Mangemen Hutan. bagian pertama. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. 2007. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan.W. yang masing-masing 10. leprosula dan S.61 cm. S. A. yaitu sebesar 2. J. 2003. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya.3 % dan 88. The Tropenbos Foundation.7 No. IV. Jakarta. Yogyakarta. Wana Benih Vol. IPB. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Oktober 2010. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. Prosedur analisa rancangan percobaan.H. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. 4. Malaysia. Haeruman. The Netherlands. 2. 1951. Verhandelingen No. 2005.6 dan 4. Tr o p e n b o s International. Jayusman.A. Schmidt. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). 1..

Samarinda. 1984. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2000. Badan Standardisasi National. 1 No. 1. L. Talbert.Inc. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Soekotjo. dan Shorea balangeran (Korth. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Jakarta Schmidt. Samarinda. dan Y. Vol. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. I. Kalimantan Timur.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. 2007. September 2007. Mitikauji. 199 . and J. John Wiley and Sons. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. Jakarta.11999.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. New York. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Departemen Kehutanan.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Zobel. 2007. Applied forest tree improvement. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. B. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. Yassir.

Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor... I. In growing period. terutama untuk kayu 201 . the highest damage caused by Z.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. 6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.71% respectively. rorida was recorded on plot I (teak was 2. Zeuzera coffeae Nietn. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. Zeuzera coffeae Nietn.5 Puntikayu PO. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. Jati (Tectona grandis Linn. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.63% and 48. baik kualitas maupun kuantitasnya.89%. Sedangkan serangan hama Z. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan.) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. H.).5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. Leucopholis rorida F.71%.2% and 3. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5. Dalam sistem silvikultur intensif. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. hama.2% dan 3. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Leucopholis rorida F.89% respectively.id Naskah masuk : 21 September 2009 . Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. Burlian Km. Beside this./Fax.co. dan Zeuzera coffeae Nietn. Bogor Agricultural University. terutama untuk kayu pertukangan.5 years old) with attack and damage intensity of 77. The highest damage caused by L. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. it was often attacked by several pests that caused seriously damages. pests. Palembang Telp. 179.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Kol. and Zeuzera coffeae Nietn. Dalam pertumbuhannya. BOX. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas.63% dan 48.).

(menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). (menyerang akar). dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. 16 bulan (petak II dan III). tali rafia dan kapas. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. Jawa Barat. Bogor. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). 1989). 177 . Dalam pertumbuhannya. D. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). Hama perusak akar.7 No. rumus yang digunakan adalah: II. 1979 dalam Rahardjo. Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. b. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. alat tulis dan kamera. C. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. dan Pyrausta machaeralis Wills. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. METODOLOGI A. Oktober 2010.Oktober 2000. Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. Bogor Jawa Barat. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. etanol.185 pertukangan. tabung bekas film. (menyerang batang).4. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. meliputi: a. Hiblaea puera Cr. B. golok. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk.5 tahun (petak I). 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. Duomitus ceramicus Wlk. dan Monochamus rusticator Fab. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . 1. Berdasarkan pengamatan awal. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. 202 . Captotermes curvignatus Hciver. dan Leucopholis rorida F.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. pilok. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. dan Neotermes tectonae Damm. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). inventarisasi inang terserang. Hama penggerek batang. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. (menyerang leher akar) (Suratmo. kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon.

Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0. 3. 5.1 – 6 m b. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. 1979 dalam Winaryati. 4. 1.1 – 4 m 4.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1. 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al.6 – 1 m 1. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 .1 – 1.5 m 1. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2. 6.6 – 2 m 2. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. 2.5 m 0. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2.

Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. Identifikasi Jenis Hama. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. Kumbang L.5 tahun) sebesar 48. ( o rd o C o l e o p t e r a . terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. 2000). banyaknya borstel tiap baris 15 . Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya.4. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala.50 cm.35 cm. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. Berdasarkan pengamatan di lapangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.89% dan termasuk kategori agak berat. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. subordo Lamellicornia. ( ordo Lepidoptera. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. 177 . Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Uret.agak berat. biasanya pada kedalaman 17 . gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. pangkal antena dan pro-.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. Sukabumi. 1973). berwarna putih kekuningan. rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung. Pada tanaman jati berumur 2. Leucopholis rorida F. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. 1981). famili Cossidae). Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . 1984). Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. f a m i l i Melolonthidae).7 No.27 buah. Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 .) yang berbeda. Oktober 2010. Kondisi akar yang terserang uret L. 2000). rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. 1. terutama segera setelah hujan pertama turun. meso. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. HASIL DAN PEMBAHASAN A. bahkan sampai kedalaman 40 .185 III.

5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I).95 21.89 29. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. rorida.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. Zeuzera coffeae Nietn. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. Hama uret Leucopholis rorida F. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77. rorida (L. Attack symptoms. b a c Gambar (Figure) 1. rorida on teak trees : (a).Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L.63 51. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. rorida. (b). rorida beetles) Tabel (Table) 3. Gejala serangan. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. (c) L. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda.20 2. pada tanaman jati: (a). (c). rorida. Root condition of teak attacked by L.18 42. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur. disebut penggerek cabang merah. Kumbang L. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. 2000). (b).

coffeae) pada tanaman jati: (a). coffeae mulai dari larva.45 mm. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. a b c Gambar (Figure) 2. coffeae) on teak trees: (a). coffeae consist larva. kepalanya berwarna coklat. coffeae mulai dari stadia larva. larva 53 . Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. Attack symptoms.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. Siklus hidup Z. pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. Metamorfose of Z. Oktober 2010. pupanya 21 . Gambar Z. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat.5 bulan.28 hari dan ngengatnya 5 . Metamorfosis hama Z. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2.4. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. (c).5 mm (Husaeni. (c).5. pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. Gejala serangan. bagian pertama sepanjang 1 . (b). Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps. 177 . 2000). stadium telurnya berlangsung 12 hari.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. 2000).5 cm. (b). Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z.7 No. Imagonya berupa ngengat berwarna putih. Sedangkan segmen ke 8. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. coffeae dapat dilihat pada Gambar 2.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk.11 hari (Husaeni. Hama penggerek batang (Z. pupa dan imago (Stem borrer (Z. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . 206 . sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah.56 hari. Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 .

Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. b. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back).95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. c. Pengurangan populasi kumbang. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). coffea. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih). L. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. Walaupun serangan Z. Upaya Pengendalian 1. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation. B. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang.013 1. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. Berdasarkan pengamatan di lapangan. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. jika penanganannya kurang hati-hati. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab.22 0. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. Kerusakan akibat serangan Z. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Pengendalian Leucopholis rorida F.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. batang menjadi bengkok dan berlubang.71 0. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. coffeae. Witter. Publ. 1973. d. DAFTAR PUSTAKA Coulson. 1989. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. Imago Z. Bogor. Fakultas Kehutanan. Laporan No. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. 2000. 167. 1984. New York. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Serangan hama Z. Bogor.5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. misalnya furadan (Tini dan Khairul. 2. N.2% dan 3. Rahardjo. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. Husaeni. E. A. Oktober 2010. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. Institut Pertanian Bogor. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z.7 No. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya.4. R.63% dan 48. Fakultas Kehutanan. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. and J. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. IV.89%. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. 2002). dan D. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. Harsono. (serangga perusak pucuk dan cabang). Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Forest Entomology. Institut Pertanian Bogor. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. A.71%. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. D. E. 201 . sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. P. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. Ecology and Management. S. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. E. KPH Sukabumi. Willey Intersci. Bogor. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Intari. Natawiria.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. 1981. BKPH Cikaung. B. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. 2002). LPH. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis.

29 Oktober 1997. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. Morfologi. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. 27 . Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif. Palembang. Hutan Fakultas Kehutanan. Agro Media Pustaka. Winarto. Studi Keragaman Gejala. Winaryati.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 1997. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. 209 . Amri. Bogor. Bogor. 2002. Jakarta. B. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. 1984. Skripsi Jurusan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Nia dan K.) di BKPH Boto KPH Randublatung. Fakultas Kehutanan. Tini. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Palembang. A. Institut Pertanian Bogor. KPH Kendal).

johar (Cassia siamea)./Fax. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. Selain tanaman sengon. Kata kunci : bintaro. Keywords: bintaro. Burlian KM 6. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. sengon I. mortality procentage is 90%. Kol. merupakan hama utama yang menyerang tanaman. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan. Eurema spp. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan.7 long days than control treatment. sebesar 90%. dan turi (Sesbania grandiflora).5 Puntikayu Po. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp.. mortality. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp. Eurema spp. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Latar Belakang Eurema spp. jayanti (Sesbania sesban). Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Eurema spp. Eurema spp. insektisida nabati. Box 179. Palembang Telp. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. PENDAHULUAN A. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. pada skala laboratorium. Eurema spp. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. There are some techniques to control Eurema spp. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti.). biopesticide. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Eurema spp. Pada tanaman sengon. and successful making of pupa and imago are 16. 1991).AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp.67% and need 1.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.) Insecticide on Eurema spp. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. in laboratory. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. mortalitas. jengkol (Pithecelobium jiringa).

resurgensi hama. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. daging buah. dengan menggunakan insektisida kimia. Serangga hama Eurema spp.25%. dari bulanAgustus hingga September 2009. kemudian direndam. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar. sangat kecil. BAHAN DAN METODE A. Korea. Australia. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. 3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. 212 . Metode Penelitian 1. Selain itu Tarmadi et al. dan daun bintaro. sampai ke pulau-pulau Pasifik. taman-taman. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. Pemberian pakan II. Setelah pelarutnya menguap. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. Tiongkok. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. dan tidak ramah lingkungan. mulai dari Afrika.7 No. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. Bogor.5%. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp.1%) dengan perbandingan 1 : 1.4. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. Jepang. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. Asia Tenggara. 211 . (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. langsung digunakan sebagai serangga uji. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif.220 penyebaran yang sangat luas. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. ledakan hama sekunder. Bogor. pada skala laboratorium. 4. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. Larva yang diperoleh dari lapangan. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. diantaranya terjadi resistensi hama. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. 0. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. 0. Eksplorasi Hama Eurema spp. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. B. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. perlu diteliti. B. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0.125%.). Oktober 2010. 2. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu.

67% . 2. 7) tidak aktif : m < 5%. konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. 213 . Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva.33%. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. Larva yang mengalami kematian. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. dan lama kelamaan mengecil. tubuhnya kaku. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. Ekstrak biji. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP).90%. Pada 1 HSP. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). Disamping jenis ekstrak. HASIL DAN PEMBAHASAN A.33% 20%. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. Pada konsentrasi terendah. Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC).83. persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam.67% . Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. Dari tiga jenis ekstrak bintaro. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak.33% . Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%.80%. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. mortalitas larva paling besar. III. 33.1. dan 36. Kematian larva diamati selama 7 HSP. lunak. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. daging buah. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. Hasil Penelitian 1. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1.

selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.220 Tabel (Table) 1.7 dan 1. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.8 dan 4. ekstrak biji bintaro 1.00 d 83.4.67 b 0.5 83. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.25 56.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0. ekstrak biji bintaro 2.00 a 0.7 No.00 a 0. Mortalitas Eurema spp.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2).67 b 33.67 c 36.33 bc 0.67 c 53.33 d 56.33 b 36.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.00 d a Mortalitas pada 7 HSP. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.125 36. 211 .33 d 80. Oktober 2010.00 a 0. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya.33 c 1 90.67 b 43. Berdasarkan nilai Lc50.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 214 .

Mortalitas Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . Mortalitas Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp.

56 b 47.33 b 27.315 (0.463) 0.20 b ± GBa) 1. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa. Adapun pupa Eurema spp.52 ± 0.653-34. b = kemiringan regresi probit. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1.00 a 100.161-0.480) 0. Tabel (Table) 3.476) a = intersep regresi probit.205-0.273) 3.4.25 0.67%.49 ab 55. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.49%.00 b 52.62 b 45.953) 6.220 Tabel (Table) 2.00 a 63. Pada konsentrasi terendah.76 ± 0.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.38 b 47.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. α = 5%) 216 . 4.25 0.21 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 5.67 b 16. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.125 0. 115 –0.92 ± 0.453 (2. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp.23 ± 0. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.65 ± 0.297 (0.67 b 41.360 (0.62%. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.813– 4. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16. SK = confidence interval) 1.39 ± 0. b = slope of probit regression. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp.33% dan 27.67 b 33.096-349.41 1.37 1. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp. dan 6.00 ab 46.00 a 100. sedangkan ekstrak daging buah.189 (0.56% dan 47. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.7 No.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.78 b 50. Namun pada konsentrasi tertinggi. Oktober 2010.783 (1.78%. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3. GB = galat baku. GB = standart deviation. 211 .

Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.3 ab 0.0 a 0. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa. Pada konsentrasi 1%. Tabel (Table) 5.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.3 c 12. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp.7 ab 1 13. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.7 ab 12. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.89 b 38.125%. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa.33%.00 a 41.125 12.00 a 33.56 a 38. Pada konsentrasi 0.89 b 50.5 13.00 a 100. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. α = 5%) 217 .0 bc 12. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.33 b 38.3 ab 12.67 b 36.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.11 b 56.7 c 13. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan.0 a 12.67% saja imago yang terbentuk.3 ab 0.25 13. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.0 a 12. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.25 0.3 b 13.0 a 12.89 b 44.33 b 33.125 0.3 a 12.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. Tabel (Table) 4.67 b 33.44 a 16.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa. Secara umum.00 a 100.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.

tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0.0 a 6. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. (Tabel 6). terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono. ekstrak biji bintaro memerlukan 1.4.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat.0 a 6.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago. α = 5%) B. 211 . Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan.7 ab 7. 1998). 218 .0 a 6.0 ab 6.3 a 6. 2008).125 0.25 0. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin.7 b 6. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin .7 a 7. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. 2008).0 a 6. Tabel (Table) 6.3 a 6.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.7 No. daging buah.3 a 6. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. daun dan buahnya mengandung polifenol. Pada konsentrasi tertinggi. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan.. 2008).7 ab 7. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al.0 a 6. Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain. Oktober 2010. Pada konsentrasi 0. 2008).0 a 6. yaitu ekstrak biji. asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono.

Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . daging buah. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. Mortalitas larva Eurema spp. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. IV. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. dan daunnya. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. KESIMPULAN DAN SARAN A. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. baik biji. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Disamping menyebabkan mortalitas. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. 2008).. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp.

. 220 . 409p. K. 2002. T. Version 6.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. S a l l e h . Vol 5 No 1 2007. Tarmadi.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. D.. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Trop. Jermy. Indonesia. 1987. pada skala lapangan. Oktober 2010. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. The Botany of Mangroves. CB. AH. SAS/STAT User's Guide. Heyne. LM. Yayasan Sarana Wana Jaya. Pemanfaatan dan Pengembangan. Prijono. Wood Scie. Cary (NC) : SAS Institute. 211 . S. Jakarta.220 berturut-turut sebesar 83. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2. Departemen Kehutanan.) NIELSEN.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp.7 No. JJA. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. IPB. Departemen Proteksi Tanaman. Bogor.4. PROSEA. U K M . Insektisida Nabati : Prinsip. Tomlinson. Bogor. Bogor. Bul HPT 10 : 1-7. Cambridge University Press. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. Guswenrivo. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. Prianto. M a l a y s i a . 1998.33% dan 80%. Prijono. & Tech. PROSEA. Kartika. I. Van Loon. 2. Schoonhoven. D. 1986.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2007. h t t p : / / w w w. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. 1990. borneofocus. M. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Fakultas Pertanian. J. T. Cambridge. Eth ed. 1 9 9 7 . 1991. htm. London. Penerjemah. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae).com/saip/vaic/R&D/article5. Suharti. 2008. E t h n o b o t a n y. 1998. Yusuf. SAS Institute. Chapman & Hall. D. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. B. Vol.

Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area.027 m3 /second. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Puncak area. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . water discharge fluctuation. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. Gunung Batu No. with one hectare increase of forest cover. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge.027 m3/detik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Keywords: Landsat ETM satellite images. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. fluktuasi debit air. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. Jl. Fax. The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. . Currently with the dynamic change of land use especially for settlement. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. (0251) 8631238. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. 5 Bogor 16610 Telp. penggunaan lahan + 221 . Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. kawasan Puncak. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge.

Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . yaitu Bogor. serta daerah pemukiman. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. BAHAN DAN METODE A. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. diperoleh dari analisa citra. dan 2003. 1997.7 No. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. kebun teh dan kebun campuran. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. menyebar terkadang bergerombol. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. B. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi.4. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. 2. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. Oktober 2010. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2001. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. hijau tua agak terang. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya.minimum Sungai Ciliwung. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus.2003. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. PENDAHULUAN II. Bogor. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan.226 I. Kesinambungan fungsi Bogor. seringkali bercampur dengan pemukiman. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. Data debit maksimum . semak dan sawah. 221 . Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1.

R-Sq = 99. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. III. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3).9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0.027 . begitu juga sebaliknya. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang.minimum (ΔQ).Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y). semak dan sawah.027X1 – 0. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi.05 . serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum . Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17.). a = 0.072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum.0. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1. Khusus untuk lahan bervegetasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003. Tabel (Table) 1. yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen). untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum.51 .108X2 + 0. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum. kebun teh dan kebun campuran.9% . Pearson's Product Moment (Walpole.005 0. 1997 dan 2001. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga.2. R-Sq (adj) = 99.000 0. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum. X2. Koefisien (Coefficient) . Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda.1992). begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen. luas pemukiman (ha).072 p-level 0.4 – 0. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum.108 + 0.0. Namun.

226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.56 5180.64 2879.32 0. serta lerengnya berkisar antara 8 .89 4733.05 20.48 34.64 14.79 2003 (ha) 8512.32 2733.79 +8.07 15.812 14.00 +1475.35 28.24 -4288. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi).70 0.23 -6. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap. Sementara itu.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.29 +0.32 -10.55 (%) 59. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672. geomorfologi. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.11 32.08 3484.45 0.992 +1541.07 3.35 0. geologi.82 6. 221 .39 445.09 +4335.88 25. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap.42 1621.89 (%) 79. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.96 18.46 +7. 224 .85 2886.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.66 +23. topografi.45 19.61 6454.108 m3 /detik.71 5957.64 6.91 1171. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.7 No. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat.35 -82.13 -1273.50 -3.48 2713. 2000).4.02 8. tanah dan penggunaan lahan. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).002 0.53 83.62 -0. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 . kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran. klimatologi. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi.448 +16.3.64 15.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.002 meter di atas permukaan laut. Tabel (Table) 2. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent. Oktober 2010.027 m3/detik. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.89 -598.

46 1.20 411. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air.2003 cenderung turun.25 225 . Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan.44 171. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air.91 244. yaitu sebagai pencegah erosi. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam.690 4. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 . Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. Debit Minimum.64 199.22 1. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan.178 3.98 224. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan.minimum cenderung meningkat pula.45 persen. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang. akar serabut panjang. pencegahan banjir dan erosi. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum . Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa.49 242.875 3. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.50 291. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 . Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum.73 293. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal.68 274.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242.Seperti halnya dengan hutan.22 273.71 1. dan kerapatan akar tinggi. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air.98 408. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.792.20 244.51 118.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4.22 3. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik.426 2.

Oleh karena itu. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. R. M. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. Skripsi. Fakhrudin.minimum Sungai Ciliwung. tidak permanen. X2 . DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Data debit maksimum . Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. Bogor. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II.072 X3. 1992. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan.108 X2 + 0. Tabel (Table) 4. dengan pola hubungan : Y = 641. Gramedia Pustaka Utama. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. dan areal pemukiman harus ditekan. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. Bendung Katulampa. Pratiwi. Bogor. Pengantar Statistika.4 . Hardiana. Jakarta.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol. 2004. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. D. 226 . KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. IPB. Departemen Kehutanan. 2003. 2004.0.027 X1 . PT. Walpole.E. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. Terjemahan. dan pemukiman dalam hektar. Institut Tehnologi Bandung. Pasca Sarjana. Tesis. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. 2000. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1.0. seperti disajikan pada Tabel 4. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful