ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.749 (r : 92.. kemunduran. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Htn Tnm Vol.. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. J. fisiologis. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Pen. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J.. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. 4.. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. namun waktunya relatif lama. uji cepat.3975 (r : 90%). penyimpanan.6%). perkecambahan. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1.7%). uji eksisi embrio : Y = 0. Pen..67%).. uji hidrogen peroksida : Y = 0. 4. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).. apiculata (KA awal 54.8957x + 6. VII No. 4. R..1285 (r : 92. VII No. 2 dan 3 minggu.. Kata kunci : Biokimia.. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. eksisi embrio dan belah.9072x + 9. Sampai pengeringan selama 3 minggu. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. fisiologi.. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). protein dan daya hantar listrik. kecepatan berkecambah 0.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0... Persamaan dugaan daya berkecambah. lemak. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. hidrogen peroksida. damar.8%) dan uji belah :Y = 0.9474x + 2 2 10. .. Kata kunci : benih.. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung.0319x + 4..02 selama 8 minggu. Penyimpanan propagul secara konvensional. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl.. Penyimpanan propagul R. apiculata UDC(OXDCF)630*.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*... yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. VII No. kadar air propagul mencapai 31.. akurat dan efisien. pengeringan.. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Htn Tnm Vol.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%.7977 (r : 91.

mutu bibit.. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup.. pertumbuhan.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif..2% dan 3....). Pen.... parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu... Htn Tnm Vol..6 cm. Kata kunci : cabutan....3cm dengan diameter antara (5 mm ... Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. Dengan demikian jenis S.. Kalimantan Tengah. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77...89%.... VII No. Sedangkan serangan hama Z.. Dalam pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan.. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F....JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.... yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis..8 % and 84.. VII No... yaitu sebesar 184.... coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.... Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit. parvifolia.. R. Leucopholis rorida F. Mulyana Omon (....71%. Htn Tnm Vol. Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter).5 m... Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. 4. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. 4. VII No...) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. kelas mutu bibit. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. . untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor..3 %.... Pen...... Zeuzera coffeae Nietn. sementara untuk S. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian...) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J.. meranti merah. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2...... Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. sedangkan.. 4....... sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005... dan Zeuzera coffeae Nietn. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn..8 mm) atau rata-rata sebesar 5. terutama untuk kayu pertukangan. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. yaitu tinggi antara (50 cm ......63% dan 48..... hama..... Bogor J.. UDC(OXDCF)630*..

Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Kata kunci : bintaro... merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman... Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp...7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J.027 m3/detik.. mortalitas. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. penggunaan lahan . VII No. 4.. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. sengon UDC(OXDCF)630*. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. Fluktuasi debit air.. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. VII No. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. pada skala laboratorium... Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp.. Dari segi tata air... insektisida nabati. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16.. Htn Tnm Vol. Eurema spp. Pen. sebesar 90%.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Meskipun demikian. kawasan Puncak. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.... 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp...JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya.. Pen.. Htn Tnm Vol. 4. 4. pada Skala Laboratorium J. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum.. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. VII No.. Eurema spp.

Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. 2 dan 3 minggu. Penyimpanan propagul R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan.67%).72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.02 for 8 weeks. The variables of physiological observation were germination percentage. penyimpanan. BOX 5 Ciamis 46201 Telp. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). Bogor 16001 Telp. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah.67%). 2 and 3 weeks. protein and leachate conductivity. germination rate 0.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. fat. germination rate and germination value. Naskah masuk : 1 Desember 2009 . protein dan daya hantar listrik. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). (0251) 8327768 . Penyimpanan propagul secara konvensional. fisiologi. Kata kunci : Biokimia. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. whereas variables of biochemistry were contents of starch. apiculata (kadar air awal 54. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Storing of R. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods.O. deterioration. kecepatan berkecambah 0. Up to 3 weeks of desiccation period. physiology. Raya Ciamis-Banjar Km. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. pengeringan. BOX.26 per etmal and germination value 0.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. Sampai pengeringan selama 3 minggu. propagules. Rhizophora apiculata 167 . Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. storing the propagules conventionally. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1.02 selama 8 minggu. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. kadar air propagul mencapai 31. propagules moisture content was 31. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. kemunduran. Rhizophora apiculata. 105. Keywords: Biochemistry. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. desiccation.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. 4 PO. lemak.

7 No. Sedangkan menurut Schmidt (2000). Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. 168 . tidak memiliki masa dormansi. dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. Rhizophora spp. maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . apiculata. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya. kuantitas dan kualitasnya. sangat sensitif terhadap pengeringan. 1991. perubahan dalam membran. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. 1983). tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin.6 juta hektar (1. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R.8% cukup untuk penyimpanan yang aman.20%.4%). Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya.. 2000). 1984. Menurut Chin et al. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). Umumnya kadar air 6% . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. apiculata sebelum disemaikan. (1989). Abdul Baki and Anderson. dikehendaki kadar air 2% . terutama R. Oktober 2010.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat). menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. terutama dalam hal kesesuaian jenis. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. 2006) diperkirakan 6. proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. 1992).70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . 1970. dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. 1970).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. perubahan dalam cadangan makanan. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd. Selain itu. apiculata. sedimentasi. Dourado and Roberts. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim.50%). kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . Untuk benih rekalsitran.. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. eksploitasi hutan secara berlebihan. luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4.4. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih.8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. peka terhadap radiasi. tertundanya perkecambahan..179 I.Anderson.10% selama proses pematangan.25 juta hektar. 167 . hingga mencapai tingkat yang menghambat. perubahan laju respirasi. PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami.

Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan. Bogor.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. apiculata dilakukan di Bali. B2= 4 minggu. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. 2. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : . kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . Tabel (Table 1). Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . daya berkecambah (DB). termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) .Biokimia : pati. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II.25 propagul untuk DB . AC. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata.Fisiologi : kadar air (KA). tanah. B. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . oven. Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). B1=2 minggu. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. lemak. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). 1. Lokasi pengumpulan buah R. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). METODOLOGI PENELITIAN A. sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. C. B3= 6 minggu.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) .3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Pengunduhan propagul R.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.2 propagul untuk KA . media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan.

dan nilai perkecambahan. daya berkecambah. kecepatan berkecambah.. Sementara itu. pati. Bogor. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali). dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap.. n hari setalah tanam (%) D1.. apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm. Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. Selain variabel fisiologi.. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam.Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 .. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul... Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006)... Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit. propagul dipotong dan dibelah... E. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA... Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1. 167 .179 kekuningan. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari. 1985). Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying)...Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro). Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan...7 No. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti.Nn : . Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2. Pada tahap kedua... analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih.. total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis.... Oktober 2010.5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian.. sebelum dimasukkan ke oven. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah.2. Penyemaian propagul R.4.

57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. 2004). daya berkecambah (DB). Tabel (Table) 3. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan). 3. 1. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan.67%) yaitu sebesar 13. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4).67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). Asep Rohandi dan Nurin Widyani III. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. kecepatan berkecambah 2.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA).49** 4. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt).33%. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. pengeringan propagul R. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata.53* 158. germination rate and germination value of R. Daya berkecambah. 4. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86.98** 1. apiculata seed) No. daya berkecambah masih cukup tinggi (86. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. 171 . apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1).19. 2. germination percentage. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R. apiculata.

87 c 1.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2.4.50% (1 minggu) dan DHL2. apiculata yang meliputi pati. Oktober 2010. 167 .02 a 50. 2. moisture content and germination percentage and b). Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan.08 a 0.11 a 0. germination percentage. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2). Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. 4. 35% (2 minggu). protein dan daya hantar listrik (DHL). Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB).72 c DB (germination percentage) (%) 100. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. apiculata seed) No. Viabilitas propagul R.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. apiculata seeds at desiccation period a). apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content. kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b). protein 4. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol.30 (3 minggu).57 a 2. apiculata yaitu pati.00 a 100. Menurut Nkang (1988). Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. lemak.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.33 a 86.34 b 1. .64 b 31. 3. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5.71% (2 minggu).7 No.38 d NP (germination value) 1. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.00 a 97. Kandungan biokimia propagul R. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R. lemak 0. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. germination rate and germination value of R.78 a 40. Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati.19 a 0.179 Tabel (Table) 4.

1998). tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. 1997).20 2. fat. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih.50 3.71 0.06 24.29 0. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.87 1. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp.63 4. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. apiculata (Contain of carbohydrate. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. apiculata seeds) No.81 3.35 24. Nugroho.1981. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0.30 1. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih.01 Lemak (fat) (%) 0.24 Protein (protein) (%) 3. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. 1993 dalam Adimargono.07 0. 1997). lemak.92 27. 2. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan. (2) kondisi kulit benih. 1993 dalam Adimargono. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. 173 . Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). Tatipata et al. 1998). Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan). (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian.46 0. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. Jumlah kandungan pati. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih. 4. 3. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian.

Pada penyimpanan di ruang AC. Oktober 2010.01** 28. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R. Daya Berkecambah (DB).33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91.7 No. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA). germination percentage.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R.51* 2. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content. germination rate and germination value of R.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253. Kandungan pati. fat.95** 54.30** 339. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 .33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R.179 Gambar (Figure) 2. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan).44* Ket.19* 2. apiculata (contents of carbohydrate. apiculata seeds) B.69** 302. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29.51** 59. Tabel (Table) 6. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA). Propagul R.39** 72. 167 .4. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.13** NP (germination value) 3.10** 247.

indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. Kadar air. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). Daya berkecambah. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al. b) Germination percentage.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Sementara itu.56%. 1994). sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar. b). Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. Viabilitas propagul R.33%. Selain dengan parameter daya kecambah. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. Moisture content. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70.. apiculata seed at many storage treatment : a). apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a).

Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.10 0.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).07 0. 1 = 2 minggu. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.63 3. Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati.37 0. 12.27 0. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar. 3.34 0.03 28. lemak.69 3. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15.15 3.89 1. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R. 8. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R.56 23.46 0.63 2.06 22. fat. 3 = 6 minggu. Meskipun demikian. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.59 4.07 4. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan.7 No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.84 21.96% (ruang kamar selama 10 minggu). 2.05 2.56 3.24 22.55 1.96 15. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun.07 0. apiculata adalah 28.87 0. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.84 1. 6.14 1.4. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad.20 0.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2. Jumlah kandungan pati. Tabel (Table) 7. 167 . apiculata seeds ) No. 7. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.17 0.64 25.31 3.06% dan meningkat menjadi 28. protein 4. 1972). 2 = 4 minggu.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP). 176 .84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu). lemak 0.24 0.62 Lemak ( fat) (%) 0.26 0. 5.06 25. 2 = ruang AC). protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R. 9.49 0.46 1. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut.63 24. 10. apiculata (Contents of carbohydrate.72 26. 11. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.27 0.63 3.50 3.44 3. 4. Oktober 2010.54 0.35 28.39 0.18 Protein (protein) (%) 3.54% (ruang kamar selama 10 minggu).23 0.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol.

Recalcitrant seeds.. Seed Vigor Testing Handbook. Berdasarkan hasil penelitian ini. eliotti Engelm. 1970.4% per etmal dan NP : 0. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. pasutris Mill.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Penyimpanan propagul R. J. 1970. 4. Final Thesis in Tropical Plant Production.34 Adimargono. 1997. C. 2000. 2. P. KT : 1. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis.Anderson. 2002). cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. Pengaruh Media Simpan. Ti d a k Dipublikasikan. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. protein dan daya hantar listik) propagul R. and storage. Y. 1994). Namun demikian. Skripsi.08).A and J.88p Blanche.7%.. Oleh karena itu. Gomez and E. 1983. Contribution No 32 . Hodges..A. AOSA. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. P. P. Anderson. Gonzales. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain. apiculata sebesar 0. identification. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. 39 hal. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. 1998).07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. 3. 1991.D. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. 10:31 . echinata Mill. Kondisi kritis propagul R. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. Larenstein International Agriculture College. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Crop Science. J. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. DB : 86.D. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al.3%..7%. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C. Fakultas Kehutanan.39 Anggraini.E. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. V. S.N. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. strobus L (Bonner. 1991) serta E.A. P. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. A. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. Kandungan biokimia (lemak. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail. Crop Science. Seed chemistry of the 177 . Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. pati.D. Deventer. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. 10: 36 .

Justice. IPB. Chin. A. Skripsi.M and E. Stanwood and N. Santoso. Gramedia Widiasarana Indonesia. 1994. United States Departement of Agriculture. 1983. Jakarta. F. Jakarta. B. DK-350: Danida Forest Seed Centre.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. Rajawali Pers. dan Louis. Disertasi Program Pasca Sarjana.O. 13. Sadjad. C. Jakarta. Ph. Seed Science and Technology 16: 247-260.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. C. Louisiana. 1988. Diakses tanggal 3 September 2008. 1997. T. Institut Pertanian Bogor. and S. A. A. Pembimbing Massa. 2006. 178 . Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds... 1993. International Rules for Seed Testing. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Mugnisjah. Box 308. H. Krishnapillay. 25 p. L. Progress in Seed Research.7 No. PT. PT. Nugroho. 8303 Bassersdorf.B. 1990. Annals of Botany Company 54: 767 . A. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. S. U. Jurusan Manajemen Hutan IPB. 1991. 1989. Hindra. Vol. Zurich. 1992. Diakses tanggal 3 September 2008. ISTA. Seed Moisture: Recalcitrant vs.R. W. Pammenter. Stanwood. Byrd. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Bass. N.15 October 1998. http://uripsantoso.H Roberts. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Setiawan. B. A. China. E.4. F. Bonner.778.pdf. Berjak. Wisconsin. Tidak dipublikasikan. Lauridsen.. 2003. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. In: Seed Moisture. Handayani. . T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. Q. Scholer. Jakarta. 3:949952. Raja Grafindo Persada. Permasalahan dan Solusinya. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. B. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. Chromosome alterations in stored seeds.37 No. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP). Pedoman Teknologi Benih. N. 2000.Switzerland. B. C.G and Xue Lin Huang (eds). Girija. Santiwa dan Suwarto. McDonald. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. L. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. New Orleans. 1994. ISTA. Malaysia. g o . A. orthodox seeds. Skripsi. 1998. 1981. Sudjindro. K.T. Switzerland. CSSA Special. No. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity.). Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. O.W and P. Tidak dipublikasikan. PT. Fakultas Kehutanan. 14.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Olesen and E. 1985. Madison. 1984. h t t p : / / w w w. H. Pengaruh Media Simpan. Oktober 2010. In Tailor. 2008. Z. Schmidt. Eds. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST.wordpress. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Kualalumpur. P. Seed Science and Technology. 2006. Bogor. Dari Benih Kepada Benih. CH . Nkang. 1972. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds. 1998. USA. A. Pian. Tidak Dipublikasikan. 59 hal. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. Publ. d e p h u t . Hutan Mangrove. Srinivasan. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. Bogor. 167 . Bogor. Crop Science Society ofAmerica. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. Dourado.

. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan.K. Yogyakarta. A. R. Adang M dan Endang I. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. Tidak dipublikasikan.. Bogor. 2. A. Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. 2002. Enok.. Naning Y. 179 . LHP No.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. 375. Tatipata. BPPTP. Prapto Yudono. 2004. Jurnal Ilmu Pertanian Vol.. 11 No. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. 2004 : 76-87. D.

Box 105 Bogor Telp.7%). hydrogen peroxide test: Y = 0. BOX. tangkai korek api. sinonim: damar sigi. damar kapas.3975 (r : 90%).9474x + 10. Maluku Kalimantan.co.6%). germination. cheaper and better accuracy. Kata kunci : benih. damar. ki damar (Jawa). juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al. H./Fax. mebel.6%).id Naskah masuk : 5 Maret 2010.8957x + 6. but it takes time.749 (r : 92. uji cepat I. venir.9072x + 9.7977 (r : 91.8957x + 6. kayu sigi (Sumatera). kayu lapis.. damar. 179. Keywords: dammar. 6. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. damar wana (Sulawesi).5 Puntikayu PO. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. The equation of determination of dammar's germination capacity i. pensil. hydrogen peroxide test. tetrazolium test: Y= 2 2 1. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb.3975 (r : 90%). physiological.7%). Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). eksisi embrio dan belah.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test). Burlian Km.0319x + 4. damar putih.9474x + 10. rapid test. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test. akurat dan efisien. exicion embryo test and cutting test.9072x + 9. 1981). Persamaan dugaan daya berkecambah.. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed.8%) dan cutting test:Y = 0. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Sulawesi dan Irian Jaya. hidrogen peroksida.e.749 (r : 92. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Kondisi 181 . adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1.8%) dan uji belah :Y = 0.0319x + 4. damar pilau (Dayak). Bangka. Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. pulp. perkecambahan. Palembang Telp. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster.1285 (r : 92. namun waktunya relatif lama. uji hidrogen peroksida : Y = 0. ki damar (Sunda).1285 (r : 92. fisiologis. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan. excision embryo 2 2 test: Y = 0. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak. peti kemas. Kol.7977 (r : 91. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera.

Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. alat pengaduk. KH2PO4. hidrogen peroksida. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45. TZ 1%: garam tetrazolium (2. TZ 0. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. garam tetrazolium (2.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. 2009). benih dikecambahkan pada kondisi ideal. 181 . B. eksisi embrio (r2: 81.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 . misalnya. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%). (1996).42%) selama 1 jam. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode.38 dan 31.4. keterbatasan jumlah benih.3. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji. Alat-alat: cawan petri. pinset. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil.7 No. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. silet.18%) waktu pengujian selama 1. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan.3. lalu dibilas dengan akuades selama 2 .2H2O. lembaran plastik dan aluminium foil. 2005). METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh. alat semprot tangan dan kaca pembesar.04%) selama 7 hari. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. II. natrium hipoklorit. A.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v). sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung.triphenil tetrazolium chlorida ). disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. Menurut Bonner et al. benih disusun beraturan.00%) (Sagala dan Endah.5%: garam tetrazolium (2.5 jam.2. oven.8 C). Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. Oktober 2010. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. 1. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah.5.3.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Prosedur Pengujian 1. gelas piala.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85. etanol 70%. kertas merang. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). saringan.2H2O sebanyak 11.79% (DBawal = 63. gunting kuku.3. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt. 1. Uji cepat tetrazolium 1. Na2HPO4. eksisi embrio dan belah.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2000). hidrogen peroksida (r2: 90. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. dilakukan di germinator.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan. 1990).3 menit (v) benih 182 . Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung.1.

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

6% dan 90%. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. 6 dan 2 hari. 186 . masing-masing selama 2. sedangkan oven. kering.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. layu dan busuk. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. eksisi embrio dan belah. hidrogen peroksida.8%) dan uji hidrogen peroksida (92. Oktober 2010.4. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. 2007). 2009). Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996). Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. 181 . Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal. hidrogen peroksida. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92.7%). masing-masing sebesar 91. 6. hydrogen peroxide. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. eksisi embrio dan belah. sedangkan metode tetrazolium. Perbedaan 3 . Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4).7 No. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau.

00 0.25 87 ± 6. t table/table 0.23 2.00 98 ± 4.05: 2.45 0.9 91 ± 8.59 1.16 49 ± 6.27 1.63 0. excision embryo and cutting test 187 .00 1.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4.00 47 ± 11.60 1.3 thit thit 98 ± 4.00 76 ± 7.24 0. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.00 0.69 1.0 55 ± 3. hydrogen peroxide. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.08 0.00 74 ± 5. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.96 0.85 2.00 55 ± 10.16 54 ± 5. hydrogen peroxide.27 46 ± 8.81 2.83 58 ± 4. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium.10 55 ± 6. tetrazolium.50 42 ± 8.13 0. uji hidrogen peroksida. hidrogen peroksida.00 97 ± 3.83 87 ± 6.16 65 ± 10.5o 51 ± 10.83 75 ± 6.27 80 ± 11.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. t table/table 0.63 0.78 0.33 0.32 1.40 0.53 2.30 48 ± 3.01: 3.83 40 ± 7.447. uji tetrazolium.83 40 ± 10.30 1.33 40 ± 3.65 1.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).00 96 ± 5. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.00 96 ± 3.66 82 ± 5.

A. 2006.28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. US Department of agriculture. Iding K. 1981. Instructors Manual. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi). Kosasih.9072x + 9. General technical report SO 106. The Seed Biology Place. Ministry of Forest Land Research Branch.749 r2 = 9. Schmitd. 1984. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. L. Atlas kayu 188 . Management report No. 181 . DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Departemen Kehutanan. B. K. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). 2. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan.C. 2000.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5. Elam W. Leubner.7 No.8957x + 6. dan Soewanda A.1285 r2 = 9. G.9474x + 10. A. Martawijaya.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1. Jakarta. Oktober 2010.0319x + 4.7977 r2 = 9. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. New Orleans Louisiana.P.T. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium.W and Land S. Leadem. KESIMPULAN 1. Quick test for tree seed viability. Southern forest experiment station. ISSN.L. 1994. Bonner F.B.4. 18. Jakarta. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. 0702-9861. hidrogen peroksida. C. Vozzo J. Hydrotime: Population based threshold germination model. 2007. Tree Seed Technology Training Course.

Jurnal Standardisasi. Balai Teknologi Perbenihan. dan Nanang. Direktorat Jenderal Kehutanan. M.45. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Jilid I. 97. Zanzibar. dan Endah S. dan James H. T. Bogor. Pengaruh kadar air awal. J. M. 1991. Bogor Steel. Jakarta. Prinsip dan prosedur statistika. perlakuan asam propionat. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . Sagala. M.D. PT. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. Zanzibar. dan Naning. R. Balai Teknologi Perbenihan. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. 2005. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). M. Gramedia. 1990. 1996. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. status pendekatan biometrik (Terjemahan).G. H. Bogor. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. Y. Laporan uji coba NO. Departemen Kehutanan.R. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. Bogor Zanzibar. 2009. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan. 189 . Zanzibar. 2003. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan.

differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System.5 m. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. The growth of height was significantly affected by block. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2.8% and 84. Centre Kalimantan R. interaction between species and seedling quality.400 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. diameter and value strength.3%. The survival. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . The results showed that species. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. The total numbers of plants observed were 2400 plants. Therefore S. Keywords: Growth. S. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm .UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. Kalimantan Tengah. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. species. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. However. respectively). Box 105 Bogor Telp. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. seedling quality class. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. red meranti. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup.5 m spacing. sedangkan. Meanwhile. mutu bibit.

6 cm. kelembaban udara. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . cahaya. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya.2 cm/tahun dan S. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No. johorensis sebesar 2. pupuk. mikoriza.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. sementara untuk S. luas 184. pertumbuhan I. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri.8 % and 84. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. platyclados sebesar 2. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard.1-1999). kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009.206 Ha. kelas mutu bibit.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. Kabupaten Seruyan. parvifolia. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. Faktor dalam diantaranya asal benih. S. yaitu faktor dalam dan faktor luar.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. jenis medium bibit. Faktor luar yang penting antara lain air.1 cm/th. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. BAHAN DAN METODE A. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul.3cm dengan diameter antara (5 . 191 . II.7 No. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. yaitu sebesar 184. meranti merah. Kata kunci : cabutan.8 cm/th. parvifolia sebesar 2. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. Oktober 2010.5 cm/th. Dengan demikian jenis S.6 cm/th. penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. B.8 mm) atau ratarata sebesar 5. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. 2000). konsentrasi karbon dioksida.3 %.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993).000.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. oksigen. suhu.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. macrophylla sebesar 1. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. 2007). S. Propinsi Kalimantan Tengah. agar tegakan yang dihasilkan baik. yaitu tinggi antara (50 . 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. hama. S.4. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt.

Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. leprosula dan S. C.0 – 8. Kekompakan media ( media compaction) 2.5 m. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan.0 mm. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil). pemasangan ajir. Cabutan diambil di sekitar pohon plus.400 = 120.5 × 20 × 2. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. Diameter (diameter) 4. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu.400 bibit. mistar dan kamera. Pucuk / akar (top root ratio) 6. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII.0 < - - D. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. Luas areal penanaman adalah 2. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. parvifolia (A2). C.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. Bahan danAlat Penelitian 1. Tabel (Table) 1.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya.5 m. seperti disajikan pada Tabel 1. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati.000 m2 atau seluas 12 ha.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. kaliper. Tinggi (height) 3. 193 .3 – 10. yaitu lebar jalur 3 meter. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4. leprosula (A1) dan S. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur.0 – 4. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1). Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman.9 mm 8. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005.8 – 12.0 mm 6. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.

Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman.5 b II 88. 191 . Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA).8 b III 90.8 a I 79.4. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper.8 a IV 74. Daniel et al.199 E. E. mutu bibit. Parameter yang diamati adalah tinggi. 1975). kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh). seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan.7 b II 96. 2. Tabel (Table) 2.7 No. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman.6 80.2 a I 88.8 c Rataan Rataan 90. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. diameter dan persen hidup tanaman. III. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm).5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.8 ab III 80. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . Pengumpulan Data 1. Oktober 2010. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata.

seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%.7% dan blok IV sebesar 74. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76. terlihat lingkungannya di kedua 195 .3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Untuk pertumbuhan diameter. lantai hutan. 82.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka. B.3 cm dan 165.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan.6 cm dan 2. tanah dan faktor biotis.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 .100% untuk tingkat pancang. Untuk diameter masing-masing sebesar 2.1 % dan 76. yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. yaitu intensitas cahaya. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan. blok III sebesar 80. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII. Tabel (Table) 3.7 cm. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. 177. leprosula dan S.8 cm. iklim mikro.6 cm. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik. Oleh karena itu untuk jenis S. tanaman pesaing. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . dikarenakan pada waktu penanaman. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).8 % dibandingkan blok I sebesar 79. Mulyana Omon penanaman. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84. 1993).1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter.2 % setelah satu tahun ditanam.8 %. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam.3 %.

8 b 177. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua.6 ab 0. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.199 blok hampir sama. parvifolia dari mutu bibit tiga. 191 . begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S.2 bc 0. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).7 a 165.8 a 0.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162.3 a III 55. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221. leprosula dari mutu bibit tiga dan S.7 No. Oktober 2010. leprosula dan S. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).4 c 0.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya.0 a 2. yaitu sebesar 184. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three).2 cm dan 224. lingkungan dan teknik silvikultur. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan. parvifolia.6 cm.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5.6 cm (Soekotjo. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.3 b 179.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S. 196 .2 a II 47. yaitu faktor keturunan (genetik). A2 = S. leprosula.4. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42. Tabel (Table) 4 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya.4 c IV 58. 2007). Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya.3 b 2.6 c 2.7 b 2.

5 3.1 % utuh 10.5 % utuh 9. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. nisbah tinggi dan akar (top root ratio). Kekokohan bibit. Mulyana Omon C.3 . yaitu nilai kekokohan. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan.75% B2 utuh 9. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.5 65.6 dan untuk S.6 4.2 57. nisbah tinggi dan akar (top root ratio). leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S. leprosula sebesar 9. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.8 3.6 4.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Tabel (Table) 6.10.1 2.6 65. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4.7 % utuh 10. B2 = kelas mutu bibit kelas dua.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005.7 62. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.5 dalam katogari yang baik.7 untuk jenis S. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6.1-1999). leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S.6 2.7 % 65. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu.7 65.1-1999).62% B3 Utuh 9.6 % 59. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian. parvifolia diikatakan cukup baik. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6.08% 65.4 59. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam.

The Tropenbos Foundation. leprosula dan S. F. 7 No.6 dan 4. 191 . yaitu sebesar 2. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. H. IPB. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. 5. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik.7 %. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. Kuala Lumpur. Haeruman. Oktober 2010.H dan J. Wageningen. J. Yogyakarta. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. 2005. Verhandelingen No. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur.S.6 cm.8 %. Mok. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Schmidt. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. Badan Litbang Kehutanan. Helms. 1. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). 2003.61 cm. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . Priadjati. IV. Bagian Perentjanaan Hutan.3 % dan 88. 198 . 1993. 3. Departemen Kehutanan.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. FORSPA Publication 8. B.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. 1951. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. A. 4. Jakarta. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian.7 No.4. parvifolia. Fakultas Kehutanan. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. 1975. 42. Kesimpulan 1. Tr o p e n b o s International. leprosula dan S. 2007. 2. Ferguson. Bogor. Jayusman. Prinsip-prinsip silvikultur. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan. yaitu sebesar 184. S. The Netherlands. KESIMPULAN DAN SARAN A..A. Gadjah Mada University Press. 1979. 78 h. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v).H. dan F. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. Tidak diterbitkan. Hendromomo. Departemen Mangemen Hutan. khususnya dari jenis S. Baker. sehingga akar bibit tidak rusak.T. T. bagian pertama.W. Wana Benih Vol. yang masing-masing 10. Yogyakarta. Malaysia. Prosedur analisa rancangan percobaan.

Applied forest tree improvement. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. 2000. Samarinda. 1 No. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Yassir. Mitikauji. dan Y. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. 1. Vol. Jurnal Penelitian Dipterokarpa.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Badan Standardisasi National. dan Shorea balangeran (Korth. 2007. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae.Inc. and J. I. B. Talbert.11999.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. September 2007. Zobel. 199 . 1984. Samarinda. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Kalimantan Timur. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. New York. Jakarta Schmidt. Jakarta. 2007. Soekotjo. John Wiley and Sons. Departemen Kehutanan. L.

)..63% and 48. dan Zeuzera coffeae Nietn.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN.89%. terutama untuk kayu 201 .) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood.71% respectively. Leucopholis rorida F. Burlian Km. it was often attacked by several pests that caused seriously damages. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5./Fax.63% dan 48. terutama untuk kayu pertukangan.).id Naskah masuk : 21 September 2009 .) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas. pests.5 Puntikayu PO. hama.5 years old) with attack and damage intensity of 77.co.89% respectively. Sedangkan serangan hama Z.2% and 3. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting. Dalam pertumbuhannya. Jati (Tectona grandis Linn. Kol.2% dan 3. The highest damage caused by L. rorida was recorded on plot I (teak was 2. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Leucopholis rorida F. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. Zeuzera coffeae Nietn. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin. 6.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. Beside this. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. Dalam sistem silvikultur intensif. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. 179. In growing period. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. the highest damage caused by Z. H. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. and Zeuzera coffeae Nietn. Palembang Telp. Bogor Agricultural University. Zeuzera coffeae Nietn.71%. baik kualitas maupun kuantitasnya. BOX. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. I.. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl.

C. tali rafia dan kapas. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. (menyerang leher akar) (Suratmo. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. tabung bekas film. pilok. Bogor. 202 . Dalam pertumbuhannya. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. 16 bulan (petak II dan III). jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk.4. meliputi: a. golok. alat tulis dan kamera.Oktober 2000. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). Berdasarkan pengamatan awal. 177 . Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Captotermes curvignatus Hciver. B. b. 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. dan Neotermes tectonae Damm.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. (menyerang batang).5 tahun (petak I). dan Pyrausta machaeralis Wills. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. D. Hama perusak akar. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran).185 pertukangan. rumus yang digunakan adalah: II. Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. dan Leucopholis rorida F. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1.7 No. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. etanol. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Bogor Jawa Barat. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. METODOLOGI A. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). Hiblaea puera Cr. 1. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. Duomitus ceramicus Wlk. (menyerang akar). inventarisasi inang terserang. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. 1979 dalam Rahardjo. Jawa Barat. Oktober 2010. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. 1989). Hama penggerek batang. dan Monochamus rusticator Fab.

4. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 . 1979 dalam Winaryati. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2.6 – 2 m 2. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. 2. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2.5 m 0.6 – 1 m 1.1 – 1. 3.5 m 1.1 – 4 m 4. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 1. 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al. 5. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3.1 – 6 m b. 6. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a.

gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. Leucopholis rorida F. bahkan sampai kedalaman 40 . f a m i l i Melolonthidae). Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.35 cm. Sukabumi.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar.4. biasanya pada kedalaman 17 . diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Berdasarkan pengamatan di lapangan.50 cm. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. Pada tanaman jati berumur 2.7 No.89% dan termasuk kategori agak berat. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. terutama segera setelah hujan pertama turun. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. 1984). rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung. meso. 2000). Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala.5 tahun) sebesar 48.27 buah. ( ordo Lepidoptera. 2000). HASIL DAN PEMBAHASAN A.185 III. 1973). Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. subordo Lamellicornia. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3).agak berat.) yang berbeda. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. 1981). berwarna putih kekuningan. ( o rd o C o l e o p t e r a . Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. 1. Uret.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. banyaknya borstel tiap baris 15 . Identifikasi Jenis Hama. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. famili Cossidae). pangkal antena dan pro-. sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. Kumbang L. 177 . Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. Kondisi akar yang terserang uret L. Oktober 2010.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni.

Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. Root condition of teak attacked by L.95 21.20 2. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn.63 51. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L. Zeuzera coffeae Nietn.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. 2000). Attack symptoms.89 29. Gejala serangan. (c) L. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . pada tanaman jati: (a). rorida. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). rorida. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur. (b). Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L.18 42. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. (c). Kumbang L. disebut penggerek cabang merah. sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. Hama uret Leucopholis rorida F. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. rorida (L. rorida beetles) Tabel (Table) 3.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. b a c Gambar (Figure) 1. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. (b). rorida. rorida on teak trees : (a).

coffeae mulai dari stadia larva. Imagonya berupa ngengat berwarna putih. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. larva 53 .5.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0.5 mm (Husaeni. Metamorfose of Z. (c). 2000). coffeae dapat dilihat pada Gambar 2.7 No. 206 . coffeae mulai dari larva. coffeae) pada tanaman jati: (a).5 bulan. Gambar Z.28 hari dan ngengatnya 5 . pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 .45 mm. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. Oktober 2010. 177 . coffeae consist larva. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z. Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. Siklus hidup Z. Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. a b c Gambar (Figure) 2. Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps. (b).4. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. pupa dan imago (Stem borrer (Z. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. bagian pertama sepanjang 1 .56 hari. Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. stadium telurnya berlangsung 12 hari. Gejala serangan. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian.11 hari (Husaeni.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2000). 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2.5 cm. coffeae) on teak trees: (a). pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. Sedangkan segmen ke 8. pupanya 21 . (c). Metamorfosis hama Z. Hama penggerek batang (Z. Attack symptoms. kepalanya berwarna coklat. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . (b).

tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. B. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. b. Berdasarkan pengamatan di lapangan. jika penanganannya kurang hati-hati. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). Upaya Pengendalian 1. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. coffea.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. Pengurangan populasi kumbang. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih). Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. L. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. batang menjadi bengkok dan berlubang. Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation.22 0. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. Pengendalian Leucopholis rorida F. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan.013 1.71 0. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur. coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. c. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Kerusakan akibat serangan Z. Walaupun serangan Z. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV.

salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. BKPH Cikaung. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. E. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. R. KPH Sukabumi. 167. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. S. Institut Pertanian Bogor. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F.63% dan 48. 1989. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. Natawiria. E. 2002). Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk.89%. 1973. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. 201 .5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77.71%. Rahardjo. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. coffeae. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. Intari. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. Husaeni. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. misalnya furadan (Tini dan Khairul. d. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . New York. Bogor. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. E. 1981. 2000. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. 2002).7 No. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. Forest Entomology. Laporan No. and J. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. 2. (serangga perusak pucuk dan cabang). Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Institut Pertanian Bogor. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Fakultas Kehutanan. A. P. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. dan D. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. Publ. DAFTAR PUSTAKA Coulson. Willey Intersci. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. B. Witter. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. Harsono. Serangan hama Z. Fakultas Kehutanan. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn.4. Imago Z. LPH. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. A. IV. D. Oktober 2010. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. 1984. Ecology and Management.2% dan 3. N. Bogor. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Bogor.

29 Oktober 1997. Studi Keragaman Gejala. A. Institut Pertanian Bogor. Palembang. Nia dan K. Winarto. 209 . B. 2002. Palembang. Jakarta. 1997.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. Amri. Winaryati. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. KPH Kendal). 27 . Tini. Skripsi Jurusan Manajemen. Hutan Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Morfologi. Bogor. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif. Agro Media Pustaka. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. 1984. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. Fakultas Kehutanan. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan.) di BKPH Boto KPH Randublatung.

Selain tanaman sengon. jayanti (Sesbania sesban). PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Eurema spp.5 Puntikayu Po. insektisida nabati. Eurema spp. is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. Keywords: bintaro. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp. Burlian KM 6. Eurema spp. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. PENDAHULUAN A.). Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Eurema spp.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. mortality procentage is 90%.7 long days than control treatment. There are some techniques to control Eurema spp. merupakan hama utama yang menyerang tanaman. Box 179. biopesticide. 1991). Kata kunci : bintaro. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. mortality. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. dan turi (Sesbania grandiflora).. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo.. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti.) Insecticide on Eurema spp./Fax. jengkol (Pithecelobium jiringa). sebesar 90%. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Eurema spp. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. and successful making of pupa and imago are 16. Eurema spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. in laboratory. pada skala laboratorium. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). Bintaro seeds extract affected Eurema spp. Palembang Telp. Kol. mortalitas. sengon I.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Pada tanaman sengon. Latar Belakang Eurema spp. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan.67% and need 1. johar (Cassia siamea). baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan.

kemudian direndam. 0. Larva yang diperoleh dari lapangan.25%. Setelah pelarutnya menguap. ledakan hama sekunder. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Korea. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. sangat kecil. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. perlu diteliti. 4. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. BAHAN DAN METODE A. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. 0. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. Bogor. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. dan daun bintaro.4. Tiongkok. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. 2. B. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. mulai dari Afrika. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. Bogor. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam.7 No. Australia. Jepang.5%. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. dan tidak ramah lingkungan. 212 . Oktober 2010. diantaranya terjadi resistensi hama. Asia Tenggara. Metode Penelitian 1. daging buah. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. sampai ke pulau-pulau Pasifik. dengan menggunakan insektisida kimia.1%) dengan perbandingan 1 : 1. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0.). Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. B. Pemberian pakan II. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. Selain itu Tarmadi et al. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. resurgensi hama. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. taman-taman.125%. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. dari bulanAgustus hingga September 2009.220 penyebaran yang sangat luas.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. Eksplorasi Hama Eurema spp. pada skala laboratorium. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar. Serangga hama Eurema spp. 3. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. langsung digunakan sebagai serangga uji. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. 211 .

Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC).33% 20%. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP). persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13. Hasil Penelitian 1. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan.1. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. dan lama kelamaan mengecil. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. 7) tidak aktif : m < 5%. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. Dari tiga jenis ekstrak bintaro.67% . Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. 213 .90%. lunak.83. 2. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. tubuhnya kaku. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. daging buah. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. Ekstrak biji. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%. konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. Disamping jenis ekstrak. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp.80%. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam. dan 36. 33. mortalitas larva paling besar. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). Kematian larva diamati selama 7 HSP. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva.67% . Pada 1 HSP. Pada konsentrasi terendah. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva.33% . HASIL DAN PEMBAHASAN A. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. Larva yang mengalami kematian. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak.33%. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. III. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%.

6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.33 c 1 90.33 b 36. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya.33 bc 0. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0. Oktober 2010. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.220 Tabel (Table) 1.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.33 d 56.125 36.4.7 No.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0.33 d 80.00 a 0.5 83. Berdasarkan nilai Lc50. 211 . The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.67 b 43.25 56. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.67 b 0.00 a 0.8 dan 4. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp. 214 .5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2). Mortalitas Eurema spp.67 b 33.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.67 c 36.67 c 53. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.7 dan 1. ekstrak biji bintaro 2. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.00 a 0.00 d 83. ekstrak biji bintaro 1.

selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . Mortalitas Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3.

161-0.205-0. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.67 b 41.49%. 115 –0.00 a 100.62 b 45. GB = galat baku.52 ± 0. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. sedangkan ekstrak daging buah. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp. 4. α = 5%) 216 . Pada konsentrasi terendah.39 ± 0. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16.38 b 47. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.220 Tabel (Table) 2. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.00 a 63. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3.476) a = intersep regresi probit. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.33% dan 27.189 (0.096-349.360 (0. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa. b = kemiringan regresi probit. GB = standart deviation.453 (2.33 b 27.273) 3.56% dan 47. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp.4. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.67%.67 b 16. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.49 ab 55.00 b 52. SK = confidence interval) 1.783 (1.56 b 47. dan 6.480) 0.21 0.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.37 1. Namun pada konsentrasi tertinggi. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp.92 ± 0.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk.315 (0. Tabel (Table) 3.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1.953) 6.463) 0.653-34. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.25 0.76 ± 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33.41 1.25 0.7 No. b = slope of probit regression.67 b 33. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp.23 ± 0. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63.78%. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55. 5.20 b ± GBa) 1. Oktober 2010.813– 4. Adapun pupa Eurema spp.297 (0.62%.00 ab 46.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.65 ± 0.125 0.00 a 100.78 b 50. 211 .

7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.67 b 33. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.11 b 56.7 ab 12.25 13. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa.33 b 33.33 b 38.3 b 13. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago. Pada konsentrasi 1%. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.7 ab 1 13.67% saja imago yang terbentuk.56 a 38.89 b 50. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0.7 c 13.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.3 a 12.44 a 16.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.25 0. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa.89 b 38. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa.0 bc 12.125 12. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12.0 a 12.33%.0 a 12.125 0. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.125%.0 a 0.3 ab 0. Pada konsentrasi 0.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33.00 a 41. Secara umum. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.00 a 100.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan.3 ab 0.3 ab 12. Tabel (Table) 4. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.0 a 12. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1.67 b 36.3 c 12. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp. α = 5%) 217 .00 a 100. Tabel (Table) 5. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.89 b 44.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp.00 a 33.5 13. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.

. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan. Pada konsentrasi 0.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. 2008). Oktober 2010.0 a 6.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin . dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp.3 a 6.0 a 6. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago. 1998). Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al.25 0. 2008).125 0.0 a 6. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. Tabel (Table) 6. yaitu ekstrak biji. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp.0 a 6.7 a 7.0 a 6. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun. 2008).7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. daun dan buahnya mengandung polifenol. Pada konsentrasi tertinggi.7 b 6. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. daging buah. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. α = 5%) B.7 ab 7. 218 . asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono.3 a 6.3 a 6. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus.7 No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.0 ab 6. ekstrak biji bintaro memerlukan 1. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.4.0 a 6. 2008).3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago. 211 .7 ab 7. (Tabel 6). Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.

Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. daging buah.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Disamping menyebabkan mortalitas. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. dan daunnya. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. 2008). Mortalitas larva Eurema spp. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . IV. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. KESIMPULAN DAN SARAN A. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. baik biji..

Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. S a l l e h . 2008. Cambridge University Press. Trop. Departemen Kehutanan. 1998. Version 6. The Botany of Mangroves.com/saip/vaic/R&D/article5. 1998. 1987. DAFTAR PUSTAKA Dadang. 2. J. PROSEA. 1990. SAS/STAT User's Guide.. Pemanfaatan dan Pengembangan. Suharti. T.33% dan 80%. h t t p : / / w w w. Bogor. Tomlinson. PROSEA. Kartika. D. Yayasan Sarana Wana Jaya. JJA. E t h n o b o t a n y. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Van Loon. Penerjemah. Indonesia. pada skala lapangan. Cary (NC) : SAS Institute. LM. D. Tarmadi. 1986. 211 . Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Heyne. htm. 409p. S.4. Bogor. Insektisida Nabati : Prinsip. Cambridge.) NIELSEN. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). I. Guswenrivo.. SAS Institute.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. K. Oktober 2010. D. 220 . Chapman & Hall. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. IPB.220 berturut-turut sebesar 83. Vol 5 No 1 2007. U K M .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Vol. Bogor. borneofocus. Jermy. CB.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. Schoonhoven. Eth ed. Wood Scie. T. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2. Prijono. Yusuf. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. B. London. 1991.7 No. M a l a y s i a . Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. Prijono. 2002.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. 2007. & Tech. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. Bul HPT 10 : 1-7. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. Prianto. M. Jakarta. Fakultas Pertanian. Departemen Proteksi Tanaman. AH. 1 9 9 7 .

penggunaan lahan + 221 . Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. Jl. Keywords: Landsat ETM satellite images. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta.027 m3 /second. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement. The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. 5 Bogor 16610 Telp. it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. Puncak area. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. . with one hectare increase of forest cover. fluktuasi debit air. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Fax. kawasan Puncak. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 .027 m3/detik.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). water discharge fluctuation. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. (0251) 8631238. Gunung Batu No.

PENDAHULUAN II. B. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Bogor. BAHAN DAN METODE A. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. diperoleh dari analisa citra. 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. Data debit maksimum . Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. dan 2003. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . Kesinambungan fungsi Bogor. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. semak dan sawah.2003. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. 2001. seringkali bercampur dengan pemukiman.226 I.7 No. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. menyebar terkadang bergerombol. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. 221 . Oktober 2010. hijau tua agak terang. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. yaitu Bogor.4. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. serta daerah pemukiman. kebun teh dan kebun campuran. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi.minimum Sungai Ciliwung.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. 1997. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis.

Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. begitu juga sebaliknya. R-Sq = 99. X2. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen).).05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y). dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. R-Sq (adj) = 99.000 0.0. luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1.51 . semak dan sawah.027 . Koefisien (Coefficient) . Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. Namun. Tabel (Table) 1.minimum (ΔQ). adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.005 0. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 .000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum .Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).108X2 + 0. untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum.027X1 – 0.072 p-level 0. luas pemukiman (ha). Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. kebun teh dan kebun campuran. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum.2. a = 0. yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. 1997 dan 2001.05 . sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang. Pearson's Product Moment (Walpole. III.4 – 0.1992).108 + 0. Khusus untuk lahan bervegetasi.0. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi.072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha).9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003.9% .

91 1171.24 -4288.64 2879.05 20. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap.79 +8.07 15.66 +23.812 14. 224 .82 6. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672. Tabel (Table) 2.35 -82.53 83.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sementara itu. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.32 -10.32 0. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 . sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan. klimatologi. geologi.45 0. 2000).39 445. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.35 28. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan.61 6454.002 meter di atas permukaan laut.29 +0.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.50 -3. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.11 32.64 6.07 3.4.71 5957.88 25. tanah dan penggunaan lahan.09 +4335.32 2733.70 0.7 No.002 0.46 +7.02 8.448 +16. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.45 19.96 18. serta lerengnya berkisar antara 8 .108 m3 /detik. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.3. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.23 -6.35 0. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi). Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya.89 (%) 79.027 m3/detik. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.00 +1475.13 -1273.42 1621. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).08 3484.85 2886. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau.79 2003 (ha) 8512. Oktober 2010.64 14. 221 .56 5180. geomorfologi.89 -598.62 -0. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap. topografi.64 15.55 (%) 59.992 +1541.48 2713.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.89 4733.48 34.

yaitu sebagai pencegah erosi.98 408.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik.minimum cenderung meningkat pula.50 291. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum .49 242. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian.73 293.875 3.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242. dan kerapatan akar tinggi. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142.51 118.Seperti halnya dengan hutan. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal.22 273. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan.44 171. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.46 1. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam.64 199.45 persen.98 224. Debit Minimum.22 3.91 244. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya.68 274. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3.22 1.178 3.690 4.426 2. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah.2003 cenderung turun.71 1. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 . akan berdampak negatif terhadap lingkungan.792. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). akar serabut panjang. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun.20 244.25 225 . Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan.20 411. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 . pencegahan banjir dan erosi.

Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.072 X3. Oleh karena itu. Bendung Katulampa. 2004. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Pengantar Statistika. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan.108 X2 + 0. dan areal pemukiman harus ditekan.0. Walpole.4 . Jakarta. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. 1992. tidak permanen. R. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol. Data debit maksimum . 1999. seperti disajikan pada Tabel 4.027 X1 . Institut Tehnologi Bandung. Departemen Kehutanan. Pasca Sarjana. dengan pola hubungan : Y = 641. D. 226 . PT. dan pemukiman dalam hektar. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. Bogor. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. Bogor.0. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. 2004. Fakhrudin. Tabel (Table) 4. X2 . M.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. 2003.E. Tesis. IPB.minimum Sungai Ciliwung. Terjemahan. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. Pratiwi. Gramedia Pustaka Utama. Skripsi. Hardiana. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful