ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

penyimpanan. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. Kata kunci : benih. Htn Tnm Vol..7977 (r : 91.02 selama 8 minggu. Sampai pengeringan selama 3 minggu.8957x + 6. apiculata UDC(OXDCF)630*. Htn Tnm Vol.... 4..6%).. kemunduran..9072x + 9. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Persamaan dugaan daya berkecambah. fisiologis.. R. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. pengeringan. uji eksisi embrio : Y = 0.. lemak. uji hidrogen peroksida : Y = 0. 4. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. 4. protein dan daya hantar listrik. uji cepat. VII No. VII No. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati.. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). apiculata (KA awal 54..1285 (r : 92.. .. Kata kunci : Biokimia. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. eksisi embrio dan belah. damar.0319x + 4.. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Pen. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Penyimpanan propagul R. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. akurat dan efisien.3975 (r : 90%).8%) dan uji belah :Y = 0.7%). Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl.... perkecambahan...02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. 2 dan 3 minggu. hidrogen peroksida. fisiologi.. VII No. J. Pen. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. namun waktunya relatif lama..9474x + 2 2 10.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol..749 (r : 92. kecepatan berkecambah 0. kadar air propagul mencapai 31. Penyimpanan propagul secara konvensional.67%).

. Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. VII No... Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.... . 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.6 cm... Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit..71%. Mulyana Omon (.. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn.... Pen.....5 m. mutu bibit. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup.3cm dengan diameter antara (5 mm . Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. 4.3 %... VII No. Htn Tnm Vol. pertumbuhan.63% dan 48.. Kata kunci : cabutan. parvifolia... Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.....89%. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu.. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali..... Dalam pertumbuhannya...5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. VII No. yaitu sebesar 184...... sementara untuk S.... UDC(OXDCF)630*....1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit.. Bogor J. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2.... 4.. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. 4...JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. terutama untuk kayu pertukangan.....) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J... hama. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup.. 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn... Zeuzera coffeae Nietn.. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005... Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya.. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59.8 % and 84... Pen.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Kalimantan Tengah. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya.. Sedangkan serangan hama Z.2% dan 3. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis.).. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter)... Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan... meranti merah.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan........ Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.... Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. Leucopholis rorida F. Dengan demikian jenis S.... yaitu tinggi antara (50 cm .8 mm) atau rata-rata sebesar 5... R.. dan Zeuzera coffeae Nietn.. kelas mutu bibit. sedangkan. Htn Tnm Vol... coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor.

. Fluktuasi debit air. mortalitas. 4. VII No.027 m3/detik... Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.. Pen.. insektisida nabati..... kawasan Puncak. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J.. Eurema spp. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis.. Meskipun demikian. Htn Tnm Vol.. sebesar 90%... 4. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+... Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. pada Skala Laboratorium J. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Dari segi tata air...67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Pen. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama..7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003.. VII No. Kata kunci : bintaro. Htn Tnm Vol. pada skala laboratorium. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Eurema spp. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. penggunaan lahan . 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0.. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air. VII No. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. sengon UDC(OXDCF)630*. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. 4..

105. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. The variables of physiological observation were germination percentage. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. desiccation. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. whereas variables of biochemistry were contents of starch.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Rhizophora apiculata. (0251) 8327768 . Naskah masuk : 1 Desember 2009 . Rhizophora apiculata 167 . storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. deterioration. penyimpanan. germination rate and germination value. lemak.26 per etmal and germination value 0. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). fat. propagules. Penyimpanan propagul R. Kata kunci : Biokimia.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Raya Ciamis-Banjar Km. 4 PO. kecepatan berkecambah 0. BOX. Keywords: Biochemistry. protein and leachate conductivity. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage).67%). Storing of R. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1. 2 and 3 weeks. storing the propagules conventionally. apiculata (kadar air awal 54. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. propagules moisture content was 31. kadar air propagul mencapai 31. physiology.67%). Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. fisiologi. Bogor 16001 Telp. 2 dan 3 minggu.O. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86.02 for 8 weeks. Sampai pengeringan selama 3 minggu.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P.02 selama 8 minggu. Penyimpanan propagul secara konvensional. Up to 3 weeks of desiccation period. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. germination rate 0. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. kemunduran. BOX 5 Ciamis 46201 Telp. pengeringan. protein dan daya hantar listrik.

apiculata. 1992).70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. eksploitasi hutan secara berlebihan. sangat sensitif terhadap pengeringan. perubahan dalam cadangan makanan.20%. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008).179 I.8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. 1970. 1991. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman.. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. apiculata sebelum disemaikan.Anderson. maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. terutama R. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. Dourado and Roberts. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. Umumnya kadar air 6% . Selain itu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Menurut Chin et al. apiculata. 1984. peka terhadap radiasi.8% cukup untuk penyimpanan yang aman. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. 167 . kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih.25 juta hektar. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia.50%). maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R.6 juta hektar (1.10% selama proses pematangan. Rhizophora spp. 2000). 168 . hingga mencapai tingkat yang menghambat. 1983). kuantitas dan kualitasnya.4.4%). tertundanya perkecambahan. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd.. Oktober 2010. menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat). kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin. perubahan laju respirasi. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. Abdul Baki and Anderson. kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . (1989). proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. terutama dalam hal kesesuaian jenis. 1970). Sedangkan menurut Schmidt (2000). perubahan dalam membran.. Untuk benih rekalsitran. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim. sedimentasi. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. dikehendaki kadar air 2% . dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt.7 No. tidak memiliki masa dormansi. 2006) diperkirakan 6. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih.

sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. apiculata dilakukan di Bali. B.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . daya berkecambah (DB).25 propagul untuk DB . apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. AC. B3= 6 minggu. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan.2 propagul untuk KA . 2. ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 .Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. 1. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. B2= 4 minggu. METODOLOGI PENELITIAN A. ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). lemak. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. Bogor. tanah. B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) .Biokimia : pati. oven. Lokasi pengumpulan buah R. C. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. Tabel (Table 1).Fisiologi : kadar air (KA). Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. Pengunduhan propagul R. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . B1=2 minggu. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm).3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : .

Pada tahap kedua.179 kekuningan. sebelum dimasukkan ke oven. daya berkecambah. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap.. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih.. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2... Sementara itu.4.... Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air..Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 .. Penyemaian propagul R. 1985). Selain variabel fisiologi.2.. kecepatan berkecambah. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis..Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst). propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro). Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul.. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA.. total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali). Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti. Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying). metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian. n hari setalah tanam (%) D1. pati. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan..... apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm.... dan nilai perkecambahan. Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari. Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006)... kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1.5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian. 167 . Oktober 2010. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam.Nn : . E..7 No. Bogor.. propagul dipotong dan dibelah.

Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. pengeringan propagul R. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%.19.98** 1. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. 2004). 1.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA). Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1). apiculata seed) No. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan). HASIL DAN PEMBAHASAN A. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. 4. Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. germination percentage. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata.67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. apiculata. daya berkecambah (DB).57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. 171 . Asep Rohandi dan Nurin Widyani III.49** 4. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. Daya berkecambah. 2. daya berkecambah masih cukup tinggi (86. kecepatan berkecambah 2.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt).67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3.33%.67%) yaitu sebesar 13. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. 3. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum.53* 158. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. germination rate and germination value of R. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan. Tabel (Table) 3.

Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB).00 a 97. Oktober 2010. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content.71% (2 minggu).72 c DB (germination percentage) (%) 100.78 a 40.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2.11 a 0. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2). Menurut Nkang (1988). 35% (2 minggu). 2. .00 a 100.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan.34 b 1. Kandungan biokimia propagul R.179 Tabel (Table) 4.87 c 1. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). 4.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1.7 No. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol. protein dan daya hantar listrik (DHL).02 a 50. lemak. apiculata yang meliputi pati. 167 . kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. apiculata yaitu pati. 3.30 (3 minggu). Viabilitas propagul R.38 d NP (germination value) 1. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. protein 4. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati.33 a 86.4.64 b 31. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R. germination percentage. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. lemak 0. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan. moisture content and germination percentage and b).19 a 0.50% (1 minggu) dan DHL2. Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. apiculata seed) No. kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b). germination rate and germination value of R. apiculata seeds at desiccation period a).08 a 0.57 a 2.

toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak.01 Lemak (fat) (%) 0. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan.92 27. Jumlah kandungan pati. 2. fat. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih.71 0. 1998).87 1. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian.06 24. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian.63 4.30 1. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase).1981. lemak.24 Protein (protein) (%) 3.46 0.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. 1993 dalam Adimargono. 1997).50 3. Nugroho.29 0. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. 3. (2) kondisi kulit benih. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan).35 24. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih. apiculata seeds) No. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies. dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. 1997). Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran.81 3.07 0. apiculata (Contain of carbohydrate. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. 4. 1993 dalam Adimargono. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. Tatipata et al. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. 173 .20 2.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. 1998). protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak.

protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R. fat.19* 2. Tabel (Table) 6.179 Gambar (Figure) 2.33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu.30** 339. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%. Daya Berkecambah (DB). apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91. germination rate and germination value of R.13** NP (germination value) 3. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 .39** 72.4. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R. Pada penyimpanan di ruang AC. 167 .10** 247.7 No. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29. Propagul R. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R.95** 54.44* Ket.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.51* 2. apiculata seeds) B. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA). (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan). Kandungan pati. germination percentage.69** 302. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA).01** 28. Oktober 2010. apiculata (contents of carbohydrate.51** 59. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R.

Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar.56%. sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. Selain dengan parameter daya kecambah. Viabilitas propagul R. Moisture content.. apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). 1994). Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al. b). indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 . b) Germination percentage. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3).Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%).33%. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. Sementara itu. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. Kadar air. Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. Daya berkecambah. apiculata seed at many storage treatment : a).

lemak 0. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. 11.37 0.26 0.20 0. 6. fat. Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar). apiculata seeds ) No.17 0.49 0.84 21.15 3. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut. apiculata (Contents of carbohydrate.39 0.03 28.06 25.62 Lemak ( fat) (%) 0. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar.56 3.96% (ruang kamar selama 10 minggu).24 0. 3. 8. 167 . Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R. 10.63 3.06 22.06% dan meningkat menjadi 28.10 0.56 23.64 25.89 1.35 28. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Jumlah kandungan pati. 2 = 4 minggu. Tabel (Table) 7.63 3.18 Protein (protein) (%) 3. protein 4.55 1.24 22.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0.23 0. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.07 4. 5. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad.7 No.50 3.46 0. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.72 26. 2 = ruang AC). apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan. 1972).19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2.34 0.07 0.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu).179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP).31 3. 7. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R.69 3.44 3. 4.63 24.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.46 1. 9. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol.07 0.14 1. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.63 2.05 2. 1 = 2 minggu.27 0. lemak. 3 = 6 minggu.54 0.87 0. Oktober 2010. 176 .96 15. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.59 4. 12.27 0.4. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R. apiculata adalah 28.84 1. 2. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun. Meskipun demikian.54% (ruang kamar selama 10 minggu). Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.

echinata Mill. Crop Science. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. P.Anderson. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. DB : 86. Kondisi kritis propagul R. KT : 1.39 Anggraini. 10: 36 . Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. and storage. P.. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C.N. 2002).D. Final Thesis in Tropical Plant Production. strobus L (Bonner.7%. 4. pasutris Mill. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. identification. P. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al.88p Blanche. 1991) serta E. pati.A. eliotti Engelm. Deventer. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L.D.. Oleh karena itu. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. Gomez and E. Namun demikian. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. Berdasarkan hasil penelitian ini. apiculata sebesar 0. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. AOSA. S.. J. Skripsi. Seed Vigor Testing Handbook. Y. Recalcitrant seeds. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain..E. 1998). 1994). Penyimpanan propagul R. A. protein dan daya hantar listik) propagul R. Viability and leaching of sugar from germinating Barley.A. 10:31 . Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail. V. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. 1970.7%. 1991. Contribution No 32 . informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik.D. Seed chemistry of the 177 . P. 2.34 Adimargono. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. 3. Gonzales. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. J.A and J.08). apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. Kandungan biokimia (lemak. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.4% per etmal dan NP : 0. Crop Science. Hodges. C. 1970. 2000.3%. Larenstein International Agriculture College. Ti d a k Dipublikasikan. Anderson. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. Fakultas Kehutanan. Pengaruh Media Simpan. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 1983. 1997. 39 hal.

New Orleans. 13. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Z. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Tidak dipublikasikan. Schmidt. Girija. C. A.M and E. In Tailor. Tidak Dipublikasikan. Pian.R. Krishnapillay. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. CSSA Special. B. g o . Q. Berjak. Annals of Botany Company 54: 767 . i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. Bass. 1984. China. T. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. Byrd. United States Departement of Agriculture. S. Seed Moisture: Recalcitrant vs. E. Ph. . Bogor. 1985. ISTA. Skripsi. Nkang.wordpress.O. B. 2003. 8303 Bassersdorf. A. 1983. Dourado. Lauridsen. Justice. Raja Grafindo Persada. Seed Science and Technology 16: 247-260. 1991. Jakarta. F. 1994.G and Xue Lin Huang (eds). 1988. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. Scholer. F. Bogor. A. Hindra. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB.T. A. Jakarta. Dari Benih Kepada Benih. International Rules for Seed Testing. and S. Jakarta. 167 . L. C.7 No.). 1992. 1997. IPB. Jurusan Manajemen Hutan IPB. CH . B. PT. 1993. N. d e p h u t .) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. P. McDonald. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. PT. Publ. Madison. Oktober 2010. O.778. A. No. 1981. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds.. Progress in Seed Research. L. Bogor. Malaysia. 3:949952. B.. Pedoman Teknologi Benih. 2006. Eds. Bonner. N. dan Louis. 2006. Rajawali Pers. Pammenter. Permasalahan dan Solusinya. Institut Pertanian Bogor. Gramedia Widiasarana Indonesia. Pengaruh Media Simpan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.pdf. 1972. Fakultas Kehutanan. Srinivasan. 1989. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. Setiawan. Kualalumpur. Stanwood and N. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST. 25 p. Pembimbing Massa. A.H Roberts. 178 . Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Mugnisjah. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. Diakses tanggal 3 September 2008. Disertasi Program Pasca Sarjana. Seed Science and Technology. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis.. W. H. Chromosome alterations in stored seeds. 1990. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. Zurich. orthodox seeds. Sudjindro. 59 hal. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. Olesen and E. Sadjad. Box 308. DK-350: Danida Forest Seed Centre. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. K. H. h t t p : / / w w w. Handayani. Skripsi. PT. Vol. Stanwood. 2008. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. 14. U. Santoso. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. 1998.B. A. 1994. Nugroho. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. Wisconsin. 1998. Crop Science Society ofAmerica. Diakses tanggal 3 September 2008.37 No.W and P. Jakarta. Chin. Hutan Mangrove.4. ISTA. C.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. Tidak dipublikasikan. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds.Switzerland. Louisiana. In: Seed Moisture.15 October 1998. USA. Santiwa dan Suwarto. Switzerland. http://uripsantoso. 2000. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP).

LHP No. 11 No. Enok. A.. Prapto Yudono. Bogor. Yogyakarta.. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. Naning Y. Tatipata..K. A. 2002. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida. Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. Adang M dan Endang I. D. 2004.. 179 . Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. 2004 : 76-87. 2. BPPTP. 375. R. Tidak dipublikasikan.

but it takes time. hidrogen peroksida. Sulawesi dan Irian Jaya. tetrazolium test: Y= 2 2 1. excision embryo 2 2 test: Y = 0.749 (r : 92. physiological. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.8%) dan uji belah :Y = 0. Kol.. kayu sigi (Sumatera). tangkai korek api. mebel. damar pilau (Dayak).0319x + 4. akurat dan efisien. pulp. Keywords: dammar.9474x + 10. cheaper and better accuracy. Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. namun waktunya relatif lama.6%).749 (r : 92. peti kemas. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test.0319x + 4. hydrogen peroxide test: Y = 0.3975 (r : 90%).9072x + 9. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). uji cepat I. BOX.5 Puntikayu PO. Burlian Km. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test).co. exicion embryo test and cutting test. ki damar (Jawa). The equation of determination of dammar's germination capacity i. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. ki damar (Sunda). hydrogen peroxide test.8957x + 6. damar putih. Maluku Kalimantan. damar wana (Sulawesi). damar kapas. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Kata kunci : benih. Box 105 Bogor Telp. rapid test.7%). 179. venir. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. fisiologis. damar.7977 (r : 91. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al./Fax.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po.id Naskah masuk : 5 Maret 2010. 1981).1285 (r : 92. 6. Palembang Telp. adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1. Kondisi 181 .8%) dan cutting test:Y = 0. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. pensil.e. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed.9474x + 10. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb. damar. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak.. Persamaan dugaan daya berkecambah.8957x + 6. kayu lapis. Bangka. eksisi embrio dan belah.7977 (r : 91.7%). damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan. H. sinonim: damar sigi.1285 (r : 92. germination. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0.9072x + 9.3975 (r : 90%). uji hidrogen peroksida : Y = 0.6%). perkecambahan.

TZ 0.3 menit (v) benih 182 . dilakukan di germinator. alat pengaduk. eksisi embrio dan belah.4.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85. hidrogen peroksida (r2: 90. TZ 1%: garam tetrazolium (2. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 .3. Oktober 2010. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji.18%) waktu pengujian selama 1. 2000). Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%.38 dan 31. gelas piala.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . (1996).876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v). 1.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. 2009). standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode.3. natrium hipoklorit.00%) (Sagala dan Endah. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung.5 jam. etanol 70%. pinset. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45.triphenil tetrazolium chlorida ). disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung.2H2O. garam tetrazolium (2.79% (DBawal = 63. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. benih disusun beraturan.3. lembaran plastik dan aluminium foil. hidrogen peroksida. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. kertas merang.3.2H2O sebanyak 11. gunting kuku. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. oven. Uji cepat tetrazolium 1. Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. misalnya. Na2HPO4.5%: garam tetrazolium (2. Menurut Bonner et al. 2005). benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. B. Alat-alat: cawan petri. II. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh.7 No. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. 1990). A.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. keterbatasan jumlah benih. saringan.1. 181 . alat semprot tangan dan kaca pembesar. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan.42%) selama 1 jam. eksisi embrio (r2: 81. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang.04%) selama 7 hari. silet.2. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.5. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. benih dikecambahkan pada kondisi ideal. KH2PO4. 1. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. Prosedur Pengujian 1. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%). uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades.8 C).

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

masing-masing sebesar 91. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau.8%) dan uji hidrogen peroksida (92.6% dan 90%.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari.4. sedangkan metode tetrazolium. 181 . kering. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996). 6 dan 2 hari. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja. 2007). masing-masing selama 2. Perbedaan 3 . Oktober 2010. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. sedangkan oven. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. hidrogen peroksida. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. eksisi embrio dan belah. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. layu dan busuk.7%).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. hidrogen peroksida. 186 . 2009). sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. 6. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. eksisi embrio dan belah. segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. hydrogen peroxide. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4).

hydrogen peroxide.85 2.53 2.83 58 ± 4.16 65 ± 10. t table/table 0.83 40 ± 7.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.30 48 ± 3.05: 2.45 0. hidrogen peroksida.40 0.16 54 ± 5.27 1.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.50 42 ± 8.00 96 ± 3.0 55 ± 3.81 2.00 0.25 87 ± 6. uji tetrazolium.69 1.32 1.447. hydrogen peroxide.00 96 ± 5.27 80 ± 11.27 46 ± 8.83 87 ± 6. t table/table 0. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.00 76 ± 7.01: 3.00 97 ± 3.59 1.24 0.33 0.60 1.00 47 ± 11.00 98 ± 4. uji hidrogen peroksida. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.78 0.10 55 ± 6.16 49 ± 6.13 0.30 1.9 91 ± 8.08 0.65 1. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2.00 1.33 40 ± 3. tetrazolium.23 2. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium.63 0.96 0.5o 51 ± 10.83 75 ± 6. excision embryo and cutting test 187 .83 40 ± 10.3 thit thit 98 ± 4.66 82 ± 5.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).00 74 ± 5.00 55 ± 10.00 0.63 0.

Departemen Kehutanan. US Department of agriculture.A. C. Leadem. Jakarta. Ministry of Forest Land Research Branch. Management report No. Iding K. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan. Instructors Manual.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Schmitd. Southern forest experiment station. Leubner. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. 2000. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. G. The Seed Biology Place.P. 2007.4. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium.7 No. ISSN.9072x + 9.B.9474x + 10. 18.T.749 r2 = 9. Atlas kayu 188 . Quick test for tree seed viability. Hydrotime: Population based threshold germination model.7977 r2 = 9. dan Soewanda A. Martawijaya.L. New Orleans Louisiana. Kosasih. General technical report SO 106. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV. 2.28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. 1984. K. Oktober 2010.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1. 0702-9861. Tree Seed Technology Training Course. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. 2006. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi).16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5.0319x + 4. 181 .C. Bonner F. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). KESIMPULAN 1. B. 1981.1285 r2 = 9. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Jakarta. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. A.W and Land S. 1994.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. hidrogen peroksida. Vozzo J. L.8957x + 6. Elam W.

Laporan uji coba NO. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Jurnal Standardisasi. 189 . Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Zanzibar. Balai Teknologi Perbenihan. Y. Prinsip dan prosedur statistika. Badan Penelitian dan Pengembangan. Bogor Steel. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. Pengaruh kadar air awal. H. dan Naning. T. J.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. R. Bogor. 1990. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. Zanzibar. 2003. Gramedia. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . Departemen Kehutanan. dan Nanang. dan James H. perlakuan asam propionat. Jakarta. Bogor. 97. M.G. 2005. M.R. Badan Penelitian dan Pengembangan. PT. Sagala. dan Endah S. 1991. M.D. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. Bogor Zanzibar. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. 1996. Departemen Kehutanan. status pendekatan biometrik (Terjemahan). M. Jilid I. 2009.45. Zanzibar. Direktorat Jenderal Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan.

The growth of height was significantly affected by block. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. The results showed that species. mutu bibit. Therefore S.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. The total numbers of plants observed were 2400 plants. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. Meanwhile. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. seedling quality class. Kalimantan Tengah.8% and 84. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field.5 m spacing.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . sedangkan. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. Box 105 Bogor Telp. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. diameter and value strength. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. Centre Kalimantan R. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. The survival. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . Keywords: Growth.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality.400 bibit. red meranti. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. S. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . However.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. species. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding.5 m. respectively). interaction between species and seedling quality.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati.3%.

15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. S.5 cm/th.8 % and 84. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4.6 cm/th. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. parvifolia.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. konsentrasi karbon dioksida. johorensis sebesar 2. agar tegakan yang dihasilkan baik. Propinsi Kalimantan Tengah. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. platyclados sebesar 2. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. parvifolia sebesar 2. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. pupuk. Kabupaten Seruyan. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. oksigen. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. II.6 cm. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. macrophylla sebesar 1. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri.4.3cm dengan diameter antara (5 . S. Dengan demikian jenis S. luas 184.206 Ha. hama. 191 .1-1999).7 No. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. Kata kunci : cabutan. Oktober 2010. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. suhu.2 cm/tahun dan S.1 cm/th. yaitu sebesar 184. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. kelas mutu bibit. 2000).000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993). yaitu faktor dalam dan faktor luar. mikoriza. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No. B.000. Faktor luar yang penting antara lain air.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. jenis medium bibit. yaitu tinggi antara (50 .3 %. BAHAN DAN METODE A. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono. cahaya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian.8 mm) atau ratarata sebesar 5. S.8 cm/th. pertumbuhan I. Faktor dalam diantaranya asal benih. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . sementara untuk S. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. 2007). meranti merah. kelembaban udara.

0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4.5 m. C. Diameter (diameter) 4.0 < - - D. Tinggi (height) 3. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII.400 bibit. parvifolia (A2). Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII).0 – 4. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. pemasangan ajir. Tabel (Table) 1. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. yaitu lebar jalur 3 meter.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. Kekompakan media ( media compaction) 2. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran.000 m2 atau seluas 12 ha.5 m.3 – 10.8 – 12. leprosula dan S. Luas areal penanaman adalah 2.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. kaliper. mistar dan kamera.1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. Cabutan diambil di sekitar pohon plus. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. seperti disajikan pada Tabel 1. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil). Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5.5 × 20 × 2. leprosula (A1) dan S. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1). C.0 mm 6. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati. 193 . Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur.400 = 120.0 mm.0 – 8. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Bahan danAlat Penelitian 1.9 mm 8. Pucuk / akar (top root ratio) 6.

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3. Pengumpulan Data 1. Oktober 2010. Parameter yang diamati adalah tinggi.4. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan. mutu bibit.199 E. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 .8 b III 90. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh).8 ab III 80. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan. 191 .8 a I 79.6 80. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja.8 c Rataan Rataan 90.7 No. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar. diameter dan persen hidup tanaman.5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. 2. Daniel et al. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. HASIL DAN PEMBAHASAN A. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis.7 b II 96. III. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm). Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan. E.2 a I 88. 1975).5 b II 88. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper. Tabel (Table) 2. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman.8 a IV 74. kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan.

1993). Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88. Mulyana Omon penanaman. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%. Untuk diameter masing-masing sebesar 2. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam.8 % dibandingkan blok I sebesar 79.3 cm dan 165. leprosula dan S. B.7% dan blok IV sebesar 74. Untuk pertumbuhan diameter.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. tanaman pesaing. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka. yaitu intensitas cahaya. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII. yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. iklim mikro.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.8 cm. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua.3 %. lantai hutan. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).7 cm. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).6 cm. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter. tanah dan faktor biotis.2 % setelah satu tahun ditanam.100% untuk tingkat pancang. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. Tabel (Table) 3. blok III sebesar 80.8 %.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 .3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil. dikarenakan pada waktu penanaman. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179.1 % dan 76.6 cm dan 2. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). 177. terlihat lingkungannya di kedua 195 . Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. Oleh karena itu untuk jenis S. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. 82. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman.

Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan. yaitu sebesar 184. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221.4. leprosula dan S.3 b 179. 191 . akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua. Tabel (Table) 4 .7 No. lingkungan dan teknik silvikultur. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). parvifolia. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).2 cm dan 224. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan. A2 = S.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5.6 cm (Soekotjo. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). parvifolia dari mutu bibit tiga. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S. Oktober 2010. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No.7 a 165. leprosula.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162. leprosula dari mutu bibit tiga dan S.6 ab 0.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).8 a 0.2 bc 0. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya.4 c 0.0 a 2. yaitu faktor keturunan (genetik).5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184.199 blok hampir sama.2 a II 47. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).4 c IV 58. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173. Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran. 2007).3 b 2. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S.8 b 177.3 a III 55. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor.6 cm. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi.7 b 2. 196 .6 c 2.

B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .1 2. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6. yaitu nilai kekokohan. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S.5 3. leprosula sebesar 9. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6. Mulyana Omon C.62% B3 Utuh 9.75% B2 utuh 9.2 57.7 62.10. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).6 dan untuk S. Kekokohan bibit.5 dalam katogari yang baik. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.6 2. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian.5 % utuh 9. parvifolia diikatakan cukup baik.1-1999). Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan.6 4.6 % 59.7 untuk jenis S. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005.3 .08% 65.6 4.7 % utuh 10.8 3.1-1999). Tabel (Table) 6. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.6 65. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan.7 % 65.5 65.7 65.1 % utuh 10.4 59.

Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. 1979.8 %. Tr o p e n b o s International. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. Haeruman. Jawatan Meteorologi dan Geofisika.H dan J. Kesimpulan 1.A. leprosula dan S. Departemen Kehutanan. Yogyakarta. Wageningen. sehingga akar bibit tidak rusak. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). 5. IPB. 2007. 3. Priadjati.61 cm. T. 4. Verhandelingen No. FORSPA Publication 8. parvifolia. 7 No. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. F..7 No. yang masing-masing 10. 191 . leprosula dan S.6 cm. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). bagian pertama. Bagian Perentjanaan Hutan. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Badan Litbang Kehutanan. J. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. 2003.4. 78 h. Prosedur analisa rancangan percobaan.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). KESIMPULAN DAN SARAN A. Wana Benih Vol.T. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak.3 % dan 88. 1. B. khususnya dari jenis S. Departemen Mangemen Hutan. 42. Mok. Helms. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. IV. Gadjah Mada University Press. Oktober 2010. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. Hendromomo. 1975. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. Jayusman.W.H. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). 2. 1993. dan F. Malaysia. Schmidt.7 %. Tidak diterbitkan. 2005. yaitu sebesar 184. Bogor. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur. 198 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. S. The Netherlands.6 dan 4. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. The Tropenbos Foundation. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. Baker. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n . H. Yogyakarta. Ferguson.S. Jakarta. Kuala Lumpur. Prinsip-prinsip silvikultur. Fakultas Kehutanan. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. yaitu sebesar 2. A. 1951. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea.

Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. I. Yassir.Inc.11999. Talbert. and J. 1 No. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2007. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. dan Y. B.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. Mitikauji. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda. Jakarta. dan Shorea balangeran (Korth.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. Soekotjo. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. Jakarta Schmidt. Zobel. 199 . Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. L. New York. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. 2007. Applied forest tree improvement. 1984. Departemen Kehutanan. 1. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. Badan Standardisasi National. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. Vol. 2000. September 2007. John Wiley and Sons. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Samarinda.

Burlian Km. terutama untuk kayu 201 . I.2% dan 3. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. H. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F.5 years old) with attack and damage intensity of 77. Dalam sistem silvikultur intensif. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin.). Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. Zeuzera coffeae Nietn.. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. hama. Leucopholis rorida F.id Naskah masuk : 21 September 2009 .71% respectively. pests. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5. dan Zeuzera coffeae Nietn.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. The highest damage caused by L. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. Jati (Tectona grandis Linn. baik kualitas maupun kuantitasnya. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. it was often attacked by several pests that caused seriously damages./Fax. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. BOX.2% and 3. and Zeuzera coffeae Nietn. the highest damage caused by Z. Zeuzera coffeae Nietn. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. rorida was recorded on plot I (teak was 2. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting.71%.89% respectively. Dalam pertumbuhannya.). 6. Leucopholis rorida F.89%.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. Beside this. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. 179.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. Sedangkan serangan hama Z. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. In growing period.co.. Bogor Agricultural University.) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood.63% and 48. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Palembang Telp.63% dan 48. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Kol. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. terutama untuk kayu pertukangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.5 Puntikayu PO.

tabung bekas film. Hama penggerek batang. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. (menyerang batang). meliputi: a. Hama perusak akar. 202 . Bogor Jawa Barat. Jawa Barat. D. C. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). Bogor. 1979 dalam Rahardjo. Oktober 2010. kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. alat tulis dan kamera. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. METODOLOGI A. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. rumus yang digunakan adalah: II.185 pertukangan. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. 1989). Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Berdasarkan pengamatan awal. Duomitus ceramicus Wlk. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). Dalam pertumbuhannya. dan Neotermes tectonae Damm.Oktober 2000. Captotermes curvignatus Hciver. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. etanol. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. golok. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. dan Leucopholis rorida F. pilok. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. inventarisasi inang terserang. dan Monochamus rusticator Fab.7 No. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus).4. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). tali rafia dan kapas. 177 . dan Pyrausta machaeralis Wills. 16 bulan (petak II dan III). 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. b.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. (menyerang akar). 1. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. (menyerang leher akar) (Suratmo. Hiblaea puera Cr. B. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan.5 tahun (petak I).

Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. 1.5 m 0. 3. 4.1 – 6 m b. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1.1 – 1.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al. 1979 dalam Winaryati. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a.1 – 4 m 4.6 – 1 m 1. 6.6 – 2 m 2.5 m 1. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. 2. 5. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 . Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo.

Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. ( ordo Lepidoptera. Kondisi akar yang terserang uret L. 1984). terutama segera setelah hujan pertama turun. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Leucopholis rorida F. 1.agak berat. ( o rd o C o l e o p t e r a . berwarna putih kekuningan. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah. sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. Identifikasi Jenis Hama. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . termasuk famili Melolonthidae (Coulson. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. 2000). subordo Lamellicornia.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn.27 buah.89% dan termasuk kategori agak berat.185 III. 1973). rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung. Sukabumi. meso. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono.50 cm. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. famili Cossidae). tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. biasanya pada kedalaman 17 .7 No. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. 1981). rorida dapat dilihat pada Gambar 1. pangkal antena dan pro-. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3).5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria.5 tahun) sebesar 48. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Oktober 2010. Berdasarkan pengamatan di lapangan. f a m i l i Melolonthidae). diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering.35 cm. Pada tanaman jati berumur 2.) yang berbeda. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. Uret. 177 . banyaknya borstel tiap baris 15 . Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati.4. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. 2000). Kumbang L. bahkan sampai kedalaman 40 . rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan.

rorida beetles) Tabel (Table) 3. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. disebut penggerek cabang merah.95 21.63 51. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). Root condition of teak attacked by L.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L. 2000). sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. Gejala serangan. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. Attack symptoms.20 2. rorida.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. Hama uret Leucopholis rorida F. (c) L. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. pada tanaman jati: (a). karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. Kumbang L. Zeuzera coffeae Nietn. rorida.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. rorida. rorida (L. rorida on teak trees : (a). rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77. (b).89 29. (b). b a c Gambar (Figure) 1. (c).18 42.

pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. 206 . a b c Gambar (Figure) 2. bagian pertama sepanjang 1 . pupanya 21 . (c). pupa dan imago (Stem borrer (Z. Metamorfose of Z. kepalanya berwarna coklat. Attack symptoms. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 . coffeae mulai dari stadia larva. 2000). Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah.5 cm. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. coffeae) on teak trees: (a). (b). Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. coffeae) pada tanaman jati: (a). Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. (c). lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z. Gambar Z.5.56 hari.7 No. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati.45 mm. Oktober 2010. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. 2000). Imagonya berupa ngengat berwarna putih. coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. coffeae mulai dari larva.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. Metamorfosis hama Z. coffeae consist larva.4. (b).5 mm (Husaeni. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm.11 hari (Husaeni. pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. Siklus hidup Z.28 hari dan ngengatnya 5 . stadium telurnya berlangsung 12 hari. Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. Hama penggerek batang (Z. larva 53 . Sedangkan segmen ke 8. Gejala serangan. 177 .5 bulan.

coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. Walaupun serangan Z. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). Pengurangan populasi kumbang. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Pengendalian Leucopholis rorida F. coffea.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. c. batang menjadi bengkok dan berlubang. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4.71 0.013 1. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. B. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. Berdasarkan pengamatan di lapangan. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur. Upaya Pengendalian 1. b. Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). Kerusakan akibat serangan Z. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . jika penanganannya kurang hati-hati. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan.22 0. L. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih).

Publ. Husaeni.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. N. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. IV. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. E. Harsono. 167. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. D. B.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. d. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. BKPH Cikaung. Serangan hama Z. Fakultas Kehutanan.4. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. 1989.63% dan 48. S. Rahardjo. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z.71%. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. DAFTAR PUSTAKA Coulson. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. E. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. Bogor. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. New York. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. Institut Pertanian Bogor. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya.7 No. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. Oktober 2010. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. Forest Entomology. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. and J. 2000. E. Intari. Laporan No. (serangga perusak pucuk dan cabang). P. 2002). Imago Z. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. 2002). dan D. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. 1981. R. A. Natawiria. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. Fakultas Kehutanan. Bogor.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam.2% dan 3. LPH.89%. Willey Intersci. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. Bogor. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. coffeae. 2.5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. A. Ecology and Management. 201 . KPH Sukabumi. 1973. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. 1984. misalnya furadan (Tini dan Khairul. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis. Institut Pertanian Bogor. Witter. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan.

Fakultas Kehutanan. Amri. Winaryati. 27 . Bogor. 2002. Morfologi. Hutan Fakultas Kehutanan. KPH Kendal). Bogor. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. Institut Pertanian Bogor. Palembang. 209 . Palembang. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. 1984. A. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif.) di BKPH Boto KPH Randublatung. Jakarta. Tini.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Studi Keragaman Gejala. Winarto. Institut Pertanian Bogor.29 Oktober 1997. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Skripsi Jurusan Manajemen. 1997. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. Agro Media Pustaka. Nia dan K. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. B.

sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama.67% and need 1. is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. 1991).AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp.5 Puntikayu Po. Keywords: bintaro. merupakan hama utama yang menyerang tanaman. PENDAHULUAN A. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. johar (Cassia siamea). Box 179.). This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. sengon I. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. Eurema spp. Eurema spp. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. There are some techniques to control Eurema spp. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl.7 long days than control treatment. mortalitas. Kata kunci : bintaro. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. biopesticide. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp.) Insecticide on Eurema spp. pada skala laboratorium. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. Eurema spp./Fax. and successful making of pupa and imago are 16. Eurema spp. insektisida nabati. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Eurema spp. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. Eurema spp. Burlian KM 6. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Palembang Telp. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. Pada tanaman sengon. sebesar 90%.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . Latar Belakang Eurema spp.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). mortality procentage is 90%. Kol. jengkol (Pithecelobium jiringa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. mortality. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. Selain tanaman sengon. dan turi (Sesbania grandiflora). Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.. jayanti (Sesbania sesban). baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan. in laboratory..

merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. Jepang. sampai ke pulau-pulau Pasifik. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. Serangga hama Eurema spp. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. B. 0. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. Asia Tenggara. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. 212 . Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. perlu diteliti. Pemberian pakan II. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. taman-taman. Setelah pelarutnya menguap. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. Bogor. Metode Penelitian 1. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. Selain itu Tarmadi et al. dengan menggunakan insektisida kimia. dan daun bintaro. B. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian. Australia. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. diantaranya terjadi resistensi hama. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. Larva yang diperoleh dari lapangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. 0. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. daging buah.5%. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. Eksplorasi Hama Eurema spp. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun.25%. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae.1%) dengan perbandingan 1 : 1. Tiongkok. 4. Oktober 2010. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. langsung digunakan sebagai serangga uji. kemudian direndam. sangat kecil.). Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. Korea. resurgensi hama. 2.7 No. 211 . 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. ledakan hama sekunder. 3.125%. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp.4. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. pada skala laboratorium. mulai dari Afrika. BAHAN DAN METODE A. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. dari bulanAgustus hingga September 2009. Bogor. dan tidak ramah lingkungan. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah.220 penyebaran yang sangat luas. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol.

lunak. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%.90%. Larva yang mengalami kematian. mortalitas larva paling besar. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. Disamping jenis ekstrak. dan lama kelamaan mengecil.33% .67% . Dari tiga jenis ekstrak bintaro. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. 33. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. 7) tidak aktif : m < 5%. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP).67% tetapi pada konsentrasi tertinggi.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp.1. Ekstrak biji. 213 . Hasil Penelitian 1. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Kematian larva diamati selama 7 HSP. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. daging buah. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13.80%. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998). konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva.33%. 2. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak. Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang.33% 20%. tubuhnya kaku. Pada 1 HSP. Pada konsentrasi terendah. dan 36. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. III. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. HASIL DAN PEMBAHASAN A.67% .83.

00 a 0.125 36.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.67 b 33.4.220 Tabel (Table) 1.25 56. Mortalitas Eurema spp. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Oktober 2010. 211 .33 d 80. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2).33 c 1 90.67 c 36.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.67 b 43. ekstrak biji bintaro 1.67 b 0.33 d 56.33 b 36.00 a 0. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya.67 c 53. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp.00 a 0. 214 . Berdasarkan nilai Lc50.33 bc 0. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.7 dan 1.8 dan 4.5 83. ekstrak biji bintaro 2.7 No.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment.00 d 83.

Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3.

67%. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa.00 a 100.78 b 50.453 (2.37 1. 115 –0.92 ± 0.76 ± 0. Oktober 2010.297 (0.4.480) 0.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.33% dan 27. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp.00 a 63. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.52 ± 0.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1.953) 6.315 (0.38 b 47.21 0.67 b 16. 5. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33. GB = standart deviation.7 No.67 b 33.00 a 100. 4.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. dan 6.25 0. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.813– 4.00 ab 46.56% dan 47.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.125 0. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. 211 .783 (1.65 ± 0.33 b 27.39 ± 0. GB = galat baku.78%.360 (0. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp.23 ± 0.096-349.00 b 52.62 b 45.49%. Namun pada konsentrasi tertinggi. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp.20 b ± GBa) 1.25 0. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16. SK = confidence interval) 1.463) 0. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.161-0.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1. b = kemiringan regresi probit.205-0.56 b 47. Pada konsentrasi terendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.189 (0.653-34. sedangkan ekstrak daging buah. α = 5%) 216 . serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3. Tabel (Table) 3.41 1.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. b = slope of probit regression. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp.62%. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.67 b 41. Adapun pupa Eurema spp.273) 3.476) a = intersep regresi probit.220 Tabel (Table) 2.49 ab 55. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.

Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp.67% saja imago yang terbentuk. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.7 ab 12.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.67 b 33. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.7 c 13.0 a 12.125 0. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago.3 b 13.33%.89 b 50. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa.89 b 38.0 bc 12. α = 5%) 217 .33 b 38.3 a 12.3 ab 0.56 a 38.0 a 12. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.00 a 100. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa.44 a 16.3 ab 12.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.89 b 44. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.25 0.00 a 100. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa. Tabel (Table) 4.67 b 36. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.3 c 12.33 b 33. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp. Pada konsentrasi 0. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1.00 a 33. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Pada konsentrasi 1%.7 ab 1 13.25 13. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan. Secara umum.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33.3 ab 0.0 a 0.125 12. Tabel (Table) 5. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.5 13.11 b 56.0 a 12.125%.00 a 41.

ekstrak biji bintaro memerlukan 1. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. Oktober 2010.0 a 6. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono. Pada konsentrasi tertinggi. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. daging buah. tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. yaitu ekstrak biji. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin..0 ab 6.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan.25 0.3 a 6.7 a 7.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.3 a 6.0 a 6. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. (Tabel 6). 2008).125 0.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6. 211 . Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain.4. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder.0 a 6. α = 5%) B. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat.0 a 6. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. 2008). buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin .7 No.0 a 6.7 ab 7. 1998). Tabel (Table) 6. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al. Pada konsentrasi 0. daun dan buahnya mengandung polifenol. asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. 2008).7 ab 7.7 b 6. 2008).0 a 6. 218 .3 a 6.

daging buah. KESIMPULAN DAN SARAN A. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. Disamping menyebabkan mortalitas. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. IV. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. baik biji.. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. 2008).Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. dan daunnya. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. Mortalitas larva Eurema spp.

AH. 2007. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Departemen Kehutanan. Cambridge University Press. T. 1986. Chapman & Hall. Penerjemah.220 berturut-turut sebesar 83. 1991. D. Jermy. E t h n o b o t a n y.) NIELSEN. D. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. T. Wood Scie. Fakultas Pertanian. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. Cambridge. 211 ..67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. M a l a y s i a . SAS/STAT User's Guide. 1987. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. PROSEA.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. IPB.33% dan 80%. J. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. Van Loon. D. Bogor. Eth ed. 1998. 2008. & Tech. Prianto. Tomlinson. 220 . Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. B. I. S a l l e h . Departemen Proteksi Tanaman. London. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2. Bul HPT 10 : 1-7. borneofocus. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Prijono.4. CB. M. Indonesia. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Tarmadi. SAS Institute. 2002.com/saip/vaic/R&D/article5. 1998. 409p. pada skala lapangan. Jakarta. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). Trop. Vol 5 No 1 2007. Schoonhoven. PROSEA. S. Pemanfaatan dan Pengembangan. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution. Prijono. 1990. The Botany of Mangroves. Yusuf. LM. h t t p : / / w w w. K. Bogor. Heyne. htm. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Kartika. Oktober 2010.. JJA. Guswenrivo.7 No. Bogor. Version 6. Yayasan Sarana Wana Jaya. Cary (NC) : SAS Institute. Insektisida Nabati : Prinsip. 2. U K M . 1 9 9 7 . Vol. Suharti.

Fax. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. with one hectare increase of forest cover. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar.027 m3 /second. 5 Bogor 16610 Telp. kawasan Puncak. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Kata kunci : citra satelit landsat ETM . Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. fluktuasi debit air.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Puncak area. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Gunung Batu No. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. Jl. penggunaan lahan + 221 . (0251) 8631238. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . water discharge fluctuation. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. . The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. Keywords: Landsat ETM satellite images. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan.027 m3/detik. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement.

Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air.2003. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. dan 2003. Bendung Katulampa dari Tahun 1995.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. semak dan sawah. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi. seringkali bercampur dengan pemukiman.4. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. 221 . Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. yaitu Bogor.226 I. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. Data debit maksimum . Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. 2. serta daerah pemukiman. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar.7 No. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. Oktober 2010. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. 1997. B. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. 2001. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. Bogor. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. diperoleh dari analisa citra. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. BAHAN DAN METODE A. PENDAHULUAN II. Kesinambungan fungsi Bogor. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. hijau tua agak terang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman. kebun teh dan kebun campuran. menyebar terkadang bergerombol.minimum Sungai Ciliwung. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu.

000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum . semak dan sawah. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga.072 p-level 0. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17.2. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen. adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. luas pemukiman (ha). Koefisien (Coefficient) . semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum.0.4 – 0. Namun. a = 0. III.9% . untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. 1997 dan 2001.108X2 + 0. Tabel (Table) 1. Khusus untuk lahan bervegetasi. luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3).1992). sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2. begitu juga sebaliknya.027X1 – 0. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen). Pearson's Product Moment (Walpole.9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0.108 + 0.000 0. kebun teh dan kebun campuran.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997.0.). selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga. Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. R-Sq (adj) = 99. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi.072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003.minimum (ΔQ). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).027 .05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y).05 . yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. R-Sq = 99. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum.51 . Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1. X2.005 0.

108 m3 /detik. tanah dan penggunaan lahan.64 2879.45 19. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.35 -82.71 5957.11 32. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.45 0.05 20.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap.64 15.7 No.027 m3/detik.07 15.08 3484.23 -6. serta lerengnya berkisar antara 8 .48 2713.002 0. 224 .55 (%) 59. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.39 445. klimatologi.64 14.82 6.53 83.35 28.70 0. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan.29 +0. Tabel (Table) 2.812 14.32 2733.62 -0. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Oktober 2010.89 (%) 79. Sementara itu.61 6454. geomorfologi.85 2886.88 25.79 +8.96 18.002 meter di atas permukaan laut.91 1171. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).50 -3. 2000). 221 .09 +4335. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat. topografi. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.32 -10.89 -598. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.3. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit.07 3.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.56 5180.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.992 +1541. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 .89 4733.24 -4288. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0.64 6.13 -1273.32 0. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.79 2003 (ha) 8512.02 8. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah. geologi.00 +1475. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.46 +7. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau.35 0.4. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi).448 +16.48 34.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan.66 +23. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran.42 1621.

50 291. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan.22 273. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan.51 118.20 411.98 408. yaitu sebagai pencegah erosi.98 224.20 244.49 242.46 1.426 2.71 1. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air.44 171. dan kerapatan akar tinggi. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. pencegahan banjir dan erosi. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.22 1.45 persen.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142.64 199. Debit Minimum. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal.178 3.68 274. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4.Seperti halnya dengan hutan.73 293. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). akar serabut panjang. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air.91 244. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 . Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 . seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa.792. Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan.25 225 . akan berdampak negatif terhadap lingkungan.875 3. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1.22 3. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik.690 4.2003 cenderung turun.minimum cenderung meningkat pula. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum .70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.

Pasca Sarjana. Tabel (Table) 4. Pratiwi. Hardiana. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol. 1999.072 X3. Data debit maksimum .minimum Sungai Ciliwung.0. Departemen Kehutanan. R.E. seperti disajikan pada Tabel 4. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. tidak permanen. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. D. 2004. 2000. 2004. Gramedia Pustaka Utama. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. Bendung Katulampa. PT.4 . 226 .X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. Institut Tehnologi Bandung. M. Pengantar Statistika. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. Walpole. IPB. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. dengan pola hubungan : Y = 641. dan pemukiman dalam hektar. Oleh karena itu. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor.108 X2 + 0. Fakhrudin. Skripsi. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. Bogor.0. Jakarta. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. Terjemahan. Bogor. Tesis. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. 2003. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. X2 . dan areal pemukiman harus ditekan.027 X1 . Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. 1992. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.