ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

apiculata UDC(OXDCF)630*. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. uji cepat.67%).. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. fisiologis.. kadar air propagul mencapai 31. pengeringan. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1..0319x + 4. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. namun waktunya relatif lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan.9072x + 9. Sampai pengeringan selama 3 minggu. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. VII No. Kata kunci : benih. Htn Tnm Vol. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan... uji hidrogen peroksida : Y = 0. kecepatan berkecambah 0.. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1.6%).26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. lemak. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J..02 selama 8 minggu.. apiculata (KA awal 54... Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). 2 dan 3 minggu.... Penyimpanan propagul secara konvensional. 4. Persamaan dugaan daya berkecambah... hidrogen peroksida..749 (r : 92.8957x + 6.3975 (r : 90%). yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. Htn Tnm Vol.7977 (r : 91. penyimpanan. kemunduran.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol... Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.1285 (r : 92. akurat dan efisien.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. eksisi embrio dan belah.7%). VII No. Pen. Penyimpanan propagul R. . Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. fisiologi... 4. VII No. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. perkecambahan. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). 4. damar.. protein dan daya hantar listrik.. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. Kata kunci : Biokimia.8%) dan uji belah :Y = 0. Pen. uji eksisi embrio : Y = 0. J. R.9474x + 2 2 10.. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah.

..... 2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn. Mulyana Omon (.... sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit.. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. Sedangkan serangan hama Z. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. pertumbuhan. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin.89%.. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. UDC(OXDCF)630*.. Htn Tnm Vol.... Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88..... Leucopholis rorida F. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). Dengan demikian jenis S..... . mutu bibit.... 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.8 % and 84... Kalimantan Tengah...6 cm.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*... Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis... yaitu tinggi antara (50 cm . sementara untuk S. 4. yaitu sebesar 184.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. VII No... Pen.. Kata kunci : cabutan..2% dan 3. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian....) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J....3cm dengan diameter antara (5 mm ....71%...... kelas mutu bibit. Bogor J. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn... Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. VII No... Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.63% dan 48. hama.... 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI.... Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan. Pen.5 m.. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit.. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. 4...5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. VII No. Htn Tnm Vol.).. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya....65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.... Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. R.......... 4..3 %... parvifolia. Zeuzera coffeae Nietn. terutama untuk kayu pertukangan...... sedangkan. dan Zeuzera coffeae Nietn. meranti merah.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya.. Dalam pertumbuhannya.. Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2.8 mm) atau rata-rata sebesar 5.

.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Htn Tnm Vol.. insektisida nabati.... terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman. Kata kunci : bintaro. VII No. Fluktuasi debit air. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp.. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. 4. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0... pada Skala Laboratorium J.027 m3/detik. sengon UDC(OXDCF)630*. Pen.. Pen.. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai...7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Meskipun demikian. kawasan Puncak. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. 4. penggunaan lahan . Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. mortalitas.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum... VII No.. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*.. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air. 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Eurema spp.. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar.. pada skala laboratorium. sebesar 90%. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. VII No.. Eurema spp. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor.. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. Htn Tnm Vol.. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp.. Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). 4.. Dari segi tata air. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum.

protein dan daya hantar listrik. whereas variables of biochemistry were contents of starch. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume. desiccation. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). penyimpanan. pengeringan. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. Penyimpanan propagul secara konvensional. kemunduran.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. germination rate and germination value. physiology.26 per etmal and germination value 0.67%).67%). Raya Ciamis-Banjar Km. Keywords: Biochemistry. The variables of physiological observation were germination percentage. (0251) 8327768 . fisiologi. Up to 3 weeks of desiccation period.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. 105.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. 2 and 3 weeks. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). BOX. germination rate 0. Kata kunci : Biokimia. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. 2 dan 3 minggu. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. Storing of R. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods. fat. propagules moisture content was 31.O. kadar air propagul mencapai 31. storing the propagules conventionally. Bogor 16001 Telp. Naskah masuk : 1 Desember 2009 . BOX 5 Ciamis 46201 Telp. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. deterioration. kecepatan berkecambah 0. Rhizophora apiculata. protein and leachate conductivity. Rhizophora apiculata 167 .02 selama 8 minggu. 4 PO.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. lemak. propagules. Penyimpanan propagul R. Sampai pengeringan selama 3 minggu. apiculata (kadar air awal 54. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl.02 for 8 weeks.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86.

167 . proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. sedimentasi. 1992). Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. 1970). Oktober 2010. apiculata. apiculata sebelum disemaikan. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim.Anderson. luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4. menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt.10% selama proses pematangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. sangat sensitif terhadap pengeringan. Sedangkan menurut Schmidt (2000).4. terutama dalam hal kesesuaian jenis. 1991. kuantitas dan kualitasnya. apiculata. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R. Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi.179 I. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. Dourado and Roberts. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd.7 No.50%). PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% .25 juta hektar. Untuk benih rekalsitran. peka terhadap radiasi. Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran. terutama R. 2006) diperkirakan 6.. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. 1983). perubahan dalam membran. Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008).8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. 1970. tertundanya perkecambahan.20%.8% cukup untuk penyimpanan yang aman. 2000). Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . Menurut Chin et al. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra. tidak memiliki masa dormansi. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. hingga mencapai tingkat yang menghambat. Selain itu. dikehendaki kadar air 2% . Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. (1989). Umumnya kadar air 6% . perubahan laju respirasi. perubahan dalam cadangan makanan. Rhizophora spp. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya.. 168 . 1984.4%). kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% .8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat). dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al. eksploitasi hutan secara berlebihan. Abdul Baki and Anderson..6 juta hektar (1.

Biokimia : pati.Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). B3= 6 minggu. 1. sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . B. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro). Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. C. B1=2 minggu. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . daya berkecambah (DB). Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata.3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0. Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak.2 propagul untuk KA . AC. Bogor. lemak. apiculata dilakukan di Bali. Tabel (Table 1).25 propagul untuk DB . B2= 4 minggu.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . 2. ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . oven. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan. Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi pengumpulan buah R. Pengunduhan propagul R. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : . Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir.Fisiologi : kadar air (KA). termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. tanah. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.

yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam.4. Sementara itu. Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying). apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm. Penyemaian propagul R. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul...... Selain variabel fisiologi. n hari setalah tanam (%) D1. pati. Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian....179 kekuningan... Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA... propagul dipotong dan dibelah.5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian... total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro.. E... Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006). Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali).. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis. kecepatan berkecambah.. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti. Bogor.7 No. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1.. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih. Pada tahap kedua. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap.Nn : . Oktober 2010. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2. 1985). daya berkecambah. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari.2..Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 . 167 . Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit. dan nilai perkecambahan.... untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro).. Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air. sebelum dimasukkan ke oven.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt). gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. kecepatan berkecambah 2.19. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA). Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). germination rate and germination value of R. Asep Rohandi dan Nurin Widyani III. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. germination percentage. 171 . Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). 4. Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. Tabel (Table) 3.33%. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R.49** 4. apiculata.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). 3. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R.98** 1. Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. 2. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%. apiculata seed) No. pengeringan propagul R. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. daya berkecambah masih cukup tinggi (86.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar.67%) yaitu sebesar 13. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan).57% per etmal dan nilai perkecambahan 0. 1. 2004). daya berkecambah (DB). Daya berkecambah.53* 158. HASIL DAN PEMBAHASAN A. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54.67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya. apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1).

34 b 1. 2. 167 .64 b 31. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. lemak. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2). germination rate and germination value of R. apiculata yaitu pati. moisture content and germination percentage and b). 35% (2 minggu).38 d NP (germination value) 1. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol. 4.00 a 97. Menurut Nkang (1988). germination percentage. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0.30 (3 minggu). kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b).02 a 50. apiculata seeds at desiccation period a). apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R.11 a 0.72 c DB (germination percentage) (%) 100. Oktober 2010. .78 a 40. protein 4.7 No. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content.50% (1 minggu) dan DHL2.08 a 0. Viabilitas propagul R. apiculata yang meliputi pati.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. lemak 0.33 a 86.179 Tabel (Table) 4.71% (2 minggu). Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R. kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB). protein dan daya hantar listrik (DHL).57 a 2. apiculata seed) No. 3.67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2.4. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.19 a 0.87 c 1.00 a 100. pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan. Kandungan biokimia propagul R. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54.

Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. 1998). 4.07 0. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.1981. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. 1993 dalam Adimargono. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih. lemak. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih.69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. Tatipata et al.01 Lemak (fat) (%) 0. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik. Jumlah kandungan pati. 1998).20 2. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies.30 1.06 24. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih.29 0. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel. 1997). (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat.46 0. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase). Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. apiculata seeds) No.87 1. 173 . Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15.24 Protein (protein) (%) 3. (2) kondisi kulit benih.50 3. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan).63 4. apiculata (Contain of carbohydrate. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. fat. Nugroho. 1997). 2.35 24.81 3.92 27. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. 1993 dalam Adimargono. 3. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian.71 0. Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition). Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan. dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R.

Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA).30** 339. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R. germination rate and germination value of R. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 . Kandungan pati. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.7 No.19* 2.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.179 Gambar (Figure) 2.51* 2.44* Ket. daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata (contents of carbohydrate. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan).51** 59. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content. apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. Daya Berkecambah (DB).69** 302.33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%.95** 54.33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. apiculata seeds) B. fat.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91.39** 72. Pada penyimpanan di ruang AC.13** NP (germination value) 3.10** 247. Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R.4. germination percentage.01** 28. Tabel (Table) 6. Propagul R. Oktober 2010. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA). 167 .

Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 .33%.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar.. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%). (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. Daya berkecambah. b) Germination percentage. apiculata seed at many storage treatment : a). Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih.56%. b). Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). 1994). Selain dengan parameter daya kecambah. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3). Kadar air. Viabilitas propagul R. sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Sementara itu. Moisture content. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al. apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a). apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70.

44 3.34 0. 12.59 4. lemak.72 26. 3 = 6 minggu.37 0.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP).56 23.20 0. Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati.50 3.96% (ruang kamar selama 10 minggu). 2 = 4 minggu. 176 . 6.26 0. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R.89 1. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun.84 1. lemak 0. 4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.17 0. 1 = 2 minggu. 8. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.07 4. Tabel (Table) 7. 1972).15 3.54% (ruang kamar selama 10 minggu).63 2. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol.10 0. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut.35 28.96 15. 2 = ruang AC).19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0.46 0.31 3. fat.24 22. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).06 22.56 3. 10.64 25. Jumlah kandungan pati.46 1.06 25. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R. 3. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan.63 24.07 0.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu). apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.07 0.06% dan meningkat menjadi 28. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar. 2.69 3. apiculata (Contents of carbohydrate.63 3.05 2.24 0. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R. 167 . Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2. 9.62 Lemak ( fat) (%) 0.87 0.55 1. apiculata adalah 28. 5. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan.03 28.54 0.18 Protein (protein) (%) 3. protein 4. apiculata seeds ) No. Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R.27 0.39 0. 11. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad. Oktober 2010.23 0.7 No.27 0. Meskipun demikian.49 0. 7.14 1.4.84 21.63 3.

AOSA. J. Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya.N. and storage. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. 2. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail. A. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31. Namun demikian.7%.. Oleh karena itu. 1994). Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. 2002). Contribution No 32 . Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih.4% per etmal dan NP : 0. Kandungan biokimia (lemak. 1970. Final Thesis in Tropical Plant Production. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C.88p Blanche..3%. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. 1998). Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. P. Larenstein International Agriculture College. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata. 3. P.D. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. Pengaruh Media Simpan. Berdasarkan hasil penelitian ini. V. 1970. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki.D. Crop Science. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. Seed chemistry of the 177 .Anderson. Crop Science. S. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. 1991. KT : 1. 10: 36 . Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. Recalcitrant seeds.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. 39 hal. Anderson. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. Skripsi. strobus L (Bonner. P.08).D. Kondisi kritis propagul R. C. apiculata sebesar 0. eliotti Engelm. DB : 86. Seed Vigor Testing Handbook.A and J. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain. pasutris Mill.A. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. 4. P. Penyimpanan propagul R. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. Y.34 Adimargono. J.39 Anggraini. identification. Gonzales. Hodges. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. Deventer. Gomez and E. pati.A. 2000.E. Fakultas Kehutanan. protein dan daya hantar listik) propagul R. 10:31 . 1997..7%. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. echinata Mill.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl.. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. Ti d a k Dipublikasikan. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. 1991) serta E. 1983.

Seed Moisture: Recalcitrant vs. C. 1984.pdf.. F. A. 1985. Skripsi. T.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Seed Science and Technology 16: 247-260. Jakarta. PT. B. Olesen and E. Santoso. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Raja Grafindo Persada. L. Jakarta. A. 14. Diakses tanggal 3 September 2008. Gramedia Widiasarana Indonesia.G and Xue Lin Huang (eds). Sadjad. A. 1972. 25 p. C. 2006. 1991. 2000. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza. Jakarta. McDonald. Tidak Dipublikasikan.H Roberts. Zurich. 2006. United States Departement of Agriculture.B. h t t p : / / w w w. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. Girija. Box 308. Rajawali Pers. Skripsi. Pedoman Teknologi Benih.778. Bogor. Tidak dipublikasikan.Switzerland.O.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. 1988. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds. E. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds. 1997. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP).. 1998. Chin.4. PT. Handayani. A. Jakarta.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. International Rules for Seed Testing. Justice. Malaysia. 1989. Stanwood and N. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. USA. Jurusan Manajemen Hutan IPB. New Orleans. O. Bonner. In Tailor. Louisiana. A. 1994. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Pengaruh Media Simpan. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. H. DK-350: Danida Forest Seed Centre. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST. Disertasi Program Pasca Sarjana.wordpress. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. W. Tidak dipublikasikan. B. Dari Benih Kepada Benih. Z. Vol. PT.M and E. CH . . T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P. Annals of Botany Company 54: 767 . Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. 1993.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. g o . CSSA Special. K. Scholer. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. Progress in Seed Research. Diakses tanggal 3 September 2008. F. Byrd. and S. Setiawan. Publ. orthodox seeds. N. Mugnisjah. Sudjindro. 1998. ISTA. Pembimbing Massa. L. In: Seed Moisture. 3:949952. Permasalahan dan Solusinya. Pian. 1992. 167 . dan Louis. Kualalumpur. 8303 Bassersdorf. Oktober 2010. Stanwood. Santiwa dan Suwarto. Nkang. 1990. 2003. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. Berjak. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. A. Wisconsin. Institut Pertanian Bogor. IPB. 1983. Q. S. P. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. H. Nugroho.). Pammenter.. Bogor.15 October 1998. Crop Science Society ofAmerica. China. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. U. C. IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . Hutan Mangrove.R.W and P. Hindra. B. Schmidt.T. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. Fakultas Kehutanan. 59 hal. Bogor. Chromosome alterations in stored seeds.7 No. Eds. http://uripsantoso. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. Srinivasan. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB. ISTA. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds.37 No. 178 . N. Madison. Lauridsen. A. Dourado. 13. Seed Science and Technology. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. 2008. Krishnapillay. d e p h u t . Switzerland. No. B. 1994. Bass. 1981. Ph.

K. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 179 . Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. 2. R. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. Yogyakarta. Enok. A.. 2004. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida.. 375. Naning Y. D..Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. 2004 : 76-87.. A. Prapto Yudono. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. LHP No. Bogor. 11 No. Adang M dan Endang I. BPPTP. 2002. Tidak dipublikasikan. Tatipata.

1285 (r : 92. Maluku Kalimantan. Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb. fisiologis. Box 105 Bogor Telp. Kata kunci : benih.7%). hidrogen peroksida.749 (r : 92. damar putih. hydrogen peroxide test. germination. 179. ki damar (Sunda). damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan. rapid test.e.749 (r : 92. The equation of determination of dammar's germination capacity i. Sulawesi dan Irian Jaya.8957x + 6. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. namun waktunya relatif lama. venir. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. ki damar (Jawa). cheaper and better accuracy. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1.7%). Kondisi 181 .9072x + 9.9474x + 10. 6. but it takes time.3975 (r : 90%). damar. Bangka. damar pilau (Dayak). This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test.9072x + 9. juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al.8%) dan uji belah :Y = 0. perkecambahan. Kayu damar digunakan untuk membuat kotak.7977 (r : 91.6%)..5 Puntikayu PO. eksisi embrio dan belah. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung). Burlian Km.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. uji cepat I. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test). uji hidrogen peroksida : Y = 0. kayu lapis. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera.0319x + 4. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. pensil. peti kemas. Kol. Palembang Telp. kayu sigi (Sumatera). yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. pulp. akurat dan efisien. Persamaan dugaan daya berkecambah.8%) dan cutting test:Y = 0.9474x + 10. excision embryo 2 2 test: Y = 0. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test).0319x + 4. exicion embryo test and cutting test. damar kapas. tetrazolium test: Y= 2 2 1. hydrogen peroxide test: Y = 0. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. mebel.6%). Keywords: dammar. H.id Naskah masuk : 5 Maret 2010.. physiological./Fax.8957x + 6.7977 (r : 91. 1981).3975 (r : 90%).co. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. damar wana (Sulawesi). BOX. sinonim: damar sigi. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0.1285 (r : 92. tangkai korek api. damar.

bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%.79% (DBawal = 63. Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung.3. dilakukan di germinator. 181 . 1990). benih dikecambahkan pada kondisi ideal. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung.18%) waktu pengujian selama 1.2H2O sebanyak 11. saringan. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan. Oktober 2010. 2000). gelas piala. Uji cepat tetrazolium 1. eksisi embrio (r2: 81. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. hidrogen peroksida.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v). silet.1.2. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades.3.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85. alat pengaduk.4.7 No.04%) selama 7 hari. natrium hipoklorit.42%) selama 1 jam. pinset. hidrogen peroksida (r2: 90. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. kertas merang. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4. benih disusun beraturan. etanol 70%. 1. 2009). keterbatasan jumlah benih. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode. Na2HPO4. misalnya. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45. eksisi embrio dan belah. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang.3. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi). A. gunting kuku.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. (1996).3. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. oven. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%).00%) (Sagala dan Endah. Alat-alat: cawan petri. permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt. lembaran plastik dan aluminium foil. II.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 . benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung.2H2O. Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. TZ 1%: garam tetrazolium (2.5%: garam tetrazolium (2. Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung. TZ 0. KH2PO4.triphenil tetrazolium chlorida ).38 dan 31. garam tetrazolium (2. disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. B. Prosedur Pengujian 1. Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . 1. Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9.5.3 menit (v) benih 182 .8 C). METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh.5 jam. Menurut Bonner et al. alat semprot tangan dan kaca pembesar. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 2005).

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih.6% dan 90%.7 No. Perbedaan 3 . segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. Oktober 2010. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. eksisi embrio dan belah. hidrogen peroksida. kering. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. eksisi embrio dan belah. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari.4. media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal. sedangkan oven. 2009). 6 dan 2 hari. sedangkan metode tetrazolium. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996).8%) dan uji hidrogen peroksida (92. 2007). hidrogen peroksida. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. hydrogen peroxide. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). masing-masing sebesar 91. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. 6. 181 . layu dan busuk. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu.7%). Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. masing-masing selama 2. 186 . keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan.

16 54 ± 5.27 46 ± 8.9 91 ± 8.50 42 ± 8.05: 2.447.00 98 ± 4.00 55 ± 10. hydrogen peroxide. hidrogen peroksida. t table/table 0.24 0.16 65 ± 10.32 1.0 55 ± 3. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3. tetrazolium. eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2. excision embryo and cutting test 187 .01: 3.40 0.63 0. uji tetrazolium.81 2. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium.60 1.13 0.69 1.63 0.00 47 ± 11.00 96 ± 5.45 0.85 2. hydrogen peroxide.33 0.78 0.3 thit thit 98 ± 4.53 2.00 96 ± 3.96 0.30 48 ± 3.65 1. t table/table 0.16 49 ± 6. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.23 2.00 74 ± 5.27 80 ± 11.00 1.83 87 ± 6.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.83 75 ± 6. uji hidrogen peroksida.25 87 ± 6.83 58 ± 4.00 97 ± 3.00 0.83 40 ± 10.00 76 ± 7.10 55 ± 6.5o 51 ± 10.66 82 ± 5.00 0.59 1.08 0.83 40 ± 7.33 40 ± 3.27 1.30 1.

16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5.9474x + 10.8957x + 6. Atlas kayu 188 .4. Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. 1981. Vozzo J. Hydrotime: Population based threshold germination model.T. A. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat.C. Jakarta. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan.L.7 No. K. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). 1984. Iding K. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium. Tree Seed Technology Training Course. Schmitd.W and Land S.7977 r2 = 9. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. hidrogen peroksida. 181 . (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV.P.28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0. 2.B. The Seed Biology Place. Elam W. General technical report SO 106. G.9072x + 9. C.1285 r2 = 9.749 r2 = 9.0319x + 4. Departemen Kehutanan. 0702-9861. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi). 2007. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Kosasih. ISSN. B. 18. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Leadem. KESIMPULAN 1. New Orleans Louisiana.A. Leubner. Quick test for tree seed viability. Management report No. Bonner F. dan Soewanda A. Jakarta.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0. L. 2000. Ministry of Forest Land Research Branch.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. Instructors Manual. Southern forest experiment station. 1994. Oktober 2010. US Department of agriculture. 2006.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Martawijaya.

Laporan uji coba NO. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . status pendekatan biometrik (Terjemahan). perlakuan asam propionat. Bogor. dan Endah S. Balai Teknologi Perbenihan. R. 189 . Badan Penelitian dan Pengembangan. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jilid I. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat.45. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. 2009. 1996. Bogor Zanzibar. dan James H. PT. M. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Prinsip dan prosedur statistika. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Zanzibar. Gramedia. 2003. Balai Teknologi Perbenihan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. Zanzibar. Departemen Kehutanan. Bogor Steel. Direktorat Jenderal Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan. M. M.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia.D. dan Naning. Departemen Kehutanan.R. Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. Zanzibar. Bogor. Jurnal Standardisasi. 2005. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). Jakarta. Y. 1990. dan Nanang. H. M.G. J. T. 97. 1991. Pengaruh kadar air awal. Sagala.

S. Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2. The growth of height was significantly affected by block. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications.5 m spacing. respectively). while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . mutu bibit.400 bibit. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. The survival. Meanwhile. interaction between species and seedling quality. seedling quality class.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. red meranti. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. sedangkan.8% and 84. species. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. However. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. diameter and value strength. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali. Centre Kalimantan R. The total numbers of plants observed were 2400 plants. Kalimantan Tengah.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. The results showed that species. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember .UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati. Keywords: Growth. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati.3%. Therefore S. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. Box 105 Bogor Telp.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.5 m.

Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. Faktor dalam diantaranya asal benih. kelembaban udara. S. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard.3cm dengan diameter antara (5 . Propinsi Kalimantan Tengah. pupuk.2 cm/tahun dan S. 2000). Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. parvifolia. sementara untuk S.206 Ha. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. parvifolia sebesar 2.8 cm/th. yaitu tinggi antara (50 .1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. macrophylla sebesar 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No.000. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. cahaya. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. mikoriza. konsentrasi karbon dioksida. oksigen. agar tegakan yang dihasilkan baik.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. II. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . BAHAN DAN METODE A.8 % and 84.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1.1-1999). penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono.1 cm/th. B.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993).6 cm.7 No. 2007). meranti merah. platyclados sebesar 2.3 %. kelas mutu bibit. johorensis sebesar 2. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. Oktober 2010. Dengan demikian jenis S.6 cm/th.8 mm) atau ratarata sebesar 5. Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. pertumbuhan I.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. Kabupaten Seruyan. 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah. jenis medium bibit. yaitu faktor dalam dan faktor luar. suhu. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat. hama. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik.5 cm/th. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik. Faktor luar yang penting antara lain air. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. 191 .4. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009. S. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu. luas 184. S. Kata kunci : cabutan. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. yaitu sebesar 184.

1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya.0 – 8. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1).0 mm. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. kaliper.9 mm 8. leprosula dan S. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2. 193 . Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. C. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII. tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan.0 < - - D. pemasangan ajir. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3. Tabel (Table) 1. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman.8 – 12. Kekompakan media ( media compaction) 2. Cabutan diambil di sekitar pohon plus.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya.5 m.0 mm 6. Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil).0 – 4. leprosula (A1) dan S. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati.000 m2 atau seluas 12 ha.400 = 120. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3).3 – 10. Pucuk / akar (top root ratio) 6. Bahan danAlat Penelitian 1. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. mistar dan kamera.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari.400 bibit.5 m. C.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. yaitu lebar jalur 3 meter. Tinggi (height) 3. parvifolia (A2). Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005. Luas areal penanaman adalah 2. seperti disajikan pada Tabel 1. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Diameter (diameter) 4.5 × 20 × 2.

Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87.5 b II 88. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm). mutu bibit. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Oktober 2010. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. Daniel et al. Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper.6 80.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.199 E. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. III. Tabel (Table) 2.4. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman.7 No. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman. nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh).5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan.7 b II 96. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.8 a IV 74. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). 191 . Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar.2 a I 88. diameter dan persen hidup tanaman. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata.8 c Rataan Rataan 90. 2. 1975). Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan. Parameter yang diamati adalah tinggi. kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3.8 a I 79. Pengumpulan Data 1.8 ab III 80. E.8 b III 90.

1993). Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. B. Oleh karena itu untuk jenis S. Mulyana Omon penanaman. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).3 %. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam.8 % dibandingkan blok I sebesar 79.7% dan blok IV sebesar 74. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman. 177. Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan. yaitu intensitas cahaya. blok III sebesar 80.8 cm. Tabel (Table) 3. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%.1 % dan 76. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. terlihat lingkungannya di kedua 195 . Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. iklim mikro. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi. dikarenakan pada waktu penanaman.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 .6 cm.3 cm dan 165. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter. parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok. Untuk pertumbuhan diameter. Untuk diameter masing-masing sebesar 2. lantai hutan. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana.6 cm dan 2.8 %. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. leprosula dan S. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman. tanah dan faktor biotis.100% untuk tingkat pancang. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).7 cm. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII.2 % setelah satu tahun ditanam. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka. tanaman pesaing. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). 82.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).

Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. 196 .8 a 0. A2 = S. tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S.6 c 2.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141. yaitu sebesar 184. yaitu faktor keturunan (genetik).6 cm. leprosula dan S.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169.6 cm (Soekotjo. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162.4 c 0. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan.7 a 165.2 bc 0. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor.2 cm dan 224. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). parvifolia. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one).3 b 179.8 b 177. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173. lingkungan dan teknik silvikultur.7 b 2.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.2 a II 47. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya.0 a 2. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test).3 a III 55. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya.7 No. 2007). parvifolia dari mutu bibit tiga. parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221. Tabel (Table) 4 . leprosula dari mutu bibit tiga dan S. Oktober 2010.199 blok hampir sama.6 ab 0.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5. akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S. Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.4. Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran.3 b 2. 191 .2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184. leprosula. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42.4 c IV 58. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S.

Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya.5 65. leprosula sebesar 9. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6.7 untuk jenis S. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.6 4. Tabel (Table) 6. yaitu nilai kekokohan.6 65.7 % utuh 10.6 % 59.7 65.6 2. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).1-1999). Kekokohan bibit. Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6.4 59.6 dan untuk S.08% 65.6 4.3 .5 % utuh 9. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S.2 57. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. nisbah tinggi dan akar (top root ratio).1-1999).8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu.1 2. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S.5 3. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. Mulyana Omon C.7 % 65.62% B3 Utuh 9. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10. B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .5 dalam katogari yang baik. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya.10.1 % utuh 10.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. parvifolia diikatakan cukup baik. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.7 62.8 3.75% B2 utuh 9. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.

IV.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. Haeruman.4. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. Badan Litbang Kehutanan. Verhandelingen No. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya. yang masing-masing 10.3 % dan 88. 198 . B.7 %.H. Yogyakarta. The Netherlands. yaitu sebesar 2. Priadjati.7 No. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). leprosula dan S. Prosedur analisa rancangan percobaan.6 cm.6 dan 4. The Tropenbos Foundation. 1993. bagian pertama. 1951. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n .W. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. S. Bagian Perentjanaan Hutan. 2007. 78 h.H dan J. Jakarta. Kuala Lumpur. Departemen Kehutanan.61 cm. F.T. 5. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. 42. 4. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). Kesimpulan 1. Helms. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. KESIMPULAN DAN SARAN A. H. Yogyakarta. khususnya dari jenis S. Tr o p e n b o s International. 3. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. 1975. Bogor. Jayusman. sehingga akar bibit tidak rusak. 2003. Ferguson. J. IPB. parvifolia. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. Tidak diterbitkan. Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. Departemen Mangemen Hutan. 2005. Oktober 2010. yaitu sebesar 184.8 %. Hendromomo.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol..A. Baker. Prinsip-prinsip silvikultur. T. Fakultas Kehutanan. A. Wageningen. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. 191 . Malaysia. Gadjah Mada University Press.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. FORSPA Publication 8. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak. Mok. Schmidt. leprosula dan S. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. 1979. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). 1. 7 No. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan.S. 2. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. Wana Benih Vol. Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. dan F. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur.

Zobel. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. 2000. Samarinda. 2007. Kalimantan Timur. Vol.11999. L.Inc. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. Applied forest tree improvement. 2007. 1984. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Departemen Kehutanan. John Wiley and Sons. Talbert. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. Badan Standardisasi National. 199 . September 2007.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. Jakarta. New York.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. B. Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4. Jurnal Penelitian Dipterokarpa.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. and J. Samarinda. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin. I. 1 No. dan Y. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. 1. Yassir. dan Shorea balangeran (Korth. Mitikauji. Soekotjo. Jakarta Schmidt. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.

The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin..89%. the highest damage caused by Z. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity. Burlian Km. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. Kol.63% dan 48.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. terutama untuk kayu pertukangan.5 years old) with attack and damage intensity of 77. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn.id Naskah masuk : 21 September 2009 .) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood. it was often attacked by several pests that caused seriously damages.2% and 3. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn. Jati (Tectona grandis Linn./Fax. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. and Zeuzera coffeae Nietn.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. 179. Leucopholis rorida F. Bogor Agricultural University. Leucopholis rorida F. baik kualitas maupun kuantitasnya. The highest damage caused by L. rorida was recorded on plot I (teak was 2. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. Beside this.co.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan.89% respectively. H. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. hama.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. BOX. terutama untuk kayu 201 . Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Dalam sistem silvikultur intensif.). tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. 6. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. Palembang Telp. Dalam pertumbuhannya. Zeuzera coffeae Nietn. Zeuzera coffeae Nietn. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. dan Zeuzera coffeae Nietn. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan.71% respectively. pests. I.5 Puntikayu PO..71%. In growing period.). coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5.63% and 48. Sedangkan serangan hama Z.2% dan 3.

tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. meliputi: a. 202 . Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. Hama perusak akar. Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . Hiblaea puera Cr. inventarisasi inang terserang. 16 bulan (petak II dan III). kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. (menyerang akar). jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). etanol. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. (menyerang leher akar) (Suratmo. dan Leucopholis rorida F. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran).5 tahun (petak I). D. C. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. rumus yang digunakan adalah: II.7 No. Berdasarkan pengamatan awal. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). Bogor Jawa Barat. tali rafia dan kapas. Jawa Barat. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. 1979 dalam Rahardjo.4. Bogor. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. alat tulis dan kamera. dan Pyrausta machaeralis Wills. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. METODOLOGI A. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. pilok. (menyerang batang). golok. B. dan Neotermes tectonae Damm. Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. Captotermes curvignatus Hciver.Oktober 2000. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. dan Monochamus rusticator Fab. b. Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2. tabung bekas film. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. Hama penggerek batang.185 pertukangan. Duomitus ceramicus Wlk. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. 177 . Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang. Dalam pertumbuhannya. 1989). Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. Oktober 2010. 1.

Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2.6 – 2 m 2. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0.1 – 6 m b. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No.5 m 1. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1. 5.1 – 1. 1979 dalam Winaryati. 6.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 3. 1. 4. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 . 1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a.5 m 0. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3. 2. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2.1 – 4 m 4.6 – 1 m 1.

5 tahun) sebesar 48. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah.89% dan termasuk kategori agak berat. Uret. Identifikasi Jenis Hama. subordo Lamellicornia. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . banyaknya borstel tiap baris 15 . 1973). f a m i l i Melolonthidae). Kondisi akar yang terserang uret L. terutama segera setelah hujan pertama turun. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. meso. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. bahkan sampai kedalaman 40 . Pada tanaman jati berumur 2.35 cm. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. 1. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. ( o rd o C o l e o p t e r a . Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas. 1981). Kumbang L. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. 2000).50 cm. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan. Berdasarkan pengamatan di lapangan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm. ( ordo Lepidoptera. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). Leucopholis rorida F. pangkal antena dan pro-.4. Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni. berwarna putih kekuningan.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. biasanya pada kedalaman 17 . Sukabumi. 2000).185 III. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk.agak berat. rorida dapat dilihat pada Gambar 1.7 No. sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . famili Cossidae). Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. Oktober 2010. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras.27 buah. Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. 177 . tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala. gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm.) yang berbeda. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F. 1984). pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

(b).Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur. Attack symptoms. pada tanaman jati: (a). rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77. b a c Gambar (Figure) 1.20 2. rorida. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. Kumbang L. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). (c).5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L. Gejala serangan. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut.89 29. sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. Root condition of teak attacked by L. disebut penggerek cabang merah. rorida on teak trees : (a).18 42. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn.95 21.63 51.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. rorida beetles) Tabel (Table) 3. Hama uret Leucopholis rorida F. Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. 2000). karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. rorida (L. (c) L. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. rorida. rorida. Zeuzera coffeae Nietn. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. (b). tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. setelah 9 hari berubah menjadi 205 .

stadium telurnya berlangsung 12 hari. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2.56 hari. pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2.5 cm.7 No. Oktober 2010. a b c Gambar (Figure) 2. pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . (b). (b).5 mm (Husaeni. coffeae) on teak trees: (a). Metamorfosis hama Z. Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps. coffeae) pada tanaman jati: (a). Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan.11 hari (Husaeni. Imagonya berupa ngengat berwarna putih. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. Gejala serangan. pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh.45 mm. pupanya 21 . 2000).28 hari dan ngengatnya 5 .1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati. coffaea di Indonesia berkisar antara 4 . larva 53 . bagian pertama sepanjang 1 .185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. coffeae consist larva. Siklus hidup Z. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. Hama penggerek batang (Z. Attack symptoms.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. coffeae mulai dari larva. (c). coffeae mulai dari stadia larva. pupa dan imago (Stem borrer (Z. 177 . Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur. Sedangkan segmen ke 8. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang. 206 . pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 . Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. Metamorfose of Z. (c). Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah. Gambar Z. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. 2000).5 bulan.5. kepalanya berwarna coklat.4. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z.

Kerusakan akibat serangan Z. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur.22 0. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. Pengurangan populasi kumbang. rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih). coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). Pengendalian Leucopholis rorida F.013 1. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. coffea. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 .143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman. c. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Walaupun serangan Z. jika penanganannya kurang hati-hati. Upaya Pengendalian 1. Berdasarkan pengamatan di lapangan. terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. L.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. batang menjadi bengkok dan berlubang.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3.71 0. B. tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV. b. coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z.

1973. Intari. E. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. New York.71%.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. Institut Pertanian Bogor. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Bogor. KPH Sukabumi. Ecology and Management. Institut Pertanian Bogor. dan D.2% dan 3. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.89%. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. P. D.7 No. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. Bogor. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. S. Publ. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul. 2. IV. Bogor.4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. A. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. Witter. d.63% dan 48. E. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. Fakultas Kehutanan. 1981. Fakultas Kehutanan. DAFTAR PUSTAKA Coulson. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. coffeae. Serangan hama Z. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. (serangga perusak pucuk dan cabang). R. E. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. Husaeni. 201 . BKPH Cikaung. Imago Z. 2002). Rahardjo. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. Harsono. misalnya furadan (Tini dan Khairul. LPH. A. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. and J.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam. Natawiria. Oktober 2010. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. 1984. Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. 2000. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis.5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. Forest Entomology. Willey Intersci. Laporan No. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. 167. 2002). pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . B. 1989. N.

Institut Pertanian Bogor.) di BKPH Boto KPH Randublatung. Bogor. 1984. Fakultas Kehutanan. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. Morfologi. Palembang. B. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. A. Jakarta. Winaryati. Institut Pertanian Bogor. Palembang. Hutan Fakultas Kehutanan.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 209 . 1997. Nia dan K. Bogor. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja.29 Oktober 1997. 27 . KPH Kendal). Winarto. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. 2002. Tini. Skripsi Jurusan Manajemen. Amri. Agro Media Pustaka. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. Studi Keragaman Gejala. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif.

Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. and successful making of pupa and imago are 16. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. Burlian KM 6. jayanti (Sesbania sesban). sengon I. mortalitas. sebesar 90%. Pada tanaman sengon. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. Box 179. biopesticide./Fax. pada skala laboratorium. Eurema spp. Keywords: bintaro. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. Eurema spp.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Latar Belakang Eurema spp. Kol.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. Palembang Telp. jengkol (Pithecelobium jiringa). is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field. mortality procentage is 90%. 1991).5 Puntikayu Po. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development. PENDAHULUAN A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.) Insecticide on Eurema spp. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. There are some techniques to control Eurema spp. mortality.). merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. Eurema spp. Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . insektisida nabati. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp.. Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp.com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . merupakan hama utama yang menyerang tanaman. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. johar (Cassia siamea). in laboratory.7 long days than control treatment. dan turi (Sesbania grandiflora). Kata kunci : bintaro. Selain tanaman sengon.67% and need 1. Eurema spp. Eurema spp.

Larva yang diperoleh dari lapangan. dan daun bintaro. dengan menggunakan insektisida kimia. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat.5%. Jepang. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. Serangga hama Eurema spp. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. daging buah. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. perlu diteliti. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. langsung digunakan sebagai serangga uji. Asia Tenggara. B. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. taman-taman. Australia. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. dari bulanAgustus hingga September 2009. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 4. sampai ke pulau-pulau Pasifik. 0. 3. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. Oktober 2010. pada skala laboratorium. mulai dari Afrika. 212 . Metode Penelitian 1. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. ledakan hama sekunder. resurgensi hama. kemudian direndam. B.125%. dan tidak ramah lingkungan. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. Setelah pelarutnya menguap. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. Eksplorasi Hama Eurema spp. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. Korea. Bogor. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. sangat kecil. Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. Selain itu Tarmadi et al. BAHAN DAN METODE A. 2. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. Tiongkok. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. Bogor. diantaranya terjadi resistensi hama.4.220 penyebaran yang sangat luas. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol.1%) dengan perbandingan 1 : 1.).7 No. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. 211 . Pemberian pakan II.25%. 0. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP). Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam.83. Ekstrak biji. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6. Kematian larva diamati selama 7 HSP. Pada 1 HSP. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. Hasil Penelitian 1. Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. Larva yang mengalami kematian. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. 7) tidak aktif : m < 5%. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36. 33. lunak. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13.33% 20%.67% . Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. dan lama kelamaan mengecil. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak.80%. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. dan 36. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%. 213 .90%. konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. 2. mortalitas larva paling besar. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998).1. 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%.33%. Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva. Pada konsentrasi terendah.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). III. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. daging buah. tubuhnya kaku.33% .67% . Dari tiga jenis ekstrak bintaro. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. Disamping jenis ekstrak.

8 dan 4.00 a 0.125 36. ekstrak biji bintaro 2. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya. ekstrak biji bintaro 1.33 c 1 90.67 b 43.67 b 33.mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0.00 a 0. Mortalitas Eurema spp.67 c 36. larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0.00 d 83.67 b 0.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2).33 d 56. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.5 83. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp.33 bc 0. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment. 211 .33 b 36.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.7 No.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.25 56.00 d a Mortalitas pada 7 HSP. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. 214 .67 c 53. Berdasarkan nilai Lc50.4.7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.00 a 0. Oktober 2010.33 d 80.220 Tabel (Table) 1. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.7 dan 1.

selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2. Mortalitas Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . Mortalitas Eurema spp.

476) a = intersep regresi probit.00 a 100.315 (0.67 b 33. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3.360 (0.00 b 52. 4. Namun pada konsentrasi tertinggi.21 0. GB = standart deviation.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. SK = confidence interval) 1. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression. Tabel (Table) 3. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa.78%.65 ± 0.4. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.38 b 47. Oktober 2010.273) 3.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55. α = 5%) 216 .00 a 100. Pada konsentrasi terendah.67 b 16.20 b ± GBa) 1.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.25 0.813– 4.7 No.49%.52 ± 0.23 ± 0.56% dan 47.33 b 27.096-349.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.41 1.953) 6.453 (2.297 (0. sedangkan ekstrak daging buah.92 ± 0. 5. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp.39 ± 0. b = kemiringan regresi probit. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33.56 b 47. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp. dan 6.33% dan 27.00 a 63.653-34.67%. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3.161-0.189 (0.76 ± 0.463) 0. b = slope of probit regression. Adapun pupa Eurema spp.25 0.62 b 45. GB = galat baku. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63. 211 . ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.67 b 41.5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.125 0.78 b 50. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago.480) 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.00 ab 46.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.783 (1.49 ab 55.205-0. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16.62%. 115 –0.220 Tabel (Table) 2.37 1.

25 0.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.00 a 100.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100.3 a 12. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.89 b 44. α = 5%) 217 . dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.00 a 41. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0. Pada konsentrasi 0. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.0 bc 12.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa. Pada konsentrasi 1%. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.125 0.5 13. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12.7 ab 12.56 a 38. Secara umum.0 a 12.125%.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.89 b 50.3 ab 0.0 a 12. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa.44 a 16. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.67 b 36. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan.25 13.00 a 33.67 b 33.00 a 100.33 b 38.3 b 13. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago.11 b 56.3 c 12. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa.7 c 13. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa.0 a 12. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.0 a 0.125 12.3 ab 0.3 ab 12.33 b 33. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33.7 ab 1 13.33%.67% saja imago yang terbentuk. Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Tabel (Table) 4.89 b 38. Tabel (Table) 5.

daging buah. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.3 a 6.25 0.7 No. Pada konsentrasi tertinggi.7 a 7.0 a 6. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin .7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. ekstrak biji bintaro memerlukan 1. 2008). (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp. 2008).0 a 6. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat.0 a 6. yaitu ekstrak biji. Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus.125 0. tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. 2008).7 ab 7.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.0 a 6. 218 .7 ab 7.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago.. α = 5%) B. 2008).Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago.0 a 6. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al. daun dan buahnya mengandung polifenol. Pada konsentrasi 0. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.0 a 6. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain. Tabel (Table) 6.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6.4.0 ab 6.3 a 6. Oktober 2010.7 b 6.3 a 6. 211 . Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. 1998). asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

baik biji. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . daging buah. KESIMPULAN DAN SARAN A. hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro.. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Mortalitas larva Eurema spp. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. IV. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. dan daunnya. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. 2008). tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya. Disamping menyebabkan mortalitas. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana.

Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. 2. The Botany of Mangroves. 1987. pada skala lapangan. Tomlinson. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. Cambridge University Press. Yayasan Sarana Wana Jaya. Penerjemah. I. Tarmadi. Indonesia.) NIELSEN. 2007. AH. Vol. JJA. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). 2002. Guswenrivo. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution.com/saip/vaic/R&D/article5. PROSEA. U K M . Eth ed. Bogor. S. Jakarta. Yusuf. Insektisida Nabati : Prinsip. Bul HPT 10 : 1-7. Bogor. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Wood Scie. 1990. Jermy. Pemanfaatan dan Pengembangan. Chapman & Hall. T. Kartika. Heyne. 1998.33% dan 80%. & Tech. Prijono. 1998. Departemen Proteksi Tanaman. K. 2008. Schoonhoven. Van Loon. PROSEA. Departemen Kehutanan. 1986. J. T. 220 . SAS/STAT User's Guide. htm.67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. LM. M a l a y s i a . D. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. Fakultas Pertanian. Prianto. borneofocus. Suharti. 211 . 1991.4. Cambridge. 1 9 9 7 . Prijono.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.7 No. Vol 5 No 1 2007. D. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Trop. S a l l e h . M. Bogor. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. E t h n o b o t a n y.. D. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. h t t p : / / w w w.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Cary (NC) : SAS Institute. B. Oktober 2010. SAS Institute. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L.220 berturut-turut sebesar 83. London. IPB.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 409p. Version 6. CB..

terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. water discharge fluctuation. Keywords: Landsat ETM satellite images. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. dan Sistem Informasi Geografis (SIG).ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda.027 m3/detik. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement. Gunung Batu No. fluktuasi debit air. The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. jika luasan hutan naik sebesar satu hektar.027 m3 /second. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Puncak area. Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. 5 Bogor 16610 Telp. penggunaan lahan + 221 . Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. (0251) 8631238. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Jl. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Fax. with one hectare increase of forest cover. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. kawasan Puncak. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . . (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement.

seringkali bercampur dengan pemukiman.7 No. 1997. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. serta daerah pemukiman. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. 2001. menyebar terkadang bergerombol. hijau tua agak terang. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995.minimum Sungai Ciliwung. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. semak dan sawah. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. kebun teh dan kebun campuran.226 I. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . diperoleh dari analisa citra. Oktober 2010. B. dan 2003. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. Data debit maksimum . BAHAN DAN METODE A. Kesinambungan fungsi Bogor.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 221 . 2. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor.2003. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. PENDAHULUAN II. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan.4. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. Bogor. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. yaitu Bogor. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman.

dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641.0.9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0. Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang.2. kebun teh dan kebun campuran. 1997 dan 2001.000 0. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. R-Sq = 99. adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum. Pearson's Product Moment (Walpole.072 p-level 0.05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y).0. luas pemukiman (ha).4 – 0. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum .51 . Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1).).minimum (ΔQ). 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum. III.05 . Tabel (Table) 1. begitu juga sebaliknya.000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum.108X2 + 0.1992).005 0. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1. Koefisien (Coefficient) . semak dan sawah. a = 0. luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3).108 + 0. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum.027 . untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi. R-Sq (adj) = 99. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. X2. Namun. yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen.9% .072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen).027X1 – 0. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. Khusus untuk lahan bervegetasi. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga.

224 .35 -82. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.79 2003 (ha) 8512. serta lerengnya berkisar antara 8 .00 +1475. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap.13 -1273.62 -0.55 (%) 59. geomorfologi.50 -3.46 +7.35 28.64 2879.02 8. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.3. Sementara itu.89 (%) 79. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672.992 +1541. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan. tanah dan penggunaan lahan.64 14.108 m3 /detik.39 445. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi). Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi. topografi.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.89 4733. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.82 6.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap.91 1171.07 15. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah.08 3484.89 -598.48 34.812 14.70 0.05 20.56 5180.45 0. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.64 6.45 19.002 0. Oktober 2010. geologi.23 -6.71 5957.002 meter di atas permukaan laut.32 0. 2000).48 2713. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat.7 No.07 3. 221 .64 15. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.09 +4335.027 m3/detik.96 18. Tabel (Table) 2.29 +0. klimatologi.61 6454. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 . Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.24 -4288. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan.53 83.88 25.85 2886. Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0.42 1621.448 +16.79 +8.66 +23.4.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.32 -10.11 32.35 0. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.32 2733.

bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.20 411. maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan. dan kerapatan akar tinggi. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 .39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1.2003 cenderung turun.45 persen.178 3. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan.98 408.25 225 .98 224. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 .68 274. pencegahan banjir dan erosi. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan.51 118. Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan.46 1. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum . Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam.22 3. Debit Minimum. yaitu sebagai pencegah erosi.minimum cenderung meningkat pula.71 1. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian.91 244.44 171.426 2. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.50 291. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik. akar serabut panjang.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya.64 199. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang.20 244. Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum.875 3.73 293.792.22 273. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah.690 4.Seperti halnya dengan hutan.49 242. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3).22 1.

seperti disajikan pada Tabel 4. R. Pengantar Statistika. Jakarta. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. 1992. Tabel (Table) 4. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. Walpole.0. Bendung Katulampa.072 X3. dengan pola hubungan : Y = 641. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan.0. 2004. maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan.027 X1 . Gramedia Pustaka Utama. Pratiwi. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. M. Departemen Kehutanan.E. Institut Tehnologi Bandung.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Bogor. 2003. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. Bogor. dan areal pemukiman harus ditekan. X2 . Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. 2000. D.108 X2 + 0. Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan.minimum Sungai Ciliwung. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. Fakhrudin. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. 226 . untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. IPB. Hardiana. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II.4 . dan pemukiman dalam hektar. 1999. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. 2004. Tesis. Pasca Sarjana. Oleh karena itu. Skripsi. tidak permanen. PT.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. Terjemahan. Data debit maksimum .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful