ISSN : 1829-6327

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah media resmi publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang hutan tanaman dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan frekuensi terbit lima kali setahun Penanggung Jawab Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman Dewan Redaksi Ketua Merangkap Anggota Dr. Dra. Tati Rostiwati, M.Si (Silvikultur, Ekofisiologi dan Perbenihan Tanaman Hutan) Anggota Prof. Ris. Dr. Ir. Hendi Suhaendi, MS (Pemuliaan Pohon) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S., M.Agr.Sc (Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Cahyono Agus D., M.Agr.Sc (Ilmu Tanah dan Silvikultur) Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc (Statistik) Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi dan Mikoriza) Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS (Hama dan Penyakit Tanaman Hutan) Dr. Ir. Iskandar Z. Siregar, M.For.Sc (Genetika dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp. (Statistik dan Biometrika) Dr. Tukirin Partomihardjo (Ekologi dan Pengelolaan Lingkungan Hutan) Dr. Ir. Lailan Syaufina, MS (Perlindungan Hutan dan Kebakaran Hutan) Dr. Ir. Tania June, M.Sc. (Pengelolaan Lingkungan dan Perubahan Iklim) Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. Satriyas Ilyas, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Endang Murniati, MS. (lnstitut Pertanian Bogor) Dr. Ir. Supriyanto, M.Sc. (lnstitut Pertanian Bogor, SEAMEO - BIOTROP)

1. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman adalah publikasi ilmiah resmi dari Pusat Litbang Hutan Tanaman. Jurnal ini menerbitkan tulisan hasil penelitian berbagai aspek hutan tanaman seperti perbenihan, pembibitan, teknik silvikultur, pemuliaan pohon, perlindungan hutan tanaman (hama/penyakit, gulma, kebakaran), biometrika, silvikultur, sosial ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hutan tanaman. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dengan huruf Times New Roman, font ukuran 12 dan jarak 2 (dua) spasi pada kertas A4 putih pada satu permukaan dan disertai file elektroniknya. Pada semua tepi kertas disisakan ruang kosong minimal 3,5 cm. Naskah sebanyak 2 (dua) rangkap dikirimkan kepada Sekretariat Redaksi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. File elektronik dikirim ke Sekretariat Redaksi dalam bentuk CD atau dikirim melalui email ke alamat : pp_p3ht@yahoo.co.id. 3. Penulis menjamin bahwa naskah yang diajukan belum pernah dimuat/diterbitkan dalam publikasi manapun, dengan cara mengisi blanko pernyataan yang dapat diperoleh di Sekretariat Redaksi Publikasi P3HT, atau download di website P3HT : www.forplan.or.id. Pengajuan naskah oleh penulis yang berasal dari instansi/institusi (bukan perorangan) di luar Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman harus disertai dengan surat pengantar dari instansi/institusinya. 4. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan diusahakan tidak lebih dari 10 kata serta harus mencerminkan isi tulisan. Di bawah judul ditulis terjemahannya dalam bahasa Inggris yang tercetak dengan huruf kecil dan miring. Nama penulis (satu atau lebih) dicantumkan di bawah judul dengan huruf kecil. Di bawah nama ditulis institusi asal penulis dan alamat lengkap instansi/institusi. 5. Isi Naskah terdiri atas: ABSTRACT dengan Keywords dan ABSTRAK dengan Kata Kunci, PENDAHULUAN, BAHAN DAN METODE, HASIL DAN PEMBAHASAN, KESIMPULAN, PERSANTUNAN (kalau ada), DAFTAR PUSTAKA dan LAMPIRAN (kalau ada). 5. ABSTRAK dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari 200 kata dalam satu paragraf. Isinya berupa intisari permasalahan, tujuan, rancangan penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan secara kuantitatif. Bahasa Inggris ditulis dengan huruf kecil miring dan bahasa Indonesia ditulis tegak, jarak 1 (satu) spasi. Keywords dan kata kunci masing-masing tidak lebih dari 5 kata. 7. PENDAHULUAN berisi : latar belakang/masalah, tujuan penelitian dan hipotesis (tidak harus ada).. 8. BAHAN DAN METODE berisi : Waktu dan Tempat, Bahan dan Alat, Metode, Rancangan Penelitian (kalau ada),Analisa Data. Metode disajikan secara ringkas namun jelas. 9. HASILDAN PEMBAHASAN berisi : Hasil dan Pembahasan, dibuat terpisah atau dijadikan satu.

Sekretariat Redaksi Ketua Merangkap Anggota Kepala Bidang Pelayanan dan Evaluasi Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Anggota Kepala Sub Bidang Pelayanan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kristina Yuniati, S.Hut Rohmah Pari, S.Hut Diterbitkan oleh : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kementerian Kehutanan Terbit pertama kali September 1996 dengan judul Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon (ISSN 1410-1165), sejak April 2003 berganti judul menjadi Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan (ISSN 1693-7147), dan sejak April 2004 berganti judul menjadi Jurnal Penelitian Hutan Tanaman (ISSN 1829-6327) Alamat Kampus Balitbang Kehutanan Jl. Gunung Batu Nomor 5, Bogor Po. Box. 331 Telp. (0251) 8631238 Fax. (0251) 7520005 E-mail: pp_p3ht@yahoo.co.id, Website: www.forplan.or.id Terakreditasi dengan nilai A Berdasarkan SK Kepala LIPI No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009) Accredited A by the Indonesian Institute of Sciences No. 816/D/2009 (182/AU1/P2MBI/08/2009)

10. Tabel diberi nomor, judul tabel dan keterangan yang diperlukan. Judul, isi dan keterangan tabel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris secara jelas dan singkat. Judul tabel diletakkan di atas tabel. 11. Gambar, Grafik dan Foto harus jelas dan dibuat kontras, diberi judul dan keterangan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Judul gambar diberi nomor dan diletakkan di bawah gambar. Foto renik atau peta harus diberi skala. 12. KESIMPULAN disampaikan secara ringkas (dalam bentuk pointers bernomor), padat, serta diusahakan dinyatakan secara kuantitatif. 13. PERSANTUNAN berupa ucapan terima kasih kepada orang /instansi/organisasi yang benar-benar membantu. 14. DAFTAR PUSTAKA (minimal 15 pustaka, dengan referensi yang berkualitas, dan dianjurkan 10 tahun terakhir), disusun menurut abjad nama pengarang dengan mencantumkan tahun terbit, seperti contoh berikut :
Departemen Kehutanan. 2005. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Co. Belmont. U.S. Census Bureau. ”American Factfinder : Facts About My Community”. [Online]17 Agustus 2001.http://factfinder.census.gov/servlet/Basicfactervlet>

15. Dewan Redaksi dan Sekretariat Redaksi berhak mengubah dan memperbaiki isi naskah sepanjang tidak mengubah substansi tulisan. Naskah yang tidak diterbitkan akan dikembalikan kepada penulis.

ISSN : 1829-6327

JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Vol. 7 No. 4, Oktober 2010
DAFTAR ISI

1.

DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Propagules Asep Rohandi dan/and Nurin Widyani PAKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods on Estimated the Physiological Quality of Dammar Seed Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana

167-179

2.

181-189 3. UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati Central Kalimantan R. Mulyana Omon 191-199 4. POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN, BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin, Bogor Nanang Herdiana AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) Insecticide on Eurema spp. Pest in Laboratory Scale Sri Utami ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area, Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo

201-209

5.

211-220

6.

221-226

8957x + 6. Muhammad Zanzíbar (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor) Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar J. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*... 2 dan 3 minggu. penyimpanan. namun waktunya relatif lama.6%)..3975 (r : 90%). Persamaan dugaan daya berkecambah. 2010 p:181-189 Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol.. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. VII No. Htn Tnm Vol. akurat dan efisien.. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. uji cepat.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. Kata kunci : Biokimia.. kadar air propagul mencapai 31. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel. kemunduran. lemak. .... perkecambahan. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan... Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan).. Htn Tnm Vol.67%).. Sampai pengeringan selama 3 minggu.02 selama 8 minggu. 4.. Penyimpanan propagul secara konvensional. fisiologi. uji hidrogen peroksida : Y = 0.9474x + 2 2 10. Penelitian ini bertujuan menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. protein dan daya hantar listrik.. J. R.. Pen.. Pen. hidrogen peroksida.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. Metoda pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat.. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung.7977 (r : 91. fisiologis..7%). uji eksisi embrio : Y = 0.0319x + 4. kecepatan berkecambah 0. VII No. adalah : uji tetrazolium : Y = 2 2 1. 4.749 (r : 92. damar.8%) dan uji belah :Y = 0. apiculata (KA awal 54..1285 (r : 92.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. eksisi embrio dan belah. 4.9072x + 9.. Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Kata kunci : benih.. pengeringan. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Penyimpanan propagul R.. apiculata UDC(OXDCF)630*. Asep Rohandi (Balai Penelitian Kehutanan Ciamis) Nurin Widyani (Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor) Dampak Penurunan KadarAir Terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora Apiculata Bl. VII No. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. 2010 p:167-179 Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume.

2010 p:201-209 HJati (Tectona grandis Linn.... mutu bibit... Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.. dan Zeuzera coffeae Nietn... Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2.. sementara untuk S... Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter)...... Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 m x 2.2% dan 3. Leucopholis rorida F.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis.3 %. Dengan demikian jenis S.. Kata kunci : cabutan.. Htn Tnm Vol.. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Zeuzera coffeae Nietn.. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup... Sedangkan serangan hama Z.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan.. 4...... VII No. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan..) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan.. VII No. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn... hama..5 m..) Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di Hph Pt Erna Juliawati Kalimantan Tengah J.89%...71%.. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata.. Pen... Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. VII No.. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.. sedangkan.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77...1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. Kalimantan Tengah.6 cm... Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F.... Nanang Herdiana (Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang) Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup........ meranti merah..65 cm ) atau rata-rata sebesar 59..).... kelas mutu bibit. .8 mm) atau rata-rata sebesar 5..8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan system TPTI Intensif. Htn Tnm Vol.. pertumbuhan. Dalam pertumbuhannya. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2400 bibit. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu.. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005..63% dan 48....... Pen.. 4. Mulyana Omon (.. 4.. terutama untuk kayu pertukangan.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol...... Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya... Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. UDC(OXDCF)630*. parvifolia. yaitu sebesar 184... R. 2010 p:191-199 Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT ERNA JULIWATI..... Bogor J...3cm dengan diameter antara (5 mm . yaitu tinggi antara (50 cm ..8 % and 84.

jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. dan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG)... 2010 p:211-220 Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. terutama meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.. Pen. perubahan penutupan lahan akan mempengaruhi debit air maksimum-minimum. mortalitas. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. sengon UDC(OXDCF)630*.... Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 yang didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Dari segi tata air.. 4. Kata kunci : bintaro.. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati. VII No. Perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak perlu diwaspadai. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. Yunita Lisnawati danAri Wibowo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.. Meskipun demikian. Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 19952003 yang diperoleh dari citra satelit landsat ETM+. 4. Eurema spp. sebesar 90%.... pada skala laboratorium. Htn Tnm Vol. kawasan Puncak.. Fluktuasi debit air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp.. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp.... Analisis data atribut dilaksanakan dengan menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. VII No. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin dan biaya UDC(OXDCF)630*. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. 4.. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Sri Utami (Balai Penelitian Kehutanan Palembang) Aktivitas Insektisida Bintaro (cerbera Odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema Spp.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. insektisida nabati.. Htn Tnm Vol. 2010 Kata kunci bersumber dari artikel.JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN ISSN 1829-6327 Vol. yang berkontribusi terhadap kejadian banjir di Jakarta setiap tahunnya. Bogor) Analisis Fluktuasi DebitAirAkibat Perubahan PenggunaanLahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor J.. di kawasan ini telah terjadi perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis.. Dari hasil analisis regresi berganda dapat disimpulkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0.. Pen..027 m3/detik. penggunaan lahan . VII No. Kata kunci : Citra satelit landsat ETM+. Eurema spp.. 2010 p:221-226 PBanjir yang sering melanda Jakarta seperti halnya banjir besar yang terjadi pada bulan Pebuari 2007 disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya curah hujan dan menurunnya kemampuan suatu wilayah dalam menyerap air.. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp. pada Skala Laboratorium J.67% dengan waktu yang dibutuhkan 1.

apiculata propagules with 0 0 moisture content of 54. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dan penyimpanan menyebabkan penurunan viabilitas propagul sejalan dengan makin lamanya periode pegeringan dan penyimpanan. fisiologi. 105. (0265) 771352 2) Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor Jalan Pakuan Ciheuleut P. Decreasing propagules moisture content by desiccation for 1.67%). Rhizophora apiculata 167 . lemak. pengeringan. Kata kunci : Biokimia.02 selama 8 minggu. physiology. Storing of R. Naskah masuk : 1 Desember 2009 . 4 PO. deterioration. germination rate and germination value. The Effect of Decreasing Moisture Content to the Response of Physiological and Biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Kandungan biokimia propagul cenderung meningkat dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan. Keywords: Biochemistry.02 for 8 weeks. apiculata (kadar air awal 54.26% per etmal dan nilai perkecambahan 0. Propagules Asep Rohandi1 dan/and Nurin Widyani 1) Balai Penelitian Kehutanan Ciamis Jl.26 per etmal and germination value 0. kadar air propagul mencapai 31. sedangkan parameter biokimia meliputi kandungan pati. BOX 5 Ciamis 46201 Telp. protein and leachate conductivity. BOX. (0251) 8327768 . Decreasing of moisture content is done through desiccation and storage at two (2) storage room in different temperature. Raya Ciamis-Banjar Km. kemunduran. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan. The results showed that desiccation and storage brought about the decrease of germination viability following desiccation and storage periods. storage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak penurunan kadar air terhadap fisiologis dan biokimiawi propagul Rhizophora apiculata Blume.DAMPAK PENURUNAN KADAR AIR TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN BIOKIMIA PROPAGUL Rhizophora apiculata Bl.72% and it did not yet show the critical moisture content and germination percentage was still very high (86. propagules moisture content was 31. kecepatan berkecambah 0.72% dan belum menunjukkan kadar air kritis dan daya berkecambah propagul masih cukup tinggi (86. Parameter fisiologi yang diamati meliputi daya berkecambah.02%) dalam ruang kamar dapat mempertahankan daya berkecambah hingga 29%. propagules.O. Penurunan kadar air propagul dengan cara pengeringan selama 1. desiccation. 2 and 3 weeks. Completely randomized design was used with one factor for the first trial and two factors for the second trial (environment and period of storage). storing the propagules conventionally.02% in ambient room (28 -29 C) could manage the germination percentage up to 29%. The variables of physiological observation were germination percentage. penyimpanan. Rhizophora apiculata.67%). Penurunan kadar air dilakukan melalui pengeringan dan penyimpanan pada dua (2) suhu ruang simpan. Penyimpanan propagul secara konvensional. Bogor 16001 Telp. Naskah diterima : 22 September 2010 2) ABSTRACT The research is aimed at studying effect of decreasing moisture content to the response of physiological and biochemical of Rhizophora apiculata Bl. Up to 3 weeks of desiccation period. Sampai pengeringan selama 3 minggu. fat. protein dan daya hantar listrik. Rancangan percobaan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor untuk percobaan pertama dan dua faktor untuk percobaan yang kedua (kondisi dan periode simpan). whereas variables of biochemistry were contents of starch. 2 dan 3 minggu. Penyimpanan propagul R. Biochemical variables measured increased following desiccation and storage periods. germination rate 0.

8% cukup untuk penyimpanan yang aman. terutama dalam hal kesesuaian jenis. perubahan laju respirasi.4. sangat sensitif terhadap pengeringan. hingga mencapai tingkat yang menghambat.6 juta hektar (1.4%). dan memiliki viabilitas yang sangat pendek (Schmidt. dengan kadar air tinggi dan kondisi lingkungan bersuhu tinggi maka perkecambahan dengan segera terjadi. sedimentasi. Kemunduran benih yang disebabkan penurunan kadar air diindikasikan secara fisiologi dengan adanya perubahan warna benih. Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan karena pada kadar air tertentu yang relatif tinggi benih akan cepat berakar dan viabilitasnya akan cepat mengalami kemunduran sehingga mutunya menjadi sangat rendah. apiculata sebelum disemaikan.. kehabisan cadangan nutrisi atau oksigen atau karena karbondioksida terakumulasi. 1970. peka terhadap radiasi. kadar air lebih rendah hanya untuk penyimpanan jangka lama pada suhu sangat rendah (pada suhu di bawah nol. maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pengeringan dan penyimpanan terhadap perubahan fisiologis dan biokimiawi jenis R.10% selama proses pematangan. 2006) diperkirakan 6. tertundanya perkecambahan.179 I. Hal tersebut menyebabkan makin menipis dan rusaknya hutan mangrove di seluruh pesisir pantai Indonesia. perubahan dalam membran. 2000). perubahan dalam cadangan makanan. tidak memiliki masa dormansi. Perubahan kondisi selama penyimpanan dapat menyebabkan perubahan laju respirasi. Abdul Baki and Anderson.25 juta hektar. Sedangkan luas hutan mangrove yang dalam kondisi rusak (Hindra.20%. Umumnya kadar air 6% . tidak toleran terhadap pengeringan yang berlebihan dan harus disimpan dengan kadar air tinggi untuk waktu sependek mungkin. 167 ... terutama R. (1989). Menurut Chin et al. Indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran adalah terjadinya perubahan aktivitas enzim. apiculata. kadar air benih rekalsitran relatif tinggi yaitu sekitar 25% 30% dan benih ortodok relatif kering mencapai 5% . Untuk benih rekalsitran. benih ortodok akan kering ke kadar air panen setelah masak fisiologis yaitu sekitar 15% . Sehubungan dengan adanya indikasi penurunan viabilitas yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan biokimiawi benih. Hasil penelitian diharapkan dapat merupakan upaya untuk mempertahankan mutu propagul R. 1983). 1984. 1992). apiculata. Menurut Arobaya dan Wanma (2006) dalam Santoso (2008). pencemaran serta konversi hutan menjadi fungsifungsi lain seperti tambak dan pemukiman. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove tidak terlepas dari masalah ketersediaan bibit. 1991. menurunnya toleransi terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai. luas hutan mangrove di Indonesia sekitar 4. Dengan mengetahui kandungan biokimia tersebut. proses kimia dan respirasi berlangsung (Lauridsen et al. Kemunduran benih merupakan semua proses perubahan yang terjadi dalam benih yang berperan dan akhirnya mengarah pada kematian benih (Byrd.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Laju respirasi terus meningkat bila suhu lingkungan meningkat sampai suatu saat lajunya dihambat karena terjadinya hal seperti tidak aktifnya enzim. apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang umum digunakan dalam kegiatan rehabilitasi pantai dan untuk tujuan kegiatan penanaman lainnya. Dourado and Roberts. Benih jenis ortodok yang termasuk kebanyakan jenis zona- kering dan kebanyakan jenis pioneer zona lembab tidak mempunyai level toleransi kadar air rendah. 168 . Beberapa permasalahan yang timbul dalam penyediaan bibit jenis ini diantaranya adalah karena benihnya bersifat rekalsitran.70%) jauh lebih tinggi daripada benih ortodok (30% . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak penurunan kadar air terhadap respon fisiologis dan biokimia propagul R.Anderson. menurunnya pertumbuhan kecambah dan meningkatnya pertumbuhan kecambah abnormal. Selain itu. Sedangkan menurut Schmidt (2000).8 juta hektar dalam Kawasan Hutan Negara dan 4. Oktober 2010. dikehendaki kadar air 2% . eksploitasi hutan secara berlebihan. kerusakan kromosom dan akumulasi bahan toksin (Blanche et al.8 juta hektar di luar Kawasan Hutan Negara (hutan milik/hutan rakyat).50%). kadar air dari benih rekalsitan pada saat masak fisiologis (50% . maka viabilitas benih dapat diprediksi sehingga teknik penyimpanan atau pengujian yang tepat dapat ditetapkan. PENDAHULUAN Penurunan luas hutan mangrove diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya bencana alam seperti tsunami. kuantitas dan kualitasnya. Benih rekalsitran merupakan benih berkadar air tinggi sehingga sukar ditangani ketika lepas dari pohon induknya. 1970). Rhizophora spp.7 No.

Faktor B = lama penyimpanan (B0= kontrol. kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1 (v/v). kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan . Pengunduhan propagul R. sedangkan alat-alat yang digunakan meliputi peralatan laboratorium seperti timbangan. Rancangan dan variabel percobaan (Experimental design and variables) Percobaan (Experiment) Percobaan 1 Rancangan (Design) RAL dengan 3 ulangan: periode pengeringan 0.3 propagul untuk pengujian biokimia Percobaan 2 Tabel (Table 2). Bogor. Metode Penelitian ini dibagi dalam 2 (dua) percobaan yang meliputi : (1) Pengaruh pengeringan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul dan (2) Pengaruh penyimpanan terhadap perubahan fisiologi dan biokimia propagul (Tabel 1). Desa Pagirigan Kecamatan Sindang Indramayu. B. Bahan dan Peralatan Bahan yang digunakan adalah propagul Rhizophora apiculata. Pelaksanaan B0 A1B0 A2B0 B1 A1B1 A2B1 Faktor (Factor) B B2 B3 A1B2 A1B3 A2B2 A2B3 B4 A1B4 A2B4 B5 A1B5 A2B5 Kegiatan penelitian dimulai dengan tahap persiapan yang meliputi penyiapan wadah simpan berupa kardus (50 x 30 x 20 cm). ruang simpan (ruang AC dan ruang kamar) yang masing-masing diukur suhu dan kelembabannya setiap 3 hari sekali selama penyimpanan dan media perkecambahan yang terdiri dari campuran pasir. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi pengumpulan buah R.Faktor A = suhu ruang simpan (ruang kamar/A1=28-290C dan ruang AC/A2 =18-200C) . B2= 4 minggu. Data yang diperoleh dianalisis k e r a g a m a n n y a ( A N O VA ) d a n d i u j i perbedaannya dengan menggunakan uji jarak berganda Duncan. C. 2. Kecamatan Pamanukan Subang dan Baturusa Bangka Belitung. Matrik perlakuan percobaan (Experimental matrix treatments) Faktor (Factor) A A1 A2 D. tanah. apiculata dilakukan di Bali. 3 minggu RAL faktorial 2 x 6 dengan 3 ulangan . 1. B4=8 minggu dan B5=10 minggu Variabel (Variables) . Propagul yang dipilih adalah propagul yang sehat dan masak. oven. termometer dan peralatan rumah kaca seperti bak kecambah dan alat penyiraman. protein dan daya hantar listrik Keterangan (Remarks) Setiap ulangan terdiri dari 30 propagul : . Seleksi dilakukan untuk memilih propagul yang dianggap cukup baik dan memenuhi persyaratan. ditandai oleh warna kotiledon coklat kemerahan atau 169 . daya berkecambah (DB).25 propagul untuk DB . AC. B1=2 minggu. lemak.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Asep Rohandi dan Nurin Widyani II. Tabel (Table 1). Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Nopember 2007 di Laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan (BPTP) dan Laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro).Fisiologi : kadar air (KA). B3= 6 minggu. apiculata dilakukan pada buah yang telah matang dengan ciri-ciri kotiledon berwarna coklat kemerahan atau kekuningan. media simpan berupa serbuk gergaji yang telah disterilkan.Biokimia : pati.2 propagul untuk KA .

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan penyiraman air garam dengan konsentrasi 2. Bogor. Kadar air dihitung berdasarkan rumus yang terdapat dalam ISTA(2006). Pada tahap ini propagul ditimbang sehingga diperoleh berat basah. propagul ditimbang lagi sehingga diperoleh berat kering propagul.. kecepatan perkecambahan kecepatan normal pada 1.... Tahap pertama merupakan tahap pra pengeringan (predrying)...179 kekuningan. propagul kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1300C selama 5-10 menit (ISTA.. untuk uji biokimia dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor (Balitro).. Teknik Pengumpulan Data Data yang diamati dalam penelitian ini meliputi variabel fisiologis dan biokimiawi propagul. E. kecepatan berkecambah.. Setelah dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit. total protein dan daya hantar listrik di Laboratorium Ekofisiologi Balitro... Pencabutan/ pembersihan gulma dan penyemprotan pestisida dilakukan sesuai kebutuhan. yaitu : Dimana : MC : Kadar air dalam % S1 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan predrying (%) S2 : Jumlah air yang hilang pada pemanasan kedua (%) Daya berkecambah (DB) yaitu banyaknya persentase kecambah normal pada pengamatan selama 30 hari setelah tanam (hst).. dan nilai perkecambahan. daya berkecambah. Pada tahap kedua. Penyemaian propagul R. Pengujian propagul diperlukan untuk menilai mutu fisiologi dan biokimia propagul yang diteliti.. 1985). apiculata dilakukan langsung pada polybag dengan cara membenamkan ujung hipokotil sedalam kurang lebih 5 cm. metode yang digunakan untuk uji fisiologi adalah dengan pengujian di persemaian. Sementara itu. Pengukuran kadar air propagul dilakukan dengan menggunakan 2 buah contoh propagul untuk setiap perlakuan dan dilakukan dalam dua tahap. dengan persamaan : N1 D1 N2 D2 Nn Dn Kt (%/hari) = Dimana : Kt : N1. analisis juga dilakukan untuk mengetahui biokimia benih meliputi kandungan lemak benih. Selain variabel fisiologi.. sebelum dimasukkan ke oven.. hipokotil kokoh serta bebas dari hama penyakit maupun luka mekanis.4.. Suhu oven yang digunakan adalah 1050C selama 17 jam. Penyiraman dengan air tawar dilakukan secukupnya (satu hari sekali).5% yang dilakukan sekali selama penelitian yaitu langsung setelah penyemaian. Oktober 2010.Dn : jumlah hari setelah tanam Nilai perkecambahan (NP) atau Germination Value (GV) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : GV PV x FGD % Perkecambahan puncak Jumlah hari perkecambahan % Perkecambahan pada akhir pengamatan Jumlah hari uji PV FGD Dimana : GV : Nilai Perkecambahan PV : Perkecambahan Puncak FGD : Perkecambahan harian akhir MC S1 S2 - S1 S2 100 170 .. 167 . n hari setalah tanam (%) D1..7 No.2. dengan persamaan sebagai berikut : Daya Berkecambah % Jumlah kecambah normal 100% Total benih yang ditabur Kecepatan berkecambah (KT) diukur berdasarkan total nilai pertambahan kecambah normal setiap hari...... Berat kering propagul diperoleh dengan cara menimbang propagul setelah propagul dibiarkan dalam desikator selama 45 menit. pati..Nn : .. Variabel fisiologi meliputi pengukuran kadar air.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. propagul dipotong dan dibelah.

2. 3. berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah (DB). daya berkecambah (DB). Daya berkecambah.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. apiculata dilakukan setiap dua hari sekali selama 90 hari (3 bulan).19. kecepatan berkecambah 2. 2004). Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh pengeringan terhadap variabel kadar air (KA). apiculata tergolong cukup baik karena masih bisa mencapai di atas 97% (Gambar 1). 171 .67%) yaitu sebesar 13. Tabel (Table) 3. germination rate and germination value of R.53* 158. Asep Rohandi dan Nurin Widyani III.67% dan nilai perkecambahannya tidak berbeda nyata dengan perlakuan-perlakuan lainnya.04ns Keterangan (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji Duncan (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan pada periode 1 minggu tidak berbeda nyata dengan tanpa pengeringan (kontrol) terhadap variabel kadar air (KA).57% per etmal dan nilai perkecambahan 0.33%. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian perlakuan pengeringan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA) dan kecepatan berkecambah (Kt). Meskipun cenderung terus menurun selama 3 minggu pengeringan viabilitas masih bisa dipertahankan dengan baik yaitu sebesar 86. HASIL DAN PEMBAHASAN A. apiculata cukup lambat sehingga penurunan daya kecambah tidak terjadi secara drastis. Pengeringan propagul selama 1 minggu tidak menyebabkan penurunan daya berkecambah dari kontrol (tanpa penurunan) yaitu masih 100% meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan daya kecambah propagul pada periode penurunan selama 2 minggu (Tabel 4). apiculata. sedangkan untuk pengamatan biokimia propagul dilakukan secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang diberikan. germination percentage. Kadar air merupakan faktor utama yang mempengaruhi viabilitas propagul karena pada kadar air tertentu viabilitas propagul dapat mencapai maksimum. pengeringan propagul R.49** 4.98** 1. apiculata (Summarized analysis of variance regarding the effect of desiccation duration on the moisture content. Justice and Louis (1990) menyatakan bahwa pada kondisi kadar air yang sangat rendah atau mendekati kritis. Kadar air Variabel (variables) Daya berkecambah Kecepatan berkecambah Nilai perkecambahan F-hit (calculated F) 81. Viabilitas maksimum propagul terjadi pada kadar air 54. Pada ketiga perlakuan tersebut daya berkecambah propagul R. Percobaan 1 : Pengaruh Pengeringan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Pengamatan pertumbuhan propagul R. Hal tersebut ditunjukkan dengan dicapainya nilai tertinggi untuk semua parameter yaitu daya berkecambah sebesar 100%.67%) dan kondisi propagul masih kelihatan cukup segar. apiculata seed) No. Namun sampai pengeringan selama 3 minggu. gejala kerusakan benih akan tampak dan diikuti penurunan daya berkecambah setelah benih disimpan. Penurunan daya kecambah propagul terlihat nyata setelah penurunan selama 3 minggu (86. Seperti halnya p a d a p r o p a g u l B r u g u e r a g y m n o rh i z a (Handayani. 1. kecepatan berkecambah (Kt) dan nilai perkecambahan (NP) propagul R. tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 3. kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan semakin menurun dengan meningkatnya periode pengeringan propagul. sedangkan pada periode 2-3 minggu menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. daya berkecambah masih cukup tinggi (86. Perlakuan pengeringan propagul memberikan pengaruh nyata terhadap variabel fisiologi propagul R.02% yaitu pada perlakuan tanpa pengeringan (kontrol). 4.

00 a 97. germination percentage. Kandungan biokimia tertinggi 172 masing-masing parameter yaitu untuk pati 27. .72 c DB (germination percentage) (%) 100.00 a 100.57 a 2. Rekapitulasi uji jarak duncan pengaruh pengeringan terhadap parameter Daya Berkecambah (DB). pengeringan yang berlebihan juga akan menyebabkan hilangnya karbohidrat baik karena polimerisasi atau koagulasi/pembekuan.11 a 0. germination rate and germination value) Parameter biokimia yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar pati. Oktober 2010. apiculata yang meliputi pati.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.50% (1 minggu) dan DHL2.08 a Keterangan (Remarks) : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% uji berganda Duncan (values followed by the same letters in the same column are not significantly different at 95% confident level in accordance to the Duncan's multiple range test) (a) (b) Gambar (Figure) 1. 35% (2 minggu). apiculata seeds at desiccation period a).33 a 86.179 Tabel (Table) 4.19 a 0.71% (2 minggu).7 No. 4.87 c 1. Peningkatan kandungan karbohidrat selama pengeringan secara umum diindikasikan bahwa menguapnya air menyebabkan kandungan karbohidrat lebih pekat sehingga konsentrasinya meningkat. Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kandungan biokimia propagul R. lemak.38 d NP (germination value) 1.08 a 0.34 b 1. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) propagul R. protein dan daya hantar listrik (DHL). kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP) (Viability of R.78 a 40. 3. lemak dan protein cenderung mengalami perubahan komposisi (naik turun) selama pengeringan (Gambar 2). 167 . Hasil analisis kandungan biokimia propagul pada berbagai perlakuan pengeringan selengkapnya dicantumkan pada Tabel 5. apiculata (Summarized of Duncan's multiple range test to the effect of desiccation on the moisture content. Sedangkan daya hantar listrik (DHL) semakin meningkat dengan meningkatnya waktu pengeringan. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 0. Kandungan biokimia propagul R. protein 4.64 b 31. lemak dan protein berubah-ubah (turun naik) dengan meningkatnya waktu pengeringan meskipun semuanya lebih tinggi dibanding kontrol. Menurut Nkang (1988).30 (3 minggu).02 a 50. 2. apiculata pada beberapa periode pengeringan : a). apiculata seed) No. Lama Pengeringan (Drying period ) Variabel (variables) KA (moisture content) (%) 54. germination rate and germination value of R. moisture content and germination percentage and b).67 b KT (germination rate) (% per etmal) 2.4. lemak 0. Viabilitas propagul R. kadar air (KA) dan daya berkecambah (DB) dan b). apiculata yaitu pati.

69 DHL (leachate conductivity ) (milimhos) 0. fat.20 2. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan pengeringan propagul R. Fosfolipid membran terjadi dalam dua fase yaitu fase kristal cair (liquid crystalline phase) dan fase gel (gel phase).30 1. 4. Tatipata et al. Perbedaan kadar air kesetimbangan antar spesies.29 0. Nugroho. Kerusakan membran menyebabkan kehilangan bagian-bagian dari sel dan pelepasan enzim hidrolitik. 0 minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu Secara umum kandungan lemak propagul yang dianalisis. 1993 dalam Adimargono. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya peningkatan nilai daya hantar listrik dalam benih.07 0. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Tabel (Table) 5. Hasil penelitian Nugroho (1998) pada jenis sengon buto menunjukkan hal yang sama. apiculata seeds) No. 1993 dalam Adimargono. 1998). Kebocoran membran berhubungan dengan transisi fase lemak (lipid phase transition).35 24. tidak mengalami perubahan secara nyata karena sampai penurunan 3 minggu viabilitas propagul masih cukup baik. Hipotesis lain tentang rusaknya membran selama pengeringan pada jaringan yang tidak tahan pengeringan termasuk de-esterifikasi termediasi radikal (radical. toleransi terhadap pengeringan mungkin berhubungan dengan adanya anti oksidan yang dapat menetralkan radikal bebas dan terlarut pada lipid dari membran (Kraak. 173 .63 4. 2. protein and leachate conductivity of many desiccation treatments of R. Lama Pengeringan (period ) Variabel (variable s) Pati (carbohydrate) (%) 15. Hal ini sering menghasilkan k e r u s a k a n l u a s p a d a o rg a n i s m e d a n menyebabkan kematian. lemak. Menurunnya kadar fosfolipid membran akan berpengaruh terhadap penurunan fungsi membran.06 24.46 0. yang menghasilkan peningkatan kebocoran membran selama pengeringan atau reimbibisi (Kraak. tetapi setelah itu kandungan protein terus mengalami penurunan sejalan dengan penurunan kadar air benih.92 27.71 0. Byrd (1983) menyatakan bahwa benih hidup mengadakan reaksi yang berbeda bila dialiri arus listrik. 1997). dimana daya hantar listrik semakin meningkat dengan semakin lamanya pengusangan benih. disebabkan oleh variasi jumlah lemak yang tersimpan. Analisis kandungan protein menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan pada pengeringan 1 minggu di banding kontrol (tanpa pengeringan).50 3. Peningkatan suhu dalam pengeringan di mana fase kristal cair pada membran fosfolipid berubah menjadi fase gel.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Hal serupa terjadi pada pengeringan Calamus spp. Gejala awal kerusakan dalam pengeringan benih rekalsitran adalah kebocoran membran.mediated deesterification) atau peroksidasi dari phospholipid membran. tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : (1) kerusakan mekanis pada benih. 1998). 3. (3) suhu dan tekanan osmotik cairan perendaman (4) tingkat imbibisi awal sebelum benih direndam dan (5) lamanya perendaman (Pian. Nilai daya hantar listrik untuk jenis propagul yang diuji cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya periode pengeringan propagul.87 1.24 Protein (protein) (%) 3. Protein membran bersama fosfolipid berfungsi menjalankan fungsi membran. penurunan kadar air diikuti dengan penurunan kandungan protein dalam benih yang erat kaitannya dengan peningkatan asam amino bebas (Girija and Srinivasan. 1997). apiculata (Contain of carbohydrate. Daya hantar listrik benih memiliki kepekaan yang tinggi dalam mendeteksi kemunduran benih.81 3.1981. Menurunnya kadar fosfolipid dan protein membran mencerminkan terjadinya kemunduran benih. (2) kondisi kulit benih. (2004) menjelaskan bahwa kadar protein membran mitokondria menurun lebih cepat karena protein lebih peka terhadap kondisi penyimpanan yang kurang menguntungkan. Benih-benih yang mati lebih permeabel dan apabila direndam dalam air maka elektrolit benih akan tercuci lebih cepat. Jumlah kandungan pati.01 Lemak (fat) (%) 0.

apiculata (contents of carbohydrate. Daya Berkecambah (DB). daya berkecambah (DB) dan kecepatan berkecambah (KT) serta berpengaruh nyata terhadap nilai perkecambahan (NP) propagul R. apiculata mampu tumbuh sampai waktu 8 minggu dengan daya kecambah sebesar 29. apiculata (Summarized analysis of variance to the effect of storage on the moisture content. Rekapitulasi hasil analisis keragaman pengaruh penyimpanan terhadap variabel Kadar Air (KA). apiculata seperti selengkapnya dicantumkan pada Tabel 6. apiculata seeds) B.44* Ket.69** 302.33% di ruang kamar dan tidak mampu tumbuh (0%) pada penyimpanan 10 minggu. Oktober 2010.95** 54. Percobaan 2 : Pengaruh Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Biokimia Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian faktor tunggal ruang simpan (A) dan lama penyimpanan (B) serta interaksinya (AB) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel kadar air (KA).33% dan setelah 6 minggu daya berkecambah propagul menjadi 0%.19* 2. Propagul R. (Remarks) : ** : Berpengaruh sangat nyata pada selang kepercayaan 99% (very significant at 95% confident level)) * : Berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (significant at 95% confident level) ns : Tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (not significant at 95% confident level) Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa pengaruh lamanya penyimpanan berbeda tergantung dimana propagul disimpan (ruang simpan).179 Gambar (Figure) 2.7 No. germination percentage.30** 339. Pada penyimpanan di ruang AC. protein and leachate conductivity at several moisture content levels of R.13** NP (germination value) 3. germination rate and germination value of R. apiculata seeds) SK (sourcesof variation) A B A*B KA (moisture content) (%) 91.68** F-hitung (calculated F) DB (germination KT percentage) (germination rate) (%) (% per etmal) 253.51** 59.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. lemak protein dan daya hantar listrik pada berbagai tingkat kadar air propagul R.39** 72.51* 2.4. Kandungan pati. Kecepatan berkecambah (KT) dan Nilai Perkecambahan (NP) jenis R. fat. 167 . Hasil pengamatan perkecambahan selama 90 hari menunjukkan bahwa daya berkecambah propagul R. propagul mampu tumbuh sampai waktu penyimpanan 4 minggu sebesar 29. apiculata yang disimpan pada ruang AC menurun sangat tajam pada penyimpanan 174 .10** 247. Tabel (Table) 6.01** 28.

b) Germination percentage. Sementara itu. Selain dengan parameter daya kecambah. c) Germination rate and d) Germination value Daya berkecambah propagul yang disimpan pada ruang kamar mengalami penurunan yang lebih lambat dibanding penyimpanan pada ruang AC (Gambar 3).. Kadar air. 1994). Hasil penelitian Anggraini (2000) menunjukkan hasil yang sama dimana propagul R. apiculata pada beberapa perlakuan penyimpanan : a).Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Daya berkecambah. Viabilitas propagul R. Hal tersebut disebabkan pada ruang AC suhu dan kelembaban udara lebih rendah dibanding ruang kamar. b). Kadar air benih pada akhir periode simpan merupakan faktor yang sangat kritis sehubungan dengan pengaruhnya terhadap daya berkecambah dan viabilitas benih. propagul yang disimpan pada ruang kamar daya berkecambahnya menurun tajam pada penyimpanan 8 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 10 minggu (Gambar 3). apiculata seed at many storage treatment : a). sedangkan pada ruang kamar daya berkecambah propagul masih 85. Moisture content. Asep Rohandi dan Nurin Widyani selama 4 minggu dan tidak mampu berkecambah pada penyimpanan 6 minggu. c) Kecepatan Tumbuh dan d) Nilai perkecambahan (Viability of R. Kondisi seperti ini menyebabkan propagul mudah mengalami kehilangan air. (a) (c) Nilai Perkecambahan (NP) (b) (d) Lama Penyimpanan (minggu) Kamar Gambar (Figure) 3. indikator viabilitas benih dapat dilihat 175 .56%. Pada minggu keenam propagul yang disimpan pada ruang AC sudah tidak mampu tumbuh (menurun 100%).33%. Pengeringan ini merupakan faktor penyebab terjadinya kemunduran benih. apiculata dengan daya berkecambah 100% tanpa penyimpanan mengalami penurunan pada akhir pengamatan yaitu sampai periode penyimpanan 4 minggu menjadi 70. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin lama benih disimpan maka akan menyebabkan terjadinya stres air yang menyebabkan kemunduran benih (Pammenter et al.

3.49 0.87 0. Kandungan pati tertinggi pada propagul R.96 15. Hasil analisis biokimia selengkapnya dicantumkan pada Tabel 7.59 4. Kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan yang semakin menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan disebabkan oleh kadar air sebagai bahan proses metabolisme dalam propagul yang semakin menurun.34 0. 8.63 3.72 26.27 0.19 DHL (leachae conductivityt) (milimhos) 0. lemak 0.55 1.96% (ruang kamar selama 10 minggu).63 2. Perlakuan (treatment) Variabel (variables) Pati (carbohydrate) (%) 15. Oktober 2010.179 diantaranya dari parameter kecepatan berkecambah (KT) dan nilai perkecambahan (NP).31 3.63 24. 1 = 2 minggu.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.84 1.37 0. fat.20 0. Jumlah kandungan pati.24 22.10 0.54 0. perkecambahan propagul berlangsung sempurna sebagai indikator bahwa vigor propagul masih bagus sehingga mampu menghadapi kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (sub optimum) (Sadjad. 4.07 4. protein dan daya hantar listrik (DHL) pada berbagai perlakuan penyimpanan propagul R.35 28.69 3.4.24 0. Kontrol (benih segar)/A1B0 A1B1 A1B2 A1B3 A1B4 A1B5 A2B0 A2B1 A2B2 A2B3 A2B4 A2B5 Keterangan : A = Ruang simpan (1 = ruang kamar.26 0.23 0.19% (ruang AC selama 10 minggu) dan daya hantar listrik 2. protein and leachate conductivity of many storage treatmenst of R.56 23.54% (ruang kamar selama 10 minggu). 3 = 6 minggu.18 Protein (protein) (%) 3. 10. 6. apiculata (Contents of carbohydrate.96% pada akhir penyimpanan (penyimpanan dalam ruang kamar).15 3.84 milimhos (RuangAC selama 6 minggu).46 1.17 0. lemak dan protein kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil atau berubah-ubah yang dapat dilihat juga dari kadar air propagul yang juga cenderung berubah-ubah selama penyimpanan. 2.06 25. 5.27 0.63 3.44 3. tetapi pada akhir penyimpanan kadar masing-masing parameter mengalami peningkatan dibanding kontrol. lemak. apabila dilihat dari nilai daya hantar listrik maka terjadi kecenderungan terjadinya peningkatan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. 9.06 22. 7. 176 . 1972).56 3. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tersebut.64 25.39 0. protein 4.03 28. Hasil analisis biokimia menunjukkan bahwa komposisi kandungan biokimia propagul selama penyimpanan propagul R.06% dan meningkat menjadi 28.07 0. 12.07 0. 167 . Pada perlakuan penyimpanan pada propagul R. apiculata (Gambar 3) menunjukkan bahwa kecepatan berkecambah dan nilai perkecambahan propagul yang langsung ditanam (tanpa penyimpanan) lebih tinggi dibandingkan setelah propagul mengalami proses penyimpanan. apiculata cenderung mengalami peningkatan dan penurunan. 2 = ruang AC). Peningkatan dan penurunan kandungan biokimia propagul yaitu pati.89 1.84 21.50 3.62 Lemak ( fat) (%) 0. apiculata adalah 28. B = Lama penyimpanan (0 = 0 minggu/kontrol/benih segar. Tabel (Table) 7.05 2. Meskipun demikian.14 1.7 No.46 0. 11. 4 = 8 minggu dan 5 = 10 minggu) Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum proses penyimpanan kadar pati sebesar 15. 2 = 4 minggu. apiculata seeds ) No.

Seed Vigor Testing Handbook.7%. Hal tersebut juga didukung oleh AOSA (1983) yang menerangkan bahwa dengan semakin tingginya nilai daya hantar listrik berarti semakin besar zatzat terlarut dalam larutan perendaman..D.88p Blanche. V. 3. J. Sadjad (1993) menyatakan bahwa daya hantar listrik bertambah besar apabila benih makin mundur akibat elektrolit yang bocor semakin besar. P. 1998). Seed chemistry of the 177 .39 Anggraini. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Peningkatan daya hantar listrik menandakan terjadinya penurunan vigor propagul yang cenderung akan membocorkan bahan-bahan yang dikandungnya serta kebocoran dalam membran sel merupakan tempat kerusakan yang nyata dari kemunduran benih (Mugnisjah et al. Crop Science. Ruang Simpan dan Lama Simpan terhadap Viabilitas Propagul Rhizophora apiculata.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. AOSA. Crop Science. Ti d a k Dipublikasikan. 1983. Fakultas Kehutanan. Viability and leaching of sugar from germinating Barley. Kondisi kritis propagul R. Hasil pengukuran kandungan lemak selama penyimpanan terlihat cukup bervariasi. Oleh karena itu. Y. Deventer. DAFTAR PUSTAKA Abdul Baki. 1970. S. Physiological and Biochemical Differences in Deteriorating Barley Seed. dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai kandungan lemak pada propagul segar (tanpa perlakuan) R. KT : 1. apiculata sebesar 0. identification. Tingginya cairan sel dalam larutan perendaman menunjukkan semakin rendahnya vigor benih. Recalcitrant seeds. Perlakuan penyimpanan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap perubahan fisiologis propagul R. 39 hal. Gonzales. apiculata cenderung mengalami peningkatan dengan makin lamanya periode pengeringan dan penyimpanan.3%. protein dan daya hantar listik) propagul R. 1991) serta E. Gomez and E. apiculata dimana kelembaban udara yang rendah pada ruang AC sangat menurunkan daya berkecambah propagul. Contribution No 32 . P. 2002). 1991. C. Larenstein International Agriculture College. Anderson. Final Thesis in Tropical Plant Production. Penyimpanan propagul R. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 1970. pati. 10: 36 .E.A and J. Skripsi. P. P. Namun demikian. echinata Mill. RH : 85-95%) pada KA awal 54% merupakan cara terbaik karena masih mampu mempertahankan daya berkecambah sampai minggu ke 8 sebesar 29. Prepared by Seed Vigor Test Committee of the Association of Official Seed Analysis. Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain. I n s t i t u t P e r t a n i a n B o g o r. Hodges.07% dan lebih rendah dibandingkan benih Acacia mangium yaitu 5% yang merupakan benih orthodok (Syamsuwida et al. 2000.Anderson.A.D. A. Berdasarkan hasil penelitian ini. strobus L (Bonner. Pengaruh Media Simpan.D. 2.A. eliotti Engelm. apiculata pada ruang kamar (suhu : 28-290C. 4..08). Hal tersebut diduga oleh perbedaan karakteristik seperti tipe morfologi propagul dibandingkan benih jenis rekalsitran lainnya.. Beberapa penelitian juga telah membuktikan adanya hubungan antara kualitas benih dan kebocoran elektrolit pada benih tanaman kehutanan antara lain Pinus taeda L. Namun untuk menetapkan benih kedalam klasifikasi rekalsitran tertentu perlu kajian lebih lanjut baik dilihat sifat fisiologi maupun biokimia benih selama penyimpanan secara lebih detail. sehingga benih cepat rusak selama penyimpanan. J.4% per etmal dan NP : 0. untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi. and storage. apiculata belum terlihat sampai pengeringan selama 3 minggu (KA : 31.N.34 Adimargono. 1994). DB : 86.7%. cyclocarpum dan Paraserianthes falcataria (Nugroho. pasutris Mill. 1997. Kandungan biokimia (lemak. informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrove pada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. Salah satu ciri benih rekalsitran menurut Sudjindro (1994) adalah tingginya kadar lemak yang dikandung. 10:31 ..

C. Chromosome alterations in stored seeds. L. Justice.4. In Tailor. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Seed Science and Technology 16: 247-260. Box 308. 1998.M and E. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. B. B. C. Panduan Praktikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih.7 No. IPB. F.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Lauridsen. Krishnapillay. 1989. O. Bogor. Jurusan Manajemen Hutan IPB. Pendugaan Kualitas Benih Sengon Buto ( Enterolobium cyclocarpum Griseb) dan Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) Berdasarkan Uji Daya Hantar Listrik. H.. 1981. In: Seed Moisture. Jakarta. Sudjindro. Pembimbing Massa. Madison. Ruang Simpan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Propagul Bruguera gymnorhyza.pdf.T. Sadjad. 13. A. 1994. and S. Crop Science Society ofAmerica. Olesen and E. 1972. Louisiana. Confernce Proceedings of the 2nd ICSST.Switzerland. Bogor. Pengaruh Media Simpan. Institut Pertanian Bogor. L. Skripsi. New Orleans. Some Aspects of Biochemical Basis of Viability Loss in Stored Guilfoxylia monostylis Seeds. Dari Benih Kepada Benih. W. 1992. A. Packaging Materials for Tropical Tree Fruits and Seeds.778. Bass. 1988. Tidak Dipublikasikan. 25 p. H. Metabolic Changes associated with Desiccation in Calamus Seeds.37 No. Annals of Botany Company 54: 767 . Dourado. Eds. Raja Grafindo Persada.. 1984.R. Pian. Byrd. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. Tidak dipublikasikan.).G and Xue Lin Huang (eds). Stanwood and N. Handayani. Nugroho. C. Switzerland. h t t p : / / w w w. International Rules for Seed Testing. Progress in Seed Research. Tidak dipublikasikan. g o . U. Jakarta. Skripsi. Ph. Seed Science and Technology. PT. 1990. Kualalumpur. Z. 2003. i d / f i l e s / Pot_Klbg_HR. K..wordpress. 2000. Srinivasan. 1997. 2006. T h e I n t e r n a t i o n a l S e e d Te s t i n g Association (ISTA) P. A.15 October 1998. Disertasi Fakultas Pascasarjana IPB. N. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L. Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Indonesia Forest Seed Project (IFSP). IUFRO Seed Symposium Recalcitrant Seeds 12 . 167 . F. Zurich. N. Diakses tanggal 3 September 2008. 1993. Girija. Hindra. A. Rajawali Pers. Pedoman Teknologi Benih. Santiwa dan Suwarto. 2008.O. Disertasi Program Pasca Sarjana. Jakarta. . 1998.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. Jakarta. Wisconsin. CH . Diakses tanggal 3 September 2008. 3:949952. Scholer. P. Bogor. Santoso. Hutan Mangrove. Q. d e p h u t . No.179 Tropical Tree Vochysia hondurensis Sprague Forest Science Vol. Indikasi Kemunduran Viabilitas Oleh Dampak Guncangan Pada Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L. Seed Moisture: Recalcitrant vs. PT. Oktober 2010. Berjak. Gramedia Widiasarana Indonesia. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB.H Roberts. Kertas Merang untuk Uji Viabilitas Benih di Indonesia. B. Publ. United States Departement of Agriculture. dan Louis. Vol. http://uripsantoso. CSSA Special. PT. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. USA. 14. 1985. ISTA. E. Malaysia. orthodox seeds. Nkang. Chin. A. Aspect of our understanding of the biology and responses of non-orthodox seeds. Stanwood. Estimating Seed Quality of Southern Pines by Leachate Conductivity. 1983. Fakultas Kehutanan. Permasalahan dan Solusinya. 59 hal.W and P. DK-350: Danida Forest Seed Centre. 2006. Mugnisjah. Bonner. 8303 Bassersdorf. 1994. Schmidt. A. Setiawan.com/2008/0 4/03/hutan-mangrove-permasalahan-dansolusinya/. T. Denmark: Humblebaek: Krogerupvej 3 A. McDonald.B. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. S. 1991. ISTA. B. Pammenter. A. China. 178 .

K. Adang M dan Endang I. Prapto Yudono.. Purwantoro dan Woerjono Mangoendidjojo. Naning Y. LHP No. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. D. Enok. Bogor. Biokimia Benih: Kemunduran benih yang disebabkan oleh perubahan fisiologi dan biokimia benih orthodok. 2004 : 76-87. A. 2002.Dampak Penurunan Kadar Air terhadap Respon Fisiologis dan Biokimia Propagul Rhizophora apiculata Bl. Asep Rohandi dan Nurin Widyani Syamsuwida... Tidak dipublikasikan. A. 11 No. 2. Yogyakarta. Kajian Aspek Fisiologi dan Biokimia Deteriorasi Benih Kedelai dalam Penyimpanan. R. Tatipata. 179 . 375. BPPTP. 2004..

hydrogen peroxide test: Y = 0.id Naskah masuk : 5 Maret 2010.0319x + 4. 1981). kayu lapis. exicion embryo test and cutting test. yaitu dianalisis berdasarkan proses metabolisme serta kondisi fisik. (0251) 8327768 2) Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl.9072x + 9.749 (r : 92. damar raja (Maluku) merupakan salah satu jenis tanaman hutan. damar. It is analyzed based on metabolism process and physical condition of seed.8957x + 6. venir./Fax. Kata kunci : benih.7977 (r : 91.7%).9072x + 9. Burlian Km.5 Puntikayu PO. Naskah diterima : 23 Agustus 2010 ABSTRACT The common method of seed physiological quality test is germination test (direct test). adalah : uji 2 2 tetrazolium : Y = 1.. pensil. Maluku Kalimantan. tangkai korek api. akurat dan efisien. excision embryo 2 2 test: Y = 0. damar kapas.9474x + 10. Kol. Bangka. Keywords: dammar.3975 (r : 90%).1285 (r : 92. eksisi embrio dan belah. but it takes time. tetrazolium test: Y= 2 2 1. rapid test. (Y : prediction value of actual germination capacity and X : prediction value of potential germination capacity base on viability rapid test).7%)..8%) dan cutting test:Y = 0. BOX. Kondisi 181 . Kayu damar digunakan untuk membuat kotak. famili Araucariaceae yang penyebaran alaminya di Sumatera. damar putih. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis kelompok benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium.co.8%) dan uji belah :Y = 0. The indirect test (rapid test) can be an alternative to obtain information on seed quality wich is faster. damar pilau (Dayak). PENDAHULUAN Agathis lorantifolia Salisb.3975 (r : 90%). Results of t-test and correlation analyzing indicated that all the rapid test can be used as direct germinatin test. mebel. namun waktunya relatif lama. Box 105 Bogor Telp. cheaper and better accuracy. hydrogen peroxide test. H. Persamaan dugaan daya berkecambah. sinonim: damar sigi. ki damar (Sunda). fisiologis. 179.6%). physiological. uji cepat I. hidrogen peroksida.7977 (r : 91. The equation of determination of dammar's germination capacity i. ki damar (Jawa). uji hidrogen peroksida : Y = 0. seed ABSTRAK Metoda standar pengujian mutu fisiologis benih adalah uji perkecambahan (uji langsung).8957x + 6. peti kemas. Palembang Telp. kayu sigi (Sumatera). juga untuk kayu perumahan (Martawijaya et al.AKURASI METODE UJI CEPAT DALAM MENDUGA MUTU FISIOLOGIS BENIH DAMAR Accuracy of Rapid Test Methods to Estimate the Physiological Quality of Dammar Seed 1) Muhammad Zanzíbar dan/and Nanang Herdiana 1) 2) Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. damar. Sulawesi dan Irian Jaya.749 (r : 92. pulp. 2 2 uji eksisi embrio : Y = 0. This research was done aiming at determining physiological quality of dammar seed lots to various method of rapid seed testing including : tetrazolium test.9474x + 10. Hasil uji t dan analisis korelasi daya berkecambah diperoleh bahwa masing-masing metoda uji cepat dapat digunakan sebagai pengganti uji perkecambahan langsung. Metode pengujian tidak langsung (uji cepat) dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi yang cepat. damar wana (Sulawesi). 6.e.1285 (r : 92. perkecambahan. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo. germination.6%).0319x + 4.

3. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah. saringan. 1990). permintaan konsumen serta pada beberapa jenis menunjukkan hasil yang lebih akurat. 2009). gelas piala. etanol 70%. Oktober 2010. sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung. keterbatasan jumlah benih.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 10 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga. Identifikasi Struktur Tumbuh Identifikasi struktur tumbuh dilakukan dengan cara membelah benih searah longitudinal. kertas merang. pada jenis mangium diperoleh bahwa uji tetrazolium (r2: 93. rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi).8 C).00%) (Sagala dan Endah. 181 .1.42%) selama 1 jam. 1. Na2HPO4. Penelitian ini bertujuan untuk menduga mutu fisiologis benih damar secara cepat menggunakan uji tetrazolium. bagian yang berisi embrio direndam dalam larutan TZ 1%.38 dan 31. alat pengaduk. benih disusun beraturan. yaitu ditempatkan dalam gelas piala yang telah dilapisi aluminium foil. benih dikecambahkan pada kondisi ideal.18%) waktu pengujian selama 1. misalnya.5.2. Benih dengan kadar air rendah (5%) lebih tahan disimpan dibandingkan dengan kadar air tinggi (20%). standardisasi prosedur pengujian dan penentuan kriteria benih hidup/mati serta pengujian ketepatan metode.7 No.79% (DBawal = 63. lalu dibilas dengan akuades selama 2 . Pembuatan larutan Pembuatan larutan tetrazolium dilakukan sebagai berikut : (i) larutan I: KH2PO4 sebanyak 9. KH2PO4.2H2O sebanyak 11. kertas yang telah dilapisi lembaran plastik kemudian digulung dan dimasukkan dalam cawan petri (ii) kulit ari benih dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (iii) benih dibelah searah longitudinal.5%: garam tetrazolium (2. natrium hipoklorit.4. hidrogen peroksida (r2: 90. dilakukan di germinator.3. 2000). Uji cepat tetrazolium 1. pinset. alat semprot tangan dan kaca pembesar. Beberapa metode cepat berkorelasi tinggi terhadap uji langsung. Pengkondisian Proses pengkondisian benih sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas lalu dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang jenuh akuades selama 24 jam. Prosedur Pengujian 1. Volume larutan TZ = 3 x volume benih (iv) larutan yang berisi benih dimasukkan ke dalam oven pada suhu 40oC selama 4 jam (f) benih ditempatkan pada saringan. Menurut Bonner et al. uji cepat umumnya diaplikasikan pada beberapa kondisi seperti benih yang harus segera ditabur karena cepat mengalami kerusakan. sedangkan uji langsung selama 21 hari (Zanzibar dan Nanang. gunting kuku.5 jam. oven.3. TZ 1%: garam tetrazolium (2. garam tetrazolium (2.42%) selama 6 hari dan uji belah (r2: 85.078 gram dilarutkan dalam 1000 ml akuades (ii) larutan II: Na2HPO4.5 triphenil tetrazolium chlorida ) sebanyak 5 gram dimasukan ke dalam 1000 ml larutan penyangga.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. eksisi embrio (r2: 81. Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung. (1996). Pencampuran benih dan larutan dilakukan dalam kamar gelap. 1. TZ 0.04%) selama 7 hari. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades. benih dengan dormansi kuat dan lambat berkecambah. benih lebih banyak menunjukkan sifat-sifat ortodoks meskipun relatif tidak tahan lama disimpan dibandingkan dengan jenis ortodoks lainnya (Schmidt. silet. Struktur tumbuh yang nampak digambar dan dicocokkan dengan pustaka. Alat-alat: cawan petri. METODOLOGI Metodologi penelitian terdiri dari identifikasi struktur tumbuh. 2005).2H2O. yaitu: daya berkecambah (DB) setelah 2 bulan masing-masing 45. Standardisasi prosedur pengujian pada tulisan ini diperoleh dan dipilih dari serangkaian percobaan yang memberikan respon terbaik dari masingmasing metode uji. eksisi embrio dan belah. A. II. disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar. B.876 gram dilarutkan dalam akuades 1000 ml (iii) larutan penyangga: larutan I sebanyak 400 ml dicampurkan dengan 600 ml larutan II (2: 3)(v/v). hidrogen peroksida. lembaran plastik dan aluminium foil.189 optimum penyimpanan benih damar diperoleh o pada suhu rendah (4 .triphenil tetrazolium chlorida ). Larutan TZ harus dihindarkan dari cahaya langsung.3 menit (v) benih 182 .3.

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

diletakkan kembali pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (vi) dilakukan pengamatan terhadap intensitas, luas dan pola pewarnaan. Penilaian intensitas, terdiri dari warna merah (M), merah muda (Mm) dan putih (P), luas berdasarkan persentase masing-masing warna terhadap luas permukaan keping (bagian dalam), sedangkan pemolaan dilakukan dengan menggambar polapewarnaanyangterbentuk. 2. Uji cepat hidrogen peroksida 2.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, larutan hidrogen peroksida, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang dan aluminium foil. Alat-alat: gelas piala, kaca pembesar, kertas milimeter. Pembuatan larutan Larutan H2O2 yang tersedia umumnya berkonsentrasi tinggi (35%), sedangkan uji ini menggunakan konsentrasi rendah (0,5 - 2%) sehingga larutan perlu diencerkan. Rumus pengenceran: c1 x v1 = c2 x v2, dimana: c1 = konsentrasi larutan asli, c2 = konsentrasi larutan yang diinginkan, v1 = volume larutan asli yang diperlukan untuk memperoleh larutan yang diinginkan, v2 = volume larutan yang diinginkan. Pengkondisian Pengkondisian uji ini adalah : (i) kulit benih dikupas, kemudian direndam pada gelas piala bertutup aluminium foil yang telah berisi larutan H2O2 0,5%, volume larutan H2O2 = 3 x volume benih. Larutan H2O2 0,5% diperoleh dengan cara mencampur 14,29 ml larutan H2O2 35% ke dalam 985,71 ml akuades sehingga diperoleh 1000 ml larutan (ii) larutan yang berisi benih selanjutnya dimasukkan ke dalam o inkubator atau ruangan gelap pada suhu 20 - 30 C selama 6 hari. Bila larutan terlihat keruh diganti dengan larutan baru (iv) benih dibilas dengan akuades, kemudian tempatkan dalam cawan petri berlapis 2 (dua) lembar kertas merang lembab (v) panjang radikel diukur dengan penggaris atau kertas milimeter.

3.2.

Pengkondisian Pengkondisian uji eksisi embrio adalah : (i) ujung benih yang berlawanan dengan titik tumbuh dipotong, lalu rendam dalam akuades selama 24 jam (ii) kulit ari dikupas dan selanjutnya ditempatkan pada cawan petri yang telah berisi 2 (dua) lembar kertas merang lembab (ii) gametofit betina dibelah searah longitudinal kemudian keluarkan embrio dengan hati-hati (tidak boleh cacat) (iii) embrio diletakan dalam cawan petri yang telah berisi media 2 (dua) lembar kertas saring lembab, inkubasikan pada ruang kamar (25 - 27oC) selama 5 hari (v) pengamatan perkembangan embrio dilakukan setiap hari, jika embrio busuk/berjamur segera dibuang. 4. Uji cepat belah 4.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, etanol 70%, natrium hipoklorit, kertas merang dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, lup, alat semprot tangan dan oven. 4.2. Pengkondisian Pengkondisian uji belah dilakukan sebagai berikut : (i) kulit benih dikupas, selanjutnya dilembabkan pada 6 (enam) lembar kertas merang basah yang dilapisi plastik dalam cawan petri selama 24 jam. (ii) kulit ari dikupas, lalu dibelah searah longitudinal; embrio dan gametofit betina harus terbagi dua (iii) warna dan kondisi benih (embrio dan gametofit betina) diamati dengan kaca pembesar. C. Penentuan Kriteria Benih Hidup/mati dan Pengujian Ketepatan Metode Tahap kegiatan ini adalah sebagai berikut: (i) penuaan: benih yang masih berkadar air tinggi (15 - 20%) diletakkan pada cawan petri beralas kertas merang lembab lalu ditempatkan dalam inkubator (t = 30oC, RH = 80 - 90%), selama 0, 2, 5, 8, 11 dan 14 hari (ii) benih hasil penuaan tersebut selanjutnya diuji dengan uji cepat dan perkecambahan langsung. Perkecambahan langsung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung dalam plastik) yang ditempatkan dalam germinator tipe IPB 73-1. (iii) analisis kondisi struktur tumbuh untuk menentukan kriteria benih hidup dan mati (iv) kalibrasi hasil antara uji cepat dengan uji perkecambahan.

2.2.

2.3.

3. Uji cepat eksisi embrio 3.1. Bahan dan alat Bahan-bahan: akuades, natrium hipoklorit, etanol 70%, kertas merang, kertas saring dan lembaran plastik. Alat-alat: cawan petri, gelas piala, gunting kuku, pinset, silet, kaca pembesar, semprotan tangan, oven, inkubator dan alat pembagi benih.

183

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.4, Oktober 2010, 181 - 189

D. Peubah Pengukuran dan Analisis Data Percobaan ini dirancang untuk membandingkan efektivitas beberapa metode pengujian secara cepat (TZ, hidrogen peroksida, eksisi embrio dan uji belah) terhadap uji perkecambahan (metode resmi). Perbandingan antara data dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dengan data daya berkecambah hasil uji perkecambahan menggunakan uji t (Steel dan James, 1991). Hipotesis yang digunakan adalah : H0 D = 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, sama dengan nol. H1 D ≠ 0 -› beda nilai tengah daya berkecambah masing-masing metode uji cepat terhadap nilai tengah daya berkecambah, tidak sama dengan nol. Kaidah ujinya adalah sebagai berikut :

Hubungan antara daya berkecambah uji langsung dengan daya berkecambah uji cepat menggunakan analisis regresi, persamaan matematis sebagai berikut :

Y = β0 + β1X + ε1

……… ………….. …… (iii)

keterangan: Y : daya berkecambah uji langsung β0 : konstanta β1 : koefisien regresi X : nilai daya berkecambah uji cepat ε1 : galat III. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur tumbuh benih damar (Genus Agathis, Famili Araucariace dan Ordo Pinales) terdiri dari kotiledon, gametofit betina, hipokotil dan radikel (Gambar 1). Keempat komponen struktur tersebut secara bersama-sama menjadi faktor penentu dalam penilaian kriteria benih hidup dan mati pada pengujian secara cepat. Secara umum, kecuali uji hidrogen peroksida tahap pengkondisian optimum dicapai setelah benih terimbibisi sempurna, yaitu fase awal aktivasi. Proses imbibisi pada benih damar berlangsung cepat; diperoleh dari pengupasan kulit kemudian dilembabkan selama 24 jam pada kertas merang lembab. Menurut Leubner (2006), kecepatan imbibisi sangat dipengaruhi oleh ada/tidak dormansi dan tipenya serta susunan biokimia. Jumlah kebutuhan air meningkat secara linear berdasarkan perubahan tahap perkecambahan, dimulai dari tahap imbibisi, aktivasi sel/jaringan dan pertumbuhan. Menurut Zanzibar (2009), tujuan utama imbibisi pada uji cepat dapat berupa mengaktifkan/ membedakan sel/jaringan yang hidup/mati, memacu pertumbuhan, meningkatkan jumlah oksigen terlarut serta mempertegas penampakkan kondisi struktur tumbuh. Setelah benih mengalami pengusangan, daya berkecambah menurun secara nyata sehingga diperoleh beragam kriteria dari benih hidup/mati. Kriteria benih hidup uji TZ adalah bila radikel dan kotiledon berwarna merah (M) atau merah muda (Mm) tanpa warna putih (P), gametofit betina berwarna merah sampai putih (≤ 20% warna putih dengan ≥ 50% warna merah), benih mati bila terdapat warna putih pada radikel dan/atau kotiledon, luasan warna putih pada

t hitung

d 1 1 Se r1 r 2

………… ……… (i) …

thit > t (α/2) (r1 + r1 - 2), tolak H0 thit < t (α/2) (r1 + r1 - 2), terima H0 keterangan : Se : JK1 + Jk2 (r1 + r1 - 2) d : selisih nilai rata-rata daya berkecambah hasil uji cepat dengan hasil perkecambahan langsung thit : nilai t hitung r1,2 : jumlah kuadrat daya berkecambah hasil uji cepat dengan uji perkecambahan langsung. Keeratan hubungan antara nilai daya berkecambah hasil uji cepat dengan nilai daya berkecambah langsung menggunakan koefisien korelasi (Steel dan James, 1991). Kaidah uji sebagai berikut :

r n

n dx
2

dx.dy
2

dx n

dy dy y
2 2

….. (ii)

dx

keterangan: r : koefisien korelasi n : jumlah ulangan dx : dugaan daya berkecambah hasil uji cepat dy : dugaan daya berkecambah hasil uji perkecambahan langsung

184

Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana

9 mm

Gambar (Figure) 1. Potongan melintang struktur tumbuh benih damar yang masak fisiologis (Cross section of a typical mature seed of dammar)

gametofit betina ≥ 20% dan warna merahnya ≤ 50%. Semakin luas pola pewarnaan, intensitas tinggi serta terletak pada bagian-bagian penting dari setiap struktur tumbuh maka menunjukkan bahwa benih berpeluang menjadi kecambah normal. Kondisi vigor benih dapat terdeteksi berdasarkan uji TZ; benih bervigor tinggi berturut-turut diperoleh pada nomor kriteria 1, kemudian 2a, 2b dan seterusnya (Gambar 2). Keragaman proses reduksi dapat disebabkan oleh keragaman kondisi fisik; bila benih rusak, pewarnaan menjadi kurang cerah karena penetrasi garam tetrazolium berlangsung lambat, namun dalam proses evaluasi benih demikian tergolong hidup.

Gambar (Figure) 2. Kriteria benih hidup dan mati berdasarkan uji tetrazolium (Criteria of viable and non -viable seed base on the tetrazolium test)

Kriteria benih hidup uji hidrogen peroksida, bila kecambah memiliki panjang radikel ≥ 2 mm, sedangkan benih mati jika kurang dari 2 mm atau tidak berkecambah sampai akhir perendaman (hari ke 6). Larutan hidrogen peroksida merangsang respirasi yang meningkatkan aktivitas perkecambahan. Semakin tinggi konsumsi oksigen maka semakin memacu laju respirasi; tingkat respirasi tinggi memacu laju metabolisme, energi yang dihasilkan ditranslokasikan ke dalam embrio sebagai energi perkecambahan (Leadem, 1984). Nilai perkecambahan yang rendah seringkali disebabkan oleh infeksi jamur, kemudian menular ke benih uji lainnya yang seharusnya mampu berkecambah. Menurut Zanzibar dan Naning (2003), penggantian larutan dilakukan

bila waktu pengujian lebih dari 4 hari atau larutan sudah terlihat keruh. Umumnya, benih berlemak lebih cepat rusak dibanding benih berprotein dan berkarbohidrat. Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abu-abu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt, 2000). Uji ini akan

185

sedangkan benih mati bila struktur tumbuh berwarna kekuningan atau coklat. nilai rata-rata dugaan daya berkecambah metode uji cepat. sedangkan metode tetrazolium. Contoh benih hidup/mati dari masing-masing metode uji cepat dapat dilihat pada Gambar 3. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa masing-masing metode dapat pula digunakan sebagai metode pengujian mutu fisiologis benih damar. Uji belah bersifat subyektif karena sangat ditentukan oleh kemampuan dan keahlian laboran dalam menginterpretasikan tampilan kondisi/mutu benih yang beragam. Perbedaan 3 . 186 . tidak berbeda nyata dengan daya berkecambah uji langsung (Gambar 4). selain biaya bahan/peralatan serta tenaga kerja. pengujian mutu fisiologis benih damar menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik (UKDdp) selama 14 hari. Hubungan antara dugaan daya berkecambah uji langsung dengan uji cepat disajikan pada Gambar 5. Kriteria benih hidup uji belah dicirikan oleh kondisi struktur tumbuh berwarna putih atau kuning dan terlihat segar. excision embryo and cutting test (a) viable seed (b) non-viable seed) Berdasarkan uji t. Beberapa kriteria benih hidup dan mati pada metode uji tetrazolium. hidrogen peroksida. Nilai korelasi ke empat metode uji relatif tinggi. layu dan busuk. keeratan tertinggi diperoleh pada uji eksisi embrio (92.5% secara keseluruhan dapat diartikan tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan contoh benih. 6 dan 2 hari. Oktober 2010. misalnya penilaian tingkat kemasakan atau mutu benih saat pengunduhan. Grabe (1970) dalam Zanzibar (1996). eksisi embrio dan belah. Uji ini biasanya digunakan untuk menduga kualitas awal.189 memiliki ketelitian tinggi bila penggantian media dilakukan tepat waktu. hasil uji cepat dan uji perkecambahan seharusnya memiliki nilai yang saling mendekati dalam selang keragaman pengambilan contoh. masing-masing selama 2.8%) dan uji hidrogen peroksida (92.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. eksisi embrio dan belah. hidrogen peroksida. 2007). 6.7 No. Bahan-bahan yang digunakan relatif murah dan terjangkau. 181 . segera membuang embrio yang terinfeksi jamur dan/atau bakteri sebelum menular ke embrio sehat lainnya serta penentuan lama inkubasi yang optimum dari kecambah berkategori normal. selanjutnya uji belah dan uji tetrazolium. sedangkan oven. hydrogen peroxide.7%). media campuran pasir dan tanah (1: 1)(v/v) selama 21 hari (Anonimous.4. (a) (b) (a) (b) Uji tetrazolium (tetrazolium test) Uji hidrogen peroksida (hydrogen peroxide test) (a) (b) (a) (b) Uji eksisi embrio (excision embryo test) Uji belah (cutting test) Gambar (Figure) 3. inkubator dan germinator merupakan peralatan standard institusi penguji mutu benih sehingga sangat memungkinkan uji ini digunakan sebagai uji resmi (Zanzibar. (a) benih hidup (b) benih mati (Criteria of viable and non-viable seed base on tetrazolium.6% dan 90%. 2009). kering. Berdasarkan petunjuk teknis pengujian mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. masing-masing sebesar 91. Jika menggunakan metode hidrogen peroksida dan eksisi (paling lama) maka waktu yang dapat dihemat selama 8 hari.

eksisi embrio dan uji belah (Mean differences test of dammar seed germination capacity among germination test to tetrazolium.5o 51 ± 10.33 40 ± 3.16 49 ± 6.23 2.53 2.33 0.10 55 ± 6.32 1.69 1.00 97 ± 3.66 82 ± 5.59 1.13 0.16 65 ± 10.00 96 ± 3.78 0.65 1.25 87 ± 6.45 0.16 54 ± 5.85 2.30 48 ± 3.00 76 ± 7.83 75 ± 6.63 0. hydrogen peroxide. uji eksisi embrio dan uji belah (Corellation of aging level with value of dammar seed germination capacity based on germination test.50 42 ± 8. hydrogen peroxide.89 Catatan (Remarks) : DB/GP : Daya berkecambah (Germination percentage).24 0. excision embryo and cutting test) Rata-rata Uji tetrazolium Uji hidrogen peroksida Taraf DB *) uji (Tetrazolium test) (Hydrogen peroxide test) penuaan langsung (Aging (GP Means Rata-rata level) Rata-rata of DB (GP (hari) thit DB (GP thit germination Means) (days) Means) (%) test) (%) (%) 0 2 5 8 11 14 Uji eksisi embrio (Excision embryo test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 93 ± 3.83 58 ± 4.63 0. Hubungan antara taraf penuaan dengan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung.83 87 ± 6.9 91 ± 8.3 thit thit 98 ± 4. hidrogen peroksida. t table/table 0.30 1.0 55 ± 3. Uji beda rata-rata dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji tetrazolium.00 0.00 55 ± 10.08 0.27 Uji belah (Cutting test) Rata-rata DB (GP Means) (%) 99 ± 2. uji tetrazolium.40 0.00 96 ± 5.27 80 ± 11.00 74 ± 5.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.00 1.00 0.60 1.05: 2.83 40 ± 10.83 40 ± 7.96 0.27 46 ± 8.00 47 ± 11. t table/table 0.00 98 ± 4. tetrazolium.447.01: 3. uji hidrogen peroksida.70 95 Daya berkecambah / Germination Percentage (%) 85 75 65 55 45 35 1 2 3 4 5 6 Taraf penuaan / Aging level (Hari / Days ) Uji Perkecambahan Langsung / Direct Germination Test Uji Tetrazolium / Tetrazolium Test Uji Hidrogen Peroksida/ Hydrogen Peroxide Test Uji Eksisi Embrio / Exicion Embryo Test Uji Belah / Cutting Test Gambar (Figure) 4.81 2.27 1. excision embryo and cutting test 187 .

Kosasih. B. Departemen Kehutanan.189 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 1. KESIMPULAN 1. L. 2006. 0702-9861.27 % 90 100 90 100 Daya berkecambah uji tetrazolium Germination percentage of / tetrazolium test (%) Daya berkecambah uji hidrogen peroksida /Germination percentage of hydrogen peroxide test(%) (a) (b) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 Y = 0.749 r2 = 9. Jakarta.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Oktober 2010. Hydrotime: Population based threshold germination model. The Seed Biology Place. Martawijaya. US Department of agriculture.4. Vozzo J. hidrogen peroksida. 1994. (b) uji hidrogen peroksida (c) uji eksisi embrio dan (d) uji belah (Corelation of prediction value of dammar seed germination capacity among germination test to rapid test (a) tetrazolium (b) hydrogen peroxide (c) excision embryo and (d) cutting test ) IV.3975 r2 = 90 % Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) Daya berkecambah uji perkecambahan langsung / Germination percentage of germination test (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 Y = 0. Ministry of Forest Land Research Branch.0319x + 4.A. K.7 No. 18. Management report No.B. Jakarta. Iding K. New Orleans Louisiana. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.16 % 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji eksisi embrio /Germination percentage of excision embryo test (%) (c) (d) Gambar (Figure) 5. Bonner F.P. Nilai korelasi ke empat metode uji (tetrazolium.7977 r2 = 9. Hubungan antara dugaan daya berkecambah benih damar hasil uji perkecambahan langsung dengan uji cepat: (a) uji tetrazolium. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis (Terjemahan). 1981. General technical report SO 106.C. G. C. 1984.T. Elam W. ISSN. Leadem. Leubner. A. eksisi embrio dan uji belah) terhadap perkecambahan langsung relatif tinggi. Instructors Manual. sehingga berpotensi untuk penyusunan tabel daya berkecambah benih damar berdasarkan uji cepat. 2000. Schmitd. dan Soewanda A.8957x + 6.9072x + 9. Pengkondisian optimum metode uji cepat benih damar dicapai setelah benih terimbibisi sempurna (fase awal aktivasi). Semua metode uji cepat dapat digunakan untuk menduga mutu fisiologis benih damar. Tree Seed Technology Training Course.L. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman hutan. Atlas kayu 188 .28 % 100 90 80 70 60 50 40 30 40 50 60 70 80 90 100 Daya berkecambah uji belah / ermination percentage of cutting G test (%) Y = 0.9474x + 10. Quick test for tree seed viability. 181 . Southern forest experiment station. 2007.W and Land S. 2.1285 r2 = 9.

status pendekatan biometrik (Terjemahan). 2009. Departemen Kehutanan. dan James H. Bogor Zanzibar. Jilid I. 2005. 1990. Pengaruh kadar air awal.D. Zanzibar. 97. Gramedia. Departemen Kehutanan. 189 . M. Bogor. Zanzibar. Bogor Steel. Jurnal Standardisasi. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Ketepatan beberapa metode uji cepat dalam menduga viabilitas benih mangium. Jakarta. Balai Teknologi Perbenihan. H. T. J. 1996. Aplikasi uji cepat viabilitas benih tanaman hutan. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.Akurasi Metode Uji Cepat dalam Menduga Mutu Fisiologis Benih Damar Muhammad Zanzíbar dan Nanang Herdiana Indonesia. Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 . Prosiding ekpose program dan hasil-hasil penelitian perbenihan kehutanan. M. Badan Penelitian dan Pengembangan. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia.G. Badan Penelitian dan Pengembangan.45. M. Y. dan Naning. M. dan Nanang. R. Zanzibar. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 2(02): 205 215. dan Endah S. Standar prosedur dan kunci interpretasi beberapa benih tanaman hutan berdasarkan uji cepat. suhu dan kelembaban nisbi udara ruang simpan terhadap viabilitas benih damar (Agathis lorantifolia Salisb). perlakuan asam propionat. Bogor. PT. Balai Teknologi Perbenihan. Sagala. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.R. Direktorat Jenderal Kehutanan. 1991. Laporan uji coba NO. Prinsip dan prosedur statistika. 2003.

Parameter bibit yang diuji adalah persen hidup dan pertumbuhan (tinggi dan diameter). Setiap perlakuan ditanam sebanyak 100 tanaman dengan jarak tanam 20 x 2.5 m spacing. Each treatment consisted of 100 plants were planted with 20 x 2. The Tukey test showed that the survival rate of both species in block II between seedling quality one and the other quality were significantly different (88. mutu bibit.8 mm is recommended as a standard of quality seedlings for planting in Silin program with Selective Cutting and Planted Indonesia Intensive System.8% and 84. species. interaction between species and seedling quality. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis. Keywords: Growth. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 2. Mulyana Omon Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) Bogor Jalan Pakuan Ciheuluet Po. The total numbers of plants observed were 2400 plants. red meranti. Kalimantan Tengah. height and diameter of seedlings were measured to evaluate the growth of both species one year after planting in the field. respectively). Meanwhile.5 m. Berdasarkan uji beda nyata Tukey menujukkan bahwa 191 .3%. Box 105 Bogor Telp. S.6 cm higher than that other interaction between species and seedling quality.400 bibit. parvifolia from seedling quality one achieved an average height of 184. The experimental design used factorial in a randomized complete block design with 4 replications. namun block dan mutu bibit berpengaruh nyata terhadap persen hidup. The seedling of both species which was treated until 7 months were selected based on Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. (0251) 8327768 Naskah masuk : 28 Sepember . sedangkan. Bibit yang telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Perlakuan terdiri dari dua jenis meranti merah dan tiga mutu bibit asal cabutan.UJI COBA MUTU BIBIT MERANTI MERAH DI HPH PT ERNA JULIAWATI KALIMANTAN TENGAH Experiment Test on Seedling Quality of Red Meranti in Forest Concession Holder PT Erna Juliawati. untuk pertumbuhan (tinggi dan diameter) hanya blok yang berpengaruh nyata. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT A study on seedling quality of two red meranti species was conducted at IUPHHK PT Erna Juliawati in Central Kalimantan. diameter and value strength. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mutu bibit dua jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan. The treatments consisted of two species (Shorea leprosula and Shorea parvifolia) and three seedlings quality class from wilding. parvifolia from wilding with seedling quality one with height ranged 50 cm 65 cm and diameter ranged 5 mm . Centre Kalimantan R. The results showed that species.1-1999) yaitu berdasarkan kriteria tinggi dan diameter bibit serta nilai kekokohan bibit. The purpose of this study was to provides information on seedling quality of two red meranti species one year after planting in the field. differences in diameter growth at one year after planting are only affected by the block. seedling quality class. Therefore S. The survival. sebelum ditanam di lapangan diseleksi terlebih dahulu berdasarkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI 01-5005. while the block and seedling quality gave significant effect on survival rate. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup. while the height and diameter growth of both species in block III were higher compared in the other block.1-1999) before planting in the field that is quality class of height. interaction between species and seedlings quality were not significantly affect the survival rate. wilding ABSTRAK Penelitian uji coba mutu bibit dua jenis meranti merah telah dilakukan di areal IUPHHK PT Erna Juliawati. The growth of height was significantly affected by block. However. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam pola acak lengkap berblok yang diulang sebanyak 4 kali.

meranti merah. Penelitian uji coba mutu bibit ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia jenis Meranti (SNI 01-5005. johorensis sebesar 2.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1993). pertumbuhan I. B.8 cm/th. Zobel dan Talbert (1984) menjelaskan bahwa ciri atau sifat yang sering ditampilkan setiap individu tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan genetik.7 No. Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang baik di lapangan harus didukung oleh pemilihan bibit dengan kualitas baik.1-1999). penyakit dan gulma di persemaian (Hendromono.199 persen hidup bibit untuk ke dua jenis meranti pada blok II antara mutu bibit satu dengan mutu bibit yang lainnya berpengaruh nyata yaitu 88. parvifolia dari cabutan dengan mutu bibit satu.2 cm/tahun dan S.000. Oktober 2010.6 cm.3cm dengan diameter antara (5 . luas 184. PT Erna Juliwati termasuk jenis Podsolik Merah Kuning sebesar 56 % dan sebesar 44 % termasuk jenis latosol berdasarkan peta tanah pulau Kalimantan skala 1:1. hama. agar tegakan yang dihasilkan baik. Salah satu contohnya adalah uji coba tiga (3) jenis Shorea yang telah berumur 4. Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor. 15/Kpts-IV/19999 PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah.206 Ha. Standardisasi mutu bibit Dipterorapaceae dapat dilakukan melalui pembuatan kriteria mutu bibit yang terukur dan bersifat kuantitatif dan dapat pula didasarkan pada fenotipe bibit karena mudah diukur dan dapat dianggap sebagai gambaran genetik. parvifolia sebesar 2. kelas mutu bibit.4. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Izin Usaha Pengelolaaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) No.5 cm/th. Penanaman dilakukan pada bulan Juni 2008. pupuk. jenis medium bibit. kelembaban udara. Dengan demikian jenis S.1 cm/th. konsentrasi karbon dioksida. Faktor dalam diantaranya asal benih.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. Secara administrasi pemerintahan lokasi PT Erna Juliawati termasuk Kecamatan Tumbang Manjul. yaitu faktor dalam dan faktor luar. macrophylla sebesar 1.3 %.8 mm) atau ratarata sebesar 5. BAHAN DAN METODE A. yang berasal dari mutu bibit satu lebih tinggi dibandingkan dengan interaksi antara jenis dan mutu bibit lainnya. Kabupaten Seruyan.1-1999) yang berdasarkan pengujian di persemaian. cahaya. Dalam rangka usaha mendapatkan bibit yang bermutu diperlukan penilaian mutu bibit sesuai standard. II.8 % and 84. Apabila kualitas fenotipe baik maka kita mengetahui bahwa individu tersebut memiliki potensi genetik untuk tumbuh baik (Schmidt. yaitu tinggi antara (50 . suhu. S.6 cm/th. parvifolia. kemudian dilakukan pengamatan setelah enam bulan penanaman pada bulan Desember 2008 dan duabelas bulan setelah penanaman pada bulan Juni 2009. sementara untuk S. Pertumbuhan tinggi dan diameter bibit pada blok III untuk kedua jenis meranti lebih tinggi dibandingkan pada blok lainnya. mikoriza.65 cm ) atau rata-rata sebesar 59. 2000). Oleh karena itu perlu dilakukan uji coba di lapangan sampai dengan umur satu tahun. Propinsi Kalimantan Tengah. Kata kunci : cabutan. S. oksigen. Soekotjo (2007) melaporkan bahwa ada lima jenis meranti merah yang menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma yang menunjukkan hasil rata-rata riap diameter per tahun masing-masing jenis untuk Shorea leprosula sebesar 1. 2007). Tujuan dari penelitian ini adalah menyediakan informasi mengenai uji coba yang terukur dan praktis terhadap pertumbuhan bibit dua (2) jenis meranti dengan mutu bibit sesuai kriteria SNI 01-5005. Menurut Klasifikasi Iklim Schmidt dan Ferguson (1951) ke dua lokasi 192 . platyclados sebesar 2. Faktor luar yang penting antara lain air. Lokasi pembuatan petak coba penelitian terletak di petak HH 39 Blok I RKT 2008. 191 . yaitu sebesar 184. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk melengkapi penyusunan Standarisasi Nasional Indonesia untuk kedua jenis tersebut. PENDAHULUAN Meranti merah (red meranti) adalah salah jenis dari suku Dipterocarpaceae yang kayunya bernilai ekonomi tinggi dan beberapa jenis mempunyai pertumbuhan yang cukup cepat. Tanah dan Iklim Jenis tanah di IUPHHK.8 mm dapat dijadikan standard mutu bibit untuk ditanam dalam program silin dengan sistem TPTI Intensif. S.

jarak antara jalur 20 m dan jarak tanam didalam jalur 2. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap ulangan menggunakan 100 bibit. seperti disajikan pada Tabel 1. Pemeliharaan tanaman dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis sistem TPTII.000 m2 atau seluas 12 ha. Pucuk / akar (top root ratio) 6. Cabutan diambil di sekitar pohon plus.8 – 12. 193 . kaliper.0 mm. C. parvifolia (A2). Media yang digunakan di persemaian adalah tanah bagian atas (top soil).400 bibit.559 mm/tahun dan hari hujan 238 hari. Kekompakan media ( media compaction) 2. Diameter (diameter) 4. Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 x 3.400 = 120. Nilai kekokohan bibit (strength value of seedling) 5. kelas mutu bibit dua (B2) dan kelas mutu bibit tiga (B3). C.9 mm 8.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. Kegiatan penyiapan lahan meliputi pembersihan jalur. Sebelum penanaman bibit diklasifikasi berdasarkan tiga kelas mutu bibit yang telah tersedia (SNI 01-5005.0 – 8. Lubang tanam berukuran 40 × 40 cm dengan kedalaman 30 cm dan diisi dengan bagian atas tanah (top soil) yang diambil dari lokasi sekitarnya. mistar dan kamera.0 - Mutu bibit tiga (seedling quality three) 35 < 4. leprosula (A1) dan S.0 – 4. yaitu lebar jalur 3 meter. leprosula dan S. Tabel (Table) 1.5 × 20 × 2. sehingga jumlah bibit yang digunakan adalah 2 × 3 × 4 × 100 = 2. Penanaman Sebelum penanaman dilakukan terlebih dahulu dilakukan penyiapan lahan sesuai dengan pedoman teknis sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII). tetapi tidak dilakukan penyulaman dengan maksud untuk melihat kemampuan bibit tersebut di lapangan. Faktor A adalah jenis yang terdiri dari 2 jenis yaitu S. pembuatan lubang tanam kemudian penanaman. Peralatan lapangan yang digunakan dalam penelitian seperti meteran. parvifolia) yang berasal dari cabutan dan telah dipelihara selama tujuh bulan di persemaian. Penanaman dilakukan sistem jalur yang disesuaikan dengan pedoman TPTII. Kriteria mutu bibit dipterocarpaceae (Criteria of dipterocarps seedling quality) No Kriteria penilaian (valuation criteria) 1. Tinggi (height) 3.5 m. Luas areal penanaman adalah 2.0 < - - D.3 – 10.5 m. pemasangan ajir. yaitu yang tinggi < 35 cm dan diameter < 4.8 Mutu bibit dua (seedling quality two) 35 – 49 cm 4. Penanaman disesuaikan dengan kegiatan penanaman operasional di IUPHHK PT Erna Juliawati. sehingga dapat dianggap sebagai bibit yang bermutu. Pembersihan jalur dilakukan dengan membersihkan jalur penanaman dari vegetasi lain selebar 3 m vertikal baik secara manual maupun mekanis. Bahan Bahan yang digunakan terdiri dari : Bibit dari dua jenis bibit meranti merah (S. Alat Mutu bibit satu (seedling quality one) 50 – 65 cm 5. Mulyana Omon termasuk tipe Iklim A dengan rata-rata curah hujan 3. Faktor B adalah kelas mutu bibit yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas mutu bibit satu (B1).1-1999) ditambah dengan satu kelas mutu bibit dibawahnnya. Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisasion ) 2. Masingmasing jalur memiliki lebar 3 m dan panjang 250 m. Bahan danAlat Penelitian 1.0 mm 6. Penanaman dilakukan dengan sistem jalur dimana jarak antar jalur 20 m dan jarak tanam antar tanaman di dalam jalur 2.

8 b III 90. mutu bibit.5 b II 88. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap perentase hidup jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to survival rate of red meranti species after six months and one year planted in the field) Umur enam bulan ( six months old) Umur dua belas bulan (twelve months old) Blok Rata-rata persentase hidup Blok Rata-rata persentase hidup (average (block) (average survival rate) % (block) survival rate) % IV 87. interaksi antara jenis dan mutu bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup tanaman. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Di lapangan Pengamatan dilakukan pada waktu enam (6) dan dua belas (12) bulan setelah penanaman. Oktober 2010. III. Pengumpulan Data 1. Tabel (Table) 2. Perhitungan kolonisasi akar yang bermikoriza di hitung dengan menggunakan alat mikroskop terhadap akar yang terinfeksi dan tidak terinfeksi fungi mikoriza di laboratorium Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. Akan tetapi setelah satu tahun di tanam blok dan mutu bibit menunjukkan perbedaan yang nyata. Daniel et al. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam (ANOVA). 2. 191 .5 (average) (average) Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel 2 menunjukkan rataan persen hidup secara keseluruhan dari kedua jenis tanaman meranti merah mengalami penurunan dari periode pengamatan enam bulan sampai dengan satu tahun setelah penanam yaitu rata-rata sebesar 10 %. kolonisasi akar bermikoriza pada setiap kelas mutu bibit diambil masing-masing 10 bibit sebagai contoh untuk setiap jenis.199 E. Kekokohan bibit dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan diameter (mm) (Jayusman. seperti disajikan pada Tabel 2 dan 3.8 a I 79. Analisa Data Parameter yang dianalisis adalah persen hidup dan pertambahan tinggi dan diameter di lapangan. Tinggi tanaman diukur dari pangkal hingga ujung tanaman dengan menggunakan meteran. Di persemaian Untuk data penunjang kualitas mutu bibit telah dilakukan penilaian terhadap nilai kekokohan.8 a IV 74.8 ab III 80.2 a I 88.7 b II 96. 2005) dan nilai nisbah batang akar ditentukan berdasarkan pengukuran yang dihitung sebagai nisbah antara tinggi bibit (cm) dengan panjang akar (cm). nisbah batang akar (top root ratio) dan kekompakan media pada waktu penanaman (pada waktu merobok kantong plastik/polybag tidak media terjadi pecah/utuh).4.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Persentase Hidup Berdasarkan dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan jenis.8 c Rataan Rataan 90. Penurunan persen hidup pada awal penanaman diakibatkan karena penurunan kualitas bibit waktu proses pengangkutan bibit dari persemaian ke tempat penanaman dan proses adaptasi dengan lingkungan.7 No. (1979) melaporkan bahwa beberapa faktor lingkungan yang dapat penyebabkan kematian bibit setelah 194 . Diameter tanaman diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan alat ukur kaliper. diameter dan persen hidup tanaman. 1975). kecuali blok setelah berumur enam bulan di lapangan. E. Penilaian kekokohan bibit dan nisbah batang akar. Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan yaitu uji beda nyata Tukey (Haeruman.6 80. Parameter yang diamati adalah tinggi.

parvifolia merupakan jenis yang membutuhkan setengah naungan pada waktu muda dan selanjutnya membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya (Mok.100% untuk tingkat pancang. yaitu intensitas cahaya. leprosula dan S. sehingga mengakibatkan kematian setelah ditanam di lapangan.3 %. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two). Hasil uji beda nyata Tukey (Tabel 4) setelah satu tahun ditanam menunjukkan riap tinggi dan diameter yang di tanam di blok III dan IV tidak berbeda nyata yaitu masing-masing sebesar 179. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three).Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. leprosula merupakan jenis yang memerlukan cahaya pada tahap awal pertumbuhan 60 . yang riap lebih tinggi setelah satu tahun ditanam di lapangan telah dilakukan uji beda nyata Tukey.8 % dibandingkan blok I sebesar 79. Berdasarkan hasil uji Tukey (Tabel 2) memperlihatkan persen hidup paling tinggi.8 cm. Untuk pertumbuhan diameter. iklim mikro.2 % setelah satu tahun ditanam. seperti disajikan pada Tabel 4 dan 5. lantai hutan.3 b Ketengan (Remarks): B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). 177. Untuk diameter masing-masing sebesar 2. Pertambahan Tinggi dan Diameter Dari hasil analisis keragaman blok. 82. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). Priadjati (2003) menyatakan bahwa S. Ditambah lagi pada saat penanaman selama satu tahun tersebut tidak dilakukan penyulaman.8 %. tanaman pesaing.70% (intensitas cahaya relatif) untuk semai dan 74 .6 cm.3 cm dan 165. Jika dilihat persen hidup dari setiap jenis dan kelas mutu bibit cukup baik yaitu lebih dari 75%.3 % Rendahnya persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga dikarenakan ukuran bibit kecil.6 cm dan 2.1 b 3 B1= Mutu bibit satu (seedling quality one) 84. Bibit tersebut belum siap bersaing dengan tumbuhan lain disekitarnya dan kurang tahan terhadap proses pengangkutan. terlihat lingkungannya di kedua 195 . dikarenakan pada waktu penanaman. Tabel (Table) 3. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey mutu bibit terhadap persentase hidup jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey seedling quality to survival rate of red meranti species after one year planted in the field) No Perlakuan mutu bibit Rata-rata persentase hidup (seedling quality treatments) (average survival rate) % 1 B3=Mutu bibit tiga (seedling quality three) 76.7 cm.3 a 2 B2=Mutu bibit dua (seedling quality two) 82. Oleh karena itu untuk jenis S. Kondisi yang terlalu terbuka ini yang menyebabkan terjadinya kematian tanaman.7% dan blok IV sebesar 74. yaitu yang ditanam di blok II sebesar 88. Tabel 3 menunjukkan persen hidup untuk kelas mutu bibit tiga paling rendah dan berbeda nyata dibandingkan dengan kelas mutu satu dan dua yaitu masing-masing sebesar 84. hanya blok yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter. Maksud tidak dilakukannya penyulaman setelah tiga bulan ditanam adalah untuk melihat kemampuan hidup dari masing-masing jenis dan kelas mutu bibit selama satu tahun ditanam di lapangan. Hal ini ternyata bahwa bibit berukuran kecil berpengaruh terhadap daya tahan tanaman pada saat pengangkutan dan setelah penanaman di lapangan. tanah dan faktor biotis. Daryadi dan Harjono (1972) melaporkan dengan besar persentase hidup tersebut selama satu tahun ditanam dikatagorikan cukup baik. Mulyana Omon penanaman. Rendahnya persen hidup di blok IV dan I. Untuk mengetahui interaksi antara jenis dan mutu bibit serta blok mana. tetapi hanya pemeliharaan sesuai dengan pedoman teknis TPTII. B. Tidak berbeda nyatanya pertumbuhan tinggi dan diameter di kedua blok setelah satu tahun ditanam. jenis dan interaksi antara jenis dan mutu bibit telah menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi (riap tinggi) setelah satu tahun ditanam di lapangan. yaitu tinggi < 35 cm dan diamerter < 4 mm dibandingkan kelas mutu bibit satu dan dua. 1993). blok III sebesar 80.1 % dan 76. kondisi di blok I dan IV terdapat beberapa jalur penanaman terletak di bekas jalan sarad yang sangat terbuka.

196 .3 a III 55.7 b 6 Interaksi antara A2 dan B1 (Interaction between A12and B1) 184.6 c Keterangan (Remarks): Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test) Tabel (Table) 5.7 No. yaitu sebesar 184. Oktober 2010.6 ab 0.6 b Ketengan (Remarks): A1 = S.6 cm.4. Tabel (Table) 4 . parvifolia masing-masing hampir sama yaitu sebesar 221. Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey blok terhadap riap tinggi dan diameter jenis meranti merah setelah enam dan satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey on block to height and diameter growth of red meranti species after six months and one year planted in the field) Blok (block) Umur enam bulan (six months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average growth) cm diameter growth) cm I 42. leprosula dari mutu bibit tiga dan S.4 c IV 58. parvifolia dari mutu bibit satu memperlihatkan riap tinggi yang paling tinggi dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Walaupun kelas mutu bibit 3 memiliki rata-rata pertumbuhan yang tinggi. parvifolia.199 blok hampir sama. Berdasarkan Tabel 5 bahwa jenis S.5 c Umur dua belas bulan (tweleve months old) Rata-rata riap tinggi Riap diameter (average height (average diameter growth) cm growth) cm 141.0 a 2. B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). Rata-rata hasil uji beda nyata Tukey interaksi antara jenis dan mutu bibit terhadap pertambahan tinggi (riap) jenis meranti merah setelah satu tahun ditanam di lapangan (Average results of significant different test of Tukey interaction between species seedling quality to height growthh of red meranti species after one year planted in the field) No. begitu pula yang terjadi di PT Sari Bumi Kusumah berdasarkan hasil uji jenis riap untuk jenis S.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 4 b 5 Interaksi antara A1 dan B3 (Interaction between A1 and B3) 173. Nilai rata-rata yang diikuti oleh hurup berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada tingkat 5% berdasarkan uji beda nyata Tukey (Mean values followed by different letters are significanly different at 5% level based on Tukey significant different test). Akan tetapi tidak berbeda nyata dengan jenis S.8 a 0. 191 .4 c 0.2 cm dan 224.7 b 2. Hal ini dikarenakan oleh tegakan tinggal antara jalur setelah satu tahun telah tertutup kembali oleh permudaan alam yang dapat mengembalikan iklim mikro di lantai hutan.3 b 4 Interaksi antara A2 dan B3 (Interaction between A2 and B3) 169. B3 = mutu bibit tiga (seedling quality three). B1 = mutu bibit satu (seedling quality one). tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya memerlukan cahaya. leprosula.2 ab 3 Interaksi antara A2 dan B2 (Interaction between A2 and B2) 163.6 c 2. 2007). yaitu faktor keturunan (genetik). A2 = S.7 a 165. walaupun membutuhkan naungan pada awalnya. B2 = mutu bibit dua (seedling quality two).2 bc 0. lingkungan dan teknik silvikultur.3 b 179. parvifolia dari mutu bibit tiga. Perlakuan interaksi antara jenis dan mutu bibit ( Interaction Rata-rata riap tinggi between species and seedling quality treatments ) (average height growth) cm 1 Interaksi antara A1 dan B1 (Interaction between A1 and B1) 143.3 b 2. Yassir dan Mitikauji (2007) melaporkan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor. Tidak berbeda pertumbuhan tinggi kedua jenis tersebut setelah satu tahun ditanam di lapangan.6 cm (Soekotjo.2 a II 47. akan tetapi rata-rata tinggi tanaman tidak melebihi kelas mutu bibit satu dan dua.8 b 177.8 a 2 Interaksi antara A1 dan B2 (Interaction between A1 and B2) 162. Kedua jenis meranti merah ini termasuk dalam jenis setengah toleran. leprosula dan S.

7 % utuh 10. Nilai top ratio yang baik berkisar antara termasuk dalam kelompokkan baik (SNI 01-5005. parvifolia Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Kriteria penilaian (valuation criteria) Kelas mutu bibit (seedling quality class) B1 utuh 9. leprosula sebesar 9. Berdasarkan hasil penilaian top ratio dari penelitian rata-rata sebesar 4. leprosula before planting in the field) Jenis (species) Media tumbuh (growth media) Bagian atas tanah (top-soil) S. Indikator ini sangat penting untuk menunjang kualitas bibit sebelum ditanam di lapangan. Nilai kekokohan bibit di persemaian berkisar antara 6.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R.10.1-1999).7 untuk jenis S. Jayusman (2005) melaporkan bahwa nilai kekokohan bibit dan nisbah tinggi dan akar (top root ratio) sebelum bibit ditanam adalah karakter penunjang yang sering dipakai untuk menilai sifat morfologis bibit di persemaian.75% B2 utuh 9. Sedangkan untuk top root ratio makin kecil top root ratio akan menunjukkan pertumbuhan kurang baik.5 65.62% B3 Utuh 9. leprosula Kekompakan media (media compaction) Nilai kekokohan (strength value of seedling) Nisbah tinggi dan akar (top root ratio) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) Persentase kolonisasi mikoriza (Percentage of mycorrhizae colonisation ) S.6 65.1 2. kekompakan media dan kolonisasi mikoriza pada saat ditanam.8 dikelompokkan baik (SNI 01-5005. Kekokohan bibit.8 3. Nilai kekokohan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan hidup yang rendah karena tidak seimbang perbandingan tinggi bibit dengan diameternya.4 59. parvifolia dari bibit yang berasal dari cabutan yang dipelihara selama tujuh bulan di persemaian dengan nilai kekokohan sebesar 10.6 % 59.6 4.7 62. Kekokohan bibit menggambarkan keseimbangan pertumbuhan antara tinggi dan diameter bibit di lapangan.3 . Berdasarkan hasil pengukuran dan penilaian rata dari kriteria dan indikator tersebut disajikan pada Tabel 6. parvifolia diikatakan cukup baik. Mulyana Omon C. Tabel (Table) 6.1-1999).08% 65. leprosula sebelum di lakukan penanaman di lapangan (Valuation result of seedling quality criteria to S. Hasil penilaian kriteria mutu bibit jenis S.7 65.6 2. Dari hasil perhitungan rata-rata kekokohan bibit meranti merah jenis S.5 % utuh 9.2 57.8% Keterangan : B1 = kelas mutu bibit `satu. B2 = kelas mutu bibit kelas dua. yaitu nilai kekokohan.1 % utuh 10.6 dan untuk S.5 dalam katogari yang baik.6 4.7 % 65.5 3. nisbah tinggi dan akar (top root ratio). kekompakan media dan Kolinisasi mikoriza Dalam penentuan mutu (kualitas) bibit selain pertumbuhan tinggi dan diameter juga indikator lainnya. nisbah tinggi dan akar (top root ratio). B3 = kelas mutu bibit tiga 197 .

7 No. Bogor. Wana Benih Vol. IPB. T. Jakarta. Haeruman.8 %. Yogyakarta. leprosula dan S. 5. Gadjah Mada University Press. B. Pusat Penelitian dan P e n g e m b a n g a n H u t a n Ta n a m a n .6 dan 4. 3. Departemen Mangemen Hutan. 2005.7 %. Kompos tersebut dicampur dengan top soil dengan perbandingan 1: 3(v/v). Tr o p e n b o s International. Hendromomo. Departemen Kehutanan. Media bagian atas tanah (top soil) pada waktu penanaman utuh atau kompak. Oktober 2010. parvifolia. Kuala Lumpur. 198 . Oleh karena pada saat ini di IUPHHK seperti PT SBK dan PT SARPATIN telah menggunakan kompos buatan yang terbuat dari kayu telah lapuk kemudian diracik menjadi kompos ada juga vegetasi tumbuhan bawah yang diracik dengan alat pencincang rumput kemudian ditambah M4 untuk dijadikan kompos.H. H. 2007. Ferguson. Tetapi jenis meranti yang ditanam blok empat telah memberikan riap diameter yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. Forestry Research Support Program for Asia & The Pacific (FORSPA). 42. J. Saran Perlu juga dilakukan uji coba bibit jenis dipterokarpa lainnya dengan bibit berasal dari cabutan atau benih dengan media campuran antara kompos dan top soil DAFTAR PUSTAKA Daniel. The Netherlands. parvifolia dengan bibit yang berasal dari cabutan. bagian pertama. Fakultas Kehutanan.3 % dan 88. FORSPA Publication 8. The Tropenbos Foundation. Priadjati. Malaysia.. Akan tetapi yang menjadi kendala apabila media tumbuh bibit mengandalkan top-soil dikhawatirkan akan terjadi kerusakan tanah hutan. Helms.61 cm. 1975.4.W.H dan J. Bagian Perentjanaan Hutan. Kesimpulan 1.199 Hal yang tidak kalah pentingnya bagi pertumbuhan bibit di persemaian adalah media yang digunakan. dan F. yaitu sebesar 2. Verhandelingen No. Mok. yaitu sebesar 184. Wageningen. Schmidt. Kelas mutu bibit satu dari jenis Shorea parvifolia telah memberikan riap tinggi paling tinggi dibandingkan interaksi antara kelas mutu dan jenis lainnya.S. 1979. Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa standar mutu bibit yang telah di tersedia untuk jenis meranti (SNI 01-500511999). Jawatan Meteorologi dan Geofisika.T. Yogyakarta. 78 h. F. Rainfall types based on dry and wet period ratios for Indonesia with Western New Guinea. KESIMPULAN DAN SARAN A.7 No. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Silvikultur. yang masing-masing 10. khususnya dari jenis S. Prosedur analisa rancangan percobaan.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.A. Jayusman. 1.7 dengan persen kolonisasi mikoriza sebesar 65. 2. yaitu kelas mutu satu dan dua dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penanaman bibit operasional di lapangan dalam program silvikultur intens 7. 4. Dipterocarpaceae : Forest fire a n d f o r e s t r e c o v e r y. 191 . Prinsip-prinsip silvikultur. leprosula dan S. S. sehingga akar bibit tidak rusak. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan media tumbuh dengan top-soil cukup baik. Rata-rata nilai kekokohan bibit dan nilai nisbi tinggi dan akar (top root ratio) kelas mutu bibit satu yang baik sebagai penunjang untuk penentuan kualitas (mutu) bibit untuk ditanam di lapangan. IV. Evaluasi keragaman genetik bibit surian di persemaian. 2003. 1993. Baker. yaitu pada waktu penanaman bibit ke lubang tanam tidak terjadi kerusakan artinya antara tanah dan akar melekat (utuh). Standard Nasional Indonesia (SNI 01-500511999) untuk jenis meranti dapat digunakan sebagai standar mutu bibit untuk jenis S. Badan Litbang Kehutanan. A. Current research on artificial regeneration of Dipterocarps. Kelas mutu bibit satu dan tanaman di blok tiga memberikan persen hidup lebih tinggi dibandingkan dengan kelas mutu bibit dan blok lainya masing-masing sebesar 84.6 cm. 1951. Tidak diterbitkan.

Vol. dan Shorea balangeran (Korth. Jakarta Schmidt. I. Jakarta. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. New York.) Burck pada lahan alang-alang di Samboja. Mitikauji. dan Y. 1 No. and J.5 tahun di PT Sari Bumi Kusuma Kalimantan Tengah. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Pengaruh penyiapan lahan terhadap pertumbuhan Shorea leprosula Miq. John Wiley and Sons. Kalimantan Timur. L. 2007. 199 . Pengalaman dari uji jenis dipterokarpa umur 4.Inc.Uji Coba Mutu Bibit Meranti Merah di HPH PT Erna Juliawati Kalimantan Tengah R. 2007. 1984. B. Prosiding Seminar Pengembangan Hutan Tanaman Dipterokarpa dan Ekspose TPTII/Silin.11999. Te r j e m a h a n D i r e k t o r a t J e n d e r a l Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Badan Standardisasi National. September 2007. Balai Besar Penelitian Dipterocarpaceae. Talbert. 2000. Applied forest tree improvement. Samarinda. Mulyana Omon Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-5005. Standardisasi mutu bibit jenis meranti. Departemen Kehutanan. Zobel. Yassir. 1. Samarinda. Soekotjo. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis.

Burlian Km.63% and 48.89%. pests. H.2% dan 3./Fax. Bogor Nanang Herdiana Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang Jl. ABSTRAK Jati (Tectona grandis Linn. Keywords: Teak (Tectona grandis Linn. Jati (Tectona grandis Linn. The inventory and identification of pests were done at a private teak plantation Rumpin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama utama dan dampak kerusakan yang ditimbulkan. baik kualitas maupun kuantitasnya. rorida was recorded on plot I (teak was 2.71%. Leucopholis rorida F. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Sedangkan serangan hama Z. Palembang Telp.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan andalan yang banyak dikembangkan karena mempunyai sifatsifat yang baik. The highest damage caused by L. Beside this. terutama untuk kayu 201 . and Zeuzera coffeae Nietn. di samping penggunaan materi dengan kualitas genetik unggul dan manipulasi lingkungan. Kol. Bogor West Java and Forest Protection Laboratory. Dalam sistem silvikultur intensif.5 Puntikayu PO.. Serangan hama dan penyakit dapat menurunkan potensi tegakan. Zeuzera coffeae Nietn. it was often attacked by several pests that caused seriously damages. Bogor Agricultural University. Bogor Jawa Barat dan Laboratorium Perlindungan Hutan Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian menunjukkan jenis hama utama yang menyerang tanaman jati pada lokasi penelitian adalah Leucopholis rorida F. 6.5 tahun) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 77. I. the highest damage caused by Z.) merupakan salah satu jenis tanaman hutan potensial yang banyak dikembangkan. The results showed that the main pests on teak plantations at the research location were Leucopholis rorida F. terutama untuk kayu pertukangan. Zeuzera coffeae Nietn.63% dan 48. hama. PENDAHULUAN Keberhasilan pembangunan hutan tanaman tidak hanya ditentukan oleh penguasaan dan penerapan teknik silvikultur yang sesuai dan taat azas. BOX. Naskah diterima : 17 September 2010 ABSTRACT Teak (Tectona grandis Linn.co.). coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan kerusakan masing-masing sebesar 5. dan Zeuzera coffeae Nietn. tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius.89% respectively..5 years old) with attack and damage intensity of 77. 179. tetapi juga dipengaruhi oleh aspek lainnya seperti perlindungan terhadap hama maupun penyakit. Leucopholis rorida F. Kata kunci : Jati (Tectona grandis Linn. coffeae occured on plot IV (teak was 11 months old) with attack and damage intensity were 5. Dalam pertumbuhannya. (0711) 414864 e-mail : nanang_herdiana@yahoo.) is one of potential forest plants that is developed especially for sawn wood. Kegiatan inventarisasi dan identifikasi hama dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. perlindungan hama dan penyakit menjadi salah satu komponen penting.POTENSI SERANGAN HAMA TANAMAN JATI RAKYAT DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI RUMPIN. This research was conducted to identify kind of main pest organisms and determine the damage intensity.). BOGOR Infestation Potential of Pest on Community's Teak Plantation and Expedient Control in Rumpin.2% and 3. In growing period.71% respectively.id Naskah masuk : 21 September 2009 .

Dalam pertumbuhannya. identifikasi gejala dan tanda serangan serta pengamatan kondisi lingkungan sekitar. Analisis Data Parameter pengukuran yang analisis adalah intensitas serangan dan intensitas kerusakan. (menyerang daun) dan Phassus damor Morr. tali rafia dan kapas. Intensitas kerusakan untuk serangan hama perusak akar menggunakan perbandingan antara tinggi batang yang mati dengan tinggi total pohon. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain : pengukur tinggi (meteran). 202 .Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Bogor. Kegiatan identifikasi jenis hama yang diperoleh dilakukan di laboratorium. 177 . Bahan yang digunakan sebagai obyek pengamatan adalah tegakan jati rakyat berumur 2. 1. inventarisasi inang terserang. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. dan Leucopholis rorida F. etanol. dan Monochamus rusticator Fab. pilok. Sedangkan klasifikasi yang digunakan untuk hama perusak batang dapat dilihat pada Tabel 1. Pengamatan terhadap individu pohon yang terserang dilakuan untuk mengetahui intensitas kerusakan berdasarkan jenis hama yang menyerang.7 No. Bogor Jawa Barat. kemudian ranting sampai batang secara keseluruhan yang pada akhirnya kematian pada pohon. tabung bekas film. tegakan jati rakyat di Rumpin mengalami serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar populasi berupa mengeringnya pucuk. Jawa Barat. dampak kerusakan yang ditimbulkan dan potensi upaya pengendaliannya. 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) yang berlokasi di Rumpin. Parameter yang diukur meliputi: Tinggi pohon total dan tinggi batang yang masih hidup (dilihat berdasarkan ada tidaknya tunas yang tumbuh pada batang). Kegiatan penelitian tersebut berlangsung mulai bulan September . Bahan danAlat IS Nh x 100 % Nt di mana: IS = Intensitas serangan (%) Nh= Jumlah pohon yang terserang dalam petak pengamatan Nt = Jumlah total pohon yang ada dalam petak pengamatan 2.Oktober 2000. Bahan tanaman awal yang digunakan untuk pembangunan tegakan ini berasal dari kultur jaringan. METODOLOGI A. rumus yang digunakan adalah: II. (menyerang akar). Captotermes curvignatus Hciver. 1989). Identifikasi terhadap hama yang diperoleh dari lapangan dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. dan Neotermes tectonae Damm. (menyerang batang). Oktober 2010. dan Pyrausta machaeralis Wills. Intensitas kerusakan Diperoleh berdasarkan klasifikasi dari parameter yang diukur pada individu pohon yang terserang dan akibatnya pada pohon itu sendiri. Hama penggerek batang. jumlah lubang gerek dan kondisi tajuk. 1979 dalam Rahardjo. B. Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap semua individu pohon yang ada di lokasi (sensus). 16 bulan (petak II dan III).4. meliputi: a. b. Hiblaea puera Cr. (menyerang kambium sampai kayu pohon/xylem). tanaman jati sering diserang oleh berbagai jenis hama yang dapat menimbulkan kerugian yang cukup serius. Hama perusak akar. C. Duomitus ceramicus Wlk.185 pertukangan.5 tahun (petak I). Intensitas serangan Diperoleh berdasarkan perhitungan jumlah pohon yang terserang hama dan jumlah semua pohon dalam petak pengamatan (sehat dan yang terserang). (menyerang leher akar) (Suratmo. maka dilakuan pengamatan untuk mengetahui jenis hama utama yang menyerang tegakan jati tersebut. Lokasi dan Waktu Kegiatan penelitian survei lapangan dilakukan pada tanaman jati rakyat di Rumpin. Beberapa jenis hama yang umum menyerang tanaman jati di Indonesia antara lain: Xyleborus destruens Bldf. Berdasarkan pengamatan awal. D. Metoda Penelitian Kegiatan survey lapangan dilakukan meliputi pengamatan terhadap karakteristik serangan hama. Parameter yang diukur meliputi: Ketinggian lubang gerek. alat tulis dan kamera. golok.

1984): Nilai kerusakan (Damage values) 3 2 1 4 3 2 1 2 1 0 2 1 0 P = Nilai tertinggi dari jumlah nilai kerusakan dalam satu pohoN N = Jumlah pohon yang ada dalam petak pengamatan Penilaian intensitas kerusakan akibat serangan hama perusak batang dibagi kedalam beberapa katagori berdasarkan Bowner et al.6 – 1 m 1. (1995) dalam Winarto (1997) seperti yang disajikan pada Tabel 2. 2. 3. 4. Klasifikasi dan tanda-tanda kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (The Classification and symptoms of teak damage caused by stem borer) Parameter kerusakan (Damage parameters) 1.6 – 2 m 2. 1979 dalam Winaryati. Petak IV (jati umur 11 bulan) (Plot IV (teak was 11 months old)) 0–2m 2. 1. Jumlah lubang gerek (Number of borer holes) >1 1 0 Intensitas kerusakan dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Wastie yang telah dimodifikasi (Prawirisumardjo. IK Jsp PxN x 100 % di mana: IK = Intensitas kerusakan (%) Jsp = Jumlah nilai kerusakan dari n pohon yang terserang pada petak pengamatan Tabel (Table) 2.1 – 4 m 4.1 – 6 m b. Klasifikasi tingkat kerusakan jati akibat serangan hama penggerek batang (Clasification of teak damage caused by stem borer) No. Kondisi tajuk (Canopy conditions) Mati/patah (Die/broken) Layu (Wilt) Sehat (Health) 3. 5. 6.5 m 1. Petak V (jati umur 4 bulan) (Plot IV (teak was 4 months old)) 0 – 0.5 m 0.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Intensitas Kerusakan (DamageIntensity) (%) 0 1 – 21 21 – 40 41 – 60 61 – 80 > 80 Kategori (Category) Sehat Ringan Sedang Agak berat Berat Sangat berat 203 . Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 1.1 – 1. Tinggi lubang gerek (Height of borrer holes) a.

1984). f a m i l i Melolonthidae). biasanya pada kedalaman 17 . meso. 1. telur yang hampir menetas berubah menjadi 5 mm dan kulit telurnya menjadi keras. bahkan sampai kedalaman 40 . rorida dapat dilihat pada Gambar 1. terlihat bekas gigitan uret pada akar-akar cabang yang masih muda termasuk akar serabutnya dan ada beberapa bagian akar yang sudah mulai membusuk. Perbedaan intensitas serangan pada ke tiga petak tersebut diduga berhubungan dengan sifat fisik tanah.27 buah. sehingga tidak mampu untuk ditransportasikan ke bagian pucuk tanaman. rorida dapat dilihat pada Gambar 1. Telurnya mula-mula berwarna putih berukuran 3 mm. yaitu uret Leucopholis ro r i d a F. termasuk famili Melolonthidae (Coulson. Leucopholis rorida F. Uret dari famili ini termasuk salah satu yang paling banyak menyerang tanaman hutan (Intari dan Natawiria. banyaknya borstel tiap baris 15 . Serangan dan Dampak Kerusakan Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi di laboratorium diketahui dua jenis serangga hama yang berbeda dan menyerang pada petak tanaman jati (Tectona grandis Linn. 2000). Pada tanaman jati berumur 2. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Berdasarkan pengamatan di lapangan. Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 3). berwarna putih kekuningan. tetapi akan tinggal beberapa waktu lamanya di dalam tanah (Harsono. Uret yang telah dewasa terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam. Kumbang akan keluar meninggalkan tanah pada awal musim hujan. Selanjutnya akan mencari makan dan melakukan perkawinan dan kemudian akan kembali ke dalam tanah untuk bertelur. gejala yang terlihat pada pohon yang terserang uret mula-mula daunnya layu kemudian menguning dan mengering. Kondisi akar yang terserang uret L.89% dan termasuk kategori agak berat. terutama segera setelah hujan pertama turun.) yang berbeda.5 tahun (petak I) dan 16 bulan (petak II dan III) hama yang menyerang adalah serangga perusak akar. borstel (bulu-bulu) pada bagian ventral ujung abdomen uret tersusun dalam dua baris sejajar. rorida berwarna coklat pada bagian atasnya dan pada bagian bawahnya berwarna coklat kemerahan.7 No. pangkal antena dan pro-. 177 . Jenis tanaman yang diserang oleh uret tidak hanya jati. Uret yang ditemukan adalah Leucopholis rorida F.35 cm. Di lapangan ditemukan kumbang yang masih lunak dan masih di dalam tanah. Putusnya akar serabut akan menghambat penyerapan unsur hara dan air. disebut juga embug atau gayas (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan kuuk (Jawa Barat) adalah larva dari kumbang yang tergolong ordo Coleoptra. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian atas pohon mengering karena air yang mampu diserap oleh akar akan terbatas.5 tahun) sebesar 48. famili Cossidae). 1973). Leucopholis termasuk golongan uret yang bahan makananya hanya berupa akar tanaman yang masih hidup (Husaeni.agak berat.50 cm.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Kumbang yang baru keluar dari pupa tidak langsung keluar dari tanah. Sedangkan pada tanaman jati yang berumur 11 bulan (petak IV) dan 4 bulan (petak V) hama yang menyerang adalah serangga perusak pucuk. rorida menyerang tanaman rasamala berumur 2 tahun di daerah Cikaung.4. Pada saat pemeriksaan akar pohon yang diserang. diikuti dengan mengeringnya ranting-ranting dan batang. Seperti yang dilaporkan oleh Harsono (1981) bahwa pada tahun 1980 uret L. tetapi dapat menyerang jenis tanaman hutan lainnya seperti rasamala. Intensitas kerusakan serangan uret yang paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. subordo Lamellicornia. pada pohon yang masih mampu bertahan hidup terlihat adanya tunas-tunas yang tumbuh pada batang tidak jauh dari permukaan tanah tetapi jika serangannya terus menerus dan cukup parah dapat mengakibatkan kematian pohon. Kondisi tegakan jati yang terserang uret L.dan metasternum tumbuh bulu-bulu halus berwarna kuning kecoklatan (Husaeni. Oktober 2010. ( o rd o C o l e o p t e r a . Telur-telurnya diletakkan secara tersebar di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda tergantung sifat fisik tanahnya. Identifikasi Jenis Hama. pada petak I tanahnya paling gembur dibanding dua petak lainnya sedangkan uret memilih tanah yang gembur 204 . 1981). Uret kumbang ini mempunyai panjang mencapai 5 cm.185 III. Sukabumi. terlihat bahwa intensitas serangan dan intensitas kerusakan tanaman jati akibat serangan hama uret cukup bervariasi dan termasuk kategori sedang . ( ordo Lepidoptera. cabang dan batang yaitu Zeuzera coffeae Nietn . 2000). Kumbang L. Permukaan tubuhnya ditutupi sisik renik berwarna putih kekuningan dan pada bagian belakang kepala. Uret.

Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. 2000). Kondisi akar tanaman jati yang terserang L. (b). Root condition of teak attacked by L. b a c Gambar (Figure) 1. Sebetulnya hama ini tidak hanya menyerang cabang. disebut penggerek cabang merah. Bogor Nanang Herdiana untuk bertelur.59 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 48. karena tubuh larvanya berwarna merah bata dan menyerang cabang-cabang jati muda. karena kumbang ini memakan daun rambutan dan ketika akan bertelur. (c) L. Gejala serangan.5 tahun 16 bulan 16 bulan 2. rorida on teak trees) Petak (Plots) I II III Umur Tanaman (Age of Plant) Jumlah Pohon (Number of Tree) Sehat (Healthy) 183 248 224 Terserang (Attacked) 635 260 181 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 77.89 29. rorida.20 2. Kumbang L. kumbang tersebut akan langsung masuk ke tanah di lokasi terdekat (petak I). tetapi juga menyerang batang pohon dan berdasarkan pengamatan di lapangan hama ini menyerang batang bagian atas (pucuk) dan juga ditemukan pada bagian cabang. petak I berdekatan dengan kebun rambutan yang merupakan habitat kumbang L. (c).63 51. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan L. Dalam dunia kehutanan di Indonesia Zeuzera coffeae Nietn. rorida on teak trees : (a). Attack symptoms. rorida beetles) Tabel (Table) 3. rorida pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by L.95 21.18 42. Di samping perbedaan kondisi fisik tanah dari ke tiga petak tersebut. (b). sehingga pada petak III yang mempunyai kondisi fisik tanah yang padat. rorida (L. tidak mendukung bagi perkembangan uret (Husaeni. Zeuzera coffeae Nietn. Telur yang baru diletakkan berwarna merah muda. Hama uret Leucopholis rorida F. rorida. rorida. setelah 9 hari berubah menjadi 205 . pada tanaman jati: (a).

pada bagian belakangnya tumbuh deretan duri kecil yang mengarah ke belakang tubuh. Siklus hidup Z. Kadangkadang larva ini membuat saluran gerek yang melingkari batang atau cabang dan meneres batang sehingga bagian batang kayu di atasnya menjadi mati. Tujuh segmen pertama abdomen berwarna merah muda sampai coklat ungu di bagian atas dan bagian bawahnya berwarna kekuningan. Hole borrer (arrow sign) and canal borrer on teak stemps. lebih melebar ke arah samping dari pada ke arah panjang tubuhnya dan pada tepi depannya melekuk. Oktober 2010. pupa dan imago (Stem borrer (Z. kepalanya berwarna coklat.5.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Gejala serangan. Imagonya berupa ngengat berwarna putih. Gejala yang dapat dilihat pada pohon yang terserang Z. coffeae) pada tanaman jati: (a). 2000). pupa sampai dengan imagonya dapat dilihat pada Gambar 2. Lubang (tanda panah) dan saluran gerek pada batang tanaman jati. Larva dewasa mempunyai panjang tubuh 4 cm. Pupanya berwarna coklat kastanye dengan panjang tubuh 2. 2000). coffeae mulai dari larva. 9 dan ke 10 berwarna kecoklatan dan pada segmen terakhir terdapat pelat yang mengkilat. Saluran gerek yang dibuat oleh larva muda terdiri dari dua bagian. Hama penggerek batang (Z. Gambar Z.28 hari dan ngengatnya 5 . Sedangkan segmen ke 8.56 hari.1000 butir telur dalam waktu 1 2 minggu. Liang gerek ini akan menembus kambium dan daerah kulit. a b c Gambar (Figure) 2. di atas matanya terdapat tonjolan-tonjolan tumpul dan pada segmensegmen abdomen dorsal terdapat deretan gerigi yang melengkung ke belakang.5 mm (Husaeni. perisai pronotumnya berwarna coklat dan mengeras. pupanya 21 . pada toraknya terdapat pasangan-pasangan bintik hitam dan pada sayap depan terdapat sejumlah bintik dan garis hitam dan pada ujung sayap belakang terdapat beberapa bintik hitam dan rentang sayapnya sekitar 35 . Metamorfosis hama Z. sehingga yang tertinggal hanya lapisan yang tipis dan jika ada angin akan mudah patah. (b). (b). (c). pupa and imago) Seekor ngengat betina mampu meletakkan 500 . coffaea di Indonesia berkisar antara 4 .45 mm. larva 53 . 206 . (c).5 bulan.7 No. coffeae consist larva.5 cm.185 merah tua dan berbintik hitam dengan ukuran 1 x 0. stadium telurnya berlangsung 12 hari. coffeae dapat dilihat pada Gambar 2. coffeae mulai dari stadia larva. Lubang dan saluran gerek yang dibuat oleh larva Z. Attack symptoms. Larva-larva yang lebih tua akan memperbesar saluran gerek ini dengan bentuk gerekan yang tidak teratur.2 cm ke arah pangkal dan bagian ke dua ke arah pucuk. coffeae) on teak trees: (a). bagian pertama sepanjang 1 .4. coffeae adalah kerusakan pada bagian pucuk tanaman akibat saluran gerek yang dibuatnya. Metamorfose of Z.11 hari (Husaeni. 177 .

Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. coffea. tetapi masih termasuk dalam kategori ringan. sehingga dapat menurunkan kuantitas dan kualitas kayu yang dapat dihasilkan (panjang sortimen yang dapat dibuat). rorida hanya pada stadia larva hidup di dalam tanah dan setelah menjadi imago (kumbang) akan ke luar untuk mencari makan dan melakukan perkawinan. tanaman inang kumbang ini adalah pohon rambutan dan pisang. coffeae pada petak V tidak begitu tinggi. b. Resistensi tanaman terutama yang berasal dari kultur jaringan dapat dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Keadaan ini akan menyebabkan ketidakstabilan genetik tanaman yang akan berpengaruh terutama pada menurunnya intensitas resistensi tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Walaupun serangan Z. Berdasarkan pengamatan di lapangan. Dampak dari kerusakan semacam itu terutama pada tanaman yang masih muda akan mengurangi tinggi bebas cabang yang dapat terbentuk. Musim terbang kumbang akan segera diikuti oleh musim bertelur.71 0. Tindakan pengendalian yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi serangan uret dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. Pembersihan gulma dan pendangiran tanah di sekitar tanaman. berupa patahnya pucuk atau bagian atas pohon baik masih segar atau sudah layu maupun sudah mati. Jika dibiarkan serangan uret ini dapat mematikan semua tanaman yang ada. batang menjadi bengkok dan berlubang. c. coffeae attack on teak trees) Petak (Plots) IV V Umur tanaman (Age of plant) 11 bulan 4 bulan Jumlah pohon (Number of tree) Sehat (Healthy) 2. Pada proses pembuatan tanaman melalui kultur jaringan kemungkinan dapat terjadi soma clonal variation.22 0. Serangan hama ini juga menyebabkan tumbuhnya pertunasan di bawah bagian batang yang terserang. Pengurangan populasi kumbang. tindakan pengendalian harus sesegera mungkin dilakukan untuk mengurangi terjadinya serangan yang lebih parah dan menghindari penularan ke tegakan jati lainnya yang belum terserang. Bogor Nanang Herdiana Tabel (Table) 4. dengan pembersihan gulma dan pendangiran maka sinar matahari dapat langsung sampai di tanah sehingga suhu tanah akan meningkat di samping akan mempermudah pada saat dilakukan pemupukan tanaman.143 Terserang ( ttacked) A 111 11 Intensitas serangan (Attack intensity) (%) 5. adanya gulma yang tumbuh memberikan pengaruh yang mendukung terhadap perkembangan uret yang ada di dalam tanah dan biasanya tanah yang dipilih kumbang untuk bertelur adalah tanah yang bervegetasi dan lembab. Oleh karena itu dalam bulan-bulan pertama musim kumbang terbang 207 . terjadinya serangan hama dan penyakit secara besar-besaran seperti pada lokasi penelitian ini belum pernah dilaporkan. Kerusakan akibat serangan Z. namun ada juga yang masih tetap tegak walaupun sudah mati (die back). Pengendalian Leucopholis rorida F. Upaya Pengendalian 1. L. dilakukan dengan penangkapan kumbang yang sudah ke luar dari tanah dan yang hidup pada pohon inang. Rekapitulasi intensitas serangan dan intensitas kerusakan akibat serangan Z. secara teknis tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Pada tegakan jati yang berasal dari vegetatif makro (stek) atau organ generatif (benih).013 1.68 Berdasarkan data intensitas serangan dan intensitas kerusakan (Tabel 4) terlihat bahwa serangan Z. coffaea pada tanaman jati (The recapitulation of attack and damage intensity caused by Z.95 Intensitas kerusakan (Damage intensity) (%) 3. Sehingga diupayakan agar tidak menanam pohon rambutan atau pisang yang berdekatan dengan tanaman jati. B. jika penanganannya kurang hati-hati. coffeae yang paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan). tetapi karena tanamannya masih muda maka resiko terjadinya kerusakan yang lebih parah dan kemungkinan terjadinya kematian tanaman akan lebih besar dibanding petak IV.

Hama Uret pada Persemaian dan Tegakan Muda. Bogor. Laporan No. Forest Entomology. Metoda pengendalian lain yang dapat dikembangkan adalah penggunaan perangkap cahaya. Pengaruh Curah Hujan terhadap Serangan Xyleborus destruens Bldf.2% dan 3. 1984. (serangga perusak akar) dan Zeuzera coffeae Nietn. Witter. 2.89%. KPH Sukabumi.) pada lokasi penelitian adalah uret Leucopholis rorida F. B. Natawiria. DAFTAR PUSTAKA Coulson. and J. coffeae pada tegakan jati yang ada di lokasi penelitian (petak IV dan V) termasuk belum parah. dan D. tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan ditemukan serangga parasitoid dari famili Braconidae yang menyerang larva dan pupa Z. New York. Diktat Hama Hutan Tanaman di Indonesia. Walaupun pengendalian hayati tidak efektif jika diterapkan di lapangan. d. coffeae. Bogor. diaplikasikan dengan cara disumbatkan dalam lubang gerek menggunakan kapas (Tini dan Khairul.209 (sebelum musim hujan) harus segera dilakukan pemberian insektisida pada tanah atau lubang tanam. salah satu tanaman palawija yang paling disukai adalah singkong. Tindakan pengendalian mekanis yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk yang terserang dan membunuh larvanya. R. Imago Z. Sehingga jika ngengat tersebut dapat ditangkap. penggunaan insektisida berbahan aktif karbofuran dan penangkapan terhadap uret dan kumbangnya. misalnya furadan (Tini dan Khairul. tetapi harus secepatnya dilakukan tindakan pengendalian sebelum serangannya meningkat dan menimbulkan kerugian yang cukup serius. 2002). 1973. sehingga sebaiknya tanaman jati tersebut diganti. Oktober 2010. D. 201 . Willey Intersci. E. (serangga perusak pucuk dan cabang). Rahardjo. coffeae adalah ngengat yang aktif pada malam hari dan pada umumnya ngengat akan tertarik pada cahaya lampu. Fakultas Kehutanan. E. coffeae paling parah terjadi pada petak IV (jati umur 11 bulan) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 5. coffeae belum bayak diteliti dan masih terbatas pada pengendalian secara mekanis. Institut Pertanian Bogor. IV. maka akan dapat mengurangi populasi serangan Z. Kerusakan akibat serangan uret paling parah terjadi pada petak I (jati umur 2. Ecology and Management. E. N. A. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan.4. LPH. Bogor. sehingga sebaiknya dihindari penanaman singkong pada lahan yang berdekatan dengan lokasi penanaman jati apalagi ditumpangsarikan. 1989.71%. 167. Intari. A. Harsono. S. Serangan hama Z. coffeae dan resiko terjadinya serangan yang parah. Institut Pertanian Bogor.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Untuk menghindari hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian ter pada bekas pemangkasan. Pengendalian Zeuzera coffeae Nietn Serangan Z. 2000. P. Sedangkan musuh alami lainnya adalah burung pelatuk. 2002).5 tahun) dengan intensitas serangan dan intensitas kerusakan masing-masing sebesar 77. Sampai saat ini pengendalian yang efektif terhadap serangan Z. Yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemangkasan adalah menghindari kemungkinan infeksi dari mikroorganisme lain seperti jamur atau bakteri yang dapat masuk melalui luka pada batang yang dipangkas. Publ. Insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif karbofuran. Serangan Hama Uret pada Tanaman Muda Rasamala di KPH Ciguha. Sedangkan pengendalian secara kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif dimetoat. 1981. Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan adalah pembersihan dan pendangiran sekitar tanaman. KESIMPULAN Jenis hama yang menyerang tanaman jati (Tectona grandis Linn. pada Tegakan Jati di RPH Gadung 208 . Uret tergolong serangga polifag yang tidak hanya memakan tanaman kehutanan namun juga tanaman palawija. untuk mencegah serangan uret yang baru menetas. Fakultas Kehutanan. yaitu dengan cara memangkas/ memotong batang (pucuk) yang terserang dan membunuh larvanya.63% dan 48. BKPH Cikaung. Husaeni.7 No.

Winaryati. Nia dan K. Morfologi. Winarto. Studi Keragaman Gejala. Fakultas Kehutanan. 1997. Prosiding Kongres Nasional dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia.Potensi Serangan Hama Tanaman Jati Rakyat dan Upaya Pengendaliannya di Rumpin. Derajat Kerusakan dan Kerugian Akibat Serangan Ingeringer (Neotermes tectonae Damm. Agro Media Pustaka. Bogor. Hutan Fakultas Kehutanan. KPH Ciamis) dan RPH Kedungpani (BKPH Boja. Bogor Nanang Herdiana (BKPH Banjar Utara. 27 . A.29 Oktober 1997. Patogenitas dan Intensitas Penyakit Diplocarpon rosae pada Mawar. 209 . Mengebunkan Jati Unggul : Pilihan Investasi Prospektif. 1984. Institut Pertanian Bogor. Amri. 2002. Skripsi Jurusan Manajemen. Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Bogor.) di BKPH Boto KPH Randublatung. KPH Kendal). Tini. Palembang. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan. B. Palembang.

merupakan hama utama yang menyerang tanaman. The results showed that bintaro extracts have significantly effect to pest mortality and insect development.). Eurema spp. 1991). mortality. insektisida nabati. Pada tanaman sengon. PENDAHULUAN A.7 long days than control treatment. Palembang Telp. in laboratory./Fax. Serangan pada tingkat semai dapat menimbulkan kematian bibit. Kol.) Insecticide on Eurema spp. keberhasilan pembentukan pupa dan imago masing-masing sebesar 16. Kata kunci : bintaro. johar (Cassia siamea).com Naskah masuk : 6 Mei 2010 . jengkol (Pithecelobium jiringa). Burlian KM 6. merupakan salah satu hama utama yang menyerang tanaman sengon baik pada skala persemaian maupun lapangan. Bintaro seeds extract affected Eurema spp. dan turi (Sesbania grandiflora).67% dengan waktu yang dibutuhkan 1. Latar Belakang Eurema spp.. and successful making of pupa and imago are 16. juga menyerang tanaman dadap (Erythrina sp. mortality procentage is 90%. (0711) 414864 Email : uut_balittaman@yahoo. A contro using biopesticides is one of some techniques to control some pests. Ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas larva Eurema spp.AKTIVITAS INSEKTISIDA BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP HAMA Eurema spp. Serangga hama ini mempunyai daerah 211 . Naskah diterima : 28 September 2010 ABSTRACT One of some problems in sengon plantation is pests infestation. This research aimed to study effect of bintaro’s extract to control Eurema spp. Eurema spp. pada skala laboratorium. Eurema spp. merupakan hama utama pada tanaman sengon (Paraserianthes falcataria). Pest in Laboratory Scale Sri Utami Balai Penelitian Kehutanan Palembang Jl. Diduga kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mampu memberikan efek insektisidal terhadap hama Eurema spp. PADA SKALA LABORATORIUM Activities of Bintaro (Cerbera odollam Gaertn. Insecticidal effects of Bintaro seeds extract is more strong than fruits and leaves extract. sengon I. Selain tanaman sengon. Eurema spp. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Eurema spp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bintaro memberikan pengaruh signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Chemical compound in bintaro extract is the most likely cause insectisidal effect to Eurema spp. jayanti (Sesbania sesban). Terdapat banyak teknik pengendalian yang bisa dilakukan untuk mengendalikan hama Eurema spp. karena daun tanaman sengon habis dimakan (Suharti. Box 179.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. sengon ABSTRAK Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya sengon (Paraserianthes falcataria) adalah serangan hama.5 Puntikayu Po. Ekstrak biji bintaro mempunyai efek insektisidal paling kuat dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro. baik tingkat semai maupun tanaman di lapangan.. There are some techniques to control Eurema spp. is one of important pests which attact sengon plants in nursery and field.67% and need 1. Eurema spp. mortalitas. biopesticide. Keywords: bintaro. sebesar 90%. Salah satunya yaitu pengendalian dengan memanfaatkan tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati.

taman-taman. BAHAN DAN METODE A. Permukaan daun pakan diolesi larutan ekstrak sebanyak 50 μl dengan microsyringe.25%.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Larva yang diperoleh dari lapangan. B. dengan menggunakan insektisida kimia.5%. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Pemberian pakan II. B. Heyne (1987) melaporkan bahwa biji bintaro sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. Oleh karena itu efektivitas dan efisiensi serta potensi pemanfaatan dan pengembangan tanaman bintaro sebagai alternatif pengendali hama Eurema spp. sangat kecil. Selain itu Tarmadi et al. Bagian dari tanaman uji direndam dalam pelarut metanol dengan perbandingan 1 : 3 (w/v) selama 24 jam. Ekstrak kasar ini digunakan untuk pengujian.7 No. Serangga yang digunakan adalah larva instar 2. dari bulanAgustus hingga September 2009. langsung digunakan sebagai serangga uji.1%) dengan perbandingan 1 : 1. yang didapatkan di sekitar halaman kampus IPB Darmaga. Ekstraksi Bagian tanaman bintaro yang diambil dari lapangan kemudian dipotong-potong dan dikeringanginkan selama seminggu. 212 . Bintaro ( Cerbera odollam Gaertn) merupakan salah satu jenis tanaman famili Apocynaceae. 211 . kemudian direndam.220 penyebaran yang sangat luas. dan banyak ditemukan di pinggiran jalan tol. Penggunaan insektisida kimia yang berlebihan dan tidak bijak akan menimbulkan dampak negatif. sedangkan masyarakat di Maluku menganggap bahwa biji bintaro dapat menyebabkan sesak nafas yang berat. Setelah 24 jam rendaman disaring dengan corong Buchner yang dialasi kertas saring. tidak dilakukan rearing/perbanyakan di laboratorium mengingat persentase keberhasilan rearing larva Eurema spp. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Hutan. 1% dan kontrol dengan pelarut metanol ditambah pengemulsi (Latron 77 0. Australia.). 2. daging buah. Setelah pelarutnya menguap. Selanjutnya pelarut metanol diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator sampai dihasilkan ekstrak kasar.125%. 0.4. Pemanfaatan tanaman bintaro untuk pengendalian hama hutan seperti Eurema spp. Bogor. Bogor. mulai dari Afrika. Bagian dari tanaman yang telah dikeringanginkan digiling hingga halus. merupakan aspek penting dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman. (2007) melaporkan bahwa ekstrak kulit dan daun bintaro mempunyai efek mortalitas terhadap rayap (Captotermes sp. daun pakan diletakkan dalam cawan petri berdiameter 9 cm yang telah dialasi tisu. 3. Tiongkok. Serangga hama Eurema spp. Setiap konsentrasi diuji sebanyak 3 ulangan dengan 10 ekor larva untuk setiap ulangannya. Metode yang digunakan yaitu metode residu pada daun. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak bintaro terhadap efek mortalitas dan perkembangan serangga hama Eurema spp. resurgensi hama. Pada setiap cawan petri diletakkan 10 ekor larva uji. 0. pada skala laboratorium. diantaranya terjadi resistensi hama. Eksplorasi Tanaman Bintaro Bagian tanaman bintaro yang digunakan sebagai bahan ekstrak yaitu biji. Uji Efikasi Ekstrak Bintaro terhadap Larva Eurema spp. perlu diteliti. Selama ini masyarakat mengendalikan serangan Eurema spp. dan daun bintaro. Oktober 2010. Tanaman ini merupakan jenis tanaman penaung yang biasa ditanam di pekarangan rumah. Orang-orang Melayu menganggap biji bintaro sebagai racun yang dapat mematikan. Asia Tenggara. Daun sengon yang digunakan sebagai pakan uji sebanyak 2 helai daun per ulangan. dan tidak ramah lingkungan. Eksplorasi Hama Eurema spp. diperoleh dari hutan sengon rakyat di sekitar Palasari. Korea. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai pengendali hama merupakan alternatif pengendalian hama yang bijak dan senantiasa memperhatikan aspek ekologi. Konsentrasi yang digunakan yaitu 0. Larva kontrol diberi pakan daun yang hanya diolesi metanol. sampai ke pulau-pulau Pasifik. Metode Penelitian 1. ledakan hama sekunder. 4. Ekstrak kasar bisa disimpan di lemari es sampai saat digunakan. Jepang.

Pada grafik tersebut menggambarkan mortalitas larva setiap hari pengamatan selama tujuh hari. Pada pengamatan hari ketujuh sudah tidak lagi terjadi kematian larva.90%. Mulai hari keenam sudah tidak terjadi kematian larva kecuali pada konsentrasi 1% pada semua jenis ekstrak. dan 3 pada perlakuan tiga jenis ekstrak. Pengamatan dilakukan sampai larva mencapai instar akhir dengan mengamati kematian larva. kemudian larva diberi pakan daun segar tanpa perlakuan. pada Skala Laboratorium Sri Utami daun perlakuan dilakukan selama 48 jam.33% . Kemudian pada pengamatan selanjutnya terjadi penurunan mortalitas larva. Disamping jenis ekstrak. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bintaro mampu bekerja mulai 1 HSP dan paling efektif pada hari kedua pada semua jenis ekstrak bintaro. dan 36. tubuhnya kaku. 2. Analisis Data Data hubungan antara mortalitas larva dengan konsentrasi ekstrak diolah dengan analisis probit menggunakan program Polo Plus untuk memperoleh nilai Lethal Concentration (LC). konsentrasi ekstrak juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva. 4) sedang : 40% ≤ m < 60%. 7) tidak aktif : m < 5%. Larva yang mengalami kematian. 6) lemah : 5% ≤ m < 25%.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Ekstrak biji. lunak. ekstrak biji dan daun menyebabkan mortalitas larva sebesar 36.67% . Pada larva yang mati tidak tampak adanya gejala gangguan yang berkaitan dengan sistem hormon perkembangan serangga karena tidak terjadi bentuk yang menyimpang. 213 . dan daun bintaro memberikan efek insektisidal bersifat agak lemah hingga agak kuat dimana besarnya mortalitas larva berturut-turut 36. daging buah. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Mortalitas Larva Eurema spp. aktivitas insektisida ekstrak diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu : 1) aktivitas kuat : mortalitas (m) ≥ 95%.67% . dan lama kelamaan mengecil. Semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin tinggi pula persentase mortalitas larva Eurema spp.67% tetapi pada konsentrasi tertinggi.33% 20%. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Larva yang masih hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. Pada hari pertama sudah terjadi kematian tetapi persentase mortalitasnya sangat rendah seperti yang terlihat pada Gambar 1. 2) agak kuat : 75% ≤ m < 95%. 33. persentase mortalitas pada tiga jenis ekstrak masih kecil berkisar antara 13.83. Pengamatan persen kematian dilakukan selama 7 hari setelah perlakuan (HSP). 5) agak lemah : 25% ≤ m < 40%. ekstrak biji lebih kuat dalam menyebabkan kematian larva dengan persentase mortalitas sebesar 90%. Secara umum ketiga jenis ekstrak menunjukkan bahwa pada hari kedua setelah perlakuan. mortalitas larva paling besar. Hasil Penelitian 1.1. III. Sedangkan data perkembangan larva sampai menjadi imago diolah dengan sidik ragam ANOVA dan nilai tengah diuji Duncan dengan program SAS versi 6. Semua kontrol pada setiap perlakuan tidak mengakibatkan kematian larva. 3) cukup kuat : 60% ≤ m < 75%. Pada 1 HSP. Beberapa ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva seperti yang tersaji pada Tabel 1. Pada konsentrasi terendah. Kematian larva diamati selama 7 HSP. Data kematian dihitung dalam persen kematian dengan rumus sebagai berikut : Persen kematian (%) = ∑ larva yang mati x 100% ∑ total larva Menurut Prijono (1998).80%. Dari tiga jenis ekstrak bintaro.33%. Persentase keberhasilan pembentukan pupa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan pupa (%) = ∑ pupa yang terbentuk x 100% ∑ larva yang hidup Persentase keberhasilan pembentukan imago dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persen pembentukan imago = ∑ imago yang terbentuk x 100% ∑ pupa yang terbentuk 5. Kematian larva pada perlakuan ekstrak biji diawali dengan paralisis (tungkai sudah tidak mampu lagi menopang tubuh). hal ini diduga karena biji bintaro banyak mengandung minyak sehingga minyak tersebut menempel pada tubuh larva dan mengakibatkan spirakel larva tersumbat. ekstrak biji yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap mortalitas larva.

33 c 1 90. Sedangkan berdasarkan nilai LC95.00 d a Mortalitas pada 7 HSP.7 No.5 83. ekstrak biji bintaro 2.67 b 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 dan 1.67 b 33.6 kali lebih toksik dibandingkan ekstrak daging buah dan daun bintaro.33 b 36. Mortalitas Eurema spp.67 c 36.00 a 0.33 bc 0.125 36. Berdasarkan nilai Lc50. Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The larvae mortality was observed for seven days after treatment.8 dan 4. ekstrak biji bintaro 1. (Effect of bintaro extracts to mortality on Eurema spp.67 c 53. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak biji bintaro(Eurema spp. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih toksik dibandingkan dengan dua jenis ekstrak lainnya.00 d 83.5% semua jenis ekstrak diharapkan dapat memberikan persentase mortalitas sampai 50% dan pada konsentrasi kurang dari 2% ekstrak biji diharapkan dapat menyebabkan mortalitas larva hingga 95% (Tabel 2).mortalityduringforsevendaysobservationonextractstreatment of bintaro’sseed) Hasil analisis probit dengan menggunakan program Polo Plus menunjukkan bahwa pada konsentrasi kurang dari 0.00 a 0.33 d 80. The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. 214 .7 kali lebih toksik dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.33 d 56.67 b 43.220 Tabel (Table) 1.4. 211 . larvae) Konsentrasi/ Mortalitas Larva/Larvae Mortality (%)a Concentration Biji bintaro Daging buah Daun bintaro /Bintaro (%) /Bintaro seed bintaro /Bintaro fruits leaves Kontrol 0. Oktober 2010. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap mortalitas larva Eurema spp.25 56. α = 5%) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure)1.00 a 0.

Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. Mortalitas Eurema spp. pada Skala Laboratorium Sri Utami Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 2. mortality during seven days obseravation on extracts treatment of bintaro’s leaves) 215 . selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daging buah bintaro (Eurema spp. mortality during seven days observation on extracts treatment of bintaro’s fruits) Mortalitas Larva (%) Larvae Mortality (%) Pengamatan Hari ke(Observation Day-) Gambar (Figure) 3. selama tujuh hari pengamatan pada perlakuan ekstrak daun bintaro (Eurema spp.

00 a 63.33% dan 27. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp. konsentrasi tidak memberikan pengaruh yang nyata sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3. Ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan serangga Eurema spp.38 b 47.67 b 16.25 0. serta lama waktu pembentukannya sebagaimana yang disajikan pada Tabel 3.783 (1. sedangkan ekstrak daging buah dan daun masing-masing sebesar 33.78%. Pengaruh Ekstrak Bintaro terhadap Perkembangan Eurema spp. GB = galat baku.78 b 50.125 0. Penduga parameter toksisitas ekstrak kasar bintaro terhadap larva Eurema spp.39 ± 0. Oktober 2010.65 ± 0.52 ± 0.25 0.76 ± 0.00 a 100.813– 4.189 (0.56% dan 47. Tabel (Table) 3. dan 6. SK = selang kepercayaan (a= intercept of probit regression.4. ekstrak biji bintaro memberikan efek yang paling kuat dalam menghambat perkembangan pupa Eurema spp.00 a 100. SK = confidence interval) 1.20 b ± GBa) 1.257) LC95 (SK 95%) (%)a) 1. 4.92 ± 0.096-349. dan daun berturut-turut hanya sebesar 55.21 0.953) 6. sedangkan ekstrak daging buah.33 b 27.297 (0. Larva perlakuan yang masih tersisa hidup terus diamati perkembangannya sampai menjadi pupa dan imago. ekstrak biji memberikan keberhasilan pembentukan pupa paling besar yiatu sebesar 63. b = slope of probit regression. 5.00 b 52.) Ekstrak uji/ Sample extracts Biji Daging buah Daun a a ± GBa) 1. α = 5%) 216 .5 1 a Keberhasilan pembentukan pupa/ The success of Pupation (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. ukuran dan warna) yang membedakan hanya waktu pembentukan pupa. Hasil penelitian menunjukkan hanya jenis ekstrak saja yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pembentukan pupa.36 LC50 (SK 95%) (%)a) 0.23 ± 0.56 b 47.41 1. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan pupa Eurema spp.37 1. Pada konsentrasi terendah.653-34.463) 0.315 (0. Namun pada konsentrasi tertinggi.220 Tabel (Table) 2.453 (2.360 (0. Persentase keberhasilan pembentukan pupa pada ekstrak biji bintaro sebesar 16.205-0.67 b 33.67%.49%. 211 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak bintaro memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembentukan pupa dan imago.161-0.00 ab 46.67 b 41.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 115 –0.62%. yang terbentuk tidak berbeda dengan pupa kontrol (bentuk. (Parameter estimators toxicity of bintaro coarse extract againts larvae Eurema spp. pupa establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0.62 b 45.273) 3.49 ab 55. GB = standart deviation.476) a = intersep regresi probit. Adapun pupa Eurema spp. b = kemiringan regresi probit.78 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.480) 0.7 No.

Ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% mampu menghambat pembentukan imago sehingga hanya 16.125 12.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.67 b 33. semakin tinggi konsentrasi maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa. Sementara pada ekstrak daging buah dan daun bintaro. Tabel (Table) 5. dibandingkan dengan ekstrak daging buah dan daun bintaro.3 b 13.56 a 38.25 0. Pada konsentrasi 0. (Effects of bintaro extracts on time required for the Eurema spp.00 a 100.3 ab 12. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap keberhasilan pembentukan imago Eurema spp.5 13.11 b 56.5 1 a Keberhasilan Pembentukan Imago/ The success of imago establishment (%)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/Bintaro fruits leaves 100. pada ekstrak biji dan daun bintaro dibutuhkan waktu 0.7 c 13.3 a 12.00 a 41.125 0. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji lebih kuat dalam menghambat pembentukan pupa. ekstrak biji bintaro membutuhkan waktu 1. pada Skala Laboratorium Sri Utami Disamping mempengaruhi keberhasilan pembentukan pupa.25 13. α = 5%) a Ekstrak bintaro juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pupa menjadi imago. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa Eurema spp.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp.33 b 33.89 b 38.7 ab 1 13.00 a 100. pupa establishment) Konsentrasi/ Waktu pem bentukan pupa/Pupa formation time Concentration (hari/days)a (%) Biji bintaro Daging Buah Daun bintaro/Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves Kontrol 12. Secara umum.67% saja imago yang terbentuk.3 ab 0.00 a 33.89 b 44. baik keberhasilan pembentukan pupa maupun lamanya waktu yang dibutuhkan.33 a Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat dalam menghambat pembentukan imago Eurema spp.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Pada konsentrasi 1%.3 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol.3 c 12. Tabel (Table) 4.0 a 12.89 b 50.33%. imago establishment) Konsentrasi/ Concentration (%) Kontrol 0. Sedangkan pada ekstrak daging buah dan daun hanya membutuhkan waktu 1.0 a 12.0 bc 12. keberhasilan pembentukan imagonya sebesar 33. jenis ekstrak bintaro dan konsentrasi juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap lama waktu pembentukan pupa.7 ab 12. (Effects of bintaro extracts to the success of Eurema spp.0 a 0.33 b 38.0 a 12. α = 5%) 217 .3 ab 0.44 a 16. baik dalam keberhasilan pembentukan imago maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago.3 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.125%.67 b 36.

Contoh senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid. 1998).0 a 6. Saponin merupakan senyawa yang bersifat toksik (Dadang & Prijono. Sedangkan ekstrak daging buah dan bintaro hanya memerlukan waktu 0. tetapi terbatas hanya pada taksa tumbuhan tertentu. asam fenolik dan tanin berperan sebagai pelindung tanaman dari patogen (Dadang & Prijono.7 ab 7.7 b 6.0 a 6.5 1 a Waktu pembentukan imago / Establisment Time of Imago (hari/days)a Biji bintaro Daging buah Daun bintaro/ Bintaro /Bintaro seed bintaro/ Bintaro fruits leaves 6. atau terdapat pada taksa tumbuhan tertentu dalam konsentrasi lebih tinggi dari yang lain serta tidak ada hubungan yang nyata berkaitan dengan peranannya sebagai nutrisi untuk serangga (Schoonhoven et al.7 hari dan 1 hari lebih lama menjadi imago. 2008).7 ab 7.7 a 7. Pada konsentrasi tertinggi. Pada suatu tanaman terdapat senyawa metabolit primer dan metabolit sekunder. daun dan buahnya mengandung polifenol. Tabel (Table) 6.125 0. buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin .0 a 6. namun demikian terdapat variasi dan jumlah metabolit sekunder tumbuhan yang sangat besar (Dadang & Prijono.3 a 6.3 a 6. daging buah. dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas larva dan penghambatan perkembangan serangga Eurema spp. Sedangkan fenolik mempunyai banyak peranan pada tumbuhan seperti flavonoid sebagai pengatur pertumbuhan berbagai tumbuhan.3 hari lebih lama daripada kontrol untuk pembentukan imago.220 Ekstrak biji dan daun bintaro memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp.. Beberapa senyawa fenol berfungsi sebagai penolak makan serangga namun bisa juga berperan sebagai penstimuli makan pada serangga lain.0 b Rataan pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji selang berganda Duncan pada taraf nyata 5% (The average in the same column followed by the same letters is not significant based on Duncan's Multiple Range Test.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 211 . Selain itu PROSEA (2002) melaporkan bahwa biji bintaro mengandung cerberin yang bersifat toksik terhadap tikus. Sementara ekstrak daging buah dan daun bintaro tidak mempengaruhi terhadap lamanya pembentukan imago.0 a 6. Pengaruh ekstrak bintaro terhadap waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan imago Eurema spp. 2008).4. Oktober 2010.7 No. α = 5%) B. Sedangkan ekstrak daging buah bintaro tidak memberikan pengaruh yang signifikan. disamping itu kulit batangnya mengandung tanin. (Tabel 6). yaitu ekstrak biji. (Effects of bintaro extracts on establishment time of imago) Konsentrasi/ Concentrate (%) Kontrol 0. Pada konsentrasi 0. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung di dalam bintaro diduga memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. terpenoid dan alkaloid yang mana senyawa-senyawa ini dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Dadang & Prijono.0 a 6. Pembahasan Tiga jenis ekstrak bintaro.0 a 6.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. 218 .25 0. Senyawa metabolit sekunder juga tidak terlalu berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. 2008).3 a 6. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji bintaro lebih kuat menghambat pembentukan imago Eurema spp.125% ekstrak biji bintaro memerlukan waktu 0. Dapat pula serangga yang memakan akan mendapatkan pengaruh buruk namun bagi spesies lain akan mendapatkan manfaat. ekstrak biji bintaro memerlukan 1.0 ab 6. 2008). Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa kimia tumbuhan yang tidak secara universal ditemukan pada semua tumbuhan tingkat tinggi. Salleh (1997) melaporkan bahwa pada daun.

dapat dilakukan dengan menggunakan semua bagian tanaman bintaro. Kesimpulan Ekstrak bintaro (Cerbera odollam Gaertn.. Serangga-serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang cocok/sesuai akan tumbuh dan berkembang secara baik. pada Skala Laboratorium Sri Utami Aktivitas kematian yang paling tinggi yang terjadi pada perlakuan ekstrak biji diduga disebabkan karena kandungan cerberin yang terdapat di dalam biji. Cerberin merupakan golongan alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas serangga uji. daging buah. 3) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan hewan peliharaan karena residunya mudah hilang. Tomlinson (1986) melaporkan bahwa cerberin dapat menganggu fungsi saluran ion kalsium di dalam otot jantung. Pada ekstrak biji bintaro mempunyai efek yang lebih kuat dibandingkan dua jenis ekstrak lainnya. Disamping menyebabkan mortalitas.Aktivitas Insektisida Bintaro (Cerbera odollam Gaertn) terhadap Hama Eurema spp. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu : 1) Tanaman yang berpotensi sebagai insektisida nabati mudah diperoleh di alam dan terdapat dimana-mana. karena ketiga bagian tersebut mempunyai efek insektisidal terhadap Eurema spp. paling tinggi terjadi pada perlakuan ekstrak biji bintaro yaitu sebesar 90%. Sedangkan daging buah dan daunnya mengandung saponin dan polifenol yang dikenal sangat toksik terhadap serangga dan bisa menghambat aktivitas makan serangga. Diduga senyawa kimia yang terdapat di dalam ekstrak bintaro mengandung senyawasenyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan serangga. IV. 2) Biomassanya bisa diperoleh dalam keadaan berlimpah. 2008). Dadang & Prijono (2008) melaporkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan serangga dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. KESIMPULAN DAN SARAN A. ekstrak bintaro juga memberikan efek yang signifikan terhadap penghambatan pertumbuhan serangga hama dalam hal ini keberhasilan pembentukan pupa dan imago. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam bagian tanaman bintaro tersebut yang diduga kuat memberikan efek yang signifikan terhadap mortalitas larva Eurema spp. Oleh karena itu bagian daun bisa saja dimanfaatkan sebagai pengendali hama mengingat daun bisa didapatkan dalam keadaan berlimpah dibandingkan dengan buahnya. Mortalitas larva Eurema spp. Sedangkan kurang kuatnya efek terhadap perkembangan serangga dari bagian daging buah dan daun bintaro kemungkinan disebabkan karena kadar senyawa aktif yang terdapat pada bagian tersebut lebih rendah. Sebaliknya serangga yang mengkonsumsi sumber makanan yang miskin zat-zat nutrisi yang diperlukan akan mengalami penghambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. hanya saja biomassa yang dibutuhkan harus lebih banyak agar supaya lebih efektif dimanfaatkan dalam pengendalian hama Eurema spp. serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan pupa dan imago Eurema spp. dan daunnya. karena bintaro mempunyai efek mematikan sekaligus menghambat perkembangan hama. Senyawasenyawa semacam itu terdapat di dalam tanaman (Dadang & Prijono. selanjutnya daging buah dan daun bintaro 219 . hal ini kemungkinan disebabkan karena kandungan bahan aktif yang mempunyai efek menghambat perkembangan serangga lebih banyak terdapat di dalam biji bintaro. tersumbat karena minyak biji bintaro menempel pada tubuh larva. Pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. Dalam pemanfaatan tanaman yang mempunyai potensi sebagai insektisida nabati. Hal ini berarti bahwa apabila ditemukan larva serangga hama yang masih hidup maka akan kecil peluangnya untuk melanjutkan siklus hidupnya. Demikian juga seranggaserangga yang dalam makanannya terdapat senyawa-senyawa kimia tertentu akan terhambat pertumbuhan dan perkembangannya.) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mortalitas dan penghambatan perkembangan serangga hama Eurema spp. Adanya efek penghambatan perkembangan serangga hama yang terdapat pada ekstrak bintaro menunjukkan bahwa bintaro bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mengendalikan hama Eurema spp. Tersumbatnya spirake mengakibatkan larva mengalami kematian secara perlahan. Biomassa yang digunakan untuk tiap-tiap bagian tanaman bintaro berbeda karena mempunyai kekuatan insektisidal yang berbeda. Selain adanya cerberin diduga kandungan minyak yang banyak pada bagian biji mengakibatkan spirakel larva Eurema spp. sehingga menganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. baik biji.

T. The Botany of Mangroves. Jakarta. AH. Prijono. Tarmadi. DAFTAR PUSTAKA Dadang. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Insectisidal activity of Meliaceous seed extracts against Crocidolomia binotalis Zeller (Lepidoptera : Pyralidae). D. 1990..com/saip/vaic/R&D/article5. E t h n o Pharmacognasy and Documentation of Malaysia Medicinal and Aromatic Plants. T. 1986. B. S. Oktober 2010. JJA. Dengan demikian senyawa yang terkandung di dalam bagian bintaro memberikan efek insektisidal terhadap serangga hama Eurema spp. London. M a l a y s i a .67% dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pupa dan imago masing-masing 1. PROSEA. 2. 1998. 409p. IPB. U K M . Wood Scie. 211 . h t t p : / / w w w. Ekstrak biji bintaro juga paling kuat dalam menghambat perkembangan serangga hama. Insect Plant Biology : from Physiology to Evolution.) NIELSEN. K. J. 2007. Departemen Kehutanan. CB. htm. 1998. D. Guswenrivo. LM. Penerjemah. M.33% dan 80%. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keefektifan dan keefisienan pemanfaatan ekstrak bintaro dalam mengendalikan serangga hama Eurema spp. 2002. Tomlinson. Suharti. dimana persentase pembentukan pupa dan imago hanya sebesar 16. Bogor. 2008. D.. Prijono. Pengaruh Ekstrak Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) dan Kecubung (Brugmansia candida Pers) terhadap Rayap Tanah Captotermes sp. Yusuf. Insektisida Nabati : Prinsip. 220 . Cary (NC) : SAS Institute. Yayasan Sarana Wana Jaya. Bul HPT 10 : 1-7.7 No. E t h n o b o t a n y. Schoonhoven. Pemanfaatan dan Pengembangan. SAS Institute. Jermy. S a l l e h .220 berturut-turut sebesar 83. Version 6. PROSEA. pada skala lapangan. Eth ed. 1 9 9 7 . Buku Pintar Sengon Paraserianthes falcataria (L. 1991. Bogor.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. Heyne. borneofocus. Departemen Proteksi Tanaman. Trop. SAS/STAT User's Guide. Cambridge. & Tech. Fakultas Pertanian. Prianto. Kartika.4. I. Chapman & Hall. Vol 5 No 1 2007. Van Loon. Cambridge University Press. 1987.7 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Indonesia. Bogor. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Vol. Plant Resources of South-East Asia 12 : Medicinal and Poisonous Plants 2.

Gunung Batu No. land use ABSTRAK + Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta.027 m3 /second. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. This study therefore had the objective to analyze changes of land use between the years of 1995-2003. . Keywords: Landsat ETM satellite images. (0251) 8631238. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. The results of spatial analysis showed that changes of land use in Puncak area during the years of 1995-2003 were caused by tendency of changes from mix garden area into settlement. penggunaan lahan + 221 . jika luasan hutan naik sebesar satu hektar. 5 Bogor 16610 Telp. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003. Fax. dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimumminimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. especially in relation with changes of the maximum-minimum water discharge in the Puncak area of Bogor District. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+. water discharge fluctuation. Naskah diterima : 18 Agustus 2010 ABSTRACT Puncak area located in Sub catchment of Ciliwung Hulu is an important water catchment area for the city of Jakarta. Spatial analysis has been done by using maps of land use for the years of 1995-2003 based on Landsat ETM+ satellite images and Geographic Information Systems (GIS). The Results of multiple regression analysis also showed that the forest cover could reduce the fluctuation of maximumminimum water discharge by 0. dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Multiple correlation analysis proved high correlation and negative correlation between forest cover area and maximum-minimum fluctuation of water discharge. Analysis of attribute data applied Multiple Correlation Analysis and Multiple Regression Analysis.027 m3/detik. Bogor District Yunita Lisnawati dan/and Ari Wibowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kampus Balitbang Kehutanan. Jl. Puncak area. with one hectare increase of forest cover.ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Analysis of Water Discharge Fluctuation Due to Land Use Change in Puncak Area. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis. Kata kunci : citra satelit landsat ETM . it has resulted in changes of the maximum-minimum water discharge. terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. (0251) 75200052 Naskah masuk : 31 Agustus 2009 . kawasan Puncak. fluktuasi debit air. Currently with the dynamic change of land use especially for settlement.

Apabila terjadi proses alih fungsi lahan pada hutan atau adanya pengembangan kawasan menjadi lahan pemukiman maka kondisi hidrologi yang ada umumnya berubah dengan drastis. Kondisi topografi DAS Ciliwung Hulu dengan panorama yang menarik.4. terutama dalam hal ketersediaan sumberdaya air. warna hijau agak gelap bercampur dengan magenta dan biru. sangat penting artinya dalam siklus hidrologi. Tumbuhan dengan berbagai jenis vegetasi dalam kondisi iklim tertentu. PENDAHULUAN II. 221 .226 I.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. seringkali bercampur dengan pemukiman. data sekunder dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane. berwarna hijau tua sampai gelap dengan tekstur relatif kasar. Bendung Katulampa dari Tahun 1995. Penurunan kapasitas infiltrasi lebih berpengaruh terhadap volume aliran permukaan. berwarna hijau lebih agak terang dibandingkan hutan. Peta Perubahan Penggunaan Lahan (Ciawi. Data debit maksimum . Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. bentuk dan pola memanjang dijumpai pada lembah dan sepanjang tanggul sungai. BAHAN DAN METODE A. diperoleh dari analisa citra. Ladang/tegalan ditunjukkan dengan tekstur halus. Bahan danAlat Kawasan Puncak telah dianggap sebagai wilayah hinterland. Metode Penelitian Operasi tumpang tindih (overlay) dilakukan menggunakan data digital peta penggunaan/penutupan lahan dengan bantuan 222 . B. sedangkan kawasan tidak permanen terdiri dari ladang. Metode membedakan masing-masing kawasan di dalam citra landsat dilakukan berdasarkan warna dan tekstur. Megamendung dan Cisarua) tahun 1995. Kebun teh tampak berwarna hijau muda dan memiliki tekstur halus. sebagai wilayah penyangga kehidupan penduduk di wilayah DAS bagian hilir. Semak/belukar ditunjukkan dengan tekstur yang relatif halus dari pada hutan. Sawah ditunjukkan dengan warna putih hingga merah jambu dengan tekstur halus. semak dan sawah.2003.7 No. Kawasan bervegetasi permanen terdiri dari hutan. hijau tua agak terang. yang menyebabkan tumbuhnya pusat berbagai macam kegiatan. Bogor. Kesinambungan fungsi Bogor. Perubahan penggunaan lahan akan mengakibatkan perubahan terhadap kapasitas infiltrasi dan tampungan permukaan atau gabungan keduanya. Kedua hal tersebut cenderung menimbulkan alihfungsi kawasan hutan dan pertanian menjadi kawasan budidaya dan pemukiman.minimum Sungai Ciliwung. Kebun campuran memiliki tekstur relatif kasar. Oktober 2010. Dari uraian tersebut maka terlihat peran atau fungsi lahan hutan yang sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan di sisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak untuk dapat menjaga ketersediaan jumlah aliran air tanah sepanjang tahun. serta daerah pemukiman. sedangkan tampungan permukaan lebih berpengaruh pada pelambatan (delay) aliran permukaan untuk mengalir sampai outlet DAS. berwarna hijau bercampur dengan sedikit magenta. Sawah ditunjukkan dengan tekstur kasar. Depok dan DKI Jakarta sebagai suatu ekosistem sangat tergantung pada kawasan ini. kebun teh dan kebun campuran. Depok dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta. Megamendung dan Cisarua di Kabupaten Bogor. baik secara ekonomi maupun secara ekologi. yaitu Bogor. dengan demikian telah diperoleh hasil karakterisasi lahan sebagai berikut : Hutan ditemukan dengan bentuk dan pola yang tidak teratur dengan ukuran yang cukup luas. Ketersediaan sumberdaya air ini terutama sangat ditentukan oleh DAS Ciliwung Hulu. dan efek selanjutnya adalah mempengaruhi aliran permukaan. 1997. menyebar terkadang bergerombol. 2001. Terutama berkembangnya daerah pariwisata dengan segala bentuk aneka ragam usahanya. bercampur dengan sedikit magenta dan kuning. dan 2003. 2. DAS ini masuk dalam wilayah kecamatan Ciawi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan perubahan penggunaan lahan terhadap selisih debit maksimumminimum Sungai Ciliwung di Sub DAS Ciliwung Hulu.

Koefisien (Coefficient) . adanya perubahan lahan akan menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap debit maksimum-minimum.027X1 – 0.072X3 Persamaan tersebut merupakan model yang menggambarkan hubungan antara Y = selisih debit maksimum-minimum (m3 /detik) dengan X1 (luas lahan yang bervegetasi permanen (ha). luas lahan bervegetasi tidak permanen (x2) dan pemukiman (x3). Pearson's Product Moment (Walpole.000 0. Khusus untuk lahan bervegetasi. X2. luas lahan bervegetasi tidak permanen (ha) dan X3.2. Berdasarkan penelitian telah diperoleh data luasan lahan-lahan tersebut dari tahun 1995 sampai 2003 (Tabel 2.072 p-level 0. luas pemukiman (ha). begitu juga sebaliknya. semak dan sawah.9% Bervegetasi permanen (X1) Bervegetasi tidak permanen (X2) Pemukiman (X3) Hasil analisis regresi berganda pada taraf a = 0. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimumminimum tertera pada Tabel 1.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo Arcview 3. Tabel (Table) 1. Operasi tumpang tindih dilakukan antara peta penggunaan/penutupan lahan tahun 1995 dan 1997. Persamaan (model) yang digunakan adalah: Y = a0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 Dimana : Y = Dependent Peubah (peubah yang diduga. III. semakin luas lahan pemukiman maka akan semakin besar selisih debit maksimum-minimum.05 .0. serta debit air sungai yang diwakili selisih debit maksimum . kebun teh dan kebun campuran. jika terjadi penurunan jumlah (luas lahan) bervegetasi permanen sebesar satu hektar maka akan 223 . dimodelkan dalam persamaan sebagai berikut : Y = 641. Ekstrasi data atribut hasil dari operasi tumpang tindih ini digunakan sebagai data dalam tehnik analisis selanjutnya.51 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis korelasi digunakan untuk menentukan peubah-peubah yang akan dijadikan model dalam regresi berganda.05 menunjukkan peubah-peubah yang berpengaruh terhadap selisih debit maksimumminimum (Y).005 0. sedangkan lahan bervegetasi tidak permanen terdiri dari ladang. R-Sq (adj) = 99.minimum (ΔQ).108X2 + 0.1992).4 – 0.). peubah penggunaan / penutupan lahan) X1 = vegetasi hermanen (ha) X2 = vegetasi tidak hermanen (ha) X3 = pemukiman (ha) b = Koefisien regresi. a = 0.027 . 1997 dan 2001. R-Sq = 99.000 Persamaan pada tabel 2 menunjukkan bahwa luas lahan bervegetasi permanen memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap selisih debit maksimum-minimum. Semakin kecil luas lahan yang bervegetasi maka akan semakin besar selisih debit maksimum minimum.108 + 0. Untuk melihat keeratan hubungan perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai digunakan analisis korelasi berganda. 2001 dan 2003 serta 1995 dan 2003. Namun.9% . begitu juga untuk lahan yang bervegetasi tidak permanen. yang bertujuan untuk melihat arah dan pola perubahan penggunaan/ penutupan lahan. Peubah-peubah yang mempengaruhi selisih debit maksimum-minimum (Variables that affect the maximum-minimum fluctuation of water discharge) Peubah (Variable) S = 17. Perubahan penggunaan lahan dinyatakan dalam luas penutupan lahan dengan vegetasi permanen (x1). untuk lahan pemukiman mempunyai hubungan berbanding lurus dengan selisih debit maksimum-minimum. Lahan bervegetasi permanen adalah hutan. selisih debit maksimumminimum ΔQ (m3/detik) X = Independent Peubah (peubah penduga. Artinya pada lahan bervegetasi (permanen dan tidak permanen).0.

62 -0.11 32.07 15. Oleh karena itu peran hutan sangat besar dalam memperkecil aliran permukaan sehingga debit maksimum akan dapat diperkecil sedangkan disisi lain tampungan air tanah akan lebih banyak sehingga debit minimum akan dapat diperbesar untuk dapat menjaga ketersediaan air tetap terjamin sepanjang tahun.812 14.48 2713.39 445. Menurut Morgan (1986) dalam Pratiwi (2004).55 (%) 59.0723 m3 /detik dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen tetap.42 1621.45 0. Hal tersebut akan berakibat banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.48 34. yang berarti pada musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan berakibat melimpahnya aliran permukaan dan sebaliknya pada musim kemarau.50 -3. Semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi pula energi kinetiknya.91 1171. kerapatan tanaman dan kerapatan sistem perakaran.53 83.05 20. yang berarti pula meningkatkan besar kecilnya laju dan kapasitas infiltrasi.002 0. geologi.027 m3/detik.64 14.448 +16.28 Luas perubahan lahan (Land change area) (ha) (%) -6160.79 +8. Tabel (Table) 2. kerapatan tanaman berfungsi mempengaruhi besarnya luasan lahan yang dapat ditutupi oleh tumbuhan. geomorfologi. Fahrudin (2003) menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam DAS dipengaruhi oleh faktor hidrologi.61 6454.46 +7. Sementara itu aliran permukaan terjadi bila curah hujan melebihi laju infiltrasi tanah dan tampungan permukaan tanah. dengan asumsi luas vegetasi tidak permanen dan pemukiman tetap.226 meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.35 28.79 2003 (ha) 8512.00 +1475.64 6.49 Keterangan (Remark) : (-) : Berkurangnya luasan (Area decrease) (+): Bertambahnya luasan (Area increasr) Apabila selisih debit maksimum dan minimum tinggi.7 No. klimatologi.66 +23. Hutan di kawasan Puncak adalah sangat penting karena kawasan tersebut merupakan daerah yang berbukit. Sementara itu.3.89 -598. dengan asumsi luas lahan vegetasi permanen dan pemukiman tetap.29 +0. Semakin rapat tanaman (vegetasi) yang ada di permukaan lahan semakin kecil kemungkinan terjadinya erosi.45% yang akan berdampak besar terhadap tingkat erosinya (RTRW Kabupaten Bogor.32 2733. tanah dan penggunaan lahan.45 19. 224 . serta lerengnya berkisar antara 8 . Sedangkan jika terjadi kenaikan luas lahan pemukiman sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimum-minimum sebesar 0.23 -6.108 m3 /detik.64 2879. Luas lahan vegetasi permanen dan tidak permanen serta pemukiman (Area of permanent.09 +4335.02 8. namun jika terjadi penurunan vegetasi tidak permanen sebesar satu hektar maka akan meningkatkan selisih debit maksimumminimum sebesar 0.71 5957. Fluktuasi aliran debit antara kedua musim yang tajam mengindikasikan terganggunya fungsi DAS serta adanya degradasi kualitas DAS.07 3. bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian mulai dari 330 .89 (%) 79.88 25.24 -4288.08 3484.13 -1273. topografi.89 4733. Oktober 2010. non-permanent vegetation and settlement) Luas lahan (Land area) Katagori lahan (Land category) Vegetasi Permanen (X1) • Hutan • Kebun Teh • Kebun Campuran Vegetasi Tidak Permanen (X2) • Ladang • Semak • Sawah Pemukiman (X3) 1995 (ha) 14672.002 meter di atas permukaan laut.56 5180.35 0. 2000).32 0.Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.85 2886. sehingga meningkatnya porositas tanah dan dapat mengurangi energi perusak aliran permukaan dan dapat mengurangi aliran permukaan.4.82 6.96 18.35 -82.992 +1541. Sedangkan kerapatan sistem perakaran tanaman/vegetasi menentukan efektifitas tanaman dalam membantu pemantapan agregat.32 -10. efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tumbuhan dan bentuk tajuk (kanopi). 221 .70 0.64 15.

maka lahan yang diusahakan sebaiknya yang cenderung datar atau dengan menggunakan teras maupun mulsa.80 Rasio Debit maksimumminimum (Ratio of maximumminimum discharge) 142. Kebun campuran ditanami dengan berbagai macam tanaman yang diatur secara spasial dan urutan temporal. Sehingga keberadaannya sama dengan hutan dan kebun teh yang harus dipertahankan untuk menjaga tata air di kawasan Puncak sehingga frekwensi kejadian banjir di kawasan hilirnya dapat ditekan.39 Jumlah curah hujan (Total rainfall) (mm3/th) 4. Berdasarkan hasil konfirmasi lapangan. Kondisi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu juga dapat ditunjukkan dengan rasio debit maksimum minimum sungai Ciliwung (Tabel 3). Maksimum Sungai Ciliwung dan Jumlah Curah Hujan Stasiun Pengamatan Bendung Katulampa (Minimum.426 2. akar serabut panjang.44 171.25 225 .64 199. keberadaan kebun teh juga harus dipertahankan karena mempunyai peran yang khas yaitu sebagai pengatur tata air. seiring dengan banyaknya kebun teh yang terkonversi menjadi penggunaan lainnya seperti villa. Pohon teh mempunyai sifat perakaran yang dalam. namun debit maksimum cenderung meningkat dan selisih debit maksimum .51 118.minimum cenderung meningkat pula.22 3. namun di sisi lain apabila keberadaannya kurang dapat dikendalikan akan dapat menurunkan fungsi hidrologis mengingat kondisi topografi kawasan Puncak yang sebagian besar bergelombang. sehingga baik untuk tindakan konservasi tanah dan air. Apabila perluasan areal pemukiman tidak dapat dikendalikan maka setiap terjadi curah hujan yang cukup besar intensitasnya maka dapat lebih meningkatkan nilai debit maksimum dan sebaliknya bila curah hujan rendah debit minimum akan semakin turun.20 244.98 408. memperbesar jumlah dan kecepatan aliran permukaan akibat daya serap (infiltrasi) berkurang atau terhambat.875 3.70 Selisih Debit maksimumminimum (m3/detik) (Δ MaximumMinimum Discharge) 242.68 274.22 1. Rasio debit maksimum dan minimum menggambarkan fluktuasi debit aliran sebagai respon dari curah Tabel (Table) 3.45 persen. maximum discharge and total rainfall of Ciliwung river at Observation Station of Katulampa Dam) Tahun (Year) Debit minimum (m3/detik) (Minimum discharge) Debit maksimum (m3/detik) (Maximum discharge) 1995 1997 2001 2003 Ratarata 1. bahwa warga sekitar kebun teh sudah merasakan mulai berkurangnya sumber air. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa curah hujan di Sub DAS Ciliwung Hulu dari tahun 1995 . dimana pada saat pembukaannya menggunakan alat berat yang bertujuan meratakan tanah dapat membuat lapisan tanah yang subur hilang sehingga mempengaruhi sifat fisik tanah.20 411. baik yang dirasakan oleh wilayah tersebut maupun wilayah hilirnya. berbukit dan bergunung dengan kecuraman lereng antara 8 .690 4. Kondisi seperti tersebut dapat menjadi indikasi berkurangnya fungsi kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu sebagai kawasan lindung dan wilayah peresapan air. yaitu sebagai pencegah erosi.Seperti halnya dengan hutan.49 242. Adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian.91 244.178 3. Selain itu juga dapat merusak struktur dan tekstur tanah. akan berdampak negatif terhadap lingkungan.50 291. Adanya penambahan pemukiman yang berlangsung dengan cepat di kawasan Puncak mengakibatkan bertambahnya daerah kedap air sehingga mengurangi daya serap atau infiltrasi air ke dalam tanah. dan kerapatan akar tinggi. Apabila laju pengurangan kebun teh tidak dapat ditekan. Agar supaya keberadaan lahan pertanian (ladang dan sawah) tetap menjamin fungsi hidrologis secara baik. Keberadaan lahan pertanian di kawasan Puncak disatu sisi adalah untuk meningkatkan produksi pangan.46 1.71 1.73 293.2003 cenderung turun. pencegahan banjir dan erosi.792. Debit Minimum.98 224.22 273. Jenis tanaman yang dominan adalah tanaman tahunan.

4 . D. Tabel (Table) 4. Berdasarkan kriteria Departemen Kehutanan tahun 2002 mengklasifikasikan kualitas DAS dengan menggunakan rasio debit maksimum-minimum tahunan. untuk mencegah penurunan kualitas DAS lebih lanjut. Bogor. Institut Tehnologi Bandung.0. 2004. dengan pola hubungan : Y = 641. Gramedia Pustaka Utama. diketahui bahwa kualitas DAS di Sub DAS Ciliwung Hulu rata-rata termasuk kriteria Sedang. Bogor. Fakhrudin. IPB. Kriteria kualitas DAS berdasarkan debit tahunan (Criteria of watershed quality based on annual discharge) Kualitas DAS (Watershed Quality ) Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek Q max/Q min < 50 50 – 150 150 – 250 250 – 500 > 500 Indeks 1 2 3 4 5 Berdasarkan Tabel 3 di atas. Tesis.E. dan pemukiman dalam hektar. Kajian Respon Hidrologi akibat Perubahan Penggunaan Lahan DAS Ciliwung dengan Model Sedimot II. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. X2 .072 X3. Skripsi. tidak permanen.X3 masingmasing adalah luas lahan bervegetasi permanen. Keragaman Jenis Pohon dan Konservasi Tanah dan Air di Kawasan Taman Nasional. M.Analisis Fluktuasi Debit Air Akibat Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor Yunita Lisnawati dan Ari Wibowo hujan yang masuk ke dalam outlet DAS. Prosiding Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non Kayu Berbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. Jakarta. Studi Kasus : Sub DAS Cipamingkis di Kawasan Jonggol.108 X2 + 0. 2004. 2000. Bendung Katulampa. Departemen Kehutanan. 2003. PT.027 X1 . Simulasi Dampak Perubahan Guna Lahan terhadap Perubahan Limpasan Air Permukaan. Terjemahan. 1999. Pasca Sarjana. R. dimana : Y = Selisih debit maksimumminimum (m3/detik) dan X1. 226 . Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor. dan areal pemukiman harus ditekan. Walpole. Data debit maksimum . maka areal yang bervegetasi harus tetap dipertahankan. Pratiwi. Hardiana. Pengantar Statistika. DAFTAR PUSTAKA Balai Pengelolaan Sumberdaya Air CiliwungCisadane.minimum Sungai Ciliwung.0. 1992. Nilai rasio ini sering digunakan sebagai indikator keberhasilan pengelolaan DAS di daerah yang relatif basah dan hujan relatif terdistribusi sepanjang tahun. KESIMPULAN Perubahan luasan lahan yang bervegetasi permanen. seperti disajikan pada Tabel 4. bervegetasi tidak permanen dan pemukiman di kawasan Puncak mempunyai hubungan yang sangat erat dengan selisih debit maksimum-minimum. Oleh karena itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful