Anda di halaman 1dari 5

PEMBAHASAN Pada percobaan uji biuret dengan bahan albumin dengan menggunakan pereaksi Cu2SO4 pada keadaan basa

terlihat terjadinya perubahan warna menjadi berwarna biru tetapi pada gumpalannya terdapat warna ungu. Warna ungu tersebut membuktikan bahwa bahan tersebut mengandung protein. Sedangkan pada bahan glisin, alanin, tirosin terjadi perubahan warna menjadi biru. Polipeptida mempuyai perbedaan dengan protein. Polipeptida mempunyai residu asam dan mengikat dua atau lebih asam amino esensial , sehingga terbentuk ikatan peptida. m amino 100 dan dan bobot mulekul 6.000. Sedangkan, pada protein residu asam aminonya 100 dan bobot mulekulnya 6.000. Glisin adalah salah satu asam amino esenial dengan rumus bangun NH2CH2CO2H. Sedangkan pada Albumin, rumus bangunya lebih kompleks. Bahan yang terakhir adalah aquadest terlihat bahwa terjadi perubahan warna yaitu larutan menjadi berwarna biru muda tetapi tidak ada warna ungu di gumpalannya. Hal ini membuktikan bahwa aquadest tidak mengandung protein. Biuret Test merupakan tes untuk mengadakan pengujian terhadap kandungan protein. Kehadiran ikatanikatan peptida dideteksi dengan melakukan uji kimia bernama biuret test. Suatu perubahan warna sampel pengujian akan memberikan suatu hasil positif atau negatif. Ketika sampel berubah menjadi ungu itu berarti bahwa sampel mengandung protein. Ikatan-ikatan peptida terjadi dengan frekuensi yang kurang lebih sama untuk sebagian besar protein per gram bahan. Jadi untuk menentukan konsentrasi reaksi biuret protein dapat digunakan. Jika konsentrasi adalah lebih, sampel akan berubah menjadi ungu yang lebih mendalam. Pada percobaan pengaruh asam dan basa terhadap protein (albumin dan glisin) terlihat bahwa pada albumin ditambahkan pereaksi HCl 0.1 N sebanyak 25 mL tidak terjadi perubahan warna begitu pula saat ditambahkan HCl berlebih, saat ditambahkan NaOH sebanyak 1 mL juga tidak terjadi perubahan, tetapi

setelah ditambahkan Cu2SO4 terjadi perubahan warna menjadi biru dan terdapat endapan. Tetapi pada glisin dengan pereaksi HCl 0.1 N setelah ditambahkan Cu2SO4 tidak terdapat endapan. Pada albumin ditambahkan asam asetat maupun NaoH saat ditambahkan asam asetat berlebih maupun NaOH berlebih tidak terjadi perubahan warna tetapi pada saat ditambahkan Cu2SO4 terjadi perubahan warna menjadi biru dan terbentuk endapan. Begitu pula pada glisin saat ditambahkan asam asetat dan NaOH. Setiap protein mempunyai titik isolistrik yang berbeda-beda. Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kim ia erat hubungannya dengan pH isolistrik ini. Pada pH di atas titik isolistrik protein bermuatan negatif, sedangkan di bawah titik isolistrik, protein bermuatan positif. Titik isolistrik pada albumin adalah pada pH 4,55-4,90 (Poedjiadi, 1994). Berdasarkan percobaan, albumin terdenaturasi lebih banyak pada penambahan HCl. Tetapi pada glisin terdenaturasi lebih banyak pada penambahan NaOH. Pada percobaan pengaruh logam terhadap protein dan asam amino ini digunakan 2 jenis bahan yaitu albumin dan glisin yang diletakkan pada 12 tabung yang berbeda dengan pembagian 6 tabung berisi masing-masing tabung 2 mL albumin dan 6 tabung lagi berisi masing-masing 2 mL glisisin. Pada ke enam tabung albumin digunakan 6 pereaksi yang berbeda antara tabung satu dengan yang lain. Pada tabung pertama digunakan pereaksi larutan Mn, tabung selanjutnya diberi pereaksi dengan urutan larutan Mg, larutan Fe, larutan Ca, larutan Hg dan larutan Pb sebanyak 0,25 ml. Pada pereaksi kedua diberikan pereaksi yang sama dengan peraksi pertama dengan volume 0,5 ml. Setelah itu periksa dengan biuret. Ulangi percobaan yang sama pada bahan glisin. Penambahan garam logam berat seperti AgNO3, Pb-asetat, dan HgCl2 akan membentuk endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk amat k u a t dan akan memutuskan jembatan garam, sehingga protein m e n g a l a m i denaturasi. Secara bersama gugus COOH dan gugus NH2 yang

terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan membentuk senyawa kelat.Ion-ion yang dapat membentuk endapan logam dengan protein antara lain adalahAg+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, Cu++, Co++, Mn++ dan Pb++. Selain gugus COOH dangugus NH2 , gugus R pada molekul asam amino tertentu dapat pula mengadakanreaksi dengan ion atau senyawa lain. Gugus sulfihidril (-SH) pada molekul sisteinakan bereaksi dengan ion Ag+ atau Hg ++. Jumlah endapan yang dihasilkan dipengaruhi oleh kereaktifan logam berat yang ditambahkan. Logam H g l e b i h r e a k t i f d a r i p a d a P b k e r e n a k e d u a l o g a m t e r s e b u t m e r u p a k n logam transisi pada sistem periodik unsur. Karena itu seharusnya yang terjadi pada percobaan adalah edapan pada penambahan logam Hg lebih banyak dari logam Pb. Garam logam berat sangat berbahaya bila sampai tertelan karena garamtersebut akan mendenaturasi sekaligus mengendapkan protein sel -sel tubuh. Garam logam berat mendenaturasi protein sama dengan halnya asam dan basa. Garam logam berat umumnya mengandung Hg+2, Pb+2, Ag+1 Tl+1, Cd+2 dan logam lainnya dengan berat atom yang besar. Reaksi yang terjadi antara garam logam berat akan mengakibatkan terbentuknya garam protein-logam yang tidak larut. Pada percobaan dengan logam transisi menunjukkan hasil yaitu berupa endapan. Jika protein berikatan dengan ion logam transisi terjadi kerusakan terfokus pada protein dengan menunjukkan adanya gumpalan. Logam-logam alkali memiliki fungsi sebagai stbilisator protein. Seharusnya pada percobaan protein bersifat lebih stabil. Namun dimungkinkan adanya kesalahan sehingga pada percobaan juga ditunjukkan adanya endapan. Pada percobaan ini digunakan bahan albumin dan glisin yang diletakkan pada 6 tabung yang berbeda dengan pembagian 3 tabung berisi masing-masing 2 ml albumin dan 3 tabung berisi masing-masing 2 ml glisin. Pada ke tigatabung albumin digunakan 3 pereaksi yang berbeda antara tabung satu dengan yang lain. Pada tabung pertama digunakan pereaksi etanol, tabung selanjutnya diberi

pereaksi dengan urutan detergen dan vitamin B sebanyak 0,25 ml. Pada pereaksi kedua diberikan pereaksi yang sama dengan peraksi pertama dengan volume 0,5 ml. Setelah itu periksa dengan biuret. Ulangi percobaan yang sama pada bahan glisin. P e n g e n d a p a n p r o t e i n o l e h e t a n o l , menunjukkan hasil uji positif (terbentuk endapan). Proses yang terjadi adalah pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta d i e l e k t r i k a d a r i a i r , sehingga kelarutan protein berkurang. Selain itu, etanol juga akan berkommpetisi dengan protein terhadap air. Karena itu sangat disarankan untuk tidak mengkonsumsi alcohol karena a l k o h o l t e r s e b u t nantinya akan mengendapkan protein dalam tubuh y a n g merupakan komponen penyusun sel tubuh dan akhirnya dapat merusak fungsi sel-sel tubuh. Pada percobaan dengan deterjen terjdi penggumpalan pada akhir reaksi. Deterjen atau sabun dapat menyebabkan denaturasi protein karena senyawa ini dapat membentuk jembatan antara gugus hidrofobik dengan hidrofilik sehingga praktis terdenaturasi. KESIMPULAN 1. Denaturasi proteinnmerupakan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam, dan terbukanya lipatan molekul 2. Penyebab denaturasi protein antara lain pH, logam berat, dan senyawa organik seperti etanol dan deterjen 3. Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektris yaitu ph dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan.

4. Penambahan garam logam berat seperti Pb-asetat, dan HgCl2 pada proteinakan membentuk endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk amatk u a t d a n a k a n m e m u t u s k a n j e m b a t a n g a r a m , s e h i n g g a p r o t e i n m e n g a l a m i denaturasi. 5. P a d a p e n a m b a h a n s e n y a w a o r g a n i k p r o s e s y a n g t e r j a d i adalah pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta d i e l e k t r i k a d a r i a i r , sehingga kelarutan protein berkurang. Selain itu etanol dapat merusak ikatan hidrogen dari protein