Anda di halaman 1dari 4

1.

Analisa Fungsional Freeway space Freeway spee adalah jarak inter-oklusal pada saat mandibula dalam keadaan posisi istirahat. Adapun cara pengukurannya adalah penderita didudukkan dalam posisi istirahat. Kemudian ditarik garis yang menghubungkan antaa titik diujung hidung dan ujung dagu dan dihitung berapa jaraknya, kemudian penderita dalam keadaan oklusi sentris, kemudian ditarik garis yang menghubungkan antara titik di ujung hidung dan di ujung dagu dan dihitung berapa jaraknya. Nilai FWS = jarak pada saat posisi istirahat dikurangi jarak pada saat oklusi sentris. Nilai normal menurut Houston (1989) = 2 3 mm. Nilai FWS perlu diketahui dan dapat digunakan sebagai panduan untuk melakukan atau pemberian gigit diposterior sehubungan dengan adanya gigitan terbalik anterior. Apabila FWS lebih besar dari pada tumpang gigit maka tidak perlu diberi peninggian gigit posterior. Sedangkan bila FWS lebih kecil dari pada tumpang gigit maka perlu diberi peninggian gigit posterior.

Path Of Closure Path of closure adalah gerakan mandibula dari posisi istirahat menuju oklusi sentris. Path Of Closure dikatakan normal apabila gerakan mandibula ke atas, ke muka dan belakang. Bagian otot yang bekerja pada mandibula dalam keadaan relaksasi dan kondili mandibula pada possii retrusi pada fosa glenoidalis. Sedangkan yang tidak normal apabila terdapat deviasi mandibula dan displacement mandibula. Idealnya path of closure dari posisi istirahat ke posisi oklusal maksimum berupa gerakan engsel sederhana melewati freeway space sebesar 2-3 mm. Ada 2 macam perkecualian path of closure yang bisa dilihat yaitu deviasi mandibula dan displacement mandibula. Perlu dibedakan antara deviasi mandibula dan displacement mandibula karena perawatannya berbeda. Deviasi biasanya tidak menyebabkan rasa sakit, keausan pada gigi atau rusaknya jaringan periodontal. Displacement mandibula pada jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya ketiga hal di atas.

Deviasi Mandibula Keadaan ini berhubungan dengan posisi keadaan mandibula. Bila mandibula dalam posisi kebiasaan, maka jarak antaroklusal akan bertambah sedangkan kondili terletak lebih maju di dalam fosa glenoides. Arah path of closure adalah ke atas dan ke belakang akan tetapi bila gigi telah mencapai oklusi mandibula terletak dalam relasi sentrik. Displacement Mandibula Displacement dapat terjadi dalam jurusan sagital dan transversal. Kontak prematur dapat menyebabkan displacement mandibula untuk mendapatkan hubungan antartonjol gigi yang maksimum. Dalam jangka panjang displacement dapat terjadi selama pertumbuhan gigi. Dalam beberapa keadaan displacement terjadi pada fase gigi sulung, kemudian pada saat gigi permanen erupsi gigi tersebut akan diarahkan oleh kekuatan otot ke letak yang memperparah terjadinya displacement. Displacement dapat terjadi pada usia lanjut karena gigi yang maju dan tidak terkontrol yang disebabkan karena hilangnya posterior akibat pencabutan. Displacement dalam jurusan transversal sering berhubungan dengan adanya gigitan silang posterior. Bila lengkung geligi atas dan bawah sama lebarnya, suatu displacement mandibula ke transversal diperlukan untuk mencapai posisi oklusi maksimum. Bila hal tersebut terjadi maka akan didapatkan relasi gigitan silang gigi posterior pada satu sisi. Displacement ke transversal tidak berhubungan dengan bertambahnya jarak antaroklusal. Adanya gigitan silang unilateral gigi posterior yang disertai adanya garis median atas dan bawah yang tidak segaris akan menimbulkan dugaan adanya displacement ke transversal. Keadaan ini perlu diperiksa dengan seksama dengan memperhatikan pasien pada saat menutup mandibula dari posisi istirahat ke posisi oklusi. Keadaan yang perlu diperhatukan adalah letak garis median baik pada possisi istirahat maupun pada posisi oklusi. Bila terdapat gigitan silang unilateral pada keadaan ini, perlu dilakukan ekspansi regio posterior rahang atas ke arah transversal. Tidak semua gigitan silang unilateral berhubungan dengan dispacement. Kadang-kadang didapatkan asimetri rahang atas dan bawah. Bila tidak terdapat displacement tetapi terdapat gigitan silang unilateral maka perlu

dipertimbangkan apakah perlu dirawat atau tidaknya. Displacement ke arah sagital dapat terjadi karena adanya kontak prematur pada daerah insisiv. Pada keadaan ini biasanya daidapatkan over closure mandibula. Pada kasusu kelas III ringan terdapat gigitan edge to edge pada insisivi, mandibula bergeser ke anterior untuk mendapatkan oklusi di daerah bukal Displacement ke posterior kadang juga dapat terjadi. Perlu diperhatikan perbedaan displacement mandibula ke posterior yang sering terjadi pada relasi inisisivi kelas II dengan displacement ke posterior pada pasien dengan gigi yang masih lengkap. Displacement ke posterior sering terjadi pada pasien yang kehilangan gigi posterior. Cara pemeriksaan path of closure adalah penderita didudukkan pada posisi istirahat. Dilihat posisi garis mediannya, penderita diinstruksikan uktuk oklusi sentris dari posisi istirahat dan dilihat kembali posisi garis mediannya. Apabila posisi garis median pada saat posisi istirahat menuju oklusi sentris tidak terdapat pergeseran BERARTI tidak ada gangguan path of closure dan apabila posisi garis media pada saat posisi istirahat menuju oklusi sentris terdapat pergeseran berarti terdapat gangguan path of closure.
TMJ (temporo mandibular junction)

Pada panduan umum bila pergerakan mandibula normal berarti fungsinya tidak terganggu, sebaliknya bila pergerakan mandibula terbatas biasanya menunjukkan adanya masalah fungsi. Oleh karena itu satu indikator penting tentang sendi temporomandibula adalah lebar pembukaan maksimal, yang pada keadaan normal berkisar 35-40 mm, 7 mm gerakan ke lateral dan 6 mm ke depan. Palpasi pada otot pengunyahan dan sendi temporomandibula merupakan bagian pemeriksaan rutin dan perlu dicatat tanda-tanda adanya masalah pada sendi temporomandibula, misalnya adanya rasa sakit pada sendi, suara dan keterbatasan pembukaan Cara pemeriksaaanya adalah penderita didudukkan pada posisi istirahat, diletakkan kedua jari telunjuk operator dibagian luar meatus accuticus externus kiri dan kanan penderita dan penderita diinstruksikan untuk membuka dan menutup mulutnya. Apabila tidak terasa adanya krepitasi saat palpasi bagian luar meatus accustucus evternus atau bunyinclicking pada saat mandibula membuka dan menutup mulut BERARTI pola

pergerakan TMJ normal Pola Atrisi Adalah permukaan oklusal gigi yang datar atau rata karena faktor pemakaian atau oleh karena kebiasaan jelek seperti bruxism sehingga menyebabkan bentuk wajah yang lebih pendek dan fungsi kunyah akan menjadi terganggu. Bila hal tersebut tidak dirawat, maka akan dapat menimbulkan ngilu pada gigi serta rasa sakit pada sendi rahang. Pola atrisi dikatakan normal apabila terjadinya atrisi gigi yang disebabkan oleh karena pemakaian gigi yang telah lama, misalnya gigi atrisi pada orang yang telah lanjut dan atrisi gigi susu pada anak-anak yang telah memasuki fase gigi permanen. Sedangkan bila dikatakan pola atrisi tidak normal apabila terjadinya atrisi gigi oleh karena adanya kebiasaan jelek, misalnya bruxism. Contohnya atrisi gigi permanen pada penderita usia muda atau pada anak-anak pada fase gigi pergantian.