Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

RESUSITASI JANTUNG PARU

Pembimbing:

Dr. Uus Rustandi, Sp. An Dr. Ruby Satria Nugraha, Sp.An, Mkes

Disusun Oleh : Benna Ardiani Renwarin 110.2007.060

Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Bagian Anestesi - RSUD Arjawinangun

1|Page

KATA PENGANTAR

Assalamua`alaikum, Wr. Wb Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyusun tugas referat yang berjudul Resusitasi Jantung Paru. Penyusunan tugas ini masih jauh dari sempurna baik isi maupun penyajiaannya sehingga diharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak agar dikesempatan yang akan datang penulis dapat membuat yang lebih baik lagi. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Ruby Satria Nugraha, Sp.An, Mkes dan dr. Uus Rustandai, Sp.An sebagai pembimbing dalam penyusunan referat ini. Wassalamu`alaikum, Wr. Wb

Arjawinangun, November 2012

Penulis,

2|Page

DAFTAR ISI

Judul

Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................... ii DAFTAR ISI ........................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi ........................................................................................................... 3 2.2 Indikasi ........................................................................................................... 3 2.2.1 Henti Napas ...................................................................................... 3 2.2.2 Henti Jantung ................................................................................... 4 2.3 Sistem Pernapasan dan Sirkulasi .................................................................... 5 2.4 Resusitasi Jantung Paru .................................................................................. 6 2.5 Bantuan Hidup Dasar ...................................................................................... 7 2.5.1 A (Airway) Jalan Napas ................................................................... 10 2.5.2 B (Breathing) Bantuan Napas .......................................................... 11 2.5.3 C (Circulation) Bantuan Sirkulasi .................................................... 12 2.5.4 D (Defibrilation) Terapi Listrik ....................................................... 15 2.6 Panduan RJP 2010 .......................................................................................... 16 2.6.1 Menekankan pada RJP yang berkualitas dan secara terus menerus 16
3|Page

2.6.2 Perubahan dari A-B-C menjadi C-A-B ............................................ 17 2.6.3 Rata-rata Kompresi .......................................................................... 18 2.6.4 Kedalaman Kompresi....................................................................... 18 2.6.5 Dengan Tangan saja (Only Hands CPR) ......................................... 19 2.6.6 Identifikasi pernapasan agonal pengantar ........................................ 20 2.6.7 Penekanan Krikoid ........................................................................... 20 2.6.8 Aktivasi Emergency Responses System ........................................... 20 2.6.9 Tim Resusitasi.................................................................................. 21

BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 23

4|Page

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Resusitasi jantung paru adalah serangkaian penyelamatan hidup pada henti jantung. Walaupun pendekatan yang dilakukan dapat berbeda-beda, tergantung penyelamat, korban, dan keadaan sekitar, tantangan mendasar tetap ada, yaitu bagaimana melakukan RJP yang lebih dini, lebih cepat dan lebih efektif. Untuk menjawabnya, pengenalan akan adanya henti jantung dan tindakan segera yang harus dilakukan menjadi prioritas dari tulisan ini.1 Henti jantung menjadi penyebab utama kematian di beberapa Negara. Terjadi baik di luar rumah sakit maupun di dalam rumah sakit. Diperkirakan 350.000 orang meninggal per tahunnya akibat henti jantung di Amerika dan Kanada. Perkiraan ini tidak termasuk mereka yang diperkirakan meninggal akibat henti jantung dan tidak sempat di resusitasi. Walaupun usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang akibat tidak dilakukannya resusitasi. 1,2 Sebagian besar korban henti jantung adalah orang dewasa, tetapi ribuan bayi dan anak juga mengalaminya setiap tahun. Henti jantung akan tetap menjadi penyebab utama kematian yang premature, dan perbaikan kecil dalam usaha penyelamatannya akan menjadi ribuan nyawa yang dapat diselamatkan setiap tahun. 1,2 Bantuan hidup dasar boleh dilakukan oleh orang awam dan juga orang yang terlatih dalam bidang kesehatan. Ini bermaksud bahwa RJP boleh dilakukan dan dipelajari dokter, perawat, para medis dan juga orang awam. 1,2 Menurut American Heart Associaton, rantai kehidupan mempunyai hubungan erat dengan tindakan jantung paru, karena penderita yang diberikan RJP, mempunyai kesempatan yang amat besar untuk data hidup kembali . 1

5|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Resusitasi Jantung Paru yang biasa kita kenal dengan nama RJP atau Cardiopulmonary Resuscitation adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi akibat terhentinya fungsi dan atau denyut jntung. Resusitasi sendiri berarti menghidupkan kembali, dimaksudkan sebagai usaha-usaha untuk mencegah berlanjutnya episode henti jantung menjadi kematian biologis. Dapat diartikan pula sebagai usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasn dan atau sirkulasi yang kemudian memungkinkan untuk hidup normal kembali setelah fungsi pernafasan dan atau sirkulasi gagal.3 2. 2 Indikasi 2.2.1. Henti nafas Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup dasar. Henti nafas dapat terjadi dalam keadaan seperti: 7 Tenggelam atau lemas Stroke Obstruksi jalan nafas Epiglotitis Overdosis obat-obatan Tesengat listrik
6|Page

Infark Miokard Tersambar petir

Pada awal henti nafas, oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan resusitasi, ini sangat bermanfaat pada korban.3,5,7 2.2.2. Henti Jantung Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis, femoralis, radialis) disertai kebiruan atau pucat sekali, pernafasan berhenti atau satu-satu, dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar. Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan untuk:5 a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi. b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti jantung melalui resusitasi jantung paru (RJP).

Resusitasi jantung paru terdiri dari dua tahap yaitu: a. Survei primer: dapat dilakukan oleh setiap orang. b. Survei sekunder: dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.5

7|Page

2.3. Sistem Pernafasan dan Sirkulasi Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem, diantaranya yang utama adalah sistem pernafasn dan sistem sirkulasi. Kedua sistem ini merupakan komponen utama dalam mempertahankan hidup. Terganggunya salah satu fungsi ini dapat mengakibatkan ancaman kehilangan nyawa. Tubuh dapat menyimpan makanan untuk beberapa minggu dan menyimpan air untuk beberapa hari, tetapi hanya dapat menyimpan oksigen (O) untuk beberapa menit saja. Sistem pernafasan mensuplai oksigen kedalam tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbondioksida (CO2). Sistem sirkulasi inilah yang bertanggungjawab memberikan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh.7,8 Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah:

1. 2. 3.

Jantung Pembuluh Darah ( Arteri, Vena, Kapiler) Darah dan kompone-komponennya.

Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem pernafasan, pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat pula frekuensi pernafasan dan sebaliknya.7,8 Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab,diantaranya:

1. 2. 3. 4.

Penyakit jantung Gangguan pernafasan Syok Komplikasi penyakit lain: Stroke


8|Page

5.

Penurunan kesadaran

2.4. Resusitasi Jantung Paru Resusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang ditunjukkan dalam Chain of Survival, yang meliputi : a. Pengenalan segera terhadap henti jantung dan aktivasi dari emergency response system b. c. d. e. RJP yang awal dengan menekankan pada kompresi dada Defibrilasi yang cepat Advanced life support yang efektif Perawatan post-cardiac arrest yang terintegrasi

RJP secara tradisional telah menggabungkan kompresi dan nafas buatan dengan tujuan untuk mengoptimalkan sirkulasi dan oksigenasi. Karakteristik penolong dan penderita dapat mempengaruhi aplikasi yang optimal dari komponen RJP.8,9 Semua orang dapat menjadi penolong untuk penderita henti jantung. Kompresi dada merupakan dasar dari RJP. Semua penolong, tanpa melihat telah mendapat pelatihan atau tidak, harus memberikan kompresi dada pada setiap penderita henti jantung. Karena sangat penting, kompresi dada harus menjadi tindakan awal pada RJP untuk setiap penderita pada semua usia. Penolong yang telah terlatih harus berkoordinasi dalam melakukan kompresi dada bersamaan dengan ventilasi, sebagai suatu tim.8 Sebagian besar henti jantung pada dewasa terjadi secara tiba-tiba, sebagai akibat dari kelainan jantung, sehingga sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi sangat penting. Berlawanan dengan hal itu, henti jantung pada anak-anak seringkali karena asfiksia, dimana
9|Page

membutuhkan baik ventilasi maupun kompresi dada untuk hasil yang optimal. Dengan demikian nafas buatan pada henti jantung menjadi lebih penting untuk anak-anak daripada untuk dewasa.8 2.5. Bantuan Hidup Dasar Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal. Resusitasi mencegah agar supaya sel-sel tidak rusak akibat kekurangan oksigen. Bantuan hidup dasar (Basic Life Support) atau resusitasi ABC atau resusitasi kardiopulmoner berarti menjaga jalan napas tetap paten (A), membuat napas buatan (B) dan membuat sirkulasi buatan dengan pijatan jantung (C). Tindakan ini dilakukan tanpa alat atau dengan alat yang sederhana dan harus dilakukan dengan cepat dalam waktu kurang dari 4 menit pada suhu normal secara baik dan terarah.3 a. Dalam fase I ini terdiri dari langkah yang di A (airway), B (breathing), C (circulation). A (airway ) : menjaga jalan nafas tetap terbuka

B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenasi yang adekuat C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru

b. Fase II : Advance Life Support (ALS), yaitu BLS ditambah dengan D (drug) dan E (EKG) D ( drugs ) E ( EKG ) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahuis

fibrilasi ventrikel.

10 | P a g e

c. Fase III : Prolonged Life Support (PLS), yaitu penambahan dari BLS dan ALS, G (gauge), H (head), I (Intensive care). G ( gauge ) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.

terus menerus, H (Head)

: tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistem saraf lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat

dari kerusakan lebih

dicegah terjadinya neurologic yang permanen. I (Intensive Care ) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi, pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO2 bila diperlukan dan tunjangan sirkulasi mengedalikan jika terjadinya kejang.1,7 Sebelum melakukan tahapan A (airway) terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada pasien/korban, yaitu:

a. Memastikan keamanan lingkungan Aman bagi penolong maupun aman bagi pasien/korban itu sendiri. b. Memastikan kesadaran pasien/korban Dalam memastikan pasien/korban dapat dilakukan dengan menyentuh atau menggoyangkan bahu pasien/korban dengan lembut dan mantap, sambil memanggil namanya atau Pak!!!/ Bu!!!!/ Mas!!!/Mbak!!!, dll. c. Meminta pertolongan Bila diyakini pasien/korban tidak sadar atau tidak ada respon segera minta pertolongan dengan cara : berteriak tolong !!!! beritahukan posisi dimana,

11 | P a g e

pergunakan alat komunikasi yang ada, atau aktifkan bel/sistem emergency yang ada (bel emergency di rumah sakit). d. Memperbaiki posisi pasien/korban Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi telentang, berada pada permukaaan yang rata/keras dan kering. Bila ditemukan pasien/korban miring atau telungkup pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan membalikkan sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencegah

cedera/komplikasi. e. Mengatur posisi penolong Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban agar pada ssat memberikan batuan nafas dan bantuan sirkulasi penolong tidak perlu banyak pergerakan.

Gambar 1. Cek kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi

12 | P a g e

2.5.1. A (AIRWAY) Jalan Nafas Jika diagnosis henti jantung telah ditegakkan, maka resusitasi harus segera dimulai. Letakkan pasien pada posisi telentang pada alas keras ubin atau selipkan papan jika pasien diatas kasur. Jika tonus otot pasien hilang, lidah aan menyumbat faring dan epiglottis akan menyumbat laring. Lidah dan epiglottis penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak sadar.3 Untuk menghindari hal ini, maka dilakukan beberapa tindakan atau parasat misalnya: 1. Parasat kepala tengadah-dagu diangkat (head tilt-chin lift maneuver) Parasat ini dilakukan jika tidak ada traumapada leher. Satu tangan penolong mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu dengan hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap keatas dan epiglottis terbuka, sniffing position, posisi cium, posisi hirup.3 2. Perasat dorong rahang bawah (jaw-thrust maneuver) Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangkat didorongkedepan pada sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher. Karena lidah melekat pada rahang bawah, maka lidah ikut tertarik dan jalan napas terbuka.3 Jika henti jantung terjadi diluar rumah sakit: letakan pasien dalam posisi terlentang, lakukan manuever triple airway (kepala tengadah, rahang didorong kedepan, mulut dibuka) dan jika mulut ada cairan, lender atau benda asing lainnya, bersihkan dahulu sebelum memberikan napas buatan.3

13 | P a g e

(a)

(b)

Gambar 2. Pembebasan Jalan Nafas teknik Head tilt chin lift (a) dan tehnik jaw thrust manuver (b)

2.5.2. B (BREATHING) Bantuan Nafas Pasien dengan henti napas, tidurkan dalam posisi terlentang. Napas buatan tanpa alat dapat dilakukan dengan cara mulut ke mulut (the kiss of life, mouth-to-mouth), mulut ke hidung (mouth-to-nose), mulut ke stoma trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup muka. 3 a. Mulut ke mulut (mouth-to-mouth) Merupakan cara yang cepat dan efektif. Pada saat memberikan penolong tarik nafas dan mulut penolong menutup seluruhnya mulut pasien/korban dan hidung pasien/korban harus ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong.Volume udara yang berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung. 3

Gambar 4. Pemberian nafas dari mulut ke mulut 14 | P a g e

b. mulut ke hidung (mouth-to-nose), Direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak memungkinkan,misalnya pasien/korban mengalami trismus atau luka berat.Penolong sebaiknya menutup mulut pasien/korban pada saat memberikan bantuan nafas. 3

Gambar 5. Pernafasan dari mulut ke hidung

c. mulut ke stoma trakheostomi Dilakukan pada pasien/korban yang terpasang trakheostomi atau mengalami laringotomi.3

Gambar 6. Pernafasan mulut ke stoma.

15 | P a g e

2.5.3. C (CIRCULATION) bantuan sirkulasi Terdiri dari 2 tahap : 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung pasien/korban

Ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher pasien/korban dengan cara dua atau tiga jari penolong meraba pertengahan leher sehingga teraba trakea, kemudian digeser ke arah penolong kira-kira 1-2 cm, raba dengan lembut selam 5 10 detik. Bila teraba penolong harus memeriksa pernafasan, bila tidak ada nafas berikan bantuan nafas 12 kali/menit. Bila ada nafas pertahankan airway pasien/korban.7,8 2. Memberikan bantuan sirkulasi

Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan bantuan sirkulasi atau kompresi jantung luar dengan cara: - Tiga jari penolong ( telunjuk,tengan dan manis) menelusuri tulang iga pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu tulang dada (sternum). - Dari tulang dada (sternum) diukur 2- 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong. - Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lain.Hindari jari-jari menyentuh didnding dada pasien/korban. - Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada pasien/korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan 1,5 2 inchi ( 3,8 5 cm).

16 | P a g e

- Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali kompresi.Waktu penekanan dan melepaskan kompresi harus sama ( 50% duty cycle). - Tangan tidak boleh berubah posisi. - Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 30 : 2 baik oleh satu penolong maupun dua penolng.Kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit. Dilakukan selama 4 siklus. Tindakan kompresi yang benar akan menghasilkan tekanan sistolik 60 80 mmHg dan diastolik yang sangat rendah.Selang waktu mulai dari menemukan pasien/korban sampai dilakukan tindakan bantuan sirkulasi tidak lebih dari 30 detik.8

Gambar 7. Kompresi dada

17 | P a g e

2.5.4. D (DEFIBRILATION) terapi listrik Terapi dengan memberikan energi listrik Dilakukan pada pasien/korban yang penyebab henti jantung adalah gangguan irama jantung. Penyebab utama adalah ventrikel takikardi atau ventrikel fibrilasi.Pada penggunaan orang awam tersedia alat Automatic External Defibrilation (AED).3 Tahapan defibrilasi : Nyalakan AED Ikuti petunjuk Lanjutkan kompresi dada segera setelah syok (meminimalkan gangguan)

PENILAIAN ULANG Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian pasien/korban dievaluasi kembali : - Jika tidak ada denyut jantung dilakukan kompresi dan bantuan nafas dengan ratio 30 : 2 - Jika ada nafas dan denyut jantung teraba letakkan korban pada posisi sisi mantap - Jika tidak ada nafas tetapi teraba denyut jantung, berikan bantuan nafas sebanyak 12 kali permenit dan monitor denyut jantung setiap saat.

Gambar 8. Defibrilasi
18 | P a g e

2.6. Panduan RJP 2010 2.6.1. Menekankan pada RJP yang berkualitas secara terus menerus AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 mengutamakan kebutuhan RJP yang berkualitas tinggi, hal ini mencakup: a. Kecepatan kompresi paling sedikit 100 x/menit (perubahan dari kurang lebih 100 x/menit) b. Kedalaman kompresi paling sedikit 2 inchi (5 cm) pada dewasa dan paling sedikit sepertiga dari diameter anteroposterior dada pada penderita anak-anak dan bayi (sekitar 1,5 inchi [4cm] pada bayi dan 2 inchi [5cm] pada anak-anak) Batas antara 1,5 hingga 2 inchi tidak lagi digunakan pada dewasa, dan kedalaman mutlak pada bayi dan anak-anak lebih dalam daripada versi sebelumnya dari AHA Guidelines for CPR and ECC c. Memberi kesempatan daya rekoil dada (chest recoil) yang lengkap setiap kali selesai kompresi d. Meminimalisasi gangguan pada kompresi dada e. Menghindari ventilasi yang berlebihan

Tidak ada perubahan dalam rekomendasi untuk rasio kompresi-ventilasi yaitu sebanyak 30:2 untuk dewasa, anak-anak, dan bayi (tidak termasuk bayi yang baru lahir). AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 meneruskan rekomendasi untuk memberikan nafas buatan sekitar 1 detik. Begitu jalan nafas telah dibebaskan, kompresi dada dapat dilakukan secara terus menerus (dengan kecepatan paling sedikit 100 x/menit) dan tidak lagi diselingi dengan ventilasi. Nafas

19 | P a g e

buatan kemudian dapat diberikan sekitar 1 kali nafas setiap 6 sampai 8 detik (sekitar 8-10 nafas per detik). Ventilasi yang berlebihan harus dihindari. 1,2

2.6.2. Perubahan dari A-B-C menjadi C-A-B Perubahan yang utama pada BLS, urutan dari Airway-Breathing-Circulation berubah menjadi Compression-Airway-Breathing. Hal ini untuk menghindari penghambatan pada pemberian kompresi dada yang cepat dan efektif. Mengamankan jalan nafas sebagai prioritas utama merupakan sesuatu yang memakan waktu dan mungkin tidak berhasil 100%, terutama oleh penolong yang seorang diri. Mayoritas besar henti jantung terjadi pada dewasa dan penyebab paling umum adalah Ventricular Fibrilation atau pulseless Ventricular Tachycardia. Pada penderita tersebut, elemen paling penting dari Basic Life Support adalah kompresi dada dan defibrilasi yang segera. Pada rangkaian A-B-C, kompresi dada seringkali tertunda ketika penolong membuka jalan nafas untuk memberikan nafas buatan, mencari alat pembatas (barrier devices), atau mengumpulkan peralatan ventilasi. Setelah memulai emergency response system hal berikutnya yang penting yaitu untuk segera memulai kompresi dada. Hanya RJP pada bayi yang merupakan perkecualian dari protokol ini, dimana urutan yang lama tidak berubah. Hal ini berarti tidak ada lagi look, listen, feel, sehingga komponen ini dihilangkan dari panduan.1,2 Dengan merubah urutan menjadi C-A-B kompresi dada akan dimulai sesegera mungkin dan ventilasi hanya tertunda sebentar (yaitu hingga siklus pertama dari 30 kompresi dada terpenuhi, atau sekitar 18 detik). Sebagian besar penderita yang mengalami henti jantung diluar rumah sakit tidak mendapatkan pertolongan RJP oleh orang-orang disekitarnya. Terdapat banyak alasan untuk hal tersebut, namun salah satu hambatan yang dapat timbul yaitu urutan A-B-C,
20 | P a g e

yang dimulai dengan prosedur yang paling sulit, yaitu membuka jalan nafas dan memberikan nafas buatan. Memulai pertolongan dengan kompresi dada dapat mendorong lebih banyak penolong untuk memulai RJP. 2.6.3. Rata-rata kompresi Sebaiknya dilakukan kira kira minimal 100 kali/ menit. Jumlah kompresi dada yang dilakukan per menit selama RJP sangat penting untuk menentukan kembalinya sirkulasi spontan (return of spontaneous circulation [ROSC]) dan fungsi neurologis yang baik. Jumlah yang tepat untuk memberikan kompresi dada per menit ditetapkan oleh kecepatan kompresi dada dan jumlah serta lamanya gangguan dalam melakukan kompresi (misalnya, untuk membuka jalan nafas, memberikan nafas buatan, dan melakukan analisis AED [Automated Electrical Defibrilator]). 7,8,9 Pada sebagian besar studi, kompresi yang lebih banyak dihubungkan dengan tingginya rata-rata kelangsungan hidup, dan kompresi yang lebih sedikit dihubungkan dengan rata-rata kelangsungan hidup yang lebih rendah. Kesepakatan mengenai kompresi dada yang adekuat membutuhkan penekanan tidak hanya pada kecepatan kompresi yang adekuat, tapi juga pada meminimalkan gangguan pada komponen penting dari CPR tersebut. Kompresi yang inadekuat atau gangguan yang sering (atau keduanya) akan mengurangi jumlah total kompresi yang diberikan per menit. 2.6.4. Kedalaman kompresi Untuk dewasa kedalaman kompresi telah diubah dari jarak 1 - 2 inch menjadi minimal 2 inch (5 cm). Kompresi yang efektif (menekan dengan kuat dan cepat) menghasilkan aliran darah dan oksigen dan memberikan energi pada jantung dan otak. Kompresi menghasilkan aliran darah terutama dengan meningkatkan tekanan intrathorakal dan secara langsung menekan
21 | P a g e

jantung. Kompresi menghasilkan aliran darah, oksigen dan energi yang penting untuk dialirkan ke jantung dan otak.

2.6.5. RJP Dengan Tangan Saja (Hands Only CPR) Secara teknis terdapat perubahan dari petunjuk RJP 2005, namun AHA mengesahkan tehnik ini pada tahun 2008. Untuk penolong yang belum terlatih diharapkan melakukan RJP pada korban dewasa yang pingsan didepan mereka. Hands Only CPR (hanya dengan kompresi) lebih mudah untuk dilakukan oleh penolong yang belum terlatih dan lebih mudah dituntun oleh penolong yang ahli melalui telepon. Kompresi tanpa ventilasi (Hands Only CPR) memberikan hasil yang sama jika dibandingkan kompresi dengan menggunakan ventilasi. 7,8

22 | P a g e

2.6.6. Identifikasi pernafasan agonal oleh pengantar (Dispatcher Identification of Agonal Gasps) Penolong diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak bernafas atau sulit bernafas. Penyedia layanan kesehatan seharusnya diajarkan untuk memulai RJP jika korban tidak bernafas atau pernafasan yang tidak normal. Pengecekan kecepatan pernafasan seharusnya dilakukan sebelum aktivasi emergency response system. 1,2

2.6.7. Penekanan krikoid Penekanan krikoid adalah suatu teknik dimana dilakukan pemberian tekanan pada kartilago krikoid penderita untuk menekan trakea kearah posterior dan menekan esophagus ke vertebra servikal. Penekanan krikoid dapat menghambat inflasi lambung dan mengurangi resiko regurgitasi dan aspirasi selama ventilasi dengan bag-mask namun hal ini juga dapat menghambat ventilasi. Saat ini penggunaan rutin penekanan krikoid tidak lagi direkomendasikan. Penelitian menunjukkan bahwa penekanan krikoid dapat menghambat kemajuan airway dan aspirasi dapat terjadi meskipun dengan aplikasi yang tepat. 7

2.6.8. Aktivasi Emergency Response System. Aktivasi emergency response system seharusnya dilakukan setelah penilaian respon penderita dan pernafasan, namun seharusnya tidak ditunda. Menurut panduan tahun 2005, aktivasi segera dari sistem kegawatdaruratan dilakukan setelah korban yang tidak merespon. Jika penyedia pelayanan kesehatan tidak merasakan nadi selama 10 detik, RJP harus segera dimulai dan menggunakan defibrilator elektrik jika tersedia. 7

23 | P a g e

2.6.9 Tim Resusitasi Dibutuhkan suatu tim agar resusitasi berjalan dengan baik dan efektif. Misalnya : satu penolong mengaktifkan respon sistem kegawatdaruratan sedangkan penolong kedua melakukan kompresi dada, penolong ketiga membantu ventilasi atau memakaikan bag mask untuk membantu pernafasan dan penolong ke-empat mempersiapkan dan defibrilator. 8,9

Tabel perbandingan dasar BLS pada dewasa, anak-anak dan bayi (termasuk RJP pada neonatus).

24 | P a g e

BAB III KESIMPULAN


Resusitasi jantung paru adalah usaha yang dilakukan untuk apa-apa yang

mengindikasikan terjadinya henti nafas atau henti jantung. Kompresi dilakukan terlebih dahulu dalam kasus yang terdapat henti pernafasan atau henti jantung karena setiap detik yang tidak dilakukan kompresi merugikan sirkulasi darah dan mengurangkan survival rate korban. Prosedur RJP terbaru adalah kompresi dada 30 kali dengan 2 kali napas buatan. Fase-fase pada RJP adalah Bantuan Hidup Dasar, Bantuan Hidup Lanjut dan Bantuan terus-menerus. Sistem RJP yang dilakukan sekarang adalah adaptasi dan pembahauan dari pedoman yang telah diperkenalkan oleh Peter Safar dan kemudiannya diadaptasi oleh American Heart Association.

25 | P a g e

Daftar Pustaka
1. American Heart Association. 2010. Part 4 Adult Basic Life Support in Circulation Journal. 2. American Heart Association. 2005. Part 4 Adult Basic Life Supprt in Circulation Journal 3. Latief S.A. 2007. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kedua. Penerbit FKUI. Jakarta. 4. Bantuan Hidup Dasar. Diakses dari http://www.scribd.com/doc/4535323/bantuan-hidupdasar. 5. Siahaan, Olan SM. Resusitasi Jantung Paru dan Otak. Cermin Dunia Kedokteran. 1992. 6. Resusitasi Jantung dan Paru. Diaskes dari http://itja.wordpress.com/2010/10/07/resusitasi-jantung-paru/. 7. Bantuan Hidup Dasar. Diaskes dari http://www.scribd.com/doc/4535323/bantuan-hidupdasar. 8. Peter Safar and the ABC of Resuscitation. Diaskes dari http://en.wikipedia.org/wiki/ABC_(medicine) 9. Peter J. Safar. Diaskes dari http://www.laerdalfoundation.org/dok/Peter_Safar.pdf

26 | P a g e