Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI PERPAJAKAN PERSEDIAAN

MODUL 10
Mutiah

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

2008 PERSEDIAAN
DEFINISI PERSEDIAAN Sumber utama pendapatan usaha adalah penjualan barang atau jasa. Bagi perusahaan non jasa, biaya (harga pokok) barang atau persediaan yang dijual dan nilai persediaan yang belum terjual merupakan unsur-unsur yang penting dalam mengukur pendapatan dan menentukan posisi keuangan. Istilah persediaan menunjukan barang-barang yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan serta untuk perusahaan manufaktur, barang-barang yang sedang diproduksi atau akan dimasukan ke dalam proses produksi Sifat barang yang diklasifikasikan sebagai persediaan sangat bervariasi menurut sifat aktivitas perusahaan dan dalam beberapa hal meliputi aktiva yang biasanya tidak dianggap sebagai persediaan. Sebagai contoh, tanah dan bangunan yang dimiliki untuk di jual kembali oleh suatu perusahaan real estate, bangunan yang sedang dikerjakan untuk dijual di masa mendatang oleh perusahaan konstruksi, dan saham yang dibeli untuk dijual kembali oleh para pialang selayaknya diklasifikasikan sebagai persediaan oelh perusahaan yang bersangkutan. Pengertian menurut PSAK 14, persediaan adalah asset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, baik barang dagangan dalam usaha dagang maupun barang jadi untuk manufacture, berada dalam proses produksi (barang dalam proses manufacture dan pekerjaan dalam proses untuk kontraktor) dan dalam bentuk bahan baku atau perlengkapan (bahan pembantu) utk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. JENIS PERSEDIAAN Pengadaan barang oleh usaha perdagangan seperti pasar swalayan dan grosir dimaksudkan untuk dijual kembali, sedangkan pengadaan oleh usaha pabrik dimaksudkan untuk diolah sebelum dijual. Usaha pabrik biasanya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu: 1. 2. Bahan baku dan bahan pelengkap Barang dalam pengolahan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

3
3. Barang jadi

BAHAN BAKU DAN BAHAN PELENGKAP Bahan baku merupakan barang-barang yang diperoleh untuk digunakan dalam proses produksi. Beberapa bahan baku diperoleh secara langsung dari sumbersumber alam. Akan tetapi, lebih sering bahwa bahan baku diperoleh dari perusahaan lain yang merupakan produk akhir pemasok tersebut. Sebagai contoh kertas cetak merupakan produk akhir dari pabrik kertas, tetapi merupakan bahan baku bagi perusahaan percetakan. Meskipun istilah bahan baku dapat digunakan secara luas untuk mencakup seluruh bahan baku yang digunakan dalam produksi, namun sebutan ini acapkali dibatasi untuk barang-barang yang secara fisik dimasukkan kedlam produk yang dihasilkan. Biaya perolehan bahan baku terdiri atas harga pembelian, ongkos angkut, biaya gudang dan biaya lain-lain yang berhubungan dengan penyimpanan sampai bahan tersebut dipakai dalam produksi. Bahan baku masih dapat digolongkan ke dalam bahan baku langsung dan bahan pembantu.bahan baku langsung adalah bahan yang dapat diidentifikasikan langsung dalam produk misalnya bahan kayu untuk pembuatan lemari. Bahan baku pelengkap adalah bahan yang tidak dapat diidentifikasikan dalam produk seperti minyak pelumas dan kertas amplas. Bahan tersebut secara fisik tidak terlihat dalam produksi. BARANG DALAM PENGOLAHAN Barang dalam pengolahan terdiri dari bahan baku yang sebagian telah diproses dan perlu dikerjakan lebih lanjut sebelum dijual. Barang dalam pengolahan (work in process) adalah barang yang masih dalam tahap penyelesaian. Untuk menyelesaikan produk tersebut perusahaan masih memerlukan tambahan pekerjaan sehingga membutuhkan biaya tenaga dan biaya tidak langsung lainnya.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

BARANG JADI Barang jadi (finished goods) adalah produk yang telah selesai diolah dan siap untuk dijual. Semua biaya bahan baku, biaya tenaga, dan biaya tidak langsung telah selesai dibebankan. Persediaan meliputi barang-barang yang ada di perusahaan dalam perjalanan maupun yang dititipkan pada pihak lain, Barang-barang yang tidak dapat lagi dijual atau digunakan untuk produksi tidak digolongkan ke dalam persediaan. Persediaan seperti itu dimasukkan sebagai bagian aset lain-lain. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN Dalam akuntansi dikenal dua sisem pencatatan persediaan 1. sistem periodik 2. sistem perpetual. Dalam Undang-undang pajak penghasilan Nomor 17 tahun 2000 istem pencatatan persediaan tidak diatur secara jelas. Selama sistem dapat menunjukkan kebenaran pencatatan dan konsisten serta taat asas, maka ketentuan perpajakan dapat menerimanya. Untuk menentukan apakah kedua sistem tersebut sesuai atau dapat digunakan dalam perpajakan, berikut kita akan membahas secara singkat. SISTEM PERIODIK Dalam sistem periodik, persediaan dihitung dengan melakukan inventarisasi pada setiap akhir periode. Hasil penghitungan tersebut dapat dipakai untuk menghitung harga Pokok Penjualan (HPP), yang pada gilirannya dipakai guna menyusun laporan keuangan. Dengan sistem periodik ini, penghitungan persediaan dapat dilakukan secara akurat dan benar. Namun ada juga kelemahannya yaitu jika jumlah dan jenis persediaan banyak sekali, cara ini sangat mahal. Sistem ini cocok diterapkan pada perusahaan yang jenis dan jumlah persediaannya tidak banyak. Sistem ini tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan karena penilaian persediaan dalam sistem ini berdasarkan penghitungan yang benar. Faktor penaksiran atau perkiraan tidak terlihat dalam penilaian persediaan akhir. Akan tetapi cara ini tidak praktis dan ekonomis jika jumlah jenis persediaan sangat banyak. SISTEM PERPETUAL Sistem perpetual dapat menyajikan keterangan mengenai persediaan dan HPP secara terus menerus tanpa inventarisasi. Hal ini dapat dilaksanakan karena setiap

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

5
transaksi yang berhubungan dengan persediaan selalu dicatat sedemikian rupa sehingga rekening persediaan senantiasa menyajikan saldo persediaan fisik. Dengan sistem periodik, nilai persediaan hanya dapat diketahui jika inventarisasi fisik dilakukan. Sekalipun dalam sistem perpetual tidak dipersyaratkan inventarisasi , namun perusahaan sering pula melakukannya agar perhitungan harga pokok persediaan lebih akurat. Sistem perpetual tidak menggunakan cara penaksiran dalam menghitung nilai persediaan, bahkan inventarisasi masih digunakan sebagai pelengkap, dengan demikian sistem ini idak bertentangan dengan ketentuan perajakan. Cara yang tidak sesuai dengan prinsip perpajakan adalah jika persediaan dinilai berdasarkan penaksiran atau perkiraan. Apabila contoh penilaian pemakaian persediaan yang diuraikan dalam penjelasan pasal 10 ayat 6 UU Nomor 10 Tahun 1994 sebagaimana elah diubah dengan UU Nomor 17 Tahun 2000 diperhatikan, sistem pencatatan yang diperkenalkan adalah sistem pencatatan perpetual. Atas dasar pertimbangan itulah dalam pedoman penyusunan laporan keuangan fiskal ditegaskan agar pencatatan sedapat mungkin dilakukan dengzn sistem perpetual. Akan tetapi, untuk hal-hal terentu yang karena sifatnya mengalami kesulitan dalam menggunakan sisem perpetual seperti pasar swalayan, sistem lain dapat dilakukan. Contoh: Pada tanggal 3 Maret 2007 PD Binang membeli 100 unit barang dagang dengan harga Rp 5.000.000 (harga belum termasuk PPn) secarai tunai. PD Bintang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) sejak tanggal 31 Januari 2005. Pembukuan atas persediaan dilakukan dengan sistem perpetual. Jurnal Akuntansi perpajakan untuk transaksi tersebut adalah:

Tanggal 3-Mar-2007

Keterangan Persediaan barang dagang PPN Masukan Kas

Debit 5.000.000 500.000

Kredit

5.500.000

PPN Masukan : 10% x Rp5.000.000 = Rp.500.000 Harga 1 unit barang dagang adalah Rp.5.000.000 : 100 unit = Rp.50.000 Pada tanggal 31 maret 2007, PD Bintang menjual 30 unit barang dagang secara tunai dengan harga per jual masing masing unit Rp.70.000 (belum termasuk PPN)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

6
Jurnal akuntansi Perpajakan untuk transaksi tersebut adalah :

Tanggal 31-mar-2007

Keterangan Kas PPN Keluaran Penjualan HPP Persedian barang dagang (Rp.50.000 x 30 unit)

Debit 2.310.000

Kredit 210.000 2.100.000

1.500.000 1.500.000

PPN Keluaran : 10% x Rp2.100.000 = Rp.210.000 Persediaan barang dagang yang tersisa dan tercatat dalam pembukuan PD Bintang per tanggal 31 maret 2007 adalah Rp.50.000 x 70 unit = Rp.3.500.000 Jika PD Bintang belum dikukuhkan sebagai PKP, maka untuk jurnal akuntansi perpajakan pada saat pembelian barang dagang adalah : Tanggal 03-mar-2007 Keterangan Persediaan barang dagang Kas Debit 5.500.000 5.500.00 Kredit

PD Bintang tidak dapat mengkreditkan PPN Masukannya sehingga PPN Masukan dimasukan sebagai harga perolehan barang dagang sehingga 1 unit barang dagang adalah Rp.5.500.000 : 100 unit = Rp.55.000 Jurnal Akuntansi perpajakannya untuk transaksi penjualannya adalah : Tanggal 03-mar-2007 Keterangan Kas Penjualan HPP Persediaan barang dagang (Rop.55.000 x 30 unit) Debit 2.100.000 2.100.000 1.650.000 1.650.000 Kredit

Karena bukan PKP, maka PD Bintang tidak memungut PPN Keluaran NILAI PERSEDIAAN DALAM NERACA Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan HPP hanya boleh dilakukan melalui dua cara menurut ketentuan perpajakan UU Pph 10 ayat 6, yaitu: 1. Metode rata-rata (avarage) 2. Metode FIFO

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

Wajib pajak (WP) harus memilih salah satu penilaian persediaan penghitungan HPP untuk selanjutnya digunakan cara yang sama. METODE RATA-RATA Metode rata-rata didasarkan pada asumsi bahwa barang yang dijual harus dibebani dengan biaya rata -rata, dimana rata-rata itu dipengaruhi atau ditimbang menurut jumlah unit yang diperoleh pada masing masing harga. Setiap pembelian dan biaya rata rata tertimbang per unit akan diterapkan pada setiap penjualan sampai dilakukan pembelian berikutnya. Karena memutakhirkan angka rata rata secara berkesinambungan, metode ini disebut metode rata rata Pendekatan biaya rata- rata dapat didukung sebagai suatu pendekatan yang realistik dan menyelaraskan arus fisik barang, khususnya jika unit unit persediaan yang identik ternyata campur baur. METODE FIFO Metode FIFO, didasarkan pada asumsi bahwa harus dibebankan ke pendapatan sesuai dengan urutan terjadinya, dengan demikian persediaan akan dinyatakan berdasarkan biaya terbaru. FIFO dapat dianggap sebagi suatu pendekatan yang logis dan realistik mengenai arus biaya apabila diindentifikasikan khusus biaya tidak praktis. FIFO mangasumsikan suatu arus biaya yang paralel dengan arus fisik barang sehari hari. Pendapatan dibebani dengan biaya yang dianggap berkaitan dengan barang yang bener benar di jual, persediaan akhir di laporkan menurut biaya terbaru, biaya yang paling mendekati nilai berjalan persediaan pada tanggal neraca, FIFO tidak memberi peluang untuk memanipulasi laba karena harga pokok ditentukan menurut terjadinya biaya. TEKNIK MENGHITUNG NILAI PERSEDIAAN AKHIR Ada 2 metode yang bisa digunakan sesuai kondisi suatu perusahaan yaitu: 1. Metode Laba Bruto 2. Metode Harga Eceran Metode Laba Bruto

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

8
Taksiran atau estimasi sering kali digunakan dalam menghitung kuantitas dan biaya persediaan. Penghitungan dengan metode Laba Brito didasarkan pada hubungan yang diasumsikan dengan laba bruto dan penjualan. Metode laba kotor akan bermanfaat jika : 1. Sistem periodik atau berkala digunakan dan persediaan diperlukan untuk laporan intern atau untuk menentukan posisi persediaan setiap minggunya atau setiap bulan, dan biaya untuk melakukan stock opname 2. Persediaan telah rusak atau musnah karena kebakaran, pencurian atau penyebab lain dana data tertentu yang diperlukan untuk menilai persediaan sudah tidak ada lagi. 3. Pihak bersangkutan ingin menguju atau mengecek keabsahan angka persediaan yang dihitung dengan cara lain. 4. Biasanya digunakan bila inventarisasi tidak mungkin dilakukan dan pencatatan perpetual tidak dilaksanakan. Metode laba kotor ini umumnya diterapkan untuk menaksir persediaan jika penghitungan fisik tidak mungkin dilakukan karena barang sudah hilang atau rusak. Metode Harga Eceran Biasanya digunakan untuk menaksir nilai persediaan guna penyusunan laporan perhitungan laba / rugi atau untuk mementukan apakah terjadi kekurangan persediaan. Metode ini harga eceran adalah perbandingan (rasio) biaya terhadap harga eceran barang yang tersedia dijual selama satu periode. Berdasarkan ketentuan Pajak UU Pph No.17 thn 2000, dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak harus berdasarkan data yang benar dan bukan berdasarkan penaksiran, karena penilaian persediaan akhir tidak boleh di nilai dengan asumsi seperti penggunaan metode tersebut, melainkan sesuai dengan penilaian persediaan dengan dasar harga perolehan melalui metode rata- rata atau metode FIFO. Keunggulan penggunaan metode harga eceran : 1. Estimasi persediaan intern dapat diperoleh tanpa melakukan penghitungan fisik. 2. Jika penghitungan fisik benar-benar dilakukan untuk tujuan penyajian laporan keuangan periodik, maka hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan harga eceran kemudian dikonversi ke dalam harga pokok tanpa perlu mengacu ke

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN

9
harga pokok dan faktur masing-masing, sehingga menghemat wktu dan biaya. 3. Barang yang hilang pada saat orang berbelanja dapat dihitung dan dipantau karena hasil perhitungan fisik persediaan harus sama dengan persediaan menurut harga eceran yang dihitung, maka segala perbedaan yang tidak dapat ditelusuri akibat kesalahan pencatatan di dalam pembukuan perusahaan pastilah karena barang hilang pada saat orang belanja atau karena dicuri karyawan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE AKUNTANSI PERPAJAKAN