Anda di halaman 1dari 53

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, KONSEP DIRI, DAN

KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR


BAHASA INGGRIS SISWA KELAS X MAN 2 MAKASAR
(SURVEY KAUSAL)

(Tugas Proposal)

Oleh:
MUHAMMAD YAUMI
7117080361

PROGRAM PASCASARJANA TEKNOLOGI PENDIDIKAN


UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA
2008
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................... ii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah......................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................... 5
C. Pembatasan Masalah ............................................................ 6
D. Rumusan Masalah ................................................................. 7
E. Kegunaan Penelitian ............................................................. 7

II. KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN


HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori ......................................................................... 9


1. Hakikat Prestasi Belajar ..................................................... 9
2. Hakikat Perhatian Orang Tua.............................................. 12
3. Hakikat Konsep Diri ............................................................ 20
4. Hakikat Kemandirian Belajar .............................................. 23
B. Kerangka Pikir .........................................................................26
1. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap
Prestasi Belajar Bahasa Inggris ......................................... 26
2. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Konsep Diri ..... 27
3. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap
Kemandirian Belajar ........................................................... 28
4. Pengaruh Perhatian Konsep Diri Terhadap
Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa...............................29
5. Pengaruh Perhatian Konsep Diri Terhadap
Kemandirian Belajar............................................................30
6. Pengaruh Perhatian Kemandirian Belajar
Terhadap Prestasi Belajar .................................................31

C. Hipotesis .................................................................................32

III. METODE PENELITIAN


A. Tujuan Penelitian ...................................................................33

2
B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................33
C. Metode Penelitian ..................................................................34
D. Teknik Pengambilan Sampel .................................................34
F. Teknik Pengumpulan Data ....................................................35
G. Teknik Analisa Data ..............................................................45

H. Pengujian Hipotesis ..............................................................47

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................48

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perbincangan seputar rendahnya mutu pendidikan di Indonesia

bukanlah merupakan hal baru dan bahkan sudah menjadi pengetahuan

umum, common sense, bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada solusi cerdik untuk mengatasi

rendahnya mutu yang dimaksud. Bayangkan data dari hasil survei yang

dilakukan oleh the Asian-South Pacific Bureau of Adult Education and the

Global Campaign for Education, menunjukkan bahwa Indonesia hanya

mampu menduduki rangking 10 dari 14 negara di kawasan Asia Pasifik.

Jika dikalkulasi Indonesia hanya mencapai 42 dari 100 skor maksimal,

atau mendapat angka E dalam komitmen kepada pendidikan dasar.

Sedangkan Thailand dan Malaysia menduduki nilai A, yang kemudian

diikuti Srilanka dengan nilai B. Sedangkan Filipina, Cina, Vietnam,

Bangladesh, Kampuchea, dan India mendapat nilai antara C dan F.

Indonesia lebih baik hanya jika dibandingkan dengan Nepal, Papua

Nugini, Kepulauan Solomon, dan Pakistan.1

Pengelolaan penyelenggaraan pendidikan yang belum terpusat

(satu atap) menyebabkan budget (anggaran) pendidikan terbagi ke semua

departemen yang menyelenggaraan pendidikan nasional yang berimbas

pada rendahnya pembiayaan yang diarahkan pada masing-masing

lembaga pendidikan. Permasalahan ini telah berdampak pada rendahnya

1 Azra dalam Yaumi, KBK: Antara Harapan dan Kenyataan (http://re-


searchengines.com/1205yaumi.html), 2005, hal.4.

4
mutu pendidikan di Indonesia saat ini seperti data dari hasil survei yang

dipaparkan di atas.

Mutu pendidikan pada sekolah yang dikelola departemen Agama

misalnya, belum belum menggambarkan prestasi yang menggembirakan.

Said2 menemukan prestasi belajar siswa madrasah Aliyah di kota

Makasar Tahun ajaran 2007-2008 belum memuaskan, karena secara total

daya serap siswa baru mencapai 60,93%, atau siswa yang mendapat nilai

kurang dari 65 mencapai 39,07%. Sedangkan, menurut Hasbullah3

bahwa keberhasilan pembelajaran akan dicapai jika daya serap siswa

sekurang-kurangnya mencapai 75% dari pelajaran pada kurikulum yang

ada. " Rendahnya prestasi belajar yang dicapai oleh sebagian siswa

tersebut diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor internal

maupun eksternal.

Faktor internal antara lain: konsep diri, motivasi, minat, kebiasaan,

kemandirian belajar, dan lain-lain. Sedangkan, faktor eksternal antara lain

sarana prasarana, guru, orang tua dan lain-lain. Konsep diri merupakan

bagian penting dalam perkembangan pribadi seseorang. Konsep diri yang

positif akan memudahkan orang untuk berhasil mengembangkan diri. Hal

ini sejalan dengan pendapat bahwa konsep diri akan berpengaruh besar

terhadap keseluruhan prilaku yang akan ditampilkan oleh seseorang,

sehingga peserta didik yang memiliki konsep diri positif akan mudah

dikembangkan minatnya untuk belajar, karena menyadari bahwa belajar

adalah kebutuhannya. Perhatian orang tua secara simultan juga dapat

2 Said, Muis, Penerapan Total Physical Response Method in Teaching English in Madrasah
Aliayah Negeri I Makassar, 2008, hal 11, DIPA LP UIN Alauddin.
3 Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan (Makassar: Penerbit Fatiya, 2005), Hal. 85.

5
membantu dan mendorong anak-anak untuk dapat lebih berhasil dalam

pendidikannya, peran orang tua dalam pendidikan anak adalah

memberikan bantuan, dukungan/motivasi dan informasi tentang cara

belajar yang baik dan tepat.

Dua hal tersebut di atas pada akhirnya akan menimbulkan rasa

percaya diri pada diri si anak yang pada akhirnya sikap ini akan

memunculkan kemandirian belajar pada dirinya pula. Sifat dan sikap

berkonsep diri secara positif merujuk pada mengetahui tentang

keunggulan dan kelemahan diri dan menerima baik keunggulan maupun

kelemahan itu. Berbagai ciri orang yang memeiliki sifat seperti tersebut di

atas cenderung bangga terhadap kemampuan dirinya, selalu

memperjuangkan kemampuannya secara penuh, pantang mundur,

menerima dirinya sendiri maupun orang lain apa adanya, dan tidak lari

dari kenyataan.4 Produk dari proses pembelajaran diukur berdasarkan

hasil belajar yang dicapai seorang siswa merupakan hasil interaksi dari

berbagai faktor yang mempengaruhi dan saling berkaitan antara lain

karakter non kognitif. Karakter non kognitif itu antara lain motivasi, minat,

sikap, bakat, konsep diri, perhatian orang tua, kemandirian dan

sebagainya.

Berbagai upaya masih perlu dipikirkan dan dijalankan guna

meningkatkan mutu pendidikan kita, khususnya ditingkat menengah.

Berbagai faktor memang disadari mempengaruhi pembentukan mutu,

antara lain berupa input instrumental, proses belajar mengajar dan yang

4 Drost, SJ Menjadi Pribadi Dewasa dan Mandiri (Yogyakarta: Kaninsius.


1993), Hal.72.

6
lainnya. Masalah peningkatan kualitas pendidikan merujuk pada

peningkatan proses belajar mengajar (pembelajaran). Proses

pembelajaran di sekolah bersifat sangat kompleks, karena di dalamnya

terdapat aspek pedagogis, psikologis dan didaktis. Prestasi belajar anak

didik dipengaruhi oleh banyak faktor, namun yang paling menentukan

adalah faktor guru.5 Peranan orang tua juga sangat penting misalnya

pada saat guru memberikan pekerjaan rumah, diperlukan bimbingan

orang tua dalam memecahkan masalah yang dihadapi anak.

Peranan orang tua sangat tinggi dalam menentukan prestasi siswa,

dalam hal ini orang tua yang memperhatikan pendididkan anaknya tentu

akan selalu memperhatikan kebutuhan belajar anaknya. Perhatian

tersebut dapat berbentuk penyediaan fasilitas belajar yang cukup,

bimbingan belajar dirumah baik yang dilakukan secara langsung ataupun

tidak langsung. Pada tataran mikro dapat kita lihat bahwa siswa yang

mempunyai orang tua yang memberikan perhatian tinggi terhadap

kebutuhan untuk pendidikan anaknya kuat kemungkinannya untuk dapat

mencapai prestasi yang lebih baik.

Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa mutu pendidikan tidaklah

ditentukan oleh faktor tunggal, namun ada sejumlah variabel yang

dianggap saling mempengaruhi. Hal itulah yang mengugah penulis untuk

melakukan suatu kajian sederhana yang akan melakukan uji secara

empirik hubungan langsung atau tidak langsung dalam satu rangkaian

dalam sistem pendidikan yakni Input – Proses – Out-put yang mengacu

5 Tilaar. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad


21 (Jakarta: Indonesia Tera, 1999). Hal 35.

7
pada sejumlah variabel bebas yaitu: Perhatian orang tua di rumah,

konsep diri, dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dan latar belakang masalah tersebut di atas,

maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut: apakah

rendahnya prestasi belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri

mempunyai hubungan dengan cara dan strategi mengajar guru bahasa

Inggris? Apakah ada kaitan antara bimbingan orang tua dengan prestasi

belajar siswa di sekolah? Apakah kemandirian belajar siswa mempunyai

hubungan dengan prestasi belajar siswa? Apakah terdapat pengaruh

perhatian orang tua terhadap prestasi belajar siswa? Apakah terdapat

pengaruh perhatian orang tua terhadap konsep diri? Apakah terdapat

pengaruh perhatian orang tua terhadap kemandirian belajar? Apakah

terdapat pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar siswa? Apakah

terdapat pengaruh konsep diri terhadap kemandirian belajar siswa?

Apakah terdapat pengaruh kemandirian belajar terhadap prestasi belajar

siswa?

Apakah keberadaan orang tua dan konsep diri yang baik mempunyai

pengaruh signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar bahasa Inggris

siswa? Apakah perhatian orang tua mempunyai hubungan dengan

kemandirian siswa? Apakah perhatian orang tua, konsep diri, dan

kemandirian belajar siswa memberi pengaruh terhadap kemandirian

belajar siswa? Apakah perhatian orang tua, konsep diri, dan kemandirian

belajar mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar?

8
B. Pembatasan Masalah

Berbagai masalah seperti dikemukakan di atas sanagt penting

untuk dikaji dan diteliti. Tetapi, mengingat keterbatan waktu, dana, dan

tenaga maka penelitian ini hanya dibatasi pada pengaruh perhatian orang

tua, konsep diri, dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar bahasa

Inggris siswa. Pembatasan masalah tersebut mencakup hal-hal yang

berkaitan dengan (1) perhatian orang tua yang dipandang sebagai bentuk

kesadaran untuk mengarahkan pikiran, sikap, dan tindakan yang diberikan

oleh orang tua/keluarga kepada anaknya dalam rangka menjadikan anak

itu dewasa dan dapat hidup secara mandiri, (2) konsep diri yang merujuk

pada persepsi gambaran dan penilaian secara menyeluruh oleh

seseorang terhadap dirinya sendiri yang meliputi aspek fisik, psikis, sosial,

dan status akademik atau kemampuan akademik yang dimiliki, (3)

kemandirian belajar yang mengarah pada kebebasan dari pengaruh orang

lain sehingga mampu berbuat, bertindak, dan berpikir atas dasar kreatif

dan penuh inisiatif, percaya diri, bertanggung jawab serta mampu

mengatasi problem belajar yang dihadapi, dan melakukan hal belajar yang

menurutnya baik atas integritas dirinya, (4) prestasi belajar bahasa Inggris

yang merupakan nilai yang diperoleh dari tes kemampuan bahasa yang

mencakup mebaca, mendengar, berbicara, dan menulis.

C. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah yang telah diuraikan di atas, selanjutnya

9
penulis merumuskan masalah terutama bagaimana upaya meningkatkan

prestasi belajar siswa, khususnya siswa MAN 2 Makasar. Adapun

rumusan masalahnya sebagai berikut:

(1) Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi

belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

(2) Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap konsep diri

siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

(3) Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap

kemandirian belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

(4) Apakah terdapat pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar

bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

(5) Apakah terdapat pengaruh konsep diri terhadap kemandirian belajar

siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

(6) Apakah terdapat pengaruh kemandirian belajar terhadap prestasi

belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

B. Kegunaan Penelitian

Secara khusus hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan

ada tidaknya pengaruh perhatian orang tua, konsep diri, dan kemandirian

belajar terhadap prestasi belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah

Negeri (MAN) 2 Makassar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi

rujukan dalam pembelajaran bahasa Inggris termasuk memgembangkan

10
kurikulum, membuat silabus, dan RPP di Indonesia umumnya dan pada

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar khususnya.

BAB II

11
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR,

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Deskripsi Teori

Pada bagian ini, akan dikaji hakekat prestasi belajar bahasa

Inggris, perhatian orang tua, konsep diri, dan kemandirian belajat.

Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kerangka berpikir

dan hipotesis penelitian.

1. Hakikat Prestasi Belajar Bahasa Inggris

a. Pengertian Belajar

Kegiatan belajar merupakan kegiatan mental yang terjadi dalam

berinteraksi dengan lingkungan. Terjadinya belajar ditandai dengan

adanya perubahan dalam pola prilaku. Perubahan yang terjadi akan

bertahan lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilang lagi. Hal ini

sesuai dengan pendapat Winkel6 bahwa belajar merupakan suatu aktivitas

mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan

yang menghasilkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam

pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan

yang terjadi relatif konstan dan berbekas.

Sesuai dengan pendapat di atas Klein dalam Sarifah7 mengatakan

bahwa belajar merupakan perubahan yang bersifat permanen dalam

tingkah laku sebagai hasil dari proses pengalaman yang tidak dapat

ditunjukkan oleh keadaan sementara, kematangan atau pembawaan lahir.


6 Winkel,W.S. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar (Jakarta: Gramedia, 2004).
Hal. 53.
7 Sarifah, Eva. Pengaruh Sistem Penilaian Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar ditinjau
dari Gaya Belajar ( Tesis: Jakarta. PPS UNJ, 2004), Hal. 23.

12
Hal ini diperkuat oleh Snelbecker dalam Soekamto dan Winataputra8

mengatakan bahwa perubahan yang terjadi dalam belajar dari tingkat

yang paling rendah sampai tingkat yang paling kompleks dan proses

perubahan tersebut dikontrol sendiri atau dikontrol faktor lain. Sementara

itu perubahan yang terjadi menurut Rusyan9 mempunyai ciri terjadinya

secara sadar, bersifat sinambung dan fungsional, bersifat positif dan aktip

serta mempunyai tujuan dan arah. Menurut Hamalik10 lingkungan yang

menyenangkan untuk belajar merupakan masalah yang paling mendasar

dalam sistim pendidikan formal. Dialog serta komunikasi antara anak

dengan orang dewasa merupakan hal yang sangat penting untuk

meningkatkan lingkungan belajar. Lebih lanjut, Hamalik11

merekomendasikan bahwa bimbingan orang dewasa merupakan aspek

yang sangat penting dalam pendidikan. Menurut pengertian belajar yang

diuraikan di atas maka belajar merupakan perubahan tingkah laku yang

memiliki ciri: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan bersifat

kontinu dan fungsional, (3) perubahan bersifat positif dan aktif, (4)

perubahannya tidak bersifat sementara, (5) perubahannya mempunyai

tujuan atau terarah, (6) perubahannya mencakup seluruh aspek tingkah

laku.

b. Prestasi Belajar Bahasa Inggris

8 Soekamto dan Winataputra. Prinsip Belajar dan Pembelajaran (Jakarta, PAU-PPAI


Universitas Terbuka, 2001), hal. 9.
9 Rusyan, A. Tabrani. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1989), hal. 81.
10 Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2002), hal. 121.
11 Ibid.

13
Prestasi belajar bahasa Inggris adalah kemampuan yang diperoleh

siswa setelah melalui kegiatan belajar bahasa Inggris dalam satuan

program pembelajaran, dan belajar merupakan suatu proses dari

seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu perubahan perilaku

yang relatif menetap. Prestasi belajar menurut Gagne dalam Sopah12

adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar

dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learned’s performance).

Sedangkan Dick dan Reiser dalam Sopah13 mengatakan bahwa prestasi

belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil

kegiatan pembelajaran. Mereka membedakan hasil belajar atas empat

macam, yaitu: (a) pengetahuan, (b) keterampilan intelektual, (c)

keterampilan motorik, dan (d) sikap. Selanjutnya Bloom14 (1967)

membedakan prestasi belajar menjadi tiga ranah, yaitu: (a) kognitif, (b)

afektif, dan (c) psikomotorik. Prestasil belajar dipengaruhi oleh beberapa

faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Slameto (1995 : 89)

membagi faktor internal menjadi 3 bagian pokok yaitu: (1) faktor

jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), (2) faktor psikologis (inteligensi,

perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), dan (3) faktor

kelelahan. Sedangkan faktor eksternal menjadi 3 bagian pokok yaitu: (1)

faktor keluarga (cara orang tua mendidik, reaksi antar anggota keluarga,

suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar

12 Sopah, Djamaah.. Pengaruh Model Pembelajaran dan Motivasi Berprestasi


Terhadap Hasil Belajar. (Jakarta: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 022
Tahun ke-5 Maret 2000) h. 121-137.
13 Ibid.
14 Skagitwatershed, Learning Domains or Bloom’s Taxonomy, p. 2, 2009.
(http://www.skagitwatershed.org/~donclark/hrd/bloom.html#types),

14
belakang kebudayaan), (2) faktor sekolah (kurikulum, metode mengajar,

relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat

pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode

belajar, tugas rumah), dan (3) faktor masyarakat (kegiatan siswa di

masyarakat, mas media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).

Prestasi belajar bahasa Inggris yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

nilai yang diperoleh siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris yang

mencakup seluruh komponen keterampilan yang secara integrated

tercantum dalam buku rapor.

2. Hakikat Perhatian Orang Tua

Menurut ahli psikologi, istilah perhatian dirumuskan sebagai

pemusatan energi tertuju pada suatu objek, juga diartikan sebagai

kesadaran yang menyertai suatu aktifitas yang sedang dilakukan. Salah

satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain

adalah perhatian orang tua.15

Pada kamus besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat

bahasa Depdiknas16, perhatian adalah memperhatikan apa yang

diperhatikan sedangkan menurut Walgito17 menjelaskan bahwa perhatian

merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu

yang ditujukan pada sesuatu atau sekumpulan obyek dan perhatian

15 Slameto Beajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. (Jakarta: Rineka


Cipta, 1998) hal. 246.
16 Pusat Bahasa Depdiknas. Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka.
2003) hal. 857.
17 Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi (Yogyakarta.
Fak Psikologi UGM, 1995) hal. 53.

15
diartikan kegiatan atau keadaan mengambil bagian dalam suatu aktivitas

untuk mencapai suatu obyek pelajaran atau dapat dikatakan sebagai

sedikit banyaknya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa

perhatian itu merupakan pemusatan kegiatan yang ditujukan pada suatu

obyek. Artinya perhatian orang tua yang ditujukan pada kegiatan belajar

anak terutama pada mata pelajaran bahasa Inggris. Keluarga merupakan

awal tempat proses sosialisasi bagi anak-anaknya, keluarga juga

merupakan tempat anak memperoleh pemenuhan kebutuhan sarana

prasarana dan kasih sayang dalam bentuk perhatian orang tua.

Suryabrata18 menjelaskan bahwa perhatian orang tua dengan

penuh kasih sayang terhadap pendidikan anaknya, akan menumbuhkan

aktivitas anak sebagai suatu potensi yang sangat berharga untuk

menghadapi masa depan. Pengertian perhatian orang tua yang dimaksud

di sini adalah tanggapan siswa atas perhatian orang tuanya terhadap

pendidikan anaknya yaitu tanggapan tentang bagaimana cara orang

tuanya memberikan bimbingan belajar di rumah, memperhatikan dan

memenuhi kebutuhan-kebuahan alat yang menunjang pelajaran,

memberikan dorongan untuk belajar, memberikan pengawasan,

memberikan pengarahan pentingnya belajar.

Selanjutnya (2000:17) bentuk-bentuk perhatian dapat mencakup:

a. Atas dasar intensitasnya


- Perhatian intensif

18 Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo


Persada,
2000) hal. 233.

16
- Perhatian tidak intensif

b. Atas dasar timbulnya


- Perhatian spontan, perhatian tak disengaja,
perhatian tak sekehendak
- Perhatian disengaja (perhatian sekehendak,

perhatian reflektif)

c. Atas dasar luas objek yang dikenai perhatian


- Perhatian terpencar atau distributif
- Perhatian terpusat atau konsentratif19

Perhatian orang tua apabila dikaitkan dengan macam-macam perhatian di

atas, maka perhatian orang tua dapat diartikan sebagai pemusatan energi

yang disengaja, intensif dan terkonsentrasi dari orang tua yang dilandasi

dari rasa penuh kesadaran, tanggung jawab dan kasih sayang dalam

melakukan tindakan demi tercapainya hasil belajar yang memuaskan.

Pengawasan dan pengarahan dari orang tua akan berpengaruh

terhadap anak dalam mengikuti pembelajaran di sekolah khususnya

dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Menurut Mardapi20 orang tua harus

bersedia meluangkan waktunya untuk selalu mendampingi anak-anaknya.

Pada waktu yang demikian kepada mereka diberikan pengarahan dan

nasehat, yang bertujuan supaya mereka meningkatkan kegairahan dan

cara belajarnya di sekolah. Anak-anak haruslah dimotivasi untuk belajar

lebih giat, lebih semangat.

Dengan demikian si anak akan lebih percaya pada hari depannya,

19 Ibid.
20 Mardapi, Djemari. Faktor-faktor yang menentukan Prestasi Belajar
Mahasiswa FPTK IKIP Yogyakarta. (Jakarta. Tesis pada Fakultas Pascasarjana
IKIP, 1984) hal. 60.

17
di samping rasa bangga dalam diri mereka karena mendapat perhatian

dari orang tuanya. Perhatian dan bimbingan orang tua di rumah akan

mempengaruhi kesiapan belajar siswa, baik belajar di rumah maupun

belajar di sekolah.perhatian orang tua sangat diperlukan sebagai

penguatan dalam proses pembelajaran.21

Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya, adalah

mereka yang tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan

kepentingan dan kebutuhan anak dalam belajar, tidak mengatur waktu

belajarnya, tidak melengkapi kebutuhan alat belajarnya, tak terlalu peduli

dengan kemajuan belajar anaknya atau kesulitan- kesulitan apa yang

dialami dalam belajar, hal ini dapat menyebabkan anak tidak terpacu

belajarnya.

Selanjutnya, dikatakan bahwa perhatian orang tua membantu

anaknya berprestasi yaitu:

1. Menemui guru pada awal tahun pelajaran, menghadiri setiap

pertemuan sekolah, sekali sekali kunjungi ruang kelas dan lihatlah

kegiatan anak, apa yang diajarkan guru, buku apa yang harus

dibaca, berapa banyak pekerjaan rumah yang diberikan guru.

2. Suruhlah anak anda pergi sekolah setiap hari, jangan sampai

absen.

3. Berikanlah perhatian pada apa yang dilakukan anak, perhatikan

peningkatan yang paling kecil dan jangan segan-segan memuji dan

21 Slameto. Beajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. (Jakarta:


Rineka Cipta, 1998) hal. 52

18
jangan sekali-kali mencela atau menghina dan mengejek bila

mereka ada kekurangan.

4. Tanyakanlah apa yang dicapai atau apa yang dilakukan anak di

sekolah.

5. Berbagilah informasi yang dapat membantu guru dalam memahami

anak anda baik dalam pelajaran maupun kepribadiannya.

6. Dukunglah kegiatan anak, berilah pujian atau hadiah bila anak

memperoleh prestasi dalam pekerjaannya.

7. Ajari anak untuk dapat mengajukan pertanyaan, ketika ia

membaca dan diskusikan apa kesimpulan yang dibaca.

8. Setiap anak cenderung memerlukan tempat belajar yang tenang

bebas dari gangguan, serta dilengkapi dengan penerangan yang

baik.

9. Belajar di rumah memerlukan partisipasi orang tua, tetapi harus

diingat bahwa itu pekerjaan rumah anak anda kalau ia tidak tau

bagaimana cara mengeja kata jawablah dengan tepat.22

Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh

terhadap hasil belajar anaknya. Perhatian yang dapat diberikan orang tua

kepada anak dalam kegiatan belajar adalah mengelola kegiatan belajar

anak di rumah dan membantu kesulitan anak dalam belajar yang meliputi :

a. Mengelola kegiatan belajar di rumah:

1. menyediakan fasilitas belajar antara lain peralatan alat tulis

meliputi: fulpen, pensil, mistar penggaris, penghapus, buku-buku

22 Ibid. 54.

19
refrensi, penerangan yang baik. Dalam kegiatan belajar anak pasti

membutuhkan fasilitas-fasilitas itu, maka orang tua yang

bertanggung jawab terhadap kesuksean study siswa akan

berusaha memenuhi kebutuhan tersebut pendapat tersebut

didukung oleh Munandar23 yang menyatakan keadaan rumah

dengan fasilitas yang lebih baik dan lebih banyak akan

memungkinkan anak dapat mengembangkan minat, pengetahuan

dan pengalaman.

2. Mengawasi kegiatan belajar anak di rumah, membiasakan anak

untuk belajar merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam

mencapai keberhasilan. Setiap orang tua mengharapkan agar

anaknya berhasil dalam belajar, oleh karenanya orang tua yang

bijaksana harus mengikuti tingkat kemajuan belajar anaknya.

Selama anak berada ditingkat pendidikan dasar perhatian terhadap

aktivitas belajarnya merupakan hal yang lebih penting dari sekedar

menyediakan fasilitas di rumah, walaupun semua fasilitas terpenuhi

tanpa bimbingan dan kontrol serta pengawasan orang tua hasilnya

belum tentu sesuai dengan yang diharapkan, oleh karena itu sudah

menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan perhatian dalam

pendidikan anak-anaknya. Anak belajar butuh suatu kepastian,

dalam artian penggunaan waktu unuk belajarnya atau jadwal

belajar yang konsisten sehingga belajar dapat dijadikan kegiatan

rutinitas yang pasti. Selain itu anak sejak dini harus dilatih dan

23 Munandar, Utami. S.C. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak


Sekolah. (Jakarta: Gramedia Widiasarana, 1992) hal. 115.

20
dikontrol dalam belajarnya. Gunarsa24 bahwa disiplin diri pada anak

akan dapat dipupuk sejak dini dengan memberikan tata tertib yang

mengatur hidupnya, adanya disiplin diri khususnya dalam belajar

akan memudahkan kelancaran belajar dan keteraturan belajar

makin lebih baik sehingga hasil belajar yang diharapkan akan

tercapai.

3. Mengontrol hasil belajar, denan adanya pengontrolan niali, orang tua

akan dapat melihat sejauh mana kemampuan dan kesulitan yang

dialami anaknya dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau

ulangan yang diberikan guru di sekolah.

b. Membantu kesulitan anak dalam belajar

1. menanyakan dan mendengarkan kesulitan yang dialami anak

dalam belajar, orang tua perlu mengenal kesulitan anak dalam

belajar, karena dengan mengenal kesulitan anak dalam belajar

maka orang tua dapat membantu anak untuk mengatasi kesulitan-

kesulitan tersebut. Disamping mengatur jadwal belajar anak orang

tuapun harus dapat mengenali kesulitan belajar yang dialami

anaknya. Untuk mengenali kesulitan anak dalam belajar orang tua

dapat melakukannya dengan bertanya langsung kepada anaknya

apakah di sekolah ada pelajaran yang sulit diikuti atau dapat pula

bertanya kepada guru mengenai materi-materi apa yang sulit

diikuti oleh anaknya.

24 Gunarsa, D Singgih. Bimbingan Bagi Anak Dan Remaja Bermasalah.


(Bandung: Remaja Rosdakarya,1985) hal. 160.

21
2. Membantu memecahkan kesulitan-kesulitan anak dalam belajar di

rumah. Orang tua perlu memahami anaknya dalam belajar di

rumah, walupun tidak harus terus menerus tetapi paling tidak ketika

anak mengalami kesulitan belajar orang tua akan dapat membantu

memecahkan kesulitan belajarnya, bantuan bisa berupa bimbingan

dan bantuan atau pengarahan yang diberikan kepada anak agar

dapat mengembangkan kemampuan atau potensi yang ada dalam

dirinya. Dalam hal ini yang dimaksud adalah bimbingan yang

diberikan dari orang tua kepada anaknya/siswa. Oleh karena itu

bimbingan dan pengarahan yang diberikan oleh orang tua terhadap

anaknya sangat penting. Hal ini sesuai dengan pendapat Mardapi

mengenai fungsi pokok dari bimbingan, antara lain: (1)

mengungkapkan potensi bakat, kemampuan dan minat anak, (2)

mengarahkan dan menyuburkan pertumbuhan dan perkembangan

anak sesuai dengan potensi, bakat, kemampuan dan minat anak,

(3) mencegah terhadap kelancaran pertumbuhan dan

perkembangan, (4) mengatasi masalah yang dihadapi anak jika ia

mengalaminya, (5) menyajikan informasi yang perlu bagi anak.25

Cara orang tua mendidik anaknya dapat mempengaruhi hasil

belajar anaknya, hal ini dinyatakan bahwa26 keluarga adalah lembaga

pendidikan yang pertama dan utama”. Orang tua yang dapat memberikan

pengarahan dan bimbingan terhadap anaknya dalam menghadapi mata

pelajaran matematika dan menjelaskan pentingnya belajar matematika,

25 Mardapi, loc.cit. 62.


26 Slameto, Wiliardjo, op.cit, p.23.

22
akan merangsang anak untuk menjadi senang dengan mata pelajaran

matematika yang selama ini oleh sebagian anak dianggap pelajaran yang

sulit dan menakutkan. Dalam hal ini maka peran orang tua sangat

diperlukan untuk dapat memberikan pengertian pada anak-anaknya

bahwa mata pelajaran matematika bukanlah pelajaran yang sulit dan

menakutkan.

Berdasarkan uraian di atas, perhatian orang tua adalah cara orang

tuanya memberikan bimbingan belajar di rumah, mendorong untuk belajar,

memberikan pengarahan pentingnya belajar, memperhatikan kebutuhan-

kebutuhan alat yang menunjang pelajaran.

3. Hakikat Konsep Diri

Dasar dari penyesuaian diri bagi individu adalah kesadaran akan

diri dan lingkungan. Kesadaran diri akan mengacu pada gambaran

tentang diri dan penilaian pada diri sendiri. Sedangkan kesadaran

terhadap lingkungan mengacu pada persepsi individu dan lingkungannya,

baik lingkungan sosial, non sosial, fisik maupun psikologis. Gambaran

pada penilaian terhadap diri dan lingkungan ini disebut dengan konsep

diri. Konsep diri dapat diartikan gambaran mental seseorang terhadap

dirinya, pandangan terhadap diri, penilaian terhadap diri, serta usaha

untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri.

Peranan konsep diri bagi individu dalam berprilaku tidak dapat

diragukan lagi, sebab konsep diri merupakan pusat dari perilaku individu.

Safarino27 menjelaskan bahwa konsep diri adalah pemikiran seseorang

27 Safarino, Edward P. and James W. Amstrong. Child And Adolescent

23
tentang ciri khas dirinya yang meliputi ciri-ciri fisik, jenis kelamin,

kecendrungan tingkah laku, watak emosional dan cita-cita. Calhaun28

mengungkapkan, konsep diri adalah pandangan diri anda tentang anda

sendiri yang meliputi tiga dimensi yakni pengetahuan anda tentang diri

anda sendiri, pengharapan mengenai diri anda, dan penilaian tentang diri

anda sendiri.

Dengan demikian, konsep diri adalah pandangan dan perasaan

tentang diri sendiri (persepsi diri). Persepsi diri tersebut dapat bersifat

sosial, fisik, dan psikologis yang diperoleh dari pengalaman berinteraksi

dengan orang lain. Senada dengan definisi ini Smart and Russel29

mengemukakan bahwa konsep diri dibangun dari semua jenis

pengalaman dengan obyek (benda) orang, seorang diri dan dalam

interaksi sosial. Dengan demikian, konsep diri sebagai cara-cara

bagaimana seseorang beraksi terhadap dirinya sendiri yang pada

hakikatnya meliputi empat aspek yaitu : (a) bagaimana orang mengamati

dirinya sendiri (b) bagaimana orang berpikir tentang dirinya sendiri (c)

Bagaimana orang menilai dirinya sendiri dan, (d) bagaimana orang

berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan

mempertahankan diri.30

Setiap macam konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikologis.

Aspek fisik terdiri dari konsep yang dimiliki individu tentang

Development. (London Scott: Foreman And Company, 1980) hal. 386.


28 Calhuan, James F. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan
Kemanusiaan (Penterjemah Satmoko. Semarang. IKIP Semarang, 1990) hal.
67.
29 Smart, Mollie S dan Russel C Smart, Childern Development and
Relationship. (NewYork: The macmilan Company, 1982) hal. 374.
30 Safarino, Edward P. and James W. Amstrong, , loc.cit. 389.

24
penampilannya, kesesuaian dengan aksesnya, arti penting tubuhnya

dalam hubungan dengan perilaku dan gengsi yang diberikan tubuhnya di

mata orang lain. Aspek psikologis terdiri dari konsep individu tentang

kemampuan dan ketidak mampuannya, harga dirinya dan hubungannya

dengan orang lain. Selanjutnya Fahmy31 mengemukakan bahwa konsep

diri merupakan gambaran mental yang dibentuk tentang dirinya

mempunyai tiga sisi yang pertama khusus tentang ide yang diambil dari

kemampuan dan kemungkinannya, boleh jadi gambaran tentang dirinya

sebagai orang yang mempunyai tempat yang memiliki kemampuan untuk

belajar, dan mempunyai kekuatan jasmani. Dengan kata lain, ia mampu

untuk mencapai keberhasilan. Adapun sisi kedua dari pengertian pribadi

hubungannya dengan orang lain. Karena yang sangat mempengaruhi

pandangan hidup tentang dirinya. Sisi ketiga adalah pandangan orang

yang seharusnya terhadap dirinya. Semakin kecil beda antara gambaran

orang tentang dirinya secara nyata dengan pandangan atau gambaran

ideal diangan-angankan, semakin bertambah kematangan dan semakin

dekat tercapainya gambaran tersebut.

Berdasarkan kajian secara mendalam bahwa konsep diri berperan

penting dalam menentukan prilaku seseorang guna mempertahankan

keselarasan batin, mengatasi konflik yang ada pada dirinya dan untuk

menafsirkan pengalaman yang didapatkan. Karena itu konsep diri

diperlukan seseorang untuk dijadikan acuan dan pegangan hidup dalam

menghadapi segala tantangan dan hambatan guna memenuhi kebutuhan


31 Fahmy, Musthafa. Penyesuaian Diri Pengertian dan Peranan dalam
Kesehatan Mental. Peterjemah Zakiah Darojat. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).
Hal. 111-112.

25
meraih prestasi. Konsep diri bukan merupakan pembawaan tetapi

dipelajari dan terbentuk karena seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Semakin luas dan berkualitas interkasi tersebut, pengalaman seseorang

akan semakin mantap membentuk konsep diri lebih rinci dan spesifik.

Flinberg seperti dikutip Sarafino32 menjelaskan bahwa keluarga dan teman

sebaya memberikan sifat-sifat dasar sosial bagi konsep diri.

Adapun orang lain yang dimaksud dan yang akan membubuhkan

tanda pada konsep diri seseorang adalah orang tua, kawan sebaya, dan

masyarakat termasuk guru di sekolah. Orang tua adalah kontak sosial

paling awal yang kita alami dan yang paling kuat. Orang tua mereka

sangat penting, apa yang dikomunikasikan oleh orang tua pada anak lebih

menancap dari pada informasi lain yang diterima anak sepanjang

hidupnya. Orang tua memberi arus informasi yang konstan tentang diri

kita. Lagi pula merekalah yang menolong menetapkan pengharapan kita,

dan orang tua mengajarkan bagaimana menilai diri sendiri. Dalam

keluargalah konsep diri seseorang mulai terbentuk berdasarkan penilaian

orang tua terhadap diri anak. Penilaian tersebut menyangkut penghargaan

dan hukuman terhadap perilaku anak berdasarkan pedoman dan standar

nilai yang dimiliki orang tua.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas konsep diri adalah

persepsi gambaran dan penilaian secara menyeluruh oleh seseorang

terhadap dirinya sendiri yang meliputi aspek fisik, psikis, sosial dan status

akademik atau kemampuan akademik yang dimiliki.

32 Safarino, Edward P. and James W. Amstrong, , loc.cit. 510.

26
4. Hakikat Kemandirian Belajar

Upaya meningkatkan kemandirian belajar kiranya baik juga dimulai

pembicaraan mengenai pentingnya kemandirian. Kemandirian merupakan

jawaban yang ampuh dalam menghadapi tantangan dan perkembangan

zaman bagi setiap orang termasuk pelajar dalam menjawab tantangan

maupun hambatan belajar. Tantangan tersebut meliputi tantangan akibat

perubahan-perubahan dan perkembangan segala aspek kehidupan.

Orang yunani berseru: “Kenalilah diri sendiri” artinya pribadi mandiri

adalah dia yang tahu siapa dia dan apa yang harus dilakukan.

Istilah kemandirian berasal dari kata mandiri yang berarti berdiri

sendiri, yaitu suatu keadaan yang memungkinkan seseorang mengatur

dan mengarahkan diri sendiri sesuai tingkat perkembangannya. Menururt

Darodzat33 mengemukakan bahwa kemandirian adalah

kecendrungan anak untuk melakukan sesuatu yang diingini tanpa minta

tolong pada orang lain, juga dapat mengarahkan kelakuannya tanpa

tunduk pada orang lain. Sedangkan, Smart, Mollie S dan Russel34

mendefinisikan kemandirian dari kebalikannya yaitu, menggantung yang

dicirikan sebagai perilaku pasif dalam menghadapi hambatan,

membutuhkan dorongan dan bantuan apabila menghadapi masalah

tertentu. Pendapat lain tentang kemandirian dikemukakan oleh Holstein35

yang mengatakan bahwa kemandiria adalah penampilan seseorang yang

33 Darojat, Zakiah. Perawatan Jiwa Untuk Anak. Jakarta. Bulan Bintang, 1983)
hal. 130.
34 Smart, Mollie S dan Russel C Smart. Childern Development and Relationship.
(NewYork: The macmilan Company, 1982) hal. 272
35 Holstein, Herman. Murid Belajar Mandiri. Penterjemah Suparno. (Bandung: Remaja
Karya. 1986) hal. IX-XIII.

27
sikap dan perbuatannya menandakan keswakarsaan (berbuat sendiri

secara aktif dalam memberikan pendapat, penilaian pengambilan

keputusan dan pertanggung jawaban. Selanjutnya tindakan tersebut

merupakan respons yang muncul secara spontan sebagai cerminan

percaya diri seseorang yang mandiri.

Kemandirian belajar siswa akan dapat mengembangkan nilai,

sikap, pengetahuan dan keterampilan dalam hal sebagai berikut: (1)

membuat keputusan yang bertanggung jawab, (2) menentukan aktivitas

belajar sesuai keinginan sendiri, (3) membuat pengertian sesuai

pemahaman, (4) menyadari tentang kenapa dan bagaimana memperoleh

pengetahuan baru sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.

Selanjutnya, From36 menyatakan belajar merupakan suatu proses psikis

yang terjadi dalam interaksi aktif antara subyek dan lingkungannya.

Proses tersebut menghasilkan perubahan dalam pengetahuan,

pemahaman, keterampilan, nilai yang bersifat tetap.

Perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru, yang segera

tampak dalam prilaku nyata maupun tersembunyi. Proses belajar dapat

berlangsung bila disertai kesadaran dan intensitas kemauan dari individu

yang belajar. Sikap dan perbuatan yang ditujukan dalam kemandirian

merupakan kebutuhan dasar dari setiap individu untuk

mengaktualisasikan potensi dan kemampuan diri untuk mencapai

kepuasan sendiri. Adapun kepuasan yang diperoleh orang yang mandiri

tidak bergantung pada lingkungan dan orang lain disekitarnya, tetapi

36 From, Erich. Memiliki dan Menjadi. Terjemahan F Susilohardjo (Jakarta: LP3ES, 1987)
hal. 1.

28
tergantung pada potensi-potensi yang mereka miliki.

Berdasarkan analisis tentang konsep dan teori-teori di atas dapat

disimpulkan bahwa kemandirian adalah kebebasan dari pengaruh orang

lain sehingga mampu berbuat, bertindak, dan berfikir atas dasar kreatif

dan penuh inisiatif, percaya diri, bertanggung jawab serta mampu

mengatasi problem yang dihadapi, dan melakukan hal yang menurutnya

baik atas integritas dirinya. Jadi yang dimaksud dengan kemandirian

belajar dalam penelitian ini adalah kemandirian seseorang dalam kegiatan

belajarnya. Kemandirian belajar mendorong seseorang mengambil prinsip

terhadap kegiatan serta segala aspek kegiatan belajarnya. Kemandirian

belajar siswa diwujudkan dengan adanya inisiatif pada kegiatan belajar.

Kebebasan bertindak sesuai nilai yang diajarkan. Keyakinan dalam setiap

kegiatan belajar dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas belajarnya.

B. Kerangka Berpikir

1. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap

Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa

Aktivitas belajar guna meningkatkan prestasi belajar sering

menemui kesulitan-kesulitan. Berbagai kesulitan itu harus diatasi agar

pencapaian tujuan belajar secara optimal dapat diwujudkan. Upaya

mengatasi berbagai kesulitan itu tidak cukup dibebankan kepada anak.

Orang tua mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk membantu

meringankan atau mengatasi kesulitan yang dihadapi anak.

Siswa dengan intensitas perhatian yang tinggi akan cepat untuk

mencari bantuan dalam menyelesaikan tugas ataupun kesulitan yang

29
dihadapi dalam belajar. Dengan perhatian atau bimbingan orang tua yang

dilakukan secara kontinu maka orang tua juga dapat mengetahui sedini

mungkin kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar. Walaupun orang tua

tidak memahami dan menguasai bahasa Inggris, tetapi dengan perhatian

yang cukup diarahkan kepada anaknya, akan mudah dibantu melalui

proses bimbingan atau melalui kursus-kursus singkat bahasa Inggris.

Tentu saja orang tua segera mengambil sikap yang positif untuk

membantu anaknya dalam menghadapi masalah belajar. Berdasarkan

uraian di atas, diduga terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap

prestasi belajar bahasa Inggris siswa.

2. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap

Konsep Diri Siswa

Dalam aktivitas belajar anak sering menemui kesulitan-kesulitan.

Berbagai kesulitan itu harus diatasi agar pencapaian tujuan belajar secara

optimal dapat diwujudkan. Upaya mengatasi berbagai kesulitan itu tidak

cukup dibebankan kepada anak. Orang tua mempunyai tugas dan

tanggung jawab untuk membantu meringankan atau mengatasi kesulitan

yang dihadapi anak.

Pentingnya keterlibatan orang tua dalam menangani kesulitan

belajar anak didasarkan pada beberapa pertimbangan: (1) Anak umumnya

belum sepenuhnya dapat mandiri dalam kegiatan belajar, (2) Lingkungan

keluarga, merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak, (3)

Waktu terbanyak yang digunakan anak adalah di rumah.

30
Dengan pemberian bimbingan yang sungguh-sungguh orang tua

dapat memahami berbagai kebutuhan anaknya, khususnya kebutuhan

untuk belajar. Memahami kesulitan belajar yang dihadapi memahami

faktor-faktor yang menyebabkan munculnya kesulitan tersebut. Dengan

mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi anak orang tua dapat

memberikan saran, arahan, petunjuk bahkan perintah pada anak guna

mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

Pemecahan masalah kesulitan belajar akan memberikan

sumbangan terhadap konsep diri pada anak, pada akhirnya dapat

meningkatkan prestasi belajar. Perhatian yang diberikan orang tua

terhadap anaknya akan menciptakan seseorang anak paham terhadap

dirinya sendiri yang meliputi aspek fisik, psikis, sosial dan status akademik

atau kemampuan akademik yang dimiliki. Dengan demikian, diduga

terdapat pengaruh yang signifikan dari perhatian orang tua terhadap

konsep diri siswa.

3. Pengaruh Perhatian Orang Tua Terhadap Kemandirian Belajar

Siswa

Orang tua sangat bertanggung jawab atas kemajuan studi

putra/putrinya. Jika orang tua kurang perhatian dan pengawasan terhadap

anaknya mengakibatkan kecendrungan bebas mutlak, pengawasan bukan

berarti menghambat atau menekan akan tetapi mendorong ke arah

kesadaran diri sehingga diharapkan muncul kemandirian dalam belajar.

Perhatian orang tua sangat penting dalam menumbuhkan kemandirian

siswa dalam belajar, seperti dukungan dan penghargaan.

31
Jika orang tua cenderung kurang menghargai prestasi belajar anak

mereka, tidak akan dapat mendorong siswa tersebut untuk mandiri dalam

mencapai hasil belajar yang baik di sekolah. Hal-hal yang perlu

diperhatikan orang tua adalah menghargai prestsi belajar anak disekolah,

memperhatikan dan mengikuti perkembangan anak dalam pelajaran

(seperti memeriksa kerapian buku pelajaran, buku latihan, dan pekerjaan

rumah) memberikan contoh yang baik langsung kepada anak.

Berdasarkan hal tersebut di atas, diduga bahwa segala bentuk

perhatian orang tua yang diberikan pada anak mereka akan

mempengaruhi kemandirian belajar siswa (anak mereka).

4. Pengaruh Konsep Diri Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Inggris

Siswa

Prestasi belajar bahasa Inggris dipengaruhi oleh beberapa faktor,

yaitu faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internal adalah

konsep diri. Konsep diri memberikan kekuatan mental yang mendorong

terjadinya proses belajar, sehingga anak yang dengan sendirinya akan

menganggap bahwa belajar tidak lagi menjadi kewajiban namun belajar

menjadi kebutuhan. Bila siswa memiliki konsep diri yang tinggi maka

belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan karena akan menemukan

hal-hal baru yang setiap hari. Siswa tersebut akan mampu mengamati

dirinya sendiri, berpikir tentang dirinya sendiri, menilai dirinya sendiri, dan

berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan

mempertahankan diri.

Dengan konsep diri yang tinggi secara langsung akan

32
mempengaruhi prestasi belajar. Karena siswa yang memiliki konsep diri

yang tinggi tidak akan menunda kegiatan belajarnya, akan selalu

mengerjakan tugas-tugas rumah, selalu mencari informasi sehingga akan

meningkatkan prestasi belajarnya. Berdasarkan uraian di atas, diduga

terdapat pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar.

5. Pengaruh Konsep Diri Terhadap Kemandirian Belajar Siswa

Konsep diri mengandung unsur deskripsi-evaluatif yaitu merupakan

pendapat dan pandangan atau penilaian terhadap diri sendiri. Seseorang

mungkin akan memberikan pendapat atau penilaian yang salah (keliru)

tentang dirinya, misalnya ia menganggap dirinya orang yang bodoh.

Pernyataan semacam ini merupakan indikator bahwa orang tersebut

memiliki konsep diri yang negatif tentang kemampuan dirinya atau

mungkin sebaliknya jika orang tersebut memiliki konsep diri yang positif.

Siswa yang memiliki kemandirian belajar yang sangat tinggi dapat

membuat keputusan yang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang

diberikan kepadanya, menentukan aktivitas belajar sesuai keinginan

sendiri sehingga dapat menggunakan waktu untuk belajar baik dilakukan

dalam atau di luar sekolah, membuat pengertian sesuai pemahaman yang

dikonstruksi dari hasil interaksi dengan sumber belajar, menyadari tentang

betapa pentingnya memperoleh pengetahuan baru sesuai dengan minat

dan kebutuhan mereka.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diduga bahwa konsep diri yang

positif akan bepengaruh terhadap kemandirian belajar siswa.

33
Kemandirian belajar akan tumbuh apabila pada diri seseorang memiliki

pemahaman yang positif terhadap permasalahan pembelajaran yang

dihadapi.

6. Pengaruh Kemandirian Belajar Terhadap Prestasi Belajar Bahasa

Inggris Siswa

Penyampaian pelajaran bahasa Inggris yang menuntut cara belajar

siswa aktif, mengharuskan partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan

pembelajaran. Partisipasi aktif tersebut akan dapat terlaksana apabila

ditunjang oleh kemandirian belajar peserta didik secara sosial psikologis

adalah penting karena individu pada hakekatnya selalu berusaha

menyesuaikan diri secara aktif dengan lingkungannya. Tanpa kemandirian

segala usaha sulit dilakukan dengan mantap untuk mengelola hidup dan

lingkungan. Tanpa kemandirian individu tidak mungkin dapat

mempengaruhi dan menguasai lingkungan, tetapi akan lebih banyak

tergantung pada lingkungan dan dikuasai lingkungan.

Oleh karena itu kemandirian sangat penting bagi peserta didik

sebab kemandirian merupakan modal dasar bagi peserta didik dalam

menetukan sikap dan tindakan terhadap proses belajarnya. Karena belajar

merupakan proses psikis, maka keberhasilan belajar banyak ditentukan

oleh individu itu sendiri. Kemandirian belajar seseorang mendorong untuk

berprestsi, berinisiatif dan berkreasi. Dengan itu kemandirian dapat

mengantar seseorang menjadi produktif, serta mendorongnya menuju ke

arah kemajuan dan selalu ingin maju lagi. Kemandirian belajar ditunjukan

34
dengan otonomi dalam merencanakan, mengorganisir dan mengevaluasi

kegiatan belajarnya. Dengan demikian dapat diduga adanya pengaruh

kemandirian belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar

terhadap prestasi belajar bahasa Inggris yang dicapai.

C. Hipotesis

Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka pikir tersebut di atas,

maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

(1) Terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi belajar

bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

(2) Terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap kemadirian belajar

siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

(3) Terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap konsep diri siswa

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

(4) Terdapat pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar siswa

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

(5) Terdapat pengaruh konsep diri terhadap kemandirian belajar siswa

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

(6) Terdapat pengaruh kemandirian belajar terhadap prestasi belajar

siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar.

35
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini adalah untuk menguji apakah :

1. Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap prestasi

belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

2. Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap konsep

diri siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

3. Apakah terdapat pengaruh perhatian orang tua terhadap

kemandirian belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

4. Apakah terdapat pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar

bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

36
5. Apakah terdapat pengaruh konsep diri terhadap kemandirian

belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar?

6. Apakah terdapat pengaruh kemandirian belajar terhadap prestasi

belajar bahasa Inggris siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2

Makassar?

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada Sekolah Madrasah Aliyah Negeri

(MAN) 2 Makassar dan berlangsung selama lima bulan (Satu Semester)

mulai pada tanggal 15 Pebruari sampai dengan bulan Juli 2009.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Survey kausal dengan teknik analisis

jalur. Adapun konstelasi masalahnya adalah sebagai berikut:

Keterangan:

37
X1 : Perhatian orang tua

X2 : Konsep diri

X3 : Kemandirian belajar

X4 : Prestasi Belajar Siswa

D. Teknik Pengambilan Sampel

Populasi target penelitian ini adalah seluruh siswa MAN Negeri 2

Makasar Tahun Pelajaran 2008/2009, dan populasi terjangkau penelitian

ini adalah siswa kelas X MAN 2 Makasar Tahun Pelajaran 2008/2009,

berjumlah 430 Siswa. Sedangkan, sampel penelitian ini ditentukan dengan

menggunakan Simple Ramdom Sampling, dengan persentase 15 % dari

populasi terjangkau. Hal ini mengacu dari pendapat dari Arikunto (2002:

107) apabila populasi kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semua,

apabila lebih dari 100 maka dapat diambil sampel 10–15 % atau 20–25%.

Jumlah sampelnya adalah 65 orang siswa.

F. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian dengan menggunakan instrumen non

tes dan dokumentasi sekolah. Untuk data perhatian orang tua, konsep

diri, dan kemandirian belajar siswa, data dikumpulkan dengan

menggunakan instrumen non tes berbentuk angket dengan skala Linkert

yang dimodifikasi. Sedangkan data prestasi belajar siswa dikumpulkan

dari dokumen sekolah yaitu dari leger nilai rapor semester ganjil. Angket

diisi oleh siswa secara langsung, hal yang menjadi pertimbangan peneliti

38
karena sebagai objek penelitian adalah siswa kelas X, maka siswa

tersebut peneliti asumsikan sudah dapat memahami isi pernyataan yang

peneliti buat dalam rangka pengumpulan data.

Untuk mempermudah peneliti dalam pengambilan data, maka

peneliti meminta bantuan kepada guru untuk membagikan angket serta

mengumpulkan kembali. Angket dibagikan kepada seluruh siswa kelas X

yang terpilih menjadi sampel, hal ini dilakukan untuk mengurangi bias

dalam menjawab pertanyaan yang ada.

1. Variabel Perhatian Orang Tua

a. Definisi konseptual
Perhatian orang tua adalah cara orang tuanya memberikan

bimbingan belajar di rumah, mendorong untuk belajar, memberikan

pengarahan pentingnya belajar, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan alat

yang menunjang pelajaran.

b. Definisi Operasional

Perhatian orang tua adalah skor yang diperoleh melalui angket.

Skor ini mengambarkan tentang bagaimana orang tua, memberikan

bimbingan belajar di rumah, mendorong untuk belajar, memberikan

pengarahan pentingnya belajar, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan alat

yang menunjang pelajaran. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka

semakin tinggi pemberian perhatian orang tua kepada anaknya.

c. Kisi-Kisi Instrumen Perhatian Orang Tua

Berdasarkan definisi konseptual dan operasional tersebut, disusun

39
kisi-kisi instrumen dengan mengacu pada aspek aspek teori yang ada.

Tabel 1. Kisi- kisi instrumen perhatian orang tua

Variabel Indikator Pernyataan Jumlah


Positif Negatif + − Σ
Perhatian
1. Memberikan bimbingan
Orang
belajar di rumah
tua

2. Mendorong untuk belajar


3. Memberikan pengarahan
pentingnya belajar
4. Memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan
alat yang menunjang
pelajaran
Jumlah

d. Kalibrasi Instrumen

Sebelum instrumen tentang perhatian orang tua ini digunakan

untuk mengambil data, maka instrumen ini diujiobakan dulu. Hal ini

dilakukan untuk mengetahui validitas dan realibilitas instrumen tersebut.

Uji coba dilakukan terhadap siswa yang bukan menjadi sample penelitian,

sehingga siswa yang akan dijadikan sebagai objek penelitian tidak akan

mengisi angket yang sama sebanyak 2 kali.

1. Validitas Instrumen

Setelah instrumen diuji coba, maka dilakukan uji validitas, untuk

mengetahui sejauh mana suatu alat pengumpul data dapat mengukur apa

40
yang hendak diukur. Validitas instrumen dilakukan dengan mengadakan

analisis terhadap butir instrumen dengan menggunakan teknik korelasi

pearson Product Moment. Pengolahan data untuk mencari validitas

intrumen menggunakan program Microsoft Excel.

Rumus korelasi Product Moment adalah :

NΣXY − (ΣX )(ΣY )


rXY =
{NΣX 2
− ( ΣX )
2
}{NΣY 2
− ( ΣX )
2
}

Keterangan :

rXY = Koefisien korelasi antara variable X dan variable Y, dua variable


yang dikorelasikan.

N = Jumlah sampel

∑ XY = Jumlah hasil perkalian antara skor butir X dan skor total butir Y

∑X = Jumlah seluruh skor butir X

∑Y = Jumlah seluruh skor total Y

Program Microsoft Excel for windows digunakan untuk membantu

mendapatkan hasil koefisien korelasi setiap butir dengan skor total. Harga

r tersebut ditransformasikan ke harga t, sehingga diperoleh thitung =

rxy n − 2
2
1 − rxy
, Butir soal secara empiris dianggap valid apabila harga thitung >

ttabel pada paraf α = 0,05.

2. Reliabilitas Instrumen

41
Reliabilitas instrumen dalam peneitian ini dicari menggunakan

rumus koefisien alfa (Cranbach’s Alpha) dalam Arikunto (2002: 109)

berikut :

 n  Σσ i 
2

rii =  1 − 
 n − 1  σi
2 

Keterangan:

rii = reabilitas yang dicari


n = jumlah butir soal valid
2
∑σ i = Jumlah varians skor tiap-tiap butir
2
σi
= varians total.

2. Variabel Konsep Diri

a. Definisi konseptual

Konsep diri adalah persepsi gambaran dan penilaian secara

menyeluruh oleh seseorang terhadap dirinya sendiri yang meliputi aspek

fisik, psikis, sosial dan status akademik atau kemampuan akademik yang

dimiliki.

b. Definisi Operasional

Konsep diri adalah skor total yang diperoleh siswa setelah

42
menjawab kuesioner yang berbentuk skala dengan rentang angka 1 (satu)

hingga 5 (lima). Konsep diri siswa diukur dengan menggunakan

gambaran kuesioner skala linkert yang telah dimodivikasi, butir

pernyataan yang mencerminkan gambaran dan penilaian pada diri siswa

yang meliputi aspek fisik, psikis, sosial dan status akademik.

c. Kisi- kisi Instrumen Konsep Diri

Berdasarkan definisi konseptual dan operasional tersebut, disusun

kisi-kisi instrumen dengan mengacu pada aspek aspek teori yang ada.

Tabel 2. Kisi- kisi instrumen Konsep diri

Nomor Jumla
No Dimensi Indikator
Item h
1. Fisik - Fakta tentang kondisi fisik

(wajah, bentuk tubuh dan

penampilan)

- Kelebihan dan kekurangan

fisik diri sendiri


2 Psikis - Tidak rendah diri

- Mengakui, jika bersalah

- Mengendalikan diri

- Kesadaran diri dalam


beragama
3 Sosial - Mudah menyesuaikan diri

- Aktif Berorganisasi

- Setia Kawan

- Hubungan dengan Keluarga


4 Akademik - Kesadaran dalam belajar

43
- Kedudukan (Prestasi) di
kelas

- Realistis menilai kemampuan


diri

d. Kalibrasi Instrumen

Sebelum instrumen tentang konsep diri ini digunakan untuk

mengambil data, maka instrumen ini diujiobakan dulu. Hal ini dilakukan

untuk mengetahui validitas dan realibilitas instrumen tersebut. Uji coba

dilakukan terhadap siswa yang bukan menjadi sample penelitian,

sehingga siswa yang akan digunakan sebagai objek penelitian tidak akan

mengisi angket yang sama sebanyak 2 kali.

1. Validitas Instrumen

Setelah instrumen diuji coba, maka dilakukan uji validitas, untuk

mengetahui sejauh mana suatu alat pengumpul data dapat mengukur apa

yang hendak diukur. Validitas instrumen dilakukan dengan mengadakan

analisis terhadap butir instrumen dengan menggunakan teknik korelasi

pearson Product Moment. Pengolahan data untuk mencari validitas

intrumen menggunakan program Microsoft Excel.

Rumus korelasi Product Moment adalah :

NΣXY − (ΣX )(ΣY )


rXY =
{NΣX 2
− ( ΣX )
2
}{NΣY 2
− ( ΣX )
2
}

44
Keterangan :

rXY = Koefisien korelasi antara variable X dan variable Y, dua variable


yang dikorelasikan.

N = Jumlah sampel

∑ XY = Jumlah hasil perkalian antara skor butir X dan skor total butir Y

∑X = Jumlah seluruh skor butir X

∑Y = Jumlah seluruh skor total Y

Program Microsoft Excel for windows digunakan untuk membantu

mendapatkan hasil koefisien korelasi setiap butir dengan skor total. Harga

r tersebut ditransformasikan ke harga t, sehingga diperoleh thitung =

rxy n − 2
2
1 − rxy
, Butir soal secara empiris dianggap valid apabila harga thitung >

ttabel pada paraf α = 0,05.

2. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas instrumen dalam peneitian ini dicari menggunakan rumus

koefisien alfa (Cranbach’s Alpha) dalam Arikunto (2002: 109) berikut :

 n  Σσ i 
2

rii =   1 − 
 n − 1  σi 
2

Keterangan:

rii = reabilitas yang dicari

45
n = jumlah butir soal valid
2
∑σ i = Jumlah varians skor tiap-tiap butir
2
σi
= varians total

3. Variabel Kemandirian Belajar

a. Definisi Konseptual

Kemandirian belajar adalah sikap mandiri siswa dalam kegiatan

belajar. Kemandirian belajar pada suatu bidang studi ditandai dengan

adanya kreatif pada kegiatan belajar, kebebasan dalam bertindak,

keyakinan dalam kegiatan belajar dan bertanggung jawab dalam setiap

aktivitas belajarnya.

b. Definisi Operasional

Kemandirian belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

sejumlah skor dari pertanyaan yang mencerminkan kreatif, kebebasan,

keyakinan dan tanggung jawab ditandai dengan adanya berbagai inisiatif

belajar, ingin mendapat pengalaman baru, berusaha mengatasi masalah.

Untuk mengungkap kemandirian belajar siswa digunakan skala likert

dengan lima pilihan.

c. Kisi-kisi Instrumen Kemandirian Belajar

Berdasarkan definisi konseptual dan operasional tersebut, disusun

kisi-kisi instrumen dengan mengacu pada aspek aspek teori yang ada.

Tabel 3. Kisi- kisi instrumen kemandirian belajar

46
Nomor
No Dimensi Indikator Jumlah
Item
1. Kreatif dalam - Mempunyai inisiatif
Kegiatan - Ingin mendatkan
belajar pengalaman baru
- Berusaha mengatasi
masalah
2 Kebebasan - Tidak menggantungkan
dalam pada orang lain
bertindak - Melakukan tugas dengan
sesuai nilai senang hati.
yang di-ajarkan - Puas akan usahanya
- Perasaan aman bila
berbeda pandapat dengan
orang lain
3 Keyakinan - Percaya diri
dalam - Tegas
bertindak - Teguh pendirian
4 Tanggung - Disiplin
Jawab - Berani menanggung resiko
- Tepat Waktu
- Mengontrol tugas

d. Kalibrasi Instrumen

Sebelum instrumen tentang kemandirian belajar ini digunakan

untuk mengambil data, maka instrumen ini diujiobakan dulu. Hal ini

dilakukan untuk mengetahui validitas dan realibilitas instrumen tersebut.

Uji coba dilakukan terhadap siswa yang bukan menjadi sample penelitian,

sehingga siswa yang akan digunakan sebagai objek penelitian tidak akan

mengisi angket yang sama sebanyak 2 kali.

1. Validitas Instrumen

Setelah instrumen diuji coba, maka dilakukan uji validitas, untuk

mengetahui sejauh mana suatu alat pengumpul data dapat mengukur apa

yang hendak diukur. Validitas instrumen dilakukan dengan mengadakan

47
analisis terhadap butir instrumen dengan menggunakan teknik korelasi

pearson Product Moment. Pengolahan data untuk mencari validitas

intrumen menggunakan program Microsoft Excel.

Rumus korelasi Product Moment adalah :

NΣXY − (ΣX )(ΣY )


rXY =
{NΣX 2
− ( ΣX )
2
}{NΣY 2
− ( ΣX )
2
}

Keterangan :

rXY = Koefisien korelasi antara variable X dan variable Y, dua variable


yang dikorelasikan.

N = Jumlah sampel

∑ XY = Jumlah hasil perkalian antara skor butir X dan skor total butir Y

∑X = Jumlah seluruh skor butir X

∑Y = Jumlah seluruh skor total Y

Program Microsoft Excel for windows digunakan untuk membantu

mendapatkan hasil koefisien korelasi setiap butir dengan skor total. Harga

r tersebut ditransformasikan ke harga t, sehingga diperoleh thitung =

rxy n − 2
2
1 − rxy
, Butir soal secara empiris dianggap valid apabila harga thitung >

ttabel pada paraf α = 0,05.

2. Reliabilitas Instrumen

48
Reliabilitas instrumen dalam peneitian ini dicari menggunakan

rumus koefisien alfa (Cranbach’s Alpha) dalam Arikunto (2002: 109)

berikut :

 n  Σσ i 
2

rii =  1 − 
 n − 1  σi
2 

Keterangan:

rii = reabilitas yang dicari


n = jumlah butir soal valid
2
∑σ i = Jumlah varians skor tiap-tiap butir
2
σi
= varians total

G. Teknik Analisis Data

Setelah memperoleh data hasil penelitian maka langkah awal

adalah melakukan analisis dengan menggunakan metode statistik

deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk

mendeskripsikan data hasil penelitian sehingga dapat mengambarkan

karakteristik penyebaran nilai atau skor rata-rata (mean), median (Md),

modus (Mo) varians dan simpangan baku (Sd), serta visualisasi data

berupa tabel dan grafis histogram. Guna mendapatkan hasil yang

diinginkan dilakukan serangkaian kegiatan berupa: (1) mengkompilasi dan

mensortir data secara manual, (2) mentabulasikan data, (3) mengolah dan

menganalisis data.

Statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang

diajukan dalam penelitian uji persyaratan analisis data sebagaimana

49
dipersyaratkan dalam pengujian hipotesis. Sebelum diadakan pengujian

hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas, homogenitas, dan

linieritas. Uji normalitas data terhadap variabel-variabel penelitian dengan

menggunakan statistik Kolmogorov-Smirnov.

Hipotesis yang diuji adalah:

Ho : Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal

H1 : Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal

Kriteria uji:

Jika signifikan yang diperoleh > α, maka sampel berasal dari

populasi berdistribusi normal.

Jika signifikan yang diperoleh < α, maka sampel bukan berasal dari

populasi berdistribusi tidak normal.

Taraf signifikan uji adalah α = 0,05.

Pengujian homogenitas variansi data dilakukan dengan

mempergunakan pengujian lewat komputer (Levene Test). Kriteria yang

digunakan melalui pengujian lewat komputer adalah: Jika signifikan yang

diperoleh > α, maka variansi setiap sampel sama (homogen) dan jika

signifikan yang diperoleh < α, maka variansi setiap sampel tidak sama

(tidak homogen).

Bila segala persyaratan diatas terpenuhi, maka analisis dilanjutkan

dengan model analisis untuk menguji hipotesis. Model analisis untuk

menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis).

50
H. Hipotesis Statistik

Berdasarkan hipotesis yang telah dikemukakan di atas, maka

bentuk hipotesis statistik yang akan diuji dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Hipotesis pertama Ho : ρ 41 = 0

H1 : ρ 41 > 0

2. Hipotesis kedua Ho : ρ 31 = 0

H1 : ρ 31 > 0

3. Hipotesis ketiga Ho : ρ 21 = 0

H1 : ρ 21 > 0

4. Hipotesis keempat Ho : ρ 43 = 0

H1 : ρ 43 > 0

5. Hipotesis kelima Ho : ρ 32 = 0

H1 : ρ 32 > 0

6. Hipotesis keenam Ho : ρ 42 = 0

H1 : ρ 42 > 0.

DAFTAR PUSTAKA

51
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosudur Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.

Calhuan, James F. 1990. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan


Kemanusiaan. Penterjemah Satmoko. Semarang. IKIP Semarang.

Darojat, Zakiah. 1983. Perawatan Jiwa Untuk Anak. Jakarta. Bulan


Bintang.

Drost, SJ. 1993. Menjadi Pribadi Dewasa dan Mandiri. Yogyakarta.


Kaninsius.

Fahmy, Musthafa. 1982. Penyesuaian Diri Pengertian dan Peranan dalam


Kesehatan Mental. Peterjemah Zakiah Darojat. Jakarta. Bulan
Bintang.

From, Erich. 1987. Memiliki dan Menjadi. Terjemahan F Susilohardjo.


Jakarta LP3ES.

Gunarsa, D Singgih. 1985. Bimbingan Bagi Anak Dan Remaja


Bermasalah. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung. Sinar


Baru Algensindo.

Holstein, Herman. 1986. Murid Belajar Mandiri. Penterjemah Suparno.


Bandung. Remaja Karya.

Mardapi, Djemari. 1984. Faktor-faktor yang menentukan Prestasi Belajar


Mahasiswa FPTK IKIP Yogyakarta. Jakarta. Tesis. Fakultas
Pascasarjana IKIP.

Said, Abd. Muis, Rusdi, dan Yaumi, Muhammad. English Instruction in


UIN Alauddin: A Case Study of PIKHI Program. Makassar:
Lembaga Penelitian UIN Alauddin, 2008.

Munandar, Utami. S.C. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas


Anak Sekolah. Jakarta. Gramedia Widiasarana.

Pratista, Arif. 2002. Aplikasi SPSS 10.05 dalam Statistik dan Rancangan
Percobaan. Bandung. Alfabeta.

Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta.


Balai Pustaka.
Rakhmat, Jalaludin. 1996. Psikologi Komunikasi. Bandung. Remaja
Rosdakarya.

52
Rusyan, A. Tabrani. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung. Remaja Rosdakarya.

Safarino, Edward P. and James W. Amstrong. 1980. Child And


Adolescent Development. London Scott. Foreman And Company.

Sarifah, Eva. 2002. Pengaruh Sistem Penilaian Dalam Meningkatkan


Motivasi Belajar ditinjau dari Gaya Belajar. Tesis: Jakarta. PPS
UNJ. (tidak diterbitkan).

Slameto. 1998. Beajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta.


Rineka Cipta.

Smart, Mollie S dan Russel C Smart. 1982. Childern Development and


Relationship. NewYork. The macmilan Company.

Sukamto, Toeti dan Udin S. Winataputra. 2001. Prinsip Belajar dan


Pembelajaran. Jakarta. PAU-PPAI Universitas Terbuka.

Sopah, Djamaah. 2000. Pengaruh Model Pembelajaran dan Motivasi


Berprestasi Terhadap Hasil Belajar. Jakarta. Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan. No. 022 Tahun ke-5 Maret 2000 h 121-137.

Suryabrata, Sumadi. 2000. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo


Persada.

Tilaar. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. (Dalam


Perspektif Abad 21). Jakarta. Indonesia Tera.

Walgito, Bimo. 1995. Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi.


Yogyakarta. Fak Psikologi UGM.

Winkel,W.S. 2004. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta.


Gramedia.

Yaumi, Muhammad, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Antara Harapan


dan Kenyataan, 2005 (http://re-earchengines.com/1205yaumi.html).

53