Anda di halaman 1dari 2

BAB IV PEMBAHASAN

Psoriasis merupakan suatu penyakit autoimun bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, serta disertai dengan fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Insidensi pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 1:4 (Preus, 2010). Psoriasis lebih sering terjadi pada usia 15-35 tahun (Dreyer dan Cohen, 2012). Pada studi ini, pasien didiagnosis dengan Psoriasis Vulgaris dan Psoriasis Pustulosa Generalisata. Pasien berusia 55 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Pasien mengeluhkan gejala timbulnya bercak kemerahan dan bersisik tebal pada kedua kaki dan terasa gatal sejak 3 bulan yang lalu dan 3 hari yang lalu timbul beruntus-beruntus berisi nanah pada tungkai bawah dan meluas ke dada, lengan atas, dan punggung. Pasien juga didiagnosis dengan diagnosis jiwa Axis I, yaitu faktor psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit YDK dan suspek gangguan mental dan perilaku yang terjadi akibat kerusakan otak akibat trauma. Pada studi ini diketahui bahwa pasien mengeluhkan mulut yang terasa kering dan tepi bibir yang terasa perih. Diketahui bahwa pasien diberikan obat sistemik untuk terapi gangguan jiwa berupa obat haloperidol sebanyak 2 x 0,75 mg. Haloperidol merupakan obat antipsikotik pertama dari turunan butiferon. Obat ini terikat pada reseptor muskarinik (antikolinergik). Obat-obat

34

35

antikolinergik adalah obat-obat yang menstimulasi saraf parasimpatik dengan melepaskan neurohormon astilkolin. Obat ini digunakan untuk menstimulasi peristaltis, meningkatkan sekresi kelenjar ludah, getah lambung, dan air mata, dan memperkuat sirkulasi dengan mengurangi lendir dan mengendurkan otot-otot saluran nafas. Haloperidol yang diberikan kepada pasien merupakan obat yang terikat pada reseptror antikolinergik sehingga menghambat sekresi kelenjar ludah. Efek samping autonom yang ditimbulkan oleh haloperidol adalah mulut kering yang ternyata dirasakan oleh pasien. Keluhan mulut kering yang dirasakan oleh pasien merupakan efek samping dari pemberian sistemik haloperidol. Pada pasien ini ditemukan juga cheilitis angularis. Cheilitis angularis ini dapat disebabkan oleh defisiensi vitamin B kompleks. Berdasarkan hasil tes laboratorium, terlihat nilai leukosit yang di atas normal, sebesar 12.500 (nilai rujukan 4400-11300). Hal ini dapat dikaitkan dengan adanya inflamasi atau peradangan yang memiliki gejala seperti kalor, rubor, dan dolor yang memang dikeluhkan oleh pasien. Pada pasien ini juga ditemukan atrofi pada papila lidah akibat penyakit sistemik yang diderita, yaitu psoriasis. Biasanya, psoriasis dikaitkan dengan manifestasi oral seperti geographic tongue atau fissured tongue, namun pada pasien ini tidak ditemukan kedua hal tersebut, hanya atrofi pada papila lidah.