Anda di halaman 1dari 21

1

PROBABILITAS DAN
STATISTIK
Suraya
Jurusan Matematika
Program Manajemen Informatika

Evaluasi
Komponen
Kehadiran dan partisipasi : 10 %
Tugas 1 :
Tugas 2 : 25% (+quiz)
Ujian Tengah Semester : 20%
Tugas 3 :
Tugas 4 : 25% (+quiz)
Ujian Akhir Semester : 20%

2
Lain-lain
Mahasiswa harus aktif dalam proses
pembelajaran
Mahasiswa harus tepat waktu,
toleransi keterlambatan 20 menit
Dilarang keras berbuat curang dalam
pengerjaan tugas maupun ujian
Keterlambatan pengumpulan tugas
tidak ditolerir

3
4
Pertemuan I
PENGANTAR TEORI PROBABILITAS
Buku
Sri Haryatmi, Pengantar Teori Probabilitas, Karunika
Jakarta, 1985.
Blum, Julius R. & Rosenblat, Judah I, Probability and
Statistics, Philadelphia: W.B. Saunders Company,
1972
Chang, Kai Lai, Elementary Probability Theory with
Stochastic Processes New York: Springer Verlag,
1974.
PENGANTAR TEORI PROBABILITAS
Materi:
Himpunan
Permutasi dan Kombinasi
Sistem Probabilitas
Probabilitas Bersyarat
Variabel Random
Fungsi Distribusi
Independensi
Harga Harapan
Variansi, Kovariansi, dan Harga Harapan Bersyarat


5
PENGANTAR TEORI PROBABILITAS
Materi:
Distribusi-Distribusi Diskrit
Distribusi-Distribusi Kontinyu
Fungsi Pembangkit Momen
Kuantil
Distribusi Fungsi Variabel Random
Distribusi Fungsi Vektor Random
Distribusi Pendekatan
6
PENGANTAR TEORI PROBABILITAS
Statistik punya dua cabang yaitu:
1. Probabilitas (peluang)
2. Statistik Induktif (inferential statistics)
Probabilitas (peluang): sebuah metodologi yang mengizinkan
uraian variasi random (acak) di dalam sistem.
Contoh : seorang menentukan jumlah saluran telepon yang
dibutuhkan untuk memberikan sebuah tingkat pelayanan
dengan memadai dalam melayani fasilitas komunikasi.
Saluran telepon tersebut dianggap sebagai sebuah cara
random, dan pelayanan waktu telepon atau waktu
pelayanan adalah tidak sama dari sebuah telepon dengan
telepon lainnya
7
Himpunan
Untuk menggambarkan konsep dasar teori probabilitas,
kita akan menggunakan beberapa ide dari teori himpunan.
Sebuah himpunan adalah gabungan atau kumpulan objek.
Himpunan biasanya dituliskan dengan huruf besar, A,B,C
dan seterusnya. Anggota himpunan A disebut elemen A.
Bila x elemen A kita tuliskan xeA, dan jika x bukan elemen
A kita tulis xeA, e dibaca sebuah elemen dari dan e
dibaca bukan sebuah elemen dari
Tanda kurung kurawal dipakai untuk menunjukkan
sebuah himpunan, dan tanda titik dua dalam tanda kurung
kurawal adalah kependekan untuk istilah seperti/semacam
itu,

8
Himpunan
Contoh:
1. Jika ditulis V={a,e,I,o,u}, kita telah mendefinisikan
himpunan huruf hidup di dalam abjad Inggris. Kita dapat
menggunakan sebuah batasan tertentu dan menulisnya
sebagai berikut:
V={* : * adalah huruf hidup dalam abjad Inggris}
2. Jika kita mengatakan bahwa A adalah himpunan semua
bilangan riil antara 0 dan 1, kita juga menulis A dengan
sebuah batasan tertentu sbb:
A={x : x e R, 0sx s1}, R sebagai himpunan bilangan riil.
3. Himpunan B={-3,+3} adalah sama dengan himpunan
seperti:
B={x : x e R, x
2
= 9}, R sebagai himpunan bilangan riil.
9
Himpunan
Himpunan universal/umum adalah himpunan semua
objek, dan biasanya ditulis dengan U. Himpunan khusus
lainnya adalah himpunan nol atau himpunan kosong,
biasanya ditulis dengan |. Untuk menjelaskan konsep ini,
perhatikan himpunan ini: A={x : x e R, x
2
= -1}
Himpunan universal ini adalah R, himpunan bilangan riil.
Himpunan A adalah himpunan kosong karena himpunan
tersebut tidak ada bilangan riil yang dimiliki batasan
tertentu x
2
= -1. Kita dapat tunjukkan bahwa B={0}=|={ }
Jika himpunan A dan himpunan B, kita sebut A sebuah
himpunan bagian dari B, ditulis AcB, jika tiap-tiap elemen
di dalam A juga elemen dari B. Himpunan A dan B
dikatakan sama (A=B) jika dan hanya jika AcB dan BcA..
10
Himpunan
Himpunan A dan B dikatakan sama (A=B) jika dan
hanya jika AcB dan BcA. sebagai akibat langsung, kita
dapat menunjukkan:
1. Untuk setiap himpunan A, |cA
2. Untuk U tertentu, maka A dianggap dalam cakupan U
yang memenuhi hubungan AcU
3. Untuk suatu himpunan A tertentu, AcA (sebuah
hubungan refleksif)
4. Jika AcB dan BcC, maka AcC (sebuah hubungan
transitif)
Sebuah akibat yang menarik dari himpunan yang sama
adalah urutan daftar elemen adalah tidak penting.
11
Himpunan
Jika batasan tertentu dipakai, himpunan itu mungkin sama,
meskipun batasan tersebut menunjukkan perbedaan arah.
Contoh: misal A={x:xeR, x adalah sebuah bilangan genap,
bilangan prima}, dan B = {x:xeR, x+3=5}, dan karena
bilangan 2 merupakan bilangan prima yang genap, A=B.
Kita perhatikan beberapa operasi himpunan. Misalkan A
dan B merupakan himpunan bagian dari himpunan
universal U. Maka :
1. Komplemen dari A; yaitu: A
c
={x:xeU,xeA}
2. Irisan/interseksi A dan B; yaitu: AB={x:xeA dan xeB}
3. Gabungan/union dari A dan B; yaitu: AB={x:x eA atau
xeB (atau keduanya)}
12
Himpunan
Operasi himpunan yaitu: jumlah, kali, bagi dan sebagainya.
Menghasilkan bilangan lain yaitu hasil jumlah, hasil kali,
hasil bagi bilangan-bilangan yang dijumlah, dikalikan,
dibagi.
Seperti halnya operasi bilangan, operasi himpunan
menghasilkan himpunan lain.
1. Complemen
Complemen dari A ditulis dengan notasi A
c
, adalah
himpunan titik-titik yang tidak berada di dalam A.
A
c
= {e } eeA}
Apabila operasi komplemen dikenakan dua kali pada
himpunan A, maka akan mendapatkan nilai A
13
Himpunan
2. Union
A B (baca A union B) adalah himpunan titik-titik yang
paling sedikit terletak dalam satu diantaranya/gabungan
A B = {e } eeA atau eeB}
3. Interseksi
AB = (baca A interseksi B) adalah himpunan titik-titik
yang terletak dalam A dan sekaligus dalam B.
AB = {e } eeA dan eeB}
14
Himpunan
Contoh:
S = {1,2,3,4,5,6}
A = {1,3,4}
A
c
= {2,5,6}
(A
c
)
c
= {1,3,4}
Daerah yang tidak diarsir adalah A
c

A = {5,6,7,8}
B = {1,3,5,7,9}
AB={1,3,5,6,7,8,9}

Daerah yang diarsir adalah AB
15





A
c

A









A


B

Himpunan
A = {5,6,7,8}
B = {1,3,5,7,9}
AB={5,7}
Daerah yang
diarsir adalah AB
Operasi irisan dan gabungan dapat diperluas dengan
cara yang lebih baik dengan menyediakan sejumlah
bilangan yang terbatas dari himpuna-himpunan.
16






AB

B A
Himpunan
Humuk dan sifat yang digunakan dalam himpunan:
Hukum identitas: A|=A AU=A
AU=U A|=|
Hukum idempoten: AA=A AA=A
Hukum komplemen: AA
c
=U AA
c
=|; A
cc
=A
Hukum komutatif: AB=BA AB=BA
Hukum De Morgan: (AB)
c
=A
c
B
c
(AB)
c
=A
c
B
c
Hukum asosiatif : A(BC)=(AB)C
A(BC)=(AB)C
Hukum distributif : A(BC)=(AB)(AC)
A(BC)=(AB)(AC)
17
Percobaan dan Ruang Sampel
Percobaan-percobaan Random
Percobaan-percobaan mempunyai sifat umum:
1. Percobaan tidak mungkin menyatakan sebuah hasil
yang khusus, tetapi kita dapat mendefinisikan himpunan
untuk semua hasil-hasil yang mungkin.
2. Percobaan dapat diulang berkali kali tanpa terbatas
dengan kondisi tidak berubah.
3. Hasil percobaan yang diulang-ulang itu terjadi dengan
cara random atau kebetulan.
Himpunan semua hasil-hasil kejadian dalam percobaan
disebut ruang sampel. Dengan simbol menunjukkan
percobaan dan simbol , menunjukkan ruang sampel
18
Percobaan dan Ruang Sampel
Contoh:

i
= Pelemparan ke atas sepasang dadu dan memper-hatikan
permukaan yang muncul.
,
i
= {(1,1), (1,2), (1,3), (1,4), (1,5), (1,6),
(2,1), (2,2), (2,3), (2,4), (2,5), (2,6),
(3,1), (3,2), (3,3), (3,4), (3,5), (3,6),
(4,1), (4,2), (4,3), (4,4), (4,5), (4,6),
(5,1), (5,2), (5,3), (5,4), (5,5), (5,6),
(6,1), (6,2), (6,3), (6,4), (6,5), (6,6)}

i
= Sebuah pintu mobil dirakit dengan sejumlah noda/bintik
pengelasan. Setelah dirakit, setiap las diperiksa dan jumlah
kerusakan dihitung.
,
i
= {0,1,2,,K}, dimana K = jumlah seluruh las pada pintu
19
Probabilitas
20
Definisi Probabilitas
Sebuah pendekatan aksioma dilakukan untuk
mendefinisikan probabilita sebagai suatu fungsi himpunan
dimana elemen-elemen daerah asal adalah himpunan-
himpunan dan elemen-elemen dari range bilangan riil.
Jika kejadian A adalah sebuah elemen pada daerah asal
fungsi ini, kita pergunakan notasi fungsi P(A), f(A), dst.
untuk menunjukkan elemen-elemen yang berkaitan dalam
range-nya.
Definisi
Jika sebuah percobaan mempunyai ruang sampel , dan
sebuah kejadian A didefinisikan pada ,.
Probabilitas
Definisi
Jika sebuah percobaan mempunyai ruang sampel S dan
sebuah kejadian A didefinisikan pada S , maka P(A) adalah
suatu angka riil yang disebut probabilita dari peristiwa A,
atau probabilita A, dan fungsi P(.) mempunyai syarat-syarat
sbb:
1. 0sP(A) s1 untuk tiap kejadian A dari S .
2. P(S )=1
3. Untuk tiap bilangan yang terbatas k dari kejadian-
kejadian yang saling meniadakan didefinisikan atas S

21