Anda di halaman 1dari 1

Mekanisme Nyeri Bila otot berkontraksi secara ritmis, tetapi suplai darah tetap adekuat, biasanya tidak akan

timbul nyeri. Namun, apabila suplai darah ke otot tersumbat, kontraksi dengan segera akan menimbulkan nyeri. Setelah kontrkasi berhenti, nyeri tetap ada sampai aliran darah kembali pulih. Pengamatan ini sulit diinterpretasikan kecuali dengan pelepasan bahan kimia (faktor P) sewaktu kontraksi, yang menyebabkan nyeri apabila kontrkasi lokalnya cukup tinggi. Apabila suplai darah telah pulih, bahan kimia nin dapat dibersihkan atau dimetabolisasi. Identitas faktor P ini masih belum di pastikan, tetapi mungkin adalah K+. Secara klinis, nyeri substernum yang timbul apabila miokardium mengalami iskemia selama olahraga (angina pektoris) adalah contoh klasik penimbunan faktor P di dalam otot. Angina menghilang dengan istirahat karena hal ini menurunkan kebutuhan O2 miokardium dan memungkinkan aliran darah membersihkan faktor ini. Klaudikasio intermiten, nyeri yang timbul di otot-otot betis pada ornag yang menderita penyakit pembuluh darah oklusi, adalah contoh yang lain. Nyeri ini biasanya muncul saat pasien berjalan dan menghilang apabila ia berhenti (Ganong) Rasa nyeri terutama merupakan mekanisme pertahanan tubuh, rasa nyeri timbul bila ada jaringan rusak, dan hal ini akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara memindahkan stimulus nyeri. Bahkan aktifitas ringan saja, misalnya duduk dengan bertopang dengan tulang iskhia selama jangka waktu lama, dapat menyebabkan kerusakan jaringan, sebab aliran darah yang ke kulit berkurang akibat tertekannya kulit oleh berat badan. Pada umumnya nyeri akan terasa bila seseorang menerima panas dengan suhu di atas 45oC. Ini juga merupakan suhu di mana jaringan mulai mengalami kerusakan akibat panas, sebenarnya jaringan akan seluruhnya rusak jika suhu menetap di atas nilai ini. Oleh karena itu, jelaslah sekarang bahwa rasa nyeri yang di sebabkan oleh panas sangat erat hubungannya dengan kemampuan panas untuk merusak jaringan. Selanjutnya, intensitas rasa nyeri juga berhubungan erat dengan kecepatan kerusakan jaringan yang disebabkan oleh pengaruh lain selain panas infeksi bakteri, iskemia jaringan, kontusio jaringan, atau oleh penyebab lainnya.