Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH AQIDAH DAN AKHLAQ IMAN DAN AKHLAK KEPADA ALLAH SANG PENCIPTA

Disusun Oleh : Kelas B, Kelompok 2 :


1.

Zulfan Muttaqin Ifkhanul Falah Redi Heryanto Wenang Nuur Aziiz Ardi Lusi Yamri Febri Irwanto

(20090130033) (20090130034) (20090130035) (20090130036) (20090130037) (20090130038)

2. 3. 4. 5. 6.

TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


I

2011 KATA PENGANTAR

Alhamdu lilaahi rabbil alamien, puji syukur kehadirat Allah swt. Yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Aqidah dan Akhlak Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan untuk menambah wawasan hidup dan pelajaran hidup bagi pembaca. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu. Diantaranya :
1. Kepada Bpk. Dr. Arif Budi R, M.Si. selaku Dosen pengajar Mata

kuliah Aqidah dan Akhlak.


2. Kepada Seluruh Teman-teman Kelas B Mata Kuliah Aqidah dan

Akhlak 3. Seluruh Pihak yang membantu pembuatan Makalah ini. penyusun mengharapkan masukan dan kritik serta saran selama

penyusunan berlangsung. Namun demikian, penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari sempurna mengingat keterbatasan referensi dan waktu yang tersedia untuk penyusunannya. Untuk itu penyusun mengharapkan timbal balik dari berbagai pihak demi penyempurnaan di masa-masa yang akan datang. Selanjutnya, penyusun berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Yogyakarta, 6 Oktober 2011 Ketua Penyusun,

Febri Irwanto I

20090130038 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai orang Mukmin kita wajib mensyukuri hidup kepada Allah SWT yang menguasai semesta alam dan yang telah menunjukan kita semua kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk, kita mohon kepada-Nya agar kita senantiasa di tetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat sebagaimana difirmankan Allah SWT :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan (beragama Islam ( surat Ali Imran : 102 begitu pula kita memohon agar hati kita tidak di condongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk, Allah berfirman :


(mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; Karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)" (surat Ali Imran : 8) Dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan dan kekasih kita, Rasulullah SAW, yang telah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan semoga ridha-Nya selalu dilimpahkan kepada para I

shahabatnya yang shaleh dan suci, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, serta kepada para pengikutnya yang setia selama ada waktu malam dan siang. Inilah kalimat ringkas tentang penjelasan Iman dan akhlak kepada Allah sang pencipta, Beriman kepada Allah artinya berikrar dengan macam macamnya tauhid yang tiga serta beritiqad dan beramal dengannya, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma dan sifat. Dan Akhlak kepada Allah mempunyai arti bahwa setiap manusia harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani, berupa Iman kepada Allah sang pencipta Alam, tauhid kepada Allah SWT dengan benar, ikhlas , dan penuh ketundukan sehingga terpancar sebagai Ibad arRahman yang menjalani hidup dengan benar-benar menjadi Mukmin, Muslim, Muttaqin dan Muhsin yang sempurna. Setiap orang beriman dituntut untuk menunjukkan akhlak yang mulia (Akhlaq karimah), menjalankan seluruh perintah Allah dan Menjauhi larangan Allah.

1.2 Pokok Bahasan Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah umum yang timbul adalah Iman dan akhlak kepada Allah sang pencipta . Untuk mempermudah Mempelajari pokok bahasan tersebut perlu dirinci kedalam sub-sub bahasan sebagai berikut:
1. Taat terhadap perintah Allah SWT. 2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah Allah SWT. 3. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT. 4. Senantiasa bertaubat kepada Allah SWT. 5. Merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. 6. Berikrar dengan macam macamnya tauhid dan beramal dengan Nya.

1.3 Tujuan Secara umum pembuatan makalah ini bertujuan untuk mempelajari iman dan akhlak seorang muslin kepada Allah SWT. Sedangakan secara rinci dapat dilihat dalam beberapa Sub Bahasan, yaitu:

1. Bagaimana seorang muslim taan dan patuh terhadap perintah Allah. 2. Mengetahui bahwa setiap Muslim bagaimana bertanggung jawap atas amanah yang diberikan Allah. 3. Mempelajari Keridhaan tentang ketentuan yang diberikan Allah SWT kepada Kita.
4. Mengerti bahwa kita senantiasa harus Bertoubat kepadaNya. 5. Merealisasikan ibadah kepada Allah SWT sebagai kunci kehidupan

diri kita sendiri.


6. Mengatui arti berikrar dengan macam macamnya tauhid serta

beritiqad dan beramal dengannya

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Bagaimana seorang muslim taat dan patuh terhadap perintah Allah. Taat kepada Allah swt merupakan satu kewajiban yang tidak dapat diganggu-gugat. Ketika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat atau telah berada di dalam naungan agama Islam,maka wajib baginya untuk taat kepada segala bentuk perintah dan larangan Allah swt. Kemudian, apakah dengan taat kepada Allah swt berarti kita tidak boleh taat kepada selain Allah swt? Satu-satunya hamba Allah swt yang diwajibkan untuk mendapatkan ketaatan dari umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. Beliau adalah suri tauladan bagai seluruh umat hingga akhir zaman. Beliaulah yang memiliki hak untuk ditaati oleh umat manusia, khususnya umat Islam. Perintah untuk taat kepada Rasulullah saw ini merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt, karena perintah tersebut tertuang di dalam Al Quran. Adapun orang-orang, golongan, atau aliran-aliran yang tidak percaya kepada Rasulullah Muhammad saw, tidak mau mematuhi sunnah-sunnahnya, dan menganggap bahwa sunnah Rasulullah Muhammad saw tidak ada, maka sama halnya dengan ia tidak mau mentaati perintah Allah swt. Orang-orang semacam inilah yang disebut dengan orang-orang yang ingkar atau orang kafir. Taat kepada Allah swt, berarti taat pula kepada Rasulullah Muhammad saw. Perintah tersebut banyak terdapat di dalam Al Quran dan senantiasa beriring berdampingan. Jika seseorang tidak mau mentaati perintah dan larangan Rasulullah saw, maka sama saja ia tidak mau mentaati perintah dan larangan Allah swt. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa setiap muslim harus taat kepada Rasulullah Muhammad saw, bukan hanya kepada Allah swt saja: 1. Karena, perintah untuk taat kepada Rasulullah Muhammad saw merupakan perintah dari Allah swt. Perintah untuk taat kepada Allah swt I

dan Rasulullah Muhammad saw ini banyak sekali terdapat dan saling beriringan di dalam Al Quran. 2. Karena rahmat Allah swt hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa dan beriman kepada Allah swt dan ayat-ayatnya, dan mentaati Rasulullah saw adalah salah satu bentuk ketakwaan seseorang kepada Allah swt daan ayat-ayat-Nya yang terdapat di dalam Al Quran. 3. Karena, ketaatan kita kepada Rasulullah Muhammad saw merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan petunjuk dari Allah swt. 4. Karena, Allah swt akan menimpakan azab yang sangat pedih kepada mereka yang menentang atau menyalahi perintah Allah swt. Menentang atau menyalahi perintah Rasulullah Muhammad saw merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap perintah Allah swt. 5. Karena, ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap ketetapan Rasulullah Muhammad saw merupakan salah satu syarat sahnya iman seseorang kepada Allah swt. 6. Karena, hanya dengan mengikuti atau mentaati Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw sajalah maka kita akan memperoleh limpahan kasih sayang dan ampunan dari Allah swt. Demikianlah beberapa alasan mengapa kita selaku umat muslim harus berlaku taat kepada Rasulullah saw. Karena taat kepada Allah swt dan taat kepada Rasulullah Muhammad saw, cinta kepada Allah swt dan cinta kepada Rasulullah Muhammad saw merupakan kewajiban yang senantiasa beriringan, tidak dapat dipisah-pisah. Berikut keterangan yang berkaitan dengan perintah taat dan cinta kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, yang terdapat di dalam Al Quran:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) (QS. Al Anfaal : 20)


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Qs. Al Anfaal : 24)

Demikianlah Allah swt telah memberikan perintah yang jelas kepada seluruh umat manusia untuk senantiasa taat kepada-Nya dan juga kepada Rasulullah I

Muhammad saw. Karena, taat kepada Allah swt dan taat kepada Rasulullah Muhammad saw merupakan perintah yang harus dijalankan secara menyeluruh dan beriringan. 2.2 Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah Allah SWT.

Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan kepadanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan inipun Memiliki Rasa Tanggungjawab Atas AmanahYang Diembankan Padanya Allah adalah sumber segala sumber dalam kehidupan. Allah adalah Pencipta dirinya, Pencipta jagad raya dengan segala isinya. Allah adalah Pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah Pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia. Sehingga apabila pemahaman terhadap hal ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka penerapannya dalam kehidupan adalah hanya Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak. Akhlak terhadap Allah merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.

2.3 Ridho terhadap ketentuan Allah SWT. Kita wajib percaya sepenuhnya bahwa dalam menciptakan umat manusia, Allah SWT menetapkan sekaligus usia, rejeki dan jodoh buat manusia tersebut. Dengan demikian segala sesuatu yang baik atau yang buruk datangnya dari Allah SWT.


di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengtakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun. Akan tetapi Allah SWT sendiri mendorong manusia untuk tidak menyerah begitu saja kepada takdir. Firman-Nya:


bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat

menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Sejalan dengan takdir tersebut maka kita diwajibkan beriman kepada adanya Qadla dan Qadar.Qadla itu ialah kepastian dan Qadar itu ialah ketentuan, yang kedua-duanya telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk seluruh makhluknya. Adapun maksudnya beriman kepada Qadla dan Qadar ialah kita wajib mempunyai itikad dan keyakinan yang sebenar-benarnya, juga kepercayaan semantap-mantapnya, bahwasanya segala sesuatu yang dilakukan oleh seluruh makhluk, baik yang disengaja seperti makan, minum, duduk dan berdiri, atau yang tidak disengaja misalnya jatuh, tergelincir, pingsan dan lain-lain sebagainya itu seluruhnya adalah terjadi atas kehendak Allah SWT jua. Sebagian orang ada yang berkata: Jikalau semua kelakuan manusia, yang baik atau yang buruk itu sudah dipastikan oleh Allah SWT sejak zaman azali, maka kalau demikian manusia itu sesungguhnya tidak dipersalahkan apabila mengerjakan pekerjaan yang buruk dan tidak boleh disiksa karena pekerjaannya itu. Juga tidak dapat dibenarkan apabila mengerjakan kebaikan dan tidak boleh pula diberi pahala karena pekerjaan itu. Ucapan seperti itu amat keliru dan salah sekali, karena setiap manusia itu mempunyai kehendak yang keluar dari dirinya sendiri.Jikalau kehendak itu ditujukan kepada sesuatu kebaikan, maka muncullah kebaikan dan amal shalih.Dan jikalau ditujukan kepada sesuatu keburukan, maka muncullah keburukan pula. Kecuali itu, manusia juga dikaruniai akal dan fikiran oleh Allah SWT. Jadi sudah pastilah ia dapat menggunakan akalnya dan pasti dapat mengerti serta membedakan mana-mana yang dianggap kebaikan, dan mana-mana yang dianggap keburukan. Oleh sebab itu, setiap kebaikan atau keburukan, sekalipun seberapa saja besar kecilnya, tentu wajib ada balasannya sendiri-sendiri. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, pastilah ia akan mengetahuinya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrahpun, maka iapun akan mengetahuinya.(Q.S. Az-Zilzal: 7,8). Dengan demikian, maka kita sekalian kaum muminin, sekalipun kita telah beriman dengan seyakin-yakinnya akan semua kepastian dan ketentuan itu datangnya dari Allah SWT, baik yang bagus maupun yang jelek, tetapi selamanya kita tetap wajib berikhtiar serta berdaya upaya sedapat-dapatnya dan sekuat mungkin, agar supaya dapat terlepas dari ketentuan yang jelek dan buruk serta hendaknya dapat memperoleh ketentuan yang bagus dan yang baik-baik saja.

Jadi tegasnya, kita wajib berusaha segiat-giatnya dalam bekerja, supaya jangan menjadi miskin, tapi dapat hidup berkecukupan.Giat belajar agar jangan sampai menjadi bodoh, tapi berilmu banyak dan bermanfaat, senantiasa menjaga kesehatan, supaya jangan menjadi sakit, tetapi senantiasa sehat dan sebagainya.Kita seluruh makhluk itu pasti tidak mengerti, qadar apakah yang ditetapkan oleh Allah SWT kepada kita.Makanya, wajiblah kita semua berikhtiar. Yang demikian itu memang perintah Allah SWT dan pula Rasulullah Muhammad SAW. Orang yang enggan berikhtiar, pada akhirnya pasti akan sengsara sendiri, karena Allah SWT tidak akan mengubah nasib seseorang atau golongan, jikalau manusia atau golongan itu sendiri tidak suka berusaha keras untuk mengubah nasibnya sendiri. Ini sudah menjadi sunnatullah yang tidak dapat diubah untuk selama-lamanya. Berikhtiar itu tidak ada batas waktunya sampai kita semua masuk ke liang lahat atau meninggal dunia. Jikalau pada suatu ketika kita telah berikhtiar dengan cukup, sedangkan yang kita maksudkan itu belum juga tercapai, maka wajiblah kita bertawakkal atau menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Allah SWT dengan tawakkal yang sebenar-benarnya.Ringkasnya, bolehlah kita bertawakkal jikalau ikhtiar itu dirasakan sudah cukup luas.Sekalipun demikian ikhtiar itu belum boleh ditinggalkan dan masih tetap wajib diteruskan, karena memang tidak ada batas waktunya.Kecuali kalau ruh kita sudah keluar dari badan kasar. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT, artinya menerima semua kejadian yang menimpa dirinya dengan lapang dada, mengahadapinya dengan tabah, ridho, tidak merasa kesal maupun berputus asa.Didalam mengahadapi sesuatu yang kurang disenangi, seseorang mempunyai dua kemungkinan yaitu rela atau sabar.Rela ialah sifat utama yang disunahkan, sedang sabar ialah sikap yang wajib. Orang-orang yang ikhlas dalam ibadah kadang-kadang dapat melihat hikmah dan kebaikan yang terdapat dalam cobaan dan tidak menuduh serta berburuk sangka kepada Allah atas ketentuan-Nya itu. Bahkan kadang-kadang ia dapat memandang kebesaran dan keagungan serta kesempurnaan Allah SWT yang telah memberikan cobaan kepadanya sehingga ia tidak merasakan sakit dan mengeluh atas cobaan yang diberikan-Nya. Orang yang dapat bersikap seperti demikian itu hanyalah para akhli marifat dan mahabbah kepada-Nya saja.Bahkan mereka dapat merasakan bahwa cobaan yang diberikan-Nya itu sebagai nikmat dan karunia dari-Nya. Perbedaan antara ikhlas dan sabar itu tipis. Bahkan jika kita tidak benarbenar memahami, kita menganggapnya sama. Ikhlas ialah berlapang dada, tenang dalam menghadapi ketentuan Allah dan menerima ketentuan itu tanpa adanya I

harapan untuk terbebas dari kesakitan dan penderitaannya itu.Sedangkan sabar adalah menahan diri dan berusaha mencegahnya dari perasaan marah dan kesal serta sakit hati dikala merasakan sakitnya terkena bencana atau musibah, sambil mengharap kepada Allah agar bencana atau musibah itu segera hilang dari dirinya. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia, baik musibah yang menimpa diri seseorang secara pribadi atau musibah yang menimpa masyarakat, bangsa maupun negara, itu semua berjalan menurut kehendak Allah SWT. Maka jika kita beriman kepada taqdirnya, maka Dia akan memberi petunjuk kepada kita. Rasulullah SAW. Bersabda: Iman kepada qadla dan qadar dapat menghilangkan keruwetan dan kesusahan. Dengan demikian maka alangkah indah dan beruntungnya orang yang beriman kepada qadla dan qadar-Nya, disamping kita mendapatkan petunjuk seperti yang difirmankan oleh Allah SWT. dalam Al-Quran. Kita juga mendapatkan jalan keluar dari keruwetan dan kesusahan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah tadi. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersikap ridho terhadap qadla dan qadar-Nya , maka orang itu amatlah dibenci oleh Allah SWT. Qadla dan Qadar jika dilihat dari segi keadaannya terbagi menjadi dua, yaitu: Qadar azali dan qadar am. Qadar azali ialah qadar yang sudah dapat dibaca sebelumnya, karena merupakan kebiasaan yang yang sudah berulang-ulang terjadi secara tetap. Misalnya: Matahari terbit dari arah timur, semua yang bernama makhluk akan mati. Sedang qadar am adalah qadar yang belum dapat kita ketahui sebelum qadar itu terjadi. Misalnya: Kapan orang ini akan mati dan dimana tempatnya ? Qadla dan Qadar jika dilihat dari segi usaha dan ikhtiar manusia terbagi menjadi dua bagian, yakni: Mubram dan Muallaq. Pengertian Mubram ialah qadar yang sudah pasti, tidak dapat diubah oleh manusia.Qadar Muallaq ialah qadar yang masih digantungkan, menanti ikhtiar atau usaha manusia. Orang-orang yang lulus dalam cobaan yang diberikan oleh Allah, maka ia akan dipelihara dari syubhat, sedangkan orang-orang yang tidak lulus dalam menjalani cobaan atau ujian-Nya, maka orang tersebut telah menyimpang dari tuntutan agama. adapun hikmah dibalik sikap ridho atas semua ketentuan Allah itu adalah: a.Membersihkan dan memilih mana orang mukmin sejati dan orang

munafiq;b.Mengangkat derajad dan menghapus dosa; c.Mengungkapkan hakikat manusia itu sendiri, sehingga Nampak jelas kesabarannya dan ketaatannya; d.Membentuk dan menempa kepribadiannya menjadi pribadi yang benar-benar I

tahan menderita dan tahan uji; e.Latihan dan pembiasaan dalam berprinsip. (Hajjudin Alwi: 200: 43). Untuk mencari ridho Allah, para kaum sufi senantiasa mewirid-kan doa yang berbunyi: Oh Tuhanku, Engkaulah Tujuanku dan ridha-Mulah yang kucari. Anugerahilah aku akan cinta kasih-Mu dan marifat-Mu (Kharisudin Aib: 999: 96)

2.4 Senantiasa bertaubat kepada Allah SWT. Kadang kala ada seseorang yang karena telah melakukan banyak perbuatan dosa, ia merasa bahwa Allah tak mungkin mengampuni dosa-dosanya. Sebenarnya, di saat-saat tertentu hati nuraninya memberontak ingin mengakhiri perbuatan maksiatnya. Jiwanya yang fitrah telah mengalami kelelahan yang luar biasa. Namun, karena anggapan bahwa dirinya sudah telanjur masuk ke dalam lumpur dosa yang terlalu dalam, ia merasa sudah terlalu kotor, akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu bertaubat. Ia beranggapan bahwa dosanya terlalu besar dan tak mungkin diampuni. Maka, ia merasa percuma bila bertaubat. Menghadapi orang yang semacam ini, sungguh izinkan saya berbisik lembut di dekat telinganya, bahwa Allah Taala senang atau gembira menerima taubat hamba-Nya. Dalam hal ini, ini ada sebuah hadits shahih dari Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi

kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas. (HR. Bukhari dan Muslim). Saudaraku tercinta, coba Anda bayangkan, dalam sebuah perjalanan yang jauh di sebuah padang yang luas, Anda membawa sebuah kenderaan unta. Oleh karena suatu hal, unta itu berlari meninggalkan Anda, lantas hilang entah ke mana. Padahal, di punggung unta itu terdapat bekal perjalanan Anda, termasuk makanan I

dan minuman. Anda kelelahan mengejar dan mencarinya, sehingga Anda terduduk di bawah sebuah pohon dengan hati yang benar-benar putus asa untuk menemukan kembali unta kendaraan Anda. Lalu, Anda tertidur. Ketika Anda bangun dari tidur, membuka pelan-pelan mata Anda, dan yang pertama kali Anda lihat di depan Anda adalah unta kenderaan Anda lengkap dengan perbekalan Anda yang tiba-tiba sudah kembali. Bagaimana perasaan Anda? Sudah barang tentu, Anda sangat senang atau gembira sekali. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa Allah Swt. gembira menerima taubat hamba-Nya; melebihi kegembiraan sebagaimana Anda saat menemukan unta kendaraan Anda kembali. Jika memang demikian adanya, sungguh tidak ada alasan lagi bagi seseorang yang merasa telah banyak berbuat dosa untuk takut tidak diterima taubat kepada-Nya. Betapa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Bahkan, rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya. Dalam hal ini, marilah kita renungkan sebuah hadits yang diceritakan oleh Abdan, dari Abu Hamzah, dari al-Amasy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda: Setelah Allah menciptakan seluruh makhluk, Dia menulis dalam Kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-Nya dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya di atas Arsy (yaitu): Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku. (HR. Bukhari). Berdasarkan hadits tersebut, semestinya kita segera memantapkan hati untuk senantiasa bertaubat kepada-Nya. Bukan malah sebaliknya, dengan dalih bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya, malah tidak segera bertaubat kepada-Nya. Sungguh, ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab, siapakah yang bisa menjamin di waktu ke depan masihkah ada kesempatan bagi kita bertaubat bila ajal tiba-tiba menjelang? I

Maka, marilah segera kita menuju kegembiraan Allah Swt. bila hambaNya bertaubat atas segala kesalahan yang telanjur terjadi. Marilah menjadi hamba yang tidak berlama-lama dalam gelimang dosa, dan segera menuju hidup yang penuh kebahagiaan dalam ridha-Nya. 2.5 Merealisasikan ibadah kepada Allah SWT. Seseorang akan hidup penuh makna apabila jiwanya bersih. Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya. Tidak hanya di dunia, bahkan di akhirat. Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman :

"Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya". [asy Syams/91 : 9,10] Dalam rangka mensucikan jiwa tersebut, satu-satunya jalan yang harus ditempuh, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas tanpa syirik, dan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa melakukan bid'ah. Bagaimanakah sebenarnya hakikat ibadah yang diharapkan dengan memahaminya bi idznillah- akan dapat membantu terwujudnya kesucian jiwa? Syaikh Salim bin Id al Hilali dalam kitabnya, Madarij al Ubudiyah min Hadyi Khairil Bariyyah memaparkan jawabannya pada salah satu sub, berjudul Haqiqat al Ubudiyyah, pada halaman 13 - 20. Kitab yang diterbitkan oleh Daar ash Shumai'iy, Riyadh, KSA, Cet. II, 1424 H/2003 M. Diterjemahkan oleh Ahmas Faiz Asifuddin dengan bahasa bebas. Berikut ini adalah pemaparan beliau yang menukil dari perkataan Syaikhul Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, al Ubudiyyah.

Ibadah ialah ungkapan yang mencakup segala apa yang dicintai Allah dan diridhaiNya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, batin maupun lahir. Shalat, zakat, shiyam (puasa), haji, benar dalam berkata, menunaikan amanat, berbuat baik kepada dua orang tua, memenuhi janji, amar ma'ruf-nahi mungkar, jihad melawan orang-orang kafir serta orang-orang munafik, berbuat kebajikan kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang tengah dalam perjalanan), dan kepada harta milik; baik berbentuk manusia maupun hewan ternak, juga berdoa, berdzikir, membaca al Qur`an dan kegiatan-kegiatan lain yang semisal, adalah termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan RasulNya, takut kepada Allah, kembali kepadaNya, mengikhlaskan agama hanya kepadaNya, sabar menerima hukumNya, bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya, ridha terhadap ketetapan taqdirNya, tawakal, mengharap-harap rahmatNya, takut terhadap adzabNya, dan hal-hal lain yang sejenis, adalah termasuk ibadah. Yang demikian itu karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan yang dicintai dan diridhai olehNya. Untuk maksud itulah Allah menciptakan makhluk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya beribadah kepadaKu". [adz Dzariyat/51:56].

2.6 Berikrar dengan macam macamnya tauhid dan beramal dengan Nya. Berikrar dengan macam macamnya tauhid yang tiga serta beritiqad dan beramal dengannya, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma dan sifat. I

1. Tauhid Ar-Rububiyyah adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satunya Rabb. Makna Rabb adalah Dzat yang Maha Menciptakan, yang Maha Memiliki dan Menguasai, serta Maha Mengatur seluruh ciptaan-Nya. Ayat-ayat yang menunjukkan tauhid Ar-Rububiyyah sangat banyak, di antaranya :

Sesungguhnya Rabb kalian hanyalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia beristiwa` di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hak mencipta dan memerintah

hanyalah milik Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [Al-Araf: 54] Kaum musyrikin Quraisy juga mengakui Tauhid Rububiyyah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla (artinya):

Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? tentu mereka akan menjawab: Allah, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).[Al-Ankabut: 61] Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Yang Maha Menciptakan, Maha Mengatur, dan Maha Memberi Rizki. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 6/294)

Contoh-contoh Penyimpangan Dalam Tauhid Rububiyyah


i. Penyimpangan dalam tauhid rububiyyah yaitu dengan

meyakini adanya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini selainAllah Azza wa Jalla dalam hal yang hanya dimampui oleh Allah Azza wa Jalla. ii. Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur I

laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini. iii. Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini. iv. Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain. v. Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya.

2. Tauhid Al-Uluhiyyah

adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak diibadahi dengan penuh ketundukan, pengagungan, dan kecintaan. Dinamakan juga dengan Tauhidul Ibadah atau Tauhidul Ubudiyyah, karena hamba wajib memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. Ayat-ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid jenis ini sangat banyak, diantaranya:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah.[Muhammad: 19] Rabbul Alamin adalah satu-satu-Nya Dzat yang berhak dan pantas untuk diibadahi. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memerintahkan umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, karena Dia adalah Rabb. Termasuk juga Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum musyrikin arab, yang mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla sebagai Rabb satu-satunya, untuk mereka beribadah hanya kepadaNya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Wahai umat manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian. [AlBaqarah: 21] Contoh penyimpangan-penyimpangan dalam tauhid uluhiyyah.Penyimpangan dalam tauhid jenis ini yaitu dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla seperti berdoa kepada kuburan atau ahli kubur, meminta pertolongan kepada jin, meminta barokah kepada orang tertentu, menyandarkan nasibnya (bertawakkal) kepada benda tertentu, seperti batu, jimat, cincin, keris, I

dan semacamnya. Karena doa dan tawakkal termasuk ibadah, maka harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. (Mereka mengakui Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan mereka, namun mereka masih menyembah, beribadah atau meminta pertolongan kepada makhluk-makhluk dan benda-benda lain, red)
3. Tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat,

adalah keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki nama-nama yang indah (al-asma`ul husna) dan sifat-sifat yang mulia sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla beritakan dalam Al-Qur`an, atau sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah r dalam hadits-haditsnya yang shahih. Sekaligus meyakini dan beriman bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah Azza wa Jalla. Di antara sekian banyak ayat Al-Qur`an yang menunjukkan tauhid ini, firman Allah Azza wa Jalla:


Hanya milik Allah al-asma`ul husna, maka berdoalah kalian kepadaNya dengan menyebutnya (al-asma`ul husna) dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (mengimani) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Araf: 180] Contoh-contoh Penyimpangan dalam tauhid Al-Asma wa Ash Shifat: I

Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam AlQuran atau dalam hadits Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam yang shahih.

Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfiman:


(dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.[Asy Syura: 11]. Menyelewengkan atau mentawil makna Al-Asmaul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Menentukan cara dari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yang bermuara pada penyerupaan dengan makhluk-Nya.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Taat kepada Allah swt merupakan satu kewajiban yang tidak dapat diganggugugat. Atau suatu kewajiban bagi umat muslim. Akhlaq yang baik untuk seorang umat muslim yaitu: 1. Kita wajib percaya sepenuhnya bahwa dalam menciptakan umat manusia, Allah SWT menetapkan sekaligus usia, rejeki dan jodoh buat manusia tersebut. 2. Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan kepadanya.
3. Senantiasa bertaubat kepada Allah SWT.

4. Mensucikan jiwa. 5. Berikrar dan Beramal dengan-Nya.

3.2 Saran Semua pembaca diharapkan dapat mengambil dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA Fauzan, Shaleh.2001. PRINSIP PRINSIP AQIDAH AHLU AS-SUNNAH WAL JAMAAH. PUSTAKA AMAN PRESS SDN. BHD. Bandung Pimpinan Pusat Muhammadiyah.2000.PEDOMAN HIDUP ISLAMI WARGA MUHAMMADIYAH. Suara Muhammadiyah. Jakarta http://almanhaj.or.id/content/2712/slash/0
Diakses : 1/10/2011 16:45

Diakses : 30/09/2011 20:05


10 18

http://www.harunyahya.com/indo/buku/sempurna.htm