Anda di halaman 1dari 19

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliran fluida yang merupakan gesekan antara molekul-molekul cairan satu dengan yang lainnya. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. Viskositas secara umum juga dapat diartikan sebagai suatu tendensi untuk melawan aliran cairan karena internal friction atau resistensi suatu bahan untuk mengalami deformasi bila bahan tersebut dikenai suatu gaya. Semakin besar resistensi suatu zat cair untuk mengalir maka semakin besar pula viskositasnya. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluida terhadap aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluida. Pada hukum aliran fluida pada viskositas. Newton mengatakan bahwa hubungan antara gaya-gaya mekanika dari suatu aliran viskositas sebagai gesekan dalam fluida adalah konstan sehubungan dengan gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk fluida Newton nya, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan kecepatan geser () nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas. Viskositas menggamabarkan penolakkan dalam fluida terhadap aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluida. Air memiliki nilai viskositas yang rendah sedangkan minyak sayur memiliki viskositas besar/tinggi. Dimana nilai viskositas air adalah 8,90 x 10-4 k/m.s. Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliran fluida yang merupakan gesekan antar molekul-molekul cairan satu dengan yang lain. Oleh sebab itulah dilakukan praktikum tentang viskositas zat cair agar praktikan dapat mengetahui apa yang dimaksud viskositas, bagaimana cara agar dapat menentukan harga viskositas suatu cairan serta mengetahui mana yang

termaksud viskositas rendah dan viskositas tinggi berdasarkan sampel yang telah di bawa dalam praktikum. 1.2 Tujuan - Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi viskositas - Untuk mengetahui hukum-hukum viskositas - Untuk mengetahui konsep viskositas fluida

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Viskositas fluida (zat cair) adalah gesekan yang ditimbulkan oleh fluida yang bergerak, atau benda yang padat yang bergerak di dalam fluida. Besarnya gesekan ini biasanya juga disebut sebagai derajat kekentalan zat cair. Jadi semakin besar viskositas zat cair, maka semakin susah benda padat bergerak di dalam zat tersebut. Viskositas zat cair, yang berperan adalah gaya kohesi antara partikel zat cair. Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliran fluida yang merupakan gesekan antara molekul-molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang mudah mengalir, dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan-bahan yang sulit mengalir dikatakan tidak memiliki viskositas yang tinggi. Viskositas suatu fluida adalah sifat yang menunjukkan besar dan kecilnya tahan dalam fluida terhadap gesekan. Fluida yang mempunyai viskositas rendah, misalnya air mempunyai tahanan dalam terhadap gesekan yang lebih kecil dibading dengan fluida yang mempunyai viskositas yang lebih besar. Gejala ini dapat dianalisis dengan mengontrodusir suatu besaran yang disebut kekentalan atau viskositas. Oleh karena itu, viskositas berkaitan dengan gerak relatif antar bagian-bagian fluida, maka besaran ini dapat dipandang sebagai ukuran tingkat kesulitan aliran fluida tersebut, makin besar kekentalan suatu fluida maka makin sulit fluida itu untuk mengalir. Adanya zat terlarut makromolekul akan menaikkan viskositas larutan. Bahkan padan konsentrasi rendahpun, efeknya besar karena molekul besar mempengaruhi aliran fluida pada jarak yang jauh. Viskositas intrisik merupakan analog dari koefisien visial (dan mempunyai dimensi/konsentrasi). Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju alir cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas.

Aliran dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe. Yang pertama adalah aliran laminer atau aliran kental, yang secara umum menggambarkan laju alir kecil melalui sebuah pipa dengan garis tengah kecil. Aliran yang lain adalah aliran turbulen yang menggambarkan laju aliran yang besar melalui pipa dengan diameter yang lebih besar (Bird, 1987). Aliran Ukur Viskositas Untuk mengukur besarnya viskositas menggunakan alat viskosimeter. Berbagai tipe viskosimeter dikelompokkan menurut kerjanya : 1. Tipe Kapiler Pengukuran ini berdasarkan atas waktu yang diperlukan oleh cairan untuk melewati sepanjang pipa kapiler pada volume tertentu. Viskosimeter Ostwald adalah salah satu tipe viskosimeter kapiler yang sederhana. 2. Office Type Tipe viskosimeter ini merupakan kapiler yang pendek. Prinsip pengukuran juga sama dengan tipe kapiler (berdasarkan waktu). Alat ini sangat simpel, murah dan dapat digunakan secara cepat dan digunakan untuk cairan, newtonia maupun non newtonia. Alat yang dipakai disebut zhan viskosimeter. 3. Viskosimeter Rotasi Pengukuran berdasarkan rotasi (putaran) dalam silinder. Alat yang digunakan stroimer viskometer. Alat ini banyak digunakan untuk mengukur viskositas susu kental manis, produk tomat dan lainnya. Prinsip alat ini berdasarkan atas waktu yang diperlukan. 4. Viskosimeter Lehman Nilai viskosimeter Lehman didasarkan pada waktu kecepatan alir cairan yang akan diuji atau dihitung nilai viskositasnya bebanding terbalik dengan waktu kecepatan alir cairan pembanding, dimana cairan pembanding yang digunakan adalah air. Adapun jenis cairan dibedakan menjadi dua tipe, yaitu cairan newtonian dan non newtonian. 1. Cairan Newtonian adalah cairan yang viskositasnya berubah dengan berubahnya gaya irisan ini adalah aliran kental (viscous) sejati.

Contohnya : air, minyak, sirup dan gelatin Cairan Newtonian ada 2 jenis, harga viskositas yang tinggi disebut viscous dan harga viskositas yang rendah disebut mobile. 2. Cairan non-newtonian merupakan cairan yang viskositasnya berubah dengan adanya perubahan gaya irisan dan dipengaruhi kecepatan tidak linear. Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas - Temperatur - Massa jenis zat - Luas penampang - Tekanan - Panjang tabung Suhu berpengaruh terhadap viskositas, semakin tinggi suhu, viskositasnya semakin rendah. Hal ini disebabkan pada suhu tinggi pergerakkan molekul akan semakin meningkat yang menyebabkan terjadinya perenggangan pada molekul sehingga viskositas semakin kecil (Atkins, 1996) Hukum Stokes Viskositas dalam aliran fluida kental sama saja dengan gesekan pada gerak benda padat. Untuk fluida ideal viskositas sama dengan nol sehingga dianggap bahwa benda yang bergerak pada fluida ideal tidak mengalami gesekan yang disebabkan fluida. Akan tetapi, bila benda tersebut bergerak dengan kelajuan tertentu dalam fluida kental, maka benda tersebut akan dihambat geraknya oleh gaya gesekan fluida benda tersebut. Sebuah benda yang bergerak jatuh di dalam fluida bergerak, ada tiga macam gaya yaitu : 1. Gaya gravitasi atau gaya berat (W) Gaya gravitasi inilah yang menyebabkan benda bergerak ke bawah dengan suatu kecepatan.
2. Gaya apung (buoyant force) atau gaya Archimedes (B)

Arah gaya buoyant force atau gaya Archimedes ini keatas dan besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut.

Menurut Archimedes adalah suatu benda yang dicelupkan pada sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair maka benda itu akan mengalami gaya ke atas yang besarnya itu sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut. 3. Gaya gesek (frictional force) atau Fg Gaya gesek frictional force atau Fg arahnya besarnya lebih besar dari berat fluida. Viskositas cairan juga dapat ditentukan berdasarkan jatuhnya benda melalui medium zat cair yaitu berdasarkan hukum stokes. Dimana benda bulat dengan radius r dan rapat d yang jatuh karena gaya gravitasi melalui fluida dengan rapat dm/db, akan dipengaruhi oleh gaya gravitasi sebesar : F1 = 4 / 3 r 3 ( d dm ) g Perbedaan antara viskositas cairan dengan viskositas gas adalah sebagai berikut : Jenis Perbedaan Gaya Gesek Koefisien Viskositas Temperatur Tekanan Viskositas Cairan Lebih besar mengalir Lebih besar Temperatur Viskositas Gas untuk Lebih kecil dibanding viskositas cairan Lebih kecil naik Temperatur

naik

viskositas turun viskositas naik Tekanan naik viskositas Tidak tergantung pada naik tekanan

Aliran cairan dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe, yang pertama laminar dan yang kedua turbulen. Hal ini lebih lanjut dikelompokkan menurut bilangan Reynoldnya yaitu : RN = dvR

Dimana R adalah jari-jari, d adalah kerapatan cairan, v adalah kecepatan rata-rata cairan sepanjang pipa dan adalah koefisien viskositas. Jika RN lebih besar dari 4000, aliran turbulen dan jika lebih kecil dari 2100 aliranya laminar (Dogra, 1990) BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan


- Viskometer Ostwald

3.1.1 Alat-alat - Piknometer - Stopwatch - Neraca Chaus - Termometer - Beker gelas - Pipet tetes - Pompa - Gelas kimia 3.1.2 Bahan-bahan - Akuades - Etanol
- Minyak goreng

- Bensin - Sabun cair - Tisu 3.2 Prosedur Percobaan


- Ditimbang piknometer yang masih kosong - Dimasukkan bensin ke dalam piknometer hingga penuh dan jangan sampai

3.2.1 Pengukuran densitas larutan

terdapat gelembung udara pada saat piknometer ditutup - Ditimbang piknometer - Dicatata massanya
- Diulangi langkah diatas dengan sample aquadest, minyak goreng, alkohol

secara berturut-turut.

3.2.2 Pengukuran suhu fluida/larutan


- Dimasukkan termometer ke dalam masing-masing larutan (aquadest,

alkohol, minyak goreng, dan bensin). - Diukur masing-masing suhu larutan - Dicatat suhu nya 3.2.3 Pengukuran viskositas larutan
- Dimasukkan keempat jenis cairan kedalam viskometer ostwold secara

bertahap, sebelum itu diukur suhunya masing-masing


- Dihubungkan mulut pipa kapiler viskometer lainnya dengan pemompa gas

manual - Dituang secukupnya cairan yang akan diukur, kemudian pompa cairan tersebut hingga melewati tanda batas A - Ditutup lubang/mulut pipa kapiler viskometer yang terbuka dengan menggunakan jari dan lepaskan pemompa gas manual
- Dinyalakan stopwatch sesaat setelah jari dilepas sehingga cairan turun

melewati batas A dan matikan stopwatch sesaat setelah melewati tanda batas B
- Dilakukan tiga kali perlakuan yang sama untuk setiap jenis larutan yang

akan diukur.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Pengukuran viskositas larutan No 1. 2. 3. 4. Zat Cair Aquadest Bensin Alkohol Minyak Goreng Waktu (s) t1 t2 t3 1,74 1,51 1,35 1,52 1,70 55,80 1,11 1,80 52,85 1,04 1,80 45,02 Suhu (oC) 25 28 29 29

4.1.2 Pengukuran densitas larutan Massa piknometer kosong = 15,45 gr Volume piknometer No 1. 2. 3. 4. Zat Cair Aquadest Bensin Alkohol Minyak Goreng = 10 mL Piknometer + zat cair (gr) 25,64 23,09 23,70 24,72 Massa Zat cair (gr) 10,19 7,64 8,25 9,27

4.2 Perhitungan
4.2.1

Waktu rata-rata (t) t = t1 + t 2 + t3 3

- Waktu rata-rata aquadest t = 1,74 + 1,51 + 1,35 3 = 1,53 s 1,52 + 1,11 + 1,04 3 = 1,22 s

- Waktu rata-rata bensin t =

- Waktu rata-rata alkohol t = 1,70 + 1,80 + 1,80 3 = 1,76 s

- Waktu rata-rata minyak goreng t = 55,80 + 52,85 + 45,02 3 = 51,22 s

4.2.2 Pengukuran densitas larutan px = Mx Vx

- Densitas aquadest Pair = 10,19 gr 10 ml = 1,019 gr

ml

- Densitas bensin Pben sin = 7,64 gr 10 ml = 0,764 gr

ml

- Densitas alkohol Palkohol = 8,25 gr 10 ml = 0,825 gr

ml

- Densitas minyak goreng Pmin yak goreng = 9,27 gr 10 ml = 0,927 gr

ml

4.2.3 Pengukuran viskositas secara teori 1 = 0,0080 P, T1 = 30 o C H 2 O Diket : 1 = 0,0100 P, T1 = 30 o C Etanol 1 = 0,0056 P, T1 = 30 o C Bensin 1 = 0,0316 P, T1 = 30 o C Minyak goreng => 1 T = 1 2 T2

- Viskositas aquadest 0,0080 25 = 2 30 2 = 0,0096 P - Viskositas bensin 0,0056 28 = 2 30 2 = 0,0006 P

- Viskositas alkohol 0,0100 29 = 2 30 2 = 0,0103 P

- Viskositas minyak goreng 0,0316 29 = 2 30 2 = 0,0327 P 4.2.4 Pengukuran viskositas secara praktek H2O sebagai pembanding 1 P .t = 1 1 2 P2 . t 2 - Viskositas alkohol 0,0080 1,019 . 1,53 = 2 0,825 . 1,76 2 = 0,0089 P

- Viskositas bensin 0,0080 1,019 . 1,53 = 2 0,764 . 1,22 2 = 0,0057 P

- Viskositas minyak goreng 0,0080 1,019 . 1,53 = 2 0,927 . 51,22 2 = 0,2935 P

4.3 Pembahasan Viskositas fluida (zat cair) merupakan gesekan yang ditimbulkan oleh fluida yang bergerak atau benda yang bergerak di dalam fluida. Besarnya gesekan ini biasa nya juga disebut sebagai derajat kekentalan zat cair. Jadi semakin besar

viskositas zat cair, maka semakin susah benda padat bergerak di dalam zat tersebut, dalam viskositas zat cair yang berperan adalah gaya kohesi antara partikel zat cair. Viskositas akan berkurang dengan cepat apabila temperaturnya bertambah dan semakin besar nilai viskositas dari larutan maka tingkat kekentalan larutan tersebut semakin besar pula, karena viskositas ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi nilai viskositas adalah : 1. Suhu Faktor suhu terhadap viskositas yaitu berbanding terbalik dengan suhu jika suhu naik maka viskositas akan turun dan begitu pula sebaliknya jika suhu turun maka viskositas akan naik. Hal ini disebabkan karena adanya gesekan partikelpartikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditinggikan dan menurun kekentalannya. 2. Konsentrasi Konsentrasi larutan viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume karena semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan nilai viskositas nya semakin besar pula.
3. Berat molekul solut

Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute karena dengan adanya solute yang besar akan menghambat atau membebankan yang berat pada cairan sehingga akan menaikkan viskositasnya. 4. Tekanan Semakin besar tekanannya cairan akan semakin sulit mengalir akibat dari beban yang dikenakannya. Adapun hukum viskositas yaitu hukum Poiseville dan hukum Stokes 1. Hukum Poiseulle Hukum ini berbunyi Banyaknya cairan yang mengalir persatuan waktu melalui penampang melintang berbentuk silinder berjari-jari r yang panjang nya 1

selain ditentukan oleh beda tekanan (P) pada kedua ujung yang memberikan gaya pengaliran juga ditentukan oleh viskositas cairan dan luas penampang pipa. Hubungan tersebut dirumuskan oleh Poiseulle sebagai :

( P ) r 4 Q=
8l

V ( P ) r 4 = atau t 8 l

Dengan Q adalah kecepatan aliran volume (volume cairan V yang melewati pipa persatuan waktu t dinyatakan dengan satuan S1 (m3/s). 2. Hukum Stokes Apabila benda padat brgerak dengan kecepatan tertentu dalam medium fluida, maka benda tersebut akan mengalami hambatan yang diakibatkan oleh gaya gesekan fluida. Gaya gerak tersebut dirumuskan sebagai berikut : F = Av A ZV = kv atau F = Z Z

Dimana k = koefisien yang besarnya tergantung bentuk geometrik benda. Dari hasil percobaan, untuk benda berbentuk bola dengan jari-jari r diperoleh : F = G r v Persamaan ini dinyatakan pertama kali oleh Sir George Stokes (1845) yang kemudian dikenal dengan Hukum Stokes. Bila gaya F diterapkan pada partikel berbentuk bola dalam larutan, maka stokes menunjukkan bahwa untuk aliran laminar berlaku : F = G r Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan digunakan empat larutan yaitu, aquades, alkohol, bensin dan minyak goreng. .1 Aquades Aquades atau air atau H2O yang memiliki nama IUPAC dihydrigen, monoxide, oxidane, merupakan jenis-jenis syarat liquid yang tidak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa pada keadaan standar. Aquadest memiliki rumus molekul H2O dengan titik didih 100o C, 212o F (373,15 K), viskositas aquadest 0,001 Pa/s pada suhu 20o C dan memiliki bentuk heksagonal.

.2

Alkohol Alkohol atau nama lainnya adalah etanol merupakan senyawa liquid yang

tidak berwarna dan sangat mudah menguap pada suhu yang rendah serta mudah terbakar pada suhu yang tinggi. Alkohol memiliki rumus molekul CH3OH, kerapatan 0,79 gr/cm3, titik didih 78o C (351 K). Alkohol ini mudah bercampur dengan air dan juga mudah bercampur dengan pelarut organik. .3 Bensin Bensin merupakan cairan bening agak kekuning-kuningan dan berasal dari pengolahan minyak bumi yang sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar. Secara sederhana bensin tersusun dari hidrokarbon rantai lurus mulai dari C7 (heptana) sampai dengan C11. Bensin terbuat dari molekul yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon yang terikat antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk rantai. 1 galom bensin (4,5 liter) mengandung 132 x 106 Joule energi yang ekuivalen dengan 125.000 BTU (British Thermal Unit) atau 37 Kwh. .4 Minyak Goreng Minyak goreng tidak larut dalam air kecuali minyak lirak dan minyak sedikit larut dalam alkohol, etil, eter dan pelarut halogen lainnya. Minyak tidak mencair dengan cepat pada pelarut dengan suatu nilai temperatur tertentu. Titik didih akan semakin meningkat dengan bertambahnya rantai karbon asam lemak. Dalam percobaan kali ini terdapat beberapa faktor kesalahan yang menyebabkan hasil percobaan tidak sempurna yaitu : -

Tidak teliti saat mengukur suhu larutan sehingga hasil perhitungan kurang tepat Alat yang digunakan kurang bersih sehingga menyebabkan perhitungan kurang tepat Tidak teliti saat perhitungan waktu yang melewati dua tanda pada viskositas Ostwald Dalam praktikum kali ini terdapat 2 percobaan yaitu penentuan densitas

(massa jenis) dan penentuan viskositas (kekentalan) dari beberapa zat cair. Penentuan densitas (massa jenis) larutan yang diukur massa jenisnya yaitu bensin, minyak goreng, alkohol, dan aquades. Alat untuk mengukur densitas (massa jenis)

suatu larutan adalah piknometer. Piknometer merupakan alat gelas yang berfungsi untuk mengukur berat jenis suatu zat. Zat yang akan diukur densitas (massa jenisnya) terlebih dahulu diubah ke dalam bentuk larutan, selanjutnya dimasukkan ke dalam piknometer. Bentuknya cukup mungil dan rumit. Seperti botol kecil yang dilengkapi dengan penutupnya. Dari percobaan kali ini diperoleh hasil pengukuran densitas larutan pada sampel yaitu aquades = 1,019 gr/ml, bensin = 0,764 gr/ml, alkohol = 0,825 gr/ml dan minyak
goreng

= 0,927 gr/ml. pada percobaan

penentuan viskositas mengguanakan alat yang bernama viskosimeter ostwold. Pada viskosimeter ostwold, viskositas ditentukan dari waktu yang digunakan cairan untuk melewati jarak antara A dan B. dari percobaan ini didapatkan bensin = 0,0057 P, alkohol = 0,0089 P dan minyak goreng = 0,2935 P. Berikut adalah urutan nilai viskositas Liquids Gasoline H2O Alcohol Viskosity (P) 0,006 0,01 0,012 Temperatur (oC) 20 20 20

Oil 1,1 20 (Source.hyperphysic.phy.asist.gsu.edu/hbase/takles/viskositas.html) Metode-metode dalam pengukuran viskositas yaitu dengan viskosimeter ostwold, viskosimeter hoppler, viskosimeter cone dan plate, dan viskosimeter Cup dan Bob.
1. Metode Viskosimeter Ostwold

Metode ini ditentukan berdasarkan hukum Poiseulle menggunakan alat viskosimeter ostwold. Penetapannya dilakukan dengan jalan pengukuran waktu yang diperlukan untuk mengalirnya cairan dalam pipa kapiler dari A ke B.
2. Metode Viskosimeter Hoppler

Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gerak = gaya berat - gaya Archimedes. 3. Metode Viskosimeter Cone dan Plate Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan dengan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan

oleh motor deringan bercaman kecepatan dan sampelnya digeser di dalam ruang semi transparan yang diam kemudian kerucut yang berputar. 4. Metode Viskosimeter Cup dan Bob Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruang antara dinding luar dari Bob dan dinding dalam dari Cup dimana Bob masuk persis di tengah-tengah. Dari percobaan yang telah dilakukan pada pengukuran viskositas zat cair diperoleh alkohol = 0,0089 P dengan waktu rata-rata 1,76 sekon, bensin = 0,0057 P dengan waktu rata-rata 1,22 sekon, dan
miyak goring

= 0,2935 P dengan waktu rata-

rata 51,22 sekon. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin kental suatu larutan maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk melewati pipa kapiler Viskosimeter Ostwold. Dari hasil pengukuran densitas diperoleh aquades = 1,019 gr/ml, bensin = 0,764 gr/ml, alkohol = 0,825 gr/ml, dan minyak goring = 0,927 gr/ml dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aquadest memiliki massa jenis yang lebih besar dibandingkan minyak goreng, bensin, dan alkohol. Aplikasi viskositas dalam kehidupan sehari-hari adalah : -

Pada industri perminyakan Pada keran-keran air/PDAM

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas adalah suhu, konsentrasi, berat molekul, dan tekanan.

Hukum-hukum viskositas adalah : Hukum Pouseville dan hukum Viskositas/kekentalan sebenarnya maupun gaya gesekan antara

Stokes. molekul-molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk suatu fluida saling gesek-menggesek karena fluida tersebut mengalir pada zat cair, viskositas disebabkan adanya gaya kohesi antar molekul jenis. 5.2 Saran Sebaiknya pada praktikum selanjutnya dapat juga digunakan metode vissometer Hopller.

DAFTAR PUSTAKA Atikins, P.N. 1996. Kimia Fisik Jilid II Edisi IV. Jakarta. Erlangga Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta : PT. Gramedia Dogra, S.K dan Dogra S. 1990. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta. UI Press