Anda di halaman 1dari 7

1

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN JUDUL MATA KULIAH PROGRAM STUDI SKS KODE MATA KULIAH DOSEN PENGASUH Kekuatan Bahan Teknik Pertanian 3 (3 + 0 ) PNG 312 Prof. Dr. Ir. Santosa, MP Mislaini R., S.TP, MP DESKRIPSI SINGKAT : Matakuliah ini memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang tegangan, regangan, dan perubahan yang terjadi akibat gaya yang bekerja pada suatu konstruksi, perhitungan tentang ukuran batang yang dibebani agar mampu menahan gaya yang bekerja pada batang tersebut. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM : Setelah mengikuti kuliah ini, diharapkan Mahasiswa dapat memahami konsep gaya yang bekerja pada batang, beserta akibat yang ditimbulkan dari gaya tersebut, diharapkan Mahasiswa dapat melakukan perhitungan ukuran batang berdasarkan bahan yang digunakan, akibat beban yang bekerja pada batang tersebut. No 1 1 Tujuan Intruksional Khusus 2 Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian tegangan dan regangan yang terjadi sebagai akibat dari adanya gaya aksial. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang besarnya deformasi aksial berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian angka Poisson. Pokok Bahasan 3 Tegangan dan regangan akibat gaya aksial Sub Pokok Bahasan 4 Tegangan dan regangan akibat gaya aksial Waktu (menit) 5 40 Daftar Kepustakaan 6 1,2,3,4,7 : : : : :

Deformasi aksial Deformasi aksial

30

1,2,3,4,7

Angka Poisson

Angka Poisson

30

1,2,3,4,7

No 4

Tujuan Intruksional Khusus Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian tegangan kerja. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian tegangan thermal. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang tegangan dan regangan akibat gaya geser. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang besarnya deformasi geser berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Pokok Bahasan Tegangan kerja

Sub Pokok Bahasan Tegangan kerja

Waktu (menit) 30

Daftar Kepustakaan 1,2,3,4,7

Tegangan thermal

Tegangan thermal

30

1,2,3,4,7

Tegangan geser dan regangan geser Deformasi geser

Tegangan geser dan regangan geser

40

1,2,3,4,7

Deformasi geser

30

1,2,3,4,7

10

Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian batang tumpuan sederhana (simple beam). Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang besarnya gaya reaksi yang terjadi pada pendukung (sendi atau roll) batang tumpuan sederhana. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian batang terjepit pada salah satu ujung atau kantilever.

Pengertian simple beam

Pengertian simple beam

30

1,2,3,4,5,6,7

Gaya reaksi pada simple beam

Gaya reaksi pada simple beam

40

1,2,3,4,5,6,7

Konstruksi kantilever

Konstruksi kantilever

50

1,2,3,4,5,6,7

No 11

Tujuan Intruksional Khusus

Pokok Bahasan Gaya reaksi pada konstruksi kantilever Konstruksi gabungan simple beam dan kantilever Gaya reaksi pada konstruksi gabungan simple beam dan kantilever Momen lentur pada simple beam

Sub Pokok Bahasan Gaya reaksi pada konstruksi kantilever

12

13

14

15

16

Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang besarnya gaya reaksi yang terjadi pada penjepit kantilever. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian konstruksi gabungan batang tumpuan sederhana dan kantilever. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang besarnya gaya reaksi yang terjadi pada pendukung konstruksi gabungan batang tumpuan sederhana dan kantilever. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menentukan nilai momen lentur maksimum yang terjadi pada konstruksi batang tumpuan sederhana. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menentukan nilai momen lentur maksimum yang terjadi pada konstruksi kantilever. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menentukan nilai momen lentur maksimum yang terjadi pada konstruksi gabungan antara batang tumpuan sederhana dan kantilever.

Waktu (menit) 50

Daftar Kepustakaan 1,2,3,4,5,6,7

Konstruksi gabungan simple beam dan kantilever

50

1,2,3,4,5,6,7

Gaya reaksi pada konstruksi gabungan simple beam dan kantilever

50

1,2,3,4,5,6,7

Momen lentur pada simple beam

50

1,2,3,4,5,6,7

Momen lentur pada kantilever

Momen lentur pada kantilever

50

1,2,3,4,5,6,7

Momen lentur pada konstruksi gabungan simple beam dan kantilever

Momen lentur pada konstruksi gabungan simple beam dan kantilever

100

1,2,3,4,5,6,7

No 17

Tujuan Intruksional Khusus

Pokok Bahasan Momen inersia

Sub Pokok Bahasan Momen inersia

18

19

20

21

22

Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian momen inersia. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan pengertian modulus penampang. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat merumuskan tentang tegangan lentur maksimum. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan tebal balok sebagai konstruksi gabungan balok sederhana dan kantilever yang mendukung beban titik. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan tebal balok sebagai konstruksi balok sederhana yang mendukung beban terbagi merata. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan diameter silinder sebagai konstruksi kantilever yang mendukung beban titik.

Waktu (menit) 30

Daftar Kepustakaan 1,2,3,4,5,6,7

Modulus penampang Tegangan lentur maksimum Ukuran tebal balok dengan beban titik

Modulus penampang

30

1,2,3,4,5,6,7

Tegangan lentur maksimum

40

1,2,3,4,5,6,7

Ukuran tebal balok dengan beban titik

100

1,2,3,4,5,6,7

Ukuran tebal balok dengan beban terbagi merata

Ukuran tebal balok dengan beban terbagi merata

100

1,2,3,4,6,7

Ukuran diameter Ukuran diameter silinder akibat beban silinder akibat titik pada konstruksi kantilever beban titik pada konstruksi kantilever

100

1,2,3,4,5,6,7

No 23

Tujuan Intruksional Khusus

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan

24

25

26

27

28

Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan diameter silinder sebagai konstruksi gabungan batang sederhana dan kantilever yang mendukung beban titik. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan besarnya defleksi akibat beban tunggal. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan langkah langkah untuk menentukan besarnya defleksi akibat beban majemuk. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang momen inersia polar. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang sudut puntir. Setelah mengikuti kuliah ini, Mahasiswa akan dapat menghitung besarnya momen inersia polar dari suatu poros.

Ukuran diameter Ukuran diameter silinder akibat beban silinder akibat titik pada konstruksi gabungan simple beban titik pada beam dan kantilever konstruksi gabungan simple beam dan kantilever Defleksi Defleksi

Waktu (menit) 100

Daftar Kepustakaan 1,2,3,4,5,6,7

100

1,2,3,4,6,7

Defleksi akibat beban majemuk

Defleksi akibat beban majemuk

100

1,2,3,4,6,7

Momen inersia polar Sudut puntir

Momen inersia polar

50

1,2,3,4,6,7

Sudut puntir

50

1,2,3,4,6,7

Momen inersia polar pada poros

Momen inersia polar pada poros

30

1,2,3,4,6,7

No 29

Tujuan Intruksional Khusus

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan Sudut puntir akibat torsi

30

Setelah mengikuti kuliah ini, Sudut puntir Mahasiswa akan dapat menghitung akibat torsi besarnya sudut puntir dari suatu poros yang menderita beban torsi. Setelah mengikuti kuliah ini, Daya poros Mahasiswa akan dapat menghitung besarnya daya yang ditransmisikan pada poros yang bergantung pada variabel yang mempengaruhinya.

Waktu (menit) 30

Daftar Kepustakaan 1,2,3,4,6,7

Daya poros

40

1,2,3,4,6,7

Daftar Kepustakaan 1. Frick, H. 1991. Mekanika Teknik I : Statika & Kegunaannya. Cetakan Kedelapan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 2. Gulo, D. H. 1989. Dasar Dasar Perhitungan Kekuatan Bahan (Alih Bahasa dari : Strength of Material, Part I :

Elementary, by S. Timoshenko, Robert E. Krieger Publishing Co., Inc., 1968). Cetakan Kedua. Penerbit Restu Agung. Jakarta. 3. Harris, C. O. 1982. Statics and Strength of Materials. John Wiley & Sons, Inc., United States of America.

4. Santosa. 2004. Kekuatan Bahan. Jilid I. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang (Terdaftar di Perpustakaan Fakultas Pertanian Unand No. 70/K/2004 tgl. 2-9-2004)
5. Santosa. 2005. Aplikasi Visual Basic 6.0 dan Visual Studio.Net 2003 dalam Bidang Teknik dan Pertanian, ISBN : 979731-755-2, Penerbit Andi, Edisi I Cetakan I, Yogyakarta, 306 hlm. 6. Sardy S. dan Lamyarni I. S. 1990. Dasar Analisis Tegangan (Alih Bahasa dari : BASIC Stress Analysis, by M. J. Iremonger, Butterworth & Co. Ltd., 1982). Penerbit UI Press, Jakarta. 7. Shigley, J. E., L. D. Mitchell, dan Gandhi Harahap. 1986. Erlangga, Jakarta. Perencanaan Teknik Mesin. Jilid I, Edisi Keempat, Penerbit