Anda di halaman 1dari 11

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

MODUL 1 PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN (3 SKS) POKOK BAHASAN : PENDAHULUAN MATERI KULIAH : Pendahuluan, Latar belakang perencanaan geometrik, dasar hukum, pentahapan pembangunan jalan dan penampang melintang jalan 1.1. Pendahuluan Perkembangan jalan dimulai dari sejarah manusia itu sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan berkomunikasi dengan sesama, Dengan demikian perkembangan jalan saling berkaitan dengan teknik jalan (higway engineering), seiring perkembangan teknologi yang ditemukan manusia. Defenisi Jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannnya yang diperuntukan bagi lalu lintas. Perencanaan geometrik jalan seperti sekarang ini baru dikenal sekitar tahun 1960 kemudian mangalami perkembangan yang cukup pesat sejak tahun 1980. Perencanaan geometrik jalan merupakan bagian perencanaan jalan yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik, sehingga dapat memenuhi fungsinya untuk memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu lintas dan akses dari rumah ke rumah. Dalam lingkup pekerjaan ini termasuk pula dimensi perkerasan, tetapi bukan pada perencanaan tebal perkerasannya. Yang menjadi dasar perencanaan geometrik adalah sifat gerakan, sifat pengemudi dalam mengendalikan gerakan kendaraan dan karakteristik arus lalu lintas. Sedangkan perencanaan tebal perkerasan mempunyai lingkup perencanaan bahan dan perencanaan tebal perkerasan menurut suatu metoda tertentu .

Materi Perkuliahan terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. Pendahuluan ( Latar Belakang, Dasar Hokum, Tahap Pembangunan Jalan, Penampang Melintang Jalan) Aspek Perencanaan Geometric Jalan ( Standard Perencanaan, Hirarki Jalan, Parameter Rencana) Dasar Perencanaan Alinyemen Horizontal Perencanaan Tikungan (Circle, SCS, Spiral Spiral) Alinyemen Vertikal

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

6. 7. 8.

Galian Dan Timbunan Bahan Perkerasan Jalan (agregat , aspal, dan additives) Perencanaan Tebal Perkerasan Jalan (Metoda Bina Marga dan ASSHTO)

1.2. Latar Belakang Perencanaan Geometrik Jalan Perencanaan Geometrik jalan merupakan salah satu persyaratan dari perencanaan jalan yang merupakan rancangan arah dan visualisasi dari trase jalan agar jalan memenuhi persyaratan selamat, aman, nyaman, efisien. Tidak selalu persyaratan itu bisa terpenuhi karena adanya faktor faktor yang harus menjadi bahan pertimbangan antara lain keadaan lokasi, topografi, geologis, tata guna lahan dan lingkungan. Semua faktor ini bisa berpengaruh terhadap penetapan trase jalan karena akan mempengaruhi penetapan Alinyemen Horisontal, Alinyemen Vertikal danpenampang melintang sebagai bentuk efisiensi dalam batas persyaratan yang berlaku

Gambar 1. Geometrik Jalan Beberapa alasan mengapa perlu perencanaan geometrik jalan adalah sbb : Disain jalan membutuhkan elemen-elemen perancangan yang spesifik seperti jumlah lajur, lebar lajur, type dan lebar median, panjang lajur pendakian untuk truk dalam menerima perubahan kelandaian (superelevasi), dan jari-jari tikungan. Kesemuanya dipengaruhi oleh karakteristik kendaraan yang lewat. Sehingga dipikirkan suatu kendaraan rencana yang mewakili performance dan dimensi fisik kendaraan untuk mengatasi kompleksnya prosedur perencanaan dan sebagai kompromi.

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

Selanjutnya disain standar harus berubah dari waktu ke waktu untuk merespons perubahanperubahan dimensi dan performance kendaraan serta bukti-bukti yang nyata dalam perencanaan

Standart perencanaan ditentukan secara detail dalam A policy on geometric Design of highway and streets 1984 (AASHTO 84)

Elemen perencanaan geometrik terdiri atas Alinyemen horisontal, Alinyemen vertikal, dan Penampang Melintang jalan.

Tujuan utama perancangan geometric Jalan adalah untuk menghasilkan jalan yang dapat melayani lalu lintas dengan nyaman, efisien serta aman. Adalah aspek-aspek perencanaan bagian-bagian jalan (trase, lebar, tikungan, landai, & jarak pandangan) dan juga kombinasi dari bagian-bagian tersebut sesuai dengan tuntutan dan sifat-sifat lalu lintas dengan tujuan untuk menciptakan hubungan yang baik antara waktu dan ruang dengan kendaraan agar dicapai efisiensi, keamanan dan kenyamanan secara optimal dalam batas-batas kelayakan ekonomi 1.3. Dasar Hukum

Departemen Pekerjaan Umum, Standar Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan,

Dept. PU, 1988 Departemen Pekerjaan Umum, Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota, Dept. PU, 1990 AASHTO, A policy on Geometric Design of Highways and Streets, AASHTO, 1984, or 1990

Peraturan Pemerintah ( PP ) Nomor : 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas,

Dirjen Bina Marga, PPGJR, 1970

Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas Tentang Angkutan Jalan

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

1.4

Pentahapan Pembangunan jalan


A N A L IS I S J A R I N G A N FUN G SI JALAN

A N A L IS IS L A L U L IN T A S

STANDARD PERENCANAAN

SU RVEY TO PO G RAFI

P R O S E S D E S A IN A L IN Y E M E N V E R T IK A L & H O R IS O N T A L

P E M E R IK S A A N K O N S IS T E N S I & JARAK PANDANG

P E M E R IK S A A N V O L U M E G A L IA N /T IM B U N A N

T ID A K

A L IN Y E M E N MEM UASKAN ?

YA

M ENGGAM BAR D E S A IN J A L A N

Gambar 2. Diagram Perencanaan Geometrik Jalan

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

1.5

Penampang Melintang Jalan

Penampang melintang merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu jalan, sehingga dapat terlihat bagian-bagian jalan. Bagian jalan yang utama dapat dikelompokkan : A. Bagian yang langsung berguna untuk lalin (badan jalan, lalin, lajur lalin, bahu jalan, trotoar, median)

Badan jalan : atau lebar perkerasan jalan tergantung pada lebar jalur lalu lintas nya, untuk lalu lintas normal lebar badan jalan 3.50 meter , (jalan penghubung 3.00 mter, jalan utama = 3.75 m)

Jalur lalin : Keseluruhan bagian perkerasan yang diperuntukkan untuk lalu lintas kendaraan, Lajur lalin juga merupakan bagian jalur yang khusus diperuntukkan untuk dilewati serangkaian kendaraan roda 4 atau lebih dalam 1 arah

Bahu jalan : bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dg jalur lalin untuk menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat dan untuk pendukung samping bagi lapis pondasi dan lapis permukaan., Kemiringan bahu jalan normal antara 3 5 % Trotoar : Jalur yang disediakan untuk pejalan kaki berdampingan dg jalur lalin, dan lebarnya tergantung volume pejalan kaki. Untuk keamanan dibuat terpisah dg kerb (curb).

Median : jalur pembagi jalan dalam masing-masing arah. Jalan 2 arah dengan 4 jalur atau lebih perlu dilengkapi median., Lebar minimum median terdiri atas jalur tepian selebar 0,25 0,50 meter dan pemisah jalur ditetapkan sebagai berikut:

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

Gambar 3 : Typikal Jalan 2 Jalur Sumber : Civil engineering formula, Mc. Graw Hill Tabel 1.1 Bentuk Median Jalan Bentuk median Median ditinggikan Median direndahkan Lebar minimum (m) 2,0 7,0

(a)

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

(b) Catatan : Gambar (a) : Penampang jalan didaerah galian (cutting) (b) : Ruang Milik Jalan

B. Bagian yang berguna untuk drainase jalan (saluran samping, kemiringan melintang jalur lalin, kemiringan melintang bahu, kemiringan lereng), Perlengkapan drainase merupakan bagian yang sangat penting dari suatu jalan, seperti saluran tepi, saluran melintang jalan yang harus disesuaikan dengan data-data hidrologi, seperti curah hujan. Drainase dapat membebaskan pengaruh yang buruk akibat air terhadap konstruksi perkerasan jalan. C. Bagian Pelengkap jalan (Kerb, pengaman tepi untuk ketegasan tepi badan jalan) D. Bagian konstruksi jalan (Lapis permukaan, pondasi atas, pondasi bawah, tanah dasar) E. Daerah manfaat jalan F. Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA) dibatasi oleh: 1. Lebar antara batas ambang pengaman konstruksi jalan dikedua sisi jalan 2. Tinggi 5 meter diatas permukaan perkerasan pada sumbu jalan, 3. Kedalaman ruang bebas 1,5 meter dibawah muka jalan.

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

G. Daerah Pengawasan Jalan (DAWASJA) dibatasi oleh: 1. Jalan Arteri minimum 20 meter 2. Jalan Kolektor minimum 15 meter 3. Jalan Lokal minimum 10 meter DAWASJA didaerah tikungan ditentukan oleh jarak pandangan bebas. Pengertian : Badan Jalan adalah bagian jalan yang meliputi seluruh jalur lalu lintas, median, dan bahu jalan. Bahu Jalan adalah bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas untuk menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat, dan untuk pendukung samping bagi lapis pondasi bawah, lapis pondasi, dan lapis permukaan. Batas Median Jalan adalah bagian median selain jalur tepian, yang biasanya ditinggikan dengan batu tepi jalan. Daerah di Luar Kota adalah, daerah lain selain daerah perkotaan. Daerah Manfaat Jalan (Damaja) adalah daerah yang meliputi seluruh badan jalan, saluran tepi jalan dan ambang pengaman. Daerah Milik Jalan (Damija) adalah daerah yang meliputi seluruh daerah manfaatjalan dan daerah yang diperuntukkan bagi pelebaran jalan dan penambahan jalur lalu lintas di kemudian hari serta kebutuhan ruangan untuk pengaman jalan. Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) adalah lajur lahan yang berada di bawah pengawasan penguasa jalan, ditujukan untuk penjagaan terhadap terhalangnya pandangan bebas pengemudi kendaraan bermotor dan untuk pengamanan konstruksi jalan dalam hal ruang daerah milik jalan tidak mencukupi. Daerah Perkotaan adalah daerah kota yang sudah terbangun penuh atau areal pinggiran kota yang masih jarang pembangunannya yang diperkirakan akan menjadi daerah yang terbangun penuh dalam jangka waktu kira-kira 10 tahun mendatang dengan proyek perumahan, industri, komersil, dan berupa pemanfaatan lahan lainnya yang bukan untuk pertanian.

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

Jalan Antar Kota adalah jalan jalan yang menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi dengan ciri-ciri tanpa perkembangan yang menerus pada sisi mana pun termasuk desa, rawa, hutan, meskipun mungkin terdapat perkembangan permanen, misalnya rumah makan, pabrik, atau perkampungan. Jalur Lalu lintas adalah bagian daerah manfaat jalan yang direncanakan khusus untuk lintasan kendaraan bermotor (beroda 4 atau lebih). Lajur adalah bagian pada jalur lalu lintas yang ditempuh oleh satu kendaraan bermotor beroda 4 atau lebih, dalam satu jurusan.

Gambar 3. Profil Memanjang Jalan

12

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

Gambar 3. Peta Jaringan Jalan Nasional

Panjang Segmen/Ruas Panjang (km) , Tol : Krapyak - Jatingaleh 8.50 Semarang Jatingaleh - Srondol 6.39 Jatingaleh Gayam Sari 6.20 Gayam Sari - Kaligawe 4.50 Jumlah 25.59 Jalan akses Pintu Gerbang Halim 2.00 Halim Pondik Gede Barat 2.50 Pondik Gede Barat Pondok Gede Timur 3.50 Pondok Gede Timur Bekasi Barat 4.50 Cikampek Jakarta Bekasi Barat Bekasi Timur 5.00 Bekasi Timur - Cibitung 7.50 Cibitung - Cikarang 6.20

12

10

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK PERENCANAAN DAN DISAIN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Modul 1

Cikarang Karawang Barat 15.80 Karawang Barat Karawang Timur 7.30 Karawang Timur Kali Urip 14.30 Kali Urip - Cikampek 4.40

Sumber : PT Jasa Marga Cabang Jakarta Cikampek

Daftar Pustaka : 1. Departemen pekerjaan Umum(1988), Standar Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan. 2. Sukirman, S. (1994) Perencanaan Geometrik jalan, NOVA Bandung 3. Hadiwardoyo, Sigit P. (1995) Perencanaan Geometrik Jalan , Laboratorium Jalan dan Suvei FT. UI 4. AASHTO, (1994) A Policy on geometric design of highway and street 5. Spesifikasi Standard untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota, SubDit Perencanaan Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1990 6. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/BM/1997, Direktorat Jenderal Bina Marga 7. Standard Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, 1992

12

11

Perencanaan Geometrik Jalan (TB) Ir Alizar MT.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana