Anda di halaman 1dari 16

BAB I TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI: PESAN BERANTAI

A. Latar Belakang
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada pasien psikiatri yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas diguanakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat pasien psikiatri melatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku yang maladaptif. RSKD Duren Sawit, khususnya Ruang Belimbing, adalah salah satu ruangan untuk pasien psikiatri yang pada umumnya mengalami gangguan kejiwaan seperti harga diri rendah, isolasi sosial, waham, halusinasi, defisit perawatan diri, perilaku kekerasan, dan resiko bunuh diri. Dari hasil survei, sebagian besar pasien psikiatri di Ruangan Belimbing adalah pasien yang tenang. Dalam kesehariannya, sebagian besar waktu pasien dihabiskan dengan kegiatan harian yang telah dijadwalkan oleh perawat ruangan tersebut dan ada sebagian kecil yang masih belum bisa mengikuti kegiatan tersebut. Di Ruangan Belimbing, pasien psikiatri diberi berbagai kegitan sehingga pasien tidak merasa bosan dan sepi. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)/ Sosialisasi TAK adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Salah satu gangguan hubungan social pada pasien gangguan jiwa adalah isolasi sosial. Berdasarkan hasil survei di Ruang Belimbing dengan jumlah pasien 22 orang, klien di RSKD Duren Sawit sebanyak 70% mengalami halusinasi, sebanyak 20% mengalami isolasi sosial, sebanyak 3,5% mengalami perilaku kekerasan, sebanyak 3% mengalami defisit perawatan diri, dan waham sebanyak 3,5%. Maka dengan data yang ada, kami mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan UPN Veteran Jakarta akan melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) yaitu Sosialisasi : Pesan Berantai.

B. Topik
Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi:Pesan Berantai

C. Tujuan
1. Tujuan Umum a. Peningkatan kepekaan terhadap stimulus. b. Peningkatan interaksi dengan lingkungan c. Peningkatan kerja sama antar pasien di Ruangan Belimbing. 2. Tujuan Khusus a. Klien dapat menjalin interaksi dengan pasien lain. b. Klien dapat menyampaikan isi pesan sesuai instruksi perawat.

D. Landasan Teori
1. Pengertian Isolasi Sosial Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252). Isolasi sosial merupakan keadaan di mana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito ,L.J, 1998: 381). Menurut Rawlins, R.P & Heacock, P.E (1988 : 423) isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan

akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam kegagalan. 2. Penyebab Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut (Townsend, M.C,1998:152). Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S,J (1998 : 345). Isolasi sosial disebabkan oleh gangguan konsep diri harga diri rendah. Gangguan konsep diri: harga diri rendah adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998 :227). Menurut Townsend (1998:189) harga diri rendah merupakan evaluasi diri dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif baik langsung maupun tidak langsung. Pendapat senada dikemukan oleh Carpenito, L.J (1998:352) bahwa harga diri rendah merupakan keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri yang negatif mengenai diri atau kemampuan diri. 3. Tanda Dan Gejala Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut: a. Data subjektif : 1) 2) Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki

b. Data objektif 1) 2) 3) 4) 5) Tampak menyendiri dalam ruangan Tidak berkomunikasi, menarik diri Tidak melakukan kontak mata Tampak sedih, afek datar Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke pintu

6)

Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan

perkembangan usianya 7) 8) 9) 10) Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya Kurang aktivitas fisik dan verbal Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya

4. Akibat Dari Isolasi Sosial Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya gangguan sensori persepsi halusinasi (Townsend, M.C, 1998 : 156). Gangguan sensori persepsi halusinasi adalah persepsi sensori yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suarasuara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S, 1995:421). Menurut Maramis (1998:119) halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional, organik atau histerik. Perubahan persepsi sensori halusinasi sering ditandai dengan adanya: a. Data subjektif: 1) 2) 3) Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat Tidak mampu memecahkan masalah Mengungkapkan adanya halusinasi (misalnya mendengar suara-suara atau

melihat bayangan) 4) Mengeluh cemas dan khawatir

b. Data objektif: 1) 2) Apatis dan cenderung menarik diri Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola komunikasi, kadang

berhenti berbicara seolah-olah mendengarkan sesuatu 3) Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara

4) 5) 6) 7)

Menyeringai dan tertawa yang tidak sesuai Gerakan mata yang cepat Pikiran yang berubah-rubah dan konsentrasi rendah Respons-respons yang tidak sesuai (tidak mampu berespons terhadap

petunjuk yang kompleks.

5. Definisi TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) Terapi disini diartikan sebagai suatu aktivitas yang digunakan di dalam kelompok dan dilakukan secara bersama. Aktivitas disini diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan proses klien yang lebih baik dalam keadaan kondisi psikiatrinya, baik biologis-psikologis-sosial-spiritual. Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (Stuart dan Laraia, 2001). Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah prilaku yang obstruktif dan maladaptif. Kelompok berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lainnya untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu. Fokus dari terapi kelompok adalah membuat perubahan sadar diri, peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan atau ketiganya. Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Dengan TAK itu sendiri memerlukan psikoterapi dengan sejumlah pasien dengan waktu yang sama, manfaat terapi aktivitas kelompok adalah agar klien dapat kembali belajar bagaimana cara bersosialisasi karena kelompok ini berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman dan membantu satu sama lain untuk menemukan cara menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya.

E. Klien
1. Kriteria - Pasien psikiatri Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit. - Klien yang tenang dan koperatif. - Klien dengan riwayat isolasi sosial. - Klien yang mengikuti TAK ini tidak mengalami perilaku agresif atau mengamuk, dalam keadaan tenang. - Klien dapat membaca instruksi perawat. - Klien yang tidak mengalami gangguan pendengaran. 2. Proses seleksi

Klien diseleksi berdasarkan pengkajian dari perawat. Penyeleksian masalah berdasarkan masalah keperawatan. Selanjutnya dilakukan kontrak dengan klien.

F. Pengorganisasian
1. Waktu a. Hari / tanggal b. Jam c. Acara a. Tempat d. Jumlah pasien 2. Tim terapis a. Leader : Rista Melyana Purba Membuka jalannya kegiatan Memperkenalkan diri dan anggota kelompok. Memimpin dalam menginstruksikan terapi aktivitas kelompok Merencanakan, mengontrol, dan mengatur jalannya terapi. Fase Orientasi Fase Kerja Fase Terminasi : Jumat, 8 Februari 2013 : 09.00 09.30 WIB (30 menit) : 30 menit : 5 menit : 20 menit : 5 menit : Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit : 7 orang

Menetapkan tujuan dan peraturan kelompok Membacakan tujuan dan peraturan kelompok sebelum kegiatan dimulai Memberi reinforcement positif

b. Co leader : Amansius Timon Membantu tugas leader Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader Mengingatkan leader bila ada kegiatan yang menyimpang Mengingatkan pemimpin untuk lamanya waktu kegiatan Bersama leader menjadi contoh kerjasama yang baik

c. Fasilitator: Amalia Fildzah, Veri Endaryeni, Erdila Fitriana, Benny Dicky Permadi Ikut serta dalam anggota sebagai anggota kelompok Memotivasi anggota kelompok yang kurang atau tidak aktif selama TAK Menyiapkan alat / media Mengantisipasi hal hal diluar rencana

berlangsung

d. Observer : Ari Nur Fauzi Cahyaningsih Mencatat serta mengamati respon klien (dicatat pada format yang Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan, proses, Memberikan kesimpulan tersedia). hingga penutupan.

3. Metode dan media a. Metode b. Media Dinamika kelompok Diskusi

c. Setting

Kertas berisi instruksi Balon

F K K

F K K

F K K

F K

Keterangan : L CL O F K

O : Leader : Co leader : Observer : Fasilitator : Klien

CL

G. Antisipasi Masalah
1. Jika ada klien lain yang ingin masuk mengikuti kegiatan, akan diseleksi terlebih dahulu. Jika klien memenuhi kriteria, maka klien diizinkan masuk dan mengikuti TAK yang sedang berlangsung. 2. Jika ada klien yang ingin pergi, ditanyakan terlebih dahulu. Jika klien ingin kekamar mandi, klien ditemani oleh salah satu fasilitator dan izin terlebih dahulu kepada leader. 3. Jika ada klien ingin keluar dari kegiatan tanpa alasan, maka fasilitator memberikan motivasi terlebih dahulu. Jika klien memaksa keluar, maka klien dianggap gagal mengikuti TAK.

STRATEGI PELAKSANAAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TANGGAL 08 FEBRUARI 2013 DI RUANGAN BELIMBING RS KHUSUS DAERAH DUREN SAWIT A. PROSES KEPERAWATAN 1. Kondisi Klien a. Tn. Isworo: Pasien kooperatif, tidak ada masalah gangguan pada pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik. b. Tn. Sugianto: Pasien kooperatif, tidak ada masalah gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik. c. Tn. Rifky: Pasien kooperatif, tidak ada gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik, penampilan lemas, cepat mengantuk. d. Tn. Wahyu: Pasien kooperatif, tidak ada gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik, penampilan lemas. e. Tn. Mursidi: Pasien kooperatif, tidak ada gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik, penampilan lemas, kurang bersemangat. f. Tn. Okswi: Pasien koopeeratif, tidak ada gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik, penampilan lemas, kurang konsentrasi. g. Tn. Soimin: Pasien kooperatif, tidak ada masalah gangguan pendengaran, dapat membaca dan mengikuti instruksi perawat dengan baik.

2. Diagnosa Keperawatan: a. Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi b. Isolasi Sosial: Menarik Diri 3. Tujuan: a. Klien dapat berinteraksi dengan pasien lain. b. Klien dapat menjalin kerja sama yang baik dengan pasien lain. c. Klien dapat mengikuti instruksi perawat dengan tepat. 4. Tindakan: a. Memberi salam. b. Memperkenalkan diri (perawat dan pasien) c. Menjelaskan tujuan dari Terapi Aktivitas Kelompok d. Menjelaskan peraturan-peraturan dalam melakukan kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok. e. Menjelaskan langkah-langkah TAK. f. Mengamati jalannya TAK. g. Menilai jalannya TAK. h. Mengevaluasi hasil akhir dari TAK B. STRATEGI PELAKSANAAN 1. Orientasi a. Salam Terapeutik Selamat pagi Bapak-Bapak, perkenalkan nama saya Rista, disebelah saya ada Dilla, Veri, Lia, Aya, Aman dan Benny. Kami mahasiswa dari UPN Veteran Jakarta. b. Sekarang giliran Bapak-Bapak disini yang memperkenalkan diri (menanyakan semua nama dan panggilan semua klien). Evaluasi/Validasi Bagaimana perasaan Bapak-Bapak hari ini? Bagaimana tidurnya semalam? Bias tidur nyenyak idak?

c.

Kontrak : 1) Tujuan : Bapak-Bapak, hari ini kita akan melakukan kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi: pesan berantai, tujuannya agar Bapak-Bapak bisa menyampaikan pesan dari orang lain dengan baik dan dapat bekerja sama antara satu orang ke orang lain . 2) Aturan Main: Bapak-Bapak, sebelum saya mulai, saya akan membacakan peraturannya dulu ya. a) Klien mengikuti TAK dari awal sampai akhir b) Jika akan keluar kelompok, klien harus semua meminta izin terapis. c) Lama kegiatan 30 menit.

2. Fase Kerja Bapak-Bapak, sekarang saya akan menjelaskan cara mainnya yaa, nanti Bapak yang paling pinggir akan saya beri balon yang diselipkan diantara kedua lutut dan diberikan waktu untuk membaca pesan yang ada dikertas ini, dan hafalkan selama 2 menit, setelah itu saya akan menghitung sampai tiga. Kemudian bapak yang paling pinggir mengoper balon keteman sebelahnya serta menyampaikan pesan yang sudah di hafal tadi. Nanti Bapak mengoper balon dan menyampaikannya lagi ke teman samping Bapak, begitu seterusnya sampai selesai. Sekarang saya akan memberi kertas ini, silahkan Bapak baca dan hafalkan/ pahami isinya. Setelah itu sampaikan pesan tersebut ke orang disamping anda sambil mengoper balon tersebut, begitu seterusnya sampai selesai . 3. Tahap terminasi a. Evaluasi : 1) Bagaimana perasaan Bapak - Bapak setelah mengikuti permainan pesan berantai ini? 2) Oke, karena semuanya sudah bagus mengikuti permainan ini, kita tepuk tangan dengan pandu positif. Seperti ini ya caranya, Bapak - Bapak tepuk tangan, kemudian mengatakan kita semua memang hebat!

b. c.

Bapak - Bapak, setelah kegiatan ini, Bapak - Bapak dapat mulai untuk Kontrak yang akan datang

berinterksi dengan baik dan mampu untuk bersosialisasi. Bapak - Bapak TAK ini adalah kegiatan terakhir yang disampaikan perawat mahasiswa UPN Veteran. Semoga berkesan dan bermanfaat untuk kita semua.

C. EVALUASI DAN DOKUMENTASI 1. Evaluasi struktur Sebelum melakukan kegiatan kami mengumpulkan referensi setelah itu penulis membaca serta menganalisa kegiatan yang baik untuk klien di Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit serta berdiskusi dengan penanggung jawab ruangan. Kemudian kami membuat proposal kegiatan dengan proses pengkoreksian atau konsul dengan pembimbing/CI. Setelah proposal kami disetujui, kami melakukan persiapan untuk pelaksanaan kegiatan kepada lansia di Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit. Kegiatan dilaksanakan dengan beranggotakan 7 orang yaitu sebagai leader : Rista Melyana Purba, Co leader : Amansius Timon, Fasilitator : Amalia Fildzah, Veri Endaryeni, Erdila Fitriana, Benny Dicky Permadi dan Observer : Ari Nur Fauzi Cahyaningsih. Pembimbing (CI) : Ibu Jumatina. Setelah kegiatan selesai dilaksanakan kemudian dilanjutkan dengan mengevaluasi kegiatan. 2. Evaluasi proses TAK yang dilakukan di Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit berhasil dilakukan dimana jumlah mahasisiwa yang melakukan TAK berjumlah 7 orang dan pasien yang hadir 7 orang. Acara di mulai dengan salam pembuka, penjelasan topik yang akan dilakukan dalam TAK hari ini, dimulai dari leader, co leader, fasilitator, dan observer serta pendokumentasiannya. Peserta aktif dalam mengikuti kegiatan, 80% klien dapat mengikuti kegiatan sampai selesai, leader dan co leader dapat mengarahkan peserta untuk aktif melaksanakan kegiatan, fasilitator dapat memotivasi peserta untuk aktif menyelesaikan kegiatan, observer dapat melaporkan jalannya kegiatan. 3. Evaluasi hasil

Target yang ingin kami capai dalam kegiatan aktivitas kelompok (TAK) yang dilakukan pada hari Jumat, 8 Januari 2013 pukul 09.00 09.30 WIB di Ruang Belimbing RSKD Duren Sawit. Target yang ingin kami capai dalam pengembangan kemampuan klien untuk melakukan TAK ini sekitar 80%. Dengan kriteria hasil : 1) Kemampuan verbal a) c) a) c) Klien mampu menyebutkan nama dan nama panggilannya : 80% Klien mampu menyampaikan pesan dengan benar : 80% Klien dapat mengoper balon sesuai instruksi : 80% Klien menggunakan anggota tubuh yang sesuai dengan instruksi saat mengoper bola : 80% d) Klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir : 80 % Evaluasi dan dokumentasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dinilai dan dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Formulir evaluasi sebagai berikut. Evaluasi dan Dokumentasi a. Kemampuan Verbal No 1 2 3 Aspek yang Dinilai Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan Klien mampu menyebutkan beberapa kata Klien mampu menyampaikan pesan Nama Peserta TAK b) Klien mampu menyebutkan beberapa kata : 70% 2) Kemampuan non verbal b) Kontak mata : 80 %

dengan benar Jumlah Petunjuk :

1.

Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengikuti, menggambar, menyebutkan dan menceritakan makna gambar. Beri tanda jika klien mampu dan tanda jika klien tidak mampu.

2.

Jumlahkan kemampuan yang ditemukan. Jika mendapat nilai 5 atau 6 berarti klien lulus ; jika nilai 4 klien belum lulus dan berarti klien harus memperkenalkan diri kepada teman-temannya.

b. Kemampuan Non Verbal No 1 2 3 4 Aspek yang Dinilai Kontak mata Klien dapat mengoper balon sesuai Nama Peserta TAK

instruksi Klien menggunakan anggota tubuh yang sesuai dengan instruksi saat mengoper bola Klien mengikuti kegiatan dari awal sampai

akhir Jumlah Petunjuk : 1. Untuk tiap klien, semua aspek dimulai dengan member tanda checklist () jika ditemukan pada klien atau tanda silang (X) jika tidak ditemukan. 2. Jumlahkan kemampuan yang ditemukan, jika nilai 5 atau 6 klien dianggap mampu, dan jika nilai 3, atau 4 klien belum mampu.

DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Lilik Marifatul. 2011. Keperawatan Jiwa : Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta: Graha Ilmu Fitria, Nita. 2010. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba Medika Keliat, Budi A., Arkemat. 2004. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI PESAN BERANTAI DI RUANG BELIMBING RSKD DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR

OLEH : Rista Meliana Purba Amalia fildzah Ari Nur Fauzi Cahyaningsih Veri Endaryeni Erdila Fitriana Amansius Timon Benny Dicky Permadi 1010711081 1010711105 1010711060 1010711100 1010711083 1010711090 1010711050

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA 2013