Anda di halaman 1dari 121

BISNIS YANG BAIK

Tinjauan etis teologis mengenai persepsi warga jemaat


terhadap bisnis Kristen di jemaat GPIB Passareang, Makassar

Tesis
Untuk memenuhi sebahagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2

Program Magister Teologi


Program Studi Etika

Diajukan oleh
Stephen G.R. Sihombing
265.029

Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
STT INTIM MAKASSAR

Januari 2008
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

SERTIFIKAT UJIAN TESIS

Semua yang bertandatangan di bawah ini, menerangkan bahwa Tesis Magister

Theologi (M.Th) dengan judul:

BISNIS YANG BAIK

Tinjauan etis teologis mengenai persepsi warga jemaat terhadap bisnis Kristen

di jemaat GPIB Passareang, Makassar

yang dipersiapkan dan disusun oleh:

Stephen G.R. Sihombing


265.029
telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 20 Desember 2008 dan

dinyatakan lulus dengan nilai A .

Susunan Dewan Penguji

Pembimbing I Penguji I

Pdt. Dr. Yusuf G. Mangumban Pdt. Dr. Yusuf G. Mangumban

Pembimbing II Penguji II

Pdt. Ny. Resty Arnawa-T, M.Th Drs. Ishak Ngeljaratan, MA

Mengetahui

Program Pascasarjana STT INTIM Makassar

Pdt. DR. Andarias Kabanga’

Direktur
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan

Tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis

dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari diketahui ini tidak benar, saya bersedia menerima

sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Makassar, 15 Januari 2009

Stephen G.R. Sihombing


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

KATA PENGANTAR

Tuntutan untuk berlaku etis dalam bisnis merupakan kenyataan

mutlak yang harus diperhatikan semua pihak yang ingin menjaga agar

lembaga bisnis dapat memberi sumbangan positif bagi kesejahteraan

hidup manusia. Kiranya, tesis ini dapat bermanfaat bagi siapa saja

yang menginginkan terciptanya hubungan integratif bisnis dengan

etika Kristen.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih

kepada dosen pembimbing, Bp. Pdt. DR. Yusuf G. Mangumban dan

Ny. Resty Arnawa-T, M.Th yang telah dengan setia dan sabar

mengarahkan penulis dalam proses penelitian sampai tesis ini selesai.

Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada staff pengajar STT

INTIM Makassar, yang telah memperkaya wawasan teologi penulis

selama menempuh pendidikan antara tahun 2006-2008, khususnya

Bp. Pdt. DR. Andarias Kabanga’, Bp. Pdt. DR. Nazarius Rumpak,

Bp. Prof. DR. W.I.M Poli, Bp. Drs. Ishak Ngeljaratan, MA,

Bp. Pdt. D. Sopamena, M.Th, dan Bp. Pdt. Ruben Persang, M.Th.

Tidak dapat dilupakan rekan-rekan dari perpustakaan STT INTIM


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Makassar yang dengan setia melayani kebutuhan penulis dalam

memperoleh buku-buku untuk kepentingan penelitian.

Ucapan terima kasih yang sama disampaikan pula kepada

Bp. Anggiat Sinaga, MBA, Bp. Ir. Leo Hehanusa, M.Si dan Bp. Max

Saliwir, SE, atas bantuannya dalam proses penulisan tesis ini.

Sahabat-sahabat penulis, David dan Wilson, perlu dicatat di sini

sebagai teman yang komunikatif selama proses studi telogi.

Penulis berterima kasih juga kepada jemaat-jemaat GPIB,

khususnya Jemaat GPIB Passareang, tempat di mana penulis

mengambil bagian dalam pengabdian pelayanan. Penulis tidak dapat

melupakan budi baik dari rekan-rekan sesama pendeta GPIB yaitu,

Pdt. Ny. M.A. Manopo, Pdt. Ny. M.T. Meijer-Hallatu, M.Th,

Pdt. Marlyn Joseph S.Th, dan Bp. Pdt. Timotius Susilo, S.Ag.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang

mendalam kepada Majelis Sinode GPIB XVIII yang telah

memberikan rekomendasi dan bantuan keuangan selama studi

berlangsung. Secara khusus, penulis sangat berterima kasih kepada

Bp. Pnt. Prof. Dr. John Fo’Eh dan keluarga yang dengan tulus

mendukung dan membantu pergumulan penulis selama studi dan tugas

pelayanan dalam jemaat GPIB.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Akhirnya, penulis berterima kasih kepada segenap keluarga:

istri kekasih, Ir. Dewi Arung, kedua anak kekasih: Jacqueline dan

Stefany, kedua orang tua: Mami di Makassar dan Mama di Jakarta,

yang telah mendukung dengan doa dan kasih. Semua ucapan terima

kasih ini dapat dikatakan, karena kemurahan Allah yang melimpah

dalam hidup penulis sampai hari ini.

Makassar, 15 Januari 2009

Penulis

Stephen G. R. Sihombing
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................. i

SERTIFIKAT UJIAN TESIS ............................................................. ii

PERNYATAAN ............................................................. iii

KATA PENGANTAR ............................................................. iv

DAFTAR ISI ............................................................. vii

ABSTRACT ............................................................. x

ABSTRAK ............................................................. xi

BAB I : PENDAHULUAN ............................................................ 1

A Latar Belakang Masalah ............................................................. 1

B Batasan Masalah .............................................................. 4

C Rumusan Masalah .............................................................. 5

D Tujuan Penelitian .............................................................. 5

E Manfaat Penelitian .............................................................. 6

F Keaslian Penelitian .............................................................. 6

G Tinjauan Pustaka .............................................................. 8

H Landasan Teori .............................................................. 10

I Hipotesa .............................................................. 11

J Jenis dan Metode Penelitian .............................................................. 12

K Sistematika Penulisan .............................................................. 14

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 15

A Pemikiran Teoritis .............................................................. 15


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

1.1 Pengertian Etika .............................................................. 15

1.2 Pengertian Etika Kristen .............................................................. 19

2 Relasi Bisnis dan Etika .............................................................. 21

2.1 Bisnis .............................................................. 21

2.2 Klasifikasi Bisnis .............................................................. 23

2.3 Tantangan yang dihadapi Bisnis .................................................. 23

2.3.1 Tantangan Produktivitas .................................................. 23

2.3.2 Tantangan Kualitas .................................................. 24

2.3.3 Tantangan Pasar Global .................................................. 24

2.4 Pentingnya Etika dalam Bisnis .................................................. 24

3 Persepsi Bisnis Kristen .............................................................. 28

3.1 Pengertian Persepsi .............................................................. 28

3.2 Bisnis menurut Iman Kristen .................................................. 29

3.3 Praktek Bisnis dalam Gereja .................................................. 35

4 Persepsi Bisnis menurut Agama Islam dan Agama Budha ......... 36

4.1 Agama Islam .............................................................. 36

4.2 Agama Budha .............................................................. 37

5 Jemaat GPIB Passareang ............................................................. 39

B Keaslian Penelitian .............................................................. 41

C Kerangka Konseptual .............................................................. 45

D Landasan Teori .............................................................. 46

BAB III : METODE PENELITIAN .............................................................. 47

A Jenis Penelitian .............................................................. 47


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

B Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 48

C Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 48

D Teknik Analisis Data ............................................................. 49

BAB IV : PEMBAHASAN .............................................................. 54

1 Hasil Penelitian .............................................................. 54

1.1 Karakteristik Responden ............................................................... 54

1.2 Persepsi Responden mengenai Bisnis Kristen .............................. 56

2 Pengukuran Persepsi berdasarkan Skala Likert ............................. 65

3 Interpretasi Data dan Uji Hipotesis ................................................ 70

BAB V : REFLEKSI TEOLOGIS .............................................................. 77

1 Hubungan Integratif Etika Kristen dengan Bisnis ...................... 77

2 Bisnis yang Baik ............................................................... 79

2.1 Melayani Kehendak Allah .............................................................. 81

2.2 Menghargai Sesama .............................................................. 83

2.3 Memiliki Tanggung Jawab Sosial ................................................. 85

3 Tanggung Jawab Gereja ............................................................... 87

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 88

1 Kesimpulan ............................................................... 88

2 Saran ............................................................... 90

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP PENULIS


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

ABSTRACT

Business is economic activities that cope with material profits. Seeking for
profit in business is an ethical or good action. Actually, business is not run as well
as its substance. Business was running with manipulative ways and egoism which
victimize society and environment. Christianity has ethical principles which are
useful in business. Ethical principle based on Scripture which can be understood
and practised in Christian business, are the main goal of this research.
The locus of the research is Protestant Church in the West of Indonesia
(GPIB) Congregation “Passareang” at Makassar that covers 100 (a hundred)
respondents, from June until August 2008. Descriptive-survey with questionnaire
and interview techniques is the methodology used in this research. Interviewing
with business practitioners, member of assembly of congregation and priests were
conducted. Likert’s scale has been used in this research to measure church’s
member perception about Christian business. The result of the research proves
that (1) church’s members have good perception of the Christian business, (2) the
principles of ethical business could be practised by a Christian businesman, and
(3) church gives less attention for complementing church’s members about good
business based on Christian ethics.
The principles of Christian ethics in business can be formulated in three
primaries (1) to serve the will of God, (2) respect each other and (3) have a social
responsibility. GPIB has a responsibility to equip church’s members to understand
the principles of Christian ethics in business. Business can be practised not only
for the sake of mankind, but also to serve the will of God. The importance of
ethics in business, to encourage all parties, both business practitioners, ethicians,
theological education institutions, and churches to create a business life with
dignity and ecologically oriented.

Keywords: perception, ethics, business, the Bible, Christian


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

ABSTRAK

Bisnis adalah kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan keuntungan materi.


Mencari keuntungan dalam bisnis adalah perbuatan yang etis atau baik. Dalam
kenyataan, bisnis tidak berjalan sesuai hakekatnya. Bisnis dijalankan dengan cara-
cara manipulatif dan egoisme sehingga masyarakat dan lingkungan hidup
dikorbankan. Kekristenan memiliki prinsip-prinsip etis yang dapat digunakan
dalam bisnis. Prinsip-prinsip etis berdasarkan Alkitab yang dipahami dan
dipraktekkan dalam bisnis Kristen, menjadi tujuan utama penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan di jemaat GPIB Passareang, Makassar dengan
melibatkan 100 responden pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2008.
Metode yang dipakai adalah metode survai deskriptif dengan teknik kuisioner dan
wawancara. Wawancara dilakukan kepada praktisi bisnis, anggota majelis jemaat
dan pendeta. Skala Likert digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur
persepsi warga jemaat mengenai bisnis Kristen. Hasil penelitian membuktikan
bahwa (1) warga jemaat memiliki persepsi yang baik tentang bisnis Kristen,
(2) prinsip-prinsip etis bisnis Kristen dapat dipraktekkan oleh pebisnis Kristen dan
(3) gereja kurang memberi perhatian penuh dalam melengkapi warga jemaatnya
mengenai bisnis yang baik berdasarkan etika Kristen.
Prinsip-prinsip etika Kristen dalam bisnis dapat dirumuskan dalam 3 pokok
yaitu (1) melayani kehendak Allah, (2) menghargai sesama dan (3) memiliki
tanggungjawab sosial. GPIB memiliki tanggung jawab dalam melengkapi warga
jemaat untuk memahami prinsip-prinsip etika Kristen dalam bisnis.
Bisnis dipraktekkan bukan hanya untuk kepentingan manusia tetapi juga untuk
melayani kehendak Allah. Pentingnya etika dalam bisnis, kiranya mendorong
semua pihak baik praktisi bisnis, etikawan, lembaga pendidikan teologi dan gereja
untuk menciptakan kehidupan bisnis yang bermartabat dan berwawasan ekologis.

Kata kunci: persepsi, etika, bisnis, Alkitab, Kristen


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang Masalah

Bisnis adalah kegiatan ekonomis yang dapat dirasakan semua orang dalam

upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Dengan bisnis, manusia

dapat mengorganisasikan sumber daya untuk menghasilkan dan mendistribusikan

barang dan jasa. Tujuan bisnis adalah memperoleh keuntungan, sehingga pelaku

bisnis berani menanggung resiko menanam modal dalam kegiatan bisnisnya. Dari

sudut pandang ekonomis, dapat dikatakan bisnis yang baik adalah bisnis yang

membawa banyak untung1. Mengejar keuntungan dalam bisnis adalah sesuatu

yang wajar, asalkan tidak mengorbankan kepentingan dan hak orang lain. Bertens

mengatakan bahwa keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak melainkan

saling menguntungkan kedua belah pihak2.

Dalam kenyataan, para pelaku bisnis lebih mengutamakan keuntungan

pribadi di atas segala-galanya. Misalnya, rencana kenaikan bahan bakar minyak

pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyhono bulan Mei 2008

mengakibatkan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen naik tidak

wajar karena faktor kecurangan pengusaha yang menahan dan menimbun BBM

bersubsidi bahkan menyelundupkannya untuk dijual ke luar negeri. 3

Praktek bisnis curang tidak hanya terjadi saat pemerintah hendak

memberlakukan kebijakan ekonomi tertentu, tetapi juga terjadi ketika pengusaha

1
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000, hlm. 17
2
Ibid., hlm. 17.
3
”Bensin Mulai Hilang di Makassar,” Tribun Timur, Makassar: 14 Juni 2008.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dan penguasa berkolusi dalam pelaksanaan proyek pembangunan atau pemberian

kredit. Pembangunan gedung sekolah, jalan, terminal atau pasar seringkali

kualitasnya buruk dan dalam waktu singkat sudah rusak. Kredit bernilai milyaran

rupiah diberikan kepada pengusaha akhirnya tidak terbayar, sementara nilai harta

kekayaan perusahaan jauh lebih kecil dibanding kredit yang dikucurkan bank4.

Era reformasi telah memberikan kebebasan sehingga pasar menjadi

kompetitif dan memberi peluang bagi pengusaha, misalnya menginvestasikan

modalnya dalam bisnis transportasi udara. Perang tarif antar maskapai

penerbangan telah memberikan keuntungan dan kemudahan bagi konsumen dalam

mobilitasnya. Namun, harga murah tiket pesawat tidak sebanding dengan jaminan

keselamatan penumpang. Sebagai contoh, hilangnya pesawat Adam Air pada awal

Januari 2007 di Majene menjadi pembenaran bahwa jaminan keselamatan

penumpang diabaikan sehingga tidak seorang pun selamat dalam kecelakaan itu 5.

Pada kasus lain, penggunaan bahan kimia seperti formalin untuk

mengawetkan ikan, daging, mi basah atau bakso dapat membahayakan kesehatan

manusia. Sekalipun para pengusaha mengetahui bahaya itu, tetapi mereka tidak

berusaha menghentikan. Bahan kimia berbahaya itu digunakan pada produk

makanan sebab murah harganya, mudah penggunaannya, lebih menarik pembeli,

dan sangat menguntungkan secara ekonomis.

Tidak hanya manusia, lingkungan alam turut dikorbankan. Kerusakan

ekologi meliputi punahnya spesies, hilangnya hutan tropis, penipisan ozon,

4
Kwik Kian Gie, Praktek Bisnis dan Orientasi Ekonomi Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBII, 1998, hlm. 431.
5
Gatot Widakdo, ”Misteri Jatuhnya Adam Air di Majene Terjawab”, Kompas, Jakarta: 25 Maret
2008.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tercemarnya ekosistem oleh limbah beracun, banjir dan pemanasan global6, terjadi

akibat penambangan dan eksploitasi hutan yang dilakukan pengusaha-pengusaha

yang mengantungi izin resmi pemerintah, tetapi melupakan tanggung jawab

sosialnya7.

Jika demikian perilaku pengusaha dalam menjalankan bisnisnya, maka

tidak heran jika bisnis itu dinilai kotor. Bisnis dipahami bukan untuk orang jujur,

saleh dan bermoral. Moralitas yang bersumber dari ajaran agama tidak dibutuhkan

dalam dunia bisnis. Bisnis mempunyai mekanisme dan moralitasnya sendiri yang

tidak boleh dicampuri oleh moralitas dari luar. Satu-satunya moralitas dalam

bisnis adalah: keuntungan. Segala tindakan yang dilakukan pengusaha dalam

bisnisnya adalah benar, baik dan tepat, jika mendatangkan keuntungan8.

Pakar etika bisnis Richard T. De George seperti dikutip Keraf, menyebut

pandangan yang memisahkan moralitas dalam bisnis sebagai mitos bisnis

immoral9. Dalam bisnis yang ketat, nilai-nilai moral dan etika hanya akan

membuat pengusaha kalah dalam persaingan bisnis, mengalami kerugian dan

tersingkir dengan sendirinya. Kerja orang bisnis adalah berbisnis dan bukan

beretika. Bisnis yang baik harus berdasarkan aturan dan kebiasaan yang

dipraktekkan dalam dunia bisnis dan bukan menurut kaidah-kaidah moral.10

6
Fred van Dyke, et al, Redeeming Creation: The Biblical Basis for Enviromental Stewardship,
Illinois: InterVarsity Press, 1996, hlm. 19-23.
7
Maria Hartiningsih dan Hartati Samhadi, ”Menggali Kubur Sendiri,” Kompas, Jakarta: 6 Maret
2008.
8
Eka Darmaputera, Etika Sederhana untuk Semua; Bisnis, Ekonomi dan Penatalayanan, Jakarta:
Gunung Mulia, 1990, hlm. 19-20.
9
A. Sony Keraf, Etika Bisnis, Cetakan ke-14, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hlm. 55-56.
10
Ibid., hlm. 57.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Mitos bisnis immoral ini sulit dibenarkan pengusaha yang menginginkan

bisnisnya sukses dan bertahan lama, sebab mereka harus memperhitungkan segala

akibat dan resiko untuk jangka panjang karena dalam bisnis ada nilai manusiawi

yang dipertaruhkan. Moralitas dan etika dalam bisnis merupakan harapan dan

kebutuhan masyarakat. Ketika norma, nilai dan kepentingan bersama dalam

masyarakat dicederai oleh praktek bisnis curang, masyarakat bertindak dengan

cara memprotes dan menolak bisnis demikian. Tindakan semacam ini jelas sangat

merugikan pengusaha itu sendiri dan masa depan bisnisnya11.

Bisnis yang baik tentu menghormati hukum positif yang berlaku, seperti

peraturan soal pajak, pembayaran royalti hak cipta atas kekayaan intelektual atau

undang-undang ketenagakerjaan. Namun tidak selalu bisnis yang memenuhi

perundang-undangan dapat diterima dan dibenarkan secara moral dan etis,

misalnya praktek monopoli atau penunjukkan langsung pengusaha tertentu tanpa

melalui penawaran terbuka dalam proyek-proyek pemerintah. Aturan hukum

menjadi tidak baik, tidak adil dan tidak etis karena permainan politik yang tidak

adil dan arogan sehingga dapat dikatakan aturan hukum bukan ukuran satu-

satunya dalam kegiatan bisnis12.

B Batasan Masalah

Beragam masalah seperti yang diuraikan di atas mendorong penulis untuk

meneliti lebih khusus tentang bagaimana persepsi warga jemaat GPIB (Gereja

Protestan di Indonesia bagian Barat) tentang bisnis Kristen. Jemaat GPIB yang

11
Ibid., hlm. 58-61.
12
Ibid., hlm. 61.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dipilih sebagai obyek penelitian ini adalah jemaat GPIB Passareang yang

beralamat di BTN Pepabri C 3 No. 15, Kelurahan Sudiang Raya, Makassar.

Warga jemaat GPIB sebagai persekutuan iman dan bagian dari masyarakat yang

luas memiliki persepsi tentang bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan

semata, tetapi juga terkait dengan nilai-nilai ajaran Kristen yang harus

dipraktekkan dalam kegiatan bisnis.

C Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka masalah-masalah penelitian

dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah persepsi warga jemaat GPIB Passareang mengenai bisnis yang

berdasarkan nilai-nilai etika Kristen yang bersumber dari Alkitab?

2. Bagaimana pebisnis Kristen mengaplikasikan prinsip-prinsip Alkitab

dalam kegiatan bisnisnya selama ini?

3. Bagaimanakah Gereja melalui Majelis Jemaat GPIB (Pendeta, Penatua dan

Diaken) memberikan pemahaman yang memadai kepada warga jemaat

mengenai bisnis dengan prinsip-prinsip Alkitab?

D Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis (1) persepsi

warga jemaat GPIB mengenai bisnis yang berdasarkan etika Kristen; (2)

implementasi nilai-nilai etika Kristen dalam bisnis oleh warga jemaat yang

berprofesi sebagai pengusaha; dan (3) kontribusi Gereja melalui majelis jemaat
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

GPIB dalam melengkapi warga jemaat memahami dan melakukan bisnis sesuai

dengan prinsip-prinsip Alkitab.

E Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yaitu:

1. Sebagai sumbangan penting dalam memperluas cakrawala pengetahuan di

bidang etika Kristen, khususnya etika bisnis sebagai etika terapan dalam

pendidikan teologi Kristen.

2. Sebagai masukan berharga bagi warga jemaat, khususnya mereka yang

terlibat dalam praktek bisnis mengenai pentingnya mempraktekkan bisnis

yang baik sesuai etika Kristen bagi keberhasilan bisnis mereka.

3. Sebagai sumbangan pemikiran bagi Gereja, khususnya majelis jemaat

GPIB untuk dapat membina dan melengkapi warga jemaat khususnya

mereka yang berprofesi sebagai pengusaha agar dapat mempraktekkan

bisnis yang baik dengan berpedoman kepada ajaran Alkitab.

F Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai bisnis dalam hubungannya dengan etika sudah

dilakukan oleh beberapa orang dengan konsentrasi studi yang berbeda. Pada bulan

Maret 2008, penulis berkesempatan mendalami karya-karya ilmiah di

perpustakaan STT Jakarta dan perpustakaan Nasional Jakarta dan mendapatkan

tiga karya ilmiah yang masing-masing ditulis oleh Lestari, Dewanto, dan Tompah

yang dianggap berbobot dan terkait dengan maksud penelitian ini..


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Lestari dalam tesis magisternya Tinjauan Etika Bisnis dalam Persaingan

Usaha di Indonesia membahas etika bisnis dari perspektif hukum dengan

pendekatan kualitatif. Etika bisnis menurutnya sangat penting ditegakkan dalam

persaingan usaha dan untuk itu dibutuhkan kepastian hukum agar dapat

menguntungkan semua pihak13. Lestari melakukan penelitiannya di Jakarta.

Dewanto dalam disertasi doktoralnya Etik Bisnis dan Keberagamaan

Kelompok Kristen dalam Perspektif Sosiologis menyimpulkan bahwa

keberhasilan bisnis lebih dipengaruhi nilai-nilai budaya kelompok dibanding

pengaruh etik Kristen Protestan Calvinis. Akibatnya, keputusan etis dalam bisnis

lebih berdasarkan pada etik sekular dan filosofis daripada etik teologi Kristen14.

Tompah dalam tesis magisternya Peran Nilai Agama dalam Etika Bisnis

menyebutkan bahwa nilai-nilai agama memiliki peran yang penting bagi para

pengusaha dalam pengambilan keputusan etis di bidang bisnis. Penelitian yang

mengambil lokasi di Jakarta ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan

perspektif teologi15.

Karya-karya ilmiah itu sangat berbeda dengan penelitian penulis baik

secara substansi, metodologi dan lokasi penelitian. Penulis mengakui bahwa minat

untuk meneliti masalah bisnis yang baik dipengaruhi oleh Bertens, Keraf,

Chandra dan Csikszentmihalyi dalam tulisan-tulisannya maupun kegelisahan

penulis pribadi menyaksikan maraknya praktek bisnis curang dan kotor. Selain

13
R. Siti Lestari, Tinjauan Etika Bisnis dalam Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta:
Universitas Indonesia, 1999.
14
Andreas Bintoro Dewanto, Etik Bisnis dan Keberagamaan Kelompok Kristen dalam Perspektif
Sosiologis, Bandung: Universitas Padjadjaran, 1993.
15
Norita Yudiet Tompah, Peran Nilai Agama dalam Etika Bisnis, Jakarta: STT Jakarta, 2003.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

itu, penulis sendiri sebagai seorang pendeta jemaat GPIB memiliki tanggung

jawab moral untuk melengkapi warga jemaat yang terlibat dalam dunia bisnis.

G Tinjauan Pustaka

De George seperti dikutip Keraf, mengatakan bahwa sukses dalam bisnis

terkait dengan produk yang baik, manajeman yang mulus dan etika 16. Lebih

lanjut, Bertens merumuskan bahwa bisnis yang baik bukan saja berarti bisnis yang

membawa untung banyak, melainkan juga dan terutama berkualitas etis. Ulrich

dan Thielemann dalam penelitiannya seperti dikutip Pratley mengatakan bahwa

etika yang sehat adalah bisnis yang baik untuk jangka panjang.17

Etika sangat diperlukan untuk mencapai sukses dalam bisnis. Kualitas etis

dalam bisnis menjadikan bisnis dapat bertahan lama dalam iklim perdagangan

global yang kompetitif. Salah satu faktor kontinuitas bisnis menurut Alma18

adalah: soliditas, yaitu kemampuan bisnis memperoleh kepercayaan masyarakat.

Kepercayaan mencakup moral pengelola bisnis, tepat dalam berjanji, dan

dipercaya dalam bidang keuangan.

Sinamo dengan lugas mengatakan bahwa pengusaha juga harus menyadari

dirinya sebagai makhluk moral19. Ciri utama manusia moral ialah kemampuannya

bertindak berdasarkan prinsip moral, dan bukan oleh emosi atau naluri.

Ketangguhan moral seseorang menurutnya ditentukan oleh tiga hal:

16
Keraf, op.cit, hlm 375.
17
Peter Pratley, Etika Bisnis, diterjemahan oleh Gunawan Prasetio, Yogyakarta:
Penerbit Andi, 2007, hlm. 63 .
18
Buchari Alma, Pengantar Bisnis, Cetakan ke-11. Bandung: Alfabeta, 2006, hlm. 16.
19
Jansen Sinamo, ”Manusia Moral di Dunia Kerja: Mungkinkah Sukses?, dalam Jonathan
Parapak, Pembelajar & Pelayan, di sekitar Teknologi, Manajemen, Birokrasi dan sumber daya
manusia, hlm. 196
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

“1. Ketinggian kesadaran dan pengetahuannya akan prinsip-


prinsip moral yang mengatur semua fakta moral dalam kehidupan;
2. Kemantapan keyakinannya atas eksistensi prinsip-prinsip moral
di atas; dan
3. Kekuatan komitmennya untuk menerapkan prinsip-prinsip
moral yang diketahuinya dalam kehidupannya baik pada tingkat
personal, organisasional dan sosial.”20

Keraf mengemukakan prinsip-prinsip moral dalam etika bisnis yang terdiri

dari: (1) prinsip otonomi; (2) prinsip kejujuran; (3) prinsip keadilan; (4) prinsip

saling menguntungkan dan (5) integritas moral21. Dari kesemuanya, prinsip

keadilan menjadi dasar dan jiwa dari semua aturan bisnis dan sebaliknya semua

praktek bisnis yang bertentangan dengan prinsip ini harus dilarang.

Parapak mengatakan bahwa seluruh proses bisnis sarat dengan dimensi

etika dan moral yang sangat terkait pula dengan iman Kristen22. Oleh sebab itu,

seorang pengusaha Kristen harus siap mengaplikasikan imannya secara utuh

dalam kegiatan bisnisnya Diperkirakan bahwa sukses bisnis masa depan akan

banyak terkait dengan ketangguhan dan keuletan para pengusaha beriman.

Susabda dengan kritis mempertanyakan peran pengusaha Kristen dalam

menyikapi kebijakan ekonomi pemerintah yang kolutif dan merugikan rakyat

kecil23. Pengusaha Kristen dalam aktivitas bisnisnya harus memiliki prinsip-

prinsip etis teologis seperti keteraturan (1 Kor. 14:32-34) dan menciptakan budaya

”Yusuf” yang jujur, sederhana dan selalu menjadi berkat (Kej. 50:20-21).

20
Jonathan Parapak, op.cit, hlm. 195.
21
Keraf, op.cit, hlm. 74-81.
22
Jonathan Parapak, “Iman Kristen dan Perannya dalam Usaha Bisnis,” dalam Suleeman, F. dkk.,
(peny.) Bergumul dalam pengharapan; Buku Penghargaan Untuk Pdt. Dr. Eka Darmaputera,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm. 322.
23
Yakub B. Susabda, ”Iman Kristen dan Etika Bisnis, Sumbangsih Iman Kristen dalam Etika
Bisnis: Sebuah Proposal Pendahuluan dan Refleksi Pribadi yang Ditulis Khusus untuk Pdt. Dr.
Eka Darmaputera”, dalam Ibid., hlm. 343.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Di lain pihak, Gereja, khususnya pendeta jemaat perlu memberi perhatian

serius terhadap warga jemaat yang berprofesi sebagai pengusaha agar dapat

menjalankan bisnis secara etis sesuai iman Kristen. Penulis setuju dengan

pendapat Magnis-Suseno yang optimis jika Injil mendasari aktivitas bisnis

pengusaha Kristen, maka dia dapat menjadi pebisnis yang baik dan seorang warga

negara yang baik dan bertanggung jawab serta yang dalam batas-batas

kemampuannya mau menyumbangkan sesuatu bagi kemajuan bersama24.

H Landasan Teori

Bisnis adalah aktivitas ekonomi yang menguntungkan dua pihak yang

bertransaksi guna memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Tentunya bisnis

bukanlah karya amal. Bisnis memerlukan motif keuntungan sehingga

mendatangkan kepuasan dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu bisnis tidak

bisa dikelola dengan mengorbankan pihak lain seperti konsumen, pemerintah,

mitra bisnis atau lingkungan alam. Pelaku bisnis yang curang akan dihukum oleh

masyarakat sehingga mengalami kerugian dan bangkrut.

Sekarang ini bisnis harus dijalankan dengan kesadaran moral dan

tanggung jawab sosial. Kesadaran etis dalam bisnis dapat diperoleh melalui norma

agama, hukum negara dan norma sosial budaya dari masyarakat setempat. Pelaku

bisnis Kristen memiliki Alkitab sebagai pedoman moral dalam berbisnis. Prinsip-

prinsip Alkitab dalam bisnis Kristen yaitu (1) bisnis sebagai usaha

24
Franz Magnis-Suseno, ”Etika Bisnis dalam Perspektif Katolik”, dalam Jacobus Tarigan, (Ed.),
Etika Bisnis: Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Komisi Kerasulan Awam KWI dan Grasindo, 1994,
hlm 9.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

mempermuliakan Allah, (2) kekudusan, (3) kejujuran dan keadilan,

(4) menghargai martabat manusia, dan (5) bertanggungjawab.

Pelaku bisnis Kristen dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam

bisnis, maka ia dapat berinteraksi secara positif dengan pelanggan, karyawan,

aparat pemerintah, masyarakat lokal dan mitra bisnis. Dengan demikian pelaku

bisnis Kristen dapat melayani kehendak Allah, menghargai sesama dan memiliki

tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini Gereja

memiliki tanggung jawab membina warga jemaat dalam soal bisnis agar hidup

mereka sejahtera secara ekonomi dan memiliki kepedulian sosial yang baik.

I Hipotesa

Hipotesa yang dapat diajukan berkaitan dengan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Penulis berasumsi bahwa warga jemaat GPIB mengetahui dan memahami

bahwa bisnis yang baik dapat dipraktekkan berdasarkan prinsip-prinsip

Alkitab.

2. Penulis berasumsi bahwa pebisnis Kristen memahami dengan baik bahwa

prinsip-prinsip Alkitab dapat diaplikasikan dalam bisnis.

3. Penulis berasumsi bahwa Gereja, khususnya presbiter GPIB kurang

memberi perhatian penuh dalam melengkapi warga jemaatnya mengenai

bisnis yang baik berdasarkan etika Kristen.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

J Jenis dan Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survai dengan metode yang dipakai ialah

deskriptif analitis. Metode survai deskriptif adalah suatu metode penelitian yang

mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat

pengumpulan data. Dalam penelitian ini data dan informasi dikumpulkan dari

responden dengan mengunakan kuesioner. Data yang diperoleh kemudian

hasilnya akan dipaparkan secara deskrisptif dan pada akhir penelitian akan

dianalisis untuk menguji hipotesis yang diajukan pada awal penelitian ini.

Penelitian ini mengunakan teknik sampling yang disebut Simple Random

Sampling. Teknik sampling ini adalah cara pengambilan sampel secara acak tanpa

memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut.25

Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengunakan instrumen

angket dan wawancara. Angket diberikan kepada responden untuk mendapatkan

persepsi responden tentang isu utama penelitian ini. Persepsi responden diukur

dengan skala Likert dalam bentuk tanda centang (checklist).26 Jawaban atas setiap

item instrumen dalam penelitian ini mempunyai gradasi dari sangat positif

sampai dengan sangat negatif dengan kategori jawaban dengan 5 tingkatan: SS

(sangat setuju), ST (setuju), RG (ragu-ragu), TS (tidak setuju) dan STS (sangat

tidak setuju).

Selain angket, penulis melakukan wawancara kepada sejumlah responden

guna memperkuat hasil penelitian. Data primer yang diperoleh kemudian diolah

25
Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bandung: Alfabeta, 2007, hlm. 58.
26
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan ke-10, Bandung: Alfabeta, 2007, hlm. 86.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

bersama dengan data sekunder yang didapat melalui buku-buku, dokumen

gerejawi dan sumber internet. Penelitian ini dilakukan oleh penulis sendiri sebagai

alat pengumpul data utama pada bulan Juni s/d Agustus 2008 dengan objek

penelitian adalah jemaat GPIB Passareang yang beralamat di BTN Pepabri C 3

No. 15, Kelurahan Sudiang Raya, Makassar.

K Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam penelitian ini disajikan dalam enam bab yang saling

terkait.

Pada bab pertama yaitu pendahuluan dikemukakan latar belakang masalah,

batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, keaslian penelitian, manfaat

penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika

penulisan.

Pada bab kedua, diuraikan teori-teori etika bisnis yang relevan dan

berkembang sekarang ini dan menyusun kerangka berpikir yang konseptual

berdasarkan kajian teoritis.

Pada bab ketiga, menjelaskan metodologi penelitian yang berisikan jenis

penelitian yang dipilih, lokasi dan waktu penelitian, teknik pengumpulan data,

kisi-kisi instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

Pada bab keempat, dilakukan pembahasan atas hasil penelitian yang

dilakukan terhadap warga jemaat GPIB di kota Makassar. Bab ini memberikan

gambaran tentang karakteristik responden, persepsi responden mengenai bisnis


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Kristen berdasarkan angket, pengukuran persepsi responden berdasarkan skala

Likert, interpretasi data dengan teknik triangulasi serta uji hipotesis27.

Pada bab kelima, refleksi teologis atas bisnis yang baik diuraikan dengan

mencermati persepsi warga jemaat, pendapat para etikawan dan perspektif etika

Kristen yang bersumber pada Alkitab.

Pada bab keenam, berisikan kesimpulan dan saran yang diajukan penulis

dan sekaligus menjadi bagian akhir dari penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP PENULIS

27
Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cetakan ke -22, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006, hlm. 330-332.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan teori-teori mengenai etika dan bisnis. Pengertian

dasar tentang etika dan bisnis perlu dipahami dengan baik dan bagaimana

hubungan di antara keduanya. Pengertian bisnis menurut ajaran Alkitab turut

dijelaskan agar diperoleh pemahaman yang memadai. Penelitian tentang bisnis

dalam hubungan dengan berbagai disiplin ilmu sudah dilakukan oleh beberapa

orang dan menarik untuk menyimak gagasan mereka. Dalam penelitian ini,

penulis menyusun suatu kerangka konseptual tentang bisnis yang baik.

A Pemikiran Teoritis

1.1 Pengertian etika

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang dalam bentuk tunggal

mempunyai beragam arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang;

kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Bentuk jamaknya

ta etha yang artinya: adat kebiasaan. Arti terakhir inilah menjadi latar belakang

bagi terbentuknya istilah etika yang oleh filsuf Yunani Aristoteles (384-322 s.M.)

sudah dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi etika dapat didefinisikan

sebagai cabang filsafat tentang baik atau jahatnya tindakan manusia, termasuk

tindakan bisnis. Padanan kata yang dekat dengan ”etika” adalah ”moral”. Kata

mos (jamak: mores) yang berasal dari bahasa Latin ini berarti: kebiasaan, adat.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Jadi etimologi kata ”etika” menurut K. Bertens sama dengan etimologi kata

”moral” karena keduanya berarti: adat kebiasaan28.

A. Sonny Keraf mengartikan etika dan moral sebagai sistem nilai tentang

bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah

diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan yang kemudian terwujud

dalam pola perilaku yang ajek dan terulang dalam kurun waktu yang lama

sebagaimana laiknya sebuah kebiasaan. 29 Agama dan kebudayaan diyakini

sebagai sumber utama nilai moral dan aturan atau norma moral dan etika yang

kemudian diturunkan dan diwariskan sebagai pegangan bagi setiap penganut

agama dan kebudayaan tersebut. Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa

nilai moral yang dianut dalam semua agama sampai tingkat tertentu dapat

diandaikan sama dan berbeda dalam soal penerapan konkrit nilai tersebut30.

Etika menurut Keraf dapat dipahami sebagai filsafat moral, atau ilmu

yang membahas dan mengkaji nilai dan norma yang diberikan oleh moralitas dan

etika dalam pengertian normatif. Etika sebagai filsafat moral dapat diurumuskan

sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai (a) nilai dan norma yang menyangkut

bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia; dan mengenai (b) masalah-

masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma-

norma moral yang umum diterima 31.

Etika dalam pengertian sebagai ilmu yang kritis dan rasional menuntut

agar pertimbangan setiap orang dan kelompok harus terbuka, termasuk terbuka

28
K. Bertens, Etika, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994, hlm. 4-5.
29
Keraf, op.cit, hlm. 14.
30
Ibid.
31
Ibid., hlm. 15
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

untuk digugat dan dibantah secara kritis rasional oleh pihak lain untuk pada

akhirnya semua pihak bisa sampai pada satu sikap dan penilaian yang bisa

diterima semua pihak atau yang dianggap paling benar. Etika sebagai ilmu

menuntut manusia untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional32.

Etika sebagai refleksi kristis terhadap moralitas mendorong seseorang

untuk bertindak sesuai dengan nilai dan moral yang berlaku berdasarkan

kesadaran kristis dan rasional bahwa tindakan itu memang baik bagi dirinya dan

baik bagi orang lain. Dalam bahasa Kant seperti yang dikutip Keraf, etika

berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan

bukan heteronom. Manusia dengan bantuan etika dapat bertindak secara bebas dan

dapat dipertanggungjawabkan. Kebebasan dan tanggung jawab adalah unsur

pokok dari otonomi moral33.

Etika menurut kacamata Bertens dirumuskan dalam 3 pengertian;

Pertama, etika digunakan dalam pengertian nilai-nilai dan norma-norma moral

yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur

tingkah lakunya misalnya: etika agama Budha atau etika Protestan. Kedua, etika

dalam pengertian kumpulan asas atau nilai moral atau kode etik. Ketiga, etika

sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika menjadi ilmu ketika asas-asas

dan nilai-nilai tentang yang baik dan buruk menjadi bahan refleksi bagi suatu

32
Ibid.
33
Ibid, 16-17. Sikap otonom adalah sikap moral manusia dalam bertindak berdasarkan kesadaran
pribadi bahwa tindakan yang diambilnya itu baik dan dilakukan atas dasar kesadaran pribadi yang
bersumber dari nilai dan norma moral yang dianut. Sebaliknya, sikap heteronom adalah sikap
manusia dalam bertindak hanya karena sesuai dengan aturan moral yag bersifat eksternal dan
dilakukan dengan disertai perasaan takut atau bersalah.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

penelitian sistematis dan metodis. Dalam pengertian inilah etika dipahami sebagai

filsafat moral34.

Pengertian etika sebagai suatu cabang ilmu filsafat diakui oleh Pratley.

Tujuan etika menurutnya adalah mempelajari perilaku, baik moral maupun

immoral, dengan tujuan membuat pertimbangan yang cukup beralasan dan

akhirnya sampai pada rekomendasi yang memadai. Etika mempunyai tujuan

ganda, yaitu menilai praktek-praktek manusia dengan menggunakan standar

moral, dan mungkin juga memberikan nasehat yang jelas tentang bagaimana

bertindak secara moral pada situasi tertentu. Etika menolong seseorang untuk

bersikap kritis rasional terhadap pokok persoalan yang sebenarnya sehingga dapat

mengambil keputusan berdasarkan standar-standar normatif yang pantas.35

Brownlee dengan tajam merumuskan fungsi etika tidak sebatas

menyelidiki perbuatan-perbuatan seseorang tetapi juga memberi bimbingan etis

supaya yang bersangkutan dapat memperbaiki perbuatan-perbuatannya. Karena

itu etika harus mempelajari situasi sebenarnya secara cermat dengan bantuan

ilmu-ilmu sosial sehingga pertimbangan yang diberikan relevan dan kontekstual36.

Tiga pendekatan ilmiah dalam etika yang dikembangkan untuk memahami

tingkah laku moral secara menyeluruh adalah etika deskriptif, etika normatif dan

metaetika. Etika deskriptif adalah etika yang yang melukiskan tingkah laku

moral dalam pengertian luas, yakni menggambarkan adat kebiasaan, anggapan-

anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan

34
Bertens, Etika, hlm. 5-6.
35
Pratley, op.cit, hlm. 11-13.
36
Malcolm Brownlee, Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-faktor di dalamnya, cet. ke-5,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989, hlm,. 17.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tidak diperbolehkan tanpa memberikan penilaian moral untuk diterima atau

ditolak. Etika jenis ini biasanya dikembangkan oleh para ahli ilmu-ilmu sosial

seperti antropolog, psikolog, sosiolog dan sejarahwan. 37

Sebaliknya etika normatif, tidak hanya menjelaskan tingkah laku moral,

tetapi juga melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku

manusia dari sudut pandang benar-salah, baik-buruk, diterima atau ditolak

berdasarkan norma-norma atau prinsip-prinsip etis yang tidak dapat ditawar-

tawar. Etika normatif tidak dapat bersifat netral, karena mengandung suatu

penilaian preskriptif atau memerintahkan. Dengan demikian etika normatif

bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan

secara rasional dan dapat digunakan dalam praktek.38

Adapun metaetika merupakan suatu cara lain dalam studi etika yang

menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan

ucapan-ucapan pada bidang moralitas. Dapat dikatakan, metaetika memusatkan

perhatian pada upaya mempelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Dengan

demikian metaetika dapat ditempatkan sebagai filsafat analitis bahasa moralitas.39

1.2 Pengertian etika Kristen

Etika sebagai ilmu pengetahuan yang normatif menurut Verkuyl

membahas dan menggumuli masalah tentang apa yang baik. Secara teologis, apa

yang baik itu adalah segala yang dikehendaki Allah40. Dengan demikian manusia

yang diciptakan Allah dan diselamatkan dalam iman kepada Yesus Kristus harus

37
Bertens, Etika, hlm. 15-16.
38
Ibid., hlm. 17-18
39
Ibid., hlm. 19-20.
40
J. Verkuyl, Etika Kristen, cetakan ke-12, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991, hlm. 17.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

memberi perhatian sungguh-sungguh dalam memberlakukan kehendak Allah

dalam semua bidang kehidupannya, tidak terkecuali dalam bidang bisnis.

Sumber utama bagi pengetahuan etika Kristen adalah Alkitab. Walaupun

demikian etika Kristen perlu juga melakukan dialog kritis dengan etika falsafi

sehingga diperkaya dan dapat memberi jawaban tepat sesuai perkembangan

zaman. Catatan yang sama diutarakan oleh Abineno tentang pentingnya etika

Kristen dan etika filosofis untuk dapat hidup berdampingan dan bukannya saling

bertentangan.41

Dengan sistematis Brownlee merumuskan delapan pokok penting dalam

etika Kristen yaitu (1) sumber utamanya adalah kehendak Allah, (2) berdasarkan

iman kepada Yesus Kristus, (3) mengakui kewibawaan Yesus Kristus dalam

ajaran dan keteladananNya, (4) bercirikan kasih sebagai motivasi dalam berbuat

baik, (5) kesatuan antara perbuatan-perbuatan lahiriah manusia dengan hatinya,

(6) Alkitab sebagai satu-satunya tolok ukur bagi teologi dan etika Kristen, (7)

terkait dengan persekutuan atau jemaat dan (8) berlaku untuk seluruh kehidupan

manusia baik budaya, ekonomi, agama maupun politik42.

Kehendak Tuhan menjadi patokan terakhir saat seorang Kristen

bermaksud mengambil suatu keputusan etis mengenai apa yang benar dan apa

yang salah. Terdapat tiga teori menurut Brownlee, yang dapat diambil untuk

mengerti kehendak Allah itu, yaitu teori etika akibat, kewajiban dan tanggung

jawab.43 Teori etika akibat (etika teleologis) menilai suatu tindakan itu benar

41
J.L. Ch. Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis, cet. ke-3, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003,
hlm. 15-16
42
Brownlee, op.cit, hlm 29-30.
43
Ibid. hlm. 30-40.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

apabila mengakibatkan hasil baik yang lebih besar dari hasil buruk. Sedangkan

teori kewajiban (etika deontologis) menilai tindakan itu baik jika tidak berlawanan

dengan hukum Tuhan. Etika ini menurut Geisler dibangun berdasarkan kehendak

dan wahyu Allah serta bersifat mutlak dan mengikat.44 Teori yang terakhir adalah

teori tanggung jawab. Teori ini menilai bahwa perbuatan itu baik kalau sesuai

dengan pekerjaan Allah. Yang utama ialah bagaimana kita menanggapi pekerjaan

Allah dalam tiap situasi dan peristiwa. Etika tanggung jawab lebih memiliki

pendekatan etis yang berfaedah karena peka terhadap segala situasi dan peristiwa

yang terjadi sehingga tanggapan yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan

secara iman Kristen.45

2 Relasi bisnis dan etika

2.1 Bisnis

Bisnis menurut Hughes dan Kapoor seperti dikutip Alma ialah suatu

kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual

barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan

masyarakat. Pengertian yang sama dikatakan Chandra dengan merumuskan bisnis

sebagai usaha atau proses pertukaran jasa atau produk dalam rangka pencapaian

nilai tambah46. Keuntungan atau pencapaian nilai tambah itu menurut Bertens

diekspresikan dalam bentuk uang. Pencarian keuntungan dalam bisnis

berlangsung timbal balik sebagai komunikasi sosial yang menguntungkan bagi

kedua belah pihak. Karena itu bisnis tidak bisa disamakan dengan kegiatan sosial

44
Norman Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Malang: Departemen Literatur SAAT, 2001,
hlm. 24-26.
45
Brownlee, op.cit., hlm. 43.
46
Robby I. Chandra, Etika Dunia Bisnis, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995, hlm 42.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

atau karya amal, sebab bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang

dengan sepihak tanpa mengharapkan sesuatu kembali. Dari sudut ekonomis,

bisnis yang baik (good business) adalah bisnis yang membawa banyak untung dan

pemahaman semacam ini disepakati semua pengusaha47.

Secara moral keuntungan adalah hal yang baik dan diterima, karena (1)

membuat perusahaan dapat bertahan dalam bisnisnya, (2) memacu produktifitas

dan investasi baru, (3) memberikan kesejahteraan bagi para karyawan dan (4)

menjadikan perusahaan semakin kreatif mengembangkan bisnisnya yang

memungkinkan tersedianya lapangan kerja baru bagi banyak orang. 48

Velasques dengan tepat mengatakan bahwa pengusaha yang berperilaku

etis dalam bisnisnya pasti memperoleh keuntungan yang lebih tinggi daripada

rekannya yang sama sekali tidak peduli dengan perilaku etis. Etika dalam bisnis

tidak memperkecil keuntungan, tetapi justru berkontribusi pada keuntungan49.

Keuntungan dalam bisnis menurut Bertens dapat dipahami sebagai (1) tolok ukur

dalam menilai kesehatan perusahaan atau efisiensi manajemen dalam perusahaan,

(2) pertanda bahwa produk atau jasanya dihargai masyarakat, (3) cambuk untuk

meningkatkan usaha, (4) syarat kelangsungan perusahaan dan (5) mengimbangi

resiko dalam usaha.50

47
Bertens, Pengantar, hlm. 17-19.
48
Keraf, op.cit, hlm 63.
49
Manuel G. Velasquez, Etika Bisnis, Konsep dan Kasus—Edisi 5, Penerjemah:
Ana Purwaningsih, Kurnianto dan Totok Budisantoso, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm. 39.
50
Bertens, op.cit, hlm. 162.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

2.2 Klasifikasi bisnis

Organisasi bisnis yang bergerak dalam bidang komersial menurut Alma

terdiri dari 9 macam yaitu: (1) Usaha pertanian seperti usaha perkebunan, sawah,

sayuran, dan buah-buahan, (2) Produksi bahan mentah seperti usaha dalam bidang

kehutanan, pertambangan, perikanan air tawar ataupun ikan laut yang dibutuhkan

bagi industri, (3) Pabrik/manufaktur yang mengolah bahan mentah menjadi bahan

baku sampai menjadi hasil jadi, (4) Konstruksi seperti pembangunan rumah, jalan,

pabrik dan bangunan lainnya, (5) Usaha perdagangan besar dan kecil yang

berfungsi dalam sistem distribusi, (6) Transportasi dan Komunikasi yang

berfungsi membantu kelancaran kegiatan bisnis seperti angkutan barang, telepon,

radio, televisi dan pos, (7) Usaha finansial, asuransi dan real estate, (8) Usaha jasa

seperti reparasi, tukang cukur, salon kecantikan, pengacara, dokter dan sebagainya

serta (9) Usaha yang dilakukan oleh pemerintah seperti pembuatan regulasi,

pemberian izin usaha, mengembangkan BUMN dan sebagainya. 51

2.3 Tantangan yang dihadapi bisnis

Para pelaku bisnis dalam usaha mengembangkan bisnisnya diperhadapkan

dengan 3 tantangan yang harus disikapi dengan cermat. Ketiga tantangan yang

dimaksud ialah:

2.3.1. Tantangan produktivitas

Dunia bisnis harus meningkatkan produktivitasnya, karena mereka akan

menghadapi pasar luas yang makin berkembang. Usaha meningkatkan

produktivitas ini dapat dilakukan dengan cara (a) memperbaharui mesin-mesin

51
Alma, op.cit, hlm 24.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dengan mesin modern, (b) kegiatan Penelitian dan Pengembangan, (c) pengunaan

robot, (d) pengembangan manajemen personalia dan (e) keterlibatan karyawan

dalam pengambilan keputusan

2.3.2. Tantangan kualitas

Konsumen merasa tidak senang membeli produk yang cepat rusak dan

seringkali diperbaiki. Konsumen tidak senang dengan perusahaan jasa yang tidak

mau memperkaiki layanan servisnya. Meningkatkan mutu berarti membuat

sesuatu menjadi lebih baik dan tingkat efisiensi pun menjadi lebih baik pula.

Perbaikan kualitas ini tidak menyangkut produk saja, namun juga mencakup

seluruh bagian dan tingkatan dalam perusahaan.

2.3.3. Tantangan pasar global

Persaingan global makin lama makin meningkat sehingga mengakibatkan

produktivitas dan kualitas produk harus ditingkatkan agar dapat menghadapi

persaingan global tersebut. Negara Jepang memperlihatkan keunggulannya

sehingga mampu melakukan penetrasi pasar global52.

2.4 Pentingnya etika dalam bisnis

Bisnis menurut Bertens tidak hanya berorientasi pada keuntungan

ekonomis, tetapi juga terkait dengan persoalan moral dan hukum. Bisnis yang

baik adalah bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik dalam konteks

bisnis merupakan perilaku yang sesuai dengan norma–norma moral, sedangkan

perilaku yang buruk bertentangan dengan atau menyimpang dari norma-norma

moral. Selain itu, bisnis yang baik juga terkait langsung dengan hukum sebagai

52
Alma, op.cit, hlm. 31-32
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

norma yang harus dipatuhi, karena peraturan hukum itu mengikat semua warga

negara dan memuat sanksi bagi yang melanggarnya. Jadi bisnis yang baik adalah

bisnis yang patuh pada hukum53.

De George seperti dikutip Keraf, mengatakan bahwa sukses dalam bisnis

terkait dengan produk yang baik, manajeman yang mulus dan etika 54. Lebih

lanjut, Bertens merumuskan bahwa bisnis yang baik bukan saja berarti bisnis yang

membawa untung banyak, melainkan juga dan terutama berkualitas etis.

Dalam pengertian yang sama, Ulrich dan Thielemann seperti dikutip Pratley

mengatakan bahwa etika yang sehat adalah bisnis yang baik untuk jangka

panjang.55

Etika sangat diperlukan untuk mencapai sukses dalam bisnis. Kualitas etis

dalam bisnis menjadikan bisnis dapat bertahan lama dalam iklim perdagangan

global yang kompetitif. Salah satu faktor kontinuitas bisnis menurut Alma56

adalah: soliditas, yaitu kemampuan bisnis memperoleh kepercayaan masyarakat.

Kepercayaan mencakup moral pengelola bisnis, tepat dalam berjanji, dan

dipercaya dalam bidang keuangan.

Sinamo dengan lugas mengatakan bahwa pengusaha juga harus menyadari

dirinya sebagai makhluk moral57. Ciri utama manusia moral ialah kemampuannya

bertindak berdasarkan prinsip moral, dan bukan oleh emosi atau naluri.

Ketangguhan moral seseorang ditentukan oleh tiga hal:

53
Ibid., hlm. 20-22.
54
Keraf, op.cit, hlm 375.
55
Peter Pratley, op.cit, hlm. 63 .
56
Alma, op.cit, hlm. 16.
57
Sinamo, op.cit, hlm. 196
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

“1. Ketinggian kesadaran dan pengetahuannya akan prinsip-prinsip moral


yang mengatur semua fakta moral dalam kehidupan;
2. Kemantapan keyakinannya atas eksistensi prinsip-prinsip moral di atas;
dan
3. Kekuatan komitmennya untuk menerapkan prinsip-prinsip moral yang
diketahuinya dalam kehidupannya baik pada tingkat personal,
organisasional dan sosial58.”

Keraf mengemukakan prinsip-prinsip moral dalam etika bisnis yang terdiri

dari: (1) prinsip otonomi; (2) prinsip kejujuran; (3) prinsip keadilan; (4) prinsip

saling menguntungkan dan (5) integritas moral59. Dari kesemuanya, prinsip

keadilan menjadi dasar dan jiwa dari semua aturan bisnis dan sebaliknya semua

praktek bisnis yang bertentangan dengan prinsip ini harus dilarang.

Parapak mengatakan bahwa seluruh proses bisnis sarat dengan dimensi

etika dan moral yang sangat terkait pula dengan iman Kristen60. Oleh sebab itu,

seorang pengusaha Kristen harus siap mengaplikasikan imannya secara utuh

dalam kegiatan bisnisnya Diperkirakan bahwa sukses bisnis masa depan akan

banyak terkait dengan ketangguhan dan keuletan para pengusaha beriman.

Susabda dengan kritis mempertanyakan peran pengusaha kristen dalam

menyikapi kebijakan ekonomi pemerintah yang kolutif dan merugikan rakyat

kecil61. Pengusaha Kristen dalam aktivitas bisnisnya harus memiliki prinsip-

prinsip etis teologis seperti keteraturan (1 Kor. 14:32-34) dan menciptakan budaya

”Yusuf” yang jujur, sederhana dan selalu menjadi berkat (Kej. 50:20-21).

Di lain pihak, Gereja, khususnya pendeta jemaat perlu memberi perhatian

serius terhadap warga jemaatnya yang berprofesi sebagai pengusaha agar

58
Parapak, op.cit, hlm. 195.
59
Keraf, op.cit, hlm. 74-81.
60
Parapak, op.cit, hlm. 322.
61
Susabda, op.cit, hlm. 343.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

menjalankan bisnisnya secara etis sesuai iman Kristen. Penulis setuju dengan

pendapat Magnis-Suseno yang optimis jika Injil mendasari aktivitas bisnis

pengusaha kristen, maka dia dapat menjadi pebisnis yang baik dan seorang warga

negara yang baik dan bertanggung jawab serta yang dalam batas-batas

kemampuannya mau menyumbangkan sesuatu bagi kemajuan bersama62.

Dalam perkembangan mutakhir, etika bisnis menurut Alois A. Nugroho

terkait juga dengan kesadaran moral terhadap pelestarian lingkungan dalam

bentuk hormat pada lingkungan alam, kesadaran untuk menghindari pencemaran

lingkungan dan pengurasan sumber daya alam. Para pelaku bisnis harus memiliki

kepedulian terhadap generasi mendatang yang akan mewarisi lingkungan hidup

dari kita. Generasi yang mendatang memiliki hak yang sama dengan kita

menyangkut kebutuhan dasar akan makanan, air, udara dan ruang yang bersih dan

sehat sehingga mereka pun dapat menikmati kehidupan yang bermutu.

Memperluas lingkup kepedulian sosial merupakan kompetensi etis yang mutlak

harus dimiliki pelaku bisnis di tengah ancaman bahaya pemanasan global

sekarang ini63. Dalam hal ini pelaku bisnis diharapkan dapat melaksanakan

tanggung jawab sosialnya (Corporate Social Responsibility) sehingga kualitas

hidup komunitas lokal dan lingkungan terjaga dan terpelihara. Pada masa

sekarang sukses dalam bisnis di lihat juga dari bagaimana pelaku bisnis mengelola

62
Tarigan, op.cit, hlm 9.
63
Alois A. Nugroho, Dari Etika Bisnis ke Etika Ekobisnis, Jakarta: Penerbit Grasindo, 2001,
hlm 5-12.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tanggung jawab sosial terhadap komunitas di sekitarnya, sehingga menciptakan

keuntungan sosial dan keuntungan finansial dalam jangka panjang. 64

3 Persepsi Bisnis Kristen

3.1 Pengertian Persepsi

Persepsi menurut Lahlry seperti yang dikutip Severin dan Tankard, Jr

dapat didefinisikan sebagai proses yang digunakan seseorang untuk

menginterpretasikan data-data sensoris yang diterima melalui kelima indra

manusia.65 Pengertian yang sama dan lebih lengkap dijelaskan oleh DeVito yang

mengartikan persepsi sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan

banyaknya rangsangan (stimulus) yang mempengaruhi indra kita. Persepsi

mempengaruhi pesan apa yang mau diserap dan apa makna yang mau diberikan. 66

Akurasi persepsi menurut DeVito dapat ditingkatkan dengan cara

(1) mencari berbagai petunjuk sebanyak mungkin, (2) merumuskan hipotesis dan

mengujinya, (3) memperhatikan petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, (4) tidak

menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa, (5) menduga apa yang ada dalam benak

orang lain, (6) berpikir sesuai cara pikir orang lain dan (7) berhati-hati atau

waspada dengan bias anda sendiri. 67

64
Bambang Rudito & Melia Famiola, Etika Bisnis & Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di
Indonesia, Bandung: Penerbit Rekayasa Sains, 2007, hlm. 209-210.
65
Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr, Teori Komunikasi, Sejarah,Metode, dan Terapan
di Dalam Media Massa, Edisi Ke-5, dialihbahasakan oleh Sugeng Hariyanto, Jakarta: Prenada
Media, 2005, hlm. 83.
66
Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, dialihbahasakan oleh Agus Maulana, Jakarta:
Professional Books, 1997, hlm. 75.
67
Ibid., hlm. 85.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

3.2 Bisnis menurut iman Kristen

Jerry White68 dalam bukunya, Honesty, Morality & Conscience,

mengemukakan lima prinsip Alkitab bagi aktivitas bisnis Kristen. Pertama,

timbangan yang benar (just weight) seperti yang dicatat dalam Ulangan 25:13-15.

Prinsip timbangan yang benar merupakan keharusan dalam transaksi bisnis yang

benar. Dengan kata lain kualitas barang yang dibayar sesuai dengan apa yang

diiklankan. Pengusaha Kristen harus bertanggungjawab penuh dalam kualitas

barang dan layanan perbaikan. Seorang pengusaha Kristen harus bekerja sepenuh

hati dalam bisnisnya dengan mengingat Kolose 3:23 yang berkata: ”apapun yang

kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan

untuk manusia”.

Kedua, Allah menuntut kejujuran yang sepenuhnya (total honesty). Surat

Efesus 4:25 mengajar kita untuk berkata benar. Sekalipun sering berbuat salah,

seorang pengusaha Kristen harus memiliki kejujuran yang penuh terhadap para

pegawai dan pelanggannya. Penting bagi pengusaha Kristen mengendalikan

perkataannya sebagaimana yang dicatat dalam Yakobus 3:2. Selain itu, Roma

12:17 mengingatkan pebisnis Kristen melakukan apa yang baik bagi semua orang

dengan kejujuran. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita sudah

jujur sepenuhnya dalam melaporkan penggunaan waktu kita, uang dan prestasi?

Prinsip yang ketiga adalah menjadi pelayan (being a servant). Menjadi

pelayan harus dibuktikan dengan tingkah laku. Melayani Allah terdengar begitu

mulia, tetapi melayani sesama adalah soal lain yang seringkali sukar dipraktekkan.

68
http://www.probe.org/site/c.fdKEIMNsEoG_b.4227383/k.FE33/Business/and/Ethics/files/default.
css. Makassar: 10 Juni 2008.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Matius 20:28 berkata bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk

melayani manusia, bahkan menyerahkan hidupnya bagi manusia. Nilai bisnis

terkandung dalam pelayanannya. Batasan sukses adalah sejauh mana kebutuhan

pelanggan atau konsumen dilayani dengan sebaik-baiknya. Dengan pelayanan

yang baik, maka Allah memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita dalam

berbisnis.

Prinsip keempat adalah tanggungjawab pribadi. Seorang pengusaha

Kristen harus mengambil tanggungjawab penuh dalam tindakan dan

keputusannya, dalam apa yang dikatakan dan diperbuat. Tidak boleh ada sikap

melemparkan kesalahan kepada orang lain atau menyalahkan lingkungan sekitar.

Roma 12:2 mengingatkan agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia

ini.

Akhirnya, prinsip kelima adalah keuntungan yang wajar (reasonable

profits). Apakah keuntungan yang wajar itu? Keuntungan yang wajar adalah

sesuatu yang diperoleh seseorang untuk dirinya. Dalam mencari keuntungan tidak

boleh berlebihan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan sebagaimana yang

dikatakan dalam Lukas 6:31. Bagi pengusaha, keuntungan yang wajar adalah

harga dari jasa dan barang di atas biaya yang sudah dikeluarkan. Bagi pegawai

atau pekerja, keuntungan yang wajar adalah penghasilan atas pekerjaan yang

sudah dilakukannya. Lukas 3: 14 mengingatkan agar seorang pegawai

mencukupkan kebutuhannya dengan gaji yang diperolehnya dan seorang pegawai

yang sudah bekerja patut mendapat upahnya (1 Timotius 5:18). Pada akhirnya

prinsip Alkitab dalam bisnis ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Alexander Hill dalam bukunya Just Bussiness mengatakan bahwa Alkitab

dapat digunakan untuk menjawab masalah-masalah dalam bisnis sehingga dengan

prinsip-prinsip Alkitab seorang pengusaha dapat mengambil keputusan etis

dengan benar. Dasar etika Kristen dalam bisnis adalah karakter Allah yang tidak

berubah dan bukannya peraturan-peraturan secara harafiah. Etika Kristen

menolak pendekatan egoisme (mempromosikan kesenangan pribadi melalui

materi atau keberhasilan dalam karier), utilitarianisme (memaksimalkan

kesenangan dan mengurangi penderitaan) atau pemikiran deontologis (memelihara

peraturan-peraturan moral seperti ”Jangan merugikan orang lain”).69

Prinsip-prinsip bisnis Kristen berdasarkan tiga karakter Allah yaitu:

kekudusan, keadilan dan kasih. Ketiga prinsip ini merupakan satu kesatuan dan

tidak dapat dipisahkan ketika mengambil keputusan etis dalam bisnis. Kekudusan

yang terlepas dari keadilan dan kasih, hanya menghasilkan legalisme

hiperkritikal. Demikian juga, keadilan tanpa kasih dan kekudusan memberikan

akibat-akibat yang kejam. Akhirnya, kasih ketika hanya berdiri sendiri akan

kehilangan kompas moral yang memadai.70

Prinsip kekudusan mengandung empat elemen utama yaitu giat bagi

Tuhan, kemurnian, tanggung jawab dan kerendahan hati. Prinsip kekudusan

memanggil kita untuk dengan giat menempatkan Allah sebagai prioritas tertinggi.

Allah menuntut kesetiaan mutlak (Hos. 1:2) sehingga perkara-perkara lain

ditempatkan di bawahnya. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kita tidak dapat

69
Alexander Hill, Just Business; Christian Ethics for The Market Place, Cumbria: Paternoster
Press, 1998, hlm. 13-14.
70
Ibid., hlm. 15.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

melayani dua tuan pada saat yang sama (Mat. 6:24). Tugas utama kita adalah

mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan kemudian

mengasihi sesama manusia (Mat.22:37-38). Karena itu, bisnis harus dijalankan

sebagai usaha menghormati Allah.71

Kemurnian, bahan dasar kedua dari kekudusan, merefleksikan

kesempurnaan moral Allah dan keterpisahan dari semua yang secara etis tidak

bersih. Dua komponen kemurnian adalah kemurnian etika dan pemisahan moral.

Kedua prinsip kembar ini dapat dipraktikkan dalam bisnis dengan tiga cara.

Pertama, kemurnian dalam komunikasi yang artinya berbicara terus terang dan

tidak ada agenda tersembunyi. Kedua, kemurnian dalam seksualitas yang artinya

menjaga diri dari perilaku seksual yang menyimpang, kata-kata cabul dan

tindakan pelecehan seksual. Ketiga, kemurnian dalam maksud yang artinya tidak

berlaku curang dan memiliki integritas moral dalam situasi apapun. 72

Kekudusan membuat kita bertanggung jawab dengan menghargai

kemurnian moral dan menghukum ketidakmurnian. Tanggung jawab adalah

konsep teologis dan ekonomis. Perilaku yang salah dalam bisnis jelas tidak

menyenangkan Allah yang kudus dan sekaligus menurunkan kepercayaan dari

orang lain terhadap yang bersangkutan. Kekudusan tidak hanya menempatkan

Allah dalam posisi terhormat, tetapi juga menciptakan hubungan-hubungan baik

untuk jangka panjang. Bisnis yang sukses tahu bahwa memperoleh kepercayaan

dari atasan, penyalur, pedagang dan pelangan sangatlah penting.73

71
Ibid., hlm. 23-24.
72
Ibid., hlm. 24-26.
73
Ibid., hlm. 26-27.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Kerendahan hati adalah akibat alamiah dari usaha meniru kekudusan

Allah. Tuhan Yesus memuji mereka yang rendah hati (Mat. 5:3-5). Mereka yang

rendah hati dapat mendengarkan bawahannya, membangun tim yang kokoh dan

tidak malu mengakui kesalahannya. Mereka yang rendah hati dapat menjangkau

orang lain, ragu-ragu dalam melontarkan kritik dan menjadi pendengar-pendengar

yang baik terhadap orang lain.74

Prinsip bisnis Kristen yang kedua adalah keadilan. Kata keadilan muncul

lebih dari 800 kali dalam Alkitab. Keadilan menyangkut relasi timbal balik

menyangkut hak dan kewajiban. Keadilan alkitabiah menolak persepsi egoisme

dan kolektivisme. Empat aspek dasar keadilan adalah hak-hak yang prosedural,

hak-hak yang substantif, keadilan yang layak diterima dan keadilan kontraktual.

Kompensasi harus diberikan jika salah satu aspek keadilan itu dilanggar 75.

Prinsip terakhir bisnis Kristen adalah kasih. Kasih adalah inti karakter

Allah dan merupakan kait di mana setiap aturan moral digantungkan. Kasih

mencakup kekudusan di mana Allah diutamakan dan keadilan di mana

kepentingan orang lain diperhatikan. Dalam bisnis, kasih memungkinkan semua

pihak dapat bekerja sama untuk memperoleh keberhasilan dalam jangka panjang.

Tanpa kasih, maka hubungan bisnis cenderung eksploitatif dan kerjasama menjadi

mustahil. Tiga karakter utama kasih adalah empati, belas kasihan dan

pengorbanan diri. 76

Eka Darmaputera menyoroti pentingnya etika Kristen dalam bisnis

dibangun secara seimbang. Pada satu pihak, etika Kristen dalam bisnis harus dapat
74
Ibid., hlm. 27-28.
75
Ibid., hlm. 35-36.
76
Ibid., hlm. 47-48.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

bersikap kritis, analitis dan konseptual dalam menyoroti asumsi-asumsi dasar

maupun praktek-praktek dalam dunia bisnis di dalam terang norma-norma iman

kristiani. Di lain pihak, ia juga mampu memperhitungkan dan oleh karena itu

berusaha memahami mekanisme yang aktual di dalam kegiatan-kegiatan bisnis

kontemporer. Singkatnya, etika bisnis Kristen berusaha memahami dari dalam,

tanpa kehilangan fungsi kritisnya; dan sekaligus berusaha menilai secara normatif

tanpa kehilangan dimensi realismenya.77

Prinsip-prinsip etika bisnis Kristen menurut Eka Darmaputera terdiri atas

lima hal. Pertama, Allah sebagai Pencipta segala sesuatu. Dengan prinsip ini

bisnis harus diarahkan untuk tujuan mempermuliakan Allah dan mendatangkan

kesejahteraan setiap dan seluruh ciptaan. Kedua, semua ciptaan Allah adalah baik.

Dengan prinsip ini bisnis tidak harus dinilai kotor sebab bisnis mempunyai

potensi melayani tujuan ilahi yang luas dan agung sehingga bisnis dapat

berkembang secara optimal.

Ketiga, manusia adalah gambar Allah. Dengan prinsip ini bisnis

dijalankan dengan menghargai martabat manusia sebagai gambar Allah dan

bukannya ’binatang ekonomi’ yang hanya mengejar keuntungan. Keempat,

manusia adalah gambar Allah yang selalu berdosa. Dengan prinsip ini etika bisnis

Kristen memberi tempat bagi kelemahan manusia sehingga dalam situasi tertentu

dapat mengambil tindakan etis yang bertanggungjawab. Kelima, manusia

dibenarkan, tetapi tetap berdosa. Dengan prinsip ini pelaku bisnis Kristen

77
Darmaputera, op.cit, hlm. 7.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

berjuang mengalahkan kuasa dosa dan mengubah dunia bisnis sesuai kehendak

Allah secara konsisten.78

3.3 Praktek Bisnis dalam Gereja

Keterlibatan Gereja dalam kegiatan bisnis lebih banyak bertujuan untuk

mendukung misi Gereja dan memberi kesempatan kerja bagi warga gereja dan

masyarakat sekitarnya. Bisnis Gereja cenderung untuk pelayanan sosial dan

pastoral. Sebagai contoh, jemaat-jemaat GPIB memiliki usaha perkebunan,

peternakan, koperasi, sekolah, rumah sakit, gedung serba guna dan penerbitan

yang dikelola sesuai dengan kemampuan sumber daya gereja.

Gereja Katolik dan Protestan menurut Rahadi memiliki beragam bisnis

mulai dari rumah sakit, sekolah, perbengkelan, perkebunan, pertanian, wisma atau

penginapan, rumah retret, rumah doa, asrama, panti asuhan, panti jompo, gedung

kesenian, lembaga rehabilitasi narkoba, paket wisata rohani, lembaga penyiaran

atau radio, toko dan penerbitan. Biasanya jika bisnis Geraja tidak dikelola secara

profesional, maka pada akhirnya menjadi beban bagi Gereja sendiri.

Secara khusus, Gereja Katolik memiliki pedoman tentang bisnis. Ajaran

Sosial Gereja (ASG) Katolik menekankan pentingnya penghargaan terhadap

martabat manusia dengan asas solidaritas, subsidiaritas, adanya milik pribadi,

serta mengakui persaingan bebas. Keuntungan dalam bisnis harus diperoleh

semua pihak mulai dari konsumen, karyawan, masyarakat sekitar, masyarkat luas

melalui pajak dan cukai, dan tentunya pelaku bisnis sendiri. Apabila asas ini

78
Ibid., hlm. 10-18.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dilanggar, yang menderita kerugian adalah semua pihak termasuk anak cucu kita

yang menghadapi rusaknya alam serta lingkungan hidup. 79

4 Persepsi bisnis menurut agama Islam dan agama Budha

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, penulis berusaha memaparkan

bagaimana pandangan agama Islam dan budaya Thionghoa tentang bisnis dalam

kaitannya dengan etika. Penulis memilih kedua agama ini dengan pertimbangan

bahwa agama Islam dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia dan agama Budha

dianut etnis Thionghoa yang mayoritas adalah pebisnis.

4.1. Agama Islam

Secara historis, agama Islam dapat dikatakan bersikap positif terhadap

kegiatan bisnis sebab Islam disebarluaskan melalui jalur perdagangan dengan

perintis utama Nabi Muhammad. Al Qur’an sendiri tidak melarang seseorang

mencari kekayaan dengan cara halal. Yang dilarang adalah keserakahan dan

pamer kekayaan (riya’). Rujukan yang penting tentang perdagangan adalah surat

al-Baqarah ayat 275 yang menyatakan: ”Allah telah menghalalkan perdagangan

dan melarang riba.”80

Dalam Al-Qur’an bisnis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

aktivitas atau amal perbuatan manusia secara keseluruhan dan tidak terbatasi oleh

kesempatan sesaat. Kesemua amal dijanjikan dengan suatu keuntungan yang

optimal. Tujuan dalam bisnis bernilai ganda yaitu keselamatan dunia dan akhirat.

79
Rahardi, F., Menguak Rahasia Bisnis Gereja, Jakarta: Visimedia, 2007, hlm. 23-140.

80
Bertens, Etika Bisnis, hlm. 50-51.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Bisnis yang hakiki adalah bisnis yang dapat menyelamatkan manusia dari azab

yang pedih. Etika bisnis islami merupakan usaha untuk mencari keridhaan Allah.

Jadi dalam Islam, etika dan bisnis adalah satu kesatuan dengan prinsip utama yaitu

kejujuran dan keadilan81. Perilaku etis bagi kaum Muslim adalah melakukan apa

yang dihalalkan, seperti bertani, berdagang atau menjadi pegawai dan

menghindari hal-hal yang diharamkan, seperti berdagang alkohol, berdagang obat-

obatan terlarang, prostitusi atau menyebarluaskan barang-barang pornografi.82

4.2. Agama Budha

Sang Buddha menurut Y.M. Bhikkhu Suguno dalam artikel online

Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi, menasihatkan bahwa kekayaan

atau materi bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup. Umat Budha ketika

mengumpulkan materi diharapkan memperhatikan norma-norma etika dan norma-

norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma. Lebih lanjut, sutta tersebut

menerangkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, sebaiknya seseorang

mengumpulkannya dengan usaha dan semangat yang tinggi

(utthanaviriyadhigatehi), dengan keringat sendiri (sedavakkhitehi), dan dengan

jalan Dhamma (dhammikehidhammaladdhehi).

Dalam usaha mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang harus

melakukan segala kegiatannya dengan jalan yang benar. Misalnya,

kepada para pedagang, Sang Buddha telah menasihati untuk menghindari

penipuan dengan jalan menipu alat pengukur timbangan (tulakuta), dan

81
Muhammad dan Lukman Fauroni, Visi Al-Quran tentang Etika dan Bisnis, Jakarta: Penerbit
Salemba Diniyah, 2002, hlm. 87-89.
82
Ibid., hlm. 133-138
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

menipu dalam dengan memalsu uang dan sebagainya. Selanjutnya,

Angguttara Nikaya menjelaskan seseorang seharusnya menghindari diri

dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan bagi dirinya

sendiri dan juga mahkluk lain, seperti satta vanijja (perdagangan

perbudakan), sattha vanijja (perdagangan persenjataan), mamsa vanijja

(perdagangan mahluk hidup), majja vanijja (perdagangan minum-minuman

keras), dan visa vanijja (perdagangan racun, termasuk ganja, morfin,

dan sebagainya). Ambalatthika Rahulovada Sutta menegaskan kriteria

tentang pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh para pengikut Sang

Buddha. Jika suatu pekerjaan yang dilakukan adalah menimbulkan

manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk orang lain serta

bermanfaat untuk kedua-duanya maka pekerjaan tersebut adalah

pekerjaan yang terpuji. Beberapa jenis pekerjaan seperti kerajinan,

pertanian dan sebagainya merupakan pekerjaan yang terpuji.

Agama Buddha memberikan anjuran kepada umat untuk mengembangkan

kesejahteraannya, baik kesejahteraan materi maupun kesejahteraan batin. Manusia

bukanlah penguasa alam yang berkuasa mengatur alam ini sesuai keinginannya.

Kedudukan manusia di alam semesta ini tidaklah tertinggi (supreme), tetapi

bagian dari alam; sehingga dia harus berusaha menyesuaikan diri dengan alam dan

berusaha menggunakan sumber-sumber kekayaan alam dengan sebaik-baiknya.83

83
http://www.buddhistonline.com/dhammadesana/desana7b.shtml. Makassar: 27 Agustus 2008.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

5 Jemaat GPIB Passasreang

Jemaat GPIB Passareang yang beralamat di BTN Pepabri C 3 no. 15,

Kelurahan Sudiang Raya, Makassar, ditahbiskan dan dilembagakan sebagai suatu

jemaat yang mandiri secara keuangan dan organisatoris pada tanggal 6 April 1997

dalam ibadah Minggu yang dilayani langsung oleh Pdt. DR. O.E.Ch Wuwungan

selaku Ketua Majelis Sinode GPIB. Sejak dilembagakan, jemaat ini mengalami

pertumbuhan secara kuantitas dan data terakhir bulan Agustus 2008 menunjukkan

jumlah warga jemaat ini adalah 246 Kepala Keluarga dengan 971 jiwa, yang

tersebar dalam lima sektor pelayanan.

Sejak tahun 1997 sampai 2008, jemaat ini sudah dilayani oleh lima orang

pendeta selaku Ketua Majelis Jemaat (KMJ) sesuai penugasan Majelis Sinode

GPIB yaitu Pdt. Ebser Lalenoh, STh, Pdt. Ny. Ellen Tamunu, SPAK, Pdt. Adma

Tarigan, STh, Pdt. Ny. M.A. Manopo, STh dan Pdt. Ny. M.B. Risamena, STh.

Dalam tanggungjawab organisasi dan pelayanan, pendeta selaku KMJ dibantu

oleh Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) dalam mengatur pelayanan,

mengelola administrasi kantor dan sumber daya gereja.

Sidang Majelis Jemaat (SMJ) yang dilaksanakan secara berkala 1 kali

dalam 3 bulan, merupakan wadah strategis yang efektif dalam mengevaluasi

kinerja pelayanan, memecahkan persoalan-persoalan jemaat dan merancang

bersama kegiatan-kegiatan pelayanan untuk 3 bulan ke depan. Jemaat ini memiliki

43 anggota majelis jemaat dengan rincian 22 orang sebagai penatua dan 21 orang

sebagai diaken serta 50 orang yang melayani wadah kategorial anak, teruna,

pemuda, wanita dan kaum bapak.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Jemaat ini memiliki harta milik gereja berupa sebuah gedung gereja,

kantor, ruang serba guna dan pastori. Dalam program tahun 2008-2009, jemaat

ini merencanakan pengadaan kendaraan roda empat untuk kelancaran mobilitas

pelayanan. Dalam penyelenggaraan tertib administrasi dan kenyamanan

beribadah, jemaat Passreang memiliki 2 orang tenaga kantor, 1 orang tenaga

keamanan dan 1 orang koster yang digaji secara periodik sesuai ketentuan

sinodal dan kebijakan setempat.

Pelayanan ibadah Minggu dilaksanakan 2 kali pada jam 09.00 wita dan

17.00 wita. Sementara ibadah Minggu untuk anak-anak dilaksanakan di gedung

gereja, ruang serba guna dan pos-pos pelayanan. Pembinaan reguler dilaksanakan

secara bergilir setiap minggu bagi para pelayan yang bertugas memberitakan

Firman Allah dalam ibadah keluarga, anak, teruna, pemuda, wanita dan kaum

bapak. Kegiatan pembinaan reguler ini dilangsungkan malam hari setiap hari

Senin dan Selasa jam 19.00 wita di ruang konsistori dan ruang serba guna.

Jemaat Passareang memiliki tiga komisi yaitu (1) komisi diakonia yang

bertugas membantu secara finansial dan natura bagi warga jemaat yang

berkekurangan secara ekonomi; (2) komisi kesehatan dengan tugas memeriksa

warga jemaat yang sakit dan mengobatinya. Kegiatan pemeriksaan kesehatan

dilakukan setiap hari Jumat yang dilayani oleh tenaga dokter yang profesional;

dan (3) komisi musik gereja yang membina kegiatan nyanyian gereja dan melatih

pemandu lagu (kantoria).84

84
M. A. Manopo, Memorandum serah terima Pendeta/Ketua Majelis Jemaat GPIB Passareang
Makassar, Makassar: 9 Agustus 2008.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

B Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai bisnis dalam hubungannya dengan etika dan disiplin

ilmu lainnya sudah dilakukan oleh beberapa orang. Pada bulan Maret 2008,

penulis berkesempatan mendalami karya-karya ilmiah di perpustakaan STT

Jakarta dan perpustakaan Nasional Jakarta yang ditulis oleh Lestari, Dewanto, dan

Tompah yang dianggap berbobot dan terkait dengan maksud penelitian ini.

R. Siti Lestari dalam tesis magisternya Tinjauan Etika Bisnis dalam

Persaingan Usaha di Indonesia membahas etika bisnis dari perspektif hukum

dengan pendekatan kualitatif. Tesis ini bertujuan untuk mengkaji relevansi etika

bisnis dengan persaingan usaha di Indonesia, dan apa aspek hukum dari adanya

persaingan tidak sehat terhadap konsumen dan pengusaha kecil Iainnya.

Etika bisnis menurut Lestari sangat penting ditegakkan dalam persaingan

usaha sebab terdapat hubungan yang erat antara etika bisnis dan persaingan usaha.

Aspek hukum dan aspek etika bisnis sangat menentukan terwujudnya persaingan

yang sehat. Indikator dari persaingan sehat adalah tersedianya banyak produsen,

harga pasar yang ditentukan berdasarkan keseimbangan antara permintaan dan

penawaran, dan peluang yang sama dari setiap usaha, dalam bidang industri dan

perdagangan.

Adanya persaingan usaha yang sehat, akan menguntungkan semua pihak

termasuk konsumen dan pengusaha kecil, dan produsen sendiri, karena akan

menghindari terjadinya konsentrasi kekuatan pada satu atau beberapa usaha

tertentu. Tanpa kepastian hukum, maka mekanisme pasar akan terancam. Adanya

hukum yang pasti akan memelihara ketertiban pasar dan menjamin transparansi
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

pasar. PeneIitian yang dilakukan di Jakarta ini bersifat yuridis normatif dengan

menggunakan pendekatan kualitatif85.

Dewanto dalam disertasi doktoralnya Etik Bisnis dan Keberagamaan

Kelompok Kristen dalam Perspektif Sosiologis menyimpulkan bahwa

keberhasilan bisnis kelompok-kelompok Kristen yang menjadi obyek

penelitiannya lebih dipengaruhi nilai-nilai budaya kelompok dibanding pengaruh

etik Kristen Protestan Calvinis. Akibatnya, keputusan etis dalam bisnis lebih

berdasarkan pada etik sekular dan filosofis daripada etik teologi Kristen. Dewanto

mensinyalir bahwa etik Kristen Protestan Calvinis sama sekali tidak diketahui

karena tidak diajarkan kepada mereka sehingga dalam praktek bisnis yang

digunakan adalah etik sekular dan filosofis86.

Norita Yudiet Tompah dalam tesis magisternya Peran Nilai Agama dalam

Etika Bisnis menyebutkan bahwa nilai-nilai agama memiliki peran yang penting

bagi para pengusaha dalam pengambilan keputusan etis di bidang bisnis.

Pengusaha yang ditelitinya berasal dari kalangan Islam dan Kristen yang berlokasi

di Jakarta. Metodologi penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif dengan

perspektif teologi87.

Penelitian terbaru dari Andreas Bintoro dalam tulisannya Dapatkah

Kekristenan Diterapkan dalam Bisnis ? menyimpulkan bahwa (1) masyarakat

yang majemuk mempersulit pengambilan keputusan etis dalam bisnis, karena

85
R. Siti Lestari, Tinjauan Etika Bisnis dalam Persaingan Usaha di Indonesia, Tesis, Jakarta:
Universitas Indonesia, 1999.
86
Andreas Bintoro Dewanto, Etik Bisnis dan Keberagamaan Kelompok Kristen dalam Perspektif
Sosiologis, Disertasi, Bandung: Universitas Padjadjaran, 1993.
87
Norita Yudiet Tompah, Peran Nilai Agama dalam Etika Bisnis, Tesis, Jakarta: STT Jakarta,
2003.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

masing-masing kelompok masyarakat mempunyai persepsi yang berbeda-beda

tentang norma-norma etis yang ada dan masalah etis yang dihadapi; (2)

Kelompok suku dan etnis yang berbeda-beda dalam komunitas Kristen seringkali

berpegang pada nilai-nilai budaya yang berbeda-beda pula dan menyebabkan

persepsi yang berbeda-beda pula tentang norma etis yang ada serta masalah etis

yang dihadapi; (3) Etik Kristen Protestan Calvinis sebagai norma dan etos belum

cukup diajarkan dan dipahami untuk mampu mengubahkan nilai budaya para

pemeluk Kekristenan Protestan Calvinis ke arah yang lebih mendekati tuntutannya

yang radikal dan transformatif. Ia mensinyalir jika tradisi Reformasi yang terus

menerus memperbaharui dirinya dan profetis tidak diberi tempat dalam

Kekristenan di Indonesia, maka kemungkinan besar Kekristenan akan menjadi

semacam gejala marginal dalam masyarakat Indonesia88.

Seorang psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dalam penelitiannya terhadap

sejumlah pebisnis profesional mancanegara mengemukakan bahwa kesuksesan

dalam bisnis dapat membawa kebahagiaan hidup secara menyeluruh. Bisnis yang

baik menurutnya tidak sekadar meningkatkan keuntungan, melainkan turut

memberikan kontribusi signifikan pada kebahagiaan manusia. 89

Bisnis yang tidak baik seperti penipuan, suap, kolusi dan menjual barang-

barang berbahaya bagi kesehatan manusia seperti alkohol dan tembakau pada

akhirnya hanya meningkatkan stress dan menghilangkan kebahagiaan90. Bisnis

88
Andreas Bintoro, ”Dapatkah kekristenan Diterapkan dalam Bisnis?”, dalam Robert P Borrong
dan Norita Y. Tompah, (Eds.), Etika Bisnis Kristen, Jakarta: Unit Publikasi dan Informasi & Pusat
Studi Etika STT Jakarta, 2006, hlm. 89-96.
89
Mihaly Csikszentmihalyi, Good Business: Bisnis Sebagai Jalan Kebahagiaan, Diterjemahkan
oleh Helmi Mustofa, Bandung: Penerbit Mizan, 2007, hlm.42.
90
Ibid., hlm. 43-44.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

yang baik dipahami sebagai bisnis yang berorientasi tidak semata-mata meraup

untung, tetapi juga menjadikan usahanya sebagai mesin peningkatan kualitas

hidup. Tindakan para eksekutif sukses itu didasarkan pada prinsip-prinsip agama

Kristen atau nilai-nilai humanisme sekuler.91

Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

menyimpulkan bahwa agama yang bersemangat modernlah yang akan

memberikan dorongan atau spirit terhadap pertumbuhan ekonomi (kapitalisme).

Kapitalisme menurutnya bukanlah sikap rakus yang tidak terbatas dalam mengejar

keuntungan. Kapitalisme identik dengan pencarian keuntungan (profit), dan

keuntungan itu dapat diperbaharui terus menerus. Semangat kapitalisme klasik

bercirikan sikap moral jujur, ketepatan dalam waktu, sikap rajin dan hemat yang

semuanya dilatarbelakangi etos kerja Protestan. Akibatnya, pencarian uang

dalam tatanan ekonomi modern sejauh hal itu dilakukan dengan cara-cara legal,

merupakan hasil dan ekspresi dari kebajikan dan kecakapan dalam melaksanakan

panggilan tugas.92

Doktrin predestinasi dari Calvin diartikan sebagai kesempatan bagi orang

beriman untuk membuktikan keselamatannya dengan cara meraih sukses dalam

bisnis. Mereka yang menjalani hidup yang baik dengan kerja keras pasti akan

masuk ke Surga. Sebaliknya, mereka yang malas tidak akan masuk surga setelah

kematiannya. Doktrin ini memotivasi kaum Calvinis untuk bekerja dengan energi

yang berlipat ganda, terdorong oleh janji kebahagiaan abadi. Kerja seperti

91
Ibid., hlm. 56-57.
92
Max Weber, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Diterjemahkan oleh Yusup
Priyasudiarja, Yogyakarta: Jejak, 2007, hlm. 58.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

aktivitas bisnis dipahami bukan lagi sebagai sesuatu yang hina, melainkan sebuah

panggilan ilahi (beruf, calling) untuk memuliakan Tuhan. 93

Penelitian yang penulis lakukan ini sama sekali berbeda dengan karya-

karya ilmiah sebagaimana yang dipaparkan di atas Penelitian ini sama sekali baru

baik dari segi substansi, metodologi, waktu, tempat dan objek penelitian.

Sepengetahuan penulis belum ada karya ilmiah yang meneliti persepsi warga

jemaat GPIB tentang bisnis dari sudut pandang iman Kristen.

C Kerangka Konseptual

Persepsi Bisnis
warga jemaat

Pandangan Alkitab Pandangan sekular


tentang bisnis tentang bisnis
1. Mempermuliakan 1. Menguntungkan
Allah 2. Bermoral
2. Kekudusan 3. Tidak melanggar
3. Jujur dan adil hukum
4. Menghargai martabat 4. Peduli terhadap
manusia Lingkungan
5. Bertanggungjawab 5. Mendatangkan
kebahagiaan

Bisnis yang baik


1. Melayani kehendak Allah
2. Menghargai sesama
3. Memiliki tanggungjawab sosial

93
Ibid., hlm.163.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

D Landasan Teori

Bisnis adalah aktivitas ekonomi yang menguntungkan dua pihak yang

bertransaksi guna memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Tentunya bisnis

bukanlah karya amal. Bisnis memerlukan motif keuntungan sehingga

mendatangkan kepuasan dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu bisnis tidak

bisa dikelola dengan mengorbankan pihak lain seperti konsumen, pemerintah,

mitra bisnis atau lingkungan alam. Pelaku bisnis yang curang akan dihukum oleh

masyarakat sehingga mengalami kerugian dan bangkrut.

Sekarang ini bisnis harus dijalankan dengan kesadaran moral dan

tanggung jawab sosial. Kesadaran etis dalam bisnis dapat diperoleh melalui norma

agama, hukum negara dan norma sosial budaya dari masyarakat setempat. Pelaku

bisnis Kristen memiliki Alkitab sebagai pedoman moral dalam berbisnis. Prinsip-

prinsip Alkitab dalam bisnis Kristen yaitu (1) bisnis sebagai usaha

mempermuliakan Allah, (2) kekudusan, (3) kejujuran dan keadilan,

(4) menghargai martabat manusia, dan (5) bertanggungjawab.

Pelaku bisnis Krtisten dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab dalam

bisnisnya, maka ia dapat berinteraksi secara positif dengan pelanggan, karyawan,

aparat pemerintah, masyarakat lokal dan mitra bisnisnya. Dengan demikian pelaku

bisnis Kristen dapat melayani kehendak Allah, menghargai sesama dan memiliki

tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini Gereja

memiliki tanggung jawab membina warga jemaatnya dalam soal bisnis agar hidup

mereka sejahtera secara ekonomi dan memiliki kepedulian sosial yang baik.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB III

METODE PENELITIAN

Setelah kerangka konseptual dan landasan teoritis dikemukakan pada bab

terdahulu, maka pada bagian ini metode yang digunakan dalam penelitian ini

dipaparkan. Di sini, instrumen penelitian yang dipilih adalah angket dan

wawancara guna mendapatkan data akurat dari responden yang menjadi objek

penelitian ini. Persepsi responden diukur dengan skala Likert dengan tingkatan

yang terstruktur.

A Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survai dengan metode yang dipakai ialah

deskriptif analitis. Metode survai deskriptif adalah suatu metode penelitian yang

mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat

pengumpulan data. Dalam penelitian ini data dikumpulkan dari responden dengan

mengunakan kuesioner.94

Dengan instrumen penelitian berupa kuisioner seperti yang ada dalam

Lampiran I, penulis bermaksud mendapatkan persepsi warga jemaat GPIB

Passareang tentang bisnis dari sudut pandang iman Kristen95. Data yang diperoleh

hasilnya dipaparkan secara deskrisptif dan pada akhir penelitian dianalisis untuk

menguji hipotesis yang diajukan pada awal penelitian ini.

94
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, (Peny.) Metode Penelitian Survai, Jakarta: Penerbit
LP3ES, 1985, hlm. 8.
95
Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, Dasar-dasar dan Aplikasi, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2005, hlm. 23.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

B Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di jemaat GPIB Pasareang yang beralamat

di BTN Pepabri C 3 No. 15, Kelurahan Sudiang Raya, Makassar. Pengumpulan

data dalam penelitian ini dimulai bulan Juni sampai dengan Agustus 2008.

C Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini mengunakan teknik sampling yang disebut teknik random

sederhana (simple random sampling). Teknik sampling ini adalah cara

pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam

anggota populasi tersebut.96 Besaran smpel yang diambil dalam penelitian ini

adalah 100 responden.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan mengunakan instrumen

angket. Angket diberikan kepada warga jemaat GPIB Passareang sebagai

responden untuk mendapatkan persepsi mengenai bisnis Kristen. Warga jemaat

yang dilibatkan sebagai responden memiliki latar belakang yang beragam baik

secara status sosial, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi dalam

pelayanan Gereja.

Angket disebarkan melalui kordinator sektor pelayanan yang merupakan

penanggungjawab utama pelayanan di sektor pelayanan. Lima (5) sektor

pelayanan dalam jemaat GPIB Passareang mendapatkan masing-masing 15

eksemplar angket yang ditujukan kepada warga jemaat yang sudah berkeluarga.

Sebagian angket yang tersisa (25 eksemplar) diberikan kepada beberapa pelayan

96
Riduwan, op.cit, hlm. 58.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

PA (Persekutuan Anak), PT (Persekutuan Teruna) dan GP (Gerakan Pemuda)

yang umumnya dari kalangan pemuda.

Selain angket, data primer diperoleh juga melalui wawancara. Penulis

melakukan wawancara kepada sejumlah responden guna memperkuat hasil

penelitian. Dalam wawancara, penulis mengajukan pertanyaan mendalam dengan

menggunakan pedoman wawancara seperti yang ada dalam Lampiran II.

Wawancara dilakukan secara bertahap terhadap tiga orang pendeta jemaat GPIB,

dua orang anggota majelis jemaat GPIB dan tiga orang pengusaha Kristen.

Wawancara berlangsung secara tatap muka di pastori, rumah dinas,

kediaman pribadi atau di kantor sesuai waktu yang disepakati. Waktu wawancara

berlangsung antara 60-90 menit. Hasil wawancara direkam dengan alat perekam

(tape recorder). Data primer ini kemudian diolah bersama dengan data sekunder

yang didapat melalui buku-buku, dokumen gerejawi dan sumber internet.

D Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis dengan

teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data

yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara. Hasil perhitungan analisis

deskriptif tersebut kemudian dideskripsikan dalam distribusi frekuensi skor

masing-masing variabel penelitian. Setelah itu interpretasi dilakukan agar makna

yang terkandung di dalam data (baik yang melalui angket maupun wawancara)

menjadi jelas untuk dicermati.

Pengukuran terhadap persepsi warga jemaat GPIB Passreang mengenai

bisnis Kristen dilakukan dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau

sekelompok orang tentang fenomena sosial. Instrumen penelitian dengan

menggunakan skala Likert ini dibuat dalam bentuk tanda centang (checklist).97

Jawaban atas setiap item instrumen dalam penelitian ini mempunyai

gradasi dari sangat positif sampai dengan sangat negatif dengan kategori jawaban

dengan 5 tingkatan: SS (sangat setuju), ST (setuju), RG (ragu-ragu), TS (tidak

setuju) dan STS (sangat tidak setuju). Kategori jawaban itu diberi skor dari 1

sampai 5 dengan rincian sebagai berikut: SS diberi skor 5, ST diberi skor 4, RG

diberi skor 3, TS diberi skor 2 dan STS diberi skor 1. Jika sampel yang digunakan

adalah 100 responden, maka jumlah skor ideal: 5 x 100 = 500 (SS) dan jumlah

skor rendah: 1 x 100 = 100 (STS)98.

Kisi-kisi instrumen penelitian untuk mengukur persepsi bisnis Kristen

ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

VARIABEL DIMENSI INDIKATOR- NOMOR


INDIKATOR ITEM
1 2 3 4
Persepsi A. Bisnis 1. Bisnis mendatangkan 1
keuntungan
2. Pendapatan dan ekonomi 2
yang lebih baik
3. Bisnis yang baik 7
membawa sukses dan

97
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan ke-10, Bandung: Alfabeta, 2007, hlm. 86-87.
98
Ibid., hlm. 88-89.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

bertahan lama
4. Bisnis curang: menipu dan 8
melanggar hukum
5. Keuntungan wajar dalam 10
bisnis itu etis/baik
6. Keuntungan didapat 14
dengan segala cara apapun
7. Menjaga kepercayaan 17
konsumen dalam harga, mutu
dan layanan
8. Tanggungjawab sosial 18
pengusaha terhadap
masyarakat
9. Bisnis tidak membutuhkan 19
ajaran agama
10. Ajaran agama tidak dapat 20
dipraktekkan dalam bisnis
11. Bisnis bisa rugi kalau 21
ajaran agama dipraktekkan
12. Pengusaha berbuat 22
curang karena oknum
pemerintah
13. Pengusaha melakukan 23
penipuan agar untung
14. Konsumen dirugikan 24
karena kecurangan
pengusaha
15. Pengusaha dapat 25
menjelekkan rekan bisnis
16. Pengusaha wajib 28
membayar pajak
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

17. Pengusaha curang 29


ditindak secara hukum
B. Alkitab 18. Pedoman moral/etika 3
19. Nilai etika Kristen: 5
kekudusan, keadilan dan
kasih
20. Alkitab mencegah 16
pengusaha berbuat curang

C. Iman 21. Menjadi pengusaha 6


adalah pekerjaan yang baik
22. Pengusaha perlu 4
memiliki etika bisnis
23. Pengusaha dapat 9
mempermuliakan Allah
24. Keuntungan bisnis adalah 11
berkat dari Tuhan
25. Dalam bisnis perlu 12
pertolongan Tuhan (doa)
26. Pengusaha Kristen tidak 27
terpengaruh untuk berbuat
curang
27. Sama sekali tidak ada 13
campur tangan Tuhan dalam
bisnis
28. Bersyukur dan memberi 15
persembahan
29. Lingkungan bisnis 26
curang menghambat bisnis
dengan prinsip Alkitab
30. Bisnis Kristen 30
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

mendatangkan kebahagiaan
dan kesejahteraan hidup
D. Pembinaan 31. Perlu dilakukan 31
pembinaan tentang bisnis
dengan prinsip-prinsip
Alkitab
32. Majelis Jemaat perlu juga 32
dibina soal bisnis Kristen
33. Warga dilarang berbisnis 34
karena kotor dan berdosa
34. Menasihatkan warga 36
jemaat yang berbisnis curang
35. Mendoakan pengusaha 37
menjadi saksi Kristus
E. Program kerja 36. Unit bisnis Gereja perlu 33
didirikan
37. Memberikan pelatihan 35
dan modal kerja
38. Melibatkan pengusaha 38
dalam pelatihan jemaat
39. Partisipasi pengusaha 39
dalam kegiatan pelayanan
40. Kelompok pendukung 40
bagi pengusaha didirikan
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB IV

PEMBAHASAN

Bagian ini menguraikan hasil angket dan wawancara yang sudah

dilakukan penulis. Data yang diperoleh melalui angket berupa karakteristik

responden dan persepsi mereka mengenai bisnis Kristen. Data yang diperoleh

lewat wawancara turut menguatkan hasil angket yang diterima. Selanjutnya,

penulis melakukan interpretasi data agar persepsi responden dapat dimengerti

dengan jelas. Dengan data yang melimpah, maka dapat segera dilakukan

pengujian atas hipotesa yang diajukan.

1 Hasil Penelitian

1.1 Karakteristik Responden

Kuisioner yang disebar kepada 100 responden dikembalikan lengkap.

Selain kuisioner, wawancara dilakukan guna melengkapi data yang diperoleh dari

penelitian di Jemaat. Mereka yang diwawancara adalah anggota majelis jemaat

(2 orang), anggota jemaat GPIB yang berprofesi sebagai pengusaha (3 orang) dan

para pendeta GPIB (3 orang). Deskripsi di bawah ini memaparkan hasil penelitian

yang sudah dilakukan selama 3 bulan dari Juni s/d Agustus 2008.

Mayoritas responden adalah kalangan pria (60%) dan sisanya wanita

(40%). Kebanyakan dari mereka sudah menikah (68%) dan bekerja sebagai

pegawai negeri maupun swasta (58%). Sekalipun mereka sudah memiliki

pekerjaan utama sebagai pegawai, tetapi beberapa dari mereka memiliki usaha

bisnis sebagai pekerjaan sampingan (36%).


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Sebagian kecil responden (12%) benar-benar menjadikan bisnis sebagai

pekerjaan utama, seperti bisnis jual beli sembako, perbengkelan, transportasi dan

jasa. Umumnya tingkat pendidikan responden adalah SMTA (54%), kemudian

diikuti lulusan Perguruan Tinggi (36%), dan sebagian kecil SMP (10%).

Responden yang berusia produktif lebih banyak jumlahnya (64%), dibandingkan

mereka yang berusia 50 tahun ke atas (36 %). Sebagian besar responden berstatus

sebagai anggota biasa dalam persekutuan jemaat dan lainnya adalah anggota

majelis jemaat. Uraian lengkap karakteristik responden dapat dilihat dalam Tabel

2 berikut ini.

Tabel 2. KAREKTERISTIK RESPONDEN

KATEGORI DAN BESARANNYA

Umur 16-25 thn 26-35 thn 36-50 thn 50 thn ke atas


(5%) (19%) (40%) (36%)
Jenis Laki-laki Perempuan
kelamin (60%) (40%)
Perkawinan Kawin Belum Duda Janda
(68%) (25%) (3 %) (4 %)
Pekerjaan Pedagang PNS/TNI/POLRI Pegawai Pelajar/Mahasiswa
(12%) (28 %) swasta (10%) dan
(30%) lainnya (20%)
Bisnis Jual beli Perbengkelan Transportasi Jasa dan lainnya
sembako (1%) (3%) (28%)
(8%)
Pendidikan Tidak SMP SMTA PT
tamat – SD (10%) (54%) (30%)
Status Anggota Majelis Jemaat
dalam biasa (30%)
Jemaat (70%)
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

1.2 Persepsi responden mengenai bisnis Kristen

Sebagian besar responden (98%) seperti yang tergambar dalam Tabel 3,

berpendapat bahwa bisnis adalah kegiatan ekonomis yang mendatangkan

keuntungan materi. Mencari keuntungan dalam bisnis dipahami sebagai perbuatan

baik/etis (96%) jika sesuai dengan hukum yang berlaku dan tidak merugikan

pihak lain. Responden (96%) berpendapat bahwa keuntungan dalam bisnis

menjadikan penghasilan keluarga bertambah. Keuntungan dalam bisnis menjadi

faktor penting bagi keberadaannya. Seorang responden mengakui bahwa ”bisnis

itu orientasinya keuntungan. Kalau tidak, bisnis itu akan pendek.”99 Responden

yang lain mengatakan bahwa ”mencari keuntungan dalam bisnis tidak salah sebab

keuntungan yang dicari adalah keuntungan yang manusiawi.”100

Sekalipun tujuan bisnis adalah keuntungan, mereka yang berbisnis

menurut responden (100%) perlu memiliki etika dalam berbisnis. Etika dalam

bisnis menurut responden dapat bersumber dari ajaran Alkitab. Responden (98%)

mengakui bahwa Alkitab memberikan pedoman moral bagi siapapun yang terjun

dalam bisnis. Jadi, responden menolak jika dikatakan ajaran agama tidak dapat

dipraktekkan dalam bisnis. Seorang responden mengungkapkan pendapatnya

mengenai peran sentral Alkitab dalam pengambilan keputusan etis.

”Alkitab dapat menjadi guidance, pembimbing dalam mengambil


keputusan-keputusan dalam bisnis. Misalnya nilai kasih,
mengingatkan agar dalam mengambil keputusan tidak berdasarkan

99
Anggiat Sinaga, Wawancara, Makassar: 9 Juni 2008. Beliau adalah General Manager Hotel
Clarion di Makassar dan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kota Makassar..
100
Marlyn Joseph, Wawancara, Makassar: 28 Agustus 2008. Beliau adalah pendeta GPIB yang
melayani di jemaat GPIB Bukit Zaitun, Makassar.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

emosi sehingga jika ada orang yang bersalah tidak langsung


melakukan pemecatan, melainkan pembinaan”.101

Semua responden (100%) sepakat bahwa nilai-nilai etika Kristen dalam

bisnis terkait dengan kekudusan, keadilan dan kasih. Ajaran Alkitab an sich

diakui tidak berlawanan dengan budaya perusahaan. Secara praktis, pemahaman

ini menurut seorang responden dapat dinyatakan bentuk pemberian penghargaan

bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar budaya perusahaan.

”Salah satu corporate culture atau budaya perusahaan yang kita


bangun sekarang adalah bagaimana proses keseimbangan antara
reward and punishment. Ketika orang memberikan kinerja yang
baik, kita berikan reward. Ketika dia melanggar, kita berikan
punishment, hukuman. Saya pikir juga di Alkitab dikemukakan
seperti itu, bahwa orang yang jujur diberi penghargaan dan orang
yang jahat diberi hukuman. Ketika tiba ulang tahun hotel,
karyawan terbaik jika dia Kristen kita berangkatkan ibadah ke
Yerusalem; jika dia Islam, kita berangkatkan ibadah umroh. Jadi
reward pun kita lakukan. Tidak hanya pendekatan materialistis,
tetapi juga ada sentuhan-sentuhan religius. Mudah-mudahan
sentuhan-sentuhan religius ini dapat membuat mereka loyal untuk
berbakti kepada perusahaan.” 102

Nilai-nilai etika Kristen ini menurut sebagian besar responden (88%)

dipahami dapat mencegah seorang pengusaha berbuat curang dan sama sekali

tidak mendatangkan kerugian. Seorang responden menjelaskan akibat yang

ditanggung pebisnis jika mengabaikan etika.

”Apapun bisnisnya seorang pebisnis harus mengedepankan etika,


karena bisnis itu menyangkut trust, menyangkut kepercayaan.
Seorang pebisnis harus memiliki etika yang baik agar bisnisnya
langgeng. Jika seorang pebisnis berlaku curang, maka tinggal

101
Sinaga, ibid.
102
Ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

waktunya saja yang bersangkutan akan gagal. Yakinlah tinggal


hitung hari, yang bersangkutan akan hancur, akan bangkrut.”103

Kecenderungan kuat praktek curang dalam bisnis disebabkan tidak

berfungsinya nilai-nilai moral dalam diri pengusaha itu. Kenyataan demikian

menurut seorang responden dapat ditangkal jika iman Kristen dapat berfungsi

dengan baik dalam diri seorang pengusaha.

”soal bisnis dengan iman, kalau kita lihat praktikanya itu


pure bisnis pasti bertentangan. Bisnis bisa menghalalkan segala
cara demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Iman Kristen
membedakan kita dengan yang lain. Bisnis sebenarnya bagaimana
saya menjual yang terbaik dan konsumen membeli yang terbaik.
Memberikan pelayanan terbaik tidak hanya buat konsumen, tetapi
juga karyawan dan lingkungan masyarakat di mana perusahaan itu
berada. Kita memiliki tanggung jawab moral sekaligus tanggung
jawab iman”.104

Praktek bisnis curang dipahami responden (74%) dapat merugikan

konsumen dan menghambat pengusaha dalam menjalankan bisnisnya sesuai

ajaran Alkitab. Seorang responden mengatakan bahwa ”kebohongan dalam bisnis

membawa dampak bagi orang lain. Jangan berpikir kalau kita salah urus, orang

lain tidak kena. Kena juga. Bisnis ini kan punya networking. Begitu kita salah

dalam menjalankan bisnis, orang lain kena imbasnya, langsung atau tidak

langsung. Kita bekerja bukan untuk menyusahkan orang, tetapi menjadi berkat

untuk orang lain”.105 Kebanyakan responden (96%) sepakat bahwa pengusaha

dapat berlaku tidak curang dalam bisnisnya. Aparat pemerintah pun dipandang

103
Ibid.
104
Leo J. Hehanusa, Wawancara, Makassar: 29 Juli 2008. Beliau adalah pengusaha dan konsultan
bisnis.
105
Ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

responden bukan faktor yang membuat pengusaha berbuat curang, sebab para

pengusaha telah menjalankan kewajiban membayar pajak sesuai ketentuan

berlaku. Kalau pengusaha berlaku curang, responden (94%) berpendapat perlu

diambil tindakan hukum oleh aparat yang berwenang.

Berbisnis dipahami sebagian besar responden (90%) sebagai pekerjaan

yang baik. Seorang responden berpendapat bahwa ”sesungguhnya bisnis itu baik.

Manusia dengan cara-caranya yang tidak benar membuat bisnis itu menjadi tidak

baik.”106 Responden lain mengatakan bahwa ”bisnis itu baik karena menyangkut

pelayanan sosial.”107 Bisnis juga dipandang sebagai pekerjaan baik karena

pengaruh ajaran agama Protestan seperti yang dikatakan seorang responden:

”berdasarkan ajaran Calvin, bisnis itu adalah pekerjaan, dan


pekerjaan itu adalah ibadah. Kalau kita kerja baik, kalau kita
meyakini bahwa ibadah itu di hadapan Tuhan kita harus jujur, kita
harus benar, maka dalam bisnis juga kita harus benar, termasuk
caranya. Cara-cara benar itu tidak menyusahkan.” 108

Sebagian besar responden (90%) berpendapat keuntungan dalam bisnis

tidak boleh didapat dengan segala cara apapun yang melanggar etika dan hukum.

Responden juga setuju jika bisnis dilakukan dengan baik, seorang pengusaha

dapat menuai sukses dan sekaligus mempermuliakan Allah. Dalam kerangka

pemahaman itu, keuntungan yang wajar dalam bisnis dipahami sebagai berkat

dari Tuhan. Karena itu, doa menurut responden (100%) memiliki peranan penting

106
M.T. Hallatu, Wawancara, Makassar: 29 Agustus 2008, Beliau adalah pendeta GPIB yang
melayani di jemaat GPIB Manggamaseang, Makassar.
107
Max Saliwir, Wawancara, Makassar: 2 Juni 2008. Beliau adalah General Manager PT (Persero)
Angkasa Pura I, Ujung Pandang.
108
Hehanusa, ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dalam hidup pengusaha Kristen. Seorang responden mengaku bahwa ”sebelum

bekerja maka yang terpenting adalah berdoa mohon pertolongan Tuhan.” 109

Dengan keuntungan yang diraih, mereka setuju (98%) bahwa seorang

pengusaha Kristen dapat mengucap syukur dan memberi persembahan kepada

gereja. Ajaran agama menurut responden (94%) sangat berpengaruh bagi

pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Jadi berbisnis dengan mempraktekkan

ajaran Alkitab menurut responden (98%) mendatangkan kebahagiaan dan

kesejahteraan hidup. Dengan tegas seorang responden berpendapat bahwa

”orang yang berbisnis dengan cara tidak benar seperti manipulasi, sogok

menyogok, akhirnya berujung pada penderitaan. Harusnya orang berusaha

ujungnya sukacita, hidupnya damai sejahtera.” 110

Seorang pengusaha, menurut responden (100%) perlu menjaga

kepercayaan konsumen dalam soal harga, mutu dan layanan dan perlu memiliki

tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Soal

tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat sekitar diakui responden

perlu dilakukan sebab orientasi bisnis tidak hanya orientasi profit, tetapi juga

orientasi sosial, sehingga kehadiran usaha di tempat itu menjadi nilai tambah bagi

masyarakat sekitar.111

Majelis jemaat menurut responden (90%) bertanggung jawab dalam

membina warga jemaat tentang bisnis sesuai dengan ajaran alkitab. Penguasaan

ajaran Alkitab tentang bisnis perlu dipahami oleh anggota majelis jemaat sehingga

mereka dapat membina warga jemaat dengan baik. Dengan pemahaman yang
109
Saliwir, ibid.
110
ibid.
111
Sinaga, ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

benar, responden sepakat (74%) bahwa bisnis bukan pekerjaan kotor yang

mendatangkan dosa. Dengan penguasaan nilai-nilai kristiani, seorang responden

mengakui bahwa ”kita dapat menjadi saksi, bersaksi bahwa ada hal-hal yang tidak

benar dalam dunia bisnis”112.

Walaupun demikian, responden berbeda pendapat tentang perlunya gereja

memiliki unit bisnis guna membantu keuangan gereja. Seorang responden setuju

gereja memiliki unit bisnis jika tujuan bisnis untuk kesejahteraan warga jemaat,

dan bukannya orientasi profit113. Responden lain dengan kritis mempertanyakan

perlunya gereja memiliki unit bisnis.

”Apa perlu gereja berbisnis. Menurut saya, berdasarkan Kisah Para


rasul bahwa berkat itu bukan pada gereja, tetapi pada umatnya.
Kenapa gereja mengambil alih peran umatnya? Gereja takut bahwa
umatnya tidak lagi akan memberikan berkatnya. Gereja jangan
berpikir mendistribusikan berkat. Bagaimana seluruh kekuatan
umat dengan masing-masing talentanya, dari berkat-berkat yang
dimiliki warga jemaat, gereja sebagai institusi bisa diberikan
tanggungjawab mengumpul, mengelola dan membagi. Malah satu
ketika, suatu waktu jika tercapai apa yang disebut jemaat
misioner, gereja bukan lagi tempat mengumpul dan membagi
berkat. Jemaat itu sendiri sudah tahu tugas dan tanggung jawabnya
membagi berkat pada orang-orang di sekitarnya.”114

Seorang responden mengutarakan tentang sejauh mana perhatian gereja

dalam dunia bisnis dengan mengidentifikasi bahwa ”kultur GPIB sebagai gereja

dari kalangan birokrat atau pegawai sehingga aspek bisnis kurang mendapat

112
Yedi G. Lely, Wawancara, Makassar: 24 Agustus 2008. Seorang anggota majelis jemaat GPIB
Passareang, Makassar.
113
Yusuf H. Ambanaga, Wawancara, Makassar: 13 Agustus 2008. Seorang anggota majelis jemaat
GPIB Passareang, Makassar.
114
Hehanusa, ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

perhatian dalam program kerja gereja”115. Faktor ini yang menyebabkan gereja

kurang memberi perhatian dalam membina warga jemaat mengenai prinsip-

prinsip etika Kristen dalam bisnis (10%). Warga jemaat sendiri (56%)

berpendapat perlunya gereja memberi perhatian dalam soal bisnis dengan cara

memberikan pelatihan atau modal kerja bagi warga jemaat yang berminat

membuka usaha dan kekurangan modal kerja. Jika pun gereja perlu membuka unit

bisnis, seorang responden berpendapat bahwa ”koperasi dapat didirikan oleh

gereja guna kesejahteraan umat.”116

Semua responden (100%) setuju agar majelis jemaat mendoakan dan

menasehatkan jika warga jemaat berbuat curang dalam berbisnis. Warga jemaat

yang berprofesi sebagai pengusaha dipandang perlu untuk dilibatkan dalam

membina warga jemaat agar memiliki ketrampilan bisnis. Selain itu, responden

berpendapat bahwa ”perlu dibangun kerjasama dengan pengusaha tertentu

sehingga dapat melatih warga jemaat yang ingin berbisnis.”117 Jadi, pengusaha

tidak hanya dibutuhkan dalam membiayai kegiatan pelayanan gereja.

Majelis jemaat menurut responden (76%) perlu membentuk kelompok

pendukung untuk menolong warganya yang berprofesi sebagai pengusaha dengan

doa dan bimbingan praktis seputar dinamika bisnis. Seorang responden dengan

mendalam menjelaskan bahwa

”kelompok profesional yang ada pada gereja biarlah mereka


berinteraksi sendiri. Agak berat bagi Gereja mau membahas case-
case bisnis, karena yang mereka butuhkan adalah solusi.

115
M. A. Manopo, Wawancara, Makassar: 11 Agustus 2008 Beliau adalah pendeta jemaat GPIB
Passareang, Makassar.
116
Lely, ibid.
117
Ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Kelompok profesi ini dapat dijadikan tempat belajar sehingga


diharapkan bisa tertular hal-hal yang baik. Mereka bisa melakukan
sharing bagaimana berbisnis yang baik, berbisnis yang benar.
Gereja bertugas memberikan konsultasi rohani, memberikan
penguatan bagi warga jemaatnya.” 118

Dalam pengertian yang sama, responden lain setuju bahwa ”kelompok profesi

dapat dibentuk dalam rangka diskusi.”119

Tabel 3. HASIL ANGKET PERSEPSI WARGA JEMAAT

TENTANG BISNIS KRISTEN

INDIKATOR-INDIKATOR NO SS S RG TS STS

ITEM

1 2 3 4 5 6 7

A. BISNIS
1. Bisnis mendatangkan keuntungan 1 34% 64% 2%
2. Pendapatan dan ekonomi yang lebih 2 22% 74% 2% 2%
baik
3. Bisnis yang baik membawa sukses dan 7 30% 62% 2% 6%
bertahan lama
4. Bisnis curang: menipu dan melanggar 8 40% 22% 22% 16%
hukum
5. Keuntungan wajar dalam bisnis itu baik 10 20% 76% 2% 2%
6. Keuntungan didapat dengan segala cara 14 2% 8% 56% 34%
apapun
7. Menjaga kepercayaan konsumen dalam 17 42% 58%
harga, mutu dan layanan
8. Tanggungjawab sosial pengusaha 18 28% 72%
terhadap masyarakat
9. Bisnis tidak membutuhkan ajaran agama 19 2% 4% 56% 38%

118
Hehanusa, ibid.
119
Saliwir, ibid.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

10. Ajaran agama tidak dapat dipraktekkan 20 6% 10% 62% 22%


dalam bisnis
11. Bisnis bisa rugi kalau ajaran agama 21 10% 6% 58% 26%
dipraktekkan
12. Pengusaha berbuat curang karena 22 22% 4% 48% 26%
oknum pemerintah
13. Pengusaha melakukan penipuan agar 23 2% 2% 50% 46%
untung
14. Konsumen dirugikan karena 24 22% 52% 20% 6%
kecurangan pengusaha
15. Pengusaha dapat menjelekkan rekan 25 4% 62% 34%
bisnis
16. Pengusaha wajib membayar pajak 28 46% 52% 2%
29 46% 48% 6%
17.Pengusaha curang ditindak secara

hukum

B. ALKITAB
18. Alkitab sebagai pedoman moral/etika 3 48% 50% 2%
19. Nilai etika Kristen: kekudusan, 5 52% 48%
keadilan dan kasih
20. Alkitab mencegah pengusaha berbuat 16 46% 42% 8% 4%
curang

C. IMAN
21. Menjadi pengusaha adalah pekerjaan 6 24% 66% 4% 6%
yang baik
22. Pengusaha perlu memiliki etika bisnis 4 62% 38%
23. Pengusaha dapat mempermuliakan 9 38% 54% 2% 4% 2%
Allah
24. Keuntungan bisnis adalah berkat Tuhan 11 34% 58% 2% 6%
25. Dalam bisnis perlu pertolongan Tuhan 12 70% 30%
(doa)
26. Pengusaha Kristen tidak terpengaruh 27 28% 42% 2% 24% 4%
untuk berbuat curang
27. Sama sekali tidak ada campur tangan 13 2% 6% 36% 56%
Tuhan dalam bisnis
28. Bersyukur dan memberi persembahan 15 38% 60% 2%
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

29. Lingkungan bisnis curang menghambat 26 18% 42% 2% 36% 2%


bisnis dengan prinsip Alkitab
30. Bisnis Kristen mendatangkan 30 58% 40% 2%

kebahagiaan dan kesejahteraan hidup

D. PEMBINAAN 31 14% 76% 4% 6%


31. Perlu dilakukan pembinaan tentang
bisnis dengan prinsip-prinsip Alkitab 32 22% 72% 2% 4%
32. Majelis Jemaat perlu juga dibina soal
bisnis Kristen 34 2% 12% 12% 58% 16%
33. Warga dilarang berbisnis karena kotor
dan berdosa 36 26% 64% 6% 4%
34. Menasihatkan warga jemaat yang
berbisnis curang 37 34% 66%
35. Mendoakan pengusaha menjadi saksi
Kristus
E. PROGRAM KERJA
36. Unit bisnis Gereja perlu didirikan 33 6% 40% 20% 34%
37. Memberikan pelatihan dan modal kerja 35 6% 50% 16% 28%
38. Melibatkan pengusaha dalam pelatihan 38 14% 80% 4% 2%
jemaat
39. Partisipasi pengusaha dalam kegiatan 39 2% 18% 12% 58% 10%
pelayanan
40. Kelompok pendukung bagi pengusaha 40 4% 72% 12% 12%
didirikan

2 Pengukuran Persepsi berdasarkan Skala Likert

Skala likert yang digunakan untuk mengukur persepsi warga jemaat

tentang bisnis Kristen dalam penelitian ini mempunyai gradasi dari sangat positif

sampai dengan sangat negatif dengan kategori jawaban dengan 5 tingkatan:

SS (sangat setuju), ST (setuju), RG (ragu-ragu), TS (tidak setuju) dan STS (sangat


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tidak setuju). Jawaban-jawaban itu diberi skor dari 1 sampai 5 dengan rincian

sebagai berikut: SS diberi skor 5, ST diberi skor 4, RG diberi skor 3, TS diberi

skor 2 dan STS diberi skor 1. Jika sampel yang digunakan adalah 100 responden,

maka jumlah skor ideal: 5 x 100 = 500 (SS) dan jumlah skor rendah: 1 x 100 =

100 (STS)120. Berdasarkan skala Likert ini, skor antara 301 s/d 500 berarti

pemahaman responden baik. Jika skor antara 201 s/d 300 berarti netral dan skor

antara 200 s/d 100 berarti pemahaman responden kurang.

Tabel 4. HASIL SKOR PERSEPSI WARGA JEMAAT

BERDASARKAN SKALA LIKERT

INDIKATOR-INDIKATOR TOTAL SS S RG TS STS

SKOR

Skor 5 4 3 2 1

A. BISNIS
1. Bisnis mendatangkan keuntungan 426 170 256 4
2. Pendapatan dan ekonomi yang lebih 406 110 296 6 4
baik
3. Bisnis yang baik membawa sukses dan 416 150 248 6 12
bertahan lama
4. Bisnis curang: menipu dan melanggar 392 200 88 88 16
hukum
5. Keuntungan wajar dalam bisnis itu baik 414 100 304 6 4
6. Keuntungan didapat dengan segala cara 178 8 24 112 34
apapun
7. Menjaga kepercayaan konsumen dalam 442 210 232
harga, mutu dan layanan
8. Tanggungjawab sosial pengusaha 468 140 328
terhadap masyarakat

120
Sugiyono, ibid., hlm. 88-89.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

9. Bisnis tidak membutuhkan ajaran 170 8 12 112 38


agama
10. Ajaran agama tidak dapat 300 24 30 124 22
dipraktekkan dalam bisnis
11. Bisnis bisa rugi kalau ajaran agama 200 40 18 116 26
dipraktekkan
12. Pengusaha berbuat curang karena 222 88 12 96 26
oknum pemerintah
13. Pengusaha melakukan penipuan agar 162 10 6 100 46
untung
14. Konsumen dirugikan karena 364 110 208 40 6
kecurangan pengusaha
15. Pengusaha dapat menjelekkan rekan 170 12 124 34
bisnis
16. Pengusaha wajib membayar pajak 442 230 208 4

17. Pengusaha curang ditindak secara


428 230 192 6
hukum

B. ALKITAB
18. Alkitab sebagai pedoman moral/etika 446 240 200 6
19. Nilai etika Kristen: kekudusan, 452 260 192
keadilan dan kasih
20. Alkitab mencegah pengusaha berbuat 418 230 168 16 4
curang

C. IMAN
21. Menjadi pengusaha adalah pekerjaan 408 120 264 12 12
yang baik
22. Pengusaha perlu memiliki etika bisnis 462 310 152
23. Pengusaha dapat mempermuliakan 422 190 216 6 8 2
Allah
24. Keuntungan bisnis adalah berkat 420 170 232 6 12
Tuhan
25. Dalam bisnis perlu pertolongan Tuhan 470 350 120
(doa)
26. Pengusaha Kristen tidak terpengaruh 366 140 168 6 48 4
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

untuk berbuat curang


27. Sama sekali tidak ada campur tangan 154 8 18 72 56
Tuhan dalam bisnis
28. Bersyukur dan memberi persembahan 434 190 240 4
29. Lingkungan bisnis curang 338 90 168 6 72 2
menghambat bisnis dengan prinsip
Alkitab
30. Bisnis Kristen mendatangkan 290 160
454 4
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup

D. PEMBINAAN
31. Perlu dilakukan pembinaan tentang 398 70 304 12 12
bisnis dengan prinsip-prinsip Alkitab
32. Majelis Jemaat perlu juga dibina soal 412 110 288 6 8
bisnis Kristen
33. Warga dilarang berbisnis karena kotor 326 10 48 36 116 16
dan berdosa
34. Menasihatkan warga jemaat yang 412 130 256 18 8
berbisnis curang
35. Mendoakan pengusaha menjadi saksi 434 170 264
Kristus

E. PROGRAM KERJA
36. Unit bisnis Gereja perlu didirikan 318 30 160 60 68
37. Memberikan pelatihan dan modal 334 30 200 48 56
kerja
38. Melibatkan pengusaha dalam 406 70 320 12 4
pelatihan jemaat
39. Partisipasi pengusaha dalam kegiatan 244 10 72 36 116 10
pelayanan
40. Kelompok pendukung bagi pengusaha 368 20 288 36 24
didirikan

SKOR AKHIR 362

Berdasarkan tingkat pengukuran skala Likert ini, dapat diperoleh

gambaran lengkap sejauh mana persepsi responden dalam memahami pokok


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

persoalan penelitian ini. Skor 426 memperlihatkan bahwa responden memahami

dengan baik bahwa bisnis itu bermotifkan keuntungan ekonomis. Keuntungan

dalam bisnis menurut responden dapat diperoleh secara etis. Dengan pemahaman

itu, responden memiliki pandangan bahwa bisnis itu adalah pekerjaan baik dan

karena itu cara berbisnis tidak boleh dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

Berbisnis perlu mengedepankan etika yang bersumber dari moral agama. Bisnis

tidak dapat terlepas dari etika agar bisnis dapat bertahan lama dan sukses.

Responden menolak pemahaman bisnis yang dijalankan tanpa moralitas.

Responden memahami dengan baik (446) pentingnya Alkitab menjadi

sumber referensi yang tepat bagi etika bisnis Kristen. Etika bisnis Kristen menurut

responden tidak bertentangan dengan dunia bisnis dan tidak merugikan

kepentingan pengusaha itu sendiri. Etika bisnis Kristen dapat mencegah

pengusaha berbuat curang terhadap pelanggannya, rekan bisnis dan pemerintah.

Pengusaha memiliki kewajiban moral untuk membayar pajak kepada pemerintah.

Sikap etis dalam bisnis dipahami berkaitan dengan penghayatan terhadap

ajaran Alkitab (416) yang diterima dan diimplementasikan. Responden memahami

dengan baik bahwa dalam prakteknya bisnis curang itu terjadi. Namun, itu tidak

dapat menjadi alasan pembenaran bahwa pengusaha Kristen larut dalam praktek

demikian. Bisnis yang baik menurut responden (452) terkait dengan integritas

moral pengusaha itu sendiri sehingga dapat berbisnis dengan mengutamakan

kekudusan, keadilan dan kasih. Sukses dalam bisnis dipahami sebagai berkat

Allah atas doa dan kerja yang dilakukan dalam bisnis. Pada akhirnya tujuan bisnis

dipahami dapat mendatangkan kesejahtreraan dan kebahagiaan dalam hidup.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Responden memahami bahwa gereja bertanggung jawab dalam membina

warga jemaatnya untuk mengerti prinsip-prinsip Alkitab sebagai pedoman dalam

berbisnis. Responden sepakat bahwa gereja dapat saja memiliki unit bisnis,

memberikan pelatihan bisnis atau bantuan modal bergulir. Selain itu, kehadiran

kelompok profesional dalam jemaat diperlukan untuk sarana konsultatif dan

penguatan. Tugas-tugas gereja itu dapat dilakukan jika anggota-anggota majelis

jemaat memiliki penguasaan yang baik dalam membina warga jemaat yang

berbisnis dan selalu mendukung mereka dengan doa dan nasehat rohani.

3 Interpretasi Data dan Uji Hipotesis

Bisnis sebagai kegiatan ekonomis yang mendatangkan keuntungan materi

dipahami baik oleh responden. Pengertian ini sejalan dengan teori Bertens yang

mengatakan bahwa bisnis adalah kegiatan ekonomis dengan maksud

mendatangkan untung yang diekspresikan dalam bentuk uang. 121 Keuntungan

menjadi konsekuensi logis sebagai imbalan kepada pengusaha atas usahanya

melayani kebutuhan konsumen. Faktor keuntungan dalam bisnis menjadi faktor

dominan sehingga beberapa responden yang berlatar belakang pegawai dan

berpendidikan tinggi, terlibat dalam bisnis. Beragam usaha dapat dipilih seperti

menjual kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako), perbengkelan atau jasa.

Pilihan jenis usaha tentu disesuaikan dengan ketrampilan dan modal yang dimiliki

oleh masing-masing pelaku bisnis.

Keuntungan dalam bisnis dapat dimanfaatkan guna membiayai keperluan

hidup sehari-hari, ditabung, menjadi modal yang dipakai mengembangkan usaha

121
Bertens, Pengantar, hlm. 17.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dan mendukung kegiatan pelayanan gereja serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Berdasarkan hasil angket dapat dikatakan bahwa keuntungan dipahami

keuntungan yang timbal balik dan bukan keuntungan yang sepihak. Dengan

demikian bisnis memiliki dimensi sosial. Artinya, keuntungan tidak hanya

dinikmati pengusaha, tetapi lingkungan di sekitarnya sehingga tidak

mengakibatkan kesejangan dan kerawanan sosial. Selain itu, mengejar keuntungan

tidak boleh berlebihan. Keuntungan harus diperoleh secara wajar sehingga unsur

kepercayaan dalam bisnis terjaga dan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan.

Mengejar keuntungan dalam bisnis seperti yang dikatakan Eka Darmaputera

dilakukan dengan tetap menghargai martabat manusia sebagai gambar Allah122.

Perilaku etis disadari turut menentukan keberhasilan bisnis dan sejauh

mana kegiatan bisnis itu dapat bertahan. Berbisnis dengan mengutamakan nilai-

nilai etis adalah berbisnis dengan kualitas yang baik. Berbisnis dengan kualitas

etis menurut Velasquez menjadikan bisnis dapat bertahan lama dalam iklim

perdagangan global yang kompetitif.123 Jadi etika dan bisnis bukan dua wilayah

yang terpisah dan saling bertentangan. Berbisnis tanpa memperhatikan etika

menurut Masassya hanya membawa kepada kesengsaraan dan membuka peluang

untuk masuk penjara.124

Salah satu sumber etika adalah ajaran agama125. Etika bisnis dapat

diperoleh pelaku bisnis Kristen lewat ajaran Alkitab yang didalami secara pribadi

dan diajarkan oleh gereja. Penyerapan nilai-nilai agama secara pribadi turut

122
Darmaputera, opcit, hlm. 7.
123
Velasquez, opcit, hlm. 39.
124
Elvyn G. Masassya, Cara Cerdas Menjalankan Bisnis, Jakarta: Penerbit PT Elex Media
Komputindo, 2002, hlm. 25.
125
Keraf, opcit, hlm. 14.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

membentuk komitmen dan ketangguhan moral pelaku bisnis Kristen untuk setia

pada nilai-nilai agama yang dianut dalam bidang usaha yang digelutinya.

Pengusaha demikian menurut Sinamo disebut sebagai manusia moral dengan

kemampuan bertindak berdasarkan prinsip moral, dan bukan oleh emosi atau

naluri126.

Etika bisnis yang bersumber dari ajaran Alkitab memandu pelaku bisnis

untuk tidak terpengaruh dan terlibat dalam praktek bisnis curang yang merugikan

masyarakat, pemerintah dan tentunya dunia bisnis sendiri. Alkitab diyakini dapat

memandu pebisnis Kristen untuk mengutamakan kekudusan, keadilan dan kasih

dalam kegiatan bisnis. Ajaran Alkitab diakui memberikan panduan dalam

menghargai (reward) dan menghukum (punishment) perilaku manusia yang baik

dan buruk. Faktor keadilan dalam bisnis sesuai dengan ajaran Alkitab sehingga

kejahatan tidak memiliki tempat dalam dunia bisnis. Pelaku bisnis curang perlu

ditindak oleh aparat berwajib dan pelaku bisnis yang mengutamakan tanggung

jawab sosial diberikan penghargaan oleh pemerintah. Pemerintah memiliki

tanggung jawab dalam melindungi dan memberdayakan warga masyarakat

sehingga tidak dirugikan oleh pebisnis yang penuh dengan tipu muslihat.127

Praktek curang dalam bisnis dipahami sebagai bentuk pelanggaran yang

menciderai kepercayaan semua pihak yang berkepentingan. Bisnis itu hakekatnya

mengandung unsur kepercayaan. Unsur kepercayaan harus dijaga dan dipelihara

oleh semua pihak sehingga diperoleh keuntungan bersama. Jika pelaku bisnis

berlaku curang, jelas ada pihak yang dirugikan. Bisnis curang diyakini tidak dapat

126
Sinamo, opcit, hlm. 196.
127
K. Bertens, Perspektif Etika, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm. 167-168.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

bertahan lama karena warga masyarakat sebagai konsumen akan meninggalkan

dan menghukum pelaku bisnis yang demikian.

Walaupun praktek curang dalam bisnis kerap ditemui, bisnis dipahami

sebagai pekerjaan yang baik. Berbisnis adalah pekerjaan yang sama baiknya

dengan pekerjaan lainnya yang harus dijalankan dengan kejujuran, kesungguhan

dan kepedulian sosial. Dari kaca mata iman Kristen, berbisnis bukanlah pekerjaan

kotor yang mendatangkan dosa. Cara-cara manusia yang tidak benar dalam

berbisnis, diyakini menjadi penyebab utama sehingga bisnis dinilai kotor.

Lingkungan bisnis bukan penyebab utama seseorang mempraktekkan bisnis

curang. Ketaatan kepada nilai-nilai moral religius yang dianut dan kepatuhan

kepada hukum, dapat menjadi dasar yang kokoh bagi pengusaha Kristen agar

bisnisnya sukses, bertahan lama, bermanfaat secara sosial dan menjadi kesaksian

iman kristiani dalam lingkungan bisnisnya.

Sukses dalam bisnis dapat diperoleh pengusaha Kristen jika mereka taat

kepada firman Allah dan tekun dalam doa. Keuntungan dalam bisnis diyakini

sebagai campur tangan Allah yang mendatangkan ucapan syukur. Faktor doa

sebagai kegiatan iman menjadi penting dilakukan saat menjalankan bisnis dan

menghadapi kendala-kendala dalam bisnis. Bisnis yang dikelola secara

profesional, membutuhkan dukungan doa agar diperoleh hasil yang memuaskan.

Jadi pengusaha Kristen dalam berbisnis tidak menghalalkan segala cara yang

berlawanan dengan kebenaran firman Allah. Dalam hal ini, gereja dapat

menjalankan fungsinya dengan membina dan mendoakan warga jemaat yang

terlibat dalam dunia bisnis.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Bisnis dengan menggunakan ajaran Alkitab mendatangkan tidak hanya

kesejahteraan ekonomi, tetapi juga kebahagiaan hidup. Fokus pengusaha Kristen

adalah hidup dalam damai sejahtera Allah sehingga mereka dapat melaksanakan

bisnisnya dengan baik dengan tetap juga menjaga hidup persekutuan Tuhan.

Dengan berpartisipasi mendukung kegiatan pelayanan gereja, maka pengusaha

Kristen dapat menjaga keseimbangan dalam hidupnya sehingga tidak jatuh

menjadi ”binatang ekonomi yang rakus”.

Gereja dipercaya memiliki tanggung jawab dalam membina dan

melengkapi warga jemaat dalam memahami dengan baik ajaran Alkitab sebagai

pegangan dalam kegiatan bisnis. Warga jemaat perlu ditolong bahwa aktivitas

bisnis adalah pekerjaan baik yang mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan

hidup jika prinsip-prinsip etika Kristen mengenai kekudusan, keadilan dan kasih

dipraktekkan. Anggota majelis jemaat GPIB sebagai pelayan Tuhan yang selalu

berhubungan langsung dengan warga jemaat, perlu menguasai dengan baik ajaran

Alkitab itu sehingga mereka dapat menasehati dan mendukung warga jemaat yang

membutuhkan bantuan rohani untuk menguatkan mereka.

Keterlibatan langsung gereja dalam kegiatan bisnis dipahami sebatas

pembentukan koperasi yang lebih mengutamakan kesejahteraan umat. Koperasi

menjadi pilihan terbaik, karena misi utamanya adalah kesejahteraan bersama.

Kalaupun gereja memiliki sekolah, rumah sakit atau perkebunan, tujuan utama

adalah pelayanan kasih atau diakonia gereja kepada warga masyarakat sekitar.

Selain itu, perhatian gereja dalam memberdayakan ekonomi jemaat dapat

ditempuh dengan cara memberikan pelatihan dan pemberian bantuan modal kerja
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

secara bergulir. Program semacam ini biasanya disesuaikan dengan konteks

keberadaan gereja dan kemampuan keuangan yang dimiliki. Sebagai salah satu

contoh, jemaat GPIB ”Eben Haezer” di Kalimantan Timur memiliki lahan sawit

untuk memberdayakan ekonomi jemaat dan membiayai kegiatan pelayanan gereja.

Lebih lanjut, dapat dikatakan wadah kategorial seperti kelompok

profesional dalam GPIB, selama ini masih dalam proses mencari bentuk. Apakah

kelompok profesional itu sebatas persekutuan ibadah atau dapat menjadi wadah

konsultasi dan kelompok pendukung bagi warga jemaat yang terlibat dalam

bisnis? Dengan kelompok profesional ini, gereja telah memberi ruang yang

cukup bagi warga jemaat dalam mengartikulasikan kebutuhannya dan

mengembangkan talenta dan karunia yang diberikan Allah secara maksimal.

Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh, maka pengujian terhadap

hipotesis yang dibangun dapat dilakukan. Hipotesis pertama mengatakan bahwa

warga jemaat GPIB mengetahui dan memahami bahwa bisnis yang baik dapat

dipraktekkan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Hipotesis pertama ini dapat

diterima berdasarkan temuan bahwa (1) bisnis itu memerlukan nilai-nilai moral

(100%), (2) nilai-nilai moral bagi etika bisnis Kristen bersumber dari Alkitab

(100%), dan (3) bisnis itu adalah pekerjaan baik (90%) yang dapat menjadi sarana

mempermuliakan Allah (90%) serta sekaligus memiliki dimensi sosial (100%).

Skor akhir pengukuran persepsi berdasarkan skala Likert adalah 362. Skor ini

membuktikan bahwa responden memiliki pemahaman yang baik bahwa bisnis itu

dapat dipraktekkan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Hipotesis kedua yang diajukan adalah asumsi bahwa pebisnis Kristen

memahami dengan baik bahwa prinsip-prinsip Alkitab dapat diaplikasikan dalam

bisnis. Hipotesis ini dapat diterima berdasarkan temuan bahwa (1) mencari

keuntungan dalam bisnis adalah perbuatan etis (96%) sebab keuntungan itu adalah

berkat dari Tuhan (92%), (2) nilai-nilai etis kristiani membentuk pelaku bisnis

yang memiliki integritas moral dan dapat dipercaya (70%), dan (3) prinsip-prinsip

Alkitab dalam bisnis mendorong pengusaha untuk berbagi kepada sesama dan

berpartisipasi mendukung pelayanan gereja sesuai dengan kemampuannya.

Hipotesis ketiga menyebutkan bahwa Gereja, khususnya presbiter GPIB

kurang memberi perhatian penuh dalam melengkapi warga jemaatnya mengenai

bisnis yang baik berdasarkan etika Kristen. Hipotesis ini dapat diterima

berdasarkan temuan bahwa (1) pembinaan tentang bisnis berdasarkan prinsip-

prinsip Alkitab kurang diberikan kepada warga jemaat dan anggota majelis jemaat

GPIB (10%), (2) latar belakang warga GPIB yang mayoritas dari kalangan

pegawai, dan bukannya pengusaha sehingga orientasi pelayanan gereja lebih

mengutamakan aspek ibadah dan organisatoris serta (3) tidak optimalnya

kelompok profesional diberdayakan sebagai sarana untuk bertukar pikiran dan

sekaligus mendukung warga jemaat yang berprofesi sebagai pebisnis.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB V

REFLEKSI TEOLOGIS

Dalam bab-bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa praktik bisnis

membutuhkan nilai-nilai etis agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dan bisnis

dapat bertahan lama. Bagian ini menjadi pertanggungan-jawab penulis

berdasarkan kerangka konseptual yang sudah disusun. Dengan memadukan

prinsip-prinsip Alkitab, seorang pengusaha Kristen dapat mempraktikkan bisnis

yang baik. Aspek persekutuan, dalam hal ini gereja tetap memainkan peranan

penting sehingga pelaku bisnis Kristen selalu diingatkan untuk setia hidup sesuai

dengan Firman Allah dalam kesibukan dan tantangan bisnis yang dialami.

1 Hubungan Integratif Etika Kristen dengan Bisnis

Bisnis adalah kegiatan ekonomi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan

manusia. Dalam masyarakat modern, bisnis menjadi unsur mutlak dalam

meningkatkan taraf hidup dan kerjasama antar bangsa. Dalam era perdagangan

global, kegiatan bisnis tidak terlepas dari moralitas atau etika. Kinerja etis

merupakan faktor strategis bagi peningkatan kinerja ekonomis128. Etos Protestan

menurut Max Weber, turut memicu kemajuan ekonomi. Kesuksesan dalam bisnis,

merupakan pertanggung jawaban iman atas keselamatan yang telah diterima dan

panggilan untuk mempermuliakan Allah. 129

Ketika bisnis terlepas dari etika atau moralitas agama, bisnis menjadi alat

mencari keuntungan semata. Demi meraih keuntungan besar, praktek curang

128
Nugroho, opcit, 24.
129
Weber, opcit, hlm. 58, 163.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dalam bisnis dihalalkan walaupun merugikan masyarakat dan merusak lingkungan

hidup. Bisnis tanpa mempedulikan ajaran Alkitab yang normatif hanya

menghasilkan masyarakat yang tamak di mana uang menjadi satu-satunya nilai

yang utama. Tegasnya, mencari keuntungan dalam bisnis tidak salah, namun tidak

berarti lalu boleh semaunya tanpa batas. Dalam hal ini kita mesti bertanya

bagaimana cara memperolehnya, dan bagaimana menggunakan hasilnya? Apakah

dengan cara yang benar? Apakah untuk maksud dan tujuan yang baik? 130 Praktik

curang dalam bisnis merupakan tantangan bagi gereja dalam perutusannya.

Tantangan utamanya adalah mempertahankan bisnis tetap berjalan berdasarkan

etika Kristen bisnis131 sebab bisnis tidak ”bebas nilai” atau ”kedap moral”.132

Sumber utama etika Kristen adalah karya keselamatan Allah dalam Yesus

Kristus bagi manusia. Tindakan penyelamatan Allah ini menunjukkan bahwa

pengaruh dosa terjadi di semua bidang kehidupan manusia, termasuk dalam

bidang bisnis. Dosa yang telah menyebabkan hubungan antar manusia menjadi

tidak adil dan manipulatif.133 Karya penebusan Yesus Kristus memulihkan citra

manusia yang rusak karena dosa egoisme dan egosentrisme sehingga sekarang

manusia dapat menjalin relasi benar dengan Allah dan sesama dalam kekudusan

dan kebenaran (Ef. 2:11-12).134

130
Eka Darmaputera, Sepuluh Perintah Allah, Museumkan Saja? Yogyakarta: Gloria Graffa, 2005,
hlm. 32
131
Bas de Gaay Fortman dan Berma Klein Goldewijik, God and the Goods, Geneva: WCC
Publication, 1998, hlm. 26. .
132
Darmaputera, Sepuluh, hlm. 32.
133
Enrique Dussel, Ethics and Community, Maryknoll: Orbis Books, 1988, hlm. 126-127.
134
Hugh T. Kerr (Ed), Calvin’s Institutes: A New Compend, Kentucky: Westminster/John Knox
Press, 1989, hlm. 93.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Karya penebusan Yesus Kristus memiliki implikasi etis teologis dalam

bisnis. Pertama, bisnis harus dijalankan dengan pertanggungan-jawab kepada

Allah. Kegiatan bisnis dilakukan sebagai penatalayanan (stewardship) kehendak

Allah. Kedua, kehidupan bisnis harus dibebaskan dari egoisme dan egosentrisme

manusia, serta ditujukan untuk kesejahteraan manusia. Ketiga, bisnis diarahkan

untuk menciptakan oikoumene (dunia kediaman manusia) yang utuh dan lestari di

mana faktor kelestarian dan keutuhan lingkungan hidup turut diperhatikan.135

Dengan demikian bisnis yang sama sekali mengabaikan etika patut

ditolak, sebab bisnis immoral hanya mengakibatkan kerugian dan kehancuran bagi

manusia dan lingkungan hidup. Bisnis yang terlepas dari etika Kristen, membuka

peluang dalam memperoleh keuntungan secara tidak benar. Bisnis tanpa

kandungan etika dapat menyeret pelaku bisnis berbuat kejahatan. Akhirnya

orientasi bisnis demikian hanya untuk mengejar mamon, kekayaan dan bukan lagi

untuk melayani sesama dan mempermuliakan Allah. Alkitab mengajarkan bahwa

kita tidak dapat menyembah Allah dan mamon secara bersamaan (Mat. 6:24). Di

sini, pelaku bisnis Kristen dapat memberikan kontribusi positif dalam membentuk

dan memperbaharui dunia bisnis menjadi etis dan bermartabat.

2 Bisnis yang Baik

Bisnis yang baik dapat dirumuskan sebagai kegiatan bisnis yang

dipraktekkan pengusaha untuk mencari keuntungan secara ekonomis bagi

kesejahteraan hidupnya dengan dipandu etika Kristen dan menghormati hukum

135
Darmaputera, Etika, hlm. 48-49.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

yang berlaku serta lingkungan hidup sehingga aktivitas bisnis itu berjalan dengan

mantap dan berkelanjutan/lestari.

Secara khusus, orientasi bisnis Kristen membebaskan pelaku bisnis untuk

secara kreatif memadukan keyakinan iman kepada Yesus dengan tujuan bisnis

guna memperoleh keuntungan demi meningkatkan kesejahteraan hidup. Secara

iman, pelaku bisnis Kristen dalam mengembangkan bisnisnya, menjadi pribadi

yang utuh. Dia menolak moralitas ganda berlaku dalam praktek bisnis. 136 Hidup

kekristenannya tidak hanya tampak di hari Minggu dengan segala kegiatan ibadah

dan pelayanan, tetapi juga berlanjut pada hari-hari kerja dari Senin sampai Sabtu

dalam dunia bisnis yang ditekuni. Komitmen iman yang utuh, membuat pelaku

bisnis Kristen dapat menetapkan batas-batas keuntungan yang wajar dan

manusiawi untuk diterima berdasarkan aturan bisnis yang berlaku. Komitmen

iman itu tidak hanya terarah bagi pribadi dan kinerja bisnis, tetapi juga berakibat

kepada lingkungan sekitar. Pelaku bisnis Kristen memiliki kewajiban iman agar

kegiatan bisnis turut meningkatkan kesejahteraan hidup warga masyarakat sekitar.

Prinsip-prinsip etika Kristen dalam berbisnis dapat dirumuskan dalam

3 pokok yaitu (1) melayani kehendak Allah, (2) menghargai sesama, dan

(3) memiliki tanggungjawab sosial. Ketiga pokok ini merupakan satu kesatuan

yang dapat memandu pelaku bisnis Kristen untuk tampil menjadi saksi-saksi

Kristus sesuai karunia dan talenta yang dianugerahkan Allah dan sekaligus

menikmati sukses dan kebahagiaan dalam hidup.

136
Hill, op.cit., hlm. 64.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

2.1 Melayani Kehendak Allah

Kitab Kejadian (1:28, 3:17-19) mencatat bahwa manusia diberi tanggung

jawab untuk bekerja mengelola segala sesuatu yang Allah telah ciptakan. Bekerja

merupakan anugerah dan panggilan yang diberikan Allah kepada manusia.

Manusia adalah citra Allah dan sekaligus mitra Allah dalam melayani kehendak

Allah di dunia. Dengan demikian manusia berpartisipasi dalam karya Allah

dalam seluruh bidang hidup, termasuk dalam aktivitas bisnis. Karena itu motivasi

kerja kristiani bukanlah material melainkan motif melayani atau motif berbakti:

”Apapun juga kamu perbuat perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk

Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23). Bekerja bukan lagi dipahami

sebagai beban melainkan bagian integral dari ibadah kepada Tuhan yang

dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan penuh sukacita. 137

Karya pembebasan Yesus Kristus membawa manusia menikmati sukacita

dan berkat dalam bekerja dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk

melayani kehendak Allah (Yoh 9:5). Dalam ketaatan iman kepada Yesus Kristus,

pelaku bisnis Kristen dapat mempertahankan integritasnya di tengah lingkungan

bisnis yang kotor. Perilaku bisnis curang adalah realita tak terbantahkan.

Pebisnis Kristen dengan pembaharuan akal budi yang dikerjakan Roh Kudus,

dapat membedakan mana bisnis yang sesuai dengan kehendak Allah dan yang

berlawanan dengan kehendakNya (Rm 12:2). Bisnis obat-obat terlarang,

prostitusi, pemalsuan barang, pembajakan karya cipta atau mengawetkan

137
Robert P. Borrong, “Etos kerja dan Profesi: Perspektif Alkitabiah,” dalam Borrong, op.cit.,
hlm. 31-32.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

makanan dengan formalin adalah contoh-contoh kegiatan bisnis yang

bertentangan dengan kehendak Allah.

Pelaku bisnis Kristen senantiasa dapat berusaha menjaga kekudusan

hidupnya sebab Allah yang diimani adalah kudus (Ibr 12:14) dan sempurna

(Mat 5:48). Dalam hal ini, kejujuran menjadi penting bagi pebisnis Kristen agar

dapat menjaga kepercayaan masyarakat dan melindungi martabat manusia.

Kejujuran menunjukkan tidak ada maksud tersembunyi yang jahat dengan maksud

merugikan dan mencelakakan orang lain. Pebisnis Kristen harus membiasakan

diri berkata benar dan membuang dusta dalam kegiatan bisnis (Ef 4:25) sebab

kebohongan atau penipuan hanya mengakibatkan hancurnya kepercayaan sebagai

bagian penting dalam bisnis. Menjual barang kadaluarsa atau menyembunyikan

laporan keuntungan yang sebenarnya merupakan contoh-contoh sikap tidak jujur

dalam berbisnis yang merugikan masyarakat dan pemerintah.

Kejujuran dalam berbisnis mendatangkan sikap syukur yang melimpah

kepada Allah dan permohonan doa yang tidak putus-putusnya. Dengan kejujuran,

pebisnis Kristen dapat memberikan persembahan syukur bagi pekerjaan pelayanan

Gereja dengan tulus dan bukan mencari pujian dari manusia. Di tengah tantangan

dan keberhasilan, pebisnis Kristen tetap dapat berdoa kepada Allah agar tidak

tercemar oleh dosa dan diberi hikmat dalam mengambil keputusan-keputusan etis

yang tepat dalam lingkungan bisnisnya.

Selama kekudusan dipertahankan, maka bisnis menjadi suatu usaha untuk

menghormati Allah dan bukan sebaliknya menjadikan bisnis sebagai berhala.

Bisnis dapat menjadi berhala ketika segala waktu, tenaga, materi dan perhatian
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tersedot penuh mengurus perkembangan bisnis yang dinamis sehingga tanpa

disadari bisnis menjadi segala-galanya. Akibatnya, kesempatan untuk bersekutu,

beribadah dan bersyukur kepada Allah selalu tertunda dan terhalang demi

mengejar target-target bisnis yang ingin dicapai.138

Allah menghendaki agar manusia melakukan pekerjaan dan ibadah secara

seimbang dan menyerahkan rencana dan kegiatan-kegiatan bisnisnya kepada

Allah agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan diri (Yak 4:13-15). Allah sendiri

melawan kesombongan Firaun yang telah memperbudak orang Israel dengan

pekerjaan berat dengan melepaskan orang Israel untuk beribadah kepada-Nya.

(Kel 3:18, 5:1) Ayub yang mengalami sukses dalam bisnis, tetap memelihara

persekutuan dengan Allah agar kehidupan pribadi dan rumah tangganya berkenan

di hadapan Tuhan. (Ay 1:5) Kesuksesan dalam bisnis bukan segala-galanya.

Pelaku bisnis Kristen bertanggung jawab dalam membina rumah tangganya agar

selalu setia beribadah kepada Allah dan hidup dalam kasih persaudaraan

(Yos 24:14-15).

2.2 Menghargai Sesama

Sikap tamak dalam berbisnis hanya menjurus kepada dehumanisasi, di

mana orang memandang orang lain dan masyarakat hanya sebagai alat untuk

memperoleh keuntungan. Mengiming-imingkan bunga yang tinggi atau

menggandakan uang dalam tempo cepat adalah kegiatan bisnis yang membawa

masyarakat kepada sikap materialisme yang berujung pada duka (1 Tim 6:10).

138
M. Bambang Susanto, Perspektif Dunia Usaha di Mata Tuhan, Surabaya: Sangkakala Media
Publishing, 2006, hlm. 98-99
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Sikap hidup mengasihi sesama menjadi perintah utama yang juga perlu

diperhatikan oleh pelaku bisnis Kristen (Mat 22:37-49, 1 Kor 13:13,

1 Yoh 3:16-18).139 Dengan mengasihi sesama dengan tulus, maka pebisnis

Kristen terbuka mengulurkan bantuan kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Selain itu, mereka yang bekerja dalam suatu lembaga bisnis tidak diperlakukan

sewenang-wenang dengan merendahkan martabat kemanusiaannya. Pebisnis

Kristen perlu memikirkan kesejahteraan pekerja dan memberikan apa yang

menjadi hak mereka tanpa dikurangi sedikitpun (Im 19:13) dan tidak memeras

(Luk 3:14).140

Dengan sikap menghargai martabat manusia sebagai gambar Allah141,

pebisnis Kristen menahan diri untuk berkonfrontasi dengan warga masyakat dan

memberi ruang untuk berdialog dan mendengar suara keprihatinan mereka.

Kesuksesan dalam bisnis berlangsung dalam waktu bersamaan dengan

meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Warga masyarakat tidak harus

dikorbankan demi meraih keuntungan besar jangka pendek. Pebisnis Kristen

harus dapat menjelaskan secara terbuka dan jelas tujuan bisnisnya kepada

pemerintah dan warga masyarakat sehingga semua pihak dapat mengkalkulasi

secara bersama keuntungan dan kerugian yang harus ditanggung. Bisnis

dikembangkan untuk menjamin kesejahteraan bersama.

Selain itu, pelaku bisnis Kristen berkewajiban secara moral melindungi

masyarakat dari produk yang berbahaya dan memberikan kompensasi kepada

139
Henk ten Napel, Jalan yang lebih Utama Lagi: Etika Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1988, hlm. 223.
140
Ibid., hlm. 88.
141
Darmaputera, Etika., hlm. 13-14.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

pihak-pihak yang dirugikan. Pelaku bisnis Kristen tidak dapat cuci tangan ketika

salah dalam mengelola bisnisnya yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat.

Pelaku bisnis tidak boleh menggunakan jargon ”atas nama pembangunan” untuk

menindas pihak-pihak yang lemah demi meraup semua keuntungan bagi diri

sendiri. Bisnis yang etis dan legal, dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat

terhadap dunia bisnis dan sekaligus melindungi kepentingan masyarakat. Dengan

bersikap demikian, pelaku bisnis Kristen secara pribadi mengalami pertumbuhan

rohani dan menjadi serupa Kristus (Rm 8:29).

2.3 Memiliki Tanggung Jawab Sosial

Dunia ciptaan dan segala sumberdayanya adalah pemberian Allah dan

tetap menjadi milikNya (Kel 19:5; 1 Taw 29:14; Mzm 24:1). Orang-orang Israel

diingatkan untuk memiliki tanggung jawab sosial kepada mereka yang miskin dan

berkekurangan (Kel 22:25; Im 19:9-10). Tahun Yobel dan hari Sabat diberikan

agar orang-orang Israel memiliki kepedulian sosial terhadap sesama dan

lingkungan hidup (Kel 20:8-11; Ul 15:1-11). Kepedulian sosial terhadap mereka

yang kecil dan lemah disuarakan juga oleh Yesus, ”karena orang-orang miskin

selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka” (Mrk 14:7).

Mereka yang berhasil dalam bisnis dapat menggunakan kekayaannya

untuk membantu mereka yang miskin dan berkekurangan (Luk 18:22) sehingga

tidak ada lagi yang mati kelaparan seperti Lazarus (Luk 16:20-25). Dengan
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

berbuat demikian, pebisnis Kristen telah memberikan kesaksian hidup sebagai

murid Yesus yang solider terhadap sesama142.

Kesetia-kawanan sosial yang rendah dapat memicu konflik horisontal

dalam masyarakat. Kesenjangan ekonomi yang lebar menimbulkan kecemburuan

sosial sehingga persoalan sekecil apapun dapat memantik konflik berdarah yang

memilukan dan menggoyahkan sendi-sendi persatuan bangsa. Di sini peran pelaku

bisnis diperlukan untuk memberi peluang kesempatan kerja kepada tenaga lokal

serta memberdayakan ekonomi masyarakat dengan memberi modal kerja dan

pelatihan wirausaha intensif.

Selain itu, kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan hidup kiranya

menjadi perhatian penuh agar pelaku bisnis tidak menambah kerusakan ekologis

yang sudah terjadi. Pelaku bisnis Kristen perlu mendukung gerakan pelestarian

lingkungan hidup dengan menciptakan produk yang ramah lingkungan,

mengontrol pembuangan limbah beracun dengan ketat dan membiayai program

penghijauan secara konsisten. Pelaku bisnis Kristen perlu memiliki paradigma

ekologis dalam berbisnis karena alam adalah bagian dari tata ciptaan Allah yang

wajib dipelihara, diselamatkan dan dilindungi dengan penuh tanggung jawab

(Kej 1:10-13, 31).143

3 Tanggung Jawab Gereja

142
Emanuel Gerrit Singgih, Mengantisipasi Masa Depan: Berteologi dalam Konteks di Awal
Milenium III, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hlm. 205-206.
143
Yusuf G. Mangumban, ”Pengelolaan Lingkungan Hidup: Peranan Teologi dan Etika Kristen”,
dalam Markus Rani (peny.), Teologi Kehidupan, Melestarikan Lingkungan Hidup, Toraja: Sulo,
2006, hlm. 52-54.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Gereja adalah persekutuan orang kudus yang diselamatkan karena

kematian dan kebangkitan Yesus dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan

Injil damai sejahtera (Mat 28:19-20; Ef 6:15) Gereja diingatkan untuk selalu

hidup berpadanan sesuai Injil Kristus (Flp 1:27) sehingga dapat menjadi garam

dan terang yang efektif (Mat 5:13-16). Perbuatan-perbuatan Gereja harus dengan

jelas dapat dilihat orang lain (Kis 5:13,15; 2 Ptr 3:2).144

Dalam mencapai tujuannya, gereja bertanggung jawab melengkapi warga

jemaat agar dapat menjawab tantangan dan pergumulannya berdasarkan

kebenaran firman Allah (Ef 4:12-16). Gereja berkewajiban membina warga

jemaat sebagai pebisnis yang jujur, kreatif, solider dengan sesama dan tetap

memiliki pergaulan yang akrab dengan Tuhan. 145 Para praktisi bisnis dalam

gereja sendiri perlu dilibatkan dalam memotivasi dan melatih anggota jemaat lain

agar tidak malu terlibat dalam kegiatan bisnis. Selain itu, gereja perlu memberi

dukungan rohani kepada para pelaku bisnis ketika menghadapi kegagalan dalam

bisnis karena krisis ekonomi dan kesalahan dalam pengambilan keputusan

(Luk 22:40; Ef 6:18: 2 Kor 5:20).

144
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, cet. ke-6, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988, hlm. 374-376.
145
B.A. Abednego, “Masalah dan Tantangan Etik dalam Penggembalaan di Kota Besar yang
Individualistik”, dalam F. Suleeman dan Iones Rakhmat, Masihkah Benih Tersimpan ..? :
Kumpulan Karangan dalam Rangka 50 tahun GKI Jawa Barat, Jakarta: BPK. Gunung Mulia,
1990, hlm. 195.
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan refleksi teologis, maka di

bawah ini penulis menarik beberapa kesimpulan dan saran yang diharapkan dapat

bermanfaat bagi praktisi bisnis, lembaga pendidikan teologi, dan GPIB. Penulis

sendiri menyadari bahwa segala rumusan yang dibuat dalam penelitian ini, dapat

dipraktikkan dengan mengandalkan bimbingan kuasa Roh Kudus dan terang

Firman Allah yang selalu membarui sikap dan perilaku manusia.

1 Kesimpulan

1.1. Bisnis adalah bagian integral dalam kehidupan manusia dan karena itu

terkait erat dengan moralitas. Moralitas atau etika dalam berbisnis dapat

berasal dari berbagai sumber seperti ajaran agama, filsafat atau nilai

budaya setempat. Dalam bisnis, unsur kepercayaan memainkan peranan

penting yang perlu dijaga dan dipertahankan oleh para pelaku bisnis. Di

sini moralitas atau etika religius dapat memberikan kontribusi penuh

dalam membentuk dan mengarahkan pebisnis agar bertindak etis demi

kesejahteraan masyarakat dan kepentingan eksistensi bisnis itu sendiri.

1.2. Persepsi tentang bisnis Kristen diperoleh warga jemaat berdasarkan pesan-

pesan yang diterima melalui Alkitab dan pengajaran gereja. Warga jemaat

GPIB memahami bahwa bisnis itu berorientasi pada keuntungan yang

diyakini sebagai manifestasi berkat Allah. Bisnis Kristen dilakukan

berdasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab seperti kekudusan, keadilan dan


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

kasih. Dengan prinsip-prinsip Alkitab itu, pelaku bisnis diharapkan dapat

menjalankan bisnis yang baik dan menolak praktek bisnis curang.

Warga jemaat GPIB sendiri memiliki persepsi yang baik tentang bisnis

Kristen berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab.

1.3. Pelaku bisnis Kristen sendiri memahami bahwa prinsip-prinsip Alkitab

dapat dipraktekkan dalam bisnis mereka. Alasan utama bahwa bisnis itu

bukanlah pekerjaan kotor. Bisnis adalah pekerjaan baik sama seperti

pekerjaan lain sehingga dalam berbisnis sangat diperlukan integritas moral.

Bisnis Kristen tidak hanya berorientasi mengejar keuntungan, tetapi juga

memiliki aspek sosial. Bisnis menjadi langgeng karena banyak pihak yang

turut menikmati keuntungan.

1.4. Mayoritas warga GPIB berasal dari kalangan pegawai yang kurang

bersentuhan dengan kegiatan bisnis sehingga dapat dimengerti jika majelis

jemaat kurang memberi perhatian dalam membina warga jemaat dalam

soal bisnis. Keterlibatan gereja dalam mendirikan unit-unit bisnis seperti

sekolah, rumah sakit atau koperasi, cenderung sebagai sarana pelayanan

diakonia bagi mereka yang kurang mampu. Keberadaan kelompok

profesional dalam gereja masih dalam proses mencari bentuk dan belum

diberdayakan secara optimal untuk kepentingan warga jemaat.

1.5. Bisnis yang baik dapat dirumuskan sebagai bisnis yang (1) melayani

kehendak Allah, (2) menghargai manusia dan (3) memiliki tanggung jawab

sosial. Bisnis dipraktekkan bukan hanya untuk kepentingan manusia tetapi

juga untuk melayani kehendak Allah. Aktivitas bisnis menjadi aktivitas


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

ibadah yang dilakukan dengan kejujuran dan rasa hormat terhadap sesama.

Karena itu, keuntungan dalam bisnis dapat digunakan untuk membantu

mereka yang miskin dan melindungi alam dari kerusakan yang hebat.

1.6. Gereja bertanggung jawab dalam melengkapi warga jemaat agar hidup

berpadanan dengan Injil Kristus di segala bidang kehidupan. Majelis

jemaat perlu membina warga jemaat tentang bisnis berdasarkan prinsip-

prinsip Alkitab. Unit bisnis yang dimiliki gereja lebih diarahkan sebagai

sarana pelayanan kasih atau diakonia dalam rangka menolong mereka yang

berkekurangan. Pendampingan pastoral bagi warga jemaat yang bergerak

dalam bisnis perlu diperhatikan oleh gereja sehingga mereka dapat

tertolong mengatasi pergumulannya dan dengan setia mendukung

pekejaan pelayanan gereja. Kelompok profesional dapat dimanfaatkan

secara maksimal untuk saling membimbing dan menguatkan di antara

mereka yang berprofesi sebagai pebisnis dan mereka yang berminat terlibat

dalam bisnis.

2 Saran

2.1. Maraknya praktek bisnis curang membuktikan bahwa kesadaran

menjalankan bisnis berdasarkan pertimbangan moral kurang diperhatikan.

Kecurangan dalam berbisnis menjelaskan betapa motif ekonomi begitu

kental sehingga cara-cara yang tidak benar dihalalkan demi mengejar

keuntungan maksimal. Publikasi tentang bisnis yang baik perlu

dikembangkan oleh pemerhati bisnis dan etikawan agar kesadaran

berbisnis secara etis menjadi perhatian semua pihak. Pembahasan tema-


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

tema aktual dalam bisnis kontemporer perlu dilakukan antara praktisi

bisnis dan teolog Kristen sehingga diperoleh rumusan-rumusan baru yang

dapat menolong warga jemaat dan masyarakat luas pada umumnya.

2.2. Lembaga pendidikan teologi bertanggung jawab dalam menyiapkan para

pelayan gereja yang trampil secara teologis agar dapat membimbing warga

jemaat menjadi pelaku bisnis yang benar. Dalam rangka itu, praktisi bisnis

Kristen perlu dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran sehingga

mahasiswa dapat memahami pergumulan dan tantangan khas dalam dunia

bisnis. Mencari sintesa kreatif antara dunia bisnis dan iman dalam dunia

yang berubah, menjadi studi yang menarik serta memperkaya wawasan

etika Kristen. Tidak ada salahnya jika mahasiswa teologi diberi pelatihan

wirausaha agar mereka dapat mendorong dirinya dan warga jemaat untuk

menjadi pelaku bisnis yang jujur, ulet dan memiliki solidaritas sosial.

2.3. Gereja memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjawab masalah

kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Perkembangan mutakhir

menunjukkan bahwa penduduk miskin semakin bertambah dan lapangan

pekerjaan semakin sukar diperoleh. Dua faktor ini sudah cukup dapat

menggerakkan seseorang melakukan tindakan kriminalitas dan aksi

terorisme. Karena itu, gereja perlu menolong warga jemaat, khusus

generasi muda dengan memberi pelatihan teknis dalam bisnis dan

mendirikan unit-unit bisnis yang dapat menjadi sarana pengembangan

potensi kreatif mereka. Pelatihan wirausaha dapat dilakukan dalam kerja

sama dengan pemerintah setempat, khususnya balai latihan kerja atau


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

dengan praktisi bisnis yang berasal dari kalangan jemaat sendiri. Dalam hal

ini, wadah kelompok profesional perlu diberdayakan. Selain itu, unit-unit

bisnis yang dimiliki gereja sudah saatnya dikembangkan secara profesional

dengan tetap menjaga motif pelayanan kasih gereja. Jika unit-unit bisnis

itu tidak dikelola dengan manajemen yang baik, pada akhirnya hanya

menjadi beban yang menguras sumber daya gereja sendiri.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku-buku

Abineno, J.L. Ch. Sekitar Etika dan Soal-soal Etis, cet. ke-3, Jakarta:

BPK Gunung Mulia, 2003.

Agung, A.M. Lilik, Menumbuhkan Bisnis yang Beradab, Jakarta: Grasindo,

2002.

Alma, Buchari, Pengantar Bisnis, Cetakan ke-11. Bandung: Alfabeta, 2006.

Bertens, K, Etika, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994,

_________, Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2000.

_________, Perspektif Etika, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Borrong, Robert P dan Tompah, Norita Y (Eds.), Etika Bisnis Kristen, Jakarta:

Unit Publikasi dan Informasi & Pusat Studi Etika STT Jakarta, 2006.

Chandra, Robby I, Etika Dunia Bisnis, Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Csikszentmihalyi, Mihaly, Good Business: Bisnis Sebagai Jalan Kebahagiaan,

Diterjemahkan oleh Helmi Mustofa, Bandung: Penerbit Mizan, 2007.

Darmaputera, Eka., Etika Sederhana untuk Semua; Bisnis, Ekonomi dan

Penatalayanan, Jakarta: Gunung Mulia, 1990.

Darmaputera, Eka, Sepuluh Perintah Allah, Museumkan Saja? Yogyakarta:

Gloria Graffa, 2005.

De Gaay Fortman, Bas dan Berma Klein Goldewijik, God and the Goods,

Geneva: WCC Publication, 1998.

DeVito, Joseph A. Komunikasi Antarmanusia, Dialihbahasakan oleh Agus


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Maulana, Jakarta: Professional Books, 1997.

Dewanto, Andreas Bintoro, Etik Bisnis dan Keberagamaan Kelompok Kristen

dalam Perspektif Sosiologis, Bandung: Universitas Padjadjaran, 1993.

Dussel, Enrique, Ethics and Community, Maryknoll: Orbis Books, 1988.

Ernawan, Erni R, Etika Bisnis, Bandung: Alfabeta, 2007.

Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, cet. ke-6, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.

Hill, Alexander, Just Business; Christian Ethics for The Market Place,

Cumbria: Paternoster Press, 1998.

Keraf, A. Sony, Etika Bisnis, Cetakan ke-14, Yogyakarta: Kanisius, 1998.

Kerr, Hugh T. (Ed), Calvin’s Institutes: A New Compend, Kentucky:

Westminster/John Knox Press, 1989.

Lestari, R. Siti, Tinjauan Etika Bisnis dalam Persaingan Usaha di Indonesia,

Jakarta: Universitas Indonesia, 1999.

Masassya, Elvyn G, Cara Cerdas Menjalankan Bisnis, Jakarta: Penerbit PT Elex

Media Komputindo, 2002.

Meliala, Adrianus, (Ed.), Praktik Bisnis Curang, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

1993.

Moleong, Lexy. J, Metode Penelitian Kualitatif, Cetakan ke -22, Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2006.

Muhammad dan Fauroni, Lukman, Visi Al-Quran tentang Etika dan Bisnis,

Jakarta: Penerbit Salemba Diniyah, 2002.

Napel, Henk ten Jalan yang lebih Utama Lagi: Etika Perjanjian Baru, Jakarta:

BPK Gunung Mulia, 1988,


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Nugroho, Alois A, Dari Etika Bisnis ke Etika Ekobisnis, Jakarta: Penerbit

Grasindo, 2001.

Oetama, Jacob, Dunia Usaha dan Etika Bisnis, Jakarta: Penerbit Buku Kompas,

2001.

Pratley, Peter, Etika Bisnis, Diterjemahan oleh Gunawan Prasetio, Yogyakarta:

Penerbit Andi, 2007.

Rahardi, F, Menguak Rahasia Bisnis Gereja, Jakarta: Visimedia, 2007.

Rani, Markus (Peny.), Teologi Kehidupan, Melestarikan Lingkungan Hidup,

Toraja: Sulo, 2006.

Riduwan, Metode & Teknik Menyusun Tesis, Bandung: Alfabeta, 2007.

Rudito, Bambang & Famiola, Melia, Etika Bisnis & Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan Di Indonesia, Bandung: Penerbit Rekayasa Sains, 2007.

Severin, Werner J. dan Tankard, Jr, James W, Teori Komunikasi, Sejarah,

Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Ke-5, dialihbahasakan

oleh Sugeng Hariyanto, Jakarta: Prenada Media, 2005.

Singgih, Emanuel Gerrit, Mengantisipasi Masa Depan: Berteologi dalam Konteks

di Awal Milenium III, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.

Smith, Keith R, God’s Economic Mandate?, A Perspective on Stewardship

Economics, East Sussex: Thankful Books, 2005.

Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan ke-10, Bandung: Alfabeta, 2007.

Suleeman, F. dan Iones Rakhmat, Masihkah Benih Tersimpan ..? : Kumpulan

Karangan dalam Rangka 50 tahun GKI Jawa Barat, Jakarta: BPK.

Gunung Mulia, 1990.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

Suleeman, F. dkk., (peny.) Bergumul dalam pengharapan; Buku Penghargaan

Untuk Pdt. Dr. Eka Darmaputera, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

Susanto, M. Bambang, Perspektif Dunia Usaha di Mata Tuhan, Surabaya:

Sangkakala Media Publishing, 2006.

Tarigan, Jacobus, (Ed.), Etika Bisnis: Dasar dan Aplikasinya, Jakarta: Komisi

Kerasulan Awam KWI dan Grasindo, 1994.

Tompah, Norita Yudiet, Peran Nilai Agama dalam Etika Bisnis, Jakarta: STT

Jakarta, 2003.

Velasquez, Manuel G, Etika Bisnis, Konsep dan Kasus—Edisi 5, Penerjemah:

Ana Purwaningsih, Kurnianto dan Totok Budisantoso, Yogyakarta:

Penerbit Andi, 2005.

Verkuyl, J, Etika Kristen, cetakan ke-12, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

Weber, Max, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Diterjemahkan

oleh Yusup Priyasudiarja, Yogyakarta: Jejak, 2007.

Wogaman, J. Philip, Economics and Ethics: A Christian Enquiry, Britain: SCM

Press Ltd, 1986.

2. Dokumen Gerejawi

Manopo, M. A, Memorandum serah terima Pendeta/Ketua Majelis Jemaat GPIB

Passareang Makassar, Makassar: 9 Agustus 2008

3. Surat Kabar

Kompas, Jakarta: 6 Maret 2008.

______, Jakarta: 25 Maret 2008.

Tribun Timur, Makassar: 14 Juni 2008.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

4. Internet

http://www.probe.org/site/c.fdKEIMNsEoG_b.4227383/k.FE33/Business/and/

Ethics/files/default.css. Makassar: 10 Juni 2008.

http://www.buddhistonline.com/dhammadesana/desana7b.shtml.

Makassar: 27 Agustus 2008.

5. Wawancara

Ambanaga, Yusuf H, Makassar: 13 Agustus 2008.

Hallatu, M.T, Makassar: 29 Agustus 2008.

Hehanusa, Leo. J, Makassar: 29 Juli 2008.

Joseph, Marlyn, Makassar: 28 Agustus 2008.

Lely, Yedi G, Makassar: 24 Agustus 2008.

Manopo, M.A, Makassar: 11 Agustus 2008

Saliwir, Max, Makassar: 2 Juni 2008.

Sinaga, Anggiat, Makassar: 9 Juni 2008.


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

LAMPIRAN I

ANGKET PENELITIAN

Salam sejahtera,

Saya adalah mahasiswa Pascasarjana Program Magister Teologi Bidang


Studi Etika Sekolah Tinggi Teologi Indonesia bagian Timur (STT INTIM)
Makassar yang sedang melakukan penelitian tentang: BISNIS YANG BAIK:
Tinjauan etis teologis mengenai persepsi warga jemaat terhadap bisnis Kristen di
jemaat GPIB Passareang Makassar. Untuk keperluan penelitian ini, saya mohon
kesediaan Bapak/Ibu/Saudara untuk memberikan data sesuai dengan daftar
pertanyaan dan pernyataan dalam petunjuk angket.
Bapak/Ibu/Saudara tidak perlu mencantumkan identitas atau nama dalam
mengisi lembaran angket yang tersedia dan jawaban Bapak/Ibu/Saudara dijamin
penuh kerahasiaannya. Jawaban Bapak/Ibu/Saudara semata-mata untuk
kepentingan penelitian ini dan bukan untuk kepentingan lainnya.
Atas bantuan, kerjasama dan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara mengisi angket
dan mengembalikannya, saya mengucapkan terima kasih.

Makassar, 1 Juni 2008

Hormat saya,

Pdt. S.G.R. Sihombing, STh


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

PETUNJUK ANGKET

A. PETUNJUK PENGISIAN

1. Kepada bapak/Ibu/Saudara dimohon menjawab seluruh pertanyaan


yang ada dengan jujur dan sebenarnya.

2. Berilah tanda centang (V) pada kolom yang tersedia dan pilih sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.

3. Ada lima alternatif jawaban yaitu:


5 : Sangat Setuju (SS) dengan pernyataan yang ada
4 : Setuju (S) dengan pernyataan yang ada
3 : Ragu-ragu (RG) dengan pernyataan yang ada
2 : Tidak Setuju (TS) dengan pernyataan yang ada
1 : Sangat Tidak Setuju (STS) dengan pernyataan yang ada

B. KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. Umur (tahun)
a. Umur 16-25 tahun
b. Umur 26-35 tahun
c. Umur 36-50 tahun
d. Umur 50 tahun ke atas

2. Jenis kelamin : Laki-laki/ Perempuan *)

3. Status perkawinan
a. Kawin
b. Belum pernah kawin
c. Duda
d. Janda
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

4. Pekerjaan utama
a. Pedagang/Pengusaha
b. Pegawai Negeri Sipil/TNI/POLRI
c. Pegawai swasta
d. Pelajar/Mahasiswa
e. Pekerjaan lain dari a-d di atas

5. Bisnis atau usaha yang dimiliki dalam bidang: **)


a. Jual beli sembako/barang campuran
b. Perbengkelan
c. Transportasi
d. Jasa
e. .....................................................................

6. Pendidikan terakhir
a. Tidak tamat SD sampai tamat SD
b. Tamat SMP atau yang sederajad
c. Tamat SMTA dan tidak melanjutkan
d. Perguruan Tinggi

7. Status dalam Jemaat


a. Anggota biasa
b. Majelis Jemaat (Penatua dan Diaken)

*) coret yang tidak perlu


**) bagi yang memiliki bisnis/usaha
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

C. Menyangkut Bisnis Kristen

No Pernyataan Jawaban
SS S RG TS STS
1 Bisnis adalah kegiatan di antara manusia
untuk mendatangkan keuntungan materi
2 Dengan berbisnis, seseorang bisa
memperoleh pendapatan lebih dan
kehidupan ekonomi yang lebih baik
3 Alkitab memberikan pedoman nilai
moral/etis bagi pengusaha
4 Seorang pengusaha Kristen perlu
memiliki nilai-nilai moral/etika dalam
berbisnis
5 Ajaran Alkitab menyangkut kekudusan,
keadilan dan kasih menjadi nilai-nilai
etika Kristen yang perlu diperhatikan
dalam berbisnis
6 Menjadi seorang pengusaha berarti juga
melakukan pekerjaan yang baik
7 Pengusaha yang berbisnis dengan baik
menjaga bisnisnya bertahan lama dan
sukses secara material dan sosial
8 Bisnis curang adalah bisnis yang
dijalankan dengan penipuan dan
melanggar hukum yang berlaku
9 Seorang pengusaha dapat
mempermuliakan Allah lewat praktek
bisnis yang legal dan tidak merugikan
konsumen dan rekan bisnisnya
Pernyataan SS S RG TS STS
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

10 Mencari keuntungan yang wajar oleh


pengusaha dalam bisnis adalah
perbuatan yang baik/etis
11 Pengusaha memandang keuntungan
dalam bisnis sebagai berkat dari Tuhan
12 Dalam berbisnis perlu memohon
pertolongan dari Tuhan (berdoa)
13 Sama sekali tidak ada campur tangan
Allah agar bisnis itu untung
14 Dalam bisnis, keuntungan adalah tujuan
utama yang harus didapat dengan segala
cara apapun
15 Keuntungan dalam bisnis membuat
pengusaha mengucap syukur kepada
Allah dan memberikan persembahan
kepada Gereja
16 Ajaran Alkitab dapat mencegah
pengusaha Kristen untuk
mempraktekkan bisnis curang
17 Dalam berbisnis, pengusaha perlu
menjaga kepercayaan konsumen/
pembeli dalam soal harga, mutu barang
dan pelayanan
18 Pengusaha perlu memiliki tanggung
jawab sosial terhadap masyarakat seperti
memberikan sumbangan dan turut
menjaga kelestarian alam
19 Pengusaha memahami dalam berbisnis
tidak dibutuhkan ajaran agama
Pernyataan SS S RG TS STS
20 Ajaran agama tidak dapat dipraktekkan
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

secara menyeluruh karena menghalangi


pengusaha untuk meraup keuntungan
besar dalam waktu cepat
21 Berbisnis dengan menerapkan ajaran
Alkitab justru mendatangkan kerugian
bagi upaya memperoleh keuntungan
22 Oknum pemerintah tertentu memaksa
pengusaha kecurangan dalam bisnis
dengan praktek uang sogok atau pungli
agar bisnis lancar dan mudah
23 Dalam usaha memperoleh keuntungan,
seorang pengusaha dapat melakukan
penipuan terhadap konsumen/pembeli
24 Konsumen atau pembeli merasa sangat
dirugikan jika pengusaha berlaku curang
dalam berbisnis
25 Dalam persaingan, seorang pengusaha
dapat menjelek-jelekkan rekan bisnisnya
26 Lingkungan bisnis yang curang dapat
menghambat pengusaha Kristen
berbisnis dengan prinsip-prinsip Alkitab
27 Pengusaha yang mempraktekkan
prinsip-prinsip Alkitab Kristen sama
sekali tidak terpengaruh untuk berbuat
kecurangan dalam bisnisnya
28 Pengusaha berkewajiban membayar
pajak kepada Negara sesuai ketentuan
yang berlaku secara periodik
Pernyataan SS S RG TS STS
29 Pengusaha yang melakukan kecurangan
dalam berbisnis sehingga merugikan
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

konsumen dan melanggar hukum perlu


ditindak secara hukum oleh aparat
berwenang
30 Bisnis yang dijalankan dengan prinsip-
prinsip Alkitab mendatangkan
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup

D. Menyangkut Pembinaan oleh Majelis Jemaat

No Pertanyaan Jawaban
SS S RG TS STS
31 Majelis Jemaat perlu melakukan
pembinaan bagi warga jemaat tentang
bisnis dengan prinsip-prinsip Alkitab
32 Prinsip-prinsip Alkitab tentang
kekudusan, keadilan dan kasih dalam
praktek bisnis perlu diketahui oleh
anggota Majelis Jemaat agar dapat
membina warga jemaat dengan baik
33 Majelis Jemaat perlu memiliki unit
bisnis agar dapat membantu keuangan
Gereja dan mempraktekkan cara
berbisnis dengan prinsip Alkitab
34 Majelis Jemaat melarang saja warga
jemaat untuk tidak berbisnis agar tidak
berdosa karena bisnis itu kotor
Pernyataan SS S RG TS STS
35 Majelis Jemaat perlu memberikan
pelatihan atau modal kerja bagi warga
yang berminat membuka usaha dan
kekurangan modal
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

36 Majelis Jemaat perlu menasihatkan


warga jemaat yang mempraktekkan
bisnis curang karena merugikan orang
banyak dan merusak lingkungan hidup
37 Majelis Jemaat perlu mendoakan warga
jemaat yang berprofesi sebagai
pedagang/pengusaha agar mereka dapat
menjadi saksi-saksi Kristus juga
38 Majelis Jemaat perlu melibatkan
pengusaha untuk membina warga
jemaat khususnya mereka yang belum
memiliki pekerjaan dan mereka yang
berpenghasilan kecil untuk berbisnis
39 Majelis Jemaat hanya membutuhkan
partisipasi pengusaha dalam membiayai
kegiatan pelayanan Gereja
40 Majelis Jemaat perlu membentuk
kelompok pendukung bagi warga yang
berprofesi sebagai pengusaha sehingga
mereka dapat memecahkan masalah
bisnisnya dengan nasehat dari saudara
seimannya dan dukungan doa
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

LAMPIRAN II

Pedoman Wawancara

A. Wawancara dengan pengusaha

4. Bagaimana persepsi Bapak/Ibu bahwa bisnis yang baik terkait dengan

sukses bisnis dan dapat bertahan lama? Apakah menurut Bapak/Ibu bisnis

yang baik semata-mata soal mengejar keuntungan bisnis dan mengorbankan

kepentingan yang lain?

5. Apakah Bapak/Ibu dapat memberi penjelasan mengapa seorang pengusaha

mengikuti semua aturan yang berlaku dalam dunia bisnis sekalipun aturan

itu bertentangan dengan hukum Negara dan nilai-nilai agama Kristen?

6. Mungkinkah seorang dapat sukses sebagai orang Kristen dan sekaligus

sebagai seorang pengusaha? Ataukah sebaliknya, bahwa seseorang yang

sukses dalam bisnis biasanya bukanlah orang Kristen yang baik?

7. Dapatkah sekarang ini Alkitab dan ajaran kristiani tetap relevan terhadap

dunia bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif? Ataukah memang

Alkitab dan ajaran Kristen tidak sesuai lagi dengan dunia bisnis yang

curang dan kotor?

8. Apakah Bapak/Ibu dalam mengambil keputusan dalam bisnis dipengaruhi

oleh nilai-nilai etika Kristen yang bersumber pada Alkitab? Nilai-nilai etika

dan moral seperti apakah yang dominan?

9. Apakah menurut pengalaman Bapak/Ibu terdapat perbedaan antara orang

Kristen dan orang non-Kristen dalam etika bisnisnya? Dimanakah letak

perbedaan? Ataukah, samasekali tidak ada perbedaan?


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

10. Kegiatan-kegiatan rohani apa saja yang Bapak/Ibu ikuti secara teratur?

a. Ibadah Minggu

b. Kebaktian keluarga

c. Penelaahan Alkitab

d. Persekutuan Doa kantor

e. Ibadah pribadi

f. ....................................

Apakah kegiatan-kegiatan rohani itu turut membantu Bapak/Ibu dalam

mengambil keputusan dalam bisnis?

11. Bagian-bagian Alkitab mana yang menurut Bapak/Ibu sangat membantu

dalam memberikan pedoman dalam menjalankan bisnis ?

12. Sebagai seorang pengusaha atau manager, apakah Bapak/Ibu telah

dilengkapi oleh Gereja, khususnya Majelis Jemaat dalam kehidupan bisnis

selama ini?

13. Menurut pendapat bapak/Ibu bagaimana Gereja, khususnya Majelis

Jemaat dapat memberi kontribusi lebih dalam melengkapi anggota gereja

yang berprofesi sebagai pengusaha?


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

B. Wawancara dengan Majelis Jemaat

1. Bagaimana seharusnya Gereja melihat dunia bisnis? Bisnis sebagai perkara

duniawi dan kotor serta mendatangkan dosa atau sarana untuk

mempermuliakan Allah dan melayani sesama?

2. Prinsip-prinsip Alkitab seperti kekudusan, keadilan dan kasih dapatkah

memandu pengusaha Kristen dalam berbisnis agar bisnis mereka sukses

dan bertahan lama?

3. Dengan cara bagaimana Gereja membina warga jemaat agar dalam

berbisnis selalu memberi prioritas kepada Allah agar tidak jatuh dalam

praktek tipu daya yang merugikan orang lain dan mendatangkan dosa?

4. Apakah Gereja sudah merencanakan atau melaksanakan program

pembinaan bagi warga yang berprofesi sebagai pengusaha? Jika sudah,

kegiatan semacam apa yang telah dilakukan?

5. Perlukah Gereja membuat kelompok pendukung agar pengusaha dapat

berbagi pengalaman dan mendapat topangan dari saudara seimannya?

6. Apakah Gereja perlu memiliki unit bisnis untuk membantu warga jemaat

yang tidak memiliki pekerjaan dan menopang keuangan Gereja?

7. Dalam memberdayakan ekonomi warga jemaat, perlukah Gereja membuat

pelatihan usaha dan memberikan bantuan modal kerja secara bergulir?

8. Jika warga jemaat berhasil dalam bisnisnya, harapan apakah yang

diberikan kepada mereka: (1) tetap aktif beribadah? (2) terlibat dalam

pelayanan Gereja? (3) mendukung kegiatan Gereja sebagai donatur?


Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Stephen Gabariel Rockyfeller Sihombing dilahirkan di Jakarta pada


tanggal 3 Juni 1970. Anak kedua dari enam bersaudara dengan orang tua yang
terkasih (Alm) Bp. M. Sihombing dan Ibu Siti Dinar boru Hutabarat.
Pendidikan teologi diselesaikan pada STT Jakarta (1989-1994). Penugasan
sebagai vikaris oleh Majelis Sinode GPIB pada jemaat GPIB ”Mangngamaseang,”
Makassar (1995-1997). Peneguhan sebagai pendeta pada tanggal 28 September
1997. Penempatan pertama pada jemaat GPIB ”Marturia”, Jambi dengan tugas
mempersiapkan pelembagaan bagian jemaat ”Alfa Omega,” Sungai Bahar.
Setelah dilembagakan, ditugaskan sebagai Ketua Majelis/Pendeta Jemaat GPIB
”Alfa Omega.” (1998-2001). Sebagai perutusan jemaat GPIB ”Alfa Omega”, turut
menghadiri Persidangan Sinode XVII GPIB di Kinasih, Bogor (2000).
Dari Jambi, ditugaskan ke jemaat GPIB ”Bukit Zaitun,” Makassar untuk
mempersiapkan pelembagaan bagian jemaat ”Kanatojeng,” Gowa (2001-2005).
Setelah tugas pelembagaan selesai, Majelis Sinode GPIB menugaskan sebagai
Ketua Majelis/Pendeta Jemaat ”Eben Haezer,” Tanah Grogot, Kaltim (2005-
2006). Turut menghadiri Persidangan Sinode XVIII di Nusa Dua, Bali (2005).
Berpartisipasi dalam kepanitiaan Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB di
Tana Toraja (2003) dan di Balikpapan (2006). Berdasarkan Surat Rekomendasi
Gereja (SRG) Nomor: 1352/IV-06/MS.XVII/SRG tanggal 26 April 2006,
ditugaskan Majelis Sinode GPIB untuk studi lanjut S2 pada STT INTIM
Makassar dengan konsentrasi studi Etika.
Menikah dengan Dewi Arung, anak dari ibu D. N. Boroallo, pada tanggal
26 Juni 1998 di Makassar dan dikaruniai Tuhan Yesus dua orang putri yaitu
Jacqueline Anastasia Sihombing (1999) dan Stefany Imanuel Sihombing (2001).
Anda dapat mengatur nomor halaman ini sesuai daftar isi.

ATTENTION PLEASE:

Dengan segala hormat, saya mohon kiranya

karya ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Jika karya ilmiah ini hendak dikutip supaya ditulis sumbernya secara tepat.

Untuk konsultasi Anda dapat menghubungi saya pada alamat:

sgrsihombing@yahoo.com

Tuhan memberkati Anda dalam studi dan cita-cita.

Anda mungkin juga menyukai