Anda di halaman 1dari 7

Fraktur Antebrachii (www.trinoval.web.

id) Anatomi Tulang radius dan ulna tidak saja sebagai pelindung lengan atas maupun tangan tapi mempunyai fungsi pronasi dan supinasi dengan gerakan radius dan ulna. Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulna yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkar kapitupulum radius dan di distal oleh sendi radioulna yang diperkuat oleh ligamentum radioulna yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membran interossea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan satu kesatuan yang kuat. Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang saja hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulna yang dekat dengan patah tulang di tempat tersebut. Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antar tulang yaitu musculus supinator,musculus pronator teres, musculus pronator quadratus yang membuat gerakan pronasi dan supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang berinsersi dengan radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah disertai dislokasi angulasi dan rotasi terutama radius. Antebrachii terdiri atas 2 buah tulang paralel yang berbeda panjang bentuknya; os radius dan os ulna. Di sebelah proksimal membentuk 3 persendian sedangkan sebelah distal 2 persendian. Tulang radius, lebih pendek daripada ulna, bentuk lebih melengkung dan bersendi dengan os ulna pada bagian proksimal dan distal radio-ulnar joint yang bersifat rotator. Antara kedua tulang ini juga dihubungkan oleh membrana interossea, suatu jaringan fibrous yang berjalan oblique dari ulna ke radius. Membrana ini berfungsi merotasikan tulang radius terhadap os ulna, yang menghasilkan gerakan pada lengan bawah. Muskulus antebrachii dapat dikelompokkan, muskuli kompartmen anterior dan posterior. Kompartmen anterior diisi oleh muskuli fleksor sedangkan kompartmen posterior diisi oleh muskuli ekstensor. Beberapa muskuli ada yang berperan dominan dalam mempertahankan posisi dan gerakan sendi lengan bawah dan tangan (elbow and wrist joint). Muskulus tersebut adalah:

Fraktur Tulang (Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC, 2000) Fraktur (patah) tulang adalah terputusnya tulang. Istilah-istilah yang digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur tulang antara lain adalah : Fraktur komplit : fraktur yang mengenai suatu tulang secara keseluruhan. Fraktur inkomplit : fraktur yang meluas secara parsial pada suatu tulang. Fraktur sederhana (tertutup): fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit. Fraktur compund (terbuka) : fraktur yang menyebabkan robeknya kulit.

Fraktur terbuka dan tertutup dapat bersifat komplit atau inkomplit. Istilah-istilah lain dapat digunakan untuk menjelaskan fraktur, berdasarkan sudut pemutusan atau apakah tulang melengkung tanpa terputus.

Penyebab Fraktur Tulang Patah tulang paling sering disebabkan oleh trauma, terutama pada anak-anak dan dewasa muda. Apabila tulang melemah, patah dapat terjadi hanya akibat trauma minimal atau tekanan ringan. Hal ini disebut fraktur patologis. Fraktur patologis sering terjadi pada orang tua yang mengidap osteoporosis, atau penderita tumor, infeksi, atau penyakit lain. Fraktur panggul adalah penyebab utama pada orang tua. Banyak orang tua yang menderita fraktur panggul tidak lagi mampu berjalan. Fraktur pada orang-orang tua sering menyebabkan mereka tidak independen, dan sering akhirnya menyebabkan mereka dirawat di rumah/ panti jompo. Hal ini menimbulkan beban biaya yang tinggi baik bagi pasien maupun masyarakat. Banyak orang tua yang rapuh tidak dapat pulih setelah fraktur tersebut. Fraktur Stres dapat terjadi pada tulang normal akibat stres tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stres, juga disebut fraktur kelelahan (fatigue fracture), biasanya terjadi akibat peningkatan drastis tingkat latihan pada seorang atlit, atau pada permulaan aktivitas fisik baru. Karena kekuatan otot meningkat secara lebih cepat dibandingkan dengan kekuatan tulang, maka individu dapat merasa mampu berprestasi melebihi tingkat sebelumnya walaupun tulang-tulang mereka mungkin tidak dapat menunjang peningkatan tekanan. Fraktur stres biasanya terjadi pada mereka yang menjalani olahraga daya tahan misalnya lari jarak jauh. Fraktur stres dapat terjadi pada tulang yang lemah akibat peningkatan aktivitas ringan. Hal ini disebut fraktur insufisiensi.

Efek Fraktur Tulang Sewaktu tulang patah, maka sel-sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya juga mengalami kerusakan. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Ditempat patah terbentuk bekuan fibrin (hematom fraktur) dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin direabsorpsi dan sel-sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan menagalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk atau apabila sel-sel tulang baru rusak selama proses kalsifikasi dan pengerasan. Gambaran Klinis Patah tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri. Setelah patah tulang dapat timbul spasme otot yang menambah rasa nyeri. Pada fraktur stres, nyeri biasanya timbul pada aktivitas dan menghilang saat istirahat. Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri. Mungkin tampak jelas posisi tulang atau ekstremitas yang tidak alami. Pembengkakkan di sekitar fraktur akan menyertai proses peradangan. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan, yang mengisyaratkan kerusakan saraf. Denyut nadi di bagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan bagian nonfraktur. Hilangnya denyut nadi di sebelah distal mungkin mengisyaratkan syok kompartemen. Krepitus (suara gemeretak) dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain.

Perangkat Diagnostik Dapat terjadi sindrom kompartemen. Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau kematian saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh pembengkakan dan edema di daerah fraktur. Dengan pembengkakkan interstisium yang intens tersebut, timbul tekanan pada pembuluh-pembuluh darah yang menyebabkan mereka kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan kematian saraf-saraf yang mempersarafi

daerah tersebut. Biasanya timbul nyeri hebat. Individu mungkin tidak dapat menggerakkan jari tangan atau kaki. Sindrom kompartemen biasanya terjadi pada ekstremitas yang memiliki restriksi volume yang ketat. Resiko terjadinya sindrom kompartemen akan semakin besar apabila telah terjadi trauma otot, karena pembengkakkan yang terjadi akan hebat. Pemakainan gips pada ekstremitas yang patah yang terlalu dini atau terlalu ketat dapat menyebabkan peningkatan tekanan di kompartemen ekstremitas. Dapat terjadi kerusakan permanen fungsi atau bahkan kehilangan ekstremitas itu sendiri. Oleh sebab itu, gips harus segera dibuka dan kadangkadang kulit ekstremitas harus diperiksa. Dapat timbul embolus lemak setelah patah tulang, terutama tulang panjang. Embolus lemak dapat timbul akibat terpajannya sumsum tulang, atau akibat pengakitivan sistem saraf simpatis setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah fraktur tulang panjang sering tersangkut di sirkulasi paru dan menimbulkan distres atau kegagalan pernapasan.

Penatalaksanaan Fraktur harus segera diimobilisasi agar hematom fraktur dapat terbentuk dan untuk memperkecil kerusakan. Penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar posisi dan rentang gerak normal pulih. Sebagian besar reduksi dapat dilakukan intervensi bedah (reduksi tertutup). Apabila diperlukan tidakan bedah untuk fiksasi (reduksi terbuka), dapat dipasang pen atau sekrup unutk mempertahankan reduksi dan merangsang penyembuhan. Perlu dilakukan imobilisasi jangka panjang setelah reduksi agar kalus dan tulang baru dapat terbentuk. Imobilisasi jangka-panjang biasanya dilakukan dengan gips atau penggunaan belat.

Fraktur (Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. Edisi ketiga, jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius, 2000.) Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur dapat dibagi menjadi : 1. Fraktur Tertutup (closed) bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2. Fraktur terbuka (open/compund), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajt (menurut R. Gustillo), yaitu: Derajat I: Luka < 1 cm Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk Fraktur sederhana,transversal,oblik, atau kominutif ringan

Derajat II: Laserasi > 1 cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang

Derajat III: Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neorovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas: a. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi; atau fraktur segmental /sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. b. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif. c. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

Deskripsi Fraktur Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu dideskripsikan adalah: 1. Komplit/tidak komplit a. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang ataumelaui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. b. Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: Hairline fracture (patah retak rambut) Bucle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak. Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulsi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.

2. Bentuk garis patah dan hubungannyadengan mekanisme trauma. a. Garis patah melintang: trauma angulsi atau langsung b. Garis patah oblik: trauma angulsi c. Garis patah spiral: trauma rotasi d. Fraktur kompresi: trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa e. Fraktur avulsi: tauma taikan/traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur patela 3. Jumlah garis patah a. Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. b. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokial. c. Fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruris dan fraktur tulang belakang. 4. Bergeser/tidak bergeser. a. Fraktur undisplaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi:

Dislokasi ad longitudinum cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut) Dislokasi ad latus ( pergeseran di mana kedua fragmen saling menjauhi)

5. Terbuka-tertutup (lihat diatas) 6. Komplikasi-tanpa komplikasi, bila ada harus disebut. Komplikasi dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma akibat pengobatan. Dalam menegakkan diagnosis fraktur harus disebut jenis tulang atau bagian tulang yang mempunyai nama sendiri, kiri atau kanan, bagian mana dari tulang (proksimal,tengah atau distal), komplit atau tidak, bentuk garis patah, jumlah garis patah, bergeser tidak bergeser, terbuka atau tertutup dan komplikasi bila ada. Sebagai contoh: Fraktur femur proksimal kanan garis patah oblik, displaced, dislokasi ad latus terbuka derajat satu, neurovaskular distal baik. Fraktur kondilus lateralis humerus sinistra, displaced, tertutup dengan paralisis nervus radialis.