GELAR SARJANA DI INDONESIA

Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Akuntansi (SE.Ak) Arsitektur (S.Ars.) Agama (S.Ag.) Desain (S.Ds.) Perikanan (S.Pi.) Pertanian (S.P.) Peternakan (S.Pt.) Psikologi (S.Psi.) Sains - Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi (S.Si.) Sains Terapan (S.S.T) Ilmu Sosial (S.Sos.) Sastra (S.S.) Seni (S.Sn.) Teknologi Pertanian (S.T.P.) Teknik (S.T.) Theologi (S.Th.)

GELAR MAGISTER Magister Administrasi Rumah Sakit (M.A.R.S.) Magister Akuntansi (M.Ak.) Magister Arsitektur (M.Ars.) Magister Biomedik (M.Biomed.) Magister Ekonomi (M.E.) Magister Epidemiologi (M.Epid.) Magister Farmasi (M.Farm) Magister Farmasi Klinik (M.Farm.Klin) Magister Hukum (M.H.) Magister Humaniora (M.Hum.) Magister Ilmu Gizi (M.Gizi) Magister Ilmu Komputer (M.Kom.) Magister Kedokteran Kerja (M.K.K.) Magister Kenotariatan (M.Kn.) Magister Keperawatan (M.Kep.) Magister Kesehatan (M.Kes.) Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M.) Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (M.K.K.K.) Magister Manajemen (M.M.) Magister Pendidikan (M.Pd.) Magister Sains (M.Si.) Magister Sains Akuntansi (M.S.Ak.) Magister Sains Ekonomi (M.S.E.) Magister Sains Manajemen (M.S.M.) Magister Teknik (M.T.) Magister Teknologi Informasi (M.T.I.)

I.) Agama bidang Humaniora (MA.) Kehutanan (M.) Theologia (M.) Filsafat (M.) Seni (M.) Pertanian (M.) Teknologi Agroindustri (M.I.) .P.Fil.) Ekonomi Islam (M.Th./M.M.Pd.A.I.Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Manajemen Teknik (M.I.A.) Psikologi (M.Sn.) Agama (M.E.) Studi Islam (M.A.Hum.Fil.) Hukum Islam (M.I.P.M.Hut.) Teknologi Pertanian (M.T.) Manajemen Agrisbisnis (M.) Administrasi Publik (M.) Pemikiran Islam (M.A.P.) Filsafat Islam (M.H.S.T.I.P.) Pendidikan Islam (M.T.Ag.Psi.

2.GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI 11 12 2007 KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 036/U/1993 TENTANG GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Bab VII Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi dipandang perlu menetapkan gelar dan sebutan lulusan perguruan tinggi. Surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 113 /D/T/1993 tanggal 25 Januari 1993. 3. 2. Nomor 0686/U/1991 tanggal 20 Desember 1991. Nomor 0222c/0/1980 tanggal 11 September 1980. Nomor 44 Tahun 1974. b. yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1992. c. 4. b. Memperhatikan : 1. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan a. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990. Nomor 15 Tahun 1984. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia : a. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989. Hasil Rapat Kerja Nasional Rektor /Ketua/Direktur Perguruan Tinggi Negeri dan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan se Indonesia tanggal 18 sampai dengan tanggal 20 November 1992 di Jakarta. Nomor 64/M Tahun 1988. MEMUTUSKAN: .

Pendidikan akademik adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. 5. Sebutan profesi adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki gelar akademik yang telah menyelesaikan program keahlian atau profesi bidang tertentu. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk gelar akademik merupakan program studi dan/atau pengelompokan program studi. 4. Menteri adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pasal 2 1). 2. 3. Penetapan jenis gelar akademik. 8. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. sebutan profesional dan sebutan profesi didasarkan atas bidang keahlian. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI. Pendidikan profesional adalah pendidikan yang diarahkan pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. Sebutan profesional adalah sebutan yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional. 6. . 2). dan sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum. Program studi adalah kesatuan rencana belajar sebagai pedoman Penye lenggaraan pendidikan akademik dan/ atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum yang ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan. Gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik. keterampilan. 7.

BAB II GELAR AKADEMIK. 3). BAB III JENIS GELAR AKADEMIK Pasal 6 Gelar akademik terdiri atas Sarjana.Sekolah Tinggi.3). Pasal 5 1). Yang berhak menggunakan sebutan profesional adalah lulusan Pendidikan profesional dari Akademi.Sekolah Tinggi. Yang berhak menggunakan gelar akademik adalah lulusan pendidikan akademik dari Sekolah Tinggi. 2). Institut atau Universitas. 2). sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Institut atau Universitas. 2).Magister dan Doktor. .Institut atau Universitas yang memenuhi persyaratan. SEBUTAN PROFESIONAL DAN SEBUTAN PROFESI Pasal 4 1). Politeknik. Gelar akademik.Institut dan Universitas yang memenuhi persyaratan. sebutan profesional dan sebutan profesi yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi dicantumkan dalam ijazah.sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Politeknik. Yang berhak memberikan sebutan profesional adalah Akademi. Yang berhak memberikan sebutan profesi adalah seseorang yang memiliki gelar akademik dan telah menyelesaikan program keahlian atau profesi dalam bidang tertentu. Yang berhak memberikan gelar akademik adalah Sekolah Tinggi. Dalam ijazah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan pula nama bidang keahlian dan program studi yang bersangkutan secara lengkap. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk sebutan profesional merupakan program studi Pasal 3 1).

3. 4. Pasal 8 Penggunaan gelar akademik dan bidang keahlian untuk Sarjana dan Magister dalam bentuk singkatan ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. Ahli untuk Program Diploma IV disingkat A. Pasal 9 Gelar akademik Doktor disingkat Dr. (2) Jenis gelar akademik Magister dan bidang keahlian serta singkatannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Keputusan ini. Pasal 12 (1) Sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas: 1. Pasal 11 Penggunaan sebutan profesional dalam bentuk singkatan ditempatkan dibelakang nama yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan. Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A.P.Md. akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal. . (3) Jenis gelar akademik dan bidang keahlian serta singkatannya yang belum tercantum dalam Lampiran I dan II. 2.Ma.Pasal 7 (1) Jenis gelar akademik Sarjana dan bidang keahlian serta singkatannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini. Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A. ditempatkan di depan nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. BAB IV JENIS SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 10 Sebutan profesional terdiri atas sebutan profesional untuk lulusan Program Diploma dan sebutan profesional untuk lulusan Program Spesialis. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A.

(3) Singkatan sebutan profesional dan nama bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan tersebut. (3) Jenis sebutan profesi dan bidang keahlian yang belum tercantum pada lampiran III akan diterapkan oleh Direktur Jenderal dengan memperhatikan usul dan pertimbangan prganisasi profesi yang diakui Pemerintah.berhak menggunakan sebutan profesi.U untuk lulusan Program Spesialis II. (2) Jenis sebutan profesi adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran III.(2) Sebutan profesional lulusan Program Spesialis terdiri atas Spesialis disingkat Sp untuk lulusan Program Spesialis I dan Spesialis Utama disingkat Sp. BAB VI SYARAT PEMBERIAN GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Bagian Pertama Syarat Pemberian Gelar Akademik dan Sebutan Profesional Pasal 14 Syarat pemberian gelar akademik. (4) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) adalah sama dengan nama program studi yang telah ditetapkan berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. BAB V JENIS SEBUTAN PROFESI Pasal 13 (1) Seorang Sarjana yang telah menyelesaikan program pendidikan keahlian untuk profesi tertentu. sebutan profesional dan sebutan profesi adalah : . (4) Penggunaan sebutan profesi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) ditempatkan setelah gelar akademik Sarjana.

kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan. (2) Syarat perguruan tinggi yang dapat memberikan gelar Doktor Kehormatan adalah universitas dan institut yang memiliki wewenang menyelenggarakan Program Pendidikan Doktor berdasarkan surat Keputusan Menteri. Pasal 17 (1) Pemberian gelar Doktor Kehormatan dapat diusulkan oleh senat fakultas dan dikukuhkan oleh senat universitas/institut yang memiliki wewenang. Memiliki gelar akademik sekurang-kurangnya Sarjana.untuk memperoleh persetujuan Menteri. Telah dinyatakan lulus dari perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional.teknologi. 2. Berjasa luar biasa dalam pengembangan suatu disiplin ilmu pengetahuan. 2. Pasal 16 (1) Syarat bagi calon penerima gelar Doktor Kehormatan adalah: 1. BAB VII GELAR DOKTOR KEHORMATAN Pasal 15 Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dapat diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan.1. . Telah menyelesaikan semua kewajiban dan/atau tugas yang dibebankan dalam mengikuti suatu program studi baik untuk pendidikan akademik maupun pendidikan profesional sesuai dengan ketentuan yang berlaku.teknologi. (2) Usul pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) diajukan oleh Rektor kepada Menteri dengan disertai pertimbangan lengkap atas karya atau jasa yang bersangkutan. kebudayaan. 3. Telah menyelesaikan kewajiban administrasi dan keuangan berkenaan dengan program studi yang diikuti sesuai ketentuan yang berlaku.kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan.kebudayaan.

(3) Usul dan pertimbangan pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bersifat rahasia.C) ditempatkan didepan nama penerima hak atas gelar tersebut. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh Direktur Jenderal. BAB VIII KETENTUAN LAIN Pasal 20 Perguruan Tinggi yang tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak dibenarkan memberikan gelar akademik. Pasal 19 Gelar Doktor Kehormatan. (2) Pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan tatacara yang berlaku di Universitas/ institut yang bersangkutan. Pasal 21 (1) Gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diperoleh secara tidak sah tidak dapat dicabut atau ditiadakan oleh siapapun. (2) Keabsahan perolehan gelar akademik dan/atau sebutan profesional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat ditinjau kembali karena alasan akademik. Pasal 22 Penggunaan gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang tidak sesuai dengan Keputusan ini dikenakan ancaman pidana seperti dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 18 (1) Pemberian gelar Doktor Kehormatan hanya dapat dilakukan apabila mendapat persetujuan Menteri. sebutan profesional. disingkat Dr (H. sebutan profesi dan/atau gelar doktor kehormatan. .

BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 25 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional seperti diatur dalam Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan.Pasal 23 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri digunakan sesuai pola dan cara pemakaian yang berlaku di negara yang bersangkutan dan tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan/atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan/atau sebutan profesional sebagaimana diatur dalam Keputusan ini. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Februari 1993 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd. (2) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri perlu pengesahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (3) Gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan/atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri. (2) Gelar akademik yang diberikan oleh perguruan tinggi di dalam negeri sebelum Keputusan ini berlaku dapat tetap dipakai sebagaimana adanya. Pasal 24 Gelar akademik dan sebutan profesional yang dapat diberikan oleh perguruan tinggi di lingkungan Departemen Pertahanan dan Keamanan ditetapkan dalam ketentuan tersendiri. Pasal 26 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. .

Psi 7. Psikologi Sarjana Psikologi S. 7. Kelompok Program Studi Gelar Akademik Singkatan Urut ——————————————————————— 1. Kedokteran Sarjana Kedokteran S.H. Semua Rektor Universitas. Sastra Sarjana Sastra S.Sos 6. Direktur Akademi dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ilmu Sosial Sarjana Ilmu Sosial S. 3.IP 5. Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktur dan Kepala Pusat di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 9. Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan Mardiah NIP : 130 344 753 LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS GELAR AKADEMIK SARJANA ——————————————————————— No. 5.Ked .E. Semua Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di Propinsi. 11. Inspektur Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2. Komisi IX DPR-RI. Semua Kepala Biro. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.S. 10. 4.Fuad Hasan Salinan keputusan ini disampaikan kepada : 1. Hukum Sarjana Hukum S. Ilmu Politik Sarjana Ilmu Politik S. Institut. 3. 8. 6. Inspektorat Jenderal dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan. Inspektur. Ekonomi Sarjana Ekonomi S. Semua Direktur Jenderal dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 4. Semua Sekretaris Direktorat Jenderal. Semua Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta. Semua Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Propinsi. Ketua Sekolah Tinggi. 2.

S.T 18.8. Teknik Sarjana Teknik S.Ag Daftar jenis gelar akademik Sarjana ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Pasal 7 ayat (3) Keputusan ini.Pi 14. Teknologi Pertanian Sarjana Teknologi Perta. Pertanian Sarjana Pertanian S.TP nian 12. Kelompok Program Studi Gelar Akademik Singkatan Urut ———————————————————————– 1. Hukum Magister Humaniora M. Matematikan dan Ilmu Sarjana Sains S. Agama Sarjana Agama S. Sastra Magister Humaniora M. Komputer dan Informatika Sarjana Komputer S. Seni Sarjana Seni S. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd Fuad Hassan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan Mardiah NIP : 130 344 753 LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS GELAR AKADEMIK MAGISTER ———————————————————————– N0. Pendidikan Sarjana Pendidikan S. Kedokteran Gigi Sarjana Kedokteran Gigi S.Si Pengetahuan Alam 17.Pt 13.Hut 15.KG 10. Kesehatan Masyarakat Sarjana Kesehatan Masya.S.Kom 19.Pd 21. Kehutanan Sarjana Kehutanan S. Peternakan Sarjana Peternakan S.KH 16.Sn 20.KM rakat 9.Hum 2.P 11. Kedokteran Hewan Sarjana Kedokteran Hewan S.Hum . Perikanan Sarjana Perikanan S.

Magister Sains M. Pendidikan Magister Pendidikan M. Pengkajian Ketahanan Nasional Magister Sains M. Kehutanan Magister Pertanian M.Si 9. Seni Magister Seni M.3.Si 13. Kedokteran Gigi Magister Kesehatan M.Ag Daftar jenis gelar akademik Magister ini merupakan bagian yang tidak pisahkan dengan Pasal 7 ayat (3) Keputusan ini. Ilmu Ternak Magister Pertanian M. Sosiologi Magister Sains M.Si 12.P 24. Fuad Hasan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangnan.T 25.Si 11.P 19. Teknologi Pertanian Magister Pertanian M. Teknik Magister Teknik M. Mardiah NIP : 130 344 753 . Studi Wilayah Magister Sains M. Kesehatan Masyarakat Magister Kesehatan M.P 21. Ekonomi lainnya Magister Sains M. Ilmu Komputer dan Informatika Magister Komputer M.P 20. Penyuluhan Pembangunan Magister Pertanian M.P 22. Matematika dan Ilmu Penge. Kedokteran Hewan Magister Pertanian M. Ilmu Sosial dan Politik Magister Sains M.Si 10.P 18.Pd 28. Ekonomi Manajemen Magister Manajemen M. Psikologi Magister Sains M.Kom 26.Kes 15.M.Hum 4. 5. Perikanan Magister Pertanian M. Kajian Wanita Magister Humaniora M. Kesehatan Magister Kesehatan M.Kes 16.Si 8. Pertanian Magister Pertanian M.Si 6.P 23. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd.Si tahuan alam 14. Ilmu Lingkungan Magister Sains M. Ilmu Perpustakaan Magister Sains M.Si 7. Agama Magister Agama M.Sn 27.Kes 17.

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd.LAMPIRAN III KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS SEBUTAN PROFESI ————————————————————– NO BIDANG KEAHLIAN SEBUTAN PROFESI ————————————————————– 1. Arsitektur Arsitek Daftar Jenis Sebutan Profesi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Pasal 13 ayat (3) Keputusan ini. Farmasi Apoteker 3. Kedokteran Gigi Dokter Gigi 6. Hukum Notaris. Ekonomi Akuntan 4. Fuad Hasan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangnan. Psikologi Psikologi 7. Kedokteran Dokter 2. . Pengacara 8. Kedokteran Hewan Dokter Hewan 5.

Komputer. atau vokasi. (2) Perseorangan. Kepmendiknas no 178/U/2001 pasal 1-12 Sedangkan untuk pengaturan/pemakaian nama prodi dan bidang keilmuan berpedoman pada SK Dirjen Dikti no 163/DIKTI/Kep/2007 bersama lampiran 1 & 2. >>> . atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan. atau vokasi sesuai dengan program studi yang diselenggaranya. Surat Edaran Dirjen Dikti no 1030/D/T/2010 tentang kodefikasi kembali prodi bidang psikologi. PP no 17 tahun 2010 pasal 98 dan 99. Lain . (3) Gelar akademik. Komunikasi dan Lanskap UU No. profesi. (4) Penggunaan gelar akademik. atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan tinggi yang dinyatakan berhak memberian gelar akademik. profesi. profesi.Lain Download format PDF no comments Produk hukum yang mengatur penulisan dan penggunan gelar perguruan tinggi terdapat di : UU Sisdiknas pasal 21 ayat (4). (5) Penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagai mana maksud dalam ayat (1) atau penyelengara pendidikan yang bukan perguruan tinggi yang melakukan tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa penutupan penyelenggaraan pendidikan. organisasi atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan tinggi dilarang memberikan gelar akademik. atau vokasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dalam ayat (1) atau penyelenggara yang bukan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dinyatakan tidak sah. profesi. atau vokasi. profesi.Penulisan dan Penggunaan Gelar Perguruan Tinggi 7. (6) Gela akademik. profesi. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21 (1) Perguruan Tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik.302 views Info Penting.

ahli pratama untuk lulusan diploma satu.Ma.P. 17 tahun 2010 sudah diharuskan mencantumkan inisial prodi atau bidang keahlian diikuti gelar yang diperolehnya.Md. yang ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. vokasi. dan diikuti dengn inisial program studi atau bidang keahlian Perhatikan untuk gelar pendidikan vokasi. . doktor. gelar profesi.17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 98 tentang penggunaan gelar perguruan tinggi dalam negeri (1) Lulusan Pendidikan akadimik.S. profesi atau spesialis berhak untuk menggunakan gelar akademik. sarjana. yang ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian. d. ahli muda untuk lulusan diploma dua. sebelumnya menurut Permendiknas No. (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. margister. (4) Gelar untuk lulusan profesi ditulis di depan atau di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan bidang profesinya. atau gelar spesialis. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A. sarjana sains terapan untuk lulusan diploma empat. c. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huru S. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. (2) Gelar untuk pendidikan akademik terdiri atas: a. di PP no. ahli madya untuk lulusan diploma tiga.T. gelar vokasi. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. yang ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. c. b.178/U/2001 pasal 11 hanya tulis gelar tak diikuti inisial prodi atau bidang keahlian.PP No. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian. b. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A.

Sebutan profesional adalah sebutan yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. BAB II . 3. Pendidikan akademik adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasan ilmu pengetahuan dan pengetahuan. (2) Dalam ijazah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan pula nama program studi yang bersangkutan secara lengkap. Program studi adalah merupakan pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesioal yang diselenggarakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh perguruan tinggi. Menteri adalah Menteri Pendidikan Nasional. >>> Kepmendiknas No. 2. (2) Menteri menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia. (2) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk gelar akademik merupakan program studi. 4. (6) Ketentuan lebih lanjut tentang gelar sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan menteri (sampai hari ini 05 Jan 2011 belum terbit sehingga Permendiknas no 178 tahun 2001 masih berlaku terkecuali yang bertentangan dengan PP No.(5) Gelar untuk lulusan pendidikan spesialis ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf Sp. 7. 178/U/2001 tentang Gelar dan Lulusan Luar Negeri Pasal 1 1. Pasal 2 (1) Penetapan jenis gelar akademik dan sebutan profesional didasarkan atas bidang keahlian. dan diikuti dengan singkatan bidang spesialisasinya. (3) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk sebutan profesional merupakan program studi. Pendidikan dan profesional adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. 6. 17 tahun 2010) Pasal 99 tentang penggunaan gelar perguruan tinggi luar negeri (1) Pencantuman gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai singkatan dan penempatan yang berlaku di negara asal. Gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik. Pasal 3 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi dicantumkan dalam ijazah. 5.

Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A.. Pasal 7 Penggunaan gelar akademik Sarjana dan Magister ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan dengan mencantumkan huruf S. BAB III JENIS GELAR AKADEMIK Pasal 6 Gelar akademik terdiri atas Sarjana.P. Sekolah Tinggi. Pasal 11 (1) Sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas : a.Sekolah Tinggi. b. . ditempatkan di depan nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. (2) Yang berhak menggunakan sebutan profesional adalah lulusan pendidikan profesional dari Akademi. (2) Yang berhak memberikan sebutan profesional adalah Akademi. untuk Magister disertai singkatan nama kelompok bidang keahlian. Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A.Ma. Magister dan Doktor. Pasal 8 Penetapan jenis gelar dan sebutan serta singkatannya sesuai dengan kelompok bidang ilmu dilakukan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi bersamaan dengan pemberian ijin pembukaan program studi berdasarkan usul dari perguruan tinggi yang bersangkutan sesuai dengna norma dan kepatutan akademik. c. Pasal 9 Gelar akademik Doktor disingkat Dr. d. Institut atau Universitas.Md. Pasal 5 (1) Yang berhak memberikan gelar akademik adalah Sekolah Tinggi. Sarjana Sains Terapan untuk Program Diploma IV disingkat SST (2) Singkatan sebutan profesional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan tersebut. Institut atau Universitas. Politeknik. BAB IV JENIS SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 10 Penggunaan sebutan profesional dalam bentuk singkatan ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan.GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 4 (1) Yang berhak menggunakan gelar akademik adalah lulusan pendidikan akademik dari Sekolah Tinggi. untuk Sarjana dan huruf M. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A. Institut atau Universitas yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Institut atau Universitas. Politeknik.

>>> Sk Dirjen Dikti no. . (2) Gelar akademik dan sebutan profesional hanya digunakan atau dicantumkan pada dokumen resmi yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan pekerjaan.BAB V PENGGUNAAN GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 12 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang digunakan oleh yang berhak menerima adalah satu gelar akademik dan/atau sebutan profesional jenjang tertinggi yang dimiliki oleh yang berhak. Komputer. 163/DIKTI/Kep/2007 tentang Penataan dan Kodifikasi Prodi Pada Perguruan Tinggi >>> Dalam waktu dekat akan terbit SK baru Dirjen Dikti yang menggantikan SK 163. Komunikasi dan Lanskap yang mana sebagian besar nama prodi dan gelar akademik keempat bidang ilmu ini mengalami perubahan. sementara waktu untuk memenuhi kebutuhan pembukaan prodi baru pada 26 Agustus 2010 sudah terbit Surat Edaran Dirjen Dikti no 1030/D/T/2010 tentang kodefikasi kembali prodi bidang psikologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful