GELAR SARJANA DI INDONESIA

Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Sarjana Akuntansi (SE.Ak) Arsitektur (S.Ars.) Agama (S.Ag.) Desain (S.Ds.) Perikanan (S.Pi.) Pertanian (S.P.) Peternakan (S.Pt.) Psikologi (S.Psi.) Sains - Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi (S.Si.) Sains Terapan (S.S.T) Ilmu Sosial (S.Sos.) Sastra (S.S.) Seni (S.Sn.) Teknologi Pertanian (S.T.P.) Teknik (S.T.) Theologi (S.Th.)

GELAR MAGISTER Magister Administrasi Rumah Sakit (M.A.R.S.) Magister Akuntansi (M.Ak.) Magister Arsitektur (M.Ars.) Magister Biomedik (M.Biomed.) Magister Ekonomi (M.E.) Magister Epidemiologi (M.Epid.) Magister Farmasi (M.Farm) Magister Farmasi Klinik (M.Farm.Klin) Magister Hukum (M.H.) Magister Humaniora (M.Hum.) Magister Ilmu Gizi (M.Gizi) Magister Ilmu Komputer (M.Kom.) Magister Kedokteran Kerja (M.K.K.) Magister Kenotariatan (M.Kn.) Magister Keperawatan (M.Kep.) Magister Kesehatan (M.Kes.) Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M.) Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (M.K.K.K.) Magister Manajemen (M.M.) Magister Pendidikan (M.Pd.) Magister Sains (M.Si.) Magister Sains Akuntansi (M.S.Ak.) Magister Sains Ekonomi (M.S.E.) Magister Sains Manajemen (M.S.M.) Magister Teknik (M.T.) Magister Teknologi Informasi (M.T.I.)

I.) Pertanian (M.) Kehutanan (M.P.) Pendidikan Islam (M.) .P.) Manajemen Agrisbisnis (M.) Seni (M.I.) Pemikiran Islam (M.Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Magister Manajemen Teknik (M.H./M.Psi.Hut.) Agama bidang Humaniora (MA.) Administrasi Publik (M.A.) Filsafat (M.E.I.) Agama (M.T.Hum.) Filsafat Islam (M.) Theologia (M.) Ekonomi Islam (M.Sn.P.I.) Teknologi Agroindustri (M.I.S.Ag.) Teknologi Pertanian (M.A.Pd.A.Fil.T.T.) Psikologi (M.Fil.M.I.M.) Hukum Islam (M.P.A.Th.) Studi Islam (M.

2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989. b. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan a. MEMUTUSKAN: . c. Nomor 0686/U/1991 tanggal 20 Desember 1991. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990. b. Nomor 15 Tahun 1984. Hasil Rapat Kerja Nasional Rektor /Ketua/Direktur Perguruan Tinggi Negeri dan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan se Indonesia tanggal 18 sampai dengan tanggal 20 November 1992 di Jakarta. 3. Nomor 64/M Tahun 1988. Nomor 44 Tahun 1974. yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1992.GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI 11 12 2007 KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 036/U/1993 TENTANG GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Bab VII Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi dipandang perlu menetapkan gelar dan sebutan lulusan perguruan tinggi. Surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 113 /D/T/1993 tanggal 25 Januari 1993. Nomor 0222c/0/1980 tanggal 11 September 1980. 2. Memperhatikan : 1. 4. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia : a.

6. Penetapan jenis gelar akademik. 3. keterampilan. Pendidikan akademik adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk gelar akademik merupakan program studi dan/atau pengelompokan program studi. 2. dan sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum. 2). Sebutan profesional adalah sebutan yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional. Gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik. Menteri adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 7. 5. 4. Pendidikan profesional adalah pendidikan yang diarahkan pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Sebutan profesi adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki gelar akademik yang telah menyelesaikan program keahlian atau profesi bidang tertentu. Program studi adalah kesatuan rencana belajar sebagai pedoman Penye lenggaraan pendidikan akademik dan/ atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum yang ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan. 8. sebutan profesional dan sebutan profesi didasarkan atas bidang keahlian.Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG GELAR DAN SEBUTAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI. . BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Pasal 2 1).

Institut atau Universitas.Institut atau Universitas yang memenuhi persyaratan. Pasal 5 1).sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 3). Yang berhak memberikan sebutan profesi adalah seseorang yang memiliki gelar akademik dan telah menyelesaikan program keahlian atau profesi dalam bidang tertentu. Institut atau Universitas.Sekolah Tinggi.Magister dan Doktor.Politeknik. Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk sebutan profesional merupakan program studi Pasal 3 1). Yang berhak menggunakan sebutan profesional adalah lulusan Pendidikan profesional dari Akademi. 2). Yang berhak menggunakan gelar akademik adalah lulusan pendidikan akademik dari Sekolah Tinggi. SEBUTAN PROFESIONAL DAN SEBUTAN PROFESI Pasal 4 1).Sekolah Tinggi. Politeknik. Gelar akademik.3). Yang berhak memberikan gelar akademik adalah Sekolah Tinggi. 2).Institut dan Universitas yang memenuhi persyaratan. sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 2). Yang berhak memberikan sebutan profesional adalah Akademi. BAB III JENIS GELAR AKADEMIK Pasal 6 Gelar akademik terdiri atas Sarjana. . sebutan profesional dan sebutan profesi yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi dicantumkan dalam ijazah. Dalam ijazah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan pula nama bidang keahlian dan program studi yang bersangkutan secara lengkap. BAB II GELAR AKADEMIK.

Pasal 11 Penggunaan sebutan profesional dalam bentuk singkatan ditempatkan dibelakang nama yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan. Ahli untuk Program Diploma IV disingkat A. Pasal 8 Penggunaan gelar akademik dan bidang keahlian untuk Sarjana dan Magister dalam bentuk singkatan ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. (2) Jenis gelar akademik Magister dan bidang keahlian serta singkatannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Keputusan ini. 2.Pasal 7 (1) Jenis gelar akademik Sarjana dan bidang keahlian serta singkatannya adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.P. akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal. (3) Jenis gelar akademik dan bidang keahlian serta singkatannya yang belum tercantum dalam Lampiran I dan II. 3. 4.Md. Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A. Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A.Ma. Pasal 12 (1) Sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas: 1. . ditempatkan di depan nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. BAB IV JENIS SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 10 Sebutan profesional terdiri atas sebutan profesional untuk lulusan Program Diploma dan sebutan profesional untuk lulusan Program Spesialis. Pasal 9 Gelar akademik Doktor disingkat Dr.

(3) Singkatan sebutan profesional dan nama bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan tersebut.berhak menggunakan sebutan profesi. (4) Penggunaan sebutan profesi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) ditempatkan setelah gelar akademik Sarjana. BAB V JENIS SEBUTAN PROFESI Pasal 13 (1) Seorang Sarjana yang telah menyelesaikan program pendidikan keahlian untuk profesi tertentu. (3) Jenis sebutan profesi dan bidang keahlian yang belum tercantum pada lampiran III akan diterapkan oleh Direktur Jenderal dengan memperhatikan usul dan pertimbangan prganisasi profesi yang diakui Pemerintah.(2) Sebutan profesional lulusan Program Spesialis terdiri atas Spesialis disingkat Sp untuk lulusan Program Spesialis I dan Spesialis Utama disingkat Sp. (2) Jenis sebutan profesi adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran III. BAB VI SYARAT PEMBERIAN GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Bagian Pertama Syarat Pemberian Gelar Akademik dan Sebutan Profesional Pasal 14 Syarat pemberian gelar akademik. sebutan profesional dan sebutan profesi adalah : .U untuk lulusan Program Spesialis II. (4) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) adalah sama dengan nama program studi yang telah ditetapkan berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Pasal 17 (1) Pemberian gelar Doktor Kehormatan dapat diusulkan oleh senat fakultas dan dikukuhkan oleh senat universitas/institut yang memiliki wewenang. (2) Syarat perguruan tinggi yang dapat memberikan gelar Doktor Kehormatan adalah universitas dan institut yang memiliki wewenang menyelenggarakan Program Pendidikan Doktor berdasarkan surat Keputusan Menteri. kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan. 2.teknologi. Berjasa luar biasa dalam pengembangan suatu disiplin ilmu pengetahuan.1.kebudayaan.kemasyarakatan dan/atau kemanusiaan. 2.teknologi.untuk memperoleh persetujuan Menteri. (2) Usul pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) diajukan oleh Rektor kepada Menteri dengan disertai pertimbangan lengkap atas karya atau jasa yang bersangkutan. kebudayaan. Memiliki gelar akademik sekurang-kurangnya Sarjana. . Telah menyelesaikan semua kewajiban dan/atau tugas yang dibebankan dalam mengikuti suatu program studi baik untuk pendidikan akademik maupun pendidikan profesional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 16 (1) Syarat bagi calon penerima gelar Doktor Kehormatan adalah: 1. BAB VII GELAR DOKTOR KEHORMATAN Pasal 15 Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dapat diberikan kepada seseorang yang telah berjasa luar biasa bagi ilmu pengetahuan. 3. Telah dinyatakan lulus dari perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesional. Telah menyelesaikan kewajiban administrasi dan keuangan berkenaan dengan program studi yang diikuti sesuai ketentuan yang berlaku.

(2) Keabsahan perolehan gelar akademik dan/atau sebutan profesional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat ditinjau kembali karena alasan akademik.(3) Usul dan pertimbangan pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) bersifat rahasia.C) ditempatkan didepan nama penerima hak atas gelar tersebut. Pasal 18 (1) Pemberian gelar Doktor Kehormatan hanya dapat dilakukan apabila mendapat persetujuan Menteri. (2) Pemberian gelar Doktor Kehormatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan tatacara yang berlaku di Universitas/ institut yang bersangkutan. Pasal 22 Penggunaan gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang tidak sesuai dengan Keputusan ini dikenakan ancaman pidana seperti dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh Direktur Jenderal. Pasal 21 (1) Gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diperoleh secara tidak sah tidak dapat dicabut atau ditiadakan oleh siapapun. BAB VIII KETENTUAN LAIN Pasal 20 Perguruan Tinggi yang tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak dibenarkan memberikan gelar akademik. disingkat Dr (H. sebutan profesional. sebutan profesi dan/atau gelar doktor kehormatan. . Pasal 19 Gelar Doktor Kehormatan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Februari 1993 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd. (3) Gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan/atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri. . BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 25 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional seperti diatur dalam Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan.Pasal 23 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri digunakan sesuai pola dan cara pemakaian yang berlaku di negara yang bersangkutan dan tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan/atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan/atau sebutan profesional sebagaimana diatur dalam Keputusan ini. Pasal 24 Gelar akademik dan sebutan profesional yang dapat diberikan oleh perguruan tinggi di lingkungan Departemen Pertahanan dan Keamanan ditetapkan dalam ketentuan tersendiri. (2) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri perlu pengesahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pasal 26 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. (2) Gelar akademik yang diberikan oleh perguruan tinggi di dalam negeri sebelum Keputusan ini berlaku dapat tetap dipakai sebagaimana adanya.

Inspektur Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ekonomi Sarjana Ekonomi S. 7. Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan Mardiah NIP : 130 344 753 LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS GELAR AKADEMIK SARJANA ——————————————————————— No. Semua Kepala Biro. Direktur Akademi dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.E. 2. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Psikologi Sarjana Psikologi S. Semua Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta. 11. Semua Direktur Jenderal dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hukum Sarjana Hukum S. 5. Semua Rektor Universitas. 9. Ilmu Sosial Sarjana Ilmu Sosial S. Direktur dan Kepala Pusat di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 10. Ilmu Politik Sarjana Ilmu Politik S. 2.Sos 6. Inspektorat Jenderal dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan.H. Institut.Ked .S. Inspektur. 4. Ketua Sekolah Tinggi. Semua Sekretaris Direktorat Jenderal. 8. Kelompok Program Studi Gelar Akademik Singkatan Urut ——————————————————————— 1. Semua Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di Propinsi. 3.IP 5. Komisi IX DPR-RI. Semua Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Propinsi. 6.Psi 7. 3. Kedokteran Sarjana Kedokteran S. Sastra Sarjana Sastra S. Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Fuad Hasan Salinan keputusan ini disampaikan kepada : 1. 4.

Kom 19.Hum . Agama Sarjana Agama S.Si Pengetahuan Alam 17.Sn 20. Peternakan Sarjana Peternakan S. Pendidikan Sarjana Pendidikan S.TP nian 12. Kedokteran Hewan Sarjana Kedokteran Hewan S.KH 16. Kedokteran Gigi Sarjana Kedokteran Gigi S.KG 10.S. Teknik Sarjana Teknik S. Kelompok Program Studi Gelar Akademik Singkatan Urut ———————————————————————– 1. Hukum Magister Humaniora M.KM rakat 9.Ag Daftar jenis gelar akademik Sarjana ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Pasal 7 ayat (3) Keputusan ini.Pt 13.8.S.T 18. Teknologi Pertanian Sarjana Teknologi Perta. Perikanan Sarjana Perikanan S. Komputer dan Informatika Sarjana Komputer S. Sastra Magister Humaniora M. Matematikan dan Ilmu Sarjana Sains S.Hum 2. Kesehatan Masyarakat Sarjana Kesehatan Masya.Pd 21. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd Fuad Hassan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan Mardiah NIP : 130 344 753 LAMPIRAN II KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS GELAR AKADEMIK MAGISTER ———————————————————————– N0. Pertanian Sarjana Pertanian S. Kehutanan Sarjana Kehutanan S.Pi 14. Seni Sarjana Seni S.P 11.Hut 15.

Teknik Magister Teknik M.Sn 27.Si 8. Pengkajian Ketahanan Nasional Magister Sains M. Ilmu Perpustakaan Magister Sains M.P 23.Kes 17. Ekonomi Manajemen Magister Manajemen M.Si 10.P 22. Agama Magister Agama M. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd. 5.Kes 15. Kesehatan Masyarakat Magister Kesehatan M. Ilmu Ternak Magister Pertanian M. Seni Magister Seni M.Si 7.P 20. Ilmu Sosial dan Politik Magister Sains M.Si tahuan alam 14.Ag Daftar jenis gelar akademik Magister ini merupakan bagian yang tidak pisahkan dengan Pasal 7 ayat (3) Keputusan ini. Pertanian Magister Pertanian M.Magister Sains M.P 18.Pd 28. Kehutanan Magister Pertanian M.Si 13. Kajian Wanita Magister Humaniora M. Psikologi Magister Sains M. Teknologi Pertanian Magister Pertanian M. Ilmu Lingkungan Magister Sains M.Si 12.M. Mardiah NIP : 130 344 753 .P 24.Kom 26.T 25. Matematika dan Ilmu Penge. Penyuluhan Pembangunan Magister Pertanian M. Ekonomi lainnya Magister Sains M. Pendidikan Magister Pendidikan M.Si 6.Hum 4. Fuad Hasan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangnan.Kes 16.P 21. Kesehatan Magister Kesehatan M.3. Sosiologi Magister Sains M. Ilmu Komputer dan Informatika Magister Komputer M.Si 9. Studi Wilayah Magister Sains M. Kedokteran Gigi Magister Kesehatan M.Si 11. Perikanan Magister Pertanian M. Kedokteran Hewan Magister Pertanian M.P 19.

Farmasi Apoteker 3. Hukum Notaris. Kedokteran Hewan Dokter Hewan 5. . Psikologi Psikologi 7. Kedokteran Gigi Dokter Gigi 6. MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ttd. Ekonomi Akuntan 4. Fuad Hasan Salinan sesuai dengan aslinya Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangnan. Kedokteran Dokter 2. Arsitektur Arsitek Daftar Jenis Sebutan Profesi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Pasal 13 ayat (3) Keputusan ini. Pengacara 8.LAMPIRAN III KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 036/U/1993 TANGGAL 9 FEBRUARI 1993 JENIS SEBUTAN PROFESI ————————————————————– NO BIDANG KEAHLIAN SEBUTAN PROFESI ————————————————————– 1.

(2) Perseorangan. organisasi atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan tinggi dilarang memberikan gelar akademik. atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan tinggi yang dinyatakan berhak memberian gelar akademik. Surat Edaran Dirjen Dikti no 1030/D/T/2010 tentang kodefikasi kembali prodi bidang psikologi. (5) Penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagai mana maksud dalam ayat (1) atau penyelengara pendidikan yang bukan perguruan tinggi yang melakukan tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa penutupan penyelenggaraan pendidikan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21 (1) Perguruan Tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik. Lain . >>> .Penulisan dan Penggunaan Gelar Perguruan Tinggi 7. atau vokasi. profesi. profesi. atau vokasi. PP no 17 tahun 2010 pasal 98 dan 99. (6) Gela akademik. (3) Gelar akademik. Komputer. profesi. atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan. Kepmendiknas no 178/U/2001 pasal 1-12 Sedangkan untuk pengaturan/pemakaian nama prodi dan bidang keilmuan berpedoman pada SK Dirjen Dikti no 163/DIKTI/Kep/2007 bersama lampiran 1 & 2. atau vokasi sesuai dengan program studi yang diselenggaranya. profesi. Komunikasi dan Lanskap UU No. profesi.302 views Info Penting. atau vokasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dalam ayat (1) atau penyelenggara yang bukan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dinyatakan tidak sah.Lain Download format PDF no comments Produk hukum yang mengatur penulisan dan penggunan gelar perguruan tinggi terdapat di : UU Sisdiknas pasal 21 ayat (4). (4) Penggunaan gelar akademik. profesi.

ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A.PP No. (4) Gelar untuk lulusan profesi ditulis di depan atau di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan bidang profesinya. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. dan diikuti dengn inisial program studi atau bidang keahlian Perhatikan untuk gelar pendidikan vokasi. ahli pratama untuk lulusan diploma satu. (3) Gelar untuk pendidikan vokasi terdiri atas: a. vokasi. atau gelar spesialis. gelar vokasi. di PP no. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian. yang ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S. gelar profesi. c. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huru S. c. ahli muda untuk lulusan diploma dua. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A. doktor. yang ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M. b.178/U/2001 pasal 11 hanya tulis gelar tak diikuti inisial prodi atau bidang keahlian. 17 tahun 2010 sudah diharuskan mencantumkan inisial prodi atau bidang keahlian diikuti gelar yang diperolehnya. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang ilmu. ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf A. profesi atau spesialis berhak untuk menggunakan gelar akademik. margister. sarjana. d. sarjana sains terapan untuk lulusan diploma empat. (2) Gelar untuk pendidikan akademik terdiri atas: a. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian.Ma.17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 98 tentang penggunaan gelar perguruan tinggi dalam negeri (1) Lulusan Pendidikan akadimik.Md. yang ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. b. dan diikuti dengan inisial program studi atau bidang keahlian. sebelumnya menurut Permendiknas No.S.T.P. ahli madya untuk lulusan diploma tiga. .

(5) Gelar untuk lulusan pendidikan spesialis ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf Sp. Pendidikan akademik adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasan ilmu pengetahuan dan pengetahuan. 17 tahun 2010) Pasal 99 tentang penggunaan gelar perguruan tinggi luar negeri (1) Pencantuman gelar lulusan perguruan tinggi luar negeri tetap menggunakan gelar sesuai singkatan dan penempatan yang berlaku di negara asal. dan diikuti dengan singkatan bidang spesialisasinya. 5. Pendidikan dan profesional adalah pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu. Menteri adalah Menteri Pendidikan Nasional. 6. 4. BAB II . (3) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk sebutan profesional merupakan program studi. (2) Dalam ijazah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan pula nama program studi yang bersangkutan secara lengkap. Pasal 3 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi dicantumkan dalam ijazah. 7. Gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik. >>> Kepmendiknas No. Program studi adalah merupakan pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesioal yang diselenggarakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh perguruan tinggi. 2. (6) Ketentuan lebih lanjut tentang gelar sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (5) diatur dengan peraturan menteri (sampai hari ini 05 Jan 2011 belum terbit sehingga Permendiknas no 178 tahun 2001 masih berlaku terkecuali yang bertentangan dengan PP No. Sebutan profesional adalah sebutan yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan profesional. (2) Menteri menetapkan kesetaraan ijazah perguruan tinggi luar negeri dengan ijazah dan gelar perguruan tinggi Indonesia. (2) Bidang keahlian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk gelar akademik merupakan program studi. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Pasal 2 (1) Penetapan jenis gelar akademik dan sebutan profesional didasarkan atas bidang keahlian. 178/U/2001 tentang Gelar dan Lulusan Luar Negeri Pasal 1 1. 3.

Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A. Institut atau Universitas. c. BAB III JENIS GELAR AKADEMIK Pasal 6 Gelar akademik terdiri atas Sarjana. b.Md. Pasal 11 (1) Sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas : a.P. BAB IV JENIS SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 10 Penggunaan sebutan profesional dalam bentuk singkatan ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan.Sekolah Tinggi. Sarjana Sains Terapan untuk Program Diploma IV disingkat SST (2) Singkatan sebutan profesional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan tersebut. Pasal 8 Penetapan jenis gelar dan sebutan serta singkatannya sesuai dengan kelompok bidang ilmu dilakukan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi bersamaan dengan pemberian ijin pembukaan program studi berdasarkan usul dari perguruan tinggi yang bersangkutan sesuai dengna norma dan kepatutan akademik. Sekolah Tinggi. Pasal 7 Penggunaan gelar akademik Sarjana dan Magister ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan dengan mencantumkan huruf S. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A. Institut atau Universitas yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. Pasal 5 (1) Yang berhak memberikan gelar akademik adalah Sekolah Tinggi. Politeknik. (2) Yang berhak menggunakan sebutan profesional adalah lulusan pendidikan profesional dari Akademi. ditempatkan di depan nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan. untuk Magister disertai singkatan nama kelompok bidang keahlian. Magister dan Doktor. untuk Sarjana dan huruf M. d. Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A.Ma.. Pasal 9 Gelar akademik Doktor disingkat Dr. Institut atau Universitas. . Politeknik.GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 4 (1) Yang berhak menggunakan gelar akademik adalah lulusan pendidikan akademik dari Sekolah Tinggi. Institut atau Universitas. (2) Yang berhak memberikan sebutan profesional adalah Akademi.

163/DIKTI/Kep/2007 tentang Penataan dan Kodifikasi Prodi Pada Perguruan Tinggi >>> Dalam waktu dekat akan terbit SK baru Dirjen Dikti yang menggantikan SK 163.BAB V PENGGUNAAN GELAR AKADEMIK DAN SEBUTAN PROFESIONAL Pasal 12 (1) Gelar akademik dan sebutan profesional yang digunakan oleh yang berhak menerima adalah satu gelar akademik dan/atau sebutan profesional jenjang tertinggi yang dimiliki oleh yang berhak. >>> Sk Dirjen Dikti no. Komputer. Komunikasi dan Lanskap yang mana sebagian besar nama prodi dan gelar akademik keempat bidang ilmu ini mengalami perubahan. sementara waktu untuk memenuhi kebutuhan pembukaan prodi baru pada 26 Agustus 2010 sudah terbit Surat Edaran Dirjen Dikti no 1030/D/T/2010 tentang kodefikasi kembali prodi bidang psikologi. (2) Gelar akademik dan sebutan profesional hanya digunakan atau dicantumkan pada dokumen resmi yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan pekerjaan. .