Anda di halaman 1dari 20

STATUS RESPONSI ILMU KESEHATAN ANAK RS. DUSTIRA / FAKULTAS KEDOKTERAN UNJANI I. ANAMNESIS A.

KETERANGAN UMUM Nama penderita Jenis kelamin Tempat tanggal lahir Alamat Ayah : Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat Ibu : Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat : Nurul : Perempuan : Bandung, 01 september 2003 (4 tahun) : Kp. Purabaya Jaya Mekar no.32 RT 03/06 Padalarang : Tn. Suprianto : 45 thn : SMU : TNI (Pelda / 547534 Kesatuan JIDAM III/Slw) : Rp. 1.262.500,-/bln : Kp. Purabaya Jaya Mekar no.32 RT 03/06 Padalarang : Ny. Herni Hendrayati : 38 thn : SMU : Ibu Rumah Tangga :: Kp. Purabaya Jaya Mekar no.32 RT 03/06 Padalarang :11 Septmber 2007 : 11 September 2007

Tanggal masuk Rumah Sakit Tanggal pemeriksaan

B. KELUHAN UTAMA Sesak Nafas C. ANAMNESIS KHUSUS Sejak 2 jam keluhan sesak nafas terjadi setelah penderita bermain dan makan es bersama temannya di sore hari. Keluhan sesak disertai dengan suara nafas mengi. Keluhan tidak dipengaruhi oleh aktivitas atau berkurang dengan posisi tubuh yang berubah. Keluhan sesak tidak didahului atau disertai dengan adanya bengkak pada kedua kelopak mata atau seluruh tubuh. Keluhan sesak tidak disertai dengan kejang dan penurunan kesadaran. Keluhan sesak yang didahului oleh tersedak tidak ada. Kemudian ibunya memberi penderita dengan salbutamol tablet dan mengalami perbaikan. Tetapi keluhan sesak semakin memburuk dan tidak berkurang dengan pemberian obat. D. ANAMNESIS UMUM Keluhan sesak terjadi rata rata 2x dalam 1 minggu, gejala sesak pada malam hari rata rata terjadi 1x dalam 1 bulan, bahkan sering tidak terjadi serangan dalam beberapa bulan. Setiap kali serangan rata rata 15 - 20 menit lamanya. Keluhan disertai dengan batuk tanpa dahak selama periode sesak. Keluhan sesak nafas pertama kali timbul saat penderita berusia 2 tahun, saat itu penderita diberikan terapi uap oleh UGD RS DUSTIRA dan keadaaannya membaik. Terakhir dirawat pada tanggal 2 Juli 2006 dengan keluhan sesak nafas. Diluar serangan sesak nafas, penderita masih bisa beraktivitas biasa seperti makan dan minum. Saat sesak nafas terjadi penderita masih bisa berbicara berupa kalimat, masih bisa berbaring, masih bisa berjalan. Keluhan sesak nafas tidak disertai dengan panas badan. Keluhan sesak nafas biasanya timbul bila penderita terlalu capek main dengan teman temannya, bila cuaca udara dingin, atau di tempat yang banyak debunya. BAK & BAB tidak ada kelainan. Riwayat adanya bersin bersin setiap pagi hari ada. Riwayat alergi terhadap cuaca dingin dan debu ada. Riwayat penyakit asma di keluarga ada yaitu kakeknya. Riwayat pengobatan penyakit paru dalam jangka waktu 6 bulan atau lebih tidak ada. 2

Ibu penderita biasanya selalu menyediakan obat yang diberikan kepada penderita jika mulai terlihat sesak. Namun, serangan kali ini dirasa lebih berat sehingga penderita dibawa ke UGD RS DUSTIRA. E. ANAMNESIS TAMBAHAN Riwayat persalinan Penderita lahir dari seorang ibu P3A0 yang merasa hamil cukup bulan, dan di tolong oleh bidan. Penderita lahir spontan, letak kepala, langsung menangis, berat badan 3100 gram dan panjang badan 52 cm. Penderita sejak lahir langsung mendapat ASI yang diberikan sesuai keinginan penderita. 1. Riwayat Imunisasi ( Tulis tanggal/umur imunisasi) NAMA HEPATITIS B POLIO BCG DPT CAMPAK LAIN-LAIN DASAR 0 bulan, 1 bulan, 6 bulan 0 bln 2 bln 3 bln 4 bln 2 tahun 0 bulan 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan 9 bulan 2 tahun 15 bulan ULANGAN

2.

Keadaan Kesehatan Ayah : Sehat Ibu : Sehat Saudara : 1. Kakak : Sehat 2. Kakak : Sehat

Riwayat Kepandaian Berbalik badan Duduk tanpa bantuan Duduk tanpa pegangan Bicara 1 kata Bicara 1 kalimat : 4 bulan : 6 bulan : 8 bulan : 9 bulan : 12 bulan 3

Berjalan 1 tangan dipegang Berjalan tanpa dipegang Membaca Menulis Riwayat Makanan UMUR 0 4 Bulan 4 6 Bulan 6 10 Bulan 10 12 Bulan 12 24 Bulan 24 Bulan - sekarang

: 11 bulan : 12 bulan ::-

MAKANAN ASI ASI + SF on demand ASI + Bubur susu ASI + bubur nasi sesukanya ASI + nasi tim sesukanya Porsi makanan keluarga + Susu

II. PEMERIKSAAN FISIK 1. Pengukuran Umur BB Panjang Badan Status Gizi TANDA VITAL Respirasi Tekanan darah Suhu Nadi Keadaan sakit Kuantitatif Kualitatif 3. Pemeriksaam Fisik 4 : 47x/mnt : 110/70 mmHg : 36,7 C : 120x /mnt, Kualitas : Equal, Regular, Isi cukup. : tampak sakit berat : GCS 15 : Composmentis : 4 th : 16,5 kg : 112 cm : 100 % CDC

KEADAAN UMUM (kesan umum dari pemeriksaan)

Kepala Mata Hidung Sianosis Mulut Langit-langit Lidah Faring Tonsil 3. Leher Tekanan Vena Kaku Kuduk Lain-lain 4. Thorax

: simetris : sclera icteric -/-, conjungtiva anemis -/: PCH (-) Rhinorhea (-) : Sentral/perifer (-) : Tidak ada Kelainan : bersih, basah : Tidak Hiperemis : T1-T1 tenang : KGB tidak teraba, retraksi suprasternal (-) : Tidak meningkat : Tidak ada : Tidak ada kelainan

a. Dinding Dada/Paru Depan 1. Inspeksi : bentuk dan gerak simetris, retraksi interkostalis (+) 2. Palpasi : VF kanan = kiri 3. Perkusi : sonor kiri = sonor kanan 4. Auskultasi : VBS kanan = kiri, ekspirasi memanjang Ronkhi -/-, Wheezing +/+ Belakang 1. Inspeksi : bentuk dan gerak simetris, retraksi interkostalis (+) 2. Palpasi : VF kanan = kiri 3. Perkusi : sonor kiri = sonor kanan 4. Auskultasi : VBS kanan = kiri, ekspirasi memanjang Ronkhi -/-, Wheezing +/+

b. Jantung 5

1. Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat 2. Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV Linea Mid Clavicularis Sinistra 3. Perkusi : Batas jantung sulit dinilai 4. Auskultasi: Bunyi jantung I dan II normal reguler. 5. Abdomen 1. 2. Inspeksi Palpasi Hepar tidak teraba Lien tidak teraba Ginjal tidak teraba Nyeri tekan : tidak ada 3. 4. 6. Genitalia Jenis Kelamin Kelainan Kulit 7. Anggota Gerak - Atas Sendi Otot Refleks - Bawah Sendi Otot Refleks Ekstremitas : : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Bisep +/+, trisep +/+ : : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : KPR +/+, APR +/+ : Akral hangat, Akrosianosis (-) : Perempuan : Tidak ada : tidak ada kelainan Perkusi Auskultasi : Timpani : Bising usus (+) normal : Datar lembut : lembut

8. Susunan Saraf 6

Refleks koma :

Refleks cahaya (pupil): bulat isokor : +/+ : (-) : (-) : (-) : (-)

Refleks okulosefalik : + Refleks kornea Rangsang Meningen : Kaku Kuduk Brudzinsky I/II/III Kernig Laseque Saraf Otak Motorik Sensorik Vegetatif

: Pupil bulat isokor, reflek kornea +/+ : Parese (-) : Rangsangan nyeri (+), parestesi (-) : BAB (+), BAK (+) : APR : +/+, KPR +/+ : Babinsky : -/: -/: -/-

Refleks Fisiologis Refleks patologis

Chaddock Gordon

Oppenheim : -/-

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium Rutin Darah : Hb Leukosist Trombosit Hitung Jenis : Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit Urine : tidak dilakukan Feses : tidak dilakukan :0% : 29 % :3% : 44 % : 22 % :2% : 12 g/dl : 7500 /mm3 : 250.000/mm3

IV. RESUME Keluhan Utama : Dyspneu Anamnesa : Keluhan dyspneu dipengaruhi oleh faktor aktivitas dan keadaan yg mempengaruhi suhu tubuh yaitu bermain dan makan es bersama temannya di sore hari. Keluhan sesak dengan wheezing (+). Dyspneukarena penyakit jantung (-). Dyspneu dikarenakan ginjal (-). Dyspneu dengan kejang dan penurunan kesadaran (-). Keluhan Dyspneu karena tersedak (-). Terapi salbutamol tablet dan mengalami perbaikan. Tetapi keluhan dyspneu semakin memburuk dan tidak berkurang dengan pemberian obat. Dyspneu 2x/minggu, nocturnal dyspneu 1x.bulan, durasi serangan 15-20 menit. batuk (+) tanpa sputum saat dyspneu. Dyspneu pertama kali timbul saat penderita berusia 2 tahun, diterapi uap efektif. Terakhir dirawat pada tanggal 2 Juli 2006 dengan keluhan dyspneu. Saat dyspneu penderita masih dapat beraktivitas (+), berbicara berupa kalimat (+), berbaring (+). Panas badan (-). BAK & BAB tidak ada kelainan. Riwayat atopi (+). Riwayat asma di keluarga (+). Riwayat Th/ TBC (-) Dari pemerisaan fisik didapatkan : Keadaan umum Tanda vital Respirasi Tekanan darah Suhu Nadi Kepala THT Tonsil Faring Leher : 47x/mnt tachipneu : 110/70 mmHg normal : 36,7 C : 120x /mnt, Kualitas : Equal, Regular, Isi cukup. tachycardi : simetris : PCH (-) : T1-T1 tenang : tidak hiperemis : KGB tidak teraba membesar : Composmentis, tampak sakit sedang

Thorak :

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: bentuk dan gerak simetris Retraksi interkostal (+) : VF Ka = Ki : sonor ka = ki : VBS ka = ki, ekspirasi memanjang Ronchi -/-, Wheezing +/+

Abdomen Kulit Ekstrimitas

: datar, lembut : sianosis (-). : akral hangat akrosianosis (-)

Pemeriksaan organ lain dalam batas normal Pemeriksaan laboratorium : Darah : HB Leukosist Trombosit HitungJenis : 12 g/'dl : 7500 /mm3 : 250.000/mm3 : Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit Urine : tidak dilakukan pemeriksaan Feses : tidak diiakukan pemeriksaan : 0% : 29 % :3% : 44 % : 22 % :2%

10

VI. DIAGNOSA KERJA Asma Bronkhiale intermitttent (Klasifikasi GINA) atau Asma Bronkhiale episodik jarang (Klasifikasi PNAA) VII. PENATALAKASANAAN Umum : - menghindari faktor pencetus atau allergen asma - komunikasi, informasi, edukasi tentang asma pada penderita dan Orang tua Khusus : - O2 3 L/mnt - Nebulizer Salbutamol - Salbutamol 2 mg/x serangan, (jangan lebih dari 4x/hari) (bila dirumah atau luar rumah) VIII. USUL PEMERIKSAAN Test serologi IgE Skin test alergen Spirometer IX. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : dubia ad bonam

11

DISKUSI Penderita adalah seorang perempuan, berusia 4 tahun, dengan BB 16,5 kg, TB 112 cm, status gizi baik, datang ke UGD RS Dustira dengan keluhan utama sesak napas dapat kita pikirkan sesak napas adalah akibat gangguan intra pulmonal atau gangguan ekstra pulmonal. Dari gangguan intra pulmonal dapat kita pikirkan beberapa penyakit antara lain : Asma Bronchitis akut Bronchitis kronik Pneumonia Empiema Pneumothoraks Abses paru Brochietasi Gastrointestinal Aches Ginjal Jantung Endokrin asidosis metabolik KEP, sirosis hepatis gagal ginjal gagal jantung ketoacidosis diabetikum

Sedangkan dari gangguan ekstra pumonal dapat terjadi pada kelainan :

Dari anamnesa khusus didapatkan bahwa : Sejak sore hari tadi sebelum masuk RS Dustira penderita dyspneu yang disertai dengan wheezing yang terdengar pada saat penderita mengeluarkan napas. Pedoman Nasional Asma Anak juga menggunakan definisi yang praktis dalam bentuk definisi operasional yaitu wheezing dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut: Timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam/dini hari (nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktifitas fisik, dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan. 12

Hal ini sesuai dengan anamnesa dimana didapatkan : Riwayat sesak napas dan wheezing dan atau batuk berulang Serangan sesak napas terjadi terutama pada malam hari saat cuaca dingin atau bila penderita kelelahan karena terlalu aktif bermain. Jika timbul sesak ibu penderita memberi obat dan mengalami perbaikan (reversibel dengan pengobatan). Riwayat penyakit asma di keluarga diakui yaitu ibu penderita. Riwayat alergi pada cuaca dingin diakui. Sebab-sebab lain sudah disingkirkan : Keluhan sesak napas tidak disertai dengan panas badan (infeksi), pilek (ISPA), kejang dan penurunan kesadaran (syok). Sesak napas tidak disertai bengkak pada kedua tungkai, kebiruan pada ujung-ujung jari maupun sekitar mulut (adanya gangguan sirkulasi akibat penyakit jantung). Pada asma sesak terjadi akibat dari : Edema mukosa Infiltrasi seluler Sumbatan mucus Deskuamasi epitel Obstruksi: Menyebabkan perubahan fungsi paru. Dapat diperiksa dengan cara : 1. Spirometer : FEV/PEFR 2. Lab: Pa02 - PaC02 T, kadar pH untuk asidosis 3. Pemeriksaan fisik : Emfisema atau atelektasis, ekspirasi memanjang, wheezing ekspirasi. Antara inflamasi dan hiperreaksi bronkus hingga kini masih belum dapat diketahui mana yang terjadi lebih awal. Pada penderita asma terjadi reaksi hipersensitifitas tipe 1 yaitu hipersensitifitas anafilaksis pada saluran nafas. Reaksi ini merupakan reaksi primer yang dijalankan antibody IgE. IgE bersifat sitotropik dan mempunyai sifat untuk berikatan dengan sel-sel mediator seperti mast sel (dalam jaringan) dan basofil (dalam sirkulasi). Bila IgE yang terikat pada mediator ini bereaksi dengan antigen maka mediator sel akan pecah melepaskan Hisamin, bradikinin, SRS A, ECF A, yang akan menimbulkan gejala klinis pada organ target tertentu, yang paling 13

sering telibat adalah traktus respiratorius (oedema mukosa, bronkospasme, hipersekresi mucus, infiltrasi seliier, deskuamasi epitel), gastrointestinal (hipermotililas) dan kulit (urtikaria). Derajat penyakit asma pada penderita ini adalah: Klasifikasi derajat penyakit asma menurut GINA
Parameter klinis gejala noktural faal paru Gejala klinsi Setiap hari Serangan Gejala asma malam hari Uji faal paru (FEVyPEF) Variabilitas Singkat < 2x/bl 80% < 20% Intermiten Mild persistent Moderate persisten Setiap hari Mengganggu tidur/aktivitas 1 x /mgg 60-80 % > 30 % Sering Sering < 60% > 30% Severe persistent

< 1 x/mgg

> 1 x/mgg < 1 x/hr Mengganggu tidur/aktivitas > 2x/bl 80% 20-30%

Klasifikasi derajat penyakit asma menurut PNAA


Parameter klinis, kebutuhan obat dan faal paru Parameter serangan Lama serangan Intensitas serangan diantara serangan Tidur dan aktivitas Pemeriksaan fisis di luar serangan Obat pengendali Uji faal paru Variabilitas Asma Episodic Jarang Asma Episodic Sering < l x bl < 1 mgg Biasanya ringan tanpa gejala Tidak terganggu Normal Tidak perlu > 80 % > 15% > 1 x / bl > 1 mgg Biasanya sedang sering ada gejala Sering terganggu Mungkin terganggu Perlu 60-80 % > 30 % Asma Persisten Sering Hampir sepanjang tahun, tidak ada remisi Biasanya berat gejala siang dan malam Sangat terganggu Tidak pernah normal Perlu < 60 % > 50 %

Sesuai dengan anamnesa yang didapatkan bahwa : Serangan sesak napas hanya terjadi < 1 kali sebulan, bahkan tidak terjadi serangan dalam beberapa bulan.

14

Diluar serangan sesak napas, penderita tidak mengalami gangguan aktivitas dan tidur. Saat serangan sesak napas, penderita merasa tidurnya terganggu namun masih dapat beraktivitas biasa seperti makan dan minum. Dapat disimpulkan bahwa penderita menderita asma episodik jarang Klasifikasi derajat serangan akut (Eksaserbasi) Asma
Serangan akut faal paru laboratorium Sesak Ringan Berjalan bisa tidur Sedang Berbicara lebih enak duduk POS1SI Bicara Kesadaran Kebingungan Sianosis Wheezing Bisa berbaring Kalimat Mungkin irritable Tidak ada Sedang, akhir Lebih suka duduk Penggal kalimat Biasanya iritable Tidak ada Nyaring sepanjang ekspirasi dan Penggunaan obat Bantu resporatorik Retraksi Frekuensi nafas Frekuensi nadi Pefr/FEV1 Pre bronkodilator Post bronkodilator SatO2 PaO2 PaCO2 Biasanya tidak Dangkal Interkostal Takipnea Normal > 60 % > 80 % > 95 % Normal < 45 mmHg inspirasi Biasanya ya Sedang Supratenal Takipnea Takikardia 40-60% 60-80 % 91 -95% > 60 mmHg < 45 mmHg Ya Dalam nafas Cuping Hidung Takipnea Takikardia < 40 % < 60% < 90% < 60 mmHg > 45 mmHg Paradoks Torakoabdominal Dangkal/Hilang Bradipnea Bradikardia < 40 % < 60 % 90% < 60 mmHg > 45 mmHg Berat Istirahat membungkuk ke depan Duduk bertopang lengan Kata - kata Biasanya iritable Ada Tanpa stetoskop Nyata Tidak mendengar Ancaman Henti Nafas

Diskusi Pemeriksaan Laboratorium. Dari pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yaitu pemeriksaan darah rutin dalam batas normal, sedangkan hitung jenis didapatkan (eosinofilia) hal ini disebabkan asma sebagai reaksi inflamasi yang menyebabkan infiltrasi sel-sel radang seperti eosinofil, neutrofil, basofil dan makrofag. Diskusi Penatalaksanaan:

15

Tata laksana asma meliputi pendidikan orangtua, tatalaksana eksaserbasi dan tatalaksana jangka panjang. Pendidikan orang tua: Orang tua maupun penderita menjadi partner dalam merencanakan, melakukan, dan mengevaluasi hasil tatalaksana penderita asma. Sehingga penting untuk orang tua agar Mengerti tentang asma secara menyeluruh dalam hal perjalanan asma, gejala-gejala asma, dan penanggulangan asma. Tatalaksana eksaserbasi Pada serangan asma, tujuan tataiaksana adalah untuk Meredakan penyempitan saluran respiratorik secepat mungkin Mengurangi hipoksemia Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya Rencana reevaluasi tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan

Menurut GINA penatalaksanaan pada serangan asma terbagi 2 yaitu : 1. Tatalaksana dirumah Dilakukan oleh pasien atau orang tuanya, hanya dapat dilakukan oleh pasien yang sebelumnya telah menjalani pengobatan secara teratur. 2. Di rumah sakit

Untuk serangan asma sedang jika dengan pemberian nebulisasi dua kali, pasien hanya menunjukkan respons parsial. Untuk itu perlu dinilai ulang derajatnya sesuai pedoman didepan. Jika memang termasuk serangan sedang, pasien perlu di observasi dan ditangani di ruang rawat sehari (RSS). Pada serangan asma sedang diberikan steroid sistemik (oral) metilperdnisolon dengan dosis 0,5 - 1 mg/kgBB/hari selama 3-5 hari. Steroid lain yang dapat diberikan selain metilprednisolon adalah prednison. Ada yang berpendapat steroid nebulisasi dapat digunakan untuk serangan asma, namun perlu dosis yang sangat tinggi meskipun banyak pustaka yang belum mendukung. Pemberian oksigen sejak dari UGD dilanjutkan. Di RSS juga diteruskan Nebulisasi (-agonis + antikolenergik) tiap 2 jam. Jika dalam 12 jam klinis tetap 16

baik maka pasien dipulangkan dan dibekali obat seperti pasien serangan ringan yang dipulangkan dari klinik/UGD. Bila dalam 12 jam responsnya tetap tidak baik, maka pasien dialihkan ke rawat inap dengan tatalaksana asma berat. Tatalaksana jangka panjang : Tujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci tujuan yang ingin dicapai adalah: 1. Pasien dapat menjalani aktifltas berolahraga. 2. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah. 3. Gejala tidak timbul siang ataupun maiam hari. 4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal yang mencolok. 5. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan. 6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apabila tujuan ini belum tercapai maka perlu reevaluasi tatalaksananya. Tatalaksana medika mentosa: Pemberian obat: Hanya jika ada gejala atau serangan Obat yang diberikan adalah : Obat perda berupa bronkodilator p-agonis hirupan kerja pendek (short acting p2- agonist, SABA) Dapat juga digunakan teofilin Selama pemakaian obat dipantau muncuhiya gejala selama 4-6 minggu Jika penggunaan p-agonist > 3x/ minggu atau serangan sedang/berat terjadi > 1x/ bulan, maka tatalaksananya diperlakukan sebagai asma episodic sering Diskusi Usul pemeriksaan : Tes serologi IgE dan Skin test. Berguna untuk mengenali allergen lingkungan yang secara potensial penting, termasuk untuk membantu mengidentifikasi faktor risiko maupun faktor pencetus. Siprometer untuk mengetahui fungsi paru. 17 normalnya, termasuk bermain dan

Diskusi Prognosa Prognosis untuk tanda vital adalah baik, karena fungsi vital dan penderita ini dapat kembali normal jika serangan asma dapat di obati dengan baik. Namun untuk prognosis fungsi saluran pernapasan masih diragukan, karena pada penderita asma fungsi faal paru diragukan untuk dapat kembali ke keadaan normal. Jika ditemukan dermatitis atopik pada anak dengan wheezing dan adanya riwayat asma pada keluarga merupakan salah satu indicator penting untuk terjadinya asma dikemudian hari. Penyakit asma merupakan penyakit imunologi, yang akan mengalami kekambuhan setiap kali terpapar oleh pencetus (penyakit kronis dengan eksaserbasi akut)

KASUS RESPONSI ASMA BRONKIALE Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Responsi Ilmu Kesehatan Anak
18

Disusun Oleh :
1. Rani Puspitasari 41061085 2. Ilmi Cahyaruslina 41061097 3. Pramesti I. M 41061108

Pembimbing :

Ukas Cukasah,dr.,Sp.A (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RS DUSTIRA / FAKULTAS KEDOKTERAN UNJANI CIMAHI 2007
DAFTAR PUSTAKA Noeynoey Rahayu, dkk. Pedoman Nasional Asma Anak Indonesia, Jakarta : UKK Pulmonologi PP IDAI. 2004 Oma Rosmayudi, dkk. Pulmonologi dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak, Ed 2. Bandung : SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS Bandung 2005 19

Oscar Rahman: Kuliah Imunologio Anak. Bandung : FKUP R.Michael Sly, Gangguan Alergi Dalam Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : EGC, 2000 Sylvia A Prince, Loraince M Wilson, Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. Ed 4. Jakarta: EGG 1995 Bahan - bahan Kuliah yang menunjang

20