Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN TENTANG PROSEDUR PERMOHONAN HAK ATAS TANAH Oleh: Asri Agustiwi & Frans Simangunsong (Dosen Fakultas

Hukum Universitas Surakarta)

Tanah memiliki hak-hak yang dapat dimiliki oleh orang maupun badan hukum, dimana tanah yang ada di permukaan bumi dikuasai oleh negara, maka dari itu setiap orang maupun badan hukum dapat mengajukan permohonan atas hak-hak tanah miliki negara atau tanah pengelolaan, sesuai dengan prosedur yang berlaku, dalam pelaksanaan prosedur permohonan hak atas tanah telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 tahu 1999 Tentang Tata Cara Permohonan Hak Atas Tanah, dimana di dalamnya memuat secara terperinci dan jelas dalam pemberian hak atas tanah baik yang kewenangnya berada di tingkat kabupaten maupun yang ada di tingkat propinsi. Ketentuan-ketentuan baik secara administratif maupun teknis tentunya dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tetapi dalam melaksanakan proses tersebut terdapat juga hambatan yang timbul yaitu dalam proses pemeriksaan tanah oleh panitia A dalam pengukuran. Bukti dari permohonan hak yang telah kita mohonkan kepemilikan terhadap hak-hak yang dimohonkan berupa SKPH ( Surat Keputusan Permohonan Hak ). Kata Kunci : Hak-hak Atas Tanah Pasal 16 UUPA No. 5 Tahun 1960, Prosedur Permohonan Hak-hak Atas Tanah, SKPH ( Surat Keputusan Permohonan Hak ).

PENDAHULUAN Tanah bagi makhluk hidup merupakan sesuatu yang mempunyai hubungan yang sangat erat untuk kehidupan setiap manusia (khususnya). Tanah dapat digunakan untuk tempat perumahan, kemajuan dan perkembangan teknologi ataupun untuk perkebunan, pabrik-pabrik, tempat hiburan, jalan-jalan perhubungan, dan lain-lain. Bahkan untuk matipun manusia juga

masih membutuhkan sebidang tanah. Jumlah luasnya tanah dapat dikuasai oleh manusia sangatlah terbatas karena jumlah manusia yang berhajat terus menerus bertambah sehingga semakin lama dirasa tanah menjadi sempit dan sedikit, tidak mengherankan jika permintaan tanah semakin bertambah dan nilai dari tanah pun semakin tahun semakin tinggi. Tanah merupakan bagian dari permukaan bumi dimana berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UUPA ( Undang-Undang Pokok Agraria ) yang berbunyi: Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) UUD dan halhal sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air, dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkat tertinggi dikuasai oleh negara sebagai organisasi seluruh rakyat. Menurut A. P. Parlindungan yang dimaksud dengan Bumi adalah selain di atas bumi yaitu hak-hak tanah seperti yang tercantum dalam pasal 16 UUPA juga ditanam di dalam bumi yaitu hak-hak HPH ( Hak Penebangan Kehutanan ), maupun hakhak yang terdapat di tubuh bumi yang kita kenal sebagai Hak Pengelolaan ( Kuasa Pertambangan ) yang merupakan suatu ijin untuk mengadakan pertambangan atas bahan-bahan galian dari bumi Indonesia, yang dikelola oleh Departemen Pertambangan dan Energi.76 Tanah merupakan dari permukaan bumi maka dapat dikatakan tanah mempunyai hak-hak tanah baik yang ada di permukaan tanah, yang ditanam di dalam tanah ataupun yang berada di tubuh bumi, untuk itu tanah dengan segala hak-hak tanah tersebut termasuk dalam penguasaan negara tetapi bukan berarti dimiliki oleh negara melainkan hanya memberi wewenang kepada negara, sebagaimana yang tercantum pada Pasal 2 ayat (2) UUPA, yaitu : Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, penyediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa.
76 A. P. Parlindungan, komentar Atas UUPA, Madar Maju, Bandung, 1998, hal 4

Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Sesuai pendapat Effendi P., sehubungan ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUPA tersebut, maka jika seseorang menguasai tanah tanpa hak (titel) disebut penguasaan secara liar. Seseorang yang secara fisik menduduki tanah dengan tidak sah (ilegal).77 Penguasaan tanah oleh negara bukan berarti hak rakyat/masyarakat terhadap tanah tidak diakui, negara hanya bertujuan agar bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan yang ada di dalamnya dapat digunakan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur sehingga terwujud kesejahteraan rakyat. Adanya penguasaan tanah oleh negara maka tanah di daerah-daerah dan pulau-pulau tidak semata-mata hak rakyat dari daerah atau pulau yang bersangkutan. 78 Adanya hak menguasai dari negara, maka negara memiliki wewenang untuk: Mengadakan berbagai peraturan dan tindakan-tindakan di bidang agraria/pertanahan. Memberikan tanah yang dikuasai negara kepada seseorang atau badan hukum menurut peruntukan dan penggunanya. Dengan demikian tanah yang terdapat hak-hak atas tanah tersebut dapat dimiliki dan dipunyai oleh orang, badan hukum atau beberapa orang bersama-sama, tetapi tentunya dengan batasan-batasan yang telah diatur oleh peraturan pemerintah dan tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi karena semua tanah mempunyai fungsi sosial, yaitu tanah yang semakin langkah dapat dipergunakan se-efisien mungkin sehingga sesuai tujuan UUPA menunjang terbentuknya sesuatu masyarakat adil dan makmur.79 Negara sebagai pemegang hak kolektif, hak kolektif merupakan suatu hak menguasai negara tidak mempunyai batasan-batasan atas Hak menguasai negara tersebut dibatasi dengan ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUPA sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Adanya batasan-batasan terhadap hak menguasai negara, maka orang, badan hukum, ataupun beberapa orang secara bersama-sama dapat memanfaatkan
77 Effendi Perangin, Hukum Agraria di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 1991, hal 207 78 op.cit 79 Imam Soetiknjo, Politik Agraria, Gajah Mada Universitas Press, Yogya, 1990, hal 53

tanah dan mendapatkan bukti kepemilikan perolehan tanah. Dalam tulisan ini penulis mencoba menulis tentang bagaimana pelaksanaan prosedur permohonan hak atas tanah yang dikuasai oleh Negara guna membantu masyarakat yang ingin mengajukan permohonan hak atas tanah, sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan perundang-undangan No. 9 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Permohonan Hak Atas Tanah Negara atau Pengelolaan dan semoga bermanfaat bagi pembaca, walaupun tulisan ini mungkin jauh dari kesempurnaan. Pembahasan Tinjauan Hak Atas Tanah Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada yang empunya hak untuk menggunakan/mengambil manfaat dari tanah yang dihakinya.80 Hak atas tanah diatur dalam BAB I UUPA dimana di dalamnya diatur dalamnya mengatur tentang pendaftara tanah, air, dan ruang angkasa. Hak-hak atas tanah tersebut diatur di dalam: Pasal 16 UUPA ayat (1) mengatur hak-hak atas tanah yang terdiri dari : Hak milik Hak guna usaha Hak guna bangunan Hak pakai Hak sewa Hak-hak lain yang diatur di dalam perundang-undangan lain : Hak pengelolaan Hak menguasai hutan Tinjauan Tentang Permohonan Hak Atas Tanah Permohonan hak atas tanah menurut Effendi Perangin adalah suatu proses yang dimulai dari masuknya permohonan kepada instansi yang berwenang, sampai lahirnya hak atas tanah yang dimohonkan itu.81 Dapat kita lihat dari pengertian tersebut bahwa permohonan hak atas tanah dari awal proses sampai akhir proses yaitu sebelum permohonan hak atas tanah tersebut masuk ke instansi yang berwenang, ada proses persiapan
80 Effendi Perangin, Hukum Agraria di Indonesia Suatu Telaah dari Sudut Pandang Praktisi Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 1986, hal 229 81 Effendi Perangin, Praktek Permohonan Hak Atas Tanah, Rajawali Press, Jakarta, 1993, hal 1

terlebih dahulu dan juga setelah lahirnya hukum atas tanah yang berupa surat keputusan permohonan hak atas tanah, masih ada tindak lanjutnya yang wajib dilakukan agar pemohon memiliki bukti kuat tentang hak atas tanah yang dimohon oleh pemohon yaitu berupa sertifikat. 1. Dasar Aturan yang Mengatur Permohonan Hak Atas Tanah Permasalahan tentang pertanahan tidak akan pernah berhenti selama manusia membutuhkan tanah dan bumi masih tetap dipijak manusia. Masalah pertanahan banyak ragamnya dan rumit karena memang tanah mempunyai peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Untuk itu agar tidak terjadi permasalahan dalam proses ataupun cara pelaksanaan dalam permohonan hak-hak atas tanah maka diperlukan aturan yang mengatur sebagai pijakan oleh pemohon dan juga badan pemerintah yang bertugas mengurus permohonan hak atas tanah tersebut yang dalam hal ini pejabat yang berwenang yaitu BPN atau Badan Pertanahan Milik Negara. Pemerintah telah menetapkan aturan yang berkaitan dengan pertanahan yaitu UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang disingkat dengan UUPA dan aturan-aturan di bawahnya sebagai peraturan pelaksanaan dari aturan di atasnya yang belum diatur dalam undang-undang tersebut. Dalam hal tata cara permohonan hak atas tanah ini diatur di dalam Peraturan Menteri Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Permohonan Hak Atas Tanah, dimana di dalamnya memuat secara terperinci dan jelas dalam pemberian hak atas tanah. 2. Status Tanah yang Haknya Dimohon Tanah yang haknya dimohon berstatus sebagai: Tanah Negara dimana tanah yang tidak dipunyai oleh perorangan atau badan hukum dengan sesuatu hak atas tanah sesuai ketentuan yang berlaku. Tanah Pengelolaan yaitu hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagai cara dilimpahkan kepada pemegangnya. 3. Macam Pemberian Hak Atas Tanah Setiap warga negara Indonesia berhak megajukan permohonan tanah negara/pemerintahan atau tanah hak

pengelolaan, begitupun dengan bangsa asing yang bertempat tinggal di Indonesia dapat memohon terhadap hak yang mereka punya tetapi hak tersebut dibatasi oleh peraturan perundangundangan, khususnya tanah dengan orang. Jika pemohon adalah warga negara Indonesia (Tunggal), baik laki-laki ataupun perempuan, asli atau turuan asing, maka hak yang dapat dimohon adalah Hak Milik, atau hak Guna Bangunan atau Hak Pakai. Jika pemohon adalah warga negara asing yang bertempat tinggal di Indonesia, maka hak yang dapat dimohon adalah Hak Pakai da Hak Milik dengan dispensasi dari pemerintah hak milik untuk tumah tinggal. Jika pemohon adalah badan hukum yang ditunjuk pemerintah dapat sebagai pemegang hak miliki atas tanah, maka sama seperti warga negara Indonesia tunggal, badan hukum dapat memohon Hak Milik atau Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai. Sedang badan hukum yang tidak ditunjuk yang dapat mempunyai Hak Milik, seperti Perseroan Terbatas (PT), Yayasan dapat memohon Hak guna usaha atau Hak guna bangunan atau Hak pakai. Untuk Departemen/Jawatan Pemerintah atau perusahaan atau perusahaan industri yang ditunjuk pemerintah secara khusus dapat memohon Hak Pengelola. Pemohon hak atas tanah untuk pertanian, perkebunan, dan perikanan yang cukup luas dimana lebih dari 5 hektar (Ha) yang dimohon biasanya adalah Hak guna usaha dengan tidak tergantung pada subyeknya apakah Orang atau Badan hukum. 4. Kewenangan dalam Pemberian Keputusan Hak Atas Tanah Dalam pemberian hak atas tanah pemerintah mempunyai peran penting terutama adalah Kepala Kantor Pertanahan kabupaten yang berada di Kabupaten dan juga Kepala Kantor Wilayah yang berada di provinsi sedang Menteri mempunyai kewewenang dalam pemberian wewenang tersebut tidak dilimpahkan kepada kabupaten atau provinsi. Kewenangan pemberian keputusan hak atas tanah tersebut diatur di dalam Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan kewenangan Pemberian dan Pembatalan keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara. Sebagaimana yang tercantum bahwa kewenangan masing-masing Kepala kantor Pertanahan baik

daerah ataupun pusat dalam memberikan keputusan hak atas tanah yang dimohon didasarkan kepada jenis tanah yang dimohon non pertanian atau pertanian dan dengan batasan yang telah ditentukan pemerintah. Prosedur Permohonan Hak Atas Tanah Dalam prosedur permohonan hak atas tanah ini diatur di dalam Peraturan Menteri Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Permohonan Hak Atas Tanah Negara dan Pengelolaan. Adapun dapat kita lihat sebagai berikut : 1. Tata cara paemberian hak atas tanah yang meliputi Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai, yaitu : Pemohon (Yang ditunjuk lurah atau PPAT/Notaris atau Badan Hukum) mengajukan permohonan tertulis yang disertai lampiran-lampiran yang dibutuhkan, kemudian diserahkan kepada kantor Pertanahan setempat. Setelah berkas diterima, Kepala Kantor Pertanahan maka Kantor Pertanahan memeriksa dan meneliti kelengkapan data yuridis dan data fisik, mencatat dalam formulir pendaftaran, memberikan tanda terima berkas permohonan sesuai formulir isian dan memberikan kepada pemohon untuk membayar biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan permohonan tersebut dengan rinciannya. Kepala kantor Pertanahan akan meneliti kelengkapan dan kebenaran data dan memeriksa kelayakan permohonan tersebut dapat atau tidak dikabulkan atau diproses lebih lanjut. Kepala Kantor Pertanahan selanjutnya akan memerintahkan Kepala seksi pengukuran dan Pendaftaran tanah untuk melakukan pengukuran (jika dalam halaman tanah yang dimohonkan belum ada surat ukurnya). Kepala seksi hak atas tanah atau petugas yang ditunjuk untuk memeriksa permohonan terhadap tanah yang data yuridis dan data fisiknya telah cukup untuk mengambil putusan yang dituangkan dalam Risalah Pemeriksaan Tanah (Konstatering Repport). Tim peneliti tanah untuk pemeriksaan permohonan hak belum terdaftar yang dituangkan dalam berita acara. Panitia pemeriksaan tanah A untuk memeriksa permohonan hak selain yang diperiksa

dituangkan dalam Risalah Pemeriksaan Tanah. Jika data yuridis dan data fisik belum lengkap, akan dikembalikan untuk dilengkapi. Setelah berkas lengkap maka dalam halaman pemberian hak jika wewenang pemberian hak berada pada kantor pertanahan, maka kepala kantor pertanahan akan menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). Jika wewenang berada pada kantor pertanahan wilayah, maka kantor pertanahan menyampaikan berkas permohonan kepada kantor pertanahan wilayah yang disertai pertimbangan dan pendapat dari kantor pertanahan wilayah terhadap berkas permohonan. Keputusan pemberian hak yang dimohon atau penolakan disampaikan kepada pemohon melalui surat tercatat atau dengan cara lain yang menjaminnya keputusan tersebut kepada yang berhak. Pemohon memenuhi semua persyaratan yang tercantum dalam surat SKPH. Untuk hak guna bagunan diajukan kepada Menteri melalui Kepala Kantor Wilayah dengan tebusan kepada Kantor Pertanahan setempat, tanah yang dimohon terletak dalam wilayah lebih dari satu daerah kabupaten/kota, maka tembusan permohonan disampaikan kepada masingmasing Kepala kantor pertanahan yang bersangkutan, untuk tambahan lampiran disertai keterangan-keterangan yaitu tentang bosafiditas dan likuidasi perusahaan, rencana pengesahan tanah jangka pendek dan jangka panjang, tenaga ahli tersedia,dan rekomendasi dari instasi-instasi yang dianggap perlu. Sedangkan tata cara pemberian hak atas tanah pengelolaan meliputi Permohonan diajukan kepada Menteri melalui Kantor Pertanahan setempat dimana surat permohonan dilampiri dengan identitas pemohon atau surat pembentukan atau akta pendiri perusahaan, rencana pengusahaan tanah jangka pendek dan jangka panjang, bukti kepemilikan atau penyertaan dari pemerintah, pelepas kawasan hutan dari instansi yang berwenang, akta pelepasan bekas tanah milik adat atau bukti perolehan tanah lain, ijin lokasi atau surat penunjukkan penggunaan tanah atau surat isian, surat persetujuan atau rekomendasi dari instansi terkait (apabila diperlukan), surat ukur

(bila ada), surat pernyataan atau bukti seluruh modalnya dimiliki oleh pemerintah. Setelah berkas tersebut lengkap dan permohonan diterima, maka Kantor Pertanahan akan melakukan proses yang sama seperti di atas, terhadap proses permohonan Hak milik, Hak guna usaha, Hak guna bangunan dan Hak pakai. Apabila telah menerima SKPH ( Surat Keputusan Permohonan Hak ) maka pemohon dapat mempergunakan hak atas tanah yang dimohonkannya sesuai dengan peruntukanya dan untuk diproses selanjutnya hak tersebut didaftarkan guna mendapatkan sertifikat sebagai bukti autentik kepemilikan hak atas tanah yang dimohonkan. Hambatan yang Timbul dalam Permohonan Hak Atas Tanah Dalam pelaksanaan permohonan hak atas tanah terdapat hambatan yang dialami pihak Kantor Pertanahan tetapi permasalahan yang timbul tidak terlalu signifikan, yaitu pada saat proses pengukuran dimana adanya pemegang hak atas tanah tidak berada di tempat sehingga panitia kesulitan untuk mengadakan musyawarah, tidak ada tanda batasan yang jelas atau tanda batas yang tergeser dan adanya konflik antara ahli waris atau keluarga dimana tanah yang dimohon belum ada batas pembagian secara adil. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yang dapat kita lakukan adalah jika pemegang hak atas tanah tidak berada di tempat tentunya dapat memberikan kuasa kepada keluarga sendiri yang berada di tempat, untuk tanda batas yang bergeser atau tidak jelas dapat berkoordinasi dengan Kepala Desa setempat beserta perangkatnya untuk memberitahukan para pihak agar segera membenahi atau memasang tanda batas dengan disetujui oleh para tetangga atau tokoh masyarakat yang berbatasan, dan adanya konflik keluarga hendaknya diselesaikan dengan musyawarah, adil dan tenang secara kekeluargaan, pihak petugas hanya membantu memberi pengertian saja. Kesimpulan Bahwa dalam pelaksanaan prosedur permohonan hak atas tanah tentu harus sesuai dengan ketentuan yang telah diberlakukan yaitu sesuai dengan Peraturan Menteri Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 9 Tahun 1999 Tentang

Tata Cara Permohonan Hak Atas Tanah, dimana di dalamnya memuat secara terperinci dan jelas dalam pemberian hak atas tanah baik yang kewenangnya berada di tingkat kabupaten maupun yang ada di tingkat propinsi. Ketentuan yang harus dipenuhi oleh pemohon adalah syarat yang dapat menunjang kelancaran proses permohonan hak yang dimohon baik data fisik maupun data yuridis, tetapi tentunya bukan berarti tidak terdapat hambatan proses permohonan hak atas tanah, hambatan yang terkadang dijumpai yaitu di dalam proses pemeriksaan tanah yaitu pada saat penelitian dan peninjauan dalam proses pengukuran yang dilakukan oleh Panitia "A" namun dalam pelaksanaanya hambatan tersebut dapat teratasi dengan baik. Karena itu, beberapa usulan perbaikan dapat diajukan disini, diantaranya: pertama, untuk mengatasi timbulnya hambatan dalam prosedur permohonan hak atas tanah hendaknya Kantor Pertanahan setempat memberitahu secara jelas kepada pemohon untuk maupun terhadap Kantor Pertanahan setempat; kedua, perlu dipersiapkan proses permohonan hak atas tanah secara matang baik dalam tahap awal sampai dengan tahap akhir baik secara formalnya maupun segi yuridisnya; ketiga, mengenai birokrasi kantor Pertanahan harus benar-benar dapat selalu memberikan pelayanan dan kepercayaan kepada masyarakat sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku sebagai cermin tegaknya supermasi hukum khususnya pada Hukum Agraria; dan keempat, biaya yang diperlukan hendaknya dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat baik itu untuk pemohon perorangan maupun badan hukum. DAFTAR PUSTAKA P. Parlindungan, Bandung, 1998. komentar Atas UUPA, Madar Maju,

Effendi Perangin, Hukum Agraria di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 1991. Imam Soetiknjo, Politik Agraria National, Gajah Mada Universitas Press, Yogya, 1990. Budi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Himpunan-

Himpunan Peraturan Hukum Tanah, Djambala, Jakarta, 1988. Effendi Perangin, hukum Agraria di Indonesia Suatu Telaah Dari Sudut Pandang Praktisi Hukum, Rajawali Press, Jakarta, 1986. Effendi Perangin, Praktek Permohonan Hak Atas Tanah, Rajawali Press, Jakarta, 1993.