Anda di halaman 1dari 5

Larutan 2010

Laporan Tugas Mandiri Larutan dan Jenis - Jenisnya Oleh Horison Ningsih Tamzil, 0906556931 Kelompok : 3

Larutan adalah campuran homogen (serba sama) dari molekul, atom ataupun ion dari dua zat atau lebih. Suatu larutan disebut sebagai suatu campuran karena susunannya dapat berubah-ubah. Disebut homogen karena susunannya begitu seragam sehingga tak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah. Meskipun semua campuran fase gas bersifat homogen dan karena itu dapat disebut larutan, molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tak dapat saling menarik dengan efektif. Biasanya dengan larutan dimaksudkan fase cair. Jumlah zat yang paling banyak dalam suatu larutan disebut pelarut (solvent), sedangkan zat yang lainnya disebut zat terlarut (solute). Berdasarkan kemampuannya menghantarkan listrik, larutan dapat dibedakan sebagai larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Larutan elektrolit mengandung zat elektrolit sehingga dapat menghantarkan listrik, sementara larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. Menurut Arrhenius, larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikelpartikel bermuatan listrik positif dan negatif yang disebut ion (ion positif dan ion negatif) Jumlah muatan ion positif akan sama dengan jumlah muatan ion negatif, sehingga muatan ion-ion dalam larutan netral. Ion-ion inilah yang bertugas mengahantarkan arus listrik.

1. Larutan Elektrolit Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan elektrolit. Larutan ini memberikan gejala berupa menyalanya lampu atau timbulnya gelembung gas dalam larutan. Larutan elektrolit mengandung partikel-partikel yang bermuatan (kation dan anion). Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Michael Faraday, diketahui bahwa jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit a kan terjadi

Larutan 2010
proses elektrolisis yang menghasilkan gas. Gelembung gas ini terbentuk karena ion positif mengalami reaksi reduksi dan ion negatif mengalami oksidasi. Contoh, pada larutan HCl terjadi reaksi elektrolisis yang menghasilkan gas hidrogen sebagai berikut. HCl(aq) H+(aq) + Cl-(aq) : 2H+(aq) + 2e: 2Cl (aq)
-

Reaksi reduksi Reaksi oksidasi

H2(g)

Cl2(g) + 2e-

Larutan elektrolit terdiri dari larutan elektrolit kuat contohnya HCl, H2SO4, dan larutan elektrolit lemah contohnya CH3COOH, NH3, H2S. Zat-zat yang berada dalam larutan seluruhnya atau hampir seluruhnya dalam ion disebut elektrolit kuat. Sedangkan zat-zat yang hanya sebagian kecil molekulnya yang larut bereaksi dengan air untuk membentuk ion disebut elektrolit lemah. Larutan elektrolit dapat bersumber dari senyawa ion (senyawa yang mempunyai ikatan ion) atau senyawa kovalen polar (senyawa yang mempunyai ikatan kovalen polar). Garam adalah hasil perserikatan antara ion-ion positif dengan ion-ion negatif dan merupakan senyawa ion. Asam adalah senyawa kovalen, tidak terbentuk dari ion-ion. Asam dalam keadaan cairan tidak menghantarkan arus listrik. Dalam larutan ia menghantarkan arus listrik, karena asam dalam pelarut air menghasilkan ion-ion. Dalam persamaan reaksi, reaksi ionisasi elektrolit lemah ditandai dengan panah dua arah (bolak-balik), sedangkan reaksi ionisasi elektrolit kuat ditandai dengan panah satu arah. Pada konsentrasi yang sama, elektrolit kuat mempunyai daya hantar lebih baik daripada elektrolit lemah. Hal ini terjadi karena molekul zat elektrolit kuat akan lebih banyak yang terion jika dibandingkan dengan molekul zat elektrolit lemah. Banyak sedikitnya elektrolit yang mengion dinyatakan dengan derajat ionisasi atau derajat disosiasi yaitu perbandingan antara jumlah zat yang mengion dengan jumlah zat yang dilarutkan.

2. Larutan Non Elektrolit Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik dan tidak menimbulkan gelembung gas. Pada larutan non elektrolit, molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang bermuatan yang dapat menghantarkan arus listrik. Contoh: larutan gula, urea. Untuk larutan non elektrolit

Larutan 2010
kita dapat membuat perkiraan bahwa aktivitas zat terlarut dapat digantikan oleh molalitasnya (dalam arti , dengan = 1 mol/kg). Walaupun demikian,

dalam larutan ionik, interaksi antara ion-ion begitu kuatnya sehingga kita hanya
-3 dapat membuat perkiraan ini dalam larutan yang sangat encer (kurang dari 10 M).

Ketika larutan mendekati keidealan (dalam arti menaati hukum Henry) pada molalitas rendah, koefisien aktivitas cenderung mendekati 1:
 

ketika m

. (1)

Larutan non elektrolit dapat dibagi menjadi 2:

2.1. Larutan Ideal Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik antar molekul-molekulnya atau gaya intermolekul pada molekul-molekul sejenis dan pada molekul-molekul yang tak sejenis adalah sama, atau dapat dikatakan: Gaya Adhesi = Gaya Kohesi Sifat-sifat dari larutan ideal: Mengikuti hukum Raoult. Sifat fisikanya adalah rata-rata dari sifat fisika komponen penyusunnya. Tidak mempunyai sifat parsial molar volume, artinya volume larutan sama dengan jumlah volume komponen murni / penyusunnya. Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat volume komponen-komponen penyusunnya. Contoh larutan ideal: benzena dan toluena (hal ini disebabkan karena kedua molekul memiliki ukuran dan struktur elektron yang serupa). Pada sekumpulan eksperimen mengenai campuran cairan yang dekat (seperti benzena dan toluena), ahli kimia Perancis Francois Raoult menemukan bahwa perbandingan pA / p*A sebanding dengan fraksi mol A dalam cairan. Hukum Raoult dengan hubungan ini biasanya ditulis: pA = xA p*A Hukum Raoult dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Gambar 1. Tekanan total dan parsial untuk campuran benzena toluena pada 20oC

Larutan 2010
(Bird, Tony. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT.Gramedia)

2.2. Larutan Non Ideal Larutan non-ideal adalah larutan yang mengalami penyimpangan dari Hukum Raoult. Terdapat 2 macam penyimpangan Hukum Raoult : a. Penyimpangan Positif Penyimpangan positif hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam masing masing zat lebih kuat daripada antaraksi dalam campuran zat ( A A, B B > A B). Penyimpangan ini menghasilkan entalpi campuran ( Hmix) positif (bersifat endotermik) dan mengakibatkan terjadinya penambahan volume campuran ( Vmix > 0). Contoh penyimpangan positif terjadi pada campuran etanol dan siklohekasana, disebabkan karena molekul-molekul sikloheksana merusak ikatan hidrogen yang terdapat pada molekul-molekul etanol.

Gambar 2. Penyimpangan positif dari hukum Raoult (Bird, Tony. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT.Gramedia)

b. Penyimpangan Negatif Penyimpangan negatif hukum Raoult terjadi apabila antaraksi dalam campuran zat lebih kuat daripada interaksi dalam masing masing zat ( A B > A A, B B). Penyimpangan ini menghasilkan entalpi campuran ( Hmix) negatif (bersifat eksotermik) mengakibatkan terjadinya pengurangan volume campuran ( Vmix < 0). Contoh penyimpangan negatif terjadi pada campuran aseton dan air.

Gambar 3. Penyimpangan negatif pada hukum Raoult (Bird, Tony. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT.Gramedia)

Larutan 2010
Referensi
y

Anonim.Kesetimbangan Fasa. http://amaliasholehah.files.wordpress.com/2008/04/kstb-fasa.doc (diakses pada tanggal 21 April 2010 pukul 13.41)

Anonim.Larutan Elektrolit & Non Elektrolit. http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/METI%20MARAYANT I_0606809/materi.html (diakses pada tanggal 22 April pukul 13.37)

Anonim.Larutan Ideal. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:BEPF3SEcYkJ:alicezah.files.wordpress.com/2008/06/larutan.pdf+larutan+ideal+filet ype:pdf&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESinb4GLrxe6fW24lIFwoOl6K I6L0KMd328BOdtWGlz6vwiFGOjfZPnUDWpmCVUcUr9gl4NWxNuDhjuzz GNQd9mTxgHYheQstMkmdN7XgtOpsrNSbZ2QhAVQWsauJ5LeN9k2hN&sig=AHIEtbTH5SNJDgaqDNgB8lKbxEhy hdqwIQ (diakses pada tanggal 21 April pukul 13.31)

y y y y y

Asikin, Zainal. 2003. Ilmu Kimia. Jakarta: Sumber Grafika Jakarta. Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisika jilid 1. Jakarta: Erlangga. Bird, Tony. 1987. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT.Gramedia. Keenan, Kleinfelter, dkk. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Penerbit Erlangga. Maron, Samuel H, Jerome B.Lando. 1974. Fundamentals of Physical Chemistry. New York : Macmillan Publisher.