Anda di halaman 1dari 89

KILAUAN KE-1

Allah tidak menjadikan bagi manusia dua hati dalam dadanya (QS33:4). Hadrat Al-Quds, yang telah menganugerahimu wujud, telah menempatkan di dalam dirimu hanya satu hati, sehingga kamu hanya berwajah satu dan satu hati di dalam cinta, berpaling dari segala yang selain Dia dan hanya menatap Diabukannya kamu menjadikan hati menjadi ke dalam seratus bagian, sebab setiap bagian akan mencari tujuan. Wahai kamu yang menghadap kiblat keimanan, mengapa menjadikan kulit menjadi hijab inti? Tidak bagus buat hatimu mengejar ini dan itu-dengan satu hati, satu teman cukuplah bagimu

KILAUAN KE-2

Penyebaran/perpisahan adalah kamu menghamburkan hati dengan keterikatan dengan banyak hal. Pengumpulan adalah kamu berpaling dari segala sesuatu dengan cara menyaksikan Yang Satu. Sebuah kelompok mengira pengumpulan terletak dalam mengumpulkan sebab-sebab, dan mereka tetap dalam penyebaran yang tak terhingga. Sebuah kelompok tahu dengan pasti bahwa pengumpulan sebab-sebab adalah bagian dari penyebab penyebaran, dan mereka mengosongkan tangan mereka dari seluruhnya. Wahai engkau yang hatinya memiliki seribu masalah dari seluruhnya Hatimu akan bermasalah dalam menemukan ketentraman dari keseluruhan

Karena hati tidak menerima apapun selain sebaran masing-masing, berikan hatimu kepada Yang Satu dan potonglah dirimu dari mereka seluruhnya! Selama kamu berdiam dalam sebaran dan keraguan, Ahlul Jami akan melihatmu sebagai manusia terburuk. Tidak, demi Allah tidakkamu bukan manusia, kamu adalah monyet Namun karena kebodohan, kamu tidak melihat kemonyetanmu sendiri Wahai Salik, jangan bicarakan setiap topik Berjalanlah di jalan Rabb Penyebab keterpisahan adalah penyebab terburuk Jangan pernah mencoba menyibukkan hati dengan mengumpulkan sebab-sebab!

Wahai hati, berapa lama engkau mencari kesempurnaan di sekolah-sekolah? Berapa lama kesempurnaan pikiran filsafat dan geometri? Segala pikiran selain zikrullah adalah gagasan Syetan Malu lah di hadapan Allah! Berapa lama engkau ikuti gagasan Syetan ini?

KILAUAN KE-3 Al Haq SWT hadir dimana-mana, memandang seluruh keadaan pada yang zahir dan batin keseluruhan. Sungguh sebuah kehilangan! Ketika kamu mengalihkan matamu dari wajah-Nya dan memandang yang lain! Kamu telah meninggalkan jalan ridho dengan-Nya dan memilih jalan lain.

Dia datang ketika fajarYang membolakbalikkan hati para pecinta yang gelisah Dia berkata, Wahai yang berat pikirannya memikirkan-Ku! Sunggu memalukan! Aku memandang dalam arahmu, Namun kamu berpaling kepada yang lain! Kami telah berlari di jalan cinta selama kehidupan kami Kami telah mengikat keras demi kesatuan seluruh hidupa kami Sebuah kilauan citra-Mu adalah lebih baik dari pemandangan Keindahan dari seluruh keindahan hidup kami

KILAUAN KE-4

Segala sesuatu selain Al Haq SWT terpaparkan kepada penghilangan dan fana. Realitasnya adalah ketiadaan objek dari pengetahuan, bentuknya sebuah maujud ilusi. Kemarin dia tiada memiliki wujud dan penampakan, dan sekarang dia memliki penampakan tanpa wujud. Adalah sangat jelas bahwa apa yang akan dibukakan adalah berasal darinya esok hari. Mengapa kamu berikan tali kekang dengan diam-diam kepada tangan harapan dan kehendak? Mengapa kamu bersandar kepada yang fana lenyap ini? Tarik hatimu keluar dari segala sesuatu dan ikatkan kepada Allah! Putuskan semuanya dan hubungkan dengan Allah! Dia lah yang selalu ada dan akan selalu

ada. Tiada duri dari sesuatu yang baharu (muhdats) dapat menggores wajah keabadianNya. Setiap hatimenghentakkan bentuk yang menunjukkan wajahnya kepadamu Dengan segera akan dicuri dari matamu oleh dunia Pergi, berikan hatimu kepada seseorang memiliki wujud, Yang selalu ada bersamamu dan akan selalu ada. Pergilahmestikah aku menghadap kiblat urusan-urusan, Menuliskan kata-kayta akan sakit hati mereka pada lembaran hatiku. Aku menuju keindahan abadi Aku telah memiliki pengganti yaitu keindahan cinta bukan, kebadian

Apapun yang tidak mengembalikanmu kepada keabadian, Pada akhirnya akan menjadikanmu target anak panah fana, jika kamu berpisah Dari sesgala sesuatu ketika kamu mati, Lebih baik kamu berpisah ketika kamu masih hidup Wahai orang yang hebat, berikanlah itu kepada orang faqir atau keturunan Sangat jelas berapa lama ia akan hidup. Yang Bahagia adalah dia yang hatinya terikat kepada Pembawa Hati Kepadanya itu terhubung, hati dan jiwa, Ahlul Qalb

KILAUAN KE-5 Keindahan mutlak adalah Kehadiran Pemilik Keindahan dan Karunia. Setiap keindahan dan kesempurnaan yang nyata dalam seluruh derajat adalah sinar bercahaya dari keindahanNya dan Kesempurnaan-Nya. Dan melalui ini si pemiliki memperoleh keistmewaan keindahan dan sifat kesempurnaan. Kapanpun kamu mengetahui seseorang menjadi seorang pengenal, itu adalah jejak Pengenalan-Nya. Dimanapun kamu melihat seseorang sebagai yang melihat, maka itu adalah buah-buahan dari penglihatan-Nya, seluruhnya adalah sifatNya, turun dari puncak Universalitas dan Ketakterikatan, dan menampakkan di kedalaman kekhususan dan ikatan. Maka, kamu mesti mengambil jalan dari bagian kepada keseluruhan, dari cabang

ekpada asal dan palingkan wajahmu dari ikatan menuju yang tak terikat. Kamu mesti tidak menganggap bahwa bagian berbeda dari keseluruhan, jika tidak ikatan akan menahanmu kembali dari keterlapasan (ketidakterikatan). Aku pergi untuk melihat mawar, namun lilin Tiraz Melihatku di kebun mawar dan dengan lembut berkata, Aku lah akar, hamparan padang rumput mawar adalah cabang-Ku Mengapa membelakangi akar dengan mencari cabang? Apa yang akan engkau lakukan dengan bentuk yang indah dan pipi yang lembut itu? Apa yang akan dilakukan dengan rantai kunci yang lengkung?

Dari segala sisim keindahan tak terbatas sedang bersinar Ohh engkau yang tidak sadar, apa yang akan lakukan dengan keindahan terbats itu?

KILAUAN KE-6 Meskipun anak Adam, disebabkan jasmaninya memiliki kepadatan yang sangat, daam acuan ruhaninya dia sangat halus. Dia membawa seluruh hukum akan segala sesuatu yang dipandangnya, dan dia menerima warna dari seluruh yang ia kunjungi. Inilah sebabnya kaum Filsuf berkata, Ketika jiwa rasional menyingkapkan dirinya bertepatan dengan realitas dan ketika ia menyadari sifat mereka sendiri, ia akan menajdi seolah-olah ia adalah seluruh eksistensi.

Tubuh manusia adalah keruh, namun sifatnya adala paling spiritual. Disebabkan bentukm mereka menerima bentuk, dan ketika mereka menghadapi sesuatu, mereka menjadi terwarnai olehnya. Seorang yang bijak berkata, Ketika sifat alami manusia dapat menampakkan Prinsip Haq dan terlihat, maka citra yang saling berhadapan tidak dapat menghalangi. Ketika Al Haq dan citra menjadi satu dan mereka menyempurnakan bentuk, ini hampir tubuh yang sama dari langit dan bumi. Lebih lanjut, keumuman makhluk, disebabkan hubungan yang erat dengan bentuk jasmani ini dan kesibukan mereka yang hebat dengan yang bersifat materi ini, telah menajdikan mereka seolah-olah tidak mengenal diri mereka sendiri terpisah dari hal itu dan tidak dapat membedakan.

Kamu adalah pikiranmu, wahai saudaraku! Sisanya kamu hanyalah tulang dan daging Jika pikiranmu mawar, maka kamu adalah kebun mawar Namun jika duri, maka kamu menjadi kayu bakar Sehingga kamu mesti berjuang untuk menyembunyikan dirimu dari pandanganmu. Kamu mesti menghadap Zat dan penuhi dirimu Al Haq dimana keindahan tempat tajalli adalah derajat seluruh maujud dan yang cermin kesempurnaan-Nya adalah martabat maujud. Kamu mesti mempertahankan hubungan ini sedemikian hingga ia secara menyeluruh bercampur dengan jiwamu dan wujudmu lenyap dari pandanganmu. Jika kamu menghadap dirimu, kamu akan menghadapNya, dan jika kamu menyatakan diri, kamu

menyatakan-Nya. Yang terikat menjadi Tak Terikat dan Ana Al-Haq menjadi Huwa Al Haq. Jika mawar terlintas dalam hatimu, maka kamu adalah bunga mawar, Jika yang terlintas burung Bulbul, maka kamu burung Bulbul Kamu adalah bagian, dan Al Haq adalah keseluruhan Dari campuran tubuh dan jiwa, kamu lah tujuanku Dalam kematian dan kehidupan, kamu lah tujuanku Semoga engkau panjang umur, karena aku ingin meninggalkan kalian Jika aku berkata Aku tentang diriku, kamu lah tujuanku.

Kapan itu terjadi, kapan?mengoyak jubah wujud, Menyalakan keindahan dari Wajah yang Tak terbatas Membakar hati dengan serangan Nur-Nya Meneggelamkan jiwa melalui serangan kerinduan!

KILAUAN KE-7 Kamu mesti melakukan hubungan mulia ini dalam setiap saat dan dalam setiap keadaan kamu mesti tidak pernah kosong dari hubungan ini baik sedang pergi atau datang, makan atau tidur, mendengar atau berbicara. Ringkasnya, dalam seluruh gerakan dan diam kamu mesti hadir dengan waktu, jika tidak ia akan sia-sia; atau bahkan kamu mesti sadar

dengan nafasmu, supaya ia tidak masuk dan keluar dengan kesia-siaan. Dari tahun ke tahun meskipun Engkau tidak tunjukkan wajah-Mu, Jangan kuatir cintaku kepada-Mu tidak akan berakhir. Dalam setiap tempat, dengan setiap orang, dalam setiap keadaan Aku memiliki harapan dalam hatiku dan bayangan-Mu dalam mataku.

KILAUAN KE-8 Persis sebagaimana penting untuk memperjelas hubungan yang meliputi seluruh gerakan dan seluruh waktu, demikian juga yang paling penting adalah mengingkatkan kualitasnya

melalui menelanjangi seseorang dari pakaian maujud dan membersihkan seseorang dari mengamati bentuk-bentuk dari wujud yang mungkin (mumkinat). Ini hanya dapat dilakukan melalui usaha yang keras dan kekuatan yang sempurna untuk meniadakan pikiran dan ilusi. Semakin banyak pikiran ditiadakan dan bisikan setan tersembunyi, semakin kuat lah hubungan ini. Kamu mesti berjuang supaya pikiran yang kacau tersebar supaya menghamntam tendanya yang berada di luar halaman dadamu dan cahaya Wujud Al Haq Taala menghujamkan sinarnya kepada wilayah batinmu. Itu akan menjauhkanmu dari dirimu sendiri dan membebaskanmu dari dorongan yang lain. Kamu tidak akan menyadari dirimu lagi, tidak juga sadar akan kurangnya kesadaran diri.

Malahan, tak satu pun ada/hidup selain Allah, Al Wahid, Al Ahad. Ya Rabb, bantulahsupaya aku bebas dari kehewananku, Supaya aku dapat memutuskan diriku dari keburukan dan membebaskan dari iblisku sendiri! Bawalah daku pergi dari diriku menuju Wujud-mu Sendiri Supaya akau dapat membebaskan keakuanku dan kedirianku.

Ketika kebiasaan seseorang adalah fana dan faqir, Dia tidak memiliki mukasyafah, tiada kepastian, tiada marifat, tiada agama. Dia telah meninggalkan medan, Allah saja yang ada

Ini lah makna ketika faqir mencapai sempurna, dia adalah Allah.

KILAUAN KE-9 Fana adalah manifestasi Wujud Al Haq menguasai wilayah batin sedemkian hingga tiada kesadaran akan yang selain Dia. Fanaul fana adalah bahwa tiada kesadaran akan ketidaksadaran ini tetap ada. Mestilah jelas disini bahwa fanaul fana termasuk di dalam fana. Jika Ahlul Fana sadar akan fananya, dia bukanlah fana, sebab kedua sifat dari fana dan seseorang yang digambarkand engannya terkait dengan yang selain Al Haq. Maka, sadar akan hal ini malah meniadakan fana.

Ketika kamu ingin dirimu kekal seperti ini Bagaimana kamu dapat meniadakan gandum dari wujud gandummu? Jika kamu sadar akan ujung rambut Da membicarakan jalan fana, maka kamu telah meninggalkan jalan.

KILAUAN KE-10

Menyatakan tauhid adalah membuat hati jadi satu. Dengan kata lain, untuk mengantarkan dan melepaskannya dari keterikatan kepada apa yang selain Al Haq, baik dari sisi pencarian dan keinginan, dan dari arah ilmu dan marifat. Dengan kata lain, pencaraian dan keinginan diputus dari objek pencarian dan keinginan, dan seluruh objek ilmu dan akal

dihilangkan dari pandangan batinnya. Ia menjauhkan perhatiannya dari setiap wajah, sehingga yang tersisa tiada kesadaran atau peduli dengan segala sesuatu selain Al Haq. Wahai penempuh perjalanan, menyatakan tauhid dalam istilah Sufi Adalah membebaskan hati dari mengunjungi yang lain. Inilah keintiman dari maqam terakhir burung Yang telah aku suarkan kepadamu, andai engkau mengerti bahasa burung (QS27:16).

KILAUAN KE-11 Selama anak Adam terperangkap dalam terombang-ambing dan khayalan, keistiqomahan nya dalam hubungan ini akan sulit. Namun ketika jejak-jejak Kelembutan menjadi zahir dalam dirinya dan kesibukan dengan objek sensasi dan akal menjauh dari wilayah batinnya, maka kesenangan dalam hubungan ini akan mendominasi kesenangan jasmani dan kesenangan spiritual. Kerja keras perjuanagn akan lenyap dari medan, dan kesenangan musyahadah akan melekat kepada jiwanya. Pikirannya akan menjauh dari drongan yang lain, dan lidah keadaan ruhaninya (hal) akan mulai mendengungkan suara ini: Wahai burung Bulbul jiwa, aku mabuk dari mengingatmu

Wahai deru kaki yang membuat sakit kepala, aku hina dari mengingatmu. Seluruh kesenangan dunia terinjak di bawah kaki melalui rasa yang datang menghantarkan dari mengingatmu.

KILAUAN KE-12 Ketika Pencari Kebenaran menemukan penghalang dalam daya tarik hubungan, yaitu mendapatkan kesenangan dari mengingat Al Haq dalam dirinyamaka ia mesti mengarahkan kemauan kerasnya untuk memelihara dan menguatkan hubungan ini dan dia mesti menahan dirinya dari segala sesuatu yang meniadakannya. Dia mesti tahu (sebagai contoh), jika dia ingin menghabiskan

kehisupan abadinya pada hubungan ini, dia tidak akan melakukan apapun dan tidak akan mengerjakan apa yang dituntut secara hak.

Cinta mempermainkan bunyi pada kecapi hatiku Memalingkanku kepada cinta dari kepala hingga kaki. Pada hakekatnya Aku tidak akan pernah keluar dari memberikan hak yang layak bagi setiap momen cinta.

KILAUAN KE-13 Hakekat Al Haq Taala tiada lain wujud-Nya, dan wujud-Nya tiada memiliki kekurangan atau kerendahan. Ia disucikan dari perubahan dan kerusakan, dan dibersihkan dari cacat akan

keragaman dan penggandaan.Tanpa tanda dari tanda apapun, Ia tidak pantas bagi ilmu atau bidang penglihatan. Seluruh bagaimana dan berapa banyak (keragaman) muncul dariNya,namun Wujud-Nya tidak memiliki bagaimana dan berapa banyak (keragaman). Segala sesuatu dipersepsi melalui-Nya, namun Dia diluar batas persepsi. Mata kepala terpesona menyaksikan keindahan-Nya, dan pandangan sir tergelapkan tanpa mengamati kesempurnaan-Nya. Wahai Engkau yang demi cinta-Nya aku berikan ruhku Engkau di atas dan di bawah, tidak di atas dan tidak juga di bawah. Esensi segala sesuatu adalah terpisah dari eksistensi dan memikul beban melalui eksistensi

Namun Esensi-Mu adalah Eksistensi yang jelas dan Wujud mutlak Kekasih yang diinginkan hati begitu tak berwarna, oh wahai Hati! Jangan puas seketika dengan warna, wahai Hati! Akar dari seluruh warna adalah yang tak berwarna celupan mana yang lebih baik dari Allah" [QS2:138], Wahai Hati?

KILAUAN KE-14

Kata eksistensi kadang-kdang digunakan untuk memaknai realisasi dan pencapaian, yang merupakan makna verbal dan konsep sudut pandag. Dalam sudut pandang ini, ia merupakan terpahami sekunder, atas dan

terhadap apa yang tiada di dunia zahir. Meskipun demikian, eksistensi terjadi kepada intisari pemikiran secara akal. Maka itulah yang dibenarkan oleh kaum filsafat dan pemuka agama. (Makna Pertama) Kadang-kadang kata eksistensi dikatakan, namun maknanya adalah Realitas/Hakekat yang telah ada melalui Zat-Nya sendiri, sementara sisa maujud yang lain ada melaluiNya. Dalam hakekatnya, tiada maujud selain Dia dalam dunia zahir. Maujud yang lain terjadi kepada-Nya dan memikul wujud melalui-Nya. Itulah yang disaksikan dan dirasakan oleh Pengenal Sempurna dan Hebat dan Ketinggian Ahlul Yaqin (Makna Kedua). Pemiliki batasan menilai melalui akal bahwa wujud Terjadi hanya melalui entitas dan realitas

Pemilik mukasyafah melihat dalam mukasyafah bahwa entitas Seluruhnya terjadi dan eksistensi adalah lokus kejadian mereka.

KILAUAN-15 Sifat adalah lain dari Zat dalam acuan apa yang dipahami fakultas rasional, namun mereka identik dengan Zat dalam sudut pandang realisasi dan pencapaian. Sebagai contoh, Zat adalah Maha Mengetahui dalam sudut pandang sifat berilmu, Maha Kuasa dalam sudut pandang kekuasaan, Maha menghendaki dalam sudut pandang sifat berkehendak. Tiada keraguan dalam hal itu, persis sebagaimana hal ini berbeda dari yang lain dalam istilah konsep,

mereka juga berbeda dari Zat. Bagaimanapun, dalam istiah realisasi dan wujud, mereka sama dengan Zat, dalam makna bahwa tiada keragaman dalam wujud. Malahan, hanya ada satu wujud, sementara nama-nama dan sifatsifat dalah hubungan dan sudut pandang. Wahai Engkau yang Zat-Nya murni dari noda dalam setiap keadaan Tentang Kamu tiada bagaimana dapat ditanyakan atau dimana. Dalam akal Seluruh sifat adalah lain dari Zat-Mu, Namun dalam realisasi/hakekat, seluruhnya adalah sama.

KILAUAN-16 Zat adalah seperti penanggalan seluruh nama dan sifat dan membersihkan dari segala hubungan dan pensifatan. Ia dicirikan melalui masalah-masalah ini dalam acuan akan perhatian-Nya kepada dunia manifestasi dalam Tajalli Awal-Nya, yaitu Dia mentajallikan diriNya melalui diri-Nya kepada diri-Nya. Kemudian hubungan ilmu, bur, wujudm dan penyaksian menjadi ternyatakan. Hubungan ilmu membawa yang mengetahui dan yang diketahui Nur memerlukan penzahiran dan menjadikan. Masalah Eksistensi dan penyaksian muncul dalam penemuan eksistensi dan menjadi ditemukan dalam eksistensi, penyaksian dan yang menyaksikan.

Dalam cara yang sama, manifestasi yang merupakan apa yang diperlukan cahaya, didahului oleh non-manifestasi (pembatinan); dan non-menifestasi memilili prioritas esensial dan keawalan dalam hubungan manifestasi. Maka Nama Al- Awal dan Al Akhir, Az Zahir dan Batin menjadi ternyatakan. Demikian jugam Tajalli Kedua, dan Ketiga sejauh Allah berkehendak--dan pensifatan tergandakan. Semakian banyak penggandaan atau keragaman hubungan dan nama-nama, semakin banyak Manifestasi-Nya, atau bahkan batinisasi-Nya. Maka segala puji bagi-Nya yang menghijab diri-Nya melalui lokus nur manifestasi-Nya dan menjadi zahir melalui menurunkan tirai-Nya. Batiniah-Nya adalah daam acuan Zat yang tak terikat dan tak bercampur, dan manifestasi-

Nya dalam acuan akan lokus manifestasi dan entifikasi. . Wahai mawar indah yang mulutnya seperti kuntum bunga, Mengapa tetap menyembunyikan wajahmu seperti gadis penggoda? Dia tertawa dan berkata, Tidak seperti duniamu, Dalam hijab aku terlihat, namuntanpa hijab aku tersembunyi. Pipimu tidak dapat dilihat tanpa topeng, Dan matanya tidak dapat terihat tanpa hijab. Selama matahari Terus bersinar terang, Pancurannya tidak akan pernah terlihat. Ketika matahari menampakkan bendara cahayanya di langit,

Ia menyilaukan mata dari kejauhan dengan sinarnya. Ketika ia menyinari dari balik hijab awan, Si pelihat dapat melihatnya tanpa jatuh pingsan.

KILAUAN -17 Entifikasi Pertama/Taayyun adalah kesatuan murni dan potensialitas belaka yang melingkupi seluruh penerimaan, entah penerimaan untuk terpisah dari seluruh atribut dan hal, atau penerimaan untuk dikualifikasikan dengan seluruhnya. Dalam acuan keterpisahan dari seluruh hal meskipun dari penerimaan untuk keterpisahan iniia dalah derajat Kesatuan, miliknya lah

batiniah, keawalan dan ketanpa-awalan. Dalam acuan kualifikasi melalui seluruh atribut dan hal, ia adlah derajat Satu dan Keseluruhan, dan miliknya lah lahiriah, keakhiran dan ketanpaakhiran. Sebagian hal dari derajat Kesatuan dan Keragaman adalah sepert Zat yang dikualifikasikan oleh mereka dalam acuan derajat pengumpulan, entah keadaan awal mereka menjadi realisai dan eksistensi sebagian maujud, seperti penciptaan, pemberian rejeki, dst; atau tidak, seperti hidup, berilmu, keinginan dst. Inilah nama-nama dan sifat-sifat Uluhiyah dan Rububiyah. Bentuk dari apa yang diketahui tentang Zat ketika Dia terjubahkan dalam namanama dan sifat-sifat ini adalah Realitas Ilahiyah. Fakta bahwa Sisi Zahir dari Wujud menjadi terjubahkan dalam mereka tidaklah mewajibkan keragaman wujud.

Sudut pandang lain adalah Zat terjubahkan melalui mereka dalam acuan derajat maujud, seperti perbedaan, kekhususan dan entifikasi, yang merupakan keistimewaan yang membedakan sebuah entitas dengan entitas yang lain. Bentuk apa yang diketahui tentang Zat terjubahkan dalam hal ini adalah realitas maujud. Ketika Zahir Wujud menjadi terjubahkan dengan sifat dan jejak mereka, ini mengharuskan keragaman wujud. Sebagian maujudat, ketika Wujud meliputi mereka melalui kesatuan keseluruhan dari kesibukan-Nya dan ketika jejak-jejak mereka dan sifat-sifat menjadi nyata melalui-Nya mempunyai kesiapan untuk menzahirkan seluruh Sifat Ilahiyah, dengan pengecualian Wajibul Wujud, sesuai dengan keragaman derajat manifesatsi dan dalam istilah kekuatan dan kelemahan, penaklukkan dan menjadi

ditaklukkan. Sepeti contoh adalah individu manusia di antara Nabi dan Rasul serta Waliullah. Yang leain memiliki kesiapan untuk menzahirkan sebagian sifat tanpa yang lain, sesuai dengan keragaman yang disebutkan, dan demikian juga maujud yang lain.

KILAUAN KE-18 Ketika engkau menghilangkan penampakkan dan karakter individual yang memnyusun berbagai spesies yang termasuk dalam genus binatang, individu-individu setiap spesies akan terhimpun di bawah spesies. Ketika kamu menghilangkan karakter seperti perbedaan dan hukum-hukumnya, seluruhnya akan terhimpun dibawah hakekat binatang. Ketika kamu menghilangkan perbedaan fitur hewan dan segala yang termasuk bersamanya dibawa tubuh

yang berkembang maka seluruhnya terhimpung di dalam tubuh yang berkembang. Ketika kamu melenyapkan perbedaan karakter tubuh yang berkembang dan segala yang ia liputi, maka seluruhnya akan terhimpun dalam hakekat tubuh. Ketika kamu melenyapkan perbedaan karakter tubuh dan segala yang dia liputiAku maksud akal dan jiwadi bawah substansi, seluruhnya berada di abwah hakekat substansi. Ketika kamu melenyapkan melalui apa substnasi dan aksiden menjadi terbedakan, seluruhnya akan terhimpun dibawah hakekat mumkinat. Akhirnya ketika kamu melenyapkan perbedaan karakter yang pasti dan yang tidak pasti, seluruhnya ini terhimpun dalam Wujud Mutlak yang merupakan Wujud Al-Haq.mewujudkan diri-Nya sendir, dan bukan mellaui wujud yang lain selain diri-Nya. Wajib adalah kualitas eksternal-Nya dan

ketidakpastian adalah kualitas internal-Nya mereka adalah ayn tsabitah yang dihasilkan dari tajalli diri-Nya kepada diri-Nya ketika mengumpakan cara-cara-Nya Seluruh perbedaan ini, entah disebut perbedaan dan ahkam atau penampakan adalah Cara-cara Iahiyah, yang terliputi dan tersangkut dalam Kesatuan Wujudiyah. Mula-mula caranya terwakili dibawah bentuk ayn tsabitah dalam tahapan yang disebut Pikiran Ilahi atau Ilmu. Dalam tempat berikutnya, yaitu dalam tahapan dunia zahir, yang terpakaikan dengan ahkam dan sifat eksistensi zahir, yang merupakan teater manifestasi,sebuah crmin yang memantulkan batin Wujud Al Haq. Mode ini menerima bentuk-bentuk objek lahiriah. Ini menghasilkan kesimpulan bahwa dalam dunia lahiriah hanya ada Wujud Tunggal Al Haq, yang dengan memakaikan diri-Nya dengan

berbagai cara dan sifat nampak terkenakan dengan keragaman dan kejamakan kepada mereka yang terkurung penjara sempit derajat/tahapan, dan yang pandangannya terbatasi oleh sifat-sifat zahir dan hasil. Aku pelajari buku Ciptaan sejak muda Dan setiap halaman yang aku teliti,dengan segera Aku tidak temukan apapun di dalamnya selain Al Haq, Dan sifat-sifat yang terikat kepada Al Haq Apa yang dimaksud dengan Dimensi, Tubuh, Spesies Dalam derajat-derajat mineral, tumbuhan, dan hewan? Al Haq adalah tunggal, namun mode-mode-Nya menghasilkan Seluruh entitas imajiner

KILAUAN KE-19 Ketika seseorang berkata bahwa keragaman makhluk tercakup dalam Kesatuan Wujud, ini tidak bermakna bahwa mereka adalah bagianbagian yang terkandung dalam keseluruhan, atau sebagai objek yang terkandung dalam sebuah penerima; namun mereka adalah sebagai kualitas yang melekat dalam objek yang disifatkan atau sebagai akibat yang mengalir dari penyebab mereka. Ambil sebagai contoh, setengah, sepertiga, seperempat dan bagian lainnya sampai kepada tak terhingga, yang secara potensial tercakup di dalam angka 1, meskipun tidak secara nyata terzahirkan hingga mereka disingkapkan untuk dilihat melalui pengulangan berbagai angka dan bagian. Dari sini ketika seseorang berkata Al HaqTaala yang meliputi seluruh wujud,

maknanya adalah Dia meliputi mereka sebagai sebab yang meliputi akibat, bukan berarti Dia adalah keseluruhan yang mengandung mereka sebagai bagian-bagian-Nya, atau sebagai wadah yang mengandung sesuatu di dalamnya. Allah terlalu tinggi di atas segalanya yang tidak layak untuk menyentuh halaman Kesucian-Nya. Kesibukan ini di dalam Esensi Al Haq, Seperti sifat yang mensifatkan Al Haq; Pelajari aturan ini, sebab dimana Allah berada Tiada bagian ataupun keseluruhan, wadah atau isi

KILAUAN KE-20 Manifestasi dan ketersembunyian kesibukan dan aspek adalah karena mereka menjadi atau tidak menjadi terjubahkan dalam Wujud Lahiriah,

namun ini tidak mewajibkan perubahan dalam Substansi Wujud dan sifat-sifat-Nya, namun hanya perubahan Dallam hubungan-Nya dan atribusi-Nya yang dalam hakekatnya tidaklah mewajibkan perubahan dalam Esensi-Nya. Sebagai contoh, jika Amir berdiri dari sisi kanan Zaid dan pergi dan duduk di sisi kirinya, maka hubungan Zaid kepada Amir dalam acuan posisi akan berubah, namun Esensinya dan sifat yang melekat akan tetap tidak berubah. Dengan cara yang sama, Wujud Al Haq tidaklah bertambah kesempurnaan melalui menjadi terjubahkan dalam bentuk-bentuk mulia, tidak juga Ia menerima pengurangan melalui menjadi zahir dalam lokus manifestasi. Meskipun cahaya matahari menyinari pada yang suci dan yang tidak suci sekaligus, meskipun demikian ia tidak mengalami perubahankemurnian cahayanya;ia tidak memperoleh harumnya misik atau warna

bunga mawar, rasa malu dari duri, dan kesalahan dari batu. Ketika matahari menghiasi dunia dengan sinarnya Ia menyinari yang bersih dan kotor Tiada kotoran yang menodai sinarnya Dan tiada yang bersih menambah kesuciannya

KILAUAN KE-21 Yang Mutlak tidak lah eksis tanpa yang relatif, dan yang relatif tidaklah mendapatkan bentuk tanpa Yang Mutlak; namun yang realif membutuhkan ang Mutlak, sementara Yang Mutlak tidak membutuhkan yang relatif. Sebagai akibatnya, hubungan keperluan keduanya saling membutuhkan, namun kefaqiran hanya dari satu

sisi, seperti gerakan tangan yang memegang kunci. Wahai Engkau yang tempat sucinya tak seorang pun yang melihat Alam muncul dari-Mu namun Engkau tidaklah tampak Kami dan Engkau tidaklah pernah terpisahkan, meskipun demikian Tetap saja Engkau tidak membutuhkan Kami. Lebih lanjut, Yang Mutlak memerlukan yang relatif melalui cara pengganti. Ia tidak memerlukan relatif khusus. Namun karena Yang Mutlak tiada memiliki pengganti, arah kiblat dari setiap kebutuhan (kefaqiran) relative adalah Dia, tiada yang lain. Kedekatan kepada-Mu tidaklah dapat dicapai memalui sebab akibat

Ia tidak dapat dicapai tanpa Karunia Asal Bagi setiap manusia yang menggantikan Engkau tiada memiliki pengganti, sehingga pengganti-Mu tidak dapat ditemukan Wahai Engkau yang Esensi-Mu Yang Maha Tinggi bukan substansi dan bukan juga aksiden Yang karunia dan kemurahan hati tidaklah termotivasi oleh tujuan. Tidak peduli siapapun yang tidak ada di sana, Engkau dapat menggantikannya. Namun jika seseorang tidak memiliki-Mu, tak seorang pun dapat menggantikan-Mu Mengacu kepada Esensi-Nya lah Yang Mutlak tidak membutuhkan yang relatif. Dalam sudut pandang lain, manifestasi nama-nama UluhiyahNya dan realisasi hubungan Rububiyah-Nya adalah benar-benar tidak mungkin selain dengan cara yang relatif.

Wahai Engkau yang keindahan-Nya telah menyebabkan kerinduan dan pencarian Pencarian-Mu adalah cabang dari pencarianku Andai bukan karena cermin cintaku Keindahan Kecintaan-Mu tidaklah akan tampak. Tidaklah demikian, sesungguhnya Sang PEcinta adalah Al Haq dan yang dicinta adalah Dia, sang pencarai adalah Al Haq dan yang dicari adalah Dia. Dia adalah Yang Dicari dan Yang Dicinta dalam maqam Jami ahadiyati (Penghimpunan Kesatuan), dan si pencari dan si pecinta dalam derajat perbedaan dan keragaman. Wahai Engkau yang kepada-Nya lah tak seorang melalukan perjalanan selain-Mu Tiada mesjid dan gereja yang kosong dari-Mu! Aku melihat seluruh pencari dan segala sesuatu yang dicari Seluruhnya adalah Engkau, tanpa ada siapapun.

KILAUAN KE-22 Hakekat dari setiap sesuatu adalah entifikasi Wujud dakam Kehadiran Ilmu daam acuan kesibukan dimana sesuatu itu adalah lokus manifestasi; atau ia adalah Wujud itu sendiri, yang terkenali oleh kesibukan dalam Kehadiran itu. Sebagai akibatnya, setiap maujud adalah meliputi akan entifikasi Wujud dalam acuan pewarnaan Penzahiran Wujud melalui jejakjejak dan ahkam dari hakekat maujud, atau mereka adalah Wujud itu sendiri yang menzahir dengan pewarnaan yang sama, sehingga realitas tetap selalu tersembunyi dalam Batin Wujud, sementara jejak dan ahkam tampak dalam Zahir Wujud.

Bagaimanapun, pelenyapan bentukbentukpengetahuan dari Sisi Batin Wujud adalah menggelikan, sebab itu berarti memerlukan kebodohanAllah Maha Tinggi dari hal demikian! Kami lah tampak muka dan ragam Wujud Dan terjadi demi pengetahuan zahir dan batin Esensi Wujud Kami tersembunyi di bawah jubah ketiadaan Meskipun demikian terpantulkan dalam cermin Wujud Sebagai akibatnya, segala sesuatu dalam hakekat dan realitasnya adalah Wujud yang ternyatakan atau penampakan-penampakan yang terjadi demi Wujud, atau penampakan sifat sesuatu yang tampak. Meskipun dalam sudut pandang, sifat adalah lain daripada objek yang disifatkan, dalam sudut pandang keberadaan, mereka adalah

sama. Meskipun berbeda di dalam ilmu, identitas dalam faktanya membenarkan atribusi (penganggapan akan asal). Di tetangga, sahabat dan teman, Dial ah yang kita lihat. Dalam kain lap pengemis, jubah raja seluruhnya adalah Dia. Dalam jamuan penyebaran ataupun ruang khusus penyatuan Seluruhnya adalah Dia, demi Allahdemi Allah, seluruhnya adalah Dia!

KILAUAN KE-23

Meskipun realitas Wujud membawahi Wajibul seluruh eksistensi yang menyatakan Diri-Nya sendiri kepada seluruh maujud, baik dalam alam

ilmu maupun alam zahir, Dia menjadikannya dalam derajat-derajat yang berbeda (sebagain lebih tinggi dari yang lain). Dan dalam setiap derajat ii Dia memiliki nama khusus, sifat, hubungan dan hal yang tidak ada dalam derajat yang lain, seperti derajat Rububiyah da Uluhiyah , atau derajat Ubudiyah dan Makhlukiah. Sebagai contoh, menerapkan nama-nama derajat Uluhiyah seperti Allah dan Ar Rahman dst kepada derajat maujud adlah sama dengan kafir dan tiada lain bidah belaka. Dengan cara yang sama, menerapkan kepada Derajat Uluhiyah yang merupakan nama khusus bagi maujud adalah benar-benar sesat dan khayal. Wahai engkau yang mengira dirinya adalah seorang master hakekat, Seorang yang shiddiq dalam ketulusan dan keyakinan! Setiap derajat maujud

Memiliki sifat Jika kamu tidak menjaga martabat, kamu seorang zindiq.

KILAUAN KE-24 Wujud Al Haq hanya Satu. Ia sekaligus Wujud Mutlak dan Esistensi Al Haq. Bagaimanapun Ia memiliki banyak derajat: Dalam derajat pertama, Dia tidak terzahirkan dan terkondisikan, dan bebasa dari segala batasan dan hubungan. Dalm aspek ini Dia tidak dapat digambarkan dengan sifat atau nama apapun, dan terlalu suci untuk ditentukan dengan pembicaraan dan kata-kata tulisan; tidak juga ada tradisi mampu membicarakan KeagunganNya, tidak juga akal memiliki kekuatan untuk menunjukkan kedalaman kesempurnaan-Nya.

Kaum Filsuf terhebat akan bingung melalui ketidakmungkinan memperoleh pengetahuan tentang Dia; karakter pertama-Nya dalah ketiadaan karakter, dan hasil akhir dari usaha untuk mengenal-Nya adalah kebingungan. Kepada-Mu lah seluruh keyakinan dan asumsi yang ditempa oleh bukti intusi tidak bermakna apapun Tiada bukti yang dapat memberikatentang Zat_mu Dimanapun Engkau berada, seluruh tanda tiada. Jiwa sang pengenal yang mungkin sadar dengan baik, Bagaimana dia dapat memasuki kesucian-Mu? Tangan ahli kaysaf dan musyahadah tentang Rabb Tiada memiliki konsep yang cukup tentang Kamu

Cinta yang merupakan bagian tak terpisahkan kami Sangat jauh Dia untuk dapat dipersepsi dengan akal! Sungguh saat yang menggembirakan ketika embun keyakinan muncul dari cahaya-Nya Membebaskan kami dari kegelapan dan seluruh keraguan. Derajat kedua adalah perkenalan Wujud melalui sebuah pengenalan yang meliputi seluruh pengenalan manifestasi Ilahiyah, aktif, dan wajib dan seluruh manifestasi maujudat, pasif dan mumkinta. Derajat ini dinamakan Taayyun Awal sebab ia adalah Pengenalan Pertama akan Wajibul Wujud. Di atasnya adalah tiada perkenalan, tak ada yang lain. Derajat ketiga adalah Kesatuan Keseluruhan (Ahadiyati Jami) akan seluruh yang aktif,

penzahiran pengaruh jejak-jejak. Derajat ini disebut Derajat Ilahiyah. Derajat keempat adalah pembedaan derajatderajat Ilahiyah. Ini alh derajat nama-nama dan kehadiran jejak mereka. Dua derajat yang disebutkan terakhir ini mengacu kepada aspek zahir dari Wujud,yang gambaran khususnya adalah Wajibul Wujud. Derajat kelima adalahAhadiyati Jami dari seluruh yang penampakan pasif, yang tugasnya adalah menerima jejak dan menjadi pasif. Inilah derajat maujudat mumkinat. Derajat keenam adalah perbedaan derajat maujudat, yang merupakan derajat alam. Terjadinya dua derajat terkahir ini mengacu kepada bentuk Zahir Ilmu, yang satu kebutuhannya adalah mumkinat. Ia adalah

tajalli-Nya tentang diri-Nya kepada diri-Nya dalam bentuk-bentuk realitas dan entitas mumkinat. Maka dalam hakekatnya, Wujud tidak lebih dari satu. Ia meliputi seluruh derajat ini dan seluruh realitas ini yang merupakan detil dari Ketunggalan-Nya (Wahidiyat). Wajibul Wujud dalam derajat ini adalah idnetik dengan mereka, persisi sebagaimana mereka dalam derajat ini adalah identik dengan-Nya. Inilah makna hadits, Allah ada dan tak ada sesuatu pun bersama-Nya. Wujud menampakkan diri-Nya dalam segala hal, Dan jika kamu ingin menjaga jalan keadaan-Nya dalam setiap hal, Maka lihatlah gelembung udara pada permukaan anggur, bagaimana Anggur adalah mereka di dalamnya,

dan mereka adalah anggur di dalam anggur Pada lembar ketiadaan,pancaran cahaya Keabadian Memancar terus menerus, sebagaimana manusia dapat melihat Jangan pernah menyangka Al HAq terpisah dari alam, sebab Alam di dalam Al Haq, dan di dalam alam Al Haq tiada lain adaah alam.

KILAUAN KE-25 Hakekat dari segala Hakekat yang merupakan Zat Ilahi adalah Realitas dari seluruh hal. Dalam batasan Zat-Nya sendiri, Dia Satu dan tunggal sedemikian hingga tiada kejamakan yang dapat memasuki-Nya. Bagaimanapun, penyingkapan-

Nya yang beragam dan berbagai penampakan fenomena dalam martabat, kadang Dia berada di bawah entitas mandiri substansial dan kadang di bawah entitas substansial yang bergantung dengan yang lain. Maka, Zat tunggal terlihat sebagai hakekat dan aksiden yang beragam melalui cara kejamakan sifat. Mengacu kepada Realitas yang tunggal, maka tiada keragamakan atau penggandaan dalam cara apapun. Tinggalkan kata ini dan itu, Mengkhayalkan dualitas adalah bukti keterpisahan dengan-Nya dan kemarahan Tanpa lalai dan salah,ketahuilah bahwa dalam seluruh maujudat Hanya ada Satu Hakekathanya Satu Zat

Hakekat unik ini, dipandang sebagai mutlak dan meniadakan seluruh fenomena, seluruh batasan dan seluruh keragaman adalah Al-Haq. Sebaliknya, dipandang dalam apek-Nya akan keragaman dan kejamakanm dibawahnya Dia menampakkan diri-Nya yang terjubahkan fenomena, Dia lah seluruh alam yang diciptakan. Karena itu alam semesta adalah penampakan zahir Al Haq, dan Al Haq adalah hakekat batin alam semesta. Alam semesta sebelum ia berkembang ke penampakan lahiriah adalah identik dengan Al Haq; dan Al Haq setelah penampakan ini adalah identik dengan Alam Semesta. Tidak, lebih jauh dalam hakekatnya hanya ada Wujud Al Haq; penyembunyian-Nya dalam ilmu Ilahi dan penzahirannya (Dalam dunia lahir), keawalan dan keakhiran-Nya (dalam sudut pandang masa) hanyalah murni hubungan-Nya dan apek-Nya. Adalah Dia Yang

Awal dan DIa yNag Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin. Dalam berhala cantik, tujuan pemuda yang penuh nafsu Dan dalam seluruh pusast perhatian adalah Al Haq Dalam acuan pembatasan, ia adalah alam Namun dalam hakekatnya ia adalah Al Haq Ketika Al HAq menjadi jelas dalam seluruh kesibukan Alam pun tersaksikan, penuh penerimaan dan kehilangan Andai ia dan seluruh penghuninya kembali kepada ketidakberbedaan Maka tetap Al Haq yang tinggal

KILAUAN KE-26 Dalam Bab Syuaib Syaikhul Akbar berkata bahwa alam semesta terdiri dari aksiden yang terhimpun dalam Satu Entitas, yang merupakan realitas Wujud. Ia mengalami perubahan dan pembaharuan terus menerus pada setiap nafas dan setiap saat (khalqun jadiid). Pada setiap saat alam pergi kepada ketiadaan dan yang serupanya datang ke dalam eksistensi., namun kebanyakan penghuni alam tidak menyadari makan ini, persis sebagaimana Allah katakana, Tidak, sesungguhnya mereka ragu akan penciptaan baru (QS50:15). Di antara pemikir rasionalis, tak seorang pun memahami makna ini kecuali kaum Asyariah dalam acuan akan bahwa bagian-bagian alam adalah aksiden, sebab mereka berkata, Aksiden tidaklah ada dalam dua masa, dan Husbaniyah

yang dikenal sebagai Kaum Filsuf, menyangkut tentang seluruh bagian kosmos, entah substansi atau aksiden. Namun setiap kelompok salah dalam cara tertentu. Adapun bagi Asyariah mereka keliru sebab mereka menegaskan kejamakan substansi yang terpisah dari Wujud Al Haq dan bertahan pada pendapat bahwa perubahan, pembaharuan aksiden berlangsung melalui mereka. Mereka tidak tahu bahwa kosmos dalam seluruh bagiannya tiada lain selain aksiden yang mengalami pembaharuan dan perubahan dalam setiap nafas dan terhimpun dalam Entitas Tunggal. Pada setiap saat,mereka lenyap dari Entitas inim dan keserupaan mereka terjubahkan dengan Entitas ini. Karena itu, seseroang yang memandang jatuh ke dalam kekeliruan melalui cara rangkaian keserupaan. Dia menyatakan bahwa masalah adalah satu dan berkelanjutan.

Maka kaum Aysari berkata bahwa keserupaan menggantikan yang lain dalam lokus aksidenm tanpa sesaatpun menjadi kosong akan aksiden yang serupa kepada individu pertama. Sehingga sang pengamat mengira ia adalah masalah yang berkelanjutan. Sebuah lautan, tidak berkurang, tidak bertambah, Gelombang datang dan pergi Karena alam terjadi dari gelombang, Ia tidak pernah bertahan dalam dua peristiwa, atau bahkan dua saat. Kosmos jika kamu mengambil pelajaran Adalah sebuah penampakan yang mengalir dalam penyusulan tahapan-tahapan Di dalam seleuruh tahapan dari aliran penampakan adalah sebuah misteri dari Hakekat segala Hakekat yang maha meliputi

Adapun kesalahan kaum Filsuf adalah , meskipun mereka benar dalam menyatakan perubahan konstan yang memenuhi seluruh kosmos, mereka tidak memperhatikan bahwa Wujud Al Haq membawahi itu semua, yang memakikan diri-Nya dengan bentuk-bentuk dan aksiden alam lahiriah, dan tampak kepada kita diabwah samara fenomena dan keragaman. Ia tidak memiliki manifestasi dalam derajat maujud kecuali melalui bentuk-bentuk ini dan aksidenaksiden; persis seperti mereka tiada memiliki eksistensi dalam dunia lahiriah tanpa-Nya. Kaum sufi, yang tidak mengetahui apa yang akal temukan Berkata bahwa dunia adalah gambar yang berjalan. Betul, seluruh alam adalah gambar,

namun di dalamnya Al Haq yang menyingkapkan diri-Nya secara abadi.

Adapun bagi pemilik mukasyafah dan musyahadah, mereka melihat bahwa Hadrat Al Haq menyingkapkan diri-Nya pada setiap nafas dengan tajali yang lain dan tiada pengulangan sama sekali dalam tajalli-Nya. Dengan kata lain, Ia tidak mentajallikandiri-Nya pada dua saat melalui satu entitas dan satu eksbukan. Malahan, pada setiap nafas Ia menjadi zahir melalui entitas yang lain, dan pada setiap saat Ia menyingkapkan diri-Nya dalam kesibukan yang lain. Bentuk-bentuk yang memakai eksistensi hanya bertahan satu saat Saat berikutnya ia pergi

Carilah makna ini dalam setiap hari Dia dalam kesibukan (QS55:29) Jika kamu memerlukan bukti dari Kalam Al Haq.

Rahasia dari hal ini adalah Kehadiran Al Haq memiliki nama-nama yang berlawanan, sebagian kelembutan dan sebagian penaklukkan. Seluruhnya terus menerus bekerja, dan tidak mengijinkan adanya ketidakefektifan/sia-sia. Karena itu, ketika satu dari realitas mumkinat disiapkan bagi eksistensi disebabkan pencapaian syarat awal dan penghilangan rintangan,menjadi mampu menerima Wujud, maka rahmat Ar Rahman merengkuhnya dan melimpahkan wujud kepadanya. Dan Wujud pun terzahirkan melalui terjubahkan jejak-jejak dan ahkam substansi tersebut, menghadirkan diri-Nya dalam bentuk fenomena tertentu.Setelah itu, melalui

bekerjanya Kekuatan yang Maha Mengalahkan yang memerlukan pelenyapan seluruh fenomena dan seluruh jenis keragaman, hakekat yang sama ini menanggalkan seluruh fenomena ini. Pada saat bersamaan penanggalan ini, hakekat yang sama terjubahkan dengan fenomena khusus lainnya, yang menyerupai sebelumnya, melalui kerja rahmat dari Ar Rahman. Momen berikutnya fenomena lenyapkan oleh Kekuatan Yang Maha Mengalahkan dan fenomena yang lain kembali terbentuk melalui rahmat Ar Rahman, dan demikian seterusnya sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Karena itu tidak pernah terjadi bahwa tajalli terjadi dalam dua saat yang berurutan dalam samara fenomena yang sama. Pada setiap saat alam pergi kepada ketiadaan dan pada saat yang sama alam lain yang serupa dengannya datang ke dalam wujud.

Bagaimanapun bagi mereka yang terhijab karena rangkaian keserupaan dan hubungan antara keadaan, menghayal bahwa eksistensi kosmos berada dalam satu keadaan yang sama, dan tidak pernah berubaha dari waktu ke waktu. Segala puji bagi Allah! Betapa mengagumkannya cinta Allah, karunia yang serba meliputi, kemurahan hati, rahmat, dan kebaikan! Pada setiap nafas Dia membawa kosmos ke dalam ketiadaan, dan pada saat yang sama Dia membawa yang lain serupa denganya. Allah adalah Dia yang memberikan setiap jenis karunia, Namun setiap nama-Nya memberikan karunia khususnya. Kepada relitas alam pada setiap saat, satu nama memberikan fana,

Yang lainnya memberikan kehidupan yang baru. Bukti bahwa kosmos adalah totalitas aksiden yang terkumpul dalam Satu Esensi yaitu Al Haq atau Wajibul Wujud, terletak di dalam fakta bahwa ketika seseorang ingin mendefinisikan sifat alami dari makhluk, maka definisi tidak meliputi apapun selain aksiden. Sebagai contoh, ketika seseorang mendefinisikan manusia sebagai hewan rasional; dan hewan sebagai tubuh yang berkembang, merasakan sensasim bergerak secara insting. Tubuh adalah substansi yang menerima tiga dimensi. Substansi adalah sebuah entitas yang eksis mengacu kepada sifat alaminya yang inheren namun tidak inheren dalam subjek lainnya; dan entitas sebagai esensi yang memiliki relaitas dan wujud yang harus--seluruh istilah yang digunakan di sini datang dari kategori aksiden, kecuali esensi samar yang dipahami dibalik istilah ini. Karena rasional

menunjukkan sebuah esensi terlapisi akal; yang berkembang menunjukkan esensi yang terliputi indera pertumbuhan;dst. Esensi samar ini dalam faktanya adalah Al Haq, Wujud Mutlak, yang ada dengan sendirinya, dan yang menyebabkan seluruh aksiden eksis. Dan ketika kaum Filsuf menuduh bahwa konsep seperti ini bukanlah perbedaan, namun hanya merupakan tanda-tanda yang tetap akan perbedaan ini dimana kita menyatakannya, sebab tidak munkgin untuk menyatakan perbedaan sebenarnya selain dengan tanda-tanda tetap ini, atau yang lain tetap sulit dimengert, anggapan ini tidak dibenarkan dan tidak layak untuk diperhatikan dengan serius. Anggap kita membolehkannya, ketika sesuatu bersifat esensial bagi sebuah zat, ia akan bersifat aksidental dalam hubungan dengan Entitas Tunggal. Meskipun itu terjadi dalam realitas zat, ia akan berada diluar Entitas tunggal. Dan mengatakan bahwa ada entitas substansial yang

lain dari Zat Wajibul Wujud adalah kesalahan yang tinggi, khususnya ketika pemilik penyingkap Hakekatyang dinayalakan dari ceruk lilin Kenabianmenyaksikan kontradiksi, dan lawannya tidak mampu memberikan bukti apapun. Dan Allah berkata benar dan Dia menunjukkan jalan (QS33:4) Jangan mencari kebenaran makna dari ucapan Jangan mencari tanpa mengangkat ikatan dan rasa hormat Jika kamu ingin menemukan penyembuhan dari penyakit kebodohan Jangan mencari dalil agama akan pembebasan dari sindiran Jika pada setiap manazil jalanmu terbelokkan kepada tujuan yang berbeda Maka tujuan yang Haq tidak akan pernah engkau lihat

Hingga hijab diangkat dari matamu Cahaya Kebenaran tidak akan pernah terbit bagimu Berjuanglah untuk menyibak hijab, bukan mengumpulkan buku Jika kamu mengumpulkan buku, kamu tidak akan pernah mengangkat hijab Bagaimana cinta muncul dari halaman bukumu? Tutuplah mereka, kembali kepada Allah, dan mohonlah ampun! Hijab terbesar dan topeng paling tebal atas keindahan Wujud Al HAq adalah dihasilkan dari keragaman pembatasan pada sisi zahir Wujud melalui terjubahkannya Dia dalam sifat dan jejak entitas terikat (ayan tsabitah) yang berada pada Pengetahuan Ilahi, yang merupakan sisi batin dari Wujud. Bagi mereka yang terbutakan oleh hijab ini tampak bahwa entitas ini eksis dalam

dunia zahir ini, dimana pada faktanya objek zahir ini tidak pernah mencium wewangian eksistensi zahir, mereka selalu dan akan selalu berada pada asal mereka yaitu ketiadaaan. Apa itu eksisten dan yang disaksikan adalah Al Haq, namun mengacu kepada wujud yang terjubahkan dalam ahkam dan jejak-jejak dari entitas, bukan dalam acuan wujud yang terpisah dari mereka, sebab dalam acuan ini, ketiadaan dan ketersembunyian adalah kualitas inheren-Nya. Sebagai akibatnya dalam realitasnya Al Haq selalu dalam Kesatuan-Nya sebagaimana Dia tanpa awa dan sebagaimana Dia tanpa akhir. Bagaimanapun, disebabkan terhijab oleh bentukbentuk keragaman dan jejak-jejak, Dia muncul dalam pandangan yang lain sebagai yang terikat dan terentitaskan dan tampak sebagai banyak dan beragam. Wujud adalah lautan, gelombangnya kekal

Tentang hali ini, penghuni dunia hanya melihta gelombang Lihatlah gelombang yang datang dari dalam lautan Ke sisi luar, lautan pun tersembunyi di dalamnya Wujud adalah hakekat Rabb seluruh alam Seluruhnya eksis di dalam-Nya dan Dia di dalam seluruhnya Inilah makna ucapan Kaum Arif Keseluruhan terlingkupi dalam Keseluruhan

Ketika sesuatu dizahirkan dalam sesuatu yang lain, maka ia kan berbeda dengan lokus manifestasi. Dengan kata lain, yagzahir adalah satu hal, dan okus manifestasi adalah yang lain. Lebih lanjut, apa yang nampak dari yang terzahirkan dalam lokus manifestasi adalah

kemiripan dan bentuk, bukan hakekat dan esensinya. Namun kejadiannya bukan demikian bagi Wujud Al Haq. Kapanpun Dia menzahirm Dia identik dengan lokus manifestasi dan di dalam keseluruhan lokus manifestasim Dia menzahir melalui Zat-Nya. Mereka berkata cermin seperti hati adalah mengagumkan Lihatlah di dalamnya wajah kekasihmubegitu indah! Tak seorang pun heran melihat wajah kekasih di dalam cermin Yang mengherankan adalah bagaimana cermin dan wajah jadi satu Wahai Engkau yang bentuknya telah memberikan cermin seluruh kilauannya Tanpa bentuk-Mu tiada cermin pernah terlihat

Tidak,tidakseluruh cermin menampakkan diriMu sendiri Dalam kelembutan-Nya, bukan bentuk-Mu

Al Haq bersamaan dengan gaya-Nya, sifat-Nya dan hubungan yang menyusun eksistensi sebenarnya dari wujud adalah bersifat imanen dalam wujdu sebenarnya dari seluruh makhluk. Karena itu dikatakan, Keseluruhan ada dalam Keseluruhan. Ghulzani Raz berkata: Jika kamu belah hati sebesar setetes air Akan muncul darinya seratus lautan yang murni. Segala kekuatan dan tindakan yang terzahirkan yang muncul dalam teater manifestasi berasal dalam hakekat dari Al Haq yang terzahirkan

dalam teater ini, dan bukan berasal dari diri mereka sendiri. Syaikhul Akbar berkata Ra berkata dalam Hikmat aliyya dalam fasal Nabi Adam: eksistensi zahir tidak dapat betindak atas dirinya sendiri; tindakannya adalah apa yang dimiliki Rabb nya secara imanen di dalam dirinya. Karena itu eksistensi zahir ini adalah pasif, dan tindakan tidak dapat disandarkan kepadanya. Sebagai akibatnya kekuatan dan tindakan dikaitkan kepada hamba disebabkan manifestasi Al Haq dibawah bentuk hamba, dan bukan karena tindakan demikian benar-benar dipengaruhi oleh hamba itu sendiri.Allah menciptakan kaian dan apa yang kaian lakukan (QS37:94). Dan kenali fakta bahwa wujudmu, kekuatanmu, dan tindakanmu berasal dari Keagungan-Nya yang tiada memiliki sekutu. Baik kekuatan maupun tindakan disangkal dari kita

Ketiadaan keduanya adalah apa yang diperintahkan kepada kita Namun sejak ini adalah Dia yang hidup dalam bentuk-bentuk kita Baik kekuatan dan tindakan dikaitkan kepada kita Dirimu adalah tiada, wahai yang mengetahui! Jangan asalkan tindakanmu dari dirimu sendiri Jangan tunjukan wajah sedih Dirikanlah dinding dan mulailah melukis Berapa lama engkau memuji dirimu di hadapan mata yang cemburu? Berapa lama engkau mempromosikan kebaikan ketika tak seorang pun membeli? Kamu tiada, dan mengapa kamu mengira ada? Berapa lama pikiran sesat dan kebohongan ini?

KILAUAN KE-27

Sifat, hal dan tindakan yang zahir dalam lokus manifestasi diasalkan kepada Al Haq yang zahir di dalam lokus manifestasi tersebut. Ini berarti jika dari waktu ke waktu sebuah keburukan atau ketidaksempurnaan dijumpai dalam mereka, ini dimungkinkan dari arah ketiadaan akan sesuatu yang lain, sebab Wujud adalah kabiakan belaka. Kapanpun keburukan dibayangkan berasal dari sebuah urusan eksistensi, ini karena sebagian masalah eksistensi tidaklah eksis, bukan karena masalah eksistensi sebagai masalah eksistensi. Dengan kata lain disebabkan sesuatu yang lain. Seluruh kebaikan dan kesempurnaan yang kalian lihat Semuanya adalah Al Haq, yang bebas dari cela

Setiap sifat keburukan dan kutukan kembali kepada kurangnya penerimaan Kaum Filsuf mengklaim bahwa Wujud adalah kebaikan belaka. Mealui sebuah ilustrasi, mereka memberikan beberapa contoh: hujan es membuat rusak buah-buahan dan ini adalah keburukan bagi buah-buahan. Namun ia bukanlah leburukan secara mutlak, sebab ia adalah satu kualitas dari Wujud, dalam dalam hal ini bagian dari kesempurnaan Wujud, namun ia disebut keburukan karena mencegah buah mencapai kesempurnaan masaknya. Demikian juga pembunuhan, yang merupakan keburukan, ia bukanlah keburukan dalam acuan kekuatan si pembunuh, bukan juga karena alat yang digunakan untuk membunuh, bukan juga kelemahan tubuh yang dibunuh, namun ia disebut keburukan karena lenyapnya kehidupan

seseorang, dan ini adalah masalah ketiadaan. Dan seterusnya dengan contoh yang lain. Kapanpun wujud terlihat, wahai hati Ketahuilah dengan yakin bahwa itu adalah Kebaikan Murni Setiap keburukan dating dari ketiadaan, bukan dari wujud Sehingga seluruh keburukan dihubungkan dengan yang lain,Wahai hati!

KILAUAN KE-28

Dalam Kitab Nusus, Syeikh Sadr Al-Din Qunawi Qs berkata: Ilmu terikat kepada Wujud, yang berarti bahwa setiap realitas yang ada, maka terdapat ilmu.

Perbedaan ilmu berada dalam perbedaan realitas dalam menerima wujud, apakah sempurna atau tidak sempurna. Maka yang lebih sempurna dalam menerima wujud, lebih sempurna pula ilmunya, demikian juga sebaliknya. Pangkal pokok perbedaan ini adalah bahwa ahkam dari yang wajib dan mumkinat menguasai dan yag terkuasai. Dalam setiap realitas dimana hukum yang wajib lebih dominan, eksistensi dan ilmu akan lebih sempurna. Dalam setiap realitas dimana hukum mumkinat lebih dominan wujud dan ilmu lebih kurang sempurna. Tampaknya Syeikh menyatakan hal ini sebagai contoh. Namun ini juga berlaku bagi kualitas Wujud lainnya seperti hidup, qudrat,iradat, dst yang memiliki derajat yang sama dengan ilmu.

Salah seorang sufi yang lain mengatakan, Tak ada individu yang ada tanpa atribut ilmu, namun ilmu memiliki dua jenis. Yang pertama apa yang disebut secara umum ilmu dan yang lainnya tidak. Bagaimanapun ahli hakekat bertahan pada pendapat bahwa keduanya termasuk ilmu, sebab mereka mengenali imanensi hakekat ilmu Al Haq SWT dalam sesuatu apapun. Sehubungan dengan Jenis kedua contohnya air, yang tidak dianggap mengetahui dalam pengertian umum. Bagaimanapun, kita melihat air membedakan antara ketinggian dan kerendahan. Ia mengalir dari tempat tinggi ke lebih rendah. Dalam cara yang sama, ia akan memasuki badan yang berpori dan ia membasahi tubuh yang padat dan licin, dan hanya lewat begitu saja, dst. Karena itu disebabkan kekhususannya akan ilmu sehingga air mengalir sesuai dengan apa yang dimiliki sang penerima

dan tiada penghalang baginya. Bagaimanapun pada derajat inilah ilmu menjadi zahir dalam bentuk alami.

Wujud, dengan segala kualitas potensialnya Benar-benar menembus seluruh mumkinat Dimana ketika mereka dapat menerimanya Akan menunjukkannya dalam derajat kepasitas penerimaan mereka

KILAUAN KE-29 Dalam acuan kemurnian akan kemurnian-Nya, Wujud Al Haq meliputi hakekat seluruh maujudat sedemikian hingga dalam hakekat ini, Dia adalah identik dengan hakekat tersebut. Demikian juga kesempurnaan sifat-Nya, disebabkan keumuman dan ketidakterikatan,

meliputi seluruh sifat maujud sedemikian hingga dalam keimanenannya dalam seluruh sifat maujud, kesempurnaan sifat-Nya adalah identik dengan sifat-sifat maujud. Sebagai contoh, sifat Ilmu, dalam pengetahuan sebagian atau keseluruhan, maka ilmu adlah identik dengan keduanya. Dalam ilmu aktif dan pasif, ia adalah identik dengan kedua ilmu tersebut, demikian juga dengan ilamu zauq dan wujdan. Ini menyimpulkan bahwa dalam medan ilmu mereka yang tidak dipegang dalam ilmu penggunaan umum, ia sama dengan ilmu yang layak sesuai derajat mereka. Demikian juga mesti dinilai sifat dan kesempurnaan lainnya. Zat-Mu menembus seluruh maujud Yang gambarannya di belakang sifat-sifat mereka

Seperti Zat-Mu, seluruh sifat dan kulaitas-Mu juga tak terbatas Tapi ketika tertampakkan, tidak terlepas dari keterikatan dalam lokus manifestasi Hakekat wujud adalah zat Al Haq SWT; kesibukan, hubungan dan aspek adalah sifat-Nya; cara-Nya menyatakan diri-Nya terjubahkan dalam hubungan dan aspek ini adalah afal-Nya dan pemberian jejak-Nya; fenomena yang terzahirkan dari tajalli ini adalah jejak-jejak-Nya (atsar). Kepada diri-Nya mealui kesibukan-Nya, Dia yang duduk Dari balik tirai mulai menampakkan dalam lokus manifestasi Yang adalah dunia dan agam ini Wahai pencari keyakinan, pelajari lah poin ini Apakah Zat,sifat, afal dan jejakitu?

KILAUAN KE-30

Dalam beberapa bagian di dalam Fusus Syeikhul Akbar Ibnu Arabi Ra, tampaknya ingin menunjukkan kepada pandangan bahwa eksistensi seluruh mumkinat bergantung kepada eksistensi Al Haq SWT. { Pada bagian lain beliau tampakmengatakan bahwa apa yang diakitkan kepada Keagungan Al Haq adalah murni limpahan Wujud; dan mengacu kepada kualitas yang bergantung kepada wujud, mereka adalah akibat yang dihasilkan oleh substansi itu sendiri. Dua pernyataan ini dapat didamaikan sebagai berikut:Kehadiran Al Haq memiliki 2 tajalli. Satu adalah gaib, tajalli yang diketahui (alam ilmi), yang disebut kaum Sufi sebagai Emanasi Paling Suci (Faiz Aqdas) atau aql kulli. Ini adalah manifestasi Al Haq kepada diriNya sendiri dari keabadian tanpa awal dalam

Kehadiran Pengetahuan didalam bentuk-bentuk entitas, penerimaan dan kesiapan. Tajjali kedua adalah tersaksikan dalam alam aini. Tajjali penampakan ahir, yang disebut pancaran suci (faiz muqaddas). Ia terdiri dari manifestasi Wujud AL HAq terwarnai oleh hokum-hukum dan jejak-jejak entitas. Tajalli kedua ini terjadi setelah tajalli pertama. Ia adalah lokus manifestasi kesempurnaan yang termuat dalam tajalli pertama di dalam diri penerima dan kesiapan dari entitas tersebut. Satu kemurahan hati-Mu mewarnai seratus jenis pengemis Satu kemurahan hati memberikan kepada masing-masing bagiannya Kemurahan hati pertama tidak memiliki awal, dan meletakkan

Kemurahan hati kedua ke dalam tatanan tanpa akhir Karena itu, atribusi eksistensi dan apa yang diliputinya kepada Al Haq SWT adalah dalam sudut pandang totalitas dari dua tajalli tersebut.Atribusi eksistensi kepada Al HAq bersamaan dengan atribusi yang bergantung kepada-Nya kepada entitas adlah dalam sudut pandang tajalli kedua, Akhirnya, tak ada satu pun yang terjadi dalam tajalli kedua melainkan ia adalah hasil dari tajalli pertama. Perhatikan hal ini dan misteri yang sulit dimengerti ini Seluruh sifat dan tindakan yang kita lihat Dari satu arah, dia dikaitkan kepada kita Pada arah yang lain, seluruhnya diatibutkan kepada Al Haq.