Anda di halaman 1dari 13

BAB.

I PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang Kebijakan pengendalian fertilitas di Indonesia yang dikenal sebagai Program Keluarga Berencana (KB) Nasional, secara internasional diakui sebagai salah satu program KB yang berhasil di Negara berkembang. Setelah pemerintahan Soeharto laju pertumbuhan penduduk berhasil ditekan dari sekitar 2,7 % per tahun 1970 menjadi 1,6 % tahun 1991. Angka ini dipertahankan sampai pertengahan 1997. Program KB di Indonesia, seperti juga negara berkembang lainnya, lebih menekankan pada pencapaian tujuan demografis yakni untuk mencapai target penurunan laju pertumbuhan penduduk. KB lebih sebagai pengendalian populasi yang member jalan bagi Negara untuk mengatur fungsi reproduksi perempuan. Sering dengan peralihan dan pergeseran kekuasaan politik di Orde Baru ke Orde Reformasi. Akibatnya pertumbuhan penduduk menjadi tidak terkendali. Melihat kecenderungan peningkatan jumlah penduduk saat ini penting dilakukan upaya pengendalian fertilitas melalui revitalisasi Program Keluarga Berencana. Dalam setiap kebijakan pengendalian fertilitas perempuan menjadi faktor kunci penentu keberhasilan dan sekaligus sasaran program.

1.2

Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini adalah untuk mengetahui upaya penanggulangan kelahiran di Negara Berkembang seperti di Indonesia

1.3

Tujuan Mengetahui upaya penanggulangan kelahiran di Negara Berkembang seperti di Indonesia untuk menekan laju pertumbuhan penduduk

1.4

Manfaat - Mahasiswa Menambah wawasan ilmu dalam hal upaya apa saja yang dilakukan untuk menanggulangi kelahiran - Pemerintah Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan untuk menanggulangi kelahiran dengan optimal BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Hak dan Kesehatan Reproduksi Serta Jender Menurut pasal 7 program aksi kairo yang dimaksud dengan kesehatan reproduksi adalah kondisi kesehatan yang tidak hanya menekakan pada aspek kesehatan fisik, dalam arti tidak adanya penyakit atau kelemahan, tapi juga mnyangkut aspek non-fisik (aspek mental dan social)yag berkaitan dengan system, fungsi dan proses reproduksi. Kesehtan reproduksi mengandung sejumlah elemen yang dapat dkelompokkan menjadi 2 hal yaitu seksual dan kesehatan reproduksi. Termasuk dalam pengertian kesehatan seksual adalah elemen-elemen sebagai berikut: a. Terhindar dari penyakit menular seksual (PMS) b. Terhindar dari praktek dan kekerasan yang berbahaya c. Kontrol terhadap akses seksual (termasuk pelecehan seksual) d. Kepuasan seksual e. Informasi mengenai seksualitas. Sedangkan elemen dari kesehatan reproduksi adalah: a) Perlindungan (dan pengakhiran) secara aman dan efektif kehamilan yang dikehendaki b) Perlindungan dari praktek reproduksi yang berbahaya c) Pemilihan kontrasepsi dan kepuasan terhadap metode kontrasepsi d) Kehamilan dan persalinan yang aman e) Penanganan terhadap kemandulan Masalah hak dan kesehatan reproduksi dipahami secara umum dari sudut aspek medis semata. Padahal persoalan hak dan kesehatan produksi merupakan multi-faceted problem, atau problem dengan banyak wajah, karena inti persoalannya terletak pada konteks social yang sangat kompleks yang terkait erat dengan nilai social, etika, agama dan budaya. Nilai-nilai social yang membedakan peran laki-laki dan perempuan yang ditentuka oleh masyarakat cenderung menempatkan peremuan dalam posisi subordinated. Konsep gender mengacu pada status dan peran laki-laki serta hubungan social yang terbentuk antara manusia dengan dua jenis kelamin yang berbeda ini. Dalam undang-undang nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dank B, pengaturan hak reduksi perempuan untuk membatasi kelahiran

sehingga control kelahiran berubah tujuannya menjadi control pertumbuhan penduduk. Akibatnya, perempuan hanya dilihat sebagai target penggunaan kontrasepsi tanpa pemberian informasi dan pelayanan paska pemakaian kontrasepsi yang memadai. Posisi perempuan yang lemah seringkali menempatkan peremuan sebagai pihak yang dikorbankan. Kemudian menyangkut kehamilan dan jarak kehamilan posisi perempuan juga lemah. Negara, masyarakat, dan keluarga adalah institusi-institusi yang berkepentingan dengan persoalan hamil atau tidak hamilnya perempuan. Angka kematian maternal di Indonesia tertinggi di Asia, dan kurang lebih 11 % diantaranya terjadi karena aborsi yang tidak aman. Data tahun 1995 menunjukkan bahwa 600.000 perempuan mati karena kehamilan dan persalinan dari angka tersebut, 66.000 mati karena aborsi. Tingginya jumlah korban aborsi tidak aman bukan hanya menyangkut isu hak untuk melakukan aborsi (hak reproduksi) tapi juga hak perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi. 2.2 Menuju Pelayanan Kesehatan Reproduksi berperspektif Jender Berbicara tentang hak reproduksi dan kesehatan reproduksi tidak bisa lepas dari kualitas pelayanan kesehatan reproduksi khususnya pelayanan KB. Karena kesehatan reproduksi dan hak reproduksi hanya dapat terpenuhi apabila didukung dengana adanya pelayanan keluarga berencana yang berkualitas. Pelayanan KB di Indonesia seperti juga di Negara sedang berkembang lainnya, terdapat 3 tujuan pokok yaitu : 1. Terkait tujuan demografis untuk mengatasi pertumbuhan penduduk yang dianggap sebagai penyebab kemiskinan, keterbelakangan, dan degradasi lingkungan. 2. Mempromosikan kesehatan Ibu dan anak untuk mencegah kematian maternal dab abak melalui penjarahan anak. 3. Menegakkan hak asasi manusia, yang diidentifikasikan sebagai mengikutsertakan pengetahuan dan akses pada kontrasepsi yang aman. Kematian maternal akibat aborsi bisa dicegah apabila perempua mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta sadar akan komplikasi aborsi. Metode kontrasepsi modern sebenarnya memegang peran penting dalam menekan kehamilan tak dikehendaki dan lebih jauh juga mengurangi kematian kaibat aborsi tidak aman.

Untuk dapat mewujudkan pelayanan KB yang berorientasi pada perempuan, maka setidak-tidaknya harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :
a. Memungkinkan klien dan peserta KB untuk secara sadar dan bebas memilih alat

kontrasepsi sesuai dengan kebutuhannya. b. Memberikan informasi yang lengkap mengenai pilihan-pilihan kontrasepsi yang tersedia, efek sampingnya masing-masing, dan cara mengatasinya. c. Memberikan pelayanan yang aman, seperti ditunjukkan oleh kemampuan tehnis petugas dan hubungan interpersonal sehingga mereka bisa mengidentifikasi kontraindikasi peserta KB. d. Memuaskan klien peserta KB dengan member pelayanan yang menghargai martabat dan kerahasiaan klien dan peserta KB. 2.3 Pemberdayaan Keluarga dan Keluarga Berencana Permasalahan lain dalam pembangunan sosial dan budaya adalah sebagian keluarga terutama yang tergolong Pra-Keluarga Sejahtera (Pra-KS) dan Sejahtera I (KS I), belum berdaya dalam memenuhi kebutuhan dasarnya seperti pendidikan dan kesehatan termasuk keluarga berencana (KB). Pada tahun 2000, jumlah keluarga PraKS dan KS I, yaitu keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya masih sekitar 24,6 juta keluarga. Sementara itu, aspek kesehatan reproduksi remaja yang merupakan salah satu tiang dalam pewujudan keluarga kecil yang berkualitas juga masih tertinggal. Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 menunjukkan meskipun median usia kawin pertama secara nasional adalah 18,6 tahun, median usia kawin pertama di perdesaan masih relatif muda yaitu 17,9 tahun. Sebagian masyarakat dan keluarga termasuk orang tua dan remaja sendiri juga belum sepenuhnya mempersiapkan anggota keluarga yang berusia remaja dalam kehidupan berkeluarga dan perilaku reproduksi yang bertanggung jawab. Banyak remaja yang masih kurang memahami atau mempunyai pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi. Pemahaman yang tidak benar tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi ini menyebabkan banyak remaja yang berperilaku menyimpang tanpa menyadari akibatnya terhadap kesehatan reproduksi mereka. Selain itu, pusat atau lembaga advokasi dan konseling hak-hak dan kesehatan reproduksi bagi remaja juga masih terbatas

jangkauannya dan belum memuaskan mutunya. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah nampaknya juga belum sepenuhnya berhasil. Tingkat kelahiran yang relatif tinggi merupakan salah satu beban dalam pembangunan sosial dan budaya. Tingkat kelahiran yang relatif tinggi ini mengakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dan jumlah anggota keluarga yang relatif besar. Tingginya angka kelahiran dewasa ini berkaitan dengan penyelenggaraan program Keluarga Berencana (KB) yang belum sepenuhnya berkualitas dalam memenuhi hak-hak dan kesehatan reproduksi masyarakat. Pendekatan program KB yang telah diarahkan pada pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi, dalam pelaksanaannya masih dijumpai beberapa pelayanan KB yang mencerminkan pendekatan pemenuhan target akseptor. Pendekatan target akseptor mengakibatkan proses dan kualitas penyampaian komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), serta pelayanan KB lebih ditujukan untuk mencapai target akseptor KB melebihi perhatian terhadap kecocokan cara KB dan kepuasan akseptor KB. Kualitas program KB yang belum sepenuhnya memuaskan klien mengakibatkan pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi termasuk KB yang merupakan dasar terwujudnya keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera belum dapat dirasakan oleh sebagian masyarakat dan keluarga. Hal ini diungkapkan oleh data SDKI 1997 yang menunjukkan bahwa baru 57,4 persen pasangan usia subur (PUS) yang ingin ber-KB dapat terpenuhi permintaannya, dan sekitar 9,21 persen PUS yang sebenarnya tidak ingin anak atau menunda kehamilannya, tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Permasalahan lainnya dalam program KB adalah partisipasi laki-laki dalam ber-KB yang masih sangat rendah yaitu sekitar 3 persen (SDKI 1997). Hal ini selain dikarenakan keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi laki-laki, antara lain juga disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan laki-laki di bidang hak-hak dan kesehatan reproduksi. Kelembagaan dan jaringan pelayanan KB juga belum sepenuhnya berkualitas dan mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan oleh keterbatasan kemampuan sumber daya program KB. Peran masyarakat dan pihak di luar Pemerintah juga masih sangat terbatas, walaupun tokoh agama, organisasi profesi dan Lembaga Swadaya dan Organisasi Masyarakat (LSOM) terbukti sangat mempengaruhi keberhasilan program KB di beberapa daerah. Pada tahun 1998/99 jumlah lembaga pelayanan KB non-pemerintah masih relatif rendah yaitu berkisar

44.550 yang melayani sekitar 65 persen PUS peserta KB Aktif. Sementara itu, kemitraan pemerintah dengan masyarakat terutama PUS dan sektor di luar pemerintah dalam penyelenggaraan KB dan kesehatan reproduksi belum sepenuhnya dapat diwujudkan. 2.4 Program Keluarga Berencana (KB) Program KB bertujuan untuk memenuhi permintaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas serta mengendalikan angka kelahiran yang pada akhirnya meningkatkan kualitas penduduk dan mewujudkan keluarga-keluarga kecil berkualitas. Langkah-langkah kebijakan yang ditempuh adalah: (1) Mengintegrasikan program KB dalam kerangka pemenuhan hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, serta kesetaraan gender termasuk diantaranya adalah promosi, advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), dan konseling tentang pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi; (2) Meningkatkan mutu pelayanan program KB yang menuju pada pencapaian standar yang ditetapkan dan berorientasi kepada kepuasan publik/klien, antara lain melalui peningkatan kualitas lembaga pelayanan KB dan kesehatan reproduksi dan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia pada lembaga pelayanan KB; (3) Menyediakan alat dan obat serta pelayanan KB yang bermutu termasuk kontrasepsi mantap bagi laki-laki dan perempuan serta pencabutan alat kontrasepsi susuk secara cuma-cuma bagi keluarga Pra-KS dan KS I; (4) Menyediakan jaminan dan perlindungan bagi peserta KB yang diprioritaskan pada penanggulangan efek samping secara medis; (5) Melakukan pelatihan, pengkajian, dan penelitian operasional KB serta mengembangkan sistim informasi manajemen program KB, dan (6) Melakukan penajaman segmentasi peserta KB yaitu kelompok peserta KB dilayani secara luwes dengan memperhatikan aspek sosial ekonomi, adat istiadat/agama, ciri-ciri demografis dan geografis. Melalui pelaksanaan langkah-langkah kebijakan ini, pada tahun 2000 program KB mampu memberikan pelayanan KB bagi 3.625.753 peserta KB baru dan 25.537.657 peserta KB aktif. Dengan kemampuan pelayanan KB tersebut, persentase pasangan usia subur (PUS) yang ingin menjadi peserta KB namun tidak terlayani KB (unmet need) pada tahun 2001, diproyeksikan sebesar 8,7 persen.

2.5

Prinsip Dasar dalam Praktek Keperawatan Masyarakat Dalam mewujudkan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, perawat perlu memahami prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan terutama dalam praktek keperawatan di masyarakat. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah :
a. Keluarga adalah unit utama dalam pelayanan kesehatan masyarakat. b. Sasaran terdiri dari individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. c. Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat. d. Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upaya promotif dan

preventif dengan tidak melakukan upaya kuratif dan rehabilitatif.


e. Dasar

utama

dalam pelayanan

perawatan

kesehatan

masyarakat

adalah

menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses keperawatan.


f. Kegiatan utama perawatan kesehatan masyarakat adalah dimasyarakat dan bukan

di rumah sakit.
g. Pasien adalah masyarakat secara keseluruhan baik sakit ataupun sehat. h. Perawatan kesehatan masyarakat ditekankan pada pembinaan perilaku hidup sehat. i. Tujuan perawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan fungsi kehidupan

sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.


j. Perawat kesehatan masyarakat tidak bekerja sendiri tetapi bekerja secara tim. k. Sebagian besar waktu dari perawat kesehatan masyarakat digunakan untuk

meningkatkan kesehatan masyarakat, pencegahan penyakit, melayani masyarakat yang sehat maupun sakit, penduduk yang sakit dan tidak berobat ke puskesmas, pasien yang baru kembali dari rumah sakit.
l. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama. m.

Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus mengacu pada system pelayanan kesehatan yang ada.

n. Pelaksanaan keperawatan dilaksanakan di institusi pelayanan kesehatan, yaitu

puskesmas, institusi seperti sekolah dan panti dimana keluarga sebagai unit pelayanan. 2.6 Peran Perawat Komunitas

Komunitas adalah kelompok social yang tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu dengan yang lain, saling mengenal, serta mempunyai minat dan interest yang sama. (WHO) Komunitas adalah kelompok yang tinggal dari suatu lokasi yang sama di bawah pemerintahan yang sama, area yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama. (Linda Jarvis) Komunitas dipandang sebagi target pelayanan kesehatan sehingga diperlukan suatu kerjasama yang melibatkan secara aktif masyarakat untuk mencapai suatu peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, untuk itu dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan perawat komunitas merupakan suatu upaya essensial atau sangat dibutuhkan oleh komunitas, mudah di jangkau dengan pembiayaan yang murah, lebih ditekankan kepada penggunaan teknologi tepat guna. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dimana individu, keluarga, maupun masyarakat sebagai pelaku kegiatan upaya peningkatan kesehatan serta bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri berdasarkan atas azas kebersamaan dan kemandirian.

BAB III PENUTUP Masalah kesehatan reproduksi terkait fungsi reproduksi atau fertilitas perempuan serta umum dilihat sebagai suatu proses yang alami atau kodrat perempuan. Namun dengan semakin terbukanya akses perempuan ke dunia pendidikan dan kerja, fungsi reproduksi perempuan berkembang menjadi problem yang pelik. Tuntutan dunia kerja

dan keinginan mengembangkan kapabilitas, membuat fungsi reproduksi kehamilan harus dikendalikan melalui penggunaan kontrasepsi. Kuatnya nilai-nilai sosial terkait dengan gender yang membuka peluang bagi lakilaki untuk mendominasi di segala aspek kehidupan. Hubungan yang timpang ini tercermin dalam proses pengambilan keputusan menyangkut fungsi reproduksi perempuan, hubungan seksual, dan sebagainya. Akibatnya perempuan menjadi kehilangan hak atas dirinya. Untuk itu sudah saatnya dilakukan perubahan paradigm pelayanan kesehatan reproduksi yang berorientasikan pada perempuan, yang lebih menghargai hak reproduksi perempuan.

DAFTAR PUSTAKA Kompas. 2007. Abaikan Kependudukan, Negara Terancam Gagal. Kompas 24 maret 2007 Kompas. 2007. Ledakan Kelahiran Harus Diantisipasi. Kompas 24 April 2007 Nur Iman Subono. 2005. Kepuasan Negara, Seksualitas dan Perubahan Kebijakan Di Amerika Latin. Jurnal Perempuan No. 14 2005.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDULi DAFTAR ISI....ii KATA PENGANTAR.iii BAB I PENDAHULUAN1 1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah... 1 1.3 Tujuan. 1 1.4 Manfaat.. 1 BAB II PEMBAHASAN 2 2.1 Hak dan Kesehatan Reproduksi Serta Jender 2 2.2 Menuju Pelayanan Kesehatan Reproduksi berperspektif Jender 3 2.3 Pemberdayaan Keluarga dan Keluarga Berencana.... 4 2.4 Program Keluarga Berencana (KB) 6 2.5 Prinsip Dasar dalam Praktek Keperawatan Masyarakat.. 7 2.6 Peran Perawat Komunitas.. 8 BAB III PENUTUP. 9 DAFTAR PUSTAKA.. 10

KATA PENGANTAR
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta tidak lupa saya sebagai penysusun mengucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya, karena atas kehendak-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PENANGGULANGAN KELAHIRAN ini tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur Ujian Khusus (UK) mata kuliah Social Health Science bagi mahasiswa jurusan keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya semester III.

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah yang kami buat masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami menerima segala bentuk ktitik dan saran yang membangun. Hal itu tentunya untuk kami jadikan sabagai evaluasi diri terhadap makalah ini. Sehingga kami dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam penyusunan makalah selanjutnya. Kami mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, akademisi, dan professional untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang keperawatan. Penyusun

PENANGGULANGAN KELAHIRAN
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Ujian Khusus (UK) Social Health Science (SHS)

Oleh : Danang Wahyu Laksono 0710723007

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011