Anda di halaman 1dari 4

Klasifikasi Suhu Tubuh Manusia Secara umum suhu tubuh manusia berkisar 36,5 37,5 C.

. Gangguan suhu tubuh dapat diklasifikasikan menjadi hipotermia (<35 C), demam (>37.538.3 C), hipetermia (>37.538.3 C), dan hiperpireksia (>40 41,5 C). Ditilik dari tingginya suhu, pada demam dan hipertermia memiliki nilai rentang suhu yang sama yaitu berkisar antara > 37.5-38.3 C. Yang membedakan antara keduanya adalah mekanisme terjadinya. Pada demam, peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh peningkatan titik pengaturan suhu (set point) di hipotalamus. Sementara, pada hipertermia titik pengaturan suhu dalam batas normal.

Demam memiliki pola tertentu yang mengindikasikan suatu penyakit. Demam terus-menerus (Continuous fever) memiliki pola suhu tetap di atas normal sepanjang hari dan tidak terjadi fluktuasi lebih dari 1 C dalam 24 jam. Demam ini sering terjadi pada penyakit pneumonia lobaris, infeksi saluran kemih, atau brucellosis. Apabila fluktuasi suhu lebih dari 1 C dalam 24 jam disebut dengan demam remitten. Demam intermitten mempunyai pola peningkatan suhu hanya terjadi pada satu periode tertentu dan siklus berikutnya kembali normal. Contohnya demam pada malaria atau septikemia.

Bagimana Terjadinya Peningkatan suhu Tu buh Pada demam, peningkatan suhu tubuh dipicu oleh zat pirogen yang menyebabkan pelepasan prostaglandin E2 (PGE2) yang pada gilirannya memicu respon balik sistemik keseluruh tubuh menyebabkan efek terciptanya panas guna menyesuaikan dengan tingkat suhu yang baru. Jadi pusat pengatur suhu yang letaknya di hipotalamus sesungguhnya seperti termostat. Jika titik pengatur dinaikkan, maka tubuh menaikkan suhu dengan cara memproduksi panas dan menahannya di dalam tubuh. Panas ditahan dalam tubuh dengan cara vasokonstriksi pembuluh darah. Jika dengan cara di atas suhu darah di dalam otak tidak cukup untuk menyesuaikan dengan pengaturan baru yang ada di hipotalamus, maka tubuh akan menggigil dalam rangka untuk memproduksi panas lebih banyak lagi. Ketika demam berhenti dan pusat pengaturan suhu di hipotalamus disetel lebih rendah, maka berlaku proses sebaliknya dimana pembuluh darah akan bervasodilatasi sehingga banyak dikeluarkan keringat. Panas badan selanjutnya dilepas bersama dengan penguapan keringat.

Pada hipertermia, pusat pengaturan suhu dalam batas normal yang berarti bahwa tidak ada upaya hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Akan tetapi, tubuh kelebihan panas akibat dari retensi dan produksi panas yang tidak diinginkan.

Penyebab Peningkatan Suhu Tubuh Penyebab dari suhu tubuh meningkat tergantung dari jenisnya. Pada demam, penyebab yang paling sering adalah infeksi bakteri atau virus seperti influenza, pilek, HIV, malaria, gastroenteritis; berbagai radang kulit seperti borok, jerawat, abses; penyakit-penyakit imunologi seperti lupus eritematosus, sarkoidosis; kerusakan jaringan yang dapat terjadi pada pembedahan, hemolisis, perdarahan serebral; obat-obatan baik secara langsung seperti obat-obat progesteron, kemoterapi atau sebagai efek samping obat seperti obat antibiotik, atau akibat penghentian obat seperti pada orang yang ketagihan heroin; kanker seperti penyakit hodgkin; penyakit metabolik seperti gout, forforia; serta proses tromboemboli seperti emboli paru dan trombosis vena dalam (DVT).

Sementara itu, pada hipertermia peningkatan suhu tubuh disebabkan karena paparan panas lingkungan (heat stroke), obat-obatan, dan pemakaian alat proteksi diri. Heat stroke dapat terjadi akibat dari regangan fisik pada hari yang sangat panas. Minum terlalu sedikit, minum alkohol dan kondisi AC yang kurang juga dapat menyebabkan Heat stroke. Penyebab Heat stroke lainnya adalah medikasi, yaitu obatobat yang dapat mengurangi vasodilatasi, keringat dan mekanisme-mekanisme kehilangan panas lainnya seperti obat-obat antikolinergi, antihistamin dan deuretik.

Hipertermia juga dapat disebabkan karena obat-obat yang menyebabkan produksi panas internal berlebihan. Berbagai macam medikasi psikotropik seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), dan tricyclic antidepressants. Berbagai obat terlarang seperti amfetamin, kokain, PCP, LSD dan MDMA dapat menyebabkan hipertermia sebagai efek samping. Obatobat anestesi seperti halotane atau reaksi terhadap obat paralitik (succinylcholine) dapat menyebabkan hipertermia malignan yaitu satu hipertermia yang jarang terjadi akibat kondisi genetik tapi dapat berakibat fatal.

Pemakaian alat proteksi diri pada pekerja industri, personel militer dan petugas pertolongan pertama juga dapat menyebabkan hipertermi. Pada kondisi tersebut, hipertermi terjadi karena penguapan yang terganggu serta meningkatnya tahanan panas di dalam alat proteksi diri. Pengaturan termoregulasi yang normal (berkeringat) pada saat mereka menjalankan aktivitasnya menjadi tidak efektif karena pada waktu yang sama mereka terus melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini diperparah dengan peningkatan lama waktu bekerja, peningkatan suhu dan kadar kelembaban lingkungan serta paparan langsung dengan sinar matahari.

Penyebab lain hipertermi tetapi sangat jarang adalah tirotoksikosis, dan adanya tumor kelenjar adrenal yang disebut pheochromocytoma, keduanya dapat menyebabkan produksi panas. Kerusakan sistem saraf pusat seperti pendarahan otak, status epileptikus dan berbagai kerusakan hiotalamus juga dapat menyebabkan hipertermi.

Dampak Peningkatan Suhu Tubuh Akibat suhu tubuh meningkat, seseorang akan mengalami kelesuhan (lethargy), mengantuk, dan depresi. Bisa juga timbul kebingungan, rasa bermusuhan atau gejala intoksikasi. Apabila terjadi dehidrasi dapat menyebabkan mual, muntah, pusing kepala dan tekanan darah menurun. Hal ini berakibat pusing atau bahkan pingsan. Dapat juga ditemukan takikardia dan takipneu. Pada anak-anak sering mengalami kejang. Pada akhirnya organ tubuh dapat gagal sehingga berakibat tidak sadar bahkan kematian

Manfaat Terlepas dari dampak yang ditimbulkan, peningkatan suhu tubuh sesungguhnya bermanfaat bagi pertahanan tubuh manusia terutama bila diketahui bahwa penyebab dari peningkatan suhu tubuh adalah infeksi. Meskipun masih kontroversial, ada keyakinan bahwa suhu dapat mempercepat reaksi immunologis sehingga akan menghambat beberapa kuman patogen. Disamping itu, suhu yang tinggi juga menyebabkan lingkungan yang tidak kondusif bagi kuman. Sel darah putih juga berproliferasi lebih cepat sehingga membantu melawan kuman-kuman patogen dan mikroba yang masuk ke dalam tubuh.

Manajemen Peningkatan suhu tubuh karena demam, tidak harus ditangani. Demam sebenarnya merupakan sinyal penting yang mengindikasikan bahwa di dalam tubuh ada masalah, apalagi bila disebabkan karena infeksi. Namun bila suhu terus meningkat (di atas 42 C), kerusakan sel dapat terjadi. Pada kondisi demikian, suhu tubuh harus diturunkan untuk mencegah terjadinya penurunan kesadaran atau kematian.

Untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan akibat suhu tubuh yang tinggi perlu diperhatikan faktor penyebabnya. Bila penyebabnya infeksi, penggunaan antibiotik akan sangat efektif

untuk menurunkan suhu tubuh. Bila penyebabnya obat, pemberian harus dihentikan dan perlu diberikan obat lain yang memiliki aksi berlawanan.

Disamping mengatasi faktor penyebab, prinsip-prinsip pelepasan kelebihan panas tubuh melalui mekanisme konduksi, konveksi, radiasi, atau evaporasi perlu dilakukan. Pada lingkungan yang panas, tindakan pendinginan pasif seperti istirahat ditempat yang teduh dan sejuk dapat mengurangi panas tubuh. Demikain juga penggunaan AC dapat sangat membantu. Tindakan pendinginan aktif seperti melakukan kompres dingin di beberapa bagian tubuh seperti dahi, leher, dan ketiak juga dapat memperbaiki suhu tubuh ke rentang normal. Banyak minum dan menghidupkan kipas angin atau AC kering dapat mengefektifkan evaporasi keringat. Berendam air hangat (tepid water) atau air dingin (cool water) dapat membuang panas dengan segera. Tapi jangan menggunakan air yang sangat dingin (cold water) karena justeru menyebabkan vasokonstriksi di kulit yang justeru menghambat pembuangan panas.

Medikasi Untuk medikasi, antipiretik ibuprofen cukup efektif dalam mengurangi demam pada anak-anak. Obat ini lebih efektif dibanding dengan parasetamol (asetaminofen) maupun aspirin. Oleh karena itu kedua obat ini tidak dianjurkan sebagai antipiretik pada anak-anak atau para remaja, terlebih keduanya berhubungan dengan Reyes Syndroma yang dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati, dan bahkan kematian