Anda di halaman 1dari 18

ANATOMI SISTEM PERNAPASAN SALURAN NAFAS ATAS Fungsi : menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara yang dihirup.

Terdiri dari : Hidung Faring Laring Epiglottis

1. Hidung

Terdiri atas bagian eksternal dan internal Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia

2. Faring Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring) Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif 3. Laring

Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas : Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan Glotis : ostium antara pita suara dalam laring Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adams apple) Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid) Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid

Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring) Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.

ANATOMI MIKROSKOPIS Rongga hidung Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum masuk lebih jauh.

Sinus paranasalis Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan sinus sphenoid, semuanya berhubungan langsung dengan rongga hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria

yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

Faring Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/gepeng.

Laring Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa. Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.

FISIOLOGI PERNAPASAN Respirasi dibagi menjadi 2 bagian , yaitu respirasi eksternal dimana proses pertukaran O2 & CO2 ke dan dari paru ke dalam O2 masuk ke dalam darah danCO2 + H2O masuk ke paru paru darah. kemudian dikeluarkan dari tubuh dan respirasi internal/respirasi sel dimana proses pertukaran O2 & peristiwa CO2 ditingkat sel biokimiawi untuk proses kehidupan Proses pernafasan terdiri dari 2 bagian, yaitu sebagai berikut : Ventilasi pulmonal Yaitu masuk dan keluarnya aliran udara antara atmosfir dan alveoli paru yang terjadi melalui proses bernafas (inspirasi dan ekspirasi) sehingga terjadi disfusi gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveoli dan kapiler pulmonal serta ransport O2 & CO2 melalui darah ke dan dari sel jaringan. Mekanik pernafasan Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir ke dalam paru-paru dimungkinkanolen peristiwa mekanik pernafasan yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi (inhalasi) adalah masuknya O2 dari atmosfir & CO2 ke dlm jalan nafas.Dalam inspirasi pernafasan perut, otot difragma akan berkontraksi dankubah dif ragma turun ( posisi diafragma datar ), selanjutnya ruang otot intercostalis externa menarik dinding dada agak keluar, sehingga volume paruparu membesar, tekanan dalam paru-paru akan menurun dan lebih rendah dari lingkungan luar sehingga udara dari luar akan masuk ke dalam paru-paru. Ekspirasi (exhalasi) adalah keluarnya CO2 dari paru ke atmosfir melalui jalan nafas. Apabila terjadi pernafasan perut, otot difragma naik kembali ke posisi semula ( melengkung ) dan muskulus intercotalis internarelaksasi. Akibatnya tekanan dan ruang didalam dada mengecil sehinggadinding dada masuk ke dalam udara keluar dari paru-paru karena tekanan paru-paru meningkat.\ Transportasi gas pernafasan. Ventilasi Selama inspirasi udara mengalir dari atmosfir ke alveoli. Selama ekspirasisebaliknya yaitu udara keluar dari paru-paru. Udara yg masuk ke dalamalveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfir. Udara yg dihembuskan jenuh dengan uap air dan mempunyai suhu sama dengan tubuh. Difusi Yaitu proses dimana terjadi pertukaran O2 dan CO2 pada pertemuan udaradengan darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di membran alveolarkapilar karena permukaannya luas dan tipis. Pertukaran gas antara alveoli dan darah terjadi secara difusi. Tekanan parsial O2 (PaO2) dalam alveolus lebih tinggidari pada dalam darah O2 dari alveolus ke dalam darah.Sebaliknya (PaCO2) darah > (PaCO2) alveolus sehingga perpindahan gas tergantung pada luas permukaan dan ketebalan dinding alveolus.Transportasi

gas dalam darah O2 perlu ditrasport dari paru-paru ke jaringandan CO2 harus ditransport kembali dari jaringan ke paru-paru. Beberapa faktor yg mempengaruhi dari paru ke jaringan , yaitu: Cardiac out put. Jumlah eritrosit. Exercise Hematokrot darah, akan meningkatkan vikositas darahmengurangi transport O2 menurunkan CO. Perfusi pulmonal Merupakan aliran darah aktual melalui sirkulasi pulmonal dimana O2diangkut dalam darah membentuk ikatan (oksi Hb) / Oksihaemoglobin(98,5%) sedangkan dalam eritrosit bergabung dgn Hb dalam plasma sbg O2 yg larut dlm plasma (1,5%). CO2 dalam darahditrasportasikan sebagai bikarbonat, alam eritosit sebagai natrium bikarbonat, dalam plasma sebagai kalium bikarbonat , dalam larutan bergabung dengan Hb dan protein plasma. C02 larut dalam plasma sebesar 5-7 % , HbNHCO3 Carbamoni Hb (carbamate) sebesar 15-20 % , Hb + CO2 HbCO bikarbonat sebesar 60-80% . Pengukuran volume paru Fungsi paru, yg mencerminkan mekanisme ventilasi disebut volume paru dankapasitas paru. Volume paru dibagi menjadi : 1. Volume tidal (TV) yaitu volume udara yang dihirup dan dihembuskansetiap kali bernafas. 2. Volume cadangan inspirasi (IRV) , yaitu volume udara maksimal ygdapat dihirup setelah inhalasi normal. 3. Volume Cadangan Ekspirasi (ERV), volume udara maksimal yang dapatdihembuskan dengan kuat setelah exhalasi normal. 4. Volume residual (RV) volume udara yg tersisa dalam paru-paru setelahekhalasi maksimal. Kapasitas Paru 1. Kapasitas vital (VC), volume udara maksimal dari poin inspirasimaksimal. 2. Kapasitas inspirasi (IC) Volume udara maksimal yg dihirup setelahekspirasi normal. 3. Kapasitas residual fungsiunal (FRC), volume udara yang tersisa dalam paru-paru setelah ekspirasi normal. 4. Kapasitas total paru (TLC) volume udara dalam paru setelah inspirasimaksimal.

Pengaturan pernafasan Sistem kendali memiliki 2 mekanismne saraf yang terpisah yangmengatur pernafasan.

Satu system berperan mengatur pernafasan volunter dansystem yang lain berperan mengatur pernafasan otomatis. 1. Pengendalian Oleh saraf Pusat ritminitas di medula oblongata langsung mengatur otot otot pernafasan. Aktivitas medulla dipengaruhi pusat apneuistik dan pnemotaksis. Kesadaran bernafasdikontrol oleh korteks serebri. Pusat Respirasi terdapat pada Medullary Rhythmicity Area yaitu area inspirasi & ekspirasi,mengatur ritme dasar respirasi , Pneumotaxic Area terletak di bagianatas pons dan berfungsi untuk membantu koordinasi transisi antarainspirasi & ekspirasi, mengirim impuls inhibisi ke area inspirasi paru-paru terlalu mengembang, dan Apneustic Area yang berfungsimembantu koordinasi transisi antara inspirasi &ekspirasi dan mengirim impuls ekshibisi ke area inspirasi.2.Pengendalian secara kimia pernafasan dipengaruhi oleh : PaO2, pH,dan PaCO2. Pusat khemoreseptor : medula, bersepon terhadap perubahan kimia pd CSF akibat perub kimia dalam darah.Kemoreseptor perifer : pada arkus aortik dan arteri karotis

RHINITIS ALERGIKA

DEFINISI Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut (Von Pirquest, 1986). Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its impact onAsthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejalabersin-bersin,rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yangdiperantarai oleh IgE

EPIDEMIOLOGI Meskipun insiden rhinitis alergi yang tepat tidak diketahui, tampaknya menyerang sekitar sekitar 10 % dari populasi umum. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutam anak dan dewasa, namun berkurang berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter berperan, sedangkan jenis kelamin,golongan etnis dan ras tidak berpengaruh

ETIOLOGI Penyebab tersering adalah allergen inhalan (dewasa) dan allergen ingestan (anak-anak). Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dangangguan pencernaan. Dipeberat oleh faktor non-spesifik, seperti asap rokok, bauyang merangsang, perubahan cuaca dan kelembapan yang tinggi. Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas 1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan dengan udara pernafasan,misalnya tungau debu rumah, serpihan epitel kulit binatang, rerumputanserta jamur. 2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnyasusu sapi, telur, coklat, ikan laut, udang, kepiting, dan kacang-kacangan. 3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan sengatan lebah. 4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringanmukosa, misalnya bahan kosmetika, perhiasan dan lain-lain

KLASIFIKASI Berdasarkan sifat berlangsungnya : 1. Rinitis alergi musiman (seasonal), terjadi pada Negara dengan 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepung sari dan spora jamur. 2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial), timbul intermitten atau terusmenerus, tanpa variasi musim, timbul sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering adalah alergen inhalan. Gangguan fisiologik pada golongan perennial lebih ringan dibandingkan golongan musiman tetapi karena lebih persisten irimaka komplikasinya lebih sering ditemukan.

Klasifikasi WHO : 1. Intermitten : bila gejala kurang dari 4 hari/ minggu. 2. Persisten : bila gejala lebih dari 4 hari /minggu dan lebih dari 4 minggu.

Berdasarkan berat ringannya penyakit : 1. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu. 2. Sedang-berat, bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas

Penyebab non-spesifik 1. Iklim Udara lembab, perubahan suhu, angin 2. Hormonal Wanita yang meiliki riwayat alergi akan kambuh jika mengkonsumsi pil KB atau menderita hipertiroid 3. Psikis Meningkatnta emosi memudahkan kambuhnya alergi 4. Infeksi 5. Iritasi Karena polusi atau asap rokok 6. Genetik Tidak diragukan lagi besarnya faktor genetik dengan reaksi alergi, karena banyak penderita berasal dari keluarga yang juga menderita alergi. Resiko untuk menderita penyakit alergi adalah sekitar 30% bila satu orang tua yang atopi dan lebih dari 30% bila kedua orang tua atopi.

PATOFOSIOLOGI Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam.

Sensitisasi Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang diawali oleh adanya proses sensitisasi terhadap alergen sebelumnya. Melalui inhalasi, partikel alergen akan tertumpuk di mukosa hidung yang kemudian berdifusi pada jaringan hidung. Hal ini menyebabkan sel Antigen Presenting Cell (APC) akan menangkap alergen yang menempel tersebut. Kemudian antigen tersebut akan bergabung dengan HLA kelas II membentuk suatu kompleks molekul MHC(Major Histocompability Complex) kelas II. Kompleks molekul ini akan dipresentasikan terhadap sel T helper (Th 0). Th 0 ini akan diaktifkan oleh sitokin yang dilepaskan oleh APCmenjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5, IL9,IL10, IL13 dan lainnya. IL4 dan IL13 dapat diikat reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel B menjad i aktif dan memproduksi IgE. IgE yang bersirkulasi dalam darah ini akan terikat dengan sel mast dan basofil yang mana kedua sel ini merupakan sel mediator. Adanya IgE yang terikatini menyebabkan teraktifasinya kedua sel tersebut. Reaksi Alergi Fase Cepat Reaksi cepat terjadi dalam beberapa menit, dapat berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Mediator yang berperan pada fase ini yaitu histamin, tiptase dan mediator lain seperti leukotrien, prostaglandin (PGD2) dan bradikinin. Mediator-mediator tersebut menyebabkan keluarnya plasma dari pembuluh darah dan dilatasi dari

anastomosisarterio venula hidung yang menyebabkan terjadinya edema, berkumpulnya darah pada kavernosus sinusoid dengan gejala klinis berupa hidung tersumbat dan oklusi dari saluran hidung. Rangsangan terhadap kelenjar mukosa dan sel goblet menyebabkan hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Rangsangan pada ujung saraf sensoris (vidianus) menyebabkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Reaksi Alergi Fase Lambat Reaksi alergi fase cepat terjadi setelah 4 8 jam setelah fase cepat. Reaksi ini disebabkan oleh mediator yang dihasilkan oleh fase cepat beraksi terhadap sel endotel post kapiler yang akan menghasilkan suatu Vascular Cell Adhesion Mollecule (VCAM) dimana molekul ini menyebabkan sel leukosit seperti eosinofil menempel pada sel endotel.Faktor kemotaktik seperti IL5 menyebabkan infiltrasi sel-sel eosinofil, sel mast, limfosit, basofil, neutrofil dan makrofag ke dalam mukosa hidung. Sel-sel ini kemudian menjadi teraktivasi dan menghasilkan mediator lain seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP),Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP) dan EosinophilicPeroxidase (EPO) yang menyebabkan gejala hiperreaktivitas dan hiperresponsif hidung.Gejala klinis yang ditimbulkan pada fase ini lebih didominasi oleh sumbatan hidung.

MANIFESTASI KLINIS 1. Serangan bersin berulang lebih dari 5 kali dalam satu kali serangan. 2. Rinore yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal,kadang disertai lakrimasi 3. Gejala spesifik lain pada anak-anak bila penyakit berlangsung lama(lebihdari 2 tahun) adalah bayangan gelap di daerah bawah mata (allergicshiner) akibat stasis vena sekunder karena obstruksi hidung. Anak sering menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergic salute).Lama- lama akan timbul garis melintang di dorsum nasi seperti bawah bawah (allergic crease). 4. Sering disertai penyakit alergi lainnya seperti asma, urtikaria, atau eksim.

DIAGNOSIS Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan: 1. Anamnesis Anamnesis sangat penting karena seringkali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa. Diagnosis rinitis alergi ditegakkan dari anamnesis dengan adanya triasgejala yaitu beringus (rinorea), bersin dan sumbatan hidung, ditambah gatal hidung. Perlu diperhatikan juga gejala alergi di luar hidung (asma, dermatitis atopi, injeksi konjungtiva, dan lain sebagainya). 2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik untuk rinitis alergi berfokus pada hidung, tetapi pemeriksaanwajah, mata, telinga, leher, paru-paru, dan kulit juga penting Wajah Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan. Hidung Pada pemeriksaan hidung digunakan nasal speculum atau bagi spesialis dapat menggunakan rhinolaringoskopi Pada rinoskopi akan tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat,disertai adanya sekret encer yang banyak. Tentukan karakteristik dan kuantitas mukus hidung. Pada rinitis alergi mukus encer dan tipis. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan sinusitis. Namun, mukus yang kental, purulen dan berwarna dapat timbul pada rinitis alergi. Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi atau perforasi septum yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi kronis, penyakit granulomatus. Periksa rongga hidung untuk melihat adanya massa seperti polip dan tumor. Polip berupa massa yang berwarna abu-abu dengan tangkai. Dengan dekongestant topikal polip tidak akan menyusut. Sedangkan mukosa hidung akan menyusut. Telinga, mata dan orofaring Dengan otoskopi perhatikan adanya retraksi membran timpani, air-fluid level, atau bubbles. Kelainan mobilitas dari membran timpanidapat dilihat dengan menggunakan otoskopi pneumatik. Kelaianan tersebut dapat terjadi pada rinitis alergi yang disertai dengan disfungsi tuba eustachius dan otitis media sekunder. Pada pemeriksaan mata Akan ditemukan injeksi dan pembengkakkan konjungtiva palpebral yang disertai dengan produksi air mata. Leher. Perhatikan adanya limfadenopatie. Paru-paru. Perhatikan adanya tanda-tanda asmaf. Kulit. Kemungkinaan adanya dermatitis atopi

3. Pemeriksaan sitologi hidung.

Tidak dapat memastikan diagnosis pasti, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalen. Jika basofil mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jikaditemukan PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri. 4. Hitung eosinofil dalam darah tepi. Jumlah eosinofil dapat meningkat atau normal. Begitu juga dengan pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal, Kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asmabronkial atau urtikaria. 5. Uji kulit. Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo. Ada beberapa cara, yaitu uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-pointTitration/SET), uji cukit (Prick Test), dan uji gores (Scratch Test). Kedalaman kulityang dicapai pada kedua uji kulit (uji cukit dan uji gores) sama. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekaannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab, juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui. 6. Tes penunjang lainnya Yang lebih bermakna namun tidak selalu dikerjakan adalah tes IgE spesifik dengan RAST (Radio Immunosorbent test ) atau ELISA (Enzyme linked immunoassay). IgE total > 200 IgE RAST untuk alergen alergen dengan tingkat skor 1+ s/d4+

DIAGNOSIS BANDING 1. Rinitis non alergi 2. Rinitis infeksiosa 3. Common cold

PENATALAKSANAAN 1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak denganallergen penyebabnya. 2. Medikamentosa Antihistamin, dianjurkan AH-1 karen a bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sl target. Pemberian dapat dalamkombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa, dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasidengan antihistamin atau topikal. Preparat kortikosteroid, diberikan bila respon fase lambat tidak berhasil diatasi dengan pengobatan sebelumnya.

Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide, bermanfaat untuk mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. 3. Operatif Tidakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perludipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkandengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau triklor asetat. 4. Imunoterapi Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tujuan dari adalah pembentukan IgG.

KOMPLIKASI Komplikasi rhinitis alergi yang sering adalah : 1. Polip hidung Alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya poliphidung dan kekambuhan polip hidung. 2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak. 3. Sinusitis Paranasal

Pengertian wudhu Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan, wudhu untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya[3]. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syariat, wudhu adalah peribadatan kepada Allah azza wa jalla dengan mencuci empat anggota wudhu[4] dengan tata cara tertentu. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.

Tata Cara Wudhu secara Global Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yang lain dapat kita simpulkan tata cara wudhu Nabi shallallahu alaihi was sallam secara ringkas sebagai berikut 1. 2. 3. 4. Berniat wudhu (dalam hati) untuk menghilangkan hadats. Mengucapkan basmalah (bacaan bismillah). Membasuh dua telapak tangan sebanyak 3 kali. Mengambil air dengan tangan kanan kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan hidung untuk berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung). Kemudian beristintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri sebanyak 3 kali. Membasuh seluruh wajah dan menyela-nyelai jenggot sebanyak 3 kali. Membasuh tangan kanan hingga siku bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan yang kiri. Menyapu seluruh kepala dengan cara mengusap dari depan ditarik ke belakang, lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan menyapu bagian luar dan dalam telinga sebanyak 1 kali. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.

5. 6. 7.

8.

Wajib Wudhu Membaca bismillah ketika hendak wudhu, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu alaihi was sallam, Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Taala (bismillah) ketika hendak berwudhu.[16] Membasuh wajah, termasuk dalam membasuh wajah adalah berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar[17]. Para ulama mengatakan batasan bagian wajah yang

dibasuh adalah mulai dari atas ujung dahi (awal tempat tumbuhnya rambut) sampai bagian bawah jenggot dan batas kiri kanan adalah telinga[*][18]. Adapun yang dimaksud dengan istinsyaq adalah sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy rohimahullah, Memasukkan air ke hidung dengan menghisapnya sampai ke ujungnya, sedangkan istintsar adalah kebalikannya[19]. Dalil tentang hal ini sebagaimana yang firman Allah azza wa jalla,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah. (QS Al Maidah [5] : 6).

Jika salah seorang dari kalian hendak berwudhu maka beristinsyaqlah di hidungnya dengan air kemudian beristintsarlah.[21] Dalil khusus dalam masalah kumur-kumur adalah hadits Nabi shallallahu alaihi was sallam, Jika engkau hendak wudhu, maka berkumur-kumurlah[22]. Membasuh kedua tangan sampai siku, dalilnya adalah firman Allah azza wa jalla, Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. (QS Al Maidah [5] : 6). Demikian juga hadits Nabi shallallahu alaihi was sallam, Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali[26]. Menyapu[27] kepala dengan air, kedua telinga termasuk dalam bagian kepala[28]. Dalilnya adalah firman Allah azza wa jalla,

Dan sapulah kepalamu. (QS Al Maidah [5] : 6). Perintah dalam ayat ini menunjukkan hukum menyapu kepala adalah wajib bahkan hal ini diklaim ijma oleh An Nawawi Asy Syafii rohimahullah[29]. Demikian juga sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam,

Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan carapent.) menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya[30]. Lalu cara menyapu kedua telinga adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam, kemudian beliau menyapu kedua telinga sisi dalamnya dengan dua telunjuknya dan sisi luarnya dengan kedua jempolnya.[34] Membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Taala,

(basuh) kaki-kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki. (QS Al Maidah [5] : 6). Muwalah Muwalah[39] adalah berturut-turut dalam membasuh anggota-anggota wudhu dalam artian membasuh anggota wudhu lainnya sebelum anggota wudhu (yang sebelumnya telah dibasuh pent.) mengering dalam kondisi/waktu normal[40]. Dalil wajibnya hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Taala,

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. (QS Al Maidah [5] : 6). Sisi pendalilannya sebagai berikut, jawab syarat (dari kalimat syarat yang ada dalam ayat inipent.) merupakan suatu yang berurutan dan tidak boleh diakhirkan[41]. Adapun dalil dari Sunnah adalah Nabi shallallahu alaihi was sallam berwudhu dengan tidak memisahkan membasuh anggota wudhu (yang satu dengan yang lainnyapent.) dan hadits Nabi shallallahu alaihi was sallam yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khottob rodhiyallahu anhu

Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang belum dibasuh sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu alaihi was sallam melihatnya maka Nabi shallallahu alaihi was sallam mengatakan, Kembalilah (berwudhupent.) perbaguslah wudhumu.[42] Hal ini merupakan pendapat Imam Syafii dalam perkataannya yang lama, serta pendapat Al Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dar beliau[43].