Anda di halaman 1dari 8

Tugas Makalah

HUKUM ADAT

NAMA NIM

: Muh. Fitrah Perdana : B111 10 381

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULAUAN

1.1 Latar Belakang Hukum adat merupakan suatu istilah yang diterjemahkan dari Bahasa Belanda. Pada mulanya hukum adat itu dinamakan adat rect oleh Snouchk Hurgronje dalam bukunya yang berjudul De Atjehers. Buku ini artinya adalah orang-orang Aceh. Mengapa Snouchk Hurgronje memberi judul Orang-orang Aceh ? karena pada masa Penjajah Belanda orang Aceh sangat berpegang teguh pada hukum Islam yang saat itu dimasukkan ke dalam hukum adat. Istilah Adatrecht digunakan juga oleh Van Vollenhoven dalam bukunya yang berjudul Het Adat-Recht Van Nederlandsch Indie yang artinya hukum ada Hindia Belanda. Mengapa Van Vollenhoven memberi judul hukum adat Hindia Belanda dalam Bukunya? Karena Van Vollenhoven menganggap bahwa rakyat Indonesia banyak yang menganut hukum adat pada masa Hindia Belanda. Melalui dianggap buku Het Adat-Recht Van Nederlandsch Van Vollenhoven karena masyarakat Indonesia

sebagai

Bapak

Hukum

Adat

menganggap bahwa sebutan hukum adat bagi hukum yang digunakan oleh Bumiputera merupakan buah pemikiran Van Vollenhoven. Jika diamati

sebenarnya asal mula hukum adat itu dari Bahasa Arab yaitu adati yang berarti kebiasaan masyarakat. Pada abad 19 pada saat peraturan-peraturan agama mengalami kejayaan timbullah teori Receptio in complexu dari Van den Berg dan Salmon Keyzer yang menyatakan bahwa hukum adat itu merupakan penerimaan dari hukum agama yang dianut oleh masyarakat. Tetapi hal ini

ditentang keras oleh Smouchk Hurgronje, Van Vollenhoven dan Ten Haar Bzn. Walaupun hukum agama itu mempunyai pengaruh terhadap perkembangan hukum adat, tetapi tidak begitu besar pengaruhnya karena pengaruh hukum agama hanya terbatas pada beberapa daerah saja.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tentang Hukum Adat Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Keberadaan hukum adat tidak pernah akan mundur atau tergeser dari percaturan politik dalam membangun hukum nasional, hal terlihat dari terwujudnya kedalam hukum nasional yaitu dengan mengangkat hukum rakyat/hukum adat menjadi hukum nasional terlihat pada naskah sumpah pemuda pada tahun 1928 bahwa hukum adat layak diangkat menjadi hukum nasional yang modern. Pada era Orde Baru pencarian model hukum nasional memenuhi panggilan zaman untuk menjadi dasar-dasar utama pembangunan hukum nasional., dimana mengukuhkan hukum adat akan berarti mengukuhi pluralisme hukum dan tidak berpihak kepada hukum nasional yang diunifikasikan (dalam wujud kodifikasi), terlihat bahwa hukum adat plastis dan dinamis serta selalu berubah secara kekal. Ide kodifikasi dan unifikasi diprakasai kolonial yang berwawasan universalistis, dimana hukum adat adalah hukum yang neniliki perasaan keadilan masyarakat local yang pluralistis.

Dimana hukum kolonial yang bertentangan dengan hukum adat adalah merupakan tugas dan komitmen Pemerintah Orde Baru untuk melakukan unifikasi dan kodifikasi kedalam hukum nasional, dimana badan kehakiman diidealkan menjadi hakim yang bebas serta pembagian kekuasaan dalam pemerintahan adalah harapan sebagai badan yang mandiri dan kreatif untuk merintis pembaharuan hukum lewat mengartikulasian hukum dan moral rakyat, telah melakukan konsolidasi dengan dukungan politik militer dan topangan birokrasi yang distrukturkan secara monolitik serta mudah dikontrol secara sentral, mengingat peran hukum adat dalam pembangunan hukum nasional sangat mendesak yang secara riil tidak tercatat terlalu besar, terkecuali klaim akan kebenaran moral, pada saat masalah operasionalisasi dan pengefektifan terhadap faham hokum sebagai perekayasa ditangan Pemerintah yang lebih efektif. Resultante pada era Orde Baru telah terlanjur terjadi karena kekuatan dan kekuasaan riil eksekutif dihadapan badan-badan perwakilan telah menjadi tradisi di Indonesia sejak jaman kolonial dan pada masa sebelumnya dan juga adanya alasan-alasan lainnya. 2.2 Hukum adat dalam Hukum Formal Setiap negara di dunia memiliki sistem hukum yang berbeda - beda. Hal ini menentukan juga jalannya pemerintahan dan hubungan negara tersebut ke negara lain. Indonesia memakai sistem hukum positif, yaitu hukum yang berlaku di suatu wilayah dan waktu tertentu. hukum yang berlaku di Indonesia hampir pasti tidak ada yang menyamai secara keseluruhan, karena Indonesia memiliki sistem hukum yang hanya bisa dterapkan di Indonesia. Begitu juga tergantung pada masa pemerintahan presiden tertentu. memang dasar - dasar dari hukum

Indonesia tidak berubah namun penerapannya kan berbeda - beda. Sumber hukum formal pada umumnya dibedakan menjadi lima bagian, yaitu : Undang - Undang, Kebiasaan dan Adat, Traktat, Yurispudensi, dan Doktrin. Hukum positif di Indonesia terdiri atas hukum tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis adalah Undang - Undang dan peraturan - peraturan yang tertulis dan diterapkan. Hukum tertulis ini seaakan menjadi pattern dalam melaksanakan sistem hukum di Indonesia, seperti UUD 1945 yang menjadi sumber dari segala sumber hukum. Selain itu, Kitab Undang - Undang Hukum Perdata maupun Pidana juga merupakan contoh dari hukum tertulis di Indonesia. Hukum tidak tertulis merupakan hukum kebiasaan atau hukum ada yang sudah berlaku turun temurun. Hukum ini tidak pernah ditulis dan diarsipkan sebagaimana hukum tertulis, namun berlaku dan menjadi paten di tengah - tengah kehidupan masyarakat. Selain berlangsungnya hukum tertulis maupun tidak tertulis, di tengah - tengah masyarakat juga berlakui norma - norma yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Norma - norma yang berlaku adalah : Norma Agama, Norma Kesusilaan, Norma Kesopanan, dan Norma Hukum[1]. Namun, masyarakat juga menjadi aspek penting dalam pembahasan sistem hukum di Indonesia. Hal ini dikarenakan keperluan dari masyarakat agar menemui tujuan masyarakat yang tentram dan sejahtera adalah berlakunya norma dan hukum yang tepat dan cocok dengan keadaan masyarakat itu. Hukum itu sendiri muncul karena adanya komunitas itu sendiri. Sebagai masyarakat Indonesia, mempelajari hukum Indonesia merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap negaranya sendiri dan mengetahui bagaimana hukum yang berlaku sekarang. Dalam kehidupan bernegara, kita tidak

mungkin lepas dari tata aturan hukum yang berlaku dan segala perilaku kita harus disandarkan pada aturan - aturan tersebut. Pada awalnya, di Indonesia sebelum datangnya Belanda, sudah berlaku hukum adat yang berlaku di masyarakat dan tidak tertulis. Setelah Belanda datang, penduduk asli Indonesia berlaku hukum adat di daerah masing - masing, begitu juga bangsa timur asing (Asia). Namun penduduk Eropa yang tinggal di Indonesia berlaku hukum di negara Belanda[2]. Setelah kemerdekaan 1945, di Indonesia berlaku lima kontitunsi, yaitu : UUD 1945, Konstitusi RIS, UUDS 1950, UUD 1945, dan UUD 1945 yang mengalami amandemen sebanyak empat kali.

BAB III PENUTUP

Demikian makalah yang dapat saya sampaiakan kurang lebihnya mohon di maafkan, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan, jika ada kesalahan mohon di ingatkan dan dibenarkan, sebagai perbaikan saya ke depan. Semoga apa yang tertera disini bisa membawa manfaat untuk kita semua dan bisa menambah wawasan kita semua dalam kompeterensi terkait.