Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan suatu bangsa pada hakekatnya adalah suatu upaya pemerintah bersama masyarakat untuk mensejahterakan bangsa. Salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sumber daya yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima dan penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Salah satu indikator untuk mengukur tinggi rendahnya kualitas sumber daya manusia adalah indeks pembangunan manusia (Human Development Index HDI). Tiga faktor utama penentu HDI yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat. Kurang gizi berdampak pada penurunan kualitas SDM. Status gizi erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan yang merupakan suatu rangkaian proses tumbuh kembang tubuh yang berlangsung secara teratur dan terus menerus melalui tahapan-tahapan sesuai dengan perkembangan baik struktur maupun fungsi berbagai jaringan dan organ tubuh. Proses tumbuh kembang dimulai sejak terjadi pembuahan sel telur dalam rahim ibu. Sel telur yang dibuahi itu kemudian akan mengalami proses tumbuh kembang sampai mencapai tahap tertentu sehingga janin siap untuk lahir, berlanjut setelah lahir memasuki usia anak-anak dan remaja kemudian menjadi dewasa dan mencapai usia tua. Untuk itulah penulis bermaksud memaparkan gizi pertumbuhan dan perkembangan anak di dalam makalah ini.

B. Tujuan 1. Mengetahui definisi pertumbuhan dan perkembangan. 2. Mengetahui gizi anak sejak dalam kandungan. 2. Mengetahui gizi pada masa bayi. 3. Mengetahui gizi pada masa anak 4. Mengetahui masalah gizi pertumbuhan dan perkembangan anak.

BAB II GIZI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK


A. Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan

Menurut Soetjiningsih (1995) istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan adalahsebagai berikut : 1. Pertumbuhan ( growth ) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran ( gram, pound,kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur, tulang dan keseimbangan metabolik ( rertensi kalsium dan nitrogen tubuh). 2. Perkembangan ( development ) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi proses dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh,organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. B. Gizi Anak Sejak Dalam Kandungan Gizi pada masa anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya sejak masih dalam kandungan sekalipun, gizi memegang peran penting. Ibu hamil mendapat makanan yang adekuat, maka bayi yang dikandungnya akan lahir dengan berat lahir normal. Sedangkan ibu yang kurang gizi akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Terutama pada triwulan terakhir kehamilan. Asupan gizi pada ibu hamil harus lebih mendapat perhatian karena pada masa itu terjadi proliferasi sel-sel otak yang pesat, dan akumulasi

LCPUFAs ( long chain polyunsaturated fatty acids) pada retina dan otak yang pesat pula. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, proliferasi selsel otak dan akumulasi LCPUFAs masih berlangsung serta terjadi mielinasi pertumbuhan dendrite dan sinap yang pesat yang pesat, sehingga terbentuk jaringan otak yang kompleks. Periode kritis pertumbuhan otak yaitu pada triwulan akhir kehamilan sampai 3 tahun pertama kehidupan kehidupan, merupakan masa yang sangat penting. Masa itu juga disebut windows of opportunity yang berdampak buruk kalau tidak diperhatikan, tetapi berdampak baik kalau pada masa tersebut dimanfaatkan dengan baik. B. Gizi Pada Masa Bayi Pada masa bayi yaitu pada umur satu tahun pertama merupakan masa transisi dari makanan cair kemakanan orang dewasa. Pada masa ini di tandai dengan tumbang yang sangat pesat. Pada umur lima bulan berat badan bayi sudah dua kali berat badan lahir, dan pada umur setahun sudah tiga kali berat lahir. Demikian pula dengan panjang badan, meningkat pesat. Pada umur setahun panjamg badan meningkat sekitar 50%. Pertumbuhan lingkar kepala (LK) yang menggambarkan perkembangan isi kepala juga pesat. Pertambahan (LK) 50% terjadi pada enam bulan pertama kehidupan (LK baru lahir 34 cm, 6 bulan 44 cm, dewasa 54 cm). Dengan pesatnya pertumbuhan fisik tersebut, maka diperlukan asupan gizi yang baik pula. Pada masa ini anak harus mendapat hak yang khusus, karena berbagai perubahan jenis makanan maupun cara pemberian makanan dapat berpengaruh terhadap asupan makanan. Pada masa ini terjadi masa transisi dari makanan cair (ASI) ke makanan keluarga. Pola pemberian makanan bayi selama masa transisi adalah dimulai dari makanan lumat, secara bertahap ke makanana lembek dan pada umur satu tahun diharapkan anak sudah dapat makanan dari makanan keluarga. Dari segi gizi pada masa kritis tersebut anak harus mendapat gizi esensial yang memadai dan pada semua bayi dianjurkan untuk mendapat ASI (Air Susu Ibu). Dari penelitian terakhir dikatakan bahwa ASI banyak mengandung LCPUFAs
4

(arachidonic

acid/AA

dan

docosahexanoic acid/DHA) dalam jumlah yang memadai untuk pertumbuhan otak anak. Selain gizi yang baik pada masa periode kritis tersebut anak juga harus memadai dan dijaga kesehatannya, agar kelak tumbuh kembang optimal. Selama masa peralihan ini diet bayi berubah dari ASI saja kearah makan orang dewasa. MP-ASI ini tidak saja menambah masukan energy dan karbohidrat saja tetapi juga memberI tambahan protein,asam lemak esensial vitamin dan mineral. Pemberian makanan ini betujuan pula untuk mendidik bayi membiasakan dan menyukai makanan lain selain ASI secara berangsurangsur. Gangguan gizi juga sering terjadi pada periode transisi ini oleh karena keluarga/ibu : a. Kurang pengetahuan mengenai kebutuhan bayi dan makanan tambahan yang bergizi b. Ketidaktahuan menyiapakn makanan tambahan dari bahan-bahan local yang bergizi c. Kemiskinan sehingga kurang mampu menyediakan makanan yang bergizi. Jenis makanan yang diberikan tergantung pada umur anak. Pada 6 bulan, anak dapat diberikan buah-buahan lunak atau air buah. Tujuan pemberian buah-buahan ini selain untuk memperkenalkan makanan selain ASI juga sebagai sumber vitamin, mineral dan sedikit kalori. Kalau menggunakan protein nabati, harus digunakan lebih dari 1 sumber protein nabati untuk memenuhi kebutuhan asam amino esensial. Makanan lumat ini bisa dibuat sendiri atau membeli yang sudah siap dimakan. Pada saat ini banyak dipasarkan bubur susu atau makanan lumat buatan pabrik. Pada umur 6-12 bulan anak dapat diberikan makanan lembek atau nasi tim. Makanan lembek adalah makanan bayi yang terdiri dari 4 komponen dasar yaitu: makanan pokok : padi-padian, umbi-umbian. Protein: susu, telor, ikan, daging, hati dan keju. Protein nabati: kacang-kacangan, tahu dan tempe. Sumber vitamin dan mineral: buah dan sayur. Energi: lemak, minyak, mentega, santan dan gula. ASI sebagai komponen pokok, karena ASI
5

merupakan sumber energi dan nutrien selama masa transisi tersebut. ASI sebaiknya diteruskan sampai anak umur 2 tahun. C. Gizi Pada Anak Pertumbuhan anak umur antara setahun sampai pra remaja sering disebut sebagai masa laten atau tenang. Keadaan ini berbeda dengan pada masa bayi dan remaja dimana pertumbuhannya sangat pesat. Walaupun pada masa anak ini pertumbuhan fisiknya lambat tetapi merupakan masa untuk perkembangan social, kognitif dan emosional. Pada masa balita merupakan puncak kejadian defisiensi vitamin A dan KEP. Hal ini disebabkan pada umumnya anak sudah mulai disapih, sedangkan makan tambahan yang diberikan sering kurang bergizi . selain itu pada masa ini anak seringkali sulit makan karena anak sudah tahu rasa /mempunyai selera sendiri terhadap makanan tertentu, sering bosan terhadap makanan yang diberikan ,anak yang banyak bermain atau karena faktor kejiwaan misalnya makan yang dipaksa , deprivasi maternal, atau adanya adiknya yang baru lahir. Disamping itu anak juga masih sering sakit yang dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak akibat menurunnya asupan kalori (nafsu makan yang menurun) dan kebutuhan kalori yang meningkat untuk melawan penyakitnya. Kecepatan pertumbuhan anak melambat setelah tahun pertama kehidupan. Pada umur setahun berat badan anak menjadi 3 kali berat badan lahir, tetapi pada umur 2 tahun berat badan anak hanya 4 kali berat badan lahir. Panjang badan anak bertambah 50% pada umur setahun , namun panjang badan 2 kali panjang badan lahir baru tercapai pada umur 4 tahun. Pertumbuhan fisik terjadi sangat sedikit bila dibandingkan dengan masa bayi dan remaja. Pertambahan berat badan sekitan 2-3 kg/ tahun sampai umur 9-10 tahun, kemudian akan meningkat pada masa remaja. Mulai umur 2 tahun sampai pra remaja tinggi badan bertambah 6-8cm/tahun . pada masa ini anak Nampak seolah olah kecil karena pertumbuhannya lambat. Orangtua sering merasa cemas bagi yang tidak memahami tentang hal ini. Pada masa ini pertumbuhan kepala juga melambat,sehingga komposisi anggota gerak dan badan mendekati proporsi dewasa. Untuk mendukung peningkatan aktifitas
6

dan kemampuan berjalan maka otot-otot tungkai,perut dan punggung menjadi lebih kuat untuk menjaga posisi tubuh supaya tetap tetap tegak. Pertumbuhan jaringan lemak berkurang secara bertahap dan mencapai minimum pada umur 6 tahun. Kemudian pada masa praremaja pertumbuhan lemak mulai meningkat kembali. Perubahan tersebut terjadi secara bertahap dalam beberapa tahun. Oleh karena pertumbuhan fisik masa ini relative lambat maka untuk deteksi dini penyimpangan pertumbuhan agak sulit. Bila berat badan dibawah normal atau kehilangan berat badan dalam periode beberapa bulan kemungkinan disebabkan kurang gizi, penyakit akut yang berat penyakit kronis yang tidak terdiagnosis, masalah emosi atau deprivasi maternal. Selain itu pemantauan tinggi badan dan lingkar kepala diperlukan untuk melihat adanya penyimpangan sedini mungkin. Anak membutuhkan nutrient lebih banyak untuk pertumbuhan tulang , gigi, otot, darah. Anak mempunyai resiko mengalami malnutrisi apabila anak terlali lama nafsu makannya tidak baggus, asupan makanan yang terbatas atau makanan yang terlalu encer. Energy dibutuhkan oleh anak untuk keperluan metabolism basal, pertumbuhann, dan aktifitas. Diet harus cukup energy dan protein untuk menjamin pertumbuhan yang optimal tanpa mengakibatkan obesitas.komposisi makananan pada masa ini dianjurkan terdiri dari 50-60% karbohidrat, 25030% lemak,dan 10-15% protein. Makanan dan proses makan tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan nutrient untuk pertumbuhan dan mempertahankan hidup tetapi dipengaruhi juga oleh perkembangan kognitif anak dalam ketrampilan makan,kebiasaan makan dan pengetahuan tentang gizi. Teori perkembangan kognitif menurut Piaget di dalam Soetjiningsih (2002) menerangkan bahwa perkembangan ketrampilan pada anak,adalah sebagai berikut : a. Sensori motor ( lahir 2 tahun ) Perkembangan kognitif : perkembangan dari reflek oromotor pada bayi baru lahir ke interaksi yang erat dengan lingkungan dan mulai menggunakan symbol simbol
7

Perkembangan makan : dari reflek menghisap dan reflek mencari menjadi kemampuan makan sendiri. Makanan hanya digunakan untuk menghilangkan rasa lapar, sebagai media untuk mengenal lingkungan dan untuk mempraktekkan kemampuan gerakan motorik halusnya. b. Pra operasional ( 2 7 tahun ) Perkembangan kognitif : proses berpikir menjadi internalisasi tidak sistematis dan mengandalkan intuisi. Penggunaan symbol meningkat. Pengertian berdasarkan penampilan dan kejadian yang dilihatnya. c. Dunianya masih egosentris Perkembangan makan : makan kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan perkembangan social,bahasa dan perkembangan kognitif. Makanan disebut berdasarkan warna , bentuk atau jumlah ,anak masih kurang mampu dalam mengelompokkan jenis makanan. Makanan dikelompokkan menurut disukai dan yang tidak disukai. Mereka dapat mengerti bahwa makanan adalah baik untuk mereka tetapi belum mengetahui alasannya. d. Berpikir operasional konkrit ( 7-11 tahun) Perkembangan kognitif : anak dapat memusatkan berbagai aspek dari situasi secara simultan. Sudah mengerti sebab akibat secara rasional dan sistematis. Mampu melakukan mengelompokkan ,pengelompokan ulang dan generalisasi. Berkurangnya rasa ego memungkinkan anak bersosialisasi dengan orang lain. Perkembangan makan : mulai mengerti bahwa makanan yang bergizi sangat berguna untuk kesehatan dan pertumbuhan tetapi pengertiannya terbatas. Waktu makan merupakan saat yang tepat untuk kontak social. Bertambah luasnya lingkungan anak mempengaruhi pemilihan jenis makanan dan sudah mengikuti selera teman sebayanya. e. Formal operasional ( 11 tahun atau lebih ) Perkembangan kognitif : berkembang nya kemampuan berpikir abstrak dan imajinasi. Pengertian terhadap ilmu pengetahuan dan teori lebih mendalam.

Perkembangan makan : dapat mengerti konsep zat makanan dari fungsi fisiologis dan biokimianya. Konflik dalam pemilihan jenis makanan anatara makanan yang bergizi dengan makanan kesukaan. Pertumbuhan fisik anak tidak selamanya nya mulus dan konstan tergantung pada asupan makanan yang dipengaruhi oleh nafsu makan yang baik pada masa bayi dapat berkurang pada masa pra sekolah. Setelah anak berumur setahun konsumsi susu mulai berkurang. Asupan sayur juga berkurang yang meningkat adalah makanan kecil,kue-kue dan permen, sehingga pada masa ini dapat dijumpai penurunan asupan kalsium, fosfor, riboflavin, besi dan vitamin A. pada masa usia sekolah asupan makanan relativ sama,menjelang remaja baru terjadi peningkatan asupan makanan. Menurut a. Keluarga Pada bayi dan anak pra sekolah keluarga adalah faktor utama yang berpengaruh terhadap kebiasaan makan anak. Orangtua dan saudara yang lebih tua merupakan model bagi anak yang lebih muda terhadap kebiasaan makannya. Kebiasaan makan, makanan favorit dan makanan yang tidak disukai dini akan terbawa sampai dewasa dan sulit dihilangkan. Suasana pada waktu makan mempengaruhi nafsu makan anak. Harapan orangtua yang berlebihan dengan disertai dengan teguran dan paksaan untuk menghabiskan porsi makanan yang disediakan menjadi hal yang tidak menyennagkan dan berakibat menurunkan nafsu makan anak. Sebaliknya lingkungan yang menyenangkan seperti suasanan rileks pada keluarga dan toleransi kalau anak menumpahkan makanan dapat meningkatkan nafsu makan anak. b. Media Dengan gencarnya iklan makanan dalam televise dapat berpengaruh terhadap asupan makanan anak-anak pra sekolah karena mereka masih belum dapat berpikir secara kritis terhadap iklan komersial
9

Soetjiningsih

(2002)

adapun

faktor-faktor

yang

mempengaruhi asupan makanan adalah sebagai berikut :

tersebut. Sedangkan anak yang lebih besar mereka sudah menjadi lebih kritis tetapi mereka masih rawan terhadap pengaruh iklan tersebut. Padahal sebagian besar makanan yang diiklankan mengandung tinggi gula ,lemak, dan sodium. Televisi juga akan mempengaruhi tumbuh kembang anak dengan penurunan aktifitas dan pemakaian waktu luang secara pasif dengan menonton tv selama berjam-jam. Lebih-lebih kalau selama menonton sambil makan dapat mengakibatkan obesitas pada anak. c. Teman sebaya Dengan bertambah luasnya kontak sosial anak dengan lingkungannya maka tidak dapat dihindari pengaruh teman sebaya terhadap pilihan makan anak. Hal ini ditandai dengan penolakan yang tiba-tiba terhadap makanan yang biasanya dikonsumsi dan meminta makanan yang popular. Tingakh laku ini suatu saat akan berubah. Orang tua harus membatasi pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan dan juga harus lebih realistis karena pergolakan terhadap makanan akan hilang dengan sendirinya. d. Penyakit Penyakit dapat menurunkan nafsu makan dan asupan makanan. Penyakit aku twalaupun berlangsung singkat dapat meningkatkan kebutuhan air,protein dan zat m,makanan lainnya. Sedangkan pada penyakit kronis seperti asma atau penyakit jantung bawaan sulit untuk menentukan kebutuhan zat makanan agar pertumbuhan anak optimal. Demikian pula dengan anak yang menderita diabetes memerlukan makanan khusus, pengaturan dan pembatasan makanan padahal anak masih dalam masa pertumbuhan. D. Masalah Gizi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Menurut Soetjiningsih (2002) masalah makan yang sering terjadi pada 1 tahun pertama adalah : 1. Asupan makan kurang

10

Ditandai dengan anak yang cenderung dan gagal tumbuh: Asupan makanan yang kurang juga dapat disebabkan oleh anak yang tidak mampu mengkonsumsi makanan yang disediakan untuknya. Pada kasus ini disebabkan: Frekwensi makan, cara pemberian makan, besarnya lubang dot. Gejala awal: konstipasi, tidur kurang, cengeng, kulit kering. 2. Asupan makanan lebih Rugurgitasi dan muntah merupakan salah satu gejala, disamping berat badan diatas normal sampai obesitas. 3. Regurgitasi dan muntah Regurgitasi adalah keluarnya sedikit makanan setelah ditelan. Muntah adalah hampir semua isi lambung keluar dan terjadi beberapa saat setelah makan. Regurgitasi sering terjadi pada 6 bulan pertama tapi dapat dicegah dengan menyendawakan setelah makan dan minum, menidurkan dengan posisi miring kekanan serta kepala lebih tinggi. 4. Diare dan tinja encer Pada hari ke 4-6 tinja bayi dalam masa transisi, konsistensinya encer. 5. Konstipasi Sangat jarang pada bayi yang minum ASI maupun susu formula. Konstipasi ini disebabkan oleh kurang minum, makanan terlalu banyak protein atau lemak tapi kurang serat. Untuk megatasinya bayi umur lebih dari 6 bulan dapat diberikan buah, sayur atau bubur. 6. Kolik Sering terjadi pada bayi dibawah umur 3 bulan, ditandai dengan nyeri abdomen secara tiba-tiba, bayi menangis keras dalam waktu lama, muka tampak merah, tungkai di tarik diatas abdomen, kaki dingin. Kolik terjadi pada bayi yang minum susu formula dibanding minum asi, sebab asi mudah dicerna tetapi gejala ini dapat berhenti jika sudah mengalami platus. Masalah makanan yang sering terjadi pada masa anak adalah sebagai berikut : 1. Obesitas

11

Obesitas yang terjadi sebelum umur 5 tahun memepunyai kecederungan tetap gemuk pada waktu dewasa, daripada yang terjadi sesudahnya. Manajemen obesitas pada anak berbeda dengan dewasa karena anak masih dalam masa pertumbuhan. Seiring peningkatan taraf hidup, kini semakin banyak saja anak Indonesia yang mengalami kegemukan atau bahkan obesitas. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahaya kesehatan dan kejiwaan yang mengancam di balik kegemukan tersebut. Tebalnya lipatan kulit,indeks masa tubuh (BMI) merupakan ukuran lain umtuk menentukan derajat obesitas. 2. Gagal tumbuh/kurang gizi Gagal tumbuh atau penurunan berat badan dapat disebabkan oleh penyakit akut/kronis, diet ketat, tidak ada nafsu makan yang lama deprivasi maternal atau kemiskinan. Pada manajemen kasus ini diperlukan energy dan zat makanan yang adekuat,pendidikan gizi,upaya untuk meningkatkannafsu makan dan modifikasi lingkungan untuk menjamin asupan makanan yang optimal. 3. Defisiensi besi Defisiensi besi sering terjadi pada umur 1-3 tahun disamping akibat berkurangnya cadangan besi juga karena asupan besi yang kurang. Anemia defisiensi besi lebih sering terjadi pada golongan social ekonomi rendah dan pada anak yang meminum susu sapi daripada yang minum ASI.pada anak pra sekolah cenderung tidak suka makan daging sehingga sebagian besar sumber zat besinya berasal dari non heme yang absorbs nya kurang.anak yang mengalami defisiensi besi cenderung memiliki IQ rendah dan terdapat gangguan pemusatan perhatian. 4. Defisiensi vitamin A Kebutuhan yang terjadi dinegara yang sedang berkembang yang sebagian besar disebabkan oleh defisiensi vitamin A dapat dilakukan dengan mengkonsumsi sumber makanan vitamin A yang relative murah seperti telur,sayur mayu yang berwarna kuning/jingga/dan hijau tua,buahbuahan,serta ikan, hati.
12

5. Karies gigi Komposisi diet dan kebiasaan makan seperti kandungan sukrosa sisa makanan dalam mulut dan frekuensi makan merupakan faktor terjadinya caries gigi.untuk mencegah karies dianjurkan mengurangi makanan kecil yang manis-manis dan memperhatikan kebersihan gigi. Demikian pula suplementasi dengan fluor sangat diperlukan untuk pencegahan. 6. Alergi makanan Alergi makanan dapat terjadi padi bayi maupun anak-anak. Terutama dari keluarga yang mempunyai riwayat alergi. Manifestasi reaksi alergi pada saluran pernafasan,pencernaan atau dikulit tetapi dapat pula berupa gejala yang tidak jelas seperti rasa lelah,letargi,dan perubahan tingkah laku. 7. Gizi pada masa pra sekolah Berhubung bahaya kekurangan gizi masih mungkin pada masa prasekolah ini maka harus diperhatikan kualitas maupun kuantitas makanan yang dimakan. Pada masa ini energy digunakan sebagian besar untuk aktifitas. Anak masa pra sekolah mempunyai kapasitas lambung lebih kecil dan nafsu makan yang bervariasi. Sebaiknya anak diberi makan dengan porsi kecil dan sering. Pemberian makanan kecil sangat bermanfaat untuk melengkapi kebutuhan total zat makanan per hari. Pemilihan makanan kecil harus hati-hati,dipilih yang bergizi padat nutrient dan tidak mengganggu nafsu makan anak.berikan anak istirahat cukup sebelum makan,sebab bila mereka lelah dapat mengakibatkan anak malas makan. Pengalaman makanan baru, berpartisipasi dalam menyiapkan makanan sederhana,berkebun sayur/buah adalah hal positif dalam membina kebiasaan makan anak.

13

BAB III KESIMPULAN Telah dibahas gizi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kebutuhan zat-zat makanan, jenis makanan dan masalah-masalah yang timbul akibat pemberian makan tergantung pada masing-masing kelompok umur. Pada masa bayi perlu ditekankan pemberian ASI dan MP-ASI yang bergizi, karena pada masa bayi pertumbuhan anak sangat pesat dan merupakan masa transisi dari ASI ke makanan dewasa. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan gizi anak, agar tumbuh kembang optimal dan menjadi generasi penerus yang sehat jasmani, mental dan sosial serta berguna bagi nusa dan bangsa.

14

DAFTAR PUSTAKA Departemen Gizi dan Kesmas UI. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Muchtadi, Deddy. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung : Alfabeta. Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC. Soetjiningsih, Suandi. 2002. Gizi untuk Tumbuh Kembang Anak. Dituangkan ke dalam Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta : IDAI. Supariasa, I Dewa. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC

15