Anda di halaman 1dari 6

DEPARTEMEN AGAMA DALAM MENGHAPUS OPINI DISCLAIMER Oleh : Dra.Hj. Lela Rochmatin Emod, M.

MPd Tim Pendamping/Widyaiswara BDK Bandung A. Pendahuluan Dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih adalah adanya akuntabilitas, transparansi, integritas, keadilan dan partisipasi. Wujud dari akuntabilitas dan transparansi adalah Laporan Keuangan yang baik. Laporan keuangan pemerintah pusat di era reformasi pertamakali disusun pada tahun 2004 oleh menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Laporan tersebut merupakan gabungan dari produk Sistem Akuntansi Umum (SAU) yang

dilaksanakan oleh Departemen Keuangan dan produk Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang berasal dari masing-masing Kementerian dan Lembaga Negara. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dua tahun berturut-turut (2004-2005) masih dinyatakan disclaimer. Pada waktu itu, BPK hanya memberikan opini kepada Departemen Keuangan selaku penyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pemberian opini kepada Departemen termasuk Departemen Agama baru mulai diberikan pada tahun 2006. Sejak awal penyusunan Laporan Keuangan (tahun 2004), Departemen Agama sudah melakukan berbagai upaya untuk dapat menyusun Laporan Keuangan yang handal dan menyampaikannya secara tepat waktu walau kondisi objektif mengalami berbagai kendala.

B. Kondisi Objektif Laporan Keuangan Departemen Agama Laporan Keuangan Departemen Agama adalah bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN di Lingkungan Departemen Agama. Laporan tersebut berisi Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan

Keuangan(CaLK). LRA memberikan informasi tentang berapa pagu anggaran Departemen Agama, berapa realisasinya dan berapa saldonya samapai dengan hari pelaporan. Neraca memberikan informasi tentang berapa kekayaan bersih Departemen Agama pada hari pelaporan. Sedangkan CaLK memberikan informasi mengenai hal-hal penting yang tidak dapat dilaporkan melalui LRA dan Neraca. Proses Penyusunan Laporan Keuangan Departemen Agama dikerjakan oleh Sistem Akuntansi Instansi yang terdiri dari dua sub sistem akuntansi, yaitu Sistem

Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK BMN). Unit-Unit Akuntasi di lingkungan Departemen Agama diatur dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 17 Tahun 2006 tentang Pembentukan Unit Akuntansi Barang Milik Negara di Lingkungan Departemen Agama. Kedua Unit akuntansi tersebut sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut ini :

(Bagan Unit Akuntansi Di Lingkungan Departemen Agama)

Jumlah Unit Akuntansi di lingkungan Departemen Agama adalah sebanyak jumlah satker di lingkungan Departemen Agama yang hingga akhir tahun 2008 berjumlah 4.028 satker terdiri dari : Eselon 1 pusat sebanyak 10 Satker; Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi (Kanwil) sebanyak 33 Satker; Kantor Departemen Agama (Kandepag) sebanyak 440 Satker; Universitas Islam Negeri (UIN) sebanyak 6 Satker; Institut Agama Islam Negeri (IAIN) sebanyak 13 Satker; Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), 1 satker; Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) sebanyak 33 satker; Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) sebanyak6 satker; Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) sebanyak 2 satker;

Sekolah Tinggi Agama Budha Negeri (STABN) 1 satker; Balai Pendidikan dan Pelatihan (Balai Diklat) sebanyak 12 satker; Balai Penelitian dan Pengembangan sebanyak 3 satker; Madrasah Aliyah Negeri (MAN) sebanyak 646 sater; Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) sebanyak 1.253 satker; Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) sebanyak 1.567 satker; Lajnah Pentashihan Al-Quran, 1 satker dan Atase Haji, 1 satker

Satker sejumlah tersebut di atas kondisinya sangat heterogen baik dari segi lokasi, kelengkapan sarana dan prasarana, maupun kuantitas dan kapasitas SDM nya. Kondisi ini sangat mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan Departemen Agama. Departemen agama telah melakukan sosialisasi peraturan perundangundangan, pelatihan Aplikasi, rakor percepatan Laporan Keuangan dan Barang Milik Negara, seluruh satker telah menyusun dan menyampaikan laporan Keuangannya secara tepat waktu. Akan tetapi, karena opini terhadap Laporan Keuangan Departemen Agama tidak semata-mata didasarkan pada aspek penyusunan Laporan Keuangan, melainkan juga pada faktor perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan yang sampai sekarang belum berjalan dengan baik dan meyakinkan, maka hingga tahun 2008 Laporan Keuangan Departemen Agama masih mendapatkan opini Disclaimer.

C. Kriteria Pemberian Opini Terhadap Laporan Keuangan Dalam Penjelasan pasal 16 ayat 1 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara disebutkan bahwa opini atas laporan keuangan merupakan pernyataan professional pemeriksa mengenai kewajaraninformasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan. Opini tersebut didasarkan pada criteria (i) kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan (adequate disclousures), (iii) kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan (iv) efektivitas sistem pengendalian intern. Sehubungan dengan kriteria tersebut di atas, terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan terhadap laporan keuangan, yakni (i) opini wajar tanpa pengecualian

(unqualified opinion), (ii) opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion), (iii) pernyataan menolak memberikan opini (disclaimer of opinion) dan (iv) opini tidak wajar (adversed opinion).

D. Strategi Departemen Agama Laporan Keuangan dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian mencerminkan kondisi pengelolaan APBN yang sudah seratus persen transparan, akuntabel, dan sesuai dengan seluruh peraturan perundang-undangan. Departemen Agama dengan jumlah satker 4.028 yang tersebar di seluruh pelosok tanah air tentunya tidak mudah untuk mewujudkan kondisi tersebut. Oleh karena itu saat ini telah ditetapkan tahapan dalam memperoleh opini wajar dengan pengecualian terlebih dahulu dengan cara ; 1. Membentuk Tim Pendampingan; Tim dibentuk dengan Keputusan Menteri Agama yang beranggotakan tenaga professional dan pejabat terkait baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Pendampingan dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu ketika menyusun laporan keuangan semesteran dan tahunan. 2. Reviu Laporan Keuangan Oleh Itjen; Itjen melakukan reviu terhadap laporan keuangan di tingkat pusat dan kantor wilayah Departemen Agama seluruh Indonesia. Setelah melakukan reviu dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan untuk menguji kebenaran data-data yang dipaparkan dalam laporan keuangan dengan kondisi objektif di lapangan. Hasil pemeriksaan lapangan ini bisa dijadikan dasar untuk memberikan opini terhadap laporan keuangan di tingkat wilayah. Kegiatan ini analog dengan kegiatan pemeriksa BPK terhadap laporan keuangan Departemen dan pemberian opini di tingkat Departemen. 3. Meningkatkan Kualitas SDM; melalui in-service training yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dan meningkatkan pengangkatan Pegawai baru yang berlatar belakang akademik bidang keuangan. 4. Peningkatan Sarana dan Prasarana; berusaha secara bertahap, terencana dan berkesinambungan untuk memenuhi sarana prasarana antara lain tersedianya perangkat computer yang kapasitas maupun kwalitasnya memadai,

menyediakan anggaran yang memadai untuk memberikan insentif bagi petugas pelaporan, pembangunan jaringan on-line untuk seluruh satker di lingkungan Departemen Agama.

5.

Peningkatan Komitmen Pimpinan; melaui sosialisasi, rakor, raker maupun melalui berbagai forum lainnya.

6.

Meningkatkan Kualitas Perencanaan Anggaran; Membekali pengetahuan para petugas fungsional perencana tentang system perencanaan dan penganggaran, aturan pelaksanaan anggaran dan pertanggungjawabannya.

7.

Inventarisasi BMN dan Revaluasi BMN; Melanjutkan program inventarisasi dan revaluasi bekerjasama dengan Departemen Keuangan

8.

Pengelolaan PTAN dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum; Untuk memberikan fleksibilitas dan pengecualian dari asas umum pengelolaan Keuangan Negara

9.

Monitoring dan Pengendalian Pelaksanaan Anggaran;

E. Peran Balai Diklat Tim Pendampingan telah menjalankan programnya pada bulan desember 2009 dengan skala prioritas di laksanakan di beberapa provinsi termasuk Provinsi Jawa Barat. Dalam pendampingan tersebut tim bekerja dengan memperhatikan kriteria keakuratan perekaman data dari sumber aslinya, kesamaan antara SAK dan SIMAK-BMN, antara laporan PNBP dengan kondisi Kas bendahara penerimaan, antara realisasi anggaran dengan kondisi kas dibendahara pengeluaran, antara pagu dalam DIPA, antara SAI dengan SAU, Perekaman data barang persediaan dan Penyusunan CaLK untuk mengungkap hal-hal penting yang belum dapat diungkapkan dalam neraca dan LRA. Berdasarkan hasil pantauan kami di Jawa Barat yang memiliki 317 satker, 173 satker diantaranya mendapatkan kesempatan untuk pendampingan penyusunan laporan keuangan, hasilnya sebagian besar satker di Wilayah Jawa Barat telah memiliki kompetensi dalam menjalankan aplikasi (SAK dan SIMAK-BMN), mempunyai semangat untuk membuat laporan keuangan yang baik dan benar, mampu melakukan koordinasi antara petugas SAK dan SIMAK-BMN hal ini dibuktikan dari 173 satker sekitar 104 satker (60 %) dapat menyusun laporan keuangan sesuai data sumber dan hasil rekonsiliasinya sama. Sebagiannya lagi masih terdapat kesalahan dalam menginput data pagu DIPA awal dan revisi; masih kurangnya pemahaman konsep barang persediaan sehingga dalam neraca madrasah muncul bahan baku, pita cukai, materai dan leges (buka dalam aplikasi persediaan, referensi, tabel daftar sub-sub kel barang); masih kurangnya

pemahaman tentang Kontruksi Dalam Pengerjaan (KDP). Dengan demikian menurut hemat kami hal yang perlu ditingkatkan bagi seluruh pelaksana penyusunan laporan keuangan satker adalah meningkatkan pemahaman/Filosofi tentang Laporan

Keuangan Instansi (LRA, Neraca dan CaLK); Mempertajam pemahaman tentang konsep dasar Pembukuan Barang dan Uang; Meningkatkan kemampuan komunikasi dan koordinasi. Jika sample Jawa Barat jadi acuan, maka peran balai diklat 40 % dari SDM penyusun laporan keuangan yang perlu ditingkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikapnya untuk melaksanakan tugas jabatan secara professional. Dengan jumlah satker 4.028, Departemen Agama tentunya memerlukan tenaga

operator SAK dan SIMAK-BMN sejumlah 8.056 orang (2 orang per satker). Jika 40 % nya yang akan didiklatkan maka diperlukan 54 angkatan untuk meningkatkan kompetensi 1.611 orang pelaksana pelaporan keuangan satker. Dan jika dibagi rata maka masing-masing balai melaksanakan 4 sampai 5 angkatan diklat untuk menunjang dihapusnya disclaimer dalam laporan keuangan Departemen Agama. Untuk mengasah pengetahuan yang sesuai dengan kondisi lapangan, widyaiswara pengampu mata diklat SAK dan SIMAK BMN, disarankan untuk melakukan koordinasi dengan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W/Kanwil) dalam program pendampingan banyak hal yang dapat kita peroleh, diantaranya melakukan analisis kebutuhan diklat, melakukan analisis permasalahan program/ aplikasi, dan perencanaan Diklat di Tempat kerja. Demikian semoga bermanfaat dalam perencanaan program diklat pada umumnya dan widyaiswara pengampu mata diklat SAI pada khususnya.