Anda di halaman 1dari 11

Pengertian Syariah

Secara bahasa syariah itu punya beberapa arti. Diantara artinya adalah masyraah al-m (sumber air). Hanya saja sumber air tidak mereka sebut syarah kecuali sumber itu airnya sangat berlimpah dan tidak habis-habis (kering). Kata syarah itu asalnya dari kata kerja syaraa. kata ini menurut ar-Razi dalam bukunya Mukhtr-us Shihah, bisa berarti nahaja (menempuh), awdhaha (menjelaskan) dan bayyan-al maslik (menunjukkan jalan). Sedangkan ungkapan syaraa lahum yasyrau syaran artinya adalah sanna (menetapkan). Sedang menurut Al-Jurjani, syarah bisa juga artinya mazhab dan tharqah mustaqmah /jalan yang lurus. Jadi arti kata syarah secara bahasa banyak artinya. Ungkapan syariah Islamiyyah yang kita bicarakan maksudnya bukanlah semua arti secara bahasa itu. Suatu istilah, sering dipakai untuk menyebut pengertian tertentu yang berbeda dari arti bahasanya. Lalu arti baru itu biasa dipakai dan mentradisi. Akhirnya setiap kali disebut istilah itu, ia langsung dipahami dengan arti baru yang berbeda dengan arti bahasanya. Contohnya kata shalat, secara bahasa artinya doa. Kemudian syariat menggunakan istilah shalat untuk menyebut serangkaian aktivitas mulai dari takbirat-ul ihram dan diakhiri salam, atau shalat yang kita kenal. Maka setiap disebut kata shalat, langsung kita pahami dengan aktivitas shalat, bukan lagi kita pahami sebagai doa. Kata syarah juga seperti itu, para ulama akhirnya menggunakan istilah syarah dengan arti selain arti bahasanya, lalu mentradisi. Maka setiap disebut kata syarah, langsung dipahami dengan artinya secara tradisi itu. Imam al-Qurthubi menyebut bahwa syarah artinya adalah agama yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk hamba-hamba-Nya yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan. Hukum dan ketentuan Allah itu disebut syariat karena memiliki kesamaan dengan sumber air minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Makanya menurut Ibn-ul Manzhur syariat itu artinya sama dengan agama. Pengertian syariat Islam bisa kita peroleh dengan menggabungkan pengertian syariat dan Islam. Untuk kata Islam, secara bahasa artinya inqiyd

(tunduk) dan istislm li Allah (berserah diri kepada Alah). Hanya saja al-Quran menggunakan kata Islam untuk menyebut agama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw. Firman Allah menyatakan :


Artinya;ada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (TQS. alMidah [05]: 3) Syariat bisa disebut syirah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan syaraa fiil maai artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syariah. Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia. Kata syaraa berarti memakai syariat. Juga kata syaraa atau istaraa berarti membentuk syariat atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman,

Artinya ; Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu

(umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya), Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. Al-Maaidah (5): 48) Sedangkan arti syariat menurut istilah adalah maa anzalahullahu li ibaadihi minal ahkaami alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijan naasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi wa yahdiyahum ilash shiraathil mustaqiimi. Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus. Jika ditambah kata Islam di belakangnya, sehingga menjadi frase Syariat Islam (asy-syariatul islaamiyatu), istilah bentukan ini berarti, maa anzalahullahu li ibaadihi minal ahkaami alaa lisaani sayyidinaa muhammadin alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-un akaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au filin au taqriirin. Maksudnya, syariat Islam adalah hukum-hukum peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Quran maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan. Terkadang syariah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi, maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul aammi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus).

Pembagian Syariat Islam


Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan dasar-dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benarbenar menjadi keimanan kita. Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah swt. yang harus iman kepada-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir termasuk di dalamnya kenikmatan dan siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini dinamakan juga Ilmi Aqidah atau Ilmu Kalam. 2. Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan jiwa. Misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan keutamaan dan mencegah kejelekan-kejelekan, seperti kita harus berbuat benar, harus memenuhi janji, harus amanah, dan dilarang berdusta dan berkhianat. 3. Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua bagian: pertama, ibadah, yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan ibadah tidak sah (tidak diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh ibadah misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji. Kedua, muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang).

Syariat Islam dalam Dunia Pendidikan


Dalam pendidikan, akidah Islam diletakkan sebagai asasnya. Akidah Islam inilah yang menjadi penentu arah dan tujuan pendidikan, kurikulum yang diajarkan, dan metode pengajaran; termasuk penentuan guru dan budaya sekolah dalam semua jenjang pendidikan. Akidah Islam adalah asas dalam konteks mengambil dan meyakininya. Dengan kata lain, akidah Islam harus dijadikan sebagai standar untuk menilai, apakah pengetahuan yang diambil itu bertentangan dengannya atau tidak.

Sebagai konsekuensinya, pendidikan dalam Islam dapat memilah tegas antara tsaqfah dan ilmu-ilmu eksperimental. Dalam hal tsaqfah (pemikiran), umat Islam hanya diperbolehkan mengambil dan meyakini pemikiran yang berasal dari Islam; tidak boleh mengadopsi tsaqfah lainnya. Sebab, tsaqfah terkait erat dengan akidah dan sistem kehidupan. Sebaliknya, dalam hal ilmu-ilmu eksperimental dan teknologi seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika, dan sebagainya, kita boleh belajar dan mengambilnya dari kaum kuffr. Sebab, semua jenis pengetahuan tersebut bersifat universal yang tidak terkait dengan ideologi tertentu. Dengan konsep tersebut, tujuan pendidikan yang diorientasikan untuk melahirkan generasi yang memiliki kepribadian Islam, menguasai tsaqfah Islam, dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan) akan benar-benar terwujud. Sebaliknya, kepribadian ganda pada pelajar-pelajar Muslim hasil didikan sistem pendidikan sekularyang selama ini banyak dikeluhkandapat dicegah. Islam mewajibkan para penguasa untuk membiayayai pendidikan rakyatnya. Sebab, dalam pandangan syariat, penguasa berkewajiban memelihara, mengatur, dan melindungi urusan rakyat, termasuk dalam bidang pendidikan dan pemberantasan kebodohan. Semua rakyat harus dapat menikmati pendidikan secara cuma-cuma. Seluruh warga negara juga diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengenyam pendidikan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin. Dana pendidikan itu diambil dari kas Baitul Mal. Ketetapan ini diambil berdasarkan filiyyah Rasulullah saw. Rasulullah saw., yang juga menjadi kepala negara, telah menganti tebusan yang harus dibayar para tawanan Perang Badar dengan keharusan mereka masing-masing untuk mengajar sepuluh kaum Muslim. Pada masa pemerintahan Umar bin al-Khaththab, para guru yang mengajar anak-anak juga mendapatkan gaji 15 dinar (1 dinar=4.25 gram emas) yang diambilkan dari Baitul Mal.

Langkah itu diikuti oleh para khalifah dan penguasa berikutnya. Di Baghdad pernah dibangun Universitas al-Mustanshiriyyah. Khalifah Hakam bin Abdurraham an-Nashir juga pernah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung mahasiswa dari kaum Muslim maupun dari Barat. Universitas-universitas itu telah mencetak para ilmuan yang pengaruhnya mendunia hingga kini melalui berbagai temuan-temuannya; seperti ar-Razi, orang pertama yang mengidentifikasi penyakit cacar dan campak dan menggeluti bidang operasi; Ibnu al-Haitsam, ahli optik yang menemukan perbandingan antara sudut pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi); al-Khawarizmi, orang pertama yang menyusun aljabar; Jabir bin Hayan, seorang ahli kimia yang terkenal; al-Biruni yang meletakkan sebuah teori sederhana guna mengetahui volume dari lingkungan geologis; dan sebagainya. itu tentu jauh berbeda dengan saat ini. Biaya pendidikan dibebankan kepada rakyat. Akibatnya, pendidikan menjadi mahal. Hanya keluarga yang berkantong tebal saja yang bisa menikmati pendidikan. Jika kebijakan itu diteruskan maka kebodohan dan kemiskinan yang dialami sebagian besar rakyat akan tetap terjadi. Kebodohan dan kemiskinan struktural pun menjadi tak terhindarkan. Kondisi itu tentu menjadi 'bom waktu' yang akan meledak suatu saat.

Hukum Syariat Islam terdiri dari lima macam, yaitu fardlu, haram, mandub, makruh, dan mubah. Hukum syariat Islam bisa berbentuk tuntutan untuk melakukan sesuatu atau tuntutan untuk meninggalkannya. Jika seruan itu berbentuk tuntutan untuk melakukan sesuatu, maka seruan itu dibagi ke dalam dua macam : Pertama, yang berkaitan dengan tuntutan yang harus dikerjakan, yang dinamakan fardlu atau wajib. Tidak ada perbedaan antara dua istilah tersebut. Kedua, yang berkaitan dengan tuntutan yang tidak harus dikerjakan, yaitu apa yang dinamakan mandub.

Jika hukum syara berkaitan dengan tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan, maka seruan itu juga dibagi dua macam : Pertama, yang berkaitan dengan tuntutan yang harus ditinggalkan, yang dinamakan haram atau mahdlur. Tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut. Kedua, jika berkaitan dengan tuntutan yang tidak mengharuskan meninggalkannya. Inilah yang dinamakan makruh. Karena itu, fardlu atau wajib adalah seluruh perbuatan yang mendapatkan pujian bagi pelakunya, dan celaan bagi yang meninggalkannya. Atau, bagi orang yang meninggalkannyaakan memperoleh sanksi/siksaan. Sedangkan haram adalah perbuatan yang mendapatkan celaan bagi pelakunya, dan pujian bagi yang meninggalkannya. Dengan kata lain, orang yang melakukannya akan memperoleh sanksi/siksaan. Adapun mandub adalah pujian bagi pelakunya, tetapi tidak mendapatkan celaan bagi yang meninggalkannya. Sedangkan makruh adalah pujian bagi yang meninggalkannya, atau meninggalkannya lebih utama dari pada melakukannya. Mubah, adalah apa yang dituju oleh dalil sami (wahyu) terhadap seruan Syari yang di dalamnya terdapat pilihan, antara melakukan atau meninggalkannya.

Dalil Aqli
Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa Arab = akal). Allah S.W.T hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, kerana hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya. Allah S.W.T berfirman:

Artinya : Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. (Surah Shaad : 43)

Taklif Beban Hukum


Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah S.W.T. Hukum-hukum syariat tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Dan di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila kerana kehilangan akalnya. Rasulullah S.A.W bersabda, artinya : "Pena (catatan pahala dan dosa) di angkat (dibebaskan) dari tiga golongan ; orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai bermimpi, orang gila sampai ia kembali sedar (berakal)."

Pembatasan wilayah kerja akal


Pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia sebagaimana firman Allah S.W.T.

Artinya :

"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu adalah urusan Rabb-ku. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit." [Surah Al-Israa: 85]

Firman Allah S.W.T

Artinya :

"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." [Surah Thaahaa: 110]

Pandangan

Ahlus

Sunnah

Ulama

Salaf

(Ahlus

Sunnah)

senntiasa

mendahulukan naql (wahyu) atas aql (akal). Naql adalah dalil-dalil syari yang tertuang dalam Al-Quran dan as-Sunnah. Sedangkan yang dimaksud dengan akal ialah, dalil-dalil aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan atau mengalahkan dalil-dalil syari.

Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan rasio semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syari) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasional mereka. Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal, di antaranya sebagai berikut :
1. Syariat didahulukan atas akal, kerana syariat itu mashum sedang akal tidak mashum. 2. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global, tidak bersifat terperinci. 3. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syariat. 4. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang berten-tangan dengan syariat.

5. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib, haram dan seterusnya) adalah hak syariat. 6. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. 7. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syariat.

Dari sini dapat dikatakan bahawa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan Al-Quran dan as-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Dan keruntuhan dasar berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujah (bukti, alasan) namun berubah menjadi dalil yang bathil.

Mk. Agama Islam

Nama : Sutrisno Npm : 150510100256 Agroteknologi