Anda di halaman 1dari 36

LEMBAR PENGESAHAN

Refleksi Kasus

Gangguan Afektif Bipolar I

Oleh: Renny Tri Utami NIM. 0808015023 Dipresentasikan pada tanggal

Mengetahui,

Pembimbing dr. Denny Jeffry Rotinsulu, Sp. KJ

REFLEKSI KASUS Dipresentasikan pada kegiatan Kepaniteraan Klinik, Lab. Kedokteran Jiwa. Pemeriksaan dilakukan pada hari Minggu, 25 Desember 2012 Pukul 17.00 WITA, di IGD RSKD Atma Husada Samarinda, sumber Autoanamnesis dan

Heteroanamnesis. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Usia Status Perkawinan Agama Suku Pendidikan Terakhir Pekerjaan Alamat : Ny AM : Perempuan : 42 tahun : Menikah (2 kali) : Islam : Jawa : SMEA (Sampai kelas 2) : Petani : Desa Semoi II, Sepaku, Penajam

Identitas Keluarga Nama Jenis Kelamin Status dengan pasien Alamat : Tn Sunaryo : Laki Laki : Kakak kandung : Desa Semoi II, Sepaku, Penajam

Status Psikiatri

Keluhan Utama

: pasien mengamuk

Riwayat penyakit sekarang Autoanamnesis Pasien menjelaskan bahwa saat ini dirinya sangat senang berada di RSJD Atma Husada Samarinda. Pasien senang bisa melewatkan moment akhir tahun di RSJD Atma Husada. Menurut pengakuan pasien, pasien merupakan kekasih Tuhan, setelah pernah di datangi oleh Malaikat Jibril. Sejak saat itu, pasien merasa gembira dan bahagia. Sebelumnya pasien pernah merasa sedih yang berkepanjangan sekitar kurang lebih 1 tahun akibat putus sekolah, pasien tidak dapat melanjutkan pendidikannya di SMEA dan ke bangku kuliah karena alasan ekonomi. Pasien sangat sedih akan keadaan itu, sehingga pasien di bawa ke RSJD Atma Husada. Pasien dirawat selama satu tahun, dan dinyatakan sembuh. Menurut pengakuan pasien, setelah dirawat di RSJD Atma Husada pasien bisa melakukan aktivitas seperti orang normal lainnya, bahkan pasien saat itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama setahun di Balikpapan. Dan kemudian memutuskan untuk menikah di Sepaku dan mempunyai 1 anak laki laki. Selain sebagai ibu rumah tangga, pasien juga beraktivitas di ladang membantu suami mencari nafkah. Namun, seiring berjalannya waktu, pasien sering ditinggal oleh suaminya keluar kota, bahkan saat pasien hamil suami pasien meninggalkan pasien selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, suami pasien tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin. Selain itu, pasien juga mendengar kabar dari ipar pasien, bahwa suaminya suka bermain dengan wanita lain. Sehingga pasien memutuskan untuk meminta cerai. Akhirnya mereka bercerai, beberapa tahun kemudian pasien menikah lagi dan mempunyai satu anak perempuan. Pada perkawinan yang kedua ini, pasien mengaku pernah 2 kali didatangi oleh malaikat Jibril. Menurut pengakuan pasien, pada kedatangan yang pertama pasien disuruh untuk menjadi istri yang sholehah dan pada kedatangan malaikat Jibril yang kedua, pasien dikatakan sebagai kekasih Allah dan memberikan kitab kepada

dirinya. Sejak saat itu pasien merasa senang dan bangga karena menurut pasien, ia merupakan orang yang paling baik dan hebat di seluruh dunia.

Heteroanamnesis Pasien mengamuk 1 hari SMRS, sering berbicara tidak jelas dan melantur. Terkadang pasien bernyanyi-nyanyi sendiri. Sudah 10 hari ini pasien terganggu jadwal tidurnya, bahkan sampai tidak tidur. Pasien sering jalan-jalan menganggu tetangga sekitar dan terkadang melakukan hal yang membahayakan dirinya (memutus kabel listrik tetangga). Menurut penuturan keluarga, pasien minum obat teratur setiap hari. Riwayat masuk RSJD AHM 6 kali dan terakhir keluar pada bulan agustus kemarin. Pasien mudah sekali iri jika melihat ada tetangga yang memiliki barang baru yang tidak ia miliki. Awalnya, pasien seperti seperti perempuan normal pada umumnya. Perubahan perilaku terjadi ketika saat bersekolah di Balikpapan (SMEA) pasien putus sekolah karena ketiadaan biaya. Pasien sempat terkatung-katung di Balikpapan (Keluarga tinggal di PPU), sampai tidak makan. Pasien merasa sedih karena memiliki cita-cita yang tinggi, namun harus terputus di tengah jalan. Setelah itu, pasien kembali ke PPU, dan berkata tidak ingin sekolah lagi. Semenjak itu, pasien tampak hidup normal seperti kebanyakan perempuan lainnya. Tidak berapa lama kemudian pasien menikah dan memiliki satu anak, namun kemudian bercerai. Sekarang pasien sudah menikah lagi dan memiliki 1 anak lagi. Pasien sudah seringkali kambuh seperti ini, karena itu sudah 6 kali dibawa ke RSJ dan terakhir beberapa hari ini, pasien sering melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya dan orang lain seperti melempari rumah tetangganya dengan batu dan memutus kabel listrik tetangga.

Riwayat Medis dan Psikiatrik Lain o Gangguan Mental dan Emosi Pasien tidak memiliki riwayat gangguan mental dan emosi o Gangguan Psikosomatik Pasien tidak memiliki riwayat gangguan psikosomatik.
4

o Kondisi Medis Pasien tidak memiliki riwayat malaria, thypoid, dan trauma kepala. Pasien juga tidak memiliki riwayat epilepsi. Pasien juga tidak pernah memiliki riwayat operasi. o Gangguan Neurologi Pasien tidak memiliki riwayat gangguan neurologi.

Riwayat penyakit dahulu Pasien sudah 6 kali keluar masuk RSJD Atma Husada Samarinda. Tidak pernah mengalami cedera kepala, tidak ada riwayat malaria, tidak ada riwayat kejang berulang, tidak ada riwayat hipertensi. Tidak ada riwayat konsumsi alcohol dan merokok yang mulai berhenti sejak 3 tahun yang lalu Tidak ada riwayat penggunaan NAPZA.

Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga yang memiliki gejala atau gangguan yang serupa dengan pasien

Hubungan dengan keluarga dan lingkungan Pasien memiliki hubungan baik dengan keluarga. Namun hubungan dengan lingkungan sosial tidak begitu baik.

Riwayat Keluarga Hubungan pasien dengan kedua orang tua dan semua saudara baik. Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat seperti pasien.

Struktur keluarga saat penderita berusia 2 tahun : Nama Bapak Ibu Sunaryo Sumartono Supriyati Astrimiyati Nenek L/P P L P L P L L Hubungan Ibu Ayah Kakak Kakak Kakak Pasien Adik Umur 2 Pendiam Sifat

Struktur keluarga saat penderita berusia 10 tahun : Nama Bapak Ibu Sunaryo Sumartono Supriyati Astrimiyati Sumartini Subagyo L/P P L P L P L L P Hubungan Ibu Ayah Kakak Kakak Kakak Pasien Adik Adik Umur 10 Pendiam, Ramah Sifat

Struktur keluarga penderita yang tinggal serumah saat ini : Pasien tinggal di rumah bersama suami dan anaknya yang terakhir yang berusia 14 tahun. Anak pertamanya sudah menikah dan tinggal dengan suaminya.

Genogram

Keterangan : Laki Laki tanpa gangguan jiwa

Perempuan tanpa gangguan jiwa

Pasien

Riwayat Hidup Pasien 1. Masa Anak-Anak Awal (0-3 Tahun) a. Riwayat Prenatal, Kehamilan, dan Kelahiran Pasien merupakan anak yang dikehendaki oleh kedua orang tuanya. Proses kehamilan dan persalinan pasien berjalan normal. Pasien lahir aterm secara per vaginam. Berat badan ketika lahir dalam batas normal (3700 gram). b. Kebiasaan Makan dan Minum Pasien mendapat ASI hingga umur 4 tahun c. Perkembangan Awal
7

Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Tidak ada keterlambatan dalam proses tumbuh kembang, yakni pasien baru mulai bisa berjalan pada 1 tahun. d. Toilet Training Pasien mulai dilatih menggunakan toilet ketika berusia 3 tahun. e. Gejala-Gejala dari Masalah Perilaku pasien mudah bersosialisasi dengan orang lain. f. Kepribadian dan Temperamen sebagai Anak ceria, rajin. g. Mimpi-Mimpi Awal dan Fantasi tidak ada 2. Masa Anak-Anak Pertengahan (3-11 tahun) a. Pasien tidak pernah sakit - sakitan b. Tumbuh kembang dalam batas normal c. Pasien mudah bergaul dengan teman teman sebayanya. d. Prestasi akademis disekolah baik, tidak pernah tinggal kelas. e. Pada masa ini ada kejadian yang membuat pasien trauma yang sampai saat ini masih pasien ingat yakni ketika ada tindak kekerasan yang dilakukan oleh gurunya ketika di sekolah. Peristiwa ini begitu membekas dan tidak bisa dilupakan oleh pasien. Kegemaran pasien adalah mendengarkan lagu dan lagu yang paling disukai oleh pasien adalah lagu qasidah yang berjudul Bawang Merah Bawang Putih. Hingga saat ini pasien masih mengingat seluruh liriknya. f. Pasien juga sudah bekerja membantu kedua orang tuanya mencari nafkah 3. Masa Anak-Anak Akhir (Pubertas sampai Remaja) a. Hubungan dengan Teman Sebaya Pasien memiliki hubungan yang baik dengan teman sebayanya. b. Riwayat Sekolah Pasien tidak pernah putus sekolah atau tinggal kelas. Prestasi akademis baik.

c. Perkembangan Kognitif dan Motorik Tidak ada kemunduran/masalah dalam fungsi kognitif dan motorik. d. Masalah Fisik dan Emosi Remaja yang Utama Tidak ada masalah fisik, emosi pasien cenderung stabil e. Riwayat Psikoseksual Pada masa ini pasien pernah merasakan kesedihan yang cukup dalam ketika diputuskan oleh pacarnya. Kesedihan dirasakan pasien oleh pasien selama 1 minggu, namun setelah itu pasien kembali seperti biasa. f. Latar Belakang Agama Pasien cukup taat beribadah g. Pada masa ini juga pasien pernah ditimpa musibah dimana kebun merica yang dimiliki oleh keluarganya terbakar habis sehingga membuat keluarganya jatuh miskin yang sebelumnya termasuk keluarga berada 4. Masa Dewasa Pasien termasuk orang yang mudah bergaul. Pasien memiliki cita-cita yang tinggi untuk hidup bahagia. Saat ini pasien hidup terpisah dengan orang tua karena melanjutkan sekolah di luar kota bersama adik perempuannya. Pada masa ini, pasien pernah mengalami episode depresif dengan gejala psikosis dimana pasien pernah menarik diri dari lingkungan, tertawa sendiri dan juga sering berbicara sendiri. Hal ini dikarenakan pasien harus putus sekolah karena kiriman uang dari orang tua yang terbatas. Karena uang yang terbatas, pasien lebih memilih untuk mengutamakaan pendidikan adiknya dan mengalah untuk putus sekolah. Di satu sisi, pasien sangat ingin untuk meneruskan sekolah, namun disisi lain ada adiknya yang harus dibiayai. Pasien hanya bisa memendam kesedihannya hingga 1 tahun, kemudian pasien kembali ke kampung dalam kondisi mengalami gangguan perilaku. Pasien mulai menjadi pendiam, berbicara sendiri, menarik diri dari lingkungan dan mengatakan tidak ingin lagi bersekolah karena merasa malu dengan teman-teman sekolahnya. Setelah beberapa tahun, perilaku pasien kembali normal lalu kemudian menikah dan dikaruniai 1 orang anak.
9

Gambaran kepribadian dan premorbid Pasien merupakan orang yang sedikit tertutup, namun mudah untuk bersosialiasi dan memiliki banyak teman.

Faktor pencetus Pencetus pertama episode depresif yakni ketika pasien terpaksa harus putus sekolah yang membuat pasien terganggu jiwanya. Episode mania karena masalah lingkungan sosial.

Riwayat perkawinan Pasien sudah menikah 2 kali. Menikah pada usia pada umur 25 tahun Perkawinan pertama berakhir dengan perceraian dan pasien memiliki 1 anak perempuan dari hasil perkawinannya yang pertama. Kemudian pasien menikah kembali pada usia 32 tahun dan mempunyai 1 anak dari hasil perkawinan yang kedua.

Riwayat sosial ekonomi Pasien berasal dari keluarga ekonomi menengah.

Riwayat religius Pasien cukup taat beribadah.

10

Status Internus Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Keadaan Gizi Kulit Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorokan: Leher Toraks Jantung Paru Abdomen Hepar Lien Ruang Traube Bising Usus Ekstremitas : : : : : : : : : : 110/70 mmHg : 84x/menit : 18x/menit : 36,5 C : : : : : : Baik Anhidrosis (-) Alopesia (-) Trauma (-) Anemis (-) Ikterik (-) Pupil isokor Deviasi septum (-) Rhinorrhea (-) Sekret (-) Pendengaran normal Higien baik, Hiperemi faring (-) Pembesaran KGB (-) Deviasi trakea (-) Simetris Cor dalam batas normal Pulmo dalam batas normal Distensi (-) Soefl Pembesaran (-) Timpani Normal, Metallic sound (-) Akral hangat, edema (-) : Baik : Compos mentis, GCS : E4V5M6

Status Neurologikus Panca indera Tanda meningeal : tidak didapatkan kelainan : tidak dilakukan pemeriksaan

Tekanan intrakranial : tidak dilakukan pemeriksaan Mata Gerakan : normal

11

Pupil Diplopia Visus

: : :

isokor tidak ditemukan tidak dilakukan pemeriksaan

Status Psikiatrik A. Penampilan 1. Identifikasi Pribadi: Cukup pandai bergaul, koperatif. 2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor: Psikomotor dbn. 3. Gambaran Umum: tenang, kooperatif, terdapat kontak mata. B. Bicara: mudah dalam berkomunikasi, intonasi sesuai. C. Mood dan Afek 1. Mood: labil 2. Afek: Sesuai D. Fikiran dan Persepsi 1. Bentuk Fikiran i. Produktivitas: Normal ii. Kelancaran berfikir/ide: Cepat iii. Gangguan bahasa: (-) 2. Isi Fikiran: Tidak ada gangguan. 3. Gangguan Berpikir i. Waham: (+) kebesaran ii. Flight of Ideas: (-) 4. Gangguan Persepsi i. Halusinasi: Auditorik (+) Visual (+) ii. Depersonalisasi dan Derealisasi: (-) 5. Mimpi dan Fantasi (-) E. Sensorik 1. Kesadaran: Composmentis 2. Orientasi i. Waktu (+) ii. Orang (+) iii. Tempat (+)
12

3. Konsentrasi dan Berhitung (+) 4. Ingatan i. Masa dahulu: (+) ii. Masa kini: (+) iii. Segera: (+) 5. Pengetahuan (+) 6. Kemampuan berpikir abstrak (+) 7. Tilikan diri: baik 8. Penilaian i. Penilaian sosial (+) ii. Penilaian terhadap test (+)

IKHTISAR DAN KESIMPULAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI Kesan umum Kontak Kesadaran : Rapi, sedikit gelisah, kooperatif : Verbal (+), visual (+) meningkat : Compos mentis, atensi(+), orientasi tempat, waktu dan ruang baik, Daya ingat (+) Emosi / afek Proses berpikir Intelegensi Persepsi Psikomotor Kemauan : Labil, afek ekstasi : Cepat, koheren, waham (-) : Baik : Halusinasi auditori (-) visual (-), ilusi (-) : Dalam batas normal : ADL mandiri

A. Keadaan Umum o Kesadaran o Sikap o Tingkah laku o Perhatian o Inisiatif o Ekspresi wajah o Verbalisasi : Composmentis : Kooperatif : tenang : Baik : Baik : datar : Koheren (+)
13

B. Pemeriksaan Fisik Dalam batas normal C. Pemeriksaan Psikis Keadaan afektif o Afek o Arus emosi o Daya ingat o Konsentrasi o Orientasi o Insight o Ilusi o Halusinasi Keadaan proses berfikir o Kecepatan o Mutu o Isi : Cepat : asosiasi longgar :Waham (+) kebesaran, agama : Afek ekstasi : Stabil

Keadaan dan fungsi intelek : Baik : Baik : Baik : Buruk

Keadaan sensasi dan persepsi : (-) : auditorik (+), visual (+)

Kelainan intelektual dan perbuatan o Kegaduhan umum : (-) o Deviasi seksual o Mannerisme o Anxietas o Psikomotor o Kemauan : (-) : (-) : (-) : dbn : ADL mandiri

Hubungan dengan realita : Baik

14

Diagnosis Diagnosis Multiaksial Aksis I : F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan

Gejala Psikotik DD : Skizoafektif tipe Manik. Aksis II : Tidak ada diagnosis pada aksis ini

Aksis III : Tidak ada diagnosis pada aksis ini Aksis IV : Tidak ada diagnosis pada aksis ini Aksis V : GAF 50-41 beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

Formulasi Diagnosis Seorang wanita usia 42 tahun, beragama Islam, status menikah, pendidikan lulus SMP, tinggal di Jl. Datang ke IGD RSJD Atma Husada Samarinda pada hari Minggu, 25 Desember 2012 pukul 15.00 WITA. Pada autoanamnesis, pasien menjelaskan bahwa saat ini dirinya sangat senang berada di RSJD Atma Husada Samarinda. Pasien senang bisa melewatkan moment akhir tahun di RSJD Atma Husada. Menurut pengakuan pasien, pasien merupakan kekasih Tuhan, setelah pernah di datangi oleh Malaikat Jibril. Sejak saat itu, pasien merasa gembira dan bahagia. Sebelumnya pasien pernah merasa sedih yang berkepanjangan sekitar kurang lebih 1 tahun akibat putus sekolah, pasien tidak dapat melanjutkan pendidikannya di SMEA dan ke bangku kuliah karena alasan biaya. Pasien sangat sedih akan keadaan itu, sehingga pasien di bawa ke RSJD Atma Husada. Pasien dirawat selama satu tahun, dan dinyatakan sembuh. Menurut pengakuan pasien, setelah dirawat di RSJD Atma Husada pasien bisa melakukan aktivitas seperti orang normal lainnya, bahkan pasien saat itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama setahun di Balikpapan. Dan kemudian memutuskan untuk menikah di Sepaku dan mempunyai 1 anak laki laki. Selain sebagai ibu rumah tangga, pasien juga beraktivitas di ladang membantu suami mencari nafkah. Namun, seiring berjalannya waktu, pasien sering ditinggal oleh suaminya keluar kota,

15

bahkan saat pasien hamil suami pasien meninggalkan pasien selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, suami pasien tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin. Selain itu, pasien juga mendengar kabar dari ipar pasien, basuaminya suka bermain dengan wanita lain. Sehingga pasien memutuskan untuk meminta cerai. Akhirnya mereka bercerai, beberapa tahun kemudian pasien menikah lagi dan mempunyai satu anak perempuan. Pada perkawinan yang kedua ini, pasien mengaku pernah 2 kali didatangi oleh malaikat Jibril. Menurut pengakuan pasien, pada kedatangan yang pertama pasien disuruh untuk menjadi istri yang sholehah dan pada kedatangan malaikat Jibril yang kedua, pasien dikatakan sebagai kekasih Tuhan. Sejak saat itu pasien merasa senang dan bangga karena menurut pasien, ia merupakan orang yang paling baik dan hebat di seluruh dunia. Pada pemeriksaan psikiatri, didapatkan penampilan tidak rapi, tenang, kooperatif, kontak verbal dan visual yang baik, emosi labil, afek sesuai, orientasi baik, proses pikir cepat, koheren, waham (+) kebesaran, halusinasi auditorik (+), visual (+) , intelegensia baik , ADL mandiri, psikomotor meningkat. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan pada pasien.

Penatalaksanaan Psikofarmakologis Haloperidol 5 mg 2x1 THD 2 mg 2x1

Pemeriksaan penunjang Test perilaku dan kepribadian : MMI

Psikoterapi Memotivasi pasien untuk menjalani proses terapi sehingga dapat terjadi perbaikan kondisi.
16

Memberikan kepercayaan diri kepada pasien bahwa dia dapat benar-benar sembuh dan merubah perilakunya. Memberikan penjelasan kepada keluarga terdekat (terutama suami dan anak) mengenai keadaan pasien saat ini. Menyarankan kepada keluarga untuk senantiasa memotivasi dan mendukung pasien untuk dapat menangani dan merespons pasien

Prognosis Dubia ad bonam Adanya keinginan yang kuat dari pasien untuk mejalani terapi ditandai dengan penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik. Dukungan dari keluarga.

17

TINJAUAN PUSTAKA

GANGGUAN MOOD Gangguan mood adalah sekelompok kondisi klinis yang ditandai dengan hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitan berat. Pasien dengan mood meninggi (elevated) atau disebut mania, menunjikkan sikap meluap luap, gagasan yang meloncat loncat, penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien dengan mood terdepresi atau disebut depresi, merasakan hilangnya energi energi dan minat, perasaan bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Tanda dan gejala lain dari gangguan mood ialah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan, dan fungsi vegetatif ( tidur, nafsu makan, aktivitas seksual, dan irama biologis lainnya ). Perubahan tersebut hampir selalu mengganggu kehidupan interpersonal, social, dan pekerjaan. Sekurangnya tiga teori membicarakan hubungan antara gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I. Hipotesis yang paling diterima, yang diterima, menyatakan bahwa gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I adalah dua jenis yang berbeda. Belakangan ini, beberapa peneliti mengajukan bahwa gangguan bipolar I adalah ekspresi yang lebih berat dari proses patologis yang sama dengan yang ditemukan pada depresif berat, hipotesis ketiga menyatakan bahwa depresidan manik merupakan dua ekstrem dari kesatuan pengalaman emosional; pengertian tersebut tidak didukung oleh pengamatan klnis yang sama di mana banyak pasien memiliki keadaan campuran dengan cirri baik terdepresi maupun manik. Gangguan bipolar I Seperti DSM-III-R, DSM-IV memiliki suatu daftar kriteria yang terpisah untuk episode manik dan juga menuliskan deskriptor keparahan untuk episode manik. Satu perubahan dari DSM-III-R adalah bahwa DSM-IV memerlukan adanya suatu periode mood abnormal yang terpisah yang berlangsung sekurangnya satu minggu, sedangkan DSM-III-R tidak menentukan lamanya
18

waktu. Perubahan lain adalah dimasukkannya didalam DSM-IV diagnosis gangguan bipolar I yang terpisah untuk suatu episode manik tunggal dan tipe spesifik episode rekuren, didasarkan pada gejala yang pada episode terakhir.

Penandaan gangguan bipolar I adalah serupa dengan apa yang dikenal sebagai

gangguan bipolar yaitu, suatu sindrom dengan kumpulan gejala mania yang lengkap selama perjalanan gangguan. DSM-IV sekarang telah meresmikan kriteria diagnostik untuk suatu gangguan yang dikenal sebagai gangguan bipolar II, gangguan ini ditandai oleh adanya episode depresif dan episode hipomanik selama perjalanan gangguan yaitu, episode manik yang tidak sangat memenuhi kriteria diagnostik untuk sindrom manik lengkap. DSM-IV secara spesifik menyatakan bahwa episode manik yang jelas dicetuskan oleh terapi antidepresan adalah tidak indikatif untuk gangguan bipolar I.

19

Gangguan bipolar I, episode manik tunggal. Menurut DSM-IV, pasien harus mengalami episode manik pertamanya untuk dapat memenuhi kriteria diagnostik gangguan bipolar I, episode manik tunggal. Logikanya terletak pada kenyataan bahwa pasien yang menderita episode depresi gangguan bipolar I pertamanya tidak dapat dibedakan dari pasien dengan gangguan depresif berat. Gangguan bipolar I, rekuren. Masalah tentang definisi akhir suatu episode depresi juga berlaku untuk definisi akhir suatu episode mania. Dalam DSM-IV, episode dianggap terpisah jika mereka dipisahkan oleh sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania. DSM-IV menyebutkan kriteria diagnostik untuk gangguan bipolar I rekuren didasarkan pada gejala episode yang paling akhir, gangguan bipolar I, episode terakhir hipomanik ; gangguan bipolar I, episode terakhir manik ; gangguan bipolar I, episode terakhir campuran ; gangguan bipolar I, episode terakhir depresi ; gangguan bipolar I, episode terakhir tidak ditentukan. Episode campuran. DSM-III-R mendefinisikan gangguan bipolar tipe campuran sebagai ditandai oleh keadaan depresif dan manik yang berganti-ganti dengan cepat atau oleh adanya gejala depresif atau manik bersama-sama. DSM-IV mengklasifikasikan ulang kondisi yang berubah-ubah dengan cepat sebagai suatu penentu perjalanan penyakit, dengan demikian meninggalkan klasifikasi keadaan
20

campuran untuk pasien gangguan bipolar I yang secara bersama-sama memenuhi kriteria diagnostik lengkap untuk suatu episode depresif berat dan kriteria diagnostik lengkap untuk suatu episode manik.

GAMBARAN KLINIS Terdapat dua pola gejala dasar pada gangguan mood, satu untuk depresi dan satu untuk mania. Episode depresif dapat terjadi pada gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I. Walaupun banyak penelitian telah berusaha untuk menemukan perbedaan yang dapat dipercaya antara episode depresif gangguan bipolar I dan episode gangguan depresif berat, perbedaan tersebut sulit ditemukan. Di dalam situasi klinis, hanya riwayat penyakit pasien, riwayat keluarga, dan perjalanan penyakit di masa mendatang dapat membantu membedakan kedua kondisi tersebut. Beberapa pasien dengan gangguan bipolar I memiliki keadaan campuran dengan ciri mania dan depresif. Juga beberapa pasien dengan gangguan bipolar I tampaknya mengalami episode singkat selama beberapa menit sampai beberapa jam depresi selama episode manik.

Episode depresif Suatu mood depresi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan gejala utama dari depresi. Pasien mungkin mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa, dalam kesedihan atau tidak berguna. Bagi pasien mood depresif sering kali memiliki kualitas yang terpisah yang membedakan dari emosi normal kesedihan atau duka cita. Pasien seringkali menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang mengeluh tidak dapat menangis, suatu gejala yang menghilang saat mereka membaik. Kira-kira duapertiga dari semua pasien terdepresi merenungkan bunuh diri dan 10 sampai 15 persennya melakukan bunuh diri. Tetapi pasien terdepresi kadang-kadang tampak tidak menyadari depresinya dan tidak mengeluh suatu gangguan mood, walaupun mereka menunjukkan penarikan diri dari keluarga, taman dan aktivitas yang sebelumnya menarik diri mereka.

21

Hampir semua pasien terdepresi (97%) mengeluh adanya penurunan energi yang menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan dan penurunan motivasi untuk mengambil proyek baru. Kira-kira 80% pasien mengeluh sulit tidur, khususnya terbangun pada dini hari (yaitu, insomnia terminal) dan sering terbangun pada malam hari, selama mana mereka mungkin merenungkan masalahnya. Banyak pasien mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Tetapi beberapa pasienmengalami peningkatan nafsu makan, penambahan berat badan dan tidur yang bertambah. Pasien tersebut diklasifikasikan didalam DSM-IV sebagai memiliki ciri atipikal dan juga dikenal sebagai memiliki disforia histeroid. Pada kenyataannya, kecemasan merupakan gejala yang sering pada depresi, yang mengenai sebanyak 90% pasien depresi. Berbagai perubahan didalam asupan makanan dan istirahat dapat memperberat penyakit medis yang menyertai, seperti diabetes, hipertensi, penyakit paru-paru obstruktif kronis dan penyakit jantung. Gejala vegetatif lainnya adalah menstruasi yang tidak normal dan penurunan minat dan kinerja didalam aktivitas seksual. Masalah seksual dapat menyebabkan rujukan yang tidak tepat, seperti pada konseling perkawinan dan terapi seks, jika klinisi gagal mengenali gangguan depresif yang mendasari. Kecemasan (termasuk serangan panik), penyalahgunaan alkohol dan keluhan somatik (seperti konstipasi dan nyeri kepala) sering kali mempersulit pengobatan depresi. Kira-kira 50% dari semua pasien menggambarkan suatu variasi diurnal dari gejalanya, dengan suatu peningkatan keparahan di pagi hari dan gejala meringan di malam hari. Gejala kognitif adalah laporan subjektif yang berupa ketidakmampuan berkonsentrasi (84% pasien didalam satu penelitian) dan gangguan dalam berfikir (67% pasien pada penelitian lain). Depresi pada anak-anak dan remaja. Fobia sekolah dan menggendong pada orangtua yang berlebihan mungkin merupakan gejala depresi pada anakanak. Prestasi akademik yang buruk, penyalahgunaan zat, perilaku antisosial, promiskuitas seksual, membolos dan melarikan diri mungkin merupakan gejala depresi pada remaja.

22

Depresi pada lanjut usia. Depresi adalah lebih sering pada lanjut usia dibandingkan pada populasi umum. Berbagai penelitian telah melaporkan angka prevelensi terentang dari 25-50 persen, walaupun berapa presentasi kasus tersebut adalah gangguan depresif berat adalah tidak diketahui. Sejumlah penelitian telah melaporkan data yang menyatakan bahwa depresi pada lanjut usia mungkin berhubungan dengan status sosioekonomi rendah, kematian pasangan, penyakit fisik yang menyertai dan isolasi sosial. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa depresi pada lanjut usia adalah jarang didiagnosis dan jarang diobati, sebagian terutama oleh dokter umum. Jarang dikenalinya depresi pada lanjut usia mungkin karena pengamatan bahwa depresi adalah lebih sering tampak dengan gejala somatik pada lanjut usia daripada kelompok usia yang lebih muda. Juga lebih daru suatu elemen ketuaan mungkin ditemukan pada dokter, yang mungkin secara tidak disadari menerima lebih banyak gejala depresif pada pasien lanjut usia dibanding pada pasien yang lebih muda. EPISODE MANIK

23

Suatu mood yang meningkat, meluap-luap atau lekas marah merupakan tanda dari episode manik. Mood yang meningkat berupa euforik dan sering kali infeksius, kadang-kadang menyebabkan penyangkalan transferensi-balik dari penyakit oleh klinisi yang tidak berpengalaman. Walaupun orang yang tidak terlibat mungkin tidak mengetahui sifat mood pasien yang tidak biasanya, mereka yang mengetahui pasien mengenalinya sebagai abnormal. Selain itu, mood mungkin mudah tersinggung, khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisius terancam. Sering kali, seorang pasien menunjukkan suatu perubahan mood yang utama dari euforia awal pada perjalanan penyakit menjadi lekas marah di kemudian waktu. Pengobatan pasien manik pada bangsal rawat inap dapat dipersulit oleh pelanggaran mereka terhadap batas-batas aturan bangsal, suatu kecenderungan memindahkan tanggung jawab atas tindakan mereka pada orang lain, eksploitasi kelemahan orang lain, dan kecenderungan memecah belah staf. Diluar rumah sakit, pasien manik sering kali meminum alkohol secara berlebihan, kemungkinan dalam usaha untuk mengobati dirinya sendiri. Sifat mereka yang terdisinhibisi adalah dicerminkan di dalam pemakaian telepon yang berlebihan, khususnya melakukan hubungan jarak jauh selama dini hari. Berjudi patologis, suatu kecenderungan untuk menanggalkan pakaian di tempat-tempat ramai, berpakaian dan mengenakan perhiasan dengan warna-warna yang terang dan dengan kombinasi yang tidak sesuai dan tidak memperhatikan perincian-perincian yang kecil (seperti lupa meletakkan gagang telepon pada tempatnya) juga merupakan gejala gangguan. Sifat impulsif dari banyak tindakan pasien disertai dengan suatu pendirian keyakinan dan tujuan. Pasien sering kali terokupasi oleh gagasan agama, politik, finansial, seksual atau penyiksaan yang dpat berkembang menjadi sistem waham yang kompleks. Kadang-kadang, pasien manik menjadi teregresi dan bermain dengan urine dan fesesnya. Mania pada remaja. Mania pada remaja sering kali salah didiagnosis sebagai gangguan kepribadian antisosial atau skizofrenia. Gejala mania pada remaja mungkin berupa psikosis, penyalah gunaan alkohol atau zat lain, usaha bunuh diri, masalah akademik, pemikiran filosofis, gejala gangguan obsesif-kompulsif, keluhan somatik multipel, mudah tersinggung yang nyata yang menyebabkan perkelahian dan perilaku antisosial lainnya. Walaupun banyak gejala tersebut
24

ditemukan pada remaja yang normal, gejala yang parah atau menetap harus menyebabkan klinisi mempertimbangkan gangguan bipolar I di dalam diagnosis banding. GANGGUAN BIPOLAR I Bilamana pengobatan gangguan depresif berat telah berubah dengan diperkenalkannya SSRIs, pengobatan gangguan bipolar I telah diubah oleh banyak penelitian yang telah membuktikan kemanjuran dan antikonvulsan carbamazepine dan valproate di dalam pengobatan episode manik dan kemungkinan di dalam pencegahan episode manik dan depresif pada gangguan bipolar I. walaupun data yang mendukung manfaat lithium adalah banyak, cukup banyak data yang terkumpul mengharuskan mempertimbangkan dua antikonvulsan sebagai

pengobatan lini prtama bagi gangguan bipolar I. keputusan tersebut harus didasrkan terutama pada kesesuaian antara pasien dan efek samping obat yang relevanl. Terapi jangka panjang gangguan bipolar I adalah suatu indikasi untuk antikonvulsan tersebut, tetapi stadium awal episode manik sering memerlukan penambahan obat dengan efek sedative yang kuat. Obat yang sering digunakan pada awal terapi untuk gangguan bipolar I adalah clonazepam, lorazepam, dan haloperidol. Dokter harus menurunkan medikasi tersebut secara perlaha-lahan dan menhentikannya segera setelah fase lithium, carbamazepine, tau valproate mulai tampai secara klinik. Bilamana lithium dan kemungkinan carbamazepine dan valproate adalah obat lini pertama untuk pengobatan gangguan bipolar I, obat lini kedua penggolongan gangguan bipolar I, obat lini kedua ssekarang termasuk antikonvulsan lain(clonazepam), suatu penghambat saluran kalsium (veramil), suatu agonis reseptor adrenergic-alfa2 (clonidine), dan antipsikotik (khususna clozapine), terapi ECT adalah terapi lini kedua lainnya. Lithium masih pengobatan standar untuk gangguan bipolar I. efek merugikan yang dapat membatasi penggunaan litium dan menyebabkan klinis untuk mempertimbangkan menggunakan carbamazepine maupun valproate adalah efek pada ginjal (rasa haus, polyuria), efek system saraf pusat (tremor, kehilangan daya ingat), efek metabolic (penambahan berat badan), efek GIT (diare), efek dermatologis (akne, psoriasis), dan efek tiroid (gondok, miksedema).
25

Permasalahan serius dengan terapi litium adalah efeknya pada ginjal, yang dapat berupa gangguan fungsi tubular yang sedang dan kadang-kadang parah, parubahan morfologis yang jarang, sedang, dan tidak spesifik, dan jarang suatu sindrom nefrotik. Banyaknya efek merugikan tersebut memerlukan monitoring yang ketat pada status ginjal dan tiroid pasien. Kepatuhan dengan terapi lithium meningkat dengan dimulainya segera pengobatan, pengobatan penyakit-penyakit penyerta secara adekuat, pengobatan penyalahgunaan zat yang menyertai, deteksi dini dan pencegahan efek samping, dan dimasukkannya pasien di dalam psikoterapi individual dan kelompok. Responsivitas teradapat terapi litium adalah meningkat jika kadar litium yang adekuat dipertahankan, dan monitoring laboratorium dan klinis dilakukan. Tidak responsifnya terhadap terapi lithium paling mungkin terjadi pada penyakit yang parah, adanay gejala gangguan skizoafektif, gejala manik dan depresif campuran, gejala somatik, penyalahgunaan alcohol dan zat lain, perputaran yang cepat, dan tidak adanya riwayat keluarga gangguan bipolar I. Antikonvulsan seperti yang dinyatakan di atas data kemanjuran untuk carbamazepine dan valproate sekarang cukup untuk dapat mempertimbangkan mereka sebagai obat lini pertama dan pemakaiannya sebagai tambahan terhadap litium atau sebagai alternative terhadap litium bagi pasien yang tidak responsive terhadap litium saja atau yang tidak dapat menoleransi efek samping akibat litium. Keputusan untuk menggunakan carbamazepine atau valporoate alah didasarkan pada adanya efek samping dan kemungkinan harga resep. Carbamazepine disertai dengan sedasi, mual, pandangan kabur, bercak kulit, diskrasia darah, dan hiponatremia. Valproate memiliki sifat keamanan yang relative ringan, tetapi disertai dengan gejala GIT, tremor, kerontokan rambut, penambahan berat badan, dan diskrasia darah. Baik valproate maupun carbamazepine memerlukan monitoring darah rutin untuk memeriksa indeks fungsi hari dan hematologis Valproate, sejumlah besar pasien tampaknya menoleransi valproate lebih baik daripada merekan menoleransi litium dan carbamazepine. Dosis awal valproate pada pasien manik biasanya adalah 20 mg per kg sehari, yang biasanya mencapai konsentrasi terapeutik dalam darah sebesar 50 sampai 15 ug/mL. pasien yang berespons biasanya mengalami perbaiki gejala yang bermakna satu minggu
26

setelah mencapai konsentrasi darah tersebut. Pasien rawat jalan biasanya menoleransi dosis awal 500 sampai 1.000 mg sehari, tergangung pada besar tubuh pasien. Dosis selanjutnya dapat disesuaikan naik sampai didapatkan konsentrasi terapeutik plasma. Gangguan GIT yang sering biasanya dapat ditekan dengan memulai terapi dengan dosis rendah, meningkatkan dosis perlahan-lahan, dan menggunakan tablet selaput-entreik. Tremor biasanya berespons terhadap pengobatan dengan antagonis adrenergic-beta sebagai contoh propranolol dan kerontokan rambut dapa dikurangan dengan pemberian suplemen vitamin yang mengandung seng dan selenium secara bersama-sama. Trombositopenia biasanya ringan dan reversibel jika obat dihentikan. Walaupun hepatotiksisitas yang mematikan telah dilaporkan pada anak kecil yang menerima antikonvulsan multiple yang termasuk valproate, efek merugikan tersebut belum pernah dilaporkan pada pasien yang berusia lebih dari 10 tahun. Carbamazepine, biasanya dimulai dengan dosisi 200-600 mg dalam rentang hari. Dosis dapat ditingkatkan tiap lima hari, sesuai yang diindikasikan oleh respons terpeutik pasien dan timbulnya efek samping, untuk mencapai konsentrasi serum 4 sampai 15 ug/mL. Jika konsentrasi terapeutik serum telah dicapai, respon klinis yang baik biasanya terllihat dalam satu sampai dua minggu . Efek samping carmabezepin berhubungan dengan dosis yang paling sering terlihat adalah ssedasi,mual, pandangan kabur, dan ataksia. Bercak kulit berkembang pada kira kira sepuluh persen dari semua pasien. Walupun bercak kulit bukan merupakan indikasi untuk menghentikan carbamazepine, tanda lain suatu reaksi alergi adalah tanda penting yang sehingga mungkin perlu menghentikan obat. Bercak eksfoliatif, anemia aplastic, agranulositosis, dan trombositopenia, walaupun jarang, dapat merupakan komplikasi carbamazepine yang potensial mematikan. Obat lain yang harus dianggap sebagai lini ketiga dalam pengobatan gangguan bipolar I adalah clonazepam, clonidine, clozapine, dan verapamil. Walaupun beberapa penelitian terlah menemukan keempat senyaw tersebut efetif, data dasear untuk mendeukung penggunaan rutinnya dalam pengobatan gangguan bipolar I masih belum sekuat litium, carbamazepine, dan valproate. Terapi ECT
27

adalah pengobatan alternative

laiinnya untuk gangguan bipolar I dan dapat

dipertimbangkan pada kasus yang parah atau resisten terhadap obat. Perkembangan perputaran yang cepat pada pasien bipolar I telah dihubungkan dengan penggunaan antidepresan konvensional, khususnya obat trisiklik dengan adanya hipotirodisme, disamping menggunakan terapi tiroid yaitu levothyroixine 0,3-0,5 mg sehari . Beberapa peneliti dan klinis telah melaporkan hasil

pendahuluan yang positif dengan penggunaan obaat psikofarmakologis lainnya, termasuk bupropion dan nimocipine (Nimotop). Keputusan untuk memprtahankan pasien dengan profilaksis litium didasarkan pada keparahan gangguan pasien, risiko efek samping dari obat tertentu, dan kualitas system pendukung pasien. Pada umumnya, terapi pemeliharaan diindikasikan untuk profilaksis gangguan bipolar I pada setiap pasien yang telah menderita lebih dari satu episode. Alas an tindakan tersebut adalah relatif amannya obat yang tersedia, manfaat yang ditunjukkannya, dan kemungkinan masalah psikososial yang bermakna jika terjadi episode gangguan bipolar I lainnya.

28

PEMBAHASAN Pada kasus ini akan dibahas mengenai hal-hal yang ingin didiskusikan sehingga masalah-masalah yang ada pada pasien dapat dikaji secara mendalam untuk memberikan terapi yang maksimal bagi pasien. Hal-hal tersebut meliputi diagnosis multiaksial, penatalaksanaan dan prognosis dari kasus ini. Diagnosis Multiaksial Axsis I Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik Dengan Gejala Psikotik DSM IV Kriteria penilaian Untuk menegakkan diagnosis pasti : (1) Episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik (F30.2)
(2) Harus ada sekurang kurangnya satu episode afektif lain (

Pada pasien x

hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa lampau.

Gangguan afektif/mood merupakan kelainan fundamental dari kelompok gangguan ini adalah perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah depresi ( dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Gangguan afektif dibedakan menurut : a. Episode tunggal atau multipel b. Tingkat keparahan gejala : Mania dengan gejala psikotik, mania tanpa gejala psikotik, hipomania Depresi ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik, berat dengan gejala psikotik
29

c. Dengan atau tanpa gejala somatik. Gangguan afektif bipolar bersifat episode berulang (sekurang kurangnya dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi) Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4 5 bulan, episode depresi cenderung lebih lama ( rata rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang tua usia lanjut. Kedua macam episode itu sering kali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan diagnosis). Kriteria untuk Episode Manik berdasarkan PPDGJ III Kriteria penilaian Untuk menegakkan diagnosis pasti : (a) Periode tersendiri kelainan dan mood yang meninggi, ekspansif, atau mudah tersinggung (iritable) secara persisten berlangsung sekurangnya 1 minggu ( atau durasi kapan saja jika diperlukan perawatan. (b) Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut ini adalah menetap (empat jika mood mudah tersinggung) dan telah ditemukan pada derajat yang bermakna : (1) Harga diri yang melambung atau kebesaran (2) Penurunan kebutuhan untuk tidur (misalnya, merasa lelah beristirahat setelah tidur hanya 3 jam) (3) Lebih banyak bicara dibandingkan biasanya atau tekanan untuk terus berbicara (4) Gagasan yang melompat lompat (Flight of Ideas) atau pengalaman subjekt bahwa pikirannya berpacu x x x Pada pasien

30

(5) Mudah dialihkan perhatian (yaitu, atensi terlalu mudah dialihkan oleh stimulus eksternal yang tidak penting atau tidak relevan (6) Peningkatan aktivitas yang diarahkan oleh tujuan (baik secara sosial, dalam pekerjaan atau sekolah, atau secara seksua) atau agitasi psikomotor (7) Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan yang memiliki kemungkinan tinggi adanya akibat yang menyakitkan (misalnya melakukan belanja yang tidak dibatasi, tidak pilih pilih dalam hubungan seksual, atau investasi bisnis yang bodoh) (c) Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran
(d)

Gangguan mood adalah cukup arah untuk menyebabkan gangguan dalam fungsi pekerjaan atau dalam aktivitas sosial lazimnya atau hubungan dengan orang lain, atau untuk membutuhkan perawatan untuk mencegah bahaya bagi diri sendiri atau orang lain, atau terdapat ciri psikotik x

(e)

Gejala bukan karena efek fisiologis langsung daru suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi, atau terapi lain) atau suatu kondisi medis (misalnya hipertiroidisme) Catatan : episode mirip manik yang jelas disebabkan oleh terapi antidepresan somatik (misalnya medikasi, terapi elektrokonvulsan,terapi cahaya) tidak boleh diperhitungkan ke arah diagnosis bipolar I

31

Mania dengan gejala psikotik berdasarkan PPDGJ III : Kriteria penilaian Untuk menegakkan diagnosis pasti : (a) Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (mania tanpa gejala psikotik)
(b)

Pada pasien x

Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), iritabilitas, dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecution. Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut (mood-congruent)

Episode Depresif
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat) a. Afek depresi b. Kehilangan minat dan kegembiran c. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya : a. Konsentrasi dan perhatian yang kurang b. Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri f. Tidur terganggu g. Nafsu makan berkurang. Untuk episode depresif dan ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
32

Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang, berat hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasikan bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang. Pada autoanamnesa pasien menjelaskan bahwa pasien merasa senang dan bahagia yang dirasakan sejak beberapa minggu yang lalu.bahkan pasien menginginkan sendiri untuk dirawat di RSJD Atma Husada Samarinda. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah MMPI. Pemeriksaan ini bertujuan untuk Evaluasi pasien gangguan jiwa untuk membantu status kesehatan mentalnya, Alat menilai simptom untuk menentukan perawatan yang sesuai, Alat menilai pasien untuk melakukan perencanaan perawatan, dan Evaluasi efek dari perawatan atau terapi. Axsis II Untuk Axsis II, berdasarkan anamnesa didapatkan kepribadian premorbid pasien merupakan pribadi yang terbuka, ceria, suka bergaul, dan mudah bersosialisasi, sehingga disimpulkan tidak ada diagnosis untuk Axsis II. Axsis III Untuk Axsis III, berdasarkan anamnesa tidak didapatkan kelainan yang berarti, sehingga disimpulkan tidak ada diagnosis untuk Axsis III Axsis IV Untuk Axsis IV, berdasarkan anamnesa tidak didapatkan kelainan yang berarti, sehingga disimpulkan tidak ada diagnosis untuk Axsis IV Axsis V GAF 70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. 2

33

Penatalaksanaan dan Prognosis Treatment psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu diketahui pasti sangat

menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi. 2 Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaankebiasaannya itu. 3 Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi selama 3 bulan atau lebih. Pemberian obat-obatan medis berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat tersebut mempunyai efek samping yang merugikan. 5 Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti; Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam

34

otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro), paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa). 5,6 Pada pasien diberikan pengobatan simtomatis yaitu dengan Anafranil. 25 mg tab 2 dd I sebagai obat anti depresi. Pada pasien, psikoterapi dilakukan dengan rawat jalan bukan rawat inap mengingat keinginan pasien yang tinggi untuk abstinensi, namun tetap harus dilakukan konseling terutama terhadap keluarga yang tinggal serumah dalam hal ini istri pasien untuk dapat memahami dan menjaga pasien dari kemungkinan memburuknya keluhan pasien. Sehingga dengan adanya dukungan yang lengkap dari sisi psikofarmakologis dan psikoterapi yang didukung oleh kemauan yang tinggi dari pasien dan keluarga untuk abstinen maka prognosis dari pasien ini adalah dubia ad bonam.

35

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. Buku Saku Diagnosis Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Unika Atmajaya: Jakarta. 2003 2. Maslim, R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik edisi ketiga. Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.2007 3. Kaplan & Sadock: Sinopsis Psikiatri Jilid 1, Edisi 7, Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1997.

36