Anda di halaman 1dari 124

RANCANGAN PEDOMAN TEKNIS BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

RPT0

Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume IV : Pengaman Sungai Bagian 1 : Krib

ICS 93.010

BIDANG SUMBER DAYA AIR

SDA

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................................. KATA PENGANTAR ..................................................................................................... PENDAHULUAN........................................................................................................... 1. 2. 3. 4. 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 5. 5.1. 5.2. 5.3. 5.4. 6. 6.1. 6.2. 6.3. 6.4. RUANG LINGKUP ............................................................................................... ACUAN NORMATIF............................................................................................. ISTILAH DAN DEFINISI....................................................................................... PEKERJAAN PERENCANAAN ........................................................................... Ketentuan dan Persyaratan ................................................................................. Pelaksanaan Pekerjaan ....................................................................................... Pengendalian Mutu .............................................................................................. Pengukuran dan Pembayaran ............................................................................. PEKERJAAN DETAIL DESAIN............................................................................ Ketentuan dan Persyaratan ................................................................................. Pelaksanaan Pekerjaan ....................................................................................... Pengendalian Mutu .............................................................................................. Pengukuran dan Pembayaran ............................................................................. PEKERJAAN KONSTRUKSI ............................................................................... Ketentuan dan Persyaratan ................................................................................. Pelaksanaan Pekerjaan ....................................................................................... Pengendalian Biaya, Mutu dan Waktu................................................................. Pengukuran dan Pembayaran ............................................................................. i ii iii 1 1 2 4 4 5 21 21 22 22 23 32 32 33 33 36 41 45 48 48 51 53 54 57

7. PEKERJAAN PEMELIHARAAN .......................................................................... 7.1. Inventarisasi Kerusakan dan Survey Pengukuran ............................................... 7.2. Perencanaan dan Pelaksanaan Pemeliharaan.................................................... BIBLIOGRAFI ............................................................................................................... LAMPIRAN A.1 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Perencaan Krib .......................... LAMPIRAN A.2 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Perencanaan Krib ......................

LAMPIRAN A.3 Contoh KAK Pekerjaan Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan ......................................................................................... 58 LAMPIRAN B.1 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Kegiatan Detail Desain Krib....... LAMPIRAN B.2 Contoh KAK Pekerjaan Perencanaan Detail Desain Krib .................. LAMPIRAN B.3 Kriteria Desain Bangunan Krib ........................................................... LAMPIRAN C LAMPIRAN D LAMPIRAN E Contoh KAK Pekerjaan Konstruksi Krib ............................................. Bagan Alir Pemeliharaan Bangunan Persungaian ............................ Form Pemeliharan Bangunan Persungaian ....................................... 69 70 83 90 106 107

KATA PENGANTAR
Konsep pedoman ini merupakan hasil kajian dari berbagai pedoman spesifikasi teknik pekerjaan yang ada. Pembahasan dilakukan pada Kelompok Umum dari Gugus Kerja Pendayagunaan Sumber Daya Air pada Sub-Panitia Teknis sumber Daya Air yang berada dibawah naungan Panitia Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil, Departemen Pekerjaan Umum. Proses pembahasan yang dimulai dari Rapat Kelompok Bidang Keahlian, Rapat Gugus Kerja, Rapat Teknis dan Konsensus pada tingkat Sub-Panitia Teknis Sumber Daya Air yang kemudian Rapat Penetapan pada Panitia Teknis sesuai dengan mekanisme proses pembuatan pedoman di Departemen Pekerjaan Umum. Pelaksanaan pembahasan untuk masing-masing tingkatan harus dihadiri oleh anggota panitia, nara sumber, konseptor dan tim editor dari perumusan pedoman ini. Komposisi anggota panitia dan nara sumber harus memperhatikan keterwakilan para pemangku kepentingan yaitu antara lain : pemerintah, pakar, konsumen dan produsen dengan komposisi yang seimbang satu sama lain.

ii

PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-undang No.7 tahun 2004, tentang Sumber Daya Air bahwa pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana sumber daya air harus berdasarkan norma, standar, pedoman dan manual (NSPM). Sehubungan dengan hal tersebut, pada saat ini telah tersusun NSPM yang umumnya mengenai tata cara perencanaan, cara uji mutu pekerjaan dan spesifikasi teknis bahan serta konstruksi dari bangunan air yang akan dibangun. Pedoman ini disusun sesuai dengan masing-masing tahapan kegiatan yang terdiri dari survey, investigasi, desain, konstruksi dan pemeliharaan dimana dalam pelaksanaannya mengacu dan berpedoman pada norma, standar, pedoman dan manual (NSPM). Pedoman ini mencakup kegiatan perencanaan (studi awal, studi identifikasi, studi pengenalan dan perencanaan pendahuluan serta studi kelayakan), detail desain, konstruksi dan pemeliharaan dalam pekerjaan pembangunan bangunan krib. Pedoman detail desain mencakup kegiatan collecting data sekunder (topografi, geologi permukaan, hidrologi), data primer (survey pengukuran topografi dan pemetaan, survey hidrometri, sampling sedimen dan penyelidikan geoteknik), analisis hidrologi, analisis hidrolika, perencanaan dan perhitungan dimensi, perhitungan volume pekerjaan sebagai acuan dalam penyusunan rencana anggaran biaya, analisis dampak lingkungan serta penyusunan dokumen tender yang diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan bangunan krib. Pedoman konstruksi mencakup kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang menguraikan tentang pekerjaan persiapan umum dan khusus, pelaksanaan pekerjaan lapangan yang meliputi : pekerjaan tanah; pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan; pekerjaan penyelidikan geoteknik; pekerjaan beton; pekerjaan pasangan batu; pekerjaan dewatering; pekerjaan pemancangan dan pekerjaan lain-lain. Pedoman pemeliharaan mencakup kegiatan inventarisasi kerusakan, survey pengukuran, perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan.

iii

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis Volume IV : Pengaman Sungai Bagian 1 : Krib

1.

RUANG LINGKUP

Pedoman ini menetapkan ketentuan dan persyaratan, pelaksanaan pekerjaan, pengendalian mutu serta pengukuran dan pembayaran untuk setiap masing-masing kegiatan perencanaan, detail desain, konstruksi dan pemeliharaan. Pedoman perencanaan menetapkan spesifikasi teknis bagian pekerjaan perencanaan yang meliputi studi awal, studi identifikasi, studi pengenalan perencaaan pendahuluan dan studi kelayakan dalam kegiatan pembangunan krib. Pedoman perencanaan mencakup kegiatan pengumpulan data sekunder yang berupa peta topografi, peta geologi regional, data hidrologi (curah hujan dan peta pos stasiun curah hujan), data kilmatologi (temperatur, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin) dan data primer yang didapat dari hasil survey dan investigasi (pengukuran topografi dan pemetaan, penyelidikan geoteknik, survey hidrometri, sampling sedimen), analisis hidrologi, desain hidraulik, analisis ekonomi, analisis dampak lingkungan dan gambar desain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan perencanaan krib Pedoman detail desain mencakup kegiatan pengumpulan data sekunder yang berupa peta topografi, peta geologi regional, data hidrologi (curah hujan dan peta pos stasiun curah hujan), data kilmatologi (temperatur, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin) dan data primer yang didapat dari hasil survey dan investigasi (pengukuran topografi dan pemetaan, penyelidikan geoteknik, survey hidrometri), analisis hidrologi, desain hidraulik, analisis konstruksi, gambar desain, perhitungan volume pekerjaan untuk menghitung rencana anggaran biaya. Pedoman konstruksi mencakup kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang menguraikan tentang pekerjaan persiapan umum dan khusus, pelaksanaan pekerjaan lapangan yang meliputi : pekerjaan tanah; pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan; pekerjaan penyelidikan geoteknik; pekerjaan beton; pekerjaan pasangan batu; pekerjaan dewatering; pekerjaan pemancangan dan pekerjaan lain-lain. Pedoman pemeliharaan mencakup aspek pemeliharaan yang meliputi kegiatan pengamatan, perencanaan, program pelaksanaan, dan evaluasi yang didasarkan pada semua tinjauan, baik fisik maupun non fisik. 2. ACUAN NORMATIF UU No. 7 Tahun 2004 : Undang-Undang tentang Sumber Daya Air KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004 : Tata Cara Pembuatan Dokumen Pelelangan (Dokumen Tender) KEPMEN KLH No. 17 Tahun 2001 : Jenis Rencana usaha dan/atau Kegiatan wajib dilengkapi dengan Analisa Menegenai Dampak Lingkungan

Undang-undang (UU) : Keputusan Menteri (KEPMEN) :

Standar Nasional Indonesia (SNI) : - SNI 03-0090-1999 : Spesifikasi Bronjong Kawat

1 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

SNI 03-1724-1989 SNI 03-2400-1991 SNI 03-2414-1991 SNI 03-2415-1991 SNI 03-2819-1992 SNI 03-2820-1992 SNI 03-2822-1992 SNI 03-2829-1992 SNI 03-2830-1992 SNI 03-3414-1994

SNI 03-3444-1994 SNI 03-3961-1995 SNI 03-3961-1995

: Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai : Tata Cara Perencanaan Umum Krib di Sungai : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka : Metode Perhitungan Debit Banjir : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Alat Ukur Arus Tipe Baling-baling : Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka Dengan Pelampung Permukaan : Metode Pembuatan Lengkung Debit dan Tabel Sungai/Saluran dengan Analisis Grafis : Metode Perhitungan Tiang Pancang Beton pada Krib di Sungai : Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning : Metode Pengambilan Contoh Muatan Sedimen Melayang di Sungai dengan Cara Integrasi Kedalaman Berdasarkan Pembagian Debit : Tata Cara Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai Penamopang Ganda dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning : Metode Pengujian Kadar Sedimen Layang Secara Gravimetri dengan Pengendapan : Metode Pengujian Kadar Sedimen Layang Secara Gravimetri dengan Pengendapan

Pedoman Teknis : Pd. T.11 2004 A : Pemeliharaan Bangunan Persungaian Rancangan Pedoman Teknis : Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A Pd. T. xx xxxx.A : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian 1, Pekerjaan Tanah : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian 2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian 4, Pekerjaan Beton dan Bekisting. : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian 5, Pekerjaan Pasangan : Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian 6, Pekerjaan Pemancangan. : Pedoman Analisa Harga Satuan, Pekerjaan Bangunan Pengaman Sungai, Bagian 1, Krib

3. 3.1.

ISTILAH DAN DEFINISI Perencanaan adalah rangkaian kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan sebelum pembangunannya. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi: identifikasi masalah, pengumpulan data, penentuan metode, pelaksanaan investigasi dan penyelidikan, optimasi solusi yang tepat dari berbagai alternatif solusi, serta penentuan skala prioritas.

3.1.1. Studi awal adalah studi penjajagan apakah memungkinkan suatu pekerjaan diadakan. Pelaksanaan kegiatan hanya merupakan desk study saja berdasarkan datadata sekunder yang ada.

2 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

3.1.2. Studi identifikasi adalah kegiatan studi awal yang diperiksa di lapangan untuk mendapatkan informasi atau kebenaran tentang kondisi lapangan. 3.1.3. Pengenalan studi adalah suatu proses untuk pengembangan proyek multisektor dari segi-segi teknis. memberikan garis besar

3.1.4. Studi kelayakan adalah kegiatan untuk menyaring berbagai pekerjaan alternatif yang sudah dirumuskan di dalam studi pengenalan berdasarkan perkiraan biaya dan keuntungan yang dapat diperoleh. 3.2. Detail desain adalah kegiatan perencanaan rinci suatu bangunan air yang menghitung dan menggambarkan atau juga memetakan berbagai dimensi bangunan sesuai dengan kebutuhan perencanaan suatu bangunan atau komponennya. Contoh detail desain untuk krib dari mulai gambar lay out sampai dengan dimensi rinci serta spesifikasi bahan yang akan digunakan sebagai komponen bangunan krib.

3.2.1. Arah krib adalah arah yang dinyatakan dengan sudut antara as krib dan arah aliran. 3.2.2. Krib adalah bangunan menyilang / sejajar arah aliran yang ditujukan guna mengubah pola dan sifat aliran untuk suatu tujuan tertentu. 3.2.3. Krib lulus air adalah krib yang diantara bagian-bagian konstruksinya dapat dilewati aliran, sehingga kecepatannya akan berkurang karena terjadinya gesekan dengan bagian konstruksi krib tersebut dan memungkinkan adanya endapan angkutan muatan di tempat ini. 3.2.4. Krib kedap air adalah krib yang diantara bagian konstruksinya tidak dapat dilewati aliran; krib ini secara efektif mengarahkan aliran ke tengah sungai. 3.2.5. Krib semi lulus air adalah krib yang dibentuk oleh susunan pasangan batu kosong sehingga rembesan air masih dapat terjadi antara batu-batu kosong. 3.2.6. Krib tajam adalah krib yang arahnya menyerong ke hulu 3.2.7. Krib tegak adalah krib yang arahnya tegak lurus aliran 3.2.8. Letak krib menunjukan tempat sebuah krib dipasang. 3.2.9. Medan krib adalah daerah disekitar bangunan krib yang arah dan atau besar kecepatan alirannya dipengaruhi krib tersebut. 3.2.10. Pangkal krib adalah bagian krib yang masuk ke tebing sungai 3.2.11. Panjang krib (b) adalah panjang krib (b) adalah dihitung mulai dari pangkal sampai dengan ujung krib 3.2.12. Panjang efektif krib adalah panjang krib mulai dari ujung krib sampai pertengahan tebing baru yang direncanakan akan dibentuk. 3.3. Konstruksi adalah merupakan rangkaian proses kegiatan yang dituangkan dalam bentuk pekerjaan fisik di lapangan berdasarkan gambar yang didapatkan dari hasil kegiatan perencanaan teknik.

3.3.1. Direksi pekerjaan adalah personil yang ditunjuk oleh pemilik pekerjaan untuk membimbing dan mengawasi pelaksanaan pekerjaan agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan rencana 3.3.2. Dokumen perencanaan adalah keterangan yang mencakup tentang spesifikasi teknik, gambar perencanaan maupun gambar detail dari seri krib yang akan dibuat 3.3.3. Gambar pelaksanaan adalah gambar bangunan (krib) yang sudah dilaksanakan apabila terjadi perubahan dimensi dari perencanaan 3.3.4. Lantai kerja adalah lantai yang terbuat dari beton dengan campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerikil, dipergunakan untuk tatakan mencetak tiang pancang beton

3 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

3.3.5. Perencana adalah personil yang membuat desain/rencana krib, meliputi perhitungan; gambar konstruksi dan spesifikasi teknis 3.4. Pemeliharaan adalah usaha-usaha untuk menjaga agar prasarana irigasi selalu dapat berfungsi dengan baik guna mempertahankan kelestariannya.

3.4.1. Pemeliharaan periodik adalah suatu kegiatan yang mempunyai waktu yang lama dan dampak yang diakibatkannya akan lebih besar dibandingkan dengan pemeliharaan rutin. 3.4.2. Pemeliharaan rutin adalah kegiatan yang mempunyai frekuensi lebih sering dilakukan dengan skala kecil, waktunya pendek dan harus dilakukan serta secara kontinyu. 3.5. Perawatan adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi konstruksi, tanpa ada bagian konstruksi yang diubah atau diganti.

3.5.1. Perawatan rutin adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi konstruksi yang dilaksanakan setiap waktu. 3.5.2. Perawatan berkala adalah usaha untuk mempertahankan kondisi dan fungsi konstruksi yang dilaksanakan secara berkala. 3.6. Perbaikan adalah usaha untuk mengembalikan kondisi dan fungsi konstruksi. 3.6.1. Perbaikan darurat adalah usaha perbaikan dengan maksud agar konstruksi sementara dapat berfungsi. 3.6.2. Perbaikan permanen adalah usaha perbaikan untuk mengembalikan kondisi dan fungsi konstruksi secara permanen. 4. PEKERJAAN PERENCANAAN

Perencanaan adalah suatu rangkaian kegiatan untuk pelaksanaan kegiatan sebelum pembangunannya. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi: identifikasi masalah, pengumpulan data, penentuan metode, pelaksanaan investigasi dan penyelidikan, optimasi solusi yang tepat dari berbagai alternatif solusi, serta penentuan skala prioritas. Pedoman spesifikasi teknis pekerjaan perencanaan bangunan pengaman sungai berupa krib harus memuat : 4.1 Ketentuan dan Persyaratan Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan perencanaan pembangunan krib memuat : 1) Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang Dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, penyediaan data dan fasilitas penunjang, meliputi : a) Penyediaan oleh Pengguna Jasa Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : i. Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu;

ii. Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan); iii. Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi b) Penyediaan oleh Penyedia Jasa
4 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. i. Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi;

ii. Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 2) Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung a) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertifikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. b) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung yang berupa tenaga penyelenggara organisaasi pelaksanaan kegiatan dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 3) Persyaratan Pelaksanaan a) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. b) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan. 4.2 Pelaksanaan Pekerjaan

Pelaksanaan pekerjaan bangunan krib dibagi menjadi kegiatan studi awal, studi identifikasi, studi pengenalan dan perencanaan pendahuluan serta studi kelayakan. Adapun uraian pedoman spesifikasi teknis sebagai berikut : 1) Studi Awal Studi awal adalah studi penjajagan apakah memungkinkan suatu pekerjaan krib diadakan. Pelaksanaan kegiatan hanya merupakan desk study saja berdasarkan data-data sekunder yang ada. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan studi awal berkisar antara 1 2 bulan. Cakupan kegiatan studi awal adalah sebagai berikut : a) Pengumpulan Data Sekunder (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan

5 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000. (2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA); iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh dari Instansi BMG; iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP 01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. (4) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah;

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air; iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lainlain; iv. rencana tata ruang wilayah. b) Perekayasaan

6 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Hasil perekayasaan dari kegiatan ini adalah menguraikan tentang ketersediaan data sekunder dari suatu lokasi pekerjaan. c) Produk yang dihasilkan Produk yang dihasilkan dari kegiatan ini meliputi : (1) Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (2) Laporan Akhir harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang usulan pekerjaan berikutnya berdasarkan kajian di atas meja dan perumusan untuk kegiatan selanjutnya. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal d) Tenaga Ahli Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan studi awal adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Sungai dan Ahli Geologi 2) Studi Identifikasi Studi identifikasi adalah kegiatan studi awal yang diperiksa di lapangan untuk mendapatkan informasi atau kebenaran tentang kondisi lapangan. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan studi identifikasi berkisar antara 1 2 bulan. Cakupan kegiatan studi identifikasi adalah : a) Pengumpulan Data Sekunder (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000 atau yang lebih detail. (2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa : i. Peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

ii. Data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

7 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iii. Data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh dari Instansi BMG; iv. Data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung; (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP 01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. (4) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. Komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah;

ii. Komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air; iii. Komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lain-lain; iv. Rencana tata ruang wilayah. b) Survey (1) Survey Hidrologi Kegiatan survey hidrologi berupa kunjungan lapangan yang bertujuan untuk menginventarisir keadaan tinggi muka air banjir yang terjadi selama musim hujan sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Kegiatannya meliputi : i. pengukuran tinggi muka air di sungai; ii. inventarisasi dan pengecekan terhadap kondisi bangunanbangunan air yang diambil data debitnya pada studi awal. (2) Survey Topografi Melakukan kunjungan lapangan berdasarkan peta topografi dengan tujuan untuk mengecek kondisi topografi sebenarnya di lapangan sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Hasil survey topografi disini adalah inventarisasi kondisi morfologi sungai calon pekerjaan yang meliputi lebar, kemiringan dan elevasi tanggul.

8 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(3) Survey Geologi Melakukan kegiatan kunjungan lapangan untuk keperluan klarifikasi klasfikasi jenis tanah berdasarkan peta geologi regional wilayah sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. (4) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor melakukan kunjungan lapangan yang bertujuan untuk menginventarisir permasalahan jika terjadi pengembangan dan menilai latar belakang sosial-ekonomi-budaya sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. c) Analisis (1) Analisis Topografi Kegiatan analisis topografi adalah melakukan kajian di atas meja serta pertimbangan hasil inventarisir kondisi lapangan dengan tujuan menetapkan lokasi bangunan krib sesuai dengan fungsinya. Adapun perletakan bangunan krib berdasarkan fungsinya sesuai dengan SNI 03-1724-1989 sebagai berikut : i. jika berfungsi untuk perlindungan tebing maka penetapan lokasi krib harus berada pada tikungan luar sungai;

ii. jika berfungsi untuk menormalkan kondisi aliran maka krib diletakkan pada tempat terjadinya longsoran; iii. jika berfungsi sebagai pengarah aliran maka krib diletakkan pada hulu bangunan pengambilan yang mengalami perubahan arah arus. (2) Analisis Geologi Analisis geologi berupa kajian di atas meja berdasarkan peta geologi regional untuk menilai kecocokan daerah terhadap usulan pembangunan krib berdasarkan formasi geologinya. Adapun analisisnya meliputi : i. lokasi krib hindari pada formasi geologi yang tidak akan terjadi sesar dan patahan;

ii. hindari lokasi krib pada kondisi tebing sungai yang secara geologi mempunyai kecenderungan untuk longsor. d) Perekayasaan Hasil perekayasaan dari kegiatan ini adalah menguraikan tentang hasil identifikasi berdasarkan data sekunder serta kondisi lapangan tentang penentuan lokasi bangunan pengaman sungai dengan krib. e) Produk yang Dihasilkan (1) Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan; Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (2) Laporan Akhir, harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang penentuan lokasi pengamanan sungai dengan bangunan krib. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal f) Tenaga Ahli

9 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan studi awal adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Sungai, Ahli Geodesi dan Ahli Geologi 3) Studi Pengenalan Studi Pengenalan adalah suatu proses kegiatan berkelanjutan dari studi identifikasi yang menginformasikan tentang garis besar perencanaan bangunan krib dengan melakukan kegiatan survey lapangan. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan studi identifikasi berkisar antara 2 3 bulan. Cakupan kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : a) Pengumpulan Data Sekunder (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000. (2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi dintaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA); iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh dari Instansi BMG; iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP 01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait.

10 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(4) Data Bangunan Air di Sungai Data yang dimaksudkan adalah tempat dan jenis semua bangunan air serta bangunan umum lainnya yang dibangun di sungai yang mempunyai dampak timbal balik terhadap kondisi morfologi sungai baik di hulu maupun di hilir rencana bangunan sesuai dengan SNI 03-2400-1991 (5) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah;

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air; iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lainlain; iv. rencana tata ruang wilayah. b) Survey (1) Survey Topografi Melakukan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan untuk mendapatkan peta topografi ukuran 1:1.000 atau 1:2.000, kegiatan pengukuran dan pemetaan mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pengukuran Topografi dan Pemetaan. i. pengukuran dilakukan disekitar lokasi bangunan krib sepanjang minimum 200 m ke hulu dan ke hilir dari rencana lokasi bangunan krib;

ii. pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran memanjang dan melintang untuk mengetahui profil morfologi sungai; iii. pemasangan patok BM di kanan dan di kiri rencana lokasi sepanjang bangunan krib. (2) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor adalah melakukan identifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan lain yang sedang atau akan dilakukan oleh pihak yang berwenang lainnya sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. c) Investigasi (1) Sungai (a) Sampling Sedimen Layang Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan

11 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai sesuai dengan SNI 03-3414-1994. (b) Sampling Sedimen Dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat. Metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. (2) Geoteknik Investigasi Geoteknik yang dilakukan adalah pengambilan sampel tanah untuk mendapatkan parameter perencanaan yang berupa stabilitas pondasi dan lereng serta menentukan lokasi dan material ketersediaan bahan bangunan. Kegiatan investigasi geoteknik mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. d) Uji Laboratorium (1) Sedimen Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. (a) Sedimen Layang i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 03-34141994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai dengan SNI 03-4145-1996;

ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen sesuai dengan SNI 033961-1995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai dengan SNI 03-3962-1995. (b) Sedimen Dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. (2) Geoteknik (Index Properties) Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan index properties mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. Uji yang dimaksud adalah berat jenis tanah, berat spesifik, kadar air, gradasi butiran dan Atterberg Limits. e) Analisis Kegiatan analisis yang dilakukan pada kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : (1) Hidrologi Analisis hidrologi pada kegiatan ini adalah melakukan analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS SNI 03-2415-1991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut : i. Metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir

12 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal ii. Metode analisis regional, jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun; iii. Metode puncak banjir di atas ambang, apabila data debit yang tersedia antara 3 10 tahun; iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir berdasarkan parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :
- Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan

daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha)


- Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS

dengan luas < 100 km2;


- Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas

> 100 km2;


- Haspers digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa

memperhatikan luas DAS;


- Metode Hidrograf Satuan; - Metode US Soil Conservation Service;

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. (2) Angkutan Sedimen Analisis laju transport sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan EinsteinBrown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. (3) Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakukan dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio) iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. f) Perekayasaan Buat garis besar perencanaan krib dengan sketsa tata letak dan uraian pekerjaan dengan skala minimal 1:2000. Garis besar perencanaan krib sesui dengan SNI 032400-1991 memuat : i. Penggambaran peta topografi yang harus menampilkan kondisi tata guna lahan ii. Layout bangunan krib iii. Dimensi krib yang meliputi elevasi mercu krib, panjang krib, jarak krib, dimensi tiang, jarak antar tiang dan panjang tiang. g) Produk yang dihasilkan (1) Laporan Pendahuluan
13 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (2) Laporan Bulanan Laporan Bulanan menginformasikan tentang pelaksanaan progres pekerjaan dan tahap pelaksanaan pekerjaan untuk bulan berikutnya Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tiap seminggu sebelum akhir bulan (3) Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep lokasi krib Laporan Interim akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (4) Laporan Akhir Laporan Akhir harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, analisis laju sedimen, dimensi dan layout krib dan analisis Benefit/Cost Ratio dan Economic Internal Rate of Return. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal h) Tenaga Ahli Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan studi awal adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Sungai, Ahli Geodesi, Ahli Geologi dan Ahli Sosial Ekonomi 4) Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan Studi Kelayakan adalah kegiatan untuk menyaring berbagai pekerjaan alternatif yang sudah dirumuskan dalam studi pengenalan berdasarkan perkiraan biaya dan keuntungan yang dapat diperoleh. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan berkisar antara 3 5 bulan. Cakupan kegiatan studi adalah sebagai berikut : a) Pengumpulan Data Sekunder (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000.
14 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi diantaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA); iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh pada Instansi BMG; iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP 01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. (4) Data Bangunan Air di Sungai Data yang dimaksudkan adalah tempat dan jenis semua bangunan air serta bangunan umum lainnya yang dibangun di sungai yang mempunyai dampak timbal balik terhadap kondisi morfologi sungai baik di hulu maupun di hilir rencana bangunan sesuai dengan SNI 03-2400-1991 (5) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah;

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air; iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lainlain; iv. rencana tata ruang wilayah

15 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) Survey (1) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Melakukan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan untuk mendapatkan peta topografi ukuran 1:1.000 atau 1:2.000, kegiatan pengukuran dan pemetaan mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. i. pengukuran dilakukan di sekitar lokasi bangunan krib sepanjang minimum 200 m ke hulu dan ke hilir dari rencana lokasi bangunan krib;

ii. pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran memanjang dan melintang untuk mengetahui profil morfologi sungai; iii. pemasangan patok BM di kanan dan di kiri rencana lokasi sepanjang bangunan krib. (2) Survey Hidrometri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. debit perlu

lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geometri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai yang terbuka lurus;

ii. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar; iii. lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran. Jika aliran rendah, pengukuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim. Jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya; iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik; v. kemampuan tim pengukurnya Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kerata gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992.

16 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(3) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor adalah melakukan identifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan lain yang sedang atau akan dilakukan oleh pihak yang berwenang lainnya sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. c) Investigasi (1) Sungai (a) Sampling Sedimen Layang Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai SNI 03-3414-1994. (b) Sampling Sedimen Dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat. Metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. (2) Geoteknik Investigasi geoteknik yang dilakukan adalah pengambilan sampel tanah serta pelaksanaan pemboran. Kegiatan investigasi geoteknik mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. d) Uji Laboratorium (1) Sedimen Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. (a) Sedimen Layang, pengujian dilakukan dengan prinsip sebagai berikut : i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 03-34141994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai dengan SNI 03-4145-1996.

ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen sesuai dengan SNI 033961-1995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai dengan SNI 03-3962-1995. (b) Sedimen Dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

17 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(2) Geoteknik (Index dan Engineering Properties) Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan index properties dan engineering properties mengacu dan bepedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. e) Analisis dan Perencanaan Kegiatan analisis yang dilakukan pada kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : (1) Hidrologi Analisis hidrologi pada kegiatan ini adalah melakukan analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS sesuai dengan SNI 03-2415-1991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut : i. jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal;

ii. jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun, maka digunakan metode analisis regional; iii. jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun, maka digunakan Metode puncak banjir di atas ambang; iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir berdasarkan parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :
- Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan

daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha);


- Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS

dengan luas < 100 km2;


- Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas

> 100 km2;


- Haspers digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa

memperhatikan luas DAS;


- Metode Hidrograf Satuan; - Metode US Soil Conservation Service.

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. (2) Muatan Sedimen Analisis laju muatan sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan EinsteinBrown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. (3) Analisis Hidrolika Analisis hidrolika pada perencanaan bangunan krib, meliputi : (1) Analisis Lengkung Debit Pembuatan lengkung debit digunakan untuk menentukan elevasi mercu krib berdasarkan besarnya debit banjir rencana. Lengkung debit menampikan besarnya hubungan tinggi muka air dan debit. Jika data debit yang ada
18 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

minimal 10 buah data debit dari hasil pengukuran yang meliputi keadaan debit minimum sampai maksimum maka dapat digunakan dengan analisis grafis dan jika kecepatan aliran pada tinggi muka air tertinggi belum atau tidak dapat diukur maka dapat dihitung dengan persamaan hidrolis sesuai dengan SNI 2822-1992 . (2) Analisis Parameter Hidraulik Analisis parameter hidarulik disini meliputi debit, tinggi air, kecepatan aliran, kekasaran, tekanan, gaya seret, arah aliran dan jenis aliran yang berkaitan dengan keadaan geometri sungai (profil basah, keliling basah dan jari-jari hidraulik) sesuai dengan SNI 03-2400-1991. Parameter hidarulik di atas dapat diketahui dengan cara menggunakan cara pembagian pias berdasarkan persamaan manning jika sungai berpenampang tunggal sesuai dengan SNI 03-2830-1992 dan jika sungai berpenampang ganda dapat digunakan metode penampang ganda berdasarkan SNI 03-34441994. (4) Perencanaan Krib Perencanaan krib harus memuat tentang dimensi krib (elevasi mercu krib, panjang krib, jarak krib, dimensi tiang, jarak antar tiang dan panjang tiang); stabilitas dan kekuatan krib dan stabilitas tanah dasar pondasi sesuai dengan SNI 03-24001991. (5) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan normalisasi sungai yang merlukan kajian ANDAL adalah sebagai berikut : i. jika lokasi pekerjaan berada di kota besar/metropolitan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 5 km dan volume pengerukan 500.000 m3;

ii. jika lokasi pekerjaan berada di kota sedang maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 10 km dan volume pengerukan 500.000 m3; iii. jika lokasi pekerjaan berada di pedesaaan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 15 km dan volume pengerukan 500.000 m3 Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup;

ii. identifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting; iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup; iv. perumusan RKL dan RPL. (6) Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakukan dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio) iii. Net present value (NPV),
19 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. f) Perekayasaan Hasil perekayasaan dalam kegiatan ini meliputi : (1) Rencana pendahuluan tata letak bangunan. (2) Kapasitas rencana (3) Tipe bangunan dan penggambaran. (4) Rincian volume dan perkiraan anggaran biaya kasar g) Produk yang dihasilkan (1) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (2) Laporan Bulanan Laporan Bulanan menginformasikan tentang pelaksanaan progres pekerjaan dan tahap pelaksanaan pekerjaan untuk bulan berikutnya Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tiap seminggu sebelum akhir bulan (3) Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep perencanaan krib Laporan Interim akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (4) Laporan Akhir Laporan Akhir harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, analisis laju sedimen, dimensi dan layout krib, analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) dan analisis Benefit/Cost Ratio dan Economic Internal Rate of Return. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal (5) Laporan Penunjang Laporan penunjang dalam kegiatan ini meliputi : i. Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan Pemetaan Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan pemetaan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ii. Laporan Penyelidikan Geoteknik Laporan Penyelidikan Geoteknik harus diserahkan oleh Penyedia Jasa selambat-lambatnya tanggal iii. Laporan Analisis Dampak Lingkungan Laporan Analisis Dampak Lingkungan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal iv. Laporan Analisis Ekonomi

20 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Laporan Analisis Ekonomi harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal h) Tenaga Ahli Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan perencanaan pendahuluan dan studi awal adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Sungai, Ahli Geodesi, Ahli Geologi, Ahli Sosial Ekonomi dan Ahli Lingkungan 4.3 Pengendalian Mutu Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan perencanaan krib harus memuat : 1) Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang dihadapi. 2) Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3) Diskusi Pertengahan/Interim dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan/interim 4) Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan 4.4 Pengukuran dan Pembayaran Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan perencanaan krib harus memuat : 1) Pengukuran Kuantitas untuk pekerjaan perencanaan harus diukur berdasarkan biaya langsung personil yang meliputi keterlibatan tenaga ahli, asisten tenaga ahli dan tenaga penunjang serta biaya langsung non personil yang meliputi perjalanan dinas, survey dan investigasi, biaya operasional kantor dan diskusi dan pelaporan. Biaya langsung diukur berdasarkan daftar hadir tenaga ahli, asisten serta tenaga pendukung. Biaya langsung non personil diukur berdasarkan add cost. 2) Dasar Pembayaran Kuantitas pekerjaan perencanaan yang diukur menurut ketentuan di atas, akan dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut.

21 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Nomor Pembayaran

Uraian

Satuan Pengukuran

1. 2.

Biaya Langsung Personil Biaya Langsung Non Personil : 2.1) Biaya Perjalanan Dinas 2.2) Biaya Operasional Kantor 2.3) Pengukuran dan Pemetaan - Pemasangan Patok BM dan CP - Pengukuran poligon dan situasi - Pengukuran cross-section, long section 2.4) Penyelidikan Geoteknik 2.5) Analisis Laboratorium Mekanika Tanah 2.6) Survey dan Penyelidikan Sedimen dan Air 2.7) Biaya Pelaporan 2.8) Biaya Diskusi

OB Orang-hari Unit - Bulan Buah Kilometer Kilometer Buah Sampel Sampel Exemplar Lump-sum

5.

PEKERJAAN DETAIL DESAIN

Detail desain adalah kegiatan perencanaan rinci suatu bangunan air yang menghitung dan menggambarkan atau juga memetakan berbagai dimensi bangunan sesuai dengan kebutuhan perencanaan suatu bangunan atau komponennya. Contoh detail desain untuk krib dari mulai gambar lay out sampai dengan dimensi rinci serta spesifikasi bahan yang akan digunakan sebagai komponen bangunan krib. Pedoman spesifikasi teknis pekerjaan detail desain bangunan pengaman sungai berupa krib harus memuat : 5.1 Ketentuan dan Persyaratan Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan detail desain krib memuat : 1) Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang Dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, penyediaan data dan fasilitas penunjang, meliputi : a) Penyediaan oleh Pengguna Jasa Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : i. Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu;

ii. Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan); iii. Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi. b) Penyediaan oleh Penyedia Jasa Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.

22 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

i.

Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi;

ii. Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 2) Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung a) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertifikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. b) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung yang berupa tenaga penyelenggara organisaasi pelaksanaan kegiatan dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 3) Persyaratan Pelaksanaan a) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. b) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan. 5.2 Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknik pekerjaan detail desain krib meliputi : 1) Pengumpulan Data Sekunder Kegiatan pengumpulan data sekunder dapat dilakukan oleh Penyedia Jasa dengan melakukan kunjungan ke instansi-instansi terkait. Kegiatan pengumpulan data sekunder untuk pekerjaan detail desain bangunan krib meliputi : a) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-17241989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000.

23 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi diantaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA);

ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA); iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh dari Instansi BMG; iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. c) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. d) Data Bangunan Air di Sungai Data yang dimaksudkan adalah tempat dan jenis semua bangunan air serta bangunan umum lainnya yang dibangun di sungai yang mempunyai dampak timbal balik terhadap kondisi morfologi sungai baik di hulu maupun di hilir rencana bangunan sesuai dengan SNI 03-2400-1991 e) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah;

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air; iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lain-lain; iv. rencana tata ruang wilayah. 2) Survey a) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Pelaksanaan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. Kegiatan ini akan dilakukan oleh
24 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Penyedia Jasa jika kondisi topografi daerah pekerjaan banyak mengalami perubahan alur sungai baik yang diakibatkan oleh bencana atau proses alamiah lainnya sehingga validitas data yang sudah ada diragukan lagi. Cakupan kegiatan pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan untuk keperluan kegiatan detail desain krib meliputi : (1) Pemetaan situasi sungai Pemetaan situasi sungai dimana bangunan utama akan dibuat dengan skala minimum 1 : 2000. Peta ini harus meliputi jarak 1,0 km ke arah hulu dan ke hilir dari letak bangunan krib rencana dan melebar 250 m dari masing-masing tepi sungai. Peta ini juga harus dilengkapi dengan garis ketinggian setiap 1,0 m, kecuali dasar sungai diperlukan garis ketinggian setiap 0,50 m. Peta ini harus mencakup lokasi alternatif yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai agar diperoleh informasi mengenai bentuk denah sungai dan juga untuk merencanakan tata letak dan trase tanggul penutup. Peta situasi juga harus menampilkan titik-titik tetap (benchmark) yang ditempatkan di sekitar daerah pemetaan, lengkap dengan koordinat dan elevasinya. (2) Pengukuran detail situasi bangunan krib Pengukuran detail ini menghasilkan peta berskala 1 : 200 atau 1 : 500. Peta detil harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan secara lengkap. Peta ini harus dilengkapi dengan titik ketinggian dan garis ketinggian yang tepat setiap 0,25 m. b) Survey Hidrometri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geometri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai yang terbuka lurus;

ii. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar; iii. lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran. Jika aliran rendah pengkuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim. Jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya; iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik; v. kemampuan tim pengukurnya. Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kereta gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau
25 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat, maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-28201992. c) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor adalah melakukan identifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan lain yang sedang atau akan dilakukan oleh pihak yang berwenang lainnya sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. 3) Investigasi atau Penyelidikan a) Sungai Kegiatan investigasi atau penyelidikan sungai bertujuan untuk mendapatkan karakteristik sungai baik terhadap sedimentasi. Kegiatannya meliputi : (1) Sampling Sedimen Layang Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan di lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai SNI 03-34141994. (2) Sampling Sedimen Dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat. Metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. b) Geoteknik Lapangan Kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan diperlukan untuk mengetahui data karakteristik mekanika tanah lokasi krib. Penyelidikan geoteknik lapangan mencakup kegiatan pemboran, pengambilan sampel serta bor tangan. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan mengacu pada pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. 4) Uji Laboratorium a) Sedimen Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. (1) Sedimen Layang i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 03-3414-1994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai dengan SNI 03-41451996.

ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen sesuai dengan SNI 03-39611995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai dengan SNI 03-3962-1995.
26 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(2) Sedimen Dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. b) Geoteknik Laboratorium (Index dan Engineering Properties) Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan index properties dan engineering properties mengacu dan bepedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. 5) Analisis dan Perencanaan Kegiatan analisis yang dilakukan pada kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : a) Hidrologi Analisis hidrologi pada kegiatan ini adalah melakukan analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS SNI 03-2415-1991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut : i. jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal;

ii. jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun, maka digunakan metode analisis regional; iii. jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun, maka digunakan Metode puncak banjir di atas ambang; iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir berdasarkan parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :
- Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah

tangkapan yang kecil (< 40 Ha)


- Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan

luas < 100 km2;


- Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas >

100 km2;
- Haspers digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa

memperhatikan luas DAS;


- Metode Hidrograf Satuan; - Metode US Soil Conservation Service;

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. b) Muatan Sedimen Analisis laju muatan sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. c) Analisis Hidrolika Analisis hidrolika pada perencanaan bangunan krib, meliputi : (1) Analisis Lengkung Debit

27 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Pembuatan lengkung debit digunakan untuk menentukan elevasi mercu krib berdasarkan besarnya debit banjir rencana. Lengkung debit menampikan besarnya hubungan tinggi muka air dan debit. Jika data debit yang ada minimal 10 buah data debit dari hasil pengukuran yang meliputi keadaan debit minimum sampai maksimum maka dapat digunakan dengan analisis grafis dan jika kecepatan aliran pada tinggi muka air tertinggi belum atau tidak dapat diukur maka dapat dihitung dengan persamaan hidrolis sesuai dengan SNI 2822-1992 . (2) Analisis Parameter Hidraulik Analisis parameter hidarulik disini meliputi debit, tinggi air, kecepatan aliran, kekasaran, tekanan, gaya seret, arah aliran dan jenis aliran yang berkaitan dengan keadaan geometri sungai (profil basah, keliling basah dan jari-jari hidraulik) sesuai dengan SNI 03-2400-1991. Parameter hidarulik di atas dapat diketahui dengan cara menggunakan cara pembagian pias berdasarkan persamaan manning jika sungai berpenampang tunggal sesuai dengan SNI 03-2830-1992 dan jika sungai berpenampang ganda dapat digunakan metode penampang ganda berdasarkan SNI 03-3444-1994. (3) Perencanaan Krib Perencanaan krib harus memuat tentang dimensi krib (elevasi mercu krib, panjang krib, jarak krib, dimensi tiang, jarak antar tiang dan panjang tiang); stabilitas dan kekuatan krib dan stabilitas tanah dasar pondasi sesuai dengan SNI 03-24001991. (4) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan normalisasi sungai yang merlukan kajian ANDAL adalah sebagai berikut : i. jika lokasi pekerjaan berada di kota besar/metropolitan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 5 km dan volume pengerukan 500.000 m3;

ii. jika lokasi pekerjaan berada di kota sedang maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 10 km dan volume pengerukan 500.000 m3 iii. jika lokasi pekerjaan berada di pedesaaan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 15 km dan volume pengerukan 500.000 m3; Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup;

ii. identifikasi komponen-kmponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting; iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup; iv. perumusan RKL dan RPL (5) Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakukan dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio)
28 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. 6) Nota Desain Penyedia Jasa harus membuat perencanaan rinci secara lengkap dengan dimensinya berdasarkan kajian hidrolis serta perhitungan struktur baik pada bangunan utama maupun bangunan penunjang 7) Penggambaran Penggambaran hasil kegiatan meliputi gambar hasil pengukuran dan pemetaan, layout krib dan bangunan pelengkapnya, potongan memanjang dan melintang krib, detail bangunan. Penggambaran mengacu pada KP-07, DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentan Kriteria Perencanaan Bagian Standar Penggambaran. 8) Perhitungan BOQ Berdasarkan gambar rencana rinci yang telah dibuat dilakukan perhitungan volume pekerjaan konstruksi secara rinci sesuai dengan pekerjaan konstruksi yang akan dilakukan. 9) Penyusunan Rencana Anggaran Biaya Penyusunan perhitungan rencana anggaran biaya mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Pekerjaan Pembangunan Pengaman Sungai, Bagian-1, Krib yang didasarkan pada : a) kuantitas dan harga satuan pekerjaan b) harga satuan pekerjaan dihitung berdasarkan hasil dari perhitungan suatu analisis biaya c) untuk menentukan harga satuan upah dan bahan dilakukan survey harga di lapangan dengan mengambil sampel sekurang-kurangnya 3 lokasi. Khusus untuk harga satuan bahan diperhitungkan harga beli di tempat penjualan atau diantar ke lokasi pekerjaan d) menghitung biaya-biaya tambahan di luar biaya dari perhitungan volume seperti biaya persiapan, mobilisasi dan demobilisasi personil dan alat, dokumentasi, dewatering dll. 10) Penyusunan Dokumen Pelelangan Penyusunan dokumen lelang digunakan bagi keperluan pelelangan pekerjaan atau pengadaan barang maupun jasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Dokumen Lelang harus meliputi ketentuan-ketentuan, komponen bahan dan spesifikasi konstruksi, cara pengerjaan serta syarat pengendalian mutu sesuai dengan KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004 11) Pekerjaan Lain-lain a) Mobilisasi dan Demobilisasi (1) Mobilisasi adalah pengangkutan semua peralatan berdasarkan Jadwal Pelaksanaan yang harus diserahkan sesudah menerima Surat Penunjukan, dari tempat kantor ke lokasi pekerjaan. Mobilisasi staf kantor, tenaga kerja lapangan dan lain-lain, sudah termasuk dalam item mobilisasi. (2) Demobilisasi Kegiatan Demobilisasi berupa pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan dimulai. b) Foto Dokumentasi
29 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(3) Penyedia Jasa harus menyerahkan foto-foto berwarna dengan ukuran post card (9 cm x 12 cm) kepada Direksi Pekerjaan untuk setiap kemajuan progress fisik di lapangan. (4) Pengambilan gambar/foto dapat dilakukan pada awal, selama dan akhir pelaksanaan setiap jenis kegiatan. Foto ini harus ditempelkan pada laporan bulanan yang diserahkan kepada Direksi Pekerjaan. Setiap hasil cetakan foto harus diberi tanggal pengambilan dan lokasinya. (5) Pada akhir pelaksanaan Penyedia Jasa harus menyerahkan dua cetakan foto berwarna disusun album beserta negative filmnya. c) Asuransi Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan oleh Penyedia Jasa dalam perihal asuransi tenga kerja mengacu kepada ketentuan yang berlaku yang dikeluarkan oleh Depnaker dan Jamsostek. 12) Produk yang dihasilkan Penyedia Jasa harus menyerahkan produk selama kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi : a) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan berisi antara lain: i. ii. iii. iv. Hasil kajian awal dan temuan permasalahan yang ada Rencana kerja Konsultan secara menyeluruh Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya Jadwal kegiatan Konsultan

Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metodologi pelaksanaan pekerjaan, hasil pengumpulan data, hasil kunjungan lapangan, dan rencana kerja berikutnya. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal b) Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi antara lain: i. uraian permasalahan, hambatan dan temuan pada bulan tersebut. ii. daftar kegiatan yang dilakukan pada bulan berikutnya iii. daftar rencana kegiatan pada bulan berikutnya iv. mobilisasi dan demobilisasi personil dan daftar hadir personil dan kegiatan masing-masing pada bulan tersebut v. realisasi progress kemajuan pekerjaan yang disetujui oleh direksi Laporan Bulanan dilengkapi dengan foto dan peta yang menunjukkan lokasi yang telah diidentifikasi serta usulan penanganan, program dan jadwal kerja selanjutnya. Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal c) Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep lokasi krib. Laporan bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal d) Laporan Akhir Sementara
30 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Laporan Akhir Sementara harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang kegiatan hasil detail desain yang mencakup antara lain : hasil investigasi lanjutan topografi, geoteknik, hidrologi, hidrolika, perhitungan desain, dan gambar Konstruksi bangunan sungai beserta bangunan fasilitasnya. Laporan Akhir Sementara akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal e) Laporan Akhir Laporan ini berisi seluruh hasil perencanaan teknis termasuk metode pekerjaan desain, perhitungan desain, metode dan jadwal konstruksi, jadwal pelaksanaan, estimasi biaya, paket konstruksi dan lain-lain. Laporan Akhir ini dibuat setelah didiskusikan dan disetujui pada Laporan Akhir Sementara (Draft Laporan Akhir). Laporan Akhir merupakan revisi dan penyempurnaan dari Laporan Akhir Sementara dengan memperhatikan semua masukan, tanggapan, dan koreksi. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal f) Dokumen Tender Dokumen Tender terdiri atas: (1) rencana anggaran biaya (RAB) (2) gambar desain A1, rangkap 3 (tiga), termasuk 1 kalkir (3) gambar desain A3, rangkap 3 (tiga) (4) dokumen tender, masing-masing rangkap 3 (tiga) meliputi: i. tender drawing ii. spesifikasi umum dan spesifikasi teknis iii. rencana pelaksanaan fisik dan construction method iv. daftar kuantitas dan harga satuan Dokumen Tender akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal g) Gambar Produk gambar yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : i. peta situasi bangunan dengan skala 1 : 200 ; ii. gambar potongan memanjang dan melintang bangunan krib 1 : 100 1 : 200 iii. gambar detail bangunan Skala 1 : 50 1 : 200. Album gambar akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal h) Laporan Penunjang Laporan penunjang dalam kegiatan ini meliputi : i. Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan Pemetaan Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan pemetaan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ii. Laporan Penyelidikan Geoteknik Laporan Penyelidikan Geoteknik harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal iii. Laporan Analisis Dampak Lingkungan Laporan Analisis Dampak Lingkungan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal iv. Laporan Analisis Ekonomi
31 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Laporan Analisis Ekonomi harus diserahkan oleh Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 13) Keperluan Tenaga Ahli Tenaga ahli yang diperlukan untuk kegiatan detail desain adalah Team Leader, Ahli Hidrologi, Ahli Sungai, Ahli Geodesi, Ahli Geologi, Ahli Geoteknik, Ahli Lingkungan, Ahli Cost Estimate/Dokumen Tender dan Ahli Sosial-Ekonomi. 5.3 Pengendalian Mutu Pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan perencanaan krib harus memuat : 1) Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui sejauh mana progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang diperlukan 2) Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3) Diskusi Pertengahan/Interim dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan/interim 4) Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan 5.4 Pengukuran dan Pembayaran Pengukuran dan pembayaran yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan detail desain krib harus memuat : 1) Pengukuran Kuantitas untuk pekerjaan detail desain harus diukur berdasarkan biaya langsung personil yang meliputi keterlibatan tenaga ahli, asisten tenaga ahli dan tenaga penunjang serta biaya langsung non personil yang meliputi biaya perjalanan dinas, survey dan investigasi, biaya operasional kantor dan diskusi dan pelaporan. Biaya langsung diukur berdasarkan daftar hadir tenaga ahli, asisten serta tenaga pendukung. Biaya langsung non personil diukur berdasarkan add cost 2) Dasar Pembayaran Kuantitas pekerjaan detail desain yang diukur menurut ketentuan di atas, akan dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini, dimana harga dan pembayaran tersebut adalah.

32 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Nomor Pembayaran

Uraian

Satuan Pengukuran

1. 2.

Biaya Langsung Personil Biaya Langsung Non Personil : 2.1) Biaya Perjalanan Dinas 2.2) Biaya Operasional Kantor 2.3) Pengukuran dan Pemetaan - Pemasangan Patok BM dan CP - Pengukuran poligon dan situasi - Pengukuran cross-section 2.4) Penyelidikan Geologi 2.5) Analisis Laboratorium Mekanika Tanah 2.6) Survey dan Penyelidikan Sedimen dan Air 2.7) Biaya Pelaporan 2.8) Biaya Diskusi

OB Orang-hari Unit - Bulan Buah Kilometer Kilometer Buah Sampel Sampel Exemplar Lump-sum

6.

PEKERJAAN KONSTRUKSI

Konstruksi merupakan rangkaian proses kegiatan yang dituangkan dalam bentuk pekerjaan fisik di lapangan berdasarkan gambar yang didapatkan dari hasil kegiatan perencanaan teknik. Pedoman penyusunan spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi bangunan pengaman sungai krib harus memuat : 6.1 Ketentuan dan Persyaratan Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi krib memuat : 1) Program Pelaksanaan Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan oleh Penyedia Jasa dalam pembuatan program pelaksanaan adalah sebagai berikut : a) Pengguna Jasa menyiapkan Jadwal Pelaksanaan untuk semua pekerjaan yang termasuk dalam Kontrak. Jadwal pelaksanaan tersebut untuk membantu para penawar dan Penyedia Jasa didalam menyiapkan Jadwal Pelaksanaan yang lebih terperinci; b) Penyedia Jasa harus menyerahkan Jadwal Pelaksanaan kepada Direksi Pekerjaan berisi jadwal pelaksanaan semua pekerjaan dan pekerjaan sementara yang harus dikerjakan berdasarkan Kontrak, dengan metode PERT/CPM network. Jadwal Pelaksanaan ini harus sesuai dengan hari kalender, jangka waktu yang diperlukan, tanggal mulai paling awal, tanggal selesai paling awal dan paling lambat, lama pelaksanaan dan sebagainya; c) Jadwal Pelaksanaan tersebut diatas diserahkan sesuai dengan modifikasi dan perubahan yang diperlukan oleh Direksi Pekerjaan di dalam waktu yang logis. Jadwal Pelaksanaan yang direvisi yang sudah disetujui dan sudah ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan harus dianggap merupakan Jadwal Pelaksanaan yang mengikat dan menjadi bagian dari Dokumen Kontrak;

33 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

d) Jadwal Pelaksanaan yang sudah mengikat tersebut harus diperbarui oleh Penyedia Jasa pada setiap jangka waktu 4 (empat) bulan jika diminta oleh Direksi Pekerjaan dan Jadwal Pelaksanaan yang diperbarui harus disetujui oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan, dan termasuk dalam Dokumen Kontrak; e) Jika selama pelaksanaan pekerjaan, rata-rata kecepatan pekerjaan ternyata dibawah yang disetujui menurut pendapat Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus dapat menyelesaikan setiap bagian pekerjaan pada waktu yang disetujui, maka Direksi Pekerjaan akan memerintahkan Penyedia Jasa untuk menambah pekerja dan atau peralatan pelaksanaan ke lokasi pekerjaan untuk mengejar ketinggalan pada bagian pekerjaan tersebut. 2) Aspek-aspek yang Perlu diperhatikan dalam Pelaksanaan Pekerjaan a) Aspek Keselamatan Kerja Penyedia Jasa pelaksanaan pekerjaan harus memperhatikan ketentuan kesehatan dan Undang-Undang Keselamatan Kerja. Ketentuan-ketentuan tersebut harus diadopsi oleh pelaksana pekerjaan dalam prosedur/manual pekerjaan secara menyeluruh untuk setiap tahapan pekerjaan, mulai dari tahap pekerjaan persiapan hingga pemeliharaan setelah penyerahan pekerjaan. b) Aspek Lingkungan Sebelum melaksanakan kegiatan fisik di lapangan, Penyedia Jasa harus membuat program dampak lingkungan yang terjadi akibat pelaksanaan kegiatan dengan mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau manual prosedur pengelolaan/ pemantauan lingkungan (jika RKL/RPL atau UKL/UPL tidak ada). Program ini harus mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. c) Aspek Administrasi Penyedia Jasa pelaksanaan pekerjaan harus memiliki prosedur dan tata cara administrasi yang baku dalam bentuk surat menyurat, surat pengumuman, surat undangan dan surat-surat lainnya untuk menunjang seluruh kegiatan pekerjaan. Seluruh dokumen pekerjaan mulai dari pekerjaan persiapan, pelaksanaan, serah terima, dan pemeliharaan harus didokumentasikan secara sistematis sesuai dengan kelompok pekerjaan, urutan waktu, atau kategori lain yang dianggap penting. Dokumentasi ini diperlukan guna menunjang laporan proyek (Laporan Mingguan dan Bulanan). d) Aspek Ekonomis Penyedia Jasa pelaksanaan pekerjaan wajib memperhatikan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan. Termasuk dalam hal ini aspek SDM, Peralatan, dan pengadaan bahan. SDM yang digunakan harus secara efektif dapat memenuhi kebutuhan jadwal dan kualitas pekerjaan. Jumlah dan jenis peralatan-peralatan pendukung pekerjaan harus diperhitungkan dengan seksama sesuai jadwal pekerjaan terutama bila peralatanperalatan tersebut diadakan dengan sewa. Pengadaan bahan/material harus diupayakan efektif sesuai pekerjaan yang dijadwalkan. e) Aspek Sosial dan Budaya Penyedia Jasa pelaksanaan pekerjaan berkewajiban memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat di lokasi pelaksanaan pekerjaan. Hal-hal yang cukup sensitif, seperti gangguan kebisingan pada waktu ibadah, waktu istirahat, hal-hal yang ditabukan, atau lokasi-lokasi yang dianggap suci oleh masyarakat setempat sedapat

34 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

mungkin dihindarkan dari gangguan pekerjaan atau personil yang terlibat dalam pekerjaan. 3) Sumber Bahan Pelaksanaan a) Penyedia Jasa bertanggungjawab atas pengadaan material beton pasangan, bronjong dan sebagainya dengan jumlah yang cukup dan berkualitas baik. Proyek akan memberi petunjuk beberapa sumber bahan pelaksanaan yang ada untuk bahan timbunan dan material beton berikut jarak dari lokasi pekerjaan. b) Jika Penyedia Jasa akan mengambil material untuk beton dan batu dari sumber lain, Penyedia Jasa harus mengatur sedemikian hingga mendapatkan ijin dari instansi terkait dan membayar semua biaya dan kompensasi yang diperlukan. 4) Pekerjaan Pengeringan (Dewatering) Daerah galian harus dikeringkan secukupnya dan dijaga jangan sampai ada air tergenang. Penyedia Jasa harus membuat dan merawat semua dan sementara, bila perlu melakukan pemompaan sumber-sumber air dan aliran lainnya untuk mengeluarkan air tersebut dari lokasi pekerjaan sepanjang masa pelaksanaan. Semua bangunan sementara harus dibongkar bila pekerjaan telah selesai dan disetujui Direksi Pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-7, Pekerjaan Dewatering. 5) Pemagaran Lokasi Pekerjaan Jika diperlukan, Penyedia Jasa harus membuat dan merawat pagar yang sesuai dan disetujui Direksi Pekerjaan untuk menutup semua areal pekerjaanpekerjaan pelaksanaan. Bila pagar ini dibuat disepanjang jalan umum dan lain-lain, harus dibuat tipe yang sesuai dan cukup baik untuk daerah tersebut. Pelaksanaan pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain 6) Material dan Peralatan-peralatan yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa Ketentuan yang memuat tentang penyediaan material dan peralatan oleh Penyedia Jasa diatur sebagai berikut : a) Umum Penyedia Jasa harus menyediakan bahan/material dan peralatan yang memenuhi syarat untuk menyelesaikan pekerjaan kecuali yang sudah disediakan di dalam Kontrak. Semua peralatan dan material yang merupakan bagian dari pekerjaan harus baru dan harus sesuai dengan standar yang tercantum dalam Spesifikasi atau Standar yang ditunjukkan. Jika Penyedia Jasa mengusulkan pengadaan peralatan atau material yang tidak sesuai dengan standar yang disebutkan diatas harus memberi tahu dan mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan terlebih dahulu. b) Peralatan untuk Pelaksanaan Penyedia Jasa harus mendatangkan semua peralatan yang memenuhi syarat dalam jumlah yang cukup untuk pelaksanaan pekerjaan sampai dengan selesai. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan Penyedia Jasa untuk menambah peralatan, jika menurut pertimbangannya perlu untuk mencapai progress sesuai dengan Kontrak. Penyedia Jasa harus mendatangkan semua mesin dan peralatan, lengkap dengan suku cadangnya yang cukup, untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan. c) Material Pengganti Penyedia Jasa harus berusaha untuk mendapatkan bahan material yang ditentukan dalam spesifikasi teknik atau gambar, tapi jika material tersebut tidak dapat diperoleh dengan alasan diluar kemampuan Penyedia Jasa, boleh memakai material pengganti
35 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

dengan persetujuan Direksi Pekerjaan. Tidak boleh ada material pengganti tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. d) Pemeriksaan Peralatan dan Material Peralatan dan material yang didatangkan oleh Penyedia Jasa harus diperiksa dan sesuai dengan Kontrak pada saat di lokasi berikut ini atau seperti yang ditentukan oleh Pemberi Tugas : i. tempat produksi atau pabrik ii. pengangkutan iii. lokasi proyek Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Pengguna Jasa semua spesifikasi peralatan dan material yang diperlukan oleh Pengguna Jasa untuk tujuan pemeriksaan. Pemeriksaan peralatan dan material termasuk tempat dimana berasal tidak berarti melepaskan Penyedia Jasa dari tanggungjawabnya untuk mengadakan peralatan dan material yang tercantum dalam spesifikasi teknik. e) Program dan Catatan Pengangkutan Bersamaan dengan penyerahan Jadwal Pelaksanaan, Penyedia Jasa harus menyerahkan program pengangkutan peralatan dan material secara rinci, dengan urutan pengangkutan dan pengiriman di lapangan sesuai dengan rencana Jadwal Pelaksanaan tersebut kepada Direksi Pekerjaan. Penyedia Jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan kedatangan peralatan, material dan pemasangan peralatan di lapangan. f) Spesifikasi, Brosur dan Data yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa Penyedia Jasa harus menyerahkan 3 (tiga) set spesifikasi lengkap, brosur dan data mengenai material dan peralatan yang akan didatangkan sesuai Kontrak kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui, dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari setelah menerima surat perintah kerja. Bagaimanapun juga persetujuan terhadap spesifikasi, brosur dan data tersebut tidak akan melepaskan Penyedia Jasa dari tanggungjawabnya sesuai dengan Kontrak. 6.2 Pelaksanaan Pekerjaan Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknik pekerjaan konstruski krib memuat : 1) Pekerjaan Persiapan Umum Pelaksanaan pekerjaan yang bersifat umum meliputi : a) Mobilisasi dan Demobilisasi Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain b) Jalan Penghubung Sementara Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain c) Laboratorium dan Alat Pengujian Lapangan Ketentuan dan persyaratan untuk laboratoriuum dan alat pengujian lapangan sebagai berikut : i. Penyedia Jasa di dalam hal ini tidak diperkenankan melakukan pengujian laboratorium, pengujian dilakukan oleh laboratorium yang telah ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan;

36 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

ii. Penyedia Jasa harus menyediakan peralatan pengetesan lain yang diperlukan seperti yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknik untuk mengontrol material pelaksanaan dan tanah; iii. Selambat-lambatnya tanggal... ... ... , Penyedia Jasa harus menyerahkan schedule pengujian kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuannya. Schedule pengujian harus mencakup semua pengujian material beton, pengujian pemadatan tanah triaxial dan pengujian alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Laboratorium yang disediakan Penyedia Jasa harus diatur dan dirawat Penyedia Jasa. Pengadaan listrik dan air untuk keperluan laboratorium harus disediakan Penyedia Jasa. d) Kantor, Gudang dan Bengkel untuk Penyedia Jasa Penyedia Jasa harus membuat, merawat dan selanjutnya membongkar bangunan sementara seperti kantor, bengkel, dan gudang yang hanya diperlukan pada saat pelaksanaan. Penyedia Jasa harus mengirimkan rencana pelaksanaan secara detail termasuk fasilitas sementara kepada Direksi Pekerjaan selambat-lambatnya tanggal ... ... ... e) Perumahan dan Barak untuk Staf dan Tenaga Penyedia Jasa Jika tidak ditentukan lain, Penyedia Jasa harus menyediakan, merawat dan membongkar semua bangunan sementara dimana Direksi Pekerjaan atau Pengguna Jasa, Staf Penyedia Jasa dan Sub-Penyedia Jasa akan berada termasuk perabot, penerangan, air minum, saluran, jalan, tempat parkir, tempat buangan dan akomodasi yang bersifat sementara. Sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum penanganan pekerjaan ini. Penyedia Jasa harus mengirimkan rencana dan detail usulan bangunan termasuk fasilitasnya kepada Direksi Pekerjaan. f) Air Kerja Penyedia Jasa harus menyediakan/membuat sumber air baku untuk tempat tinggal staf Penyedia Jasa, Pekerja, Laboratorium, Bengkel dan tempat lain yang perlu dilokasi pekerjaan. Sistim jaringan air minum tersebut harus mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan. g) Sumber Listrik untuk Pelaksanaan Pekerjaan Penyedia Jasa harus mengatur kebutuhan penerangan listrik di lokasi pekerjaan, perumahan staf Penyedia Jasa, Barak, Laboratorium, Bengkel, Gudang dan Kantor. Penyedia Jasa harus membuat jaringan listriknya, mengoperasikan dan merawat sampai dengan akhir masa perawatan atau lebih cepat sesuai dengan pengarahan Direksi Pekerjaan dan kemudian membongkar semua fasilitas listrik sementara yang ada antara lain : generator, kawat, alat-alat penyambung dan lain sebagainya 2) Pekerjaan Persiapan Khusus Pekerjaan persiapan khusus untuk pelaksanaan konstruksi krib meliputi : a) Pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan b) Gambar-gambar Pelaksanaan Gambar-gambar yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan ditentukan berdasarkan Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain

37 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

3) Pekerjaan Konstruksi Krib Pelaksanaan kegiatan konstruksi krib terdiri dari pekerjaaan : a) Pekerjaan Tanah Pekerjaan tanah tediri dari : kupasan, pembersihan medan; galian dan timbunan. Pelaksanaa pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjan pengukuran atau stacke out Pekerjaan pengukuran atau stacke out mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Pengujian Geoteknik Pekerjaan geoteknik terkait dengan mutu hasil pekerjaan timbunan. Pelaksanaan pekerjaan pengujian geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-4, Pekerjaan Beton dan Bekisting e) Pekerjaan Pasangan Pelaksanaan pekerjaan pasangan batu mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Pemancangan Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-6, Pekerjaan Pemancangan 4) Pekerjaan Lain-lain Pekerjaan lain-lain sifatnya mendukung pekerjaan utama. Pekerjaan lain-lain meliputi foto dokumentasi ; pelaksanaan pengujian mutu bahan dan pekerjaan penggambaran (as-built drawing). Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-6, Pekerjaan Pemancangan 5) Pelaporan dan Foto Dokumentasi 1) Pelaporan Pelaporan yang dihasilkan dalam pekerjaan konstruksi, meliputi : a) Laporan Kemajuan Pelaksanaan Sebelum tanggal..............tiap bulan atau pada suatu waktu yang ditentukan Direksi, Penyedia Jasa harus menyerahkan 5 (lima) salinan laporan Kemajuan Bulanan dalam bentuk yang bisa diterima oleh Direksi, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan selama bulan yang terdahulu. Laporan sekurang-kurangnya harus berisi hal-hal sebagai berikut : i. Prosentase kemajuan pekerjaan berdasarkan kenyataan yang dicapai pada bulan laporan maupun prosentase rencana yang diprogramkan pada bulan berikutnya; ii. Prosentase dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun prosentase rencana yang diprogramkan harus sesuai dengan kemajuan yang dicapai pada bulan laporan;
38 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iii. Rencana kegiatan dalam waktu dua bulan berturut-turut dengan ramalan tanggal permulaan dan penyelesaiannya; iv. Daftar tenaga setempat; v. Daftar perlengkapan konstruksi, peralatan dan bahan dilapangan yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan termasuk yang sudah datang dan dipindahkan dari lapangan; vi. Jumlah volume pekerjaan merupakan bagian pekerjaan tetap harus diuraikan sebagai berikut : - Jumlah volume untuk berbagai pekerjaan pembetonan; - Jumlah volume dari berbagai pekerjaan galian dan timbunan; - Jumlah volume dari bahan perkerasan jalan yang digunakan; - Jumlah banyaknya bangunan, dll. vii. Uraian pokok pekerjaan sementara yang dilaksanakan selama masa laporan; viii. Daftar besarnya pembayaran terakhir yang diterima dan kebutuhan pembayaran yang diperlukan bulan berikutnya; ix. Hal-hal lain yang diminta sesuai dengan kontrak, dan masalah yang timbul atau berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan selama bulan laporan; b) Rencana Kerja Harian, Mingguan dan Bulanan Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 (dua) rangkap Rencana Mingguan yang sudah disetujui oleh Direksi setiap akhir Mingguan dan untuk minggu berikutnya. Rencana tersebut harus sudah termasuk pekerjaan tanah, pekerjaan konstruksi lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, pengadaan bahan, pengangkutan dan peralatan dan lain-lain yang diminta Direksi. Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 (dua) rangkap rencana kerja harian secara tertulis semua kemajuan yang sudah disetujui oleh Direksi setiap hari maupun untuk hari-hari berikutnya. Rencana kerja harus mencakup pekerjaan tanah, pekerjaan beton dan kegiatan lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Penyedia Jasa harus menyediakan Rencana Kerja Bulanan dengan sistem barchart pada akhir bulan dan untuk bulan-bulan berikutnya. Rencana kerja ini harus memperlihatkan tenggang waktu dari mulai sampai akhir kegiatan utama dengan volume pekerjaannya. Rencana kerja ini harus diserahkan pada Direksi pada hari ketiga tiap bulan untuk perbaikan dan perubahan. c) Rapat Bersama Untuk Pembicaraan Kemajuan Pekerjaan Rapat tetap antara Direksi dan Penyedia Jasa diadakan seminggu sekali pada waktu yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Maksud dari rapat ini membicarakan kemajuan pekerjaan yang sedang dilakukan, pekerjaan yang diusulkan untuk minggu selanjutnya dan membahas permasalahan yang timbul agar dapat segera diselesaikan. 2) Foto Dokumentasi Semua kegiatan dilapangan harus didokumentasikan dengan lengkap dan dibuatkan album foto berikut keterangan berupa tanggal pengambilan foto, lokasi dan penjelasan foto. Untuk setiap lokasi pekerjaan minimal dibuat 3 seri foto yaitu sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan setelah selesai dilaksanakan, dimana arah pengambilan melalui satu titik yang sama. Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi foto-foto yang dibuat oleh tukang yang berpengalaman.

39 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Foto-foto harus berwarna dan ditujukan sebagai laporan / pencatatan tentang pelaksanaan yaitu pada awal pertengahan dan akhir suatu bagian tertentu dari pekerjaan yang diperintahkan oleh Direksi. Pada setiap tahap pengambilan gambar untuk tiap lokasi, pengambilan harus dari titikk dan arah yang sama dan yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika mungkin maka pada latar belakang supaya diusahakan adanya suatu tanda khusus untuk memudahkan mengenali lokasi tersebut dan memperkirakan dimensi obyek yang akan difoto. Foto negatif dan cetakannya tidak boleh diubah atau ditambah apapun. Sebelum pengambilan gambar-gambar, maka harus dibuat rencana / denah yang menunjukan lokasi, posisi dari kamera juga arah bidikan yang kemudian diserahkan kepada Direksi untuk disetujui. Tiap foto berukuran 3R dan diberi catatan sebagai berikut :
-

Detail Kontrak Nama atau Lokasi Tanggal Pengambilan Tahap Pelaksanaan

Berita Acara Pembayaran dan Laporan Bulanan harus dilengkapi dengan suatu set pilihan foto-foto yang bersangkutan dengan periode tersebut. Juga pada akhir pelaksanaan Kontrak, maka foto-foto harus diserahkan kepada Direksi dalam albumalbum. Foto-foto ditempelkan dalam album secara beraturan menurut lokasinya masing-masing. Tiap obyek harus lengkap tahapnya yakni 0 %, 50 % dan 100 % dan ditempelkan pada satu halaman. Penyerahan dilakukan sebanyak 6 (enam) ganda bersama 1 (satu) ganda album negatifnya. Tiap album dan juga yang berisi negatif harus diberi keterangan atau tanda sama untuk memudahkan mengidentifikasi negatif dan cetakannya. Semua album menjadi milik Pemberi Tugas dan tanpa ijinnya tidak boleh diberikan / dipinjamkan kepada siapapun. 6) Kebutuhan Tenaga Ahli a) Field Supervision Team, kewajibannya sebagai berikut : i. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) melakukan pengendalian atas pelaksanaan civil works yang dilakukan oleh kontraktor tepat mutu, tepat biaya, dan tepat waktu. rujukan : dokumen kontrak. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) mendorong kontraktor untuk memenuhi kewajibannya dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang tercantum di dalam dokumen kontrak. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) dalam menyikapi contract change order / addenda yang diperlukan di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi oleh pelaksana. melakukan review design dan membantu pimbagpro fisik memerintahkan kepada kontraktor untuk menyesuaikan pekerjaannya dengan hasil review design. melakukan pengecekan, pengukuran, dan perhitungan volume setiap item pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor secara cermat sebagai bahan untuk menetapkan volume pekerjaan yang layak untuk dibayar oleh pemberi pekerjaan. melakukan pemantauan secara terus menerus pelaksanaan pekerjaan lapangan (yang dikerjakan oleh kontraktor) pengendalian mutu, dan kemajuan fisik / keuangan untuk menjamin kesesuaiannya dengan dokumen kontrak dan melaporkannya kepada pimpro pengawasan dan pimbagpro fisik.

ii.

iii.

iv. v.

vi.

40 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

vii. memeriksa dan menandatangani mc (monthly certificate) yang diajukan oleh kontraktor kepada pimpro pelaksanaan konstruksi (pimbagpro). viii. menyiapkan as built drawing. ix. menyiapkan laporan bulanan, laporan triwulan, dan laporan akhir proyek. x. menyiapkan data-data pelaksanaan konstruksi sesuai permintaan direksi/ pemberi kerja. xi. membantu pimbagpro fisik dalam pelaksanaan PHO. 6.3 Pengendalian Biaya, Mutu dan Waktu a) Umum Pengendalian biaya pekerjaan, pada umumnya terfokus pada kondisi rentabilitas, yaitu mengupayakan agar perimbangan antara pendapatan dan biaya pekerjaan tetap terjaga. Arti rentabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba. Jadi dapat diartikan bila pekerjaan dengan rentabilitas yang baik berarti pekerjaan tersebut dapat menghasilkan laba yang baik pula. Evaluasi biaya, sebagai bagian dari proses pengendalian biaya, biasanya menggunakan data yang berkaitan dengan data pendapatan (termasuk piutang yang belum cair) dan data biaya (termasuk hutang yang belum dibayar). Sedangkan data cash basis yaitu yang berkaitan dengan data penerimaan (cash in) dan data pengeluaran (cash out) sering luput dari perhatian, padahal data tersebut juga ada dan penting sekali untuk mendukung suatu keputusan keuangan. Data cash basis sebenarnya merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dikendalikan agar sasaran pekerjaan terutama laba dapat dicapai. Hampir semua usaha dapat dikatakan tidak dapat terbebas dari kebutuhan dana pinjaman, oleh karena itu dana pinjaman yang diperlukan untuk menutup cash flow yang defisit, harus dikendalikan agar bunga pinjaman yang harus dibayar cukup wajar. Dilihat dari sudut rentabilitas dan likuiditas kondisi pekerjaan dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu : i. rentabilitas bagus dan likuiditas bagus pekerjaan seperti ini yang selalu diharapkan karena labanya cukup besar dan pembayarannya lancar, sehingga labanya berwujud sebagai tunai, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya bagus (menguntungkan) dan pembayarannya juga lancar. ii. rentabilitas bagus dan likuiditas jelek pekerjaan seperti ini memerlukan perbaikan likuiditas yang mendesak. bila kondisi likuiditas jelek terus dan tidak dapat diperbaiki, dampaknya dapat mengurangi kondisi rentabilitas, seperti pekerjaan yang semula nilai kontraknya bagus tetapi dalam proses pembayarannya sering terhambat (tidak lancar). iii. rentabilitas jelek dan likuiditas bagus pekerjaan seperti ini memerlukan strategi pengendalian biaya dengan memanfaatkan likuiditas yang bagus sehingga dapat menolong kondisi rentabilitas menjadi lebih baik, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya cukup berat, tetapi semua pembayarannya sangat lancar. iv. rentabilitas jelek dan likuiditas jelek pekerjaan seperti sedapat mungkin dihindari atau dicegah sejak awal agar tidak terjadi, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya berat, ditambah lagi pembayarannya tidak lancar. oleh karena itu, pengendalian likuiditas pekerjaan perlu menjadi perhatian, terutama bagi para engineer dalam rangka pengendalian pekerjaan. b) Pengertian dan Maksud Pengendalian Biaya Pelaksanaan Pekerjaan

1) Pengendalian Biaya

41 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Yang dimaksud dengan pengendalian biaya pelaksanaan pekerjaan adalah semua upaya/usaha yang dilakukan oleh seluruh staf pekerjaan (Manajer Pekerjaan dan Staf) dan perusahaan, agar biaya pelaksanaan pekerjaan menjadi wajar, murah dan efisien sesuai dengan rencana dan atau hasil evaluasi yang dilakukan. Pengendalian biaya pelaksanaan pekerjaan terkait erat dan sangat dipengaruhi oleh : (1) Pengendalian waktu pelaksanaan pekerjaan (efek dari penambahan biaya tidak langsung) (2) Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan pekerjaan (efek dari pekerjaan ulang, finishing, pembongkaran, dan lain-lain yang harus menambah biaya lagi, yaitu biaya langsung maupun tidak langsung) (3) Pengendalian sistem manajemen operasional pekerjaan yang bersangkutan, yang kurang baik atau tidak konsisten dalam pelaksanaan / penerapannya (efek penambahan biaya karena in-efisiensi realisasi biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncanakan). Pengendalian yang diterapkan dalam operasional pelaksanaan pekerjaan tidak sekedar berarti pengawasan dan atau pemeriksaan obyek dan kejadian, tetapi lebih merupakan tindakan yang sekaligus merupakan aktifitas perencanaan, pengawasan, pemeriksaan, evaluasi dan tindakan pencegahan atau perbaikan c) Pelaksanaan Pengendalian Biaya di Pekerjaan Tindakan pengendalian yang lebih tepat disebut sebagai pengendalian operasional pelaksanan pekerjaan. Dilaksanakan sebagai langkah antisipasi dan pencegahan terhadap hal-hal yang secara luas mempengaruhi tercapainya nilai biaya pekerjaan yang wajar, murah dan efisien, dilakukan dengan dua cara : (1) Cara langsung Cara ini dilakukan dengan : - Peninjauan - Pengawasan - Pemeriksaan - Audit Sasaran yang dicapai:
- Mengetahui dan mendapat informasi - Evaluasi langsung pada obyek (pekerjaan) dan subyek (pelaksana) pekerjaan - Memberikan alternatif tindakan pencegahan dan perbaikan langsung atas

ketidaksesuaian proses hasil kerja dan perkiraan kejadian negatif yang akan timbul. Memastikan sasaran pengendalian:
- apakah waktu pelaksanaan dan progres fisiknya masih sesuai dengan rencana

atau jadwal pelaksanaan pekerjaan?


- apakah mutu hasil pekerjaan dan proses pelaksanaan pekerjaan memenuhi

standar spesifikasi teknis dan kontrak?


- apakah ada keluhan dari pemberi kerja atau yang terkait? - apakah hasil kerja dan proses tersebut bisa diterima dengan baik oleh pemilik

pekerjaan?
- apakah biaya pekerjaan sampai waktu itu masih memenuhi batasan rencana

anggaran pekerjaan? sebandingkah dengan produksi yang dihasilkan?


- alternatif tindakan apa yang harus dilakukan dengan adanya penyimpangan dan

ketidaksesuain yang telah diketahui sebab-sebabnya itu, guna mencapai sasaran seperti yang telah direncanakan sebelumnya? (2) Cara tidak langsung (a) Dokumen Pekerjaan

42 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Melalui Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) pekerjaan sebagai pedoman biaya pelaksanaan - termasuk dalam hal metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat dan efisien - termasuk dalam hal jadwal pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dan efektif - termasuk dalam hal unit price pekerjaan, material dan alat sesuai rencana yang wajar, murah dan efisien. (b) Melalui Rencana Arus Kas Pekerjaan (Cash Flow) Sebagai pedoman kerja dalam hal kondisi keuangan, agar selalu tercapai likuiditas pekerjaan yang berada dalam kondisi balance positif atau surplus. - dilakukan penagihan progress fisik (progress billing) yang intensif sesuai dengan batasan periode atau jumlah nilai penagihan tertentu dan ditindak lanjuti secepatnya dengan benar sehingga segera menjadi cash in (cair) - dilakukan evaluasi dan rencana pembayaran (pembelian) mendesak dan hutang jatuh tempo, sebagai tindakan prioritas pengunaan dana cash pada yang berkepentingan dengan mempertimbangkan batas waktu hutang jatuh tempo dan urgensi obyek yang harus diberikan dana tersebut. (c) Adanya dokumen kontrak dan tehnical specification, yang dalam hal ini menjadi batasan dan aturan pelaksanaan yang harus diikuti/dipenuhi Pelanggaran dan penyimpangan yang terjadi akan menimbulkan biaya tambahan (mungkin pembongkaran, perbaikan atau penalty/klaim dari pemilik pekerjaan), kecuali apabila penyimpangan tersebut sebelumnya telah direkomendasikan oleh pemilik pekerjaan sebagai langkah khusus dan legal (d) Melalui prosedur kerja dan instruksi kerja yang dibuat dan ditetapkan pada pekerjaan (perusahaan) yang bersangkutan. Jika pelaksanaanya tidak konsisten prosesnya pun akan tidak sesuai demikian juga mutunya atau hasil pekerjaannya pun menjadi rentan terhadap penambahan biaya mungkin untuk kerja ulang, pekerjaan finishing, dan lain-lain Kecuali bila hal tersebut sudah melalui perhitungan dan evaluasi bahwa hal-hal yang dilakukan demikian itu akan menghasilkan kerja dan proses kerja yang baik (keputusan berada pada Manajer Pekerjaan; alasan teknis harus wajar) (e) Laporan-laporan pekerjaan
-

melalui laporan harian pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh para pengawas kepada pelaksana utama atau site manajer melalui laporan mingguan pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh para koordinator pengawas atau pelaksana utama kepada site manager atau project manager melalui laporan bulanan hasil usaha pekerjaan atau operasional pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh site manager atau manajer pekerjaan kepada perusahaan / direksi.

Isi laporan mencakup hal-hal sebagai berikut : - realisasi progress fisik terhadap rencananya - rencana diambil dari rap / jadwal pelaksanaan pekerjaan - realisasi pendapatan dan biaya pekerjaan terhadap rencana-nya Rencana diambil dari RAP yang masih valid (RAP yang merupakan edisi / revisi terakhir) : - realisasi penerimaan dan pengeluaran dana pekerjaan terhadap rencana yang diambil dari rap / cash flow. - penjelasan atas upaya yang dilakukan pekerjaan untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian agar realisasi tercapai sesuai dengan yang direncanakan termasuk penjelasan upaya antisipasi pencegahan dan

43 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

perbaikannya (preventive action) untuk hasil usaha bulan berikutnya terhadap rencana sampai bulan depan foto-foto dokumentasi beberapa pekerjaan penting atau menonjol

2) Pengendalian Mutu Pengendalian mutu didefinisikan sebagai upaya pengawasan dan tindak turun tangan terhadap pelaksanaan pekerjaan konstruksi agar memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan di dalam Dokumen Kontrak. Prinsip dasar pengendalian mutu suatu pekerjaan dapat dilihat pada gambar. Pengukuran pengendalian mutu mencakup 2 (dua ) hal yaitu : - dimensi (panjang, lebar, tinggi, tebal, kemiringan, dsb) - kualitas (kepadatan, kuat tekan, daya dukung tanah, dsb) Terdapat tiga jenis pengendalian yang harus dilakukan, yaitu : pengendalian mutu bahan baku (seperti : tanah, batu,semen) pengendalian mutu bahan olahan (misalnya ; batu pecah hasil stone crasher, adukan semen, adukan beton dan lain-lain) - pengendalian mutu hasil pekerjaan (misalnya timbunan tanah, beton struktur dll).
-

Untuk setiap obyek yang akan diperiksa ada 5 data yang harus dicatat : nama pemeriksaan, metode pemeriksaan frekuensi pemeriksaan spesifikasi / persyaratan mutu : misalnya kepadatan 100% toleransi hasil : misalnya 0 % Keberhasilan pelaksanaan pembangunan konstruksi SDA, haruslah dinilai dari beberapa aspek, yaitu penyelesaian pekerjaan tepat waktunya sesuai kontrak, ukuran-ukuran sesuai dengan desain, kualitasnya memenuhi spesifikasi teknik, biayanya tidak melebihi anggaran yang telah ditetapkan dan selama pelaksanaan pekerjaan haruslah dijamin keselamatan dan keamanan pekerja ataupun pihak lain. Untuk mencapai maksud tersebut haruslah dilakukan pengendalian yang seksama selama proses pelaksanaan konstruksi, meliputi pengendalian biaya, mutu dan waktu. Prosedur pengendalian mutu dapat dilakukan sebagai berikut : a) Metode pengawasan kualitas pekerjaan, meliputi : (1) Pelaksanaan dan pengambilan sampel Tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan, yaitu: - memberi penjelasan dan latihan kepada semua unsur yang terkait dengan pelaksanaan tentang tata cara pelaksanaan. - mengawasi jalannya pelaksanaan sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang telah ditetapkan, mengambil benda-benda uji / sample untuk pemeriksaan, membuat laporan jalannya pelaksanaan, hasil pengujian lapangan dan bendabenda uji yang akan dikirim ke laboratorium (2) Tahap pemeriksaan Tahap pemeriksaan yaitu memeriksa laporan, hasil-hasil pengujian lapangan dan hasil pengujian laboratorium. Membuat kesimpulan-kesimpulan dari hasil pemeriksaan (3) Tahap tindak lanjut Tahap ini terdiri dari dua kegiatan, yaitu: - Jika hasil pemeriksaan berkesimpulan bahwa kualitas sudah sesuai dengan spesifikasi teknik, harus dibuat rekomendasi agar pekerjaan dilanjutkan berdasarkan tata cara pelaksanaan yang sudah ditetapkan.

44 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A -

Jika hasil pemeriksaan berkesimpulan tidak sesuai (tidak baik), haruslah dilakukan survai/penelitian apa penyebab dari ketidak sesuaian tersebut. Penyebab ketidak sesuaian pekerjaan tersebut ada beberapa kemungkinan : - tata cara pelaksanaan tidak dilaksanakan dengan baik, maka pekerjaan harus dibongkar dan di kerjakan ulang mengikuti tata cara pelaksanaan yang telah ditetapkan. - tata cara pelaksanaan itu sendiri tidak cocok untuk pekerjaan tersebut, maka tata cara pelaksanaan harus di perbaiki/diubah dan pekerjaan diperbaiki menurut cara baru

b) Penerapan standar/pedoman 1. Standar/pedoman spesifikasi Standar sesuai dengan spesfikasi mutu bahan atau pekerjaan yang tercantum dalam dokumen pekerjaan 2. Standar/pedoman pengujian Pengujian dilakukan berdasarkan standar-standar yang berlaku 3. Standar/Pedoman Tata Cara Pelaksanaan Pekerjaan Standar pelaksanaan ialah prosedur untuk menjamin tercapainya kualitas pekerjaan yang dikehendaki. Standar pelaksanaan mencakup beberapa aspek seperti pemilihan bahan, percobaan-percobaan, tata cara pelaksanaan (mengolah/meramu, mengangkut dan merekayasa). 3) Pengendalian Waktu Pengendalian waktu dapat dilakukan dengan cara pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang memuat masing-masing jenis pekerjaan. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan : i. kebutuhan dan fungsi pekerjaan tersebut dengan selesainya pekerjaan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan ii. keterkaitannya dengan pekerjaan berikutnya ataupun kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya. iii. alasan sosial politik lainnya, apabila pekerjaan tersebut milik pemerintah. iv. kondisi alam dan lokasi pekerjaan v. keterjangkauan lokasi pekerjaan ditinjau dari fasilitas perhubungannya vi. ketersedian dan keterkaitan sumber daya material, peralatan dan material pelengkap lainnya yang menunjang terwujudnya pekerjaan yang bersangkutan vii. kapasitas/daya tampung area kerja pekerjaan terhadap sumber daya yang dipergunakan selama operasional pelaksanaan berlangsung viii. produktivitas sumber daya, peralatan pekerjaan, dan tenaga kerja pekerjaan, selama operasional berlangsung dengan referensi dan perhitungan yang memenuhi aturan teknis ix. cuaca, musim, debit banjir, skala gempa tahunan, dan lain-lain x. referensi hari kerja efektif (pekerjaan) dengan mempertimbangkan hari-hari libur resmi nasional, daerah, dan hari-hari keagamaan, serta adat setempat dimana pekerjaan berada. xi. kesiapan sponsor pekerjaan atau sumber daya finansial pekerjaan atau ketersediaan dana pekerjaan yang bersangkutan. Pengendalian waktu dapat dikontrol dengan pembuatan jadwal pekerjaan. Beberapa jenis jadwal dapat dipergunakan, tergantung kepada kebutuhan pekerjaan antara lain adalah : a) Bar Charts Basic and Linked (Diagram Balok-Asli dan Terkait) b) Critical Path Method atau network planning 6.4 Pengukuran dan Pembayaran
45 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

1) Pengukuran a) Pekerjaan Tanah Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan tanah mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan penyelidikan geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 4, Pekerjaan Beton dan Bekisting e) Pekerjaan Batu Kosong dan Bronjong Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan batu kosong dan bronjong mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Pemancangan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pemancangan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 6, Pekerjaan Pemancangan g) Pekerjaan Lain-lain Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan yang bersifat lain-lain; misal : photo dokumentasi, gambar-gambar, perumahan dan lain yang terekam dalam dokumen kontrak mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 9, Pekerjaan Lain-lain 2) Dasar Pembayaran a) Pekerjaan Tanah Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan tanah mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan pengukuran topografi
46 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan penyelidikan geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 4, Pekerjaan Beton dan Bekisting e) Pekerjaan Batu Kosong dan Bronjong Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan batu kosong dan bronjong mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Pemancangan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pemancangan mengacu pada Pd Txx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 6, Pekerjaan Pemancangan g) Pekerjaan Lain-lain Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan yang bersifat lain-lain; misal : photo dokumentasi, gambar-gambar, perumahan dan lain yang terekam dalam dokumen kontrak mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 9, Pekerjaan Lain-lain

47 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Nomor Pembayaran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Uraian

Satuan Pengukuran

Mobilisasi dan Demobilisasi Jalan masuk dan jalan sementara Gambar konstruksi dan gambar purna laksana Pekerjaan Tanah Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Pekerjaan Beton Pekerjaan Pasangan Batu Kosong dan Bronjong Pekerjaan Pemancangan Pekerjaan Dewatering

Lump Sum Lump Sum Lump Sum Pd T-xx-200x, Bagian1 Pd T-xx-200x, Bagian2 Pd T-xx-200x, Bagian3 Pd T-xx-200x, Bagian4 Pd T-xx-200x, Bagian5 Pd T-xx-200x, Bagian6 Pd T-xx-200x, Bagian7

7.

PEKERJAAAN PEMELIHARAAN

Pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan mengacu pada Pd. T-11-2004-A, dengan kegiatan sebagai berikut : 7.1 Inventarisasi Kerusakan dan Survey Pengukuran Tujuan inventarisasi kerusakan dan survei pengukuran adalah untuk mendeteksi adanya gejala kerusakan sejak dini. Kegiatan ini dilakukan dengan memantau terjadinya perubahan geometri sungai dan bangunan persungaian yang dilakukan secara periodik. Yang perlu dicatat dalam peninjauan lapangan dan survei pengukuran adalah inventarisasi kondisi tiaptiap ruas sungai dan bangunan persungaian. Kegiatan ini ada 2 (dua) tingkat, yaitu : i. kegiatan tingkat I yang merupakan kegiatan langkah pertama yang cukup penting dan dilakukan secara rutin;

ii. kegiatan tingkat II yang meliputi pengumpulan data angkutan sedimen untuk digunakan sebagai analisis yang komprehensif dan rumit dalam komputer model. Kegiatan tingkat II ini dilakukan sebagai pelengkap kegiatan tingkat I. 1) Kegiatan Tingkat I Kegiatan ini dilakukan secara periodik . Data-data yang didapat bisa langsung digunakan untuk analisis kerusakan. Kegiatan ini meliputi : a) Penggal sungai Untuk tujuan pemeriksaan survei, sebuah sungai harus dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu hulu, tengah, hilir. Bagian paling hilir biasanya terdiri dari muara sungai terpengaruh oleh perubahan tinggi muka air laut, sedang sisanya adalah bagian tengah dan hulu yang panjang biasanya hampir sama. Karena keterbatasan daya, tenaga, serta dana, kegiatan pemeliharaan tidak dapat dilakukan secara serempak pada seluruh sungai. Untuk itu, setiap instansi pengelola sungai akan melakukan seleksi yang didasarkan pada ukuran sungai, pentingnya bangunan persungaian, dan pentingnya melakukan pemeliharaan.

48 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) Debit sungai Debit sungai didapat dari tinggi muka air yang dipasang pada daerah hulu dan daerah sungai tengah. Jika memungkinkan memanfaatkan bangunan yang sudah ada. Lengkung debitnya harus diperbarui dalam periode waktu tertentu, tergantung dari sifat hidrologis sungai. Jika terdapat bendung, untuk mendapatkan data debit, sebuah pencatat tinggi muka air harus dipasang pada bendung. Debit bendung yang didapat dari geometri mercu bendung harus dikalibrasikan dengan pengukuran debit sesungguhnya. Pencatat tinggi muka air bisa bersifat manual (peil skal) dan otomatis (automatic water level recorder). c) Survei sungai Pengukuran penampang melintang untuk seluruh ruas sungai harus dilakukan dengan interval jarak dan waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan (misalnya jarak tiap 1000 m, 2 tahun sekali, pada musim kemarau). Pengukuran dilakukan pada lokasi dan arah yang tetap. Untuk menjamin pengukuran pada lokasi dan arah yang sama, digunakan patok tetap utama PTU (BM Bench Mark) yang dipasang pada lokasi survei penampang melintang di 2 (dua) sisi sungai. Selain itu, PTU tersebut digunakan sebagai titik referensi untuk perubahan sungai arah vertikal akibat agradasi/degradasi dan perubahan sungai arah horizontal (ke arah samping), yang disebabkan oleh meandering atau tergerusnya tebing sungai. Selain PTU juga dapat dipasang patok tetap pembantu PTP (CP control point) yang dipasang dengan interval tertentu (misalnya tiap 100 m) pada lokasi yang diperlukan. d) Pemeriksaan dan survei bangunan persungaian Suatu ruas sungai perlu dilakukan monitoring jika ruas tersebut mengalami perubahan (perubahan vertikal ataupun horizontal) karena adanya erosi tebing, endapan sedimen atau adanya kegiatan galian pasir yang cukup besar dan terus menerus. Pemantauan alinyemen sungai pada ruas tersebut dilakukan dengan interval waktu sesuai dengan kebutuhan. Agar pemeliharaan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan, semua bangunan persungaian dan ruas sungainya harus dilakukan pemeriksaan secara berkala, sperti dijelaskan di bawah ini (1) Tebing sungai yang tererosi Setiap daerah tebing sungai yang sedang mengalami erosi harus dipasang PTU yang diletakkan pada tempat yang cukup aman pada dua sisi sungai. Lokasi tersebut penampang melintangnya harus dimonitor dengan interval waktu sesuai dengan kebutuhan, disarankan pada akhir musim hujan, minimum satu tahun sekali. Pengukuran sekurang-kurangnya pada tiga penampang melintang; satu di daerah tengah dan yang lainnya di hulu dan hilir. Jika panjang erosi 400 m, maka penampang melintang harus ada pada tiap-tiap 100 m. Perbandingan penampangmelintang tersebut dengan penampang melintang tahun lalu akan memberikan informasi yang sangat berguna apakah tebing sungai stabil atau tidak. Sebagian dari hasil survei akan ditambahkan dalam formulir inventarisasi yaitu Formulir-Kondisi Ruas Sungai dan Formulir- Penaksiran Pemeliharaan Ruas Sungai Kiri dan Formulir- Penaksiran Pemeliharaan Ruas Sungai Kanan.

49 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(2) Lokasi penambangan pasir Pada setiap lokasi yang terdapat penambangan pasir, harus dilakukan survei pengukuran tiap tahun dalam musim kemarau. Survei dilakukan pada tiga penampang melintang, yaitu ditengah, dibagian hulu dan hilir lokasi. Misalnya satu pada jarak 250 m ke arah hulu, dan 250 m ke arah hilir. Sebagian dari hasil survei akan ditambahkan dalam Formulir Formulir-Kondisi Ruas Sungai dan Formulir Formulir- Penaksiran Pemeliharaan Ruas Sungai Kiri dan Formulir- Penaksiran Pemeliharaan Ruas Sungai Kanan. (3) Muara sungai Pemantauan penampang melintang muara sungai beserta gosong-gosong pasirnya (sand bars) harus dilakukan sekali setahun pada musim kemarau. Pengukuran dimulai dari muara sungai ke arah hulu sekurang-kurangnya 1000 m atau sampai dengan penggal sungai yang sudah tidak terpengaruh air laut. Survei harus melingkupi seluruh timbunan pasir yang menutupi muara. Pengukuran penampang melintang minimum di tiga lokasi, dengan jarak tertentu sesuai dengan kebutuhan (misalnya : 200 m atau 2 kali lebar sungai), pada lokasi yang tetap. (4) Krib Bangunan krib akan diperiksa minimal setahun sekali pada akhir musim hujan. Hasil pemeriksaan dimasukkan dalam formulir inventarisasi, yaitu Formulir-Kondisi krib dan Formulir-Penaksiran pemeliharaan krib. e) Kegiatan awal Bagian ini akan meringkas kegiatan awal yang perlu dilakukan pada sistem sungai sebekum dilakukan pelaksanaan kegiatan berkala. Kegiatan tersebut adalah : i. Daftar sistem sungai Persiapkan daftar nama semua sungai untuk inventarisasi dan anak sungainya. ii. Prioritas sistem sungai untuk inventarisasi dan survei awal Karena keterbatasan dana dan tenaga tidak mungkin melaksanakan pemeliharaan bangunan persungaian secara serentak, oleh karena itu perlu dibuat daftar prioritas sungai mana yang akan dilakukan inventarisasi dan survei awal. iii. Program pemeriksaan, survei awal dan inventarisasi bangunan Pada saat pertama kali akan mulai, program tahunan harus dipersiapkan untuk melaksanakan kegiatan tingkat I. Program tersebut harus menjelaskan secara detail waktu pelaksanaan dari semua kegiatan yang terjadi. Kegiatan tersebut dilakukan oleh staf dari instansi pengelola sungai. Yang dikontrakkan ke pihak ketiga harus didefinisikan dengan jelas. 2) Kegiatan pada tingkat II Kegiatan ini adalah kegiatan pengumpulan data angkutan sedimen untuk digunakan sebagai analisis yang komprehensif. Dalam komputer model, kegiatan ini dilakukan untuk melengkapi kegiatan I. Kegiatan tingkat II ini dilakukan dengan interval yang lebih jarang dari kegiatan tingkat I. Data-data yang didapat harus dianalisis terlebih dahulu agar dapat dipergunakan untuk analisis kerusakan meliputi : a) Data angkutan sedimen Pengambilan angkutan sedimen dasar dan sedimen layang untuk analisis sedimen, dimulai dari bagian hulu dan tengah dari setiap panjang sungai yang diamati,

50 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

dilakukan dengan interval waktu sesuai dengan kebutuhan. Jika dilakukan pengamatan angkutan sedimen, satu set pengamatan harus diambil pada lokasi pengukuran sekurang-kurangnya dua kali di musim hujan, dan satu kali pada musim kemarau. Pengamatan tersebut juga harus terdiri atas pengukuran debit harian selama tujuh hari berturut-turut. Angkutan sedimen layang (suspended sediment) harus diambil secara vertikal pada lokasi , , dan dari lebar sungai. Angkutan sedimen dasar (bed load) diambil dari tempat yang sama. 3) Ringkasan Pemeriksaan dan Survei Bagain ini memperlihatkan tabel kegiatan tingkat I yang terdiri atas pemeriksaan dan survei sesuai dengan penjelasan di atas. Pekerjaan tersebut dibagi dalam kegiatan awal dan kegiatan berkala. Pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan atau diawasi oleh staf dari instansi pengelola sungai, khusunya yang bertugas pada pemeliharaan sungai. 7.2 Perencanaan dan Pelaksanaan Pemeliharaan Konsep usulan program pemeliharaan adalah : a) pencegahan terjadinya permasalahan (kerusakan)walaupun kerusakan belum terlihat b) perbaikan kerusakan yang tidak diharapkan segera setalah kejadian sehingga kerusakan yang lebih parah tidak terjadi Jadi pemeliharaan merupakan pencegahan dan koreksi, baik yang bersifat permanen maupun yang dilaksanakan untuk sementara (darurat). 2) Pemeliharaan Pencegahan Pemeliharaan pencegahan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memelihara fungsi sungai dan bangunan persungaian agar tetap optimal. Kegiatan tersebut termasuk pekerjaan yang bersifat rutin, misalnya pemotongan rumput/semak/semak, pembersihan bahan-bahan terapung seperti dahan/ranting pohon yang tersangkut pada bangunan sungai. Pemeliharaan pencegahan juga termasuk pemeliharaan berkala yang dilakukan dengan interval yang terputus-putus dengan tujuan untuk melestarikan (mengawetkan) fungsi dari bangunan persungaian. Selain itu, pekerjaan perbaikan yang kecil pada bangunan persungaian bertujuan untuk mengembalikan bangunan itu sesuai dengan kapasitas semula. 3) Pemeliharaan Darurat Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan pencegahan yang harus segera dilaksanakan untuk melindungi keutuhan dan kekuatan bangunan (dalam skala besar) yag akan atau telah mengalami kerusakan sehingga kerusakan bangunan tidak menjadi lebih parah dan dapat mengancam fungsi bangunan. Pekerjaan pemeliharaan darurat bisa bersifat pemeliharaan pencegahan atau pemeliharaan korektif yang berskala besar, tetapi bangunan atau pelaksanaannya bersifat sementara. 4) Pemeliharaan Korektif Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang mencoba untuk mengembalikan ke fungsi semula sungai atau bangunan persungaian yang rusak atau terkena pengaruh aliran sungai atau akibat ulah manusia. Pemeliharaan korektif ini biasanya terdiri dari beberapa pekerjaan penting. Pemeliharaan korektif dibagi dalam tiga kategori, yaitu pemeliharaan khusus, rehabilitasi dan rektifikasi. 1) Tujuan Pemeliharaan

51 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Pemeliharaan khusus adalah pekerjaan pemeliharaan dengan cara memperbaiki kerusakan sebuah bangunan persungaian atau bagiannya yang saat itu fungsinya antara 70% samapai dengan 50% dari desain aslinya. Rehabilitasi adalah pekerjaan perbaikan utuk mengembalikan fungsi bangunan persungaian yang telah turun sampai kurang dari 50% dari desain asli. Rektifikasi sistem bangunan merupakan kegiatan pemeliharaan bangunan sungai yang mengalami kerusakan atau belum rusak tetapi kondisinya sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, sistemnya harus diperbaiki secara keseluruhan dengan menggunakan perencanaan baru yang menyeluruh dan terpadu Pemeliharaan korektif ini harus segera dilakukan untuk menghindari kerusakan atau penurunan fungsi bangunan yang lebih parah.

52 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Bibliografi

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Pd. T-11-2004-A,Pemeliharaan Bangunan Persungaian, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-3444-1994, Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai Tampang Ganda dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2819-1992, Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Alat Ukur Arus Tipe Baling-baling, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2820-1992, Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka dengan Pelampung Permukaan, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2822-1992, Metode Pembuatan Lengkung Debit dan Tabel Sungai/Saluran Terbuka dengan Analisa Grafis, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2830-1992, Metode Perhitungan Tinggi Muka Air Sungai dengan Cara Pias Berdasarkan Rumus Manning, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2400-1991,Tata Cara Perencanaan Umum Krib di Sungai, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-2415-1991, Metode Perhitungan Debit Banjir, Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, SNI 03-1724-1989, Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk Bangunan di Sungai. Jakarta. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Badan Penelitian dan Pengembangan, 2002, KP-07, Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama, Jakarta. Pd T-xx-xxxx,A Konsep Pedoman Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Pembangunan Pengaman Sungai, Bagian 1, Krib Yusuf Muhammad Ir. dan Gayo dkk, PT. Pradnya Mitra, 1994, Perbaikan dan Pengaturan Sungai, Jakarta

53 dari 120

STUDI IDENTIFIKASI STUDI AWAL

STUDI KELAYAKAN

STUDI PENGENALAN

STUDI IDENTIFIKASI

LAMPIRAN A

Lampiran A.1 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Krib

54 dari 120
PERENCANAAN PENDAHULUAN

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

PERENCANAAN PENDAHULUAN DESKRIPTIF

EKONOMI DOMINAN RENCANA PETA SUNGAI

YA

TIDAK

ANALISA KELAYAKAN

DATA NONTEKNIS

TIPE PENGAMANAN SUNGAI

LAYAK ?

TIDAK

BATAL

YA

- TINJAU KEMBALI DATA - PENGUMPULAN DATA TAMBAHAN -SURVEI DAN PENYELIDIKAN TAMBAHAN

- PENYELUSURAN BERSAMA AHLI SIPIL, GEOTEKNIK, GEODETIK - CEK LOKASI BANGUNAN DAN RENCANA PENYELIDIKAN

PENYELUSURAN BERSAMA SIPIL GEOTEKNIK, GEODETIK UNTUK CHECKING ELEVASI, DAN SITUASI

- PENGUKURAN TRASE SUNGAI, DAN SITUASI BANGUNAN - PENYELIDIKAN GEOTEKNIK

PERMASALAHAN ?

LOKASI BANGUNAN PENGAMAN SUNGAI

55 dari 120

PERENCANAAN DETAIL

56 dari 120
PERENCANAAN DETAIL

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Lampiran A.2 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Perencanaan Krib

57 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Lampiran A.3 Contoh KAK Pekerjaan Perencanaan Pendahuluan dan Studi Kelayakan

1.

LATAR BELAKANG Cakupan isi latar belakang dalam penyusunan kerangka acuan kerja, menguraikan : Menginformasikan tentang letak administratif daerah pekerjaan Menginformasikan kondisi daerah pekerjaan yang meliputi kondisi topografi, geologi regional, kondisi klimatologi, kondisi hidrologi serta ekositem pada daerah pekerjaan - Kendala-kendala yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan - Maksud dan tujuan secara global dengan adanya kegiatan
-

2.

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk menyusun rencana pelaksanaan pekerjaan perencanaan pendahuluan bangunan krib yang berfungsi untuk pengaman tebing sungai.

2.1. Maksud

2.2. Tujuan Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk melakukan pengamanan tebing sungai agar tidak terjadi longsor atau gerusan pada lokasi pekerjaaan 3. SASARAN Sasaran pelaksanaan kegiatan perencanaan dan studi kelayakan adalah melakukan pengamanan tebing sungai dari bahaya gerusan lokal. 4. 5. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA Satuan Kerja Sementara..................................... SUMBER PENDANAAN Pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya kurang lebih Rp .....,- (..................Rupiah) termasuk PPN dibiayai APBN-P tahun Anggaran ........ 6. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG SERTA ALIH PENGETAHUAN Lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : a) Pengumpulan Data Sekunder (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989. Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000.

6.1. Lingkup Kegiatan

58 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi diantaranya berupa : i. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) ii. data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA). iii. data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh pada Instansi BMG iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. (4) Data Bangunan Air di Sungai Data yang dimaksudkan adalah tempat dan jenis semua bangunan air serta bangunan umum lainnya yang dibangun di sungai yang mempunyai dampak timbal balik terhadap kondisi morfologi sungai baik di hulu maupun di hilir rencana bangunan sesuai dengan SNI 03-2400-1991 (5) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah

ii. komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air iii. komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lain-lain. iv. rencana tata ruang wilayah b) Survey (1) Pengukuran Topografi dan Pemetaan

59 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Melakukan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan untuk mendapatkan peta topografi ukuran 1:1.000 atau 1:2.000, kegiatan pengukuran dan pemetaan mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. i. pengukuran dilakukan di sekitar lokasi bangunan krib sepanjang minimum 200 m ke hulu dan ke hilir dari rencana lokasi bangunan krib ii. iii. pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran memanjang dan melintang untuk mengetahui profil morfologi sungai pemasangan patok BM di kanan dan di kiri rencana lokasi sepanjang bangunan krib

(2) Survey Hidrometri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geometri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai yang terbuka lurus. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran. Jika aliran rendah, pengukuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim. Jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik kemampuan tim pengukurnya

ii. iii.

iv.

v.

Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kerata gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992. (3) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor adalah melakukan identifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan lain yang sedang atau akan dilakukan oleh pihak yang berwenang lainnya sesuai dengan KP01, SK DJ

60 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. c) Investigasi (1) Sungai (a) Sampling Sedimen Layang Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan pada lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai sesuai dengan SNI 03-3414-1994. (b) Sampling Sedimen Dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat. Metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. (2) Geoteknik Investigasi geoteknik yang dilakukan adalah pengambilan sampel tanah serta pelaksanaan pemboran. Kegiatan investigasi geoteknik mengacu dan berpedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. d) Uji Laboratorium (1) Sedimen Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. (a) Sedimen Layang, pengujian dilakukan dengan prinsip sebagai berikut : i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 033414-1994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer sesuai dengan SNI 03-4145-1996. ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen sesuai dengan SNI 03-3961-1995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai dengan SNI 03-3962-1995. (b) Sedimen Dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. (2) Geoteknik (Index dan Engineering Properties) Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan index properties dan engineering properties mengacu dan bepedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman

61 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. e) Analisis dan Perencanaan Kegiatan analisis yang dilakukan pada kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : (1) Hidrologi Analisis hidrologi pada kegiatan ini adalah melakukan analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS SNI 03-24151991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut : i. jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal

ii. jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun, maka digunakan metode analisis regional, iii. jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun, maka digunakan Metode puncak banjir di atas ambang, iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir berdasarkan parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :
-

Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha) Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas < 100 km2 Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas > 100 km2 Haspers digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa memperhatikan luas DAS Metode Hidrograf Satuan Metode US Soil Conservation Service

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. (2) Muatan Sedimen Analisis laju muatan sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, Engelund-Hansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. (3) Analisis Hidrolika Analisis hidrolika pada perencanaan bangunan krib, meliputi : (1) Analisis Lengkung Debit Pembuatan lengkung debit digunakan untuk menentukan elevasi mercu krib berdasarkan besarnya debit banjir rencana. Lengkung debit menampikan besarnya hubungan tinggi muka air dan debit. Jika data debit yang ada minimal 10 buah data debit dari hasil pengukuran yang meliputi keadaan
62 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

debit minimum sampai maksimum maka dapat digunakan dengan analisis grafis dan jika kecepatan aliran pada tinggi muka air tertinggi belum atau tidak dapat diukur maka dapat dihitung dengan persamaan hidrolis sesuai dengan SNI 2822-1992 . (2) Analisis Parameter Hidraulik Analisis parameter hidarulik disini meliputi debit, tinggi air, kecepatan aliran, kekasaran, tekanan, gaya seret, arah aliran dan jenis aliran yang berkaitan dengan keadaan geometri sungai (profil basah, keliling basah dan jari-jari hidraulik) sesuai dengan SNI 03-2400-1991. Parameter hidarulik di atas dapat diketahui dengan cara menggunakan cara pembagian pias berdasarkan persamaan manning jika sungai berpenampang tunggal sesuai dengan SNI 03-2830-1992 dan jika sungai berpenampang ganda dapat digunakan metode penampang ganda berdasarkan SNI 03-3444-1994. (4) Perencanaan Krib Perencanaan krib harus memuat tentang dimensi krib (elevasi mercu krib, panjang krib, jarak krib, dimensi tiang, jarak antar tiang dan panjang tiang); stabilitas dan kekuatan krib dan stabilitas tanah dasar pondasi sesuai dengan SNI 03-2400-1991. (5) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan normalisasi sungai yang merlukan kajian ANDAL adalah sebagai berikut : i. jika lokasi pekerjaan berada di kota besar/metropolitan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 5 km dan volume pengerukan 500.000 m3

ii. jika lokasi pekerjaan berada di kota sedang maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 10 km dan volume pengerukan 500.000 m3 iii. jika lokasi pekerjaan berada di pedesaaan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 15 km dan volume pengerukan 500.000 m3 Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i. identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup

ii. identifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting iii. perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup iv. perumusan RKL dan RPL (6) Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakukan dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. ii. Economic Internal Rate of Return (EIRR) Benefit/Cost ratio (B/C ratio)
63 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. 6.2. Lokasi Kegiatan Lokasi pelaksanaan Kabupaten......... pekerjaan berada di Sungai.............Kecamatan ...........

6.3. Data dan Fasilitas Penunjang Serta Alih Pengetahuan 6.3.1. Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang 1) Penyediaan oleh Pengguna Jasa Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : a) Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu b) Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan) c) Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi 2) Penyediaan oleh Penyedia Jasa Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. a) Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi. b) Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktuwaktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 6.3.2. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung Dalam pelaksanaan pekerjaan perlu melibatkan personil baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dengan ketentuan dan persyaratan sebagai berikut : 1) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertfikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. 2) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung sifatnya mendukung tenaga ahli dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam segi teknis, urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 6.3.3. Persyaratan Pelaksanaan Dalam hal persyaratan pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus memperhatikan berikut ini :

64 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

1) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. 2) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan. 7. METODOLOGI Metodologi yang dilakukan dalam perencanaan ini yaitu pengumpulan data sekunder (topografi, hidrologi, geologi regional), pengumpulan data primer (survey pengukuran dan pemetaan, survey hidrometri dan penyelidikan geoteknik), pengolahan data dan perencanaan bangunan. 8. 9. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini diperkirakan ....... (....................) hari kalender PERSONIL TENAGA AHLI Keperluan tenaga ahli untuk penyelesaian pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Ketua Tim (Team Leader) Ketua Tim disyaratkan seorang Ahli Sumber Daya Air Profesional Utama/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Ait dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 10 tahun. 2. Tenaga Ahli Sungai Tenaga Ahli Sungai adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 3. Tenaga Ahli Hidrologi Tenaga Ahli Hidrologi adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 7 tahun. 4. Tenaga Ahli Hidraulik Struktur Tenaga Ahli Hidraulik Struktur adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 5. Tenaga Ahli Geodesi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Geodesi Strata Satu (S.1) lulusan universitas perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Geodesi subbidang Survey Topografi sekurangkurangnya.6 (enam) Tahun Lulusan pendidikan Sarjana Geodesi (S1) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun. 6. Tenaga Ahli Geoteknik

65 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Tenaga Ahli Geoteknik adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, penyelidikan dan supervisi geoteknik dengan pengalaman minimal 10 tahun 7. Tenaga Ahli Lingkungan Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Biologi Strata Satu (S1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Lingkungan subbidang Analisis Lingkungan sekurang-kurangnya 5 (lima) Tahun. Sebagai pelaksana dan penanggung jawab pekerjaan pengembangan Sumber Daya Air di bidang lingkungan. 8. Tenaga Ahli Sosial Ekonomi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Ekonomi Strata Satu (S.1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Analisis Ekonomi subbidang Analisis Sosial Ekonomi sekurang-kurangnya.5 (lima) Tahun. Ahli Sosial - Ekonomi bertugas melakukan evaluasi dan analisis bidang ekonomi yang meliputi : Analisa Nilai Bersih Sekarang (NPV), Nisbah Biaya Keuntungan (BCR), dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) dan Titik Impas (BEP) serta menganalisis dampak sosial yang mungkin akan timbul akibat dari pelaksanaan pembangunan konstruksi. 9. Chief Surveyor Tenaga Chief Surveyor dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 7 (tujuh) tahun atau STM Bangunan Air, atau lebih baik dari pendidikan tenaga survey dan pemetaan (PTSP) dengan pengalaman sedikitnya 8 (delapan) tahun dalam menangani pengkuran topografi dibidang keairan antara lain : sungai, irigasi, dan lain-lain. 10. Chief Draftman Tenaga Chief Draftman AutoCAD dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 5 (lima) tahun atau STM Bangunan air dengan dengan pengalaman minimal 8 (delapan) tahun dalam menangani gambargambar dibidang keairan. 10. KELUARAN Keluaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah : i. kajian pendahuluan penentuan krib ii. kelayakan ekonomis iii. gambar teknis pendahluan 11. LAPORAN Jenis laporan dan gambar yang akan diserahkan oleh Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa adalah : 1. Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metode-metode yang akan digunakan Penyedia Jasa dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ......... (tgl/bulan/tahun) 2. Laporan Bulanan

66 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Laporan Bulanan menginformasikan tentang pelaksanaan progres pekerjaan dan tahap pelaksanaan pekerjaan untuk bulan berikutnya Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tiap seminggu sebelum akhir bulan 3. Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep perencanaan krib Laporan Interim akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ................(tgl/bulan/tahun) 4. Laporan Akhir Laporan Akhir harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, analisis laju sedimen, dimensi dan layout check dam, analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) dan analisis Benefit/Cost Ratio dan Economic Internal Rate of Return. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal...........(tgl/bln/thn) 5. Gambar Teknis Produk gambar yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : i. peta situasi bangunan dengan skala 1 : 200 ; ii. gambar potongan memanjang dan melintang bangunan bendung 1 : 100 1 : 200 iii. gambar detail bangunan Skala 1 : 50 1 : 200. Album gambar akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ...........(tgl/bln/thn) 6. Laporan Penunjang Laporan penunjang dalam kegiatan ini meliputi : i. Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan Pemetaan Buku ukuran dan laporan pengukuran topografi dan pemetaan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 15 Agustus 2005 Laporan Penyelidikan Geoteknik harus diserahkan oleh Penyedia Jasa selambat-lambatnya tanggal ...........(tgl/bln/thn) iii. Laporan Analisis Dampak Lingkungan Laporan Analisis Dampak Lingkungan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ...........(tgl/bln/thn) iv. Laporan Analisis Ekonomi Laporan Laporan Analisis Ekonomi harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ...........(tgl/bln/thn) 12. PENGENDALIAN MUTU Agar dalam pelaksanaan pekerjaan memenuhi sasaran maka perlu dilakukan pembahasan seperti berikut ini :

ii. Laporan Penyelidikan Geoteknik

67 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

1. Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui sejauh mana progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang diperlukan 2. Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3. Diskusi Pertengahan/Interim dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan/interim 4. Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan

68 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

LAMPIRAN B Lampiran B.1 Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan Kegiatan Detail Desain Krib
MULAI

Pengumpulan Peta Topografi

Pengumpulan Peta Geologi Regional

Pengumpulan Data Hidrologi & Peta DAS

Pengumpulan Data Sosek

Pengumpulan Data Multisektor

LAPORAN PENDAHULUAN

DISKUSI PENDAHULUAN

TIDAK

YA

Pengukuran Topografi

Penyelidikan Geoteknik Lapangan

Survey Hidrometri : -Sampling Sedimen -Pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit

PEMETAAN & PENGGAMBARAN

Penyelidikan Geoteknik Laboratorium

Uji sampling sedimen Laboratorium

Analisis Hidrologi (Debit Banjir Rancangan)

Analisis Hidarulika dan Transport Sedimen

Analisis Sosek

KONSEP DESAIN BENDUNG

LAPORAN INTERIM

TIDAK

DISKUSI INTERIM

YA

FINAL DESAIN KRIB

ALBUM GAMBAR DESAIN

ANALISIS EKONOMI TEKNIK

Penysunan Andal

Penyusunan BOQ dan RAB

DRAFT FINAL LAPORAN AKHIR

DISKUSI LAPORAN AKHIR

TIDAK

YA

FINAL LAPORAN AKHIR , terdiri : - Laporan Akhir - Laporan Analisis Sosek - Laporan Kajian Andal - Laporan Investigasi Geoteknik - Laporan Survey Pengukuran Topografi dan Pemetaan - Gambar Teknik - BOQ dan RAB - Dokumen Tender

SELESAI

69 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

LAMPIRAN B.2 Contoh Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Detail Desain Krib 1. LATAR BELAKANG Cakupan isi latar belakang dalam penyusunan kerangka acuan kerja, menguraikan :
- Menginformasikan tentang letak administratif daerah pekerjaan - Menginformasikan kondisi daerah pekerjaan yang meliputi kondisi topografi, geologi

regional, kondisi klimatologi, kondisi hidrologi serta ekositem pada daerah pekerjaan
- Kendala-kendala yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan - Maksud dan tujuan secara global dengan adanya kegiatan

2.

MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk menyusun rencana pelaksanaan pekerjaan perencanaan pendahuluan bangunan krib yang berfungsi untuk pengaman tebing sungai.

2.1. Maksud

2.2. Tujuan Tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk melakukan pengamanan tebing sungai agar tidak terjadi longsor atau gerusan pada lokasi pekerjaaan 3. SASARAN Sasaran dari pelaksanaan kegiatan detail desain pembangunan krib adalah pengamanan badan sungai dari bahaya gerusan lokal sehingga kondisi palung sungai dapat berfungsi sebagaimana mestinya 4. 5. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA Satuan Kerja Sementara..................................... SUMBER PENDANAAN Pelaksanaan kegiatan ini diperlukan biaya kurang lebih Rp .....,- (..................Rupiah) termasuk PPN dibiayai APBN-P tahun Anggaran ........ 6. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG SERTA ALIH PENGETAHUAN Lingkup pekerjaan yang dilakukan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : 6.1.1. Pengumpulan Data Sekunder Kegiatan pengumpulan data sekunder dapat dilakukan oleh Penyedia Jasa dengan melakukan kunjungan ke instansi-instansi terkait. Kegiatan pengumpulan data sekunder untuk pekerjaan detail desain bangunan krib meliputi : (1) Data Topografi Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data peta topografi yang sudah ada, dimana keadaan topografi suatu daerah akan mempengaruhi bentuk dan ukuran suatu DAS. Peta topografi yang dikumpulkan harus menampilkan kondisi tata guna lahan pada daerah studi, dimana kondisi tata guna lahan akan berpengaruh terhadap laju erosi, kecepatan aliran permukaan dan daya infiltrasi sesuai dengan SNI 03-1724-1989.

6.1. Lingkup Kegiatan

70 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Perolehan peta topografi dapat diperoleh dari Instansi yang berwenang, misalkan pihak Pengguna Jasa seperti PSDA berdasarkan peta yang ada serta skala dengan tingkat ketelitian yang ada. Jika di Instansi terkait tidak didapat maka pihak Penyedia Jasa dapat memperoleh di BAKOSURTANAL dengan skala minimum 1 : 250.000. (2) Data Hidrologi Kegiatan pengumpulan data hidrologi berupa pengumpulan peta stasiun curah hujan, besarnya curah hujan, data meteorologi, debit historis baik debit minimum, rata-rata dan debit maksimum pada suatu daerah aliran sungai (DAS) yang pelaksanaan kegiatannya sesuai SNI 03-1724-1989. Berbagai data dan informasi diantaranya berupa : i. ii. iii. peta stasiun curah hujan dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) data curah hujan harian (terbaru) dapat diperoleh dari Instansi BMG dan mungkin juga Pengelola Sumber Daya Air (PSDA). data meteorologi berupa kondisi temperatur udara, kelembaban relatif, lama penyinaran dan kecepatan angin. Perolehan data dapat diperoleh dari Instansi BMG

iv. data debit terbaru dengan periode harian maupun bulanan, minimum selama 5 tahun, yang didapat dari pengelola bangunan-bangunan sungai eksiting misalkan bendung. (3) Data Geologi Kegiatan pengumpulan data geologi adalah pengumpulan peta geologi regional yang memuat jenis batuan, penyebaran jenis batuan, sifat fisik batuan serta tekstur dan struktur tanah dengan skala minimum 1:250.000 sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Peta geologi regional dapat diperoleh di Direktorat Geologi Tata Lingkungan, jika tidak didapat maka pengumpulan data dapat diperoleh dari Instansi terkait. (4) Data Bangunan Air di Sungai Data yang dimaksudkan adalah tempat dan jenis semua bangunan air serta bangunan umum lainnya yang dibangun di sungai yang mempunyai dampak timbal balik terhadap kondisi morfologi sungai baik di hulu maupun di hilir rencana bangunan sesuai dengan SNI 03-2400-1991 (5) Data Aspek Multisektor Kegiatan pengumpulan data aspek multisektor dengan melakukan pengumpulan data yang berupa informasi lingkungan yang menginformasikan tentang kondisi kependudukan dan penggunaan air sesuai dengan KP01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. Informasi lingkungan dapat diperoleh dari dari BPS, PSDA, dan BAPEDAL. Data-data tersebut meliputi : i. ii. komponen lingkungan fisik-kimia yang terdiri dari iklim, fisiografi dan geologi, hidrologi/kualitas air, ruang lahan dan tanah komponen biologi yang terdiri dari kondisi flora, fauna dan biota air

71 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iii.

komponen sosial, ekonomi dan budaya yang meliputi jumlah penduduk, tingkat pendidikan, mata pencaharaian dan pendapatan asli daerah (PAD) dan lain-lain.

iv. rencana tata ruang wilayah 6.1.2. Survey a) Pengukuran Topografi dan Pemetaan Pelaksanaan kegiatan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan. Kegiatan ini akan dilakukan oleh Penyedia Jasa jika kondisi topografi daerah pekerjaan banyak mengalami perubahan alur sungai baik yang diakibatkan oleh bencana atau proses alamiah lainnya sehingga validitas data yang sudah ada diragukan lagi. Cakupan kegiatan pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan untuk keperluan kegiatan detail desain krib meliputi : (1) Pemetaan situasi sungai Pemetaan situasi sungai dimana bangunan utama akan dibuat dengan skala minimum 1 : 2000. Peta ini harus meliputi jarak 1,0 km ke arah hulu dan ke hilir dari letak bangunan krib rencana dan melebar 250 m dari masing-masing tepi sungai. Peta ini juga harus dilengkapi dengan garis ketinggian setiap 1,0 m, kecuali dasar sungai diperlukan garis ketinggian setiap 0,50 m. Peta ini harus mencakup lokasi alternatif yang sudah diidentifikasi serta panjang yang diliput harus memadai agar diperoleh informasi mengenai bentuk denah sungai dan juga untuk merencanakan tata letak dan trase tanggul penutup. Peta situasi juga harus menampilkan titik-titik tetap (benchmark) yang ditempatkan di sekitar daerah pemetaan, lengkap dengan koordinat dan elevasinya. (2) Pengukuran detail situasi bangunan krib Pengukuran detail ini menghasilkan peta berskala 1 : 200 atau 1 : 500. Peta detil harus memperlihatkan bagian-bagian lokasi bangunan secara lengkap. Peta ini harus dilengkapi dengan titik ketinggian dan garis ketinggian yang tepat setiap 0,25 m. b) Survey Hidrometri Sesuai dengan SNI 03-2414-1991 pelaksanaan pengukuran debit perlu diperhatikan ketentuan dan persyaratan yang meliputi : i. lokasi pengukuran debit perlu diperhatikan faktor : kesesuaian dengan perencanaan ; mudah pencapaian dalam segala situasi dan kondisi; mampu melewatkan banjir; geometri dan badan sungai harus stabil; adanya kontrol penampang; bagian alur sungai yang terbuka lurus. pertimbangan hidraulik meliputi : pola aliran yang seragam dan mendekati sub kritis; tdak terkena pengaruh arus balik dan aliran lahar lama dan periode pelaksanaan : lama pengukuran debit tergantung dari keadaan aliran pada saat pengukuran. Jika aliran rendah pengkuran debit dilaksanakan dua kali dalam sekali periode waktu pengukuran dan jika kondisi banjir pengukuran debit dilaksanakan sekali dalam periode waktu pengukuran sedangkan periode pelaksanaan pengukuran tergantung dari musim. Jika musim kemarau pengukuran debit dilaksanakan cukup sekali dalam satu bulan dan jika musim penghujan pelaksanaan pengukuran dilaksanakan berulang kali paling sedikit 3 kali setiap bulannya
72 dari 120

ii. iii.

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

iv. keandalan peralatan dan sarana penunjang; peralatan dan sarana penunjang harus dipelihara agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya antara lain dengan kalibrasi secara berkala, dibersihkan dan dirawat dengan baik v. kemampuan tim pengukurnya Pelaksanaan pengukuran tinggi muka air, kecepatan dan debit dapat digunakan alat ukur arus tipe baling-baling. Cara pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan merawas, menggunakan perahu, menggunakan jembatan dan menggunakan kereta gantung. Kedalaman pengukuran minimal 3,5 kali diameter baling-baling sesuai dengan SNI 03-2819-1992. Jika metode pelaksanaan pengukuran di atas tidak dapat dipergunakan karena berbagai hal, misal keadaan aliran membahayakan keselamatan petugas atau peralatannya; kecepatan aliran melampaui kemampuan spesifikasi alat menurut jenis alat ukur arus yang digunakan dan untuk mendapatkan debit sesaat, maka dapat dilakukan pengukuran dengan pelampung permukaan sesuai dengan SNI 03-2820-1992. c) Survey Aspek Multisektor Kegiatan survey aspek multisektor adalah melakukan identifikasi dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pekerjaan lain yang sedang atau akan dilakukan oleh pihak yang berwenang lainnya sesuai dengan KP 01, SK DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentang tahapan studi pelaksanaan pekerjaan. 6.1.3. Investigasi atau Penyelidikan a) Sungai Kegiatan investigasi atau penyelidikan sungai bertujuan untuk mendapatkan karakteristik sungai baik terhadap sedimentasi. Kegiatannya meliputi : (1) Sampling Sedimen Layang Kegiatan investigasi sungai adalah pengambilan sampel sedimen baik dasar maupun layang, pengambilan sampel sedimen layang dilakukan di lokasi yang tidak terpengaruh adanya aliran balik yang diakibatkan oleh bangunan air dan sebelum dilakukan kegiatan pengambilan sampel perlu dilakukan kegiatan pengukuran yang meliputi penampang melintang dan debit. Perletakan peralatan pada lubang pengambilan harus berada 10 cm di atas dasar sungai SNI 03-3414-1994. (2) Sampling Sedimen Dasar Sampel diambil dari dasar sungai pada penampang memanjang dan penampang melintang ditempat yang dianggap dapat mewakili kondisi material dasar sungai setempat. Metode pengambilan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. b) Geoteknik Lapangan Kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan diperlukan untuk mengetahui data karakteristik mekanika tanah lokasi krib. Penyelidikan geoteknik lapangan mencakup kegiatan pemboran, pengambilan sampel serta bor tangan. Pelaksanaan kegiatan penyelidikan geoteknik lapangan mengacu pada pada Pd T-xx-200x, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik.

73 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

6.1.4. Uji Laboratorium a) Sedimen Analisis laboratorium sedimen diperlukan untuk mengetahui karakteristik sedimen yang terbawa oleh aliran sungai. (1) Sedimen Layang i. jika pengambilan contoh benda uji sedimen sesuai dengan SNI 033414-1994, maka metode pengujian laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kadar sedimen layang digunakan peralatan Piknometer SNI 03-4145-1996. ii. jika pengambilan contoh benda uji sedimen layang dalam pengambilannya dilakukan dengan cara mencelupkan botol pada posisi berada 20 cm di bawah permukaan air dengan posisi mulut botol berlawanan dengan arah aliran maka metode pengujiannya dilakukan secara gravimetri dengan pengendapan untuk mengetahui kadar sedimen sesuai dengan SNI 03-3961-1995. Sedangkan untuk mengetahui distribusi butiran maka dilakukan uji gravimetri dengan ayakan sesuai dengan SNI 03-3962-1995. (2) Sedimen Dasar Pengujian sampel sedimen dasar dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. b) Geoteknik Laboratorium (Index dan Engineering Properties) Analisis laboratorium geoteknik untuk keperluan index properties dan engineering properties mengacu dan bepedoman pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik. 6.1.5. Analisis dan Perencanaan Kegiatan analisis yang dilakukan pada kegiatan studi pengenalan adalah sebagai berikut : a) Hidrologi Analisis hidrologi pada kegiatan ini adalah melakukan analisis frekuensi banjir rancangan berdasarkan data debit, curah hujan dan luas DAS SNI 032415-1991. Metode perhitungan adalah sebagai berikut : i. jika data aliran sungai yang tersedia cukup panjang (> 20 tahun), sehingga analisisnya dapat langsung dilakukan dengan metode analisis probabilitas frekuensi debit banjir dengan Metode Gumbel, Log Pearson atau Log Normal

ii. jika data debit < 20 tahun dan > dari 10 tahun, maka digunakan metode analisis regional, iii. jika data debit yang tersedia antara 3 10 tahun, maka digunakan Metode puncak banjir di atas ambang, iv. Metode empiris apabila perkiraan besarnya banjir parameter hujan dan karakteristik DPS antara lain :
-

berdasarkan

Metode Rasional, digunakan pada perencanaan sarana drainase dengan daerah tangkapan yang kecil (< 40 Ha) Der Weduwen, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas < 100 km2

74 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A -

Melchior, digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS dengan luas > 100 km2 Haspers digunakan untuk analisis debit banjir dari sebuah DAS tanpa memperhatikan luas DAS Metode Hidrograf Satuan Metode US Soil Conservation Service

v. Model matematik digunakan apabila selang waktu pengamatan data hujan lebih panjang daripada pengamatan data debit selanjutnya yang selanjutnya digunakan untuk memperpanjang data aliran. b) Muatan Sedimen Analisis laju muatan sedimen baik sedimen dasar (bed load) maupun sedimen layang (suspended load) dengan parameter jenis material, diameter butir dan volume atau berat per satuan waktu, persamaan yang umum digunakan untuk analisa adalah Meyer-Peter dan Muller, EngelundHansen, Einstein dan Einstein-Brown sesuai dengan SNI 03-1724-1989. c) Analisis Hidrolika Analisis hidrolika pada perencanaan bangunan krib, meliputi : (1) Analisis Lengkung Debit Pembuatan lengkung debit digunakan untuk menentukan elevasi mercu krib berdasarkan besarnya debit banjir rencana. Lengkung debit menampikan besarnya hubungan tinggi muka air dan debit. Jika data debit yang ada minimal 10 buah data debit dari hasil pengukuran yang meliputi keadaan debit minimum sampai maksimum maka dapat digunakan dengan analisis grafis dan jika kecepatan aliran pada tinggi muka air tertinggi belum atau tidak dapat diukur maka dapat dihitung dengan persamaan hidrolis sesuai dengan SNI 2822-1992 . (2) Analisis Parameter Hidraulik Analisis parameter hidarulik disini meliputi debit, tinggi air, kecepatan aliran, kekasaran, tekanan, gaya seret, arah aliran dan jenis aliran yang berkaitan dengan keadaan geometri sungai (profil basah, keliling basah dan jari-jari hidraulik) sesuai dengan SNI 03-2400-1991. Parameter hidarulik di atas dapat diketahui dengan cara menggunakan cara pembagian pias berdasarkan persamaan manning jika sungai berpenampang tunggal sesuai dengan SNI 03-2830-1992 dan jika sungai berpenampang ganda dapat digunakan metode penampang ganda berdasarkan SNI 03-3444-1994. (3) Perencanaan Krib Perencanaan krib harus memuat tentang dimensi krib (elevasi mercu krib, panjang krib, jarak krib, dimensi tiang, jarak antar tiang dan panjang tiang); stabilitas dan kekuatan krib dan stabilitas tanah dasar pondasi sesuai dengan SNI 03-2400-1991. (4) Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 untuk kegiatan normalisasi sungai yang merlukan kajian ANDAL adalah sebagai berikut :

75 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

i.

jika lokasi pekerjaan berada di kota besar/metropolitan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 5 km dan volume pengerukan 500.000 m3 jika lokasi pekerjaan berada di kota sedang maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 10 km dan volume pengerukan 500.000 m3 jika lokasi pekerjaan berada di pedesaaan maka parameter kajian adalah panjang kegiatan normalisasi sungai 15 km dan volume pengerukan 500.000 m3 identifikasi semua rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan, terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup identifikasi komponen-kmponen lingkungan hidup terkena dampak besar dan penting yang akan

ii.

iii.

Ruang lingkup kegiatan ANDAL meliputi : i.

ii. iii.

perkiraan dan evaluasi usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup

iv. perumusan RKL dan RPL (5) Analisis Kelayakan Ekonomi Analisa kelayakan ekonomi akan dilakukan dengan mengkaji tiga parameter ekonomi yaitu : i. Economic Internal Rate of Return (EIRR) ii. Benefit/Cost ratio (B/C ratio) iii. Net present value (NPV), Sebagai evaluasi terhadap kemungkinan penundaan atau perubahan jadwal pelaksanaan pekerjaan juga akan dikaji aspek sensitivitas EIRR. 6.1.6. Nota Desain Penyedia Jasa harus membuat perencanaan rinci secara lengkap dengan dimensinya berdasarkan kajian hidrolis serta perhitungan struktur baik pada bangunan utama maupun bangunan penunjang 6.1.7. Penggambaran Penggambaran hasil kegiatan meliputi gambar hasil pengukuran dan pemetaan, layout krib dan bangunan pelengkapnya, potongan memanjang dan melintang krib, detail bangunan. Penggambaran mengacu pada KP-07, DJ Pengairan No. 185/KPTSA/A/1986 tentan Kriteria Perencanaan Bagian Standar Penggambaran. 6.1.8. Perhitungan BOQ Berdasarkan gambar rencana rinci yang telah dibuat dilakukan perhitungan volume pekerjaan konstruksi secara rinci sesuai dengan pekerjaan konstruksi yang akan dilakukan. 6.1.9. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya Penyusunan perhitungan rencana anggaran biaya mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Pekerjaan Pembangunan Pengaman Sungai, Bagian-a, Krib yang didasarkan pada : a) kuantitas dan harga satuan pekerjaan

76 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) c)

harga satuan pekerjaan dihitung berdasarkan hasil dari perhitungan suatu analisis biaya untuk menentukan harga satuan upah dan bahan dilakukan survey harga di lapangan dengan mengambil sampel sekurang-kurangnya 3 lokasi. Khusus untuk harga satuan bahan diperhitungkan harga beli di tempat penjualan atau diantar ke lokasi pekerjaan menghitung biaya-biaya tambahan di luar biaya dari perhitungan volume seperti biaya persiapan, mobilisasi dan demobilisasi personil dan alat, dokumentasi, dewatering dll.

d)

6.1.10. Penyusunan Dokumen Pelelangan Penyusunan dokumen lelang digunakan bagi keperluan pelelangan pekerjaan atau pengadaan barang maupun jasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Penyusunan Dokumen Lelang harus meliputi ketentuan-ketentuan, komponen bahan dan spesifikasi konstruksi, cara pengerjaan serta syarat pengendalian mutu sesuai dengan KEPMEN KIMPRASWIL No. 257/PTS/M/2004 6.1.11. Pekerjaan Lain-lain a) Mobilisasi dan Demobilisasi (1) Mobilisasi adalah pengangkutan semua peralatan berdasarkan Jadwal Pelaksanaan yang harus diserahkan sesudah menerima Surat Penunjukan, dari tempat kantor ke lokasi pekerjaan. Mobilisasi staf kantor, tenaga kerja lapangan dan lain-lain, sudah termasuk dalam item mobilisasi. (2) Demobilisasi Kegiatan Demobilisasi berupa pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula sebelum pekerjaan dimulai. b) Foto Dokumentasi (1) Penyedia Jasa harus menyerahkan foto-foto berwarna dengan ukuran post card (9 cm x 12 cm) kepada Direksi Pekerjaan untuk setiap kemajuan progress fisik di lapangan. (2) Pengambilan gambar/foto dapat dilakukan pada awal, selama dan akhir pelaksanaan setiap jenis kegiatan. Foto ini harus ditempelkan pada laporan bulanan yang diserahkan kepada Direksi Pekerjaan. Setiap hasil cetakan foto harus diberi tanggal pengambilan dan lokasinya. (3) Pada akhir pelaksanaan Penyedia Jasa harus menyerahkan dua cetakan foto berwarna disusun album beserta negative filmnya. Asuransi Ketentuan dan persyaratan yang perlu diperhatikan oleh Penyedia Jasa dalam perihal asuransi tenga kerja mengacu kepada ketentuan yang berlaku yang dikeluarkan oleh Depnaker dan Jamsostek. 6.2. Lokasi Kegiatan Lokasi pelaksanaan Kabupaten......... pekerjaan berada di Sungai.............Kecamatan ...........

c)

6.3. Data dan Fasilitas Penunjang Serta Alih Pengetahuan 6.3.1. Penyediaan Data dan Fasilitas Penunjang 1) Penyediaan oleh Pengguna Jasa

77 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Data dan fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat digunakan dan akan dipelihara oleh Penyedia Jasa : a) Laporan dan data yang akan diberikan kepada Penyedia Jasa yaitu berbagai laporan dan data yang tersedia dari hasil studi terdahulu b) Akomodasi dan Ruangan Kantor (sesuai kesepakatan) c) Pengguna jasa akan menunjuk petugas atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (countepart), atau project officer (PO) dalam rangka pelaksanaan jasa konsultansi 2) Penyediaan oleh Penyedia Jasa Penyedia Jasa akan menyediakan dan memelihara semua fasilitas dan peralatan yang dipergunakan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. a) Penyedia Jasa memfasilitasi : peralatan, laboratorium dan bahan yang sesuai untuk mencapai rencana mutu desain dan konstruksi. b) Penyedia Jasa harus memberikan hasil pekerjaan sesuai dengan rencana mutu desain atau rencana mutu konstruksi. Pekerjaan akan diperiksa sewaktuwaktu untuk menjamin terpenuhinya persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Penyedia Jasa menanggung biaya pekerjaan tambahan/pengulangan bila ternyata hasil pekerjaannya tidak memenuhi persyaratan teknis menurut penilaian pihak Direksi Pekerjaan atau Nara Sumber yang ditunjuk oleh Pengguna Jasa. 6.3.2. Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung Dalam pelaksanaan pekerjaan perlu melibatkan personil baik tenaga ahli maupun tenaga pendukung dengan ketentuan dan persyaratan adalah sebagai berikut : 1) Tenaga Ahli Tenaga ahli termasuk asisten dan staf tenaga ahli yang diperlukan dalam rangka penyelesaian pekerjaan harus berkompeten dibidangnya masing-masing dengan menyerahkan kualifikasi/sertfikasi dan curriculum vitae/daftar riwayat hidup. 2) Tenaga Pendukung Tenaga pendukung sifatnya mendukung tenaga ahli dalam penyelesaian pekerjaan baik dalam segi teknis, urusan administrasi serta kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 6.3.3. Persyaratan Pelaksanaan Dalam hal persyaratan pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa harus memperhatikan berikut ini : 1) Jadwal Pelaksanaan Untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan, Penyedia Jasa harus mempersiapkan Jadwal Pelaksanaan. Penyedia Jasa harus membuat Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk Kurva-S yang menggambarkan seluruh kemajuan pekerjaan. 2) Diagram Batang (Bar-Chart) Penyedia Jasa harus membuat diagram batang yang menginformasikan tentang keterlibatan personil baik tenaga ahli, asisten, staf tenaga ahli dan staf pendukung yang berhubungan dengan penyerapan biaya yaitu keterlibatan orang -bulan.

78 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

7.

METODOLOGI

Metodologi yang dilakukan dalam perencanaan ini yaitu pengumpulan data sekunder (topografi, hidrologi, geologi regional), pengumpulan data primer (survey pengukuran dan pemetaan, survey hidrometri dan penyelidikan geoteknik), pengolahan data dan perencanaan bangunan utama dan penunjang bendung. 8. 9. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PERSONIL TENAGA AHLI Keperluan tenaga ahli untuk penyelesaian pekerjaan ini adalah sebagai berikut : 1. Ketua Tim (Team Leader) Ketua Tim disyaratkan seorang Ahli Sumber Daya Air Profesional Utama/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Ait dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 10 tahun. 2. Tenaga Ahli Sungai Tenaga Ahli Sungai adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 3. Tenaga Ahli Hidrologi Tenaga Ahli Hidrologi adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 7 tahun. 4. Tenaga Ahli Hidraulik Struktur Tenaga Ahli Hidraulik Struktur adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya /Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, O&P bangunan air, dengan pengalaman minimal 8 tahun. 5. Tenaga Ahli Geodesi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Geodesi Strata Satu (S.1) lulusan universitas perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Geodesi subbidang Survey Topografi sekurangkurangnya.6 (enam) Tahun Lulusan pendidikan Sarjana Geodesi (S1) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun. 6. Tenaga Ahli Geoteknik Tenaga Ahli Geoteknik adalah Ahli Sumber Daya Air Profesional Madya/Ahli Teknik Sipil (S1/S2/S3), berpengalaman dalam bidang Sumber Daya Air dalam kegiatan perencanaan, penyelidikan dan supervisi geoteknik dengan pengalaman minimal 10 tahun 7. Tenaga Ahli Lingkungan Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Biologi Strata Satu (S1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Lingkungan subbidang Analisis Lingkungan sekurang-kurangnya 5 (lima) Tahun. Sebagai pelaksana dan penanggung jawab pekerjaan pengembangan Sumber Daya Air di bidang lingkungan.
79 dari 120

Jangka waktu pelaksanaan kegiatan ini ....... (....................) hari kalende.

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

8. Tenaga Ahli Sosial Ekonomi Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Ekonomi Strata Satu (S.1) lulusan universitas pergururan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan dibidang Analisis Ekonomi subbidang Analisis Sosial Ekonomi sekurang-kurangnya.5 (lima) Tahun. Ahli Sosial - Ekonomi bertugas melakukan evaluasi dan analisis bidang ekonomi yang meliputi : Analisa Nilai Bersih Sekarang (NPV), Nisbah Biaya Keuntungan (BCR), dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) dan Titik Impas (BEP) serta menganalisis dampak sosial yang mungkin akan timbul akibat dari pelaksanaan pembangunan konstruksi. 9. Tenaga Cost Estimate dan Dokumen Tender Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil (S1) lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan di bidang estimasi biaya pelaksanaan pembangunan bangunan sipil teknis berikut spesifikasi teknik dan dokumen tender, sekurangkurangnya 5 (lima) tahun. 10. Chief Surveyor Tenaga Chief Surveyor dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 7 (tujuh) tahun atau STM Bangunan Air, atau lebih baik dari pendidikan tenaga survey dan pemetaan (PTSP) dengan pengalaman sedikitnya 8 (delapan) tahun dalam menangani pengkuran topografi dibidang keairan antara lain : sungai, irigasi, dan lain-lain. 11. Chief Draftman Tenaga Chief Draftman AutoCAD dengan reputasi yang baik, lulusan Sarjana Muda Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 5 (lima) tahun atau STM Bangunan air dengan dengan pengalaman minimal 8 (delapan) tahun dalam menangani gambargambar dibidang keairan. 10. KELUARAN Keluaran dari pelaksanaan kegiatan detail desain meliputi : i. Nota Desain ii. Gambar Teknis iii. Gambar Pengukuran Topografi dan Pemetaan 11. LAPORAN Penyedia Jasa harus menyerahkan produk selama kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi : a) Laporan Pendahuluan Laporan Pendahuluan berisi antara lain: i. ii. iii. iv. Hasil kajian awal dan temuan permasalahan yang ada Rencana kerja Konsultan secara menyeluruh Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya Jadwal kegiatan Konsultan

Laporan Pendahuluan harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang metodologi pelaksanaan pekerjaan, hasil pengumpulan data, hasil kunjungan lapangan, dan rencana kerja berikutnya. Laporan Pendahuluan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal

80 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) Laporan Bulanan Laporan Bulanan berisi antara lain: i. ii. iii. iv. v. uraian permasalahan, hambatan dan temuan pada bulan tersebut. daftar kegiatan yang dilakukan pada bulan berikutnya daftar rencana kegiatan pada bulan berikutnya mobilisasi dan demobilisasi personil dan daftar hadir personil dan kegiatan masing-masing pada bulan tersebut realisasi progress kemajuan pekerjaan yang disetujui oleh direksi

Laporan Bulanan dilengkapi dengan foto dan peta yang menunjukkan lokasi yang telah diidentifikasi serta usulan penanganan, program dan jadwal kerja selanjutnya. Laporan Bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal c) Laporan Interim Laporan Interim harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang analisis debit banjir rancangan, hasil kegiatan pelaksanaan survey topografi, lokasi pengambilan sampel sedimen dan hasil uji laboratorium, lokasi investigasi geoteknik dan hasil laboratorium, serta konsep lokasi krib. Laporan bulanan akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal d) Laporan Akhir Sementara Laporan Akhir Sementara harus dipresentasikan dan menginformasikan tentang kegiatan hasil detail desain yang mencakup antara lain : hasil investigasi lanjutan topografi, geoteknik, hidrologi, hidrolika, perhitungan desain, dan gambar Konstruksi bangunan sungai beserta bangunan fasilitasnya. Laporan Akhir Sementara akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal e) Laporan Akhir Laporan ini berisi seluruh hasil perencanaan teknis termasuk metode pekerjaan desain, perhitungan desain, metode dan jadwal konstruksi, jadwal pelaksanaan, estimasi biaya, paket konstruksi dan lain-lain. Laporan Akhir ini dibuat setelah didiskusikan dan disetujui pada Laporan Akhir Sementara (Draft Laporan Akhir). Laporan Akhir merupakan revisi dan penyempurnaan dari Laporan Akhir Sementara dengan memperhatikan semua masukan, tanggapan, dan koreksi. Laporan Akhir akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambatlambatnya tanggal f) Dokumen Tender Dokumen Tender terdiri atas: (1) (2) (3) (4) rencana anggaran biaya (RAB) gambar desain A1, rangkap 3 (tiga), termasuk 1 kalkir gambar desain A3, rangkap 3 (tiga) dokumen tender, masing-masing rangkap 3 (tiga) meliputi: i. tender drawing ii. spesifikasi umum dan spesifikasi teknis iii. rencana pelaksanaan fisik dan construction method iv. daftar kuantitas dan harga satuan

81 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Dokumen Tender akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal g) Gambar Teknis Produk gambar yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa adalah sebagai berikut : i. ii. iii. peta situasi bangunan dengan skala 1 : 200 ; gambar potongan memanjang dan melintang bangunan krib 1 : 100 1 : 200 gambar detail bangunan Skala 1 : 50 1 : 200.

Album gambar akan diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal h) Laporan Penunjang Laporan penunjang dalam kegiatan ini meliputi : i. Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan Pemetaan Buku Ukur dan Laporan Pengukuran Topografi dan pemetaan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal ii. Laporan Penyelidikan Geoteknik Laporan Penyelidikan Geoteknik harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal iii. Laporan Analisis Dampak Lingkungan Laporan Analisis Dampak Lingkungan harus diserahkan oleh Penyedia Jasa pada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal iv. Laporan Analisis Ekonomi Laporan Analisis Ekonomi harus diserahkan oleh Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa selambat-lambatnya tanggal 12. PENGENDALIAN MUTU Agar dalam pelaksanaan pekerjaan memenuhi sasaran maka perlu dilakukan pembahasan seperti berikut ini : 1. Diskusi Bulanan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan mengetahui sejauh mana progres pekerjaan dan pembahasan tentang kesulitan yang diperlukan

2. Diskusi Pendahuluan dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan koordinasi awal pelaksanaan pekerjaan yang meliputi kegiatan survey, investigasi lapangan dan persetujuan produk yang berupa laporan pendahuluan 3. Diskusi Pertengahan/Interim dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk menentukan arah pembahasan pemecahan masalah berdasarkan data kondisi lapangan dan proses persetujuan produk yang berupa laporan pertengahan/interim 4. Diskusi Akhir dilakukan dengan Pihak Pengguna Jasa untuk keperluan pembahasan seluruh kegiatan pekerjaan

82 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Lampiran B.3 Kriteria Desain Bangunan Krib Penentuan kriteria desain mengacu pada SNI 03-2400-1991, dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Pertimbangan dan Persyaratan Perencanaan a) Pertimbangan perencanaan Pemilihan jenis krib harus sesuai serta mempertimbangkan data dan informasi tentang tujuan pembuatan krib yang meliputi : i. Fungsi krib sebagai pelindung tebing tidak langsung, sebagai pengarah arus atau berfungsi untuk memperbaiki alinyemen sungai

ii. Jenis dan nilai kegunaan bangunan yang akan dilindungi dengan krib b) Persyaratan perencanaan Persyaratan perencanaan bangunan krib, meliputi : i. persyaratan fungsional meliputi : ketentuan yang perlu diperhatikan dalam perlindungan sungai secara tidak langsung dari bahaya gerusan lokal atau bahaya meander; pengatur/pengarah arus dan perbaikan alinyemen sungai;

ii. kesesuaian perencanaan teknik dengan perencanaan pengelolaan sungai terpadu; iii. persyaratan pemilihan jenis krib didasarkan : tujuan pemasangan krib; kondisi tanah; dan kondisi lapangan c) Persyaratan keamanan bangunan Persyaratan keamanan bangunan krib, terdiri dari : (1) keamanan hidraulik meliputi : kemanan terhadap gerusan lokal; degradasi dasar sungai; dan penggerowongan tebing; keamanan terhadap benturan dan abrasi oleh muatan dan benda padat lain; muatan arus sungai (2) kemanan struktural : stabil terhadap guling, geser dan penurunan; aman terhadap regangan dan tegangan yang terjadi; aman terhadap deformasi yang diijinkan (3) keamanan ligkungan yaitu keamanan terhadap gangguan angkutan sedimen dan benda padat lain 2) Data dan Informasi Data dan informasi yang diperlukan untuk perencanaan teknis bangunan pengaman sungai krib meliputi hal-hal berikut : a) Data topografi Untuk perencanaan bangunan pengaman sungai krib diperlukan peta topografi 1:25.000 atau peta situasi sungai dengan skala 1:10.000; 1:2.000; Peta ini dipakai untuk mencari Daerah Pengaliran Sungai (DPS) serta stasiun-stasiun hujan yang bersangkutan. b) Data hidrologi Data hidrologi untuk menentukan debit desain dalam perencanaan krib dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu i. dengan menggunakan data aliran langsung ii. dengan menggunakan data hujan

83 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

c) Data aliran langsung Data ini adalah data aliran sungai hasil survai dan penyelidikan hidrometri dengan melakukan pengukuran kecepatan aliran dilapangan dan atau hasil penghitungan hidraulika sungai dengan menggunakan rumus-rumus atau persamaan hidraulik sungai. d) Data hujan Data hujan dipergunakan apabila data aliran langsung yang tersedia tidak cukup panjang, tetapi data hujan tersedia cukup panjang. Berdasarkan data hujan yang ada terlebih dahulu dihitung hujan rencana dengan menggunakan cara-cara statistik. Kemudian debit desain dihitung dengan menggunakan metode-metode pedoman yang berlaku. e) Data geoteknik Data geoteknik yang diperlukan untuk desain krib di antaranya : i. sifat fisik tanah dan batuan di sekitar calon krib meliputi berat jenis, berat isi, kadar air, konsintensi dan kepadatan, gradasi butiran, keausan, dan kekerasan; ii. sifat teknik tanah dan batuan meliputi pemampatan, kekuatan geser, modul elastisitas, kelulusan air, dan daya dukung. f) Data geometri sungai Data geometri sungai yang diperlukan untuk desain krib di antaranya bentuk dan ukuran dasar sungai terdalam, alur, palung dan lembah sungai secara vertikal dan horizontal (penampang melintang dan memanjang sungai) mencakup parameter panjang, lebar, kemiringan, ketinggian, dan kekasaran. g) Data bangunan Data bangunan air di hulu dan di hilirnya yang akan terpengaruh oleh bangunan krib yang akan di desain. h) Data morfologi sungai Data dan informasi morfologi sungai yang diperlukan, antara lain dengan memperhatikan faktor-faktor : i. bentuk dan ukuran alur, palung, lembah; ii. kemiringan dasar sungai : sungai terjal dan landai; iii. lokasi daerah aliran : hulu, tengah, hilir, pegunungan dan pedataran; iv. jenis, sifat lapisan dan material : dasar sungai, tebing dan lemball; v. perubahan geometri sungai ke arah vertikal: sungai beragradasi, sungai berdegradasi, vi. sungai tetap; vii. perubahan geometri sungai ke arah horizontal: sungai berliku, lurus, berjalin; viii. degradasi atau penurunan dasar alur dan atau palung sungai dengan parameter panjang, lebar dan dalam; ix. agradasi/sedimentasi atau peninggian dasar alur dan atau palung sungai, dengan parameter: panjang, lebar, dan dalam. i) Data bahan bangunan Pemilihan bahan yang akan digunakan untuk bangunan krib dan perlengkapannya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. : i. sumber dan jumlah yang tersedia; ii. jenis dan ketahanan umur; iii. sifat fisik dan teknik bahan bangunan yang terdiri dari berat jenis, gradasi butiran, keausan dan kekasaran, sifat pemadatan, kekuatan geser, persyaratan kualitas, kemudahan pengerjaan, dan nilai ekonomis.

84 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

3) Penentuan Tata Letak dan Perencanaan Teknik a) Penentuan Tata Letak Penentuan tata letak krib harus dipertimbangkan berdasarkan tinjauan berikut : (1) pertimbangan terhadap perencanaan sungai terpadu, pemasangan konstruksi krib baik untuk perlindungan tebing maupun perbaikan arah aliran pada suatu daerah krib, harus mempertimbangkan perencanaan sungai secara keseluruhan, dalam rangka mewujudkan konsep pengelolaan sungai secara terpadu (2) letak krib, meliputi : i. krib dipasang dengan jarak optimal; ii. letak krib dengan arah tegak paling efektif untuk menciptakan medan krib, sehingga krib tegak paling sesuai untuk pelindung tebing dan pengatur alinyemen horisontal alur sungai; iii. pangkal krib diletakkan pada tebing yang mantap untuk menghindari terobosan arus dibelakang krib dan agar tahan terhadap longsoran tebing; iv. krib untuk pendalaman alur bagi navigasi diletakkan pada kedua tebing sungai sepanjang alur yang dikehendaki dengan arah tegak atau arah tajam; v. peletakan krib sepanjang daerah krib, diambil berdasarkan panjang tebing yang perlu dilindungi dengan memperhitungkan kemungkinan perubahan arus pada keadaan krib terpasang b) Penentuan debit rencana Debit banjir rencana harus diperiksa dan dikontrol terhadap data morfologi sungai, informasi historis di lokasi rencana krib, keamanan/kestabilan, resiko, konsekuensi dan ekonomi. Debit alur penuh diambil berdasarkan kala ulang 2 tahun c) Arah pemasangan krib Untuk memperoleh hasil yang paling optimum, yang sesuai dengan kondisi sungai itu, maka arah pemasangan dapat dilakukan dalam 3 cara berikut ini : i. pemasangan tegak lurus terhadap sisi sungai atau aliran yang disebut krib normal; krib normal dibangun dengan tujuan untuk menyempitkan suatu ruas sungai yang telah melebar akibat adanya perubahan morfologi sungai ii. pemasangan condong ke arah udik yang disebut krib elak; disamping berfungsi untuk menyempitkan aliran bagian sungai yang telah melebar yang disebabkan adanya perubahan morfologi sungai, jenis ini dapat digunakan pada sisi yang cekung pada belokan-belokan. Sudut inklinasi dapat diambil antara 10o 20o dari garis normal terhadap sisi sungai. iii. pemasangan condong ke arah hilir yang disebut krib pikat. dengan krib ini arah aliran akan tertarik ke sisi/tebing sungai meskipun pada ujung krib tersebut mulamula aliran terdorong ke tengah. Jadi penggunaan krib ini harus lebih hati-hati d) Perencanaan teknik struktur dan pondasi Perencanaan teknik struktur dan pondasi meliputi : (1) Dimensi krib Dimensi krib yang harus ditentukan sesuai SNI 03-2829-1992 meliputi : (a) elevasi mercu krib ditentukan : sama tinggi dengan elevasi muka air pada debit alur penuh (bank full discharge); ii. miring ke arah ujung; iii. jika panjang tiang terbatas maka mercu krib dapat dibuat bertingkat. i.

85 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

(b) panjang krib, ditentukan berdasarkan : i. panjang krib untuk pengarah arus ditentukan sedemikian rupa sehingga didapatkan pola aliran baru; ii. perbandingan panjang krib dan jarak krib dibuat sedemikian rupa sehingga kecepatan arus di tepi tebing cukup aman untuk kestabilan lereng; iii. jika krib berfungsi untuk memperdalam alur bagi navigasi, panjang krib ditentukan oleh faktor lebar dan kedalaman alur yang diperlukan untuk navigasi, material sedimen dan sifat aliran sungai;

(c) dimensi tiang ; ditentukan berdasarkan persyaratan hidraulik dan persyaratan kestabilan konstruksi; (d) jarak antar tiang ; untuk mendapatkan terjadinya endapan antara lain ; susunan tiang pancang dibuat satu baris ditambah tiang stabilitas di ujung krib; pada pangkal krib susunan tiang dibuat lebih rapat makin jarang ke arah ujung (e) panjang tiang ; ditentukan berdasarkan elevasi mercu krib dan kedalaman pemancangan tiang menurut persyaratan keamanan dan stabilitas; Tabel Hubungan antara panjang dan interval krib Lokasi pembuatan krib di Hubungan antara interval sungai (D) dan panjang (l) Bagian lurus D = (1,7 - 2,3)l Belokan luar D = (1,4 - 1,8)l Belokan dalam D = (2,8 3,6)l (f) jarak krib ; dibuat sedemikian rupa sehingga susunan krib menghasilkan suatu model krib yang paling efektif; untuk memastikan hal ini dapat digunakan penyelidikan hidraulik dengan model (2) stabilitas dan kekuatan krib konstruksi krib disebut stabil, jika mampu menahan semua beban atau gaya yang bekerja pada krib, meliputi : i. stabilitas dan kekuatan krib tiang pancang ; krib harus dtinjau kestabilan masing-masing tiangnya (single of pile) ; ii. stabilitas dan kekuatan krib pasangan batu ; krib harus ditinjau terhadap tegangan yang terjadi akibat krib tidak boleh melampaui daya dukung pondasi; stabilitas terhadap longsoran tebing ke arah alur sungai ; iii. stabilitas dan kekuatan krib bronjong : kawat bronjong yang harus digunakan harus mengikuti standar yang berlaku ; anyaman dibuat dengan lilitan ganda dan lilitan pada kawat sisi dibuat sedemikian rupa ; dan lilitan pada kawat sisi gaya-gaya yang mempengaruhi stabilitas krib tiang pancang adalah : i. ii. iii. iv. v. tekanan arus sejajar arah aliran dianggap merata pada tiang dengan kecepatan arus maksimal pada debit desain; tekanan tambahan akibat penumpukan sampah setebal 1,0 m; beban lateral sejajar krib yang bekerja pada tiang-tiang akibat endapan diperkirakan membentuk lereng dengan kemiringan 1 : 1; tekanan tanah pasif pada tiang yang terpancang; tiang ditinjau tunggal maupun secara kesatuan

(3) stabilitas tanah dasar pondasi stabilitas tanah pondasi diperhitungkan terhadap : i. gerusan lokal yang terjadi akibat penempatan krib merupakan akumulasi dari gerusan yang diakibatkan oleh penyempitan alur dan gerusan akibat

86 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

penempatan tiang pada dasar sungai, disamping penurunan dasar sungai secara menyeluruh ; ii. perkiraan penggerusan dan besarnya rip-rap sebagai pelindung dasar dengan menggunakan persamaan yang berlaku iii. lokasi maupun besaran gerusan yang terjadi akibat penempatan krib/tiang pancang, baik gerusan setempat pada tiang krib, gerusan setempat rangkaian krib maupun gerusan akibat degradasi, disarankan dilakukan model uji hidraulik fisik di laboratorium e) spesifikasi dan jenis krib berdasarkan bahan pembuatnya jenis krib berdasarkan bahan pembuatannya meliputi : (a) krib bronjong, spessifikasi perencanaannya adalah sebagai berikut : (1) jarak krib (1) pada tikungan luar l = b (2) pada tikungan dalam l = (1,50 2,00) b; (3) pada bagian peralihan l = (1,00 1,50) b.: b = panjang krib.

Gambar 1 Ukuran jarak krib (2) tinggi dan lebar mercu krib (1) elevasi mercu krib dapat dibuat sama tinggi dengan elevasi muka air pada debit alur penuh (bank full discharge), atau bisa dibuat bertingkat; (2) lebar mercu antara 1,00 2,00 meter; (3) kemiringan potongan melintang antara 2v : 1h dan 1v : 1h; (4) ujung krib bronjong diambil kemiringan 1v : 1h, (5) jika konstruksi krib bronjong cukup tinggi dan besar maka bagian tengah bisa diisi dengan batu lepas

87 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

A Muka Air alur

1 :1

A 1,00

engsel

1,00 2,00 m

1 :1

1 :1

2 :1

pot : A A untuk 1V : 1 H

pot : A A untuk 2 V : 1 H

Gambar 2 Ukuran lebar puncak dan kemiringan krib (3) panjang krib i. panjang krib adalah dihitung mulai dari pangkal krib sampai dengan garis ujung krib yang direncanakan; ii. panjang krib paling kecil : 0,25 jarak antara dua krib.

4) Penyelidikan Hidraulik dengan Model Uji Model Hidraulik (UMH) adalah suatu penyelidikan pengujian hidraulik sebagai alat bantu yang dapat mementapkan suatu perencanaan teknik atau gagasan UMH dapat dilakukan dengan model matematik maupun dengan model fisik di laboratorium. a) Kegunaan UMH Kegunaan UMH, Antara Lain : (a) Menguji Kesempurnaan Pra-perencanaan direncanakan dengan analisa teoritis; teknik bangunan krib yang

(b) mencari rencana tipikal bangunan krib yang secara hidraulik dianggap lebih baik sesuai dengan maksud dan tujuan pembengunan krib; (c) mencari hubungan antara parameter aliran sedimen / morfologi sungai, posisi lokasi dan jumlah bangunan krib; (d) mencari menentukan metoda perbaikan krib. b) UMH Matematik UMH matematik adalah suatu penyelidikan pengujian dengan model matematik yaitu simulasi keadaan aliran yang didasarkan pada hasil hubungan matematik dengan prinsip prinsip hidraulik. Penentuan parameter aliran dan koefisien koefisien lainya dilakukan melalui proses kalibrasi dan analisis kepekaan antara model dan prototipe.

88 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

c) UMH Fisik Ikhwal yang perlu diketahui : (a) UMH Fisik adalah suatu penyelidikan pengujian di Laboratorium dengan peniruan secara fisik keadaan di lapangan dengan skala tertentu, untuk mempelajari berbagai masalah hidraulik yang mungkin timbul karena didirikannya suatu bangunan di sungai dan pengaruh perubahan morfologi sungai terhadap masalah hidraulik yang erat kaitannya dengan fungsi dan keamanan bangunan (b) Untuk melaksanakan UMH Fisik Bangunan krib diperlukan data survei lapangan guna menunjang kesamaan model dengan prototipe (c) Dalam UMH fisik dipelajari masalah masalah hidraulik yang timbul akibat dibangunnya bangunan krib antara lain sebagai berikut : (1) Gejala dan parameter aliran, berupa tinggi muka air, kecepatan, debit, macam arus, arah aliran, tekanan dan lain lain (2) penggerusan lokal / setempat (3) pengaruh degradasi, agradasi dan gejala nagkutan muatan yang lain (4) angkutan dan pengendalian muatan benda padat lainnya (5) pengoperasian (6) beberapa parameter dan koefisien rumus aliran dan muatan untuk perhitungan teoritis

89 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

LAMPIRAN C Conto Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Konstruksi Konstruksi Pembangunan Krib di Sungai ............... Kabupaten.............

1. Latar Belakang Cakupan isi latar belakang dalam penyusunan kerangka acuan kerja, menguraikan :
- Menginformasikan tentang letak administratif daerah pekerjaan - Menginformasikan kondisi daerah pekerjaan yang meliputi kondisi topografi, geologi

regional, kondisi klimatologi, kondisi hidrologi serta ekositem pada daerah pekerjaan
- Kendala-kendala yang perlu diantisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan - Maksud dan tujuan secara global dengan adanya kegiatan

2. Kondisi Cuaca Informasi umum berikut ini memberikan petunjuk kondisi cuaca dilapangan yang bisa diharapkan untuk sepanjang tahun. Pemberi tugas dan Direksi tidak bertanggung jawab atas ketelitian data, dan semua resiko akibat salah penafsiran data tersebut adalah menjadi beban Kontraktor. Iklim di lokasi proyek terdiri dari dua musim : musim hujan terjadi dari bulan . sampai dengan dan musim kemarau biasa terjadi mulai bulan .. sampai dengan .. Hujan rata rata tahunan sekitar .. m dan 80 % nya adalah . m jatuh dalam bulan .. sampai dengan . 3. Lingkup Pekerjaan dalam Kontrak Kontraktor harus memenuhi kebutuhan semua tenaga kerja, material, peralatan pelaksanaan, pekerjaan sementara dan pekerjaan lainnya untuk pelaksanaan. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan dengan baik dan lengkap serta merawat seperti yang diminta dalam Gambar dan Spesifikasi Teknik atau Petunjuk Direksi. Pekerjaan yang harus dilaksanakan menurut Kontrak mencakup dibawah ini : a. Pelaksanaan pekerjaan krib yang meliputi bangunan utama dan semua bangunan penunjang sesuai yang tercakup dalam Kontrak. b. Pelaksanaan pekerjaan, operasi, perawatan dan pembongkaran bangunanbangunan sementara antara lain : - Jalan masuk sementara berikut jembatan dan fasilitas lainnya. - Saluran pengelak, bangunan/dam sementara termasuk pembelian, pemencangan, pembongkaran dan penyerahan Steel Sheet Pile sebanyak yang diperlukan untuk pelaksanaan Coferdam sementara kepada Direksi. - Fasilitas kerja Kontraktor seperti kantor lapangan, gudang, laboratorium dan lain lain. - Tempat penyimpanan semen berikut material beton dan peralatan pengolah beton. - Generator termasuk jaringan listriknya yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. - Perlengkapan komunikasi Radio/Telepon dari lokasi pekerjaan ke kantor Proyek di Padang termasuk peralatan lainnya yang perlu. 4. KETENTUAN DAN PERSYARATAN 4.1. Program Pelaksanaan 1) Pengguna Jasa menyiapkan Jadwal Pelaksanaan untuk semua pekerjaan yang termasuk dalam Kontrak. Jadwal pelaksanaan tersebut untuk membantu para penawar dan Penyedia Jasa didalam menyiapkan Jadwal Pelaksanaan yang lebih terperinci.

90 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

2) Tiga puluh (30) hari setelah menerima Surat Penunjukan, Penyedia Jasa harus menyerahkan Jadwal Pelaksanaan kepada Direksi Pekerjaan berisi jadwal pelaksanaan semua pekerjaan dan pekerjaan sementara yang harus dikerjakan berdasarkan Kontrak, dengan metode PERT/CPM network. Jadwal Pelaksanaan ini harus sesuai dengan hari kelender, jangka waktu yang diperlukan, tanggal mulai paling awal, tanggal selesai paling awal dan paling lambat, lama pelaksanaan dan sebagainya. 3) Jadwal Pelaksanaan tersebut diatas diserahkan sesuai dengan modifikasi dan perubahan yang diperlukan oleh Direksi Pekerjaan di dalam waktu yang logis. Jadwal Pelaksanaan yang direvisi yang sudah disetujui dan sudah ditandatangani oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan harus dianggap merupakan Jadwal Pelaksanaan yang mengikat dan menjadi bagian dari Dokumen Kontrak. 4) Jadwal Pelaksanaan yang sudah mengikat tersebut harus diperbarui oleh Penyedia Jasa pada setiap jangka waktu 4 (empat) bulan jika diminta oleh Direksi Pekerjaan dan Jadwal Pelaksanaan yang diperbarui harus disetujui oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan, dan termasuk dalam Dokumen Kontrak. 5) Jika selama pelaksanaan pekerjaan, rata-rata kecepatan pekerjaan ternyata dibawah yang disetujui menurut pendapat Direksi Pekerjaan, Penyedia Jasa harus dapat menyelesaikan setiap bagian pekerjaan pada waktu yang disetujui, maka Direksi Pekerjaan akan memerintahkan Penyedia Jasa untuk menambah pekerja dan atau peralatan pelaksanaan ke lokasi pekerjaan untuk mengejar ketinggalan pada bagian pekerjaan tersebut. 4.2. Aspek aspek yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Pekerjaan 1) Aspek Keselamatan Kerja Penyedia Jasa pekerjaan konstruksi harus memperhatikan ketentuan kesehatan dan Undang-Undang Keselamatan Kerja. Ketentuan-ketentuan tersebut harus diadopsi oleh pelaksana pekerjaan dalam prosedur/manual pekerjaan secara menyeluruh untuk setiap tahapan pekerjaan, mulai dari tahap pekerjaan persiapan hingga pemeliharaan setelah penyerahan pekerjaan. 2) Aspek Lingkungan Sebelum melaksanakan kegiatan fisik di lapangan, Penyedia Jasa harus membuat program dampak lingkungan yang terjadi akibat pelaksanaan kegiatan dengan mengacu pada Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) atau Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau manual prosedur pengelolaan/ pemantauan lingkungan (jika RKL/RPL atau UKL/UPL tidak ada). Program ini harus mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan. 3) Aspek Administrasi Penyedia Jasa pekerjaan konstruksi harus memiliki prosedur dan tata cara administrasi yang baku dalam bentuk surat menyurat, surat pengumuman, surat undangan dan surat-surat lainnya untuk menunjang seluruh kegiatan pekerjaan. Seluruh dokumen pekerjaan mulai dari pekerjaan persiapan, pelaksanaan, serah terima, dan pemeliharaan harus didokumentasikan secara sistematis sesuai dengan kelompok pekerjaan, urutan waktu, atau kategori lain yang dianggap penting. Dokumentasi ini diperlukan guna menunjang laporan proyek (Laporan Mingguan dan Bulanan). 4) Aspek Ekonomis

91 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Penyedia Jasa pekerjaan wajib memperhatikan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan. Termasuk dalam hal ini aspek SDM, Peralatan, dan pengadaan bahan. SDM yang digunakan harus secara efektif dapat memenuhi kebutuhan jadwal dan kualitas pekerjaan. Jumlah dan jenis peralatan-peralatan pendukung pekerjaan harus diperhitungkan dengan seksama sesuai jadwal pekerjaan terutama bila peralatan-peralatan tersebut diadakan dengan sewa. Pengadaan bahan/material harus diupayakan efektif sesuai pekerjaan yang dijadwalkan. 5) Aspek Sosial dan Budaya Penyedia Jasa pekerjaan konstruksi berkewajiban memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat di lokasi pelaksanaan pekerjaan. Hal-hal yang cukup sensitif, seperti gangguan kebisingan pada waktu ibadah, waktu istirahat, hal-hal yang ditabukan, atau lokasi-lokasi yang dianggap suci oleh masyarakat setempat sedapat mungkin dihindarkan dari gangguan pekerjaan atau personil yang terlibat dalam pekerjaan. 4.3. Sumber Bahan Pelaksanaan 1) Penyedia Jasa bertanggung jawab atas pengadaan material beton pasangan, bronjong dan sebagainya dengan jumlah yang cukup dan berkualitas baik. Proyek akan memberi petunjuk beberapa sumber bahan pelaksanaan yang ada untuk bahan timbunan dan material beton berikut jarak dari lokasi pekerjaan. 2) Jika Penyedia Jasa akan mengambil material untuk beton dan batu dari sumber lain, Penyedia Jasa harus mengatur sedemikian hingga mendapatkan ijin dari instansi terkait dan membayar semua biaya dan kompensasi yang diperlukan. 4.4. Pekerjaan Pengeringan (Dewatering) Daerah galian harus dikeringkan secukupnya dan dijaga jangan sampai ada air tergenang. Penyedia Jasa harus membuat dan merawat semua dan sementara, bila perlu melakukan pemompaan sumber-sumber air dan aliran lainnya untuk mengeluarkan air tersebut dari lokasi pekerjaan sepanjang masa pelaksanaan. Semua bangunan sementara harus dibongkar bila pekerjaan telah selesai dan disetujui Direksi Pekerjaan. Pelaksanaan pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-7, Pekerjaan Dewatering 4.5. Pemagaran Lokasi Pekerjaan Jika tidak ditentukan lain, maka Penyedia Jasa harus membuat dan merawat pagar yang sesuai dan disetujui Direksi Pekerjaan untuk menutup semua areal pekerjaan pekerjaan pelaksanaan. Bila pagar ini dibuat disepanjang jalan umum dan lain-lain, harus dibuat tipe yang sesuai dan cukup baik untuk daerah tersebut. Pelaksanaan pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain 4.6. Material dan peralatan-peralatan yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa 1) Umum Penyedia Jasa harus menyediakan bahan/material dan peralatan yang memenuhi syarat untuk menyelesaikan pekerjaan kecuali yang sudah disediakan di dalam Kontrak. Semua peralatan dan material yang merupakan bagian dari pekerjaan harus baru dan harus sesuai dengan standar yang tercantum dalam Spesifikasi atau Standar yang ditunjukkan. Jika Penyedia Jasa mengusulkan pengadaan peralatan atau material yang tidak sesuai dengan standar yang disebutkan diatas harus memberi tahu dan mendapatkan persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan terlebih dahulu.
92 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

2) Peralatan untuk Pelaksanaan Penyedia Jasa harus mendatangkan semua peralatan yang memenuhi syarat dalam jumlah yang cukup untuk pelaksanaan pekerjaan sampai dengan selesai. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan Penyedia Jasa untuk menambah peralatan, jika menurut pertimbangannya perlu untuk mencapai progress sesuai dengan Kontrak. Penyedia Jasa harus mendatangkan semua mesin dan peralatan, lengkap dengan suku cadangnya yang cukup, untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan. 3) Material Pengganti Penyedia Jasa harus berusaha untuk mendapatkan bahan material yang ditentukan dalam spesifikasi teknik atau gambar, tapi jika material tersebut tidak dapat diperoleh dengan alasan diluar kemampuan Penyedia Jasa, boleh memakai material pengganti dengan persetujuan Direksi Pekerjaan. Tidak boleh ada material pengganti tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. 4) Pemeriksaan Peralatan dan Material Peralatan dan material yang didatangkan oleh Penyedia Jasa harus diperiksa dan sesuai dengan Kontrak pada saat di lokasi berikut ini atau seperti yang ditentukan oleh Pemberi Tugas : iv. Tempat produksi atau pabrik v. Pengangkutan vi. Lokasi Proyek Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Pengguna Jasa semua spesifikasi peralatan dan material yang diperlukan oleh Pengguna Jasa untuk tujuan pemeriksaan. Pemeriksaan peralatan dan material termasuk tempat dimana berasal tidak berarti melepaskan Penyedia Jasa dari tanggung jawabnya untuk mengadakan peralatan dan material yang tercantum dalam spesifikasi teknik. 5) Program dan Catatan Pengangkutan Bersamaan dengan penyerahan Jadwal Pelaksanaan, Penyedia Jasa harus menyerahkan program pengangkutan peralatan dan material secara rinci, dengan urutan pengangkutan dan pengiriman di lapangan sesuai dengan rencana Jadwal Pelaksanaan tersebut kepada Direksi Pekerjaan. Penyedia Jasa harus memberitahu Direksi Pekerjaan kedatangan peralatan, material dan pemasangan peralatan di lapangan. 6) Spesifikasi, Brosur dan Data yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa Penyedia Jasa harus menyerahkan 3 (tiga) set spesifikasi lengkap, brosur dan data mengenai material dan peralatan yang akan didatangkan sesuai Kontrak kepada Direksi Pekerjaan untuk disetujui, dalam jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari setelah menerima surat perintah kerja. Bagaimanapun juga persetujuan terhadap spesifikasi, brosur dan data tersebut tidak akan melepaskan Penyedia Jasa dari tanggung jawabnya sesuai dengan Kontrak. 5. PELAKSANAAN PEKERJAAN Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknik pekerjaan konstruski krib memuat : 1) Pekerjaan Persiapan Umum Pelaksanaan pekerjaan yang bersifat umum meliputi : a) Mobilisasi dan Demobilisasi Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain
93 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b) Jalan Penghubung Sementara Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain c) Laboratorium dan Alat Pengujian Lapangan Ketentuan dan persyaratan untuk laboratoriuum dan alat pengujian lapangan sebagai berikut : i. Penyedia Jasa di dalam hal ini tidak diperkenankan melakukan pengujian laboratorium, pengujian dilakukan oleh laboratorium yang telah ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan ii. Penyedia Jasa harus menyediakan peralatan pengetesan lain yang diperlukan seperti yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknik untuk mengontrol material pelaksanaan dan tanah. iii. Selambat-lambatnya tanggal... ... ... , Penyedia Jasa harus menyerahkan schedule pengujian kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuannya. Schedule pengujian harus mencakup semua pengujian material beton, pengujian pemadatan tanah triaxial dan pengujian alat-alat laboratorium yang akan dipakai. Laboratorium yang disediakan Penyedia Jasa harus diatur dan dirawat Penyedia Jasa. Pengadaan listrik dan air untuk keperluan laboratorium harus disediakan Penyedia Jasa. d) Kantor, Gudang dan Bengkel untuk Penyedia Jasa Penyedia Jasa harus membuat, merawat dan selanjutnya membongkar bangunan sementara seperti kantor, bengkel, dan gudang yang hanya diperlukan pada saat pelaksanaan. Penyedia Jasa harus mengirimkan rencana pelaksanaan secara detail termasuk fasilitas sementara kepada Direksi Pekerjaan selambat-lambatnya tanggal ... ... ... e) Perumahan dan Barak untuk Staf dan Tenaga Penyedia Jasa Jika tidak ditentukan lain, Penyedia Jasa harus menyediakan, merawat dan membongkar semua bangunan sementara dimana Direksi Pekerjaan atau Pengguna Jasa, Staf Penyedia Jasa dan Sub-Penyedia Jasa akan berada termasuk perabot, penerangan, air minum, saluran, jalan, tempat parkir, tempat buangan dan akomodasi yang bersifat sementara. Sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum penanganan pekerjaan ini. Penyedia Jasa harus mengirimkan rencana dan detail usulan bangunan termasuk fasilitasnya kepada Direksi Pekerjaan. f) Air Kerja Penyedia Jasa harus menyediakan/membuat sumber air baku untuk tempat tinggal staf Penyedia Jasa, Pekerja, Laboratorium, Bengkel dan tempat lain yang perlu dilokasi pekerjaan. Sistim jaringan air minum tersebut harus mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan. g) Sumber Listrik untuk Pelaksanaan Pekerjaan Penyedia Jasa harus mengatur kebutuhan penerangan listrik di lokasi pekerjaan, perumahan staf Penyedia Jasa, Barak, Laboratorium, Bengkel, Gudang dan Kantor. Penyedia Jasa harus membuat jaringan listriknya, mengoperasikan dan merawat sampai dengan akhir masa perawatan atau lebih cepat sesuai dengan pengarahan Direksi Pekerjaan dan kemudian membongkar semua fasilitas listrik sementara yang ada antara lain : generator, kawat, alat-alat penyambung dan lain sebagainya 2) Pekerjaan Persiapan Khusus Pekerjaan persiapan khusus untuk pelaksanaan konstruksi krib meliputi : a) Pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan
94 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan b) Gambar-gambar Pelaksanaan Gambar-gambar yang harus disediakan oleh Penyedia Jasa dan Direksi Pekerjaan ditentukan berdasarkan Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-9, Pekerjaan Lain-lain 3) Pekerjaan Konstruksi Krib Pelaksanaan kegiatan konstruksi krib terdiri dari pekerjaaan : a) Pekerjaan Tanah Pekerjaan tanah tediri dari : kupasan, pembersihan medan; galian dan timbunan. Pelaksanaa pekerjaan mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjan pengukuran atau stacke out Pekerjaan pengukuran atau stacke out mengacu Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Pengujian Geoteknik Pekerjaan geoteknik terkait dengan mutu hasil pekerjaan timbunan. Pelaksanaan pekerjaan pengujian geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-4, Pekerjaan Beton dan Bekisting e) Pekerjaan Pasangan Pelaksanaan pekerjaan pasangan batu mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Tiang Pancang Pelaksanaan pekerjaan tiang pancang mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-6, Pekerjaan Pemancangan 4) Pekerjaan Lain-lain Pekerjaan lain-lain sifatnya mendukung pekerjaan utama. Pekerjaan lain-lain meliputi foto dokumentasi ; pelaksanaan pengujian mutu bahan dan pekerjaan penggambaran (as-built drawing). Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx, Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknik, Volume I : Umum, Bagian-6, Pekerjaan Pemancangan 5) Pelaporan dan Foto Dokumentasi 1) Pelaporan Pelaporan yang dihasilkan dalam pekerjaan konstruksi, meliputi : a) Laporan Kemajuan Pelaksanaan Sebelum tanggal..............tiap bulan atau pada suatu waktu yang ditentukan Direksi, Penyedia Jasa harus menyerahkan 5 (lima) salinan laporan Kemajuan

95 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

b)

Bulanan dalam bentuk yang bisa diterima oleh Direksi, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan selama bulan yang terdahulu. Laporan sekurang-kurangnya harus berisi hal-hal sebagai berikut : i. Prosentase kemajuan pekerjaan berdasarkan kenyataan yang dicapai pada bulan laporan maupun prosentase rencana yang diprogramkan pada bulan berikutnya. ii. Prosentase dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun prosentase rencana yang diprogramkan harus sesuai dengan kemajuan yang dicapai pada bulan laporan. iii. Rencana kegiatan dalam waktu dua bulan berturut-turut dengan ramalan tanggal permulaan dan penyelesaiannya. iv. Daftar tenaga setempat v. Daftar perlengkapan konstruksi, peralatan dan bahan dilapangan yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan termasuk yang sudah datang dan dipindahkan dari lapangan. vi. Jumlah volume pekerjaan merupakan bagian pekerjaan tetap harus diuraikan sebagai berikut : - Jumlah volume untuk berbagai pekerjaan pembetonan - Jumlah volume dari berbagai pekerjaan galian dan timbunan - Jumlah volume dari bahan perkerasan jalan yang digunakan - Jumlah banyaknya bangunan, dll. vii. Uraian pokok pekerjaan sementara yang dilaksanakan selama masa laporan. viii.Daftar besarnya pembayaran terakhir yang diterima dan kebutuhan pembayaran yang diperlukan bulan berikutnya. ix. Hal-hal lain yang diminta sesuai dengan kontrak, dan masalah yang timbul atau berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan selama bulan laporan. Rencana Kerja Harian, Mingguan dan Bulanan Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 (dua) rangkap Rencana Mingguan yang sudah disetujui oleh Direksi setiap akhir Mingguan dan untuk minggu berikutnya. Rencana tersebut harus sudah termasuk pekerjaan tanah, pekerjaan konstruksi lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, pengadaan bahan, pengangkutan dan peralatan dan lain-lain yang diminta Direksi. Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 (dua) rangkap rencana kerja harian secara tertulis semua kemajuan yang sudah disetujui oleh Direksi setiap hari maupun untuk hari-hari berikutnya. Rencana kerja harus mencakup pekerjaan tanah, pekerjaan beton dan kegiatan lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Penyedia Jasa harus menyediakan Rencana Kerja Bulanan dengan sistem barchart pada akhir bulan dan untuk bulan-bulan berikutnya. Rencana kerja ini harus memperlihatkan tenggang waktu dari mulai sampai akhir kegiatan utama dengan volume pekerjaannya. Rencana kerja ini harus diserahkan pada Direksi pada hari ketiga tiap bulan untuk perbaikan dan perubahan. Rapat Bersama Untuk Pembicaraan Kemajuan Pekerjaan

c)

Rapat tetap antara Direksi dan Penyedia Jasa diadakan seminggu sekali pada waktu yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Maksud dari rapat ini membicarakan kemajuan pekerjaan yang sedang dilakukan, pekerjaan yang diusulkan untuk minggu selanjutnya dan membahas permasalahan yang timbul agar dapat segera diselesaikan. 2) Foto Dokumentasi

96 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Semua kegiatan dilapangan harus didokumentasikan dengan lengkap dan dibuatkan album foto berikut keterangan berupa tanggal pengambilan foto, lokasi dan penjelasan foto. Untuk setiap lokasi pekerjaan minimal dibuat 3 seri foto yaitu sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan setelah selesai dilaksanakan, dimana arah pengambilan melalui satu titik yang sama. Penyedia Jasa harus menyerahkan kepada Direksi foto-foto yang dibuat oleh tukang yang berpengalaman. Foto-foto harus berwarna dan ditujukan sebagai laporan / pencatatan tentang pelaksanaan yaitu pada awal pertengahan dan akhir suatu bagian tertentu dari pekerjaan yang diperintahkan oleh Direksi. Pada setiap tahap pengambilan gambar untuk tiap lokasi, pengambilan harus dari titikk dan arah yang sama dan yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika mungkin maka pada latar belakang supaya diusahakan adanya suatu tanda khusus untuk memudahkan mengenali lokasi tersebut dan memperkirakan dimensi obyek yang akan difoto. Foto negatif dan cetakannya tidak boleh diubah atau ditambah apapun. Sebelum pengambilan gambar-gambar, maka harus dibuat rencana / denah yang menunjukan lokasi, posisi dari kamera juga arah bidikan yang kemudian diserahkan kepada Direksi untuk disetujui. Tiap foto berukuran 3R dan diberi catatan sebagai berikut :
-

Detail Kontrak Nama atau Lokasi Tanggal Pengambilan Tahap Pelaksanaan

Berita Acara Pembayaran dan Laporan Bulanan harus dilengkapi dengan suatu set pilihan foto-foto yang bersangkutan dengan periode tersebut. Juga pada akhir pelaksanaan Kontrak, maka foto-foto harus diserahkan kepada Direksi dalam albumalbum. Foto-foto ditempelkan dalam album secara beraturan menurut lokasinya masing-masing. Tiap obyek harus lengkap tahapnya yakni 0 %, 50 % dan 100 % dan ditempelkan pada satu halaman. Penyerahan dilakukan sebanyak 6 (enam) ganda bersama 1 (satu) ganda album negatifnya. Tiap album dan juga yang berisi negatif harus diberi keterangan atau tanda sama untuk memudahkan mengidentifikasi negatif dan cetakannya. Semua album menjadi milik Pemberi Tugas dan tanpa ijinnya tidak boleh diberikan / dipinjamkan kepada siapapun. 6) Kebutuhan Tenaga Ahli a) Field Supervision Team, kewajibannya sebagai berikut : i. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) melakukan pengendalian atas pelaksanaan civil works yang dilakukan oleh kontraktor tepat mutu, tepat biaya, dan tepat waktu. rujukan : dokumen kontrak. ii. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) mendorong kontraktor untuk memenuhi kewajibannya dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang tercantum di dalam dokumen kontrak. iii. membantu pengguna jasa (dalam hal ini pimbagpro fisik) dalam menyikapi contract change order / addenda yang diperlukan di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi oleh pelaksana. iv. melakukan review design dan membantu pimbagpro fisik memerintahkan kepada kontraktor untuk menyesuaikan pekerjaannya dengan hasil review design.

97 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

v. melakukan pengecekan, pengukuran, dan perhitungan volume setiap item pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor secara cermat sebagai bahan untuk menetapkan volume pekerjaan yang layak untuk dibayar oleh pemberi pekerjaan. vi. melakukan pemantauan secara terus menerus pelaksanaan pekerjaan lapangan (yang dikerjakan oleh kontraktor) pengendalian mutu, dan kemajuan fisik / keuangan untuk menjamin kesesuaiannya dengan dokumen kontrak dan melaporkannya kepada pimpro pengawasan dan pimbagpro fisik. vii. memeriksa dan menandatangani mc (monthly certificate) yang diajukan oleh kontraktor kepada pimpro pelaksanaan konstruksi (pimbagpro). viii. menyiapkan as built drawing. ix. menyiapkan laporan bulanan, laporan triwulan, dan laporan akhir proyek. x. menyiapkan data-data pelaksanaan konstruksi sesuai permintaan direksi/ pemberi kerja. xi. membantu pimbagpro fisik dalam pelaksanaan PHO. 6.5 Pengendalian Biaya, Mutu dan Waktu a) Umum Pengendalian biaya pekerjaan, pada umumnya terfokus pada kondisi rentabilitas, yaitu mengupayakan agar perimbangan antara pendapatan dan biaya pekerjaan tetap terjaga. Arti rentabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba. Jadi dapat diartikan bila pekerjaan dengan rentabilitas yang baik berarti pekerjaan tersebut dapat menghasilkan laba yang baik pula. Evaluasi biaya, sebagai bagian dari proses pengendalian biaya, biasanya menggunakan data yang berkaitan dengan data pendapatan (termasuk piutang yang belum cair) dan data biaya (termasuk hutang yang belum dibayar). Sedangkan data cash basis yaitu yang berkaitan dengan data penerimaan (cash in) dan data pengeluaran (cash out) sering luput dari perhatian, padahal data tersebut juga ada dan penting sekali untuk mendukung suatu keputusan keuangan. Data cash basis sebenarnya merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dikendalikan agar sasaran pekerjaan terutama laba dapat dicapai. Hampir semua usaha dapat dikatakan tidak dapat terbebas dari kebutuhan dana pinjaman, oleh karena itu dana pinjaman yang diperlukan untuk menutup cash flow yang defisit, harus dikendalikan agar bunga pinjaman yang harus dibayar cukup wajar. Dilihat dari sudut rentabilitas dan likuiditas kondisi pekerjaan dapat dibagi dalam 4 (empat) kelompok yaitu : i. rentabilitas bagus dan likuiditas bagus pekerjaan seperti ini yang selalu diharapkan karena labanya cukup besar dan pembayarannya lancar, sehingga labanya berwujud sebagai tunai, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya bagus (menguntungkan) dan pembayarannya juga lancar. ii. rentabilitas bagus dan likuiditas jelek pekerjaan seperti ini memerlukan perbaikan likuiditas yang mendesak. bila kondisi likuiditas jelek terus dan tidak dapat diperbaiki, dampaknya dapat mengurangi kondisi rentabilitas, seperti pekerjaan yang semula nilai kontraknya bagus tetapi dalam proses pembayarannya sering terhambat (tidak lancar). iii. rentabilitas jelek dan likuiditas bagus pekerjaan seperti ini memerlukan strategi pengendalian biaya dengan memanfaatkan likuiditas yang bagus sehingga dapat menolong kondisi rentabilitas menjadi lebih baik, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya cukup berat, tetapi semua pembayarannya sangat lancar. iv. rentabilitas jelek dan likuiditas jelek
98 dari 120

1) Pengendalian Biaya

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

pekerjaan seperti sedapat mungkin dihindari atau dicegah sejak awal agar tidak terjadi, seperti pekerjaan yang nilai kontraknya berat, ditambah lagi pembayarannya tidak lancar. oleh karena itu, pengendalian likuiditas pekerjaan perlu menjadi perhatian, terutama bagi para engineer dalam rangka pengendalian pekerjaan. b) Pengertian dan Maksud Pengendalian Biaya Pelaksanaan Pekerjaan Yang dimaksud dengan pengendalian biaya pelaksanaan pekerjaan adalah semua upaya/usaha yang dilakukan oleh seluruh staf pekerjaan (Manajer Pekerjaan dan Staf) dan perusahaan, agar biaya pelaksanaan pekerjaan menjadi wajar, murah dan efisien sesuai dengan rencana dan atau hasil evaluasi yang dilakukan. Pengendalian biaya pelaksanaan pekerjaan terkait erat dan sangat dipengaruhi oleh : (1) Pengendalian waktu pelaksanaan pekerjaan (efek dari penambahan biaya tidak langsung) (2) Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan pekerjaan (efek dari pekerjaan ulang, finishing, pembongkaran, dan lain-lain yang harus menambah biaya lagi, yaitu biaya langsung maupun tidak langsung) (3) Pengendalian sistem manajemen operasional pekerjaan yang bersangkutan, yang kurang baik atau tidak konsisten dalam pelaksanaan / penerapannya (efek penambahan biaya karena in-efisiensi realisasi biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncanakan). Pengendalian yang diterapkan dalam operasional pelaksanaan pekerjaan tidak sekedar berarti pengawasan dan atau pemeriksaan obyek dan kejadian, tetapi lebih merupakan tindakan yang sekaligus merupakan aktifitas perencanaan, pengawasan, pemeriksaan, evaluasi dan tindakan pencegahan atau perbaikan c) Pelaksanaan Pengendalian Biaya di Pekerjaan Tindakan pengendalian yang lebih tepat disebut sebagai pengendalian operasional pelaksanan pekerjaan. Dilaksanakan sebagai langkah antisipasi dan pencegahan terhadap hal-hal yang secara luas mempengaruhi tercapainya nilai biaya pekerjaan yang wajar, murah dan efisien, dilakukan dengan dua cara : (1) Cara langsung Cara ini dilakukan dengan : - Peninjauan - Pengawasan - Pemeriksaan - Audit Sasaran yang dicapai:
- Mengetahui dan mendapat informasi - Evaluasi langsung pada obyek (pekerjaan) dan subyek (pelaksana) pekerjaan - Memberikan alternatif tindakan pencegahan dan perbaikan langsung atas

ketidaksesuaian proses hasil kerja dan perkiraan kejadian negatif yang akan timbul. Memastikan sasaran pengendalian:
- apakah waktu pelaksanaan dan progres fisiknya masih sesuai dengan rencana

atau jadwal pelaksanaan pekerjaan?


- apakah mutu hasil pekerjaan dan proses pelaksanaan pekerjaan memenuhi

standar spesifikasi teknis dan kontrak?


- apakah ada keluhan dari pemberi kerja atau yang terkait? - apakah hasil kerja dan proses tersebut bisa diterima dengan baik oleh pemilik

pekerjaan?

99 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A - apakah biaya pekerjaan sampai waktu itu masih memenuhi batasan rencana

anggaran pekerjaan? sebandingkah dengan produksi yang dihasilkan?


- alternatif tindakan apa yang harus dilakukan dengan adanya penyimpangan dan

ketidaksesuain yang telah diketahui sebab-sebabnya itu, guna mencapai sasaran seperti yang telah direncanakan sebelumnya? (2) Cara tidak langsung (a) Dokumen Pekerjaan Melalui Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) pekerjaan sebagai pedoman biaya pelaksanaan - termasuk dalam hal metode pelaksanaan pekerjaan yang tepat dan efisien - termasuk dalam hal jadwal pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dan efektif - termasuk dalam hal unit price pekerjaan, material dan alat sesuai rencana yang wajar, murah dan efisien. (b) Melalui Rencana Arus Kas Pekerjaan (Cash Flow) Sebagai pedoman kerja dalam hal kondisi keuangan, agar selalu tercapai likuiditas pekerjaan yang berada dalam kondisi balance positif atau surplus. - dilakukan penagihan progress fisik (progress billing) yang intensif sesuai dengan batasan periode atau jumlah nilai penagihan tertentu dan ditindak lanjuti secepatnya dengan benar sehingga segera menjadi cash in (cair) - dilakukan evaluasi dan rencana pembayaran (pembelian) mendesak dan hutang jatuh tempo, sebagai tindakan prioritas pengunaan dana cash pada yang berkepentingan dengan mempertimbangkan batas waktu hutang jatuh tempo dan urgensi obyek yang harus diberikan dana tersebut. (c) Adanya dokumen kontrak dan tehnical specification, yang dalam hal ini menjadi batasan dan aturan pelaksanaan yang harus diikuti/dipenuhi Pelanggaran dan penyimpangan yang terjadi akan menimbulkan biaya tambahan (mungkin pembongkaran, perbaikan atau penalty/klaim dari pemilik pekerjaan), kecuali apabila penyimpangan tersebut sebelumnya telah direkomendasikan oleh pemilik pekerjaan sebagai langkah khusus dan legal (d) Melalui prosedur kerja dan instruksi kerja yang dibuat dan ditetapkan pada pekerjaan (perusahaan) yang bersangkutan. Jika pelaksanaanya tidak konsisten prosesnya pun akan tidak sesuai demikian juga mutunya atau hasil pekerjaannya pun menjadi rentan terhadap penambahan biaya mungkin untuk kerja ulang, pekerjaan finishing, dan lain-lain Kecuali bila hal tersebut sudah melalui perhitungan dan evaluasi bahwa hal-hal yang dilakukan demikian itu akan menghasilkan kerja dan proses kerja yang baik (keputusan berada pada Manajer Pekerjaan; alasan teknis harus wajar) (e) Laporan-laporan pekerjaan - melalui laporan harian pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh para pengawas kepada pelaksana utama atau site manajer - melalui laporan mingguan pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh para koordinator pengawas atau pelaksana utama kepada site manager atau project manager - melalui laporan bulanan hasil usaha pekerjaan atau operasional pelaksanaan pekerjaan yang dibuat oleh site manager atau manajer pekerjaan kepada perusahaan / direksi. Isi laporan mencakup hal-hal sebagai berikut : - realisasi progress fisik terhadap rencananya - rencana diambil dari rap / jadwal pelaksanaan pekerjaan - realisasi pendapatan dan biaya pekerjaan terhadap rencana-nya Rencana diambil dari RAP yang masih valid (RAP yang merupakan edisi / revisi terakhir) :
100 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A -

realisasi penerimaan dan pengeluaran dana pekerjaan terhadap rencana yang diambil dari rap / cash flow. penjelasan atas upaya yang dilakukan pekerjaan untuk mencegah terjadinya ketidaksesuaian agar realisasi tercapai sesuai dengan yang direncanakan termasuk penjelasan upaya antisipasi pencegahan dan perbaikannya (preventive action) untuk hasil usaha bulan berikutnya terhadap rencana sampai bulan depan foto-foto dokumentasi beberapa pekerjaan penting atau menonjol

2) Pengendalian Mutu Pengendalian mutu didefinisikan sebagai upaya pengawasan dan tindak turun tangan terhadap pelaksanaan pekerjaan konstruksi agar memenuhi persyaratan teknis yang telah ditetapkan di dalam Dokumen Kontrak. Prinsip dasar pengendalian mutu suatu pekerjaan dapat dilihat pada gambar. Pengukuran pengendalian mutu mencakup 2 (dua ) hal yaitu : - dimensi (panjang, lebar, tinggi, tebal, kemiringan, dsb) - kualitas (kepadatan, kuat tekan, daya dukung tanah, dsb) Terdapat tiga jenis pengendalian yang harus dilakukan, yaitu : pengendalian mutu bahan baku (seperti : tanah, batu,semen) pengendalian mutu bahan olahan (misalnya ; batu pecah hasil stone crasher, adukan semen, adukan beton dan lain-lain) - pengendalian mutu hasil pekerjaan (misalnya timbunan tanah, beton struktur dll).
-

Untuk setiap obyek yang akan diperiksa ada 5 data yang harus dicatat : nama pemeriksaan, metode pemeriksaan frekuensi pemeriksaan spesifikasi / persyaratan mutu : misalnya kepadatan 100% toleransi hasil : misalnya 0 % Keberhasilan pelaksanaan pembangunan konstruksi SDA, haruslah dinilai dari beberapa aspek, yaitu penyelesaian pekerjaan tepat waktunya sesuai kontrak, ukuran-ukuran sesuai dengan desain, kualitasnya memenuhi spesifikasi teknik, biayanya tidak melebihi anggaran yang telah ditetapkan dan selama pelaksanaan pekerjaan haruslah dijamin keselamatan dan keamanan pekerja ataupun pihak lain. Untuk mencapai maksud tersebut haruslah dilakukan pengendalian yang seksama selama proses pelaksanaan konstruksi, meliputi pengendalian biaya, mutu dan waktu. Prosedur pengendalian mutu dapat dilakukan sebagai berikut : c) Metode pengawasan kualitas pekerjaan, meliputi : (1) Pelaksanaan dan pengambilan sampel Tahap pelaksanaan terdiri dari dua kegiatan, yaitu: - memberi penjelasan dan latihan kepada semua unsur yang terkait dengan pelaksanaan tentang tata cara pelaksanaan. - mengawasi jalannya pelaksanaan sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang telah ditetapkan, mengambil benda-benda uji / sample untuk pemeriksaan, membuat laporan jalannya pelaksanaan, hasil pengujian lapangan dan bendabenda uji yang akan dikirim ke laboratorium (2) Tahap pemeriksaan Tahap pemeriksaan yaitu memeriksa laporan, hasil-hasil pengujian lapangan dan hasil pengujian laboratorium. Membuat kesimpulan-kesimpulan dari hasil pemeriksaan (3) Tahap tindak lanjut

101 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Tahap ini terdiri dari dua kegiatan, yaitu: - Jika hasil pemeriksaan berkesimpulan bahwa kualitas sudah sesuai dengan spesifikasi teknik, harus dibuat rekomendasi agar pekerjaan dilanjutkan berdasarkan tata cara pelaksanaan yang sudah ditetapkan. - Jika hasil pemeriksaan berkesimpulan tidak sesuai (tidak baik), haruslah dilakukan survai/penelitian apa penyebab dari ketidak sesuaian tersebut. Penyebab ketidak sesuaian pekerjaan tersebut ada beberapa kemungkinan : - tata cara pelaksanaan tidak dilaksanakan dengan baik, maka pekerjaan harus dibongkar dan di kerjakan ulang mengikuti tata cara pelaksanaan yang telah ditetapkan. - tata cara pelaksanaan itu sendiri tidak cocok untuk pekerjaan tersebut, maka tata cara pelaksanaan harus di perbaiki/diubah dan pekerjaan diperbaiki menurut cara baru d) Penerapan standar/pedoman 1. Standar/pedoman spesifikasi Standar sesuai dengan spesfikasi mutu bahan atau pekerjaan yang tercantum dalam dokumen pekerjaan 2. Standar/pedoman pengujian Pengujian dilakukan berdasarkan standar-standar yang berlaku 3. Standar/Pedoman Tata Cara Pelaksanaan Pekerjaan Standar pelaksanaan ialah prosedur untuk menjamin tercapainya kualitas pekerjaan yang dikehendaki. Standar pelaksanaan mencakup beberapa aspek seperti pemilihan bahan, percobaan-percobaan, tata cara pelaksanaan (mengolah/meramu, mengangkut dan merekayasa). 3) Pengendalian Waktu Pengendalian waktu dapat dilakukan dengan cara pembuatan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang memuat masing-masing jenis pekerjaan. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan : i. kebutuhan dan fungsi pekerjaan tersebut dengan selesainya pekerjaan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan ii. keterkaitannya dengan pekerjaan berikutnya ataupun kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya. iii. alasan sosial politik lainnya, apabila pekerjaan tersebut milik pemerintah. iv. kondisi alam dan lokasi pekerjaan v. keterjangkauan lokasi pekerjaan ditinjau dari fasilitas perhubungannya vi. ketersedian dan keterkaitan sumber daya material, peralatan dan material pelengkap lainnya yang menunjang terwujudnya pekerjaan yang bersangkutan vii. kapasitas/daya tampung area kerja pekerjaan terhadap sumber daya yang dipergunakan selama operasional pelaksanaan berlangsung viii. produktivitas sumber daya, peralatan pekerjaan, dan tenaga kerja pekerjaan, selama operasional berlangsung dengan referensi dan perhitungan yang memenuhi aturan teknis ix. cuaca, musim, debit banjir, skala gempa tahunan, dan lain-lain x. referensi hari kerja efektif (pekerjaan) dengan mempertimbangkan hari-hari libur resmi nasional, daerah, dan hari-hari keagamaan, serta adat setempat dimana pekerjaan berada. xi. kesiapan sponsor pekerjaan atau sumber daya finansial pekerjaan atau ketersediaan dana pekerjaan yang bersangkutan. Pengendalian waktu dapat dikontrol dengan pembuatan jadwal pekerjaan. Beberapa jenis jadwal dapat dipergunakan, tergantung kepada kebutuhan pekerjaan antara lain adalah :
102 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

a) Bar Charts Basic and Linked (Diagram Balok-Asli dan Terkait) b) Critical Path Method atau network planning 6.6 Pengukuran dan Pembayaran a) Pekerjaan Tanah Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan tanah mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan penyelidikan geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 4, Pekerjaan Beton dan Bekisting e) Pekerjaan Batu Kosong dan Bronjong Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan batu kosong dan bronjong mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Pemancangan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pemancangan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 6, Pekerjaan Pemancangan g) Pekerjaan Lain-lain Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan yang bersifat lain-lain; misal : photo dokumentasi, gambar-gambar, perumahan dan lain yang terekam dalam dokumen kontrak mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 9, Pekerjaan Lain-lain 2) Dasar Pembayaran a) Pekerjaan Tanah Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan tanah mengacu pada Pd

1) Pengukuran

103 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 1, Pekerjaan Tanah b) Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan pengukuran topografi dan pemetaan mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 2, Pekerjaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan c) Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan penyelidikan geoteknik mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 3, Pekerjaan Geoteknik d) Pekerjaan Beton Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan beton mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 4, Pekerjaan Beton e) Pekerjaan Batu Kosong dan Bronjong Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan batu kosong dan bronjong mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 5, Pekerjaan Pasangan f) Pekerjaan Pemancangan Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pemancangan mengacu pada Pd Txx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 6, Pekerjaan Pemancangan g) Pekerjaan Lain-lain Dalam pelaksanaan konstruksi krib semua kegiatan yang berkaitan dengan dasar pembayaran pengukuran pekerjaan, pelaksanaan pekerjaan yang bersifat lain-lain; misal : photo dokumentasi, gambar-gambar, perumahan dan lain yang terekam dalam dokumen kontrak mengacu pada Pd T-xx-xxxx.A, Konsep Pedoman Penyusunan Spesifikasi Teknis, Volume I : Umum, Bagian 9, Pekerjaan Lain-lain

104 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Nomor Pembayaran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Uraian

Satuan Pengukuran

Mobilisasi dan Demobilisasi Jalan masuk dan jalan sementara Gambar konstruksi dan gambar purna laksana Pekerjaan Tanah Pekerjaan Pengukuran dan Pemetaan Pekerjaan Penyelidikan Geoteknik Pekerjaan Beton Pekerjaan Pasangan Batu Kosong dan Bronjong Pekerjaan Pemancangan Pekerjaan Dewatering

Lump Sum Lump Sum Lump Sum Pd T-xx-200x, Bagian1 Pd T-xx-200x, Bagian2 Pd T-xx-200x, Bagian3 Pd T-xx-200x, Bagian4 Pd T-xx-200x, Bagian5 Pd T-xx-200x, Bagian6 Pd T-xx-200x, Bagian7

105 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

LAMPIRAN D
PEMELIHARAAN BANGUNAN PERSUNGAIAN

INVENTARISASI KERUSAKAN & SURVEI PENGUKURAN


KEGIATAN AWAL : 1. DAFTAR SISTEM SUNGAI 2. PRIORITAS -> INVENTARISASI & SURVEI AWAL 3. PROGRAM SURVEI & INVENTARISASI BANGUNAN

KEGIATAN TINGKAT I
PENENTUAN PENGGAL SUNGAI PENGUMPULAN DATA DEBIT SURVEI PENGUKURAN INVENTARISASI & SURVEI BANGUNAN PERSUNGAIAN

KEGIATAN TINGKAT 2
DATA ANGKUTAN SEDIMEN ANALISIS SEDIMEN KOMPUTER MODEL

PEMELIHARAAN PENCEGAHAN

PEMELIHARAAN DARURAT

PEMELIHARAAN KOLEKTIF

PEMELIHARAAN RUTIN PEMELIHARAAN BERKALA PEMELIHARAAN PERBAIKAN KECIL RETIFIKASI REHABILITASI

PEMELIHARAAN KHUSUS

PENGHITUNGAN BIAYA & PELAKSANAAN PEMELIHARAAN

Bagan Alir pemeliharaan bangunan persungaian

106 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

LAMPIRAN E Form Pemeliharan Bangunan Persungaian


Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : . Formulir - Referensi kontrak, laporan, dan gambar Contoh No.Identitas Tgl. Pemeriksaan/survei Nama Petugas Nama satuan wilayah sungai (SWS) 5 Nomor SWS 1 2 3 4 6 Daerah aliran sungai 7 Nama Sungai 8 Terletak/melewati kabupaten 9 Tanggal pemasukan data Kali Hulu,tengah,hilir Tgl/bulan/tahun Tulis namanya Tulis : SWS Masukan data

DOKUMEN KONTRAK / LAPORAN 10 Judul kontrak, tanggal 11 Nama kontraktor 12 Nama konsultan pengawas 13 Judul dokumen laporan / tanggal 14 Nama penulis dokumen laporan , kantor GAMBAR 15 Judul gambar, tanggal 16 Gambar pelaksanaan 17 Nomor gambar 18 Konsultan desain 19 Nama-nota penghitungan, nota penjelasan desain, tanggal 20 Uraian ringkas formulir 1 Nomor..s.d.Nomor..

107 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : . Formulir Klasifikasi Ruas Sungai contoh 1 2 3 4 No.Identitas Tgl. Pemeriksaan/survei Nama Petugas Nama satuan wilayah sungai (SWS) 5 Nomor SWS 6 Daerah aliran sungai 7 Nama Sungai 8 Terletak/melewati kabupaten 9 Tipe sempadan sungai Kali Hulu,tengah,hilir Tanggul kiri/tanggul kanan/ tanggul kiri+kanan/ tanpa tanggul Tulis nama desa setempat Masukan < 20 m atau > 20m Masukan < 20 m atau > 20m Tulis PTU PTP A. & B .. Garis lintang/bujur hasil pembacaan GPS Garis lintang/bujur hasil pembacaan GPS Ambil dari gambar pengukuran Ambil dari gambar pengukuran Ambil dari gambar pengukuran PTU = PTP A = PTP B = o GL = .. .'" o GB = .. .'" GL = .. .'" o GB = .. .'"
o

Masukan data

Tgl/bulan/tahun Tulis namanya Tulis : SWS

10 Nama desa 11 Lebar bantaran kiri 12 Lebar bantaran kanan 13 Nomor titik patok PTU & PTP A (awal) dan B (akhir) 14 Lokasi GPS A

15 Lokasi GPS B 16 Jarak langsung PTU - PTP A 17 Jarak langsung PTU - PTP B 18 Nama dan nomor gambar pengukuran 19 Bangunan 1 20 Lokasi bangunan 1 21 Kondisi bangunan 1

Sebut macam bangunan dari hulu ke hilir dalam GPS dan jarak dari PTU PTP A/B Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

22 Usulan perbaikan/pemeliharaan bangunan 1

Uraian singkat/sketsa usulan perbaikan

108 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
23 Bangunan 2 24 Lokasi bangunan 2 25 Kondisi bangunan 2 Sebut macam bangunan dari hulu ke hilir dalam GPS dan jarak dari PTU PTP A/B Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

26 Usulan perbaikan/pemeliharaan bangunan 2

Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

27 Bangunan 3 28 Lokasi bangunan 3 29 Kondisi bangunan 3

Sebut macam bangunan dari hulu ke hilir dalam GPS dan jarak dari PTU PTP A/B Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

30 Usulan perbaikan/pemeliharaan bangunan 3

Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

31 Bangunan 4 32 Lokasi bangunan 4 33 Kondisi bangunan 4

Sebut macam bangunan dari hulu ke hilir dalam GPS dan jarak dari PTU PTP A/B Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

109 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
34 Usulan perbaikan/pemeliharaan bangunan 4 Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

35 Bangunan 5 36 Lokasi bangunan 5 37 Kondisi bangunan 5

Sebut macam bangunan dari hulu ke hilir dalam GPS dan jarak dari PTU PTP A/B Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

38 Usulan perbaikan/pemeliharaan bangunan 5

Uraian singkat/sketsa kondisi bangunan

39 Uraian ringkas penting Formulir 2A & gambar sketsa Buat catatan seperlunya

110 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : Formulir - Kondisi Ruas Sungai contoh Masukan data 1 No.Identitas Tgl/bulan/tahun 2 Tgl. Pemeriksaan/survei 3 Nama Petugas Tulis namanya KONDISI SEMPADAN SUNGAI DI SEBELAH LUAR SISI TANGGUL Binamarga,irigasi, 4 Kepemilikan bagian luar kiri pribadi, dsb Jalan desa, perumahan, sal 5 Penggunaan tanah bagian luar kiri irigasi, sal.pembuang,dsb Binamarga,irigasi, 6 Kepemilikan bagian luar kanan pribadi, dsb Jalan desa, perumahan, sal 7 Penggunaan tanah bagian luar kanan irigasi, sal.pembuang,dsb 8 KONDISI TANAH BANTARAN KIRI Balai PSDA, proyek sungai 9 Kepemilikan tanah pribadi,dll Tanaman, bangunan 10 Penggunaan tanah Tanaman yang mengganggu 11 Macam tanaman aliran:rumput, bambu,pisang dll 12 Kepadatan tanaman pada bantaran kepadatan : jarang/sedang/ kiri rapat 13 Hambatan aliran air oleh tanaman/ tidak ada/sedang/besar bangunan 14 Penambangan galian C, pada Macam galian dan tingkat galian: tidak ada/sedikit/ bantaran sedang 15 Membahayakan tanggul Tidak/ ya KONDISI TANAH BANTARAN KANAN Balai PSDA, proyek sungai 16 Kepemilikan tanah pribadi,dll Tanaman, bangunan 17 Penggunaan tanah 18 Macam tanaman Tanaman yang mengganggu aliran:rumput, bambu,pisang dll 19 Kepadatan tanaman pada bantaran kepadatan : jarang/sedang/ kiri rapat 20 Hambatan aliran air oleh tanaman/ tidak ada/sedang/besar bangunan 21 Penambangan galian C, pada Macam galian dan tingkat galian: tidak ada/sedikit/ bantaran sedang Tidak/ ya 22 Membahayakan tanggul KONDISI MUARA/ALUR/JALAN AIR Selalu terbuka 23 Kondisi muara Laut lepas Kadang tertutup selalu tertutup selalu baik 24 Kondisi pelayaran baik saat pasang tidak bisa bagus,pengendapan,erosi, 25 Kondisi keseluruhan alur sungai (dilihat dari morfologi sungai) longsor 26 Erosi dasar sungai tidak ada,sedang,kecil 27 Erosi/longsoran tebing kiri 28 Erosi/longsoran tebing kanan 29 Erosi dasar sungai tidak ada,sedang,kecil tidak ada,sedang,kecil tidak ada,sedang,kecil

111 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
30 Penambangan galian sungai pada alur sungai 31 Pengendapan/sedimentasi di dasar sungai 32 Hambatan aliran oleh bangunan yang melintang sungai (jembatan, talang,siphon) tidak ada,sedang,kecil tidak ada,sedang,kecil tidak berarti tanaman dibantaran Jembatan Bangunan lama Bangunan sementara

33 % hambatan aliran air terhadap luas penampang 34 Bangunan terancam?(oleh erosi, penambangan,endapan, dan gangguan lainnya) 35 Uraian ringkas formulir 2B

Ya atau tidak

112 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : . Formulir - Perkiraan pemeliharaan ruas sungai kiri Contoh Masukan data 1 No.Identitas Tgl/bln/thn 2 Tgl pemeriksaan/survei Tulis namanya 3 Nama petugas PEMELIHARAAN PREVENTIF potong rumput/tanaman 4 Usulan pemeliharaan rutin yang mengganggu :..m 5 Panjang pemeliharaan Rutin 2 2 Luas m :..m 6 7 Panjang pemeliharaan Rutin Macam pemeliharaan berkala Jumlah atau volumenya 8 Banyaknya (unit) Perbaikan talud dengan 9 Usulan perbaikan kecil 1 bronjong/pasangan-jelaskan dengan sketsa Perbaikan talud dengan 10 Usulan perbaikan kecil 2 bronjong/pasangan-jelaskan dengan sketsa PEMELIHARAAN KOREKTIF DAN DARURAT Galian endapan, bongkar 11 Usulan perbaikan khusus (50%<fungsi<70%) bangunan, dll Pelebaran sungai,sudetan, 12 Usulan rehabilitasi (fungsi<50%) Uraian ringkas tapi rinci Uraian ringkas tapi rinci 13 Usulan retifikasi (bangunan tidak berfungsi seperti rencana) 14 Pemeliharaan darurat (untuk Uraian ringkas tapi rinci mencegah kerusakan lebih parah) 15 Uraian ringkas Formulir 2C dan sketsa

113 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : . Formulir - Perkiraan pemeliharaan ruas sungai kanan Contoh Masukan data 1 No.Identitas Tgl/bln/thn 2 Tgl pemeriksaan/survei 3 Nama petugas Tulis namanya PEMELIHARAAN PREVENTIF 4 Usulan pemeliharaan rutin potong rumput/tanaman yang mengganggu :..m 5 Panjang pemeliharaan Rutin 2 2 :..m 6 Luas m 7 Panjang pemeliharaan Rutin Macam pemeliharaan berkala Jumlah atau volumenya 8 Banyaknya (unit) 9 Usulan perbaikan kecil 1 Perbaikan talud dengan bronjong/pasangan-jelaskan dengan sketsa di No.15 10 Usulan perbaikan kecil 2 Perbaikan talud dengan bronjong/pasangan-jelaskan dengan sketsa di No.15 PEMELIHARAAN KOREKTIF DAN DARURAT 11 Usulan perbaikan khusus Galian endapan, bongkar (50%<fungsi<70%) bangunan, dll 12 Usulan rehabilitasi Pelebaran sungai,sudetan, (fungsi<50%) Uraian ringkas tapi rinci 13 Usulan retifikasi (bangunan Uraian ringkas tapi rinci tidak berfungsi seperti rencana) 14 Pemeliharaan darurat (untuk Uraian ringkas tapi rinci mencegah kerusakan lebih parah) 15 Uraian ringkas Formulir 2C dan sketsa

114 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : Formulir - Kondisi krib (bangunan yang ada/ existing) Contoh KONDISI RUNTUHAN BANGUNAN 1 No.Identitas Tgl/bln/thn 2 Tgl pemeriksaan/survei Tulis namanya 3 Nama petugas Tak dapat dipakai 4 Kondisi runtuhan (bila krib yang ada telah Bagus runtuh) Kerusakan kecil Longsor Batu hilang Bangunan hilang Bangunan.. 50% < x < 70% 5 Kegunaan runtuhan x < 50 % Tak berfungsi (No.film/No.foto) 6 No.foto KONDISI STRUKTUR BERONJONG 7 Kondisi krib bronjong Tak dapat dipakai Bagus Kerusakan kecil Longsor Batu hilang Bangunan hilang Bangunan.. Tak dapat dipakai Bagus Lapisan pelindung hilang Rusak ringan Rusak berat 50% < x < 70% x < 50 % Tak berfungsi

Masukan data

Kondisi kawat beronjong

Kegunaan beronjong yang ada

KONDISI STRUKTUR TIANG PANCANG BETON/KAYU 10 Kondisi struktur tiang Tak dapat dipakai pancang Bagus Tiang rusak Kepala tiang Batu hilang hancur Tiang hilang Tiang poer hilang Bangunan.. 11 Kondisi beton (untuk krib tiang beton) Bagus Rusak ringan Pecah Tergeser Lapisan beton hilang Besi beton rusak Bagus Rusak ringan Rusak berat 50% < x < 70% x < 50 % Tak berfungsi

12 Kondisi kayu (untuk krib tiang kayu) 13 Kegunaan tiang pancang

115 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
14 Uraian ringkas Formulir 4B & sketsa (Perlu sketsa posisi susunan krib, jumlah dan lain-lain

116 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : Formulir - Kondisi krib (bangunan yang ada/existing ) Contoh KONDISI TUNTUHAN BANGUNAN 1 2 3 4 No.Identitas Tgl pemeriksaan/survei Nama petugas Kondisi runtuhan (bila krib yang ada telah runtuh) Tgl/bln/thn Tulis namanya - Tak dapat dipakai - Bagus - Kerusakan kecil - Longsor - Batu hilang - Bangunan hilang - Bangunan .. - 50% < x < 70% - x < 50% - Tak berfungsi (No. film/No. foto)

Masukan data

Krib kiri/kanan

No. Foto KONDISI STRUKTUR BRONJONG

Kondisi krib bronjong

- Tak dapat dipakai - Bagus - Longsor - Tak berbentuk - Batu hilang - Bangunan - Tak dapat dipakai - Bagus - Lap. Pelindung hilang - Tak berbentuk - Batu hilang - Bangunan - 50% < x < 70% - x < 50% - Tak berfungsi

Kondisi kawat bronjong

Kegunaan bronjong yang ada

KONDISI STRUKTUR TIANG PANCANG BETON/KAYU 10 Kondisi struktur tiang pancang - Tak dapat dipakai - Bagus - Tiang rusak - Kepala tiang hancur - Tiang hilang - Tiang poer hilang - Bangunan hilang - Bagus - Rusak ringan - Pecah - Tergeser - Lapisan beton hilang - Besi beton rusak - Bagus - Rusak ringan - Pecah - 50% < x < 70% - x < 50% - Tak berfungsi

11 Kondisi beton (untuk krib tiang beton)

12

Kondisi kayu (untuk krib tiang kayu)

13

Kegunaan tiang pancang

117 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
14 Uraian ringkas Formulir & sketsa (perlu sketsa posisi susunan krib, jumlah dan lain-lain)

118 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A

Survei Inventarisasi Bangunan Persungaian Nama sungai : Lembar : . Formulir- Penaksiran pemeliharaan krib Contoh 1 No.Identitas 2 Tgl pemeriksaan/survei Tgl/bln/thn Tulis namanya 3 Nama petugas PEMELIHARAAN RUTIN 4 Pemeliharaan rutin Pembersihan sampah Pembersihan runtuhan 5 Jumlah krib pemeliharaan rutin 1 PERBAIKAN KECIL Pekerjaan tanah minor

Masukan data

Tak perlu Mengganti timbunan Tanah Kerikil Lain-lain m x..m x..m=m Tak perlu Mengganti batu Batu & filter Fondasi+batu+filter .m m x m = .m .m Tak perlu Isi batu + kawat Isi batu + panel Ganti unit bronjong Tak perlu Galvanisasi Lapis pelindung Fondasi + filter + unit bronjong
3

Jenis material

Volume pekerjaan tanah (m 3) 10 Pekerjaan batu minor (bila krib dari pasangan batu)

11 Ukuran batu (m) 12 Luas dasar (batu) (m) 13 Ketinggian (batu) (m) 14 Pekerjaan bronjong minor (bila krib dari bronjong )

15 Penggantian unit bronjong

16 Banyaknya unit bronjong/ jumlah yang diganti 17 Ukuran unit bronjong yang diganti 18 Luas dasar (bronjong) (m 2) yang diganti 19 Ketebalan (bronjong)(m) total yang akan diganti 20 Ukuran batu (bronjong) (m) 21 Perbaikan pengikat bronjong

buah Lebar x panjang x tebal .m xm x.m .m xm x=.m ..m diameter batu Tak perlu Ganti kawat Ganti panel ..m
2

22 Luas pengikat bronjong (m 2) 23 Kayu pengganti (untuk krib kayu) 24 Ukuran kayu (mm x mm) 25 Panjang kayu (m) Tak perlu Kayu dolken

.m xm x=.m

x..x.m F = m m

119 dari 120

RPT0-Pd T-xx-xxxx.A
26 Perbaikan beton (untuk krib beton) 27 Luas permukaan beton (m ) 28 Kedalaman beton (m) 29 Perbaikan korektif besar/ Perlu sketsa + deskripsi spesial (bila 50% < x < 70%) 30 Rehabilitasi Perlu sketsa + deskripsi (Bila x < 50%) 31 Rektifikasi (bila sama Perlu sketsa + deskripsi sekali tak berfungsi) 32 Pemeliharaan darurat (bila Perlu sketsa + deskripsi konstruksi dalam keadaan bahaya) 33 Uraian ringkas penting Formulir 4C & sketsa
2

Tak perlu Perbaikan kepala tiang Perbaikan lapis beton .m xm x=.m m


2

120 dari 120