Anda di halaman 1dari 9

Corynebacterium

Corinebacterium adalah batang gram positif, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora, sering mempunyai bentuk seperti pentung pada ujungnya dan granula tidak teratur warnanya. Bakteri ini sering mempunyai susunan yang khas, mirip huruf Cina atau berbentuk pagar. Bakteri ini membentuk asam tapi tidak membentuk gas pada karbohidrat tertentu. Beberapa spesies merupakan sebagian flora normal pernapasan manusia, selaput lender lainnya dan kulit. Corynebacterium diphteriae menghasilkan eksotoksin yang sangat kuat, yang menyebabkan dipteria pada manusia. Corynebacterium vaginale dari saluran kelamin wanita, dahulu dinamakan Haemophilus. Morfologi dan Identifikasi A. Ciri khas organisme Corinebacterium diameternya 0,5-1 m dan panjangnya beberapa m. ciri khas bakteri ini adalah pembengkakkan tidak teratur pada salah satu ujungnya, yang memberikan bentuk seperti pentung kepada bakteri tersebut. Di dalm batang tersebut tersebar secara tidak teratur granula-granula yang dapat diwarnai dengan jelas dengan zat warna aniline (granula metakhromatik) yang memberikan batang tersebut seperti tasbih. Tiap-tiap Corynebacterium pada sediaan yang diwarnai cenderung terletak parallel atau membentuk sudut lancip satu sama lainnya. Percabangan jarang ditemukan dalam biakan.

B. Biakan Pada perbenihan serum terkoagulasi Loeffler, koloni-koloni kecil, bergranula, dan berwarna kelabu, dengan batas-bats yang tidak teratur. Pada agar darah McLeod yang mengandung kalium telurit, koloni berwarna kelabu sampai hitam sebab telurit direduksi secara intraseluler. Tiga tipe C.diphteriae secara khas mempunyai gambaran sebagai berikut: 1. Pada perbenihan agar darah McLeod: Jenis grafis tidak hemolitik,besar, kelabu, tidak teratur, koloni bercorak. Jenis mitis hemolitik, kecil, hitam, permukaan halus, koloni konveks

Jenis intermedius koloni kecil, tidak hemolitik dengan sifat-sifat antara dua yang ekstrim.

2. Pada kaldu, jenis strain grafis cenderung membentuk biakan yang memanjang kedalam cairan, jenis strain mitis tumbuh difus, dan jenis strain intermedius mengendap sebagai sedimen granular.

C. Sifat-sifat pertumbuhan Corynebacterium tumbuh pada sebagian besar perbenihan laboratorium. Pada perbenihan serum Loeffler, Corynebacterium tumbuh jauh lebih mudah daripada kuman pathogen pernapasan lainnya, dan morfologi organism adalah khas pada sediaan mikroskopis, membentuk asam, tetapi tidak membentuk gas pada beberapa kharbohidrat.

D. Variasi dan perubahan Corynebacterium cenderung menjadi pleomorf pada morfologi mikroskopik dan pada morfologi koloni. Variasi dari bentuk halus menjadi kasar pernah ditemukan. Varian dari strain toksigenik sering tidak toksigenik, bila sedikit bakteri ciphteria tidak toksigebik diidentifikasikan dengan bakteriofag dari bakteri difteria toksigenik tertentu, turunan dari bakteri yang terinfeksi akan bersifat lisogenik dan toksigenik, dan sifat ini kemudian dapat diturunkan. Bila bakteri toksigenik dibiak berturut-turut pada antiserum spesifik terhadap fag tidak aktif yang ada di dalam selnya, bakterui tersebut cenderung menjadi tidak toksigenik. Jadi, penambahan fag cenderung menimbulkan toksigenisitas (perubahan lisogenik). Pembentukkan toksin sebenarnya mungkin hanya terjadi bila profag C.diphteriae terinduksi dan melisiskan sel. Sedangkan toksigenisitas dikendalikan genafag, daya ivasi dikendalikan gena bakteri.

Patogenesis Beberapa Corinebacteria, khususnya Corinebacterium pseudodiptheriticum,

Corinebacterium xerosis, Corinebacterium hemoliticum, dan Corinebacterium ulcerans sering dinamakan dipteroid. Bakteri-bakteri ini merupakan penghuni tetap selaput lendir saluran pernapasan dan konjungtiva dan tidak menyebabkan penyakit. Sejumlah dipteroid lainnya menyebabkan infeksi pada binatang, dan jarang pada manusia. Dipteroid anaerobik (propionibacterium acnes)

A. Corinebacterium diphteriae Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksin (racun) Corynebacterium diphtheriae. Difteri digambarkan sebagai "sebuah penyakit saluran pernapasan bagian atas yang ditandai dengan sakit tenggorokan, demam ringan, dan sebuah membran pemeluk amandel (s), faring, dan/atau hidung," oleh CDC. Respons daripada peradangan membentuk suatu Pseudomembran yang terdiri dari bakteri, sel- sel epitel yang mengalami nekrotik, sel- sel fagosit dan fibrin. Kemampuan patogenesis difteri tergantung pada kemampuannya untuk menjajah nasofaringeal rongga atau kulit dan kemampuannya untuk menghasilkan toksin difteri. C. diphtheriae biasanya menjajah lesi lokal pada saluran pernapasan bagian atas (walaupun kutaneus difteri bisa terjadi juga) di mana toksin yang disekresi oleh bakteri nekrotik kasus cedera pada sel-sel epitel. Akibatnya, kebocoran plasma darah ke daerah dan membentuk jaringan fibrin disebut pseudomembrane, yang penuh C. diphtheriae berkembang pesat sel. Di lokasi lesi difteri toksin yang diserap dan disebarluaskan ke seluruh tubuh melalui saluran getah bening. Daerah yang terkena dampak paling umum termasuk jantung, otot, saraf perifer, kelenjar adrenal, ginjal, hati, dan limpa (bukankomprehensif). Difteri toksin yang bekerja dengan menyebabkan kematian sel-sel eukariotik dan jaringan dengan menghambat sintesis protein dalam sel. Dua faktor utama C. diphtheriae bantuan dalam produksi racun sistemik ini: ekstraselular rendah konsentrasi besi dan kehadiran lisogenik profag (berbicara tentang secara rinci dalam fag bagian bawah). Peranan besi dalam C. diphtheriae budaya sangat dramatis, dan diasumsikan memainkan bagian yang sama di vivo juga. Dalam budaya habis besi C. diphtheriae akan menghasilkan toksin difteri sampai dengan 5% dari total produksi protein. Telah ditemukan bahwa gen tox diatur oleh kontrol negatif. Sebuah represor molekul, produk dari gen DtxR, diaktifkan oleh besi. Jika diaktifkan, repressor mengikat ke gen tox operator dan mencegah transkripsi. Ada tiga strain berbeda dari C. diphtheriae yang dibedakan oleh tingkat keparahan penyakit yang menyebabkan pada manusia. Tiga strain gravis, intermedius, dan mitis (Anda dapat membedakan tingkat keparahan dari setiap regangan didasarkan pada nama). Perbedaan virulensi dari ketiga strain dapat dikaitkan dengan kemampuan relatif mereka memproduksi toksin difteri (baik rate dan kuantitas), dan tingkat pertumbuhan masing-masing. Galur yang mitis memiliki waktu generasi sekitar 180 menit sedangkan gravis generasi galur memiliki waktu sekitar 60 menit. Pertumbuhan yang lebih cepat ini memungkinkan koloni untuk menguras persediaan besi di daerah terjajah lebih cepat, membiarkan mereka menghasilkan racun dalam jumlah yang lebih besar lebih cepat. Diperlukan beberapa hari bagi laboratorium

mikrobiologi untuk memastikan toksigenitas kuman difteri yang diasingkan. Laboratorium tidak dapat menentukan diagnosis difteri hanya berdasarkan pemeriksaan mikroskopik saja, karena strain C. Diphteriae baik yang toksigenik maupun yang non-toksigenik tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya secara mikroskopik.

B. Corinebacterium pyogenes C. pyogenes telah diisolasi dari jaringan numereous babi, sapi, domba, dan kambing. Babi dapat menimbulkan radang paru-paru ditandai oleh pembentukan fokus kecil, dienkapsulasi abces, diikuti oleh caseouspnumonialuas. Organisme ini menghasilkan subkutan abcesses di kelinci dan terlokalisasi pada sendi, menghasilkan deformasi arthritis. Kelinci babi dan tikus yang resisten. Abses terbentuk pada omentum dan di hati tikus intraperioneal berikut inokulasi. Morse dan rekan kerja telah menemukan strain organisme dari radang paru-paru sapi mor patogenik untuk tikus daripada dari sapi mastitis. Biokimia C. pyogenes asam tetapi tidak menghasilkan gas dari glukosa, maltosa, galaktosa, laktosa, fruktosa, mannose, sukrosa, dan dextrin, tetapi tidak ada dari arabinosa, xylose, inulin, salisin, dulcitol, manitol, atau gliserol. C. pyogenes telah menjadi media disesuaikan unenriched, mereka memiliki sifat saccharolytic lebih besar. Tidak organisme dari indol; tidak mengurangi nitrat; tidak membentuk H2S, adalah negative untuk metilmerah. Organisme ini adalah antigen homogen oleh Aglutinasi teknik. Sebuah eksotoksin mematikan untuk kelinci dan mampu hemolyzing sel-sel darah merah telah dilaporkan oleh Lovell. Potensi dari eksotoksin dapat ditentukan oleh hemolysin tes. Antitoksin dapat ditemukan pada serum hewan yang terinfeksi dengan organisme ini. C. Corynebacterium renale C. renale menyebabkan pielonefritis pada ternak; itu telah diisolasi dari abcesses ginjal babi. Penyakit ini tidak lazim, dan pertama dimanifestasikan oleh void hemoglobinuria dan pembekuan darah. Infeksi ini terbatas pada kandung kemih, ureter, dan pelvis ginjal.

Mungkin unilateral atau bilateral. C. renale untuk kelinci pertama kali dilaporkan oleh Enderlen, tetapi ditandai dan patologi ginjal khas yang dihasilkan dalam hewan sejak itu digambarkan oleh Feenstra, Thorp, dan Gray (1919). Oleh inoculating intravena organisme penyelidik ini diproduksi papillitis dan pyelitis ditandai oleh nekrosis. Bakteri yang

ditemukan di puing-puing nekrotik dari lesi dan di panggul ginjal. C. renale belum ditemukan untuk menjadi patogenik bagi babi guinea. Sedikit atau tidak ada pertumbuhan yang diperoleh dalam embrio ayam.

D. Corynebacterium pseudotuberculosis C. pseudotuberculosis menyebabkan limfadenitis cascous domba, penyakit yang ditandai dengan adanya nekrosis caseation dalam kelenjar getah bening. Dalam kuda organisme penyebab limfangitis ulseratif, penyakit yang hanya terbatas pada pembuluh limfe dari ekstremitas, terutama kaki belakangnya. Pembuluh getah bening dan kelenjar getah bening regional memperbesar dan ulserasi terjadi, menghasilkan suatu kondisi yang mirip dengan lesi kulit sakit ingus. Suntikan intravena organisme ke guinea pig menyebabkan kematian dalam empat sampai sepuluh hari, dengan pembentukan abcesses di paru-paru dan hati. Suntikan intraperitoneal basil ini ke babi guinea laki-laki menghasilkan orkitis khas dari basil sakit ingus. E. Corynebacterium Equi C. equi mampu memproduksi bronkopneumonia pada anak kuda. Yang prneumonia disertai dengan pembentukan abcesesses kecil tersebar di seluruh jaringan paru-paru. Pembentukan Abcesses juga diamati dalam kelenjar getah bening mediastinum, dan dalam beberapa kasus, kelenjar getah bening di rongga peritoneum yang terlibat. Suntikan Subcutaneus organisme menghasilkan abcess diisi dengan khas, tebal, kuning nanah. Pembangkitan berangsur-angsur dari organisme ke atas saluran udara dari anak kuda mungkin tidak mereproduksi penyakit. Pada hewan yang terinfeksi enteritis ulseratif luas diamati, dan abcesses hadir di mesenterika kelenjar getah bening. Penulis ini menganggap infeksi primer di saluran pencernaan dengan metastasis ke paru-paru. C. Equi telah terisolasi dari os uteri kuda gersang dan dari janin dari kuda-kuda yang telah dibatalkan. Dalam babi, C. Equi dikaitkan dengan kecil, lembut, dikemas abcesses yang biasanya ditemukan di submaxillary kelenjar getah bening. Hal ini juga ditemukan dalam penumonia dari babi oleh thal dan rutqvist. Plum telah menekankan bahwa diferensiasi Equi C. infeksi pada babi dari TB ini hanya mungkin dengan pemeriksaan mikroskopis. Percobaan binatang, terutama kelinci dan tikus, tidak rentan. Beberapa strain organisme mampu membunuh tikus dan

kelinci percobaan. Menurut laporan oleh thal dan Rutqvist. Embrio ayam dibunuh dalam waktu 4 sampai 6 hari setelah inokulasi. Infeksi yang dihasilkan oleh C. Equi dapat didiagnosis secara akurat hanya oleh terisolasi dan identifikasi organisme. Karakteristik seperti morfologi, pertumbuhan pigmen lengket, kurangnya fermentasi karbohidrat, dan ditandai pengurangan nitrat dianggap luar biasa dan paling berharga.

Diagnosis Laboratorium Tes ini memperkuat kesan klinik dan bermakna pada epidemiologi. Catatan: pengobatan spesifik tidak boleh ditangguhksn untuk menunggu laporan laboratorium bila gambaran klinik sangat tersangka difteri. A. Bahan; usap hidung, tenggorokan, atau lesi tersangka lainnya harus dilakukan sebelum obat-obat jasad renik diberikan. B. Sediaan; sediaan mikroskopik yang diwarnai dengan metilen biru alkali atau pewarnaan gram menunjukan batang-batang dalam susunan yang khas. C. Biakan; biakan pada lempeng agar darah (untuk menyingkirkan streptokokus hemolitik), agar miring Loeffler, dan lempeng terulit, dan eramkan senuanya pada 37 C. Kecuali bila usapan (swab) dapat dibiakkan dengan cepat, usapan harus disimpan dengan serum kuda steril sehingga kuman dapat tetap hidup. Dalam 12-18 jam agar miring. Loeffler dapat menghasilkan organisme yang morfologinya seperti difteri. Dalam 36-48 jam, koloni pada perbenihan telurit cukup jelas untuk pengenalan bakteri tipe C.diphteriae. Setiap organisme menyerupai difteri harus dilakukan tes virulensi sebelum diagnosis bakteriologi difteri ditentukan. Tes ini adalah tes toksigenitas sebenarnya dari bakteri difteri yang diisolasi. Tes-tes ini dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga cara sebagai berikut: 1. Tes in-vivo Biakan diemulsifikasikan dan 4ml disuntikkan secara subkutan masing-masing pada dua marmot, yang salah satu diantaranya telah menerima 250 satuan antitoksin difteri intraperotonial 2jam sebelumnya. Binatang yang tidak terlindungi akan mati dalam 23jam, sedangkan binatang yang terlindungi akan tetap hidup. 2. Tes in-vitro

Sepotong kertas saring yang jenuh dengan antitoksin diletakkan pada lempeng agar yang mengandung serum kuda 20%. Biakan yang dites terhadap toksigenitas, digoreskan pada lempeng perbenihan tegak lurus pada kertas saring. Setelah pengeraman 48jam, antitoksin yang berdifusi dari potongan kertas telah mempresipitasikan toksin yang berdifusi dari biakan toksigenik dan menghasilkan garis-garis radier dari perpotongan kertas dan pertumbuhan bakteri.

3. Tes biakan jaringan Toksigenitas C.diphteriae dapat diperlihatkan dengan memasukkan bakteri kedalam agar yang melapisi biakan sel selapis. Toksin mengakibatkan difusi kedalam sel bawahnya dan mematikan sel-sel tersebut.

Epidemiologi dan Pencegahan Sebelum imunisasi buatan, difteri adalah penyakit utama pada anak-anak kecil. Infeksi terjadi baik secara klinik maupun subklinik pada usia muda dan mengakibatkan antitoksin yang menyebar pada penduduk. Reinfeksi tanpa gejala waktu dewasa muda dan dewasa berperanan sebagai rangsangan untuk mempertahankan kadar antitoksin yang tinggi. Jadi sebagian besar penduduk, kecuali ank-anak telah kebal. Dengan dikenalnya imunisasi aktif buatan keadaan telah berubah. Setelah imunisasi aktif selama tahun-tahun pertama kehidupan, kadar antitoksin pada umumnya cukup sampai dewasa muda. Namun, kasus penyakit difteri atau pembawa kuman difteri yang sangat jarang pada penduduk, menyebabkan rangsangan infeksi subklinik selanjutnya tidak ada. Akibatnya banyak orang dewasa tidak mempunyai jumlah antitoksin yang cukup dan kembali peka terhadap penyakit. Setelah infeksi alamiah atau imunisasi aktif, kadar antitoksin hanya tinggi untuk waktu yang terbatas dan dapat sangat berfluktuasi. Karena derajat resistensi individual bervariasi dengan titer antitoksin, dapat ditemukan semua derajat kekebalan, dari yang sangat peka sampai yang sangat kebal. Bakteri Corynebacterium diphtheriae penyebab difteri akan menginfeksi saluran nafas, dengan masa inkubasinya adalah 2-4 hari. Tanda pertama dari difteri adalah sakit

tenggorokan, demam dan gejala yang menyerupai pilek biasa. Bakteri akan berkembang biak dalam tubuh dan melepaskan toksin (racun) yang dapat menyebar ke seluruh tubuh dan membuat penderita menjadi sangat lemah dan sakit. Penyakit difteri dapat pula menyebabkan radang pembungkus jantung sehingga penderita dapat meninggal secara mendadak. Oleh karena itu, tujuan dasar pencegahan adalah membatasi penyebaran kuman difteri toksigenik pada penduduk dan mempertahankan tingkat imunisasi aktif setinggi mungkin. A. Isolasi Untuk membatasi kontak dengan kuman difteri seminimal mungkin, penderita difteri harus diisolasi dan setiap usaha dilakukan untuk membebaskan penderita dari organism ini. Tanpa pengobatan sejumlah besar penderita yang terinfeksi terus mengeluarkan kuman difteri selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setyelah sembuh (pembawa kuman konvalesen). Bahaya ini dapat sangat dikurangi dengan pengobatan aktif dengan antibiotika sedini mungkin. Akan tetapi,terdapat beberapa kuman sehat, dimana kuman difteri tidak dapat diberantas dengan cara-cara yang sekarang ada. Tonsilektomi kadangkadang dilakukan sebagai pilihan terakhir.

B. Imunisasi Aktif Sediaan berikut ini telah dipergunakan: 1. Cairan toksoid Filtrat biakan kaldu strain toksigenik diberi formalin 0,3% dan dieramkan pada 37 C sampai toksisitasnya hilang. Toksoid distandarisasi dengan memakai satuan flokulasi (Lf), sering sebagai 30 Lf/ml. Tiga dosis dari 0,5-1 ml disuntukkan secara subkutan. 2. Alum-precipitaced toxoid Toksoid yang disediakan seperti diatas dipresipitasi dengan alum kalium 1-2%. Ini adalah antigen yang sedikit lebih baik dan tetap berada dalam jaringan subkutan lebih lama. Hanya dua suntikkan diperlukan untuk imunisasi awal, tetapi Alumprecipitaced toxoid dapat menimbulkan hipersensitivitas yang lebih sering daripada toksoid cair. Toksoid ini sering digabungkan dengan toksoid tetanus dan vaksin pertusis dalam satu suntikkan. Toksoid dapat juga diabsorpsi pada alumunium hidroksida atau alumunium fosfat untuk memperlambat absorpsi. Anak-anak sebaiknya mendapatkan penyuntikan toksoid dasar waktu tahun pertama kehidupan dan harus diulang (booster) suntik pada umur 3-4 dan 6-8 tahun. Dewasa muda sebaiknya mendapat suntikan booster lain. Pada orang dewasa kejadian reaksi

hipersensitivitas terhadap toksoid adalah tinggi, dan hanya toksoid murni (Td) yang sebaiknya diberikan. 3. Campuran toksin-antitoksin Ini telah ditinggalkan karena bahaya dissosiasi campuran yang netral dan kemungkinan besar bahaya reaksi terhadap toksin bebas.

Lampiran

Anda mungkin juga menyukai