PRESENTASI KASUS

Seorang Wanita 27 Tahun dengan Carpal Tunnel Syndrome Dextra

Disusun oleh : Fahmi Wahyu Rakhmanda, S.Ked Artha Wahyu Wardana, S.Ked Eka Dewi Pratitissari, S.Ked Cahyaning Gusti Agriani, S.Ked Ahmad Alfin Nurdiana, S.Ked Pembimbing : dr. Agus Soedomo, Sp. S (K) G9911112068 G9911112023 G9911112060 G9911112034 G9911112008

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2013

ANAMNESIS I. IDENTITAS Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Status Masuk Rumah Sakit Tanggal Pemeriksaan No RM II. KELUHAN UTAMA Telapak tangan kanan sering kesemutan. III. KELUHAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN UTAMA Rasa sedikit tebal pada jari tengah, telunjuk, dan ibu jari tangan kanan. IV. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien mengeluh kesemutan di telapak tangan kanan yang dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Kesemutan terutama dirasakan pada sisi dalam jari tengah, telunjuk, dan ibu jari. Kesemutan bersifat hilang timbul dan dirasakan terutama pada malam hari dan berkurang bila dikebas-kebaskan. Pasien mengeluh rasa sedikit tebal pada jari tengah, telunjuk, dan ibu jari. Keluhan muncul bersamaan dengan rasa kesemutan. Pasien juga mengaku terdapat nyeri di pergelangan tangan yang tidak menjalar. Nyeri dirasakan ± 3 hari yang lalu. Nyeri berkurang bila pergelangan tangan dipijat atau dikibas-kibaskan. Pasien tidak pernah memeriksakan keluhan tersebut sebelumnya. Oleh pasien tangan yang sakit masih tetap digunakan untuk bekerja. Pasien bekerja sebagai : Ny. E : 27 tahun : Perempuan : Pasar Kliwon Surakarta : Penjual bubur : Menikah : 21 Januari 2013 : 21 Januari 2013 : 01175549

penjual bubur yang aktivitasnya mengaduk bubur pada kuali besar setiap hari yang sudah dijalani lebih dari 8 tahun. Pasien juga mengaku mempunyai kebiasaan mencuci dan memeras pakaian dengan tangan di rumah. Pasien menyangkal riwayat bengkak dan panas di pergelangan tangan. Pasien juga menyangkal riwayat jatuh menumpu pada tangan. Pasien juga menyangkal kebiasaan tidur menumpu pada pergelangan tangan. Pasien menyangkal riwayat kelemahan anggota gerak. Pasien menyangkal riwayat kesulitan dalam memegang botol atau benda-benda berbentuk sejenis. V. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Riwayat penyakit serupa : disangkal Riwayat trauma Riwayat hipertensi Riwayat penyakit gula VI. : disangkal : disangkal : disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA : disangkal : disangkal

Riwayat penyakit serupa : disangkal Riwayat hipertensi Riwayat penyakit gula VII.

KEADAAN SOSIAL EKONOMI Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja membantu suaminya

berjualan bubur dan mendapat pelayanan kesehatan di RS Dr. Moewardi dengan sarana Jamkesmas VIII. RIWAYAT KEBIASAAN DAN GIZI Pasien makan sehari-hari sebanyak 3 kali dengan nasi, lauk pauk, dan sayur dengan sesekali mengkonsumsi buah-buahan dan susu.

PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN
I. STATUS INTERNA 1. Kesan Umum

perkusi timpani. wheezing -/: Distensi (-). nyeri tekan epigastrium(-). sklera ikterik (-). bising usus (+) normal.Paru Perut : Pembesaran KGB leher (-) : S1S2 murni. 2. regular. rhonki -/-.Kesadaran GCS Tekanan darah Nadi Pernafasan Suhu Mata : Compos mentis : E4 V5 M6 : 120/180 mmHg : 72x/menit : 20x/menit : 36. Status psikiatri Cara berpikir Perasaan hati Tingkah laku Ingatan Kecerdasan : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal . supel.Jantung .50 C : Konjungtiva anemis (-). gallop (-) : Suara nafas vesikular. pupil bulat dan isokor Leher Dada . murmur (-). refleks pupil ±/± diameter (3cm/3cm).

Status neurologis A. Fungsi vegetatif : dalam batas normal : dalam batas normal C. ekstensi dan deviasi .3. Kolumna vertebralis : Kelainan bentuk Nyeri tekan/ ketok lokal Tanda Patrick Tanda Kontrapatrick : (-) : (-) : (-) : (-) Gerakan vertebra servikal : fleksi. Tanda rangsangan selaput otak : Kaku kuduk Tanda lasseque Tanda kernig : (-) : (-) : (-) Tanda brudinski I : (-) Tanda brudinski II : (-) Tanda brudinski III: (-) Tanda brudinski IV: (-) D. Fungsi luhur B. ekstensi dan rotasi pasif dalam batas normal Gerakan tubuh lateral dalam batas normal : membungkuk.

III (Okulomotorius) Celah mata Posisi bola mata Pergerakan bola mata Strabismus Nistagmus Exophtalmos Pupil Besarnya Bentuknya Refleks cahaya langsung : : : : : : : : : di tengah dbn 3 mm Bulat + simetris di tengah dbn 3 mm Bulat + . Nervus kranialis : Kanan Kiri N.E. II (Optikus) Tajam penglihatan Lapang penglihatan Melihat warna Fundus okuli : : : : >6/60 dbn dbn dbn >6/60 dbn dbn dbn N. I (Olfaktorius) Subyektif Dengan bahan (kopi bubuk) : : - N.

V (Trigeminus) Membuka mulut Mengunyah Menggigit Refleks kornea Sensibilitas muka : : : : : dbn dbn dbn + + dbn dbn dbn + + N.Refleks cahaya tidak langsung Refleks konvergensi Melihat ganda : : : + + - + + - N. IV (Troklearis) Pergerakan mata (ke bawah-ke dalam) Sikap bola mata Tengah Melihat ganda : : Tengah : dbn dbn N. VI (Abdusen) Pergerakan mata (ke lateral) : - .

VII (Fasialis) Mengerutkan dahi Menutup mata Memperlihatkan gigi Bersiul Perasaan lidah (2/3 anterior) : : : : : dbn simetris simetris simetris simetris dbn N. IX (Glosofaringeus) Perasaan lidah (1/3 posterior) : dbn dbn . VIII Suara berbisik Tes schwabach Tes rinne Tes weber Vertigo Nistagmus : : : : : : dbn dbn dbn dbn (-) (-) dbn dbn dbn dbn N.Sikap bola mata Tengah Melihat ganda : Tengah : - - N.

XI (Aksesorius) Mengangkat bahu Memalingkan muka : : dbn dbn dbn dbn N.Sensibilitas faring : dbn dbn N. X (Vagus) Arkus faring Menelan Refleks muntah Fenomena Vernet Rideau : : : : normal (tengah) dbn dbn dbn dbn dbn N. Badan .XII (Hipoglossus) Atrofi lidah Kekuatan Gerak spontan Posisi diam Posisi dijulurkan : : : : : (-) simetris (-) di tengah di tengah (-) simetris F. Badan dan anggota gerak 1.

Diskriminasi 2 titik .Respirasi : Simetris. Anggota gerak atas Motorik atas Kekuatan Trofi Tonus Motorik atas Kekuatan Trofi Tonus : : : 5 normal normal : : : 5 normal normal Kanan tengah 5 normal normal Kiri tengah 5 normal normal bawah 5 normal normal bawah 5 normal normal . tidak ada yang tertinggal Pergerakan K.Taktil .Nyeri .Suhu .Lokalisasi : Kanan Kiri dbn dbn dbn dbn dbn : : : : : dbn dbn dbn dbn dbn 2. Vertebralis Sensibilitas .

Refleks Biceps Triceps ++ Brachial Hoffman Tromner : : ++ ++ : ++ : ++ ++ Sensibilitas Taktil Nyeri Suhu Diskriminan 2 titik Lokalis dbn : : : : turun dbn dbn turun : turun dbn dbn dbn dbn 3. Anggota gerak bawah Pergerakan Kekuatan Trofi Tonus Sensibilitas : : : : 5 Normotrofi normal 5 Normotrofi normal .

Taktil Nyeri Suhu Diskriminan 2 titik Lokalis dbn Getar Refleks Patella Achilles Babinski Chaddock Schaeffer Oppenheim Gordon Klonus Paha Kaki : : : : dbn dbn dbn dbn : dbn dbn dbn dbn dbn : dbn dbn : : : : : : : ++ ++ - ++ ++ - : : - - 4. Reflek primitif Reflek memegang : dbn .

gait dan keseimbangan Cara berjalan Tes Romberg Disdiadokokinesis Ataksia Rebound phenomenon Disemetri : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn .Reflek snout Reflek menghisap Reflek palmomental : dbn : dbn : dbn G. Koordinasi. Pemeriksaan nyeri Flick’s sign Thenar wasting Wrist extension test Phalen’s test Torniquet test Tinels’s sign Pressure test Luthy’s sign (bottle’s sign): (-/-) : (-/-) : (+/-) : (+/-) : (-/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) H.

dan ibu jari tangan kanan. Gerakan-gerakan abnormal Tremor Athetose Mioklonik Khorea : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada J. Pasien juga mengeluhkan nyeri di pergelangan tangan kanan yang tidak menjalar sejak 3 hari yang lalu dan menghilang bila dikebas-kebaskan. Keluhan dirasakan hilang timbul terutama setelah bekerja. . telunjuk. Pasien juga mengeluh rasa tebal terutama pada jari tengah. Anamnesis Pasien datang ke RSDM dengan keluhan telapak tangan kanan sering kesemutan yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Resume A.I. Alat vegetatif Miksi Defekasi Refleks anal Refleks kremaster Refleks bulbokavernosus : Normal : Normal : Tidak diperiksa : Tidak diperiksa : Tidak diperiksa II.

Pasien bekerja mengaduk bubur pada kuali besar setiap hari yang sudah dijalani selama lebih dari 8 tahun. B. Pemeriksaan Fisik Status interna Status psikiatri Status neurologis Kesadaran Fungsi luhur Fungsi sensoris Kiri Taktil Nyeri Suhu : : : turun dbn dbn turun turun dbn dbn dbn dbn dbn : dbn : dbn : : GCS E4V5M6 : dbn : Kanan Lengan Diskriminan 2 titik : Lokalis : Fungsi motorik: Atas Kekuatan : 5 Ekstremitas Superior Kanan Tengah 5 Bawah 5 . Pasien juga mengaku sering mencuci baju dengan tangan dan memeras pakaian.

Trofi Tonus : : normal normal normal normal normal normal C.Diagnosis Diagnosis klinis Hipoestesia palmar dextra. Pemeriksaan nyeri Flick’s sign Wrist extension test Phalen’s test Tinels’s sign Pressure test III. Rencana awal Rencana pemeriksaan : - : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) : (+/-) Cek laboratorium (pemeriksaan darah lengkap) Foto Rontgen wrist join dextra AP/lat Electromielografi - Terapi : .Medikamentosa Meloxicam 15 mg 1 x 1 Vit B 6 (piridoksin) tab 50mg 3x1 . II. hipoestesia digiti I. III dextra Diagnosis topis Nervus medianus dalam terowongan karpal Diagnosis etiologis : Suspek Carpal Tunnel Syndrome dextra IV.

Injeksi metylprednisolon 20 mg intrakompartemen . Monitoring: - Perjalanan penyakit Pemeriksaan neurologis V.Nonmedikamentosa Fisioterapi Fiksasi pergelangan tangan dengan bandage Mengurangi aktivitas yang memberatkan penyakit seperti mengaduk bubur. Prognosis Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam : sanam : sanam : sanam VI. Laporan perkembangan (5 Februari 2013) S (subyektif) Kesemutan lebih jarang O (obyektif) GCS Tekanan darah Nadi Pernafasan :E4V5M6 : 110/70 mmHg : 70x/menit : 20x/menit . dan memeras pakaian. mencuci baju dengan tangan.

9 mg/dl 43 mg/dl 5.1 g/dl 0. 103 /µl 320.3 g/dl 40% 4.1.7 detik 25. 106/µl 10.Suhu Fungsi Motorik : Fungsi sensoris : : 36.6 detik SGOT SGPT Albumin Kreatinin Ureum Asam Urat Kolesterol total 17 u/l 15 u/l 4. 103 /µl 11.50 C dbn Lengan Kanan Kiri dbn dbn dbn dbn turun Taktil Nyeri Suhu Diskriminan 2 titik Lokalis dbn Fungsi motorik: : : : : turun dbn dbn turun : Ekstremitas Superior Kanan Atas Tengah 5 normal normal normal normal Bawah 5 Kekuatan Trofi Tonus : : : 5 normal normal Laboratorium (30 Januari 2013) Hb Hct Eritrosit Leukosit Trombosit PT APTT 13.13.0 mg/dl 150 mg/dl .

III dextra Diagnosis topis . menyokong CTS kanan A (assessment) Diagnosis klinis : Hipoestesia palmar dextra. II. hipoestesia digiti I.4 % 90 mg/dl 112 mg/dl 5µg/dl LDL HDL Trigliserid fT4 90 mg/dl 60 mg/dl 110 mg/dl 1ng/dl Rontgen wrist join dextra AP/Lateral (tanggal 23 Januari 2013) Alignment baik Trabekulasi tulang normal Subchondral bone layer baik Celah dan permukaan sendi baik Tak tampak erosi atau destruksi tulang Tak tampak soft tissue mass atau swelling Pemeriksaan EMNG (tanggal 23 Januari 2013) Motorik F wave Sensorik Kesan : dalam batas normal : dalam batas normal : penurunan relatif amplitudo n. medianus kanan : lesi axonal loss sensori yang relatif neuropati n.medianus kanan.HbA1C GDP GD 2 jam PP T4 Interpretasi : normal 5.

segera konsul bedah ortho.Nervus medianus dalam terowongan karpal Diagnosis etiologis : Carpal Tunnel Syndrome Dextra P (planning) Meloxicam 15 mg 1 x 1 Vit B 6 (piridoksin) tab 50mg 3x1 Bila nyeri tidak menghilang/ berkurang : injeksi Metyl prednisolon intra karpal 20mg lagi Bila 2 minggu lagi keadaan masih tidak membaik dan muncul tandatanda atrofi. Latar Belakang Masalah . TINJAUAN PUSTAKA A.

.

C.lumbrikales dan mm. jari tengah dan ibu jari (mm. C.pronator kuadratus). Persarafan motorik Nervus medianus Nervus medianus tersusun oleh belahan fasikulus lateralis dan belahan fasikulus medialis. Otot-otot yang dipersarafinya ialah otot-otot yang melakukan pronasi lengan bawah (m. fleksi falangs paling ujung jari telunjuk.pronator teres dan m.lumbrikales sisi radial).1. fleksi jari telunjuk.8. jari tengah dan ibu jari pada sendi metakarpofalangeal (mm. fleksi jari sisi . medianus membawakan serabut-serabut radiks ventralis dan dorsalis C. dan T.7.6.interoseae sisi radial).Gambar 1. N.

Pada luka di pergelangan tangan. n. Dan pada dorsum manus kawasan sensoriknya adalah kulit yang menutupi falangs kedua dan falangs ujung jari telunjuk. siku dan retinakulum pergelangan tangan. oposisi dan abduksi ibu jari (m.ulnaris.abduktor polisis brevis).pronator teres. Persarafan sensoris Nervus medianus Kawasan sensoriknya mencakup kulit yang menutupi telapak tangan. Kelumpuhan yang menyusulnya melanda ketiga jari sisi radial.radial di sendi interfalangeal (mm. misalnya. N.fleksor digitorum profundus sisi radial). medianus sering terjepit atau tertekan dalam perjalanannya melalui m. sehingga ibu jari. jari tengah. . dan separuh jari manis.medianus dapat terpotong bersama dengan n. kecuali daerah ulnar selebar 11/2 jari. Hal itu sering terjadi pada kecelakaan di mana tangan menerobos kaca. Gambar21.opones polisis dan m.

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) CTS Atau juga disebut sebagai sindroma terowongan karpal.jari telunjuk. merupakan suatu neuropati jepitan (entrapment) n. Gambar 3. Ibu jari tidak dapat melakukan oposisi dan abduksi. Atrofi otot-otot tenar akan cepat menyusul kelumpuhan tersebut. maupun di sendi interfalangeal. dan jari tengah tidak dapat difleksikan.medianus di pergelangan tangan yang menimbulkan parestesia dan kelemahan tangan. Sindroma ini disebabkan oleh tekanan pada saraf medianus sewaktu saraf ini bersama dengan tendo fleksor jari tangan melewati terowongan yang dibentuk oleh tulang karpal dan ligamentum . baik di sendi metakarpofalangeal. Jepitan pada Nervus medianus B.

Tenosinovitis lokal pada tendo fleksor jari tangan sering merupakan penyebab sindroma saluran karpal. Kelemahan otot tenar bermanifestasi sebagai penurunan kekuatan abduksi. Gejala dapat dicetuskan oleh aktivitas yang memerlukan fleksi. mengemudi. dan supinasi berulang pergelangan tangan.karpal transversus. Nyeri dapat terasa di lengan bawah dan kadang-kadang ke bahu dan leher.medianus dapat disebabkan oleh semua proses yang mencapai saluran karpal. Dapat timbul rasa baal atau parestesia di seluruh tangan. menjalankan komputer. dan separuh radial jari manis. Penekanan pada n. Edema prahaid atau selama kehamilan juga bisa menimbulkan gejala ini. jari telunjuk dan jari tengah. hipotiroidisme. 2007) Pasien merasa baal (mati rasa) atau parestesia pada permukaan palmar ibu jari. . dan amiloidosis. Kelemahan dan atrofi otot tenar biasanya timbul belakangan dan dapat timbul tanpa gangguan sensorik yang bermakna. terutama pada perempuan berusia pertengahan. atau penyakit endapan kalsium pirofosfat. Sindroma saluran karpal unilateral cenderung disebabkan oleh trauma. Penyebab sindroma karpal yang lain (sering bilateral) adalah artritis reumatoid. aktivitas jasmani yang menggunakan satu pergelangan tangan. gout. seperti menyulam. (Gilliland. pronasi. dan bermain golf. tuberkolosis. oposisi dan fleksi jempol. akromegali. Nyeri atau kesemutan pada jari sering timbul pada malam hari dan akan berkurang apabila penderita menggoyang atau menggerak-gerakkan tangan.

Pada CTS yang akut. akan terjadi fibrosis epineural dan merusak serabut saraf. selanjutnya terjadi anoksia yang akan merusak endotel dan menimbulkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Hal ini merupakan penyebab tersering. Pengaruh mekanik/tekanan langsung pada saraf tepi dapat pula menimbulkan invaginasi nodus Ranvier dan demielinisasi setempat sehingga konduksi saraf terganggu. Bila keadaan ini berlanjut. thenaris Patogenesis Terdapat beberapa hipotesis mengenai patogenesis CTS. Pada umumnya adalah faktor mekanik dan faktor vaskular sangat berperan dalam timbulnya CTS. mungkin karena terjadi perbaikan dari gangguan vaskuler ini. Lama kelamaan saraf menjadi atrofi dan diganti jaringan ikat sehingga fungsi saraf medianus terganggu. Tekanan yang berulang-ulang dan lama pada saraf medianus akan menyebabkan tekanan intrafasikuler meninggi. selain itu juga terjadi peninggin tekanan fasikuler yang akan memperberat keadaan iskemik ini. Hipotesis ini dapat menerangkan keluhan yang sering terjadi pada CTS yaitu berupa rasa nyeri dan bengkak terutama pada malam/pagi hati yang akan menghilang atau berkurang setelah tangan yang bersangkutan digerak-gerakkan atau diurut. Selanjutnya terjadi pelebaran pembuluh darah yang akan menyebabkan edema dan menimbulkan gangguan aliran darah pada saraf dan merusak saraf tersebut (sama dengan yang kronis).Gambar 4. . Pada keadaan kronis terdapat penebalan fleksor retinakulum yang menekan saraf medianus. biasanya terjadi penekanan/kompresi yang melebihi tekanan perfusi kapiler sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi saraf dan saraf menjadi iskemik. Bendungan/kongesti ini lama-kelamaan akan mengganggu nutrisi intrafasikuler. Sebagian besar CTS terjadi secara perlahan-lahan (kronis) akibat gerakan pada pergelangan tangan yang terus menerus sehingga terjadi penebalan atau tenosinovitits pada fleksor retinakulum. Keadaan ini menyebabkan perlambatan aliran vena intrafasikuler. Atrofi m.

Perdarahan spontan. histoplasmosis. dll yang kesemuanya dapat menyebabkan peninggian tekanan dalam terowongan karpal dan menekan saraf medianus. misalnya: .Keadaan sisitemik lainnya seperti kegemukan.Penyakit sistemik yang berhubungan dengan neuropati seperti diabetes melitus. misalnya kelainan anatomis bawaan. dll yang ternyata menyebabkan saraf medianus di terowongan karpal menjadi sensitif terhadap jebakan. Tofi gout. trombosis.Selain dari faktor mekanik dan vaskuler ini mungkin ada keadaan lain yang membuat saraf medianus menderita dalam terowongan karpal. dll. hal ini merupakan faktor predisposisi dan dapat meningkatkan risiko terjadinya CTS.Semua keadaan yang mengurangi luas/ukuran terowongan karpal. perkapuran. Dapat pula terjadi penebalan fleksor retinakulum (ini yang tersering) misalnya karena proses radang pada artritis reumatoid. radang tuberkulosis. .Keadaan yang menyebabkan isi terowongan karpal berlebihan. kehamilan. menopause. Yang paling sering menyebabkan isi terowongan karpal berlebihan adalah proses radang seperti tenosinovitis nonspesifik yang dapat menyebabkan penebalan dan fibrosis sinovium. Namun setiap keadaan yang menyebabkan tekanan/kompresi saraf medianus dalam terowongan karpal merupakan etiologi CTS. . miksedema.CTS akut biasanya disebabkan oleh trauma (fraktur atau dislokasi) pergelangan tangan. yang dapat mempengaruhi struktur pergelangan tangan. neoplasma/neurinoma atau ganglion juga pernah dilaporkan. patah tulang. . eksostosis tulang. Akromegali osteofit. Etiologi Etiologi dari CTS bisa bermacam-macam. uremi. Dapat juga karena infeksi pergelangan tangan atau lengan bawah. misalnya terdapat otot abberant dalam terowongan. . gagal jantung ataupun gangguan keseimbangan hormon yang . Hal ini bisa salah satunya merupakan pekerjaan atau aktivitas yang menggunakan tangan secara berulang. atau terjadi trombosis pada arteri.

dan 4 (sisi radial). . Gerakan jari-jari kurang terampil. Penderita sering terbangun karena nyeri dan berusaha mengatasi keluhannya dengan menggerak-gerakkan tangan atau mengurutnya. tangan. kesemutan hanya terbatas pada distal pergelangan tangan saja. 3.tetapi rasa baal. atau rasa seperti terkena strum listrik pada jari-jari. Kadang-kadang rasa nyeri dapat terasa sampai lengan atas dan leher. ternyata rasa nyeri ini dapat hilang atau dikurangi. Lama kelamaan keluhan ini makin sering dan makin berat bahkan dapat menetap pada siang maupun malam hari. . Jari-jari. 2. sering dilaporkan bahwa dia bermain hanya dengan jari ke4 dan ke-5 saja. Tes diagnostik yang . Keluhan juga berkurang bila tangan atau pergelangan istirahat dan sebaliknya keluhan bertambah pada pergelangan tangan yang menyebabkan tekanan dalam terowongan bertambah. kesemutan.mengakibatkan penimbunan lemak atau cairan yang juga menimbulkan edema dalam terowongan.Defisiensi vitamin B6 (piridoksin) memegang peranan sebagai penyebab CTS. Rasa nyeri di tangan yang biasanya timbul malam atau pagi hari. dan pergelangan tangan terdapat edema dan kaku terutama pagi hari dan menghilang setelah mengerjakan sesuatu. Dan juga bisa terjadi otot telapak tangan mengecil dan makin lama makin mengecil. Penegakan diagnosis Pada pemeriksan. misalnya sewaktu menyulam atau memungut benda kecil. Rasa baal.Idiopatik Gejala Gambaran klinik dari CTS umumnya menimbulkan keluhan yang berangsurangsur. Bila terjadi pada anak-anak. Dapat pula terasa gangguan pada beberapa jari saja. tetapi tidak pernah keluhan pada jari ke-5 (kelingking saja). misalnya jari ke-3 dan ke-4. Biasanya jari ke-1. gejala parestesia atau nyeri pada jari dapat dicetuskan dengan perkusi di permukaan voler pergelangan tangan (tanda Tinel) atau dengan fleksi penuh pergelangan tangan selama 1 menit (tes Phalen). Kadang-kadang tidak dapat dibedakan jari mana terkena atau dirasakan gangguan pada semua jari.

diindikasikan dekompresi saluran karpal secara bedah disertai pembebasan ligamentum karpal transvesus. obat antiradang. Pemeriksaan CTS : Wrist extension test (kiri) dan Phalen’s test (kanan) Diagnosis bisa ditegakkan melalui pemeriksaan fisik yang meliputi pemeriksaan motorik.lumbrikalis kesatu dan kedua. serta . Bila gejala menetap atau timbul kelainan motorik. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa otot-otot yang diinervasi saraf medianus sisi distal dari terowongan karpal. dan m. (Gilliland. Pada distribusi saraf medianus mungkin dapat dibuktikan adanya penurunan rasa sentuh atau hiperpatia terhadap tusukan jarum dan pelebaran diskriminasi 2 titik. Penelitian tentang hantaran n.fleksor polisis brevis.medianus memperlihatkan perlambatan latensi melintasi pergelangan tangan yang memastikan diagnosis. dan suntikan lokal dengan steroid. Terapi pasien dengan hanya gejala sensorik dan kelainan minor hantaran saraf adalah bidai pergelangan tangan yang terutama dipakai malam hari.abduktor polisis brevis. m. misalnya m.lebih peka dan spesifik untuk menimbulkan gejala sindroma saluran karpal adalah dengan menekan saluran karpal dengan sfignomanometer modifikasi yang diatur pada 150 mmHg selama 60 detik. 2007) Gambar 5.

Tata laksana . sindrom pronator teres. dan ultrasonografi (USG). bisa dilihat apakah terdapat perbedaan keringat. lumbrikalis kesatu dan kedua. pada neuropati ulnar. dan sindrom de Quarvain’s. Dilakukan juga pemeriksaan sensorik. Pada CTS hampir selalu terdapat parestesia. dapat menyebabkan keluhan kesemutan atau kelemahan pada tangan atau nyeri pada lengan. dan pemeriksaan persepsi vibrasi. Gangguan motorik akan berpengaruh pada otot-otot intrinsik tangan kecuali oponen polisis. kadar hormon tiroid. Kita juga harus dapat membedakannya dengan hipestesi pada radikulopati servikal dimana penurunan fungsi sensori yang berjalan sesuai dermatomnya. CTS juga sering memiliki gejala mirip dengan fraktur radius distal. resonansi magnetik. pemeriksaan membedakan 2 titik. abduktor polisis brevis. Untuk membedakannya dari CTS.m. dan pemeriksaan darah lengkap). tomografi komputer. Diagnosis banding Diagnosis banding dalam kasus dalam skenario yang juga merupakan kemungkinan penyakit yang ada bersama CTS adalah neuropati ulnar.oponens polisis. gangguan sensorik biasanya terbatas pada jari ke-5 dan setengah sisi ulnar jari ke-4. Pemeriksaan fungsi ototnom. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah foto polos. fleksor polisis brevis. maka pemeriksaan ini perlu dilakukan. misalnya EMG dan pemeriksaan laboratorium (meliputi pemeriksaan kadar gula darah. pemeriksaan hiperestesia. kulit kering dan licin yang berbatas tegas pada distribusi saraf medianus. Neuropati ulnar juga hampir sama dengan CTS. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksan hipoaesteisa. Untuk diagnosis mungkin juga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang.

Perbaikan yang paling cepat dirasakan adalah hilangnya rasa nyeri yang kemudian .Vitamin B6 (piridoksin). Tetapi ada beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian piridoksin tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila diberikan pada dosis besar. Prognosis Prognosis dari terapi yang diberikan pada CTS ringan umumnya baik. ditujukan pada perbaikan Vaskularisasi pergelangan tangan. . Tindakan operasi bisa dilakukan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan.Injeksi steroid.Fisioterapi. misalnya deksametason 1-4 mg atau hidrokortison 10-25 mg atau metilprednisolon 20 mg/40 mg diinjeksikan ke dalam terowongan karpal dengan menggunakan jarum no.palmaris longus.Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. .23 atau no. .25 pada lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah medial tendon m. suntikan dapat diulangi setelah 2 minggu atau lebih.Pemberian obat antiinflamasi nonsteroid. . misalnya dengan pemberian diuretika. . Bila belum berhasil.Terapi yang bisa diberikan adalah terapi konservatif dan terapi operatif (diindikasikan apabila kasus tidak mengalami perbaikan setelah terapi konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar). . Bidai dapat dipasang terus menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu.Kontrol cairan. Pemberian obat ini diindikasikan karena penebalan fleksor retinakulum (ini etiologi yang tersering) misalnya karena proses radang pada artritis reumatoid.Mengistirahatkan pergelangan tangan. Terapi konservatif bisa dilakukan dengan: . Beberapa penulis berpendapat bahwa salah satu penyebab CTS adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka menganjurkan pemberian piridoksin 100-300 mg/hari selama 3 bulan.

hiperalgesia. dan gangguan trofik. Komplikasi Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang persisten di daerah distribusi n. Keseluruhan proses perbaikan CTS setelah operasi ada yang sampai memakan waktu 18 bulan.Latih otot-otot tangan dan lengan bawah dengan melakukan peregangan secara teratur.Kurangi kecepatan dan kekuatan tangan agar pergelangan tangan memiliki waktu untuk beristirahat. . Pencegahan Pencegahan untuk CTS bisa dilakukan dengan berbagai cara. antara lain: . Biasanya perbaikan motorik dan otot-otot yang mengalami atrofi baru diperoleh kemudian. Komplikasi yang berat adalah reflek sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri hebat. .Batasi gerakan tangan yang repetitif. . .Usahakan agar pergelangan tangan selalu dalam posisis netral. disestesia. . jangan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk. Gunakanlah seluruh tangan dan jari-jari untuk menggenggam sebuah benda.Istirahatkan tangan secara periodik.medianus.Perbaiki cara memegang atau menggenggam alat benda. .diikuti perbaikan sensorik.

.

Sistem Saraf. Cortran. Mardjono. Volume 2. Terjemahan B. L. M. Kumar. Neurologi Klinis Dasar. Dalam: Kumar.al. A. Pendit. 2008. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat.. Polikondritis Berulang dan Berbagai Artritis Lain. al. Sidharta. N. Gilliland. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. J. et. Wilson. A. A. Terjemahan H. Terjemahan Irawati. Edisi 29. B. E. Braunwald. . J. U.. B. 2007. E.. Edisi 7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007. Kamus Kedokteran Dorland.. L. C. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 4. P. Robbins. Buku Ajar Patologi. Edisi 11. 2007. K. C.. D. pp: 1902-1903 Guyton. J. Terjemahan Asdie. V. Martin. R. V. Dalam: Isselbacher. Kasper. pp: 903-948. H. D. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. J. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. D. et. 2007. Fauci. S.DAFTAR PUSTAKA Burns. Hall. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Harrison. S. 2007. Edisi 13.al. et. Dorland.. A. dan S. W. K. Hartanto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful