Anda di halaman 1dari 2

Korupsi, Diberantas dan Memberantas Oleh : Elmi Frida Purba,S.Sos.

Mendengar dan menyebut kata korupsi sudah hal biasa kita dengar dan sebutkan bahkan mungkin dapat dikatakan setiap hari atau setiap waktu. Serasa tidak bosan-bosannya untuk membicarakan dan membahasnya dalam topik pembicaraan sehari-hari. Pemberitaan di media massa juga kita baca hampir setiap hari memuat berita tentang menyangkut korupsi. Apakah setiap orang menyadari apa itu pengertian dari korupsi? Bagi koruptor tahukah bahwa korupsi itu adalah sikap patologi sosial yang merusak sendisendi sistem yang ada? Korupsi menurut harafiah Jhon M.Echols dan Hassan Shaddily yang berarti busuk atau jahat. The Lexicon Webster Dictionary kata korupsi yakni kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap,tidak bermoral dan penyimpangan. Andaikan setiap individu menyadari dan memahami akan pengertian dari korupsi tersebut sungguh sesuatu hal wajar atau biasa jika tidak melakukan korupsi namun jika sudah mengerti pengertian korupsi dan masih melakukannya tentu merupakan sesuatu yang sangat luar biasa patologi sosialnya. Maka penanganan korupsi perlu dengan cara yang ekstra luar biasa. Peranan KPK Sudah seharusnya korupsi diberantas di Indonesia karena lembaga yang independen yang masih dipercaya oleh masyarakat yaitu KPK bekerja seoptimal mungkin untuk memberantas korupsi. Namun tidak semudah yang kita bayangkan untuk menyelesaikan semua kasus yang ada dengan cepat, maka yang perlu saat ini adalah perubahan sosial positif atau setiap individu menyadari dan mengubah mind set bahwa korupsi memang harus diberantas. Terwujud dalam sikap dan perilaku yang dibuktikan mulai dari tindakan yang sederhana misalnya menjalankan tugas dan hadir dikantor tepat waktu dan pulang pada waktunya (jam yang sudah ditentukan). Disamping itu juga maraknya aksi suap menyuap ini merupakan yang semakin menunjukkan tingkat penyimpangan moral semakin naik atau meningkat bahkan yang kadangkala sulit dibedakan antara penyimpangan sosial dengan yang tidak karena sudah dianggapnya membudaya dalam hal ini. Menurut Ermansjah Djaja bahwa korupsi sudah berkembang dan mengakar di Indonesia dalam tiga tahap yaitu elitis, endemic, dan sistemik. Pada tahap elitis yaitu korupsi menjadi patologi sosial yang khas di lingkungan para elit/pejabat. Tahap endemic, korupsi mewabah menjangkau lapisan masyarakat luas. Tahap yang paling kritis yaitu sistemik, dimana setiap individu di dalam sistem terjangkit penyakit patologi sosial korupsi ini. Jadi penyakit korupsi di Indonesia telah sampai pada tahap sistemik. Disorganisasi sosial terhadap korupsi di Indonesia sudah mengakar sampai pada tahap sistemik atau yang disebut penyakit kronik. Sebagai lembaga pemerintah secara hukum yang berwewenang untuk menindak dengan tegas untuk para koruptor dan memang menjadi tugas pokok KPK untuk memberantas korupsi. Maka penegakkan hukum juga harus yang luar biasa yaitu yang memiliki kewenangan luas, independen, bebas dari kekuasaan manapun dalam upaya pemberantasan korupsi, dilakukan secara optimal, intensif, efektif, profesional dan berkesinambungan. Maka orang-orang yang dipercaya sebagai pemimpin di KPK haruslah orang yang cukup kompeten dan berintegritas, terbebas dari suatu indikasi untuk dapat disuap atau sejenisnya. Tugas yang berat jika tugas pemberantasan korupsi ini hanya dibebankan pada KPK namun juga harus mendapat dukungan dan kerjasama yang baik dengan masyarakat. Artinya bahwa KPK dan rakyat sama-sama berupaya keras untuk memberantas korupsi ini. Jika bukan dimulai dari kesadaran sendiri, siapa lagi untuk mengubah negara ini menjadi lebih baik?

Korupsi yang sudah dianggap membudaya ini tidak dapat dibiarkan begitu saja terjadi di masyarakat. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ini merupakan yang selalu di suarakan oleh para elit ketika berkampanye namun setelah terpilih untuk menduduki kekuasaan katakata tersebut tidak di ingat lagi. Seolah-olah masyarakat sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan namun tidak di bela akan hak-hak dan kesejahteraannya.

Diberantas dan Memberantas Mari kita bersama-sama untuk memberantas korupsi untuk memberantas kemiskinan di Indonesia sebab dengan diberantasnya korupsi maka memberantas kemiskinan juga dapat segera terwujud. Dimulai dari penyadaran diri sendiri, menanamkan dalam pikiran bahwa korupsi harus diberantas. Pendidikan dalam keluarga juga perlu dan cara yang efektif, orang tua sebagai pendidik dan teladan untuk tidak melakukan korupsi kemudian sosialisasi untuk gerakan antikorupsi secara menyeluruh daerah, tingkat pendidikan, bidang pekerjaan apapun dan seluruh kelompok usia. Diberantasnya korupsi maka seiring dengan itu memberantas kemiskinan juga segera tercapai atau terwujud. Karena kemiskinan juga tidak memandang kelompok usia maka penanaman penyadaran gerakan antikorupsi harus seluruh tingkat usia. Mari kita tanamkan dan memiliki komitmen bersama-sama untuk diberantasnya korupsi dan memberantas kemiskinan di Indonesia. Bukan dengan setengah hati, namun dengan sepenuh hati sehingga kata berantas tepat pada artinya menghilangkan (menghapus). Dengan kata lain dibersihkan sampai bersih. Sikap toleransi terhadap korupsi selama ini, hal ini terlihat bagaimana hukuman yang dijatuhkan untuk para koruptor sangat ringan, fasilitas penjara yang mewah bahkan mendapat remisi. Sementara rakyat biasa mencuri hasil ladang orang lain hanya untuk mendapatkan uang agar bisa dapat makan tidak mendapat remisi sama sekali karena tidak ada uang untuk menyuap para hakim. Hukum sepertinya sudah mulai diperjual belikan atau dapat ditawarmenawar oleh para penguasa,pemilik kepentingan dan yang memiliki uang. Sungguh sangat menyedihkan jika negara ini di tegakkan oleh hal-hal tersebut. Pahlawan yang telah gugur di peperangan dengan bersusah payah untuk mencapai kemerdekaan yang di cita-citakan. Dengan demikian tugas kita bersama dan tanggungjawab bersama untuk diberantasnya korupsi dengan segera sebab patologi sosial ini sudah mengakar atau bahkan sudah membudaya dalam masyarakat. Kemiskinan juga harus segera kita lakukan langkah untuk segera memberantasnya. Koruptor menikmati kelimpahan atau kekayaan dari hasil korupsi namun begitu banyak rakyat yang menderita (melarat) kekurangan makan bahkan sampai memperjuangkan nyawa (mati) hanya untuk sesuap nasi. Miris memang akan keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, jika bukan kita yang mengubahnya siapa lagi?*** Penulis adalah pengamat dan peneliti masalah sosial,tinggal di Yogyakarta.