Anda di halaman 1dari 20

BED SITE TEACHING F ...

Oleh :

Winda Trijayanthi U Putri Natalia Bahari

0418011072 0518011063

Pembimbing :

dr. H. Zulkarnaen A. Mantja, Sp. KJ

SMF ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA PUSAT PROPINSI LAMPUNG DESEMBER 2009

BED SITE TEACHING

I. IDENTIFIKASI PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Agama Warganegara Alamat Pendidikan akhir Pekerjaan Status perkawinan Nomor CM Diperiksa oleh Tanggal pemeriksaan Tanggal penyajian : Bambang Haryanto : 26 tahun : Laki-laki : Islam : Indonesia, suku Palembang : Desa Babakan, Kecamatan Pugung, Tanggamus : SD : Tani : Belum menikah :: Winda Trijayanthi Utama dan Putri Natalia Bahari : 10 Desember 2009 : 11 Desember 2009

II. PEMERIKSAAN FISIK A. STATUS INTERNUS Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan Sistem Respiratorik Sistem Kardiovaskuler Sistem Gastrointestinal Sistem Urogenital Kelainan Khusus Berat Badan : Cukup Baik : Compos mentis : 120 / 70 mmHg : 80 x/menit : 36,6 C : 20 x/menit : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : tidak ada : 57 kg

B. STATUS NEUROLOGIKUS Rangsang meningeal Urat saraf kepala Sistem motorik Saraf vegetatif Fungsi luhur C. LABORATORIUM Hb Ht LED 1 jam Leukosit GDS Protein total : 14,6 mg/dl ::: 8000 mg/dl ::: tidak ada : normal : normal : normal : normal

SGPT/SGOT Ureum Kolesterol total Uric acid Trigliserida

: 20/- U/I ::::-

III. PEMERIKSAAN PSIKIATRI A. ALLOANAMNESA Diperoleh dari : a. Aslana, 48 tahun (Ibu Kandung Pasien) Alamat : Desa Babakan, Kecamatan Pugung, Tanggamus (Tinggal satu rumah dengan pasien) b. Arifin, 47 tahun (Paman dari Pihak Ayah Kandung) Alamat : Desa Babakan, Kecamatan Pugung, Tanggamus (Tidak tinggal satu rumah dengan pasien, tetapi berdekatan) A1. SEBAB DIBAWA KE RSJP LAMPUNG : Sering berbicara sendiri Tidak mau makan dan minum Tidak mau mandi Tidak mau diajak bicara

A2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG DAN STRESSOR: Sekitar awal bulan Juli 2009, pasien merantau ke Talang Padang mengunjungi ayah kandungnya selama bulan. Kemudian merantau ke Lampung Barat mengunjungi kakak kandung satu ayahnya selama 2 bulan. Dan kembali lagi ke Talang Padang dan menginap di sana selama bulan, selama menginap di Talang Padang pasien pernah menginap di kebun selama 2 malam. Setelah menginap 2 malam di kebun pasien mulai terlihat menunjukan gejala sakit yaitu marah-marah sendiri, makan-minum harus disuruh, mandi harus disuruh, mempunyai keinginan ingin membunuh orang, tidak

memiliki rasa takut, merasa paling kuat, mengaku bisa melihat bayangan seorang pria, pasien terdaftar sebagai siswa kelas 3 di sebuah sekolah SMA. Pasien adalah seorang siswa yang cukup aktif dan bergaul normal seperti siswa-siswa lainnya. Saat itu, setiap sore pasien selalu aktif mengikuti bimbingan belajar di sekolah guna menghadapi ujian akhir nasional (UAN). Setiap hari, baik sekolah maupun bimbingan, pasien selalu menggunakan kendaraan bermotor milik kakak kandungnya. Pada tanggal 10 Mei 2007, adalah hari pertama UAN dimulai. Pasien pun turut mengikuti sebagai peserta ujian. Setelah selesai ujian pada hari itu (tepatnya pkl. 11.00), pasien pulang menuju rumah yang diakui keluarga cukup jauh jaraknya dari sekolah. Dalam perjalanan pulang tersebut, tanpa disangka-sangka pasien menabrak seorang anak SD yang sedang menyebrang jalan. Menurut keterangan keluarga, korban yang ditabrak mengalami luka yang tidak begitu parah. Namun keluarga korban kecelakaan beserta masyarakat (massa) disekitar kejadian sontak menghampiri pasien dan langsung berusaha melakukan kekerasan terhadap pasien. Beruntung saat kejadian ada salah satu warga yang mengenal pasien. Warga tersebut langsung memeluk melindungi pasien dan membawanya ke rumah warga tersebut. Pasien saat itu merasa sangat ketakutan sehingga ia tidak mau keluar dari rumah tersebut. Akhirnya pasien pun bermalam di rumah warga tersebut hingga akhirnya kakak kandung pasien menjemputnya untuk pulang ke rumah keesokan harinya. Pasien tidak mau lagi berangkat ke sekolah, meskipun saat itu sedang UAN. Pada bulan Mei Juni 2007, sejak kejadian tersebut pasien mengalami perubahan sikap perilaku yang tak wajar. Pasien selalu merasa ketakutan dan tidak mau keluar rumah, kadang-kadang pasien tiba-tiba lari dan bersembunyi di pojok kamar. Menurt ibunya, pasien mengaku sering melihat orang-orang yang ingin mengeroyoknya. Disamping itu pasien juga selalu menyendiri, selalu berbicara sendiri dan tidak mau bicara pada keluarga. Aktifitas sehari-hari pasien

menjadi semakin menurun, mandi selalu di arahkan keluarga. Makan dan minum pun bahkan harus diambilkan dan disuapi oleh keluarga. Pada bulan Juli 2007, keluarga membawa pasien berobat ke dokter spesialis saraf di Pahoman. Keluarga mengaku hanya mendapatkan obat-obatan saja, dan disarankan kontrol bila obat habis. Pengobatan di dokter tersebut hanya berlangsung 2 kali dalam 1 bulan ini. Kemudian keluarga menghentikan pengobatan tersebut, karena dinilai tidak terdapat perubahan sama sekali. Pada bulan Agustus 2007 Februari 2008, keluarga akhirnya membawa pasien ke tempat pengobatan alternatif (diakui keluarga ; H. Syukri) di Kemiling. Pasien dirawat inap selama 6 bulan. Setelah keluar dari tempat perawatan tersebut, keluarga mengakui terdapat perubahan pada pasien, meskipun perubahannya tak begitu mencolok. Saat itu pasien sudah mau makan, minum dan mandi sendiri, walaupun masih harus disuruh oleh keluarga. Namun sikap dan perilaku pasien masih tetap seperti biasa, menyendiri, berbicara sendiri dan sering ketakutan. Keluarga mengakui sangat sulit berkomunikasi dengan pasien. Pada bulan Maret Juni 2008, kehidupan pasien di rumah masih tetap seperti biasa dan tanpa perubahan. Pasien masih sering tiba-tiba ketakutan (terutama melihat orang yang tak dikenal), menyendiri dan berbicara sendiri. Pembicaraan pasien pun dinilai keluarga tak mengandung makna yang jelas. Menurut pengakuan pasien kepada ibunya, pasien sering mendengar suara-suara seperti sirine yang bersamaan dengan orang-orang yang akan mengeroyoknya. Aktifitas pasien sehari-hari masih tetap berlangsung seperti biasa. Makan, minum, mandi dapat dilakukan sendiri meskipun disuruh terlebih dahulu. Pada bulan Juni 2008, saat itu pasien sedang berjalan-jalan ke warung di sekitar rumahnya. Namun tak beberapa lama, tiba-tiba pasien lari dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Pasien langsung mengambil golok dan menutup pintu. Keluarga mengaku pasien ketakutan karena

melihat massa sebanyak 1 truk datang ingin mengeroyoknya padahal menurut keluarga massa tersebut tidak ada. Sejak itu pasien menjadi semakin parah, perilakunya semakin menjadi-jadi. Keluarga menyatakan pasien semakin sering menyendiri, terkadang pasien bersembunyi di belakang rumah hingga seharian dan masuk bila di jemput atau ketika menjelang maghrib. Hal yang sangat menghawatirkan lagi, pasien menjadi tidak mengenali orang-orang terdekatnya. Ibu, Ayah dan kakanya dianggap sebagai temannya. Pasien semakin sulit untuk diajak berkomunikasi, selalu bicara sendiri, dan sat itu pun pasien menjadi sulit tidur. Aktifitas makan, minum dan mandi masih tetap berlangsung sendiri, namun masih harus diperintah terlebih dahulu. Pada bulan Agustus November 2008, keluarga membawa pasien kembali ke pengobatan alternatif (H. Syukri) di Kemiling. Pasien dirawat selama hampir 3 bulan. Karena tak kunjung mengalami perubahan yang berarti akhirnya keluarga dianjurkan balai pengobatan alternatif tersebut untuk membawa pasien pulang dan disarankan untuk berobat ke RSJP Lampung. Pada bulan Desember 2008 Februari 2009, pasien masih tetap menunjukkan gejala-gejala seperti biasa. Pasien masih sering ketakutan terutama melihat orang yang belum dikenalnya. Belum ada perubahan yang berarti. Keluarg pun belum pernah membawa pasien berobat ke RSJP Lampung karena takut masalah biaya. Pada bulan Maret - April 2009, keluhan-keluhan yang di rasakan pasien semakin berat. Disamping keluhan-keluhan yang telah ada, kini pasien juga merasakan seluruh tubuhnya sakit. Pasien mengaku sakit sekali badannya, terutama di leher pasien. Keluhan ini menjadi sering muncul, hingga sampai-sampai pasien selalu memegangi lehernya karena terasa sakit. Menurut ibunya itu hanya perasaannya saja, karena pasien sering tiba-tiba menunjukkan daerah yang sakit berubah-ubah.

Pada tanggal 21 April 2009, karena pasien menunjukkan gejala yang terus bertambah parah, akhirnya ibu pasien membawanya ke RSJP Lampung.

A3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : Tidak ada

A4. RIWAYAT PENYAKIT FISIK & PEMAKAIAN OBAT TERLARANG Keluarga menyatakan pasien tidak pernah menderita sakit panas tinggi hingga kejang-kejang, sesak nafas atau dirawat karena penyakit atu kelainan fisik lain. Riwayat epilepsi tidak ada. Menurut keluarga, keluarga tidak mengetahui pasien pernah minum atau makan obat-obatan terlarang. A5. TARAF FUNGSI PENYESUAIAN DALAM 1 TAHUN TERAKHIR (21 April 2008 21 April 2009) Pasien tidak pernah bebas dari gejala. Pasien selalu, menunjukkan rasa ketakutan, menyendiri dan berbicara sendiri. Pasien juga tidak mengenali keluarga atau orang terdekatnya lagi. Aktifitas sehari-hari, makan, minum, dam mandi mampu dilakukan sendiri, namun selalu diawalai dengan perintah keluarga terlebih dahulu, GAF 60-51

A6. RIWAYAT PRAMORBID a. Riwayat kehamilan dan persalinan Merupakan kehamilan ke-5, anak yang sangat diharapkan, ibu dalam keadaan sehat, cukup bulan dan lahir spontan dengan bantuan dukun kampung. b. Riwayat bayi dan balita

Pertumbuhan dan perkembangan normal, seperti bayi pada umumnya. Makan, minum cukup, bergerak, mulai berbicara, merangkak dan berjalan dapat dilakukan sesuai waktunya. c. Riwayat anak dan remaja Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia. Merupakan anak yang pendiam tetapi mudah bergaul sehingga mempunyai banyak teman. . d. Riwayat pendidikan Pasien menamatkan sekolah sampai dengan jenjang pendidikan SMA. Semua jenjang pendidikan (SD, SMP & SMA) diselesaikan pasien sesuai dengan waktunya. A7. RIWAYAT PEKERJAAN Setelah pasien menamatkan pendidikan SMAnya, pasien

bekerja sebagai buruh perkebunan dengan sistem borongan. Setelah pasien menikah, pekerjaan pasien tetap sebagai buruh perkebunan dengan sistem penghasilan yang sama yaitu sistem borongan sehingga hasil pendapatan perbulan tidak tentu. Diperkirakan pendapatan kotor per bulan Rp. 1.000.000,00. A8. RIWAYAT PERKAWINAN Pasien menikah pada tahun 2002, saat berumur 24 tahun dengan seseorang wanita. Dari perkawinan tersebut diperoleh 1 (satu) orang anak. Yaitu seorang anak laki-laki yang berumur 4 tahun.

A9. RIWAYAT KELUARGA Pasien merupakan anak ke-5 dari lima bersaudara, sejak kecil ikut bersama kedua orang tuanya dan disekolahkan hingga menamatkan sekolah sampai dengan jenjang pendidikan SMA. Kemudian pasien tinggal terpisah dari kedua orang tuanya setelah menikah.

10

Skema pohon keluarga :

Pasien

Yang mengantar pasien: Kakak Kansung

4th

Keterangan: : Laki-laki : Wanita : Pasien

Tidak ada anggota keluarga pasien yang lain yang mederita gangguan jiwa atau keluahan sakit seperti pasien. Pasien merupakan anak ke-5 dari 5 bersaudara.

A10. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Pasien tinggal dirumahnya sendiri bersama dengan istri dan

1 (satu) orang anaknya. Kebutuhan sehari-hari pasien ditutupi dari upah pekerjaan pasien sebagai buruh perkebunan dengan sistem borongan sehingga hasil pendapatan perbulan tidak tentu. Diperkirakan pendapatan kotor per bulan Rp. 1.000.000,00. Kesan: Kurang Denah Rumah: Halaman depan rumah

11

Kamar Tidur

Tempat tidur

Lemari Sumur

TV

Balai bambu

200 meter Tempat Mandi

Sungai Keterangan kondisi rumah: Dinding Lantai Atap Plafon Tempat Mandi Toilet (BAB) B. AUTOANAMNESIS Dilakukan pada hari Rabu, tanggal 9 Desember 2009 pukul 10.30 WIB. Autoanamnesa kepada pasien dilakukan oleh Winda Trijayanthi Utama, S.Ked dan Putri Natalia Bahari, S.Ked. serta didampingi oleh dr. H. Zulkarnaen A. Mantja, Sp.KJ. T J : Bisa. T J : Nama Mas siapa? : Mat Ali (benar) : Siang Mas.. saya dokter muda disini, mau ngobrol sebentar bisa ya? : Papan Kayu Tanah : Genting : Tidak Ada : Hanya berupa bilik terbuka : Di sungai

12

T J T J T J T J T J T J T J T J T J T J T J T J T J T T T

: Mas tinggalnya dimana? : tak menjawab.. (bicara sendiri) : Sekarang masih sekolah, kelas berapa? : kelas 2 SD boy....(salah) : Umurnya sekarang berapa ya? : 2 tahun.. (salah; 25 tahun) : Tanggal lahirnya kapan ya ?? : tanggal lahirnya 23 rajab, 20 bulan boy...(jawaban kacau dan tak terarah) : Tadi pagi udah makan belum? : udah boy,.. : Makannya pakek apa? : pakek apa aja boy... : Mas ini saya kasih angka, diinget ya...257462? : Iya..256789..10 boy..(jawaban kacau) : Coba diulangi lagi, 257462.. : 2578910 boy.. (kacau) : Nah sekarang tau gak mas pagi, siang, atu malam? : Tau boy.. siang boy.... (orientasi waktu baik) : Kira-kira ini jam berapa? : jam berapa aja boy.. (orientasi waktu buruk) : tau gak sekarang mas lagi dimana? : Dimana aja boy.. : Tau kenapa dibawa kesini? : gak tau boy... : Oy mas, Sekarang ini kita lagi ngapai ya? : Ngapain aja boy...(jawaban cuek) : Sekarang lagi ngomong dengan siapa ya? : Ini disebelah mas siapa ya? (menunjuk ibu pasien) : Koq temen? Itukan ibunya?

J : Dengan siapa aja boy.. J : Temen boy..

13

J : iya Ibu boy(tersenyum) T J T J T J T J T : Mas pernah denger bisikan-bisikan gak? : Sering boy...(halusinasi akustik) : Kayak mana bisikannya? : Kayak gini boy.. (memejamkan mata sambil tangan dikedua telinga).. tu..ni...tu..ni.. (seperti suara sirine) : Udah sejak kapan mas sering denger suara-suara tadi? : kapan aja boy... : Pernah liat bayang-bayangan juga gak? : pernah boy...(tertawa) : Bayangannya kayak apa? tu..ni...tu...ni (seperti sirine)...(ekspresi seperti pertanyaan tentang halusinasi) T J T J T J T J T J T T J T J : sering cium bau-bau busuk atau yang aneh-aneh gitu juga gak ? : Enggak pernah boy... : pernah ngerasa ada yang pegang-pegang atau peluk mas gak? : Pernah aja boy... : Hmm, sekarang mas liat apa yang saya pegang, ini apa? : diam.. : ina apa coba? (dipertegas) : Apa aja boy... : Klo menelan ludah sendiri, rasanya apa ya? : apa aja boy.. : Oy sekarang perasaan mas apa, senang gak? : sekarang gini mas, kalo ada kluarga mas yg sakit atau meninggal, apa perasaannya? : apa aja boy... : Oy mas pernah ngerasa punya kemampuan hebat gak, yang gak dimiliki orang lain? : enggak pernah boy

J : Kayak gini boy,,(memejamkan mata sambil kedua tangan ke telinga)

J : Senang boy...

14

T J T J T T J T J T J T J T J T J T J T J

: punya cita-cita apa? : apa aja boy.... : mas pernah ngerasa hidup tak berguna gak ? : Enggak pernah boy... : pernah ngerasa ada yang mengancam atau menyuruh-nyuruh gak? : mas pernah merasa ada yang merasuki tubuh mas gak? : enggak ada boy.. : Klo ada banyak orang disekeliling mas, merasa ada yang ngomong-ngomongin mas gak? : Enggak ada boy... : Mas sering merasa sakit gak badannya? : Sering boy.. : Yang sakit dimana? : Dimana-mana boy (sambil memegangi lehernya..) : Sakiynya seperti apa ya ? : seperti apa aja boy.. : Sekarang coba saya tanya, kalo mas ketemu dompet di jalan, terus ada isi uangnya, mau mas apakan dompet dan uangnya? : Apa aja boy... : Sekarang kita hitung-hitungan ya, klo 100-7 berapa? : 4 boy... : klo 93-7 ? : 234 boy..

J : Pernah boy...Puji keroyok boy..2x.. (Puji panggilannya di rumah)

Secara keseluruhan, sangat sulit berkomunikasi dengan pasien. Hampir semua jawaban pasien tak sesuai yang diharapkan dan nada suaranya pun sangat kecil dan lambat. Sikap dan perilaku terkesan berubah-ubah, kadang cuek, kadang pula tersenyum sendiri. Pandangan mata pun tak tentu arahnya. Namun ada beberapa hal yang dapat diperoleh dengan diperkuat oleh data dari alloanamnesa di atas. C. STATUS PSIKIATRIKUS

15

1. Kesan Pertama 2. Keadaan Umum Kesadaran Sikap Roman Muka Tingkah Laku Pembicaraan

: Seorang laki2, perawakan gemuk, putih, kurang terawat, kebersihan kurang. : Bingung : Berubah-ubah : Cemas : Verbigerasi dan echolalia : kuantitas cukup, kualitas kurang

3. Keadaan Spesifik a. Gangguan Persepsi Halusinasi : halusinasi visual ada, halusinasi akustik ada Ilusi : sulit dinilai b. Gangguan Proses Pikir Bentuk Pikiran Kecepatan Proses pikir Mutu proses pikir Jelas dan tajam Sirkumstansial retardasi terhambat meloncat-loncat perseverasi verbigerasi asosiasi longgar jawaban irrelevan inkoheren bloking isi pikiran pola sentral fobia obsesi waham konfabulasi rasa permusuhan rasa bersalah rasa rendah diri rasa takut hipokondri kemiskinan isi pikiran : autistic : lambat : tidak jelas, kurang tajam : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada

: tidak ada : tidak ada : tidak ada : waham kejar, hypochondri : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada : ada : ada

16

c. Afek dan Reaksi Emosional afek hidup emosi pengendalian stabilitas eecht- un eecht dalam dan dangkal arus emosi empati skala diferensiasi : anxiety : tidak stabil : cukup : tidak stabil : un echt : dangkal : biasa : dapat dirabarasakan : sulit dinilai

d. Gangguan Orientasi waktu tempat orang : tidak ada : ada : ada : buruk : kurang

e. Kontak Psikis f. Perhatian

g. Gangguan Kecerdasan dan intelektual daya ingat : buruk daya konsentrasi : kurang daya nilai : buruk daya pengertian diri : kurang h. Kemunduran intelek : ada i. Inisiatif : kurang j. Gangguan instink dan dorongan instinktual hipobulia : tidak ada Raptus impulsilvus : ada Deviasi seksual : tidak ada Stupor : tidak ada Vagabondage : tidak ada k. Anxietas IV. FORMULASI DIAGNOSTIK Pasien bernama Mus Mujiono usia 25 tahun datang dengan kondisi fisik; lakilaki dengan perawakan gemuk, putih, kurang terawat dan kebersihan kurang. : ada

17

Kesadaran bingung, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 36,4
0

C dan pernapasan 20x/menit.

Pasien datang ke RSJP Lampung karena pasien sering tiba-tiba merasa ketakutan terutama bila melihat orang yang belum dikenal. Pasien juga sering berbicara sendiri, sulit tidur dan selalu menyendiri. Riwayat Pramorbid Status internus dan Neurologis Stressor : : : dalam batas normal dalam batas normal takut ingin dikeroyok massa

Pada pemeriksaan psikiatri didapatkan: 1. Keadaan Umum Kesadaran : Bingung Sikap : Berubah-ubah Roman Muka : Cemas Tingkah Laku : Verbigerasi dan Echolalia Pembicaraan : kuantitas cukup, kualitas kurang 2. Gangguan Persepsi Halusinasi : halusinasi visual ada, halusinasi akustik ada Ilusi : sulit dinilai Keadaan Spesifik

Mutu proses pikir Jelas dan tajam retardasi verbigerasi jawaban irrelevan isi pikiran waham rasa takut hipokondri kemiskinan isi pikiran

: tidak jelas, kurang tajam : ada : ada : ada

: waham kejar, hypochondri : ada : ada : ada

Afek dan Reaksi Emosional afek hidup emosi pengendalian stabilitas : anxiety : tidak stabil : cukup : tidak stabil

18

eecht- un eecht dalam dan dangkal arus emosi empati skala diferensiasi

: un echt : dangkal : biasa : dapat dirabarasakan : sulit dinilai

Gangguan Orientasi waktu tempat orang : buruk : kurang : tidak ada : ada : ada

Kontak Psikis Perhatian

Gangguan Kecerdasan dan intelektual daya ingat daya konsentrasi daya nilai daya pengertian diri : buruk : kurang : buruk : kurang

Kemunduran intelek: ada Inisiatif

: kurang

Gangguan instink dan dorongan instinktual : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada

hipobulia Raptus impulsilvus Deviasi seksual Stupor Vagabondage Anxietas

V. PSIKODINAMIKA Berdasarkan alloanamnesa yang dilakukan, sebelum sakit pasien adalah seorang anak yang aktif dan pandai bergaul. Pasien sekolah hingga kelas III SMA kemudian berhenti. Kejadian bermula saat 1 hari ia mengikuti UAN. Saat itu ia baru pulang dari mengikuti UAN di sekolahnya, namun ketika diperjalanan ia menabrak seorang anak SD dan hampir dihakimi massa. Sejak

19

saat itu sikap dan perilaku pasien berubah menjadi tak wajar. Ia sering ketakutan dan sering menyendiri. Id merupakan bagian penting primitif dalam kepribadian dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan psikologi dasarnya. Id terletak di alam bawah sadar. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin segera dipuaskan. Ini adalah suatu dorongan kejiwaan yang meluap-luap dengan tujuan untuk melepaskan ketegangan. Dalam kasus ini, Id pasien adalah ingin dimaafkan oleh keluarga korban yang ditabraknya dan dimaafkan oleh warga sekitar korban tersebut. Ego adalah bagian ekskutif dari kepribadian. Fungsi ego itu untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan. Fungsi ego terdapat dalam alam bawah sadar. Ego pasien adalah ingin menjelaskan permasalahan dan meminta maaf kepada keluarga pasien. Superego, pada bagian ini terdapat nilai-nilai normal yang memberikan batasan yang baik dan buruk. Nilai yang ada pada superego mewakili nilai-nilai ideal, oleh karena itu, superego berorientasi pada kesempurnaan. Superego pasien adalah pasien ingin sembuh seperti kehidupan normal dan dapat diterima selayaknya manusia normal di lingkungan masyarakat.

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Sindroma Klinik Diagnosa banding Gangguan Kepribadian : F25.1 Skizoafektif tipe depresif : F20.0 Skizofrenia Paranoid : Tidak ada diagnosa Tidak ada diagnosa Takut dikeroyok massa

Aksis III Gangguan dan kondisi Fisik: Aksis IV Aksis V Stressor psikososial :

Taraf tertinggi Penyesuaian dalam satu tahu terakhir: GAF 60-51 gejala sedang (moderate) disabilitas sedang

VII. TERAPI

20

Psikofarmaka

Haloperidol 5 mg 2x1 Trihexipenidil 2 mg 2x1 CPZ 100 mg 0-1/2-1/2

Psikoterapi

VIII. USUL_USUL Rencana EEG Rencana EKG

IX. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam