Anda di halaman 1dari 2

KEPADA TUHAN-ku..

30 november 2012 (PP Bahrul Ulum Jombang) 19:26:48 Entah aku akan nulis apa, yg jelas jari-jariku menari di atas keyboard BAGIAN SATU Plak. Crot. Dan hahahaha., teman-temanku menertawaiku penuh dengan kemenangan. Bau anyir. Tidak menyedapkan. Juga rambutku semakin gimbal. Itulah yang menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Ya. Mungkin rambutku tak karuan. Itu semua karena lemparan telur membusuk. Ah, itu belum seberapa. Air comberan yang mutanajis itu pun digerujug-kan ke badanku. Baju putihku berubah warna. Sarungku juga basah kuyup. Apalagi tubuhku. Seluruhnya penuh dengan air comberan. Aku marah? Aku geram? Ya, semua kurasakan. Aku merasa tak lebih berharga dari seekor anjing. Ya, anjing yang mughaladzah itu. Betapa selama ini diajarkan menghargai sesame. Termasuk dengan anjing pun tidak boleh menganiaya. Namun apa yang terjadi dengan diriku. Aku anak turun mbah nabi adam yang konon orang surga. Ya aku keturunan orang surge. Aku adalah khalifah fil ard. Namun kenapa aku diperlakukan seperti ini oleh teman-temanku? Otakku terus berfikir. Aku mungkin belum kenal istilah suudzan. Aku terus berfikir kesalahan teman. Bahkan dalih dari kitabnya Syeikh AzZurnuji terus bercokol dalam otakku. Aku menyalahkan teman-temanku karena mereka. Aku mempertanyakan; apa teman-temanku tidak pernah belajar talim mutaalim ya? Ah masa bodoh. Aku sudah basah kuyup. Yang penting aku berlari meninggalkan mereka. Tak menunggu lama. Setelah sampai kamar mandi, lengkap dengan peralatan sabun, sampo, sikat, dan odol aku aku pelorotkan pakaianku satu per satu hingga tuntas mandi. Pelan namun pasti, aku tersadar. Aku berbalik bahagia. Ya. Aku girang dengan perlakuan teman-temanku. Lemparan telur busuk. Gebyuran air comberan. Ditambah tertawaan adalah bentuk kesahajaan teman-teman dalam merayakan hari lahirku. Dengan seremoni-seremoninya itulah aku benar-benar dianggap saudara. Tak mungkin akan ada perlakuan semacam ini jika aku tidak dianggap soulmate mereka. Ah. Aku sampai kamar. Aku langsung cepat-cepat ganti sarung dan menepuk pundak temanku seraya menggelar sajadah baru dari pemberian tetangga pondok yang pulang haji. Aku takbiratul ikhram. Aku tidak khusuk. Meski secara fikih shalatku sah, tapi entahlah. Aku ingat, umurku kini sudah 21 tahun. Aku sudah lima tahun di pesantren. Semenjak awal masuk aliyah dan kini sudah semester empat di UIN Yogyakarta. Usai shalat aku terus melamun. Memikirkan umurku yang hari ini menginjak tahun ke-22 sambil tiduran karena lelah.

### Ajaib bin aneh. Umurku kini 12 tahun. Iya bener dua belas tahun. Aku tidak kenal pesantren. Aku masih ikut ayah ke sawah. Setiap soren sepulang dari sekolah SMP aku istirahat sebentar dan segera ambil sepeda. Ayahku sudah mengantongi tahi sapi ke dalam sak. Aku angkut sak tersebut dengan sepeda dan kubawa ke sawah. Sesampai di sawah aku segera ambil cangkul yang telah di simpan ayah dengan ditutup daun atau tanah. Di sana sudah ada dua cangkul dan aku ambil keduanya. Satu untuk ayah. Satu untuk saya. Tak tahu kenapa. Ketika aku dan ayah bersama, pembicaraan asyik selalu terjadi. Le, ayahmu setiap hari mencangkul seperti ini semoga ada hasilnya ya. Bukan hanya hasil bisa panen melimpah. Namun kakakmu yang sedang mondok sama sekolah di aliyah bisa mendapatkan ilmu yang manfaat. Iya ayah. Ucapku singkat. Mendengarnya, aku semakin bersemangat mencangkul. Besok juga gantian kamu. Kalau kamu sudah aliyah, semoga ayah dimudahkan rizki. Semoga ayah bisa memondokkanmu. Syukur-syukur kakakmu sudah bisa berpenghasilan, jadi ayah tidak lagi memikirkan kakakmu. Jika sudah bisa berpenghasilkan, bukan maksudku aku mau dibantu. Aku melihat kakakmu bisa mandiri saja sudah senang. Dan artinya aku tinggal memikirkanmu. Aku hanya terdiam. Aku mengiyakan kata-kata ayah. Tapi aku sangat sadar, betapa aku tidak sampai memikirkan betapa bapak dan ibuku selalu bisa mengupayakan dana untuk memondokkan kakakku. Juga membayar SPP bulananku. Bagaimanakah nanti ketika aku mondok dan bersekolah atau bahkan bersekolah? Ah ###