Anda di halaman 1dari 17

ASSALAMUALAIKUM WR WB

Oleh: Miya Elmira 110.2007.178


Pembimbing: Dr.H.Budi Risjadi, SpA, MKes

Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

Epidemiologi Demam tifoid dan demam paratifoid endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang No. 6 tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit-penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. Walaupun demam tifoid tercantum dalam undang-undang wabah dan wajib dilaporkan, namun data yang lengkap belum ada, sehingga gambaran epidemiologisnya belum diketahui secara pasti.

ETIOLOGI DEMAM TIFOID


Etiologi demam tifoid adalah Salmonella thypi. Sedangkan demam paratifoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteriditis yaitu : Salmonella enteriditis bioserotip paratyphi A, kuman ini disebut juga Salmonella paratyphi A Salmonella enteriditis bioserotip paratyphi B, kuman ini disebut juga Salmonella schottmuelleri Salmonella enteriditis bioserotip paratyphi C, kuman ini disebut juga Salmonella hirschfeldii

PATOFISIOLOGI DEMAM TIFOID

MANIFESTASI KLINIS
- masa tunas : 10-14 hari - gejala : - * Pada minggu pertama : - demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia,mual, muntah, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis.
-

* Pada minggu kedua : demam, bradikardia relatif(peningkatan suhu 1 C tidak diikuti dengan peningkatan denyut nadi 18 kali permenit ). Lidah berselaput (kotor ditengah, tepi, ujung merah serta tremor ),hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirum atau psikosis.

KRITERIA DIAGNOSIS
Anamnesis: Panas > 7 hari Batuk Malaise, letargi, anoreksia, BB turun Nyeri otot/kepala/perut Mencret atau obstipasi, muntah, nyeri perut, perut kembung Kesadaran menurun Dapat timbul kejang, ikterus, epistaksis Pemeriksaan Fisik: Kesadaran menurun (delirium sampai stupor) Hepatomegali, splenomegali Terdengar ronchi Ruam makula papula pada kulit bagian bawah (rose spot) -> menghilang dalam 2-3 hari

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

DEMAM

THYPOID

Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalis, kimia klinik, imunoreologi, mikrobiologi, dan biologi molekular. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit. 1. Hematologi 2. Urinalis 3. Kimia Klinik

4. Imunorologi - Widal - Elisa Salmonella typhi/ paratyphi lgG dan lgM 5. Mikrobiologi - Kultur (Gall culture/ Biakan empedu) 6. Biologi molekular. - PCR (Polymerase Chain Reaction)

Laboratorium: Anemia : Biasanya karena perdarahan usus, supresi sumsum tulang, defisiensi Fe Leukopenia : Jarang < 3.000/mm3 Limfositosis relatif Trombisitopenia Serologi (Widal) : Titer O naik (4x atau >= 1/160)
Biakan salmonella Darah/Sumsum tulang/Kel.limfe/jaringan fagosit : (+) Urin/feses : sesudah bakteremia sekunder

PENATALAKSANAAN
Penggunaan antibiotik yang dianjurkan selama ini adalah sebagai berikut : 1. Lini pertama a. Kloramfenikol, masih merupakan pilihan pertama dalam urutan antibiotik, diberikan dengan dosis 50100 mg/kgBB/hari secara intravena dalam 4 dosis selama 10-14 hari. b. Ampisilin dengan dosis 150-200 mg/kgBB/hari diberikan peroral/iv selama 14 hari, atau c. Kotrimoksazol dengan dosis 10 mg/kgBB/hari trimetoprim, dibagi 2 dosis, selama 14 hari.

2. Lini ke dua, diberikan pada kasus-kasus demam tifoid yang disebabkan S.typhi yang resisten terhadap berbagai obat (MDR=multidrug resistance), yang terdiri atas : a. Seftriakson dengan dosis 50-80 mg/kgBB/hari, dosis tunggal selama

10 hari b. Sefiksim dengan dosis 10-12 mg/kgBB/hari peroral, dibagi dalam 2 dosis selama 14 hari c. Florokinolon d. Siprofloksasin, 10 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis, sudah dipakai untuk pengobatan. Demam biasanya turun dalam 5 hari. Lama pemberian obat dianjurkan 2-10 hari.

e. Asitromisin dengan pemberian 5-7 hari juga telah dicoba dalam beberapa penelitian dengan hasil baik, berupa penurunan demam sebelum hari ke 4. Aztreonam juga diuji pada beberapa kasus demam tifoid pada anak dengan hasil baik, namun tidak dianjurkan sebagai pengobatan lini pertama.

Pemberian kortikosteroid juga dianjurkan pada demam tifoid berat, misalnya bila ditemukan status kesadaran delir, stupor, koma, ataupun syok. Deksametason diberikan dengan dosis awal 3 mg/kbBB, diikuti dengan 1 mg/kgBB setiap 6 jam selama 2 hari.

KOMPLIKASI DEMAM TIFOID


Perforasi usus Syok septik Ensafalopati toksik Trombosis serebral Neuritis optik/perifer Kolesistitis akut Meningitis Pneumonia Pielonefritis Endokarditis Osteomielitis Artritis septik Phlebitis

PROGNOSIS
Umumnya baik,. Tergantung cepatnya terapi, usia, keadaan kesehatan sebelumnya, penyebab tipe salmonella dan adanya komplikasi.

..The End

,,,Thanks 4 Attention,,,