Anda di halaman 1dari 4

Sebagai agen perubahan pekerja sosial dituntut untuk dapat mengatasi masalah sosial yang terjadi di masyarakat melalui

intervensi sosial. Peranan dari Pekerja Sosial sendiri berorientasi terhadap aksi dan perubahan (Edi Soeharto, 2006) yang dilakukan salah satunya melalui keterampilan edukasional, terdiri dari; (1) meningkatkan kesadaran (consiousness raising), (2) memberikan informasi (informing), (3) Konfrontasi (confronting), (4) Pelatihan (training). Edi Suharto (2005: 37) menambahkan bahwa, salah satu metode pekerjaan sosial adalah melalui pengembangan masyarakat atau yang disebut juga pekerja sosial masyarakat (PSM) yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial. PSM memiliki fokus terhadap upaya menolong anggota masyarakat yang memiliki kesamaan minat untuk bekerjasama, mengidentifikasi kebutuhan bersama kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. PSM sering sekali diimplementasikan dalam bentuk (a) Proyekproyek pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhannya atau melalui (b) Kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab (Payne. 1995:165). Diperlukan strategi dan teknik untuk dapat melakukan pengembangan masyarakat yang dirancang untuk menjamin agar perubahan-perubahan yang usulkan dapat diterima oleh partisipan atau berbagai kalangan (stakeholders) yang akan terlibat dan dilibatkan dalam proses perubahan. Taktik menunjuk teknik-teknik spesifik termasuk perilaku-perilaku tertentu yang akan diterapkan agar strategi dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pemasaran produk sosial salah satunya dapat dilakukan untuk melihat perubahan sosial, ide atau perilaku. Dalam melakukan pemasaran produk sosial salah satu metode yang dapat dilakukan adalah melalui kampanye. Menurut Rogers dan Storey (1987), teknik kampanye merupakan "serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan mencapai tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu yang ditentukan". Merujuk dari definisi tersebut maka setiap aktifitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal. Pertama tindakan kampanye ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu. Kedua, jumlah khalayak sasaran yang

besar. Ketiga, biasanya dipusatkan dalam kurun waktu tertentu dan keempat melalui serangkaian tidakan komunikasi yang terorganisasi. (diadaptasi dari Rogers &Storey, 1987 oleh Rice & Atkin,1989). Selain itu juga kampanye juga memiliki karakteristik lain. yaitu sumbernya jelas yang bertangung jawab sebagai penggagas, perancang (campaign makers). Sehingga setiap individu yang menerima pesan dapat mengeahui, mengidentifikasi bahkan mengevaluasi kredibilitas sumber pesan tersebut setiap saat. Segala tindakan dalam kampanye dilandasi prinsip persuasi yakni mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Jenis-jenis kampanye Charles U. Larson (1992) membagi jenis kampanye kedalam tiga kategori yakni; (1) product oriented campaigns, (2) candidate oriented campaigns dan (3) ideologically or cause oriented campaigns. Product oriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada produk umumnya terjadi dilingkungan bisnis. Istilah lain yang sering diperdengarkan adalah commercial campaigns atau corporate campaigns. Candidate oriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada kandidat umumnya dimotivasi oleh hasrat untuk meraih kekuasaan politik. Karena itu jenis kampanye ini disebut dengan political campaigns (kampanye politik). Ideologically or cause oriented campaigns adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Menurut Pfau dan Parrot (1993) ragam dan tujuan, upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu terkait dengan aspek pengetahuan (knowledge). sikap (attitude) dan perilaku (behavioral). Sedangkan Ostergaard (2002) menyebut ketiga aspek tersebut dengan '3A' sebagai kependekan dari awareness, attitude, dan action. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan merupakan sasaran pengaruh (target of influences) yang mesti dicapai secara bertahap agar satu kondisi perubahan tercipta. 1. Pada tahap pertama kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan munculnya kesadaran, berubah kesadaran keyakinan atau meningkatnya pengetahuan khalayak terhadap isu tersebut. Tahap awareness yakni mengugah kesadaran, menarik perhatian dan memberi informasi tentang produk atau gagasan yang dikampanyekan.

2. Tahap berikutnya diarahkan pada perubahan dalam ranah sikap atau attitude. Sasarannya adalah memunculkan simpati, rasa suka. kepedulian atau keberpihakkan pada isu yang menjadi tema. Tahap terakhir kegiatan kampanye ditujukan untuk mengubah prilaku khalayak secara kongkret atau terukur. Dari tindakan langsung khalayak terhadap isu yang dikampanyekan. Menurut Glosari Grafis, kampanye dapat diartikan sebagai sebuah rangkaian iklan dan berhubungan dengan usaha perancangan untuk menampilkan dan memperkenalkan sebuah ide penjualan atau jasa dalam jangka waktu yang teratur. Kampanye isu sosial, bukan kampanye politik, bukan kampanye demonstrasi dan bukan kampanye promosi produk atau jasa. Kampanye isu sosial merupakan upaya yang terencana oleh pihak yang jelas dengan maksud mengubah perilaku anggota masyarakat melalui pengembangan wacana tentang sesuatu yang dianggap penting bagi masyarakat tersebut. Pada dasarnya, isu sosial dianggap penting bagi komunikator, tetapi belum tentu penting bagi khalayak, tergantung masing-masing kebutuhan dan keperluan yang berbeda satu sama lain. Ciri-ciri kampanye sosial: 1. 2. 3. 4. 5. Informasi kemasyarakat luas; Mempopulerkan masalah-masalah sosial dalam masyarakat; Hendak merubah kebiasaan atau perilaku; Memperbaiki kondisi sosial; Memberikan sebuah pemecahan.

Penggunaan Media X Banner Didalam memasarkan produk sosial Penggunaan media (using media) dapat dianggap efektif sebagai bagian dari kampanye media grafis. Pekerja sosial harus mampu menggunakan berbagai media (dapat berupa poster, kaos, pin, spanduk, x banner, dll) untuk kepentingan kegiatan pengembangan masyarakat dengan cara yang tepat dan penuh pertimbangan. Salah satunya adalah menggunakan media X Banner yang merupakan salah satu media visual yang menyajikan fakta, ide, atau gagasan melalui penyajian katakata, angka-angka, dan simbol atau gambar. Menurut Susilana dan Riyana, 2008. yang termasuk ke dalam media grafis antara lain (grafik, diagram, bagan, sketsa, poster, papan flannel, bulletin board).

Kelebihan dari media grafis ini digunakan antara lain : 1. Dapat mempermudah dam mempercepat pemahaman siswa terjadap pesan yang disajikan 2. Dapat dilengkapi dengan warna-warna sehingga menarik perhatian siswa 3. Pembuatannya mudah dan harganya murah Selain itu kelemahan dari media grafis ini antara lain : 1. Membutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatannya, terutama untuk grafis yang lebih kompleks 2. Penyajian hanya berupa unsur visual (Susilana dan Riyana, Media Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian, 2008)

Daftar Pustaka Susilana, R. dan Riyana, C. (2008): Media Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Kurtekpend FIP UPI, Bandung. Suharto, Edi. (2005): Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Refika Aditama, Bandung, ----------------------------- Bahan Ajar yang disampaikan pada Pelatihan Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Jember, 2006. Payne, Malcolm. (1995): Social Work and Community Care. Palgrave Macmillan, UK. Rice, R. E., & Atkin, C. K. (1989): Communication Campaigns. Sage, Newbury Park, CA. Larson, Charles U. (1992): Reception and Responsibility. Wadsorth Publising, CA Pfau, Michael & Parrot, Roxanne. (1993): Persuasive Communication Campaign. Boston: Allyn and Bacon.