Anda di halaman 1dari 32

TUGAS KOMUNITAS CYBER JUDUL : PENGUKURAN DERAJAT VIRTUALISASI DI INDONESIA Disusun Oleh : Fendi Dede Sudewa Christian Pasaribu

MAGISTER TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS TRISAKTI 2013

PENGUKURAN DERAJAT VIRTUALISASI DI INDONESIA


Fendy, Dede Sudewa, Christian Pasaribu Magister Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti, Jakarta

Abstract Seiring berkembangnya globalisasi, perubahan organisasi kini mulai mengalami perubahan dari organisasi tradisional menjadi organisasi virtual. Organisasi virtual adalah kumpulan jaringan organisasi independen yang bekerja sama untuk memuaskan kebutuhan konsumen, dengan menggabungkan berbagai atau seluruh kompetensi inti masing-masing perusahaan. Berdasarkan konsep Virtual Corporation and Gradual Virtualization, kami mengidentifikasi dan mengukur tingkat derajat virtualisasi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa di Negara Indonesia. Dalam analisa kami, hampir seluruh perusahaan jasa di Indonesia mencondong ke organisasi virtual, karena memiliki nilai derajat virtualisasi yang tinggi, yaitu 77% dari total 100%.

Keywords Virtual Corporation, Derajat virtualisasi, gradual virtualization, jaringan

1. Pendahuluan Globalisasi, perubahan struktur pasar dan kebutuhan konsumen, serta inovasi teknologi memaksa organisasi untuk mengadopsi struktur baru untuk mengatasi lingkungan yang berubah dengan cepat. Struktur baru ini disebut hybrid, didasarkan pada gagasan modularisasi organisasi. Virtual Corporation (VC) adalah sebuah jaringan sementara dari perusahaan independen, yang menggabungkan kompetensi inti masingmasing untuk mengoptimalkan proses penciptaan nilai dan saling berbagi biaya, risiko, sumber daya, dan akses ke pasar masing-masing. Suatu literatur memberikan beberapa contoh VC di industri dinamis, seperti industri teknologi informasi. Namun, studi kasus juga menunjukkan bahwa bentukbentuk organisasi yang lebih tradisional menunjukkan setidaknya beberapa karakteristik dari VC. Oleh karena itu, klasifikasi organisasi harus diganti dengan konsep gradual

virtualization, yang mengklasifikasikan organisasi sesuai dengan struktur virtual pada sebuah kontinum. Artinya, bila karakteristik perusahaan yang lebih virtual, semakin tinggi pula degree of virtualization(DV). Untuk itu, di dalam penelitian ini, kami menetapkan perusahaan jasa sebagai objek penelitian dalam menetapkan derajat virtualisasi. Hal ini disebabkan karena pada masa globalisasi sekarang ini, perusahaan yang bergerak di bidang jasa mulai berkembang dan diekspektasi pada masa yang akan datang, jumlah perusahaan jasa akan terus berkembang dan melampaui perusahaan produksi. Perusahaan yang menjadi objek penelitian antara lain: New Frontier Solutions Pte Ltd, Price Water House Cooper, PT. Accenture, PD PAL, Biro Oktrooi Rooseno, Carrefour, PT PP Tbk, PT Total Bangun Persada, PT Wijaya Karya. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisa derajat virtualisasi dari perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang jasa, yang dapat digunakan untuk menyelidiki isu-isu adatasi organisasi terhadap lingkungan yang berubah dengan cepat. Pertama-tama, kita dapat menganalisa perkembangan struktur maya dari waktu ke waktu. Hasil ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kontinjensi, yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut untuk teori co-evolusi perusahaan dan lingkungan mereka. Kedua, dengan mengaitkan DV ke kinerja organisasi, kita secara empiris dapat menguji apakah struktur virtual benar-benar melakukan lebih baik dari desain organisasi alternatif dalam lingkungan yang dinamis. Ketiga, dengan mengklasifikasikan organisasi sesuai dengan DV. perusahaan dapat menentukan posisi mereka saat ini dalam pengembangan menuju VC dan mengidentifikasi potensi untuk pengembangan lebih lanjut.

2. Studi Literatur Penelitian tentang VC pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi prosedural dan perspektif struktural. Dalam perspektif prosedural, virtual organisasi didefinisikan dari perspektif proses sebagai prinsip meta-organisasi. Mowshowitz (1997) berpendapat dalam analogi ke jaringan "kios", prinsip pengorganisasian virtual dapat dikurangkan dari perbedaan konseptual antara persyaratan fungsional dari kebutuhan pelanggan dan

kegiatan pelaksanaannya (yaitu kepuasan kebutuhan pelanggan). Perubahan dinamis dalam kedua persyaratan pelanggan dan ketersediaan produk dan jasa memaksa manajemen untuk menyediakan kerangka kerja yang fleksibel. Prinsip pengorganisasian virtual menurut Mowshowitz terdiri dari tiga langkah. Pertama, kebutuhan pelanggan abstrak didefinisikan, kedua, pemuas kebutuhan diidentifikasi, dan ketiga, pemuas konkrit untuk kebutuhan pelanggan. Seluruh proses harus didasarkan pada kriteria tugas yang jelas sesuai dengan sasaran dan tujuan organisasi. Dengan mengikuti prinsip ini, organisasi mendapatkan adaptasi dan fleksibilitas yang tinggi. Selain itu, prinsip mengarah ke input sumber daya yang efisien, produk yang lebih tinggi dan kualitas layanan, dan pengurangan biaya. Namun, pencarian pemuas kebutuhan pelanggan yang sesuai dan dinamis membutuhkan pengkonsepan struktur organisasi kembali di mana batas organisasi tradisional berkurang. Perspektif struktural diambil oleh ilmuan mayoritas yang mendefinisikan organisasi virtual sebagai bentuk organisasi dengan karakteristik struktural tertentu

2.1. Karakteristik VC Berikut ini, kita membahas karakteristik yang paling penting dari VC yang berasal dari fungsional dan perspektif struktural. Kami membedakan antara empat dimensi struktural-keputusan, diferensiasi yaitu, konfigurasi, integrasi, dan teknologi.

Diferensiasi: Modularitas dan Heterogenitas Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang kompleks, berbagai pemuas yang berbeda kompetensi dan kekuatan diperlukan. Setiap pemuas kebutuhan mengembangkan kompetensi inti spesifik untuk memenuhi kebutuhan spesifik secara optimal. Kombinasi inti kompetensi yang fleksibel dan dinamis memberikan perusahaan kesempatan untuk mencapai keunggulan kompetitif dengan meningkatkan sumber daya. Namun kombinasi dari pemuas kebutuhan yang sama hanya akan menghasilkan peningkatan kapasitas secara kuantitatif (ukuran virtual), tetapi mengabaikan kapasitas tujuan, yaitu kualitas, fleksibilitas, dan waktu. Sebaliknya VC adalah organisasi "best-of-the best". Kompetensi

inti yang berbeda dimanfaatkan melalui realisasi sinergi antar rekan kerja sama, yang menyebabkan win-win situation.

Konfigurasi: Penambahan Jaringan Sementara dan lemah Meskipun pelanggan merasakan VC sebagai satu kesatuan, VC terdiri dari perusahaan-perusahaan independen, yang dikonfigurasi secara dinamis dalam jaringan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Byrne menyatakan, bahwa VC adalah "sekelompok kolaborator yang cepat bersatu untuk memanfaatkan kesempatan tertentu. Setelah peluang itu dipenuhi, usaha itu akan dibubarkan". Namun., Joachim menjelaskan, bahwa dalam prakteknya, sebagian besar kolaborator dari VC direkrut dari sekumpulan jaringan. Ini lebih menunjukkan bahwa perusahaan membatasi pencarian mereka untuk mitra kerjasama, bila partner kolaborasi sebelumnya telah ada. Namun demikian, menurut Sydow, prasyarat utama untuk terwujudnya fleksibilitas antar-organisasi adalah hubungan struktural dan budaya antara mitra jaringan, yang ditandai dengan "loose coupling ". "Dalam sebuah jaringan longgar digabungkan, perubahan dapat terjadi dalam subsistem organisasi tanpa mengubah seluruh jaringan. Karena tidak adanya kekuasaan yang kuat dan hubungan ketergantungan antar subsistem, jaringan longgar cukup stabil. Gangguan yang ditangani oleh subsistem yang bebas untuk beradaptasi dengan perubahan tekanan lingkungan "(Hellgren dan Stjernberg).

Integrasi: Trust sebagai Mekanisme Koordinasi Rekonfigurasi kompetensi inti independen yang heterogenitas dan dinamis

membutuhkan kriteria yang jelas dan aturan. Tujuan organisasi bersama menjadi suatu fungsi integrasi yang penting. Selain itu, kepercayaan antara mitra bekerjasama memiliki dampak yang mendasar pada keberhasilan VC. Dalam ilmu ekonomi, selain harga dan otoritas, kepercayaan dipandang sebagai elemen ketiga untuk mengkoordinasikan hubungan transaksi. Dalam sistem berbasis kepercayaan, perilaku dipandu oleh normanorma dan nilai-nilai bersama dan kontrol output. Dengan demikian, kepercayaan adalah mekanisme yang efisien untuk mengkoordinasikan hubungan pertukaran ditandai dengan ketidakpastian yang tinggi, ketergantungan yang tinggi antara transaksi mitra, atau ketika kedua proses dan pengendalian output yang tidak mungkin dilakukan.

Teknologi VC memerlukan integrasi baik pada sosial dan pada tingkat teknis. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah prasyarat untuk menjamin koordinasi yang efisien kegiatan sepanjang proses berlangsung. Banyak ahli menganggap IT menjadi penting pusat untuk VC. Sehingga data disimpulkan bahwa, karakteristik-karakteristik inilah yang dapat digunakan untuk mendefinisikan VC yang ideal. Struktur perusahaan virtual dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Struktur Sebuah Perusahaan Virtual

2.2. Konsep Virtualisasi Bertahap Seperti disebutkan sebelumnya, penelitian empiris menunjukkan bahwa hanya beberapa organisasi mematuhi semua persyaratan dari sebuah VC "ideal". Di sisi lain, ada bukti bahwa banyak organisasi-organisasi menunjukkan setidaknya sebagian karakteristik VC. Oleh karena itu, para sarjana telah memperkenalkan con-kecuali virtualisasi bertahap. Konsep ini menunjukkan bahwa organisasi mewakili tingkat virtualisasi tertentu pada kontinum antara non-virtual (tradisional) dan virtual. Namun, model virtualisasi bertahap memberikan yang berbeda penjelasan untuk evolusi VC untuk menjelaskan pengamatan empiris. Penelitian berbasis ICT mengusulkan suatu model evolusi untuk menjelaskan tahapan perkembangan yang berbeda dari non-virtual ke virtual. Dalam berbagai tahap

evolusi, organisasi terbagi dalam berbagai kelas virtualisasi. Venkatraman dan Henderson berpendapat bahwa ICT adalah kekuatan pendorong untuk konfigurasi ulang struktur bisnis. Oleh karena itu mereka mendefinisikan virtualisasi sebagai "kemampuan organisasi untuk secara konsisten mendapatkan dan mengkoordinasikan kompetensi melalui bisnis proses dan mekanisme pemerintahan yang melibatkan konstituen eksternal dan internal. Dalam model mereka, pergerakan strategis ICT diusulkan sepanjang tiga dimensi saling bergantung, yaitu interaksi pasar (pertemuan virtual), leverage kompetensi (virtual sourcing), dan pekerjaan terkonfigurasi (kerja virtual). Tiga tahap evolusi dari pengorganisasian virtual dapat dibedakan. Pada tahap pertama, menggunakan IT leverage, proses bisnis didesain ulang di sepanjang peningkatan nilai tambah. Pada tahap kedua, jaringan bisnis didefinisikan, sehingga meningkatkan pengembangan kemampuan baru. Nilai baru dibuat dalam tahap terakhir dengan mendefinisikan ruang lingkup bisnis.

3. Analisis empiris Virtualisasi Bertahap Di dalam penelitian ini, kami menggunakan empat dimensi struktural, yaitu modularitas dan heterogenitas (diferensiasi), jaringan sementara dan lemah (konfigurasi), integrasi, dan teknologi untuk mengukur DV organisasi: A) Modularitas dan heterogenitas 1. Penciptaan nilai Virtual mengukur tingkat modularisasi dari penciptaan nilai proses 2. Fokus pada kompetensi inti mengukur sejauh mana perusahaan fokus pada kompetensi inti mereka

B) Jaringan sementara dan lemah 3. Karakteristik umum dari jaringan meliputi aspek deskriptif seperti durasi kerja sama, pemilihan dan kombinasi dari kandang-timbangkan pelanggan, dll 4. Mitra kerjasama yang independen mengukur tingkat kemandirian horizontal dan vertikal antara mitra kerjasama 5. Komitmen formal atau kontrak antara mitra kerjasama mitra, konfigurasi kerjasama, penampilan terhadap

mengukur sejauh mana kontrak, aturan atau peraturan yang digunakan

C)

Integrasi mekanisme 6. Trust sebagai mekanisme koordinasi mengukur suasana umum serta kepercayaan dan keadilan dalam jaringan

D) Teknologi 7. Implementasi teknologi informasi dan komunikasi Mengukur bagaimana ICT yang digunakan untuk memfasilitasi kerja sama dan sejauh mana mereka digunakan

Obyek penyelidikan dalam analisis virtualisasi bertahap adalah bentuk organisasi hybrid. Oleh karena itu, untuk menganalisis seluruh jaringan, tidak hanya semua kolaborator tetapi juga hubungan antar-organisas mereka harus dipertimbangkan, yang menyebabkan masalah yang cukup besar dalam studi empiris. Oleh karena itu kami mengusulkan untuk mengukur DV dengan menganalisis satu kolaborator dalam jaringan dan hubungan kepada mitra jaringan. Meskipun kita tidak bisa menganalisis tindakan jaringan seperti terpusat atau hubungan timbal balik, kita dapat mengidentifikasi karakteristik jaringan dari satu node dan link ke node lain. Kami menyimpulkan dari konfigurasi yang diamati dalam satu simpul karakteristik dari seluruh jaringan.

3. METODE PENELITIAN Metoda penelitian merupakan langkah-langkah tahap penelitian yang harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah penelitian, sehingga penelitian dapat dilakukan dengan terarah. Adapun tahap-tahap metoda penelitian dapat dilihat pada gambar 6. Di dalam penelitian ini, kami menggunakan hasil kuesioner dari Bauer(2003), di mana di dalam kuesioner tersebut disusun satu set item untuk setiap faktor. Untuk mengklasifikasikan peserta survei, ditambahkan satu set pertanyaan umum. Terlepas dari pertanyaan umum, semua

item diukur pada skala Likert 5-point, yang memungkinkan untuk mengajukan pertanyaan terkait positif dan negatif sebagai hasil dapat dikembalikan dengan mudah tanpa kehilangan informasi apapun. Skala berkisar dari "tidak sama sekali" sampai "selalu". Dengan menggunakan kuesioner ini, kami dapat menentukan seberapa virtual perusahaan-perusahaan di Indonesia, khusunya di bidang industri jasa.

Mulai

Studi Literatur

Studi Lapangan State of the Art

Penentuan Tema

Perumusan Masalah

Pengumpulan Data Pengolahan Data

Kesimpulan

Selesai

Gambar 2. Diagram Alir Metoda Penelitian

4. Hasil Dari hasil perhitungan dan analisa kami mengenai tingkat virtualisasi sebagai berikut. New Frontier Solutions, memiliki tingkat differensiasi 72%, tingkat konfigurasi 83%, tingkat integrasi 91%, dan penggunaan teknologi informasi 83%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 83.42% Price Water House Cooper, memiliki tingkat differensiasi 74%, tingkat konfigurasi 83%, tingkat integrasi 82%, dan penggunaan teknologi informasi 75%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 79.22% PT. Accenture, memiliki tingkat differensiasi 72%, tingkat konfigurasi 63%, tingkat integrasi 82%, dan penggunaan teknologi informasi 75%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 73.83% PD PAL, memiliki tingkat differensiasi 69%, tingkat konfigurasi 70%, tingkat integrasi 80%, dan penggunaan teknologi informasi 33%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 68.76% Biro Oktrooi Rooseno, memiliki tingkat differensiasi 62%, tingkat konfigurasi 72%, tingkat integrasi 72%, dan penggunaan teknologi informasi 73%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 69.62% Carrefour, memiliki tingkat differensiasi 76%, tingkat konfigurasi 79%, tingkat integrasi 68%, dan penggunaan teknologi informasi 95%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 75.91% PT PP Tbk, memiliki tingkat differensiasi 94%, tingkat konfigurasi 87%, tingkat integrasi 91%, dan penggunaan teknologi informasi 84%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 89.74% PT Total Bangun Persada Tbk, memiliki tingkat differensiasi 78%, tingkat konfigurasi 84%, tingkat integrasi 73%, dan penggunaan teknologi informasi 80%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 79.79% PT Wijaya Karya Tbk, memiliki tingkat differensiasi 83%, tingkat konfigurasi 80%, tingkat integrasi 78%, dan penggunaan teknologi informasi 78%, sehingga perusahaan ini memiliki derajat virtualisasi sebesar 79.79%

Dari kesemua data kuesioner yang didapat diperoleh rata-rata tingkat diferensiasi 75%, tingkat konfigurasi 78%, tingkat integrasi 80%, dan penggunaan teknologi informasi 75%, sehingga disimpulkan perusahaan jasa di Indonesia memiliki derajat virtualisasi sebesar 77.57%. Untuk pembagian dari kriteria derajat virtualisasi, dapat dilihat pada gambar 2.

Average Gradual Virtualization


1.00 0.90 0.80 0.70 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 VV Creation Core Compet. General Char. Formal Integr. Trust Fairness IT

Gambar 2. Rata-rata gradual virtualisasi

5. Kesimpulan Setiap organisasi memiliki kegiatan dan aktivitas yang berbeda dalam menjalankan visi, misi, dan strategi organisasinya. Oleh karena itu, maka tingkat penggunaan teknologi di perusahaan pun berbeda, yang menimbulkan adanya perbedaan derajat virtualisasi antar organisasi. Dengan menggunakan tools dari Bauer (2003), maka kita dapat menentukan derajat virtualisasi organisasi-organisasi di Indonesia, terutama bergerak di bidang jasa. Dengan hasil derajat virtualisasi sebesar 77.57%, Akhirnya dapat disimpulkan bahwa perusahaan jasa di Indonesia mengarah kepada virtual tinggi.

6. Daftar Pustaka Bauer, Roland and Sabine T. Kszegi. 2003. Measuring The Degree of Virtualization. Electronic Journal of Organizational Virtualness Bremer et al. 1999. New Product Search and Development as a Trigger to Competencies Integration in Virtual Enterprises. Organizational Virtualness and Electronic Commerce Eggert, Andreas. 2001The Role of Communication in Virtual Teams. Electronic Journal of Organizational Virtualness Franke, Ulrich J. 2001. The Concept of Virtual Web Organisations and its Implications on Changing Market Conditions. Electronic Journal of Organizational Virtualness Franke, Ulrich J. and Bernd Hickmann. 1999. Is the Net-Broker an Entrepreneur? What Role does the Net-Broker play in Virtual Webs and Virtual Corporations?. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Gillen, Nicola . 2001. What role could virtual and physical environments play in the life of new economy organisations?. Electronic Journal of Organizational Virtualness Ishaya, Tanko and Linda Macaulay. 1999. The Role of Trust in Virtual Teams. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce J. Byrne, R. Brandt, and O. Port, "The Virtual Corporation" Business Week, pp. 36-40, 1993. Jansen, Wendy et al . 1999. Electronic Commerce and Virtual Organizations. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Kamel, Sherif. 1999. Delivering an MBA Program A Virtual Approach. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Kortzfleisch, Harald F.O. von and Andreas Al-Laham. 1999. Potentials and Restrictions of Knowledge Management. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Mowshowitz, Abbe. 1999. The Switching Principle in Virtual Organization. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Mowshowitz, Abbe. "Virtual Organization" Communications of the ACM, vol. 40, pp. 30-37, 1997.

P. Mertens, G. Joachim, and E. Dieter, "Virtuelle Unternehmen und Informationsverarbeitung". Berlin, Heidelberg: Springer, 1998. Sandhoff, Gabriele. 1999. Virtual Organizations as Power-asymmetrical Networks. Organizational Virtualnessand Electronic Commerce Shen, Weiming. 2000. Virtual Organizations in Collaborative Design and Manufacturing Systems. Electronic Journal of Organizational Virtualness

LAMPIRAN

L.1 New Frontier Solutions Pte Ltd Who we are New Frontier Solutions is a decision technology firm. We provide our clients with advanced planning, scheduling and optimization tools in the areas of risk -, revenue and cost management. Providing decision models to our clients that help in making cost-effective decisions is our core business. New Frontier Solutions is a highly specialized boutique consulting firm operating in niche areas for selected target markets. We specialize in developing decision models for clients who operate in an uncertain and/or volatile environment.

Focused and result driven... Management resultants A project is successful when specified targets have been reached and advices have been implemented with measurable improvements. We call ourselves management resultants. The difference We believe that uncertainty offers opportunities. We provide frameworks,methods and techniques to facilitate decision-making under uncertainty and/or tools to optimize your resources. We use methodologies from the fields of Operations Research, Applied Mathematics, Decisions Science, Artificial Intelligence and Information Technology. Mission Working together with our clients and to create an environment that helps the client to make informed decisions that are cost - effective.

History 2003 Incorporation New Frontier Solutions Pte. Ltd in Singapore 2004 Providing consulting services mainly in logistics and manufacturing 2005 Opening office in Jakarta, Indonesia with expansion of services into the financial services industry 2006 Set up of software development unit in Surabaya with main focus on Java development applications and new clients in the oil and gas sector, and Start development of flagship product CAT for the financial services industry

2007 Further expansion of product development with two separate units, i.e. Java development and dot NET development in Surabaya and Jakarta , and Further expansion of flagship product CAT 2008 Opening branch in Sydney, to provide support to Australian customer base 2009 Steady grow in portfolio of projects with new clients from the retail sector and geothermal industry, and Start development of flagship product WAFE for the upstream oil and gas sector 2010 Establish business Unit Energy with close cooperation with industry experts to expand the development of the WAFE product; and Further spin-off oil energy related products and increasing growth in energy portfolio 2011 Release and successful implementations of the WAFE products in the upstream oil and gas industry, andFurther expansion of the WAFE product to real-time optimization of the drilling programs

L.2 Price Water house Cooper The firms of the PwC global network (www.pwc.com) is the world's largest professional services organisation Drawing on the knowledge and skills of more than 169,000 people in 158 countries, we build relationships with our clients by providing services based on quality and integrity. "PwC" refers to the network of member firms of PricewaterhouseCoopers International Limited, each of which is a separate and independent legal entity.

PwC Global Clients of PwC firms all over the world select us because of the quality of the service that our people provide them every day. Each PwC global network firm is dedicated to recruiting the best people, helping them develop their skills and competencies and enabling them to realise their full potential. People who join our organisation are expected to adopt our shared values, as exemplified in our global Code of Conduct. As they gain experience and build their technical and commercial skills, we also help them grow as responsible leaders.

PwC Indonesia KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan, PT Prima Wahana Caraka and PT Price water house Coopers Indonesia Advisory subsequent refer to as "PwC Indonesia (we)" which are firms in Indonesia and are member firm of PwC global network, each of which is a separate and independent legal entity. For more than 40 years, PwC Indonesia has played a role in the Indonesian success story of economic growth and social development. Today, the services offered by PwC network continue to add value in virtually every industry and profession, and most private and public institutions, in every region of the country. The firms of the PwC global network help our clients solve complex business problems by combining a global mindset and the expert talents of our people. We provide industry-focused assurance, tax, and advisory services for public and private clients. We use our network, experience and business understanding to build trust and create value for clients.

The way we select and train our staff, the methods we use to leverage our global knowledge, our

in-depth knowledge of the local economic situation, and the way we develop relationships with our clients together ensure that we achieve our goals namely: to help our clients, do business better, more efficiently, and more profitably and to train our people and provide them with an experience and professional environment which will be the platform for outstanding careers.

Our Core Values

At PwC we have chosen three core values Excellence, Teamwork and Leadership as the basis of our global corporate culture.

These values define how we want to conduct ourselves and our business, and help us to create value for our clients, our people and our organization.

Excellence Means that we deliver what we promise-and add value that goes beyond what is expected. We achieve Excellence through Innovation, Learning and Agility. Innovation Means developing creative solutions and putting them into action.

Being the largest firm and establishing ourselves as clearly the best-in our industry means developing innovative ideas and putting them into practice successfully. Learning We learn by continuously developing-and deepening-our knowledge of our business, and the skills of everyone within it. Agility Being alert to change and moving quickly and decisively to meet the challenges that emerge from such change; so that we provide our clients, and ourselves with a competitive edge. Teamwork The best solutions come from working together with both colleagues and clients. Effective teamwork demands strong Relationships, Respect and Sharing.

Relationships Building productive, long-term relationships with clients and each other.

The way we treat each other in achieving our objectives is just as important as what we achieve. That's why our people enjoy working in PwC and why our clients like us and enjoy working with us. Respect Embracing diverse cultures, communities and points of view.

With offices in 151 countries and over 35 working languages, our people and our clients cover a wide diversity of cultures and communities. Sharing Readily sharing experience, resources and opportunities. The range and depth of the knowledge and the timelines with which we share it with our clients is fundamental to our success. Leadership Means leading with clients and leading with people. Leadership in our business is defined by courage, personal integrity, and having a vision which inspires and motivates others. Courage Seizing the initiative, and welcoming responsibility. Almost all of us, at every level, can play a leadership role. We want our leaders to speak out, make themselves visible, and promote their views. They must be creative, thoughtful and innovative, but they must also be accountable and take responsibility for their actions. Vision Seeing the bigger picture. We don't just want people with courage, we want people with vision, in other words, people with a clear idea of what they would like to achieve. Integrity Being trustworthy and honourable. Integrity, honesty, and accountability are at the core of our business. We adhere absolutely to the independence and objectivity requirements under which we do business. Corporate Responsibility

Corporate responsibility has evolved far beyond simple business philanthropy. According to the World Business Council for Sustainable Development, Corporate responsibility no longer only refers to giving and philanthropy but focuses more on the commitment of business to long-term economic, environmental and social sustainability working with employees, their families, the community and society at large to improve long-term the quality of life of the communities in which we live and work.

At its most basic, corporate responsibility is when businesses include social, environmental and economic considerations in their decisions and processes. But it is also about creating and applying innovative solutions to the challenges our society and environment face. This requires that all parts of any one business, such as PwC, work together and that difference businesses as well as other stakeholders and sections of the community collaborate to ensure the best possible outcome for everyone. In this way, businesses will build credibility and integrity as a trusted members of the community.

The people of PwC are committed to playing a leading role in achieving a sustainable future.

We take responsibility for our actions and promote responsible business practices We support the growth and development of our people and communities We seek to minimize our impact on the environment

L.3 PT. Accenture Accenture is a global management consulting, technology services and outsourcing company, with approximately 259,000 people serving clients in more than 120 countries. Combining unparalleled experience, comprehensive capabilities across all industries and business functions, and extensive research on the worlds most successful companies, Accenture collaborates with clients to help them become high-performance businesses and governments. The company generated net revenues of US$27.9 billion for the fiscal year ended Aug. 31, 2012. Our "high performance business" strategy builds on our expertise in consulting, technology and outsourcing to help clients perform at the highest levels so they can create sustainable value for their customers and shareholders. Using our industry knowledge, service-offering expertise and technology capabilities, we identify new business and technology trends and develop solutions to help clients around the world:

Enter new markets. Increase revenues in existing markets. Improve operational performance. Deliver their products and services more effectively and efficiently.

We have extensive relationships with the world's leading companies and governments and work with organizations of all sizesincluding 89 of the Fortune Global 100 and more than three quarters of the Fortune Global 500. Our commitment to client satisfaction strengthens and extends our relationships. For example, 99 of our top 100 clients in fiscal year 2012, based on revenue, have been clients for at least five years, and 92 have been clients for at least 10 years. Among the many strengths that distinguish Accenture in the marketplace are our:

Extensive industry expertise. Broad and evolving service offerings. Expertise in business transformation outsourcing. History of technology innovation and implementation, including our research and development capabilities, on which we spend approximately $300 million annually.

Commitment to the long-term development of our employees. Proven and experienced management team.

Our Core Values have shaped the culture and defined the character of our company, guiding how we behave and make decisions:

Stewardship: Building a heritage for future generations, acting with an owner mentality, developing people everywhere we are, and meeting our commitments to all internal and external stakeholders.

Best People: Attracting and developing the best talent for our business, stretching our people and developing a "can do" attitude.

Client Value Creation: Improving our clients' business performance, creating long-term, win-win relationships and focusing on execution excellence.

One Global Network: Mobilizing the power of teaming to deliver consistently exceptional service to our clients anywhere in the world.

Respect for the Individual: Valuing diversity, ensuring an interesting and inclusive environment, and treating people as we would like to be treated ourselves.

Integrity: Inspiring trust by taking responsibility, acting ethically, and encouraging honest and open debate.

By enhancing our consulting and outsourcing expertise with alliances and other capabilities, we help move clients forward in every part of their businesses, from strategic planning to day-today operations. In Indonesia the Accenture consulting practice has almost 40 years of experience. It was first founded as part of the SGV-Utomo Group in 1968 and has played an important role in shaping the performance of Indonesian companies as well as multinationals operating in Indonesia. Our clients in Indonesia come from various industries, such as financial services, communications, resources to products and even the government sector.

Our office in Indonesia currently employs more than 500 professionals. We participate in projects both in Indonesia and abroad. For more than a decade, with our service lines such as strategy & business architecture, human performance, supply chain management, and technology solutions, we have brought our clients the market knowledge, insights and technologies.

L.4 PD. PAL Jaya Pengelolaan dan pelayanan terhadap pembuangan air limbah domestik dilaksanakan dalam rangka usaha Pemerintah Daerah DKI Jakarta guna pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan peurunan kesehatan masyarakat dan mengganggu kehidupan lainnya. Pelaksana pengelolaan dan pelayanan pembuangan air limbah ini adalah Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL) Jaya yang merupakan pengalihan dari Badan Pengelola Air Limbah (BPAL DKI Jakarta) yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 510/KPTS/1987 dan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No.1346/1988 tentang Ketentuan Pengelolaan Air Limbah di wilayah DKI Jakarta. Peningkatan status menjadi Perusahaan Daerah berdasarkan Peraturan Daerah No.14 tahun 1977 tentang Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan dalam upaya meningkatkan peran PD PAL Jaya sejalan dengan semakin pesatnya pembangunan dilakukan dengan memperluas wilayah kerja menjadi seluruh wilayah DKI Jakarta yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No.14 Tahun 1977 tentang Perubahan Pertama Peraturan daerah No.14 tahun 1977. Pengalihan dan peningkatan status menjadi Perusahaan Daerah dilaksanakan dalam rangka Pemerintah Daerah meningkatkan pelayanan masyarakat di bidang pengelolaan air limbah guna pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan khususnya akibat air limbah. Dalam upaya memenuhi Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan maka nilai-nilai dan budaya perusahaan yang diterapkan adalah : Kerja Cerdas, Kerja Tangkas, Kerja Tuntas. PD PAL Jaya memiliki jumlah karyawan sebanyak 114 (seratus empat belas) orang yang melingkupi posisi Badan Pengawas, Direksi, Karyawan Tetap dan Karyawan Kontrak.

L.5 Biro Oktro Roosseno BIRO OKTROI Roosseno, salah satu yang tertua dan perusahaan terkemuka untuk properti intelektual di Indonesia, didirikan pada tahun 1951 oleh kedua Prof Dr Ir. R. Roosseno, seorang profesor teknik struktural dan pelopor dalam pra-stres beton dan Mr Yland, seorang pengacara terkemuka Belanda. BIRO OKTROI Roosseno diakui baik secara nasional dan internasional sebagai pemimpin dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual. Perusahaan ini akan melanjutkan komitmennya untuk secara konsisten untuk pengembangan dan penegakan kekayaan intelektual di Indonesia dengan menyediakan klien dengan layanan kualitas tertinggi. Di Indonesia, nasihat hukum dan perwakilan akan terus memainkan peran yang sangat diperlukan dan penting. Dengan perkembangan teknologi baru beragam seperti teknik telekomunikasi dan kimia, efisiensi bisnis internasional lebih dan lebih saling terkait, bahkan tergantung pada perlindungan yang tepat dari hak kekayaan intelektual. Selain spesialisasi dalam kekayaan intelektual, BIRO OKTROI Roosseno juga menangani jasa terkait seperti audit properti intelektual, lisensi, waralaba, investasi, litigasi. Seperti Indonesia mengantisipasi meningkatnya pembangunan di bidang industri dan perdagangan dalam skala global, BIRO OKTROI Roosseno terus menjaga terdepan, yang membawa sebagai salah satu konsekuensinya kebutuhan untuk menjaga diri dan lingkungan profesional diperbarui. Bagian ini adalah organisasi teratur seminar dan lokakarya. Seminar masa lalu telah diselenggarakan dengan tema-tema seperti ", Inovasi Kreativitas dan Paten" dan "Peran Informasi Paten dalam mendukung Teknologi dan Industrialisasi", bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Seminar tersebut dirancang untuk merangsang respon dinamis dan titik pandang yang luas terhadap perubahan saat ini di bidang ekonomi, sosial dan politik, serta mereka mempengaruhi lingkungan di Indonesia maupun di luar negeri. Misalnya Biro Oktroi Roosseno bekerjasama dengan Cemara 6 Gallery telah melakukan Forum Diskusi Hak Cipta dalam Fotografi dan Diskusi dengan topik Kejahatan di Seni Indonesia. Biro Oktroi Roosseno memiliki jumlah karyawan sebanyak 135 orang.

L.6 PT. Carrefour Indonesia Carrefour di Indonesia hadir sejak tahun 1996 dengan membuka gerai pertama di Cempaka Putih pada bulan Oktober 1998. Pada saat yang sama, Continent, sebagai perusahaan ritel Prancis, membuka gerai pertamanya di Pasar Festival. Pada tahun 1999, Carrefour dan Promodes (sebagai pemegang saham utama dari Continent) menggabungkan semua kegiatan usaha ritel di seluruh dunia dengan nama Carrefour. Hal tersebut menjadikan Carrefour sebagai ritel terbesar kedua di dunia. Sebagai bagian dari perusahaan global, PT. Carrefour Indonesia berusaha untuk memberikan standar pelayanan kelas dunia dalam industri ritel Indonesia. Carrefour Indonesia memperkenalkan konsep hipermarket dan menyediakan alternatif belanja baru di Indonesia bagi pelanggan Carrefour Indonesia. Carrefour menawarkan konsep One-Stop Shopping yang menawarkan tempat pilihan dengan produk yang beragam, harga murah, dan juga memberikan pelayanan terbaik sehingga melebihi harapan pelanggan. Saat ini, Carreour sudah beroperasi di 83 gerai dan tersebar di 28 kota/kabupaten di Indonesia. Sebagai salah satu pemain ritel terkemuka, Carrefour Indonesia berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan Carrefour di Indonesia. 72 juta pelanggan telah mengunjungi Carrefour di tahun 2010, naik dari 62 juta pelanggan di tahun sebelumnya. Carrefour Indonesia memiliki sekitar 28,000 karyawan langsung dan tidak langsung seperti SPGs, cleaning service, dll. Carrefour Indonesia telah bermitra dengan sekitar 4,000 pemasok yang hampir 70% adalah UKM (Usaha Kecil Menengah).

L.7 PT TOTAL BANGUN PERSADA Fokus Perseroan di bidang bangunan dan konstruksi berawal dari seperempat abad yang lalu tepatnya tahun 1970, saat Perseroan didirikan dengan nama PT Tjahja Rimba Kentjana. Di awal eksistensinya sebagai kontraktor dan pengembang, Perseroan diuntungkan oleh berbagai proyek pembangunan yang terdiri dari perumahan dan komersial. Kemudian di awal 1980an Perseroan melakukan restrukturisasi dan berubah nama menjadi Total Bangun Persada, dan kini beroperasi dengan didukung oleh modal yang kuat dan tim manajemen yang handal. Perseroan kemudian melanjutkan dengan visi yang baru yaitu 'menjadi kontraktor bangunan terkemuka yang didukung oleh kebanggaan dan keunggulan di bidang konstruksi; dan visi tersebut sekarang telah menjadi kenyataan. Kini PT Total Bangun Persada telah dikenal sebagai kontraktor gedung terkemuka visi yang diwujudkan melalui dua langkah utama, yaitu fokus pada konstruksi bangunan khususnya gedung-gedung tinggi seperti kantor, serta proyek-proyek industri dan resor. Inisiatif kedua adalah komitmen untuk menerapkan standar internasional di bidang konstruksi bangunan dan manajemen proyek di industri konstruksi Indonesia.Sehubungan dengan itu, keahlian kami di bidang konstruksi gedung-gedung tinggi selalu dibutuhkan. Dewasa ini di Jakarta dapat ditemukan berbagai gedung tinggi yang mengundang inspirasi dan tergolong yang terunik di Asia. Dalam kaitan tersebut Total berperan penting dalam menyediakan layanan superior kepada para pemilik bangunan dan pengembang, didukung oleh komitmennya terhadap keunggulan, orientasi pada kepentingan klien, dan kemampuan untuk menyelesaikan proyek tepat pada waktunya sesuai dengan anggaran dan spesifikasi. Sejalan dengan perkembangan Indonesia, Total Bangun Persada beraspirasi untuk tetap memegang posisi terdepan di industri yang digelutinya, dengan menetapkan standar keunggulan baru di bidang konstruksi bangunan, menerapkan praktik-praktik dan proses kerja terbaik yang diinginkan oleh pengembang, yang didukung oleh profesionalisme dan komitmen yang tidak diragukan lagi. Perseroan telah memupuk pengalaman di sektor konstruksi namun kami percaya bahwa sukses yang berkelanjutan hanya dapat diraih dengan senantiasa menerapan keahlian kami yang utama. Sejak pertengahan 1980an, Perseroan telah menyelaraskan strateginya dalam upaya mengoptimalkan sumber daya keuangan dan profesional di bidang-bidang yang merupakan kompetensi kami. Oleh sebab itu, Total Bangun Persada berfokus terutama pada konstruksi bangunan, baru kemudian pada bangunan-bangunan tinggi, komersial, dan industrial. Hingga

kini pendekatan tersebut terbukti handal untuk mencapai diferensiasi sehingga memungkinkan Perseroan untuk berkompetisi secara efektif di berbagai proyek bergengsi di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan portofolio proyek-proyek yang telah digarap yang terdiri dari bangunanbangunan tinggi dan unik serta resor. Beberapa di antaranya adalah Empire Tower, GKBI Building, Sudirman Tower dan Regent Hotel di Segitiga Emas, Jakarta; BRI Tower di Surabaya; Kawasan Industri Batamindo di Pulau Batam, dan SAFE Bintan Golf & Lagoon Resort di Pulau Bintan. Perseroan juga turut serta dalam pembangunan stasiun televisi terbesar dan modern di Indonesia yaitu studio Indosiar dan Trans TV. Namun keahlian khusus saja tidak cukup untuk mempertahankan kesuksesan. Keahlian tersebut harus didukung oleh diferensiasi. Oleh sebab itu Perseroan berupaya untuk menerapkan diferensiasi di dua bidang kualitas dan inovasi. Total Bangun Persada menerapkan kualitas dalam berbagai bentuk di berbagai tahap proyek yang kami garap. Mulai dari penggunaan bahan bangunan berkualitas unggulan, hingga metode dan proses konstruksi yang terbukti handal, serta penggunaan para profesional terbaik di bidangnya, Perseroan menempatkan kualitas sebagai yang utama. Komitmen kami terhadap kualitas tidak hanya dalam hal penyelesaian dan serahterima proyek, dimana kami menyediakan layanan purna jasa yang komprehensif bahkan setelah masa garansi selesai. Kami percaya bahwa kebutuhan klien adalah yang utama dan oleh sebab itu, Perseroan selalu mengutamakan kualitas, terlepas dari biayanya, dan kami selalu mengutamakan kepentingan klien dalam situasi apa pun. Perseroan menerapkan diferensiasi melalui inovasi dan aplikasi ide-ide baru dalam konstruksi bangunan, misalnya metode rancangdan-bangun. Pendekatan rancang-dan-bangun yang telah diterapkan Perseroan di Indonesia membuktikan bahwa inovasi yang diterapkan memberikan manfaat yang signifikan bagi pengembang proyek. Dalam metode rancang-dan-bangun Total berperan sebagai kontraktor utama dan menyediakan berbagai jenis layanan secara terpadu sejak awal. Dengan metode tersebut pemilik proyek tidak lagi berurusan dengan berbagai pihak karena kini semuanya telah ditangani oleh satu pihak saja sebagai koordinator, sehingga meminimalkan risiko kenaikan biaya serta memastikan bahwa proyek akan diselesaikan dan diserahkan sesuai dengan jadwal.

L.8 PT WIJAYA KARYA WIKA dibentuk dari proses nasionalisasi perusahaan Belanda bernama Naamloze Vennotschap Technische Handel Maatschappij en Bouwbedijf Vis en Co. atau NV Vis en Co. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1960 dan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) No. 5 tanggal 11 Maret 1960, dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja. Kegiatan usaha WIKA pada saat itu adalah pekerjaan instalasi listrik dan pipa air. Pada awal dasawarsa 1960-an, WIKA turut berperan serta dalam proyek pembangunan Gelanggang Olah Raga Bung Karno dalam rangka penyelenggaraan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) dan Asian Games ke-4 di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, berbagai tahap pengembangan kerap kali dilakukan untuk terus tumbuh serta menjadi bagian dari pengabdian WIKA bagi perkembangan bangsa melalui jasa-jasa konstruksi yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Perkembangan signifikan pertama adalah di tahun 1972, dimana pada saat itu nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja berubah menjadi PT Wijaya Karya. WIKA kemudian berkembang menjadi sebuah kontraktor konstruksi dengan menangani berbagai proyek penting seperti pemasangan jaringan listrik di Asahan dan proyek irigasi Jatiluhur. Satu dekade kemudian, pada tahun 1982, WIKA melakukan perluasan divisi dengan dibentuknya beberapa divisi baru, yaitu Divisi Sipil Umum, Divisi Bangunan Gedung, Divisi Sarana Papan, Divisi Produk Beton dan Metal, Divisi Konstruksi Industri, Divisi Energy, dan Divisi Perdagangan. Proyek yang ditangani saat itu diantaranya adalah Gedung LIPI, Gedung Bukopin, dan Proyek Bangunan dan Irigasi. Selain itu, semakin berkembangnya anak-anak perusahaan di sektor industri konstruksi membuat WIKA menjadi perusahaan infrastruktur yang terintegrasi dan bersinergi. Keterampilan para personel WIKA dalam industri konstruksi telah mendorong Perseroan untuk memperdalam berbagai bidang yang digelutinya dengan mengembangkan beberapa anak perusahaan guna dapat berdiri sendiri sebagai usaha yang spesialis dalam menciptakan produknya masing-masing. Pada tahun 1997, WIKA mendirikan anak perusahaannya yang pertama, yaitu PT Wijaya Karya Beton, mencerminkan pesatnya perkembangan Divisi Produk Beton WIKA saat itu. Kegiatan PT Wijaya Karya Beton saat itu diantaranya adalah pengadaan bantalan jalan rel kereta api untuk pembangunan jalur doubletrack Manggarai, Jakarta, dan pembangunan PLTGU Grati serta Jembatan Cable Stayed Barelang di Batam. Langkah PT Wijaya Karya Beton kemudian diikuti dengan pendirian PT

Wijaya Karya Realty pada tahun 2000 sebagai pengembangan Divisi Realty. Pada tahun yang sama didirikan pula PT Wijaya Karya Intrade sebagai pengembangan Divisi Industri dan Perdagangan. Semakin berkembangnya Perseroan, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan Perseroan. Hal ini tercermin dari keberhasilan WIKA melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) pada tanggal 27 Oktober 2007 di Bursa Efek Indonesia (saat itu bernama Bursa Efek Jakarta). Pada IPO tersebut, WIKA melepas 28,46 persen sahamnya ke publik, sehingga pemerintah Republik Indonesia memegang 68,42 persen saham, sedangkan sisanya dimiliki oleh masyarakat, termasuk karyawan, melalui

Employee/Management Stock Option Program (E/MSOP), dan Employee Stock Allocation (ESA). Sementara itu, langkah pengembangan Divisi menjadi anak perusahaan yang berdiri di atas kaki sendiri terus dilakukan. Pada tahun 2008 WIKA mendirikan anak perusahaan PT Wijaya Karya Gedung yang memiliki spesialisasi dalam bidang usaha pembangunan high rise building. WIKA juga mengakuisisi 70,08 persen saham PT Catur Insan Pertiwi yang bergerak di bidang mechanical-electrical. Kemudian nama PT Catur Insan Pertiwi dirubah menjadi PT Wijaya Karya Insan Pertiwi. Pada tahun 2009, bersama dengan PT Jasa Sarana dan RMI, mendirikan PT Wijaya Karya Jabar Power yang bergerak dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP). Di pertengahan tahun 2009, WIKA bersama perusahaan lain berhasil menyelesaikan Jembatan Suramadu, sebuah proyek prestisius yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura. Kini proyek tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Memasuki tahun 2010, WIKA berhadapan dengan lingkungan usaha yang berubah dengan tantangan lebih besar. Untuk itu, WIKA telah menyiapkan Visi baru, yaitu VISI 2020 untuk menjadi salah satu perusahaan EPC dan Investasi terintegrasi terbaik di Asia Tenggara. Visi ini diyakini dapat memberi arah ke segenap jajaran WIKA untuk mencapai pertumbuhan yang lebih optimal, sehat dan berkelanjutan.

L.9 PT PP Tbk PT PP (Persero) didirikan dengan nama NV Pembangunan Perumahan berdasarkan Akta Notaris No 48 tanggal 26 Agustus 1953. Seiring dengan kepercayaan meningkat, PT PP (Persero) menerima tugas untuk membangun proyek-proyek besar yang berkaitan dengan kompensasi perang Pemerintah Jepang yang dibayarkan kepada Republik Indonesia, yaitu: Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, - Ambarukmo Palace Hotel dan - Samudra Beach Hotel. 1.960 Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 1960, PN (Consists Negara) Pembangunan Perumahan berubah menjadi PN Pembangunan Perumahan. 1.962 Pada tahun 1962, PT PP (Persero) menyelesaikan pembangunan Hotel Indonesia, 14 cerita dengan 427 kamar, yang pada saat itu adalah bangunan tertinggi di Indonesia. 1.971 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 1971, PN Pembangunan Perumahan berubah dan menjadi PT Pembangunan Perumahan (Persero), yang disahkan melalui Akta No 78 tanggal 15 Maret 1973. Bisnis inti Perseroan adalah jasa konstruksi. 1991-2007 Selama lebih dari lima dekade, PT PP (Persero) telah menjadi pemain kunci dalam bisnis konstruksi nasional. Beberapa mega proyek telah dibangun dalam periode tersebut. Selanjutnya, mulai tahun 1991, PT PP (Persero) diversifikasi usaha, termasuk sewa ruang kantor di Plaza PP dan pengembangan bisnis realty di daerah Cibubur, dan juga pembentukan beberapa anak perusahaan melalui kemitraan dengan perusahaan asing, antara lain PT PPTaisei Indonesia Konstruksi dan PT Mitracipta Polasarana. 2.009 Pada tahun 2009, seiring dengan pertumbuhan bisnis dan kondisi keuangan increaseingly kuat, maka PT PP (Persero) untuk mempersiapkan transformasi di mana pada tahun 2009 PT PP (Persero) akan melaksanakan program dalam Penawaran Umum Saham ke Publik (Initial Public Offering / IPO) . Dimana pelaksanaan IPO program PT PP (Persero) telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan Peraturan Goverenment Indonesia Nomor 76 Tahun 2009 di Perubahan Struktur Kepemilikan Saham Negara melalui Penerbitan dan Penjualan Saham Baru pada Perusahaan (Persero) PT Pembangunan Perumahan tanggal 28 Desember 2009. 2.010 Dengan Peraturan baru dari Pemerintah mengenai Perubahan Struktur Kepemilikan Saham Negara, oleh karena itu pada 9 Februari 2010 PT PP (Persero) telah memenuhi persyaratan listing di PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Terhitung sejak tanggal tersebut di atas, PT PP (Persero) Tbk saham secara resmi telah terdaftar dan dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI)

L.10 Hasil Perhitungan Tabel Derajat Virtualisasi