Anda di halaman 1dari 46

KTI DAN TUGAS AKHIR PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280

PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280

Karya Tulis Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menempuh Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Teknik Elektromedik

Disusun Oleh : DAMAR KUNCORO AJI 07.4.005

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTROMEDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA HUSADA SEMARANG 2011

MENGESAHKAN

KETUA PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTROMEDIK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA HUSADA SEMARANG

Ir. Vivi Vira Viridianti, M.Kes.

HALAMAN PENGESAHAN

NAMA NIM PROGRAM JUDUL

: DAMAR KUNCORO AJI : 07.4.005 : DIPLOMA III TEKNIK ELEKTROMEDIK : PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280

Karya Tulis ini telah diuji dan dipertahankan di hadapan tim penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Teknik Elektromedik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang pada hari , , Agustus, 2011.

Penguji I

Penguji II

Penguji III

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Karya Tulis ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Teknik Elektromedik Widya Husada Semarang.

Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II

(Ir. Vivi Vira Viridianti, M.Kes)

(Anggiat W.Os, Amd EM, SST)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto : Buatku hidup itu bisa aja, bisa nyantai, bisa makan, bisa pintar, dan bisa kaya.

PERSEMBAHAN : Karya Tulis ini kupersembahkan kepada : 1. 2. 3. 4. bapak dan Ibu tercinta Kakak kakakku Almamater Semua pembaca yang budiman

ABSTRAK

Nama : Damar Kuncoro Aji NIM : 07.4.005

Di dalam dunia kesehatan, banyak peralatan medis yang digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan bagi pasien, yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dalam rangka untuk menunjang pelayanan kesehatan tersebut perlu dilakukan peningkatan peningkatan pelayanan pada masyarakat. Dalam hal ini perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk meningkatkan pelayanan dibidang kesehatan tidak hanya dokter yang berperan untuk terciptanya pelayanan yang baik, tetapi disamping dokter perlu adanya tim medis yang membantu dan bekerja sama untuk membantu dan bekerja sama untuk melakukan pelayanan kesehatan. Selain bekerja sama dengan tim medis, keberadaan alat alat medis sangat mendukung kelancaran jalannya pelayanan kesehatan.

Salah satu alat yang digunakan adalah alat untuk membantu pasien yang mengalami kegagalan jantung seperti ini disebut fibrilasi ventikuler dan keadaan pasien akan bertambah parah dalam beberapa menit apabila keadaan ini tidak diperbaiki, unutk mengembalikan denyutan jantung agar dapat bekerja sebagaimana mestinya, maka digunakan alat yang disebut defibrilator.

Pesawat defibrilator adalah suatu pesawat yang digunakan untuk membantu para medis dibagian perawatan jantung untuk mengatasi kelainan pada jantung (cardioarrytmia). Pada pasien yang mengalami kegagalan jantung seperti ini disebut fibrilasi ventikuler dan keadaan pasien akan bertambah parah dalam beberapa menit apabila keadaan ini tidak diperbaiki, unutk mengembalikan denyutan jantung agar dapat bekerja sebagaimana mestinya, maka digunakan alat yang disebut defibrilator.

Dengan memberikan ransangan arus listrik pada sel-sel ventrikuler jantung sehingga semua sel akan diharapkan melewati masa krisis secra bersamaan dan diharapkan jantung akan mulai berdenyut secara teratur.

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis limpahkan kehadirat Allah SWT, karena atas pertolongan Nya, penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini tepat pada waktu yang telah direncanakan sebelumnya. Tak lupa sholawat serta salam Penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat, semoga selalu dapat menuntun Penulis pada ruang dan waktu yang lain. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi syarat kelulusan program Studi Dipoloma III Teknik Elektromedik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang, dengan judul : PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280 Untuk menyelesaikan karya tulis ini adalah suatu hal yang mustahil apabila penulis tidak mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. Bapak, Ibu dan Kakak tercinta yang telah memberikan dorongan moril maupun materil, dan sebagai semangat untuk membuka semangat baru. 2. Ibu Vivi Vira Viridianti, M.Kes, selaku pembimbing I, Ketua Program Studi Diploma III Teknik Elektromedik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang. 3. 4. 5. 6. Bapak Anggiat W.Os, Amd EM, SST, selaku pembimbing II. Bapak, ibu dan staf Akademi Teknik Elektromedik Widya Husada Semarang. Bapak, ibu dan staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang. Rekan-rekan ATEM Widya Husada Semarang.

7. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung hingga terselesaikannya karya tulis ilmiah ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak dan bila terdapat kekurangan dalam pembuatan laporan ini penulis mohon maaf, karena penulis menyadari karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Semarang, 1 Agustus 2011

Penulis

Damar Kuncoro Aji

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... MENGESAHKAN............................................................................................. HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... PERNYATAAN PERSETUJUAN.................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... ABSTRAK......................................................................................................... iii iv v

i ii

vi

KATA PENGANTAR ...................................................................................... vii DAFTAR ISI...................................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xii DAFTAR TABEL.............................................................................................. xiv DAFTAR RUMUS............................................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 2 1

1.1. Latar Belakang............................................................................. 1.2. Tujuan Penulisan..........................................................................

1.2.1. Tujuan Umum.................................................................... 1.2.2. Tujuan Khusus...................................................................

2 2 2 2 3 3 5

1.3. Pembatasan Masalah.................................................................... 1.4. Metode Penulisan ........................................................................ 1.5. Metode Pengumpulan Data.......................................................... 1.6. Sistematika Penulisan...................................................................

BAB II TEORI DASAR ................................................................................ 2.1. Pengertian Defibrillator................................................................ 2.2.Pengetahuan Jantung.................................................................... 2.3.Teori Penunjang............................................................................ 2.3.1 Dioda................................................................................... 5 6 9 9

2.3.2 Dioda Zener ....................................................................... 11 2.3.3 Relay.................................................................................... 12 2.3.4 Resistor................................................................................ 15 2.3.5 Kapasitor............................................................................. 21 2.3.6 Transistor............................................................................. 27 2.3.7 Transformator...................................................................... 34 2.3.8 Osilator................................................................................ 39 2.3.9 Multiplier............................................................................. 40 BAB III PEMBAHASAN................................................................................. 42 3.1. 3.2. Spesifikasi Alat............................................................................ 42 Gambar Alat ................................................................................ 42 3.2.1 Gambar Alat ....................................................................... 42 3.2.2 Penjelasan Gambar Alat ..................................................... 43 3.2.3 Panel Kontrol...................................................................... 44 3.3. 3.4. Accessoris Dan Perlengkapan...................................................... 45 Block Diagram ............................................................................ 45

3.5.

Wiring Diagram ........................................................................... 47 3.5.1 Cara Kerja Pengisian Kapasitor .......................................... 48 3.5.2 Cara Kerja Penunjukan Meter Charger .............................. 49 3.5.3 Aliran Energi Tinggi ........................................................... 49 3.5.4 Discharger Atau Pengurangan Energi................................. 50 3.5.5 Pemberian Shock................................................................. 50 3.5.6 Inter Locks.......................................................................... 51

3.6.

Pengoprasian Pesawat Defibrillator............................................. 51 3.6.1 Persiapan Awal ................................................................... 51 3.6.2 Kalibrasi ............................................................................. 52 3.6.3 Pengoperasian...................................................................... 52

3.7. 3.8.

Trouble Shooting.......................................................................... 53 Maintenance................................................................................. 54

3.8.1 Harian.................................................................................. 54 3.8.2 Mingguan............................................................................ 54 3.8.3 Bulanan............................................................................... 54 3.8.4 Tahunan............................................................................... 54 BAB IV PENUTUP ......................................................................................... 55 4.1. 4.2. Kesimpulan................................................................................... 55 Saran............................................................................................. 55

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 57 LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 2.9

Diagram Dasar Defibrillator...................................................... Skema Jantung........................................................................... Potensial Aksi Kelistrikan Jantung ........................................... Simbol Dioda ........................................................................... Bentuk Fisik Dioda................................................................... Bias Forward............................................................................. Bias Reserve.............................................................................. Karakteristik Dioda................................................................... Karakteristik Dioda Zener ........................................................

5 7 8 9 10 10 10 11 12 13 14 17 20 21 22 22 22 26 26 27 27 28 28 28 29 30 34

Gambar 2.10 Relay ......................................................................................... Gambar 2.11 Cara Kerja Relay....................................................................... Gambar 2.12 Gelang Resistor......................................................................... Gambar 2.13 Rangkaian Pembagi Tegangan .................................................. Gambar 2.14 Kapasitor.................................................................................. Gambar 2.15 Prinsip Dasar Kapasitor............................................................. Gambar 2.16 Simbol Kapasitor....................................................................... Gambar 2.17 Gambar Struktur Kapasitor....................................................... Gambar 2.18 Pengisian Dan Pengosongan Kapasitor..................................... Ganbar 2.19 Grafik pengisian Muatan Pada Kapasitor.................................. Gambar 2.20 Gambar 2.21 Gambar 2.22 Pengosongan Muatan Kapasitor .............................................. Grafik Kapasitor Membuang Muatan ...................................... Susunan Fisik Transistor...........................................................

Gambar 2.23 Gambar Transistor .................................................................... Gambar 2.24 Skematik Transistor.................................................................... Gambar 2.25 Simbol Transistor........................................................................ Gambar 2.26 Kurva Karakteristik Transistor................................................... Gambar 2.27 Transistor Sebagai Saklar...........................................................

Gambar 2.28 Simbol Transformator................................................................. Gambar 2.29 Bentuk Fisik Transformator....................................................... Gambar 2.30 Penjelasan Transformator........................................................... Gambar 2.31 Gelombang Frekuensi................................................................. Gambar 2.32 Villard Cascade Multiplier......................................................... Gambar 2.33 Multiplier.................................................................................... Gambar 3.34 Pantridge Defibrillator Tampak Samping................................... Gambar 3.35 Pantridge Defibrillator Tampak Bawah..................................... Gambar 3.36 Penjelasan Gambar Alat............................................................. Gambar 3.37 Panel Kontrol............................................................................. Gambar 3.38 Block Diagram........................................................................... Gambar 3.39 Wiring Diagram.......................................................................... Gambar 4.40 Penempatan Posisi Elektroda.....................................................

35 35 35 40 41 41 42 42 43 44 45 47 56

DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 3.6 Denyut Jantung Permenit Berdasarkan Usia.............................. Gelang Warna Resistor............................................................... Nilai Dan Satuan Kapasitor........................................................ Perkalian Kode Warna Kondensator.......................................... Keterangan Komponen.............................................................. Kesalahan Yang Dapat Dideteksi Alat...................................... 9 17 24 25 48 53

DAFTAR RUMUS

Rumus 2.1 Rumus 2.2 Rumus 2.3 Rumus 2.4 Rumus 2.5 Rumus 2.6 Rumus 2.7 Rumus 2.8 Rumus 2.9 Rumus 2.10

Arus............................................................................................ Daya........................................................................................... Pembagi Tegangan 1.................................................................. Pembagi Tegangan 2.................................................................. Pengisian Muatan Kapasitor....................................................... Kondisi Jenuh Pada Transistor................................................... Kondisi Cut Off Pada Transistor............................................... Tegangan Kolektor Dan Emitor Pada Saat Cut Off.................. Transformator............................................................................. Rumus Frekuensi........................................................................

15 15 20 20 26 33 34 34 29 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Di dalam dunia kesehatan, banyak peralatan medis yang digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan bagi pasien, yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dalam rangka untuk menunjang pelayanan kesehatan tersebut perlu dilakukan peningkatan peningkatan pelayanan pada masyarakat. Dalam hal ini perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk meningkatkan pelayanan dibidang kesehatan tidak hanya dokter yang berperan untuk terciptanya pelayanan yang baik, tetapi disamping dokter perlu adanya tim medis yang membantu dan bekerja sama untuk membantu dan bekerja sama untuk melakukan pelayanan kesehatan. Selain bekerja sama dengan tim medis, keberadaan alat alat medis sangat mendukung kelancaran jalannya pelayanan kesehatan.Salah satu alat yang digunakan adalah alat untuk membantu pasien yang mengalami kegagalan jantung seperti ini disebut fibrilasi ventikuler dan keadaan pasien akan bertambah parah dalam beberapa menit apabila keadaan ini tidak diperbaiki, unutk mengembalikan denyutan jantung agar dapat bekerja sebagaimana mestinya, maka digunakan alat yang disebut defibrilator. Berdasarkan pada hal tersebut diatas serta ingin meningkatkan pengetahuan tentang alat tersebutmaka penulis membuat pembahasan dengan judul: PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280

1.2

Tujuan Tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut : 1.2.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari karya tulis ini adalah:

a. Sebagai salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III Teknik Elektromedik STIKES Widya Husada Semarang. b. Untuk mengetahui dan memahami prinsip kerja pesawat Defibrillator.

1.2.2 Tujuan khusus Tujuan khusus dari karya tulis ini adalah: a. Untuk mengetahui lebih jauh tentang pesawat Defibrillator.

b. Sebagai bahan perbandingan antara teori dan praktek yang telah dilakukan saat praktek kerja lapangan. c. Untuk menambah pengetahuan tentang peralatan elektromedik khususnya pesawat Defibrillator. 1.3 Batasan Masalah Untuk nenghindari terjadinya pelebaran masalah maka, penulis hanya membahas rangkaian elektronika defibrillator saja. 1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan data, mengolah data, dan menganalisa data dengan teknik tertentu. 1.5 Metode Pengumpulan Data

Sesuai dengan sumber data serta maksud dan tujuan penyusunan tugas akhir ini maka dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut : a. Studi Kepustakaan Suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggunakan dan mempelajari buku-buku, internet, atau media lain yang ada hubungannya dengan masalah karya tulis ini. b. Penelitian Lapangan Suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meninjau dan mengamati secara langsung. 1. Interview ( Wawancara )

Metode pengumpulan data dengan tanya jawab secara langsung. 2. Literature

Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memanfaatkan buku - buku referensi sebagai penunjang dalam pengambilan teori dasar. 1.6 Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran penulisan Tugas Akhir ini, maka penulis memberikan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Pada bagian pendahuluan ini memberikan gambaran tentang isi karya tulis secara keseluruhan sehingga pembaca dapat memperoleh informasi singkat dan tertarik untuk membaca lebih lanjut. Didalam bagian pendahuluan memaparkan tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II TEORI DASAR Teori dasar ini merupakan gambaran secara umum tentang pembahasan alat dan hal-hal yang berkaitan dengan komponen-komponen dasar yang sesuai dengan referensi alat. Teori dasar yang ada pada bab ini yaitu dioda, relay, resistor,capasitor, transistor, transformer. BAB III PEMBAHASAN ALAT Dalam hal ini penulis mengemukakan tentang pembahasan alat yang isinya mencakup penjelasan cara kerja alat secara keseluruhan dengan cara menganalisa setiap blok dari alat. BAB IV PENUTUP Isinya merupakan kesimpulan dari pembahasan yang merupakan jawaban terhadap masalah serta berisi tentang saran-saran penulis yang didasarkan pada hasil pembahasan sehingga dapat dikembangkan dengan lebih baik.

BAB II TEORI DASAR

2.1.

pengertian defibrillator [3]

Pesawat defibrilator adalah suatu pesawat yang digunakan untuk membantu para medis dibagian perawatan jantung untuk mengatasi kelainan pada jantung. Pada pasien yang mengalami kegagalan jantung seperti ini disebut fibrilasi ventikuler dan keadaan pasien akan bertambah parah dalam

beberapa menit apabila keadaan ini tidak diperbaiki, untuk mengembalikan denyutan jantung agar dapat bekerja sebagaimana mestinya, maka digunakan alat yang disebut defibrilator.

Dengan memberikan ransangan arus listrik pada sel-sel ventrikuler jantung sehingga semua sel akan diharapkan melewati masa kritis secara bersamaan dan diharapkan jantung akan mulai berdenyut secara teratur. Gambar 2.1 diagram dasar defibrillator.

Keterangan Gambar : 1. 2. 3. elektroda. 4. 5. 6. Baterai sebagai sumber tenaga. Saklar untuk menghubungkan positif baterai ke kapasitor. Saklar untuk meneruskan muatan kapasitor ke jantung melalui

Jantung. Kapasitor sebagai penampung muatan sementara. Elektroda sebagai penghubung ke jantung atau pasien.

2.2. Pengetahuan Jantung [7] Jantung merupakan organ pemompa yang besar yang memelihara peredaran darah melalui seluruh tubuh, berupa otot, berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya di atas dan puncaknya di bawah. Ukuran jantung kira kira sebesar kepalan tangan.Jantung dewasa beratnya antara 220 260 gram, jantung terbagi oleh septum ( sekat ) menjadi dua belah, yaitu kiri dan kanan. Setiap belahan kemudian di bagi lagi dalam ruang, yang di atas disebut atrium, dan di bawah ventrikal. Maka dikiri terdapat 1 atrium dan 1 ventrikel, dan dikanan terdapat juga 1 atrium dan 1 ventrikel. Disetiap sisi ada hubungan antara atrium dan ventrikel melalui lubang antrioventrikuler dan pada setiap lubang terdapat katup: sebelah kanan bernama katup ( valve latrikus pidalis ) dan yang

kiri katup mitral pada manusia daya pompa jantung pada saat istirahat berdebar 70 kali semenit dan memompa 70 ml setiap denyut ( volume denyutan adalah 70 ml ). Jumlah darah yang setiap menit dipompa dengan demikian adalah 70 x 70 ml atau sekitar 5 liter. Sewaktu bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut lebih dari 150 ml, yang membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter setiap menit.

Selama gerakan jantung dapat terdengar dua macam suara disebabkan oleh katup katup yang menutup secara pasif, pertama disebabkan menutupnya katup atrioventrikuler, dan ventrikel. Bunyi kedua karena menutupnya katup aortic dan sesudah kontaksi ventrikel. Yang pertama adalah panjang, dan yang kedua pendek dan tajam, dengan demikian terdengar seperti lub dan yang kedua seperti duk. 2.2 Skema Jantung.

Irama jantung diatur oleh isyarat listrik yang dihasilkan oleh rangsangan secara spontan, oleh sel sel khusus yang terdapat pada atrium kanan( dekat muara vena kava superior dan inferior ), yaitu SA node yang bertindak sebagai pace maker, bergetarnya SA node berkisar 72 kali permenit. Getaran tersebut dapat meningkat atau menurun diatur oleh syaraf eksternal jantung yang merupakan respon/jawaban kebutuhan darah oleh isyarat listrik dari SA node menyebabkan depolarasasi otot jantung atrium dan memompa darah ke ventrikel, kemudian diikuti oleh depolarasi ventrikel kanan dan kekiri yang menyebabkan kontak siventrikel sehingga darah dipompa, ke dalam arteri pulmonalis dan ke aorta, syaraf pada ventrikel kemudian mengalami repolarisasi dan mulai kembali isyarat listrik dari SA node. Bentuk pulsa dari isyarat listrik daripada saat potensial aksi dapat ditunjukan pada gambar berikut :

Gambar 2.3 Potensial aksi kelistrikan jantung. Irama jantung yang berbunyi lub dan duk pada saat memompa darah dalam tubuh pada setiap individu berbeda beda, karena dapat dipengaruhi oleh faktor- factor berikut ini yaitu : umur jenis kelamin, berat badan, makanan, dan aktivitas, lihat tabel.

Table 2.1. Denyut Jantung Per Menit Berdasarkan UsiaUSIA Bayi yang baru lahir 140

DENYUT PER MENIT

Selama tahun pertama 120 Selama tahun kedua 110

Umur 5 tahun 96 100 Umur 10 tahun 80 90 Orang dewasa 60 80

2.3. Teori Penunjang 2.3.1. Dioda [9] Dioda merupakan salah satu bahan semikonduktror yang berfungsi untuk menyearahkan arus listrik atau mengaktifkan arus pada satu arah saja, yaitu dari anode ke katoda.

Gambar 2.4 simbol dioda.

Gambar 2.5 bentuk fisik dioda.

Gambar 2.6 Bias forward. Karakteristik dioda adalah sebagai berikut :

Gambar 2.7 Bias reserve.

a. Bila dioda diberi tegangan maju (gambar 2.4), maka dengan tegangan kecil saja (umumnya kira-kira 0,7 volt) akan mengalir arus maju atau arus akan megalir dari anoda ke katoda. b. Bila diode diberi tegangan balik (gambar 2.5) maka untuk tegangan yang masih dibawah tegangan break down atau Vr (lihat grafik diode Vd IP ), arus tidak akan megalir dari anode ke katode sampai tegangan yang diberikan diatas Vr.

Gambar 2.8 Karakteristik Dioda.

2.3.2. Dioda Zener[9] Dioda zener adalah dioda silikon yang sangat terkotori, tidak seperti dioda normal, memiliki breakdown mundur yang mendadak pada tegangan yang relatif rendah (biasanya kurang dari 6 V). Efek yang sama tejadi pada dioda yang kurang terkotori. Dioda runtuhan (avalanche diode) ini juga memiliki breakdown yang sangat cepat dengan aliran arus yang dapat diabaikan pada kondisi di bawah tegangan runtuhan dan aliran arus yang relatif besar seketika mencapai tegangan runtuhannya. Untuk dioda runtuhan, tegangan breakdown ini biasanya teiadi pada tegangan di atas 6 V. Namun dalam prakteknya, kedua jenis dioda ini disebut sebagai dioda zener. Karakteristik tipikal dan sebuah dioda zener 5,1 V diperlihatkan dalam gambar dibawah ini.

Gambar 2.9 karakteristik dioda zener dan lambang dioda zener. Walaupun breakdown mundur merupakan efek yang sangat tidak diinginkan pada rangkaian yang menggunakan dioda konvensional, breakdown mundur sangat berguna dalam kasus dioda zener di mana tegangan breakdownnya diketahui secara persis. Ketika dioda mengalami breakdown mundur dan asalkan rating maksimumnya tidak dilampaui tegangan yang timbul pada dioda tersebut akan tetap konstan (sama dengan tegangan zener nominal) tanpa terpengaruh oleh aliran anus. Sifat semacam ini menjadikan dioda zener ideal untuk digunakan sebagai pengatur tegangan (voltage regulator). 2.3.3. Relay [1] Relay adalah suatu piranti elektronika merupakan lilitan kawat email jika dialiri arus listrik maka berubah menjadi medan magnet yang menggerakan lempengan besi yang disebut kontaktor. Kontak relay terbuat dari bahan yang tahan panas dari bunga api yang ditimbulkan karena kontak listrik.

Biasanya terbuat dari platina, bahan platina ini tahan terhadap korosi jadi tidak mudah peroksida. Relay digunakan untuk menghubungkan suatu rangkaian ke rangkaian lain atau saluran selanjutnya yang dapat diatur waktu kontaknya dengan menggunakan kontrol elektronik atau listrik. Ada dua bagian titik kontak relay yaitu : a. Normal Open (NO)

Dimana kontak ini akan berada pada posisi terbuka saat relay ini tidak bekerja dan akan terhubung saat relay ini bekerja. b. Normal Close (NC)

Kontak ini akan berada pada posisi terhubung saat relay ini tidak bekerja dan akan terlepas saat relay ini bekerja.

Gambar 2.10 Relay.

Gambar 2.11 Cara kerja Relay. Cara kerja relay Apabila push button ditekan, maka arus dari tegangan VCC akan mengalir ke koil, sehingga koil tersebut akan menghasilkan medan magnet. Medan magnet tersebut akan menarik kontaktor. Keunggulan relay dibanding saklar mekanik biasa a. Relay dapat dipakai dengan aman untuk mengemudikan peralatan dan mesin dari jauh.

b. Relay yang bekerja dengan arus dan tegangan kecil dapat digunakan untuk menghidupkan mesin yang memerlukan arus besar.

c.

Relay dapat juga digunakan menggerakkan peralatan yang berbahaya dari kejauhan.

Sifat-sifat relay a. Hambatan pada kumparan ditentukan oleh tebal kawat dan jumlah lilitan.

b. Relay dengan hambatan kecil memerlukan arus yang besar dan sebaliknya, hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan dapat dirumuskan sebagai diberikut : V = I x R ..........................................................................................................(2.1) Dimana tegangan (V) yang diperlukan sama dengan kuat arus (I) dikalikan dengan hambatan (R). c. Daya yang diperlukan untuk menggerakkan relay, dapat dicari dengan rumus :

P = V x I ..........................................................................................................(2.2) Dimana daya (P) yang diperlukan sama dengan tegangan (V) dikalikan kuat arus (I). 2.3.4. Resistor [9] Pada dasarnya semua bahan memiliki sifat resistif namun beberapa bahan seperti tembaga, perak, emas dan bahan metal umumnya memiliki resistansi yang sangat kecil. Bahan-bahan tersebut menghantar arus listrik dengan baik, sehingga dinamakan konduktor. Kebalikan dari bahan yang konduktif, bahan material seperti karet, gelas, karbon memiliki resistansi yang lebih besar menahan aliran elektron dan disebut sebagai isolator. Resistor adalah komponen dasar elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena bisa berfungsi sebagai pengatur atau untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Dengan resistor, arus listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol (Omega). Di dalam rangkaian elektronika, resistor dilambangkan dengan huruf R. Dilihat dari bahannya, ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor Carbon, Wirewound, dan Metalfilm. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer, Rheostat dan Trimmer (Trimpot). Selain itu ada juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR (Light Dependent Resistor) dan resistor yang nilai resistansinya akan bertambah besar bila terkena suhu panas yang namanya PTC (Positive Thermal Coefficient) serta resistor yang nilai resistansinya akan bertambah kecil bila terkena suhu panas yang namanya NTC (Negative Thermal Coefficient). Untuk resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi (tahanan) dari resistor. Resistor ini mempunyai bentuk seperti tabung dengan dua kaki di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk cincin kode warna, kode ini untuk mengetahui besar resistansi tanpa harus mengukur besarnya dengan ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada table.

Gambar 2.12 Gelang Resistor. Tabel 2.2. Gelang WarnaWarna Nilai Hitam 0 1 Faktor pengali Toleransi

Coklat 1 Merah 2 Jingga 3

10 100 1.000

1% 2%

Kuning 4

10.000

Hijau

100.000

Biru

106

Violet 7

107

Abu-abu

108

Putih

109

Emas

0.1

5%

Perak Tanpa warna

0.01 -

10% 20%

Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit kedalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. Kalau anda telah bisa menentukan mana gelang yang pertama selanjutnya adalah membaca nilai resistansinya. Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas adalah gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah. Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi. Dari table 1 diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resitor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel-1 diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100W, 5W.

Rangkaian Pembagi Tegangan Ketika resistor pada rangkaian dirangkai secara seri maka tegangan akan terbagi pada setiap resistor yang di lewati-nya, dimana tegangan yang terbagi berbanding lurus dengan nilai resistansi-nya. Untuk mengetahui bagaimana rangkaian pembagi tegangan ini bekerja, mari kita analisa rangkaian di bawah ini.

Gambar 2.13 Rangkaian Pembagi Tegangan Perhitungan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tegangan yang terbagi pada setiap resistor merupakan dari resistansi total pada rangkaian dikalikan tegangan total rangkaian. Jika ditulis dalam bentuk persamaan adalah sebagai berikut. Rumus(5): ................................(2.3) ................................(2.4)

2.3.5. Kapasitor [4] [9] Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif.

Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-muatan positif dan negatif di awan. Gambar 2.14 Kapasitor.

Gambar 2.15 Prinsip Dasar Kapasitor.

Gambar 2.16 simbol Kapasitor.

Gambar 2.17 gambar stuktur Kapasitor.

Tipe Kapasitor Kapasitor terdiri dari beberapa tipe, tergantung dari bahan dielektriknya. Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kapasitor electrostatic, electrolytic dan electrochemical. 1. Kapasitor Electrostatic Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari keramik, film dan mika. Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF, yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. Termasuk kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar), polystyrene, polyprophylene, polycarbonate, metalized paper dan lainnya. Mylar, MKM, MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahanbahan dielektrik film. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non-polar. 2. Kapasitor Electrolytic

Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan - di badannya. Mengapa kapasitor ini dapat memiliki polaritas, adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda dan kutup negatif katoda. 3. Kapasitor Electrochemical Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Termasuk kapasitor jenis ini adalah batere dan accu. Pada kenyataanya batere dan accu adalah kapasitor yang sangat baik, karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. Tipe kapasitor

jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan, misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular. Tabel 2.3. Nilai dan satuan kapasitor microFarads (F) nanoFarads (nF) picoFarads (pF) 0.000001F 0.00001F 0.0001F 0.001F 0.01F = 0.1F = 1F 10F = = = = = = 10nF 0.001nF= 0.01nF = 0.1nF 1nF = = = 1pF 10pF 100pF 1000pF

10,000pF 100,000pF 1,000,000pF = = 10,000,000pF 100,000,000pF

100nF = 1000nF = 10,000nF 100,000nF

100F =

Tabel 2.4. Perkalian kode warna Kondensator Tegangan Kerja Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik. Para praktisi elektronika barangkali pernah mengalami kapasitor yang meledak karena kelebihan tegangan. Misalnya kapasitor 10uF 25V, maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh melebihi 25 volt DC. Umumnya kapasitor-kapasitor polar bekerja pada tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC. Pengisian dan Pengosongan Kapasitor

1. Kapasitor Diberi Muatan Lewat Sebuah Resistor, Kalau sebuah kondensator C diisi muatan dari baterai E, lewat sebuah R

Gambar 2.18 C Di isi Muatan Lewat Sebuah Pelawan Hambatan. Adapun tegangan pada kondensator bertingkah seperti lengkung VC. Perlu perlu diingat bilanganbilangan berikut : sesudah 0,7 R.C detik, tegangan pada kondensator ada setinggi 50% dari tegangan baterai E. Sesudah 1. R.C detik, tegangan pada kondensator ada setinggi 63% dari tegangan baterai E. Sesudah 5.R.C detik, tegangan pada kondensator adalah setinggi tegangan baterai pada setiap saat berlakulah harga-harga tegangan berikut E = VR + VC............................................................................(2.5)

Gambar 2.19 Grafik Pengisisan Muatan Pada Kondensator C Dan R 2. Kondensator Membuang Muatan Lewat Sebuah Pelawan Resistor, Kalau kondensator C yang penuh muatan, membuang muatannya lewat perantaraan R, maka jalannya arus membuang muatan adalah seperti

Gambar 2.20 Kapsitor Membuang Muatan Lewat Resistor

Gamabar2.21 Grafik Kapasitor Membuang Muatan Sesudah 1.R detik tegangan pada C ada 37% dari tegangan maksimum; sesudah 3.R detik, tegangan pada C ada 50% dari tegangan maksimum; sesudah 5.R.C detik tgangan pada C ada nol. 2.3.6. Transistor [9] Transistor adalah piranti elektronik yang menggantikan fungsi tabung elektron-trioda, dimana transistor ini mempunyai tiga elektroda , yaitu Emitter, Collector dan Base. Fungsi utama atau tujuan utama pembuatan transistor adalah sebagai penguat (amplifier), namun dikarenakan sifatnya, transistor ini dapat digunakan dalam keperluan lain misalnya sebagai suatu saklar elektronis. Susunan fisik transistor adalah merupakan gandengan dari bahan semikonduktor tipe P dan N seperti digambarkan dibawah ini.

Gambar 2.22 susunan fisik.

Gambar 2.23 gambar transistor.

Sedangkan gambar rangkaian penggantinya sama dengan dua buah dioda yang dipasang saling bertolak seperti terlihat dibawah ini

Gambar 2.24 Skematik transistor. Berikut memperlihatkan beberapa bangun fisik dan konstruksi transistor bipolar, dikatakan bipolar karena terdapat dua pembawa muatan, yaitu elektron bebas dan hole. Sedangkan jenisnya ada dua macam, yaitu jenis PNP dan NPN yang simbolnya diperlihatkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.25 Simbol transistor Kedua jenis PNP dan NPN tidak ada bedanya, kecuali hanya pada cara pemberian biasnya saja. Bentuk fisik transistor ini bermacam-macam kemasan, namun pada dasarnya karena transistor ini tidak tahan terhadap temperatur, maka tabungnya biasanya terbuat dari bahan logam sebagai peredam panas bahkan sering dibantu dengan pelindung (peredam) panas (heat-sink). Untuk mengoperasi transistor harus diketahui dulu daerah kerjanya. Ada tiga daerah kerja transistor yaitu : a. Daerah sumbat (cut off)

Daerah sumbat merupakan daerah kerja transistor saat mendapat bias arus basis (Ib) 0. Pada saat daerah ini terjadi bocor dari basis ke emitor (IBEO). Hal yang sama dapat terjadi pada hubungan kolektor-basis. Jika arus emitor sangat kecil (Ie = 0), emitor dalam keadaan terbuka dan arus mengalir dari kolektor ke basis (ICBO).

b.

Daerah aktif

Daerah aktif terletak antara daerah jenuh dan daerah sumbat. Agar transistor bekerja pada daerah aktif maka transistor harus mendapatkan arus basis lebih besar dari 0 (Ib > 0), dalam keadaan ini keluaran arus kolektor akan berubah sesuai dengan pemberian arus basisnya.

c.

Daerah jenuh (saturasi)

Transistor akan bekerja pada daerah jenuh ketika hambatan basis terlalu kecil, maka arus kolektor meningkat sampai nilai maksimum, dan tegangan kolektor-emitor turun mendekati nol.

Gambar2.26 Kurva Karakteristik Transistor.

Pengujian Transistor Dengan menganggap transistor adalah gabungan dua buah dioda, maka anda dapat menguji kemungkinan kerusakan suatu transistor dengan menggunakan ohmmeter dari suatu multitester. Kemungkinan terjadinya kerusakan transistor ada tiga penyebab yaitu : a. b. c. Salah pemasangan pada rangkaian Penangan yang tidak tepat saat pemasangan Pengujian yang tidak professional.

Sedangkan kemungkinan kerusakan transistor juga ada tiga jenis, yaitu : a. b. Pemutusan Hubung singkat

c. Kebocoran Pada pengujian transistor kita tidak hanya menguji antara kedua dioda tersebut, tapi kita juga harus melakukan pengujian pada elektroda kolektor dan emiternya. Nilai Batas Suatu Transistor Bahan semikonduktor akan berubah sifat jika menerima panas yang berlebihan. Suhu maksimal sutu transistor Germanium adalah sekitar 75oC sedangkan jenis Silikon sekitar 150oC. Daya yang disalurkan pada sebuah transistor harus sedemikian rupa sehingga suhu maksimalnya tidak dilampaui dan untuk itu diperlukan bantuan pendingin baik dengan Heat Sink atau dengan kipas kecil (Fan). Pada saat penyolderan kaki-kaki transistor, harus dipertimbangkan juga temperatur solder dan selain itu biasanya digunakan alat pembantu dengan jepitan (tang) guna pengalihan penyaluran panas. Peralihan panas transistor ke pendingin yang baik adalah dengan bantuan Pasta Silikon yang disapukan antara transistor dengan badan pendinginnya. Selain itu biasanya pendingin tersebut diberi cat warna hitam guna memudahkan penyaluran panas.

Penggunaan Transistor Sebagaimana tujuan dari pembuatan transistor, maka transistor awalnya dibuat untuk menguatkan (amplifier) signal-signal, daya, arus, tegangan dan sebagainya.

Namun dikarenakan karakteristik listriknya, penggunaan transistor jauh lebih luas dimana transistor ini banyak digunakan juga sebagai saklar elektronik dan juga penstabil tegangan. Transistor sebagai saklar Dengan memanfaatkan sifat hantar transistor yang tergantung dari tegangan antara elektroda basis dan emitor, maka kita dapat menggunakan transistor ini sebagai sebuah saklar elektronik, dimana saklar elektronik ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan saklar mekanik, seperti : a. b. c. Fisik relative jauh lebih kecil, Tidak menimbulkan suara dan percikan api saat pengontakan. Lebih ekonomis.

Transistor merupahan suatu komponen semikonduktor yang dapat digunakan sebagai saklar elektronik yang dikontrol, hal ini sesuai dengan sifat-sifat dasarnya yaitu selama ada denyut masukan pada diode B-E terukur,ada tegangan pada Rc.antara kolektor dan emitor akan terhubung saat VB>0,7 Volt. Salah satu aplikasi transistor yaitu difungsikan sebagai saklar, yang berguna dalam rangkaianrangkaian digital. Agar berfungsi sebagai saklar, transistor dirancang untuk beroperasi di daerah jenuh dan cut off. Pada saat saturasi (jenuh) maka transistor (kolektor-emitor) seperti saklar tertutup, dan pada saat cut off transistor seperti saklar terbuka. a. Kondisi jenuh (saturasi)

Transistor berada dalam kondisi jenuh jika tegangan masukan lebih besar atau sama dengan VBE (0,7 V) dan mencapai nilai titik tertentu. Basis transistor akan terdapat arus dan menyebabkan mengalirnya arus kolektor. Saat transistor saturasi tegangan antara kolektor emitor mendekati nol. Besarnya arus basis transistor pada saat saturasi : Dimana : IB = arus basis

VBE = tegangan basis emitor 0,7 V VB = tegangan basis Dan sesuai dengan hukum Kirchoff, maka besarnya arus emitor dapat dihitung : IE = IC + IB .............................................................................................................(2.6) b. Kondisi tersumbat (cut off)

Transistor dalam kondisi tersumbat (cut off) bilamana tegangan masukan kurang dari 0,7 V atau bernilai mendekati 0 V, maka basis tidak cukup mendapat picu, sehingga mengakibatkan tidak ada arus yang mengalir dari kolektor ke emitor. Dalam keadaan ini transistor berfungsi sebagai penghambat yang memiliki hambatan lebih besar dan transistor sebagai saklar terbuka. Bila basis transistor dalam keadaan tersumbat (cut off), maka arus basis sama dengan nol dan arus kolektor sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Karena VBE = 0, maka pada keadaan ini transistor kehilangan kerja normalnya tegangan kolektor emitor dapat dituliskan sebagai berikut : VCE = VCC IC.RC ..............................................................................................(2.7) Karena IC= 0, maka tegangan kolektor emitor dapat dituliskan : VCE =VCC ..............................................................................................................(2.8) Ada beberapa jenis elemen kering yaitu dapat berupa lilitan kawat atau pipa. Dapat disesuaikan dengan panas yang dibutuhkan di dalam rangkaian.

Gambar 2.27 Transistor Sebagai Saklar. 2.3.7. Transformator [6]

Transformator atau transformer atau trafo adalah komponen elektromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan sekunder. Jika efisiensi sempurna, semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan sekunder.

Gambar 2.28 simbol transformator.

Gambar 2.29 bentuk fisik transformator.

Gambar 2.30 penjelasan transformator.

Keterangan: Pada transformator ideal berlaku rumus :

Np/Ns = Vp/Vs = Is/Ip...(2.9) Dimana : Np, Ns Vp, Vs Ip, Is : Lilitan primer dan sekunder : Tegangan primer dan sekunder : Arus primer dan sekunder.

Kerugian dalam transformator Perhitungan diatas hanya berlaku apabila kopling primer-sekunder sempurna dan tidak ada kerugian, tetapi dalam praktek terjadi beberapa kerugian yaitu: 1. Kerugian tembaga. Kerugian dalam lilitan tembaga yang disebabkan oleh resistansi tembaga dan arus listrik yang mengalirinya. 2. Kerugian kopling. Kerugian yang terjadi karena kopling primer-sekunder tidak sempurna, sehingga tidak semua fluks magnet yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan secara berlapis-lapis antara primer dan sekunder. 3. Kerugian kapasitas liar. Kerugian yang disebabkan oleh kapasitas liar yang terdapat pada lilitanlilitan transformator. Kerugian ini sangat mempengaruhi efisiensi transformator untuk frekuensi tinggi. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan primer dan sekunder. 4. Kerugian histeresis. Kerugian yang terjadi ketika arus primer AC berbalik arah. Disebabkan karena inti transformator tidak dapat mengubah arah fluks magnetnya dengan seketika. Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggunakan material inti reluktansi rendah. 5. Kerugian efek kulit. Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus bolak-balik, arus cenderung untuk mengalir pada permukaan konduktor. Hal ini memperbesar kerugian kapasitas dan juga menambah resistansi relatif lilitan. Kerugian ini dapat dikurang dengan menggunakan kawat Litz, yaitu kawat yang terdiri dari beberapa kawat kecil yang saling terisolasi. Untuk frekuensi radio digunakan kawat geronggong atau lembaran tipis tembaga sebagai ganti kawat biasa. 6. Kerugian arus eddy (arus olak). Kerugian yang disebabkan oleh GGL masukan yang menimbulkan arus dalam inti magnet yang melawan perubahan fluks magnet yang membangkitkan GGL. Karena adanya fluks magnet yang berubah-ubah, terjadi olakan fluks magnet pada material inti. Kerugian ini berkurang kalau digunakan inti berlapis-lapisan.

Jenis jenis Transformator : 1. Step Up

Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada

pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi jarak jauh. 2. Step Down

Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC - DC. 3. Auto Transformator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer dengan lilitan sekunder. 4. Autotransformator Variabel

Autotransformator variabel sebenarnya adalah auto transformator biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan primer - sekunder yang berubah - ubah. 2.3.8. Osilator [5] Osilator adalah rangkaian yang digunakan untuk menghasilkan bentuk gelombang periodik yang spesifik, misalnya gelombang kotak, segitiga, gigi gergaji, atau sinusoida. Relaxation Oscillator membangkitkan gelombang segitiga dan gigi gergaji. Sinusoidal Oscillator terdiri dari penguat dan komponen yang digunakan untuk membangkitkan osilasi (bentuk gelombang sinus). Osilator dirangkaian ini dimanfaatkan untuk menghasilkan frekuensi atau gelombang periodik. Frekuensi adalah ukuran jumlah putaran ulang per peristiwa dalam selang waktu yang diberikan. Untuk memperhitungkan frekuensi, seseorang menetapkan jarak waktu, menghitung jumlah kejadian peristiwa, dan membagi hitungan ini dengan panjang jarak waktu. Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan hertz (Hz) yaitu nama pakar fisika Jerman Heinrich Rudolf Hertz yang menemukan fenomena ini pertama kali. Frekuensi sebesar 1 Hz menyatakan peristiwa yang terjadi satu kali per detik. Secara alternatif, seseorang bisa mengukur waktu antara dua buah kejadian / peristiwa (dan menyebutnya sebagai periode), lalu memperhitungkan frekuensi (f ) sebagai hasil kebalikan dari periode (T), seperti nampak dari rumus di bawah ini : (2.10) Gelombang sinusoida dengan beberapa macam frekuensi

Gambar 2.31 Gelombang Frekuenzi.

2.3.9.

Multiplier[2]

Multiplier atau Pengganda tegangan adalah sebuah sirkuit listrik AC dari tegangan rendah ke tegangan DC yang lebih tinggi, biasanya melalui suatu jaringan kapasitor dan dioda. Voltage multipliers can be used to generate bias voltages ranging from a few volts for electronic appliances, to millions of volts for purposes such as high-energy physics experiments and lightning safety testing. Pengganda tegangan dapat digunakan untuk menghasilkan tegangan bias mulai dari beberapa volt untuk peralatan elektronik, untuk jutaan volt untuk tujuan seperti energi tinggi eksperimen fisika dan pengujian petir keselamatan.The most common type of voltage multiplier is the half-wave series multiplier, also called the Villard cascade (but actually invented by Heinrich Greinacher ). Jenis yang paling umum dari tegangan multiplier adalah seri multiplier setengah gelombang, juga disebut kaskade Villard. Sementara multiplier dapat digunakan untuk menghasilkan ribuan volt output, komponen-komponen individu tidak perlu dinilai untuk menahan seluruh rentang tegangan. Each component only needs to be concerned with the relative voltage differences directly across its own terminals and of the components immediately adjacent to it. Masing-masing komponen hanya perlu khawatir dengan perbedaan tegangan relatif tepat di seberang terminal sendiri dan komponen berbatasan langsung dengan itu.

Gambar 2.32 Villard cascade multiplier.

Gambar 2.33 multiplier.

BAB III PEMBAHASAN

3.1.

SPESIFIKASI ALAT [2] : Defibrillator : Pantridge : 280 : 24 VDC rechargeable battery,

Nama Alat Merek Model/ type Power 50/60 Hz Maksimal energi 3.2. GAMBAR ALAT 3.2.1. Gambar Alat.

: 400 j

Gambar 3.34 pantridge defibrillator tampak samping.

Gambar 3.35 pantridge defibrillator tampak bawah.

3.2.2. Penjelasan Gambar Alat. Gambar 3.36 Penjelasan gambar alat. Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Selector carge dan discharge. Indikator baterai. Tampilan dosis. PB 1. Elektroda pasien. PB 2. SW On/Off. Indikator power on.

3.2.3. Panel Kontrol. Gambar 3.37 Panel kontrol. Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jarum penunjuk, untuk menunukkan garis angka. LED warna merah, menunjukkan indikator baterai lemah. SW2, untuk pengisian dan pengurangan muatan kapasitor. Setting meter, untuk mengkalibrasi jarum penunjuk meter dosis. Garis angka, untuk menunjukkan meter dosis. LED warna hijau, untuk menunjukkan kondisi baterai di atas minimum. SW1, berfungsi sebagai saklar ON dan OFF. PB1, berfungsi sebagai trigger button 1.

3.3. ACCESSORIES DAN PERLENGKAPAN 1) 2) Safety information. Charger battery.

3.4. BLOCK DIAGRAM Gambar 3.38 block diagram. Cara Kerja Untuk pengisian kapasitor, selector atau swich diarahkan ke charge, maka arus dari battery akan masuk ke oscillator sehingga dapat menimbulkan frekwensi, frekwensi tersebut dimanfaatkan untuk memberi input ke transformer stepUP, output dari transformer stepUP tersebut berupa voltage yang akan dilipat gandakan dan di searahkan menggunakan multiplier. Multiplier disini selain di gunakan untuk penyearah juga digunakan untuk pelipat ganda tegangan yang akan dimasukkan ke kapasitor, setelah kapasitor terisi penuh, maka luapan kapasitor akan dimanfaatkan untuk nonaktifkan oscillator sehingga pengisian berhenti. Untuk pengurangan muatan kapasitor, selector diarahkan ke discharge, maka supply battery akan masuk kerangkaian discharge, rangkaian tersebut akan menberikan beban pada kapasitor

sehingga muatan kapasitor akan berkurang secara perlahan lahan, setelah tampilan menunjukkan dosis yang di inginkan tercapai, selector langsung dipindah secara manual keposisi normal. Pastikan kedua elektroda terhubung pada pasien tanpa ada celah sedikitpun, karena dapat menimbulkan aliran energi kurang maksimal, set duration berfungsi sebagai pengatur lamanya saat triger. Jika triger button keduanya di tekan secara bersamaan, maka muatan dalam kapasitor akan di teruskan ke elektroda melalui kontaktor relay yang terdapat pada rangkaian set duration. Keterangan Battery di sini berfungsi untuk supply rangkaian dan untuk pengisi muatan capasitor.

Oscillator berfungsi sebagai pembangkit frekwensi gelomgang sinusioda yang akan di inputkan ke transformer stepUP. Transformer stepUP berfungsi untuk melipat gandakan tegangan dari battery.

Multiplier berfungsi untuk melipat gandakan lagi tegangan yang di keluarkan dari transformer stepUP. Kapasitor berfungsi sebagai penampung muatan tegangan sementara yang akan di hubungkan ke pasien melalui elektroda. 3.5. WIRING DIAGRAM [8] Tabel 3.5 Keterangan komponen:Komponen C1 C2,C3 C4 D1, D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, D9 D10 D11 LED1 LED2 M1 R1, R5 R2 R3 10F 36V kode Komponen kode

10F 25V 45pF IN4001 IN4001 IN5408 C6V5 Hijau Merah 1K2 2R2 2W5 1R8 2W5 6R8 R4

R6, R7, R8 R9, R10 R11 R12 R13 R14 R15 TR1, TR2 TR3 TR4, TR5 VR1, VR2, VR3 39K

22K 10W 1K 2K2

470R 10K 47K 100R 2N3712 BC184L MJE371 4K7 10K

3.5.1. Cara Kerja Pengisian Kapasitor [8] Dengan mengangkat pesawat dari tempat charger-nya dan SW power atau SW1 pada posisi ON, maka dengan menekan SW2 ke posisi Charge, akan menghubungkan tegangan battery ke rangkaian Oscilator yang dikopel transistor, maka TR1 dan TR2 akan saturasi pada oscilasi 5 KHz. TR1 dan TR2 adalah komponen aktif dari Oscilator yang dikopel dengan Trafo 1. Feed back positip dari basis transistor diambil lewat kontak NC Relay 3. Output sekunder Trafo1 disearhkan oleh Voltage Trippler (Penyearah Cascade) SAG 5460 MULTIPLIER. Output yang sudah disearahkan, diberikan ke Capacitor C4, yaitu Capacitor Storage .Dengan menekan SW2 pada posisi Charge, TR4 akan bekerja melalui Relay 2 dan D4, juga kontak Relay 2 terbuka terbuka memutus resistor R6, R7dan R8 yang paralel dengan C4. Kontak Relay 4 akan menahan Relay 4 dan Relay 2, supaya tetap dalam posisi bekerja (self holding) oleh kontak Relay 4. 3.5.2. Cara Kerja Penunjukan Meter Charge [8] Output impedansi tinggi dari pembagi tegangan dalam multiplier akan menghasilkan arus ke panel meter M1. Defleksi meter sesuai dengan tegangan pada C4 dan sudah dikalibrasi secara langsung sesuai energi yang disimpan dan dibuang. VR3 digunakan sebagai kalibrasi meter (adjust) apabila ada perbedaan antara meter dan penyimpanan C4. 3.5.3. Aliran Energi Tinggi [8] Untuk mencapai pengisian C4 dengan cepat tegangan dari EHT maksimal, yang memungkinkan untuk memberikan 400 Joule dan hal itu merupakan tegangan kerja maksimal dari Capacitor. Pengisian C4 lebih dari kemampuan tidak diizinkan. Pengisian C4 harus di awasi, apabila lebih dari 400J maka tegangan pada C4 akan mencapai tegangan kerja dari Spare Gap (SG1). SG 1 dengan toleransi tegangan kerja 4.7 KV. Saat SG1 bekerja, pengisian C4 akan dibuang pada R6, R7 dan Relay 3 akan bekerja, maka kontak relay 3 akan memutus feedback positip Oscilator dengan

menggroundingkan Basis TR1 dan TR2. Hal ini menyebabkan oscilator berhenti bekerja dan arus EHT akan menjadi nol. SG1 akan tetap bekerja sampai energi pada C48 telah mencapai dibawah 100J, dan saat itu SG1 tidak bekerja lagi, Relay3 Off dan C4 dapat diisi kembali. 3.5.4. Discharge Atau Pengurangan Energi [8] Bila SW2 ditekan ke posisi Charge, Relay 2 akan bekerja seperti diatas. Kontak Relay2 terbuka dan R6, R7 dan R8 yang paralel dengan C4 akan terbuka. Jika SW2 ditekan pada posisi Discharge, TR4 akan Off dan Relay 2 akan Off, sehingga kontaknya menghubungkan R6, R7 dan R8 yang diparalel dengan C4, yang menyebabkan energi pada C4 akan berkurang. Melepas SW2 menyebabkan TR4 bekerja dan Relay 2 bekerja kembali dan kontak Relay 2 akan memutus R paralel (R6, R7 dan R8 ). 3.5.5. Pemberian Shock [8] Shock Defibrilator akan diberikan ke patient dengan menghubungkan C4 yang sudah terisi melalui Induktor 40mH, yang terpasang pada free elektroda dengan Surface elektroda (case), dengan menutupnya kontak Relay1. Patient terletak antara kedua elektroda, yang membuat rangkaian LCR (Lilitan, Capacitor, Resistor). Tertutupnya kontak Relay1 disebabkan penekanan tombol Defibrilator (PB-1) dan (PB-2) dan relay1 akan bekerja selama 50 mSec. Tertutupnya PB-1 dan PB-2 akan menghubungkan supply 24V ke Relay1, melalui D8 dan TR5, dan tegangan 24 V ke C3. C3 mengisi melalui R14, VR2 dan R15 terhubung ke basis TR5. Lamanya waktu bekerjanya TR5 dapat diset pada VR2. Arus basis pada TR5 menyebabkan TR5 bekerja dan Relay1 bekerja. Seiring dengan berkurangnya arus pengisian C3 maka TR5 tidak lagi dalam keadaan saturasi dan Relay 1 tidak bekerja. VR2 diset sehingga kontak relay1 menutup selama 50 mSec. 3.5.6. Inter Locks [8]

Saat SW2 ditekan keposisi Charge, jalur supply positip akan membias TR5 Off melelui D3. D8 pada emiter TR5 akan membuat drop tegangan sebesar 0.5 V, sama seperti pada D8, sehingga Emiter dan Basis TR5 tegangannya akan sama. Hal ini memnyebabkan Defibrilator tidak dapat ditrigger pada waktu charge. Saat pesawat diletakkan pada Charger-nya , D1 menghubungkan bias positip ke basis TR5, sehingga Defibrilator tidak dapat dikerjakan dan tegangan tinggi tidak dapat mencapai elektrodanya, selama terpasang pada Charger-nya. 3.6. PENGOPERASIAN PESAWAT DEFIBRILATOR 3.6.1 Persiapan Awal 1. 2. Hubungkan charger ke jala-jala listrik kemudian hidupkan, Letakkan pesawat diatas charger,

3. Biarkan sampai lampu indikator merah tidak menyala sedangkan hijau menyala terang, maka defribllator menunjukkan bahwa battery pesawat defibrillator telah terisi penuh.

3.6.2

Kalibrasi

1. Setelah battery pesawat telah diisi muatan lakukan pengecekan dengan melakukan pengisian muatan capasitor pada muatan tertentu, 2. Untuk lebih mengetahui lebih presisi besar muatan defibrillator maka dapat menggunakan defianalyzer dengan penunjukkan meter. 3.6.3 1. 2. 3. Pengoperasian Hidupkan pesawat defibrillator dengan menekan tombol on / off, Tekan tombol charger untuk pengisian muatan defibrillator, Perhatikan meter penunjuk, sesuaikan dengan jumlah muatan yang diinginkan,

4. Jika meter penunjuk melebihi dosis yang di inginkan, tekan discharge maka dosis akan turun secara perlahan lahan. 5. Setelah itu, permukaan elektroda diberi gel untuk mengurangi hambatan dari tubuh pasien,

6. Letakkan elektroda rapat ketubuh pasien jangan ada jarak walaupun tipis antara elektroda dengan tubuh pasien, karena ini akan menyebabkan muatan tidak seratus persen sampai ketubuh pasien dan selesaikan tembakan.

3.7. TROUBLE SHOOTING Table 3.6 Kesalahan yang dapat dideteksi alat.Tindakan Alat Alat tidak bisa mentriger, Selector carger , kapasitor, Kesalahan Tindakan Manual

Periksa kontaktor pada relay, tegangan baterai.

Indikator lowbatt terus menyalaBaterai, carger baterai, konektor carger baterai. Periksa baterai, bersihkan konektor carger baterai, periksa carger baterai. Penunjuk meter menunjukkan muatan kapasitor tapi tidak bisa mentriger konektor paddle, konektor relay, TR5. Periksa konektor paddle, bersihkan konektor relai, periksa TR5. Semua lampu indikator tidak menyala. Baterai kosong, SW1 tidak terhubung. Periksa baterai, dan SW1.

Semua lampu indikator menyala. baterai masih bisa untuk pengisian kapasitor sampai lampu hijau padam. Lakukan pengisian ulang pada baterai lampu hijau mulai padam.

3.8.MAINTENANCE 3.8.1. Harian 1. Bersihkan paddle setelah di gunakan. 2. Bersihkan body dari debu. 3. Cek baterai jangan sampai kosong. 4. Cek fisik alat. 3.8.2. Mingguan 1. Cek fisik alat. 2. Cek kabel charger. 3. Cek konektor charger. 3.8.3. Bulanan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cek konektor relay. Cek konektor paddle. Cek konektor carger baterai. Cek kapasitor. Cek baterai. Cek penunjuk meter dosis.

3.8.4. Tahunan 1. 2. 3. 4. 5. Cek seluruh jalur-jalur pada rangkaian. Ganti relay. Ganti baterai. Ganti kapasitor. Kalibrasi penunjuk meter dosis.

BAB IV PENUTUP Pada bab ini penulis memaparkan beberapa kesimpulan dan saran saran yang penulis dapatkan dalam proses mulai tahap studi literature, observasi dan pembahasan rangkaian. 4.1 Kesimpulan 1. Defibrillator adalah alat yang digunakan oleh paramedis dibagian perawatan jantung untuk mengatasi kelaianan jantung. 2. Pada pengisian muatan capacitor tergantung dari besar tegangan yang mengisi pada pengisian muatan capacitor selain juga tergantung pada waktu pengisian. Namun pada defibrillator karena tegangan yang dihasilkan konstan, jadi besar muatan tergantung pada waktu pengisian, 3. Untuk mengkalibrasi yang presisi sebaiknya digunakan defianalyzer yang berguna untuk mengetahui akan meter muatan defibrillator dengan penunjukkan meter. 4.2 Saran

Penulis menyadari pembahasan defibrillator masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk pengembangan lebih lanjut, adapun saran dari penulis yaitu pada saat observasi alat di rumah sakit sangat di butuhkan ketelitian, kejelian dan kedisiplinan agar dapat menghindari kerusakan alat. Karena sangat jarang sebuah rumah sakit mengijinkan pembongkaran alat sedangkan alat tersebut masih kondisi baik. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan, khususnya mahasiswa D III Teknik Elektromedik Widya Husada Semarang. Setelah pembuatan Karya Tulis ini, penulis hanya bisa memberi sedikit saran yang ditujukan kepada pembaca khususnya pengguna pesawat Pantridge Defibrillator Type 280. Saran dari penulis antara lain: 1. Dalam pemaikan pesawat Pantridge Defibrillator Type 280., sebaiknya memperhatikan urutanurutan cara pemakaiannya, untuk menjaga agar Pesawat tidak cepat rusak, juga untuk menyempurnakan proses. 2. Dalam pemakaian pesawat Pantridge Defibrillator Type 280, sebaiknya memperhatikan petunjuk, untuk menghindari kecelakaan kerja, karena pesawat Pantridge Defibrillator Type 280 menggunakan tegangan tinggi.

3. Maintenance alat sebaiknya dilakukan rutin sesuai aturan maintenance yang ada untuk menjaga Pesawat agar tidak cepat rusak, dan untuk menghindari kecelakaan kerja. 4. Perhatikan penempatan elektroda, supaya alat bekerja lebih optimal.

Gambar 3.39 Penempatan posisi elektroda.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. http://en.wikipedia.org/wiki/Relay. Senin, 21 Febuari 2011. Pukul 1:56. http://id.wikipedia.org/wiki/Cascade. Jumat, 29 Juli 2011. Pukul 22:56. http://id.wikipedia.org/wiki/defibrillator. Minggu, 20 Febuari 2011. Pukul 05:15. http://id.wikipedia.org/wiki/Kapasitor. Jumat, 29 Juli 2011. Pukul 23:05. http://id.wikipedia.org/wiki/Oscilator. Senin, 21 Febuari 2011. Pukul 2:30. http://id.wikipedia.org/wiki/Transformator. Senin, 21 Febuari 2011. Pukul l:52. http://id.wikipedia.org/wiki/Jantung. Minggu, 20 Febuari 2011. Pukul 10:15 Manual book PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280.(Operasional Instruction Manual). Richard Blocher. 2002. Dasar Elektronika Yogyakarta : Andi Offset.

WWW.alldatasheet.com

GAMBAR ALAT.

SURAT KETERANGAN PENGAMBILAN DATA

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan Unit kerja : Anggiat W.Os, Amd EM, SST. : Teknisi Elektromedik. : Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang.

Selaku pembimbing lapangan penyusunan Karya Tulis Ilmiah dari mahasiswa : Nama : Damar Kuncoro Aji.

NIM

: 07.4.005.

Institusi : Program Studi Diploma III Teknik Elektromedik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang.

Menyatakan bahwa mahasiswa tersebut benar-benar telah melakukan pengambilan data di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang dengan judul PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280. Semarang, 2011

Pembimbing Lapangan

SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN WAWANCARA SECARA MENDALAM

Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Jabatan Unit kerja : Anggiat W.Os, Amd EM, SST. : Teknisi Elektromedik. : Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang.

Menerangkan bahwa mahasiswa : Nama NIM : Damar Kuncoro Aji. : 07.4.005

Institusi : Program Studi Diploma III Teknik Elektromedik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Husada Semarang.

Telah melakukan wawancara mendalam di IPS Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang, dalam rangka penulisan Karya Tulis Ilmiah dengan judul PEMBAHASAN PANTRIDGE DEFIBRILLATOR TYPE 280.

Semarang, Mengetahui

2011