Anda di halaman 1dari 14

FRAKTUR TERBUKA

I.

ANATOMI, HISTOLOGI, FISIOLOGI, DAN BIOKIMIA TULANG

Tulang berfungsi sebagai rangka penunjang dan pelindung tubuh, tempat melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh, membentuk sel darah, tempat cadangan kalsium dan fosfat (Price dan Willson, 2006). Tulang panjang (os longum) terdiri dari 3 bagian, yaitu epiphysis, diaphysis, dan metaphysis. Diaphysis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. Metaphysis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh trabekular atau sel spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoetik. Metaphysis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada epiphysis. Epiphysis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang. Seluruh tulang dilapisi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum (Budianto, 2004).

Tulang terdiri atas bahan antar sel dan sel tulang. Sel tulang ada 3, yaitu osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Sedang bahan antar sel terdiri dari bahan organik (serabut kolagen, dll) dan bahan anorganik (kalsium, fosfor, dll). Osteoblas berfungsi

untuk mensintesis matrix tulang. Osteosit adalah bentuk dewasa dari osteoblas yang berfungsi dalam recycling garam kalsium dan berpartisipasi dalam reparasi tulang. Osteoklas adalah sel makrofag yang aktivitasnya meresorpsi jaringan tulang. Jadi dalam tulang selalu terjadi perubahan dan pembaharuan (Carlos Junqueira, et all, 1998). Tulang dapat dibentuk dengan dua cara : melalui mineralisasi langsung pada matriks yang disintesis osteoblas (osifikasi intramembranosa) atau melalui penimbunan matiks tulang pada matriks tulang rawan sebelumnya( osifikasi endokondral) (Anonim, 2008).

II. DEFINISI FRAKTUR TERBUKA Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. Luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar menembus kulit (from within) atau dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (from without) (Chairudin Rasjad,2003). Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat (Chairudin Rasjad,2003).

III. KLASIFIKASI

Klasifikasi yang dianut adalah menurut Gustilo, Merkow dan Templeman (1990) (Chairudin Rasjad,2003). 1. Tipe I Luka kecil kurang dr 1cm panjangnya, biasanya karena luka tusukan dari fragmen tulang yang menembus kulit. Terdapat sedikit kerusakan jaringan dan tidak terdapat tanda2 trauma yang hebat pada jaringan lunak. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat simple, transversal, oblik pendek atau sedikit komunitif.

(www.zimbio.com)

2. Tipe II

Laserasi kulit melebihi 1cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau avulsi kulit. Terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit kontaminasi fraktur.

(www.zimbio.com) 3. Tipe III Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot, kulit dan struktur neurovaskuler dengan kontaminasi yang hebat. Tipe ini biasanya di sebabkan oleh karena trauma dengan kecepatan tinggi. Tipe 3 di bagi dalam 3 subtipe:

Tipe III a

Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat laserasi yang hebat ataupun adanya flap. fraktur bersifat segmental atau komunitif yang hebat

(www.zimbio.com) Tipe IIIb Fraktur di sertai dengan trauma yang hebat dengan kerusakan dan kehilangan jaringan, terdapat pendorongan periost, tulang terbuka, kontaminasi yang hebatserta fraktur komunitif yang hebat.

(www.zimbio.com)

Tipe III c Fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang memerlukan perbaikan tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan lunak.

(www.zimbio.com)

IV.

PRINSIP UMUM PENGOBATAN FRAKTUR

Ada enam prinsip umum pengobatan fraktur : 1. 2. 3. Jangan membuat keadaan lebih jelek Pengobatan berdasarkan diagnosis dan prognosis yang akurat Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus - Menghilangkan nyeri - Memperoleh posisi yang baik dari fragmen - Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang - Mengembalikan fungsi secara optimal 4. Mengingat hukum hukum penyembuhan secara alami

5. 6.

Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual

V.

PENANGGULANGAN FRAKTUR TERBUKA

Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur tebuka: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian. Berikan antibiotic dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi. Segera dilakukan debrideman dan irigasi yang baik Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya Stabilisasi fraktur. Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari Lakukan bone graft autogenous secepatnya Rehabilitasi anggota gerak yang terkena

(Chairudin Rasjad,2003). VI. 1. TAHAP -TAHAP PENGOBATAN FRAKTUR TERBUKA Pembersihan luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan nacl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. 2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen) Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fascia, otot dan fragmen2 yang lepas

3.

Pengobatan fraktur itu sendiri Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu fraksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna tulang. Fraktur grade ii dan iii sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.

4.

Penutupan kulit Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. Hal ini dilakukan apabila penutupan membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft serta pemasangan drainase isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan sehingga kulit menjadi tegang.

5.

Pemberian antibiotik Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan sesuadah tindakan operasi

6.

Pencegahan tetanus Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia)

(Chairudin Rasjad,2003).

VII. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

KOMPLIKASI FRAKTUR TERBUKA

Perdarahan, syok septik sampai kematian Septikemia, toksemia oleh karena infeksi piogenik Tetanus gangren Perdarahan sekunder osteomielitis kronis Delayed union nonunion dan malunion Kekakuan sendi komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama VIII. PERAWATAN LANJUT DAN REHABILITASI FRAKTUR Ada lima tujuan pengobatan fraktur 1. 2. 3. 4. Menghilangkan nyeri Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen fraktur Mengharapkan dan mengusahakan union Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan fungsi otot dan sendi, mencegah atrofi otot, adhesi dan kekakuan sendi, mencegah terjadinya komplikasi seperti dekubitus, trombosis vena, infeksi saluran kencing serta pembentukan batu ginjal. 5. Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir fraktur. Sejak awal penderita harus dituntun secara psikologis untuk membantu penyembuhan dan pemberian fisioterapi untuk memperkuat otot-otot serta gerakan sendi baik secara isometrik (latihan aktif statik) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur serta isotonik yaitu latihan aktif dinamik pada otot-otot tungkai dan punggung. Diperlukan pula terapi okupasi. (Chairudin Rasjad,2003).

IX. SKELETAL TRAKSI DAN EKSTERNAL FIKSASI PADA FRAKTUR TERBUKA A. Skeletal Traksi

Traksi pada tulang biasanya menggunakan kawat Kirschner (K-wire) atau batang dari Steinmann pins pada lokasi-lokasi tertentu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. proksimal tibia kondilus femur olekranon kalkaneus (jarang dilakukan karena komplikasinya) traksi pada tengkorak trokantot mayor bagian distal metakarpal.

B. Eksternal Fiksasi Pada eksternal fiksasi mempergunakan kanselosa srew dengan metilmetakrilat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan dengan jenis-jenis lain misalnya dengan menggunakan srew schanz.

10

11

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Buku Petunjuk Praktikum Histologi Blok Muskuloskeletal. Surakarta : Laboratorium Histologi FKUNS. Budianto, Anang. 2004. Guidance to Anatomy I. Surakarta : Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS. Carlos Junqueira, Jose Carniero, Robert Kelley. 1998. Histologi Dasar. Jakarta : EGC. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC. Prof. Chairudin Rasjad, MD., Ph.D. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit Bintang Lamumpatue. Makasar 2003. www.zimbio.com/member/bedahumum/articles/4964842/PENANGANAN+PAT AH+TULANG+TERBUKA+GRADE+1+2

12

FRAKTUR TERBUKA
(Clinical Scince Session)

Disusun Oleh : Agustya Dwi Ariani M. Taufik Perwira Mega Lestari Indah

13

14