Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga juga menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat. (Sururi, 2006). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Rinkesdas) 2010, di Indonesia tingkat prevalensi gizi kurang mencapai angka 17,9%. (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2011). Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil bertujuan untuk mengetahui status gizi ibu hamil. Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam pengukuran LILA adalah untuk menapis wanita yang berisiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) karena risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada masa kehamilan. (Tim Field Lab FK UNS). Pembelajaran Field Lab merupakan salah satu cara membekali mahasiswa, agar pada saatnya nanti mahasiswa telah siap berorientasi penuh pada masyarakat. Mahasiswa memperoleh berbagai tambahan ilmu dengan observasi langsung di lapangan, bukan hanya teoritis di dalam kuliah. Dengan mengikuti pembelajaran Field Lab, mahasiswa dapat membekali diri dengan dasar teori baik untuk pembelajaran formal dalam akademis maupun keterampilan pemantauan status gizi masyarakat yang nantinya akan sangat berguna pada saat terjun ke lapangan ditengah-tengah masyarakat. B. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu melakukan pemantauan status gizi balita dan ibu hamil di Puskesmas. 1. Mahasiswa mampu melakukan pemantauan status gizi balita (screening status gizi balita) a) Mampu melakukan pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB) atau panjang badan (PB), dan umur (U) balita. b) Mampu mengkategorikan hasil pengukuran BB, TB, atau PB dan U dalam status gizi balita menurut aturan WHO.

c) Mampu mengisi dan membaca Kartu Menuju Sehat Balita (KMS-Balita). d) Mampu melakukan tindakan berdasar keadaan balita pada KMS-Balita. 2. Mahasiswa mampu melakukan pemantauan status gizi ibu hamil: a) Mampu melakukan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada wanita usia subur, khususnya ibu hamil. b) Mampu mengkategorikan hasil pengukuran LILA sesuai Pedoman Penggunaan Alat Ukur LILA. c) Mampu menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh) pada ibu hamil dari penghitungan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB ). d) Mampu melakukan tindak lanjut atas hasil pengukuran LILA dan IMT terhadap ibu hamil.

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN Field Lab dilaksanakan pada tanggal 13 dan 20 November 2012 di Puskesmas Plupuh I, Sragen, yang sebelumnya diawali dengan kegiatan survei lapangan yang dilakukan pada tanggal 6 November 2012. Pada tanggal 13 November 2012 mahasiswa diberikan pembekalan kegiatan Field Lab oleh Kepala Puskesmas, evaluasi awal tentang hasil pembelajaran dari Buku Rencana Kerja (BRK) yang telah dibuat, serta diskusi kecil mengenai materi yang akan dipraktekan, dilanjutkan dengan observasi lapangan ke salah satu posyandu dipimpin oleh Instruktur. Pada tanggal 20 November 2012 mahasiswa melaksanakan kegiatan pengukuran dan konseling langsung di lapangan. Mahasiswa dibagi menjadi dua kelompok untuk ditugaskan di posyandu yang berbeda, dan kelompok kami mendapat tugas untuk melakukan kegiatan di Posyandu Lestari V, Desa Sendangrejo, Plupuh, Sragen. Kegiatan yang kami lakukan adalah sebagai berikut. A. Penimbangan Balita Dengan Menggunakan Dacin Persiapan Penimbangan: 1. Menggantung dacin pada tempat yang kokoh. 2. Mengatur posisi batang dacin sejajar dengan mata penimbang. 3. Memeriksa ketepatan dacin, dengan menggeser bandul geser tepat pada angka nol, jika jarum penunjuk tegak lurus, berarti tidak perlu diseimbangkan lagi. Jika jarum belum tegak lurus, maka dapat diseimbangkan dengan penambahan batu kecil dalam plastik yang digantung di ujung batang dacin. Pelaksanaan Penimbangan: 1. Memastikan bandul geser berada tepat pada angka nol, agar batang dacin tidak mengenai penimbang maupun orang lain. 2. Menanyakan hasil pengukuran BB sebelumnya, sebagai patokan agar penimbangan dapat berlangsung lebih cepat. 3. Memasukkan balita kedalam kantung timbang. 4. Mengatur bandul geser pada angka penimbangan sebelumnya, lalu kemudian disesuaikan sedikit hingga jarum penunjuk saling tegak lurus (telah seimbang).

5. Membaca hasil penimbangan dengan melihat angka yang tertera di ujung bandul geser. 6. Mencatat hasil penimbangan. 7. Mengembalikan bandul geser pada angka nol. 8. Mengeluarkan balita dari kantung timbang.

B.

Pengukuran Panjang atau Tinggi Balita Balita berumur 2 tahun ke atas , atau sudah dapat berdiri tegak sendiri diukur tinggi

badannya dengan menggunakan microtoise, sedangkan umur 2 tahun ke bawah menggunakan papan pengukur. Dengan Papan Pengukur Persiapan Alat: 1. Meletakkan papan pada permukaan yang datar (misalnya meja). 2. Membuka kunci pengait papan pengukur hingga papan terbuka seluruhnya. 3. Memastikan meteran menunjuk angka nol. Pelaksanaan Pengukuran: 1. Balita yang akan diukur harus terbebas dari topi, atau alas kaki yang dapat berpengaruh dalam pengukuran panjang atau tinggi badan. 2. Meletakkan balita pada papan pengukur, kepala balita menempel rapat pada bagian papan pengukur yang statis (tidak bergerak). 3. Menarik kepala meteran hingga menempel rapat pada telapak kaki balita yang tegak lurus dengan bidang horizontal. 4. Membaca angka yang tertera pada kepala meteran, dan mencatat hasil pengukuran. 5. Mengembalikan kepala meteran ke tempat semula dan mengeluarkan balita dari papan pengukur.

Dengan Microtoise Persiapan Alat: 1. Meletakkan microtoise di lantai dan menempel pada dinding.

2. Menarik pita meteran hingga angka nol. 3. Menempel ujung pita/meteran pada dinding. 4. Menarik kepala microtoise ke atas sampai paku. Pelaksanaan Pengukuran: 1. Memposisikan balita tegak lurus membelakangi dinding. 2. Kepala balita dibawah alat geser. 3. Balita tegak bebas, bagian belakang kepala, tulang belikat, pantat, dan tumit menempel di dinding. 4. Memposisikan kedua lutut dan tumit rapat. 5. Menarik kepala microtoise sampai puncak kepala balita. 6. Membaca angka pada jendela baca dan mata pembaca harus sejajar dengan garis merah. 7. Angka yang dibaca adalah yang berada pada garis merah dari angka kecil ke angka besar. 8. Mencatat hasil pengukuran pada kartu status. Catatan : Apabila balita yang seharusnya diukur dengan microtoise namun pada pengukurannya dilakukan dengan papan pengukur, hasil pengukuran dikurangi 0,7 cm. Sebaliknya, jika balita yang seharusnya diukur dengan papan pengukur namun diukur menggunakan microtoise, hasil pengukuran ditambah 0,7 cm. C. Prosedur Penentuan Umur Balita 1. Menentukan tanggal, bulan, dan hari penimbangan dikurangi dengan tanggal, bulan, dan waktu lahir. 2. Kelebihan atau kekurangan hari sebanyak 16 sampai dengan 30 hari dibulatkan menjadi 1 bulan. 3. Kelebihan atau kekurangan hari sebanyak 1 sampai dengan 15 hari dibulatkan menjadi 0 bulan.

D.

Prosedur Pengkategorian Status Gizi Menurut WHO-NCHS 1. 2. Menggunakan hasil pengukuran BB dan U, PB/TB dan U, atau BB dan PB/TB. Melihat tabel baku rujukan status gizi.

E.

Mengisi dan Membaca KMS Balita Datang Pertama Kali:

1. Mengisi nama anak dan nomor pendaftaran. 2. Mengisi kolom identitas yang tersedia pada halaman dalam KMS balita: Kolom posyandu diisi nama Posyandu tempat anak didaftar. Kolom tanggal pendaftaran diisi tanggal anak didaftar pertama kali. Kolom nama anak diisi nama jelas anak. Kolom jenis kelamin diisi tanda ceklis (V) yang sesuai. Kolom anak yang ke diisi nomor urut kelahiran anak dalam keluarga (termasuk anak yang meninggal). Kolom tanggal lahir diisi bulan dan tahun lahir anak. Kolom berat badan lahir diisi angka penimbangan berat badan anak saat dilahirkan dalam satuan gram berat badan lahir. Kolom nama ayah dan nama ibu beserta pekerjaannya diisi sesuai nama dan pekerjaan ayah dan ibu anak tersebut. Kolom alamat diisi alamat anak menetap.

3. Mengisi kolom bulan lahir. 4. Meletakkan titik berat badan pada grafik KMS balita. 5. Mencatat keadaan kesehatan, makanan dan keadaan lainnya. 6. Mengisi kolom pemberian imunisasi. 7. Mengisi kolom pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi. 8. Mengisi kolom periode pemberian ASI Ekslusif. Balita Datang Kedua Kali dan Seterusnya: 1. Jika ibu tidak membawa KMS, maka harus menanyakan hasil penimbangan 2 bulan sebelumnya agar dapat ditentukan status pertumbuhannya. 2. Melakukan langkah 4, kemudian menghubungkan titik berat badan bulan ini dengan bulan lalu dalam bentuk garis lurus. 3. Melakukan langkah 5. Mencatat semua kejadian yang dialami anak pada garis tegak sesuai bulan yang bersangkutan. Apabila anak mendapat imunisasi melakukan langkah keenam. 4. Apabila anak ditimbang pada bulan kapsul vitamin A (Februari dan Agustus) dan diberi kapsul vitamin A, melakukan langkah 7. 5. Apabila umur bayi masih dibawah 6 bulan, melakukan langkah 8.

F.

Melakukan Tindakan Berdasarkan Catatan Dalam KMS 1. Bila garis pertumbuhan naik Diberikan pujian serta nasihat agar ibu meneruskan cara pemberian makanan kepada anaknya, namun dianjurkan agar makan lebih banyak lagi agar anak dapat terus tumbuh dan diupayakan berat badannya naik lagi pada bulan yang berikutnya. 2. Bila garis pertumbuhan tidak naik Ditanyakan riwayat kesehatan anak. Kemudian diberikan nasihat untuk menambah asupan makanan. Berat badan balita di bawah garis merah atau tiga bulan berturutturut tidak naik artinya terjadi gangguan pertumbuhan, sehingga harus dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Apabila kekurangan berat badan yang berat atau gizi buruk, dapat diberikan terlebih dulu air gula 50 ml. Apabila ditemukan ada penyakit komplikasi, segera dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit.

G.

Prosedur Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA): 1. Mempersiapkan alat pengukur, yaitu pita pengukur lingkar lengan atas. 2. Memperkenalkan diri dan menerangkan prosedur pengukuran serta manfaatnya. 3. Memilih lengan yang akan diukur, yaitu yang jarang dipakai bekerja (lengan kiri, jika kidal yang diukur lengan kanan). 4. Membebaskan lengan ibu hamil dari pakaian. 5. Mengukur panjang lengan, dengan titik pengukuran dari pangkal (acromion) hinggga siku (olecranon). Lengan ibu membentuk sudut 90. 6. Merelaksasikan lengan ibu hamil. 7. Mengukur lingkar lengan atas pada titik tengah panjang dengan pita pengukur LILA. 8. Membaca hasil pengukuran LILA. Kriteria : Hasil pengukuran kurang dari 23,5 cm (< 23,5 cm) berarti Kekurangan Energi Kronis (KEK), lebih dari 23,5 cm berarti tidak ada KEK. Ibu hamil KEK beresiko melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

H.

Prosedur Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) Ibu Hamil 1. Mengukur berat badan (dengan timbangan injak) dan tinggi badan (dengan microtoise) pada ibu hamil. 2. Menghitung IMT dengan rumus IMT = Berat badan (kg) Tinggi badan (m) 2 Kriteria IMT ibu hamil:

Kurang dari 19,8 19,8 26,0 26,0 29 Lebih dari 29

= berat kurang atau rendah = normal = berat lebih atau tinggi = obesitas

BAB III HASIL

A. Data Pemantauan Status Gizi Balita Berikut data pengukuran dan pemantauan gizi pada beberapa balita di Posyandu Lestari V, Desa Sendangrejo, Plupuh, Sragen. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Rizki Isna Dwi Nalita Brian Farida Nur Arifin Cahya Reihan Ihsan Evelin Karen Alfianto Shinta Ananda Naila Nama 14,5 6,1 8,3 7,9 12 11,3 12,5 11,8 8,3 13,3 4,4 7,7 BB (kg) PB/TB (cm) 98,1 71,2 73 70 82,5 83,4 85,5 88,5 83,8 76 81,5 84,6 Umur (bulan) 39 10 7 8 28 35 28 24 48 13

B. Data Pemantauan Ibu Hamil Berikut data pemantauan ibu Hamil di Posyandu Lestari V, Plupuh, Sragen.

Ny. Nurhayati BB TB : 70 kg : 167,1 cm

IMT = 70/(1,671)2 = 25,06948

Kami tidak melakukan pengukuran LILA karena keterbatasan alat (tidak ada medline untuk mengukur).

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam melakukan pengukuran pada balita, baik TB, PB atau BB pengukur harus mempunyai keterampilan tertentu. Misalnya, untuk membuat balita tenang sehingga tidak menangis. Pengukuran mempunyai hasil tidak akurat apabila misalnya, balita menangis saat ditimbang, sehingga penimbang mengalami kesulitan. Karena itu, pengukuran sebisa mungkin dilaksanakan dengan cepat. Begitu pula saat pengukuran TB atau PB. Pada saat pengukuran, kebetulan Ilham sedang mengalami diare, sehingga mungkin Ilham merasa tidak sehat dan nyaman sehingga menangis. Selama pembelajaran Field Lab, mahasiswa diberikan materi tambahan dalam merepresentasikan pertumbuhan balita pada KMS. Status pertumbuhan dikategorikan sebagai berikut: N1 (kejar) : BB naik, ke pita warna diatasnya N2 (normal) : BB naik, dalam pita warna yang sama T1 (kurang sesuai) : BB naik, ke pita warna di bawahnya T2 (datar) : BB tetap, pita warna yang sama atau dibawahnya. T3 (turun) : BB turun, ke pita warna yang dibawahnya. Penentuan status gizi balita di Indonesia berdasarkan BB dan U seperti yang ditentukan dalam KMS sebenarnya kurang ideal, karena rata-rata masyarakat Indonesia dimensi tubuhnya lebih kecil jika dibandingkan dengan masyarakat barat walaupun usianya sama. Pengukuran status gizi yang ideal sebaiknya menggunakan indikator BB dan TB (berdasarkan tabel rujukan penilaian status gizi) yang telah ditentukan oleh Departemen Kesehatan RI, karena jika diukur berdasarkan BB dan U (standar WHO-NCHS), maka pada umumnya masyarakat akan masuk dalam kategori gizi buruk atau kurang. Dari data yang kami dapat, secara keseluruhan balita yang diukur di Posyandu Lestari masuk dalam kategori normal berdasarkan tabel rujukan baik dari Departemen Kesehatan maupun WHO-NHCS dengan kisaran standar deviasi antara -2 SD sampai +2 SD, walaupun ada beberapa balita yang masuk dalam kategori kurang (< -2 SD), namun hanya terpaut sedikit dengan angka normal. Pada ibu hamil, yang dalam hal ini hanya Ny. Nurhayati, apabila dianalisis berdasarkan IMT, Ny. Nurhayati termasuk dalam kategori status gizi yang normal, yakni 25,06948.

Namun, kami tidak dapat menghitung LILA Ny. Nurhayati, sehingga kami belum bisa menentukan secara pasti apakah Ny. Nurhayati ada KEK atau tidak.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dalam pelaksanaan Field Lab dengan topik Pemantauan Status Gizi Balita dan Ibu Hamil di Puskesmas Plupuh I, Sragen, berjalan dengan lancar dan edukatif. Mahasiswa dapat mencapai kompetensi dalam tujuan pembelajaran. Di lapangan, mahasiswa menemui beberapa masalah yang merupakan suatu realita dalam masyarakat yang belum pernah didapatkan di dalam kelas, sehingga mahasiswa telah memiliki sedikit pengalaman sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat di masa yang akan datang.

B. Saran Saat pelaksanaan Field Lab di lapangan, seharusnya kami bisa bertukar tugas agar dapat melakukan keseluruhan pengukuran, tapi ada beberapa mahasiswa yang tidak bertukar sehingga hanya melakukan beberapa pengukuran saja.

DAFTAR PUSTAKA

Direktoran

Bina

Gizi

dan

KIA

(2011).

Hari

Gizi

Nasional

2011.

http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/593/img_5933 . Diakses November 2012. Tim Field Lab FK UNS (2012). Manual Field Lab, Keterampilan Pemantauan Status Gizi Balita dan Ibu Hamil. Surakarta: Field Lab FK UNS.