Anda di halaman 1dari 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

1 Bahan Bakar Biodiesel Turunan Minyak Kacang Tanah Kacang tanah masuk dalam keluarga kacang-kacangan serta termasuk herba dan sebagian besar produknya digunakan untuk makanan baik sebagai minyak maupun mentega, karena itu kacang tanah penghasil minyak lemak yang dapat di makan (edible oil). Kandungan minyak kacang tanah tergolong tinggi yaitu berkisar (35- 55)% . Dan perintis minyak kacang tanah untuk bahan bakar mesin diesel adalah Rudolf Christian Karl Diesel pada tahun 1910, saat pekan raya dunia di Paris. Kacang tanah sangat subur tumbuh di Indonesia dalam waktu 100 150 hari dapat di panen, dapat menghasilkan berkisar (2000- 2500) kg/hektar.( Prihandana, R. ,2008 ) 2.2 Biodiesel Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, turunan tumbuh-tumbuhan yang banyak tumbuh di Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar, nyamplung, kapok, kacang tanah dan masih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang dapat meproduksi bahan minyak nabati (BBN) dan dalam penelitian ini bahan bakar nabati berasal dari minyak kacang tanah setelah mengalami beberapa proses seperti ektraksi, transesterifikasi diperoleh metil ester (biodiesel), kemudian biodiesel dicampur dengan bahan bakar solar. Hasil campuran itu disebut B10,B20 dengan tujuan agar bahan bakar B10, B20 ini mempunyai sifatsifat fisis mendekati sifat-sifat fisis solar sehingga B10 B20 dapat dipergunakan sebagai pengganti solar. Teknologi biodiesel memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut : 1. Menguatkan (security of supply) bahan bakar diesel yang independet dalam negeri 2. Mengurangi impor BBM atau Automatic Diesel Oil 3. Meningkatkan kesempatan kerja orang indonesia di dalam negeri 4. Meningkatkan kemampuan teknologi pertanian dan industri di dalam negeri 5. Memperbesar basis sumber daya bahan bakar minyak nabati (BBN)

Universitas Sumatera Utara

6. Meningkatkan pendapatan petani kacang tanah 7. Mengurangi pemanasan global dan pencemaran udara,karena biodiesel ramah lingkungan. ( Prakoso, T., 2008 ) 2.3 Karakteristik Biodiesel Di Indonesia bahan bakar biodiesel mempunyai standar SNI Biodisel seperti Tabel 2.1. Tabel.2.1. Karakteristik Biodiesels SNI -04-7182-2006 No Parameter dan satuannya Batas Nilai 850--890 2,3-6,0 Min. 51 Min.100 Max.18 Max.18 Max.3 Max.0,05 ASTM D 4530 Max.0,03 Maks.0,05 Maks.360 Maks 0,02 Maks.100 Maks.10 Maks.0,8 Maks.0,02 Maks.0,24 Min.96,5 Maks.115 negatif ASTM D 2709 ASTM D 1160 ASTM D 874 ASTM D 5453 ISO 10370 Metode Uji ASTM D 1298 ASTM D 445 ASTM D 613 ASTM D 93 ASTM D 2500 ASTM D97 ASTM D 130 Metode setara ISO 3675 ISO 3104 ISO 5165 ISO 2710

1 Densitas pada 40C, Kg/m3 2 Viskositas kinematik pada 40mm2/s (cSt) 3 Angka Setana 4 Titik nyala (flash point) pada 0 5 Titik kabut (Cloud Point) 6 Titik Tuang (Pour Point) 7 Korosi bilah tembaga (3 jam,500C) 8 Residu karbon,%-berat, Dalam contoh asli Dalam 10% ampas Distilasi 9 Air dan sediman,%-volume 10 Temperatur distilasi 90%, 0 C 11 Abu tersulfatkan,%-berat 12 Belerang,ppm-b (mg/kg 13 14 15 16 17 18 19 Fosfor,ppm-b (mg/kg) Angka asam,mg-KOH/gr Gliserol bebas,%-berat Gliserol total,%-berat Kadar ester alkil,%-berat Bilangan iodine,g-I2/100g Uji Halphen

ISO 2160

ISO 3987 Pren ISO 20884 AOCS Ca 12-55 FBI-A05-03 AOCS Cd 3-63 FBI-A01-03 AOCSCa 14-56 FBI-A02-03 AOCS Ca14-56 FBI-A02-03 Dihitung *) FBI-AO3-03 AOCS Cd1-25 FBI-AO4-03 AOCS Cb 1-25 FBI-AO6-03 (Wahyuni, A. I.,2008)

Universitas Sumatera Utara

Untuk mengetahui dan mengenal biodiesel ini akan menganalisa beberapa sifat-sifat fisisnya yang dapat dipergunakan sebagai tolak ukur kualitas bahan bakar biodiesel. Beberapa sifat-sifat fisis yang diteliti adalah viskositas, densitas, titik nyala (flash point), titik kabut (cloud point), kadar air dan bilangan iodine 2.3.1 Viskositas (Viscosity) Viskositas merupakan sifat intrinsik fluida yang menunjukkan resistensi fluida terhadap alirannya,karena gesekan di dalam bagian cairan yang berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain mempengaruhi pengatoman bahan bakar dengan injeksi kepada ruang pembakaran,akibatnya terbentuk pengendapan pada mesin. Viskositas yang tinggi atau fluida masih lebih kental akan mengakibatkan kecepatan aliran akan lebih lambat sehingga proses derajat atomisasi bahan bakar akan terlambat pada ruang bakar. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan proses kimia yaitu transesterifikasi untuk menurunkan nilai viskositas minyak nabati itu sampai mendekati viskositas solar. Pada umumnya viskositas minyak nabati jauh lebih tinggi dibandingkan viskositas solar, sehingga biodiesel turunan minyak nabati masih mempunyai hambatan untuk dijadikan sebagai bahan bakar pengganti solar. Viskositas suatu fluida (cairan) dapat diukur dengan Viskometer Ostwald dan pengukuran ini merupakan viskositas kinematik ( Indantono, Y. S.,2006) Persamaan untuk menentukan viskositas kinematik : =K x t dimana = viskositas kinematik (centi stokes/ cSt) K = konstanta viscometer Ostwald t = waktu mengalir fluida didalam pipa viscometer (dt) 2.3.2 Densitas (Density) Densitas menunjukkan perbandingan massa persatuan volume karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh masin diesel persatuan volume bahan bakar. Massa jenis bahan bakar diesel diukur dengan menggunakan (2.1)

Universitas Sumatera Utara

metode ASTM D 287 atau ASTM DI 298 dan mempunyai satuan kilogram/meter kubik (kg/m3). Kerapatan suatu fluida dapat didefinisikan sebagai massa per satuan volume, yaitu: = dengan

m v

(2.2)

rapat massa (kg/m3) m = massa (kg) v = volume (m3)

2.3.3

Tititk Nyala (Flash Point) Titik nyala adalah titik temperatur terrendah dimana bahan bakar dapat

menyala ketika bereaksi dengan udara. Bila nyala terus terjadi secara menerus maka suhu tersebut diinamakan titik bakar (fire point). Titik nyala yang terlampau tinggi dapat menyebabkan keterlambatan penyalaan sementara apabila titik nyala terlampau rendah akan menyebabkan timbulnya denotasi yaitu ledakan kecil yang terjadi sebelum bahan bakar masuk ruang bakar. Hal ini juga dapat meningkatkan resiko bahaya saat penyimpanan. Semakin tinggi titik nyala dari suatu bahan bakar semakin aman penanganan dan penyimpanannya.(Widyastuti, L.,2007) 2.3.4 Titik Kabut (Cloud Point) Titik kabut adalah temperatur pada saat bahan bakar mulai tampak beerawan (cloudy), hal ini timbul karena munculnya kristal-kristral (padatan) di dalam bahan bakar.Walaupun bahan bakar masih bisa mengalir pada titik ini keberadaan kristal di dalam bahan bakar dapat mempengaruhi kelancaran aliran bahan bakar di dalam filter, pompa, dan injector. Sedangkan titik tuang (pour point) adalah temperatur terendah yang masih memungkinkan terjadinya aliran bahan bakar di bawah pour point bahan bakar tidak lagi bisa mengalir karena terbentuknya Kristal yang menyumbat aliran bahan bakar dan pada cloud point terjadi pada temperatur yang lebih tinggi dibandingkan dengan

pour point.

Universitas Sumatera Utara

Pada umumnya permasalahan pada aliran bahan bakar terjadi pada temperatur diantara cloud point dan pour point pada saat keberadaan kristal mulai menggangu proses filtrasi bahan bakar. Oleh karena itu digunakan metode pengukuran yang lain untuk mengukur performansi bahan bakar pada temperatur rendah yakni Cold Filter

Plugging Point (CFPP) dan Low Temperatur Flow Test (LTFT) dengan standart
ASTM D 4539. Pada umumnya pour dan cloud point biodiesel lebih tinggi

dibandingkan dengan solar. Untuk mengatasi hal itu dapat dipergunakan pencampuran biodiesel dengan solar,atau menambahkan adatif tertentu pada biodiesel,untuk mencegah terjadinya kristal- kristal yang terbentuk pada biodiesel( Indartono, Y. S.,2006) 2.3.5 Kadar Air ( Water Contain) Pada negara yang mempunyai musim dingin kandungan air yang terkandung dalam bahan bakar dapat membentuk kristal yang dapat menyumbat aliran bahan bakar. Selain itu keberadaan air dapat menyebabkan korosi dan pertumbuhan mikro organisme yang juga dapat menyumbat aliran bahan bakar. Sedimen dapat

menyebabkan penyumbatan juga dan kerusakan mesin (Indantono, Y. S.,2006) 2.3.6 Bilangan Iodine ( Number iodine) Angka iodine pada biodiesel menunjukkan tingkat ketidakjenuhan senyawa penyusun biodiesel, padahal disisi lain keberadaan senyawa tak jenuh meningkatkan performansi biodiesel pada temperatur rendah karena senyawa ini memiliki titik leleh (melting point) yang lebih rendah sehingga berkorelasi pada cloud dan pour point yang juga rendah. Namun di sisi lain banyak senyawa lemak tak jenuh di dalam biodiesel memudahkan senyawa itu bereaksi dengan oksigen di atmosfer dan bisa terpolimerisasi membentuk material serupa plastik. Oleh karena itu terdapat batasan maksimal harga iodine yang diperbolehkan untuk biodiesel yaitu 115 berdasarkan standard SNI Biodiesel.

Universitas Sumatera Utara

Pengaruh naiknya ketidakjenuhan metil ester dapat menyebabkan gas CO2 bertambah besarnya derajat ketidakjenuhan berhubungan dengan bilangan iod. Semakin panjang rantai karbon semakin rendah emisi gas buang CO2 dan semakin tinggi bilangan iodine semakin rendah emisi gas buang CO2 yang dihasilkan.( Indantono, Y. S.,2006) 2.4 Proses Pembuatan Biodiesel Biodiesel dapat diperoleh dari minyak turunan kacang tanah dimana biji kacang tanah dihaluskan lalu dipanaskan melalui ekstraksi (soxhleat apparatus) sehingga nhexan mengikat minyak kacang tanah. Demikian untuk sampel selanjutnya sesuai dengan kebutuhan biodiesel yang diinginkan. Setelah diperoleh minyak kacang tanah + n-hexan, lalu dirotavapor agar n-hexan dapat dipisahkan dari minyak kacang tanah itu. Selanjutnya minyak kacang tanah ini ditransesterifikasi, dengan pelarut metanol, katalis KOH dan kosolven eter seperti diagram alir ini. Blok diagaram proses pembuatan biodiesel sebagai berikut : Metil Ester Kacang tanah Ekstraksi
Rotavapor
Transesterifikasi

Gliserol Proses Transesterifkasi


O CH2 O C- R1 O CH O - C - R2 + CH3OH O CH O - C - R3 Eter Trigliserida + Metanol KOH Campuran Metil Ester + Gliserol Katalist KOH Kosolven Eter O CH3 O C R1 O CH3 O- C R2 O CH3 - O C R3 + CH2-OH CH2 - OH CH2 - OH

Universitas Sumatera Utara

Dimana R1,R2,R3 merupakan hidrokarbon rantai panjang dari asam lemak jenuh dan tak jenuh.( Hamid, T.,2003) Tabel 2.2. Struktur Kimia Asam Lemak Nama Asam Lemak
Kaprilat Kaprat Laurat Miristat Palmitat Palmitoleat Stearat Oleat Linoleat Linolenat Arachidat

Jumlah Atom Karbon dan Ikatan Rangkap


C8 C10 C12 C14 C16.0 C16.1 C18.0 C18.1 C18.2 C18.3 C20.0

Rumus Kimia

CH3(CH2)6 COOH CH3(CH2)8COOH CH3(CH2)10COOH CH3(CH2)12COOH CH3(CH2)14COOH CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7COOH CH3(CH2)16COOH CH3(CH2)7=CH(CH2)7COOH CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7COOH CH3(CH2)2CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CH(CH2)7COOH CH3(CH2)18COOH

( Naibaho, K., 2009) Transesterifikasi (disebut alkoholisis) adalah pertukaran antara alkohol dengan suatu ester untuk membentuk ester lain pada suatu proses yang mirip dengan hidrolisis,kecuali pada penggunaan alkohol untuk menggantikan air. Proses ini telah digunakan secara luas untuk mengurangi viskositas trigliserida. Alkoholisis adalah reaksi reversible yang terjadi pada temperatur ruang dan berjalan dengan lambat tanpa dibantu dengan katalis. Untuk mendorong reaksi kearah kanan dapat dilakukan dengan menggunakan alkohol berlebih (Widyastuti, L.,2007). Reaksi antara minyak (trigliserida) dengan alkohol disebut transesterifikasi .

Alkohol direaksikan dengan ester untuk menghsilkan ester baru sehingga terjadi pemecahan senyawa trigliserida untuk mengadakan migrasi gugus alkil antar ester dan ester baru yang dihasilkan adalah metil ester (biodiesel). (Darnoko, 2000)

Universitas Sumatera Utara

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan transesterifikasi : 1. Suhu Kecepatan reaksi secara kuat dipengaruhi oleh temperatur reaksi pada ummnya reaksi ini dapat dijalankan pada suhu mendekati titik didih metanol (65oC) pada tekanan atmosfer. Kecepatan reksi akan meningkat sejalan dengan kenaikan temperatur semakin tinggi temperatur berarti semakin banyak yang dapat digunakan oleh reaktan untuk mencapai energi aktivasi. Arhenius mengatakan bahwa hubungan antara konstanta kecepatan reaksi dengan temperatur mengikuti persamaan sebagai berikut: K=A Keterangan K = konstanta kecepatan reaksi R = konstanta gas A = factor frekuensi T = suhu absolute E = energi aktivasi 2. Waktu reaksi Semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak produk yang dihasilkan karena ini akan memberikan kesempatan rektan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun setelah kesetimbangan tercapai tambahan waktu reaksi tidak akan mempengaruhi reaksi. Penelitian yang menggunakan lama reaksi 3 jam (Azis., 2005 ) 3. Katalis Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi reaksi namun tidak menggeser letak kesetimbangan. Tanpa katalis rekasi transesterifikasi baru dapat berjalan pada suhu sekitar 250C. Penambahan katalis bertujuan untuk mempercepat reaksi dan menurunkan kondisi operasi. Katalis yang dapat digunakan adalah katalis asam, katalis basa ataupu penukar ion. Dengan katalis basa reaksi dapat berjalan pada suhu kamar sedangkan katalis (2.3)

Universitas Sumatera Utara

asam pada umumnya memerlukan suhu reaksi diatas 100. Katalis yang digunakan dapat berupa katalis homogen maupun hetrogen. katalis homogen adalah katalis yang mempunyai fase yang sama dengan reaktan dan produk sedangkan katalis hetrogen adalah katalis yang fasenya berbeda dengan reaktan dan produk. Katalis homogen yang banyak digunakan adalah alkoksida logam, seperti KOH dan NaOH dalam alkohol, selain itu dapat juga digunakan katalis asam cair misalnya asma sulfat, asam klorida dan asam sulfonat. Penggunaan katalis homogen mempunyai kelemahan, yaitu bersifat korosif, sulit dipisahkan dari produk dan katalis tidak dapat digunakan kembali. Saat ini banyak industri menggunakan katalis hetrogen yang mempunyai banyak keuntungan dan sifatnya yang ramah lingkungan yaitu tidak bersifat korosif, mudah dipisahkan dari produk dengan cara berulang kalidalam jangka waktu yang lama. Katalis basa (KOH, NaOH) lebih efisien dibanding dengan katalis asam pada reaksi tansesterifikasi. Transmetillasi terjadi kira-kiara 4000 kali lebih cepat dibandingkan dengan katalis asam dengan jumlah yang sama. Konsentrasi katalis basa divariasikan antara (0,5 1,5)% dari massa minyak. (Widyastuti, L., 2007) 4. Pengadukan Pada reaksi transesterifikasi reaktan-reaktan awalnya membentuk sistim cairan dua fasa. Reaksi dikendalikan oleh difusi diantara diantara fase-fase yang berlangsung lambat. Seiring dengan terbentuknya metil ester ia bertindak sebagai pelarut tunggal yang dipakai bersama oleh reaktan-reaktan dan sistim dengan fase tunggalpun terbentuk. Dampak pengadukan ini sangat signifikan selama reaksi. Setelah sistim tunggal terbentuk maka pengudukan menjadi tidak lagi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap reaksi. Pengadukan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan campuran reaksi yang bagus. Pengadukan yang tepat akan mengurangi hambatan antar massa. Pengadukan transesterifikasi 1500 rpm (Purwono, S., 2003). filtrasi serta dapat digunakan

Universitas Sumatera Utara

5. Perbandingan Reaktan Variabel penting lain yang mempengaruhi hasil ester adalah rasio molar antara alkohol dan minyak nabati. Stoikiometri reaksi transesterifikasi memerlukan 1 mol minyak trigliserida memerlukan 6 mol metanol menggunakan rasio molar alkohol-minyak = 1 : 6. Terlalu banyak alkohol yang dipakai

menyebabkan biodiesel mempnyai viskositas yang rendah dibandingkan viskositas solar juga akan menurunkan titik nyala (flas point). Hal ini disebabkan karena pengaruh sifat-sifat alkohol yang mudah terbakar. Perbandingan alkohol minyak = 1 : 2,2 (etanol : minyak). ( Kusmiyati, 1995) 2.5 Bahan Bakar Diesel (Solar) Bahan bakar solar tersusun atas ratusan rantai hidrokarbon yang berbeda, yaitu pada rentang 12 sampai 18 rantai karbon. Hidrokarbon yang terdapat dalam minyak solar meliputi paraffin, naftalena, olefin dan aromatic (mengandung 24% aromatic berupa benzene, toluene, xilena dan lain-lain), dimana temperatur penyalaannya akan menjadi lebih tinggi dengan adanya hidrokarbon volatile yang lebih banyak.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3. Karakteristik Solar NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Karakteristik UNIT Batasan Metode Uji ASTM/lain ASTM IP D-613 D4737 D-1298 / D-4737 D-445 D-1552 D-86 D-93 D-97 D-4530 D-1744

MIN MAX Angka Setana 45 Indeks Stana 48 Kg/m3 815 870 Berat Jenis pada 15 0 C Viskositas pada 40 0 C Mm2/sec 2.0 5.0 Kandungan Sulfur % m/m 0.35 Distilasi : T95 C 370 Titik Nyala C 60 o Titik Tuang C 18 Karbon Residu merit Kelas I Kandungan Air Mg/kg 500 Biological Grouth Nihil Kandungan FAME % v/v 10 Kandungan Metanol & % v/v Tak Terdeteksi Etanol Korosi bilah tembaga Merit Kelas I Kandungan Abu % m/m 0.01 Kandungan Sedimen % m/m 0.01 Bilangan Asam Kuat mgKOH/gr 0 Bilangan Asam Total mgKOH/gr 0.6 Partikulat Mg/l Penampilan Visual Jernih dan terang Warna No.ASTM 3.0

D-4815 D-130 D-482 D-473 D-664 D-664 D-2276 D-1500 (Wahyuni, A. I.,2008)

2.6

Pemakaian Biodiesel Sebagai Bahan Bakar Diesel Dari hasil penelitian penelitian yang telah dilakukan untuk mempelajari

berbagai efek pamakaian minyak nabati sebagai bahan bakar motor diesel baik secara murni biodiesel 100 (B100) maupun campuran biodiesel dengan solar seperti B10, B20 dan seterusnya menunjukkan bahwa kinerja motor diesel yang memakai biodiesel sebagai bahan bakar adalah mendekati dengan dengan kinerja motor diesel Jadi sifat-sifat fisis biodiesel masih mendekati sifat-sifat fisis bahan bakar solar. Agar biodiesel dapat dipergunakan sebagai pengganti bahan bakar diesel maka sifat-sifat fisis biodiesel harus sama dengan sifat-sifat fisis solar.

Universitas Sumatera Utara

Jika sifat-sifat fisis biodiesel belum sama dengan sifat-sifat fisis solar akan menyebabkan derajat atomisasi minyak biodiesel pada sistim injeksi akan kurang baik dari pada bahan bakar solar.(Wibowo, C. S., 2008) Untuk mendapatkan kinerja yang optimum pada sistim injeksi motor diesel ada 3 pilihan yang dapat dilakuklan,yaitu : 1. Modifikasi sifat-sifat fisika-kimia minyak nabati,agar sesuai dengan sifat-sifat fisika-kimia bahan bakar diesel. 2. Modifikasi peratan injeksi untuk mendapatkan atomisasi yang memuaskan pada ruang bakar mesin. 3. Kombinasi dari kedua modifikasi diatas Dan yang dilakukan sekarang oleh peneliti-peneliti ilmiah adalah modifikasi sifatsifat fisika-kimia minyak nabati sebagai berikut : 1. Menggunakan campuran minyak nabati dengan bahar bakar diesel fosil (solar) 2. Mengubah komposisi kimiawinya melalui suatu proses sederhana seperti proses transesterifikasi Pada penelitian ini dipergunakan campuran biodiesel turunan kacang tanah dengan bahan bakar solar dapat disebut B10 dan B20. 2.7 2.7.1 Emisi Gas Buang Bahan Pencemar (Polutan) Bahan pencemar (polutan) yang berasal dari gas buang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagai berikut : 1. Sumber Polutan dibedakan menjadi polutan primer atau sekunder. Polutan primer seperti nitrogen oksida (NOx) dan karbon-karbon (HC) langsung dibuang ke udara bebas dan mempertahankan bentuknya seperti pada saat pembuangan. Polutan sekunder seperti ozon (O3) dan peroksiasetil nitrat (PAN) adalah polutan yang terbentuk di atmosfer melalui reaksi fotokimia atau oksidasi.

Universitas Sumatera Utara

2. Komposisi Kimia Polutan dibedakan menjadi organik dan inorganik. Polutan organik

mengandung karbon dan hydrogen,juga beberapa elemen seperti oksigen, nitrogen, sulfur atau fosfor. Contohnya hidrokarbon, alkohol, ester dan lainlain.Polutan inorganik seperti karbon monoksida (CO), karbonat, nitrogen oksida, ozon dan lain-lain. 3. Bahan penyusun Polutan dibedakan menjadi partikulat atau gas. Partikulat dibagi menjadi padatan, dan cairan seperti debu, asap, abu, kabut dan spray. Partikulat dapat bertahan di atmosfer sedangkan polutan berupa gas tidak bertahan di atmosfer dan bercampur dengan udara bebas. a. Partikulat Polutan patikulat yang berasal dari kendaraan bermotor umumnya merupakan fasa padat yang terdispersi dalam udara dan magnetik asap.Fasa padatan tersebut berasal dari pembakaran tak sempurna bahan bakar dengan udara sehingga terjadi tingkat ketebalan asap yang tinggi. Selain itu partikulat juga mengandung timbal yang merupakan bahan aditif untuk meningkatkan kinerja pembakaran bahan bakar pada mesin kenderaan. Apabila butir-butir bahan bakar yang terjadi pada penyemprotan ke dalam silinder motor terlalu besar atau apabila butir-butir berkumpul menjadi satu maka akan terjadi dekomposisi yang menyebabkan terbentuknya karbonkarbon padat atau angus. Hal ini disebabkan karena pemanasan udara yang bertempratur tinggi tetapi penguapan dan pencampuran bahan bakar dengan udara yang ada didalam silinder tidak dapat berlangsung sempurna terutama pada saat-saat dimana terlalu banyak bahan bakar disemprotkan yaitu pada waktu daya motor akan diperbesar misalnya untuk akselerasi maka terjadinya angus itu tidak dapat dihindarkan. Jika angus yang terjadi itu terlalu banyak maka gas buang yang keluar dari gas buang motor akan berwarna hitam.( Naibaho, K.,2009)

Universitas Sumatera Utara

b. UHC (Unburned Hidrocarbon) Hidrokarbon yang tidak terbakar dapat terbentuk tidak hanya karena campuran udara bahan bakar yang gemuk, tetapi bias saja pada campuran kurus bila suhu pembakarannya rendah dan lambat serta bagian dari dinding ruang pembakarannya yang dingin dan agak besar. Motor memancarkan

banyak hidrokarbon jika baru saja dihidupkan atau berputar bebas atau pemanasan. Pemanasan dari udara yang masuk dengan menggunakan gas buang meningkatkan penguapan dari bahan bakar dan mencegah pemancaran hidrokarbon. Jumlah hidrokarbon tertentu selalu ada dalam penguapan bahan bakar ditangki bahan bakar dan dari kebocoran gas yang melalui celah antara silinder dari torak masuk kedalam poros engkol,yang disebut dengan blow by

gasses (gas lalu). Pembakaran tak sempurna pada kendaraan juga akan
menghasilkan gas buang yang mengandung hidrokarbon. Hal ini pada motor diesel terutama disebabkan oleh campuran lokal udara bahan bakar tidak dapat mencapai batas mampu bakar. c. Carbon Monoksida (CO) Karbon dan oksigen dapat bergabung membentuk senyawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) Sebagai hasil pembakaran sempurna. karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Gas ini akan dihasilkan bila karbon yang terdapat dalam bahan bakar (kira-kira 85% dari berat dan sisanya hidrogen) terbakar tidak sempurna karena kekurangan oksigen. Hal ini terjadi bila campuran udara bahan bakar lebih gemuk dari pada campuran stoikiometris dan terjadi selama idling dapat beban rendah atau pada output maksimum. Karbon monoksida tidak dapat dihilangkan jika campuran udara bahan bakar gemuk, bila campuran kurus karbon monoksida tidak terbentuk.

Universitas Sumatera Utara

d. Nitrogen Oksida (NOX) Senyawa nitrogen oksida yang sering menjadi pokok pembahasan dalam masalah polusi udara adalah NO dan NO2. Kedua senyawa ini terbuang langsung ke udara bebas dari hasil pembakaran bahan bakar. Nitrogen monoksida ((NO) merupakan gas berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Gas NO merupakan gas yang berbahaya karena mengganggu syaraf pusat.gas NO terjadi karena adanya reaksi antara N2 dan O2 (Naibaho, K., 2009 ) Persamaan reaksi N2 dan O2 sebagai berikut : O2 N2 N 2.7.2 + O + O2 2O NO + NO + O N

Pengendalian Emisi Gas Buang Tingkat polusi udara dari mesin kendaraan tidak hanya dipengaruhi oleh

teknologi pembakaran yang diterapkan dalam sistim itu saja tetapi juga besar dipengaruhi oleh mutu bahan bakar yang dipakai. Dari segi kualitas bahan bakar Indonesia sangat jauh tertinggal dari negara-negara lain. Emisi gas buang yang dihasilkan oleh pembakaran kendaraan bermotor pada umumnya berdampak negatif terhadap lingkungan.Untuk mengatasi kendaraan bermotor diesel yang menghasilkan emisi gas buang yang relatif besar sehingga terjadi pencemaran lingkungan (tidak ramah lingkungan) dipergunakan bahan bakar B10 dan B20 yang dapat menurunkan emisi gas buang sehingga pencemaran udara dapat diperkecil atau bahan bakar ini ramah lingkungan.

Universitas Sumatera Utara