Anda di halaman 1dari 6

Pengunjun Mendaftar menjadi membe

anda | Berita | Opini | Artikel | Sejarah Melayu | Budaya Melayu | Sastra Melayu | Tokoh Melayu | Peneliti Melayu | Pengharg Kamus Melayu | Ensiklopedi Melayu | Agenda | Direktori | Pautan | Forum | Resensi Buku | Perpustakaan | Koleksi | Kedai Komentar Tamu | Tentang Kami | Kerjasama | Hubungi Kami | Donasi | Peta Situs ahasa Indonesia | English | Franais | Thailand | Filipino | Nederlands | Italiano | Arabic | Deutsch | Espaol | Burmese | Khme

uari 2012 | Arbia', 23 Shafar 1433 H

Adv

njung Online : 1.022

ini : 9.273 Beranda > Budaya Melayu > Kesenian Melayu > Seni Musik > Alat Musik > Sampe: Alat Musik arin : 15.381 Tradisional Melayu Dayak di Kalimantan Timur ggu kemarin : 89.283 an kemarin : 128.832 da pengunjung ke 94.431.137 k 01 Muharam 1428 20 Januari 2007 )

Budaya Melayu

Sampe: Alat Musik Tradisional Melayu Dayak Kalimantan Timur

AGE GALLERY

Sampe adalah salah satu alat musik tradisional khas Melayu orang-orang suku Dayak yang hidup te berbagai wilayah di Kalimantan Timur. Penyebutan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik ini sendiri termasuk dalam ras rumpun Melayu, yakni Melayu Tua atau Proto Melayu. 1. Asal-usul

beda dalam tradisi masing-masing sub suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur. Orang-orang suk

AGENDA

Dirunut dari riwayat genetikanya, orang-orang suku Dayak yang hidup tersebar di pulau Borneo masih t

rumpun suku bangsa Melayu. Bahkan, suku Dayak yang terdiri dari puluhan sub etnis ini tergolong

Belum ada data dalam proses

Melayu Tua atau Proto Melayu. Leluhur orang Dayak adalah orang-orang dari ras Mongoloid-Austrone

datang ke wilayah Nusantara pada Zaman Batu atau sekitar tahun 2500 Sebelum Masehi. Kelompok m

berasal dari Yunan (sekarang menjadi salah satu provinsi di Cina) tiba di bumi Melayu dengan menyusu

Mekong melalui Cina, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, hingga ke Laut Cina Selatan. Selai

orang suku Dayak, beberapa suku bangsa di Nusantara yang masih memiliki garis darah dengan ora

Proto Melayu antara lain: orang-orang Toraja di Sulawesi Selatan, Sasak di Lombok (Nusa Tenggara Bara Suku Laut di Kepulauan Riau, dan Suku Rejang di Bengkulu (William A. Haviland & R.G Soekadijo, 1988).

di Sumatera Utara, Nias di Pantai Barat Sumatera Utara, Suku Anak Dalam di Jambi, Suku Talang Mamak

Orang-orang suku Dayak yang sebagian besar menetap di wilayah Indonesia (Kalimantan) dan Malays telah melalui periodesasi zaman yang sangat lama. Oleh karena itu, kaum Melayu Tua ini tentunya

peradaban dan kebudayaan beserta semua perangkat adat dan tradisinya. Salah satu wujud hasil buda

Dayak adalah alat musik tradisional yang memiliki ciri dan kegunaan yang khas. Dalam kehidupan se

orang Dayak, seni musik dan alat-alat musiknya menjadi salah satu media yang diperlukan dalam pela

upacara-upacara adat, selain tentu saja juga berfungsi sebagai sarana hiburan. Terdapat berbagai jenis a

dalam tradisi kebudayaan orang Dayak, termasuk alat musik pukul, tiup, maupun petik. Salah satu al Timur, adalah sampe. Sampe dalam bahasa lokal suku Dayak dapat diartikan memetik dengan jari. Dari makna namanya itu

petik yang cukup poluler di kalangan suku Dayak, terutama orang-orang suku Dayak yang hidup di Ka

dengan jelas bahwa sampe adalah perangkat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Namun, penam

musik Melayu Dayak ini ternyata berbeda-beda di tiap-tiap sub etnis suku Dayak yang ada di Kalimanta

Nama sampe (sampe) digunakan oleh orang-orang suku Dayak Kenyah, orang-orang suku Dayak Ba

Kanyaan menyebutnya dengan nama sape (sape), suku Dayak Modang mengenal alat musik ini sebaga

sedangkan orang-orang Dayak Tunjung dan Banua menamainya dengan sebutan kecapai (Tim Peneliti, 1

Penyebutan terakhir, yakni kecapai, semakin memberikan gambaran yang sedikit lebih jelas mengena

apa sebenarnya wujud alat musik petik ini. Kata kecapai nyaris mirip dengan kecapi, alat musik petik d

Barat, yang tampaknya lebih sering didengar oleh masyarakat pada umumnya. Dari segi bentuk, alat mu dimainkan oleh orang-orang rumpun Melayu dari Sulawesi Selatan (http://sukolaras.wordpress.com).

yang menyerupai sampe adalah hapetan, alat musik khas Batak dari Tapanuli (Sumatra Utara) dan jun

Kendati sama-sama berjenis alat musik petik, namun sampe agak berbeda dengan gitar dal

memainkannya. Dalam memainkan gitar harus menggunakan satu tangan saja untuk memetik senar, se

tangan lainnya difungsikan untuk mengatur nada (kunci) pada dawai (senar) yang terdapat pada gaga

Lain halnya dengan sampe di mana alat musik ini dapat dimainkan justru dengan jari-jari dari ked

tangan. Bedanya lagi, apabila gitar pada umumnya memiliki 6 (enam) senar, pada sampe biasany

terdapat 3 (tiga) senar meskipun ada juga sampe yang bersenar 4 (empat) dan seterusnya. Dulu, daw

menggunakan tali dari serat pohon enau (sejenis pohon aren), namun kini sudah memakai kawat keci dan kepala burung enggang. Burung yang dalam istilah lokal dikenal dengan nama burung temengan ini

dawainya. Pada bagian kepala sampe (ujung gagang), dipasang hiasan ukiran yang menggambarkan tari

menjadi ciri khas suku Dayak dan dianggap sebagai burung keramat. Ukiran burung temengan yang dite

di sampe diyakini dapat memberikan perlindungan dan rasa aman (Tim Peneliti, 1993:42).

Terdapat sebuah mitos dalam tradisi masyarakat Dayak yang mengisahkan tentang asal-usul sampe. Dik

dulu terdapat sebuah perahu yang memuat beberapa orang mengalami karam karena diterjang arus sun

semua penumpang yang ikut tenggelam bersama perahu itu, ternyata ada satu orang yang sela

terdampar di sebuah pulau kecil yang berada di tengah sungai besar itu. Dalam kondisi antara sadar d

orang yang selamat itu samar-samar mendengar suara alunan musik petik yang begitu indah. Irama peti

terdengar dari dasar sungai tersebut membuat orang itu sadar karena semakin sering dia mendengar s

dia merasa semakin dekat pula dengan sumber suara musik itu berasal. Dari sinilah orang itu kemudian

bahwa dia mendapat ilham dari leluhur hingga akhirnya dia bisa pulang ke rumah dengan selamat. Seke

ke rumah, orang itu mencoba membuat alat musik yang telah menolongnya tersebut, dan setelah se

memainkannya sesuai dengan irama yang didengarnya sewaktu terdampar di pulau. Sejak itulah sam musik khas suku Dayak yang masih dipertahankan hingga kini (http://kutaihulu.blogspot.com). 2. Bahan dan Cara Pembuatan

sering dimainkan dalam upacara-upacara adat atau dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian men

Alat musik petik sampe dibuat dari bahan kayu pilihan. Kayu yang dinilai mempunyai kualitas baik sebag

pembuat sampe adalah jenis-jenis kayu sebangsa kayu meranti, misalnya kayu pelantan, kayu ad

marang, kayu tabalok, dan sejenisnya. Jenis kayu-kayu itu dipilih karena kuat, tidak mudah pecah, kera

lama, dan tidak mudah dirusak atau dimakan binatang seperti rayap. Semakin keras dan banyak ura

kayunya, maka suara yang dihasilkan sampe akan semaki baik pula (http://kutaihulu.blogspot.com). Unt

atau senar sampe, pada awalnya masih menggunakan tali yang berasal dari serat pohon enau atau aren Peneliti, 1993:43).

sekarang senar sampe sering dibuat dari bahan kawat tipis sehingga bunyinya akan terdengar lebih nya

Tahap-tahap pembuatan sampe adalah, pertama, batang pohon ditarah atau diratakan dengan meng

kapak lalu dijemur sampai kering. Setelah kayu benar-benar kering, balok kayu tersebut dilubang

memanjang, namun tidak sampai tembus ke permukaan (seperti membuat perahu). Jika proses meluba

sudah selesai, lalu ditarah lagi sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian dibuat bahu (gagang

kira-kira sebesar kepalan tangan. Di bagian ujungnya, dibuat lubang sebagai tempat pemutarnya sesua untuk membuat tempat memasukkan senar agar dapat dililitkan pada putarannya.

jumlah senar (pada umumnya adalah 3 senar). Di setiap lubang putaran tersebut ditusuk dengan uju

Sampai di sini tahap pembuatan sampe sebenarnya telah selesai, namun biasanya dilanjutkan

menambahkan ukiran dengan ornamen khas Dayak, yakni dengan corak burung enggang dan taring-tarin

buruan yang merupakan lambang keagungan dan kebesaran orang-orang Dayak. Tahap selanjutny

memasang senar di mana sebagai alat untuk menyeleraskan nada (stem) menggunakan belahan ro

dipotong-potong. Belahan rotan ini direkatkan dengan kelulut (seperti lilin madu tawon), sesuai dengan n

diinginkan (Tim Peneliti, 1993:44). Bentuk sampe pada umumnya menyerupai perahu dan mempunya mulam (bagian ekor sampe), batak (punggung sampe), hudog sampe (kepala sampe yang berukir),

bagian tertentu. Dalam bahasa suku Dayak Kenyah, penyebutan bagian-bagian sampe yakni: usa (badan

untuk menyelaraskan nada melalui senar sampe), batuk (bahu sampe), ndon (penahan senar sampe; ist

digunakan juga untuk menyebut ruas-ruas tangga nada pada sampe), lowong sampe (lubang pad belakang sampe), dan seterusnya (Tim Peneliti, 1993:44). 3. Cara Memainkan Cara memainkan alat musik sampe adalah mula-mula senar-senar sampe diselaraskan dengan pemetiknya. Hal ini dilakukan karena sampe adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan seseorang. Oleh karena itu, hasil stem senar-senar sampe tersebut berbeda-beda untuk setiap orang. dan nada g untuk senar ketiga, dan seterusnya. Sampe memang tidak memiliki kunci baku seperti gitar yang lain (Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011).

dari tiga senar yang ada, hasil stem-annya bisa menjadi: nada c untuk senar pertama, nada e untuk sena

dalam memainkannya hanya mengandalkan perpaduan petikan dan loncatan jari pemainnya dari satu gri

Bunyi senar yang dihasilkan itu masih merupakan nada-nada dasar. Untuk menyelaraskan nada-nada

dilakukan dengan memindah-mindahkan ndon (atau krip pada gitar). Dengan cara ini, sampe pun bisa d

sesuai dengan nada lagu yang diinginkan. Namun, jika ganti memainkan lagu lain, maka ndon sampe ju

diubah atau diselaraskan lagi diinginkan (Tim Peneliti, 1993:43). Cara memetik sampe adalah dengan 1993:46). Pemetik sampe memainkan lagu hanya dengan berdasarkan feeling atau perasaannya saja bunyi yang dihasilkan pun akan mengena sesuai dengan perasaan si pemetik. 4. Fungsi dan Kegunaan

kedua tangan, baik tangan kiri maupun tangan kanan. Petikan ini akan menghasilkan bunyi accord (Tim

Sampe adalah alat musik yang berfungsi untuk menyatakan perasaan, baik perasaan riang gembira, rasa kerinduan, bahkan rasa duka nestapa. Dahulu, memainkan sampe pada siang hari dan malam hari perbedaan. Apabila dimainkan pada siang hari, umumnya irama yang dihasilkan sampe menyatakan

gembira dan suka-ria. Sedangkan jika sampe dimainkan pada malam hari biasanya akan menghasilk

yang bernada sendu, syahdu, atau sedih. Terdapat ungkapan mengenai sampe yang termuat dalam Teku Kanyaan dan Kenyah. Ungkapan yang berbunyi sape benutah tulaang to awah itu secara harfiah dapat

sastra lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam tradisi masyarakat Dayak, khususnya suk

dengan makna: Sampe mampu meremukkan tulang-belulang hantu yang bergentayangan. Ungkapan

menggambarkan bahwa alat musik sampe mampu membuat orang yang mendengarnya merinding

menyentuh tulang atau perasaan. Bagi para tetua adat Dayak di zaman dulu, keyakinan akan kesakrala (Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011).

memang betul bisa dirasakan karena suasana pedesaan dan nuansa adat pada saat itu masih sang

Hingga kini, kepercayaan akan tuah sampe masih diyakini oleh para sesepuh Dayak, misalnya ketik dimainkan dalam suatu upacara adat. Saat bunyi petikan sampe terdengar, seluruh orang akan

kemudian terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dirapalkan bersama-sama. Dalam

seperti ini, tidak jarang di antara mereka ada yang kerasukan (trance) roh halus atau roh leluhur (Yusu syukuran atas hasil panen padi). Sampe dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang lemah gemulai.

dalam www.MelayuOnline.com). Sampe juga dimainkan pada saat acara pesta rakyat atau gawai pad

Seiring dengan perkembangan zaman, sampe kemudian tidak hanya berfungsi sebagai alat mus

menyatakan perasaan saja, namun sampe juga mulai sering dimainkan bersama dengan alat-alat musik

Anak-anak muda Dayak gemar memainkan sampe sembari berkumpul bersama di malam hari. Selain it

dimainkan oleh kaum lelaki Dayak untuk menarik perhatian perempuan yang sedang ditaksirnya (A

Handoko, dalam Kompas, 4 Februari 2011). Sampe juga berfungsi sebagai alat musik hiburan dala

keluarga besar. Tradisi orang Dayak yang tinggal di rumah betang (rumah besar) membuat sampe sedang bersedih. Di rumah betang, tersedia sebuah ruangan besar untuk acara adat atau sebagai ruang

sarana yang termudah untuk meramaikan suasana atau untuk menghibur ketika ada salah seorang angg

Di ruang besar inilah, para pemuda Dayak saling unjuk kemahiran dalam memainkan sampe Tidak h hasil panen melimpah (Yusuf Efendi, dalam www.MelayuOnline.com). 5. Nilai-nilai

sampe juga sering dimainkan sebagai wujud rasa syukur atas peristiwa atau moment tertentu, misaln

Sampe mengandung nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan yang terwujud dalam aspek-aspek sebagai b

Aspek Pelestarian Budaya. Memainkan sampe di era modern seperti sekarang ini merupakan sa

bentuk gerakan melestarikan budaya karena sampe semakin jarang dimainkan, maka keberad musik tradisional ini pun terancam punah. Aspek Kesakralan. Alat musik sampe merupakan salah satu perangkat yang diperlukan dalam pela upacara-upacara adat. Oleh karena itu, dalam moment-moment tertentu, sampe menjadi sesu disakralkan dan disucikan. Aspek Kesenian Tradisional. Sampe adalah salah satu alat musik tradisional, yaitu alat musik tr khas orang-orang suku Dayak. Maka dari itu, orang-orang yang memainkan sampe patut dise sebagai seniman karena mereka adalah pelaku seni musik tradisional. Aspek Hiburan. Selain digunakan untuk mengiringi upacara-upacara adat yang bersifat sakral, sa sering dimainkan sebagai sarana hiburan dalam suatu komunitas ataupun keluarga besar pada sosial suku Dayak. 6. Penutup

Di masa lalu, sampe hanya dimiliki oleh suku Dayak, itupun hanya orang-orang tertentu yang

memainkannya. Namun, di masa sekarang, sampe sudah dimainkan oleh suku-suku lainnya yang te

Kalimantan Timur. Di level nasional, sampe juga mulai diperkenalkan melalui berbagai acara buda

pesta adat, bahkan tidak hanya yang diselenggarakan di Kalimantan Timur saja , melainkan juga di k

lain. Selain itu, upaya pelestarian sampe juga sudah mulai digalakkan, termasuk diajarkan di sekolah

atau dalam pelatihan, kursus, dan lainnya. Semua itu dilakukan agar sampe tidak hilang ditelan kemajuan (Iswara N. Raditya/Bdy/05/04-2011) Referensi

Agustinus Handoko, Dominikus Uyub, Pelestari Musik Dayak Sape, dalam Kompas, 4 Februari 20

Alat Musik Sampek, data diunduh pada tanggal 24 April 2011 dari http://kutaihulu.blogspot.com. Musik Tradisional Indonesia, data diunduh pada tanggal 24 April 2011 dari http://sukolaras.wordpress.com.

Tim Peneliti, 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Depdikbud. William A. Haviland & RG Soekadijo, 1988. Antropologi I. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Yusuf Efendi, Melestarikan Sape, Alat Musik Khas Dayak Kenyah, data diunduh pada tanggal 24 A 2011 dari http://melayuonline.com. Sumber Foto: http://www.flickr.com/photos

Dibaca : 1

Kembali ke atas

Berikan komentar anda : Silakan Login Untuk Komentar


Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

Kolom untuk yang sudah menjadi member

Mendaftar Menjadi Anggota


Belum mempunyai akun ? silakan klik disini Membuat akun hanya perlu beberapa menit.

Email Password

anda | Berita | Opini | Artikel | Sejarah Melayu | Budaya Melayu | Sastra Melayu | Tokoh Melayu | Peneliti Melayu | Pengharg Kamus Melayu | Ensiklopedi Melayu | Agenda | Direktori | Pautan | Forum | Resensi Buku | Perpustakaan | Koleksi | Kedai Komentar Tamu | Tentang Kami | Kerjasama | Hubungi Kami | Donasi | Peta Situs